Anda di halaman 1dari 22

DINDING SEL EUKARIOTIK

(FUNGI DAN TUMBUHAN)


Makalah
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metabolisme Sel
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Priyantini Widyaningrum. M. Si

Oleh
Ristiana Nugrahani
0402514041
Kelas Khusus IPA (Konsentrasi Biologi)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA KONSENTRASI


BIOLOGI PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sel terdiri dari organel-organel sel yang masing-masing memiliki
tugas khusus. Salah satu organel sel yang memiliki tugas yang tak kalah
penting tersebut adalah Dinding sel. Dinding sel merupakan sebuah
membran yang terbentuk pada bagian luar dari membran sel yang berperan
sangat penting dalam membentuk struktur sel yang kaku, memberi
kekuatan dan perlindungan kepada sel terhadap tekanan mekanik.
Dinding sel adalah struktur di luar membran plasma yang membatasi
ruang bagi sel untuk membesar. Dinding sel merupakan ciri khas yang
dimiliki tumbuhan, bakteri, fungi (jamur), dan alga, meskipun struktur
penyusun dan kelengkapannya berbeda. Hewan dan protista kebanyakan
tidak memiliki dinding sel.
Pada dinding sel ada bagian yang tidak menebal, yaitu bagian yang
disebut noktah. Melalui noktah ini terjadi hubungan antara sitoplasma satu
dengan yang lain yang disebut plasmodesmata. Plasmodesmata berupa
juluran plasma, yang berfungsi menjadi pintu keluar masuknya zat.
Sesuai dengan arti dari Metabolisme Sel itu sendiri, bahwa kajian
darimatakuliah ini adalah mengenai aktivitas metabolisme yang terjadi
dalam sel. Pembahasan tersebut berkenaan dengan struktur, komponen
penyusun dari organel tersebut, fungsi, dan mekanisme kerja, khusunya
pada Dinding sel, maka makalah ini disusun dengan tujuan meningkatkan
pemahanan mahasiswa tentang Metabolisme yang terjadi di Dinding Sel.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembahasan mengenai kompleks golgi
ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Fungsi Dinding Sel Tumbuhan?
2. Bagaimana Struktur Dinding Sel Tumbuhan?
3. Apa Saja Kkomponen penyusun dinding sel Tumbuhan?
4. Bagaimana Teori Pembentukan Dinding Sel Tumbuhan?
5. Bagaimana Struktur Plasmodesmata?
6. Bagaimana perpindahan material melewati Plasmodesmata?
7. Bagaimana Struktur Dinding Sel Fungi?
8. Apa Saja Komponen Penyusun Dinding Sel Fungi?
9. Apa Fungsi Dinding Sel Fungi?
C. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini ditujukan untuk:
1. Memahami Fungsi Dinding Sel Tumbuhan?
2. Memahami Struktur Dinding Sel Tumbuhan?
3. Memahami Kkomponen penyusun dinding sel Tumbuhan?
4. Memahami Teori Pembentukan Dinding Sel Tumbuhan?
5. Memahami Struktur Plasmodesmata?
6. Memahami perpindahan material melewati Plasmodesmata?
7. Memahami Struktur Dinding Sel Fungi?
8. Memahami Komponen Penyusun Dinding Sel Fungi?
9. Memahami Fungsi Dinding Sel Fungi?

BAB II
PEMBAHASAN
A. DINDING SEL TUMBUHAN
Salah satu ciri yang membedakan antara sel hewan dan sel tumbuhan
adalah adanya dinding sel. Seperti dikemukakan sebelumnya bahwa dinding
sel terdiri atas dinding primer dan dinding sekunder, diantara dinding primer
dari suatu sel dengan dinding primer dari sel tetangganya, terdapat lamella
tengah. Lamella tengah merupakan perekat yang mengikat sel-sel secara
bersama-sama untuk membentuk jaringan dan oleh sebab itu dijumpai
diantara dinding sel-sel primer yang berdekatan.
1. Fungsi Dinding Sel
Dinding sel memiliki berbagai fungsi diantaranya
a. Mempertahankan/menentukan bentuk sel.
b. Mendukung dan memberi kekuatan secara mekanik (memungkinkan
tanaman untuk tumbuh tinggi, dll).
c. Mencegah membran sel pecah dalam medium hipotonik atau tekanan
turgor.
d. Mengontrol laju dan arah pertumbuhan sel serta mengatur isi sel.
e. Bertanggung jawab pada struktur bentuk tumbuhan dan mengontrol
morfogenesis tanaman.
f. Memiliki peran metabolisme.
g. Memberi perlindungan fisik dari serangan serangga dan pathogen.
h. Penyimpanan karbohidrat yang merupakan salah satu komponen
dinding selyang dapat digunakan kembali dalam proses metabolisme
lainnya. Jadi, di satu sisi dinding sel berfungsi sebagai gudang
penyimpanan untuk karbohidrat.
i. Sebagai produk ekonomis, dimana dinding sel sangat penting untuk
menghasilkan produk-produk seperti kertas, serat, serat kayu,sumber
energy, papan dan bahkan sebagai bahan dasar dalam produk
makanan diet kita.
j. Tabung untuk trasportasi jarak jauh.
k. Kegiatan fisiologis dan biokimia pada dinding sel berperan untuk
komunikasi antar sel-sel.
2.

Komponen Dinding Sel Tumbuhan

Komponen utama dinding sel tumbuhan adalah polisakarida yang


terdiri atas tiga tipe utama yaitu Selulosa, Hemiselulosa, Polisakarida
pektat.

Gambar 1. Struktur Dinding Sel Tumbuhan

a.

Selulosa
Selulosa pada kayu kurang lebih 45% dari berat keringnya,
sedangkan pada kapas kurang lebih 98%. Selulosa adalah polimer
lurus yang terdiri atas unit-unit glukosa yang membentuk rantai yang
saling berhubungan melalui ikatan glikosida (3 1-4. Satu molekul
selulosa terdiri atas 8.000-15.000 unit glikosa. Dalam satu mikrofibril,
setiap rantai glukosa membentuk ikatan hidrogen dengan rantai
glukosa yang ada didekatnya sehingga secara struktural mikrofibril
menjadi lebih stabil.
CH2OH

CH2OH

CH2OH

CH2OH

CH2OH

Gambar 2. Struktur Molekul Selulosa

Gambar 3. Ikatan hidrogen yang menghubungkan molekul


selulosa dengan molekul selulosa yang lain (Thorpe, 1984)

b. Hemiselulosa
Hemiselulosa merupakan molekul heteropolimer yang bercabangcabang. Keberadaannya terdiri atas berbagai macam gula dan asam
uronat, gula heteropolimer pentosa (arabinosa, xylosa), heksosa
(manosa dan galaktosa) (Gambar 5.12).

Gambar 4. Berbagai jenis molekul gula

Berbagai jenis hemiselulosa mempunyai dua ciri struktur yang


sama, yaitu :
1) Satu tulang punggung yang terdiri atas ikatan b 1-4
2) Rantai samping yang pendek, misalnya glukomannan.

Beberapa hemiselulosa diberi nama xylan, arabinok xylan,


glukomannan, galaktomannan, dan xyloglukan. Dari nama tersebut,
mencerminkan strukturnya (Gambar 4.15).

Galaktoglukomannan

Xylan

Arabinogalaktan

Gambar 5. Struktur berbagai molekul hemiselulosa (Thorpe, 1984)

c.

Pektin
Pektin adalah suatu famili dari polisakarida dan memiliki struktur
yang sangat bervariasi. Satu ciri utama yang dimilikinya adalah
adanya gugus asam yang disebabkan oleh adanya residu asam
glukoronat dan galaktoronat. Hemiselulosa berfungsi melapisi
mikrofibril sekaligus sebagai perekat. Pektin mempunyai struktur
yang sangat bervariasi dengan ciri utama adanya gugus asam yang
merupakan residu asam glukoronat dan galaktoronat (Gambar 6).

Gambar 6. Struktur Pektin, Thorpe 1984.

d. Protein Non Struktural


Dinding sel tumbuhan juga mengandung komponen-komponen
non polisakarida, yaitu berupa protein-protein struktural yang kaya
dengan hidroksi prolin yaitu sekitar 25%. Diduga bahwa, fungsi dari
protein tersebut adalah dalam pengorganisasian dinding sel.
e.

Lignin dan Kutin


Selain itu, terdapat plastik biologi, yaitu lignin dan kutin. Lignin
biasanya mengisi dinding sekunder dan menyebabkan dinding
menjadi kaku. Lignin dibentuk dari hasil polimerisasi prekuersor
lignin. Lignin berfungsi sebagai bahan pengisi dinding sel. Ada tiga
tipe prekuersor lignin, yaitu (i) Coumaril alkohol (R1=H dan R2=H);
(ii) Cineferil alkohol =H dan R2=OCHs); dan (iii) Synapyl alkohol
(R1=OCH3 dan R2=OCH3).
Kutin biasanya terdapat pada permukaan dinding sel dan
berfungsi agar permukaan sel resisten terhadap dehidrasi dan juga
sebagai proteksi sel terhadap luka. Struktur kitin belum jelas, namun
ia mengandung asam lemak hidroksi (C16-C18) yang terikat secara
kovalen satu dengan yang lain melalui ikatan ester.

f.

Mikrofibril

Dinding primer tersusun atas selulosa, yaitu suatu polimer pglukosa dengan ikatan p 1-4. Kurang lebih 8.00015.000 gugus pglukosa secara bersama-sama membentuk satu rantai selulosa. Kurang
lebih 40-70 tantai molekul selulosa terdapat dalam kelompokkelompok

yang

sejajar

membentuk

mikrofibril.

Mikrofibril-

mikrofibril saling berkelompok membentuk mikrofibril dengan


diameter 0,5 1 dan tampak dengan mikroskop cahaya (Thorpe,
1984). Di dalam dinding sel, mikrofibril dilapisi oleh hemiselulosa
yang selanjutnya dihubungkan ke hemiselulosa lain oleh pektin dan
polisakarida lain (Albert et al., 1983).

Gambar 7. Ikatan Antara Mikrofibril pada Dinding Sel (Albert et al,


1983)

Pada dinding primer, mikrofibril-mikrofibril tersusun erat dan


letaknya tersebar (Gambar 4.20). Ruang-ruang di antara mikrofibril
diisi oleh air, protein dan bahan dinding sel lain, yaitu hemiselulosa
dan pektin. Mikrofibril-mikrofibril tersebut bersifat lentur dan dapat
memanjang. Kandungan hemiselulosa tinggi dan selulosa rendah.
Dinding primer adalah struktur yang pertama dibentuk dan diletakkan
pada lamella tengah.
Dinding sekunder terutama terdiri atas selulosa. Pada beberapa sel
terdapat pektin. Lapisan terluar dinding sel sekunder terdapat lignin,

kutin, dan suberin. Lignin terdiri atas tiga macam yaitu koniferin
alkohol, senafil alkohol, dan kumoril alkohol. Kutin merupakan rentai
karbohidrat dengan jumlah atom C antara 21-35. Lilin adalah ester
asam lemak dengan alkohol.

(a)

(b)

Gambar 8. Dinding sel primer (a), Dinding sel sekunder (b)

Pada dinding primer, mikrofibril tersebar dalam suatu matriks ,


bersifat lentur, dan memanjang bersama-sama dengan pemanjangan
protoplasma, kadar hemiselulosa tinggi dan hemiselulosa relatif
rendah. Dinding primer merupakan struktur yang pertama kali
diletakkan pada lamella tengah. Pada dinding sekunder, mikrofibrilnya
tersusun sejajar, kaku dan tidak dapat memanjang, kadar hemiselulosa
relatif rendah dan selulosanya lebih banyak. Dinding sekunder
dibentuk setelah sel mencapai ukuran yang maksimum. Dinding
sekunder merupakan suatu struktur multilamella yang terdiri atas tiga
lapisan yang disebut S1, S2, dan S3. Mikrofibril pada lapisan ini terletak sejajar tetapi menurut arah yang berbeda pada lapisan yang
berbeda.
3.

Pertumbuhan Dinding Sel


Pada pertumbuhan dinding sel, ada dua proses yang terlibat, yaitu
pembelahan sel dan pemanjangan sel. Pembelahan sel berlangsung pada
jaringan meristematis. Sel-sel anak yang dihasilkan pada jaringan
meristematis mempunyai ukuran yang lebih kecil dari pada sel-sel dewasa.
Setelah sel anak terbentuk, maka selanjutnya ter-jadi pemanjangan sel. Ada

10

dua teori yang berkenaan dengan pemanjangan dinding sel, yaitu teori
multinet, dan teori orientasi aktif.
a. Teori Multinet
Menurut teori multinet , mikrofibril diletakkan pada permukaan
bagian dalam dinding sel menurut arah melintang terhadap panjang
sel. Pada waktu dinding sel memanjang, mikrofibril-mikrofibril
mengalami reorientasi ulang ke arah sumbu longitudinal sel hingga
mikrofibril sejajar dengan sumbu. Dengan demikian orientasi
mikrofibril menurut teori multinet berlangsung secara pasif mengikuti
perentangan dinding sel selama berlangsungnya pertumbuhan (gambar
9).
Selama pemanjangan dinding sel, mikrofibril bergerak satu
terhadap yang lain. Pada gambar 9 ditunjukkan mekanisme
pemanjangan dinding sel. Dalam hal ini terdapat enzim-enzim yang
memutuskan ikatan antara dua polisakarida dinding sel (a) dan tetap
melekat pada salah satu titik pemotongan, kemudian polisakarida
dapat bergeser dengan bebas (b) dan bererak hingga enzim
membentuk ikatan yang baru.

Gambar 9. Mekanisme Pemanjangan Dinding Sel (Thorpe, 1984)

b. Teori Orientasi Aktif


Menurut teori orientasi aktif, mengemukakan bahwa terbentuknya
lapisan mikrofibril yang sejajar pada dinding sel tumbuhan yang tidak

11

tumbuh lagi berlangsung secara siklosis, (mengalirnya bahan-bahan


sitoplasma di dalam sel tumbuhan) pada bagian dalam sel. Aliran siklosis
ini orientasi mikrofibril pada bagian luar sel. Pada tabel 1, ditunjukkan
perbedaan dinding primer dengan dinding sekunder.
Tabel 1. Perbedaan antara dinding primer dengan dinding sekunder .

Karakteristik
Fleksibilitas dan
Ekstensibilitas
Ketebalan
Susunan Mikrofibril
Kadar Selulosa
Kadar Hemiselulosa
Kadar Lipida
Kadar Protein
Pertumbuhan
4.

Dinding Primer
Tinggi

Dinding Sekunder
Rendah

Dinamis
Acak
Rendah
50%
5-10%
5%
Multinet

Statis
Sejajar
Tinggi
25%
Sedikit/Tidak ada
Rendah
Aposisi

Plasodesmata
Plasmodesma (desmos:mengikat,jamak: plasmodesmata) merupakan
saluran penghubung antar sel tumbuhan atau dapat dikatakan sebagai
media komunikasi pada sel tumbuhan. Plasmodesmata terletak di antara
dua dinding sel tumbuhan dan berhubungan langsung dengan kedua RE
halus masing-masing sel. Transportasi antar melalui plasmodesmata
mengontrol keberlangsungan sel tanaman, dan merupakan hal penting
mendasar dalam gerakan virus,ketahanan penyakit, dan penyebaran sinyal
RNAi. Meskipun plasmodesmata tampak unik untuk sel tanaman, mereka
mungkin memiliki kesamaan struktural dan fungsional dengan tunneling
nanotube yang baru ditemukan yang menghubungkan sel-sel hewan. Barubaru ini, protein yang membatasi plasmodesmata telah diidentifikasi, dan
protein mikrotubulus terkait ditemukan negatif mengatur pengangkutan
pergerakan protein virus. Kemajuan lain telah memberikan wawasan baru
ke dalam fungsi dan sifat molekul plasmodesmata dan telah menunjukkan
bahwa lalu lintas protein melalui plasmodesmata telah diatur, membuka
kemungkinan bahwa kontrol genetik dari fungsi plasmodesmal akan segera
dipahami.
Perkembangan tanaman sangat bergantung pada komunikasi antar

12

melalui PD. Protein endogen pertama ditemukan untuk melintasi sel-sel


melalui

PD

adalah

jagung

protein

homeodomain

perkembangan

KNOTTED1 (KN1). Segera setelah itu, floem protein ditemukan untuk


meningkatkan PD SEL dan lalu lintas sel-sel. Signifikansi fungsional dari
berbagai protein seluler floem masih dijelaskan.
Virus tanaman juga mengambil keuntungan dari PD untuk
menyebarkan genom mereka dari sel ke sel. Protein bergerak (MPs) adalah
protein virus khusus yang meningkatkan SEL dan mengizinkan transport
genom virus. MPs berhubungan dengan sitoskeleton dan ER. Penemuan
faktor endogen tanaman yang terlibat dalam fungsi MP berakibat lebih
meningkatkan pemahaman kita tentang molekul-molekul yang sulit
dipahami.
Dalam ulasan ini, kita akan membahas kemajuan terbaru dalam
pemahaman kita tentang mekanisme transportasi melalui PD, bagaimana
virus menggunakan mesin PD untuk lalu lintas sel-sel, dan penemuan
pemain molekul menarik dalam fungsi PD. Kami juga akan membahas
percobaan pilihan terbaru yang menunjukkan peran besar PD dalam
perkembangan tumbuhan.

Gambar 10. Plasmodesmata

a. Struktur Plasmodesmata
Plasmodesmata terdiri dari 2 bagian, yaitu:
Pori: terdiri dari lengan sitoplasma (CS) dan koneksi penghubung
(SP).Materi yang melewati pori adalah materi yang ditransfer ke sel
lain tanpa membutuhkan energi karena mengikuti gradien potensial
(transpor pasif)

13

Membran : terdiri dari desmotubul (D) dan tabung pusat (CR). Proses
transportasi materi yang terjadi pada bagian ini adalah transpor aktif
yang melibatkan kerja aktin dan myosin sebagai donor ATP.
Keterangan:
CW : Dinding sel
ER : Retikulum endoplasma
PM :Membran plasma
CS :Lengan sitoplasma
SP :koneksi penghubung desmotubul
dengan PM
D :Desmotubul
CR : Tabung pusat (berisi aktin dan
myosin)
Gambar 11. Struktur anatomi plasmodesmata

b. Mekanisme Zat Melintasi Plasmodesmata


1) Transportasi Pasif
PD mengizinkan transportasi pasif makromolekul jika mereka
tersedia secara bebas dalam sitoplasma dan jika ukuran di bawah SEL
tersebut. Percobaan yang melibatkan baik pemuatan atau mikroinjeksi
pemeriksaan flourecent menunjukkan bahwa benda kecil berwarna (~
1 kDa) bisa bergerak dengan difusi (Ulasan di [24]). Dalam beberapa
kasus, SEL dapat lebih besar dari 1 kDa; misalnya protein fluorescent
hijau (GFP) dapat melintasi bebas di jaringan seperti kelopak, ujung
akar dan daun roset muda [25]. Meskipun transportasi pasif melalui
PD mungkin menjadi hasil dari difusi, mungkin selektif seperti halnya
dengan gap junction hewan [26].
2) Transpor aktif
Pergerakan MPs virus dan protein endogen seperti KN1
mungkin terjadi melalui mekanisme yang ditargetkan (Ulasan di [27]).
Hipotesis mekanisme aktif, gerakan yang ditargetkan melalui PD
masih dalam penyelidikan. Termasuk mekanisme PD-reseptormekanisme dimediasi dimana protein non-sel-otonom (setiap protein
yang melintasi sel-sel melalui PD) memiliki sinyal target PD , dan
mekanisme klasik exo- dan endo-cytosis [27] . Kami mengusulkan

14

hipotesis baru untuk transportasi melalui PD dengan analogi modus


baru transportasi sel ke sel yang baru-baru ini ditemukan pada hewan
(yang akan dibahas kemudian dalam bagian ini). Hipotesis mekanisme
ini berbeda, tapi mungkin tidak saling terpisah.
3) Exo-endositosis
Baluska et al. [28] menggunakan pelabelan berwarna fluorescent
untuk menunjukkan bahwa daur cairan endositosis terjadi di PD dari
apeks akar jagung. Kompartemen Tubulo-vesikular menonjol ke darah
dalam dari membran plasma di daerah biji yang diperkaya aktin dan
meosin pada maisng-masing PD. Pembentukan kompartemen ini
diblokir oleh latrunculin B, menunjukkan mekanisme bergantungaktin,

sedangkan

gangguan

mikrotubulus

tidak

berpengaruh.

Kehadiran vesikel endocytic di PD menunjukkan bahwa PD berperan


dalam lalu lintas endo-membran atau internalilasi vesikel, mungkin di
lokasi pemberhentian vesikel, dan fusi membran. Dinding sel (ECM)
jauh lebih tipis di dearah dimana PD terkumpul, yang mungkin karena
kebetulan menjadi daerah yang baik untuk exo- dan endositosis. Jika
ditambah dengan eksositosis, mekanisme tersebut bisa mengakibatkan
translokasi protein antara sel-sel tanaman, mirip dengan mekanisme
yang diusulkan untuk transportasi ENGRAILED homeodomain antara
sel hewan [29].
4) Tunneling nanotube
Penemuan jenis baru dari saluran antar sel hewan, yang disebut
'tunneling nanotube' (TNT), dapat memberikan bukti pertama bahwa
mode fungsional serupa komunikasi antar ada di tanaman dan hewan.
Independen dari endo klasik dan eksositosis, TNTs mengizinkan
lalulintas

vesikel

endomembran

antara

sel-sel,

seperti

yang

ditunjukkan oleh adanya synaptophysin, penanda untuk endosomes


awal dan sinaptik seperti mikrovesicles endosome diturunkan di
TNTs. TNTs menyerupai PD dalam beberapa aspek mekanistik.
Misalnya, TNTs sensitif terhadap latrunculin B, dan karena itu
dimungkinkan menggunakan mekanisme transportasi F-dependent-

15

aktin, dan transportasi virus melalui PD juga sensitif terhadap


inhibitor ini. Paralel lain adalah bahwa sitoskeleton mikrotubulus
tampaknya tidak menjadi penting untuk transportasi TNT atau PD.
Namun, perbedaan utama adalah bahwa TNTs bersifat sementara dan
variabel dalam lokasi, sedangkan di sel tanaman PD dianggap stabil.
Salah satu kemungkinan adalah bahwa PD bisa memberikan tempat
untuk pembentukan nano-tube antara sel-sel tumbuhan. Penemuan
TNTs ini menarik karena menunjukkan hipotesis baru dan hipotesis
dapat diuji mengenai lalu lintas makromolekul yang melibatkan
vesikel melalui PD.
Meskipun TNTs secara struktural berbeda dari PD ditemukan
pada tumbuhan yang lebih tinggi, TNTs lebih mirip dengan struktur
yang PD dari Chara corallina, ganggang characean dianggap sebagai
spesies transisi antara ganggang dan tanaman yang lebih tinggi [33]
(Gambar 1). PD pada Chara setelah sitokinesis dan, seperti TNTs,
kurang memiliki desmotubule ER. Sebuah ide menarik adalah bahwa
PD primitif di Chara adalah prekursor dari PD tanaman yang lebih
tinggi dan juga berbagi beberapa kesamaan fungsionaldengan TNTs.
Baru-baru ini diidentifikasi protein PD melokalisir protein mendukung
hipotesis dari lalu lintas vesikel PD melalui exo-endositosis atau
melalui TNTs.
Faktor transkripsi tanaman dapat bergerak melalui plasmodesmata oleh salah satu mekanisme di atas, dan ada bukti untuk kedua
transportasi non-selektif pasif [37] dan transportasi selektif [10,38 **].
Gagasan bahwa gerakan faktor transkripsi melalui PD terjadi oleh
mekanisme

reseptor-mediated

adalah

menarik,

karena

jenis

mekanisme transportasi selektif diamati di pori nuklir. Namun, tidak


ada PD menargetkan sinyal faktor transkripsi atau reseptor PD untuk
faktor transkripsi telah definitif diidentifikasi. Ada kemungkinan
bahwa perdagangan beberapa faktor transkripsi tanaman dapat terjadi
setelah pengemasan di Golgi melalui exo-dan endositosis klasik, atau
melalui gerakan mikrovesicles sepanjang TNT-seperti struktur di PD.

16

5) Gerakan Virus melalui Plasmodesmata


Meskipun mikrotubulus pernah dianggap penting bagi lalulintas
MP virus, data baru mepermasalahkan hipotesis ini. Dengan
menggunakan DNA shuffling, Gillespie et al. menemukan bahwa
mutan MP TMV (MPR3) dengan afinitas terbatas mikrotubulus benarbenar

menunjukkan

peningkatan

lalulintasnya

dan

mereka

menunjukkan bahwa mutan ini peran mikrotubulus dalam degradasi


MP, tidak hanya menargetkan PD. Temuan konsisten digambarkan
oleh Kragler et al., Yang menggunakan layar dua-hybrid sitoplasma
untuk mengidentifikasi MPB2C, protein mikrotubulus terkait yang
berinteraksi dengan TMV MP. Studi elegan rekan lokal MPB2C,
mikrotubulus dan MPs in vivo, dan tes fungsional menunjukkan
bahwa co-ekspresi MPB2C sebenarnya menghambat sel-sel untuk
gerakan TMV MP, sekali lagi menunjukkan hubungan negatif antara
lokalisasi MP untuk mikrotubulus dan gerakan dari sel ke sel.
Selanjutnya, partikel utuh replikasi TMV virus melintasi sel-sel tanpa
keterlibatan mikrotubulus.
Komponen

molekul

dari

plasmodesmata

Komponen molekul PD dan jalur perdagangan yang terkait sampai


saat ini, telah sulit dipahami. Sangat mungkin bahwa sitoskeleton
aktin memainkan peran yang berbeda, termasuk mengatur SEL,
lalulintas muatan dari dan ke PD, dan daur ulang muatan. Centrin,
protein sitoskeleton terikat kalsium, dan calreticulin, sebuah protein
mengisolir kalsium, juga melokalisasi ke PD dan mungkin
memodulasi fungsi mereka dalam menanggapi kalsium sinyal.
Memang, sinyal kalsium cepat dan secara sementara mengatur
permeabilitas PD, meskipun mekanisme yang mereka gunakan untuk
mempengaruhi ukuran pori plasmodesmal belum ditemukan. Sebuah
mekanisme potensial berasal dari penelitian terhadap elemen saringan,
sel-sel konduktif dari floem, yang reversibel terpasang oleh protein
kontraktil kalsium-sensitif yang bertindak sebagai 'stopcocks seluler'.

17

B. DINDING SEL FUNGI


Fungi merupakan organisme yang tidak mempunyai klorofil dan
bereproduksi dengan spora (Carris dan Lori, 2009). Fungi bersifat
khemoorganotrof dan memperoleh nutrisinya secara absorpsi dengan bantuan
enzim

ekstraseluler

untuk

memecah

biomolekul

kompleks

seperti

karbohidrat, protein, dan lemak menjadi monomernya yang akan diasimilasi


menjadi sumber karbon dan energi (Madigan et al., 2012). Bahan makanan
ini akan diurai dengan bantuan enzim yang diproduksi oleh hifa menjadi
senyawa yang dapat diserap dan digunakan untuk tumbuh dan berkembang
(Sinaga, 2000). Penyerapan makanan dilakukan oleh hifa yang terdapat pada
permukaan tubuh fungi (Lockwood, 2011). Dinding sel fungi berbeda dengan
tumbuhan yang memiliki komponen utama selulosa, kitin dan glukan
memiliki peran penting sebagai komponen penyusun dinding sel fungi.

Gambar 12. Sruktur Dinding Sel Fungi

1.

Komponen Dinding Sel Fungi


Sebagian besar dinding sel fungi mengandung khitin dan glukan.
Kitin yang merupakan polimer glukosa derivatif dari N-acetylglucosamine.
Khitin tersusun pada dinding sel dalam bentuk ikatan mikrofibrillar yang
dapat memperkuat dan mempertebal dinding sel. Beberapa polisakarida
lainnya, seperti manann, galaktosan, maupun selulosa dapat menggantikan
khitin pada dinding sel fungi. Komponen lain penyusun dinding sel fungi
yaitu glukan yang strukturnya mirip selulosa pada dinding sel tumbuhan
tingkat tinggi. Beta-glukan merupakan polimer D-glukosa dengan ikatan
-1,3 dan -1,6 yang berfungsi sebagai skelet sel pada fungi.

18

Gambar 13. Struktur Kimia Kitin dan Glukan

Selain kitin dan glukan, penyusun dinding sel fungi juga terdiri dari
80-90% polisakarida, protein, lemak, polifosfat, dan ion anorganik yang
dapat mempererat ikatan antar matriks pada dinding sel (Madigan et al.,
2012). Perbandingan komposisi dinding sel pada tiap-tiap divisi fungi
dijelaskan dalam Gambar 14.

Gambar 14. Tabel perbandingan komposisi dinding sel Fungi

2.

Fungsi Dinding Sel Fungi


Dinding sel fungi berfungsi untuk melindungi protoplasma dan
organel-organel dari lingkungan eksternal. Struktur dinding sel tersebut
dapat memberikan bentuk, kekuatan seluler dan sifat interaktif membran
plasma. Selain khitin, dinding sel fungi juga tersusun oleh fosfolipid
bilayer yang mengandung protein globular. Lapisan tersebut berfungsi
sebagai tempat masuknya nutrisi, tempat keluarnya senyawa metabolit

19

sel, dan sebagai penghalang selektif pada proses translokasi. Komponen


lain yang menyusun dinding sel fungi adalah antigenik glikoprotein dan
aglutinan, senyawa melanins berwarna coklat berfungsi sebagai pigmen
hitam.

Pigmen

tersebut bersifat resisten terhadap

enzim

lisis,

memberikan kekuatan mekanik dan melindungi sel dari sinar UV, radiasi
matahari dan pengeringan) (Kavanagh, 2011).

20

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dinding sel sebagai bagian terluar dari sel memiliki peran dan fungsi khusus
terutama berkaitan dengan transportasi zat masuk dan keluar sel, memberikan
bentuk pada sel, melindungi keseluruhan bagian dalam sel. Dinding sel Tumbuhan
memiliki komponen penyusun yang utama berupa selulosa, hemiselulosa, lignin
dan kutin, serta protein non struktural lainnya. Transportasi antar sel tumbuhan
sangat di bantu dengan adanya plasmodesmata. Dinding sel jamur memiliki
komponen utama kitin dan glukan yang keduanya merupakan polimer dari -1,3D-Glyco piranosil yang terikat pada unit -1,6-D-Glyco piranosil dan -1,4-NAcetil-glucosamin.

21

DAFTAR PUSTAKA
Adnan.

2008.

Dinding

Sel.

Available

online

at:

https://www.scribd.com/doc/20535810/DINDING-SEL-Adnan-UNM.
Universitas Negeri Makassar.
Campbell,dkk.2008.Biologi Jilid 1. Erlangga: Jakarta
Cilia, Michelle Lynn and David Jackson. 2004. Plasmodesmata Form and
Function. International Journal of Science Direct. Available online at
http://jacksonlab.cshl.edu/publications/Cilia2004.pdf. Elsevier Ltd. All
rights reserved.
Zambryski, Patricia.Plasmodesmata. Current Biology Vol 18 No 8 R324

22