Anda di halaman 1dari 114

MODUL

MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

OLEH
M. CHUSNUL IRFANDI

(BERLAKU UNTUK KALANGAN SENDIRI)

SMA NEGERI 9 MALANG


SEMESTER GANJIL
TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 1

LEMBAR PENGESAHAN
MODUL/DIKTAT PKN
UNTUK SISWA KELAS XI IPA& IPS
SEMESTER GANJIL

OLEH
NAMA
NIP
JABATAN

: M. CHUSNUL IRFANDI.
: 19560723 198503 1 008 .
: GURU PPKn/ KETUA MGMP PKn
SMA,MA DAN SMK KOTA MALANG

MODUL/DIKTAT
INI TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN PADA
TGL 17 JULI 2013 OLEH :
KEPALA SEKOLAH
SMA NEGERI 9 MALANG

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 2

KATA PENGANTAR

Penggunaan modul ini masih membutuhkan penyempurnaan dalam segi teknis


penyusunan sesuai dengan petunjuk pembuatan modul oleh Lembaga Penjamin
Mutu Pendidikan karena itu susunan materi yang akan dipelajari oleh siswa
membutuhkan bimbingan secara sungguh sungguh agar menguasai materi yang
dipelajari secara benar.
Disamping itu masih banyak kekurangan dalam substansi materi terutama pada
penulisan sejarah ketatanegaraan pada masa awal kemerdekaan sehingga siswa
perlu menambah wawasanya dengan cara mencari dari sumber lain yang relevan
dengan standar kompetensi

Menganalisis budaya politik di Indonesia,budaya demokrasi menuju


masyarakat madani dan menampilkan sikap keterbukaan dan keadilan
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Oleh sebab itu modul ini hanya untuk digunakan dikalangan sendiri mengingat
perlunya penjelasan materi yang ditulis secara intrakurikuler mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan. Hal ini dimaksudkan agar siswa menguasai materi
sesuai silabus yang disusun.

Malang, 17 JULI 2013

PENYUSUN

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 3

MODUL 1
BUDAYA POLITIK
A. PENDAHULUAN
Kehidupan manusia di dalam masyarakat, memiliki peranan penting
dalam sistem politik suatu Negara sbg organisasi politik. Manusia dalam
kedudukannya sebagai makhluk social dan sekaligus makhluk politik,
senantiasa akan berinteraksi dengan manusia lain dalam upaya memenuhi
hak dan kewajiban dalam segenap aspek hidupan . Kebutuhan hidup manusia
tidak cukup yang bersifat dasar, seperti sandang,pangan,dan papan saja.
Lebih dari itu, juga mencakup kebutuhan akan pengakuan eksistensi diri dan
penghargaan dari orang lain dalam bentuk pujian, pemberian upah kerja,
status sebagai anggota masyarakat/memiliki pekerjaan dan penghidupan yg
layak , menjadi anggota partai politik/ormas tertentu atau sbg simpatisan
orpol dan sebagainya.
Setiap warga Negara(Insan Politik), dalam kesehariannya hampir selalu
bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang bersimbol maupun
tidak. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara langsung atau tidak
langsung dengan praktik-praktik politik. Jika secara tidak langsung, hal ini
sebatas mendengar informasi, atau berita-berita tentang peristiwa politik
yang terjadi. Dan jika seraca langsung, berarti orang tersebut terlibat dalam
peristiwa politik tertentu spt menjadai anggota/pengurus parpol/ormas.
Kehidupan politik yang merupakan bagian dari keseharian dalam
interaksi antar warga negara dengan pemerintah, dan institusiinstitusi/lembaga2 di luar pemerintah (non-formal), telah menghasilkan dan
membentuk variasi pendapat, pandangan dan pengetahuan tentang praktikpraktik perilaku politik dalam semua sistem politik. Oleh karena itu, seringkali
kita bisa melihat dan mengukur pengetahuan-pengetahuan, perasaan dan
sikap warga negara terhadap negaranya, pemerintahnya, pemimpim politik
dan lai-lain.spt sikap pro.kontra atau apatis thdp penguasa/pemerintah yang
sah .
Budaya politik, merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat dengan
ciri-ciri yang lebih khas. Istilah budaya politik meliputi masalah
dukungan/legitimasi,keabsahan kekuasaan secara hukum dan pengaturan
kekuasaan, proses pembuatan kebijakan pemerintah(peraturan perundangundangan), kegiatan partai-partai politik, perilaku aparat negara, serta
gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah(rezim yg sdg
berkuasa).
Kegiatan politik juga memasuki dunia keagamaan, kegiatan ekonomi dan
sosial, kehidupan pribadi dan sosial secara luas,menyatu/menelusp kedlm
segenap lini kehidupan manusia . Dengan demikian, budaya politik langsung
mempengaruhi kehidupan politik dan menentukan keputusan nasional yang
menyangkut pola pengalokasian sumber-sumber masyarakat.
B. PENGERTIAN BUDAYA POLITIK
1. Pengertian Umum Budaya Politik
Budaya politik merupakan sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki
bersama oleh masyarakat. Namun, setiap unsur masyarakat berbeda pula
budaya politiknya, seperti antara masyarakat umum dengan para elitenya.
Seperti juga di Indonesia, menurut Benedict R. OG Anderson, kebudayaan
Indonesia cenderung membagi secara tajam antara kelompok elite dengan
kelompok massa.
Almond dan Verba mendefinisikan budaya politik sebagai suatu sikap
orientasi yang khas warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam
bagiannya, dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada di dalam
sistem itu. Dengan kata lain, bagaimana distribusi pola-pola orientasi khusus
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 4

menuju tujuan politik diantara masyarakat bangsa itu. Lebih jauh mereka
menyatakan, bahwa warga negara senantiasa mengidentifikasikan diri
mereka dengan simbol-simbol dan lembaga kenegaraan berdasarkan
orientasi yang mereka miliki. Dengan orientasi itu pula mereka menilai serta
mempertanyakan tempat dan peranan mereka di dalam sistem politik.
Berikut ini adalah beberapa pengertian budaya politik yang dapat
dijadikan sebagai pedoman untuk lebih memahami secara teoritis sebagai
berikut :
a. Budaya politik adalah aspek politik dari nilai-nilai yang terdiri atas
pengetahuan, adat istiadat, tahayul, dan mitos. Kesemuanya dikenal dan
diakui oleh sebagian besar masyarakat. Budaya politik tersebut
memberikan rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma
yang hidup dalam nasyarakat.
b. Budaya politik dapat dilihat dari aspek doktrin dan aspek generiknya.
Yang pertama menekankan pada isi atau materi, seperti sosialisme,
demokrasi, atau nasionalisme. Yang kedua (aspek generik) menganalisis
bentuk, peranan, dan ciri-ciri budaya politik, seperti militan, utopis,
terbuka, atau tertutup.
c. Hakikat dan ciri budaya politik yang menyangkut masalah nilai-nilai
adalah prinsip dasar yang melandasi suatu pandangan hidup yang
berhubungan dengan masalah tujuan.
d. Bentuk budaya politik menyangkut sikap dan norma, yaitu sikap terbuka
dan tertutup, tingkat militansi seseorang terhadap orang lain dalam
pergaulan masyarakat. Pola kepemimpinan (konformitas atau mendorong
inisiatif kebebasan), sikap terhadap mobilitas (mempertahankan status
quo atau mendorong mobilitas), prioritas kebijakan (menekankan
ekonomi atau politik).
Dengan pengertian budaya politik di atas, nampaknya membawa kita
pada suatu pemahaman konsep yang memadukan dua tingkat orientasi
politik, yaitu sistem dan individu. Dengan orientasi yang bersifat
individual ini, tidaklah berarti bahwa dalam memandang sistem politiknya
kita menganggap masyarakat akan cenderung bergerak ke arah
individualisme. Jauh dari anggapan yang demikian, pandangan ini melihat
aspek individu dalam orientasi politik hanya sebagai pengakuan akan
adanya fenomena dalam masyarakat secara keseluruhan tidak dapat
melepaskan diri dari orientasi individual.
2. Pengertian Budaya Politik Menurut Para Ahli
Terdapat banyak sarjana ilmu politik yang telah mengkaji tentang budaya
politik, sehingga terdapat variasi konsep tentang budaya politik yang kita
ketahui. Namun bila diamati dan dikaji lebih jauh, tentang derajat perbedaan
konsep tersebut tidaklah begitu besar, sehingga tetap dalam satu
pemahaman dan rambu-rambu yang sama.
Berikut ini merupakan pengertian dari beberapa ahli ilmu politik tentang
budaya politik,sebagai berikut :
a. Rusadi Sumintapura
Budaya politik tidak lain adalah pola tingkah laku individu dan
orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota
suatu sistem politik.
b. Sidney Verba
Budaya politik adalah suatu sistem kepercayaan empirik, simbol-simbol
ekspresif dan nilai-nilai yang menegaskan suatu situasi dimana tindakan
politik dilakukan.
c. Alan R. Ball
Budaya politik adalah suatu susunan yang terdiri dari sikap, kepercayaan,
emosi dan nilai-nilai masyarakat yang berhubungan dengan sistem politik
dan isu-isu politik.
d. Austin Ranney
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 5

Budaya politik adalah seperangkat pandangan-pandangan tentang politik


dan pemerintahan yang dipegang secara bersama-sama; sebuah pola
orientasi-orientasi terhadap objek-objek politik.
e. Gabriel A. Almond dan G. Bingham Powell, Jr.
Budaya politik berisikan sikap, keyakinan, nilai dan keterampilan yang
berlaku bagi seluruh populasi, juga kecenderungan dan pola-pola khusus
yang terdapat pada bagian-bagian tertentu dari populasi.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut diatas (dalam arti umum atau
menurut para ahli), maka dapat ditarik beberapa batasan konseptual
tentang budaya politik sebagai berikut :
Pertama : bahwa konsep budaya politik lebih mengedepankan aspekaspek non-perilaku aktual berupa tindakan, tetapi lebih menekankan pada
berbagai perilaku non-aktual seperti orientasi, sikap, nilai-nilai dan
kepercayaan-kepercayaan.
Hal inilah yang menyebabkan Gabriel A. Almond memandang bahwa
budaya politik adalah dimensi psikologis dari sebuah sistem politik yang
juga memiliki peranan penting berjalannya sebuah sistem politik.
Kedua : hal-hal yang diorientasikan dalam budaya politik adalah sistem
politik, artinya setiap berbicara budaya politik maka tidak akan lepas dari
pembicaraan sistem politik. Hal-hal yang diorientasikan dalam sistem
politik, yaitu setiap komponen-komponen yang terdiri dari komponenkomponen struktur dan fungsi dalam sistem politik. Seseorang akan
memiliki orientasi yang berbeda terhadap sistem politik, dengan melihat
fokus yang diorientasikan, apakah dalam tataran struktur politik, fungsifungsi dari struktur politik, dan gabungan dari keduanya. Misal orientasi
politik terhadap lembaga politik terhadap lembaga legislatif, eksekutif dan
sebagainya.
Ketiga : budaya politik merupakan deskripsi konseptual yang
menggambarkan komponen-komponen budaya politik dalam tataran
masif (dalam jumlah besar), atau mendeskripsikan masyarakat di suatu
negara atau wilayah, bukan per-individu. Hal ini berkaitan dengan
pemahaman, bahwa budaya politik merupakan refleksi perilaku warga
negara secara massal yang memiliki peran besar bagi terciptanya sistem
politik yang ideal.
3. Komponen-Komponen Budaya Politik
Seperti dikatakan oleh Gabriel A. Almond dan G. Bingham Powell, Jr.,
bahwa budaya politik merupakan dimensi psikologis dalam suatu sistem
politik. Maksud dari pernyataan ini menurut Ranney, adalah karena budaya
politik menjadi satu lingkungan psikologis, bagi terselenggaranya konflikkonflik politik (dinamika politik) dan terjadinya proses pembuatan kebijakan
politik. Sebagai suatu lingkungan psikologis, maka komponen-komponen
berisikan unsur-unsur psikis dalam diri masyarakat yang terkategori menjadi
beberapa unsur.
Menurut Ranney, terdapat dua komponen utama dari budaya politik, yaitu
orientasi kognitif (cognitive orientations) dan orientasi afektif (affective
oreintatations). Sementara itu, Almond dan Verba dengan lebih
komprehensif mengacu pada apa yang dirumuskan Parsons dan Shils tentang
klasifikasi tipe-tipe orientasi, bahwa budaya politik mengandung tiga
komponen obyek politik sebagai berikut.
Orientasi kognitif : yaitu berupa pengetahuan tentang dan kepercayaan
pada politik, peranan dan segala kewajibannya serta input dan outputnya.
Orientasi afektif : yaitu perasaan terhadap sistem politik, peranannya,
para aktor dan pe-nampilannya.
Orientasi evaluatif : yaitu keputusan dan pendapat tentang obyek-obyek
politik yang secara tipikal melibatkan standar nilai dan kriteria dengan
informasi dan perasaan.
C. TIPE-TIPE BUDAYA POLITIK
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 6

1. Berdasarkan Sikap Yang Ditunjukkan


Pada negara yang memiliki sistem ekonomi dan teknologi yang kompleks,
menuntut kerja sama yang luas untuk memperpadukan modal dan
keterampilan. Jiwa kerja sama dapat diukur dari sikap orang terhadap orang
lain. Pada kondisi ini budaya politik memiliki kecenderungan sikap militan
atau sifat tolerasi.
a. Budaya Politik Militan
Budaya politik dimana perbedaan tidak dipandang sebagai usaha mencari
alternatif yang terbaik, tetapi dipandang sebagai usaha jahat dan
menantang. Bila terjadi kriris, maka yang dicari adalah kambing
hitamnya, bukan disebabkan oleh peraturan yang salah, dan masalah
yang mempribadi selalu sensitif dan membakar emosi.
b. Budaya Politik Toleransi
Budaya politik dimana pemikiran berpusat pada masalah atau ide yang
harus dinilai, berusaha mencari konsensus yang wajar yang mana selalu
membuka pintu untuk bekerja sama. Sikap netral atau kritis terhadap ide
orang, tetapi bukan curiga terhadap orang.
Jika pernyataan umum dari pimpinan masyarakat bernada sangat militan,
maka hal itu dapat menciptakan ketegangan dan menumbuhkan konflik.
Kesemuanya itu menutup jalan bagi pertumbuhan kerja sama. Pernyataan
dengan jiwa tolerasi hampir selalu mengundang kerja sama. Berdasarkan
sikap terhadap tradisi dan perubahan. Budaya Politik terbagi atas :
1)Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Absolut
Budaya politik yang mempunyai sikap mental yang absolut memiliki
nilai-nilai dan kepercayaan yang. dianggap selalu sempurna dan tak
dapat diubah lagi. Usaha yang diperlukan adalah intensifikasi dari
kepercayaan, bukan kebaikan. Pola pikir demikian hanya memberikan
perhatian pada apa yang selaras dengan mentalnya dan menolak atau
menyerang hal-hal yang baru atau yang berlainan (bertentangan).
Budaya politik yang bernada absolut bisa tumbuh dari tradisi, jarang
bersifat kritis terhadap tradisi, malah hanya berusaha memelihara
kemurnian tradisi. Maka, tradisi selalu dipertahankan dengan segala
kebaikan dan keburukan. Kesetiaan yang absolut terhadap tradisi tidak
memungkinkan pertumbuhan unsur baru.
2)Budaya Politik Yang memiliki Sikap Mental Akomodatif
Struktur mental yang bersifat akomodatif biasanya terbuka dan sedia
menerima apa saja yang dianggap berharga. Ia dapat melepaskan
ikatan tradisi, kritis terhadap diri sendiri, dan bersedia menilai kembali
tradisi berdasarkan perkembangan masa kini.
Tipe absolut dari budaya politik sering menganggap perubahan sebagai
suatu yang membahayakan.
Tiap perkembangan baru dianggap sebagai suatu tantangan yang
berbahaya yang harus dikendalikan. Perubahan dianggap sebagai
penyimpangan. Tipe akomodatif dari budaya politik melihat perubahan
hanya sebagai salah satu masalah untuk dipikirkan. Perubahan
mendorong usaha perbaikan dan pemecahan yang lebih sempurna.
2. Berdasarkan Orientasi Politiknya
Realitas yang ditemukan dalam budaya politik, ternyata memiliki
beberapa variasi. Berdasarkan orientasi politik yang dicirikan dan karakterkarakter dalam budaya politik, maka setiap sistem politik akan memiliki
budaya politik yang berbeda. Perbedaan ini terwujud dalam tipe-tipe yang
ada dalam budaya politik yang setiap tipe memiliki karakteristik yang
berbeda-beda.
Dari realitas budaya politik yang berkembang di dalam masyarakat,
Gabriel Almond mengklasifikasikan budaya politik sebagai berikut :

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 7

a. Budaya politik parokial (parochial political culture), yaitu tingkat


partisipasi politiknya sangat rendah, yang disebabkan faktor kognitif
(misalnya tingkat pendidikan relatif rendah).
b. Budaya politik kaula (subyek political culture), yaitu masyarakat
bersangkutan sudah relatif maju (baik sosial maupun ekonominya) tetapi
masih bersifat pasif.
c. Budaya politik partisipan (participant political culture), yaitu budaya
politik yang ditandai dengan kesadaran politik sangat tinggi.
Dalam kehidupan masyarakat, tidak menutup kemungkinan bahwa
terbentuknya budaya politik merupakan gabungan dari ketiga klasifikasi
tersebut di atas. Tentang klasifikasi budaya politik di dalam masyarakat
lebih lanjut adalah sebagai berikut :
N Budaya
Uraian / Keterangan
o
Politik
1. Parokial
a. Frekuensi orientasi terhadap sistem sebagai obyek
umum, obyek-obyek input, obyek-obyek output, dan
pribadi sebagai partisipan aktif mendekati nol.
b. Tidak terdapat peran-peran politik yang khusus dalam
masyarakat.
c. Orientasi parokial menyatakan alpanya harapanharapan akan perubahan yang komparatif yang
diinisiasikan oleh sistem politik.
d. Kaum parokial tidak mengharapkan apapun dari
sistem politik.
e. Parokialisme murni berlangsung dalam sistem
tradisional yang lebih sederhana dimana spesialisasi
politik berada pada jenjang sangat minim.
f. Parokialisme dalam sistem politik yang diferensiatif
lebih bersifat afektif dan normatif dari pada kognitif.
2. Subyek/Ka
a. Terdapat frekuensi orientasi politik yang tinggi
ula
terhadap sistem politik yang diferensiatif dan aspek
output dari sistem itu, tetapi frekuensi orientasi
terhadap obyek-obyek input secara khusus, dan
terhadap pribadi sebagai partisipan yang aktif
mendekati nol.
b. Para subyek menyadari akan otoritas pemerintah
c. Hubungannya terhadap sistem plitik secara umum,
dan terhadap output, administratif secara esensial
merupakan hubungan yang pasif.
d. Sering wujud di dalam masyarakat di mana tidak
terdapat struktur input yang terdiferensiansikan.
e. Orientasi subyek lebih bersifat afektif dan normatif
daripada kognitif.
3. Partisipan
a. Frekuensi orientasi politik sistem sebagai obyek
umum, obyek-obyek input, output, dan pribadi
sebagai partisipan aktif mendekati satu.
b. Bentuk kultur dimana anggota-anggota masyarakat
cenderung diorientasikan secara eksplisit terhadap
sistem politik secara komprehensif dan terhadap
struktur dan proses politik serta administratif (aspek
input dan output sistem politik)
c. Anggota masyarakat partisipatif terhadap obyek
politik
d. Masyarakat berperan sebagai aktivis.
Kondisi masyarakat dalam budaya politik partisipan mengerti bahwa
mereka berstatus warga negara dan memberikan perhatian terhadap sistem
politik. Mereka memiliki kebanggaan terhadap sistem politik dan memiliki
kemauan untuk mendiskusikan hal tersebut. Mereka memiliki keyakinan
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 8

bahwa mereka dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan publik dalam


beberapa tingkatan dan memiliki kemauan untuk mengorganisasikan diri
dalam kelompok-kelompok protes bila terdapat praktik-praktik pemerintahan
yang tidak fair.
Budaya politik partisipan merupakan lahan yang ideal bagi tumbuh
suburnya demokrasi. Hal ini dikarenakan terjadinya harmonisasi hubungan
warga negara dengan pemerintah, yang ditunjukan oleh tingkat kompetensi
politik, yaitu menyelesaikan sesuatu hal secara politik, dan tingkat efficacy
atau keberdayaan, karena mereka merasa memiliki setidaknya kekuatan
politik yang ditunjukan oleh warga negara. Oleh karena itu mereka merasa
perlu untuk terlibat dalam proses pemilu dan mempercayai perlunya
keterlibatan dalam politik. Selain itu warga negara berperan sebagai individu
yang aktif dalam masyarakat secara sukarela, karena adanya saling percaya
(trust) antar warga negara. Oleh karena itu dalam konteks politik, tipe
budaya ini merupakan kondisi ideal bagi masyarakat secara politik.
Budaya Politik subyek lebih rendah satu derajat dari budaya
politikpartisipan. Masyarakat dalam tipe budaya ini tetap memiliki
pemahaman yang sama sebagai warga negara dan memiliki perhatian
terhadap sistem politik, tetapi keterlibatan mereka dalam cara yang lebih
pasif. Mereka tetap mengikuti berita-berita politik, tetapi tidak bangga
terhadap sistem politik negaranya dan perasaan komitmen emosionalnya
kecil terhadap negara. Mereka akan merasa tidak nyaman bila membicarakan
masalah-masalah politik.
Demokrasi sulit untuk berkembang dalam masyarakat dengan budaya
politik subyek, karena masing-masing warga negaranya tidak aktif. Perasaan
berpengaruh terhadap proses politik muncul bila mereka telah melakukan
kontak dengan pejabat lokal. Selain itu mereka juga memiliki kompetensi
politik dan keberdayaan politik yang rendah, sehingga sangat sukar untuk
mengharapkan artisipasi politik yang tinggi, agar terciptanya mekanisme
kontrol terhadap berjalannya sistem politik.
Budaya Politik parokial merupakan tipe budaya politik yang paling
rendah, yang didalamnya masyarakat bahkan tidak merasakan bahwa
mereka adalah warga negara dari suatu negara, mereka lebih
mengidentifikasikan dirinya pada perasaan lokalitas. Tidak terdapat
kebanggaan terhadap sistem politik tersebut. Mereka tidak memiliki
perhatian terhadap apa yang terjadi dalam sistem politik, pengetahuannya
sedikit tentang sistem politik, dan jarang membicarakan masalah-masalah
politik.
Budaya politik ini juga mengindikasikan bahwa masyarakatnya tidak
memiliki minat maupun kemampuan untuk berpartisipasi dalam politik.
Perasaan kompetensi politik dan keberdayaan politik otomatis tidak muncul,
ketika berhadapan dengan institusi-institusi politik. Oleh karena itu terdapat
kesulitan untuk mencoba membangun demokrasi dalam budaya politik
parokial, hanya bisa bila terdapat institusi-institusi dan perasaan
kewarganegaraan baru. Budaya politik ini bisa dtemukan dalam masyarakat
suku-suku di negara-negara belum maju, seperti di Afrika, Asia, dan Amerika
Latin.
Namun dalam kenyataan tidak ada satupun negara yang memiliki budaya
politik murni partisipan, pariokal atau subyek. Melainkan terdapat variasi
campuran di antara ketiga tipe-tipe tersebut, ketiganya menurut Almond
dan Verba tervariasi ke dalam tiga bentuk budaya politik, yaitu :
a. Budaya politik subyek-parokial (the parochial- subject culture)
b. Budaya politik subyek-partisipan (the subject-participant culture)
c. Budaya politik parokial-partisipan (the parochial-participant culture)
Berdasarkan penggolongan atau bentuk-bentuk budaya politik di atas,
dapat dibagi dalam tiga model kebudayaan politik sebagai berikut :
Model-Model Kebudayaan Politik
Demokratik
Sistem Otoriter
Demokratis Pra Industrial
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 9

Industrial
Dalam sistem ini
cukup
banyak
aktivis politik untuk
menjamin
adanya
kompetisi
partaipartai poli-tik dan
kehadiran
pemberian
suara
yang besar.

Di
sini
jumlah Dalam
sistem
ini
hanya
industrial
dan terdapat sedikit sekali partimodernis
sebagian sipan dan sedikit pula keterkecil,
meskipun libatannya
dalam
pemeterdapat organisasi rintahan
politik dan partisipan
politik
seperti
mahasiswa, kaum intelektual
dengan
tindakan
persuasif
menentang sis-tem
yang
ada,
tetapi
seba-gian
besar
jumlah rakyat hanya
menjadi subyek yang
pasif.
Pola kepemimpinan sebagai bagian dari budaya politik, menuntut
konformitas atau mendorong aktivitas. Di negara berkembang seperti
Indonesia, pemerintah diharapkan makin besar peranannya dalam
pembangunan di segala bidang. Dari sudut penguasa, konformitas
menyangkut tuntutan atau harapan akan dukungan dari rakyat. Modifikasi
atau kompromi tidak diharapkan, apalagi kritik. Jika pemimpin itu merasa
dirinya penting, maka dia menuntut rakyat menunjukkan kesetiaannya yang
tinggi. Akan tetapi, ada pula elite yang menyadari inisiatif rakyat yang
menentukan tingkat pembangunan, maka elite itu sedang mengembangkan
pola kepemimpinan inisiatif rakyat dengan tidak mengekang kebebasan.
Suatu pemerintahan yang kuat dengan disertai kepasifan yang kuat dari
rakyat, biasanya mempunyai budaya politik bersifat agama politik, yaitu
politik dikembangkan berdasarkan ciri-ciri agama yang cenderung mengatur
secara ketat setiap anggota masyarakat. Budaya tersebut merupakan usaha
percampuran politik dengan ciri-ciri keagamaan yang dominan dalam
masyarakat tradisional di negara yang baru berkembang.
David Apter memberi gambaran tentang kondisi politik yang
menimbulkan suatu agama politik di suatu masyarakat, yaitu kondisi politik
yang terlalu sentralistis dengan peranan birokrasi atau militer yang terlalu
kuat. Budaya politik para elite berdasarkan budaya politik agama tersebut
dapat mendorong atau menghambat pembangunan karena massa rakyat
harus menyesuaikan diri pada kebijaksanaan para elite politik.
D. SOSIALISASI PENGEMBANGAN BUDAYA POLITIK
1. Pengertian Umum
Sosialisasi Politik, merupakan salah satu dari fungsi-fungsi input sistem
politik yang berlaku di negara-negara manapun juga baik yang menganut
sistem politik demokratis, otoriter, diktator dan sebagainya. Sosialisasi
politik, merupakan proses pembentukan sikap dan orientasi politik pada
anggota masyarakat.
Keterlaksanaan sosialisasi politik, sangat ditentukan oleh lingkungan
sosial, ekonomi, dan kebudayaan di mana seseorang/individu berada. Selain
itu, juga ditentukan oleh interaksi pengalaman-pengalaman serta kepribadian
seseorang. Sosialsiasi politik, merupakan proses yang berlangsung lama dan
rumit yang dihasilkan dari usaha saling mempengaruhi di antara kepribadian
individu dengan pengalaman-pengalaman politik yang relevan yang memberi
bentuk terhadap tingkah laku politiknya. Pengetahuan, nilai-nilai, dan sikapsikap yang diperoleh seseorang itu membentuk satu layar persepsi, melalui
mana individu menerima rangsangan-rangsangan politik. Tingkah laku politik
seseorang berkembang secara berangsur-angsur.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 10

Jadi, sosialisasi politik adalah proses dengan mana individu-individu dapat


memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, dan sikap-sikap terhadap sistem politik
masyarakatnya. Peristiwa ini tidak menjamin bahwa masyarakat
mengesahkan sistem politiknya, sekalipun hal ini mungkin bisa terjadi. Sebab
hal ini bisa saja menyebabkan pengingkaran terhadap legitimasi. Akan tetapi,
apakah akan menuju kepada stagnasi atau perubahan, tergantung pada
keadaan yang menyebabkan pengingkaran tersebut. Apabila tidak ada
legitimasi itu disertai dengan sikap bermusuhan yang aktif terhadap sistem
politiknya, maka perubahan mungkin terjadi. Akan tetapi, apabila legitimasi
itu dibarengi dengan sikap apatis terhadap sistem politiknya, bukan tak
mungkin yang dihasilkan stagnasi.
2. Pengertian Menurut Para ahli
Berbagai pengertian atau batasan mengenai sosialisasi politik telah
banyak dilakukan oleh para ilmuwan terkemuka. Sama halnya dengan
pengertian-pengertian tentang budaya politik, sistem politik dan seterusnya,
meskipun diantara para ahli politik terdapat perbedaan, namun pada
umumnya tetap pada prinsip-prinsip dan koridor yang sama. Berikut ini akan
dikemukana beberapa pengertian sosialisasi politik menurut para ahli.
a. David F. Aberle, dalam Culture and Socialization
Sosialisasi politik adalah pola-pola mengenai aksi sosial, atau aspekaspek tingkah laku, yang menanamkan pada individu-individu
keterampilan-keterampilan (termasuk ilmu pengetahuan), motif-motif dan
sikap-sikap yang perlu untuk menampilkan peranan-peranan yang
sekarang atau yang tengah diantisipasikan (dan yang terus
berkelanjutan) sepanjang kehidupan manusia normal, sejauh perananperanan baru masih harus terus dipelajari.
b. Gabriel A. Almond
Sosialisasi politik menunjukkan pada proses dimana sikap-sikap politik
dan pola-pola tingkah laku politik diperoleh atau dibentuk, dan juga
merupakan sarana bagi suatu generasi untuk menyampaikan patokanpatokan politik dan keyakinan-keyakinan politik kepada generasi
berikutnya.
c. Irvin L. Child
Sosialisasi politik adalah segenap proses dengan mana individu, yang
dilahirkan dengan banyak sekali jajaran potensi tingkah laku, dituntut
untuk mengembangkan tingkah laku aktualnya yang dibatasi di dalam
satu jajaran yang menjadi kebiasaannya dan bisa diterima olehnya sesuai
dengan standar-standar dari kelompoknya.
d. Richard E. Dawson dkk.
Sosialisasi
politik
dapat
dipandang
sebagai
suatu
pewarisan
pengetahuan, nilai-nilai dan pandangan-pandangan politik dari orang tua,
guru, dan sarana-sarana sosialisasi yang lainnya kepada warga negara
baru dan mereka yang menginjak dewasa.
e. S.N. Eisentadt, dalam From Generation to Ganeration
Sosialisasi politik adalah komunikasi dengan dan dipelajari oleh manusia
lain, dengan siapa individu-individu yang secara bertahap memasuki
beberapa jenis relasi-relasi umum. Oleh Mochtar Masoed disebut dengan
transmisi kebudayaan.
f. Denis Kavanagh
Sosialisasi politik merupakan suatu proses dimana seseorang mempelajari
dan menumbuhkan pandangannya tentang politik.
g. Alfian
Mengartikan pendidikan politik sebagai usaha sadar untuk mengubah
proses sosialisasi politik masyarakat, sehingga mereka mengalami dan
menghayati betul nilai-nilai yang terkandung dalam suatu sistem politik
yang ideal yang hendak dibangun. Hasil dari penghayatan itu akan
melahirkan sikap dan perilaku politik baru yang mendukung sistem politik
yang ideal tersebut, dan bersamaan dengan itu lahir pulalah kebudayaan
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 11

politik baru. Dari pandangan Alfian, ada dua hal yang perlu diperhatikan,
yakni:
pertama : sosialisasi politik hendaknya dilihat sebagai suatu proses yang
berjalan terus-menerus selama peserta itu hidup.
Kedua : sosialisasi politik dapat berwujud transmisi yang berupa
pengajaran secara langsung dengan melibatkan komunikasi informasi,
nilai-nilai atau perasaan-perasaan mengenai politik secara tegas. Proses
mana berlangsung dalam keluarga, sekolah, kelompok pergaulan,
kelompok kerja, media massa, atau kontak politik langsung.
Dari sekian banyak definisi ini nampak mempunyai banyak kesamaan
dalam mengetengah-kan beberapa segi penting sosialisasi politik,
sebagai berikut :
1)
Sosialisasi secara fundamental merupakan proses hasil belajar, belajar
dari pengalaman/ pola-pola aksi.
2)
memberikan indikasi umum hasil belajar tingkah laku individu dan
kelompok dalam batas-batas yang luas, dan lebih khusus lagi, berkenaan
pengetahuan atau informasi, motif-motif (nilai-nilai) dan sikap-sikap.
3)
sosialisasi itu tidak perlu dibatasi pada usia anak-anak dan remaja saja
(walaupun periode ini paling penting), tetapi sosialisasi berlangsung
sepanjang hidup.
4)
bahwa sosialisasi merupakan prakondisi yang diperlukan bagi aktivitas
sosial, dan baik secara implisit maupun eksplisit memberikan penjelasan
mengenai tingkah laku sosial.
Dari sekian banyak pendapat di atas, menurut Michael Rush &
Phillip Althof, ada dua masalah yang berasosiasi dengan definisi-definisi
tersebut di atas.
Pertama : seluas manakah sosialisasi itu merupakan proses pelestarian
yang sistematis? Hal ini penting sekali untuk menguji hubungan antara
sosialisasi dan perubahan sosial; atau istilah kaum fungsionalis, sebagai
pemeliharaan sistem. Dalam kenyataan tidak ada alasan sama sekali untuk
menyatakan mengapa suatu teori mengenai sosialisasi politik itu tidak
mampu memperhitungkan: ada atau tidaknya perubahan sistematik dan
perubahan sosial; menyediakan satu teori yang memungkin pencantuman
dua variabel penting, dan tidak membatasi diri dengan segala sesuatu yang
telah dipelajari, dengan siapa yang diajar, siapa yang mengajar dan hasilhasil apa yang diperoleh. Dua variabel penting adalah pengalaman dan
kepribadian dan kemudian akan dibuktikan bahwa kedua-duanya,
pengalaman dan kepribadian individu, lebih-lebih lagi pengalaman dan
kepribadian kelompok-kelompok individu- adalah fundamental bagi proses
sosialisasi dan bagi proses perubahan.
Kedua : adalah berkaitan dengan keluasan, yang mencakup tingkah laku,
baik yang terbuka maupun yang tertutup, yang diakses yang dipelajari dan
juga bahwa berupa instruksi. Instruksi merupakan bagian penting dari
sosialisasi, tidak perlu disangsikan, orang tua bisa mengajarkan kepada anakanaknya beberapa cara tingkah laku sosial tertentu; sistem-sistem
pendidikan kemasyarakatan, dapat memasukkan sejumlah ketentuan
mengenai pendidikan kewarganegaraan; negara bisa secara berhati-hati
menyebarkan ideologi-ideologi resminya. Akan tetapi tidak bisa terlalu
ditekankan, bahwa satu bagian besar bahkan sebagian terbesar sosialisasi,
merupakan hasil eksperimen; karena semua itu berlangsung secara tidak
sadar, tertutup, tidak bisa diakui dan tidak bisa dkenali.
Istilah-istilah seperti menanamkan dan sampai batas kecil tertentu
menuntun pada perkembangan kedua-duanya cenderung mengaburkan
segi penting dari sosialisasi. Maka Michael Oakeshott menyatakan;
Pendidikan politik dimulai dari keminkamtaan meminati tradisi dalam
bentuk pengamatan dan peniruan terhadap tingkah laku orang tua kita, dan
sedikit sekali atau bahkan tidak ada satupun di dunia ini yang tampak di
depan mat akita tanpa memberikan kontribusi terhadapnya. Kita menyadari
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 12

3.

akan masa lampau dan masa yang akan datang, secepat kesadaran kita
terhadap masa sekarang.
Jadi, walaupun kenyataan bahwa sosialisasi itu sebagian bersifat terbuka,
sistematik dan disengaja, namun secar atotal adalah tidak realistis untuk
berasumsi bahwa makna setiap pengalaman harus diakui oleh pelakunya,
atau oleh yang melakukan tindakan yang menyangkut pengalaman tersebut.
Kiranya kita dapat memahami bahwa sosialisasi politik adalah proses,
dengan mana individu-individu dapat memperoleh pengetahuan, nilai-nilai
dan sikap-sikap terhadap sistem politik masyarakatnya. Peristiwa ini tidak
menjamin bahwa masyarakat mengesahkan sistem politiknya, sekalipun hal
ini mungkin terjadi. Sebab hal ini bisa saja menyebabkan pengingkaran
terhadap legitimasi; akan tetapi apakah hal ini menuju pada stagnasi atau
pada
perubahan, tergantung
pada
keadaan yang menyebabkan
pengingkaran tersebut. Apabila tidak adanya legitimasi itu disertai dengan
sikap bermusuhan yang aktif terhadap sistem politiknya, maka perubahan
mungkin saja terjadi, akan tetapi apabila legitimasi itu dibarengi dengan
sikap apatis terhadap sistem politiknya, bukan tidakmungkin terjadi stagnasi.
Proses Sosialisasi Politik
Perkembangan sosiologi politik diawali pada masa kanak-kanak atau
remaja. Hasil riset David Easton dan Robert Hess mengemukakan bahwa
di Amerika Serikat, belajar politik dimulai pada usia tiga tahun dan menjadi
mantap pada usia tujuh tahun. Tahap lebih awal dari belajar politik mencakup
perkembangan dari ikatan-ikatan lingkungan,, seperti keterikatan kepada
sekolah-sekolah mereka, bahwa mereka berdiam di suatu daerah tertentu.
Anak muda itu mempunyai kepercayaan pada keindahan negerinva, kebaikan
serta kebersihan rakyatnya. Manifestasi ini diikuti oleh simbol-simbol otoritas
umum, seperti agen polisi, presiden, dan bendera nasional. Pada usia
sembilan dan sepuluh tahun timbul kesadaran akan konsep yang lebih
abstrak, seperti pemberian suara, demokrasi, kebebasan sipil, dan peranan
warga negara dalam sistem politik.
Peranan keluarga dalam sosialisasi politik sangat penting. Menurut
Easton dan Hess, anak-anak mempunyai gambaran yang sama mengenai
ayahnya dan presiden selama bertahun-tahun di sekolah awal. Keduanya
dianggap sebagai tokoh kekuasaan. Easton dan Dennis mengutarakan ada
4 (empat) tahap dalam proses sosialisasi politik dari anak, yaitu sebagai
berikut :
a. Pengenalan otoritas melalui individu tertentu, seperti orang tua anak,
presiden dan polisi.
b. Perkembangan pembedaan antara otoritas internal dan yang ekternal,
yaitu antara pejabat swasta dan pejabat pemerintah.
c. Pengenalan mengenai institusi-institusi politik yang impersonal, seperti
kongres (parlemen), mahkamah agung, dan pemungutan suara (pemilu).
d. Perkembangan pembedaan antara institusi-institusi politik dan mereka
yang terlibat dalam aktivitas yang diasosiasikan dengan institusi-institusi
ini.
Suatu penelitian secara khusus telah dilakukan guna menyelidiki nilai-nilai
pengasuhan anak yang dilakukan oleh berbagai generasi orang tua di
Rusia. Nilai-nilai itu adalah sebagai berikut :
a. Tradisi; terutama agama, tetapi juga termasuk ikatan-ikatan kekeluargaan
dan tradisi pada umumnya
b. Prestasi; ketekunan, pencapaian/perolehan, ganjaran-ganjaran material
mobilitas sosial.
c. Pribadi; kejujuran, ketulusan, keadilan, dan kemurahan hati.
d. Penyesuaian diri; bergaul dengan balk, menjauhkan diri dari kericuhan,
menjaga keamanan dan ketentraman.
e. Intelektual; belajar dan pengetahuan sebagai tujuan.
f. Politik; sikap-sikap, nilai-nilai, dan kepercayaan berkaitan dengan
pemerintahan.
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 13

Sosialisasi politik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan


proses dengan jalan mana orang belajar tentang politik dan
mengembangkan orientasi pada politik. Adapun sarana alat yang dapat
dijadikan sebagai perantara/sarana dalam sosialisasi politik, antara lain :
1) Keluarga (family)
Wadah penanaman (sosialisasi) nilai-nilai politik yang paling efisien dan
efektif adalah di dalam keluarga. Di mulai dari keluarga inilah antara
orang tua dengan anak, sering terjadi obrolan politik ringan tentang
segala hal, sehingga tanpa disadari terjadi tranfer pengetahuan dan
nilai-nilai politik tertentu yang diserap oleh si anak.
2) Sekolah
Di
sekolah
melalui
pelajaran
civics
education
(pendidikan
kewarganegaraan), siswa dan gurunya saling bertukar informasi dan
berinteraksi dalam membahas topik-topik tertentu yang mengandung
nilai-nilai politik teoritis maupun praktis. Dengan demikian, siswa telah
memperoleh pengetahuan awal tentang kehidupan berpolitik secara
dini dan nilai-nilai politik yang benar dari sudut pandang akademis.
3) Partai Politik
Salah satu fungsi dari partai politik adalah dapat memainkan peran
sebagai sosialisasi politik. Ini berarti partai politik tersebut setelah
merekrut anggota kader maupun simpati-sannya secara periodik
maupun pada saat kampanye, mampu menanamkan nilai-nilai dan
norma-norma dari satu generasi ke generasi berikutnya. Partai politik
harus mampu men-ciptakan image memperjuangkan kepentingan
umum, agar mendapat dukungan luas dari masyarakat dan senantiasa
dapat memenangkan pemilu.
Khusus pada masyarakat primitif, proses sosialisasi terdapat banyak
perbedaan. Menurut Robert Le Vine yang telah menyelidiki sosialisasi
di kalangan dua suku bangsa di Kenya Barat Daya: kedua suku bangsa
tersebut merupakan kelompok-kelompok yang tidak tersentralisasi dan
sifatnya patriarkis. Mereka mempunyai dasar penghidupan yang sama
dan ditandai ciri karakteristik oleh permusuhan berdarah. Akan tetapi,
suku Neuer pada dasarnya bersifat egaliter (percaya semua orang
sama derajatnya) dan pasif, sedangkan suku Gusii bersifat otoriter dan
agresif. Anak dari masing-masing suku didorong dalam menghayati
tradisi mereka masing-masing.
4. Sosialisasi Politik dalam Masyarakat Berkembang
Masalah sentral sosiologi politik dalam masyarakat berkembang ialah
menyangkut perubahan. Hal ini dilukiskan dengan jelas oleh contoh negara
Turki, di mana satu usaha yang sistematis telah dilakukan untuk
mempengaruhi maupun untuk mempermudah mencocokkan perubahan yang
berlangsung sesudah Perang Dunia Pertama. Mustapha Kemal (Kemal
Ataturk) berusaha untuk memodernisasi Turki, tidak hanya secara material,
tetapi juga melalui proses-proses sosialisasi. Contoh yang sama dapat juga
dilihat pada negara Ghana.
Menurut Robert Le Vine, terdapat 3 (tiga) faktor masalah penting dalam
sosialisasi politik pada masyarakat berkembang, yaitu sebagai berikut :
a. Pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang dapat melampaui
kapasitas mereka untuk memodernisasi keluarga tradisonal lewat industrialisasi dan pendidikan.
b. Sering terdapat perbedaan yang besar dalam pendidikan dan nilai-nilai
tradisional antara jenis-jenis kelamin, sehingga kaum wanita lebih erat
terikat pada nilai tradisonal. Namun, si Ibu dapat memainkan satu
peranan penting pada saat sosialisasi dini dari anak.
c. Adalah mungkin pengaruh urbanisasi, yang selalu dianggap sebagai satu
kekuatan perkasa untuk menumbangkan nilai-nilai tradisional. Paling
sedikitnya secara parsial juga terimbangi oleh peralihan dari nilai-nilai ke
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 14

dalam daerah-daerah perkotaan, khususnya dengan pembentukan


komunitaskomunitas kesukuan dan etnis di daerah-daerah ini.
5. Sosialisasi Politik dan Perubahan
Sifat sosialisasi politik yang bervariasi menurut waktu serta yang selalu
menyesuaikan dengan lingkungan yang memberinya kontribusi, berkaitan
dengan sifat dari pemerintahan dan derajat serta sifat dari perubahan.
Semakin stabil pemerintahan, semakin terperinci agensi-agensi utama dari
sosialisasi politik Sebaliknya, semakin besar derajat perubahan dalam satu
pemerintahan non totaliter, akan semakin tersebarlah agensi-agensi utama
dari sosialisasi politik. Semakin totaliter sifat perubahan politik, semakin kecil
jumlah agensi-agensi utama dari sosialisasi politik itu.
Dalam The Civic Culture, Almond dan Verba mengemukakan hasil survei
silang nasional (cross-national) mengenai kebudayaan politik. Penelitian
mereka menyimpulkan bahwa masing-masing kelima negara yang ditelitinya,
Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Italia, dan Meksiko, mempunyai kebudayaan
politik tersendiri. Amerika dan Inggris dicirikan oleh penerimaan secara
umum terhadap sistem politik, oleh suatu tingkatan partisipasi politik yang
cukup tinggi dan oleh satu perasaan yang meluas di kalangan para
responden bahwa mereka dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa sampai
pada satu taraf tertentu.
Tekanan lebih besar diletakkan orang-orang Amerika pada masalah
partisipasi, sedangkan orang Inggris memperlihatkan rasa hormat yang lebih
besar terhadap pemerintahan mereka. Kebudayaan politik dari Jerman
ditandai oleh satu derajat sikap yang tidak terpengaruh oleh sistem dan sikap
yang lebih pasif terhadap partisipasinya. Meskipun demikian, para
respondennya merasa mampu untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa
tersebut. Sedangkan di Meksiko merupakan bentuk campuran antara
penerimaan terhadap teori politik dan keterasingan dari substansinya.
Suatu faktor kunci di dalam konsep kebudayaan politik adalah legitimasi,
sejauh mana suatu sistem politik dapat diterima oleh masyarakat. Legitimasi
itu dapat meluas sampai pada banyak aspek dari sistem politik atau dapat
dibatasi dalam beberapa aspek. Seperti di Amerika Serikat, kebanyakan
orang Amerika menerima lembaga presiden, kongres, dan MA, tetapi
penggunaan hak-hak dari lembaga tersebut selalu mendapat kritik dari
masyarakat.
6. Sosialisasi Politik dan Komunikasi Politik
Sosialisasi politik, menurut Hyman merupakan suatu proses belajar yang
kontinyu yang melibatkan baik belajar secara emosional (emotional learning)
maupun indoktrinasi politik yang manifes (nyata) dan dimediai (sarana
komunikasi) oleh segala partisipasi dan pengalaman si individu yang
menjalaninya. Rumusan ini menunjukkan betapa besar peranan komunikasi
politik dalam proses sosialisasi politik di tengah warga suatu masyarakat.
Tidak salah jika dikemukakan bahwa segala aktivitas komunikasi politik
berfungsi pula sebagai suatu proses sosialisasi bagi anggota masyarakat
yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam aktivitas
komunikasi politik tersebut.
Dalam suatu sistem politik negara, fungsi sosialisasi menunjukkan bahwa
semua sistem politik cenderung berusaha mengekalkan kultur dan struktur
mereka sepanjang waktu. Hal ini dilakukan terutama melalui cara pengaruh
struktur-struktur primer dan sekunder yang dilalaui oleh anggota muda
masyarakat dalam proses pendewasaan mereka. Menurut G. A. Almond,
kata terutama sengaja digunakan karena dalam sosialisasi politik seperti
halnya belajar dalam pengertian yang umum tidak berhenti pada titik
pendewasaan itu sendiri, terlepas dari bagaimanapun batasannya pada
masyarakat yang berbeda-beda.
Di dalam realitas kehidupan masyarakat, pola-pola sosialisasi politik juga
mengalami perubahan seperti juga berubahnya struktur dan kultur politik.
Perubahan-perubahan tersebut menyangkut pula soal perbedaan tingkat
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 15

keterlibatan dan derajat perubahan dalam sub sistem masyarakat yang


beraneka ragam.
Pada sisi lain, sosialisasi politik merupakan proses induksi ke dalam suatu
kultur politik yang dimiliki oleh sistem politik yang dimaksud. Hasil akhir
proses ini adalah seperangkat sikap mental, kognisi (pengetahuan), standar
nilai-nilai dan perasaan-perasaan terhadap sistem politik dan aneka perannya
serta peran yang berlaku. Hasil proses tersebut juga mencakup pengetahuan
tentang nilai-nilai yang mempengaruhi, serta perasaan mengenai masukan
tentang tuntutan dan claim terhadap sistem, dan output otorotatif-nya.
Dalam proses sosialisasi politik kaitannya dengan fungsi komunikasi
politik, berhubungan dengan struktur-struktur yang terlibat dalam sosialisasi
serta gaya sosialisasi itu sendiri. Pada sistem politik masyarakat modern,
institusi seperti kelompok sebaya, komuniti, sekolah, kelompok kerja,
perkumpulan-perkumpulan sukarela, media komunikasi, partai-partai politik
dan institusi pemerintah semuanya dapat berperan dalam sosialisasi politik.
Kemudian perkumpulan-perkumpulan, relasi-relasi dan partisipasi dalam
kehidupan kaum dewasa melanjutkan proses tersebut untuk seterusnya.
Almond, mengatakan bahwa sosialisasi politik bisa bersifat nyata
(manifes) dan bisa pula tidak nyata (laten).
Sosialisasi
Politik Sosialisasi Politik Laten
Manifes
Berlangsung
dalam Dalam bentuk transmisi informasi, nilai-nilai atau
bentuk
transmisi perasaan terhadap peran, input dan output
informasi,
nilai-nilai mengenai sistem sosial yang lain seperti keluarga
atau perasaan terhadap yang mempengaruhi sikap terhadap peran, input
peran, input dan output dan output sistem politik yang analog (adanya
sistem politik.
persamaan).
Dalam suatu bangsa yang majemuk dan besar seperti Indonesia, India,
Cina dan sebagainya, informasi yang diterima oleh aneka unsur masyarakat
akan berlainan karena faktor geografis baik yang di kota maupun di desa.
Pada sebagian besar negara berkembang, pengaruh media masa (radio,
surat kabar dan televisi) di pedesaan sangat terbatas. Oleh karena itu,
pengaruh struktur-struktur sosial tradisional dalam menterjemahkan
informasi yang menjangkau wilayah tersebut amatlah besar. Heterogenitas
informasi ini memperkuat perbedaan orientasi dan sikap (attitude) diantara
kelompok-kelompok yang mengalami sosialisasi primer yang amat berbeda
dari kelompok ataupun teman sebaya.
Berbeda dengan negara yang sudah maju seperti Amerika, Inggris,
Jerman dan sebagainya arus informasi relatif homogen. Para elite politik
pemerintahan mungkin mempunyai sumber-sumber informasi khusus melalui
badan-badan birokrasi tertentu, surat kabar tertentu yang ditujukan pada
kelompok kelas atau politik tertentu. Dengan demikian, semua kelompok
masyarakat mempunyai akses ke suatu arus informasi dan media massa
yang relatif homogen dan otonom sehingga hambatan-hambatan bahasa
atau orientasi kultural sangat minim. Masyarakat dapat melakukan kontrol
terhadap para elite politik dan sebaliknya kaum elite-pun dapat segera
mengetahui tuntutan masyarakat dan konsekuensi dari segala macam
tindakan pemerintah.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 16

E. PERAN SERTA BUDAYA POLITIK PARTISIPAN


1. Pengertian Partisipasi Politik
Pembahasan tentang budaya politik tidak terlepas dari partisipasi politik
warga negara. Partisipasi politik pada dasarnya merupakan bagian dari
budaya politik, karena keberadaan struktur-struktur politik di dalam
masyarakat, seperti partai politik, kelompok kepentingan, kelompok penekan
dan media masa yang kritis dan aktif. Hal ini merupakan satu indikator
adanya keterlibatan rakyat dalam kehidupan politik (partisipan).
Bagi sebagian kalangan, sebenarnya keterlibatan rakyat dalam proses
politik, bukan sekedar pada tataran formulasi bagi keputusan-keputusan
yang dikeluarkan pemerintah atau berupa kebijakan politik, tetapi terlibat
juga dalam implementasinya yaitu ikut mengawasi dan mengevaluasi
implementasi kebijakan tersebut.
Partisipasi Politik adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang
untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, seperti memilih
pimpinan negara atau upaya-upaya mempengaruhi kebijakan pemerintah.
Menurut Myron Weiner, terdapat lima penyebab timbulnya gerakan ke arah
partisipasi lebih luas dalam proses politik, yaitu sebagai berikut :
a. Modernisasi dalam segala bidang kehidupan yang menyebabkan
masyarakat makin banyak menuntut untuk ikut dalam kekuasaan politik.
b. Perubahan-perubahan struktur kelas sosial. Masalah siapa yang berhak
berpartisipasi dan pembuatan keputusan politik menjadi penting dan
mengakibatkan perubahan dalam pola partisipasi politik.
c. Pengaruh kaum intelektual dan kemunikasi masa modern. Ide
demokratisasi partisipasi telah menyebar ke bangsa-bangsa baru
sebelum mereka mengembangkan modernisasi dan industrialisasi yang
cukup matang.
d. Konflik antar kelompok pemimpin politik, jika timbul konflik antar elite,
maka yang dicari adalah dukungan rakyat. Terjadi perjuangan kelas
menentang melawan kaum aristokrat yang menarik kaum buruh dan
membantu memperluas hak pilih rakyat.
e. Keterlibatan pemerintah yang meluas dalam urusan sosial, ekonomi, dan
kebudayaan. Meluasnya ruang lingkup aktivitas pemerintah sering
merangsang timbulnya tuntutan-tuntutan yang terorganisasi akan
kesempatan untuk ikut serta dalam pembuatan keputusan politik.
2. Konsep Partisipasi Politik
Dalam ilmu politik, dikenal adanya konsep partisipasi politik untuk
memberi gambaran apa dan bagaimana tentang partisipasi politik. Dalam
perkembangannya, masalah partisipasi politik menjadi begitu penting,
terutama saat mengemukanya tradisi pendekatan behavioral (perilaku) dan
Post Behavioral (pasca tingkah laku). Kajian-kajian partisipasi politik terutama
banyak dilakukan di negara-negara berkembang, yang pada umumnya
kondisi partisipasi politiknya masih dalam tahap pertumbuhan.
Dalam ilmu politik sebenarnya apa yang dimaksud dengan konsep
partisipasi politik ? siapa saja yang terlibat ? apa implikasinya ? bagaimana
bentuk praktik-praktiknya partisipasi politik ? apakah ada tingkatan-tingkatan
dalam partisipasi politik ? beberapa pertanyaan ini merupakan hal-hal
mendasar yang harus dijawab untuk mendapat kejelasan tentang konsep
partisipasi politik.
Hal pertama yang harus dijawab berkenaan dengan kejelasan konsep
partisipasi politik. Beberapa sarjana yang secara khusus berkecimpung dalam
ilmu politik, merumuskan beberapa konsep partisipasi politik, yang
disampaikan dalam tabel berikut :
Sarjana Konsep
Indikator
Kevin R. Partisipasi
politik
memberi
Terdapat
interaksi
Hardwic perhatian pada cara-cara warga
antara
warga
negara
k
negara
berinteraksi
dengan
dengan pemerintah
pemerintah,
warga
negara
Terdapat usaha warga
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 17

Miriam
Budiard
jo

Ramlan
Surbakt
i

berupaya
menyampaikan
kepentingan-kepentingan mereka
terhadap pejabat-pejabat publik
agar
mampu
mewujudkan
kepentingan-kepentingan
tersebut.
Partisipasi politik adalah kegiatan
seseorang atau sekelompok orang
untuk ikut serta secara aktif
dalam kehidupan politik, dengan
jalan memilih pimpinan negara,
dan secara langsung atau tidak
langsung
mempengaruhi
kebijakan
pemerintah
(public
policy).
Partisipasi
politik
ialah
keikutsertaan warga negara biasa
dalam
menentukan
segala
keputusan
menyangkut
atau
mempengaruhi hidupnya.
Partisipasi
politik
berarti
keikutsertaan warga negara biasa
(yang
tidak
mempunyai
kewenangan)
dalam
mempengaruhi proses pembuatan
dan
pelaksanaan
keputusan
politik.
Partisipasi
politik
adalah
keterlibatan individu sampai pada
bermacam-macam tingkatan di
dalam sistem politik.

Michael
Rush
dan
Philip
Althoft
Hunting Partisipasi politik kegiatan
ton dan warga negara preman (private
Nelson
citizen)
yang
bertujuan
mempengaruhi
pengambilan
kebijakan oleh pemerintah.

negara
mempengaruhi
publik.

Herbert
McClosk
y

untuk
pejabat

Berupa
kegiatan
individu atau kelompok
Bertujuan ikut aktif
dalam kehidupan politik,
memilih pim-pinan publik
atau
mempengaruhi
kebijakan publik.
Keikutsertaan
warga
negara dalam pembuatan
dan
pelaksanaan
kebijakan publik
Dilakukan oleh warga
negara biasa

Berwujud keterlibatan
individu dalam sistem
politik
Memiliki
tingkatantingkatan partisipasi
Berupa
kegiatan
bukan sikap-sikap dan
kepercayaan
Memiliki
tujuan
mempengaruh kebijakan
publik
Dilakukan oleh warga
negara preman (biasa)
Berupa
kegiatankegiatan sukarela
Dilakukan oleh warga
negara
Warga negara terlibat
dalam
proses-proses
politik

Partisipasi politik adalah kegiatan-


kegiatan sukarela dari warga
masyarakat melalui mana mereka
mengambil bagian dalam proses
pemilihan penguasa, dan secara
langsung atau tidak langsung,
dalam
proses
pembentukan
kebijakan umum.
Berdasarkan beberapa defenisi konseptual partisipasi politik yang
dikemukakan beberapa sarjana ilmu politik tersebut, secara substansial
menyatakan
bahwa
setiap
partisipasi
politik
yang
dilakukan
termanifestasikan dalam kegiatan-kegiatan sukarela yang nyata dilakukan,
atau tidak menekankan pada sikap-sikap. Kegiatan partisipasi politik
dilakukan oleh warga negara preman atau masyarakat biasa, sehingga
seolah-olah menutup kemungkinan bagi tindakan-tindakan serupa yang
dilakukan oleh non-warga negara biasa.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 18

Uji Kompetensi (Latihan Soal)


PILIHLAH JAWABAN YANG PALING TEPAT!
1. Kata politik berasal dari kata polis yang merupakan bahasa...
a. Romawi
c. Yunani
e. Ibrani
b. Latin
d. Sansakerta
2. Budaya politik parokial ditandai dengan rendahnya tingkat partisipasi
politik yang disebabkan oleh ...
a. faktor afektif
c. faktor psikomotorik
e.
faktor
psikologis
b. faktor kognitif
d. faktor budaya
3. LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) berfungsi sebagai kontrol maupun
pemberi input terhadap ...
a. masyarakat
b. partai politik
c. lembaga tinggi negara
d. kebijakan negara
e. kebijakan pemerintah
4. Orientasi kognitif seseorang terhadap sistem politik lebih berkaitan
dengan aspek ...
a. sikap
b. pengetahuan
c. perilaku
d. emosi
e. evaluasi
5. Sikap warga negara yang tidak puas dengan keadaan dan bersedia maju
tetapi tidak menerima sepenuhnya perubahan apalagi seba cepat
merupakan tipe politik ...
a. radikal
b. moderat
c. status quo
d. konservatif
e. liberal
6. Pada pemilu 2009 masyarakat memilih presiden/wakilnya tanpa perantara
orang lain, hal ini sesuai dengan asas pemilu yang
a. Jurdil
b. umum
c. bebas
d. rahasia
e.
langsung
7. Kegiatan mengatasi dan mengelola konflik dalam masyarakat merupakan
fungsi partai politik sebagai
a. komunikasi politik
b. sosialisasi politik
c. kaderisasi politik
d. pengatur politik
e. manajemen politik
8. Warga negara disebut insan politik karena ...
a. manusia sebagai obyek politik
b. setiap orang dalam kebutuhannya selalu memenuhinya
c. sejak lahir telah dibekali naluri untuk hidup bersama dan berorganisasi
d. tidak dapat lepas dengan manusia lain dalam kehidupannya
e. sebagai ciptaan Tuhan tidak dapat terlepas dengan alam sekitar
9. Magang atau siswa mengikuti OSIS merupakan contoh
a. sosialisasi politik langsung
b. sosialisasi politik tidak langsung
c. peniruan politik
d. imitasi politik
e. orientasi politik
10.
Kesadaran seseorang akan hak dan kewajibannya disebut
a. kepercayaan politik
b. kesadaran politik
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 19

c. keyakinan politik
d. partisipasi politik
e. kegiatan politik
11.
Seseorang memiliki kesadaran dan kepercayaan politik yang
rendah disebut
a. partisipasi politik aktif
b. partisipasi politik apatis
c. partisipasi politik militan
d. partisipasi politik tinggi
e. kegiatan politik
12.
Orang-orang yang sama sekali tidak menyadari atau
mengabaikan adanya pemerintahan dan politik disebut budaya politik ...
a. Subyek
b. parokial c. partisipan
d. aktif
e. pasif
13.
Sosialisasi politik dapat disampaiakan melalui berikut, kecuali
a. keluarga
b. sekolah
c. media massa
d. kelompok pergaulan
e. mushalla
14.
Era pemerintahan Soeharto ditengarai menerapkan politik
secara
a. demokrasi
b. otoriter
c. sosial
d. komunis
e. liberal
15.
Mencari atau mengajak orang yang berbakat untuk aktif dalam
kegiatan partai sebagai anggota atau kader, merupakan fungsi partai
politik sebagai
a. sarana komunikasi politik
b. sarana sosialisasi politik
c. sarana perekrutan politik
d. sarana pengatur konflik
e. sarana pengatur kepentingan
16.
Sebagai seorang warga negara yang baik, menghormati orang
yang lebih tua merupakan ...
a. ketaatan kepada norma kesusilaan
b. ketaatan kepada norma agama
c. ketaatan kepada norma hukum
d. ketaatan kepada norma kesopanan
e. kewajiban warga negara
17.
Budaya politik partisipatif disebut budaya politik yang unggul
karena didasarkan pada asas ...
a. persatuan dan kesatuan dalam golongan
b. keseragaman dalam cara pandang
c. kedaulatan golongan
d. kedaulatan pemerintah
e. kedaulatan rakyat
18.
Mencontreng dalam pemilu termasuk partisipasi politik
a. pasif
b. negatif
c. aktif
d. apatis
e. radikal
19.
Dibawah ini merupakan salah satu pencerminan sikap
demokratis, tampak dalam sikap
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 20

a. mengkritik pendapat orang lain


b. mempelajari pendapat orang lain
c. menerima pendapat orang lain
d. menghormati pendapat orang lain
e. menolak pendapat orang lain
20.
Esensi budaya politik Bhineka Tunbggal Ika adalah ...
a. rasa percaya dan permusuhan
b. kerja sama dan rasa percaya
c. konflik dan konsensus
d. tenggang rasa dan konflik
e. toleransi dan tenggang rasa
21.
Perwujudan nilai-nilai yang dianut kelompok masyarakat, bangsa
dan negara yang diyakini sebagai pedoman dalam
melaksanakan
kegiatan politik kenegaraan disebut ...
a. sosialisasi politik
b. partisipasi politik
c. kesadaran politik
d. budaya politik
e. pendidikan politik
22.
Belajar langsung dalam kegiatan politik atau kegiatan yang
sifatnya publik disebut ...
a. peniruan politik
b. sosialisasi politik
c. pendidikan politik
d. budaya politik
e. pengalaman politik
23.
Semakin banyak warga negara yang tidak aktif dalam pemilu
memiliki arti bahwa orientasi politik warga negara bersifat ...
a. apatis
b. setia
c. kognitif
d. mendukung
e. evaluatif
24.
Contoh budaya politik yang bernilai ekonomis ...
a. siswa-siswi MAN 2 madiun datang tepat waktu
b. setelah pelajaran siswa-siswi berjabat tangan dengan guru
c. siswa-siswi mengerjakan PR dengan baik
d. setelah pelajaran siswa-siswi mematikan lampu/kipas
e. setiap hari senen siswa-siswi mengikuti upacara
25.
Berikut ini yang bukan merupakan bentuk perwujudan budaya
politik dalam masyarakat adalah ...
a. partai politik
b. kelompok kepentingan
c. kelompok penekan
d. penokohan politik
e. komunitas politik
B.
1.
2.
3.
4.
5.

JAWABLAH PERTANYAAN DI BAWAH INI DENGAN JELAS DAN TEPAT!


Jelaskan mengenai budaya politik!
Mengapa budaya politik partisipatif merupakan budaya politik unggul?
Apakah fungsi dari sosialisasi politik?
Apakah tujuan partisipasi politik?
Mengapa sekolah dianggap berperan penting dalam sosialisasi politik?

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 21

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 22

MODUL 2
BUDAYA DEMOKRASI DALAM MASYARAKAT MADANI
A. PENDAHULUAN
Demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu kata demos artinya rakyat
dan cratos/kratein artinya pemerintahan/berkuasa. Pemerintahan demokrasi
yang kokoh adalah pemerintahan yang sesuai dengan pandangan hidup,
kepribadian, dan falsafah bangsanya. Pada masa Yunani Kunosudah
berkembang demokrasi langsung, artinya seluruh rakyat terlibat secara
langsung dalam masalah kenegaraan. Hal ini terjadi karena wilayah negara
sempit dan penduduknya sedikit. Pada masa modern, demokrasi langsung
tidak dapat dijalankan karena wilayah negara cukup luas, jumlah penduduk
banyak, rakyat melalui suatu lembaga perwakilan (badan-badan perwakilan
rakyat) dapat menyalurkan aspirasinya dalam kenegaraan atau sering
disebut demokrasi perwakilan.
B. PENGERTIAN BUDAYA DEMOKRASI
1. Berikut beberapa pengertian mengenai budaya demokrasi :
a. Budaya Demokrasi, adalah pola pikir, pola sikap, dan pola tindak warga
masyarakat yang sejalan dengan nilai-nilai kemerdekaan, persamaan dan
persaudaraan antar manusia yang berintikan kerjasama, saling percaya,
menghargai
keanekaragaman,
toleransi,
kesamaderajatan,
dan
kompromi.
b. International Commision of Jurist (ICJ), demokrasi adalah suatu bentuk
pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik
diselenggarakan oleh wn melalui wakil-wakil yg dipilih oleh mereka dan
bertanggung jawab kepada mereka melalui suatu proses pemilihan yg
bebas.
c. Abraham Lincoln, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat
dan untuk rakyat.
d. Giovanni Sartori, memandang demokrasi sebagai suatu sistem di mana
tak seorangpun dapat memilih dirinya sendiri, tak seorangpun dapat
menginvestasikan dia dgn kekuasaannya, kemudian tidak dapat juga
untuk merebut dari kekuasaan lain dengan cara-cara tak terbatas dan
tanpa syarat.
e. Ensiklopedi Populer Politik Pembangunan Panca-sila, demokrasi adalah
suatu pola pemerintahan dalam mana kekuasaan untuk memerintah
berasal dari mereka yang diperintah.
Unsur-unsur budaya demokrasi adalah :
a. Kebebasan, adalah keleluasaan untuk membuat pilihan terhadap
beragam pilihan atau melakukan sesuatu yang bermamfaat untuk
kepentingan bersama atas kehendak sendiri tanpa tekanan dari pihak
manapun. Bukan kebebasan untuk melakukan hal tanpa batas.
Kebebasan harus digunakan untukhal yang bermamfaat bagi masyarakat,
dengan cara tidak melanggar aturan yang berlaku.
b. Persamaan, adalah Tuhan menciptakan manusia dengan harkat dan
martabat yang sama. Di dalam masyarakat manusia memiliki kedudukan
yang sama di depan hukum,politik, mengembangkan kepribadiannya
masing-masing, sama haknya untuk menduduki jabatan pemerintahan.
c. Solidaritas, adalah kesediaan untuk memperhatikan kepentingan dan
bekerjasama dengan orang lain. Solidaritas sebagai perekat bagi
pendukung demokrasi agar tidak jatuh kedalam perpecahan.
d. Toleransi, adalah sikap atau sifat toleran. Toleran artinya bersikap
menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian
(pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dll) yang
bertentangan atau berbeda dengan pendirian sendiri.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 23

e. Menghormati Kejujuran, adalah keterbukaan untuk menyatakan


kebenaran, agar hubungan antar pihak berjalan baik dan tidak
menimbulkan benih-benih konplik di masa depan.
f. Menghormati penalaran, adalah penjelasan mengapa seseorang memiliki
pandangan tertentu, membela tindakan tertentu,dan menuntut hal
serupa dari orang lain. Kebiasaan memberipenalaran akan menumbuhkan
kesadaran bahwa ada banyakalternatif sumber informasi dan ada banyak
cara untuk mencapai tujuan.
g. Keadaban, adalah ketinggian tingkat kecerdasan lahir-batin atau kebaikan
budi pekerti. Perilaku yang beradab adalah perilaku yang mencerminkan
penghormatan terhadap dan mempertimbangkan kehadiran pihak lain
yang tercermin dalam sopan santun, dan beradab.
Prinsip-prinsip demokrasi secara umum meliputi :
1) Kekuasaan suatu negara sebenarnya berada di tangan rakyat atau
kedaulatan ada di tangan rakyat.
2) Masing-masing orang bebas berbicara, mengeluarkan pendapat, beda
pendapat, dan tidak ada paksaan.
Prinsip-prinsip demokrasi Pancasila adalah :
1) Kedaulatan di tangan rakyat
2) Pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia
3) Pemerintahan berdasar hukuk (konstitusi)
4) Peradilan yang bebas dan tidak memihak
5) Pengambilan keputusan atas musyawarah
6) Adanya partai plitik dan organisasi sosial politik
7) Pemilu yang demkratis.
Ciri pemilu yang demokratis menurut Austin Ranney, adalah :
a. Hak pilih umum, pemilu disebut demokratis manakala semua warga
negara dewasa menikmati hak pilih pasif dan aktif. Hak pilih pasif, yaitu
hak warga negara untuk dapat dipilih menjadi wakil rakyat yang akan
duduk di lembaga perwakilan rakyat. Hak pilih aktif, yaitu hak setiap
warga negara untuk dapat memilih atau menggunakan hak pilihnya
dalam pemilu untuk memilih wakilnya yang akan mewakilinya di lembaga
perwakilan rakyat.
b. Kesetaraan bobot suara, suara tiap-tiapemilih diberi bobot yang sama,
artinya tidak boleh ada sekelompok warga negara, apapun kedudukan,
sejarah kehidupan, dan jasa-jasanya, yang memperoleh lebih banyak
wakildari warga lainnya. Contoh bila harga sebuah kursi parlemen adalah
420.000 suara,msaka haruis ada jaminan bahwa tak ada sekelompok
warga negarapun yang kurang dari kuota tersebut mendaatkan satu atau
bahkan lebih di parlemen.
c. Tersedianya pilihan yang signifikan, para pemilih harus dihadapkan pada
pilihan-pilihan atau calon-calon wakil rakyat atau partai politik yang
berkualitas.
d. Kebebasan nominasi, Pilihan-pilihan itu harus datang dari rakyat sendiri
melalui organisasi atau partai politik yang telah diseleksi untuk
memdapatkan calon yang mereka pandang mampu menerjemahkan
kebijakan organisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara.
e. Persamaan hak kampanye, melalui kampanye mereka memperkenalkan
program kerja kepada rakyat pemilih, pemecahan masalah yang
ditawarkan, serta program kesejahteraan, dll.
f. Kebebasan dalam memberikan suara, para pemilih dapat menentukan
pilihannya secara bebas, mandiri, sesuai dengan pertimbanganpertimbangan hati nuraninya.
g. Kejujuran dalam penghitungan suara, kecurangan dalam penghitungan
suara akan menggagalkan upaya menjelmakan rakyat ke dalam badan
perwakilan rakyat. Pemantau independen dapat menopang perwujudan
kejujuran dalampenghitungan suara.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 24

h. Penyelenggaraan secara periodik, pemilu tidak bolrh dimajukan atau


diundurka sekehendak hati penguasa. Pemilu tidak boleh digunakan oleh
penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Tapi pemilu digunakan
untuk sarana penggantian kekuasaan secara damai dan terlembaga.
2. Macam-Macam Demokrasi
a. Dari segi idiologi, demokrasi ada 2 macam :
1) Demokrasi konstitusional (demokrasi liberal), yaitu kekuasaan
pemerintahan terbatas dan tidak banyak campur tangan serta tidak
bertindak sewenang-wenang terhadap warga negaranya. Kekuasaan
dibatasi oleh konstitusi. Penganut demokrasi ini adalah Negara-negara
eropa barat, Amerika serikat, India, Pakistan, Indonesia, Filipina,
Singapura.
2) Demokrasi Rakyat (Proletar) adalah demokrasi yang berlandaskan
ajaran komunisme dan marxisme. Demokrasi ini tidak mengakui hak
asasi warga negaranya. Demokrasi ini bertentangan dengan demokrasi
konstitusional. Demokrasi ini mencita-citakan kehidupan tanpa kelas
sosial dan tanpa kepemilikan pribadi. Negara adalah alat untuk
mencapai komunisme yaitu untuk kepentingan kolektifisme.
b. Berdasarkan titik perhatiannya demokrasi ada 3 macam :
1) Demokrasi Formal ( negara-negara liberal), demokrasi menjunjung tinggi
persamaan dalam bidang politik, tanpa upaya untuk mengurangi
kesenjangan ekonomi.
2) Demokrasi material (negara-negara komunis), menitikberatkan pada upayaupaya menghilangkan perbedaann pada bidang ekonomi, kurang persamaan
dalam bidang politik bahkan kadang dihilangkan.
3) Demokrasi
gabungan
(negara-negara
nonblok),
demokrasi
yang
menghilangkan kesenjangan ekonomi dan sosial, persamaan dibidang politik,
hukum.
c. Berdasarkan cara penyaluran kehendak rakyat demokrasi ada 3 macam :
1) Demokrasi langsung, yaitu rakyat secara langsung mengemukakan
kehendaknya dalam rapat yang dihadiri seluruh rakyat. Contohnya,
Negara di kota Athena pada zaman Yunani Kuno abad IV SM.
2) Demokrasi perwakilan atau demokrasi yang representatif adalah rakyat
menyalurkan kehendak dengan memilih wakil-wakilnya untuk duduk
dalam Dewan Perwakilan Rakyat. Demokrasi ini banyak dianut oleh
negara modern yang memiliki penduduk banyak.
3) Demokrasi perwakilan dengan sistem referendum merupakan
gabungan antara demokrasi langsung dan demokrasi perwakilan.
2. Prinsip Budaya Demokrasi
Banyak negara mengaku sebagai negara demokrasi, tapi belum tentu
menerapkan prinsip demokrasi dengan baik dan benar. Prinsip-prinsip
demokrasi antar lain :
a. Adanya jaminan hak asasi manusianya, merupakan hak dasar yang
melekat sejak lahir merupakan anugerah Tuhan YME yang tidak boleh
dirampas oleh siapapu termasuk oleh negara.
b. Persamaan kedudukan di depan hukum, agar tidak tewrjadi diskriminasi
dan ketidakadilan, siapapun melanggar hukum harus mendapat sanksi
menurut hukum yang berlaku, dan sebaliknya.
c. Pengakuan terhadap hak-hak politik, seperti berkumpul, beroposisi,
berserikat dan mengeluarkanpendapat.
d. Pengawasan atau kontrol rakyat terhadap pemerintah, melalui demokrasi
itu sendiri.
e. Pemerintahan
berdasar
konstitusi,
agar
pemerintgah
tidak
menyalahgunakan kekuasaan seweang-wenang terhadap rakyat.
f. Adanya saran atau kritik rakyat terhadap kinerja pemerintah melalui
media massa sebagai alat penyalur aspirasi rakyat.
g. Pemilihan umum yang bebas dan jujur serta adil.
h. Adanya kedaulatan rakyat.
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 25

C. MASYARAKAT
MADANI
(CIVIL
SOCIETY)
DALAM
PROSES
DEMOKRATISASI
1. Pengertian Masyarakat Madani :
a. Patrick, civil society atau masyarakat madani, adalah jaringan kerja yang
komplek dan organisasi-organisasi yang dibentuk secara sukarela, yang
berbeda dari lembaga-lembaga negara yang resmi, bertindak secara
mandiri atau dalam bekerjasama dengan lembaga-lembaga negara.
b. Mohammad A.S. Hikam, Civil Society, adalah wilayah kehidupan sosial
yang
terorganisasi
dan
bercirikan
sukarela,
keswasembadaan,
keswadayaan, kemandirian yang tinggi berhadapan dengan negara, dan
terikat dengan norma atau hukum yang berlaku.
c. Lary Diamond, Civil Society, adalah kehidupan sisial terorganisasi yang
terbuka, sukarela, lahir secara mandiri, berswadaya, otonom dari negara,
terikat pada hukum. Contoh menurutnya adalah :
1) Perkumpulan/jaringan perdagangan
2) Perkumpulan keagamaan, suku, budaya yang membela hak kolektif,
kepercayaan
3) Yayasan penyelenggara pendidikan, asosiasi penerbitan
4) Gerakanperlindungan
konsumen,
seperti
perlindungan
perempuan,
perlindungan etnis minoritas, perlindungan kaum cacat, korban diskriminasi.
2. Ciri-Ciri Masyarakat Madani / Civil Society
a. Lahir secara mandiri, dibentuk oleh masyarakat sendiri tanpa campur
tangan negara.
b. Keanggotaan bersifat sukarela, atas kesadaran masing-masing anggota.
c. Mencukupi kebutuhannya sendiri (swadaya) tidak bergantung bantuan
pemerintah.
d. Bebas dan mandiri dari kekuasaan negara sehingga berani mengontrol
kebijakan negara.
e. Tunduk pada hukum yang berlaku atau norma yang disepakati bersama.
3. Pengertian Demokratisasi
Demokratisasi adalah proses mengimplementasikan demokrasi sebagai
system politik dalam kehidupan bernegara. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, demokratisasi adalah proses, cara mendemokrasikan. Dengan
demikian antara demokrasi dan demokratisasi memiliki hubungan yang
erat. Kehidupan demokrasi tidak akan terwujud tanpa adanya usaha
melembagakan demokrasi atau demokratisasi. Untuk itu perlu dibentuk
lembaga-lembaga demokrasi yang akan menciptakan system politik
demokrasi dan melaksanakan nilai-nilai demokrasi.
Demokratisasi memiliki cirri-ciri sebagai berikut :
a. Proses demokratisasi berlangsung terus-menerus, bertahap, dan
berkelanjutan
b. Demokratisasi berlangsung secara perlahan, pelan, bertahap sehingga
berlangsung lama. Demokratisasi bersifat evolusioner.
c. Proses demokratisasi berlangsung secara damai, tanpa kekerasan, dan
tanpa otonomi.
d. Demokratisasi berjalan melalui cara musyawarah
D. PELAKSANAAN DEMOKRASI DI INDONESIA
1. Masa Orde Lama
a. Demokrasi parlementer / liberal (RIS dan UUDS 1950), pada masa ini
Indonesia memakai sistemdemokrasi parlementer. Cara kerja:
Kekuasaan legislatif dijalankan oleh DPR, partai politik yang menuasai
suara mayoritas di DPR membentuk kabinet.
Kekuasaan eksekutif dijalankan oleh kabinet/Dewan menteri dibawah
pimpinan Perdana menteri dan bertanggung jawab pada parlemen.
Presiden hanya sebagai kepala negara, kepala pemerintahan dipegang
Perdana Menteri.
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 26

Kekuasaan yudikatif dijalankan oleh badan pengadilan yang bebas.


Jika DPR atau parlemen menilai kinerja menteri kurang bauik maka
parlemen mengajukan mosi tak percaya, maka menteri harus
meletakkan jabatannya.
Jika kabinet bubar maka presiden menunjuk formatur kabinet untuk
menyususn kabinet baru.
Jika DPR atau parlemen mengajukan mosi tak percaya pada kabinet
yang baru, maka DPR atau parlemen dibubarkan dan diadakan
pemilihan umum.
Hal-hal negatif yang terjadi selama berlakunya sistem parlementer :
1) Usia atau masa kerja kabinet rata-rata pendek, selama kurun waktu 1950
-1959 telah terjadi tujuh kali pergantian kabinet.
2) Ketidakserasian hubungan antara anggota TNINdalam tubuh angkatan
bersenjata. Sebagian condong ke kabinet Wilopo sebagian condong ke
Presiden Soekarno.
3) Perdebatan terbuka antara Soekarno dengan tokoh Masyumi yaitu Isa
Anshary tentang penggantian dasar negara yang lebih Islami apakah akan
merugikan umat agama lain atau tidak.
4) Masa kampanye jadi panjang (1953-1955), sehingga meningkatnya
ketegangan di masyarakat.
5) Kebijakan beberapa perdana menteri cenderung menguntungkan partainya.
6) Pemerintah pusat mendapat tantangan dari daerah seperti pemberontakan
Permesta dan PRRI.
Hal-hal positif yang terjadi dimasa demokrasi parlementer :
1) Badan peradilan menikmati kebebasannya dalam menjalankan fungsinya.
2) Pers bebas dan banyak kritik di surat kabar.
3) Jumlah sekolah bertambah
4) Kabinet dan ABRI berhasil mengatasi pemberntakan RMS, DI/TII
5) Sedikit ketegangan diantara umat beragama.
6) Minoritas Tionghoa mendapat perlindungan dari pemerintah.
7) Nama baik indonesia di Internasional dan berhasil melaksanakan Konferensi
Asia Afrika di Bandung April 1955.
2. Demokrasi Terpimpin 5 Juli 1959-1966
Mulai dijalankan sejak dekrit presiden 5 Juli 1959, dengan mamakai UUD
1945 oleh sebab itu demokrasi ini didasarkan atas Pancasila dan UUD 1945.
Pada waktu itu sesuai dengan UUD 1945 maka bentuk negara adalah
Kesatuan,pemerintahannya adalah Republik, sistem pemerintahannya adalah
Demokrasi. Dalam UUD 1945 indonesia juga adalah negara hukum.
MPR harus berfungsi sebagai lembaga tertinggi negara yang memilih dan
mengangkat presiden, oleh karena itu presiden wajib tunduk dan
bertanggung jawab kepada MPR. Presiden bersama DPR membuat UU.
Presiden dibantu para menteri dalam menjalankan kekuasaan Eksekutif dan
Kekuasaan Yudikatif dijalankan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan di
bawahnya secara independen bebas dari pengaruh lembaga lainnya.
Dari kenyataannya demokrasi terpimpin ini menyimpang dari prinsip
negara hukum dan demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Penyimpangai itu antara lain :
a. Pelanggaran prinsip kebebasan kekuasaan kehakiman : dimana UU No. 19
tahun 1964 menyatakan demi kepentingan revolusi, Presiden berhak
mencampuri proses peradilan. Dan hal ini bertentangan dengan
ketentuan UUD 1945. Sehingga peradilan sering dijadikan untuk
menghukum lawan politik dari pemerintah.
b. Pengekangan hak di bidang politik yaitu berserikat, berkumpul, dan
mengeluarkan pendapat, yaitu ulasan surat kabar dibatasi atau tidak
boleh menentang kebijakan pemerintah.
c. Pelampauan batas wewenang presiden. Banyak hal yang seharusnya
diatur dalam UU namun hanya ditetapkan lewat Penetapan Presiden.
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 27

d. Pembentukan lembaga negara Ekstrakonstitusional ( diluar UUD 1945)


seperti pembentukan Front Nasional yang dimamfaatkan oleh partai
komunis sebagai ajang mempersiapkan pembentukan negara komunis
indonesia.
e. Pengutamaan fungsi Presiden seperti :
Pimpinan MPR, DPR dan lembaga lainnya di setarakan dengan menteri
dan berada di bawah Presiden.
Pembubaran DPR tahun 1960 oleh presiden setelah menolak Rencana
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diusulkan pemerintah.
Padahal dalam UUD 45 menyatakan Presiden tidak dapat
membubarkan DR, bila DPR tidak menyetujui angaran yang diajukan
pemerintah maka pemerintah menggunakan anggaran tahun lalu.
Demokrasi tidak dipimpinhikmat kebijaksanaan, tetapi dipimpin oleh
presiden selaku panglima tertinggi ABRI.
Keberhasilan yang capai di masa Demokrasi terpimpin;
Berhasilmenumpas pemberontakan DI/TII yang telah berlangsung 14 tahun
Berhasil menyatukan Irian Barat kepangkuan Indonesia dari phak Belanda.
Demokrasi Pancasila di Masa Orde Baru 11 Maret 1966 21 Mei 1998
3. Demokrasi Orde Baru (1966 1998)
Hal-hal yang terjadi di masa orde baru adalah :
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia baik di masa Orde baru maupun
reformasi sermua menamakannya demokrasi Pancasila, sebab demokrasi
Pancasila adalah demokrasi yang dijiwai oleh pancasila terutama sila
Kerakyatan
yang
dipimpin
oleh
hikmat
kebijaksanaan
dalam
permusyawaratan/perwakilan, ber Ketuhanan Yang Maha Esa, yang
berkemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan yang
berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kehidupan politik di masa orde baru terjadi penyimpangan-penyimpangan
dari cita-cita Pancasila dan UUD 1945, antara lain :
a. Pemusatan kekuasaan di tangan presiden, secara formal kekuasaan
negara dibagi ke beberapa lembaga negara seperti MPR, DPR, MA, dll),
taoi dalam praktiknya presiden dapat mengendalikan lembaga tersebut.
Anggota MPR yang diangkat dari ABRI adalah dibawah presiden sebab
presiden sebagai panglima tertinggi ABRI. Anggota MPR dari Utusan
daerah dapat dikendalikan oleh presiden karena dipilih oleh DPRD Tk. I
yang merupakan bagian dari pemerintah daerah sebagai bawahan
presiden.
b. Pembatasan hak-hak politik rakyat, Sejak tahun 1973 jumlah parpol di
indonesia hanya 3 (PPP, Golkar, PDI), pers bebas tetapi pemerintah dapat
membreidel penerbitan Pers (Tempo, Editor, Sinar Harapan,dll). Ada
perlakuan diskriminatif terhadap anak keturunan PKI.
Pengkritik
pemerintah dikucilkan secara politik. Pegawai negeri dan ABRI harus
menmdukung Golkar (partai penguasa).
c. Pemilu yang tidak demokratis, aparat borokrasi dan militer melakukan
cara-cara untuk memenangkan Golkar. Hak parpol dan rakyat pemilih
dimanipulasi untuk kemenangan Golkar.
d. Pembentukan lembaga ektrakonstitusional, untuk melanggengkan
kekuasaannya
pemerintah
membentuk
KOPKAMTIB
(Komando
Pengendalian Keamanan dan Ketertiban), utnuk mengamankan pihakpinak yang pootensial nejadi oposisi pebnguasa.
e. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), Akibat penggunaan kekuasaan
yang terpusat dan tak terkontrol, maka KKN meraja lela, rakyat sengsara,
menjerumuskan rakyat kepada krisis multidimensi berkepanjangan.krisis
moral, kepercayaan. Dimasa orde baru ada upaya penanaman nilai
Pancasila kepada seluruh rakyat dengan cara indoktrinisasi P4 (Pedoman
Penghayatan dan Pengamalasn Pancasila).
4. Demokrasi Pancasila di masa transisi/reformasi 21 Mei 1998
sekarang
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 28

Mundurnya Soeharto yang digantikan BJ. Habibie yang memerintah


sekitar 18 bulan. Pemilu yang tertib dan bersih berhasil dilaksanakan tanggal
7 Juni 1999 diikuti 48 partai politik dan Gus Dur terpilih sebagai presiden dan
dicopot tahun 2001 dari presiden dan digantikan oleh Megawati.
Indonesia berusaha menuju system politik yang demokratis dengan
melakukan
reformasi
struktural
yang
mendukung
berkembangnya
pemerintahan demokrasi. Pada era reformasi ini pula kebebasan berpendapat
dibuka seluas-luasnya. Hal inilah yang menjadi perubahan besar dalam
mewujudkan pemerintahan demokratis. Untuk mengemukakan pendapatpun
dapat digunakan berbagai sarana.
Keseluruhan pembaharuan politik di era reformasi dapat dilihat dari
berbagai kebijakan berikut :
a. Kemerdekaan pers
b. Kemerdekaan membentuk partai politik
c. Terselenggaranya pemilu yang demokratis
d. Pembebasan narapidana politik dan tahanan politik
e. Pelaksanaan otonomi daerah
f. Kebebasan berpolitik
5. Pemilu Wujud Budaya Demokrasi Di Indonesia
Penyelenggaraan pemilu tahun 2004 diatur dalam UU no 12 tahun 2003
tentang pemilu sebagai wujud pelaksanaan pasal 1 ayat 2 UUD 1945, yang
dilaksanakan dengan Langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Tujuan
pemilu adalah untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, DPRD. Jumlah anggota DPR ditetapkan 550 kursi, DPRD
TK I sekurang-kurangnya 35 orang dan paling banyak 120 kursi, DPRD TK. II/
Kota sekurang-kurangnya 20 kursi dan paling banyak 45 kursi.
Landasan Pemilu Di Indonesia :
a. Idiil : Pancasila
b. Konstitusinil : UUD 1945
c. Operasional : Tap MPR no III/MPR/1998, UU no. 31 tahun 2002 tentang
Partai politik, UU No. 12 tahun 2003 tantang Pemilihan Umum.
Pemilu adalah sarana untuk mewujudkan pelaksanaan UUD pasal 1 ayat
2 yaitu kedaulatan ditangan rakyat dan dilakukan menurut UndangUndang. Dalam pemilu rakyat memiliki hask pilih aktif dan pasif. Aktif
adalah hak rakyat untuk dapat memilih wakilnya da;am pemilu yang akan
dudum, di DPR, sedang hak pasif adalah hak warganegara dalam pemilu
untuk dapat dipilih menjadi anggota DPR/MPR. Sehubungan dengan hak
pilih dan memilih, maka hendaknya masyarakat dapat :
a. Menggunakan hak memilih dan dipilih sebaik-baiknya.
b. Menghormati badan permusyawaratan/perwakilan.
c. Menerima dan melaksanakan hasil keputusan yang telah dilakukan secara
demokratis, dengan itikad baik dan tanggung jawab.
Menurut UU RI No. 22 Tahun 2003, tentang susunan dan kedudukan MPR,
DPR, DPD, dan DPRD disebutkan sebagai berikut :
1. DPR terdiri dari anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih melalui
pemilu :
a. Anggota DPR berjumlah 550 kursi
b. Keanggotaan DPR diresmikan dengan keputusan presiden
c. Anggota DPR berdomisili di ibukota negara RI
2. DPD rterdiri atas wakil-wakil daerah provinsi yang dipilih melalui pemilu :
a. Anggota DPD dari setiap provinsi ditetapkan sebanyak 4 kursi
b. Jumlah seluruh anggota DPD tidak boleh melebihi sepertiga anggota DPR.
c. Keanggotaan DPD diresmikan oleh keputusan Presiden
d. Anggota DPD berdomisili di daerah pemilihannya dan selama bersidang
bertempat di ibukota RI
3. DPRD Provinsi terdiri dari anggota partai politik peserta pemilu yang
dipilih berdasarkan hasil pemilu :

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 29

a. Anggota DPRD Provinsi berjumlah minimal 35 kursi dan sebanyakbanyaknya 100 rang.
b. Keanggotaan DPRD diresmikan dengan keputusan Menteri dalamNegeri
atas nama presiden
c. Anggota DPRD provinsi berdomisili di ibukota provinsi.
4. DPRD kabupaten/Kota terdiriatas anggota partai politik peserta pemilu
yang di[ilih melalui pemilu :
a. Anggota DPRD Kabupaten/Kota berjumlah minimal 20 kursi dan
sebanyak-banyaknya 45 kursi.
b. Keanggotaanya diresmikan dengan keputusan Gubernur atas nama
presiden.
c. Anggota DPRD Kabupaten/Kota berdomisili di kota kabupaten
bersangkutan.
Perbedaan Pemilu Sebelum dengan sesuidah tahun 2004
N Pembeda
Sebelum 2004
Setelah 2004
o
1 Tujuan
Memilih
DPR,DPRD Memilih DPR,DPRD Provinsi dan
Pemilu
Provinsi
dan kota
ditambah
DPD
(Dewan
Kab./Kota
Perwakilan Daerah)
2

Sistem
Pemilihan

3.

Daerah
pemilihan

4.

Peserta
Pemilu
Syarat
partai
politik
peserta
pemilu

Dipusat dilaksanakan
oleh
KPU
dan
panitiapemilihan
indonesia

Prpporsional dengan daftar calon


terbuka (pilih coblos gambar partai
politik dan nama calon di bawah
gambar parpol yang dipilih.
1. Didasarkan
pada
jumlah
pendudk yang ada di wilayah
tersebut
2. daerah pemilihan untuk DPR
adalah provinsi, DPRD Provinsi
adalah
kabupaten/Kotamadya,
DPRD
Kabupaten
adalah
kecamatan
atau
gabungan
kecamatan.
Partai
politik
dan
perorangan
/individu
1. memiliki
pengurus
dan
sekretariat di dua atautiga pada
kabupaten/kotamadya yang ada
diprvinsi tersebut.
2. memiliki anggota 1000 orang
atau
seperseribu
pendudukdimasing-masing
kabupaten/kotamadya
yang
dibuktikan dengan kartu tanda
anggota.
1. didukung minimal 1000 orang di
provinsi yang berpenduduk satu
juta orang dan minimal 5000
orang di provinsiberpenduduk
kurang lebih 15 juta orang.
2. Dukungan tersebut tersebar di
sekurang-kurangnya di 25 % dari
jumlah
kabupaten/kotamadya
provinsi yang bersangkutan
Komusi pemilihan umum (KPU) dari
pusat sampai daerah yang bersifat
non partisipan, independen dan
tetap sampai 5 tahun.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 30

Proporsional
denga
stelsel
daftar
(pilih/coblos gambar
partai politik)
Didasarkan
pada
kabupaten/kotamady
a atau provinsi

Partai politik
Memiliki
pengurus
dan sekretariat tetap
di setengah pada
kabupaten/kotamady
a
yang
ada
di
provinsi

Syarat
Tidak ada
perseorang
an sebagai
pesertape
milu

Pasnitia
penyelengg
ara

Syarat
calon
legislatif

Pelibatan
peremuan
Perhitunga
n
perolehan
kursi
Penegakan
hukum

1
0
1
1

sebagaipelaksanape
milu.
Di
daerah
dilaksanakan
oleh
panitia
pemilihan
daerah (PPD) tk I dan
II
Surat
keterangan Harus memiliki ijazah SMA dan yang
dari pengurus parpol sederajat
yang
menyatakan
calon
punya
pengalaman setaraf
dengan SMA
Tidak ada
Nominasi
caleg
memperhatikan
kuota 30 % perempuan
Dulu ada stambus Menggunakansistem
accord
bilanganpembagi pemilihan
Tidak ada ketentuan Adaketentuan
pidana
beserta
pidana
hukum acaranya/prosedurnya

E. PELAKSANAAN BUDAYA DEMOKRASI


Di Lingkungan keluarga :
Masalah-masalah keluarga hendaknya diselesaikan dengan musyawarah.
Kepala keluarga selalu menyerap aspirasi dan pendapat dari anggota
keluarga untuk mencapai kata mufakat. Mamfaat musyawarah di
lingkungan keluarga adalah :
1. Seluruh anggota keluarga merasa berarti atau berperanan.
2. Anggota keluarga ikut bertanggung jawab terhadap keputusan
bersama.
3. Tidak ada anggota keluarga yang merasa ditinggalkan
4. Semangat kekluargaandan kebersamaan semakin kokoh.
Di
1.
2.
3.
Di
1.
2.
Di
1.
2.
3.

lingkungan sekolah :
Menyusun tata tertib bersama
Menyusun kelompok piket kelas
Mermilihketua OSIS, ketua kelas
Lingkungan masyarakat :
Pemilihan ketua RT
Musyawarah dyang menyangkut kepentingan bersama,sepertiprogram
pembaqngunan masyarakat dan lingkungan.
Lingkungan negara :
Terlibat dalam pemilihan umum
Melalui wakil kita terlibat dalampenyusunan Undang-undang
Melakukan engawasan baik terhadap wakil rakyatmaupun pemerintah
melalui media massa.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 31

Uji Kompetensi (Latihan Soal)


PILIHLAH JAWABAN BERIKUT YANG PALING TEPAT!
1 Demokrasi pertama kali digunakan di ...
a Italia
b Inggris
c Prancis
d Yunani
e Belanda
2 Masyarakat madani juga dikenal dengan istilah...
a reformation society
b elite society
c modern society
d civil society
e madani society
3 Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat,
adalah pendapat dari...
a Aristoteles
b Abraham Lincoln
c Notonagoro
d Karl Max
e Plato
4 Indonesia adalah negara demokrasi, sebagaimana tercantum dalam UUD
1945, pasal...
a 1 ayat 1
b 1 ayat 2
c 2 ayat 1
d 3 ayat 1
e 4 ayat 1
5 Demokrasi konstitusional disebut juga demokrasi...
a formal
b material
c liberal
d komunis
e gabungan
6 Keikutsertaan rakyat dalam pemerintahan terjadi dalam negara yang
menganut system pemerintahan
a parlementer
b komunis
c otoriter
d liberal
e demokratis
7 Lembaga negara yang bertugas membuat UU adalah
a eksekutif
b legislatif
c yudikatif
d fakultatif
e normatif
8 Hal yang paling penting dan menjadi syarat langgengnya pelaksanaan
demokrasi di dalam suatu negara adalah...
a penguasa yang bertanggung jawab
b rakyat berpolitik
c parlemen berfungsi
d ada lembaga perwakilan
e ada partisipasi rakyat
9 Demokrasi rakyat disebut juga sebagai demokrasi
a formal
b material
c liberal
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 32

d komunis
e gabungan
10 Suatu sistem demokrasi dimana kedaulatan di tangan rakyat dilaksanakan
melalui wakil-wakilnya yang duduk di badan perwakilan rakyat (legislatif,
parlemen) adalah penerapan dari demokrasi
a langsung
b tidak langsung
c konstitusional
d formal
e material
11 Kelompok masyarakat bernegara yang secara khusus mengatur dirinya
dalam konstelasi politik disebut
a masyarakat negara
b masyarakat politik
c masyarakat madani
d negara
e rakyat
12 Prinsip-prinsip pemerintahan demokrasi adalah berikut, kecuali
a adanya pemisahan/pembagian kekuasaan
b pemerintahan konstitusional
c rule of law
d pemilu yang bebas
e pengakuan terhadap hak-hak mayoritas
13 Menurut UUD 1945 yang berhak membentuk kabinet adalah
a MPR
b Presiden
c DPR
d Presiden dan DPR
e MPR dan DPR
14 Semua warga negara datang sendiri tanpa perantara ke Tempat
Pemungutan Suara (TPS) dalam pemilu, hal ini merupakan asas
a langsung
b umum
c bebas
d rahasia
e adil
15 Berikut ini lembaga-lembaga demokrasi, kecuali...
a pemerintah yang bertanggung jawab
b pemilu yang bebas
c pers
d parlemen
e birokrasi
16 Demokratisasi adalah
a suatu masyarakat yang didasarkan pada hukum
b sekelompok urusan politik yang ada di lingkungan kita
c proses menuju pelaksanaan demokrasi
d kebijakan pemerintah yang ditanamkan pada rakyat
e sekelompok masyarakat dalam suatu negara
17 Ciri demokratisasi adalah proses yang terjadi secara evolusioner, artinya
a proses tanpa akhir
b proses yang berlangsung cepat
c proses yang berjalan bertahap
d proses dengan jalan persuasif
e proses yang terus menerus
18 Salah satu penyimpangan demokrasi masa orde baru adalah
a pembangunan yang tidak merata
b penekanan pada stabilitas politik
c prioritas pada pembangunan ekonomi
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 33

d pemberian kesempatan timbulnya banyak partai


e sentralisasi kekuasaan
19 Dalam sistem pemerintahan Indonesia kekuasaan yudikatif dipegang
oleh...
a MA
b Presiden
c DPR
d MPR
e BPK
20 Semua warga negara yang memenuhi persyaratan sesuai UU berhak
mmengikuti pemilu, termasuk asas
a jujur
b adil
c langsung
d umum
e bebas
21 Liberalisme adalah paham yang menitikberatkan pada kepentingan
a individu
b masyarakat
c negara
d rakyat dan individu
e masyarakat dan individu
22 Demokrasi rakyat yang diterapkan di negara komunis umumnya mencitacitakan
a pengekangan kebebasan individu
b melarang kebebasan beragama
c masyarakat tanpa keteraturan
d masyarakat tanpa kelas social
e kaum proletar yang berkuasa
23 Menurut demokrasi, pemegang kedaulatan yang tertinggi yaitu
a Pemerintah
c. menteri
e. rakyat
b Presiden
d. negara
24 Presiden tidak bertanggung jawab kepada parlemen (DPR), merupakan ciri
sistem pemerintahan
a Liberal
c. parlementer
e. presidensial
b Terpimpin
d. absolut
25 Yang bukan merupakan badan eksekutif Indonesia adalah
a kabinet
b presiden
c wakil presiden
d menteri-menteri
e DPR
C. JAWABLAH PERTANYAAN DI BAWAH INI DENGAN JELAS DAN TEPAT!
1. Jelaskan pentingnya budaya demokrasi dalam negara demokrasi!
2. Jelaskan yang dimaksud demokrasi formal!
3. Apakah yang dimaksud dengan masyarakat madani?
4. Bagaimanakah kedudukan MPR setelah amandemen UUD 1945 dalam
Negara Indonesia yang demokratis?
5. Mengapa siswa SMA/MAN perlu mengembangkan budaya politik
demokrasi?

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 34

MODUL 3
KETERBUKAAN DAN KEADILAN
A. PENDAHULUAN
Prinsip keterbukaan menghendaki agar penyelenggaraan pemerintahan
dilkasanakan secara terbuka dan transparan, artinya berbagai kebijakan
dalam penyelenggaraan pemerintahan haruslah jelas tidak sembunyisembunyi dan rahasia melainkan perencanaan pelaksanaan dan
pertanggungjawaban harus diketahui publik serta rakyat berhak atas
informasi yang faktual mengenai penyelenggaraan pemerintahan.
Keadilan merupakan suatu ukuran keabsahan suatu tatanan kehidupan
berbangsa bermasyarakat dan bernegara. Perwujudan keadilan perlu
diupayakan dengan memberikan jaminan terhadap tegaknya keadilan.
B. KETERBUKAAN DAN KEADILAN DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA
DAN BERNEGARA
1. Pengertian Keterbukaan dan keadilan
Keterbukaan atau transparansi berasal dari kata dasar terbuka dan
transparan, yang secara harfiah berarti jernih, tembus cahaya, nyata, jelas,
mudah dipahami, tidak keliru, tidak sangsi atau tidak ada keraguan. Dengan
demikian
Keterbukaan
atau
transparansi
adalah
tindakan
yang
memungkinkan suatu persoalan menjadi jelas mudah dipahami dan tidak
disangsikan lagi kebenarannya.
Kaitannya dengan penyelenggaraan
pemerintahan, keterbukaan atau transparansi berarti kesediaan pemerintah
untuk senantiasa memberikan informasi faktual mengenai berbagai hal yang
berkenaan dengan proses penyelenggaraan pemerintahan.
Keadilan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berasal darai kata adil
yang berarti kejujuran, kelurusan dan keikhlasan dan tidak berat sebelah,
tidak memihak, tidak sewenang-wenang.
Menurut Ensiklopedi Indonesia kata Adil berarti :
Tidak berat sebelah atau tidak memihak kesalah satu pihak.
Memberikan sesuatu kepada setiap orang sesuai dengan hak yang harus
diperolehnya.
Mengetahui hak dan kewajiban, mana yang benar dan yang salah, jujur,
tepat menurut aturan yang berlaku.
Tidak pilih kasih dan pandang siapapun, setiap orang diperlakukan sesuai
hak dan kewajibannya.
2. Macam-Macam Keadilan
a. Keradilan Komutatif (iustitia commutativa) yaitu keadilan yang
memberikan kepada masing-masing orang apa yang menjadi bagiannya
berdasarkan hak seseorang (diutamakan obyek tertentu yang merupakan
hak seseorang).
Contoh:
adalah adil kalau si A harus membayar sejumlah uang kepada si B
sejumlah yang mereka sepakati, sebab si B telah menerima barang
yang ia pesan dari si A.
Setiap orang memiliki hidup. Hidup adalah hak milik setiap orang,maka
menghilangkan hidup orang lain adalah perbuatan melanggar hak dan
tidak adil
b. Keadilan Distributif (iustitia distributiva) yaitu keadilan yang memberikan
kepada masing-masing orang apa yang menjadi haknya berdasarkan asas
proporsionalitas atau kesebandingan berdasarkan kecakapan, jasa atau
kebutuhan.
Contoh keadilan Distributif :
Adalah adil kalau si A mendapatkan promosi untuk menduduki jabatan
tertentu sesuai dengan kinerjanya selama ini.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 35

Adalah tidak adil kalau seorang pejabat tinggi yang koruptor


memperoleh penghargaan dari presiden.
c. Keadilan legal (iustitia Legalis), yaitu keadilan berdasarkan Undangundang (obyeknya tata masyarakat) yang dilindungi UU untuk kebaikan
bersama (bonum Commune).
Contoh:
Adalah adil kalau semua pengendara mentaati rambu-rambu lalulintas.
Adalah adil bila Polisi lalu lintas menertibkan semua pengguna jalan
sesuai UU yang berlaku.
d. Keadilan Vindikatif (iustitia vindicativa) adalah keadilan yang memberikan
kepada masing-masing orang hukuman atau denda sesuai dengan
pelanggaran atau kejahatannya.
Contoh:
Adakah adil kalau si A dihukum di Nusa Kambangan karena kejahatan
korupsinya sangat besar.
Adalah tidak adil kalau koruptor hukumannya ringan sementara pencuri
sebuah semangka dihukum berat.
e. Keadilan kreatif (iustitia creativa) adalah keadilan yang memberikan
kepada masing-masing orang bagiannya berupa kebebasan untuk
mencipta sesuai dengan kreatifitas yang dimilikinya di berbagai bidang
kehidupan.
Contoh:
Adalah adil kalau seorang penyair diberikan kebebasan untuk menulis,
bersyair sesuai dengan kreatifitasnya.
Adalah tidak adil kalau seorang penyair ditangkap aparat hanya karena
syairnya berisi keritikan terhadap pemerintah.
f. Keadilan protektif (justitia protectiva) adalah keadilan yang memberikan
perlindungan kepada pribadi-pribadi dari tindakan sewenang-wenang
pihak lain.
g. Keadilan Sosial
Menurut Franz Magnis Suseno, keadilan sosial adalah keadilan yang
pelaksanaannyatergantung dari struktur proses eknomi, politik, sosial,
budaya dan ideologis dalam masyarakat. Maka struktur sosial adalah hal
pokok dalam mewujudkan keadilan sosial. Keadilan sosial tidak hanya
menyangkut upaya penegakan keadilan-keadilan tersebut melainkan
masalah kepatutan dan pemenuhan kebutuhan hidup yang wajar bagi
masyarakat.
Keadilan menurut Aristoteles :
1) Keadilan Distributif, keadilan yang berhubungan dengan distribusi jasa
dan kemakmuran menurut kerja dan kemampuannya.
2) Keadilan komutatif, yaitu keadilan yang berhubungan dengan
persamaan yang diterima oleh setiap orang tanpa melihat jasa-jasa
perseorangan.
3) Keadilan kdrat alam, yaitu keadilan yang bersumber pada hukum
kodrat alam.
4) Keadilan konvensional adalah keadilan yang mengikat warga negara
karena keadilan itu didekritkan melalui kekuasaan.
Keadilan menurut Prof. Dr. Notonagoro SH, menambahkan adanya
keadilan legalitas, yaitu keadilan hukum.
3. Makna Keterbukaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
Dalam teori demokrasi pemerintahan yang terbuka adalah suatu hal yang
esensial atau penting terutama akses bebas setiap warga negara terhadap
berbagai sumber informasi, supaya tidak terjadi saling curiga antar individu,
masyarakat dengan pemerintah. Keterbukaan dalam penyelenggaraan yaitu
setiap kebijakan haruslah jelas , tidak dilakukan secara sembunyi, rahasia
tetapi perencanaan, pelaksanaan, pertanggungjawabannya bisa diketahui

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 36

publik dan rakayat berhak atas informasi faktual mengenai berbagai hal yang
menyangkut pembuatan dan penerapan kebijakan.
Ada 3 alasan pentingnya keterbukaan dalam penyelenggaraan
pemerintahan :
a. Kekuasaan pada dasarnya cenderung diselewengkan. Semakin besar
kekuasaan semakin besar pula kemungkinan terjadi penyelewengan.
b. Dasar penyelenggaraan pemerintahanh itu dari rakyat oleh rakyat dan
untuk rakyat, agar penyelenggaraan pememrintahan itu tetap dijalur
yang benar untuk kesejahteraan rakyat.
c. Dengan keterbukaan memungkinkan adanya akses bebas bebas
warganegara terhadap informasi yang pada gilirannya akan memiliki
pemahaman yang jernih sehingga mampu berpartisipasi aktif dalam
menciptakan pemerintahan yang konstruktif dan rasional.
Ciri-ciri keterbukaan menurut David Beetham dan Kevin Boyle :
a. Pemerintah menyediakan berbagai informasi faktual mengenai kebijakan
yang akan dan sudah dibuatnya.
b. Adanya peluangnbagi publik dan pers untuk mendapatkan atau
mengakses berbagai dkumen pemerintah melalui parlemen.
c. Terbukanya rapat-rapat pemerintah bagi publik dan pers, termasuk rapatrapat parlemen.
d. Adanya konsultasi publik yang dilakukan secara sistematik oleh
pemerintah mengenai berbagai kepemtingan yang berkaitan dengan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan.
Prinsip mengenai pemerintahan yang terbuka tidak berarti bahwa semua
informasi mengenai penyelenggaraan boleh diakses oleh publik. Ada
informasi tertentu yang tidak boleh diketahui oleh umum berdasarkan
undang-undang.
Menurut David Beetham dan Kevin Boyle ada 5 hal informasi yang
tidakboleh diketahui publik yaitu:
a. Pertimbangan-pertimbangan cabinet
b. Nasehat politis yang diberikan kepada menteri
c. Informasi-informasi
yang
menyangkut
pertahanan
nasional,
kelangsunganhidup demokrasi dan keselamatan individu-idividu, warga
masyarakat.
d. Rahasia perdagangan dari oerusahaan swasta.
e. Arsip pribadi kecuali sangat dibutuhkan.
Menurut Freedom of Information Act di Amerika Serikat, ada 9 informasi
yang bersifat rahasia namun tidak wajib tergantung pada suatu lembaga,
yaitu :
a. Mengenai keamanan nasional dan politikluar negeri (rencana militer,
persenjataan, data iptek tentang keamanan nasional dan data CIA)
b. Ketentuan internal lembaga
c. Informasi yang secara tegas dilarang UU untuk diakses publik.
d. Infrmasi bisnis yang bersifat sukarela.
e. Memo internal pemerintah
f. Informasi pribadi (personal privacy)
g. Data yang berkenaan dengan penyidikan
h. Informasi lembaga keuangan
i. Informasi dan data geologis dan geofisik mengenai sumbernya.
Pengertian Pemerintahan yang baik (Good Governance):
a. World Bank, Good Gevernance adalah suatu penyelenggaraan
manajemen pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab sejalan
dengan prinsip demokrasi,pasar yang efisien, pencegahan korupsi
menjalankan desiplin anggaran dan penciptaan kerangka hukum dan
politik bagi tumbuhnya aktivitas swasta.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 37

b. UNDP,Good Governance adalah suatu hubnungan yang sinergis dan


konstruktif di antara sektr swasta dan masyarakat.
c. Peraturan Pemerintah No. 101 tahun 2000, Pemerintahan yangbaik
adalah pemerintahan yang mengembangkan dan menerapkan prinsipprinsip profesionalitas, akuntabilitas, tranparansi, pelayanan prima,
demokrasi, efisiensi, efektivitas, supremasi hukum dan dapat diterima
seluruh masyarakat.
Ciri atau karakteristik, prinsip Good Governance menurut UNDP :
a. Partisipasi (Participation), yaitukeikutsertaan masyarakat dalam proses
pembuatan keputusan, kebebasan berserikat dan berpendapat,
berpartisipasi secara konstruktif.
b. Aturan Hukum (rule of law), hukum harus adil tanpa pandang bulu.
c. Tranparan (transparency) yaitu adanya kebebasan aliran informasi
sehingga mudah diakses masyarakat.
d. Daya Tanggap (responsivenes) yaitu proses yang dilakukan setiap institusi
diupayakan untuk melayani berbagai pihak (stakeholder).
e. Berorientasi Konsessus (Consensus Oriented) bertindak sebagai mediator
bagi kepentingan yang berbeda untuk mencapai kesepakatan.
f. Berkeadilan (equity) memberikan kesempatan yang sama baik pada laki
maupun perempuan dalamupaya meningkatkan danmemelihara kualitas
hidupnya.
g. Efektifitas dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency) segala proses dan
kelembagaan diarahkan untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar
sesuai dengan kebutuhan melalui pemamfaatan berbagai sumber yang
tersedia dengan baik.
h. Akuntabilitas (Accountability) yaitupara pengambilkeputusan
baik
pemerintah, swasta dan masyarakat madani harus bertanggung jawab
pada publik.
i. Bervisi strategis (stratrgic Vision) para pemimpin dan masyarakat emiliki
perspektif yang luas dan jangka panjang dalam menyelenggaraan dan
pembangunan dengan mempertimbangkan aspek historis,kultur dan
kompleksitas sosial.
j. Kesalingketerkaitan
(Interrelated),adanya
kebijakan
yang
saling
memperkuat dan terkait (mutually reinforcing) dan tidak berdiri sendiri.
Prinsip-prinsip, ciri atau karakteristik
good governance menurut
Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) ada sembilan macam :
a. Partisipasi masyarakat, semua warga masyarakat mempunyai hak suara
dalam pengambilan keputusan, langsung atau tak langsung melalui
lembaga perwakilan yang sah seperti DPR, DPD.
b. Tegaknya supremasi hukum, bersifat adil dan diberlakukan kepada setiap
orang tanpa pandang bulu.
c. Keterbukaan, seluruh informasi mengenai proses pemerintahan dan
mengenai lembaga-lembaga pemerintahan lainnya dapat diakses oleh
pihak yang berkepentingan, informasi harus memadai agar dapat
dipantau rakyat melalui media massa, tv, radio atau internet.
d. Peduli pada stakeholder, lembaga-lembaga dan proses pemerintahan
berusaha melayani masyarakat tanpa diskriminasi.
e. Berorientasi pada konsensus, menjembatani kepentingan kepentingan
yang berbeda dalam kelompok masyarakatdemi keentinmgan masyarakat
secara menyeluruh.
f. Kesetaraan, semua warga masyarakat memiliki kesempatan yang sama
untuk memperbaiki dan mempertahankan kesejahteraan mereka.
g. Efektifitas dan efisiensi, proses-proses pemerintahan dan lembagalembaga mampu menggunakan sumber daya yang ada secara maksimal
untuk kebutuhan masyarakat.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 38

h. Akuntabilitas, para pengambil keputusan pemerintah, swasta, organisasi


masyarakat bertanggung jawab kepada masyarakat ayau lembaga yang
bersangkutan.
i. Visi Strategis, para pemimpin dan masyarakat memiliki:
Persfektif yang luas jauh kedepan mengenai tata pemerintahan yang
baik dan pembangunan manusia.
Kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan
pemngembangan pemerintahan yang baik
Pemahaman atas kompleksitas sejarah, budaya dan sosial yang
menjadi dasar persfektif kedepan tersebut.
Asas-asas umum Pemerintahan yang baik menurut UU No. 28 Tahun 1999
tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari KKN pasal 3
yaitu:
a. Asas kepastian hukum, mengutamakan peraturan perundangan,
kepatuatn dan keadilan sebagai dasar setiap kebijakan penyelenggara
negara.
b. Asas tertib penyelenggara negara, mengedepankan keteraturan,
keserasian keseimbangan sebagai landasan penyelenggaraan negara.
c. Asas kepentingan umum yaitu mendahulukan kesejahteraan umum
dengan cara yang aspiratif, akomodatif dan selektif.
d. Asas keterbukaan, yaitu membuka diri terhadap hak masyarakat untuk
memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatif dan tetap
memperhatikan perlindungan terhadap hak asasi pribadi. Golongan dan
rahasia negara.
e. Asas proporsionalitas,mengutamakan keseimbangan antara hak dan
kewajiban penyelenggara negara.
f. Asas Profesionalitas, mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode
etikperaturan yang berlaku.
g. Asas akuntabilitas,yaitu setiap kegiatan penyelenggara negar dan
hasilnya harus dapat dipertanggung jawabkan kepada rakyat sebagai
pemegang kedaulatan tertinggi sesuai peraturan yang berlaku.
C. DAMPAK
PENYELENGGARAAN
YANG
TIDAK
TERBUKA
(TRANSPARAN)
Akibat yang secara langsung dari penyelenggaraan pemerintahan yang
tidak transparan adalah terjadinya korupsi politik yaitu penyalahgunaan
jabatan publik untuk keuntungan pribadi atau kelompok. Di masa orde baru
korupsi politik hampir disemua tingkatan pemerinah, dari pemerintahan desa
sampai tingkat pusat. Negara kita saat itu termasuk salah satu negara
terkorup di dunia. Korupsi politik itu membawa akibat lanjutan yang luar
biasa yaitu krisis multi deminsional di berbagai bidang kehidupan politik,
ekonomi, sosial dan budaya, pertahanan keamanan, krisis kepercayaan
rakyat kepada pemerintah, krisis moral dipemerintahan.
Di bidang politik, lembaga politik baik eksekutif, legislatif dan yudikatif
tak berfungsi optimal. Mereka sangat sedikit menghasilkan kebijakan yang
berpihak untuk kepentingan umum. Sering kali kebijakan itu sebagai proyek
untuk memperkaya diri. Yudikatif sering memutuskan yang bertentangan
rasa keadilan, sebab hukum bisa dibeli.
Di bidang Ekonomi, semua kegiatan ekonomi yang bersinggungan
dengan birokrasi pemerintahan di warnai uang pelicin asehingga kegiatan
ekonmi berbelit-belit dan mahal. Invesrtor menjadi enggan berinvestasi
karena banyak perizinan sehingga perekonomian tidak tumbuh maksimal.
Di bidang sosial, budaya dan agama, terjadi pendewaan materi dan
konsumtif. Hidup diarahkan semata untuk memperoleh kekayaan dan
kenikmatan hidup tanpamemperdulikan moral dan etika agama seperti
korupsi dan pelanggaran etikamoral.contoh kasus anggota DPR yg
tersandung korupsi dan atau wil.
Di bidang pertahanan dan keagamaan, terjadi ketertinggalan
profesinalitas aparatyaitu tidak sesuai dengan tuntutan zaman sehingga
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 39

aparat keamanan tidak mampu mencegah secara dini gejolak sosial dan
gangguan keamanan.
Indikator-Indikator Penyelenggaraan pemerintrahan yang tidak transparan
dan akibatnya menurut karateristik, ciri, prinsip pemerintahan yang baik
menurut UNDP :
N Karakteri Indikator penyelenggaraan Akibatnya
o
stik
1
Partisipasi
Warga
masyarakat Warga masyarakat dan
dibatasi/tidak memiliki hak pers cenderung pasif,
suara
dalam
proses tidak ada kritik, unjuk
rasa, masyarakat tidak
pengambilan keputusan
terkekang

Informasi hanya sepihak berdaya


(top-down) lebih bersifat dengan berbagai aturan
dan doktrin
instruktif

Lembaga
perwakilan
tidak dibangun berdasarkan
kebebasan berpolitik (partai
Tunggal)

Kebebasan
berserikat
dan berpendapat serta pers
sangat dibatasi
2
Aturan

Hukum dan peraturan Masyarakat lemah dan


hukum
banyak
hidup
lainnya lebih berpihak pada masih
dalam
ketakutan
dan
penguasa

Penegakan hukum (law tertekan


enforcement) lebuh banyak
berlaku bagi masyarakat
bawah baik secara politik
maupun ekonomi

Peraturan
tentang
HAMterabaikan
demi
stabilitas dan pencapaian
tujuan negara
3

Transparan

Daya
tanggap

Berorienta
si
konsensus

Informasi yang didapat


satu
arah
hanya
dari
pemerintah dan terbatas
Sulit bagi masyarakat
untuk
memonitor/
mengevaluasi
penyelenggaraan
pemerintahan
Proses
pelayanan
sentralistik dan kaku
Banyak
pejabat
memposisikan diri sebagai
sebagai penguasa
Pelayanan
masyrakat
masih
diskriminatif,
knvensional,
bertele-tele
(tidak responsif)
Pemerintah lebih banyak
bertindak
sebagai
alat
kekuasaan negara
Lebih banyak bersifat
komando dan instruksi

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Pemerintah
tertutup
dengan
segala
keburukannya sehingga
masyarakat tidak tahu
apa yang terjadi

Segala pelayanan penuh


dengan KKN

Pemerintah
cenderung
otoriter karena konsensus
dan musyawarah tertutup

Page 40

Berkeadila
n

Efektivitas
dan
efisiensi

Akuntabilit
as

Bervisi
strategis

10 Kesalingte

Segala prosedur masih


bersifat sekedar formalitas
Tidxak
ada
peluang
untuk
mengadakan
knsensus dan musyawarah
Adanya
diskriminasi
gender
dalam
penyelenggaraan
pemerintshsn
Menutup peluang bagi
terbentuknya
organisasi
non pemerintah/LSM yang
menuntut keadilan dalam
berbagai segi kehidupan
Masih banyak aturan
yang berpihak pada gender
tertentu
Manajemen
penyelenggaraan
negara
bersifat konvensional dan
terpusat
Kegiatan
penyelenggaraan
negara
lebih banyak digunakan
untuk acara seremonial
Pemanfaatan SDA dan
SDM
tidak
berdasarkan
prinsip kebutiuhan
Pengambil
keputusan
dominasi pemerintah
Swasta dan masyarakat
memiliki peran sangat kecil
terhadap pemerintah
Pemerintah memonopoli
berbagai
alat
produksi
strategis
Masyarakat dan pers
tidak diberi peluang utuk
menilai
jalannya
pemerintahan
Pemerintah lebih dengan
kemapanan
yang
telah
dicapai
Sulit
menerima
perubahan yang berkaitan
dengan masalah politik,
hukum dan ekonomi
Kurang mau memahami
aspek-aspek
kultural,
historis, kompleksitas sosial
masyarakat
Penyelenggaraan
pemerintahan statis dan
tidak memiliki jangkauan
jangka panjang
Banyak penguasa yang

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Arogansi
kekuasaan
sangat dminan dalam
menetukan
penyelenggaraan
pemerintahaqn

Negara cenderung salah


urus dalam mengolah
SDA dan SDM sehingga
banyak
pengangguran
tidak memiliki daya saing

Pemerintah
dominan
dalam
semua
lini
kehidupan
sehingga
warga
masyarakatnya
tidak
berdaya
untuk
mengntrol apa yang telah
dilakukan pemerintahnya

Banyak penguasa yang


pro
status
quo
dan
kemapanan
sehingga
tidak perduli terhadap
perubahan
internal
maupun
internal
negaranya

Para

pejabat

dianggap
Page 41

rgantunga
n

arogan dan mengabaikan


peran
swasta
dan
masyarakat
Pemerintah
merasa
paling benar dan pintar
dalam
menentukan
jalannya pemerintahan
Masukan
atau
kritik
dianggap provokator dan
anti
kemapanan
dan
stabilitas
Swasta dan masyarakat
tidak diberi kesempatan
untuk
bersinergi
dalam
membangun negara

lebih tahu dalam segala


hal sehingga masyarakat
tidak punya keinginan
untuk bersinergi dalam
membangun negaranya

D. MENUNJUKKAN
BENTUK
SIKAP
YANG
MENCERMINKAN
KETERBUKAAN DAN KEADILAN DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA
DAN BERNEGARA
1. Apresiatif terhadap keterbukaan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, yaitu upaya untuk memahami, menilai, dan menghargai
keterbukaan dalamkehidupan berbangsa dan bernegara, seperti :
a. berusaha mengetahui dan memahami hal yang mendasar atau elementer
tentrang keterbukaan dan keadilan.
b. Aktif mencermati kebijakan dalam kehidupan bangsa dan negara.
c. Berusaha menilai perkembangan keterbukaan dan keadilan
d. Menghargai tindakan pemerintah atau pihak lain yang konsisten dengan
prinsip keterbukaan
e. Mengajukan keritik terhadap tindakan yang bertentangan dengan prinsip
keterbukaan
f. Menumbuhkan
danmempromosikan
budaya
keterbukaan
dan
transparansi mulai dari keluarga, masyarakat dan lingkungan kerja.
2. Berpartisipasi dalam upaya peningkatan jaminan keadilan dari lembaga
yang bertugas untuk menjamin keadilan dan prilaku positif masyarakat
dalam upaya meningkatkan jaminan keadilan, seperti :
a. Mengetahui hal-hal yangnmendasar tentang keadilan
b. Mencermati fakta ketidakadilan dalam masyarakat dan kebijakan yang
berkaitan dengan keadilan
c. Memantau kinerja lembaga yang bertugas memberikan keadilan
d. Menghargai tindakan berbagai pihak yang memperkuat jaminan keadilan
e. Mengajukan kritik terhadap tindakan yang tidak adil dan mencari solusi
jaminan keadilan
f. Membiasakan diri bertindak adil dari keluarga, masyarakat dan
lingkungan kerja.

2.

Uji Kompetensi (Latihan Soal)


PILIHLAH JAWABAN YANG PALING TEPAT!
1. Sikap terbuka adalah ...
a. tidak bersedia memberitahukan dan menerima pengetahuan atau
informasi dari pihak lain
b. bersedia memberitahukan dan menerima pengetahuan atau informasi
dari pihak lain
c. aktif dalam mencari pengetahuan dan informasi dari pihak lain
d. semua orang dapat melihat dengan jelas apa yang diinginkan
e. kehidupan yang penuh dengan permusuhan
Era keterbukaan ditandai dengan ...
a. semua kehidupan cenderung menngunakan standar barat
b. pesatnya perkembangan informasi, telekomunikasi dan transportasi
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 42

c. terbukanya dalam bidang epoliteksosbudhankam


d. perlunya perkembangan IPTEK
e. kecanggihan teknologi informasi dikuasai barat
3. Adil dapat diartikan sebagai berikut, kecuali
a. tidak berat sebelah
b. sama rata dan sama rasa
c. menempatkan sesuatu pada tempatnya
d. tindakan yang tidak sewenang-wenang
e. tindakan yang berdasarkan norma
4. Keadilan yang berhubungan dengan distribusi jasa dan kemakmuran
menurut cara kerja dan kemampuannya disebut
a. keadilan distributif
b. keadilan komutatif
c. keadilan konvensional
d. keadilan kodrat alam
e. keadilan legalitas
5. Mengutamakan
keseimbangan
antara
hak
dan
kewajiban
penyelenggaraan negara, adalah
a. asas akuntabilitas
b. asas proporsionalitas
c. asas profesionalitas
d. asas keterbukaan
e. asas kepastian hukum
6. Penyelenggaraan negara yang baik akan dapat menciptakan
pemerintahan yang baik disebut
a. transparansi
b. akomodasi
c. good governance
d. kualitas
e. komunitas
7. Penyelenggaraan pemerintahan bernegara yang penuh keterbukaan
merupakan ciri
a. pemerintahan yang transparan
b. pemerintahan yang demokratis
c. pemerintahan liberal
d. pemerintahan yang baik
e. pemerintahan yang benar
8. Kemajuan IPTEK mempunyai dampak negatif dalam bentuk paham/sikap
sebagai berikut, kecuali
a. materialistis
b. optimis
c. egoistis
d. glamouristis
e. individualistis
9. Seorang pemimpin dalam membina anak buahnya, apabila di belakang
harus mampu memberikan dorongan, adalah arti dari prinsip
kepemimpinan
a. ing ngarso sung tuladha
b. ing madya mangun karso
c. tut wuri handayani
d. eling lan waspada
e. mulat sarira
10.
Pelaksanaan demokrasi di sekolah dapat dilihat pada waktu
a. pemilihan siswa teladan
b. pemilihan kepala sekolah
c. pemilihan ketua OSIS
d. pemilihan kegiatan ekstrakurikuler
e. pemilihan guru teladan
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 43

11.
Apabila seseorang telah mentaati segala peraturan yang berlaku,
maka perbuatan tersebut telah mencerminkan keadilan ...
a. distributif
b. komutatif
c. kodrat alam
d. konvensional
e. legalitas
12.
Ciri orang yang bersifat terbuka antara lain
a. banyak berpendapat
b. menghargai pendapat
c. berbicara kepada siapapun
d. membenarkan pendapat sendiri
e. bebas berbicara
13.
Hukum harus adil tanpa pandang bulu, ditegakkan dan dipatuhi
secara utuh adalah salah satu ciri praktek penyelenggaraan
pemerintahan yang baik yaitu
a. participation
b. rule of law
c. transparency
d. responsiveness
e. equity
14.
Berikut ini akibat dari penyelenggaraan pemerintahan yang tidak
transparan, kecuali
a. warga masrakat dan pers cenderung pasif
b. masyarakat tidak berdaya dan terkekang dengan berbagai aturan doktrin
c. penguasa menjadi otoriter
d. pemerintah sangat terbuka dengan segala hal
e. masyarakat tidak banyak tahu tentang apa yang terjadi pada negaranya
15.
Bangsa Indonesia tidak bisa menghindari dampak globalisasi
untuk mencegah masuknya nilai-nilai dari luar, namun yang penting bagi
kita adalah bersikap selektif terhadap budaya luar yang masuk,
maksudnya adalah
a. mengambil yang sesuai dengan kemauan rakyat
b. menyerap yang sesuai dengan kemauan bangsa
c. memilih yang sesuai dengan perkembangan zaman
d. memilih yang sesuai dengan kepribadian kita
e. menerima dengan baik demi kemajuan kita
16.
Keadilan yang berhubungan dengan persamaan yang diterima
oleh setiap orang tanpa melihat jasa-jasa perorangan disebut
a. keadilan distributif
b. keadilan komutatif
c. keadilan konvensional
d. keadilan kodrat alam
e. keadilan legalitas
17.
Penyelenggara negara dalam arti sempit adalah
a. eksekutif
b. legislatif
c. yudikatif
d. federatif
e. semua benar
18.
Pemerintah dalam arti luas adalah
a. eksekutif
b. legislatif
c. yudikatif
d. eksekutif, legislatif dan yudikatif
e. eksekutif, legislatif dan komutatif

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 44

19.
Asas yang mengharuskan para penyelenggara negara dalam
bertindak harus tetap berdasarkan pada peraturan perundang-undangan.
Kepatuhan dan keadilan dalam setiap kebijaksanaannya adalah asas
a. proporsionalitas
b. kepastian hukum
c. tertib penyelenggaraan negara
d. kepentingan umum
e. keterbukaan
20.
Sikap yang harus diambil ketika setiap keputusan sebagai hasil
musyawarah maupun berdasarkan suara terbanyak telah ditetapkan
adalah harus diterima dengan kesungguhan, keikhlasan hati serta
a. kecenderungan dan kebersamaan
b. kejujuran dan keterbukaan
c. kejujuran dan tanggung jawab
d. ketulusan hati dan kebersamaan
e. ketulusan hati dan keterbukaan
21.
Pemerintahan mempunyai arti
a. orang yang memerintah
b. orang yang bertugas mengatur negara dengan rakyatnya
c. hal cara atau hasil kerja memerintah
d. lembaga yang berwenang memerintah
e. orang yang bertugas memajukan negara dan rakyatnya
22.
Seseorang yang selalu ikut serta dalam pengambilan keputusan,
maka secara politis ia mempunyai sikap
a. aktif
b. pasif
c. tidak aktif
d. apatis
e. partisipatif
23.
Dalam pemilihan pejabat publik pada era orde baru dikenal istilah
yang mencerminkan KKN yaitu ..
a. siapa suka boleh coba
b. siapa pintar dia dapat
c. siapa ada dia dapat
d. siapa dekat dia dapat
e. siapa mau boleh beli
24.
Sendi pokok dalam soal hokum adalah
a. transparan
b. demokrasi
c. globalisasi
d. adil
e. terbuka
25.
Memberikan kesempatan yang sama terhadap laki-laki dan
perempuan dalam upaya meningkatkan dan memlihara kualitas hidupnya
merupakan prinsip
a. partisipasi
b. transparan
c. aturan hukum
d. akuntabilitas
e. berkeadilan
C. JAWABLAH PERTANYAAN DI BAWAH INI DENGAN JELAS DAN TEPAT!
1. Mengapa keterbukaan itu perlu?
2. Sebutkan salah satu contoh kebijakan pemerintah saat ini yang bersifat
terbuka bagi publik!
3. Apakah akibat yang ditimbulkan dari pemerintahan yang tidak
transparan?
4. Berikan contoh kebijakan yang transparan di lingkungan sekolahmu!
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 45

5. Apakah keuntungan yang diperoleh dari sikap keterbukaan di lingkungan


keluarga?

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 46

MODUL
MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

OLEH
M. CHUSNUL IRFANDI

(BERLAKU UNTUK KALANGAN SENDIRI)

SMA NEGERI 9 MALANG


SEMESTER GENAP
TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 47

LEMBAR PENGESAHAN
MODUL/DIKTAT PKN
UNTUK SISWA KELAS XI IPA& IPS
SEMESTER GENAP

OLEH
NAMA

: M. CHUSNUL IRFANDI.

NIP

: 19560723 198503 1 008 .

JABATAN

: GURU SMAN 9 MALANG/ WAKIL KETUA

MGMP PKn
SMA,MA DAN SMK KOTA MALANG

MODUL/DIKTAT
INI TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN PADA

TGL 17 JULI 2013 OLEH :


KEPALA SEKOLAH
SMA NEGERI 9 MALANG

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 48

KATA PENGANTAR

Penggunaan modul ini masih membutuhkan penyempurnaan dalam segi teknis


penyusunan sesuai dengan petunjuk pembuatan modul oleh Lembaga Penjamin
Mutu Pendidikan karena itu susunan materi yang akan dipelajari oleh siswa
membutuhkan bimbingan secara sungguh sungguh agar menguasai materi yang
dipelajari secara benar.
Disamping itu masih banyak kekurangan dalam substansi materi terutama pada
penulisan sejarah ketatanegaraan pada masa awal kemerdekaan sehingga siswa
perlu menambah wawasanya dengan cara mencari dari sumber lain yang relevan
dengan standar kompetensi

Menganalisis hubungan internasional dan organisasi internasional serta


sistem hukum internasional maupun peradilan internasional

Oleh sebab itu modul ini hanya untuk digunakan dikalangan sendiri mengingat
perlunya penjelasan materi yang ditulis secara intrakurikuler mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan. Hal ini dimaksudkan agar siswa menguasai materi
sesuai silabus yang disusun.

Malang, 17 ULI 2013

PENYUSUN

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 49

MODUL 4
HUBUNGAN INTERNASIONAL DAN
ORGANISASI INTERNASIONAL
Peta Konsep Hubungan Internasional

HUBUNGAN
INTERNASIO
NAL

Pengertian

H. Individual

Wujud/Bent
uk

H. antar
kelompok
Wujud/Bentuk

Arti
Penting

Penjajahan

Pola

Ketergantunga
n
Sama/Sederaj
at
Diplomasi

Sarana

Negosiasi
Lobby

1. Pengertian Hubungan Internasional


Hubungan Internasional merupakan kegiatan interaksi manusia
antarbangsa baik secara individu maupun kelompok. Oleh karena itu, secara
sederhana para ahli hukum internasional mengartikan hubungan
internasional sebagai hubungan antarbangsa.
Hubungan internasional dapat dilakukan baik melalui kontak langsung
maupun komunikasi tidak langsung. hubungan antarbangsa tersebut dapat
terjadi atas prakarsa individu, organisasi non-pemerintah ataupun melalui
kegiatan atau organisasi yang secara resmi diatur oleh pemerintah atau
negara. Isi hubungan tersebut dapat menyangkut kepentingan individu,
umum, pemerintah maupun organisasi swasta non-pemerintah.
2. Wujud Hubungan Internasional
Adapun wujud hubungan internasional bisa berupa hubungan: individual
(misalnya: turis, mahasiswa, pedagang, dan sebagainya mengadakan kontakkontak pribadi sehingga timbul kepentingan timbal balik di antara mereka);
antar kelompok (misalnya: lembaga-lembaga sosial, keagamaan, atau
perdagangan dan sebagainya saling melakukan kontak secara insidental,
periodik, ataupun permanen); antar negara, (misalnya negara yang satu
dengan negara yang lainnya mengadakan kerja sama bidang ekonomi,
kebudayaan, dan lain sebagainya).
Sedangkan sifat hubungan antar bangsa tersebut dapat berupa
persahabatan ataupun persengketaan, permusuhan, dan peperangan.
3. Arti Penting Hubungan dan Kerja Sama Internasional
Tak ada suatu bangsa pun di dunia ini dapat membebaskan diri dari
keterlibatan dan kerja sama internasional dengan bangsa dan negara lain.
Bagi suatu negara, hubungan dan kerja sama internasional sangat penting.
Menurut Mochtar Kusumaatmaja (1982), hubungan dan kerja sama tersebut
timbul karena adanya kebutuhan yang disebabkan antara lain oleh
pembagian kekayaan alam dan perkembangan industri yang tidak merata di
dunia.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 50

Jadi, ada saling ketergantungan dan membutuhkan antarbangsa.


Ketergantungan terjadi di pelbagai bidang kehidupan baik perdagangan,
kebudayaan, ilmu pengetahuan, keagamaan, sosial maupun olah raga.
Hal itu mengakibatkan timbulnya hubungan yang tetap dan terusmenerus antar bangsa, yang menumbuhkan kesadaran untuk memelihara
dan mengatur hubungan tersebut. Karena sifatnya timbal balik, ada
kepentingan bersama untuk memelihara dan mengatur hubungan yang
bermanfaat.
Pengaturan itu dimaksudkan agar tumbuh rasa persahabatan dan saling
pengertian antarbangsa di dunia. Di samping itu, hubungan dan kerja sama
internasional juga penting untuk:
a. Memelihara dan menciptakan hidup berdampingan secara damai dan adil
dengan bangsa lain.
b. Mencegah dan menyelesaikan konflik, perselisihan, permusuhan atau
persengketaan yang mengancam perdamaian dunia sebagai akibat
adanya kepentingan nasional yang berbeda di antara bangsa dan negara
di dunia;
c. Mengembangkan cara penyelesaian masalah secara damai melalui
perundingan dan diplomasi yang lazim ditempuh negara-negara beradab,
cinta damai dan berpegang kepada nilai-nilai etik dalam pergaulan
antarbangsa.
4. Pola Hubungan Antarbangsa
Pola hubungan antarbangsa dapat dibedakan ke dalam 3 (tiga), yaitu: (a)
pola penjajahan bangsa satu atas bangsa lain; (b) pola ketergantungan
bangsa yang satu kepada bangsa/bangsa-bangsa lain; dan (c) pola hubungan
sama derajat antarbangsa
a. Pola penjajahan
Dalam pola hubungan ini, bangsa yang satu menghisap bangsa lain.
Kalau bangsa penjajah membangun prasarana di daerah jajahan, mewariskan
alat-alat modern serta administrasi modern kepada bangsa jajahan, itu
semua sesungguhnya lebih dimaksudkan untuk mendukung kepentingan
penjajah.
Pola hubungan kolonialistis ini timbul sebagai akibat dari perkembangan
kapitalisme. Sistem kapitalisme membutuhkan bahan mentah bagi industri
dalam negeri dan pasaran hasil industri yang kian banyak. Oleh karena
bahan mentah itu ada di luar negeri maka timbul kehendak dan praktik untuk
menguasai wilayah bangsa lain guna menghisap kekayaan lain itu.
Penguasaan wilayah dalam rangka menghisap kekayaan bangsa lain adalah
inti dari kolonialisme dalam sejarah hubungan antarbangsa.
b. Pola hubungan ketergantungan
Pola hubungan ketergantungan terjadi antara negara-negara yang belum
berkembang (negara-negara dunia ketiga) dengan negara maju. Seusai
perang dunia II banyak negara jajahan memerdekakan diri. Demi
menyejahterakan rakyatnya, mereka melakukan pembangunan ekonomi,
mengembangkan industri, dan bersaing dengan negara maju di pasar global.
Namun karena tidak memiliki modal dan teknologi untuk melakukan semua
itu secara mandiri, kebanyakan negara baru itu kemudian bergantung pada
modal dan teknologi negara-negara maju.
Menurut Peter Evans di negara-negara Dunia Ketiga umumnya terjadi
persekutuan tiga unsur (Persekutuan Segitiga), antara pemodal asing,
pemerintah negara dunia ketiga dan pemodal lokal (Budiman, 1998: 113115). Dalam hal ini, pemerintah di negara-negara Dunia Ketiga bekerja sama
dengan pemodal asing untuk kepentingan pembangunan ekonomi.
Pemerintah (atas nama nasionalisme) juga bekerja sama dengan pemodal
lokal demi mempertahankan legitimasi politik, di samping itu tentu saja
alasan ekonomis. Pemodal asing tidak berkeberatan pemerintah bersikap
nasionalistis, karena mereka tahu bahwa tanpa sikap seperti ini mereka
akan menghadapi kesulitan politis di negeri tersebut. Pemodal asing juga
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 51

tidak keberatan kalau mereka dipaksa bekerja sama dan berbagi


keuntungan dengan kaum pemodal lokal demi kepentingan ekonomi.
Pola hubungan ini dekat dengan apa yang disebut neo-kolonialisme, yaitu
usaha menguasai negara lain atas bidang ekonomi, kebudayaan, ideologi
atau kemiliteran negara/kawasan tertentu, tetapi dengan cara mengindahkan
performa kemerdekaan politis (Heuken 1998:249).
c. Pola hubungan sama derajat antar bangsa
Dalam pola ini, hubungan antarbangsa dilakukan dalam rangka kerja
sama untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Pola hubungan ini sulit
diwujudkan atau minimal harus diperjuangkan dengan susah payah terutama
oleh negara-negara/bangsa-bangsa yang serba ketinggalan dalam kualitas
sumber dayanya, terutama sumber daya manusia.
5. Sarana-sarana Hubungan Internasional
a. Diplomasi
Diplomasi secara umum didefinisikan sebagai proses komunikasi
antarpelaku politik internasional dan instrumen untuk mencapai tujuan
kebijakan politik luar negeri suatu negara.
b. Negosiasi
Negosiasi atau perundingan adalah suatu upaya untuk mengatasi
masalah yang dihadapi antara dua negara tanpa melibatkan pihak ketiga.
c. Lobby
Lobby merupakan kegiatan politik yang dilakukan untuk memengaruhi
negara tertentu, untuk memastikan bahwa pandangan atau kepentingan
suatu negara dapat tersampaikan. Lobby bertujuan agar kerja sama
internasional yang dijalin antara satu negara dan negara lain dapat
berjalan lancar.
Hubungan Internasional merupakan kegiatan interaksi manusia
antarbangsa baik secara individu maupun kelompok. Hubungan dan kerja
sama tersebut timbul karena adanya kebutuhan yang disebabkan antara lain
oleh pembagian kekayaan alam dan perkembangan industri yang tidak
merata di dunia.
Latihan
1. Sebutkan pengertian hubungan internasional secara umum!
2. Sebutkan masing-masing 3 contoh wujud hubungan internasional secara
individu, antar kelompok dan antar negara!
3. Sebutkan arti penting hubungan internasional!
4. Sebutkan dan jelaskan pola hubungan internasional!
5. Sebutkan pengertian diplomasi, negosiasi dan lobby!
Peta Konsep Perwakilan Diplomatik
P
E
R
W
A
K
I
L
A
N
D
I
P
L
O
M
A
T
I
K

Pengerti
an
Tujuan
Organ &
Petugas

Kedutaan
Besar

Jenis
perwakilan
diplomatik
Tugas &
fungsi
Perwakilan
diplomatik

Tuga
s
Fung
si

Pengangkat
an
Perwakilan
diplomatik

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Perutusan
Tetap
Umu
m
Poko
k
Perwakilan
diplomatik
Perwakilan
konsuler

Duta Besar
Page 52

Kepangkata
n
perwakilan
diplomatik
Kekebalan
diplomatik

Duta
Menteri
Presiden
Kuasa Usaha

Tetap
Sementa
ra

1. Pengertian Diplomat
Kegiatan diplomasi dilaksanakan oleh para diplomat. Diplomat adalah
individu-individu yang menjadi wakil resmi suatu negara dalam hubungan
resmi dengan negara lain. Diplomat bertanggung jawab untuk mencapai
tujuan diplomasi.
2. Tujuan Diplomasi
Tujuan diplomasi adalah:
Membina, menjaga dan menyelenggarakan hubungan yang lancar
dengan negara dan pemerintah lain,
Mengumpulkan dan menyampaikan informasi yang berguna,
Menjaga agar kepentingan negara sendiri tidak dirugikan dalam
percaturan politik internasional,
Merepresentasikan bangsa dan negara sendiri di luar negeri, dan
Melindungi para warga negara sendiri di luar negeri.
3. Organ dan Petugas Diplomatik
a. Jenis Perwakilan Diplomatik
Dalam praktik internasional terdapat dua jenis perwakilan diplomatik,
yaitu sebagai berikut:
1) Kedutaan Besar, yang ditugaskan tetap pada suatu negara tertentu
untuk saling memberikan hubungan rutin antarnegara tersebut.
2) Perutusan tetap, yang ditempatkan pada suatu organisasi internasional
(PBB).
Kedua perwakilan diplomatik dipimpin oleh seorang duta besar luar biasa
dan berkuasa penuh serta bertanggung jawab kepada presiden melalui
menteri luar negeri.
b. Tugas dan Fungsi Perwakilan Diplomatik
Secara umum, tugas-tugas perwakilan diplomatik adalah sebagai berikut:
1) Menjamin efisiensi dari perwakilan asing di suatu negara
2) Menciptakan pengertian bersama (good will)
3) Memelihara dan melindungi kepentingan negara dan warga negaranya
di negara penerima
Tugas-tugas pokok perwakilan diplomatik adalah:
1) Mewakili negara pengirim di dalam negara penerima
2) Melindungi, di dalam negara penerima, kepentingan-kepentingan
negara pengirim dan warga negaranya, di dalam batas-batas yang
diizinkan oleh hukum internasional
3) Berunding dengan negara penerima
4) Mengetahui menurut cara-cara yang sah keadaan-keadaan dan
perkembangan di dalam negara penerima, dan melaporkannya kepada
pemerintah negara pengirim.
5) Memajukan hubungan bersahabat di antara negara pengirim dan
negara penerima, dan membangun hubungan-hubungan ekonomi,
kebudayaan dan sains (ilmiah).
Fungsi perwakilan diplomatik menurut Konvensi Wina 1961 adalah
mewakili negara pengirim di negara penerima untuk hal-hal berikut:
1) Melindungi segala kepentingan negara pengirim dan warga negaranya
di negara penerima dalam batas-batas yang diizinkan oleh hukum
internasional.
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 53

2) Mengadakan persetujuan dengan pemerintah negara penerima


3) Memberikan keterangan tentang kondisi dan perkembangan negara
penerima dengan cara yang diizinkan undang-undang dan melaporkan
kepada pemerintah negara pengirim
4) Memelihara hubungan persahabatan antara negara pengirim dan
negara
penerima
dan
mengembangkan
hubungan
ekonomi,
kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
5) Fungsi perwakilan konsuler adalah untuk:
a) Melindungi, di dalam negara penerima, kepentingan-kepentingan
negara pengirim dan warga negaranya, individu-individu dan badanbadan hukum, di dalam batas-batas yang diizinkan oleh hukum
internasional.
b) Memajukan pembangunan hubungan dagang, ekonomi, kebudayaan
dan sains antar kedua negara
c) Mengeluarkan paspor dan dokumen perjalanan kepada warga negara
pengirim dan visa atau dokumen-dokumen yang pantas untuk orang
yang ingin pergi ke negara pengirim.
d) Bertindak sebagai notaris dan panitera sipil dan di dalam kapasitas
dari macam yang sama, serta melakukan fungsi-fungsi tertentu yang
bersifat administratif, dengan syarat tidak bertentangan dengan
hukum dan peraturan dari negara penerima.
c. Pengangkatan Perwakilan Diplomatik
Tata cara pengangkatan dan pemberhentian pejabat-pejabat perwakilan
diplomatik dilaksanakan sesuai perundang-undangan yang berlaku, yaitu
sebagai berikut:
1) Kepala perwakilan diplomatik dan kepala perwakilan konsuler diangkat
dan diberhentikan oleh Presiden
2) Wakil kepala perwakilan diplomatik diangkat dan diberhentikan oleh
Menteri Luar Negeri
3) Kuasa usaha ditunjuk oleh Menteri Luar Negeri
4) Pejabat dinas luar negeri diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Luar
Negeri
5) Atase perwakilan dan atase lainnya diangkat oleh Menteri Luar Negeri
atas usul atase pimpinan lembaga bersangkutan
6) Pegawai perwakilan setempat diangkat dan diberhentikan oleh kepala
perwakilan
Pembukaan hubungan diplomatik dan pengangkatan ketua perwakilan
atase teknis diplomatik harus mendapat persetujuan kedua negara
(agreement) dalam bentuk tertulis atau lisan. Calon menerima surat
kepercayaan (letter of credence) yang ditandatangani oleh Kepala Negara
dan Menteri Luar Negeri. Selanjutnya, Kepala Negara memberi petunjukpetunjuk tentang tugas seorang calon diplomat.
Setibanya di negara tujuan, calon menyerahkan surat kepercayaan
kepada Kepala Negara penerima. Pada saat itu diadakan pidato kedua belah
pihak yang berisi tentang persahabatan kedua negara, sekaligus
menunjukkan persetujuan serta kepercayaan dari negara penerima.
Secara resmi, calon tersebut sudah diakui memangku jabatan
kepangkatan yang diberikan kepadanya. Kemudian, wakil diplomatik itu
memberikan kepada Kepala Kedutaan atau misi dari negara-negara lain yang
mempunyai
hubungan
diplomatik
dengan
negaranya
tentang
penempatannya.
d. Kepangkatan Perwakilan Diplomatik
Diplomasi suatu negara dilakukan oleh korps perwakilan diplomatik dan
korps perwakilan konsuler. Korps diplomatik dipimpin oleh kepala misi
diplomatik. Kepala misi diplomatik terdiri atas tiga, yaitu: Duta Besar
(ambassador, pro-nuntius), Duta (envoy, internuntius), dan Kuasa Usaha
(charge daffaires).

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 54

Setiap kedutaan dilengkapi dengan tenaga-tenaga ahli yang disebut


Atase, misalnya Atase Militer, Atase Perekonomian, Atase Pendidikan, Atase
Kebudayaan, dll). Selain itu, setiap kedutaan dilengkapi dengan staf
diplomatik.
Tingkatan perwakilan diplomatik menurut Kongres di Aachen tahun 1918
adalah sebagai berikut:
1) Duta Besar (Ambassador)
Duta besar adalah tingkat tertinggi dalam perwakilan diplomatik. Duta
Besar mempunyai kekuasaan penuh dan luar biasa, ditempatkan pada
negara yang banyak hubungan timbal balik. Dalam beberapa hal, ia dapat
memutuskan sesuatu yang menyangkut negaranya tanpa berkonsultasi
dengan kepala negaranya terlebih dahulu.
2) Duta (Gerzant)
Duta adalah kepangkatan yang setingkat lebih rendah dari Duta Besar.
Segala
persoalan
yang
menyangkut
kedua
negaranya
harus
dikonsultasikan dengan pemerintahan negaranya.
3) Menteri Presiden (Minister President)
Menteri presiden adalah mereka yang tidak dianggap sebagai wakil
kepala negara, tetapi hanya ditempatkan untuk mengurus urusan-urusan
negaranya.
4) Kuasa Usaha
Kuasa Usaha tidak diperbantukan kepada Kepala Negara, tetapi kepada
Menteri Luar Negeri. Kuasa Usaha dibedakan menjadi dua, yaitu Kuasa
Usaha tetap (menjabat kepala suatu perwakilan) dan Kuasa Usaha
Sementara (menjalankan pekerjaan dari suatu perwakilan)
e. Kekebalan Diplomatik
Para anggota diplomatik memperoleh perlakuan yang istimewa dari
pemerintah di negara ia ditempatkan. Perlakuan istimewa itu merupakan
ketentuan yang dalam pergaulan internasional ditetapkan oleh protokol.
Orang yang menetapkan semua aturan yang berhubungan dengan tugas,
hak serta kewajiban anggota diplomatik disebut kepala protokol atau direktur
protokol. Ia berasal dari pegawai Departemen Luar Negeri. Selain
diperlakukan istimewa, seorang anggota diplomatik mendapat hak kekebalan
(hak imunitas) dan hak ekstrateritorial.
1) Hak imunitas atau kekebalan diplomatik
Hak imunitas menyangkut diri pribadi seorang diplomat serta gedung
perwakilannya. Yang dimaksud dengan hak imunitas pribadi adalah seorang
anggota diplomatik berhak mendapat perlindungan istimewa terhadap
keselamatan diri serta harta bendanya. Mengapa demikian? Tujuannya agar
mereka mendapat perlindungan dari segala macam gangguan dan dari
penahanan penguasa-penguasa setempat. Ia dibebaskan dari kewajiban
membayar pajak, termasuk bea cukai. Akan tetapi, hal ini bukanlah hak
melainkan hanya sekedar resiprositas (timbal balik) saja.
Anggota diplomatik tidak tunduk kepada yurisdiksi pengadilan pidana
maupun perdata di negara yang didiaminya. Akan tetapi, ia wajib tunduk
kepada undang-undang pidana dan peraturan polisi dari negara yang
didiaminya. Jika melanggar, dapat diusir atau dikembalikan ke negara
asalnya. Walaupun ia tidak tunduk pada yurisdiksi (menyelesaikan perkara)
perdata di mana ia berada, ia tidak kebal terhadap perkara yang menyangkut
benda tidak bergerak. Tuntutan terhadap perkara perdata dari seseorang
anggota diplomatik harus dilakukan oleh pemerintahannya sendiri. Ia dapat
pula dituntut oleh negara yang mengutusnya. Terhadap anggota diplomatik
tidak diperkenankan penggunaan alat paksa.
Seorang anggota diplomatik dapat pula tunduk atau mengikuti yurisdiksi
perdata maupun pidana dari negara tempat ia bertugas tetapi harus minta
izin kepada pemerintahan yang mengutusnya. Ia juga dapat menolak
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 55

terhadap permintaan untuk menjadi aksi di muka hakim/pengadilan dalam


perkara pidana.
Imunitas terhadap gedung perwakilan dapat diartikan bahwa alat negara
seperti polisi dan pejabat kehakiman tidak boleh memasuki daerah kediaman
anggota diplomatik tanpa izin pihak perwakilan tersebut. Apabila seorang
penjahat melarikan diri ke kedutaan, atas permintaan pemerintah, penjahat
itu harus diserahkan kepada yang berwajib.
2) Hak ekstrateritorial
Hak ekstrateritorial adalah hak yang dianggap berdiam di luar lingkungan
wilayah negara yang menerimanya. Akan tetapi, utusan diplomatik tidak
memiliki hak Asylum atau hak suaka (hak perlindungan). Hak asylum dalam
hukum antarbangsa merupakan rangkaian perauran yang memberikan
kemungkinan suatu negara untuk memberi perlindungan kepada warga
negara asing yang melarikan diri karena berbagai alasan.
Kegiatan diplomasi dilaksanakan oleh para diplomat. Diplomat adalah
individu-individu yang menjadi wakil resmi suatu negara dalam hubungan
resmi dengan negara lain.
Pembukaan hubungan diplomatik dan pengangkatan ketua perwakilan
atase teknis diplomatik harus mendapat persetujuan kedua negara
(agreement) dalam bentuk tertulis atau lisan.
Latihan
1. Apa yang dimaksud dengan diplomat?
2. Apa perbedaan antara kedutaan besar dengan perutusan tetap?
3. Sebutkan definisi diplomasi secara umum!
4. Sebutkan urutan kepangkatan perwakilan diplomatik!
5. Sebutkan dan jelaskan hak-hak yang dimiliki anggota diplomatik!

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 56

Peta Konsep Perjanjian Internasional


Istilah-istilah Perjanjian Internasional
Pendapat Para Ahli

Pengertian

Secara Umum
Jumlah Peserta
Struktur
Objek
Kriteria

Cara Berlakunya
Instrumen
Perundingan

Secara Klasik
Tahap-tahap Pembuatan Perjanjian Internasional

Penandatanganan
Persetujuan Parlemen

PERJANJIAN INTERNASIONAL

Ratifikasi
Perundingan

Secara Sederhana

Penandatanganan
Penjajakan
Perundingan
Perumusan Naskah Perjanjian
Menurut UU No. 24 Th. 2000
Penerimaan Naskah Perjanjian
Penandatanganan
Pengesahan
Menurut Konvensi Wina Th. 1969 Perundingan
Penandatanganan
Pengesahan
Persyaratan P. I.

Teori Kebulatan Suara


Teori Pan Amerika

Berlakunya P. I.
Pelaksanaan P. I.

Penerapan P. I.

Pact Sunt Servanda


Kesadaran Hukum Nasional
Daya Berlaku Surut
Wilayah Penerapan

Penafsiran P. I.

Perjanjian Menyusul

Kedudukan Negara Bukan Peserta


Pembatalan P. I.
Berakhirnya P. I.

1. Istilah Perjanjian Internasional


Ada banyak istilah yang digunakan untuk perjanjian internasional, seperti
traktat (treaty), pakta (pact), konvensi (convention),
piagam (statute),
charter, deklarasi, protocol, arrangement, accord, modus vivendi dan
covenant. Menurut Mochtar Kusumaatmaja (1989), semua istilah itu
merupakan perjanjian internasional
a. Traktat (Treaty), yaitu perjanjian paling formal yang merupakan
persetujuan dari dua negara atau lebih. Perjanjian ini mencakup bidang
politik dan bidang ekonomi.
b. Konvensi (convention) yaitu persetujuan formal yang bersifat multilateral
dan tidak berurusan dengan kebijaksanaan tingkat tinggi (high policy).
Persetujuan ini harus dilegalisasi oleh wakil-wakil yang berkuasa penuh
(plaeniptentiones).
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 57

c. Protokol (protocol), yaitu persetujuan tidak resmi dan pada umumnya


tidak dibuat oleh kepala
negara, yang mengatur masalah-masalah
tambahan seperti penafsiran klausal-klausal tertentu.
d. Persetujuan (agreement), yaitu perjanjian yang lebih bersifat teknis atau
administrative. Agreement tidak diratifikasi karena sifatnya tidak seresmi
traktat atau konvensi.
e. Perikatan (arrangement) yaitu istilah yang digunakan untuk transaksitransaksi yang sifatnya sementara. Perikatan tidak seresmi traktat dan
konvensi.
f. Proses verbal, yaitu catatan-catatan, ringkasan-ringkasan, atau
kesimpulan-kesimpulan konferensi diplomatik, atau catatan-catatan suatu
permufakatan. Proses verbal tidak diratifikasi.
g. Piagam (statute), yaitu himpunan peraturan yang ditetapkan oleh
persetujuan internasional, baik mengenai pekerjaan maupun kesatuankesatuan tertentu seperti pengawasan internasional yang mencakup
tentang minyak atau mengenai lapangan kerja lembaga-lembaga
internasional. Piagam dapat digunakan sebagai alat tambahan untuk
pelaksanaan suatu konvensi (seperti piagam kebebasan transit).
h. Deklarasi (declaration), yaitu perjanjian internasional yang berbentuk
traktat dan dokumen tidak resmi,. Deklarasi sebagai traktat bila
menerangkan suatu judul dari batang tubuh ketentuan traktat, dan
sebagai dokumen tidak resmi apabila merupakan lampiran dari traktat
atau konvensi. Deklarasi sebagai persetujuan tidak resmi bila mengatur
hal-hal yang kurang penting.
i. Modus Vivendi, yaitu dokumen untuk mencatat persetujuan internasional
yang bersifat sementara, sampai berhasil diwujudkan perjumpaan yang
lebih permanen, terinci, sistematis dan tidak memerlukan ratifikasi.
j. Pertukaran nota, yaitu metode yang tidak resmi, yang biasanya dilakukan
oleh wakil-wakil militer dan negara serta dapat bersifat multilateral.
Akibat pertukaran nota ini timbul kewajiban di antara mereka yang
terkait.
k. Ketentuan penutup (final act) yaitu ringkasan hasil konvensi yang
menyebutkan negara peserta, nama utusan yang turut diundang, serta
masalah yang disetujui konferensi dan tidak memerlukan ratifikasi.
l. Ketentuan umum (general act), yaitu traktat yang dapat bersifat resmi
dan tidak resmi.
m. Charter, yaitu istilah yang dipakai dalam perjanjian internasional untuk
pendirian badan yang melakukan fungsi administrative, misalnya Atlantic
Charter.
n. Pakta (pact), yaitu istilah yang menunjukkan suatu persetujuan yang lebih
khusus dan membutuhkan ratifikasi. Contohnya, Pakta Warsawa.
o. Covenant, yaitu anggaran dasar Liga Bangsa-Bangsa (LBB).
2. Definisi Perjanjian Internasional
Mengenai perjanjian internasional, para ahli memberi definisi yang
beragam, antara lain sebagai berikut:
a. Mochtar Kusumaatmaja mengartikan perjanjian internasional sebagai
perjanjian yang diadakan antara anggota masyarakat bangsa-bangsa dan
bertujuan untuk mengakibatkan akibat hukum tertentu. Di dalam definisi
itu, subyek-subyek hukum internasional yang mengadakan perjanjian
adalah anggota masyarakat bangsa-bangsa, termasuk juga lembagalembaga internasional dan negara-negara.
b. G. Schwarzenberger, mengartikan perjanjian internasional sebagai
persetujuan antara subjek-subjek hukum internasional yang menimbulkan
kewajiban-kewajiban yang mengikat dalam hukum internasional, dapat
berbentuk bilateral maupun multilateral. Subjek-subjek hukum dalam hal
ini, selain lembaga-lembaga internasional juga negara-negara.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 58

c. Oppenheim, mengartikan perjanjian internasional sebagai suatu


persetujuan antarnegara, yang menimbulkan hak dan kewajiban di antara
para pihak.
d. Michel Virally, mengartikan perjanjian internasional sebagai berikut:
sebuah perjanjian merupakan perjanjian internasional bila melibatkan dua
atau lebih negara atau subjek internasional dan diatur oleh hukum
internasional.
e. B. Sen, memberi batasan perjanjian internasional sebagai berikut: unsurunsur pokok dari perjanjian internasional adalah: (a) perjanjian adalah
sebuah kesepakatan; (b) kesepakatan tersebut terjadi antarnegara
termasuk organisasi internasional; dan (c) setiap kesepakatan memiliki
tujuan menciptakan hak dan kewajiban di antara para pihak yang berlaku
di dalam suasana hukum nasional.
3. Kriteria Perjanjian Internasional
Perjanjian internasional adalah kesepakatan antara dua atau lebih subjek
hukum internasional yang dilakukan berdasarkan hukum internasional
sehingga menimbulkan hak dan kewajiban bagi para pihak yang terlibat
dalam hubungan internasional.
Perjanjian internasional dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria,
yaitu:
a. Berdasarkan jumlah peserta: perjanjian bilateral (perjanjian yang
diadakan oleh dua negara untuk mengatur kepentingan kedua belah
pihak) dan perjanjian multilateral (perjanjian yang diadakan oleh banyak
negara untuk mengatur kepentingan bersama di antara mereka).
b. Berdasarkan strukturnya: perjanjian yang bersifat law making (perjanjian
yang mengandung kaidah hukum yang dapat berlaku secara universal
bagi semua bangsa di dunia) dan perjanjian yang bersifat contract
(perjanjian yang hanya menimbulkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban
bagi para pihak yang mengadakan perjanjian).
c. Berdasarkan objeknya: perjanjian yang berisi soal-soal politik dan
perjanjian yang berisi soal-soal non-ekonomi.
d. Berdasarkan cara berlakunya: perjanjian yang bersifat self executing
(perjanjian yang berlaku dengan sendirinya) dan perjanjian yang bersifat
non self executing (perjanjian yang pemberlakuannya membutuhkan
ratifikasi terlebih dahulu).
e. Berdasarkan instrumennya: perjanjian tertulis
(perjanjian yang
dituangkan secara tertulis dan formal dalam bentuk tertentu (misalnya:
Treaty, Convention, Agreement, Arrangement, Charter, Covenant, Statute,
Constitution, Protocol, Declaration) dan perjanjian internasional lisan
(perjanjian internasional dalam bentuk instrumen-instrumen tidak tertulis,
seperti perjanjian internasional lisan, deklarasi sepihak, persetujuan diamdiam).
4. Tahap-Tahap Pembuatan Perjanjian
a. Tahap-tahap pembuatan perjanjian internasional menurut prosedur klasik
(normal) adalah:
1) Perundingan (negotiation),
2) Penandatanganan (signature),
3) Persetujuan parlemen (the approval of parliament), dan
4) Ratifikasi (ratification)
b. Tahap-tahap pembuatan perjanjian internasional menurut prosedur yang
disederhanakan (simplified) adalah:
1) Perundingan (negotiation)
2) Penandatanganan (signature)
c. Tahap-tahap pembuatan perjanjian internasional menurut UU No. 24
tahun 2000 adalah:
1) Pertama, tahap ini dilakukan oleh pihak-pihak yang berunding
mengenai kemungkinan dibuatnya suatu perjanjian internasional.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 59

2) Kedua, perundingan (negotiation). Pada tahap ini dilakukan


pembahasan isi perjanjian dan masalah-masalah teknis yang akan
disepakati dalam perjanjian internasional. Tahap ini bertujuan untuk
bertukar pandangan mengenai berbagai masalah yang menjadi
keprihatinan bersama.
3) Ketiga, perumusan naskah perjanjian. Tahap ini merupakan tahap
dimana rancangan suatu perjanjian internasional dirumuskan.
4) Keempat, penerimaan naskah perjanjian (adoption of the text).
5) Kelima, penandatanganan (signature). Setelah naskah perjanjian
diterima, naskah tersebut kemudian ditandatangani. Penandatanganan
ini merupakan tahap untuk melegalisasi suatu naskah perjanjian
internasional yang telah disepakati. Namun, penandatanganan itu
belum berarti bahwa perjanjian itu sudah mengikat. Pengikatan diri
negara peserta pada perjanjian itu baru terjadi setelah dilakukan
pengesahan terhadapnya.
6) Keenam, pengesahan naskah perjanjian (authentication of the text).
Pengesahan adalah tindakan hukum untuk mengikatkan diri pada suatu
perjanjian internasional. Pengesahan bisa dilakukan dalam berbagai
bentuk, seperti ratifikasi (ratification), asesi (accession), penerimaan
(acception), dan persetujuan (approval).
d. Tahap-tahap pembuatan perjanjian internasional menurut konvensi Wina
tahun 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional disebutkan bahwa
dalam pembuatan perjanjian baik bilateral maupun multilateral dapat
dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu sebagai berikut:
1) Perundingan (negotiation)
Perundingan merupakan perjanjian tahap pertama antara pihak/negara
tentang objek tertentu yang sebelumnya belum pernah diadakan
perjanjian. Oleh karena itu, diadakan penjajakan terlebih dahulu atau
pembicaraan
pendahuluan
oleh
masing-masing
pihak
yang
berkepentingan. Dalam melaksanakan negosiasi, suatu negara dapat
diwakili oleh pejabat yang dapat menunjukkan surat kuasa penuh (full
power). Selain mereka, hal ini juga dapat dilakukan oleh Kepala Negara,
atau Duta Besar.
2) Penandatanganan (signature)
Lazimnya penandatanganan dilakukan oleh para menteri luar negeri
(Menlu) atau kepala pemerintahan. Untuk perundingan yang bersifat
multilateral, penandatanganan teks perjanjian sudah dianggap sah jika
dua pertiga suara peserta yang hadir memberikan suara, kecuali
ditentukan lain. Namun, perjanjian belum dapat diberlakukan oleh
masing-masing negara, sebelum diratifikasi oleh masing-masing
negaranya atau perjanjian akan berlaku setelah ditandatangani pada
tanggal waktu diumumkan atau mulai berlaku pada tanggal yang
ditentukan pada perjanjian itu sendiri.
3) Pengesahan (ratification)
Suatu negara mengikatkan diri pada suatu perjanjian dengan syarat
apabila telah disahkan oleh badan yang berwenang (threaty making
powers) di negaranya. Penandatanganan atas perjanjian yang bersifat
sementara dan masih harus dikuatkan dengan pengesahan atau
penguatan ini dinamakan ratifikasi.
Ratifikasi perjanjian internasional dapat dibedakan sebagai berikut:
a) Ratifikasi oleh badan eksekutif. Ini biasa digunakan oleh raja absolut
dan pemerintahan otoriter.
b) Ratifikasi oleh badan legislatif. Secara umum sistem ini jarang
digunakan tetapi sistem ini pernah diterapkan di negara Turki pada
tahun 1924, Elsavador tahun1950, Honduras tahun 1936.
c) Ratifikasi campuran (DPR dan Pemerintah) sistem ini paling banyak
digunakan karena legislatif dan eksekutif secara bersama-sama
menentukan dalam proses ratifikasi suatu perjanjian.
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 60

Dalam konvensi Wina tahun 1969 pasal 24 menyebutkan bahwa


berlakunya sebuah perjanjian internasional adalah sebagai berikut:
a) Pada saat sesuai dengan yang ditentukan dalam naskah perjanjian
tersebut.
b) Pada saat peserta perjanjian mengikat diri pada perjanjian itu bila
dalam naskah tidak disebut saat berlakunya. Persetujuan untuk
mengikat diri dapat diberikan dengan berbagai cara, tergantung
pada persetujuan mereka. Misalnya, dengan penandatanganan
ratifikasi pernyataan turut serta (accession) ataupun pernyataan
menerima (acceptance) dan dapat juga dengan cara pertukaran
naskah yang sudah ditandatangani.
Berikut ini beberapa contoh perjanjian internasional yang dapat
ditemukan dari perjalanan sejarah bangsa dan negara Indonesia.
a) Persetujuan Indonesia dengan Belanda mengenai penyerahan Irian
Barat (sekarang Papua). Karena pentingnya materi yang diatur di
dalam agreement tersebut maka dianggap sama dengan threaty.
Sebagai konsekuensinya, presiden memerlukan persetujuan dari DPR
dalam bentuk pernyataan pendapat.
b) Persetujuan Indonesia dengan Australia mengenai garis batas
wilayah antara Indonesia dengan Papua New Guinea yang
ditandatangani di Jakarta, 12 Februari 1973 dalam bentuk
agreement. Namun, karena pentingnya materi yang diatur dalam
agreement tersebut maka pengesahannya memerlukan persetujuan
DPR dan dituangkan dalam bentuk undang-undang, yaitu UU Nomor
6 Tahun 1973.
c) Persetujuan garis batas landas kontinen antara Indonesia dengan
Singapura (25 Mei 1973). Sebenarnya materi persetujuan ini cukup
penting, namun dalam pengesahannya tidak meminta persetujuan
DPR melainkan dituangkan dalam bentuk Keputusan Presiden.
5. Persyaratan Perjanjian Internasional
Negara yang mengajukan persyaratan, tidak mengundurkan diri dari
perjanjian (multilateral). Negara tersebut masih tetap sebagai peserta dalam
perjanjian, tetapi dengan syarat hanya terikat pada bagian-bagian tertentu
yang dianggap membawa keuntungan bagi kepentingan nasionalnya.
Unsur-unsur yang penting dalam persyaratan adalah sebagai berikut:
a. Harus dinyatakan secara formal/resmi
b. Bermaksud untuk membatasi, meniadakan atau mengubah akibat hukum
dari ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam perjanjian itu.
Mengenai persyaratan dalam perjanjian internasional, terdapat dua teori
yang cukup berkembang, yaitu sebagai berikut:
a. Teori kebulatan Suara (Unanimity Principle)
Persyaratan itu sah dan dapat berlaku bagi yang mengajukan persyaratan
ini dan diterima oleh seluruh peserta dari perjanjian meskipun tidak
secara aklamasi. Misalnya berdirinya Liga Bangsa-Bangsa (LBB) atau PBB
yang pada setiap mengeluarkan resolusi atau menerima anggota baru,
memerlukan kebulatan suara dari seluruh anggota.
b. Teori Pan Amerika (Menekankan Kedaulatan Negara)
Setiap perjanjian itu mengikat negara yang mengajukan persyaratan
dengan negara yang menerima persyaratan. Hal ini dikarenakan oleh
lunaknya sikap terhadap persyaratan. Teori ini biasanya dianut oleh
organisasi-organisasi negara Amerika. Misalnya dengan adanya NATO
atau AFTA, setiap negara peserta diberi kesempatan seluas-luasnya untuk
berpartisipasi dalam perjanjian yang dibentuk tersebut.
6. Berlakunya Perjanjian Internasional
Perjanjian internasional berlaku pada saat peristiwa berikut ini:
a. Mulai berlaku sejak tanggal yang ditentukan atau menurut yang disetujui
oleh negara perunding.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 61

b. Jika tidak ada ketentuan atau persetujuan, perjanjian mulai berlaku


segera setelah persetujuan diikat dan dinyatakan oleh semua negara
perunding.
c. Bila persetujuan suatu negara untuk diikat oleh perjanjian timbul setelah
perjanjian itu berlaku, maka perjanjian mulai berlaku bagi negara itu pada
tanggal tersebut, kecuali bila perjanjian menentukan lain.
d. Ketentuan-ketentuan perjanjian yang mengatur pengesahan teksnya,
pernyataan persetujuan suatu negara untuk diikat oleh suatu perjanjian,
cara dan tanggal berlakunya, persyaratan, fungsi-fungsi penyimpanan,
dan masalah-masalah lain yang timbul yang perlu sebelum berlakunya
perjanjian itu, berlakunya sejak saat disetujuinya teks perjanjian itu.
7. Pelaksanaan Perjanjian Internasional
Ketaatan terhadap perjanjian internasional dilakukan berdasarkan sebagai
berikut:
a. Perjanjian yang harus dipatuhi (Pact Sunt Servanda)
Prinsip ini sudah menjadi kebiasaan karena merupakan jawaban atas
pertanyaan mengapa perjanjian internasional memiliki kekuatan
mengikat.
b. Kesadaran hukum nasional
Suatu negara akan menyetujui ketentuan perjanjian internasional yang
sesuai dengan hukum nasionalnya.
8. Penerapan Perjanjian Internasional
Penerapan perjanjian internasional dapat diberlakukan atas dasar sebagai
berikut.
a. Daya berlaku surut (Retroactivity)
Biasanya, suatu perjanjian dianggap mulai mengikat setelah diratifikasi
oleh peserta, kecuali bila ditentukan dalam perjanjian bahwa penerapan
perjanjian sudah dimulai sebelum diratifikasi.
b. Wilayah penerapan
Suatu perjanjian mengikat di wilayah negara peserta, kecuali ditentukan
lain. Misalnya, perjanjian itu hanya berlaku pada bagian tertentu dari
wilayah suatu negara, seperti perjanjian perbatasan.
c. Perjanjian Penyusul (Successive Treaty)
Pada dasarnya, suatu perjanjian tidak boleh bertentangan dengan
perjanjian serupa yang mendahuluinya. Namun, bila perjanjian yang
mendahului tidak sesuai lagi maka dibuatlah perjanjian pembaruan.
9. Penafsiran Ketentuan Perjanjian
Supaya perjanjian mempunyai daya guna yang baik dalam memberikan
solusi atas kasus-kasus hubungan internasional, perlu diadakan penafsiran
aspek-aspek pengkajian dan penjelasan perjanjian tersebut. Penafsiran
dalam praktiknya dilakukan dengan menggunakan tiga metode. Adapun
metode-metode itu seperti berikut.
a. Metode dari aliran yang berpegang pada kehendak penyusun perjanjian
dengan memanfaatkan pekerjaan persiapan.
b. Metode dari aliran yang berpegang pada naskah perjanjian, dengan
penafsiran menurut arti yang umum dari kosa katanya.
c. Metode aliran yang berpegang pada objek dan tujuan perjanjian
10. Kedudukan Negara Bukan Peserta
Negara bukan peserta pada hakikatnya tidak memiliki hak dan kewajiban
untuk mematuhinya. Akan tetapi bila perjanjian itu bersifat multilateral (PBB)
atau objeknya besar (Terusan Suez, Selat Malaka, dan lain-lain) mereka juga
dapat terikat dengan kondisi sebagai berikut:
a. Negara tersebut menyatakan diri terikat terhadap perjanjian itu.
b. Negara tersebut dikehendaki oleh para peserta
11. Pembatalan Perjanjian Internasional
Berdasarkan Konvensi Wina tahun 1969, karena berbagai alasan suatu
perjanjian internasional dapat batal antara lain sebagai berikut.
a. Negara atau wakil kuasa penuh melanggar ketentuan hukum nasionalnya
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 62

b. Adanya unsur kesalahan (error) pada saat perjanjian tersebut dibuat


c. Adanya unsur penipuan dari negara peserta tertentu terhadap negara
peserta lain waktu pembentukan perjanjian.
d. Terdapat penyalahgunaan atau kecurangan (corruption) melalui kelicikan
atau penyuapan
e. Adanya unsur paksaan terhadap wakil suatu negara peserta. Paksaan
tersebut baik dengan ancaman maupun penggunaan kekuatan.
f. Bertentangan dengan suatu kaidah dasar hukum internasional umum
12. Berakhirnya Perjanjian Internasional
Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmaja, S.H. dalam buku pengantar hukum
internasional mengatakan bahwa suatu perjanjian berakhir karena hal
berikut:
a. Telah tercapai tujuan dari perjanjian internasional itu.
b. Masa berlaku perjanjian internasional itu sudah habis.
c. Salah satu pihak peserta perjanjian menghilang atau punahnya objek
perjanjian itu.
d. Adanya persetujuan dari peserta-peserta untuk mengakhiri perjanjian itu.
e. Adanya perjanjian baru antara peserta yang kemudian meniadakan
perjanjian terdahulu.
f. Syarat-syarat tentang pengakhiran perjanjian sesuai dengan ketentuan
perjanjian itu sudah dipenuhi
g. Perjanjian secara sepihak diakhiri oleh salah satu peserta dan
pengakhiran itu diterima oleh pihak lain.
Perjanjian internasional adalah kesepakatan antara dua atau lebih subjek
hukum internasional yang dilakukan berdasarkan hukum internasional
sehingga menimbulkan hak dan kewajiban bagi para pihak yang terlibat
dalam hubungan internasional. Untuk perundingan yang bersifat multilateral,
penandatanganan teks perjanjian sudah dianggap sah jika dua pertiga suara
peserta yang hadir memberikan suara, kecuali ditentukan lain.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 63

Latihan
1. Sebutkan makna dari istilah-istilah perjanjian internasional berikut:
a. Traktat
b. Protokol
c. Piagam
d. Deklarasi
2. Sebutkan definisi perjanjian internasional menurut Oppenheim!
3. Sebutkan dan beri contoh macam-macam perjanjian internasional
berdasarkan instrumennya!
4. Sebutkan tahap-tahap pembuatan perjanjian internasional menurut
prosedur klasik (normal)!
5. Sebutkan 3 metode penafsiran ketentuan perjanjian internasional!
Peta Konsep Organisasi Internasional PBB
Pengertian
Sejarah

Organisasi Internasional PBB

Tujuan
Majelis Umum
Prinsip atau Asas-asas
Dewan Keamanan

Dewan Ekonomi dan Sosial


Badan-badan atau Organ-organ
Dewan Perwalian

Mahkamah Pengadilan Internasional

1. Pengertian
Sekretariat
Selain melalui perjanjian internasional serta saling mengirimkan korps
diplomatik atau konsuler, kerja sama internasional dapat dilakukan melalui
organisasi-organisasi
internasional
(misalnya,
PBB)
dan
organisasi
kewilayahan (misalnya, ASEAN).
Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB (United Nations atau UN) adalah
sebuah organisasi yang anggotanya mencakup hampir seluruh negara di
dunia. Lembaga ini dibentuk untuk memfasilitasi persoalan hukum
internasional,
pengamanan
internasional,
lembaga
ekonomi,
dan
perlindungan sosial bangsa-bangsa di seluruh dunia.
2. Sejarah
PBB lahir pada tanggal 24 Oktober 1945, yaitu ketika Piagam PBB telah
diratifikasi oleh sebagian besar dari 51 negara anggota mula-mula. Sejak
didirikan sampai sekarang, PBB telah banyak berperan aktif dalam
memelihara serta meningkatkan perdamaian, keamanan, dan memajukan
kesejahteraan hidup bangsa-bangsa sedunia.
Indonesia masuk pertama kali menjadi anggota PBB pada tanggal 28
September 1950, kemudian keluar pada tanggal 7 Januari 1965 dan kembali
menjadi anggota PBB pada tanggal 28 September 1966.
Markas besar PBB terletak di kota New York, Amerika Serikat, namun
tanah dan bangunannya merupakan wilayah internasional. PBB memiliki
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 64

bendera, kantor pos, dan prangko tersendiri. Dalam persidangan PBB


digunakan enam bahasa resmi, yaitu Arab, Inggris, Mandarin, Prancis, Rusia,
dan Spanyol.
3. Tujuan
Tujuan didirikannya PBB adalah:
a. Menjaga perdamaian di seluruh dunia
b. Mengembangkan hubungan bersahabat di antara bangsa-bangsa.
c. Bekerja sama untuk membantu rakyat untuk hidup lebih baik,
menghentikan perusakan lingkungan dan mendorong penghormatan
terhadap hak-hak dan kebebasan manusia.
d. Menjadi pusat untuk membantu bangsa-bangsa mencapai tujuan tersebut
di atas.
4. Prinsip atau Asas-asas
Prinsip atau asas-asas yang melandasi kinerja PBB:
a. Semua negara anggota memiliki kedaulatan yang sederajat.
b. Semua negara anggota harus mematuhi Piagam PBB.
c. Negara-negara harus berusaha untuk menyelesaikan perselisihan mereka
secara damai.
d. Negara-negara harus menghindari penggunaan kekerasan atau ancaman
untuk menggunakan kekerasan.
e. PBB tidak boleh campur tangan di dalam masalah dalam negeri negara
manapun.
f. Negara-negara anggota perlu membantu PBB.
5. Badan-badan atau Organ-organ PBB
Badan-badan atau organ-organ PBB yang utama meliputi:
a. Majelis Umum
Majelis Umum PBB merupakan satu-satunya badan PBB yang anggotanya
mencakup semua anggota PBB. Setiap anggota berhak mengutus 5 (lima)
orang utusan dalam persidangan Majelis Umum. Masing-masing anggota
Majelis Umum hanya mempunyai satu suara dalam pengambilan keputusan.
Majelis Umum berfungsi sebagai forum untuk membahas masalah yang
menjadi keprihatinan dunia. Majelis Umum mengadakan sidang secara
reguler setiap tahun, juga mengadakan sidang-sidang khusus jika diperlukan.
Tugas dan kekuasaan Majelis Umum sangat luas, meliputi:
1) Hal-hal yang berhubungan dengan perdamaian dan keamanan
internasional.
2) Hal-hal yang berhubungan dengan kerja sama ekonomi, kebudayaan,
pendidikan, kesehatan, dan perikemanusiaan.
3) Hal-hal yang berhubungan dengan perwakilan internasional termasuk
daerah yang belum mempunyai pemerintahan sendiri yang bukan
daerah strategis.
4) Hal-hal yang berhubungan dengan keuangan.
5) Penetapan keanggotaan.
6) Mengadakan perubahan piagam
7) Memilih anggota tidak tetap dewan Keamanan, Ekonomi, dan Sosial,
Dewan Perwalian, Hakim Mahkamah Internasional, dan sebagainya.
Kesepakatan atau resolusi yang dihasilkan sidang Majelis Umum PBB
tidak mengikat negara anggotanya karena hanya merupakan rekomendasi.
Resolusi lebih dimaksudkan untuk menunjukkan arah dan bobot pandangan
dunia karena mencerminkan pandangan mayoritas negara di dunia.
b. Dewan keamanan
Dewan Keamanan adalah badan PBB yang berfungsi pokok memelihara
atau mempertahankan perdamaian dan keamanan internasional selaras
dengan asas dan tujuan PBB.
Dewan Keamanan terdiri dari 15 anggota yang dibedakan atas lima
anggota tetap (Republik Cina, Prancis, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat)
dan sepuluh anggota tidak tetap (dipilih oleh Majelis Umum PBB berdasarkan
pembagian geografis untuk masa jabatan selama dua tahun).
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 65

Anggota Dewan Keamanan mempunyai hak veto, yaitu hak untuk


menolak keputusan dewan, meskipun ke-14 anggota Dewan lainnya
menyetujui sebuah keputusan. Menurut ketentuan Piagam PBB, semua
negara anggota PBB harus menerima keputusan Dewan Keamanan.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 66

c. Dewan Ekonomi dan Sosial


Dewan Ekonomi dan Sosial mengoordinasi pekerjaan Komisi-komisi dan
Badan-badan Khusus PBB seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
Organisasi Perburuhan Dunia (ILO), Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO),
dan Organisasi Pendidikan, Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO),
serta Dana Kanak-kanak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF).
Tugas Dewan Ekonomi dan Sosial adalah:
1) Bertanggung jawab dalam menyelenggarakan kegiatan ekonomi dan
sosial yang digariskan oleh PBB.
2) Mengembangkan ekonomi, sosial, dan budaya.
3) Memupuk hak asasi manusia.
4) Mengoordinasi kegiatan-kegiatan dari bidang khusus dengan
berkonsultasi dan menyampaikan pada sidang umum kepada mereka
dan anggota PBB.
d. Dewan Perwalian
Dewan Perwalian adalah badan PBB yang bertugas menyelenggarakan
pemerintahan dan melakukan pengawasan terhadap wilayah-wilayah yang
masuk kategori wilayah perwalian.
Wilayah perwalian adalah belas wilayah jajahan yang ditempatkan dalam
satu sistem perwalian sebagai satu cara agar negara-negara anggota
bertanggung jawab atas wilayah tersebut (biasanya negara bekas
penjajahnya) dan meningkatkan kemajuan wilayah itu menuju kemerdekaan.
Wilayah perwalian yang tidak berpemerintahan sendiri ini terutama dikenal
pada masa awal berdirinya PBB.
Komposisi dewan perwalian terdiri dari:
1) Anggota yang menguasai daerah perwalian,
2) Anggota tetap Dewan Keamanan
3) Sejumlah anggota yang dipilih untuk masa kerja selama 3 tahun oleh
Sidang Umum
Fungsi Dewan Perwalian adalah:
1) Mengusahakan kemajuan penduduk daerah perwalian dalam negara
untuk mencapai kemerdekaan sendiri,
2) Memberikan dorongan untuk menghormati hak-hak manusia,
3) Melaporkan hasil pengawasan kepada Sidang Umum PBB.
e. Mahkamah pengadilan internasional
Mahkamah Internasional adalah badan pengadilan internasional resmi
yang bersifat tetap dan bertugas untuk memeriksa dan memutus perkaraperkara yang diajukan kepadanya. Mahkamah Internasional terdiri atas 15
hakim yang dipilih oleh Majelis Umum berdasarkan kemampuan mereka,
bukan atas dasar kewarganegaraan mereka. Mahkamah Internasional
berkedudukan di Den Haag, Belanda.
Mahkamah Internasional (The International Court of Justice) adalah organ
utama lembaga kehakiman PBB, yang berkedudukan di Den Haag, Belanda
dan didirikan tahun 1945 berdasarkan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB). Mahkamah ini berfungsi sejak tahun 1946 sebagai pengganti
Mahkamah Internasional Permanen (Permanent Court of International
Justice).
Komposisi Mahkamah Internasional terdiri dari 15 (lima belas) hakim. Dua
di antaranya merangkap Ketua dan Wakil Ketua. Masa jabatannya adalah
Sembilan tahun. Kelima belas calon hakim tersebut direkrut dari warga
negara anggota yang dinilai memiliki kecakapan di bidang hukum
internasional. Bisanya lima hakim berasal dari negara anggota tetap DK PBB
(Amerika Serikat, Inggris, Prancis, China dan Russia). Di samping 15 hakim
tetap, dimungkinkan pembentukan hakim ad hoc. Hakim ad hoc terdiri dari
dua hakim yang diusulkan oleh negara yang bersengketa. Kedua hakim ad
hoc bersama-sama dengan kelima belas hakim tetap memeriksa dan
memutus perkara yang disidangkan.

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 67

Fungsi utama Mahkamah Internasional adalah menyelesaikan kasus-kasus


persengketaan internasional yang subjeknya adalah negara. Pasal 34 Statuta
Mahkamah Internasional menyatakan bahwa yang boleh beracara di
Mahkamah Internasional hanyalah subjek hukum negara (Only states may be
parties in case before the Court). Dalam hal ini, ada tiga kategori negara,
yaitu: negara anggota PBB; negara bukan anggota PBB yang menjadi
anggota Statuta Mahkamah Internasional; dan negara bukan anggota Statuta
Mahkamah Internasional.
Yurisdiksi Mahkamah Internasional adalah kewenangan yang dimiliki oleh
Mahkamah Internasional yang bersumber pada hukum internasional untuk
menentukan dan menegakkan sebuah aturan hukum. Yurisdiksi ini meliputi
kewenangan untuk:
1) Memutuskan perkara-perkara pertikaian (contentious case)
2) Memberikan opini-opini yang bersifat nasihat (advisory opinion)
f. Sekretariat
Sekretariat PBB adalah salah satu badan utama PBB yang dikepalai oleh
seorang Sekretaris Jenderal PBB, dibantu oleh seorang staf pembantu
pemerintah sedunia. Badan ini menyediakan penelitian, informasi, dan
fasilitasi yang dibutuhkan PBB untuk rapat-rapatnya. Badan ini juga
membawa tugas seperti yang diatur oleh Dewan Keamanan PBB, Sidang
Umum PBB, Dewan Ekonomi dan Sosial PBB, dan badan-badan PBB lainnya.
Sekretaris Jenderal PBB dipilih oleh sidang umum atas usul Dewan
Keamanan dan dapat dipilih kembali. Biasanya, Sekretaris Jenderal berasal
dari negara yang tidak terlibat politik besar dunia. Yang sudah pernah
menjabat Sekretaris Jenderal PBB adalah:
1) Trygve Lie, Norwegia (1945-1953)
2) Dag Hammarskjld, Swedia (1953-1961)
3) U Thant, Burma (1961-1971)
4) Kurt Waldheim, Austria (1972-1981)
5) Javier Prez de Cullar, Peru (1982-1996)
6) Boutros Boutros-Ghali, Mesir (1992-1996)
7) Kofi Annan, Ghana (1997-2006)
8) Ban Ki-Moon, Korea Selatan (2006-sekarang)
6. Badan Khusus PBB
Ada belasan organisasi internasional yang memperoleh kedudukan
sebagai badan khusus PBB antara lain:
a. Organisasi Buruh International/International Labour Organization (ILO)
b. Organisasi Bahan Makanan dan Pertanian Perserikatan BangsaBangsa/Food and Agriculture Organization (FAO)
c. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan
Bangsa-bangsa/United Nations Educational, Scientific and Cultural
Organization (UNESCO)
d. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO)
e. Bang Pembangunan dan Perkembangan Internasional/International Bank
of Reconstruction and Development (IBRD)
f. Dana Moneter Internasional/International Monetary Fund (IMF)
g. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional/International Civil Aviation
Organization (ICAO)
h. Persatuan Pos Sedunia/Universal Postal Union (UPU)
i. Persatuan Telekomunikasi Internasional/International Telecommunication
Union (ITU)
j. Organisasi Penasihat Maritim Antar Pemerintahan/Inter-Governmental
Maritime Consultative Organization (IMCO)
k. Organisasi Perdagangan InternasionalPersetujuan Mengenai Bea Cukai
dan Perdagangan/International Trade Organization General Agreement
of Tariffs and Trade (ITO-GATT)
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 68

Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB (United Nations atau UN) adalah


sebuah organisasi yang anggotanya mencakup hampir seluruh negara di
dunia. Lembaga ini dibentuk untuk memfasilitasi persoalan hukum
internasional,
pengamanan
internasional,
lembaga
ekonomi,
dan
perlindungan sosial bangsa-bangsa di seluruh dunia.
Latihan
1. Sebutan pengertian dari PBB!
2. Sebutkan bahasa resmi yang digunakan dalam persidangan PBB!
3. Sebutkan fungsi Pokok Dewan Keamanan PBB!
4. Sebutkan tugas Dewan Ekonomi dan Sosial PBB!
5. Sebutkan 5 contoh organisasi yang berkedudukan sebagai badan khusus
PBB!

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 69

Peta Konsep Organisasi Internasional ASEAN

Pengertian

Organisasi
Internasional ASEAN

Sejarah ASEAN
Prinsip prinsip Utama
Dibentuknya ASEAN
Tujuan Pembentukan ASEAN
Struktur Organisasi
ASEAN
Forum Regional ASEAN
(FRA)

1. Pengertian ASEAN
ASEAN adalah singkatan dari Association of Southeast Asian Nations atau
Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara. ASEAN didirikan pada tanggal 8
Agustus 1967 di Bangkok.
2. Sejarah ASEAN
ASEAN didirikan oleh 5 negara pemrakarsa, yaitu Indonesia, Malaysia,
Filipina, Singapura dan Thailand di Bangkok melalui Deklarasi Bangkok.
Menteri Luar Negeri penanda tangan Deklarasi Bangkok kala itu ialah Adam
Malik (Indonesia), Narciso R. Ramos (Filipina), Tun Abdul Razak (Malaysia), S.
Rajaratnam (Singapura), dan Thanat Khoman (Thailand).
Kini jumlah negara anggota ASEAN ada 10 negara. Brunei Darussalam
menjadi anggota keenam ASEAN sejak tanggal 7 Januari 1984. Vietnam
menjadi anggota ketujuh sejak tahun 1995. Laos dan Myanmar bergabung
dengan ASEAN pada tahun 1997. Sejak 30 April 1999 Kamboja resmi menjadi
anggota kesepuluh ASEAN.
3. Prinsip Pembentukan ASEAN
ASEAN dibentuk berdasarkan pada prinsip-prinsip utama, sebagai
berikut:
a. Saling menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesamaan, integritas
wilayah nasional, dan identitas nasional setiap negara.
b. Mengakui hak setiap bangsa untuk penghidupan nasional yang bebas dari
campur tangan luar, subversive dan intervensi dari luar.
c. Tidak saling turut campur urusan dalam negeri masing-masing.
d. Penyelesaian perbedaan atau pertengkaran dan persengketaan secara
damai.
e. Tidak mempergunakan ancaman (menolak penggunaan kekuatan) militer,
dan
f. Menjalankan kerja sama secara efektif antara anggota
4. Tujuan ASEAN
Tujuan Pembentukan ASEAN adalah untuk:
a. Mempercepat
pertumbuhan
ekonomi,
kemajuan
sosial
serta
pengembangan kebudayaan di kawasan ini melalui usaha bersama dalam
semangat kesamaan dan persahabatan untuk memperkokoh landasan
sebuah masyarakat bangsa-bangsa Asia Tenggara yang sejahtera dan
damai.
b. Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional dengan jalan
menghormati keadilan dan tertib hukum di dalam hubungan antara
negara-negara di kawasan ini serta mematuhi prinsip-prinsip Piagam
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 70

c. Meningkatkan kerja sama yang aktif serta saling membantu di dalam


masalah-masalah kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial,
kebudayaan, teknik, ilmu pengetahuan dan administrasi.
d. Saling memberikan bantuan dalam bentuk sarana-sarana latihan dan
penelitian dalam bidang-bidang pendidikan, profesional, teknik dan
administrasi.
e. Bekerja sama dengan lebih efektif dalam meningkatkan penggunaan
pertanian serta industri mereka, perluasan perdagangan komoditas
internasional, perbaikan sarana-sarana pengangkutan dan komunikasi,
serta peningkatan taraf hidup rakyat mereka.
f. Memelihara kerja sama yang erat dan berguna dengan organisasiorganisasi internasional dan regional yang ada, dan menjajaki segala
kemungkinan untuk saling bekerja sama secara lebih erat di antara
mereka sendiri.
5. Struktur Organisasi ASEAN
Pasca KTT-ASEAN di Bali (tahun 1976), struktur organisasi ASEAN adalah
sebagai berikut:
a. Summit Meeting (pertemuan kepala pemerintahan), yang merupakan
otoritas/kekuasaan tertinggi dalam ASEAN.
b. ASEAN Ministerian Meeting (sidang tahunan para menteri luar negeri)
c. Sidang para menteri lainnya (non-ekonomi)
d. Standing Committee
e. Komite-komite
6. Forum Regional ASEAN (FRA)
Forum regional ASEAN (FRA) adalah forum dialog tentang isu-isu
keamanan di wilayah Asia-Pasifik. Forum ini terdiri dari 23 negara yang
meliputi:
a. 10 negara ASEAN
b. Papua Nugini sebagai peninjau, dan
c. 12 negara partner dialog ASEAN (India, Jepang, Selandia Baru, Australia,
Kanada, Korea Utara, Korea Selatan, Mongolia, Federasi Rusia, Republik
Rakyat Cina, Amerika Serikat dan Uni Eropa).
ASEAN adalah singkatan dari Association of Southeast Asian Nations atau
Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara. ASEAN didirikan pada tanggal 8
Agustus 1967 di Bangkok.
ASEAN didirikan oleh 5 negara pemrakarsa, yaitu Indonesia, Malaysia,
Filipina, Singapura dan Thailand di Bangkok melalui Deklarasi Bangkok.
Latihan
1. Apa Kepanjangan dari ASEAN?
2. Sebutkan negara-negara anggota ASEAN sekarang!
3. Sebutkan tujuan berdirinya ASEAN!
4. Sebutkan struktur organisasi ASEAN menurut KTT-ASEAN di Bali tahun
1976!
5. Sebutkan negara-negara peserta Forum Regional ASEAN!
EVALUASI
Pilihan Ganda
Berilah tanda silang pada jawaban yang paling tepat!
1. Palestina kini mengalami krisis ekonomi luar biasa, akibat boikot yang
dilakukan oleh AS dan Uni Eropa. Hal ini terjadi karena ....
a. Hamas memenangi pemilu tahun 2006
b. Pertikaian yang tidak kunjung usai antara Palestina dan Israel
c. Konflik berkepanjangan antara Hamas dan Fatah
d. Sengketa permukiman di Jalur Gaza antara Palestina dan Israel
e. Pemerintah Palestina tidak mematuhi aturan internasional
2. Seorang duta besar, sebelum ditempatkan di negara lain, harus
mendapat
a. Hak asylum
MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 71

b.
c.
d.
e.

Hak imunitas
Letter of recall
Hak ekstrateritorial
Persetujuan dari kedua negara
3. Yang termasuk contoh organisasi pemerintah internasional adalah ....
a. Oxfam, Uni Eropa, dan PBB
b. ASEAN, Greenpeace, dan WWF
c. Uni Eropa, WTO, dan PBB
d. WTO, WHO, dan WWF
e. Oxfam, WWF, dan UNICEF
4. Apabila di suatu negara terjadi pergantian pemerintahan, maka
perjanjian yang telah dibuat oleh pemerintah sebelumnya ...

MODUL PKN KLS XI SMA NEGERI 9 MALANG

Page 72

a.
b.
c.
d.
e.

Otomatis batal
Tetap terikat
Perlu ditinjau kembali
Bebas untuk diteruskan atau tidak
Perlu penyesuaian
5. Hubungan internasional memiliki peranan penting dalam ....
a. memelihara perdamaian dunia
b. menegakkan hak asasi manusia
c. membuat perjanjian internasional
d. meningkatkan pengaruh negara adidaya
e. menjalin kerja sama militer antar negara
6. Perwakilan diplomatik yang mempunyai kekuasaan setingkat di bawah
duta besar adalah
a. doyen
b. atase
c. duta (gerzant)
d. menteri presiden
e. konsul jenderal
7. Tahap awal dalam pelaksanaan perjanjian internasional adalah..
a. Negotiation
c. Ratification
e. Information
b. Signature
d. Exchange of notes
8. Dalam meratifikasi perjanjian internasional, Indonesia mendasarkan
pada UUD 1945 pasal 11 ayat 1 yang berbunyi "Presiden dengan
persetujuan DPR menyatakan perang, membuat perdamaian, dan
membuat perjanjian dengan negara lain". Dalam hal ini artinya
Indonesia menganut sistem ....
a. Ratifikasi campuran
b. Ratifikasi eksekutif
c. Ratifikasi legislatif
d. Ratifikasi yudikatif
e. Ratifikasi masyarakat internasional
9. Perjanjian dan kerja sama internasional yang menyangkut kepentingan
dan hajat hidup orang banyak harus melalui persetujuan.
a. MPR
b. DPR
c. Presiden
d. Mahkamah Agung
e. Mahkamah Konstitusi
10.
Organ utama yang menangani konflik Palestina dan Israel serta
masalah nuklir Iran adalah....
a. Majelis Umum
b. Mahkamah Internasional
c. Dewan Perwalian
d. Sekretariat Jenderal
e. Dewan Keamanan
11.
Apabila suatu negara memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi
maka diperlukan ....
a. berbagai cara memenuhi kebutuhan sendiri
b. mengadakan kerja sama dengan berbagai bangsa
c. memanfaatkan kekayaan alam bangsa itu
d. menyesuaikan kebutuhan dengan kondisi yang ada
e. hidup dengan apa adanya sesuai dengan kondisi yang ada
12.
Pada hakikatnya manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan itu
adalah sama, bedanya terletak pada alam di mana manusia itu berada,
maka kita perlu
a. menyesuaikan diri dengan tempat kita berada
b. menerima kenyataan yang ada
73

c. mengadakan hubungan saling membutuhkan


d. mempunyai kemampuan tidak membutuhkan orang lain
e. pasrah menerima kenyataan yang ada
13.
Setiap negara memiliki aspek kehidupan tidak sama, untuk itu
kita ....
a. saling berupaya memenuhi kebutuhan bangsa lain
b. mengajak bangsa lain untuk berupaya sendiri
c. mendidik bangsa lain tidak tergantung pada bangsa lain
d. membiarkan bangsa lain tergantung pada bangsa lain
e. setiap bangsa itu sudah ditentukan nasibnya
14.
Agar terciptanya kerukunan dan kerja sama yang saling
menguntungkan, maka perlu ....
a. Pengakuan persamaan hak dan kedaulatan dari semua negara
b. Menghindari ancaman peperangan
c. Memelihara perdamaian dan keamanan internasional
d. Menjauhi penggunaan ancaman atau kekerasan pada negara lain
e. Hidup bebas dari rasa takut dan kemiskinan
15.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) didirikan adalah dengan
tujuan
a. Mengakui kesamaan hak dan kedaulatan dari semua negara
b. Untuk menghindari ancaman peperangan
c. Memelihara perdamaian dan keamanan internasional
d. Menjauhi penggunaan ancaman atau kekerasan pada negara lain
e. Untuk hidup bebas dari rasa takut dan kemiskinan
16.
Agar kita tidak hanyut dalam arus pertentangan negara-negara
besar, maka harus berpolitik....
a. Sesuai dengan budaya kita sendiri
b. Demi kepentingan nasional
c. Yang tidak memihak ke negara lain
d. Luar negeri bebas aktif
e. Yang menguntungkan pada bangsa
17.
Prinsip-prinsip pokok politik luar negeri Indonesia adalah ...
a. Undang-Undang Dasar 1945
b. Menjalankan politik damai
c. Menguntungkan pada bangsa sendiri
d. Tidak campur tangan urusan negara lain
e. Tidak memihak ke negara manapun
18.
Perwujudan politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif
antara lainnya ...
a. Bersahabat dengan segala bangsa manapun
b. Membentuk organisasi di kawasan Asia Tenggara
c. Ikut serta masalah suku Moro di Filipina selatan
d. Membuka diri untuk mengadakan hubungan dengan semua pihak
e. Tidak terlalu terikat dengan aturan internasional
19.
Masuknya negara Indonesia menjadi anggota PBB adalah
untuk ....
a. Memudahkan pengakuan dari negara lain
b. Ikut serta melaksanakan ketertiban dunia
c. Memanfaatkan bantuan dari negara kaya
d. Dapat mengikuti pertumbuhan dan perkembangan
e. Memasyarakatkan kekayaan alam Indonesia
20.
Manfaat yang dapat kita rasakan sebagai anggota PBB adalah ....
a. Masuknya wisata asing ke Indonesia
b. Dapat mengenal budaya bangsa lain
c. Menyelesaikan sengketa masalah Irian Barat
d. Mengharapkan bantuan keuangan dari negara
e. Memperlancar hubungan negara lain
74

21.
22.
23.
MODUL 5
24.
SISTEM HUKUM DAN
25.
PERADILAN INTERNASIONAL
26.
27.
28.
29.

Peta Konsep Hukum dan Peradilan Internasional


Pengertian

Hukum Publik Internasional


Hukum Privat (Perdata)

Konsep Dasar H.I.


Teritorial
Asas-asas H.I.

Kebangsaan
Kepentingan Umum
Perjanjian Internasional
Dalam Arti Formal

Sumber-sumber H.I.

Kebiasaan Internasional
Prinsip-prinsip Hukum Umum

Yurispendensi & Anggapan-anggapan Para Ahli HI


Kebangsaan
Dalam Arti Material

Hukum Internasional
dan
Peradilan Internasional
Subjek-subjek H.I.

Kebangsaan

Negara
Tanah Suci (Vatikan)
PMI
Organisasi Internasional
Prang Perseorangan (individu)
Pemberontak Dan Pihak Dalam Sengketa
Mahkamah Internasional

Lembaga Peradilan Internasional


Peradilan Internasional

75

1. Pengertian Hukum Internasional


30.
Menurut Mochtar Kusumaatmaja, hukum internasional adalah
keseluruhan kaidah dan asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang
melintasi batas-batas negara antara negara dan negara dan subjek hukum
lain bukan negara, atau subjek hukum bukan negara satu sama lain.
2. Konsep Dasar Hukum Internasional
31.
Hukum internasional digolongkan menjadi dua, yaitu sebagai
berikut.
a. Hukum Publik Internasional, adalah kumpulan peraturan hukum yang
mengatur tentang hubungan antar negara merdeka dan berdaulat.
Hukum publik internasional disebut juga hukum antar negara atau
hukum internasional.
b. Hukum Privat (perdata) Internasional adalah ketentuan-ketentuan yang
mengatur hubungan hukum antara seseorang dan orang lain yang
berlainan warga negaranya dalam sebuah negara yang berkaitan
dengan keperdataan. Hukum privat (perdata) internasional dikenal juga
dengan istilah hukum antar bangsa.
32.
Kedua hukum tersebut selalu mengandung unsur-unsur asing di
dalamnya, yaitu hubungan hukum yang terjadi berkenaan dengan sebuah
negara dan negara lain atau warga negara dengan orang asing, atau orang
asing dengan orang asing dalam sebuah negara.
3. Asas Hukum Internasional
33.
Hukum internasional haruslah memperhatikan asas-asas berikut
dalam rangka menjalin hubungan internasional.
a. Asas teritorial
34. Asas ini didasarkan pada kekuasaan negara atas wilayahnya. Menurut
asas ini, negara melaksanakan hukum bagi semua orang dan semua
barang yang ada di wilayahnya. Jadi, terhadap semua barang atau orang
yang berada di luar wilayah tersebut, berlaku hukum asing
(internasional) sepenuhnya.
b. Asas kebangsaan
35. Asas ini didasarkan pada kekuasaan negara untuk warga negaranya.
Menurut asas ini, setiap warga negara di mana pun ia berada, tetap
mendapat perlakuan hukum dari negaranya. Asas ini mempunyai
kekuatan ekstra teritorial. Artinya, hukum negara tersebut tetap berlaku
bagi warga negaranya, walaupun berada di negara asing.
c. Asas kepentingan umum
36. Asas ini didasarkan pada wewenang negara untuk melindungi dan
mengatur kepentingan dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut asas
ini, negara dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan dan
peristiwa yang berkaitan dengan kepentingan umum. Jadi, hukum tidak
terikat pada batas-batas wilayah suatu negara.
4. Sumber-sumber hukum Internasional
37.
Menurut Mochtar Kusumaatmaja dalam Hukum Internasional
Humaniter (1980), sumber hukum internasional dibedakan atas sumber
hukum dalam arti formal dan sumber hukum dalam arti material. Sumber
hukum internasional formal diatur dalam Piagam PBB.
38.
Secara formal, sumber-sumber hukum internasional dapat
dibaca pada pasal 38 ayat 1 Piagam Mahkamah Internasional. Menurut
ketentuan pasal tersebut, ada 4 (empat) sumber hukum internasional formal
yang merupakan sumber hukum utama tanpa menentukan urutan
pentingnya. Keempat sumber hukum internasional formal tersebut adalah
sebagai berikut.
a. Perjanjian Internasional (traktat)
39.
Perjanjian internasional adalah suatu ikatan hukum yang terjadi
berdasarkan kata sepakat antara negara-negara sebagai anggota organisasi
bangsa-bangsa dengan tujuan melaksanakan hukum tertentu yang
76

mempunyai akibat hukum tertentu. Suatu perjanjian internasional yang


terjadi akan membuat hukum yaitu sumber hukum antarnegara yang
mengikat.
40.
Kebiasaan Internasional. Hukum kebiasaan yang berlaku
internasional dalam mengadakan hubungan hukum dapat diketahui dari
praktik pelaksanaan pergaulan negara-negara itu. Peraturannya sampai
sekarang sebagian besar masih merupakan bagian dari kumpulan peraturan
hukum internasional. Meskipun demikian, hal yang penting ialah
diterimanya suatu kebiasaan sebagai hukum yang bersifat umum dan
kemudian menjadi hukum kebiasaan internasional. Contohnya, peraturan
yang mengatur tentang cara-cara mengadakan perjanjian internasional.
b. Prinsip-prinsip hukum umum
41.
Prinsip-prinsip hukum umum yang dimaksud yaitu dasar-dasar
sistem hukum pada umumnya yang berasal dari asas hukum Romawi.
Menurut Sri Setianingsih Suwardi, S.H., fungsi dari prinsip-prinsip hukum
umum ini terdiri atas tiga hal berikut.
1) Sebagai pelengkap dari hukum kebiasaan dan perjanjian internasional
42.
Contohnya,
Mahkamah
Internasional
tidak
dapat
menyatakan non liquet, yaitu tidak dapat mengadili karena tidak ada
hukum yang mengaturnya. Tetapi dengan adanya sumber ini
Mahkamah Internasional bebas bergerak.
2) Sebagai penafsiran bagi perjanjian internasional dan hukum
kebiasaan.
43.
Maksudnya, kedua sumber hukum itu harus sesuai dengan
asas-asas hukum umum.
3) Sebagai pembatasan bagi perjanjian hukum internasional dan hukum
kebiasaan.
44.
Contohnya, perjanjian internasional tidak dapat memuat
ketentuan yang bertentangan dengan asas-asas hukum.
4) Yurisprudensi dan anggapan-anggapan para ahli hukum internasional
45. Yurisprudensi internasional (judicial decisions) dan anggapananggapan para ahli hukum internasional hanya digunakan untuk
membuktikan dipakai tidaknya kaidah hukum internasional berdasarkan
sumber hukum primer, seperti perjanjian internasional, kebiasaan
internasional, dan prinsip-prinsip hukum umum dalam menyelesaikan
perselisihan internasional. Oleh karena itu, apabila terjadi perselisihan
internasional, banyak negara yang segan menyelesaikan masalahnya
melalui pengadilan internasional. Mahkamah Internasional tidak
berwenang memaksakan negara yang berselisih untuk membawa
masalahnya ke hadapan pengadilan internasional.
46.
Sedangkan anggapan-anggapan para ahli hukum internasional
memiliki peranan penting sebagai sumber hukum dalam arti sumber hukum
tambahan.
Maksudnya,
walaupun
anggapan-anggapan
itu
tidak
menimbulkan hukum, tetapi akan menjadi sangat penting kalau secara
langsung dapat memberikan penyelesaian dalam suatu masalah hukum
internasional.
47.
Sedangkan sumber hukum material membahas tentang dasar
berlakunya hukum suatu negara. Sumber hukum material terdiri dari dua
aliran berikut:
a. Aliran naturalis
48. Aliran ini bersandar pada hak asasi atau hal-hal alamiah yang
bersumber dari hukum Tuhan sehingga menempai posisi lebih tinggi dari
hukum nasional (Grotius)
b. Aliran positivisme
49. Aliran ini mendasarkan berlakunya hukum internasional pada
persetujuan bersama dari negara-negara ditambah dengan asas pacta
sunt servada (Hans Kelsen).
77

5. Subjek-subjek Hukum Internasional


50.
Yang termasuk subjek-subjek hukum internasional adalah
sebagai berikut:
a. Negara
51. Negara dapat menjadi subjek hukum internasional yaitu negara yang
merdeka, berdaulat dan tidak merupakan bagian dari suatu negara.
Negara yang berdaulat artinya negara yang mempunyai pemerintahan
sendiri secara penuh, yaitu kekuasaan penuh terhadap warga negara
dalam lingkungan kewenangan negara itu.
b. Tahta Suci (Vatikan)
52. Yang dimaksud Tahta Suci (Heilige Stoel) ialah Gereja Katolik Roma
yang diwakili oleh Paus di Vatikan. Walaupun Vatikan bukan sebuah
negara seperti pada umumnya, Tahta Suci mempunyai kedudukan yang
sama dengan sebuah negara sebagai subjek hukum internasional.
c. Palang Merah Internasional
53. Kedudukan Palang Merah Internasional sebagai subjek hukum
internasional diperkuat dengan adanya beberapa perjanjian. Di
antaranya Konvensi Jenewa tentang perlindungan korban perang.
d. Organisasi Internasional
54. Dalam pergaulan internasional yang menyangkut hubungan
antarnegara, banyak sekali organisasi yang diadakan (dibentuk) oleh
negara-negara itu. Bahkan sekarang dapat dikatakan telah menjadi
lembaga hukum. Menurut perkembangannya, suatu organisasi
internasional timbul pada tahun 1915 dan menjadi lembaga hukum
internasional sejak Kongres Wina.
e. Orang Perseorangan (individu)
55. Manusia sebagai individu dianggap sebagai subjek hukum
internasional jika dalam tindakan atau kegiatan yang dilakukannya
memperoleh penilaian positif atau negatif sesuai kehendak damai
kehidupan masyarakat dunia. Individu juga dapat mengajukan perkara
kepada Mahkamah Arbitrase Internasional.
f. Pemberontak dan Pihak dalam Sengketa
56. Pemberontak dan pihak dalam sengketa dianggap sebagai salah satu
subjek hukum internasional karena mereka memiliki hak yang sama
untuk:
1) Menentukan nasibnya sendiri
2) Memilih sistem ekonomi, politik, sosial mereka sendiri
3) Menguasai sumber kekayaan alam di wilayah yang didudukinya
57. Contohnya, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang melakukan perundingan
dengan Pemerintah Indonesia di Swedia.
6. Lembaga Peradilan Internasional
a. Mahkamah Internasional
58.
Mahkamah internasional merupakan pengadilan tertinggi dalam
kehidupan bernegara di dunia ini. Sebagai aparat perlengkapan negara PBB,
Mahkamah Internasional beranggotakan 15 orang hakim yang dipilih oleh
Majelis Umum dan Dewan Keamanan. Masa pilih para hakim Mahkamah
Internasional adalah 9 tahun sekali dengan ketentuan dapat dipilih kembali.
59.
Mahkamah Internasional berkedudukan di Den Haag (Belanda).
Sebagai pengadilan internasional, Mahkamah bertugas menyelesaikan
perselisihan internasional dari negara-negara anggota PBB, sebab semua
anggota PBB adalah ipsofacto dari Piagam Mahkamah Internasional menurut
pasal 93 ayat 1 Piagam PBB. Sedangkan pada ayat 2 menyatakan bahwa
negara yang bukan anggota PBB boleh menjadi peserta dari Piagam
Mahkamah Internasional sesuai syarat-syarat yang ditetapkan oleh Majelis
Umum atas anjuran Dewan Keamanan. Berdasarkan ketentuan ini berarti
Mahkamah Internasional dapat mengadili negara-negara bukan anggota
78

PBB dalam menghadapi perselisihan. Mahkamah mengadili masalah yang


berkenaan dengan perselisihan kepentingan dan perselisihan hukum.
b. Pengadilan Internasional
60.
Dalam penyelenggaraan Pengadilan Internasional, setiap negara
anggota PBB tidak diwajibkan membawa masalah perselisihan yang mereka
hadapi ke pengadilan, kecuali bagi negara-negara yang telah
menandatangani optional clause. Ketentuan tersebut dicantumkan dalam
pasal 36 ayat 2 Piagam Mahkamah Internasional yang menyatakan bahwa
negara-negara
peserta
Piagam
Mahkamah
Internasional
dapat
menerangkan bahwa mereka mengakui kekuasaan Mahkamah Internasional
sebagai kekuasaan yang mengikat berdasar hukum dan dapat tidak
mengikat berdasarkan perjanjian istimewa.
61.
Dalam hal ini, hubungan hukum internasional mengenai proses
perkara berdasarkan surat gugatan. Dengan adanya optional clause
menunjukkan langkah penting menuju suatu pengadilan internasional wajib,
walaupun penandatanganan dari negara-negara anggota hanya mengenai
penyelesaian perselisihan hukum saja.
62.
Hukum internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas yang
mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas-batas negara
antara negara dan negara dan subjek hukum lain bukan negara, atau subjek
hukum bukan negara satu sama lain.
63.
Latihan
1. Sebutkan dan jelaskan konsep dasar hukum internasional!
2. Sebutkan dan jelaskan asas-asas hukum internasional!
3. Sebutkan sumber-sumber hukum internasional secara formal!
4. Mengapa pemberontak dan pihak dalam sengketa dianggap sebagai
salah satu subjek hukum internasional?
5. Apa dasar yang memberi wewenang Mahkamah Internasional untuk
mengadili negara-negara bukan anggota PBB?
64.
65.
Peta konsep Sengketa Internasional
66.
67.
Arbritase
Pengertian
S.I.

Penyelesaian Yudisial

Sebab-sebab
S.I.

Dam
ai

Cara
Menyelesaika
n S.I.

Paksa

Negosiasi, Jasa-jasa Baik,


Mediasi, Konsiliasi, dan
Penyelidikan
Perang & Tindakan
bersenjata non-perang
Retorsi
Tindakan-tindakan
pembalasan
Blokade secara damai

Sengketa
Internasio
nal

Intervensi
Dasar
Hukum
Peradilan

Mekanis
me

Mekanisme
Persidanga
n (Proses
Beracara)
M.I.

Penyerahan Perjanjian
Khusus/Aplikasi
Pembelaan Tertulis
Presentasi Pembelaan
Keputusan

Mekanis
me

Keberatan Awal
Ketidakhadiran salah satu
pihak
Keputusan Sela
Beracara Bersama

79
Tiga Kemungkinan
Contoh
Putusan M.I
dan Reaksi
yang
DapatPara
Terjadi
Pihak
yangS.I.
Jika
Bersengketa
Diselesaikan

Intervensi

1. Pengertian Sengketa Internasional


68.
Yang dimaksud dengan sengketa internasional (international
dispute) adalah perselisihan yang terjadi antara negara dengan negara,
negara dengan individu-individu atau negara dengan badan-badan/lembaga
yang menjadi subjek hukum internasional. Sengketa tersebut bisa terjadi
karena berbagai sebab, antara lain:
a. Salah satu pihak tidak memenuhi kewajiban dalam perjanjian
internasional
b. Perbedaan penafsiran mengenai isi perjanjian internasional
c. Perebutan sumber-sumber ekonomi
d. Perebutan pengaruh ekonomi, politik ataupun keamanan regional dan
internasional
e. Adanya intervensi terhadap kedaulatan negara lain
f. Penghinaan terhadap harga diri bangsa
2. Penyelesaian Sengketa Internasional
69.
Penyelesaian sengketa internasional dengan cara yang seadiladilnya bagi para pihak merupakan dambaan masyarakat internasional.
Untuk itu, Konvensi De Hague 1899 dan 1907 tentang Penyelesaian secara
Damai Sengketa-sengketa Internasional dan Piagam Perserikatan BangsaBangsa memberikan acuan cara-cara penyelesaian sengketa internasional.
70.
Secara umum, ada dua cara penyelesaian sengketa
internasional. Pertama, penyelesaian secara damai. Kedua, bila
penyelesaian secara damai gagal dilakukan, maka penyelesaian dilakukan
dengan paksa atau kekerasan.
a. Penyelesaian Sengketa Internasional secara Damai
71. Penyelesaian sengketa internasional secara damai merupakan
penyelesaian tanpa paksaan atau kekerasan. Cara-cara penyelesaian
secara damai meliputi: arbitrase (arbitration); penyelesaian yudisial
(judicial settlement); negosiasi, jasa-jasa baik (good offices), mediasi,
konsiliasi, penyelidikan (inquiry); penyelesaian di bawah naungan
organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pembedaan cara-cara tersebut
tidak berarti bahwa proses penyelesaian sengketa internasional satu
sama lain terpisah secara tegas, melainkan ada kemungkinan antara
cara yang satu dengan yang lain saling berhubungan.
1) Arbitrase
72. Arbitrase merupakan penyelesaian sengketa secara damai. Proses ini
dilakukan dengan cara menyerahkan penyelesaian sengketa kepada
orang-orang tertentu, yaitu arbitrator. Mereka dipilih secara bebas
oleh para pihak yang bersengketa. Mereka itulah yang memutuskan
penyelesaian sengketa, tanpa terlalu terikat pada pertimbanganpertimbangan hukum.
73. Pengadilan-pengadilan arbitrasi semestinya berkewajiban untuk
menerapkan hukum internasional. Namun, pengalaman di lapangan
hukum internasional menunjukkan adanya kecenderungan yang
berbeda. Beberapa sengketa yang menyangkut masalah hukum
sering kali diputuskan berdasarkan kepatutan dan keadilan (ex
aequo et bono).
74. Dalam proses arbitrasi ada prosedur tertentu yang harus ditempuh.
Bila terjadi sengketa antara dua negara dan mereka menghendaki
penyelesaian melalui Permanent Court of Arbitration, maka mereka
harus mengikuti prosedur tertentu. Prosedur tersebut harus ditaati
dan dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah hukum internasional.
Adapun prosedurnya adalah sebagai berikut:
a) Masing-masing negara yang bersengketa tersebut menunjuk dua
arbitrator. Salah seorang di antaranya boleh warga negara mereka
sendiri, atau dipilih dari orang-orang yang dinominasikan oleh
negara itu sebagai anggota panel mahkamah arbitrasi.
80

b) Para arbitrator tersebut kemudian memilih seorang wasit yang


bertindak sebagai ketua dari pengadilan arbitrasi tersebut.
c) Putusan diberikan melalui suara terbanyak.
75. Dengan demikian, arbitrase pada hakikatnya merupakan salah satu
consensus atau kesepakatan bersama di antara para pihak yang
bersengketa. Suatu negara tidak dapat dipaksa untuk dibawa ke
muka pengadilan arbitrase, kecuali jika mereka setuju untuk
melakukan hal tersebut.
76. Penyelesaian yudisial
77. Penyelesaian yudisial adalah suatu penyelesaian sengketa
internasional melalui suatu pengadilan internasional yang dibentuk
sebagaimana mestinya, dengan memberlakukan kaidah-kaidah
hukum. Lembaga pengadilan internasional yang berfungsi sebagai
organ penyelesaian yudisial dalam masyarakat internasional adalah
International Court of Justice. Lebih jauh mengenai hal ini akan
dibahas dalam uraian sub E di bawah.
2) Negosiasi, jasa-jasa baik, mediasi, konsiliasi dan penyelidikan
78. Negosiasi, jasa-jasa baik, mediasi, konsiliasi dan penyelidikan adalah
cara-cara penyelesaian yang kurang begitu formal dibandingkan
dengan penyelesaian yudisial atau arbitrase.
79. Cara negosiasi sering diadakan dalam kaitannya dengan jasa-jasa
baik (good offices) atau mediasi. Kecenderungan yang berkembang
dewasa ini menunjukkan, sebelum diadakan negosiasi, ada dua
proses yang telah dilakukan terlebih dahulu, yaitu konsultasi dan
komunikasi. Tanpa kedua media tersebut sering kali dalam beberapa
hal negosiasi tidak dapat berjalan. Contoh, negosiasi yang
berkesinambungan diperlihatkan oleh pembentukan United StatesSoviet Intermediate Range Nuclear Agreement (INF) pada bulan
Desember 1987.
80. Jasa-jasa baik atau mediasi merupakan cara penyelesaian sengketa
internasional di mana negara ketiga yang bersahabat dengan para
pihak yang bersengketa membantu penyelesaian sengketa secara
damai. Pihak-pihak yang menawarkan jasa-jasa baik atau mediator
bisa merupakan individu atau juga organisasi internasional.
Contohnya adalah pemberian jasa-jasa baik oleh Dewan Keamanan
PBB tahun 1947 dalam sengketa antara Republik Indonesia dengan
negeri Belanda. Perbedaan antara jasa-jasa baik dan mediasi adalah
persoalan tingkat. Dalam penyelesaian sengketa internasional
dengan menggunakan jasa-jasa baik, pihak ketiga menawarkan jasajasa untuk mempertemukan pihak-pihak yang bersengketa. Selain
itu, pihak tersebut mengusulkan (dalam bentuk syarat umum)
dilakukannya penyelesaian. Tetapi, ia sendiri secara nyata tidak ikut
serta dalam pertemuan. Demikian pula, ia tidak melakukan suatu
penyelidikan secara seksama atas beberapa aspek dari sengketa
tersebut.
81. Sebaliknya dalam penyelesaian sengketa internasional dengan
menggunakan mediasi, pihak yang melakukan mediasi memiliki
suatu peran yang lebih aktif. Ia ikut serta dalam negosiasi serta
mengarahkan pihak-pihak yang bersengketa sedemikian rupa
sehingga penyelesaian dapat tercapai, meskipun usulan-usulan yang
diajukannya tidak berlaku mengikat terhadap para pihak yang
bersengketa.
82. Ruang lingkup jasa-jasa baik dan mediasi agak terbatas. Dalam
kedua metode tersebut ada kekurangan prosedur untuk melakukan
penyelidikan atas fakta hukum secara mendalam. Oleh karena itu, di
masa mendatang kemungkinan besar metode tersebut akan menjadi
semacam langkah pendahuluan atau sebagai bantuan terhadap cara
81

penyelesaian khusus seperti konsiliasi, penyelidikan (inquiry), dan


penyelesaian melalui PBB.
83. Istilah konsiliasi mempunyai arti yang luas dan sempit. Dalam
pengertian luas, konsiliasi mencakup berbagai ragam metode di
mana suatu sengketa diselesaikan secara damai dengan bantuan
negara-negara lain atau badan-badan penyelidik dan komite-komite
penasihat yang tidak berpihak. Dalam pengertian sempit, konsiliasi
adalah suatu penyelesaian sengketa internasional melalui sebuah
komisi atau komite. Komisi atau komite tersebut membuat laporan
beserta usul kepada para pihak yang bersengketa tentang
penyelesaian sengketa tersebut. Usulan tersebut tidak memiliki sifat
mengikat Komisi konsiliasi diatur dalam Konvensi The Hague 1899
dan
1907
untuk
Penyelesaian
Damai
Sengketa-sengketa
Internasional. Komisi tersebut dapat dibentuk melalui perjanjian
khusus antara pihak yang bersengketa. Tugas komisi tersebut adalah
menyelidiki serta melaporkan fakta, dengan ketentuan bahwa isi
laporan itu bagaimanapun tidak mengikat para pihak dalam
sengketa.
84. Penyelidikan sebagai suatu cara menyelesaikan sengketa secara
damai dilakukan dengan tujuan menetapkan suatu fakta yang dapat
digunakan untuk memperlancar suatu perundingan. Kasus yang
sering diselesaikan dengan bantuan metode ini umumnya adalah
kasus-kasus yang berkaitan dengan sengketa batas-batas wilayah
suatu negara. Untuk itu Komisi Penyelidik dibentuk untuk menyelidiki
fakta
sejarah
dan
geografis
menyangkut
wilayah
yang
disengketakan.
3) Penyelesaian di bawah Naungan Organisasi Perserikatan BangsaBangsa
85. Organisasi PBB yang dibentuk tahun 1945 didirikan sebagai
pengganti Liga Bangsa-Bangsa. Organisasi ini telah mengambil alih
sebagian besar tanggung jawab untuk menyelesaikan sengketasengketa internasional.
86. Salah satu tujuan organisasi itu adalah menyelesaikan perselisihan
antarnegara. Melalui pasal 2 Piagam PBB, anggota-anggota PBB
harus berusaha menyelesaikan sengketa-sengketa mereka melalui
cara-cara damai dan menghindarkan ancaman perang atau
penggunaan kekerasan. Sehubungan dengan penyelesaian sengketa
internasional, tanggung jawab penting beralih ke tangan Majelis
Umum dan Dewan Keamanan, sesuai dengan wewenang luas yang
dipercayakan kepada keduanya. Majelis Umum diberi wewenang
merekomendasikan tindakan-tindakan untuk penyelesaian damai
atas suatu keadaan yang dapat mengganggu kesejahteraan umum
atau hubungan-hubungan persahabatan di antara bangsa-bangsa.
87.
b. Cara-cara Penyelesaian secara Paksa atau Kekerasan
88.
Ada kalanya para pihak yang terlibat dalam sengketa
internasional tidak mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa
tersebut secara damai. Bila itu terjadi, cara pemecahan yang mungkin
adalah dengan cara-cara kekerasan. Cara-cara penyelesaian dengan
kekerasan di antaranya adalah: perang dan tindakan bersenjata nonperang; retorsi; tindakan-tindakan pembalasan; blokade secara damai;
intervensi.
1) Perang dan tindakan bersenjata non perang
89.
Perang dan tindakan bersenjata non perang bertujuan untuk
menaklukkan negara lawan dan untuk membebankan syarat-syarat
penyelesaian suatu sengketa internasional. Melalui cara tersebut,
82

negara yang ditaklukkan itu tidak memiliki alternatif lain selain


mematuhinya.
2) Retorsi
90.
Retorsi adalah pembalasan dendam oleh suatu negara terhadap
tindakan-tindakan tidak pantas yang dilakukan oleh negara lain.
Balas dendam dilakukan dalam bentuk tindakan-tindakan sah yang
tidak bersahabat yang dilakukan oleh negara yang kehormatannya
dihina. Misalnya, dengan cara menurunkan status hubungan
diplomatik, pencabutan privilege diplomatik, atau penarikan diri dari
kesepakatan-kesepakatan fiskal dan bea masuk.
3) Tindakan-tindakan pembalasan
91.
Pembalasan adalah cara penyelesaian sengketa internasional
yang digunakan oleh suatu negara untuk mengupayakan
diperolehnya ganti rugi dari negara lain. Cara penyelesaian sengketa
tersebut adalah dengan melakukan tindakan pemaksaan kepada
suatu negara untuk menyelesaikan sengketa yang disebabkan oleh
tindakan ilegal atau tidak sah yang dilakukan oleh negara tersebut.
4) Blokade secara damai
92.
Blokade secara damai adalah suatu tindakan yang dilakukan
pada waktu damai. Kadang-kadang tindakan tersebut digolongkan
sebagai suatu pembalasan. Tindakan tersebut pada umumnya
ditujukan untuk memaksa negara yang pelabuhannya diblokade
untuk menaati permintaan ganti rugi atas kerugian yang diderita
oleh negara yang memblokade.
5) Intervensi (intervention)
93.
Pengertian intervensi sebagai cara untuk menyelesaikan
sengketa internasional adalah tindakan campur tangan terhadap
kemerdekaan politik negara tertentu secara sah dan tidak melanggar
hukum internasional. Ketentuan-ketentuan yang termasuk dalam
kategori intervensi sah adalah sebagai berikut:
a) Intervensi kolektif sesuai dengan Piagam PBB
b) Intervensi untuk melindungi hak-hak dan kepentingan warga
negaranya
c) Pertahanan diri
d) Negara yang menjadi objek intervensi dipersalahkan melakukan
pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
3. Dasar Hukum Proses Peradilan Mahkamah Internasional
94.
Ada lima aturan yang menjadi dasar dan rujukan proses
persidangan MI. kelima aturan tersebut meliputi: Piagam PBB; Statuta MI
(1945); Aturan Mahkamah (Rules of the Court) 1970; Panduan Praktik
(Practice Directions) I-IX; dan Resolusi tentang Praktik Yudisial Internal
Mahkamah (Resolurion Concerning the Internal Judicial Practice of the
Court).
95.
Di dalam Piagam PBB 1945, dasar hukum yang berkenaan
dengan MI terdapat dalam Bab XIV tentang Mahkamah Internasional yang
terdiri atas 5
96.
pasal, yaitu Pasal 92-96. Sedangkan dalam Statuta MI,
ketentuan mengenai proses beracara tercantum dalam Bab III yang
mengatur tentang Prosedur , yang terdiri dari 26 pasal (Pasal 39-46); selain
itu juga dalam Bab IV yang memuat tentang Advisory Opinion, terdiri atas 4
pasal (Pasl 65-68).
97.
Sementara itu, Aturan Mahkamah (Rules of the Court) 1970
terdiri atas 108 pasal. Aturan ini dibuat pada tahun 1970 dan telah
mengalami beberapa kali amandemen. Amandemen terakhir dilakukan pada
tanggal 5 Desember 2000. Aturan ini berlaku sejak tanggal 1 Februari 2001
dan bersifat tidak berlaku surut (non-retroactive).
83

98.
Berikutnya, Panduan Praktik (Practical Directions) I-IX. Ada 9
panduan praktik yang dijadikan dasar proses beracana MI. Panduan ini
umumnya berkenaan dengan hal surat pembelaan (written pleadings)
dalam proses beracara di MI.
99.
Akhirnya, Resolusi tentang Praktik Yudisial Internal Mahkamah
(Resolution Concerning the Internal Judicial Practice of the Court). Resolusi
ini terdiri atas 10 ketentuan tentang proses beracara MI. aturan ini diadopsi
dari pasal 19 Aturan Mahkamah 1970 pada 12 April 1976. Resolusi ini
menggantikan resolusi yang sama tentang Internal Judicial Practice tanggal
5 Juli 1968.
100.
4. Mekanisme
Persidangan
(Proses
Beracara)
Mahkamah
Internasional
101.
Secara umum, mekanisme persidangan MI bisa dibedakan
menjadi dua, yaitu mekanisme normal dan mekanisme khusus.
a. Mekanisme normal
102.
Secara ringkas, mekanisme normal persidangan MI dilaksanakan
dengan urutan sebagai berikut:
1) Penyerahan Perjanjian Khusus (Notificatoon of Special Agreement)
atau Aplikasi (Application)
103.
Dalam hal ini, persidangan (proses beracara) dimulai dengan
penyerahan perjanjian khusus antara kedua pihak yang bersengketa
yang berisi penerimaan yurisdiksi MI. Dalam perjanjian tersebut
dimuat identitas para pihak yang bersengketa dan inti sengketa.
104.
Ada bentuk lain proses awal persidangan, yaitu dengan
penyerahan aplikasi oleh salah satu pihak yang bersengketa. Dalam
hal ini, aplikasi berisikan identitas pihak yang menyerahkan aplikasi,
identitas pihak yang menjadi lawan dalam sengketa tersebut, dan
pokok persoalan sengketa. Negara yang mengajukan aplikasi disebut
applicant, sedangkan pihak lawan disebut responden.
105.
Perjanjian khusus atau aplikasi tersebut pada umumnya
ditandatangani oleh wakil dan dilampiri surat Menteri Luar Negeri atau
Duta Besar negara yang bersangkutan.
106.
Setelah diterima oleh register MI, perjanjian khusus atau aplikasi
tersebut segera dikirimkan kepada kedua belah pihak yang
bersengketa dan kepada negara-negara anggota MI. Selanjutnya,
perjanjian khusus dan aplikasi tersebut dimasukkan dalam Daftar
Umum Mahkamah (Courts General Lists), dilanjutkan dengan siaran
pers.
107.
Setelah didaftar, versi bahasa Inggris dan Prancis dikirimkan
kepada Sekretaris Jenderal PBB, negara yang mengakui yurisdiksi MI
dan setiap orang yang memintanya. Tanggal pertama kali perjanjian
atau aplikasi diterima oleh register merupakan tanggal dimulainya
proses beracara di MI.
2) Pembelaan Tertulis (Written Pleadings)
108.
Manakala tidak ditentukan lain oleh pihak yang bersengketa,
maka pembelaan tertulis ini berupa Memori dan Tanggapan Memori.
Bilamana
para
pihak
meminta
diadakannya
kesempatan
pertimbangan dan MI menyetujuinya, maka diberikan kesempatan
untuk memberikan jawaban.
109.
Memori umumnya berisi pernyataan fakta, hukum yang relevan
dan penundukan (submissions) yang diminta. Tanggapan memori
berisi argumen pendukung atau penolakan atas fakta yang disebutkan
di dalam memori, tambahan fakta baru, jawaban atas pernyataan
hukum memori, dan putusan yang diminta; umumnya disertakan pula
dokumen pendukung.
84

110.
Bila kedua pihak yang bersengketa tidak mengatur batasan
mengenai lamanya waktu untuk menyusun memori ataupun
tanggapan memori, maka hal itu akan ditentukan secara sama oleh
MI. Demikian juga, bila kedua belah pihak yang bersengketa tidak
menentukan bahasa resmi yang akan digunakan, maka hal itu akan
ditentukan oleh Mahkamah.
3) Presentasi Pembelaan (Oral Pleadings)
111.
Setelah pembelaan tertulis diserahkan oleh para pihak yang
bersengketa, dimulailah presentasi pembelaan (oral pleadings). Tahap
ini bersifat terbuka untuk umum, kecuali bila para pihak menghendaki
tertutup dan disetujui oleh MI.
112.
Ada dua kali kesempatan bagi para pihak yang bersengketa
untuk memberikan presentasi pembelaannya di hadapan MI. Proses ini
umumnya berlangsung 2 atau 3 minggu. Waktu tersebut akan
diperpanjang manakala MI menghendakinya.
4) Keputusan (Judgement)
113.
Ada tiga kemungkinan yang menjadikan sebuah kasus sengketa
internasional dianggap selesai. Pertama, bilamana para pihak berhasil
mencapai kesepakatan sebelum proses beracara berakhir. Kedua,
bilamana pihak applicant atau kedua belah pihak yang bersengketa
sepakat untuk menarik diri dari proses beracara. Bilamana ini terjadi,
maka secara otomatis kasus sengketa tersebut dianggap selesai.
Ketiga, bilamana MI telah memutus kasus tersebut berdasarkan
pertimbangan dari keseluruhan proses persidangan yang telah
dilakukan.
114.
Di akhir persidangan sebuah kasus sengketa, ada tiga
kemungkinan pendapat hakim MI, yaitu pendapat menyetujui
(declarations), pendapat berisi persetujuan walaupun ada perbedaan
dalam hal-hal tertentu (separate opinions), serta pendapat berisi
penolakan (dissenting opinion).
b. Mekanisme khusus
115.
Karena sebab-sebab tertentu, persidangan MI bisa berlangsung
secara khusus. Dalam arti, ada penambahan tahap-tahap tertentu yang
agak berbeda dari mekanisme normal sebagaimana diuraikan di atas.
Adapun sebab-sebab yang menjadikan persidangan sedikit berbeda dari
mekanisme normal tersebut di antaranya: adanya keberatan awal
(preliminary objection), tidak hadirnya salah satu pihak (non-appearance),
putusan sela (provisional measures), beracara bersama (joinder
proceedings), dan intervensi (intervention).
1) Keberatan awal
116.
Adakalanya untuk mencegah agar MI tidak membuat
putusan, salah satu pihak dalam sengketa (responden) mengajukan
keberatan. Keberatan awal diajukan oleh pihak responden karena MI
dianggap tidak mempunyai yurisdiksi, aplikasi yang diajukan tidak
sempurna, dan hal lain yang dianggap penting olehnya. Menghadapi
keberatan awal ini, ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan oleh MI.
Kemungkinan pertama, MI menerima keberatan awal tersebut, lantas
menutup kasus yang diajukan. Kemungkinan kedua, MI menolak
keberatan awal tersebut dan meneruskan proses persidangan.
117.

85

2) Ketidakhadiran salah satu pihak


118.
Ketidakhadiran salah satu pihak biasanya dilakukan oleh
pihak responden. Hal itu dilakukan karena men persidangan tetap
akan dijalankan dengan mekanisme normal dan akhirnya akan
diberikan putusan atas sengketa tersebut.
3) Keputusan Sela
119.
Adakalanya dalam proses beracara terjadi hal-hal yang
dapat membahayakan subjek dari aplikasi yang diajukan. Bila hal itu
terjadi, pihak applicant dapat meminta MI agar membuat putusan sela
untuk memberikan perlindungan atas subjek aplikasi tersebut. Dalam
hal ini, putusan sela dapat berupa permintaan MI agar pihak
responden tidak melakukan hal-hal yang dapat mengancam
efektivitas putusan MI.
4) Beracara bersama
120.
Proses beracara bersama bisa dilakukan oleh MI. Hal itu
dimungkinkan bila MI menemukan fakta adanya dua pihak atau lebih
dalam proses beracara yang berbeda, yang mempunyai argumen dan
tuntutan (petitum) yang sama atas satu pihak lawan yang sama.
5) Intervensi
121.
Ada kemungkinan dalam sebuah persidangan dilakukan
intervensi; artinya, MI memberikan hak kepada negara lain yang tidak
terlibat dalam sengketa (non-disputant party) untuk melakukan
intervensi atas sengketa yang tengah disidangkan. Hak tersebut
diberikan manakala negara yang tidak terlibat dalam sengketa
tersebut beranggapan bahwa ada kemungkinan nantinya ia bisa
dirugikan oleh adanya putusan MI atas masalah yang diajukan oleh
para pihak yang terlibat dalam sebuah sengketa.
5. Kemungkinan
yang
Terjadi
jika
Sengketa
Internasional
Diselesaikan Melalui Mahkamah Internasional
122.
Ada 3 (tiga) kemungkinan yang dapat terjadi bilamana
suatu sengketa internasional diselesaikan melalui Mahkamah
Internasional, yaitu para pihak berhasil mencapai kesepakatan sebelum
proses beracara berakhir, para pihak yang bersengketa sepakat
menarik diri dari proses beracara, dan Mahkamah olak yurisdiksi MI.
Ketidakhadiran ini tidak menghentikan proses persidangan MI.
123.
Internasional
memutus
kasus
tersebut
berdasarkan
pertimbangan dari proses persidangan yang telah dilakukan. Pada
hakikatnya putusan Mahkamah Internasional adalah pernyataan majelis
hakim Mahkamah Internasional dalam sidang pengadilan terbuka, berupa
ketetapan majelis terhadap masalah yang disengketakan, berkekuatan
hukum tetap dan final, serta harus diterima oleh pihak yang bersengketa.
124.
Keputusan yang telah ditetapkan oleh Mahkamah Internasional
hendaknya dihargai sebagai upaya mewujudkan keadilan global. Meskipun
ada pihak (bangsa ataupun warga bangsa) yang merasa dirugikan, menang
atau kalah bukanlah persoalan utama. Yang penting semua pihak belajar
untuk lebih tertib menjaga integritas bangsa dan wilayahnya sembari
berperan mewujudkan perdamaian dunia.
125.
6. Contoh Putusan Mahkamah Internasional dan Reaksi Para Pihak
yang Bersengketa
126.
Berikut ini dua contoh putusan Mahkamah Internasional dan
reaksi para pihak yang bersengketa.
a. Putusan MI terhadap Sengketa Kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan
antara Indonesia dengan Malaysia.
127.
Pelajaran berharga baru saja dialami oleh bangsa Indonesia
ketika pada 17 Desember 2002 harus menerima putusan Mahkamah
Internasional bahwa pulau Sipadan dan Ligitan resmi menjadi milik
86

Malaysia. Dari 17 orang hakim yang bersidang, hanya satu orang yang
berpihak kepada Indonesia. Hal ini memancing suara-suara sumbang yang
menyudutkan pemerintah khususnya Departemen Luar Negeri dan pihakpihak terkait lainnya. Banyak warga masyarakat kecewa. Kekecewaan ini
merupakan cermin rasa cinta terhadap tanah air.
128.
Berbagai tanggapan yang bernada kritik dan penyesalan muncul
dari berbagai pihak. Misalnya pernyataan Kapten Drs. Umar S. Tarmansyah,
Peneliti Puslitbang SDM Balitbang Dephan demikian: ada hal yang
menggelitik dari peristiwa ini, mengapa kita kalah begitu telak, padahal
perkiraan pada pemerhati atas putusan ICJ fifty-fifty, karena dasar-dasar
hukum, peta, dan bukti-bukti lain yang disiapkan oleh kedua pihak relatif
berimbang. Dari penjelasan yang di-release mass media, ternyata ICJ/MI
dalam persidangan-persidangannya guna mengambil putusan akhir
mengenai status kedua pulau tersebut tidak menggunakan (menolak)
materi hukum yang disampaikan oleh kedua negara, melainkan
menggunakan kaidah kriteria pembuktian lain, yaitu continuous presence,
effective occupation, maintenance dan ecology preservation (kehadiran
yang terus-menerus di tempat itu, pendudukan yang efektif, pemeliharaan
ekologi). Dapat dimengerti bilamana hampir semua juri Mahkamah
Internasional yang terlibat sepakat menyatakan bahwa P. Sipadan dan P.
Ligitan jatuh kepada pihak Malaysia karena kedua pulau tersebut tidak
begitu jauh dari Malaysia dan faktanya Malaysia telah membangun
beberapa prasarana pariwisata di pulau-pulau tersebut. Sia-sialah
perjuangan Indonesia selama belasan tahun kita memperjuangkan kedua
pulau tersebut ke dalam wilayah yurisdiksi kedaulatan NKRI; ini akibat dari
kekurangseriusan kita dalam memperjuangkannya. Benarkan birokrat kita
kurang serius memperjuangkan pemilikan dua pulau tersebut?...
129.
Dari sudut pandang yang berbeda, Nono Anwar Makarim
menyatakan: Putusan MI jatuh pada tanggal 17 Desember 2002. Jumlah
hakim 17 orang. Angka keramat Indonesia muncul dua kali, diartikan
sementara pihak sebagai peringatan agar kita lebih peduli atas nasib orang
Indonesia. Peringatan semacam ini mudah dilupakan. Tetapi, tidak demikian
dengan ongkos perkara sebesar Rp 16 milyar. Proses perkara berjalan
sekitar 5 tahun. RI menyewa 5 penasihat hukum asing dan 3 peneliti asing.
Untuk memudahkan perhitungan, kita anggap bayaran 3 peneliti sama
dengan bayaran seorang pengacara. Dengan demikian, terhitung 8
pengacara. Rp 16 milyar dibagi lima (tahun) lalu dibagi delapan (pengacara)
sama dengan Rp 400 juta setahun, atau Rp 34 juta sebulan untuk tiap
pengacara asing.
b. Putusan Mahkamah Internasional terhadap Sengketa Tembok Pembatas
Wilayah yang Dibangun Israel di Perbatasan dengan Palestina
130.
Perdana Menteri Israel Ariel Sharon (sekarang digantikan oleh
Ehud Olmert) menolak putusan Mahkamah Internasional tanggal 11 Juli
2004 bahwa pagar pembatas Israel di Tepi Barat adalah ilegal. Menurut
Sharon, putusan tersebut bermotif politik dan sepihak. Berikut pernyataan
Sharon tentang penolakan putusan Mahkamah Internasional tersebut:
Saya ingin menjelaskan, Israel menolak keras putusan Mahkamah
Pengadilan Internasional di Den Haag. Putusan itu bermotif politik dan
sepihak. Keputusan badan hukum PBB itu benar-benar mengabaikan alasan
pembangunan tembok keamanan, yaitu terorisme Palestina yang kejam.
Pembangunan pagar itu merupakan langkah paling logis untuk melawan
terorisme jahat
131.
Pernyataan penolakan PM Israel Ariel Sharon ini meningkatkan
ketegangan antara Israel dan Palestina dan menimbulkan kecaman dari
berbagai negara, termasuk Indonesia. Juru Bicara Departemen Luar Negeri
Indonesia, Marty Natalegawa, dalam jumpa pers di Deplu, Jumat (16/7/2004)
menyatakan, pembangunan tembok tersebut bertentangan dengan hukum
87

internasional; oleh karena itu, harus dihentikan dan dibongkar. Selain itu,
menurut Marty, Israel harus bertanggung jawab terhadap semua kerusakan
yang ditimbulkan oleh pembangunan tembok itu.
132.
Israel memiliki tanggung jawab dan kewajiban hukum untuk
memperbaiki semua kerusakan yang diakibatkan oleh pembangunan
tembok tersebut, tegas Marty. Marty menjelaskan, Mahkamah Internasional
telah menyelenggarakan written proceeding dan oral proceeding untuk
memperoleh informasi dan pandangan hukum dari negara-negara anggota
PBB serta organisasi internasional tentang masalah ini, termasuk
pemerintah Indonesia.
133.
Indonesia menilai pembangunan tembok tersebut bertentangan
dengan prinsip-prinsip hukum internasional khususnya humaniter dan HAM.
134.
Sengketa
internasional
(international
dispute)
adalah
perselisihan yang terjadi antara negara dengan negara, negara dengan
individu-individu atau negara dengan badan-badan/lembaga yang menjadi
subjek hukum internasional. Ada dua cara penyelesaian sengketa
internasional yaitu penyelesaian secara damai dan penyelesaian secara
paksa atau kekerasan.
135.
136.

88

1.
2.

3.
4.
1.

137.
Latihan
Sebutkan sebab-sebab sengketa internasional!
Jelaskan mekanisme penyelesaian sengketa internasional berikut:
a. arbitrase (arbitration),
b. negosiasi,
c. mediasi, konsiliasi, penyelidikan (inquiry)
Sebutkan dan jelaskan cara-cara penyelesaian sengketa internasional
secara paksa atau kekerasan!
Jelaskan mekanisme persidangan Mahkamah Internasional secara
normal!
Sebutkan 3 kemungkinan yang dapat terjadi bilamana suatu sengketa
internasional diselesaikan melalui Mahkamah Internasional!

89

138.
SMA NEGERI 9 MALANG
139.
PERSIAPAN UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP
140.
141.
BIDANG STUDI
: PKN
WAK
TU
: 60 MENIT
142.
KELAS/PROGRAM : XI/IPA-IPS
JUMLAH
SOAL : 50 BUTIR
143.
=====================================
===================================
144.
Petunjuk :
1.
Tulis IDENTITASMU pada tempat di lembar
jawaban.
145.
2.
Kerjakan dengan tepat dan benar.
146.
3.
Untuk soal obyektif, hitamkan salah satu
huruf
atau pada lembar jawaban yang tersedia.
147.
4.
Untuk soal subyektif, kerjakan secara
berurut-urutan.
148.
5.
Periksa pekerjaanmu secara teliti kemudian serahkan
kepada pengawas setelah bel tanda berakhirnya ujian
dibunyikan.
149.

I. Pilihlah jawaban yang paling


benar
kemudian
hitamkan
dengan pensil 2 B huruf kunci
pada lembar jawaban yang
telah disediakan!
1. Perbedaan antara perjanjian
bilateral dengan multilateral,
terletak pada...
a. pejabat yang membuatnya
d. dasar hukumnya
b. jumlah pesertanya
e.
kepentingan yang diaturnya
c. kekuatan mengikatnya
150.
151.
90

152.
2. Setelah Indonesia mengundurkan
diri dari anggota PBB, kemudian
Indonesia aktif kembali menjadi
anggota PBB pada...
a. 28 September 1966 d. 28
Desember 1966
b. 28 Oktober 1966 e. 18
September 1966
c. 28 November 1966
153.
154.
155.
156.
157.
158.
159.
160. 3. Perwujudan politik luar
negeri Indonesia yang bebas dan
aktif antara lainnya
161. a. bersahabat dengan segala
bangsa manapun
162. b. membentuk organisasi di
kawasan Asia Tenggara
91

163. c. ikut serta masalah suku


Moro di Filipina Selatan
164. d. membuka diri untuk
mengadakan hubungan dengan
semua pihak
165. e. tidak terlalu terikat dengan
aturan internasional
166.
167. 4. Tujuan negara Indonesia
sesuai dengan Pembukaan UUD
1945 yang keempat ialah
168. a. memajukan kesejahteraan
umum
d. melaksanakan
ketertiban dunia
169. b. mewujudkan masyarakat
adil dan makmur e.
mencerdaskan kehidupan bangsa
170. c. melindungi segenap
bangsa Indonesia
171.
172.
173. 5. Bangsa Indonesia anti
penjajahan karena tidak sesuai
dengan perikemanusiaan dan
keadilan. Kalimat ini tercantum
92

dalam pembukaan UUD 1945


alinea ke...
a. satu
d. empat
b. dua
e. tiga dan
empat
c. tiga
174.
175.
176.
177.
178. 6. Agar terciptanya hubungan
kerja yang saling menguntungkan,
maka perlu
179. a. mengakui persamaan hak
dan kedaulatan dari semua negara
180. b. untuk menghindari
ancaman peperangan
181. c. memelihara perdamaian
dan keamanan internasional
182. d. menjauhi penggunaan
ancaman atau kekerasan pada
negara lain
183. e. untuk hidup bebas dari rasa
takut dan kemiskinan
184.
93

185. 7. Contoh organisasi kerja


sama regional adalah...
a. OPEC
d. ASEAN
b. OKI
e. CGI
c. GNB
186.
187.
188.
189.
190.
191. 8. Prinsip-prinsip pokok politik
luar negeri Indonesia adalah
192. a. menjalankan politik netral
193. b. menjalankan politik damai
194. c. menguntungkan pada
bangsa sendiri
195. d. tidak campur tangan
urusan negara lain
196. e. tidak memihak ke negara
manapun
197.
198.
199.
200. 9. Ratifikasi hukum
internasional yang banyak
94

diterapkan oleh berbagai negara


adalah ratifikasi yang dilakukan
oleh
201. a. eksekutif
d. parlemen
202. b. legislatif
e. eksekutif dan
legislatif
203. c. pemerintah
204.
205.
206.
207.
208.
209. 10. Landasan yuridis
konstitusional hubungan
diplomatik dan konsuler negara RI
adalah..
210. a. pasal 11
c. pasal 12
e. pasal 13
211. b. pasal 14
d. pasal 15
212.
213.
214.
215. 11. Asas hukum internasional
yang memberlakukan hukum bagi
semua orang dan semua barang
95

yang ada di wilayahnya, adalah


asas
216. a. teritorialited
d.
universalitas
217. b. nationalited
e. pakta sun
servanda
218. c. ekstrateritorialited
219.
220.
221.
222.
223.
224.
225.
226. 12. Perjanjian internasional
sebagai sumber hukum formal
digolongkan dalam treaty contract
dan law making treaties. Yang
dimaksud dengan law making
treaties adalah
227. a. perjanjian-perjanjian yang
mengakibatkan adanya hak dan
kewajiban antara pihak-pihak yang
mengadakan perjanjian (perjanjian
dalam hukum perdata)
96

228. b. perjanjian internasional


yang mengikat ke luar dank e
dalam
229. c. hukum perjanjian
internasional yang mengikat ke
luar
230. d. perjanjian-perjanjian dan
kesepakatan yang mengikat ke
dalam
231. e. perjanjian yang harus
dijunjung tinggi oleh pihak
penandatangannya
232.
233.
234.
235.
236.
237. 13. UNCI (United Nations
Commissioner for Indonesia)
pernah dibentuk oleh Dewan
Keamanan pbb untuk
menyelesaikan sengketa antara
Indonesia dengan

97

238. a. Belanda
b. Malaysia c.
Inggris
d. Jepang
e.
Australia
239.
240.
241. 14. Salah satu penyebab
timbulnya sengketa internasional
adalah segi politis, yaitu berupa
242. a. pengaruh ideologi
d.
faktor ekonomi
243. b. batas wilayah
e.
lingkungan hidup
244. c. kewarganegaraan
245.
246.
247.
248. 15. Politik luar negeri RI
didasarkan pada Pembukaan
UUD45 alinea..
249. a. pertama dan ketiga d.
ketiga dan keempat
250. b. kedua dan ketiga e.
pertama dan keempat
251. c. kedua dan keempat
98

252. 16. Dalam perjanjian


internasional terdapat suatu asas,
yaitu janji mengikat para pihak
dan harus dilaksanakan dengan
itikad baik. Asas ini disebut
253. a. pacta in servada
254. b. rebus sic stantibus
255. c. pacta sunt treaty
256. d. pacta sunt servanda
257. e. law making treaty
258.
259. 17. Law Making Treaty
disebut juga perjanjian
internasional yang bersifat..
260. a. bebas
c. tertutup
e. terbuka
261. b. sukarela
d. memaksa
262.
263.
264.
265.
266.
267.
268.
269.
99

270. 18. Perhatikan beberapa


sumber hukum internasional
berikut:
271. 1. yurisprudensi internasional
272. 2. Perjanjian internasional
273. 3. Organisasi Internasional
274. 4. Kebiasaan internasional
275. 5. Konsensus internasional
276. 6. Doktrin internasional
277.
Berdasarkan urutan di atas,
yang termasuk sumber hukum
internasional adalah nomor
278. a. 1,2,3, dan 4
d.
2,4,1, dan 6
279. b. 1,2,4, dan 5
e,
2,4,5 dan 6
280. c. 1,2,5, dan 6
281.
282.
283. 19. Pernyataan resmi
menurut hukum internasional
tentang berdirinya sebuah negara
adalah pengakuan Negara lain
secara...
100

a. absolut
c. de jure
e.
konstitutif
b. de facto
d. deklaratif
284. 20. Perjanjian internasional
yang memiliki kekuatan hukum
mengikat ke dalam(hanya negara
peserta perjanjian) disebut..
285. a.
Law Making Treaty c.
traktat bilateral
e. pakta
286. b. Treaty contract d.traktat
multi lateral
287.
288.
289. 21. Yang mengangkat duta
dan konsul menurut UUD 45
adalah
290. a. MENLU
c. DUBES
e.
Presiden
291. b. DPR
d. Presiden
dengan persetujuan DPR
292.
293.
294. 22. Landasan yuridis
konsitutusional ratifikasi perjanjian
101

internasional bagi negara


Indonesia adalah UUD45 pasal.
295. a. pasal 4
c. pasal 5
e. pasal 11
296. b. pasal 13
d. pasal 12
297.
298. 23. Negara memiliki
kekuasaan atas warga negaranya
di manapun berada, hal ini sesuai
asas.
299. a. teritorialited c. imunited
e. nationalited
300. b. ekstra teritorialited d.
universalitas
301.
302.
303. 24. Prinsip yang
menegaskan bahwa negara yang
semula tdk ikut serta
dalamperjanjian internasional
kemudia boleh ikut serta
mengikatkan diri dalam sebuah
perjanjian
internasional.keikutsertaan tsb
adalah.
102

304. a. Pacta Sun Servanda c.


Rebus Sic Stantibus
e. Law
Making Treaty
305. b. Treaty contract
d.
Adhesion
306.
307.
308.
309.
310.
311.
312.
313. . Yang mendasarkan
berlakunya hukum internasional
atas persetujuan bersama dari
negara-negara peserta perjanjian
adalah aliran..
314. a. naturalis
c. formal
e. material
315. b. positivism
d. hukum
alam
316.
317.
318.
103

319. . Hukum intenasional publik


disebut juga
320. a. hukum antar negara
d. hukum perdata internasional
321. b. hukum pidana internasional
e. hukum perang
322. c. hukum damai
323.
324. 25. Landasan konstitusional
politik RI adalah..
325. a. Proklamasi
c. Pancasila
e. UUD45
326. b. KEPRES
d. KEPMENLU
327.
328.
329. 26. RI pertama kali masuk
PBB pada tanggal.
330. a. 28 September 1950 c. 24
Oktober 1945
e. 20
September 1966
331. b. 7 Januari 1965
d. 10
November 1950
332.
333.
104

334. 27. Jasa PBB untuk RI dapat


disebutkan sebagai berikut,
kecuali..
335. a. dibentuknya KTN
336. b. dibentuknya UNTEA
337. c. diakuinya Timor-timor
sebagai wilayah RI
338. d. dibentuknya UNCI
339. e. terselenggaranya
perjanjian RENVILE
340.
341.
342. 30. Kepala perwakilan
diplomatik disebut.
343. a. konsul
c. Dubes
e. konsul jendral
344. b. kuasa usaha
e.
minister presiden
345. 28. Berikut ini subyek
hukum internasional kecuali.
346. a. lembaga internasional c.
PMInternasional
e. tahta
suci Vatikan
347. b. bangsa
d. Negara
348.
105

349.
350. 29. Berdasar UUD45 yang
melakukan perjanjian internasional
dengan negara lain adalah
351. a. DPR
c. Presiden
e.
MENLU
352. b. DUBES
d. Presiden
dengan persetujuan DPR
353.
354.
355. 30. Sumber hukum
Internasional dalam arti formal
yang berupa kebiasaan
internasional disebut
356. a. traktat internasional c.
yuris prodensi internasional e.
doktrin internasional
357. b. agreement d. konvensi
internasional
358.
359.
360. 34. Berikut ini contoh kerja
sama ASEAN di bidang hukum
yaitu...
106

a. Studi hukum bersama c. KTT


e. Tukar menukar pelajar
b. pelaksanaan ekstradisi d.
Konferensi hukum laut
361. 35. Faktor penyebab
batalnya perjanjian internasional
ialah...
a.
kompleksnya isi perjanjian
yang dibuat
b.
isi perjanjian bertentangan
dengan konstitusi negaranya
c.
perjanjian hanya melibatkan
delegasi dari negaranya
d.
hasil keputusan dalam
perundingan hanya berdasarkan
voting
e.
tujuan perjanjian masih jauh
dari yang diharapkan
362. 36. Mahkamah Internasional
sebagai pengadilan tertinggi di
dunia, berkedudukan di...
a.
Amerika Serikat
c.
Belanda
e. Swiss
b.
Inggris
d. Perancis
107

363. 37. Dewasa ini masalah


yang menimbulkan sengketa
internasional terutama...
a. intervensi, agresi militer
d. pemberian suaka
b. bipolarisasi, asosiasi
e.
ekstradisi, rehabilitasi
c. rekonsiliasi, negoisasi
364. 38. Perwakilan luar negeri
memiliki wilayah kerja keseluruhan
dalam Negara penerima
dinamakan...
a. Duta Besar
c. Perwakilan
Konsuler
e. Duta Besar Luar
Biasa
b. Menteri Residen
d.
Perwakilan Diplomatik
39. Perjanjian bilateral dan
multilateral adalah pemahaman
perjanjian internasional
berdasarkan kriteria.....
a. Jumlah peserta
b. Struktur perjanjian
c. Instrumen perjanjian
d. Cara berlakunya
108

e. Objek perjanjian
40. Perjanjian yang bersifat law
making dan contract adalah
pemahaman perjanjian
internasional berdasarkan
kriteria...
a. Instrumen perjanjian
b. Cara berlakunya
c. Struktur perjanjian
d. Jumlah peserta
e. Objek perjanjian
41. Hak kekebalan dalam daerah
kedutaan besar atau daerah
kedutaan adalah pengertian dari....
a. Hak kebebasan
b. Hak superioritas
c. Hak non-yuridis
d. Hak ekstra-legal
e. Hak eksteritorialitas
42. Yang bukan termasuk anggota
tetap Dewan Keamanan PBB
adalah...
a. Amerika Serikat
b. Cina
c. Rusia
109

d. Perancis
e. Jerman
43. Semua pilihan berikut ini
adalah asas utama dalam praktik
hukum internasional, kecuali...
a. Setiap negara harus
menyelesaikan masalah-masalah
internasional dengan cara damai
b. Tidak melakukan intervensi
terhadap urusan dalam negeri
negara lain
c. Asas persamaan hak dan
penentuan nasib sendiri
d. Asas persamaan kedaulatan dari
negara
e. Setiap negara harus dapat
dipercaya dalam laporan
teknologinya nuklirnya
44. Salah satu pilihan berikut ini
bukan subjek hukum internasional,
yaitu....
a. Takhta suci
b. Kelompok masyarakat
c. Orang perorangan
d. Negara
110

e. Pemberontak dalam sengketa


45. Dari antara pilihan berikut ini,
yang bukan merupakan sumber
hukum internasional adalah....
a. Perjanjian internasional
b. Kebiasaan internasional
c. Prinsip hukum bangsa beradab
d. Keputusan pengadilan
e. Pendapat diplomat
46. Yang dimaksud dengan
Mahkamah Internasional adalah....
a. The International Criminal Court
b. The International Criminal
Tribunals
c. The International Court of Justice
d. The International Special Courts
e. The International Tribunal for
Criminals
47. Dalam peperangan
antarnegara ada beberapa hal
yang harus diperhatikan semua
pihak, seperti berikut ini, kecuali....
a. Pemboman terhadap sekolah
b. Pemboman terhadap tempat
ibadah
111

c. Tidak boleh membinasakan


penduduk sipil
d. Pemboman terhadap wilayah
perang
e. Pemboman terhadap
perkampungan
48. Peranan hukum internasional
dalam menjaga dan memelihara
ketertiban serta perdamaian dunia
adalah....
a. Mengatur keberadaan organisasiorganisasi internasional
b. Melarang melakukan
penyerangan terhadap negara lain
c. Sebagai pedoman hubungan
antar- bangsa
d. Sebagai pedoman penyelesaian
sengketa antarnegara
e. Sebagai landasan untuk menjalin
hubungan diplomatik
49. Hubungan hukum perdata
rakyat suatu negara dengan rakyat
negara lain diatur dalam....
a. Hukum internasional
b. Traktat
112

c. Hukum perdata
d. Hukum perdata internasional
e. Mahkamah internasional
50. Berikut ini yang bukan
merupakan hal-hal yang diatur
dalam hukum damai adalah....
a. Perselisihan harta benda
seseorang
b. Penyelesaian secara damai
c. Hubungan diplomasi
d. Pembatasan daerah dan
kekuasaan
e. Diadakan dan dihapuskan suatu
rakyat
365.
II.

JAWABLAH PERTANYAAN DI BAWAH INI DENGAN BENAR DAN


BERURUTAN!
366. 51. Sebutkan 5 macam sumber Hukum Internasional!
367. 52. Jelaskan 3 perbedaan antara perwakilan diplomatik dan
perwakilan konsuler!
368. 53. Sebut dan jelaskan asas-asas hukum internasional!
369. 54. Jelaskan perbedaan law making treaty dengan treaty
contract!
370. 55. Sebutkan 6 macam subyek hukum Internasional
371.
372.
non scholae sed vitae discimus
373.
Kita belajar bukan demi ilmu pengetahuan, namun
demi kehidupan
374.
375.

113

376.

DAFTAR RUJUKAN
377.
378. Listyarti, Retno. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA dan
MA kelas XI. Jakarta: Esis.
379. Chotib, Drs., dkk.2007. Kewarganegaraan 2 Menuju Masyarakat
Madani. Jakarta: Yudhistira.
380. Saptono. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan Jilid 2 Untuk SMA/MA
Kelas XI. Jakarta: Erlangga.
381. Suteng, Bambang. Dkk. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk
SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.

114