Anda di halaman 1dari 38

SISTEM GATRO ENTERO HEPATOLOGI

MODUL 4 SUSAH BUANG AIR BESAR

Kelompok 5
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Ariq Salsabila Zalfa


Aulia Widyajasita
Dini Maulidina
Faradila Ramadhani
M. Luthfi Mandani
Nabilah Rivanti H.
Neng Angie Rivera
Nur Indah Sari

(2014730011)
(2014730013)
(2014730020)
(2014730028)
(2014730064)
(2014730069)
(2014730073)
(2014730077)

Tutor:
dr. Nur Aini Dzunet, M.Gizi
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KESEHATAN DAN KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016/2017

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memeberikan rahmat dan karuniaNya pada kelompok kami, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan PBL modul 4 SUSAH
BUANG AIR BESAR sistem GASTRO ENTERO HEPATOLOGI (GEH) tepat pada waktunya.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga serta
pengikutnya hingga akhir zaman. Amien ya robbal alamin.
Laporan ini kami buat dengan tujuan untuk memenuhi tugas wajib yang dilakukan setelah selesai
membahas kasus PBL. Pembuatan laporan inipun bertujuan agar kita bisa mengetahui serta
memahami mekanisme serta aspek lain tentang sistem GASTRO ENTERO HEPATOLOGI
(GEH)
Terimakasih kami ucapkan pada tutor kami dr. Nur Aini Dzunet, M.Gizi yang telah membantu
kami dalam kelancaran pembuatan laporan ini. Terimakasih juga kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam mencari informasi, mengumpulkan data dan menyelesaikan laporan ini.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kelompok kami pada khususnya dan bagi pada
pembaca pada umumnya.
Laporan kami masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun
dari para pembaca sangatlah kami harapkan untuk menambah kesempurnaan laporan kami.

Jakarta, 01 Oktober 2016

Kelo
mpok 5

BAB I
PENDAHULUAN

SKENARIO
Seorang anak laki-laki 5 tahun, diantar orang tuanya ke klinik dengan keluhan utama sudah 3
hari tidak buang air besar dan muntah beberapa kali. Beberapa hari terakhir anak tersebut selalu
merasa mual, tidak ada nafsu makan, dan demam yang terutama dirasakan pada malam hari.
Seminggu sebelumnya anak tersebut pernah BAB dan terdapat cacing pada kotorannya. Anak
tersebut kurus, terlihat lemas dan agak pucat.

KATA / KALIMAT SULIT


KATA / KALIMAT KUNCI

Anak laki-laki 5 tahun


3 hari tidak BAB & muntah beberapakali
Selalu merasa mual
Tidak nafsu makan
Demam terutama pada malam hari
Seminggu yang lalu feses terdapat cacing
Terlihat kurus, lemas, & agak pucat

MIND MAP

Anak
laki-laki 5
Etiologi
tahun
Konstipasi

Anamnesis

Pemeriksaa
n Fisik

K.U: 3 hari tidak BAB & muntah


K.T: mual, tidak nafsu makan,
demam pada malam hari
P.F: terlihat kurus, lemas, & agak
pucat

Terlihat
kurus
Lemas
Agak pucat

Diagnosis Differential
Pemeriksaan
Penunjang
Working
Diagnosis
Penatalaksanaa
Epidemiol
n
ogi

Farmakologi &
non-Farmakologi

Pencegahan

Komplikasi

Prognosis

PERTANYAAN PERTANYAAN
1.
2.
3.
4.

Jelaskan perbedaan konstipasi & obstipasi !


Jelaskan etiologi konstipasi !
Jelaskan biokimia saluran cerna !
Apa yang menyebabkan anak tersebut selalu merasa mual & tidak nafsu makan ? Dan
mengapa demam dirasakan terutama pada malam hari ?
5. Bagaimana alur diagnosis pada kasus di scenario ?
6. Jelaskan diagnosis banding !
7. Jelaskan algoritma penatalaksanaan penyakit pada scenario !
1. DD1 : Illeus Obstruktif ec. Ascaris lumricoides
2. DD2 : Ascariasis

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Faradila Ramadhani
(2014730028)
1. Jelaskan perbedaan konstipasi & obstipasi !
JAWABAN :
Perbedaan Konstipasi dan Obstipasi
Konstipasi adalah evakuasi feses yang jarang atau sulit. (Dorland, 2012)
Konstipasi didefinisikan sebagai keadaan kesulitan waktu defekasi dengan kotoran yangn keras
dan kering serta frekuensi buang air besar yang kurang dari 3 kali dalam seminggu.
Berdasarkan Kriteria Diagnostik Roma III, konstipasi ditegakkan jika terdapat dua atau lebih
manifestasi klinik di bawah ini dalam waktu sekurang-kurangnya 12 minggu (tidak harus
konsekutif) dalam kurun waktu 1 tahun:

Mengedan pada lebih dari 25% buang air besar


Kotoran yang keras pada lebih dari 25% buang air besar
Perasaan tidak lampias pada lebih dari 25% buang air besar
Perasaan blokade pada dasar anorektal pada lebih dari 25% buang air besar
Evakuasi feses manual pada lebih dari 25% buang air besar
Frekuensi buang air besar kurang dari 3 kali seminggu

Menurut Akmal, dkk (2010), ada beberapa tanda dan gejala yang umum ditemukan pada
sebagian besar atau terkadang beberapa penderita sembelit sebagai berikut:
a. Perut terasa begah, penuh dan kaku;
b. Tubuh tidak fit, terasa tidak nyaman, lesu, cepat lelah sehingga malas mengerjakan
sesuatu bahkan terkadang sering mengantuk;
c. Sering berdebar-debar sehingga memicu untuk cepat emosi, mengakibatkan stress, rentan
sakit kepala bahkan demam
d. Aktivitas sehari-hari terganggu karena menjadi kurang percaya diri, tidak bersemangat,
tubuh terasa terbebani, memicu penurunan kualitas, dan produktivitas kerja;
e. Feses lebih keras, panas, berwarna lebih gelap, dan lebih sedikit daripada biasanya;
f. Feses sulit dikeluarkan atau dibuang ketika air besar, pada saat bersamaan tubuh
berkeringat dingin, dan terkadang harus mengejan atupun menekan-nekan perut terlebih
dahulu supaya dapat mengeluarkan dan membuang feses (bahkan sampai mengalami
ambeien/wasir);
g. Bagian anus atau dubur terasa penuh, tidak plong, dan bagai terganjal sesuatu disertai
rasa sakit akibat bergesekan dengan feses yang kering dan keras atau karena mengalami
wasir sehingga pada saat duduk tersa tidak nyaman;
h. Lebih sering bung angin yang berbau lebih busuk daripada biasanya;

i. Usus kurang elastis ( biasanya karena mengalami kehamilan atau usia lanjut), ada bunyi
saat air diserap usus, terasa seperti ada yang mengganjal, dan gerakannya lebih lambat
daripada biasanya;
j. Terjadi penurunan frekuensi buang air besar;
Obstipasi adalah konstipasi yang sulit disembuhkan. (Dorland, 2012)
Adapun untuk sembelit kronis ( obstipasi ), gejalanya tidak terlalu berbeda hanya sedikit lebih
parah, diantaranya:
a. Perut terlihat seperti sedang hamil dan terasa sangat mulas;
b. Feses sangat keras dan berbentuk bulat-bulat kecil;
c. Frekuensi buang air besar dapat mencapai berminggu-minggu;
d. Tubuh sering terasa panas, lemas, dan berat;
e. Sering kurang percaya diri dan terkadang ingin menyendiri;
f. Tetap merasa lapar, tetapi ketika makan akan lebih cepat kenyang (apalagi ketika hamil
perut akan tersa mulas ) karena ruang dalam perut berkurang dan mengalami mual
bahkan muntah.
Konstipasi fungsional atau konstipasi transit normal yaitu feses didiorong ke bagian distal
saluran cerna dalam waktu yang normal. Konstipasi pada keadaan ini diduga ole h karena
kesulitan saat evakuasi feses atau feses yang keras. Pasien biasanya mengeluh kembung dan rasa
tidak nyaman di perut atau bahkan nyeri perut.
Konstipasi karena obat-obatan yaitu disebabkan oleh antasid, anti-kolinergik, antidepresan serta
berbagai obat lainnya.

Aulia Widyajasita
2014730013

2. Jelaskan etiologi konstipasi !


JAWABAN :
Secara patofisiologi,konstipasi kronik umumnya terjadi akibat kurangnya supan serat atau
cairan atau akibat gangguan transit kolon atau fungsi anorektum. Hal tersebut terjadi karena
gangguan neurogastroenterologik,obat tertentu,usia lanjut,atau berkaitan dengan sejumlah
besar penyakit sistemik yang memengaruhi saluran cerna. Konstipasi yang baru terjadi
mungkin merupakan suatu gejala dari penyakit organic penting misalnya tumor atau striktur.
Pada konstipasi idiopatik,sebagian pasien memperlihatkan perlambatan pengosongan kolon
asendens dan transversal disertai memanjangnya waktu transit (sering di kolon proksimal).
Obstruksi saluran keluar defekasi (juga disebut gangguan evakuasi) dapat menyebabkan
perlambatan waktu tranit kolon,yang biasanya dikoreksi melalui pelatihan biofeedback
defekasi terganggu. Konstipasi oleh sebab apapun dapat diperparah oleh perawatan inap atau
penyakit kronik yang menyebabnya gangguan fisik atau mental serta menyebabkan
inaktivitas atau imobilitas fisik
Pada anak penyebab tersering konstipasi adalah menahan defekasi, akibat pengalaman rasa
nyeri di defekasi sebelumnya. Biasanya disertai fisura ani. Orang tua biasanya mengatakan
adanya riwayat perdarahan dalam tinja di popok atau toilet. Sehingga timbul kebiasaan
menahan pengeluaran tinja (Retensi Tinja)
JENIS
KONSTIPASI
DAN PENYEBAB
Awitan Dini
Obstruksi kolon
Spasme sfingter anus
Obat
Kronik
Irritabel bowel syndrome
Obat
Pseudo-obstruksi kolon
Gangguan
Evakuasi
Rektum
Endokrinopati
Gangguan Psikiatrik
Penyakit Neurologik
Penyakit Otot Generalisata

CONTOH

Neoplasma; Striktur ; Iskemik,divertikulum,peradangan


Fisura anus,hemoroid yang nyeri
Predominan-konstipasi,bergantian
Penyekat Ca2+,antidepresan
Konstipasi transit-lambat,megakolon (jarang Hirschprung,Chagas)
Disfungsi dasar panggul ; anismus ; sindrom perineum
desendes;prolaps mukosa rectum;rektokel
Hipotiroidisme,hiperkalsemia,kehamilan
Depresi,gangguan makan,obat
Parkinsonisme,sklerosis multiple,cedera korda spinalis
Sklerosis sistemik progresif

M. Luthfi Mandani
2014730064

3. Jelaskan biokimia saluran cerna !


JAWABAN :
Proses pencernaan adalah penguraian secara mekanik oleh gigi dan kimiawi
dari makanan oleh exzim-enzim yang disekresi oleh kelenjar di dalam mulut, sel chief dalam
lambung, sel endokrin pankreas,enzim -enzim di membran brush border dan sel-sel mukosa
sitoplasma usus halus menjadi bentuk yang dapat diasimilasi tubuh yaitu monosakarida,
monoasilgliserol, asam lemak, asam-asam amino, vitamin, mineral dan air.
A. Proses Pencernaan di Dala m Rongga Mulut
Rongga mulut mengandung saliva yang disekresi oleh 3 pasang kelenjar saliva:
Kelenjar parotis
Kelenjar sub mandibularis
Kelenjar sub lingual
Saliva terdiri dari kira-kira 95,5% air, dan 0,5% : protein (terdiri dari amylase/ptyalin,
mukus, dan lisosim) dan elektrolit. pH saliva =6,8. Amilase pada liur dapat membuat pati dan
glikogen dihidrolisis menjadi maltosa dan oligosakarida lain dengan menyerang ikatan
glikosidat. Amilase liur akan segera terinaktivasi pada pH 4.0 atau kurang, sehingga kerja
pencernaan makanan di dalam mulut akan terhenti begitu lingkungan lambung yang bersifat
asam menembus partikel makanan.
Fungsi lain saliva adalah :

Mempermudah proses menelan


Memiliki sifat anti bakteri sebagai pelarut molekul yang merangsang papil mengecap
Membantu bicara
Untuk ekskresi obat

Mencegah karies gigi

B. Proses Pencernaan Dalam Lambung


Dalam mukosa dinding lambung ditemukan 2 jenis kelenjar sekresi: kelenjar yang
memiliki satu lapis sel untik sekresi (chief sel) dan kelenjar dengan sel- sel yang susunannya
berlapis-lapis (sel parietal), yang mengeluarkan sekret langsung kedalam kelenjar lambung.
Sekret lambung dikenal sebagai getah lambung. Getah lambung merupakan cairan bening
berwarna kuning pucat yang mengandung HCL 0.2 -0.5% dengan pH sekitar 1.0. getah
lambung terdiri dari 97-99% air. Sisanya terdiri atas musin serta garam anorganik, enzim
pencernaan (pepsin serta renin) dan lipase.
Faktor-faktor yang merangsang sekresi lambung adalah :
Mekanisme refleks dan saraf

Hormonal
Histamin dan asetilkolin

Gambar: sel-sel parietal merupakan sumber asam klorida lambung satu-satunya


Proses pembentukan HCL dalam sel parietal adalah CO2 dalam plasma berdifusi ke
dalam sel parietal, dalam sel parietal terdapat air(H 2O)/cairan interasel.
CO2 + H2O c a (carbonat anhidarse) H 2CO 2
H 2CO 3c a (carbonat anhidarse) H + + HCO3
Ion H + akan keluar dari sel parietal dan ion K + akan masuk dengan bantuan enzim K +
-ATPase. HCO3- berdifusi kedalam plasma, sehingga CL - akan berdifusi masuk kedalam sel
parietal dan selanjut CL - keluar dari sel parietal dan menyeimbangkan dengan ion H +, jadi
terbentuklah HCL.
Fungsi HCL antara lain:
Denaturasi protein dan menghancurkan sebagian mikroorganisme.
Sel parietal juga mengeluarkan faktor intrinsik yaotu suatu glikoprotein penting untuk
penyerapan vit b.12.
Enzim-enzim lain lambung:
Pepsin
Fungsi pencernaan utama lambung adalah mengawali pencernaan protein. Pepsin
lambung dibentuk dalam chief cells sebagai zimogen tidak aktif, yaitu pepsinogen. Ini
diakifkan dengan adanya ion H + , lalu oleh kerja proteolitik molekul pepsinogen lain yang
telah diaktifkan asam, yang memecah polipeptida pelindung untuk melepaskan peptide aktif,
dan oleh pepsin secara cepat dapat mengaktifkan molekul pepsinogen selanjutnya
(otokatalisis). Pepsin merubah protein denaturasi menjadi proteosa dan kemudian menjadi
pepton yang merupakan derivat polipeptida besar. Pepsin adalah suatu endopeptidase, karena
pepsin lebih cenderung menghidrolisis ikatan peptide dalam struktur utama polipeptida
daripada yang berdekatan denganresidu N-atau C-termnal, yang khas untuk eksopeptidase.

Renin
Enzim ini menyebabkan koagulasi susu. Hal ini penting pada proses pencernaan bayi,
sebab aliran susu yang cepat dari lambung dicegah olehnya. Dengan adanya kalsium, rennin
mengkonversi kasein susu menjdi parakasein secara ireversibel yang selanjutnya dipecahkan
oleh pepsin. Enzim ini tidak terdapat dalam lambung orang dewasa
Lipase
Panas lambung adalah penting dalam mengencerkan lipid makanan, emulsifikasi
terjadi dengan bantuan kontraksi peristaltic. Walalupun lambung mengandung suatu lipase
yang dapat menghidrolisis triasilgliserol yang mempunyai panjang rantai pendek dan sedang,
kerja lipolitik getah lambung tidaklah penting.

C. Proses Pencernaan Dalam Usus


Isi lambung, atau kimus dimasukan secara terputus-putus melalui katub pilorus ke
dalam duodenum selama proses pencernaan. Kandungan sekret pankreas dan biliaris yang
alkalis menetralkan kimus yang asam dan mengubah nilai pH bahan ini menjadi alkalis: perge
seran pH tersebut diperlukan bagi kerja enzim yang terdapat didalam getah pankreas dan usus
tetapi menghambat kerja pepsin lebih lanjut.
1. PANKREAS
Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi utama
menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti insulin. Enzimenzim pencernaan dihasilkan oleh sel-sel asini dan mengalir melalui berbagai saluran dalam
duktus pankreatikus. Dktus pankreatikus akan bergabung dengan saluran empedu pada
sfinger oddi,dimana keduanya akan masuk ke dalam duodenum. Enzim yang dilepaskan oleh
pankreas akan mencerna protein, karbohidrat, dan lemak.
Jenis enzim pankreas adalah:
Enzim proteolitik
Enzim amilase pankreas
Kerja sekresi pankreas yang memecah pati dilakukan oleh -amilase pankreas.
Aksinya serupa denan amylase saliva yang menghidrolisis pati dan glikogen menjadi
maltose, maltotriosa [tiga residu glukosa yang dihubungkan oleh ikatan (1-4)], dan suatu
campuran oligosakarida (-limit dextrin) yang bercabang (1:6), oligosakarida yang tak
bercabang dan sedikit glukosa
Enzim lipase pankreas
Lipase pankreas bekerja pada antar muka minyak-air dari bercak lipid yang
diemulsifikasi halus yang terbentuk dengan kerja mekanik dalam usus dengan adanya produk

aktivitas lipase lidah, garam empedu, kolipase, fosfolipid dan fosfolipase A 2 . Fosfolipase A 2
dan kolipase disekresi dalam bentuk pro-dan memerlukan aktivasi oleh hidrolisi ikatan
peptoda spesifik oleh tripsin. Ca 2+ perlu untuk aktivitas fosfolipase A 2.
Pengaturan hormonal: Setelah makanan masuk usus halus, sekresi pankreas menjadi
banyak, terutama akibat respon hormon sekretin. Dan

kolesistokinin menyebabkan

peningkatan sekresi enzim dalam jumlah besar. Sekretin memiliki peranan yang penting
karena dua alasan : pertama, sekretin khususnya dikeluarkan dalam mukosa usus halus setiap
saat di mana pH duodenum di bawah 4,0 sampai 5,0. hal ini menyebabkan getah pankreas
yang mengandung banyak natrium bikarbonat dalam jumlah besar

disekresi yang

mengakibatkan reaksi di duodenum,Kedua, sekresi bikarbonat oleh pankreas adalah untuk


memberikan pH yang sesuai bagi kerja-kerja enzim pankreas. semua fungsi optimal enzim
pankreas bekerja pada medium yang sedikit alkali atau netral. pH sekresi hidrelatik sekitar
8,0
Di lumen oleh enzim pankreas pencernaan lemak selesai, pencernaan karbohirat dan
protein belum selesai.
Disini terdapat enzim-enzim:

Enterokinase fungsinya mengaktifkan tripsinogen


Disakaridase fungsinya menghidrolisis disakarida
Disakarida spefisik yakni -glukosidase yang mengeluarkan residu glukosa tunggal
dari oligosakarida dan disakarida, yang bertalian (1-4) yang mulai dari ujung yang tak
mereduksi, isomaltase yang mereduksi ikatan 1-6 didalam -limit dekstrin.
Aminopeptida fungsinya menghidrolisis fragmen peptida kecil menjadi asam amino.
Merupakan suatu eksopeptidase yang menyerang ikatan peptida disebelah asam
amino N-terminal dari polipeptida dan oligopeptida, serta dipeptida dengan berbagai
kespesifikan

yang

sebagian

dapat

berada

di

dalam

epitel

usus.

Dipeptidase

menyempurnakan pencernaan dipeptida untuk membebaskan asam amino bebas.


Enzim usus halus disekresi oleh kelenjar bruner dan kelenjar liberkhun akibat
pengaruh enterokinin.
2.

K ANT UNG EM PE DU
Kantung kecil, dapat menyimpan 15 -60 ml empedu, disini empedu mengalami

proses pemekatan. Asam empedu primer disintesis dalam hati dari kolesterol melalui
beberapa langkah antara. Asam kolat adalah asam empedu yang terbanyak dalam empedu.
asam dan asam kenodeoksikolat keduanya berasal dari kolesterol.
Fungsi empedu
Membantu pencernaan dan penyerapan lemak

Menetralkan asam: menetralkan kimus lambung


Produk utama pencernaan
Hasil akhir kerja enzim-enzim pencernaan yang dijelaskan adalah mereduksi bahan
makanan menjadi bentuk yang dapat diserap dan diasimilasi.
Produk akhir ini adalah
Karbohidrat

: monosakarida

Protein

: asam amino

Triasilgliserol

: asam lemak gliserol dan monogliserol

Asam nukleat : nukleobasa, nukleosida, dan pentosa

Ariq Salsabila Zalfa


2014730011
4. Apa yang menyebabkan anak tersebut selalu merasa mual & tidak nafsu makan ? Dan
mengapa demam dirasakan terutama pada malam hari ?
JAWABAN :

Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif dalam
waktu kurang lebih 2 minggu. Bentuk infektif tersebut bila tertelan manusia, menetas di usus
halus. Larvanya menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu
dialirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru. Larva dii paru menembus
dinding pembuluh darah, lalu dnding alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trakea
melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva menuju faring, sehingga menimbulkan
rangsangan terhadap faring. Penderita batuk karena rangsangan tersebut dan larva akan tertelan
ke dalam esofagus, lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva berubah menjadi cacing
dewasa. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang
lebih 2-3 bulan.
Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan larva. Gangguan
karena larva biasanya terjadi pada saat berada di paru. Pada orang yang rentan terjadi perdarahan
kecil di dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru yang disertai batuk, demam dan
eosinofilia. Keadaan tersebut sindrom Loeffler. Gangguan yang disebabkan cacing dewasa
biasanya ringan. Kadang-kadang penderita mengalami gangguan usus ringan ringan seperti mual,
nafsu makan berkurang, diare atau konstipasi.

Dini Maulidina
2014730020
5. Jelaskan langkah Diagnosis yang diperlukan untuk menentukan diagnosis pada skenario!
JAWABAN :
Konstipasi bukanlah suatu proses fisiologis yang terjadi dengan
bertambahnya umur. Namun berbagai keadaan yang disebabkan oleh
bertambahnya umur (menurunnya motilitas usus, berbagai penyakit sistemik
yang terjadi). Anamnesis dan pemeriksaanfisik yang cermat harus dilakukan

untuk menyingkirkan berbagai penyebab konstipasi sekunder. Konstipasi


sekunder itu konstipasi yang disebabkan kelainan organik, misalnya penyakit
metabolik dan endokrin (Diabetes Melitus, Hiperkalsemia), keadaan miopati,
kelainan neurologis, gangguan psikologis, kehamilan, dll. Sebelum
melakukan Anamnesis hingga pemeriksaan Laboratorium di wajibkan
terlebih dahulu untuk mengisi data pasien, karena data pasien penting dan
bisa berhubungan dengan penyakit atau keluhan.
Pada anamnesis didapatkan riwayat berkurangnya frekuenasi defekasi. Bila
konstipasi menjadi kronik, jumlah defekasi per hari atau perminggu mungkin
bukan indikator terpercaya untuk konstipasi pada anak. Dengan terjadinya
retensi tinja, gejala, dan tanda lain konstipasi berangsur muncul seperti nyeri
dan distensi abdomen. Seorang anak yang mengalami kosntipasi biasanya
mengalami anoreksia dan kurangnya kenaikan berat badan, yang mengalami
perbaikan bila konstipasinya diobati.
Langkah Pertama yang penting dilakukan adalah menyingkirkan
kemungkinan pseudokonstipasi. Pseudokonstipasi merujuk pada keluhan
orang tua bahwa anaknya menderita konstipasi padahal tidak ada konstipasi.
Pada anamnesis perlu ditanyakan mengenai konsistensi tinja dan frekuensi
defekasi. Pada pemeriksaan fisik, palpasi abdomen dan colok dubur perlu
dilakukan. Bila tinja anak lunak dan pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan
kelainan, maka tidak ada konstipasi berapa kalipun frekuensi defekasinya.
Orang tua merasa anaknya memiliki masalh defekasi bila tidak melihat
anaknya defekasi dalam sehari.
Bila memang terdapat konstipasi, langkah berikutnya adalah membedakan
apakah konstipasi berlangsung akut atau kronik. Dikatakan konstipasi akut
bila keluhan berlangsung kurang dari 1-4 minggu, sedangkan kronik
berlangsung lebih dari 1 bulan.
1. Anamnesis
Keluhan Utama: Ada apa?Ada yang bisa saya bantu? Anak saya
tidak BAB
Sejak kapan? Sejak 3 hari yang lalu. Disini kitadapat mengetahui
bahwa anak ini mengalami konstipasi. Tapi kita belum mengetahui
apakah kriteria konstipasi ini dan penyebabnya. Normal frekuensi
defekasi pada anak > 3 tahun 3-14 kali/minggu atau 1,0kali /hari.
Riwayat Penyakit Sekarang: biasanya seminggu BAB berapa sekali
atau sehari berapa sekali?

Seberapa lama proses mengedan berlangsung? Waktu BAB terakhir


tinjanya bentuknya seperti apa, apa seperti kotoran kambing? Lunak
atau keras? anak saya
-

seminggu yang lalu tinjanya ada cacingnya. Tinjanya ada darahnya


tidak? cacing yang keluar bentuknya seperti apa? Apa panjang kayak
mie? Kapan terakhir fetus? Hari ini sudah fetuskah? Karena konstipasi
tanpa feses atau gas yang keluar dan keadaan ini dinamakan
obstipasi.
Keluhan Tambahan: Apa disertai dengan nyeri perut?, nyeri pada
anus saat defekasi? Ada mual muntah? iya ada mual dan muntah
muntahnya berwarna apa atau ada yang keluar sesuatu ketika muntah
seperti cacing? Muntah hebat, mengandung isi usu halus merupakan
gambaran lanjut obstruksi usus halus bagian distal atau kolon. Nafsu
makannya baik tidak? tidak Nafsu makan. Merupakan pertanyaan
pembuka yang terbaikdan dapat membawa kita pada persoalan
penting lainnyaseperti gangguan gastrointestinal, nausea, vomitus,
serta anoreksia. Sekarang kalau pake baju terasa longgar tidak? Ada
demam? Iya dok demam apalagi malam hari dok
Riwayat Penyakit Dahulu: Apa dulu pernah merasakan keluhan
seperti ini juga? Pernah melakukan operasi di perut? Apa pernah
kejang?
Riwayat Penyakit Keluarga: di keluarga ada turunan kencing manis?
Riwayat Pengobatan: udah berobat belum atau minum obat
sebelum ke sini? Apa pernah minum obat antaside, analgesik?
Riwayat Psikososial: Apa anak sering main di tanah? Terus kebiasaan
sebelum makan cuci tangan atau tidak?terus suka makan sayur atau
tidak? Buah-buahan sering makan tidak? Kalau mau BAB itu sering
ditahan-tahan tidak sampe tidak mau lagi BAB? Jarang tidak
menggunting kukunya?
Riwayat Alergi: pernah tidak kalau setelah minum obat gatal-gatal
kemerahan (alergi)?

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang cermat dan hati-hati harus dapat mengevaluasi


tanda-tanda vitaldan status nutrisi.
Tanda-tanda vital: Suhu, nadi, pernapasan.
Status Nutrisi: berat badan dan tinggi badan
Inspeksi:
- Skelera iktrik/tidak
- Bibir pucat atau tidak
- Lidah kuning atau tidak
- Kulit tubuh kuning atau tidak?
- Terdapat edema tidak diseluruh ekstremitas?
- Inspeksi abdomen perlihatkan benttuknya datar/ cekung/
skafoid
- Adabekas operasi tidak?
- Distensi abdomen atau tidak? Distensi abdomen sering
ditemukan pada anak dengan obstruksi usus, konstipasi, ileus,
atau asites.
- Adakah pembesaran hati? Lihat dari samping abdomen dan
lihatlah dari arah kaki tempat tidur untuk melihat adakah
asimetris yang dihubungkan dengan massa lokal, seperti
pembesaran hati atau kandung kemih.
Palpasi:
-

Pastikan tangan pemeriksa hangat


Mintalah pasien untuk menekuk kedua kakinya
Jika pasien ada nyeri abdomen mintalah pasien menunjukan
lokasi nyeri di abdomen.
Lokasi nyeri tekan sangatlah penting. Nyeri tekan pada
epigastrium menandakan ulkus peptik
Ada Masa yang teraba?
Palpasi organ yang membesar. Periksalah hati, kandung
empedu, limpa dan ginjal secara bergantianselama inspirasi
dalam

Auskultasi:
-

Lakukan auskultasi pada abdomen dan perhatikan bunyi


peristaltik.
Bunyi peristaltik adalah bunyi berderak yang ditimbulkan
aktivitas peristaltik normal usus.
Ketiadaan bising usus menandakan ileus paralitik atau
peritonitis.

Pada obstruksi usus, bunyi usus terjadi dengan frekuensi dan


volume yang meningkat dan memiliki nada tinggi, dengan
kualitas berdenting.
Bruit menandakan ateromatosa, atau aneurisme aorta atau
stenosis arteri mesentrika superior. Terdengarnya hepatic
bruit menunjukan karsinoma hati atau hepatitis alkoholik.

Perkusi:
-

Distensi abdomen dengan bunyi timpani yang minimal


menunjukan adanya cairan atau massa padat. Jika mencurigai
adanya cairan, lakukan pemeriksaan gelombang cairan
Cairan pada abdomen (asites) anak ditemukan pada penyakit
hati kronik, penyakit ginjal kronik

Inspeksi anus:
-

Posisi anus. Letak anus didepan jika konstipasi organik.


Eritem di sekitar anus ada atau tidak? Jika ada itu disebabkan
mengedan yang terlalu keras. Terdapat fistula tidak disekitar
kulit perianal.r4
Fisura ani membesar dan lebar atau tidak? Jika iya merupakan
tanda penting untuk konstipasi

Colok Dubur:
-

Nilai kedutan anus. Jika hilang kedutan anus maka konstipasi


organik
Ada tidak impaksi feses.
Ampula rekti kososng padahal teraba massa tinja pada palpasi
abdomen ini pada konstipasi organik
Tinja menyemprot bila telunjuk dicabut pada pemeriksaan
colok dubur.

Kemungkinan tinja terdapat darah pada konstipasi organik.

Faradila Ramadhani
2014730028
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan langsung tinja ditemukan telur cacing. Tingkat infeksi ascariasis dapat
ditentukan dengan memeriksa jumlah telur per gram tinja atau jumlah cacing betina yang ada
dalam tubuh penderita. Pedoman dari Parasitic Disease Programme, WHO, Geneva, 1981
dalam The Tenth Regional Training Course on Soil-Transmitted Helminhiasis and Integrated
Program on Family Planning Nutrition and Parasite Control, Thailand, 1986.
Beratnya ascariasis
Ringan
Sedang
Berat

Jumlah telur per gram tinja


< 7.000
7.000-35.000
> 35.000

Jumlah cacing betina


5 atau kurang
6-25
> 25

Satu ekor cacing betina per-hari menghasilkan lebih kurang 200.000 telur atau 2.0003.000 telur per gram tinja. Jika infeksi hanya oleh cacing jantan atau cacing yang belum dewasa
sehingga tidak ditemukan telur dalam tinja penderita, untuk diagnosis dianjurkan pemeriksaan
foto thorax.

Cacing dalam usus dapat dilihat dengan pemeriksaan radiografi dengan barium. Hasilnya akan
tampak gambaran filling defect. Ultrasonography, computed tomography, dan endoscopic
retrograde cholangiopancretography (ERCP) dapat menunjukkan cacing dalam cabang empedu
dan ductus pancreatic. Pemeriksaan darah tepi akan menunjukkan terjadinya eosinofilia pada
awal infeksi, sedangkan strach test pada kulit akan menunjukkan hasil positif.
Pemeriksaan penunjang untuk konstipasi
1. Dilakukan pemeriksaan colok dubur, bila tidak dapat dilakukan atau bila tidak teraba
adanya distensi rektum oleh masa tinja, dilakukan pemeriksaan foto polos abdomen untuk
melihat kaliber kolon dan masa tinja dalam kolon.
2. Pemeriksaan enema barium untuk mencari penyebab organik seperti Morbus Hirschprung
dan obstruksi usus.
3. Biopsi hisap rektum untuk melihat ada tidaknya ganglion pada mukosa rektum secara
histopatologis untuk memastikan adanya penyakit Hirschprung.
4. Pemeriksaan manometri untuk menilai motilitas kolon.
5. Pemeriksaan lain-lain untuk mencari penyebab organik lain, seperti hipotiroidisme,
ultrasonografi abdomen,MRI, dll.

Air sickle (-)


Gaster, duodenum, jejunum,
ileum distensi (+), dinding
menebal
U shaped sign (+)
Herring bone app (-)
Tulang N
Tampak diafragma
meninggi
Distribusi gas usus
Step ladder pattern (-)

Kesan: Obstruksi ileus

Sumber:
https://andikunud.files.wordpress.com/2010/08/teachingphoto-abdomen.pdf

Nabilah Rivanti H.
2014730069
6. Jelaskan DD 1: Ileus Obstruktif ec Ascariasis
JAWABAN :
Definisi

Hambatan pasase usus dapat disebabkan oleh obstruksi lumen usus atau oleh gangguan
peristaltis. Obstruksi usus disebut juga obstruksi mekanik. Penyumbatan dapat terjadi dimana
saja di sepanjang usus. Pada obstruksi usus harus dibedakan lagi obstruksi sederhana dan
obstruksi strangulata. Obstruksi usus yang disebabkan oleh hernia, invaginasi, adhesi dan
volvulus mungkin sekali disertai strangulasi, sedangkan obstruksi oleh tumor atau askariasis
adalah obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan strangulasi.
Obstruksi Intestinal (Ileus) adalah gangguan pasase dari isi usus akibat sumbatan
sehingga terjadi penumpukkan cairan dan udara di bagian proksimal dari sumbatan tersebut.
Akibat sumbatan tersebut, terjadi peningkatan tekanan intraluminer dan terjadi gangguan
resorbsi usus serta meningkatnya sekresi usus. Ditambah adanya muntah akibat suatu refluks
obstruksi maupun karena regurgitasi dari lambung yang penuh mengakibatkan terjadi dehidrasi,
febris dan syok. Dalam hal ini terjadi karena parasit Ascaris lumbricoides.

Etiologi
1. Lesi ekstrinsik (ekstraluminal) yaitu yang disebabkan oleh adhesi intestinal
(postoperative), hernia (inguinal, femoral, umbilical), neoplasma (karsinoma), dan abses
intraabdominal.
2. Lesi intrinsik yaitu di dalam dinding usus, biasanya terjadi karena kelainan kongenital
(malrotasivolvulus, invaginasi, hernia inkarserata), inflamasi (Crohns disease,
diventricullis), neoplasma (kanker colon yang menutup lumen), traumatik, dan
intususepsi.
3. Lesi obturator yaitu penyebabnya dapat berada di dalam usus, misalnya benda asing, batu
kandung empedu yang menempel ke lumen.
A. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya ileus obstruksi pada usus halus antara lain:
1. Hernia Inkarserata :Usus masuk dan terjepit di dalam pintu hernia. Pada anak dapat
dikelola secara konservatif dengan posisi tidur Trendelenburg. Namun, jika percobaan
reduksi gaya berat ini tidak berhasil dalam waktu 8 jam, harus diadakan herniotomi
segera.
2. Non hernia inkarserata, antara lain :
a. Adhesi atau perlekatan usus
Di mana pita fibrosis dari jaringan ikat menjepit usus. Dapat berupa
perlengketanmungkin dalam bentuk tunggal maupun multiple, bisa setempat atau
luas. Umunya berasal dari rangsangan peritoneum akibat peritonitis setempat atau
umum. Ileus karena adhesi biasanya tidak disertai strangulasi.
b. Invaginasi

Disebut juga intususepsi, sering ditemukan pada anak dan agak jarang pada orang
muda dan dewasa. Invaginasi pada anak sering bersifat idiopatik karena tidak
diketahui penyebabnya. Invaginasi umumnya berupa intususepsi ileosekal yang
masuk naik kekolon ascendens dan mungkin terus sampai keluar dari rektum. Hal
ini dapat mengakibatkan nekrosis iskemik pada bagian usus yang masuk dengan
komplikasi perforasi dan peritonitis. Diagnosis invaginasi dapat diduga atas
pemeriksaan fisik, dandipastikan dengan pemeriksaan Rontgen dengan pemberian
enema barium.
c. Askariasis
Cacing askaris hidup di usus halus bagian yeyunum, biasanya jumlahnya puluhan
hingga ratusan ekor. Obstruksi bisa terjadi di mana-mana di usus halus, tetapi
biasanya di ileum terminal yang merupakan tempat lumen paling sempit. Obstruksi
umumnya disebabkan oleh suatu gumpalan padat terdiri atas sisa makanan dan
puluhan ekor cacing yang mati atau hampir mati akibat pemberian obat cacing.
Segmen usus yang penuh dengan cacing berisiko tinggi untuk mengalami volvulus,
strangulasi, dan perforasi.
d. Volvulus
Merupakan suatu keadaan di mana terjadi pemuntiran usus yang abnormal dari
segmen usus sepanjang aksis longitudinal usus sendiri, maupun pemuntiran
terhadap aksis radiimesenterii sehingga pasase makanan terganggu. Pada usus
halus agak jarang ditemukan kasusnya. Kebanyakan volvulus didapat di bagian
ileum dan mudah mengalami strangulasi. Gambaran klinisnya berupa gambaran
ileus obstruksi tinggi dengan atau tanpa gejala dan tanda strangulasi.11
e. Tumor
Tumor usus halus agak jarang menyebabkan obstruksi usus, kecuali jika ia
menimbulkan invaginasi. Proses keganasan, terutama karsinoma ovarium dan
karsinoma kolon, dapat menyebabkan obstruksi usus. Hal ini terutama disebabkan
oleh kumpulan metastasis di peritoneum atau di mesenterium yang menekan usus.
f. Batu empedu yang masuk ke ileus.
Inflamasi yang berat dari kantong empedu menyebabkan fistul dari saluran empedu
keduodenum atau usus halus yang menyeb abkan batu empedu masuk ke traktus
gastrointestinal. Batu empedu yang besar dapat terjepit di usus halus, umumnya
pada bagian ileum terminal atau katup ileocaecal yang menyebabkan obstruksi.
Penyebab obstruksi kolon yang paling sering ialah karsinoma, ter utama pada
daerahrektosigmoid dan kolon kiri distal.

Selain itu, etiologi bisa dibagi menjadi:

1. Usus kecil
Adhesi peritoneal pasca operasi (orang dewasa)
Pasca Herniotomi profilaktik
Operasi pelvic abdominal
Neoplasma
Apendektomi
Intususepsi (anak-anak)
Atresia
Meconium
Striktur pada crohn disease
Obat-obatan (OAINS, enteric coated potasium chlorida)
Enteritis radiasi
Iskemia(obstruksi obturator gallstone ileus, phytobenzoar dan benda asing)
Intusepsi dan infeksi (TB peritoneal, aktinomikosis, dan parasit usus)
2. Usus besar
Neoplasma (rektosigmoid dan colon descenden)
Volvulus colon (cecum dan sigmoid)
Striktur akibat divertikulitis kronis
Kompresi ekternal (pericolon abses dan spasme colon)
Crohn disease
Intusepsi
Tumor ekstrinsik
Skibala
Infeksi (aktinomikosis, taenia saginata, botulisme, enterokolitis salmonella)
Vasculitides
Gastroenteritis eosinofilik
Hemangioma
Endometriosis dan migrasi duodenal stent
Epidemiologi
Sekitar 50% dari semua obstruksi terjadi pada usia pertengahan dan orang tua, dan timbul
akibat perlengketan yang terjadi karena pembedahan sebelumnya.
Gejala Klinis

Nyeri abdomen
Pembesaran perut
Demam
Mencret
Mual dan Muntah
Dehidrasi

Gejala yang timbul pada penderita dapat disebabkan oleh cacing dewasa dan larva.
Gangguan karena larva biasanya terjadi pada saat berada di paru. Pada orang yang rentan
terjadi perdarahan kecil di dinding alveolus dan timbul gangguan pada paru yang disertai
batuk, demam dan eosinofilia. Pada foto toraks tampak infiltrat yang menghilang dalam
waktu 3 minggu. Disebut dengan sindrom Loeffler. Gangguan yang disebabkan oleh cacing
dewasa biasanya ringan. Kadang-kadang penderita mengalami gangguan usus ringan seperti
mual, nafsu makan menurun, diare atau konstipasi. Pada infeksi berat, terutama pada
anakanak dapat terjadi malabsorbsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. Efek yang
serius terjadi bila cacing-cacing ini menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus
(ileus).

B. MORFOLOGI DAN DAUR HIDUP


Cacing jantan berukuran lebih kecil dari cacing betina. Stadium dewasa hidup di rongga
usus kecil. Seekor cacing betina dapat bertelur sebanyak 100.000-200.000 butir sehari;
terdiri atas telur yang dibuahi dan yang tidak dibuahi.
Dalam lingkungan yang sesuai, telur yang dibuahi berkembang menjadi bentuk infektif
dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif tersebut bila tertelan manusia, akan
menetas di usus halus. Larvanya yang ada di usus halus akan menembus dinding usus halus
menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu dialirkan ke jantung, kemudain mengikuti
aliran darah ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding
aveolus, masuk ke rongga aveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan
bronkus. Dari trakea larva menuju faring, sehingga menimbulkan rangsangan pada faring.
Penderita akan batuk karena rangsangan tersebut dan larva akan tertelan ke dalam esofagus,
lalu menuju ke usus halus. Di usus halus larva berubah menjadi cacing dewasa. Karena
adanya penumpukan cacing dewasa di usus halus dapat menyebabkan terjadinya obstruksi
ileus. Sejak telur matang tertelan sampai cacing dewasa bertelur diperlukan waktu kurang
lebih 23 bulan

Komplikasi
Isi lumen usus merupakan campuran bakteri yang mematikan, hasil-hasil produksi bakteri,
jaringan nekrotik dan darah.

Perforasikebocoran pada gaster (usus yang mengalami perforasi dan mengeluarkan


materi tersebut ke dalam rongga peritoneum yang menyebabkan peritonis)
Peritonitis (dinding usus menebal)

Syok septic (tidak mengalami perforasi, bakteri dapat melintasi usus yang permeable
tersebut dan masuk ke dalam sirkulasi tubuh melalui cairan getah bening dan
mengakibatkan syok septic)
Syok hipovolemik
Abses
Pneumonia aspirasi

Prognosis
Pada obstruksi intestinal ada kemungkinan terjadinya kambuhan obstruksi dalam jangka
10 tahun karena adhesi sekitar 15-50%. Dengan adanya perkembangan teknik laparatomi dan
penunjang diagnostik, angka mortalitas pada obstruksi intestinal menurun hingga 5%.

C. PENCEGAHAN
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah askariasis, antara lain:
a) Menghindari mengonsumsi makanan yang disiapkan tanpa sanitasi atau kebersihan yang
memadai.
b) Menghindari air dan minuman lain yang diperoleh dari sumber-sumber yang
terkontaminasi.
c) Menghindari kontak dengan tanah yang mungkin terkontaminasi dengan kotoran
manusia.
d) Mencuci dengan bersih sayuran.
Mencuci tangan ketika selesai dari kamar mandi.

D. PATOFISIOLOGI
Pada obstruksi mekanik, usus bagian proksimal mengalami distensi akibat adanya gas/udara
dan air yang berasal dari lambung, usus halus, pankreas, dan sekresi biliary. Cairan yang
terperangkap di dalam usus halus ditarik oleh sirkulasi darah dan sebagian ke interstisial, dan
banyak yang dimuntahkan keluar sehingga akan memperburuk keadaan pasien akibat
kehilangan cairan dan kekurangan elektrolit. Jika terjadi hipovolemia mungkin akan berakibat
fatal.
Obstruksi yang berlangsung lama mungkin akan mempengaruhi pembuluh darah vena, dan
segmen usus yang terpengaruh akan menjadi edema, anoksia dan iskemia pada jaringan yang

terlokalisir, nekrosis, perforasi yang akan mengarah ke peritonitis, dan kematian. Septikemia
mungkin dapat terjadi pada pasien sebagai akibat dari perkembangbiakan kuman anaerob dan
aerob di dalam lumen. Usus yang terletak di bawah obstruksi mungkin akan mengalami
kolaps dan kosong.
Secara umum, pada obstruksi tingkat tinggi (obstruksi letak tinggi/obstruksi usus halus),
semakin sedikit distensi dan semakin cepat munculnya muntah. Dan sebaliknya, pada pasien
dengan obstruksi letak rendah (obstruksi usus besar), distensi setinggi pusat abdomen
mungkin dapat dijumpai, dan muntah pada umumnya muncul terakhir sebab diperlukan
banyak waktu untuk mengisi semua lumen usus. Kolik abdomen mungkin merupakan tanda
khas dari obstruksi distal. Hipotensi dan takikardi merupakan tanda dari kekurangan cairan.
Dan lemah serta leukositosis merupakan tanda adanya strangulasi. Pada permulaan, bunyi
usus pada umumnya keras, dan frekuensinya meningkat, sebagai usaha untuk mengalahkan
obstruksi yang terjadi. Jika abdomen menjadi diam, mungkin menandakan suatu perforasi
atau peritonitis dan ini merupakan tanda akhir suatu obstruksi.

Neng Angie Rivera


2014730073
7. Jelaskan DD 2: Ascariasis
JAWABAN :
DEFINISI dan ETIOLOGI
Ascariasi adalah infeksi usus kecil yang disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides. Habitat
A.lumbricoides pada usus halus manusia,manusia merupakan tuan rumah definitif dan tidak
membutuhkan tuan rumah perantara.
PATOFISIOLOGI
Infeksi bermula dengan ingesti telur ascaris. Larva dihasilkan dalam duodenum ketika sekresi
lambung lambung melarutkan telur tersebut. setelah menembus epitel mukosa, larva berjalan
melalui sirkulasi porta dan hepatik ke jantung dan paru memasuki alveoli, dan memasuki
hipofaring. Larva ini tertelan dan matang menjadi cacing dewasa dalam jejunum, tempat cacing
tersebutmenghasilkan hidupnya selama 6-18 bulan, menghasilkan telur-telur yang dilepaskan
dalam tinja. Gejala-gejala intestinal disebabkan oleh sifat fisik cacing dewasa. Cacing dewasa
dapat mengambil protein secara signifikan dari makanan dan menyebabkan malnutrisi proteinenergi.
GEJALA KLINIK
Infeksi usus oleh Ascaris lumbricoides ini bersifat asimtomatik. Dan gejala klinik tergantung dari
beberapa hal, antara lain beratnya infeksi, keadaan umum penderita, daya tahan, dan kerentanan
penderita terhadap infeksi cacing. Gejala klinik biasanya ditimbulkan oleh cacing dewasa atau
stadium larva. Cacing dewasa tinggal di mukosa usus halus sehingga dapat menyebabkan iritasi
rasa tidak enak diperut berupa mual serta sakit perut yang tidak jelas.
Jika terjadi invasi ke appendix, ductus cholledochus ataupun ampulla vateri dapat menimbulkan
appendisitis, cholesistitis, atau pancreatitis hemorhagik. Pada anak-anak biasanya menembus
melalui umbilicus sedangkan pada orag dewasa melalui inguinal. Migrasi cacing dewasa ini
disebut migration yang disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya demam akibat penyakit lain
atau faktor obat.
PENCEGAHAN

Pencegahan ascariasis ditujukan untuk memutuskan salah satu mata rantai dari siklus hidupnya,
yaitu pendidikan kesehatan terutama mengenai kebersihan makanan dan pembuangan tinja
manusia; dianjurkan agar tidak BAB sembarangan , mencuci tangan sebelum makan, memasak
makanan, sayuran dan air dengan baik.
KOMPLIKASI
Obstruksi, intususepsi, infark usus, dan perforasi.
PROGNOSIS
Baik jika dilakukan pengobatan adekuat
PENYEBARAN
Kosmopolit terutama di daerah tropis. Cacing ini terutama menyerang anak-anak usia 5-9 tahun,
sedangkan menurut jenis kelamin tidak menunjukan perbedaan nyata maksudnya laki-laki dan
perempuan memiliki kemungkinan terinfeksi yang sama

Nur Indah Sari


2014730077
8. Jelaskan algoritma penatalaksanaan penyakit pada scenario !

JAWABAN :
1. Tatalaksana awal
Konstipasi

Anak Laki-laki umur 5 Tahun


Keluhan: 3 hari tidak buang air besar dan muntah, merasa
mual tidak nafsu makan, demam malam hari, difeses
terdapat cacing, dan keadaan umum kurus, lemas, dan
agak pucat
Dugaan konstipasi sekunder

Terapi empirik (24 minggu)

()
(+
)

(+
)))

Lanjutkan
pengobatan

()

Investigasi lebih lanjut


atau rujuk

Gambar 1. Algoritma Tatalaksana Konstipasi pada Pelayanan


Kesehatan Lini Pertama

Konstipasi

Anak Laki-laki umur 5 Tahun


Keluhan: 3 hari tidak buang air besar dan muntah, merasa
mual tidak nafsu makan, demam malam hari, difeses
terdapat cacing, dan keadaan umum kurus, lemas, dan
agak pucat
Dugaan konstipasi sekunder

(-)
Terapi Empirik (2-4
minggu)

Lanjutkan
pengobatan

(-

Pemeriksaan feses
rutin atau
laboratorium

Tidak terdapat
kelainan

Terdapat
kelainan

Pengobata
n sesuai
penyebab

Gambar. 2 Algoritme Tatalaksana Konstipasi pada


Pusat Pelayanan Kesehatan yang Lebih Lengkap

2. Tatalaksana Farmakologi
Ileus Obstruktif
Pada obstruktif intestinal terapi inisial adalah suportif yakni resusitasi
cairan intravena, koreksi kelainan elektrolit, istirahatkan usus, serta
dekompresi nasogastrik (untuk obstruksi usus kecil). Jika obstruksi total
akan mengalami iskemia atau peritonitis pasien harus diberi antibiotik
broadspectrum dan disiapkan untuk dilakukan operasi emergensi. Pada
obstruksi usus kecil jika obstruksi parsial, penatalaksanaan konservatif
dapat dipertahankan selama 24-48 jam, jika tidak ada perbaikan atau
bahkan terjadi peritonitis maka laparotomi merupakan indikasi. Teknik
dekompresi menggunakan naso tube instestinal dapat dipakai untuk
terapi konservatif pada obstruksi usus kecil karena adhesi, akan tetapi

pada pasien dengan total obstruksi dan kadar kreatinin fosfokinase


serum tinggi (>130 IU/L) tidak memberikan respon. Selang intestinal
kadang sulit dalam pemasangannya agar dapat masuk ke jejunum,
dengan menggunakan transnasal ultrathin endoscopy penempatan
tube intestinal panjang akan lebh mudah.
Gejala nyeri abdomen, mual
dan
muntah,
distensi
abdomendan
obstipasi
progresif
Pemeriksaan
fisik,
dan
laboratorium
konsistensi
dengan peritonitis

Y
a

Operasi abdominal

Y
a

Operasi abdominal

Tidak

Ro
plain
abdomen:
pneumoperitoneum

Tidak

Small bowel follow through


ata CT abdomen

Komplikasi:
iskemia berat,
perforasi, atau

Obstruksi
mekanikal

Monitor paisen,
resusitasi dan
supported care

Tak ada perbaikan


obstruksi
mekanikal

Obstruksi parsial
spontan membaik

Obstruksi
Abdominal

Operasi
abdominal

Gambar 3. Algoritme penatalaksanaan Pasien dengan


Kemungkinan Obstruksi Usus Kecil

Et cause Ascaris lumbricoides


1. Pirantel Pamoat
-merupakan obat fast acting
-dapat dipakai dosis tunggal 10 mg/kg BB
SEDIAAN. Pirantel pamoat tersedia dalam bentuk sirop berisi 50 mg
pirantel basa/mL serta tablet 125 mg dan 250 mg. Dosis tunggal yang
dianjurkan 10 mg/kgBB, dapat diberikan setiap saat tanpa dipengaruhi
oleh makanan atau minuman.
EFEK SAMPING DAN KONTRAINDIKASI. Efek samping pirantel pamoat
jarang, ringan dan bersifat sementara, misalnya keluhan saluran cerna,
demam dan sakit kepala. Penggunaan obat ini pada wanita hamil dan
anak usia dibawah 2 tahun tidak dianjurkan, sangat berlawanan
dengan piperazin. Penggunaannya harus hati-hati pada pasien dengan
riwayat penyakit hati, karena obat ini dapat meningkatkan SGOT pada
beberapa pasien.
2. Mebendazol
-merupakan obat long acting
-dapat digunakan dengan dosis 2x 100 mg/hari selama 3 hari
-pada penderita yang mengalami infeksi ringan dapat digunakan dosis
tunggal 500 mg
SEDIAAN. Tersedia dalam bentuk tablet 100 mg dan sirup 20 mg/mL,
dosis pada anak dan dewasa sama yaitu 2x100 mg sehari selama 3
hari berturut-turut untuk askarisis, trikuris dan infeksi cacing tambang.
Bila perlu pengobatan ulang dapat diberikan 2-3 minggu kemudian.
Untuk penyembuhan Askariasis sekitar 90-100%.
EFEK SAMPING DAN KONTRAINDIKASI. Mebendazol tidak menyebabkan
efek toksik sistemik mungkin karena absorpsinya yang buruk sehingga
aman diberikan pada pasien dengan anemia maupun malnutrisi. Efek
samping yang kadang-kadang timbul adalah mual, muntah, diare, dan
sakit perut ringan yang bersifat sementara. Gejala-gejala ini biasanya
terjadi pada infestasi askaris yang berat yang disertai keluarnya cacing
lewat mulut. Sakit kepala ringan, pusing, dan reaksi hipersensitivitas

merupakan efek samping yang jarang terjadi. Mebendazol tidak


dianjurkan untuk ibu hamil pada trimester pertama, pasien yang alergi
dengan mebendazol, dan harus diperhatikan penggunaan pada pasien
dengan sirosis.
3. Albendazol
-merupakan obat long acting
-dapat digunakan dosis tunggal 400 mg, namun pada infeksi berat
dapat digunakan selama 2-3 hari
-perlu mendapat perhatian bahwa pemberian albendazol pada ibu
hamil merupakan kontra indikasi
SEDIAAN. Untuk infeksi cacing askaris dosis dewasa dan anak umur
diatas 2 tahun adalah 400 mg dosis tunggal bersama makan.
EFEK SAMPING. Untuk penggunaan 1-3 hari aman. Efek samping
berupa nyeri ulu hati, diare, sakit kepala, mual, lemah, pusing,
insomnia, frekuensinya 6%.
3. Dosis Yang Diberikan Apabila Berat Badan Anak pada Skenario
20 kg/BB
BB= 20 kg
Dosis= 10 mg/kgBB (dengan obat pirantel pamoat)
Obat yang dibutuhkan= 20 kg x 10= 200 mg (kebutuhan)
Sediaan= sirup= 50 mg/mL
Maka:
*Sirup= (sediaan)= 50 mg/mL
Kebutuhan= 200 mg, maka 200/50= 4 mL untuk sirup
*Tablet= (sediaan) 125-250 mg
Kebutuhan= 200 mg, maka 200/250= 4/5 tablet, 250 mg

4. Tatalaksana Non Farmakologi

Menjaga kebersihan diri, contohnya cuci tangan sebelum makan dan


sesudahnya, hindari makanan ataupun air minum yang terkontaminasi
tanah.

5. Asupan gizi terhadap gejala konstipasi:


Beri buah-buahan seperti, pepaya, jus tomat dan sayur (beri makanan kaya
serat) diberikan untuk membantu memperbaiki konstipasi, cara
pemberiannya hendaknya bertahap karena dapat menyebabkan rasa kurang
enak, kembung dan banyak flatus. Pasien yang mengalami konstipasi
sebaiknya diberikan diet tinggi serat. Bahan makanan yang diberikan harus
mengandung kurang lebih 30-65 gram serat makanan atau 6-15 gram serat
kasar (diet tinggi serat). Kombinasi beberapa bahan makanan dapat
memenuhi ketentuan diet tinggi serat yang dianjurkan, misalnya., makanan
sehari-hari ditambahkan lebih banyak sayuran, buah-buahan, serelia dan
kacang-kacangan. Ada beberapa bahan makanan yang dianjurkan dan yang
harus dihindari pasien yang mengalami konstipasi. Bahan makanan yang
dianjurkan, antara lain berasmerah, ketan hitam, havermut, cantel, jagung,
ubi, singkong, wijen, kacang-kacangan, sayuran yang kaya serat, seperti
(daun singkong, daun kacang, daun katuk, kangkung, kol, sawi), buahbuahan (terutama yang dimakan dengan kulitnya, seperti apel, buah pir,
anggur, dsb), dan agar-agar. Semua bahan makanan yang mengandung
rendah serat, seperti gula, maizena, dan tepung lainnya yang merupakan
tidak boleh dikonsumsi pasien yang mengalami konstipasi.
Tabel. 1 Bahan makanan yang banyak mengandung serat

Sayuran (per 100 g Cara memasak


Jumlah serat (gram)
bahan makanan)
Bayam
Dikukus
1,2
Buncis
Direbus
1,5
Cabai gembor merah
1,6
Caisin
1,2
Daun kacang panjang
Dikukus
1,8
Daun katuk
1,5
Daun lamtoro
3,3
Daun pakis
2,0
Daun paria
1,5
Daun pohpohan
2,6
Daun singkong
Direbus
1,6
Daun ubi jalar
Dikukus
1,5
Kacang merah, kacang 1,1
polong
Kacang panjang
Kangkung
Kulit melinjo
Paria
Terung asam
Toge
Tomat merah
Wortel
Sumber: komposisi zat gizi pangan Indonesia, Jakarta:Depkes RI
6. Edukasi
Beri edukasi terhadap pasien dengan:

Pelihara kesehatan perorangan dan lingkungan dengan membiasakan


hidup sehat dan bersih
Janganlah buang air besar disembarang tempat
Cucilah buah dan sayur untuk lalap dengan menggunakan air bersih
yang mengalir
Biasakan diri untuk mencuci tangan dengan menggunakan airbersih
dan sedapat mungkin disertai sabun, mengingat telur cacing mudah
melekat (lengket) pada kulit
Biasakan diri untuk memotong kuku secara teratur
Hindarkan penggunaan pupuk yang berasal dari tinja

DAFTAR PUSTAKA

Rani, A. Aziz, et al. 2011. Buku Ajar Gastroenterologi. Jakarta: InternaPublishing


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41747/4/Chapter%20II.pdf diakses pada
21 September 2016 15:12 WIB
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41747/4/Chapter%20II.pdf diakses pada
21 September 2016 15:12 WIB
Murray, Robert K. et. Al, 2003, Biokimia Harper , edisi 25, EGC, Jakarta
Mayes, Peter A. et. Al, 1987, Biokimia Harper (Harpers Review of Biochemistry), edisi
20, EGC, Jakarta
Setiati, siti.2014.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi VI jilid I Bab10 hal.776. Jakarta:
Interna Publishing
Sutanto, inge.2014. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran edisi VI hal. 8. Jakarta : BPFKUI
Douglas Graham. 2014. Macleod Pemeriksaan Klinis.
Singapore:Elsevier
Bickley S Lynn. 2013. Buku Ajar Pemeriksaan Fisik& Riwayat Klinis Ed
8. Jakarta: EGC
Brown. 1983. Dasar Parasitologi. Karta; Gramedia

Bennett, John E., et al. 2010. Mandell, Douglas, Bennetts Principles and Practice of
Infectious Disease, 7thEd Vol. 2. Philadelphia: Elsevier
Juffrie Mohammad, et al. 2012. Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI
Nadisastra, Djaenudin, et al. 2009. Parasitologi Kedokteran: Ditinjau dari Organ Tubuh
yang Diserang. Jakarta: EGC
Soedarto. 2011. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Sagung Seto
Farmakologi FK UI
Buku Ajar Gastroenterologi Edisi 1, 2011
Buku Ajar Ilmu Gizi