Anda di halaman 1dari 57

7/2/2013

HUKUM
PERSAINGAN USAHA
PARAMITA P

HPERSAINGAN/MITA/2013

PERSAINGAN USAHA
Mengapa bersaing ?
Penjual
bertambah
banyak
Konsumen terbatas
Motivasi keuntungan
Memperluas jaringan
Penguasaan tehnologi
Prestise perusahaan

Instrumen persaingan

HPERSAINGAN/MITA/2013

Harga
Efisiensi produksi
Keunggulan produk
Keanekaragaman produk
Luas jaringan
Pelayanan
Pariwara
Tehnologi

7/2/2013

TANPA PERSAINGAN

Mekanisme pasar tidak sehat


Unsur favoritesme kental/kuat
Blokade pasar memakai unsur kekuasaan
Captive market (pasar yang pasti)
Kelompok
usaha
besar
menanamkan
pengaruh pd penguasa
penyalahgunaan
kekuasaan antara pengusaha & penguasa
Terciptanya kongklomerasi untuk menguasai
pasar
HPERSAINGAN/MITA/2013

MANFAAT H.PERSAINGAN
ASPEK EKONOMI
Konsumen bebas memilih barang / jasa dengan
harga & kualitas sesuai kemampuan
SDA , modal, SDM, tanah dialokasikan secara
optimal, untuk menghasilkan barang & jasa
dengan sangat produktif
Perolehan pendapatan faktor produksi sesuai
karya yang dihasilkan
Konsumen bebas merencanakan penggunaan
barang & jasa di masa depan
HPERSAINGAN/MITA/2013

7/2/2013

MANFAAT H. PERSAINGAN
ASPEK TEKNOLOGI
Produsen dipaksa untuk terus berkembang
menerapkan teknologi baru seiring permintaan
konsumen
Hanya yang inovatif yang dapat bertahan

ASPEK Perdagangan Internasional


Ekonomi nasional yang bersaing secara sehat
mendorong kemampuan produsen untuk dapat
bersaing secara sehat di pasar internasional

HPERSAINGAN/MITA/2013

PERSAINGAN USAHA

Bagi pelaku usaha :


1.
2.
3.
4.
5.

Perilaku persaingan usaha :

Memaksa pelaku usaha untuk melakukan efisiensi usaha


Memaksa pelaku usaha untuk melakukan inovasi
Memaksa pelaku usaha untuk jeli melihat peluang
Membutuhkan biaya yang tinggi
Risiko kalah dalam persaingan
SEHAT
TIDAK SEHAT

Peranan Pemerintah membuat peraturan yang


mengatur hubungan hukum antar para pelaku
usaha agar tercipta persaingan usaha yang sehat
HPERSAINGAN/MITA/2013

7/2/2013

PASAR PERSAINGAN SEMPURNA


Memiliki ciri-ciri :
1. Jumlah produsen & konsumen banyak
2. Pembeli & penjual tidak dapat mempengaruhi harga pasar
1. Jika penjual menaikkan harga, akan kehilangan pelanggan,
demikian sebaliknya
2. Jika menurunkan harga akan merugi
3. Pembeli terlalu kecil untuk mempengaruhi harga

3. Tidak ada hambatan untuk keluar/masuk pasar (hambatan


legal & hambatan tehnologi)
4. Produk homogen
5. Tidak ada produk substitusi / pengganti
6. Informasi sempurna
Pasar sempurna jarang terjadi di dunia nyata, lebih banyak
merupakan tolak ukur teoritis
HPERSAINGAN/MITA/2013

PASAR TERDISTORSI
Terjadi praktek monopoli, dimana tidak terjadi
persaingan
Terjadi apabila :
Pelaku usaha memiliki pengaruh untuk
menentukan harga
Pelaku usaha tidak merasa perlu menyesuaikan
diri terhadap pesaing
Adanya entry barrier bagi pelaku usaha lain
memasuki suatu pasar
HPERSAINGAN/MITA/2013

7/2/2013

HUKUM PERSAINGAN
Aturan yang mengatur agar terjadi persaingan
yang sehat antar pelaku usaha & menghindari
terjadinya praktek monopoli
Tujuan :
Agar persaingan antar pelaku usaha tetap hidup
Agar persaingan yang dilakukan antar pelaku
usaha dilakukan secara sehat
Agar konsumen tidak dieksploitasi oleh pelaku
usaha

HPERSAINGAN/MITA/2013

AKIBAT PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT


1. Merugikan konsumen :

Harga jual lebih tinggi


Jumlah yang dijual lebih sedikit

2. Inefisiensi

Tidak menggunakan kapasitas produksi secara penuh


Sumber daya tidak digunakan secara ekonomis

3. Godaan untuk mempertahankan


monopoli dengan cara :

kekuatan

Kolusi
Boikot
Mengancam pesaing / konsumen
HPERSAINGAN/MITA/2013

10

7/2/2013

PENENTUAN LARANGAN
PER SE ILLEGAL
Penentuan berdsrkn pembuktian sederhana
Pilihan ini dilakukan karena untuk meneliti semua faktor
dalam penentuan setiap kasus adalah sangat mahal dan
melelahkan
Lebih banyak dipakai dalam kasus-kasus penetapan harga
(price fixing)

RULE OF REASON
Penentuan berdsrkn pembuktian yang rumit dilakukan krn
pembuktian tjdnya praktek monopoli / persaingan tdk
sehat harus memperhatikan semua faktor
HPERSAINGAN/MITA/2013

11

BENTUK LARANGAN
DLM HUKUM PERSAINGAN
Larangan terhadap pasar / market structure restraint
(dlm jumlah % tertentu)
Penentuan pasar bersangkutan (relevant market) dimana
praktek monopoli / persaingan tdk sehat dilakukan
Ditentukan berdasarkn produk & atau letak geografis
Sebelum kasus diperiksa harus ditentukan lebih dulu pasar
bersangkutan

Larangan terhadap perilaku (restrictive business


practices / behavior practices)
Yang diterapkan dalam hukum persaingan Indonesia
ad/ kedua larangan dengan penekanan larangan
terhadap perilaku
HPERSAINGAN/MITA/2013

12

7/2/2013

DEFINISI PRAKTEK MONOPOLI


Pemusatan kekuatan ekonomi
Oleh 1/ lebih pelaku usaha,
Yg mengakibatkan dikuasainya produksi &
atau pemasaran atas suatu barang & atau jasa
Sehingga menimbulkan persaingan usaha yg
tidak sehat & dapat merugikan kepentingan
umum

HPERSAINGAN/MITA/2013

13

DEFINISI PERSAINGAN USAHA TIDAK


SEHAT
Persaingan antar pelaku usaha
Dalam menjalankn produksi / pemasaran
barang / jasa
Yang dilakukan dg cara :
Tidak jujur atau
Melawan hukum atau
Menghambat persaingan usaha

HPERSAINGAN/MITA/2013

14

7/2/2013

SUBSTANSI LARANGAN
UU NO 5 THN 1999

PERJANJIAN YANG DILARANG


KEGIATAN YANG DILARANG
LARANGAN BERKAITAN DENGAN POSISI
DOMINAN

HPERSAINGAN/MITA/2013

15

DEFINISI PERJANJIAN
KUHPERDATA
Semua perjanjian yg
dibuat scr sah berlaku
sbg UU bagi mereka yg
membuatnya
Sahnya
perjanjian
(sepakat,
kecakapan,
hal tertentu & sebab yg
halal)

UU NO 5 / 1999
Perjanjian adalah suatu
perbuatan satu a/ lebih
pelaku usaha untuk
mengikatkan
diri
terhadap satu atau lebih
pelaku usaha lain dg
nama
apapun
baik
tertulis maupun tidak
tertulis

HPERSAINGAN/MITA/2013

16

7/2/2013

Bentuk-bentuk Perjanjian Secara Umum


1. Horizontal
dilakukan diantara pelaku usaha yang saling
bersaing, contohnya: kartel, penetapan
harga, persekongkolan tender.
2. Vertikal
dilakukan diantara pelaku usaha yang saling
memiliki keterkaitan usaha contohnya: resale
price
maintenance
(RPM),
exclusive
distribution, exclusive dealing, tie-in sale.
HPERSAINGAN/MITA/2013

17

Tujuan Perjanjian
Yang positif (+)
1. Meningkatkan efesiensi
2. Mengurangi resiko
3. Menciptakan produk baru dan meningkatkan kualitas
produk
4. Meningkatkan metode distribusi
5. Memperbaiki saluran informasi

Yang negatif (-)


1. Menghilangkan persaingan
2. Membatasi produksi
3. Meningkatkan harga
HPERSAINGAN/MITA/2013

18

7/2/2013

PERJANJIAN YANG DILARANG

OLIGOPOLI (psl 4)
PENETAPAN HARGA (psl 5 - 8)
PEMBAGIAN WILAYAH (psl 9)
PEMBOIKOTAN (psl 10)
KARTEL (psl 11)
TRUST (psl 12)
OLIGOPSONI (psl 13)
INTEGRASI VERTIKAL (psl 14)
PERJANJIAN TERTUTUP (psl 15)
PERJANJIAN DG PIHAK LUAR NEGERI (psl 16)
HPERSAINGAN/MITA/2013

19

PERJANJIAN OLIGOPOLI
Dua atau lebih pelaku usaha
Membuat perjanjian
Untuk secara bersama-sama melakukan
penguasaan produksi & atau pemasaran
barang & atau jasa\
Yg mengakibatkan terjadinya praktek
monopoli & atau persaingan usaha tidak sehat
(Rule of Reason)
HPERSAINGAN/MITA/2013

20

10

7/2/2013

OLIGOPOLI
Berdasarkan Pasal 4 ayat (2) diartikan bahwa
oligopoli itu sendiri merupakan suatu keadaan
dimana pelaku usaha (2 atau 3 pelaku usaha
atau kelompok pelaku usaha) secara bersamasama melakukan penguasaan produksi dan atau
pemasaran barang dan jasa lebih dari 75%
pangsa pasar satu jenis barang atau jasa
tertentu.
Kemudian yang dilarang oleh UU Persaingan
Usaha adalah adanya perjanjian (kolusi) diantara
mereka untuk melakukan penguasaan produksi
dan atau pemasaran barang dan jasa.
HPERSAINGAN/MITA/2013

21

TIGA MODEL OLIGOPOLI


1. Non Kolusi (Kinked Demand Model)
Diantara oligopolis tidak mau melakukan kerja
sama
2. Kolusi Dalam Penetapan Harga ( Collusive
pricing)
Kerja yang dilakukan misalnya secara resmi
dengan membentuk kartel, tetapi jika secara
resmi dilarang, dapat dilakukan secara informal
atau implisit
3. Kepemimpinan Harga (Price Leadership)
Perusahaan-perusahaan
yang
dominan,
memegang kendali dalam penetapan harga,
sehingga mendapat laba yang lebih besar
HPERSAINGAN/MITA/2013

22

11

7/2/2013

ALASAN OLIGOPOLI
Salah satu bentuk struktur pasar dimana hanya
terdapat sedikit pelaku usaha (baik produsen ataupun
konsumen) yang menawarkan produk yang
seragam/identik kepada pelaku usaha lain.
Diantara pelaku usaha memiliki keterkaitan satu sama
lain (Cournot {output} and Bertrand {harga} model)
Berusaha
untuk
saling
berkerjasama
untuk
mendapatkan keuntungan yang besar dengan cara
mengurangi produksi dan mengenakan harga di atas
marginal cost.
HPERSAINGAN/MITA/2013

23

FAKTOR PENYEBAB OLIGOPOLI


1.Efisiensi skala besar:
Investasi awal sangat besar
Biaya produksi murah bila skala produksi sangat
besar

2.Kompleksitas manajemen:
Industri padat modal dan ilmu pengetahuan
Sumber daya manusia kualitas tinggi
Multi disiplin
Persaingan non harga
Inteljen bisnis
HPERSAINGAN/MITA/2013

24

12

7/2/2013

DAMPAK OLIGOPOLI
Kekuatan:
Mampu mengakumulasi laba super normal
Produksi paling prima & dinamis
Pionir riset dan pengembangan teknologi
Pionir pengembangan SDM
Keterbatasan:
Berpotensi membentuk kekuatan monopoli
Kapasitas tak terpakai
Kesejahteraan yang hilang
HPERSAINGAN/MITA/2013

25

Bahan diskusi Oligopoli


Industri semen nasional untuk saat ini dikuasai
oleh beberapa perusahaan semen seperti PT
Semen Gresik yang menguasai 43% pangsa pasar,
PT Indocement yang menguasai 34% pangsa
pasar, PT Semen Cibinong yang menguasai 13,6%
pangsa pasar, PT Semen Andalas yang menguasai
4,3% pangsa pasar, dan sisanya dikuasai oleh PT
Semen Baturaja, PT Semen Basowa Maros, dan
PT Semen Kupang.
Pertanyaannya
apakah
kondisi
tersebut
diperbolehkan oleh UU No.5/1999?
HPERSAINGAN/MITA/2013

26

13

7/2/2013

PERJANJIAN PENETAPAN HARGA


Perjanjian antara pelaku & pesaing
Untuk menetapkan harga yg harus dibayar pelanggan
/ konsumen
Pada pasar relevan yg sama (Per se Illegal)
Bentuk penetapan harga :
Pembeli A membayar harga berbeda dg pembeli B untuk
barang/ jasa yg sama
Menetapkan harga dibawah / diatas harga pasar yg dpt
mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak sehat
Melarang penerima barang memasok dg harga dibawah yg
diperjanjikan, mengakibatkan terjadinya persaingan usaha
tidak sehat
HPERSAINGAN/MITA/2013

27

PENETAPAN HARGA
JENIS-JENIS :
1. Price Fixing (Pasal 5 UU No.5/1999);
2. Diskriminasi harga / price discrimination (Pasal 6 UU
No.5/1999);
3. Predatory Pricing (Pasal 7 UU No.5/1999);
4. Resale Price Maintenance (Pasal 8 UUNo.5/1999)

Pertanyaan penting :
Price fixing :
1. Apakah tujuan dari pelaku usaha melakukan
price fixing?
2. Mengapa price fixing perlu diatur secara per se?
HPERSAINGAN/MITA/2013

28

14

7/2/2013

Bahan diskusi
Agar dapat tetap melangsungkan usaha ditengah
persaingan
yang
semakin
ketat
dengan
perusahaanperusahaan taksi besar, para pengusaha
angkutan Taksi yang tergolong usaha kecil dan relatif
masih baru bersepakat untuk menetapkan tarif
ekonomi (kembali kepada tarif lama sebelum kenaikan
tarif baru) yang seragam kepada para penumpang
mereka, dan hal tersebut oleh perusahaan-perusahaan
taksi besar dianggap sebagai salah satu bentuk
persaingan usaha tidak sehat.
Pertanyaannya apakah kesepakatan untuk menetapkan
tarif ekonomi tersebut diperbolehkan oleh UU
No.5/1999?
HPERSAINGAN/MITA/2013

29

Diskriminasi Harga / Price Discrimination


Tujuan utamanya mendapatkan keuntungan yang lebih
tinggi
Keuntungan yang lebih tinggi tersebut diperoleh dengan
cara merebut surplus konsumen
Surplus konsumen adalah selisih harga tertinggi yang
bersedia dibayar konsumen dengan harga yang benarbenar dibayar oleh konsumen
Didasari
adanya
kenyataan
bahwa
konsumen
sebenarnya bersedia untuk membayar lebih tinggi, maka
perusahaan akan berusaha merebut surplus konsumen
tersebut dengan cara melakukan diskriminasi harga
Syarat utama penerapan diskriminasi harga:
1. Memiliki market power
2. Tidak ada resale/arbitrage
HPERSAINGAN/MITA/2013

30

15

7/2/2013

1st degree Price Discrimination


Menerapkan harga yang berbeda-beda untuk
setiap konsumen berdasarkan reservation
price masing-masing konsumen
Disebut juga perfect / full PD karena berhasil
mengambil surplus konsumen paling besar
Syarat utama, perusahaan harus mengetahui
reservation price masing-masing konsumen

HPERSAINGAN/MITA/2013

31

2nd degree Price Discrimination


PD dilakukan dengan cara menerapkan harga
yang berbeda-beda pada jumlah unit produk
yang dijual
PD ini dilakukan karena perusahaan tidak
memiliki informasi mengenai reservation price
konsumen, contoh: perbedaan harga per unit
pada pembelian grosir dan pembelian eceran

HPERSAINGAN/MITA/2013

32

16

7/2/2013

3rd degree Price Discrimination


PD dilakukan dengan cara menerapkan harga yang
berbeda untuk setiap kelompok konsumen
berdasarkan reservation price masing-masing
kelompok konsumen
PD dilakukan karena perusahaan tidak mengetahui
reservation price masing-masing konsumen, tapi
mengetahui
reservation
price
kelompok
konsumen
Kelompok konsumen dapat dibedakan atas lokasi
geografis, maupun karakteristik konsumen
seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, dll.
HPERSAINGAN/MITA/2013

33

Bahan diskusi
Sebuah organisasi advokat/pengacara yang
menjadi wadah dari beberapa organisasi advokat
yang ada di Indonesia dalam penyelenggaraan
suatu kegiatan misalnya seminar, workshop,
pendidikan advokat, dan lain-lain mengenakan
tariff yang berbeda kepada peserta yang bukan
menjadi anggota dari organisasi advokat tersebut,
dimana bagi peserta yang bukan menjadi anggota
dikenakan tarif yang lebih mahal.
Pertanyaannya apakah tindakan yang dilakukan
oleh organisasi advokat tersebut diperbolehkan
oleh UU No.5/1999?
HPERSAINGAN/MITA/2013

34

17

7/2/2013

Penetapan Harga/Predatory Pricing


Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan
pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga
dibawah harga pasar, yang dapat mengakibatkan
terjadinya persaingan usaha tidak sehat (Pasal 7 UU
No.5/1999).
Definisi: Pelaku usaha yang menjual dengan harga lebih
rendah untuk mendepak pesaingnya keluar dari
industri dan mendorong pelaku usaha baru untuk tidak
masuk ke industri, kemudian dalam jangka panjang ia
akan meningkatkan labanya.
Tujuan:
mengurangi
persaingan
dengan
membangkrutkan
pesaing
dan
menciptakan
penghalang masuk (barrier to entry) bagi pelaku usaha
potensial yang ingin masuk ke industri
HPERSAINGAN/MITA/2013

35

Resale Price Maintenance


Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian
dengan pelaku usaha lain yang memuat
persyaratan bahwa penerima barang dan/atau
jasa tidak akan menjual atau memasok
kembali barang dan/atau jasa yang
diterimanya, dengan harga yang lebih rendah
daripada harga yang telah diperjanjikan
sehingga dapat mengakibatkan terjadinya
persaingan usaha tidak sehat (Pasal 8 UU
No.5/1999)
HPERSAINGAN/MITA/2013

36

18

7/2/2013

Resale Price Maintenance


Tujuan utamanya untuk menghidari terjadinya
persaingan ditingkat pengecer kurangnya
persaingan di tingkat eceran dapat melindungi
laba supranormal untuk pengecer
RPM juga dapat membatasi pelanggan terhadap
pilihan rangkaian kualitas harga yang
diinginkan, termasuk pilihan untuk membali
produk pada tingkat harga yang lebih rendah
melalui jasa atau iklan sebelumnya.

HPERSAINGAN/MITA/2013

37

Bahan diskusi
Untuk menghindari terjadinya praktek perang harga yang
terjadi diantara distributornya di Jawa Timur,
perusahaan semen terbesar SG kemudian menetapkan
harga jual semen di tingkat distributornya dan
mewajibkan para distributornya untuk menjual sesuai
dengan harga yang telah ditentukan, dan akan
mengenakan sanksi kepada distributor yang tidak
mematuhi ketentuan itu, kemudian dengan alasan
untuk meningkatkan daya saing perusahaannya SG juga
melarang para distributornya untuk menjual produk
semen merek lain. Pertanyaannya apakah perbuatan
yang dilakukan oleh SG dan para distributornya
tersebut diperbolehkan oleh UU No.5/1999?
HPERSAINGAN/MITA/2013

38

19

7/2/2013

PERJANJIAN PEMBAGIAN WILAYAH


Perjanjian antar pelaku usaha & pesaingnya
Untuk membagi wilayah pemasaran / alokasi
pasar sehingga mengakibatkan terjadinya
praktek monopoli & atau persaingan usaha
tidak sehat (Rule of Reason)
Tujuan utamanya adalah untuk menghindari
terjadinya persaingan diantara pelaku usaha
yang saling bersaing

HPERSAINGAN/MITA/2013

39

Pembagian Wilayah
Dengan hilangnya persaingan mengakibatkan
pelaku usaha dapat mengenakan harga yang
lebih tinggi sehingga mereka dapat menikmati
laba yang lebih besar
Akhirnya masing-masing pelaku usaha dapat
menentukan sendiri jumlah produk, kualitas dan
harga yang harus dibayar oleh konsumen
Pelaku usaha tidak berupaya lagi melakukan
efisiensi, dan tidak mengupayakan peningkatkan
kualitas produk dan pelayanan yang baik bagi
konsumen
Pembagian wilayah ini telah mengakibatkan
hilangnya pilihan bagi konsumen dan juga harus
membayar dengan harga yang lebih tinggi
HPERSAINGAN/MITA/2013

40

20

7/2/2013

PEMBAGIAN WILAYAH
Pembagian wilayah ini membuat pelaku usaha
yang terlibat di dalam praktek ini akan
mengalami kesulitan dalam mengembangkan
aktifitas usahanya, tetapi hal ini dikompensasi
dengan cara melakukan eksploitasi secara
besar-besaran terhadap konsumen
Namun pembagian wilayah tidak dapat berjalan
secara efektif bila konsumen mempunyai
kemampuan yang cukup untuk berpindah dari
pasar yang satu ke pasar yang lain untuk
membeli kebutuhannya
HPERSAINGAN/MITA/2013

41

PEMBOIKOTAN
Perjanjian antara pelaku usaha ----- pelaku usaha
saingan
Yg dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk
melakukan usaha yg sama baik untuk pasar dalam /
LN
Menolak menjual barang / jasa dari pelaku usaha lain
sehingga :
Merugikan atau dapat diduga merugikan
Membatasi pelaku usaha lain dlm menjual / membeli
barang / jasa dari pasar bersangkutan (Rule of Reason)
HPERSAINGAN/MITA/2013

42

21

7/2/2013

PEMBOIKOTAN
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan
pelaku usaha pesaingnya yang dapat menghalangi
pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama,
baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun pasar
luar negeri (Pasal 10 ayat (1) UU No.5/1999)
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan
pelaku usaha pesaingnya, untuk menolak menjual
setiap barang dan atau jasa dari pelaku usaha lain
sehingga perbuatan tersebut:
a. Merugikan atau dapat diduga akan merugikan pelaku
usaha lain; atau
b. Membatasi pelaku usaha lain dalam menjual atau membeli
setiap barang dan atau jasa dari pasar bersangkutan

(Pasal 10 ayat (2) UU No.5/1999)


HPERSAINGAN/MITA/2013

43

PEMBOIKOTAN
Salah satu bentuk strategi yang dilakukan di antara pelaku
usaha untuk mengusir pelaku usaha lain dari pasar yang
sama, atau juga untuk mencegah pelaku usaha yang
berpotensi menjadi pesaing untuk masuk ke dalam pasar
yang sama, yang kemudian pasar tersebut dapat terjaga
hanya untuk kepentingan pelaku usaha yang terlibat dalam
perjanjian pemboikotan tersebut
Dengan terusirnya pelaku usaha pesaing dan tidak bisa
masuknya pelaku usaha yang berpotensial menjadi pesaing
ke dalam pasar yang sama, berakibat terhadap semakin
menurunnya tingkat persaingan
Agar praktek pemboikotan yang dilakukan para pelaku usaha
yang berada di pasar dapat berjalan sukses, diperlukan
partisipasi yang seluas mungkin dari pelaku usaha yang ada
di dalam pasar yang bersangkutan, karena apabila tidak
adanya dukungan atau keterlibatan secara luas para pelaku
usaha yang ada di dalam pasar biasanya pemboikotan akan
sulit untuk berhasil
HPERSAINGAN/MITA/2013

44

22

7/2/2013

KARTEL
Perjanjian antara pelaku usaha ----- pelaku
usaha saingan
Dengan maksud mempengaruhi harga
Dengan cara mengatur produksi / pemasaran
Yg dapat mengakibatkan terjadinya praktek
monopoli & / persaingan usaha tidak sehat
(Rule of Reason)

HPERSAINGAN/MITA/2013

45

KARTEL
Salah satu strategi yang diterapkan diantara pelaku
usaha yang berasumsi jika produksi mereka di dalam
pasar dikurangi sedangkan permintaan terhadap
produk mereka di dalam pasar tetap, akan berakibat
kepada terkereknya harga ke tingkat yang lebih tinggi.
Dan sebaliknya, jika di dalam pasar produk mereka
melimpah, sudah barang tentu akan berdampak
terhadap penurunan harga produk mereka di pasar.
Tujuannya untuk mengeruk keuntungan yang
sebesarbesarnya dengan mengurangi produk mereka
secara signifikan di pasar, sehingga menyebabkan di
dalam
pasar
mengalami
kelangkaan,
yang
mengakibatkan konsumen harus mengeluarkan biaya
yang lebih untuk dapat membeli produk pelaku usaha
tersebut di pasar.
HPERSAINGAN/MITA/2013

46

23

7/2/2013

KARTEL
Praktek kartel dapat berjalan sukses apabila
pelaku usaha yang terlibat di dalam perjanjian
kartel tersebut haruslah mayoritas dari pelaku
usaha yang berkecimpung di dalam pasar
tersebut. Karena bila hanya sebagian kecil saja
pelaku usaha yang terlibat di dalam perjanjian
kartel biasanya perjanjian kartel tidak akan efektif
dalam mempengaruhi pasokan produk di pasar,
karena kekurangan pasokan di dalam pasar akan
ditutupi oleh pasokan dari pelaku usaha yang
tidak terlibat di dalam perjanjian kartel

HPERSAINGAN/MITA/2013

47

Bahan diskusi
Untuk meningkatkan posisi tawar mereka
dengan Kontraktor Singapura yang membeli
pasir laut dari Riau untuk keperluan reklamasi
daratan Singapura, para eksportir pasir laut di
Riau bersepakat untuk membentuk asosiasi
yang nantinya akan mengatur mengenai harga
dan jumlah pasir laut yang akan mereka jual
ke Singapura.
Pertanyaannya apakah perbuatan yang
dilakukan para eksportir pasir laut di Riau
tersebut diperbolehkan oleh UU No.5/1999?
HPERSAINGAN/MITA/2013

48

24

7/2/2013

TRUST
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku

usaha lain untuk melakukan kerjasama dengan membentuk


gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar,
dengan tetap menjaga dan mempertahankan kelangsungan
hidup masing-masing perusahaan atau perseoran
anggotanya, yang bertujuan untuk mengontrol produksi
dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa, sehingga
dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau
persaingan usaha tidak sehat (Pasal 12 UU No.5/1999)
Trust merupakan wadah antar perusahaan yang didisain
untuk membatasi persaingan dalam bidang usaha atau
industri tertentu
Gabungan antara beberapa perusahaan dalam bentuk trust
dimaksudkan untuk secara kolektif mengendalikan
pasokan, dengan melibatkan trustee sebagai koordinator
penentu harga.
HPERSAINGAN/MITA/2013

49

TRUST
Perjanjian antara pelaku usaha dg pelaku usaha
lainnya
Untuk melakukan kerjasama dengan cara
Membentuk gabungan perusahaan yg lebih besar
Tetap mempertahankan kelangsungan perusahaanperusahaan anggotanya

Tujuan utama mengontrol produksi / pemasaran


Yg dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli
& / persaingan usaha tidak sehat (Rule of Reason)
HPERSAINGAN/MITA/2013

50

25

7/2/2013

PERJANJIAN OLIGOPSONI
Perjanjian antara sesama pelaku usaha
Untuk secara bersama-sama menguasai
pembelian / penerimaan pasokan
Dg tujuan mengendalikan harga barang / jasa
dlm pasar bersangkutan
Yg dapat mengakibatkan terjadinya praktek
monopoli & / persaingan usaha tidak sehat
(Rule of Reason)
HPERSAINGAN/MITA/2013

51

OLIGOPSONI
Oligopsoni adalah struktur pasar yang di dominasi oleh
sejumlah konsumen yang memiliki kontrol atas
pembelian
Struktur pasar ini memiliki kesamaan dengan struktur
pasar oligopoli hanya saja struktur pasar ini terpusat di
pasar input
Dengan adanya praktek oligopsoni produsen atau
penjual tidak memiliki alternatif lain untuk menjual
produk mereka selain kepada pihak pelaku usaha yang
telah melakukan perjanjian Oligopsoni
Mengakibatkan produsen atau penjual hanya dapat
menerima saja harga yang sudah ditentukan oleh
pelaku usaha yang melakukan praktek oligopsoni.
HPERSAINGAN/MITA/2013

52

26

7/2/2013

INTEGRASI VERTIKAL
Perjanjian antara para pelaku usaha
Dg tujuan menguasai sejumlah produk yg termasuk
dalam rangkaian produksi barang/jasa tertentu
Syarat : setiap rangkaian produksi merupakn hasil
pengolahan atau proses lanjutan baik dalam
rangkaian langsung / tidak langsung
Yg dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli
& / persaingan usaha tidak sehat (Rule of Reason)

HPERSAINGAN/MITA/2013

53

INTEGRASI VERTIKAL
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku
usaha lain yang bertujuan untuk menguasai produksi
sejumlah produk yang termasuk dalam rangkaian produksi
barang dan atau jasa tertentu yang mana setiap rangkaian
produksi merupakan hasil pengolahan atau proses lanjutan,
baik dalam satu rangkaian langsung maupun tidak langsung,
yang dapat mengakibatkan terjadinya persaingan usaha tidak
sehat dan atau merugikan masyarakat
Ketika suatu pelaku usaha ingin agar pangsa pasar yang
dimilikinya menjadi lebih besar, pertumbuhan perusahaan dan
perolehan laba yang semakin meningkat, tingkat efesiensi
yang semakin tinggi dan juga untuk mengurangi ketidak
pastian akan pasokan bahan baku yang dibutuhkan dalam
berproduksi dan pemasaran hasil produksi, biasanya
perusahaan akan menempuh jalan untuk melakukan
penggabungan dengan pelaku-pelaku usaha lain yang
mempunyai kelanjutan proses produksi (integrasi vertikal).

HPERSAINGAN/MITA/2013

54

27

7/2/2013

AKIBAT INTEGRASI VERTIKAL


1. Integrasi antar pelaku usaha juga dengan
sendirinya dapat juga dikaitkan dengan
pengurangan resiko dalam bisnis :
2. Mengakibatkan meningkatnya hambatan masuk
(entry barriers) bagi pelaku usaha lain yang ingin
masuk ke dalam pasar
3. Integrasi vertikal ke arah hulu (downstream
integration) dapat memfasilitasi diskriminasi
harga, dimana integrasi sampai di tingkat ritailer
4. Dapat memungkinkan perusahaan manufaktur
mempraktekan diskriminasi harga
HPERSAINGAN/MITA/2013

55

Perjanjian Tertutup

Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang
memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa
hanya akan memasok atau tidak memasok kembali barang dan atau jasa
tersebut kepada pihak tertentu dan atau pada tempat tertentu. (Pasal 15
ayat (1) UU No.5/1999)
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak lain yang
memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa
tertentu harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pelaku
usaha pemasok. (Pasal 15 ayat (2) UU No.5/1999)
Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian mengenai harga atau potongan
harga tertentu atas barang dan atau jasa, yang memuat persyaratan
bahwa pelaku usaha yang menerima barang dan atau jasa dari pelaku
usaha pemasok :
a. harus bersedia membeli barang dan atau jasa lain dari pelaku usaha pemasok;
atau
b. tidak akan membeli barang dan atau jasa yang sama atau sejenis dari pelaku
usaha lain yang menjadi pesaing dari pelaku usaha pemasok.

(Pasal 15 ayat (3) UU No.5/1999)


HPERSAINGAN/MITA/2013

56

28

7/2/2013

PERJANJIAN TERTUTUP (1)


Perjanjian antara pelaku usaha pemasok dg pelaku usaha
penerima
Yg memuat persyaratan :
Pihak yg menerima barang/ jasa hanya dpt memasok /
tidak akan memasok kepada :
Pihak tertentu
Daerah tertentu
Pihak yg menerima barang / jasa harus bersedia membeli
barang / jasa lain dari si pelaku usaha pemasok
Yg dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli & /
persaingan usaha tidak sehat (Rule of Reason)

HPERSAINGAN/MITA/2013

57

PERJANJIAN TERTUTUP (2)


Perjanjian antara pelaku usaha pemasok dg pelaku
usaha penerima
Yg memuat kesepakatan tentang harga / potongan
harga dg syarat :
Harus bersedia membeli barang/ jasa lain dari pelaku
usaha pemasok atau
Tidak akan membeli barang /jasa yg sama / sejenis dari
pelaku usaha pemasok lain yg merupaka saingan dari
pelaku usaha pemasok

Yg dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli


& / persaingan usaha tidak sehat (Rule of Reason)
HPERSAINGAN/MITA/2013

58

29

7/2/2013

EXCLUSIVE DISTRIBUTION AGREEMENT

Pelaku usaha membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang


memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima produk hanya
akan memasok atau tidak memasok kembali produk tersebut
kepada pihak tertentu atau pada tempat tertentu saja
Dilakukan oleh pelaku usaha manufaktur yang memiliki beberapa
perusahaan yang mendistribusikan hasil produksinya, yang tidak
menghendaki terjadinya persaingan di tingkat distributor
Dengah berkurangnya atau bahkan hilangnya persaingan pada
tingkat distributor membawa implikasi kepada harga produk yang
didistribusikan menjadi lebih mahal
Dibatasinya distribusi hanya untuk pihak dan tempat tertentu saja
dapat juga mengakibatkan pihak distributor menyalahgunakan
kedudukan eksklusive yang dimilikinya untuk mungkin mengenakan
harga yang tinggi terhadap produk yang didistribusikannya kepada
konsumen pihak dan wilayah tertentu
HPERSAINGAN/MITA/2013

59

Bahan diskusi
Produsen jam tangan ternama ROLEX dalam menjual
produknya di Indonesia, menerapkan persyaratan
kepada setiap distributornya untuk hanya menjual
produk ROLEX pada tempat-tempat tertentu saja, dan
apabila ada distributor yang tidak mematuhi
persyaratan yang sudah ditentukan tersebut maka
produsen dari jam tangan ROLEX tidak akan memasok
kembali produknya kepada distributor yang tidak
mematuhi persyaratan yang sudah ditentukan
sebelumnya.
Pertanyaannya apakah tindakan yang dilakukan oleh
produsen jam ROLEX tersebut diperbolehkan oleh UU
No.5/1999?
HPERSAINGAN/MITA/2013

60

30

7/2/2013

TYING AGREEMENT
Defenisi tying agreement adalah perjanjian yang dibuat di
antara pelaku usaha yang memuat persyaratan bahwa
pihak yang menerima barang atau jasa tertentu harus
bersedia membeli barang atau jasa lain dari pelaku usaha
pemasok.
Dengan praktek tying agreement, pelaku usaha dapat
melakukan perluasan kekuatan monopoli yang dimiliki pada
tying Product (barang atau jasa yang pertama kali dijual)
ke tyied product (barang atau jasa yang dipaksa harus
dibeli juga oleh konsumen).
Dengan memiliki kekuatan monopoli untuk kedua produk
sekaligus (tying product dan tyied product) oleh pelaku
usaha, dapat menciptakan hambatan bagi calon pelaku
usaha pesaing untuk masuk ke dalam pasar
Membuat konsumen harus membeli barang yang
sebenarnya tidak dibutuhkan
HPERSAINGAN/MITA/2013

61

TYING AGREEMENT
Ada dua alasan yang menyebabkan praktek tying
agreement tersebut dilarang, yaitu:
1. Pelaku usaha yang melakukan praktek tying
agreement tidak menghendaki pelaku usaha
lain memiliki kesempatan yang sama untuk
bersaing secara fair dengan dia terutama pada
tied product dan
2. Pelaku usaha yang melakukan praktek tying
agreement juga telah menghilangkan hak
konsumen untuk memilih secara merdeka
barang yang ingin mereka beli.
HPERSAINGAN/MITA/2013

62

31

7/2/2013

Bahan diskusi
Sebagian
besar
Rumah
Sakit
yang
ada,
mengharuskan pasienpasien yang berobat di Rumah
Sakit mereka untuk membeli obat di apotik Rumah
Sakit (apotik yang dimiliki oleh Rumah Sakit), kecuali
obat yang diperlukan si pasien tidak dijual di Rumah
Sakit tersebut, bahkan terkadang harga obat di apotik
Rumah Sakit lebih mahal dibandingkan di apotik
biasa, dan juga tidak jarang pasien harus mengantri
lebih lama untuk mendapatkan obat yang mereka beli
karena biasanya yang membeli obat di apotik Rumah
Sakit lebih banyak dibandingkan di apotik biasa.
Dengan
kondisi
tersebut
telah
mengurangi
pendapatan dari apotik-apotik biasa secara signifikan.
Pertanyaannya apakah perbuatan sebagian besar
Rumah Sakit tersebut diperbolehkan oleh UU
No.5/1999?
HPERSAINGAN/MITA/2013

63

Vertical Agreement On Discount


Suatu perjanjian yang mengisyaratkan jika pelaku
usaha ingin mendapatkan harga diskon untuk produk
tertentu yang dibelinya dari pelaku usaha lain, pelaku
usaha harus bersedia membeli produk lain dari pelaku
usaha tersebut atau tidak akan membeli produk yang
sama atau sejenis dari pelaku usaha lain yang menjadi
pesaing.
Memiliki akibat yang sama dengan akibat yang
ditimbulkan
oleh
tying
agreement,
yaitu
menghilangkan hak pelaku usaha untuk secara bebas
memilih produk yang ingin mereka beli, dan membuat
pelaku usaha harus membeli produk yang sebenarnya
tidak dibutuhkan oleh pelaku usaha tersebut
HPERSAINGAN/MITA/2013

64

32

7/2/2013

PERJANJIAN DG PIHAK LN
Perjanjian antara pelaku usaha di DN dengan
pelaku usaha di LN
Yg
memuat
ketentuan
yg
dapat
mengakibatkan :
Terjadinya praktek monopoli
Persaingan usaha tidak sehat
Rule of Reason

HPERSAINGAN/MITA/2013

65

KEGIATAN YANG DILARANG

MONOPOLI (ps 17)


MONOPSONI (psl 18)
PENGUASAAN PASAR (psl 19, 20, 21)
PERSEKONGKOLAN ( COLLUSIVE TENDERING)
(psl 22, 23, 24)

HPERSAINGAN/MITA/2013

66

33

7/2/2013

MONOPOLI

Upaya monopoli terhadap barang yg belum ada substitusinya


Yg mengakibatkan
hambatan masuk pasar (barrier to entry)
Penguasaan pasar > 50%
Tindakan monopoli dapat dilakukan dg cara :
Membatasi output
Menaikkan harga
Tindakan monopoli mengakibatkan social cost
Pengukuran monopoli dg Lerner Index & HHI Index serta CR 4
Dikenal pula monopoli alamiah yg didapat dg cara sah (innocent acquired)
co/ keahlian, paten dll.
Atau dimiliki oleh negara dg alasan akan lebih efisien bila hanya ada 1
pelaku usaha (UUD)

HPERSAINGAN/MITA/2013

67

SUMBER KEKUATAN MONOPOLI


1. Alamiah:
1) Special knowledge
2) Skala ekonomi
3) Kontrol terhadap sumber faktor produksi

2. Melalui peraturan pemerintah


1) HaKI
2) Hak usaha eksklusif

Yang kemudian menciptakan Barrier to Entry


bagi pesaing / pelaku usaha lain
HPERSAINGAN/MITA/2013

68

34

7/2/2013

DAMPAK NEGATIF MONOPOLI


Monopoly Power ditakuti karena:
1. Akibat yg ditimbulkan:
a.Pembatasan produksi
b.Meningkatkan harga
c. Transfer surplus konsumen ke produsen

2. Potensi utk disalahgunakan


a. Potensi utk memperoleh laba supernormal
b.Laba supernormal mendorong upaya memperoleh
monopoly power yg dapat menimbulkan
pemborosan
c. Menggunakan power mencegah masuknya
pesaing
HPERSAINGAN/MITA/2013

69

Kasus monopoli
Bahan diskusi:
Terdapat sebuah perusahaan yang memiliki kedudukan
monopoli untuk suatu produk tertentu sampai 80%
pangsa pasar, dimana kedudukan monopoli yang
dimilikinya tersebut didasarkan kepada skala ekonomi
yang besar yaitu dimana perusahaan tersebut
memproduksi barang atau jasa dalam partai besar
sehingga biaya produksi total rata-rata suatu
perusahaan semakin menurun. kemudian perusahaan
tersebut didukung oleh manajemen yang baik,
efesiensi di segala sektor, inovasi teknologi dan
kepiawaian perusahaan tersebut dalam memasarkan
barang, pertanyaannya apakah kondisi tersebut
diperbolehkan oleh UU No.5/1999?
HPERSAINGAN/MITA/2013

70

35

7/2/2013

MONOPSONI
Ada pelaku usaha yg menguasai pasokan >
50% atau menjadi pembeli tunggal atas
produksi & atau pemasaran barang/ jasa
Dalam pasar yg bersangkutan yg dapat
mengakibatkan terjadinya praktek monopoli &
/ persaingan usaha tidak sehat (Rule of
Reason)
Kasus fenomenal adalah BPPC
HPERSAINGAN/MITA/2013

71

MONOPSONI
Dalam praktek monopsoni yang menjadi korban
adalah pelaku usaha produsen/penjual
Produsen/penjual tidak memiliki pilihan lain
dalam menjual produk yang diproduksinya atau
dipasarkannya
Pembeli memiliki kekuasaan untuk menentukan
berapa harga yg dikehendaki serta persyaratanpersyaratan lainnya yg biasanya memberatkan
pihak produsen/penjual
Contoh fenomenal : BPPC, pembelian pasir laut
o/ Singapura
HPERSAINGAN/MITA/2013

72

36

7/2/2013

PENGUASAAN PANGSA PASAR


psl 19
a. Menolak & atau menghalangi pelaku usaha tertentu
untuk melakukan kegiatan usaha yg sama pada
pasar yg bersangkutan atau
b. Menghalangi konsumen / pelanggan usaha pesaing
untuk tidak melakukan hubungan usaha dg
saingannya itu atau
c. Membatasi peredaran / penjualan barang / jasa pd
pasar bersangkutan atau
d. Mendiskriminasi pelaku usaha tertentu
Yg dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli
& / persaingan usaha tidak sehat (Rule of Reason)
HPERSAINGAN/MITA/2013

73

KASUS PENGUASAAN PASAR


Bahan diskusi:
Sampai saat ini produk minyak pelumas (Oli) Mesran
produksi dari Pertamina masih menguasai pangsa
pasar terbesar (50%) dalam bisnis minyak pelumas di
Indonesia. Saat ini Pertamina untuk produk Oli Mesran,
memiliki 200 agen pemasaran diseluruh Indonesia
dan 3000 pompa bensin (SPBU) Pertamina yang juga
menjual Oli Mesran. Tetapi seandainya dalam rangka
mempertahankan pangsa pasarnya di dalam pasar
tersebut kemudian Pertamina meminta kepada setiap
pompa bensin milik Pertamina untuk tidak menjual
minyak pelumas pesaing dari Mesran. Pertanyaannya
apakah
perbuatan
dari
Pertamina
tersebut
diperbolehkan oleh UU No.5/1999?
HPERSAINGAN/MITA/2013

74

37

7/2/2013

PENGUASAAN PASAR DG PREDATORY


PRICING
Melakukan jual rugi / menetapkan harga dg
sangat rendah
Dg maksud menyingkirkan atau mematikan
usaha pesaing pd pasar bersangkutan
Yg dapat mengakibatkan terjadinya praktek
monopoli & / persaingan usaha tidak sehat
(Rule of Reason)

HPERSAINGAN/MITA/2013

75

Jual Rugi (Predatory Pricing)


usaha dilarang melakukan pemasokan barang
dan atau jasa dengan cara melakukan jual rugi atau
menetapkan harga yang sangat rendah dengan maksud
untuk menyingkirkan atau mematikan usaha pesaingnya
di pasar bersangkutan sehingga dapat mengakibatkan
terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha
tidak sehat(Pasal 20 UU No.5/1999)
Upaya menjual produk pada harga yang sedemikian
rendah dalam jangka pendek agar pelaku usaha lain
tidak dapat masuk pasar
Dalam jangka pendek praktik ini menguntungkan
konsumen, namun dalam jangka panjang pelaku usaha
yang melakukan praktik predatory pricing akan dapat
bertindak sebagai pelaku usaha monopoli

Pelaku

HPERSAINGAN/MITA/2013

76

38

7/2/2013

Jual Rugi (Predatory Pricing)


Pelaku usaha yang menjual dengan harga lebih
rendah dari SRMC (short run marginal cost) untuk
mendepak pesaingnya keluar dari industri dan
mendorong pelaku usaha baru untuk tidak masuk
ke industri, kemudian dalam jangka panjang ia
akan meningkatkan labanya.
Tujuan:
mengurangi
persaingan
dengan
membangkrutkan pesaing dan menciptakan
penghalang masuk (barrier to entry) bagi pelaku
usaha potensial yang ingin masuk ke industri

HPERSAINGAN/MITA/2013

77

KECURANGAN DLM PENETAPAN BIAYA


PRODUKSI
CURANG
PENETAPAN BIAYA PRODUKSI, BIAYA LAIN, BAGIAN
KOMPONEN BARANG
Yg dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli
& / persaingan usaha tidak sehat (Rule of Reason)
TRASFER PRICING
Terjadi dlm integrasi vertikal, dimana harga ditetapkan
rendah untuk perusahaan dibwhnya
Bukan predatory pricing

UNDER INVOICE PRICING


Menetapkan harga rendah tetapi tidak terbukti sbg
predatory pricing
HPERSAINGAN/MITA/2013

78

39

7/2/2013

Kecurangan menentukan Biaya Produksi


Pelaku usaha dilarang melakukan kecurangan
dalam menetapkan biaya produksi dan biaya
lainnya yang menjadi bagian dari komponen
harga barang dan atau jasa yang dapat
mengakibatkan terjadinya persaingan usaha
tidak sehat (Pasal 21 UU No.5/1999)
Contoh kasus :
Adam Air
Produk pangan massal
HPERSAINGAN/MITA/2013

79

PERSEKONGKOLAN
Antara pelaku usaha dg pihak lain
Yang bersekongkol / berkolaborasi untuk
mengatur / menentukan pemenang tender (BID RIGGING)
Mendapatkan informasi kegiatan pesaing yg termasuk
kategori rahasia co/ paten
Menghambat produksi, pemasaran barang/jasa pesaing dg
maksud mengurangi jumlah, kuantitas, ketepatan waktu
(INDIRECT BOYCOTT)
Yg dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli & /
persaingan usaha tidak sehat (Rule of Reason)
HPERSAINGAN/MITA/2013

80

40

7/2/2013

PERSEKONGKOLAN TENDER
Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain
untuk mengatur dan atau menentukan pemenang
tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya
persaingan usaha tidak sehat (Pasal 22 UU No.5/1999)
Tender adalah tawaran mengajukan harga untuk
memborong suatu pekerjaan, untuk mengadakan
barang-barang, atau untuk menyediakan jasa
(Penjelasan Pasal 22 UU No.5/1999)
Tujuan Tender
1. Memberikan kesempatan yang sama kepada pelaku
usaha,
2. Mendapatkan barang dan atau jasa dengan harga
termurah dan kualitas terbaik
HPERSAINGAN/MITA/2013

81

Mengukur Dampak Persekongkolan dalam


Tender
1. Konsumen atau pemberi kerja membayar lebih mahal

2. Barang atau jasa yang diperoleh (dari sisi: mutu, jumlah, waktu
maupun nilai) seringkali lebih rendah dari yang akan diperoleh
bila tender dilakukan secara jujur.
3. Adanya hambatan bagi peserta potensial.
4. Nilai proyek untuk tender pengadaan jasa menjadi lebih tinggi
karena adanya mark up oleh pihak-pihak yang bersekongkkol.
Bentuk Persekongkolan tender (bid rigging) umumnya
menurut a framework for design and implementation of
competition law and policy World Bank adalah:
1. Bid Suppression
2. Complementary Bidding, Dan
3. Bid Rotation
HPERSAINGAN/MITA/2013

82

41

7/2/2013

PERSEKONGKOLAN TENDER HORIZONTAL

HPERSAINGAN/MITA/2013

83

PERSEKONGKOLAN TENDER VERTIKAL

HPERSAINGAN/MITA/2013

84

42

7/2/2013

PERSEKONGKOLAN TENDER GABUNGAN


(HORIZONTAL & VERTIKAL)

HPERSAINGAN/MITA/2013

85

LARANGAN BERKAITAN DENGAN POSISI


DOMINAN
Posisi dominan ad/ keadaan dimana pelaku usaha
tdk mempunyai pesaing yg berarti di pasar ybs..
(psl 1 ayat 4 UU no 5 / 1999)
Posisi dominan tsb tidak boleh disalahgunakan baik
langsung / tdk langsung yg akan berakibatnya
terjadinya praktek monopoli & atau persaingan
usaha tidak sehat
Yg berkaitan dg posisi dominan :
Jabatan rangkap (direksi / komisaris)
Pemilikan saham mayoritas
Penggabungan ; peleburan ; pengambilalihan

HPERSAINGAN/MITA/2013

86

43

7/2/2013

PENGECUALIAN
Dikecualikan dari UU ini adalah :
1. Perbuatan & atau perjanjian yg bertujuan
melaksanakan peraturan per UU an yg berlaku
2. Perjanjian yg berkaitan dg HKI (lisensi, paten,
merek dagang, hak cipta, desain produk industri,
rangkaian elektronik terpadu, rahasia dagang,
franchise)
3. Perjanjian penetapan standar tehnis produk barang
& / jasa yg tdk mengekang & / menghalangi
persaingan
4. Perjanjian internasional yg tlh diratifikasi
HPERSAINGAN/MITA/2013

87

PENGECUALIAN
5.

6.
7.
8.
9.

Perjanjian dlm rangka keagenan yg isinya tidak memuat


ketentuan untuk memasok kembali barang & / jasa dg harga
yg lebih rendah drpd harga yg tlh diperjanjikan
Perjanjian kerjasama penelitian untuk peningkatan atau
perbaikan standar hidup masyarakat luas
Perjanjian & / perbuatan yg bertujuan untuk ekspor yg tidak
mengganggu kebutuhan & / pasokan pasar DN
Pelaku usaha yg tergolong dalam usaha kecil
Kegiatan usaha koperasi yg secara khusus bertujuan untuk
melayani anggotannya
Pasal 51 = monopoli oleh negara

HPERSAINGAN/MITA/2013

88

44

7/2/2013

DASAR HUKUM PERSAINGAN INDONESIA


1. UU no 5 / 1999 ttg Larangan Praktek Monopoli &
Persaingan Usaha Tidak Sehat
2. Keppres no 75 / 1999 ttg Komisi Pengawas
Persaingan Usaha
3. Keputusan Ketua Komisi no 05/KPPU/IX/2000 ttg
Tatacara Penyampaian Laporan & Penanganan
Dugaan Pelanggaran thd UU no 5/1999
4. Perma no 01 tahun 2003 bahwa Putusan KPPU
tidak termasuk dalam pengertian putusan pejabat
TUN yg bisa digugat di PTUN & KPPU sebagai pihak

HPERSAINGAN/MITA/2013

89

Penegakan hukum persaingan


MA

PN

KPPU

INDIVIDU

PENYIDIK

HPERSAINGAN/MITA/2013

90

45

7/2/2013

MATERIIL

SEBELUM 1999

SESUDAH 1999

Psl 382 bis KUHP


Psl 9 (2) UU
Perindustrian
Psl 102 109 UU PT
Psl 1365 KUHPer

UU NO 5 / 1999

FORMIL

Psl 1365 HIR


Psl 382 bis KUHAP

UU no 5/1999
Keppres 75/1999
Keputusan KPPU 5/2000
HIR (keberatan PN / kasasi MA)
KUHAP (berubah menjadi perkara
pidana)

PEMUTUS

PN, PT, MA

KPPU
PN, PT (menjadi pidana)
MA
HPERSAINGAN/MITA/2013

91

Penegakan Hukum Berkaitan dg Persaingan


MA

PT

PN
PENYIDIK

1365 KUHPer

INDIVIDU

382 bis KUHP

HPERSAINGAN/MITA/2013

92

46

7/2/2013

KPPU
KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA
1.

KOMISIONER (ANGGOTA KOMISI)


1 ketua & 1 wakil ketua merangkap anggota & minimal 7 anggota
Diangkat & diberhentikan Presiden atas persetujuan DPR berdasar
usul Pemerintah

Masa jabatan 5 thn & dpt diangkat kembali 1 x

Kualifikasi

Independensi
SEKRETARIAT

Dipimpin seorg Direktur Eksekutif yg dibantu o/ bbrp direktur &


kepala bagian

Staf sekretariat diangkat Komisioner

Mrpkn lembaga non struktural


KELOMPOK KERJA

Terdiri dr para ahli

Mrpkn kelompok ad hoc yg bekerja berdasarkan kasus & kontrak

2.

3.

HPERSAINGAN/MITA/2013

93

FUNGSI KPPU
Melakukan penilaian thd perjanjian, kegiatan
usaha & penyalahgunaan posisi dominan;
pengambilan tindakan sbg pelaksanaan
kewenangan; pelaksanaan administratif
Jadi fungsi KPPU :
Quasi eksekutif, untuk melaksanakan UU
Quasi yudikatif, untuk penegakan UU
Quasi legislatif, dalam pembuatan pedoman
Pertimbangan & saran

HPERSAINGAN/MITA/2013

94

47

7/2/2013

SUMBER DUGAAN PELANGGARAN

MONITORING

INISIATIF

KAJIAN

DUGAAN

LAPORAN

HPERSAINGAN/MITA/2013

95

DUGAAN PELANGGARAN
MONITORING DUGAAN PELANGGARAN
Sasaran : pelaku usaha
Sebab : laporan tertulis yg tidak lengkap ; informasi masyarakat
Kegiatan : pengumpulan data & klarifikasi pd pelaku usaha

KAJIAN DUGAAN PELANGGARAN


Sasaran : sektor / pasar
Sebab : informasi masyarakat
Kegiatan : pengumpulan data, klarifikasi pada pelaku usaha, hearing

LAPORAN DUGAAN PELANGGARAN


Tertulis disampaikan pd KPPU oleh anggota masyarakat
(individu/badan hukum)
Uraian perjanjian & a/ kegiatan usaha yg diduga melanggar UU no
5/1999
HPERSAINGAN/MITA/2013

96

48

7/2/2013

PROSES PENANGANAN DUGAAN PELANGGARAN

MONITORING

KAJIAN

INISIATIF

Pemeriksaan
pendahuluan

Pemeriksaan
Lanjutan

Pembuatan
putusan

Penelitian
Dokumen

Pembacaan
Putusan

Pelaksanaan
putusan

LAPORAN
HPERSAINGAN/MITA/2013

97

PENELITIAN LAPORAN
Oleh Direktur eksekutif
Laporan lengkap :
Identitas pelapor; surat & dokumen ; informasi pendukung
Kejelasan atas :
Siapa (pelaku usaha)
Melakukan atau membuat apa dlm berusaha
Melanggar pasal berapa
Rekomendasi :
Diteruskan ke Pemeriksaan pendahuluan atau
Monitoring
Waktu 10 hari kerja

HPERSAINGAN/MITA/2013

98

49

7/2/2013

PEMERIKSAAN PENDAHULUAN
Oleh Komisioner
Kegiatan :
Memeriksa kembali kelengkapan, kejelasan & kompetensi
jurisdiksi
Meminta keterangan pelapor, terlapor, saksi & para pihak
lain
Penetapan :
Mengakhiri pemeriksaan
Meneruskan ke pemeriksaan lanjutan
Pertimbangan :
Ada / tidak indikasi pelanggaran
Belum bisa disimpulkan krn banyak pihak masih perlu
didengar keterangannya
Sikap terlapor : mengaku atau menolak
HPERSAINGAN/MITA/2013

99

PEMERIKSAAN LANJUTAN
Oleh Majelis Komisi
Kegiatan :
Melakukan penyelidikan u/ mendpt bukti yg cukup
Memeriksa pihak yg blm diperiksa di pemeriksaan
pendahuluan

Penyelidikan dilakukan dg atau tanpa sepengetahuan


pelaku usaha
Pemeriksaan dilakukan dlm sidang tertutup
Para pihak tidak disumpah
Waktu : 60 + 30 hari kerja
HPERSAINGAN/MITA/2013

100

50

7/2/2013

PEMERIKSAAN LANJUTAN
Para pihak yg terlibat dlm pemeriksaan
Seluruh anggota majelis komisi
Penyelidik
Panitera
Pelaku usaha (terlapor & saksi), didampingi
konsultan hukum
Pemerintah (Dirjen / Direktur Departemen Teknis)

Klarifikasi ke berbagai pihak termasuk pelapor


HPERSAINGAN/MITA/2013

101

PEMBUATAN PUTUSAN
Oleh Majelis Komisi atas nama KPPU
Dibantu oleh penyelidik; panitera & bbrp sekretaris
Kegiatan :

Menganalisa temuan
Merumuskan draft putusan
Presentasi di depan komisi
Menyusun putusan

Semua pertemuan pembahasan putusan dilakukan


secara tertutup
Waktu 30 hari kerja
HPERSAINGAN/MITA/2013

102

51

7/2/2013

PEMBACAAN PUTUSAN
Dibacakan oleh Majelis Komisi atas nama
Komisi
Dalam sebuah sidang terbuka untuk umum
Semua pihak & mass media diberitahu
Summary putusan disediakan untuk umum
Setiap orang dapat memperoleh Putusan
lengkap majelis, melalui kantor KPPU /
internet
HPERSAINGAN/MITA/2013

103

ISI & FORMAT PUTUSAN

PEMBUKAAN
Titel; identitas terlapor; & komparasi
DUDUK PERKARA
Uraian Pelapor
Uraian tindakan Komisi terhadap laporan tsb
TENTANG HUKUM
Keterangan para pihak
Informasi dari dokumen
Temuan
Kesimpulan
Analisa pasal
DIKTUM PUTUSAN
Ada pelanggaran / tidak
Sanksi
rekomendasi
PENUTUP
DISSENT OPINION

HPERSAINGAN/MITA/2013

104

52

7/2/2013

UPAYA HUKUM TERLAPOR

Mengajukan keberatan ke PN
Mengajukan kasasi ke MA
Waktu : masing-masing proses 30 hari
Masalah :
Metode pemeriksaan oleh PN & MA tidak
melewati batas waktu 30 hari kerja
Upaya hukum pelapor
Wewenang PTUN thd putusa KPPU
Pencemaran nama baik krn diperiksa KPPU
HPERSAINGAN/MITA/2013

105

PELAKSANAAN PUTUSAN
SUKARELA
Menerima putusan & melaksanakan putusan dlm waktu 30
hari

PAKSA
Apabila pelaku usaha tidak banding tetapi juga tidak
melaksanakan Putusan
Upaya :
Penetapan eksekusi oleh PN
Penyampaian putusan kepada penyidik

2 upaya paksa tsb adalah opsi dr KPPU


Pertimbangan upaya paksa :
Catatan sejarah pelaku usaha
Itikad baik pelaku usaha
HPERSAINGAN/MITA/2013

106

53

7/2/2013

MONITORING PELAKSANAAN PUTUSAN &


PROSES PIDANA
Pelaku usaha melapor pd KPPU, KPPU akan
membentuk tim Monitoring per kasus
Kegiatan melakukan pengecekan di lapangan
Proses pidana bersumber pd putusan KPPU dg
memakai prosedur KUHAP
Kedudukan putusan KPPU = bukti awal
Masalah timbul mengenai :
Tambahan dakwaan dg pasal-pasal di luar UU no 5/1999
Ketentuan batas waktu UU no 5/1999 apakah berlaku?
HPERSAINGAN/MITA/2013

107

SANKSI
Administrasi
Penetapan pembatalan perjanjian termasuk
penggabungan, peleburan & pengambilalihan
Perintah penghentian kegiatan
Pengenaan ganti rugi
Pengenaan denda (antara 1 25 M)

Pelimpahan putusan ke
diproses secara pidana
HPERSAINGAN/MITA/2013

penyidik

untuk

108

54

7/2/2013

MASALAH HUKUM ACARA PERSAINGAN


INDONESIA

BAGI KPPU
Batas waktu pemeriksaan
Jumlah personel
SDM yang menguasai hukum persaingan
Perlindungan bagi saksi
Dugaan pelanggaran di daerah
Nilai dugaan pelanggaran

BAGI PENEGAK HUKUM


Mekanisme bantuan penegakan (dalam menghadirkan para pihak)
Mekanisme pemenuhan batas waktu (PN, MA)
Mekanisme penetapan eksekusi oleh PN

HPERSAINGAN/MITA/2013

109

UPAYA BANDING
Perma no 01/2003 tidak memberi kesempatan
kepada pengadilan untuk melakukan pemeriksaan
kembali kepada pelaku usaha, saksi & atau pihak lain
Psl 5 (2) & psl 6 Perma 01/2003 :
Pemeriksaan keberatan hanya atas dasar putusan & berkas
perkara (termasuk berita acara dari pihak2 yg telah
diperiksa)
Apbl dipandang perlu ada pemeriksaan tambahan maka
melalui keputusan sela perkara dikembalikan kembali kpd
KPPU

PN = tingkat banding, tidak memeriksa ulang pokok


perkara, hanya memeriksa penetapan hukumnya
HPERSAINGAN/MITA/2013

110

55

7/2/2013

UPAYA BANDING
Upaya ini adalah upaya pengajuan keberatan sebagai
upaya hukum
Yang berhak mengajukan adalah pelaku usaha yang
dilaporkan
Pihak yang melaporkan dan yang dirugikan tidak
berhak mengajukan keberatan

UPAYA KASASI
Pihak yg tidak setuju dengan keputusan PN atas
upaya banding (keberatan atas putusan KPPU) dapat
melakukan kasasi ke MA
HPERSAINGAN/MITA/2013

111

EKSEKUSI PUTUSAN
Tiga faktor keputusan KPPU mempunyai
kekuatan hukum tetap :
1. Apbl pelaku usaha tidak mengajukan keberatan thd
keputusan KPPU dalam tenggang waktu yg
ditentukan UU
2. Apbl PN menolak alasan2 keberatan yg diajukan
oleh pelaku usaha & tidak ada permohonan kasasi
dalam tenggang waktu yg ditentukan UU
3. Apbl MA dalam tingkat kasasi menolak alasanalasan keberatan yg diajukan pelaku usaha
HPERSAINGAN/MITA/2013

112

56

7/2/2013

PELAKSANAAN SECARA PERDATA (Permintaan


eksekusi kpd PN)
Untuk melaksanakan sanksi administratif :
1. Pembatalan perjanjian (psl 4 -13, 15,16)
2. Penghentian tindakan integrasi vertikal (psl 14)
3. Penghentian kegiatan yg terbukti menimbulkan praktek
monopoli & atau persaingan usaha tidak sehat & atau
merugikan masy
4. Penghentian penyalahgunaan posisi dominan
5. Pembatalan atas penggabungan & peleburan badan
usaha & pengambilalihan saham (psl 28)
6. Pembayaran ganti rugi
7. Pembayaran denda
HPERSAINGAN/MITA/2013

113

PELAKSANAAN SECARA PIDANA


(penyerahan putusan pd penyidik)
Putusan KPPU tidak otomatis menjadi bukti untuk
menyimpulkan pelaku usaha bersalah tetapi hanya
merupakan bukti awal bg kepolisian sbg penyidik
tunggal untuk melakukan penyidikan
Tujuan untuk menerapkan sanksi pidana :
Pidana pokok : denda / kurungan pengganti denda
Pidana tambahan :
Pencabutan izin usaha
Larangan menduduki jabatan direksi/komisaris min 2 thn / maks 5
thn
Penghentian kegiatan / tindakan tertentu yg menyebabkan
kerugian bg pihak lain

HPERSAINGAN/MITA/2013

114

57