Anda di halaman 1dari 10

ATIYYA INAYATILLAH

STABILITAS LERENG

Oleh ; Atiyya Inayatillah

Kelongsoran Lereng

Yang dimaksud dengan longsor adalah suatu pergerakan tanah dari atas ke bawah pada
ketinggian tertentu. Pada umumnya suatu longsor memepunyai bidang kelongsoran, dan pada
umumnya terdapat dua macam bentuk bidang longsor yaitu;
1. Bidang Longsor Berbentuk Datar
Adalah suatu lereng yang mempunyai bidang longsor berupa garis lurus dengan
kemiringan tertentu dan untuk lebih jelasnya pada gambar 2.1 diatas menunjukkan
sebuah lereng dengan ketinggian H, dan mempunyai kemiringan lereng berupa garis
AB dan garis AC merupakan salah satu contoh bidang longsor suatu lereng yang
berbentuk datar.

Gambar 3.3 Bidang longsor berbentuk datar


2. Bidang longsor berbentuk lingkaran
Adalah sebuah lereng yang mempunyai bidang longsor menyerupai sebuah lingkaran.
Pada gambar 2.2 di bawah ini, dapat dilihat bahwa suatu lereng dengan ketinggian H
dan mempunyai bidang kelengkungan dimana bidang yang melengkung adalah suatu
contoh bidang longsor suatu lereng yang berbentuk lingakaran.

1
ATIYYA INAYATILLAH

Gambar 3.4 Bidang longsor berbentuk lingakaran


Tipe – tipe gerakan tanah secara umum adalah sebagai berikut :
 Jatuhan (Falls)
 Longsoran (Slides)
 Aliran (Flows)
 Kombinasi (Complex)

Teori Kestabilan Lereng


Pada prinsipnya suatu lereng dikatakan stabil atau akan stabil apabila tegangan
geser tanah (D) yang menyebabkan lereng tersebut longsor (driving forces) sama besar
dengan tegangan geser tanah (N) yang menahan lereng longsor (resisting forces).
Kestabilan suatu lereng dinyatakan dengan suatu nilai yang disebut nilai faktor
keamanan atau lebih dikenal dengan safety factor (SF). SF didefinisikan sebagai
perbandingan dari kekuatan geser yang diperlukan agar setimbang terhadap kekuatan
geser material yang tersedia.

Atau

SF =

dimana: τa = kekuatan geser material yang tersedia

τm = kekuatan geser material yang diperlukan agar tepat

2
ATIYYA INAYATILLAH

setimbang

Kekuatan geser material yang tersedia (τa) dihitung dengan menggunakan Persamaan
Mohr-Coulomb, sedangkan kekuatan geser yang diperlukan agar tepat setimbang (τm)
dihitung dengan menggunakan persamaan kesetimbangan.

Secara teori jika SF bernilai < 1 maka lereng tersebut tidak aman dan berada
dalam kondisi longsor. Sedangkan SF = 1 adalah kondisi batas ketika resisting force dan
driving force bernilai sama. Bisa jadi dalam kondisi ini lereng masih stabil tetapi sedikit
saja ada ada gangguan maka lereng akan longsor.

Parameter Kestabilan Lereng

Secara umum parameter yang diperlukan dalam analisi kestabilan lereng sebagai
berikut:
 Material
 Kekuatan tanah dan batuan
 Sudut lereng (slope angel)
 Iklim
 Vegetasi
 Waktu

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kestabilan Lereng.

Kestabilan lereng pada lereng tanah dan batuan selalu dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain: geometri lereng, struktur geologi, kondisi air tanah, sifat fisik dan
mekanika batuan serta gaya-gaya yang bekerja pada lereng.
a. Geometry Lereng
Kemiringan dan tinggi suatu lereng sangat mempengaruhi kemantapannya.
Semakin besar kemiringan dan tinggi suatu lereng, maka kemantapannya semakin
kecil
b. Struktur Batuan
Struktur batuan yang sangat mempengaruhi kemantapan lereng adalah bidang –
bidang sesar, perlapisan dan rekahan. Struktur batuan tersebut merupakan bidang-

3
ATIYYA INAYATILLAH

bidang lemah dan sekaligus sebagai tempat merembesnya air, sehingga batuan
lebih mudah longsor.
c. Sifat Fisik dan Mekanika Batuan
Sifat fisik batuan yang mempengaruhi kemantapan lereng adalah: bobot isi
(density), porositas dan kandungan air. Kuat tekan, kuat tarik, kuat geser, kohesi
dan sudut geser dalm merupakan sifat mekanik batuan yang juga mempengaruhi
kemantapan lereng.
d. Bobot Isi (Density)
Bobot isi batuan akan mempengaruhi besarnya beban pada permukaan bidang
longsor. Sehingga semakin besar bobot isi batuan, maka gaya penggerak yang
menyebabkan lereng longsor akan semakin besar. Dengan demikian, kemantapan
lereng tersebut semakin berkurang.
3. Porositas
Batuan yang mempunyai porositas besar akan banyak menyerap air. Dengan
demikian kuat geser batuannya akan menjadi semakin kecil, sehingga
kemantapannya pun berkurang. Air sangat memepengaruhi kestabilan lereng.
Dalam analisis ini mengunakan Ru sebagai parameter tekanan air tanah, karena
tinggi muka air tanah pada material longsor tidak dapat ditentukan.

Persamaan Mohr Coulomb


Nilai Kuat Geser batuan pada kondisi kering :
τ = c + σ tg φ
Nilai Kuat Geser batuan pada kondisi jenuh :
τ = c + (σ - μ) tg φ
Dimana :
τ = kuat geser batuan (ton/m2)
c = kohesi (ton/m2)
σ = tegangan normal (ton/m2)
µ = tekanan air pori (ton/m2)
φ = sudut geser dalam (derajat)
Kuat geser tanah pada kondisi jenuh air akan berkurang karena tekanan air pori air
mereduksi tegangan normal. Tekanan air pori akan mereduksi tegangan normal
sehingga kekuatan geser material pada badan lereng berkurang. Tegangan Normal

4
ATIYYA INAYATILLAH

Efektif σ'= σ – u. Tegangan noramal efektif adalah tegangan normal yang


direduksi oleh tekanan air pori.
Hubungan antara tegangan total,tegangan efektif dan tekanan air pori adalah
sebagai berikut :

Gambar 2.9 Hubungan antara tegangan total,tegangan efektif dan


tekanan air pori

4. Kuat Tekan, Kuat tarik dan Kuat Geser


Kekuatan batuan biasanya dinyatakan dengan kuat tekan (confined & unifed
compressive strenght), kuat tarik (tensile strenght) dan kuat geser (shear strenght).
Batuan mempunyai kekuatan besar, akan lebih mantap.
5. Kohesi dan Sudut Geser Dalam
Semakin besar kohesi dan sudut geser dalam, maka kekuatan geser batuan akan
semakin besar juga. Dengan demikian akan lebih mantap.
6. Pengaruh Gaya
Biasanya gaya-gaya dari luar yang dapat mempengaruhi kemantapan lereng antara
lain: getaran alat-alat berat yang bekerja di sekitar lereng, peledakan, gempa bumi
dll. Semua gaya-gaya tersebut akan memperbesar tegangan geser sehingga dapat
mengakibatkan kelonsoran pada lereng.
Faktor – faktor yang menyebabkan ketidak stabilan lereng secara umum dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Faktor- faktor yang menyebabkan naiknya tegangan; meliputi naiknya berat unit
tanah karena pembasahan, adanya tambahan beban eksternal (bangunan),
bertambahnya kecuraman lereng karena erosi alami atau penggalian, dan
bekerjanya beban goncangan.
b. Faktor-faktor yang menyebabkan turunnya kekeuatan; meliputi adsorpsi air,
kanaikan tekanan pori, beban goncangan atau beban berulang, pengaruh

5
ATIYYA INAYATILLAH

pembekuan dan pencairan, hilangnya sementasi material, proses pelapukan, dan


regangan berlebihan pada lempung yang sensitif.
Secara umum kehadiran air adalah faktor dari kebanyakan keruntuhan lereng, karena
hadirnya air menyebabkan naiknya tegangan maupun turunnya kekuatan.
Stabilitas Lereng terdiri dari :
 Lereng tak hingga/tak terbatas tanpa rembesan
 Lereng tak hingga/tak terbatas dengan rembesan
 Lereng hingga/terbatas dengan Plane Failure Surface (Metode Cullman)
 Lereng hingga/terbatas dengan Circular Failure Surface (Metode Irisan)

1. Lereng Tak Hingga

2. Lereng hingga/terbatas dengan Plane Failure Surface (Metode


Cullman)

6
ATIYYA INAYATILLAH

3. Lereng hingga/terbatas dengan Circular Failure Surface (Metode


Irisan)

4. Lereng pada tanah yang Homogen


Untuk metode Limit Equilibrium, momen pendorong dan momen penahan di O :

7
ATIYYA INAYATILLAH

Kritis dimana nilai FoS (Factor of Safety) minimum. Coba mencari nilai kritis plane
untuk memecahkan analisa ini menggunakan metode Fellenius (1927) dan Taylor (1937).

Grafik dibuat oleh Terzaghi dan Peck, 1967 di Gambar 11.9 Braja M. Das adalah Nomor
Sabilitas.

5. Lereng pada tanah yang Homogen

8
ATIYYA INAYATILLAH

Metode Irisan

9
ATIYYA INAYATILLAH

Metode Bishop
Bishop (1955) menyederhanakan metode irisan sebelumnya. Dalam metode Bishop
meniadakan semua gaya geser antar pias, namun keseirnbangan gaya horisontal
diperhitungkan secara keseluruhan dan efek dari gaya yang berada pada setiap irisan
diperhitungkan beberapa derajat.

Metode Irisan biasa hanya diperkenalkan untuk alat belajar saja. Ini jarang digunakan karena
terlalu konservatif.

10