Anda di halaman 1dari 12

Nama

: Zahran Amir

NIM : A1C014157
Siklus Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah
Karakteristik Sistem Anggaran Pemerintah Daerah
Berdasarkan buku Panduan Analisis dan Advokasi Anggaran Pemerintah Daerah
di Indonesia yang diterbitkan oleh Yayasan Asia (the Asia Foundation) dari Asian
Development Bank (ADB) pada awal tahun 2006, dalam merencanakan dan
mengelola keuangan daerah diperlukan pemahaman awal tentang Karakteristik
Anggaran pemerintah daerah yang mencakup antara lain: siapa-siapa saja
pelaku kunci (key person) yang terlibat; siklus dan kalender anggaran; dan
rincian proses anggaran yang merupakan siklus selama 30 (tigapuluh) bulan
atau dua setengah tahun.
Pelaku-pelaku kunci (key person) yang terlibat dalam penyusunan anggaran
pemerintahan kabupaten/kota adalah:
a) Pihak Eksekutif (Bupati/Walikota, Sekretaris Daerah, Tim Anggaran, SKPD,
Bappeda dan BPKD)
1) Bupati/Walikota
Bupati/Walikota adalah pengambil keputusan utama dalam menentukan
kegiatan dan pelayanan publik yang akan disediakan oleh pemerintah
daerah untuk suatu periode waktu tertentu. Dalam hal ini bupati/walikota
harus segera menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) paling lambat 3 (tiga) bulan setelah terpilih. Dokumen ini
nantinya akan menjadi rujukan dalam penyusunan rencana kerja
pemerintah daerah (RKPD).
Setelah selesai penyusunan APBD untuk suatu tahun anggaran tertentu,
bupati/walikota segera mengajukan Rancangan Perda tentang APBD
disertai dokumen pendukungnya kepada DPRD.
2) Sekretaris Daerah (Sekda)
Dalam kaitannya dengan penyusunan anggaran daerah, Sekretaris daerah
dalam suatu pemerintahan kabupaten/kota merupakan koordinator Tim
Anggaran Eksekutif yang mempunyai tugas antara lain menyampaikan
Kebijakan Umum Anggaran (KUA) kepada DPRD. Kebijakan umum
anggaran adalah dokumen yang akan dijadikan landasan utama dalam
penyusunan RAPBD.
3) Tim Anggaran Eksekutif
Tim Anggaran Eksekutif yang diketuai oleh Sekretaris Daerah yang
bertugas
untuk
menyusun
Kebijakan
Umum
anggaran
dan
mengkompilasikan Rencana Kerja Anggaran setiap Satuan Kerja (RKASKPD) menjadi RAPBD.
4) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah unit kerja pemerintahan
kabupaten/kota yang merupakan pengguna anggaran/kuasa pengguna
anggaran dan mempunyai tugas untuk menyusun dan melaksanakan
anggaran pada unit kerja yang bersangkutan. Jumlah SKPD untuk suatu
pemerintahan kabupaten/kota dapat berbeda-beda antara satu dengan

lainnya tergantung pada struktur organisasi kepemerintahan di daerah


masing-masing.
5) Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA)
BAPPEDA dari suatu pemerintahan kabupaten/kota merupakan unit
perencanaan daerah yang mempunyai tugas antara lain untuk
menyiapkan berbagai dokumen perencanaan yang akan digunakan
sebagai bahan untuk melaksanakan musyawarah perencanaan dan
pembangunan di daerah, menyelenggarakan proritas Musrenbang, dan
mengkoordinasikan antara hasil Musrenbang dan usulan dari setiap satuan
kerja sehingga tersusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
6) Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD)
BPKD adalah unit kerja pada suatu pemerintahan kabupaten/kota yang
bertugas antara lain menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan
keuangan daerah
(APBD) dan berfungsi sebagai bendahara umum
daerah.
BPKD bertanggung jawab untuk menyusun laporan keuangan yang
merupakan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Istilah yang dipakai
di suatu pemerintah kabupaten/kota tidak sama antara satu dengan
lainnya. Ada
unit organisasi dari suatu pemerintah kota yang
menyebutnya dengan istilah Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah
(BPKAD), ada juga yang memberi nama Badan Pengelola Keuangan dan
Kekayaan Daerah (BPKKD).
b) Pihak Legislatif
Pihak Legislatif yang terlibat dalam penyusunan anggaran pemerintah
daerah antara lain adalah:
1) Panitia Anggaran Legislatif
Panitia Anggaran Legislatif adalah suatu Tim Khusus yang bertugas
untuk memberikan saran dan masukan kepada kepala daerah
(bupati/walikota) tentang penetapan, perubahan, dan perhitungan APBD
yang diajukan oleh pemerintah daerah sebelum ditetapkan dalam Rapat
Paripurna.
2) Komisi-Komisi DPRD
Komisi-komisi di lingkungan DPRD adalah alat kelengkapan DPRD yang
dibentuk untuk memperlancar tugas-tugas DPRD dalam bidang
pemerintahan, perekonomian dan pembangunan, keuangan, investasi
daerah, serta kesejahteraan rakyat. Dalam proses penetapan anggaran
komisi-komisi merupakan kelompok kerja yang bersama-sama dengan
semua SKPD terkait membahas RKA-SKPD.
c) Pihak Pengawas (Auditor)
Yang bertindak sebagai pihak pengawas dalam perencanaan dan
pengelolaan keuangan daerah adalah:
1) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, BPK adalah
satu-satunya pengawas keuangan eksternal yang melakukan audit
terhadap pengelolaan dan tanggung jawab keuangan pemerintah
daerah. Pemeriksaan yang dimaksud meliputi pemeriksaan atas laporan
keuangan, pemeriksaan kinerja, serta pemeriksaan atas tujuan tertentu
yang tidak termasuk dalam kedua pemeriksaan tersebut di atas.
2) Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

BPKP adalah Lembaga Pemerintah Non-Departemen (LPND) yang


berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada
presiden. BPKP merupakan auditor internal yang mempunyai tugas
untuk melakukan pengawasan internal terhadap pertanggungjawaban
pengelolaan keuangan daerah yang mengunakan dana APBN.
3) Badan Pengawas Daerah (BAWASDA)
Bawasda adalah pengawas internal suatu pemerintah kabupaten/kota
yang bertugas meng-audit dan melaporkan kondisi keuangan dari setiap
institusi/lembaga yang dibiayai oleh APBD. Bawasda mempunyai tugas
pokok membantu bupati/walikota untuk melaksanakan kegiatan
pengawasan
dalam
penyelenggaraan
pemerintahan
serta
pembangunan dan pelayanan masyarakat di daerah terkait.
Bagi negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, karakteristik
anggaran masih mengalami perubahan-perubahan sehingga diperlukan pula
informasi terkini tentang perubahan yang telah dan sedang berlangsung
mengenai proses penganggaran beserta ketentuan perundang-undangan yang
mengaturnya.
Siklus Anggaran Pemerintah Daerah
Walaupun siklus dan proses penganggaran di setiap negara berbeda satu dengan
yang lainnya, namun pada dasarnya mempunyai urut-urutan yang sama makna
dan tujuannya.
Menurut buku panduan tentang Analisis dan Advokasi Anggaran Pemerintah
Daerah di Indonesia, yang diterbitkan oleh Yayasan Asia (the Asia Foundation)
dari Bank Pembangunan Asia (ADB) proses/siklus anggaran pemerintah daerah
berlangsung selama 2 (dua setengah) tahun dengan urutan sebagai berikut:
a. Penyusunan dan Penetapan Anggaran (1 tahun sebelum tahun anggaran
berkenaan)
Tahapan penyusunan anggaran terdiri dari pengumpulan aspirasi masyarakat
melalui forum pertemuan komunitas (Musrenbang), proses penyusunan kegiatan
oleh satuan kerja perangkat daerah (dinas, instansi) sampai dengan penyiapan
draf usulan APBD diserahkan oleh kepala daerah (pihak eksekutif) kepada DPRD
(pihak legislatif) untu dibahas dan disetujui bersama.
Dalam proses penyusunan anggaran yang memerlukan waktu beberapa bulan,
Tim Anggaran Eksekutif yang beranggotakan unsur-unsur dari Sekretariat
Daerah, BAPPEDA dan Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) mempunyai
fungsi dan peranan yang sangat penting.. Walaupun masyarakat dimintai
pendapatnya dalam proses penentuan prioritas program namun pada akhirnya
proses penyusunan program dilakukan secara tertutup di masing-masing satuan
kerja (SKPD).
Penetapan anggaran merupakan tahapan yang dimulai ketika pihak eksekutif
menyerahkan usulan anggaran kepada pihak legislatif. Pada umumnya proses ini
ditandai dengan pidato dari kepala daerah (Bupati/Walikota) di hadapan anggota
DPRD. Selanjutnya DPRD akan melakukan pembahasan untuk beberapa waktu.
Selama masa pembahasan akan terjadi diskusi antara pihak Panitia Anggaran

Legislatif dengan Tim Anggaran Eksekutif dimana pada kesempatan ini pihak
legislatif berkesempatan untuk menanyakan dasar-dasar kebijakan eksekutif
dalam membahas usulan anggaran tersebut.
b. Pelaksanaan Anggaran (1 tahun saat tahun anggaran berjalan)
Pelaksanaan Anggaran adalah tahapan yang dimulai sejak APBD disahkan
melalui peraturan daerah pada setiap akhir tahun sebelum tahun anggaran baru
dimulai. Tahapan pelaksanaan berlangsung selama 1 (satu) tahun terhitung
mulai awal tahun anggaran baru pada bulan Januari setiap tahunnya. Tahapan
Pelaksanaan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pihak eksekutif melalui
Satuan Kerja Perangkat Daerah.
c. Laporan Pertanggungjawaban pelaksanaan APBD (setengah tahun)
Tahapan ini mencakup antara penyiapan Laporan Semester pertama dan
Laporan tahunan termasuk penelaahan atas pelaksanaan anggaran untuk waktu
satu tahun anggaran yang bersangkutan. Tahapan pemeriksaan terdiri dari
pemeriksaan internal yang dilakukan oleh BAWASDA dan BPKP (untuk
pembelanjaan yang menggunakan APBN), serta pemeriksaan eksternal oleh
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Proses Penyusunan Anggaran Sektor Publik:
1. Tahap persiapan anggaran.
Pada tahap persiapan anggaran dilakukan taksiran pengeluaran atas dasar
taksiran pendapatan yang tersedia. Terkait dengan masalah tersebut, yang perlu
diperhatikan adalah sebelum menyetujui taksiranj pengeluaran, hendaknya
terlebih dahulu diulakukan penaksiran pendapatan secara lebih akurat. Selain
itu, harus disadari adanya masalah yang cukup berbahaya jika anggaran
pendapatan diestimasi pada saat bersamaan drengan pembuatan keputusan
tentang angggaran pengeluaran.
2. Tahap ratifikasi.
Tahap ini merupakan tahap yang melibatkan proses politik yang cukup rumit dan
cukup berat. Pimpinan eksekutif dituntut tidak hanya memiliki managerial skill
namun juga harus mempunyai political skill, salesman ship, dan coalition
building yang memadai. Integritas dan kesioapan mental yang tinggi dari
eksekutif sangat penting dalam tahap ini. Hal tersebut penting karena dalam
tahap ini pimpinan eksekutif harus mempunyai kemampuan untuk menjawab
dan memberikan argumentasi yang rasional atas segala pertanyaan-pertanyaan
dan bantahan- bantahan dari pihak legislatif.
3. Tahap implementasi/pelaksanaan anggaran.
Dalam tahap ini yang paling penting adalah yang harus diperhatikan oleh
manajer keuangan publik adalah dimilikinya sistem (informasi) akuntansi dan
sistem pengendalian manajemen.
4. Tahap pelaporan dan evaluasi.
Tahap pelaporan dan evaluasi terkait dengan aspek akuntabilitas. Jika tahap
implementasi telah didukung dengan sistem akuntansi dan sistem pengendalian

manajemen yang baik, maka diharapkan tahap budget reporting and evaluation
tidak akan menemukan banyak masalah.
Alur Proses Perencanaan dan Penganggaran

Rencana Kerja Pembangunan Daerah merupakan suatu dokumen perencanaan


pembangunan daerah yang disyaratkan UU No 32/2004 tentang Pemerintahan
Daerah. Rencana Kerja Pembangunan Daerah, yang selanjutnya disebut RKPD,
merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, yang memuat rancangan kerangka
ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan
pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah
maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat, dengan
mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah (RKP). RKPD selanjutnya menjadi
pedoman penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(RAPBD).
RKPD memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, program prioritas
pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaannya serta prakiraan maju
dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif, baik yang
bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun sumbersumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
Pengaturan umum yang menjadi acuan Pemerintah Daerah dalam menyusun
KUA adalah Pasal 34 PP Nomor 58 Tahun 2005, dan Pasal 83, Pasal 84 dan Pasal
85 Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 terakhir diubah dengan Permendagri
Nomor 21 Tahun 2011.
Kepala daerah berdasarkan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) menyusun
rancangan kebijakan umum APBD/KUA. Penyusunan rancangan kebijakan umum
APBD berpedoman pada pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan oleh
Menteri Dalam Negeri setiap tahun. Contoh, untuk penyusunan KUA Tahun 2015,

berpedoman pada Permendagri Nomor 37 Tahun 2014 tentang Pedoman


Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2015. Pedoman penyusunan APBD dimaksud
antara lain memuat: pokok-pokok kebijakan yang memuat sinkronisasi kebijakan
pemerintah dengan pemerintah daerah; prinsip dan kebijakan penyusunan APBD
tahun anggaran berikutnya; teknis penyusunan APBD; dan hal-hal khusus
lainnya. Selain itu, rancangan KUA memuat kondisi ekonomi makro daerah,
asumsi penyusunan APBD, kebijakan pendapatan daerah, kebijakan belanja
daerah, kebijakan pembiayaan daerah, dan strategi pencapaiannya. Strategi
pencapaian memuat langkah-langkah konkret dalam mencapai target.
Demikian pula, di dalam Permendagri Nomor 37 Tahun 2014 tentang Pedoman
Penyusunan APBD TA 2015 (contoh untuk KUA 2015), substansi KUA mencakup
hal-hal yang sifatnya kebijakan umum dan tidak menjelaskan hal-hal yang
bersifat teknis. Hal-hal yang sifatnya kebijakan umum, seperti: (a) Gambaran
kondisi ekonomi makro termasuk perkembangan indikator ekonomi makro
daerah; (b) Asumsi dasar penyusunan Rancangan APBD/Perubahan APBD TA
2015 termasuk laju inflasi, pertumbuhan PDRB dan asumsi lainnya terkait
dengan kondisi ekonomi daerah; (c) Kebijakan pendapatan daerah yang
menggambarkan prakiraan rencana sumber dan besaran pendapatan daerah
untuk TA 2015 serta strategi pencapaiannya; (d) Kebijakan belanja daerah yang
mencerminkan program dan langkah kebijakan dalam upaya peningkatan
pembangunan daerah yang merupakan manifestasi dari sinkronisasi kebijakan
antara pemerintah daerah dan pemerintah serta strategi pencapaiannya; (e)
Kebijakan pembiayaan yang menggambarkan sisi defisit dan surplus anggaran
daerah sebagai antisipasi terhadap kondisi pembiayaan daerah dalam rangka
menyikapi tuntutan pembangunan daerah serta strategi pencapaiannya.
RKA-SKPD disusun dengan menggunakan pendekatan-pendekatan :
Pendekatan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah, yaitu suatu pendekatan
penganggaran berdasarkan kebijakan, dengan pengambilan keputusan terhadap
kebijakan tersebut dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran,
dengan mempertimbangkan implikasi biaya akibat keputusan yang bersangkutan
pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju.
Pendekatan Prakiraan Maju, berisi perkiraan kebutuhan anggaran untuk program
dan kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran berikutnya dari tahun
anggaran yang direncanakan.
Pendekatan penganggaran terpadu, penyusunan rencana keuangan tahunan
yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna
melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian
efisiensi alokasi dana (tidak mengenal anggaran belanja rutin danpembangunan
serta belanja aparatur dan belanja publik).
Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja, yaitu suatu sistem
anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari
perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan.
Penyiapan Raperda APBD
a. RKA-SKPD yang disusun oleh Kepala SKPD disampaikan kepada PPKD
b. RKA-SKPD selanjutnya dibahas oleh tim anggaran pemerintah daerah.
c. Pembahasan oleh tim anggaran pemerintah daerah dilakukan untuk
menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan kebijakan umum APBD,

prioritas dan plafon anggaran sementara, prakiraan maju yang telah


disetujui tahun anggaran sebelumnya dan dokumen perencanaan lainnya,
serta capaian kinerja dan standar pelayanan minimal.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanan
Pembangunan Nasional (SPPN). Dalam pasal 1 ayat (21)dinyatakan bahwa
Musrenbang adalah forum antar pelaku dalam menyusun rencana pembangunan
nasional dan rencana pembangunan daerah.
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) kecamatan adalah forum
musyawarah
tahunan
para
pemangku
kepentingan/stakeholders
di
tingkatkecamatan untuk mendapatkan masukan mengenai kegiatan prioritas
pembangunan di wilayah kecamatan terkait yang didasarkan pada masukan dari
hasil Musrenbang kelurahan, serta menyepakati rencana kegiatan lintas
kelurahan di kecamatan yang bersangkutan.
Masukan itu sekaligus sebagai dasar penyusunan Rencana Pembangunan
Kecamatan yang akandiajukan kepada SKPD yang berwewenang sebagai dasar
penyusunan RencanaKerja Satuan Kerja Perangkat Daerah pada tahun
berikutnya. Musrenbang kecamatan dilakukan setiap tahun pada bulan Februari
dengan luaran berupa Dokumen Rencana Pembangunan Kecamatan serta
masukan untuk Renja SKPD Kecamatan.
Lembaga penyelenggara Musrenbang kecamatan adalah kecamatan dan
Bappeda.
Kecamatan
bertugas
untuk
menyiapkan
teknis
penyelenggaraanMusrenbang kecamatan serta mempersiapkan dokumen
Rancangan Rencana Pembangunan Kecamatan. Bappeda bertugas untuk
mengorganisasi penjadwalan seluruh Musrenbang kecamatan, mempersiapkan
Tim Pemandu,dan dokumen-dokumen yang relevan untuk penyelenggaraan
Musrenbang kecamatan.
Adapun tujuan daripada musrenbang kecamatan adalah sebagai berikut :
- Memberikan wahana untuk mensinergikan dan menyepakati prioritas usulanusulan masalah yang berasal dari masyarakat tingkat kelurahan (dan atau lintas
kelurahan) yang menjadi skala pelayanan atau kewenangan kecamatan dan
lintas kecamatan untuk satuntahun mendatang.
- Merumuskan dan menyepakati kegiatan-kegiatan yang akan dimusyawarahkan
dalam forumforum SKPD dan Musrenbang kota.
- Menetapkan delegasi kecamatan untuk mengawal usulan-usulan permasalahan
kecamatanbyang merupakan kegiatan supra kecamatan.
Prinsip dalam Musrenbang berlaku baik untuk Fasilitator, peserta, narasumber,
dan semua komponen yang terlibat dalam pelaksanaan musrenbang dan
hendaknya ini menjadi kesepakatan bersama sehingga Musrenbang benar
benar menjadi sebuah wadah/forum dalam mengambil keputusan bersama
dalam rangka menyusun program kegiatan pembangunan tahun berikutnya.
Prinsip-prinsip tersebut adalah:
a) Prinsip kesetaraan: Peserta musyawarah adalah kelompok masyarakat
dengan hak yang setara untuk menyampaikan pendapat, berbicara, dan
dihargai meskipun terjdi perbedaan pendapat. Sebaliknya, juga memiliki

b)

c)

d)

e)

kewajiban yang setara untuk mendengarkan pandangan orang lain,


menghargai perbedaan pendapat, dan juga menjunjung tinggi hasil
keputusan bersama.
Prinsip musyawarah dialogis: Peserta musrenbang memiliki keberagaman
tingkat pendidikan, latar belakang, kelompok usia, jenis kelamin, status
sosial-ekonomi, dan sebagainya. Perbedaan dan berbagai sudut pandang
tersebut diharapkan menghasilkan keputusan terbaik bagi kepentingan
masyarakat banyak di atas kepentingan individu atau golongan.
Prinsip keberpihakan: Dalam proses musyawarah, dilakukan upaya untuk
mendorong individu dan kelompok yang paling terlupakan untuk
menyampaikan aspirasi dan pendapatnya, terutama kelompok miskin,
perempuan dan generasi muda.
Prinsip anti dominasi: Dalam musyawarah, tidak boleh ada individu/kelompok
yang mendominasi sehingga keputusan-keputusan yang dibuat melalui
proses musyawarah semua komponen masyarakat secara seimbang.
Prinsip pembangunan secara holistic: Musrenbang dimaksudkan untuk
menyusun rencana pembangunan bukan rencana kegiatan kelompok atau
sector tertentu saja. Musrenbang dilakukan sebagai upaya mendorong
kemajuan dan meningkatkan kesejahteraan secara utuh dan menyeluruh
sehingga tidak boleh muncul egosektor dan egowilayah dalam menentukan
prioritas kegiatan pembangunan.

Keluaran yang dihasilkan melalui pelaksanaan Musrenbang Tingkat Kecamatan


adalah:
a) Adanya rumusan Rencana Kerja Pembangunan Kecamatan (RKP
Kecamatan);
b) Daftar prioritas kegiatan pembangunan di wilayah Kecamatan menurut
fungsi/ SKPD atau gabungan SKPD, yang siap dibahas pada forum Satuan
Kerja Perangkat Daerah dan Musrenbang Kota, yang akan didanai melalui
APBD Kota dan sumber pendanaan lainnya. Selanjutnya, daftar tersebut
disampaikan kepada masyarakat di masing-masing Kelurahan oleh para
delegasi yang mengikuti Musrenbang Kecamatan.
c) Adanya Daftar Usulan Rencana Kerja Pembangunan Kecamatan (DURKP
Kecamatan) yang diajukan dalam Musrenbang Kabupaten.
d) Terpilihnya delegasi Kecamatan untuk mengikuti Forum Satuan Kerja
Perangkat Daerah dan Musrenbang Kota.
e) Berita acara Musrenbang Tahunan Kecamatan.
Pra Musrenbang Kecamatan dengan kegiatan sebagai berikut :
a) Camat menetapkan Tim Penyelenggara Musrenbang Kecamatan.
b) Rekruitmen Tim Pemandu Musrenbang oleh Bappeda
c) Tim Penyelenggara melakukan hal-hal sebagai berikut :
1) Memilah dan mengkompilasi prioritas kegiatan pembangunan yang
menjadi tanggungjawab SKPD dari masing-masing Kelurahan
berdasarkan masing-masing fungsi/SKPD.
2) Menyusun jadual dan agenda Musrenbang Kecamatan.
3) Mengumumkan secara terbuka tentang jadual, agenda, dan tempat
musrenbang Kecamatan minimal 7 hari sebelum kegiatan dilakukan
agar peserta bias menyiapkan diri dan segera melakukan pendaftaran
dan atau diundang.

4) Membuka pendaftaran dan atau mengundang calon peserta


Musrenbang Kecamatan, baik wakil dari Kelurahan maupun dari
kelompok-kelompok masyarakat.
5) Menyiapkan peralatan dan bahan/materi serta notulen untuk
musrenbang Kecamatan.
6) Informasi Pagu indikatif
7) Membuat Draf Rancangan Awal Rencana Pembangunan Kecamatan
Tahap pelaksanaanMusrenbang dengan agenda sebagai berikut:
1) Pendaftaran peserta Musrenbang Kecamatan.
2) Pembukaan acara
3) Pemaparan Camat mengenai prioritas masalah Kecamatan, seperti
kemiskinan, pendidikan, kesehatan, prasarana dan pengangguran.
4) Pemaparan mengenai rancangan Rencana Kerja SKPD di tingkat
Kecamatan yang bersangkutan beserta strategi, besaran plafon dana oleh
Kepala-Kepala Cabang SKPD dari kota.
5) Pemaparan masalah dan prioritas kegiatan dari masing-masing Kelurahan
menurut fungsi/SKPD oleh Tim Penyelenggara Musrenbang Kecamatan.
6) Verifikasi oleh delegasi Kelurahan untuk memastikan semua prioritas
kegiatan yang diusulkan oleh Kelurahannya sudah tercantum menurut
masing-masing SKPD.
7) Pembagian peserta Musrenbang ke dalam kelompok pembahasan
berdasarkan junlah fungsi/SKPD atau gabungan SKPD yang tercantum.
8) Kesepakatan prioritas kegiatan pembangunan Kecamatan yang dianggap
perlu oleh peserta Musrenbang namun belum diusulkan oleh Kelurahan
(kegiatan lintas Kelurahan yang belum diusulkan Kelurahan).
9) Kesepakatan kriteria untuk menentukan prioritas kegiatan pembangunan
Kecamatan berdasarkan masing-masing fungsi/SKPD atau gabungan
SKPD.
10)
Kesepakatan
prioritas
kegiatan
pembangunan
Kecamatan
berdasasrkan masing-masing fungsi/SKPD.
11)
Pemaparan prioritas pembangunan Kecamatan dari tiap-tiap
kelompok fungsi/SKPD atau gabungan SKPD dihadapan seluruh peserta
Musrenbang Kecamatan.
12)
Penetapan daftar nama delegasi Kecamatan 3-5 orang (masyarakat)
untuk mengikuti Forum SKPD dan Musrenbang Kota. Dalam komposisi
delegasi tersebut terdapat perwakilan perempuan.
13)
Notulensi
Musrenbang
kecamatan
sebagai
bahan
untuk
memperbaiki draf Rancangan Awal Rencana Pembangunan Kecamatan
Musrenbang adalah forum perencanaan (program) yang dilaksanakan oleh
lembaga publik yaitu pemerintah desa, bekerja sama dengan warga dan para
pemangku kepentingan lainnya. Musrenbang yang bermakna akan mampu
membangun kesepahaman tentang kepentingan dan kemajuan desa, dengan
cara memotret potensi dan sumber-sumber pembangunan yang tidak tersedia
baik dari dalam maupun luar desa.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 66 tahun 2007, Rencana
Kerja Pembangunan Desa yang selanjutnya disingkat (RKP-Desa) adalah
dokumen perencanaan untuk periode 1 (satu) tahun dan merupakan penjabaran
dari RPJM-Desa yang memuat rancangan kerangka ekonomi desa, dengan
mempertimbangkan kerangka pendanaan yang dimutahirkan, program prioritas

pembangunan desa, rencana kerja dan pendanaan serta prakiraan maju, baik
yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah desa maupun yang ditempuh
dengan mendorong partisipasi masyarakat dengan mengacu kepada Rencana
Kerja Pemerintah Daerah dan RPJM-Desa.
Setiap
tahun
pada
bulan
Januari,
biasanya
didesa-desa
diselenggarakan musrenbang untuk menyusun Rencana Kerja Pembangunan
Desa (RKP Desa). Penyusunan dokumen RKP Desa selalu diikuti dengan
penyusunan dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa),
karena suatu rencana apabila tanpa anggaran sepertinya akan menjadi dokumen
atau berkas belaka. Kedua dokumen ini tidak terpisahkan, dan disusun
berdasarkan musyawarah dan mufakat. RKP Desa dan APB Desa merupakan
dokumen dan infomasi publik. Pemerintah desa merupakan lembaga publik yang
wajib menyampaikan informasi publik kepada warga masyarakat. Keterbukaan
dan tanggung gugat kepada publik menjadi prinsip penting bagi pemerintah
desa.
RKP Desa ditetapkan dengan Surat Keputusan (SK) Kepala Desa dan disusun
melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) tahunan
atau biasa disebut musrenbang Desa. Dokumen RKPDesa kemudian menjadi
masukan (input) penyusunan dokumen APB Desa dengan sumber anggaran dari
Alokasi Dana Desa (ADD), Pendapatan Asli Desa (PA Desa), swadaya dan
pastisipasi masyarakat, serta sumber-sumber lainnya yang tidak mengikat.
Proses penyusunan dokumen RKP Desa dapat dibagi dalam tiga tahapan,
tahapan tersebut adalah :
1. Tahap Persiapan Musrenbang Desa,
Merupakan kegiatan mengkaji ulang dokumen RPJM Desa, mengkaji ulang
dokumen RKP Desa tahun sebelumnya, melakukan analisa data dan
memverifikasi data ke lapangan bila diperlukan. Analisis data yang dilakukan
seringkali disebut sebagai analisis kerawanan desa atau analisis keadaan
darurat desa yang meliputi data KK miskin, pengangguran, jumlah anak putus
sekolah, kematian ibu, bayi dan balita, dan sebagainya. Hasil analisis ini
dilakukan sebagai bahan pertimbangan penyusunan draft rancangan
awal RKP Desa dan perhitungan anggarannya.
2. Tahap Pelaksanaan Musrenbang Desa
Merupakan forum pertemuan warga dan berbagai pemangku kepentingan untuk
memaparkan hasil analisis keadaan darurat/kerawanan desa, membahas
draft RKP Desa, menyepakati kegiatan prioritas termasuk alokasi anggarannya.
Pasca Musrenbang, dilakukan kegiatan merevisi RKP Desa berdasarkan masukan
dan kesepakatan, kemudian dilakukan penetapan dengan Surat Keputusan (SK)
Kepala Desa.
3. Tahap Sosialisasi

Merupakan sosialisasi dokumen RKP Desa kepada masyarakat dan seluruh


pemangku kepentingan. Dokumen RKPDesa selanjutnya akan menjadi bahan
bagi penyusunan APB Desa. RKP Desa dan APB Desa wajib dipublikasikan agar
masyarakat dapat terlibat dalam kegiatan dan melakukan pengawasan
partisipatif terhadap pelaksanaannya.
Langkah langkah penyusunan dokumen RKP Desa
1. Pembentukan dan persiapan Pokja (Tim) Perencana Desa
Penyusunan RKP Desa merupakan kelanjutan dari proses penyusunan RPJM Desa,
dan pelaksanaan kegiatannya tetap dijalankan oleh Pokja (Tim) Perencana Desa
yang sama. Beberapa istilah sering dipergunakan untuk tim ini, yaitu Tim
Penyelenggara Musrenbang (TPM) Desa atau Tim Penyusun RKP Desa. Istilah apa
pun yang digunakan, intinya adalah tim yang bertugas menyelenggarakan dan
memandu proses sejak dari persiapan, pelaksanaanmusrenbang sampai
paska musrenbang.
Keluaran (output) dari tahap ini adalah:

SK Kepala Desa tentang Pokja (Tim) Perencana Desa atau Tim


Penyusun RKP Desa atau Tim PenyelenggaraMusrenbang Desa yang
bertugas memfasilitasi dan menyusun dokumen RKP Desa.

Pokja (Tim) Perencana desa yang siap menjalankan tugasnya setelah


memperoleh pembekalan yang diperlukan.

Susunan tim ini biasanya sebagai berikut:

Kepala Desa selaku pembina dan pengendali kegiatan;

Sekretaris Desa selaku penanggungjawab kegiatan (Ketua Tim);

Lembaga Pemberdayaan Kemasyarakatan Desa selaku penanggungjawab


pelaksana kegiatan, termasuk membentuk tim pemandu.

Tugas-tugas tim RKP Desa ini antara lain: melakukan pertemuan/rapat-rapat


panitia, membentuk Tim Pemandu, mengidentifikasikan peserta dan
mengundang peserta, menyusun jadwal dan agenda, dan menyiapkan logistik.
Tim pemandu bertugas untuk mengelola proses dan memfasilitasi
pertemuan/musyawarah seperti kegiatan kajian/analisis data, lokakarya desa,
dan pelaksanaan musrenbang desa.
2. Mereviuw (mengkaji ulang) Dokumen RPJM Desa
Pokja (Tim) Perencana Desa atau Tim Penyusun RKP Desa atau Tim
Penyelenggara Musrenbang Desa melakukan reviuw terhadap dokumen RPJM
Desa dan dokumen RKP Desa tahun lalu sebagai tahap awal pelaksanaan

tugasnya.
Bagi
desadesa
yang
sudah
mempunyai
RPJM
Desa,
penyusunan RKP Desa dilakukan dengan merujuk pada program dan kegiatan
indikatif yang sudah disusun dalam dokumen rencana 5 tahun tersebut. Sedang
bagi
desa
yang
belum
mempunyai
RPJM
Desa,
pada
tahap
pra musrenbang RKP Desa harus dimulai dari penggalian kebutuhan dan
permasalahan masyarakat melalui musyawarah dusun/RW.

3. Analisis Data Kerawanan Desa


Untuk penyusunan RKP Desa, kajian desa bersama masyarakat (Participatory
Rural Appraisal/PRA dengan proses yang cukup panjang yaitu musyawarah
dusun/RW dan kajian kelompok sektoral) tidak perlu dilakukan. PRA cukup
dilakukan setiap penyusunan RPJM Desa. Walau dokumen RPJM Desa sudah
menyusun program dan kegiatan indikatif selama 5 tahun, namun data/informasi
terkini perlu dicek kembali. Analisis data yang dilakukan disebut sebagai
analisis kerawanan desa atau analisis keadaan darurat desa. Hasil analisis ini
akan menjadi salah satu materi yang dipaparkan saat pelaksanaan musrenbang.
Kegiatan ini melibatkan kepala dusun, pemuda dan perempuan. Hasilnya
didampingkan dengan data tahun lalu, untuk dianalisa dan dicari program apa
yang lebih baik dilanjutkan, ditambah, dikurangi, dan sebagainya. Jadi, sifat
dokumen RPJM Desa tidaklah harga mati tetapi juga bukan berarti dengan
mudah diubah/diganti program maupun kegiatannya.

Sumber/Referensi:
Bastian, Indra, 2006, Sistem Perencanaan dan Penganggaran Pemerintahan
Daerah di Indonesia, Salemba Empat, Jakarta.
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 050-187/Kep/Bangda/2007 Tentang
Pedoman Penilaian Dan Evaluasi Pelaksanaan Penyelenggaraan Musyawarah
Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Menteri Dalam Negeri

http://www.banyumaskab.go.id/read/15540/siklus-anggaran-satuan-kerjaperangkat-daerah