Anda di halaman 1dari 5

SOSIALISASI PENTINGNYA PEMAKAIAN KONDOM BAGI PSK DAN

PELANGGAN UNTUK MENURUNKAN KEJADIAN HIV/AIDS


KETUT TRISNA PARAMA KARTIKA

HIV atau Human Immunodeficiency Virus, merupakan suatu virus yang


menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus ini dapat mengakibatkan AIDS
atau Acquired Immune Deficiency Syndrome. HIV menyerang salah satu jenis dari
sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut
termasuk limfosit yang disebut sel T-4 atau disebut juga sel CD-4.1
Penularan virus ini yang paling cepat terjadi jika adanya pencampuran cairan
tubuh penderita dengan seseorang yang belum terkena HIV. Seperti contohnya,
hubungan seksual dengan pasangan yang mengidap penyakit HIV, jarum suntikdan
alat-alat penusuk (tato, tindik, dan cukur) yang sudah tercemar oleh HIV, transfuse
darah atau produk darah yang mengandung HIV, dan ibu hamil yang mengidap HIV
terhadap janin atau bayinya.1
Penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia setiap tahunnya mengalami
peningkatan. Menurut Laporan Kasus HIV/AIDS di Indonesia sampai dengan Juni
2014, yang diterima dari Ditjen PP & PL, berdasarkan surat Direktur Jenderal P2PL,
Prof. DR. dr. Agus Purwadianto tertanggal 15 Agustus 2014, menyatakan bahwa
jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi diperoleh oleh provinsi Papua berdasarkan jumlah
kumulatif kasus HIV di Papua sebesar 15.686 kasus, dan kasus AIDS sebesar 10.184
kasus. Sedangkan jumlah kasus terendah diperoleh oleh provinsi Sulawesi Barat
dengan jumlah kasus HIV sebesar 39 kasus dan jumlah kasus AIDS sebesar 6 kasus.
Khususnya di provinsi Bali sendiri berada di peringkat ke empat dengan jumlah kasus
HIV/AIDS tertinggi. Dimana kasus HIVnya sebesar 9.051 kasus dan AIDS sebesar
4.261 kasus. Kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan pada tahun 1987 di provinsi
Bali.2

Salah satu faktor yang menyebabkan semakin luasnya penyebaran penyakit


HIV/AIDS adalah adanya seks bebas dikalangan masyarakat. Seks bebas bahkan
dilakukan untuk memenuhi perekonomian serta dapat dibisniskan. Hal ini
menyatakan bahwa moral rakyat Indonesia sudah sangat buruk.
Praktek prostitusi tumbuh dan berkembang di seluruh Indonesia. Hampir tidak
ada kota di Indonesia yang tidak mengenal praktek prostitusi. Umumnya prakatek ini
dilakukan secara terselubung. Pasca reformasi masyarakat enggan terdapat lokalisasi
di wilayahnya, khususnya lokalisasi resmi. Akibatnya banyak lokalisasi resmi dan
tidak resmi ditutup oleh masyarakat dan pemerintah. Praktek pelacuran yang
belangsung di Indonesia, umumnya tersebar diberbagai lokasi, sehingga sulit
dilakukan pendataan, pengendalian, pengawasan dan pembinaan. Selain itu
keberadaan pelacuran di masyarakat dinilai telah menganggu perkembangan
khusunya bagi generasi muda. Pelacuran memang sulit dihapus kecuali mengurangi,
menekan dan membatasi pertumbuhan dan penyebarannya.3
Prostitusi merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat yang harus
dihentikan penyebarannya. Tanpa mengabaikan usaha pencegahan dan perbaikannya.
(Kartini Kartono 2005). Definisi prostitusi sendiri berasal dari bahasa latin pro
stituere yang berarti membiarkan diri berbuat zina. Sedangkan pelacur atau Pekerja
Seks Komersial (PSK) atau Wanita Tuna Susila (WTS) adalah wanita yang tidak
pantas kelakuannya dan bisa mendatangkan penyakit. Baik kepada orang lain yang
bergaul dengan dirinya, maupun kepada diri sendiri. Pelacur adalah profesi yang
menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini
dalam bentuk menyewakan tubuhnya. Dari kedua definisi di atas, dapat disimpulkan
bahwa prostitusi merupakan perzinaan dengan menjual jasa untuk memuaskan
kebutuhan seksual berupa menyewakan tubuh. Sehingga prostitusi bersifat negative
dan dapat digolongkan sebagai kejahatan terhadap masyarakat.3
Tempat prostitusi memiliki beberapa jenis sesuai aktifitasnya. Ada prostitusi
yang terdaftar (prostitusi legal) dan ada pula tempat prostitusi tidak terdaftar (illegal).
Tempat prostitusi terdaftar pada umumnya mereka di dalam satu daerah tertentu atau
yang disebut lokalisasi prostitusi. Penghuninya secara periodic harus memeriksakan

diri pada dokter atau petugas kesehatan dan dapat suntikan serta pengobatan sebagai
tindakan kesehatan dan keamanan umum. PSK diawasi oleh kepolisian yang
bekerjasama dengan jawatan sosial dan kesehatan.Tempat prostitusi di tengah
masyarakat, selalu mendapat penolakan dari masyarakat setempat. Meski demikian
ada juga masyarakat yang mengambil keuntungan dari lokalisasi prostitusi. Seperti
membuka jasa menjaga parkir kendaraan, ojek, warung makan dan minuman.
Termasuk jualan alat pengaman dalam berhubungan seks. Namun demikian, desakan
untuk menutup lokalisasi prostitusi selalu menjadi salah satu alasan utama. Desakan
masyarakat, alim ulama dan tokoh masyarakat kerap mengalahkan dukungan
keberadaan lokalisasi prostitusi.3
Namun penutupan lokalisasi bukan solusi yang baik untuk menekan kasus
HIV/AIDS. HIV/AIDS masih bisa tersebar jika Pekerja Seks Komersial (PSK) dan
pelanggannya masih marak melakukakan seks tanpa menggunakan pengaman. Oleh
karena itu keberadaan kondom atau alat kontrasepsi lainnya sangat penting untuk
membantu menekan kasus ini.
Kondom merupakan selubung/ sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai
bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewani)
yang dipasang pada penis saat hubungan seksual. Kondom terbuat dari karet sintetis
yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya berpinggir tebal, yang bila digulung
berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti puting susu. Berbagai bahan telah
ditambahkan pada kondom baik untuk meningkatkan efektivitasnya (misalnya
penambahan spermicidal) maupun sebagai aksesoris aktivitas seksual. Kondom dari
karet diproduksi secara besar-besaran setelah tahun 1844. Ketika Charles Goodyear
mematenkan pembuatan vulkanisasi dari karet. Kondom tersebut hanya digunakan
untuk satu kali pemakaian dan kondom yang terbuat dari usus domba masih dapat
dijumpai Pada tahun 1980-an, dimana dunia dilanda epidemik penyakit menular
seksual termasuk HIV/AIDS, dinajurkan untuk meningkatkan minat menggunakan
kondom latex, yang merupakan metode efektif untuk mencegah penularan penyakit
melalui hubungan seksual.4

Klasifikasi kondom berdasarkan jenis kelamin yang memakainya yaitu


kondom pria dan wanita. Tetapi kondom yang banyak dijual dipasaran yaitu ada 10
jenis, diantaranya Kondom dengan aroma dan rasa, Kondom berulir (Ribbed
Condom), kondom ekstra tipis, kondom bintik dan sebagainya.4
Sebenarnya untuk kelebihan dan kekurangan dari pemakaian kondom, itu
tergantung dari jenis kondom yang digunakan. Tetapi kelebihan dan kekurangan yang
menonjol yaitu, kelebihannya aman dipakai, mudah didapat, cukup efektif bila
digunakan dengan benar, dapat mencegah penyebaran penyakit menular seksual dan
Hepatitis B HIV/AIDS. Sedangkan kekurangannya ada risiko robek. Oleh sebab itu,
gunakan satu kondom hanya untuk satu kali pakai. Kondom yang baik terasa licin dan
basah. jangan gunakan kondom yang bagian dalamnya kering, yang terasa lengket di
tangan, atau yang merekat pada bungkus plastiknya, angka kegagalan tinggi, yaitu 3
15 per 100 wanita per tahun.4
Menurut pantauan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DKI
Jakarta, pemakaian kondom di kelompok berisiko tertular HIV, yakni pekerja seks
komersil cenderung menurun setiap tahunnya. Selain alasan pelanggan tidak mau
memakai kondom, kebanyakan wanita PSK malas menggunakan kondom perempuan
karena alasan sulit memakainya.5
Pernyataan ini simpang-siur. Disebutkan, pemakaian kondom di kelompok
berisiko tertular HIV, yakni pekerja seks komersil. Ini jelas bahwa kondom dipakai
oleh perempuan, dalam hal ini pekerja seks komersial (PSK). Tapi, karena pernyataan
tersebut, diikuti dengan pernyataan pelanggan tidak mau memakai kondom, maka
kian tidak jelas alasan konkret mengapa pemakaian kondom turun. Kalau penurunan
terjadi karena pelanggan, dalam hal ini laki-laki hidung belang, tidak mau memakai
kondom tentulah masuk akal.5
Untuk menekan kasus HIV/AIDS tentu sangat disarankan penargetan
penggunaan kondom kepada para PSK dan pelanggannya. Hal ini disebabkan
penyebaran kasus HIV/AIDS sangat cepat terjadi melalui hubungan seksual.
Penentuan strategi dalam sosialisasi penggunaan kondom merupakan langkah awal
yang perlu dilakukan. Dimana penentuan strategi terbagi menjadi dua hal, yaitu

penentuan target dan sasaran, dan melakukan riset dan pengolahan data. Keduanya
menjadi dasar dari pengembangan sosialisasi pengunaan kondom pada lokalisasi
prostitusi. Selanjutnya, agar program ini dapat berjalan sesuai dengan target maka
diperlukan dukungan dari berbagai pihak, seperti media, pemerintah, dan masyarakat.
Peran media dalam upaya sosialisasi ini ialah memberitakan hal-hal yang terkait
dengan manfaat dan kelebihan menggunakan kondom saat berhubungan intim.
Sedangkan, pemerintah dan masyarakat ikut berperan dalam menyadarkan
pelaku seks komersial akan pentingnya penggunaan kondom saat berhubungan intim
dengan pelanggannya. Peran pemerintah lainnya yang dirasa perlu, yaitu
menyediakan kondom gratis, pemeriksaan kesehatan rutin kepada penjaja seks, dan
melakukan pemetaan atas perkembangan industri seks komersial agar penyebaran
Penyakit Menular Seksual (PMS) dapat dikontrol. Melalui program ini diharapkan
penggunaan 100% kondom dalam industri seks komersial dapat tercapai dengan baik
dan tepat sasaran.
Upaya pencegahan atas penyebaran PMS dalam seks komersial melalui
sosialisasi penggunaan kondom dirasa sebagai tindakan yang tepat. Pasalnya,
perkembangan industri seks komersil telah mampu memberikan penghidupan bagi
mereka yang terjun di dalamnya. Sangat tidak bijak apabila penanganan atas masalah
tersebut dilakukan dengan memberantas peredaran industri seks komersial. Untuk itu,
penggiatan atas sosialisasi penggunaan kondom dalam seks komersil harus terus
dilakukan guna mencegah laju penyebaran penyakit seksual.\