Anda di halaman 1dari 4

NAMA : ANDI NASTITI RUSMAN

NIM
: O111 14 014
Perbedaan Obat Herbal dan Obat Sintesis
Ramuan obat tradisional yang berasal dari tumbuh-tumbuhan sudah dikenal lama, sejak masa
sebelum masehi dan hingga kini masih terus digunakan oleh masyarakat dan telah mengalami
perkembangan yang begitu pesat serta diproses secara ilmiah dan modern. Ini karena tumbuhan
sebagai sumber nabati terbukti mempunyai khasiat yang mujarab, mempunyai efek samping yang
relative kecil dan bahannyapun mudah didapat. Bahkan dipercaya kalau tumbuh-tumbuhan justru
dapat menetralisir efek samping dari zat-zat aktif yang membahayakan di dalam tubuh (Side Effect
Eleminating Substances).
Dibandingkan obat-obat modern, memang obat herbal memiliki beberapa kelebihan, antara
lain : efek sampingnya relatif rendah, dalam suatu ramuan dengan komponen berbeda memiliki efek
saling mendukung, pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi serta lebih sesuai
untuk penyakit-penyakit metabolik dan degenerative.
Efek samping obat herbal relatif kecil bila digunakan secara benar dan tepat
Obat herbal akan bermanfaat dan aman jika digunakan dengan tepat, baik takaran, waktu dan
cara penggunaan, pemilihan bahan serta penyesuai dengan indikasi tertentu.
Adanya efek komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan obat tradisional/komponen
bioaktif tanaman obat.
Dalam suatu ramuan obat herbal umumnya terdiri dari beberapa jenis obat herbal yang memiliki
efek saling mendukung satu sama lain untuk mencapai efektivitas pengobatan. Formulasi dan
komposisi ramuan tersebut dibuat setepat mungkin agar tidak menimbulkan kontra indikasi,
bahkan harus dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap suatu efek yang dikehendaki.
Pada satu tanaman bisa memiliki lebih dari satu efek farmakologi
Zat aktif pada tanaman obat umunya dalam bentuk metabolit sekunder, sedangkan satu tanaman
bisa menghasilkan beberapa metabolit sekunder; sehingga memungkinkan tanaman tersebut
memiliki lebih dari satu efek farmakologi. Efek tersebut adakalanya saling mendukung (seperti
pada herba timi dan daun kumis kucing), tetapi ada juga yang seakan-akan saling berlawanan
atau kontradiksi (sperti pada akar kelembak).
Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degenerative
Disamping berbagai keuntungan, bahan obat herbal juga memiliki beberapa kelemahan yang
juga merupakan kendala dalam pengembangan obat tradisional (termasuk dalam upaya agar bisa
diterima pada pelayanan kesehatan formal). Adapun beberapa kelemahan tersebut antara lain : efek
farmakologisnya yang lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat higroskopis serta volumines,
belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme.
Salah satu prinsip kerja obat herbal adalah reaksinya yang lambat, tidak seperti obat kimia
yang bisa langsung bereaksi. Manfaat obat herbal umumnya baru dapat dirasakan setelah beberapa
minggu atau beberapa bulan penggunaan. Hal itu disebabkan, senyawa-senyawa berkhasiat di dalam
obat herbal membutuhkan waktu untuk menyatu dalam metabolisme tubuh. Berbeda dengan obat
kimia yang bekerja dengan cara meredam rasa sakit dan gejalanya, obat herbal bekerja dengan
berfokus pada sumber penyebabnya yakni dengan membangun dan memperbaiki keseluruhan sistem
tubuh dengan memperbaiki sel dan organ-organ yang rusak. Tak heran, dibutuhkan waktu yang relatif
lebih lama untuk merasakan efek obat herbal dibandingkan jika menggunakan obat kimia. Selain itu,
kebanyakan obat herbal yang beredar di pasaran bukan berupa senyawa aktif yang diperoleh dari
proses ekstraksi melainkan berasal dari bagian tanaman obat yang diiris, dikeringkan, dan
dihancurkan. Orang yang mengonsumsi herbal untuk pertama kalinya, mungkin akan dikejutkan oleh

efek dan reaksi tidak menyenangkan yang dihasilkan obat herbal sehingga seringkali beberapa orang
menyimpulkan bahwa mereka mengalami keracunan. Reaksi kerja obat herbal biasanya akan muncul
dalam bentuk yang berbeda-beda pada tiap orang. Secara umum dikatakan bahwa reaksi yang muncul
adalah efek penyesuaian tubuh, dimana tubuh menyesuaikan sistem metabolisme untuk bisa
memanfaatkan pengobatan yang diberikan oleh herbal tersebut dan biasanya akan hilang setelah
beberapa hari. Selain efek penyesuaian tersebut, akan terjadi efek detoksifikasi, dimana tubuh
mengeluarkan racun atau zat-zat berbahaya dari dalam tubuh saat/setelah menerima pengobatan. Jika
reaksi atau efek yang tidak menyenangkan tersebut terjadi, ketika/setelah menggunakan obat herbal
sebaiknya jangan menyerah dan menghentikan pengobatan yang diberikan karena itu sama saja
dengan menghentikan proses pengobatan dan pemulihan. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan
mengurangi dosis untuk meringankan efek tersebut dan memberikan waktu bagi tubuh untuk
menyesuaikan diri dengan bekerjanya obat herbal serta mengkonsumsi obat herbal sesuai petunjuk
ahlinya
RUTE PEMBERIAN OBAT
Terdapat dua rute pemberian obat yang utama yaitu enteral dan parental. Selain enteral dan
parental juga ada rute pemberian obat dengan jalur lain.
A. Enteral
Berarti pemberian obat melalui saluran gastrointestinal (GI), Kerugian dari pemberian
melalui jalur ini adalah absorpsinya lambat, tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar
atau tidak dapat menelan.
Berikut ini merupakan macam-macam rute pemberian obat secara enteral, yaitu :
1. Oral yaitu pemberian suatu obat melalui mulut, pemberian melalui oral merupakan jalur
pemberian obat paling banyak digunakan karena paling murah ,paling mudah, dan paling
aman. Beberapa obat diabsorbsi di lambung, tetapi duodenum (usus dua belas jari) merupakan
jalan masuk utama ke sirkulasi sistemik dikarenakan permukaan absorbsinya lebih besar.
Minum obat bersamaan dengan makanan dapat mempengaruhi absorbsi, adanya makanan
dalam lambung memperlambat waktu pengosongan lambung sehingga obat dihancurkan oleh
asam.
2. Sublingual adalah pemberian obat dengan penempatan dibawah lidah, sehingga
memungkinkan obat tersebut berdifusi kedalam anyaman kapiler dan secara langsung masuk
ke dalam sirkulasi sistemik. Keuntungan dari pemberian obat secara sublingual adalah obat
tidak diinaktivasi oleh metabolisme.
3. Rektal adalah pemberian obat melalui dubur (anus). Kelebihan pemberian obat ini ialah
mencegah penghancuran obat oleh enzim usus atau pH rendah di lambung. Pada rute ini juga
berguna jika obat menginduksi muntah ketika diberikan secara oral atau jika penderita sedang
muntah-muntah.
B. Parental
Pemberian parental digunakan untuk obat yang absorbsinya buruk melalui saluran cerna,
pemberian obat ini juga digunakan untuk pasien yang tidak sadar.
Tiga rute parental yang utama yaitu :
1. Intravaskular : suntikan intravena (IV) adalah cara pemberian parental yang paling sering
dilakukan. Dengan dilakukan IV menghindari first pass oleh hati. Pada rute ini digunakan
untuk:
a. Pemberian suatu efek yang cepat
b. Pemberian yang kontinu
c. Volume besar
d. Obat-obat yang menyebabkan kerusakan jaringan lokal bila diberikan melalui cara lain.

2. Intramuskular (IM) : pemberian obat secara intramuscular berupa larutan dalam air dan
dalam bentuk ester (preparat depo). Absorbsi obat-obat dalam bentuk larutan air (aquaeous)
berlangsung cepat, sedangkan absorbsi preparat-preparat depo berlangsung secara lambat.
3. Subkutan (SC) : rute pemberian obat ini seperti suntikan intramuskular, memerlukan absorbsi
lebih lambat dibandingkan intravena.
C. Jalur Lain
1. Inhalasi
Inhalasi memberikan pengiriman obat yang cepat melewati permukaan luas dari saluran nafas
dan epitel paru-paru. Cara pengobatan ini digunakan untuk obat-obat berupa gas. Rute
pengobatan ini efektif bagi penderita dengan keluhan-keluhan pernafasan.
2. Intranasal
Intranasal ini biasa dgunakan dengan cara mengisap.
3. Topikal
Pemberian obat secara topikal digunakan bila suatu efek lokal obat diinginkan untuk
pengobatan. Selain pemberian topikal untuk mendapatkan efek lokal pada kulit atau membran
mukosa, penggunaan suatu obat hampir selalu melibatkan transfer obat kedalam aliran darah.
Tetapi, meskipun tempat kerja obat tersebut berbeda-beda, namun bisa saja terjadi adsorbsi
kedalam aliran darah, dan dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Absorbsi kedalam
darah dipengaruhi secara bermakna oleh cara pemberian.
4. Transdemal
Rute pemberian obat ini mencapai efek sistemik dengan pemakaian obat pada kulit. Kecepatan
absorbsi tergantung pada sifat fisik kulit. Cara pemberian ini paling sering digunakan untuk
pengiriman lambat.
Tabel keuntungan dari macam-macam rute pemberian obat :
Deskripsi
Keuntungan
Kerugian
Aerosol
Langsung masuk
Iritasi pada mukosa paru-paru
Partikel halus atau tetesan ke paru-paru
atau saluran pernapasan,
yang di hirup
memerlukan alat khusus,pasien
harus sadar
Bukal
Tidak sukar ,
Tidak dapat untuk obat yang
Obat diletakan diantar
tidak perlu steril
rasanya tidak enak, dapat
pipi dengan gusi obat
dan efeknya cepat terjadi iritasi di mulut, pasien
diabsorpsi menembus
harus sadar, dan hanya
membrane
bermanfaat untuk obat yang
sangat nonpolar
Inhalasi
Pemberian dapat
Hanya berguna untuk obat
Obat bentuk gas
terus-menerus
yang dapat berbentuk gas pada
diinhalasi
walaupun pasien
suhu kamar ,dapat terjadi iritasi
tidak sadar
pada saluran pernafasan
Intramuskular
Absorpsi cepat,
Perlu prosedur steril, sakit,
Obat diinjeksikan ke
dapat diberikan
dapat terjadi iritasi di tempat
dalam otot
pada pasien sadar injeksi
Intravena
Obat cepat masuk Perlu prosedur steril, sakit,
Obat dimasukkan ke
dan biovailabilitas dapat terjadi iritasi ditempat
dalam vena
100%
injeksi, resiko terjadi kadar
obat yang tinggi kalau
diberikan terlalu cepat
Oral
Mudah,
Rasanya tidak enak dapat

Obat ditelan dan


diabsorpsi di lambung
atau usus halus

ekonomis, tidak
perlu steril

mengurangi kepatuhan,
kemungkinan dapat .
menimbulkan iritasi lambung
dan usus, menginduksi mual,
dan pasien harus dalam
keadaan sadar obat ini dapat
mengalami metabolism lintas
pertama dan absorpsi dapat
terganggu dengan adanya
makanan