Anda di halaman 1dari 4

Recurrent aphtous stomatitis

2. Etiologi
Di Eropa bagian barat dan Amerika Utara recurrent aphtous stomatitis (RAS)
merupakan penyakit mukosa yang paling sering muncul, mempengaruhi 15-20%
populasi. Beberapa teori telah muncul untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya
RAS. Konsep yang berlaku sekarang adalah RAS merupakan sindrom dengan banyak
penyebab. Faktor penting yang teridentifikasi adalah faktor hereditas, defisiensi
hematologic,

dan respon imunologi yang abnormal. Faktor yang paling banyak

adalah faktor hereditas.


Defisiensi hematologic, khususnya zat besi, folat atau vitamin B12 tampak
sebagai faktor etiologi RAS. Banyak penelitian mengenai etiologi RAS terpusat pada
respon imunologis yang abnormal. Faktor lain yang dianggap sebagai penyebab RAS
termasuk trauma, psychological stress, kecemasan, dan alergi makanan (susu, keju,
gandum, dan tepung). Diketahui pula merokok dapat menjadi faktor predisposisi dari
RAS.
Deterjen yang terdapat pada pasta gigi, sodium lauryl sulfat (SLS) dicurigai
sebagai factor etiologi dari perkembangan RAS, tetapi studi silang double-blind
terbaru menunjukkan bahwa penggunaan pasta gigi bebas SLS tidak memiliki
pengaruh yang signifikan pada perkembangan ulser.
3. Manifestasi Klinis

Episode awal dari RAS biasanya terjadi pada umur decade kedua dan
mungkin dipresipitasi oleh trauma minor, menstruasi, infeksi saluran pernapasan atas,
atau kontak dengan makanan tertentu. Lesi terbatas pada mukosa oral dan berawal
pada rasa terbakar yang prodormal 2 sampai 48 jam sebelum ulcer terlihat. Selama
periode inisial, terlihat bagian eritema yang terlokalisasi. Dalam beberapa jam, papula
putih kecil, ulserasi, dan membesar 48 sampai 72 jam kemudian. Lesi tunggal
berbentuk bundar, simestris, dan dangkal (sama seperti ulserasi virus), namun tidak
ada bekas pada jaringan yang disebabkan vesikel yang rupture (ini membantu untuk
membedakan RAS dengan penyakit dengan ulcer yang irregular seperti EM,
pemphigus, dan pemphigoid). Lesi jamak terkadang terlihat, namun jumlah, ukuran,
dan frekuensinya bervariasi. Mukosa buccal dan labial paling sering terlibat. Lesi
jarang ditemukan pada palatum dan gingiva. Pada RAS ringan, lesi berkembang dari
0,3 cm menjadi 1 cm dan sembuh dalam satu minggu. Penyembuhan tanpa jaringan
parut terjadi sekitar 10 sampai 14 hari.
Kebanyakan pasien RAS memiliki 2 sampai 6 lesi pada tiap episodenya dan
menunjukkan beberapa episode dalam satu tahun. Pasien dengan ulcer mayor
memiliki lesi dalam yang diamternya lebih besar dari 1 cm dan dapat mencapai 5 cm.
Sebagian besar dari mukosa oral ditutupi oleh ulcer yang dapat menyatu. Lesi ini
sangat sakit dan mengganggu aktivitas berbicara dan makan. Lesi ini dapat sembuh
dalam beberapa bulan dan tidak jarang terjadi salah diagnosis sebagai Squamous Cell
Carcinoma, Chronic Granulomatous Disease, atau Pemphigoid. Lesi sembuh secara
perlahan dan meninggalkan bekas luka yang menyebabkan penurunan pergerakan

uvula dan lidah dan destruksi sebagian mukosa oral. Jenis RAS yang paling jarang
adalah Herpetiform Type yang sebagian besar terjadi pada dewasa. Pasien
menunjukkan ulcer kecil belang-belang tersebar dalam jumlah banyak di mukosa
oral.

4. Perawatan RAS
Untuk memberikan treatment yang bisa mengurangi rasa sakit dan
penyembuhan dari lesi, dibutuhkan identifikasi dari faktor predisposisi. Obat yang
diberikan harus berhubungan dengan berat ringannya kasus penyakit. Kasus ringan
dengan dua atau tiga lesi kecil, gunakan proteksi seperti Orabase (Bristol-Myers
Squibb, Princeton, NJ) atau Zilactin (Zila Pharmaceutions, Phoenix, AZ).
Nyeri lesi ringan dapat diberikan anestesi topikal agen atau topikal diclofenac.
Dalam kasus yang lebih berat, digunakan topical steroid, seperti fluosinonida,
betametason atau clobetasol, diberikan langsung pada penyembuhan lesi dengan
jangka waktu lebih singkat. Gel dapat dengan hati-hati diaplikasikan langsung pada
lesi setelah makan dan pada waktu tidur dua sampai tiga kali sehari.
Lesi yang lebih besar dapat diobati dengan menempatkan perban berisi steroid
topikal pada ulcer. Untuk mempercepat waktu penyembuhan lesi Recurrent Apthous
Stomatitis diberikan pasta topikal amlexanox tetracycline, yang dapat digunakan baik
sebagai cuci mulut. Intralesional steroid dapat digunakan untuk mengobati lesi
Recurrent Apthous Stomatitis besar. Bila tidak responsive, diberikan terapi topikal,

maka penggunaan terapi sistemik harus dipertimbangkan misalnya colchicine,


pentoxifylline, dapson, dan thalidomide. Thalidomide diberikan untuk mengurangi
insiden dan tingkat keparahan Recurrent Apthous Stomatitis terutama pada pasien
HIV-positif dan HIV-negatif, namun obat ini harus digunakan dengan sangat hati-hati.
Efek

samping

lain

dari

thalidomide termasuk

gastrointestinal, dan mengantuk.

neuropati

perifer,

masalah