Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM HEMATOLOGI

OLEH :
MAHASISWA SEMESTER IV

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

PEMBUATAN DAN PEWARNAAN


SEDIAAN HAPUSAN DARAH

Hari, tanggal

: Senin, 14 & 21 Maret 2016

Tempat praktikum

: Laboratorium Hematologi JAK Poltekkes Denpasar

I.

TUJUAN
a. Tujuan Umum
- Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan dan pewarnaan
sediaan hapusan darah.
b. Tujuan Khusus
- Mahasiswa dapat membuat sediaan hapusan darah.
- Mahasiswa dapat melakukan pewarnaan sediaan hapusan darah.

II.

METODE
Metode yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah metode hapusan
darah (Blood Smear).

III.

PRINSIP
Darah + antikoagulan diteteskan pada objek glass dan dibuat hapusan
menyerupai lidah, kemudian sediaan diwarnai dengan warna Giemsa atau
Wright lalu dibaca pada mikroskop.

IV.

DASAR TEORI
4.1

Darah
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu

plasma darah dan sel darah. Sekitar 55% adalah plasma darah, sedangkan
45% sisanya terdiri dari sel darah. Volume darah secara keseluruhan
adalah satu per dua belas berat badan atau kira-kira lima liter (Dwijastuti,
Sri.2015).
Darah tersusun dari beberapa komponen yaitu sel darah, plasma
darah, dan serum.
1. Sel darah, terdiri dari :
a. Sel darah merah (eritrosit)

Eritrosit berbentuk bulat gepeng dengan permukaan gepeng


(bikonkaf)

dan

tidak

berinti.

Eritrosit

mengandung

hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat O2 dan sebagai


pemberi warna merah pada darah.
b. Sel darah putih (leukosit)
Leukosit memiliki bentuk yang tidak tetap (ameboid), tidak
berwarna dan memiliki inti. Fungsi sel darah putih untuk
melindungi tubuh dari infeksi. Leukosit terdiri dari sel yang
bergranula (eosinofil, basofil, neutrofil) dan sel tidak
bergranula (monosit, linfosit)
c. Keping darah (trombosit)
Bentuk keping darah tidak tetap. Trombosit berfungsi dalam
proses pembekuan darah dengan membentuk benang fibrin
yang akan menutup luka sehingga perdarahan akan terhenti.
(Susilo, Reki Usman. 2014)
2. Plasma darah
Plasma darah merupakan bagian cair darah. Cairan ini didapat
dengan membuat darah tidak beku dan sel darah tersentrifugasi.
Plasma terdiri dari 90% air, 7-8% protein,dan di dalam plasma
terkandung pula beberapa komponen lain seperti garam-garam,
karbohidrat, lipid, dan asam amino. Pada pemeriksaan plasma,
digunakan darah yang mengandung EDTA dan sebaiknya dilakukan
segera. Penyimpanan darah EDTA dalam waktu yang terlalu lama
dapat menyebabkan terjadinya hemolisis, sehingga hemoglobin
lepas ke dalam medium sekelilingnya (plasma).
3. Serum
Serum adalah komponen yang bukan berupa sel darah, juga bukan
faktor koagulasi, serum adalah plasma darah tanpa fibrinogen.
Serum terdiri dari semua protein (yang tidak digunakan untuk
pembekuan darah) termasuk cairan elektrolit, antibodi, antigen,
hormon, dan semua substansi exogenous. Serum merupakan salah
satu bentuk protein. Protein memiliki molekul yang cukup besar.

Jika darah didiamkan dalam waktu yang cukup lama atau dapat
diputar dengan sentrifuge, maka zat protein tersebut akan
mengendap, sisa berupa cairan bening/jernih yang disebut serum.
(Susilo, Reki Usman. 2014).
IV.2 Sediaan Hapusan Darah
Untuk melihat struktur sel-sel darah dengan mikroskop cahaya
pada umumnya dibuat sediaan apus darah. Sediaan apus darah tepi adalah
suatu cara yang sampai saat ini masih digunakan pada pemeriksaan di
laboratorium. Prinsip pemeriksaan sediaan apus ini adalah dengan
meneteskan darah lalu dipaparkan di atas objek glass, kemudian
dilakukan pengecatan dan diperiksa dibawah mikroskop (Anonim. 2011)
Guna pemeriksaan apusan darah:
1. Evaluasi morfologi dari sel darah tepi (eritrosit, trombosit, dan
leukosit)
2. Memperkirakan jumlah leukosit dan trombosit
3. Identifikasi parasit (misal : malaria. Microfilaria,

dan

Trypanosoma)
(Anonim. 2011)
IV.3 Jenis apusan darah :
Terdapat 2 jenis sediaan hapusan darah, yaitu sediaan hapusan
darah tipis dan sediaan hapusan darah tebal.
1. Sediaan darah tipis
Ciri- ciri apusan sediaan darah tipis yaitu lebih sedikit
membutuhkan darah untuk pemeriksaan dibandingkan dengan
sediaan apus darah tebal morfologinya lebih jelas. bentuk parasit
plasmodium berada dalam eritrosit sehingga didapatkan bentuk
parasit yang utuh dan morfologinya sempurna. Serta lebih mudah
untuk menentukan spesies dan stadium parasit dan perubahan pada
eritrosit yang dihinggapi parasit dapat dilihat jelas.
2. Sediaan darah tebal
Ciri- ciri apusan sediaan darah tebal yaitu membutuhkan darah
lebih banyak untuk pemeriksaan dibanding dengan apusan darah
tipis, sehingga jumlah parasit yang ditemukan lebih banyak dalam
satu lapang pandang, sehingga pada infeksi ringan lebih mudah
ditemukan. Sediaan ini mempunyai bentuk parasit yang kurang
utuh dan kurang begitu lengkap morfologinya.
(Anonim.2011)

IV.4 Pewarnaan Sediaan Hapusan Darah


Pewarnaan darah apus merupakan pewaraan yang terwarnai pada
preparat darah apus tepi, misalnya dengan menggunakan pewarnaan
menurut Romanowsky ada empat macam pewarnaan preparat darah apus
yaitu pewarnaan wrights stain, pewarnaan lieshman, pewarnaan may
grunwald, pewarnaan giemsa (Anonim.2012)
Pewarnaan preparat darah apus yang sering digunakan untuk
melakukan pengecatan preparat darah apus kebanyakan menggunakan
metode pewarnaan Romanowsky diantaranya :
a. Pewarnaan Giemsa
Pewarna Giemsa 10% sebagai pewarna yang umum digunakan
agar sediaan terlihat lebih jelas. Pewarnaan ini sering disebut juga
pewarnaan Romanowski. Metode pewarnaan ini banyak dipakai untuk
mempelajari morfologi darah, sel-sel sumsum dan juga untuk identifikasi
parasit-parasit darah misalnya dari jenis protozoa. Zat ini tersedia dalam
bentuk serbuk atau larutan yang disimpan di dalam botol yang gelap
(Anonim.2011)
b. Pewarnaan wright
Pewarnaan wright adalah zat warna yang digunakan dalam metode
Romanowsky, merupakan campuran eosin Y, Azure B, metilen blue, dan
metal alkohol dalam konsentrasi tinggi. Sediaan apus yang telah
dikeringkan diudara, tidak perlu mengadakan fiksasi tersendiri, karena
telah mengandung metil alkohol dalam konsentrasi tinggi dan di cat
wright langsung ditambah penyanggah pH 6,4 sama banyak dan
membiarkan selama 15- 20 menit. Preparat apus yang yang telah selesai
dibuat kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x
(Anonim.2012)

V.

ALAT, BAHAN, DAN REAGEN


a. Alat
Objek Glass

Pipet tetes

Beaker glass

Rak pewarna

Botol semprot

Pipet ukut

Ball Pipet

Stop watch

b. Bahan
- Sampel darah EDTA
- Tissue
- Buffer Phospfat pH 7,0
- Giemsa pekat
- Methanol p.a
- Alkohol 70%
- Aquadest

VI.

CARA KERJA
a. Pembuatan Sediaan Hapusan Darah
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dan dipastikan
2.
3.
4.
5.

alat dan bahan dalam keadaan siap.


Diteteskan sampel darah pada objek glass
Diratakan sampel darah dengan bantuan objek glass yang lain.
Didorong objek glass ke depan dengan membentuk sudut 30-400
Dikering anginkan sediaan yang telah dibuat.

b. Pewarnaan Sediaan Hapusan Darah


- Pewarnaan dengan Giemsa

1.
2.
3.
4.

Disiapkan alat dan bahan yang digunakan


Diletakkan sediaan darah pada rak pewarnaan.
Diteteskan methanol selama 5 menit pada sediaan.
Diteteskan sediaan dengan giemsa yang sebelumnya telah

diencerkan dengan buffer phosfat (1:4).


5. Didiamkan larutan pewarna pada sediaan selama 30 menit.
6. Dibilas sediaan yang diwarnai dengan aquadest.
7. Dikering anginkan sediaan.
Pewarnaan dengan Wright
1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Diletakkan sediaan darah pada rak pewarnaan.
3. Diteteskan methanol selama 5 menit pada sediaan.
4. Diteteskan Wright sebanyak 20 tetes dan didiamkan selama 2
menit.
5. Diteteskan buffer hingga menutupi seluruh hapusan.
6. Didiamkan buffer selama 20 menit
7. Dicuci dengan air yang mengalir.

VII.

HASIL PENGAMATAN

Gb.1 Proses penetesan darah di atas

Gb. 2 Dihapuskan darah dengan

objek glass

bantuan objek glass lain


G

Gb. 3 Didorong objek glass ke depan

b.4 Sediaan hapusan darah tipis

Gb. 5 Sediaan hapusan darah tipis menggunakan pewarnaan Giemsa.


VIII. PEMBAHASAN
Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma
darah dan sel darah. Sekitar 55% adalah plasma darah, sedangkan 45% sisanya
terdiri dari sel darah (Dwijastuti, Sri.2015). Untuk melihat struktur sel-sel darah
dengan mikroskop cahaya pada umumnya dibuat sediaan hapusan darah. Prinsip
pemeriksaan sediaan hapusan darah ini adalah dengan meneteskan darah lalu
dipaparkan di atas objek glass, kemudian dilakukan pengecatan dan diperiksa
dibawah mikroskop (Anonim. 2011).
Terdapat 2 jenis sediaan hapusan darah, yaitu sediaan hapusan darah tipis
dan sediaan hapusan darah tebal. Pada praktikum kali ini, dilakukan pembuatan
sediaan hapusan darah tipis. Mula-mula, disiapkan alat dan bahan terlebih dahulu,
dan dipastikan dalam keadaan siap digunakan. Darah yang digunakan dalam
praktikum ini adalah darah dengan antikoagulan EDTA. Pertama-tama,
dibersihkan terlebih dahulu objek glass yang akan digunakan untuk membuat
sediaan hapusan darah tepi. Hal ini berfungsi untuk menghilangkan lemak-lemak
yang menempel pada objek glass agar tidak mengganggu saat proses pengamatan
hapusan. Setelah itu, diteteskan darah ke atas objek glass dengan menggunakan
pipet tetes. Kemudian objek glass atau kaca penutup yang lain disentuhkan ke
tetesan darah hingga darah melebar. Selanjutnya dengan membentuk sudut 30-40 0,
digerakkan objek glass atau kaca penutup ke depan membentuk hapusan darah
yang tidak terlalu tipis ataupun terlalu tebal, karena jika terlalu tebal maka saat
pengamatan di bawah mikroskop akan terlihat kurang jelas karena sel darah
bertumpuk.
Ciri-ciri sediaan hapusan darah yang baik adalah sebagai berikut:

a. Sediaan tidak melebar sampai tepi kaca objek glas, panjang sampai

2/3

panjang kaca.
b. Mempunyai bagian yang cukup tipis untuk diperiksa, pada bangian itu eritrosit
tersebar rata berdekatan dan tidak saling bertumpukan
c. Pinggir sediaan rata, tidak berlubang-lubang atau bergaris-garis.
d. Penebalan eritrosit yang baik tidak berkumpul pada pinggir atau ujung sedimen
(Anonim.2012)
Sediaan hapusan darah tepi dapat digunakan untuk berbagai macam
pemeriksaan, misalnya evaluasi morfologi dari sel darah tepi (eritrosit, trombosit,
dan leukosit), memperkirakan jumlah leukosit dan trombosit, maupun identifikasi
parasit (misal : malaria. Microfilaria, dan Trypanosoma) (Anonim. 2011).
Setelah mendapat sediaan yang bagus (tidak tebal dan tipis), maka
sediaan hapusan darah dibiarkan kering dalam suhu ruang. Setelah itu, dilakukan
proses pewarnaan. Pada praktikum kali ini dilakukan pewarnaan Giemsa dan
Wright pada sediaan hapusan darah. Pada pewarnaan Giemsa, mula-mula
diteteskan methanol ke atas sediaan hingga bagian yang terlapisi darah tertutup
semuanya. Fungsi methanol adalah untuk memfiksasi darah sehingga darah tetap
menempel pada objek glass sehingga tidak hilang saat diamati. Fiksasi juga
berfungsi untuk mempertahankan struktur dari sel darah agar tetap normal. Proses
fiksasi ini dilakukan selama 5 menit. Selanjutnya sediaan diteteskan dengan
larutan giemsa yang sebelumnya telah diencerkan dengan buffer pH 7 dengan
perbandingan 1:4, dimana 1 mL Giemsa dilarutkan dalam 4 mL buffer pH 7.
Fungsi giemsa adalah untuk mewarnai darah sehingga mudah dibedakan dan
dapat terlihat jelas saat diamati. Waktu perendaman ini sebaiknya jangan terlalu
lama karena darah bisa tidak terlihat akibat pewarnaan yang terlalu pekat.
Sedangkan dalam pewarnaan Wright, mula-mula sediaan hapusan darah
difiksasi dengan methanol selama 5 menit pada sediaan. Sebenarnya, fiksasi tidak
perlu dilakukan karena dalam larutan Wright sudah terdapat metil alkohol dalam
konsentrasi tinggi. Kemudian diteteskan Wright sebanyak 20 tetes dan didiamkan
selama 2 menit. Setelah itu diteteskan buffer pH 7 hingga menutupi seluruh
hapusan dan dibiarkan selama 20 menit lalu dibersihkan cat warna dengan air
yang mengalir.
Berdasarkan penelitian perbedaan hasil pewarnaan giemsa dan wright
terhadap morfologi eritrosit dan kualitas cat pada preparat darah apus didapatkan

hasil bahwa cat giemsa memiliki kualitas pewarnaan lebih baik dibandingkan cat
wright. Baik pewarnaan giemsa maupun wright keduanya tidak mempengaruhi
morfologi eritrosit pada preparat darah apus (Carascallo, Maryo Vegas.2013)
Dalam praktikum ini, terdapat beberapa kesalahan dalam pembuatan
sediaan hapusan darah. Diantaranya adalah darah yang diteteskan terlalu banyak
sehingga sediaan hapusan darah menjadi terlalu tebal sehingga sel-sel eritrosit
menutupi satu sama lain sehingga mempersulit proses pengamatan. Selain itu, saat
mendorong atau spreading, praktikan sering ragu-ragu sehingga terbentuk sediaan
yang bergaris-garis, berlubang, dan terkadang terdapat ekor pada bagian ujung
hapusa. Hal ini disebabkan oleh kurangnya latihan dan teknik yang dimiliki oleh
praktikan.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengencerkan
Giemsa, dimana dari air pengencer yang digunakan harus jernih dan tidak berbau.
Selain itu, derajat keasaman pengencer hendaknya berada 6,8 - 7,2 perubahan, hal
ini berguna karena pH pada larutan giemsa berpengaruh pada sel-sel darah. Dalam
praktikum kali ini digunakan buffer pH 7 untuk mengencerkan Giemsa.

IX.

SIMPULAN
Berdasarkan praktikum mengenai pembuatan dan pewarnaan sediaan

hapusan darah, dapat ditarik simpulan sebagai berikut:


1. Pembuatan sediaan hapusan darah dapat dilakukan dengan cara
meneteskan darah ke atas objek glass kemudian objek glass yang lain
disentuhkan ke tetesan darah hingga darah melebar lalu digerakkan objek
glass atau kaca penutup ke depan membentuk hapusan darah yang baik.
2. Pewarnaan sediaan hapusan darah tepi yang sering dilakukan adalah
dengan pewarnaan Giemsa dan Wright. Pewarnaan ini berfungsi dalam
evaluasi morfologi dari sel darah tepi, memperkirakan jumlah leukosit dan
trombosit, dan untuk identifikasi parasit.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. METODE PEMBUATAN HAPUSAN DAN PENGECATAN
PREPARAT

MALARIA

(BLOOD

SMEAR).

[online].

http://habibi.staff.ub.ac.id/files/2012/11/blood-smear.pdf.

Tersedia:

[Diakses:

27

Maret 2016; 13.32 WITA]


Anonim.2011.

BAB

II

TINJAUAN

PUSTAKA

[online].

Tersedia:

http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=12611. [Diakses: 27 Maret


2016; 13.42 WITA]
Anonim.2011.

BAB

II

TINJAUAN

PUSTAKA.[online].

Tersedia:

http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=11251. [Diakses: 27 Maret


2016; 13.55 WITA]
Carascallo, Maryo Vegas.2013. Perbedaan Hasil Pewarnaan Giemsa dan Wright
terhadap Morfologi Eritrosit dan Kualitas Cat pada Preparat Darah Apus.
[online].Tersedia:

http://digilib.unimus.ac.id/gdl.php?

mod=browse&op=read&id=jtptunimus-gdl-maryovegas-6908. [Diakses: 27
Maret 2016; 15.40 WITA].
Dwijastuti, Sri.2015.Preparasi Sampel Darah dan Urin.[online].Tersedia :
http://dokumen.tips/documents/preparasi-sampel-darah-dan-urine.html.
(diakses : 8 Maret 2016. 09:30 wita)
Susilo, Reki Usman. 2014. Flebotomi. Denpasar: Pustaka Rasmedia Yogyakarta

LEMBAR PENGESAHAN

Mengetahui,
Pembimbing I

Pembimbing II

(Dr. dr. Sainny Herawati, Sp. PK)

(Rini Riowati, B.Sc.)

Pembimbing III

Pembimbing IV

(I Ketut Adi Santika, A.Md. A.K.)

(Luh Putu Rinawati, S.Si.)

Pembimbing V

(I Kadek Aryadi Hartawiguna, A.Md.A.K