Anda di halaman 1dari 33

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah Keperawatan Maternitas II dengan judul Asuhan Keperawatan Ibu
Hamil dengan Pre-eklampsia Berat.
Dalam penulisan makalah ini didukung oleh berbagai pihak. Kami
mengucapkan terima kasih kepada Ibu Neli Husniawati, SKep, Mkep selaku
dosen Keperawatan Maternitas II.
Harapan kami makalah ini dapat dipergunakan dan dimanfaatkan untuk
menambah ilmu pengetahuan mengenaiAsuhan Keperawatan Ibu Hamil dengan
Pre-eklampsia Berat.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun dari semua pihak. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembelajaran ilmu keperawatan maternitas.

Jakarta, 21 September2016

Kelompok I

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... 1
DAFTAR ISI.............................................................................................. 2
BAB I...................................................................................................... 3
PENDAHULUAN....................................................................................... 3
1.1

Latar Belakang............................................................................... 3

1.2

Tujuan Makalah.............................................................................. 4

BAB II..................................................................................................... 5
LANDASAN TEORI................................................................................... 5
2.1

Definisi........................................................................................ 5

2.2

Etiologi........................................................................................ 5

2.3

Klasifikasi..................................................................................... 6

2.4

Faktor Resiko................................................................................ 6

2.5

Pathway....................................................................................... 8

2.6

Manifestasi Klinis...........................................................................9

2.7

Komplikasi.................................................................................... 9

2.8

Pemeriksaan Penunjang..................................................................10

2.8

Penatalaksanaan........................................................................... 11

2.9

Asuhan Keperawatan.....................................................................15

BAB III.................................................................................................. 23
TINJAUAN KASUS.................................................................................. 23
3.1

Pengkajian.................................................................................. 23

3.2

Case Study.................................................................................. 24

BAB IV.................................................................................................. 31
PENUTUP............................................................................................... 31
4.1

Kesimpulan................................................................................. 31

4.2

Saran......................................................................................... 31

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 33

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia Pre-eklampsia berat (PEB) merupakan salah satu penyebab
utama kematian maternal dan perinatal di Indonesia. PEB diklasifikasikan
kedalam penyakit hipertensi yang disebabkan karena kehamilan. PEB
ditandai oleh adanya hipertensi sedang-berat, edema, dan proteinuria yang
masif. Penyebab dari kelainan ini masih kurang dimengerti, namun suatu
keadaan patologis yang dapat diterima adalah dengan adanya iskemia
uteroplacentol.
Diagnosis dini dan penanganan adekuat dapat mencegah perkembangan
buruk PER kearah PEB atau bahkan eklampsia penanganannya perlu segera
dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan anak. Semua
kasus PEB harus dirujuk ke rumah sakit yang dilengkapi dengan fasilitas
penanganan intensif maternal dan neonatal, untuk mendapatkan terapi
definitif dan pengawasan terhadap timbulnya komplikasi-komplikasi.
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin mencari tanda
preeklampsia sangat penting dalam usaha pencegahan preeklampsia berat,
disamping pengendalian terhadap faktor-faktor predisposisi yang lain.
Pre-eklampsia

adalah

penyakit

pada

wanita

hamil

yang

secara

langsungdisebabkan oleh kehamilan. Pre-eklampsia adalah hipertensi disertai


proteinuri dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu
atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu
bila terjadi. Pre-eklampsia hampir secara eksklusif merupakan penyakit pada
nullipara. Biasanya terdapat pada wanita masa subur dengan umur ekstrem
yaitu pada remaja belasan tahun atau pada wanitayang berumur lebih dari 35
tahun. Pada multipara, penyakit ini biasanya dijumpai pada keadaan-keadaan
berikut:
A) Kehamilan multifelal dan hidrops fetalis.
B) Penyakit vaskuler termasuk hipertensi essensial kronis dan diabetes
miletus.
C) Penyakit ginjal

Pre-eklamspia dan eklampsia merupakan kumpulan gejala yang timbul pada


ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias: hipertensi,
proteinuria dan oedema, yang kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma.
Ibu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi
sebelumnya (Mochtar, 1998).
Tingginya kejadian pre-eklamsia- eklamsia di negara-negara berkembang
dihubungkan dengan masih rendahnya status sosial ekonomi dan tingkat
pendidikan yang dimiliki kebanyakan masyarakat. Kedua hal tersebut saling
terkait dan sangat berperan dalam menentukan tingkat penyerapan dan
pemahaman terhadap berbagai informasi/masalah kesehatan yang timbul baik
pada dirinya ataupun untuk lingkungan sekitarnya (Zuhrina, 2010).
Menurut World Health Organization (WHO), salah satu penyebab morbiditas
dan mortalitas ibu dan janin adalah pre-eklamsia (PE), angka kejadiannya
berkisar antara 0,51%-38,4%. Di negara maju angka kejadian pre-eklampsia
berkisar 6-7% dan eklampsia 0,1-0,7%. Sedangkan angka kematian ibu yang
diakibatkan pre-eklampsia dan eklampsia di negara berkembang masih tinggi
(Amelda, 2009).
Berdasarkan kejadian tersebut, maka kami tertarik untuk membahas hal ini,
serta sebagai tugas dalam makalah Keperawatan Maternitas Asuhan
Keperawatan Ibu Hamil dengan Pre-eklampsia.
1.2 Tujuan Makalah
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui Asuhan Keperawatan pada ibu hamil
dengan kasus pre-eklampsia berat.
2. Mahasiswa memahami pengertian pre-eklampsia.
3. Mahasiswa etiologi dan manifestasi klinik pre-eklampsia.
4. Mahasiswa memahami cara mengetahui pre-eklampsia pada ibu hamil.
5. Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan dengan pre-eklampsia
berat pada ibu hamil.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi
Pre-eklampsia adalah kelainan multiorgan spesifik pada kehamilan yang
ditandai dengan terjadinya hipertensi, edema, dan proteinuria tetapi tidak
menunjukan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya,
sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan 20 minggu (Nurarif
Amin Huda, 2015).
Sedangkan menurut pendapat Fadlun dan Feryanto (2014) mengatakan
bahwa, pre-eklampsia yaitu suatu peningkatan tekanan darah yang baru
muncul setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu, disertai dengan
peningkatan berat badan ibu yang cepat akibat tubuh membengkak dan pada
pemeriksaan laboratorium ditemukan protein dalam urine yang disebut
dengan proteinuria.
Pendapat lainnya menurut Mansjoer, dkk (2008) mengatakan bahwa preeklampsia merupakan gangguan sistemik yang berkaitan dengan kehamilan,
ditandai dengan hipertensi dan proteinuria pada usia kehamilan lebih dari 20
minggu. Pre-eklampsia merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian
ibu, menambah masalah perinatal karena Intra Uterine Growth Retardation
(IUGR) dan kelahiran prematur.
2.2 Etiologi
Penyebab terjadinya pre-eklampsia dan eklampsia sampai sekarang belum
diketahui. Tetapi pre-eklampsia dan eklampsia hampir secara ekslusif dialami
pada wanita dengan masa subur yang ekstrim, yaitu pada remaja belasan
tahun atau pada wanita yang berumur lebih dari 35 tahun. (Nurarif Amin
Huda, 2015). Sedangkan menurut Fadlun dan Feryanto (2014), mengatakan
bahwa semua teori yang menjelaskan tentang pre-eklampsia harus dapat
menjelaskan observasinya bahwa hipertensi pada kehamilan jauh lebih besar
kemungkinannya timbul pada wanita dengan keadaan sebagai berikut:
A) Terpajan ke villus korion petama kali
B) Terpajan ke villus korion dalam jumlah yang sangat besar.
C) Telah menderita penyakit vaskuler

D) Secara genetik rentan terhadap hipertensi yang timbul saat hamil


2.3 Klasifikasi
A) Pre-eklampsia ringan
1) Tekanan darah 140/90 mmHg/ lebih
2) Edema umum, kaki, jari tangan, dan muka/ kenaikan berat badan 1
kg/lebih perminggu
3) Proteinuria kwantitatif 0,3 gr atau lebih perliter: kwantitatif 1+ / 2+
pada urine kateter atau midstream.
B) Pre-eklampsia berat
1) Tekanan darah 160/110mmHg/ lebih
2) Proteinuria >3g/liter
3) Oliguria jumlah urine <400cc/24 jam
4) Adanya gangguan penglihatan, serebral, nyeri kepala dan rasa nyeri
5)
6)
7)
8)

pada epigastrium
Terdapat edema paru dan sianosis
Enzim hati meningkat dan disertai ikterus
Perdarahan pada retina
Trombosit <100.000/mm.( Nurarif Amin Huda, 2015)

2.4 Faktor Resiko


Menurut Mansjoer, dkk (2008) mengatakan bahwa faktor resiko terkait
dengan partner (nullipara, primigravida, kehamilan remja, inseminasi donor,
orang tua hasil kehamilan dengan pre-eklampsia), ada beberapa faktor resiko
diantaranya:
A. Faktor Resiko Ibu
Ibu dengan riwayat pre-eklampsia sebelumnya, usia ibu tua, jarak
kehamilan yang pendek, riwayat keluarga, ras kulit hitam, pasien
membutuhkan donor oosit, inaktifitas fisik, riwayat hipertensi sejak > 4
tahun yang lalu, hipertensi pada kehamilan sebelumnya.

B. Adanya penyakit penyerta lain


Seperti hipertensi kronik dan penyakit ginjal, obesitas resistensi insulin,
berat badan ibu rendah, tubuh yang pendek (short stature), migrain,

diabetes gestasional, DM tipe 1, penyakit Raynaud, resistensi protein C


aktif,

defisiensi

protein

aktif

S,

antibodi

antifosfolipid,

SLE,

hiperhomosisteinemia, talasemia dan inkompatibilitas rhesus.


C. Faktor eksogen
Seperti, merokok, stres, ketegangan psikis terkait kehamilan (kehamilan
kembar, infeksi saluran kemih, anomali struktural kongenital, hidrops
fetalis, kelainan kromosom dan molahidatidosa.

2.5 Pathway

(Sarwono. 2008)

2.6 Manifestasi Klinis


A. Nyeri kepala hebat dibagian depan atau belakang kepala yang diikuti
dengan peningkatan tekanan darah yang abnormal.
B. Gangguan penglihatan pasien menurun, pasien akan melihat kilatankilatan cahaya, pandangan kabur, dan kadang bisa terjadi kebutaan
sementara.
C. Iritabel ibu merasa gelisah dan tidak bertoleransi dengan suara berisik/
gangguan lainnya.
D. Nyeri perut pada bagian ulu hati (epigastrium) yang kadang disertai
dengan mual dan muntah.
E. Gangguan pernafasan sampai sianosis.
F. Terjadi gangguan kesadaran.
G. Gangguan fungsi ginjal. (Nurarif Amin Huda, 2015)
2.7 Komplikasi
Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin, usaha utama
ialahmelahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita eklampsia.
Berikut

adalah

beberapa

komplikasi

yang

ditimbulkan

pada

pre-

eklampsiaberat dan eklampsia:


A. Solutio Placenta, Biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut
dan lebih sering terjadi pada preeklampsia.
B. Hipofibrinogemia, Kadar fibrin dalam darah yang menurun.
C. Hemolisis,

Penghancuran

dinding

sel

darah

merah

sehingga

menyebabkanplasma darah yang tidak berwarna menjadi merah.


D. Perdarahan

Otak

Komplikasi

ini

merupakan

penyebab

utama

kematianmaternal penderita eklampsia.


E. Kelainan mata, kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung
selama seminggu.

F. Edema paru, pada kasus eklampsia, hal ini disebabkan karena penyakit
jantung.
G. Nekrosis hati, nekrosis periportan pada preeklampsia, eklamsi merupakan
akibat vasopasmus anterior umum. Kelainan ini diduga khas untuk
eklampsia.
H. Sindrome Hellp, Hemolysis, elevated liver enymes dan low platelete.
I. Kelainan

ginjal,

kelainan

berupa

endoklrosis

glomerulus,

yaitu

pembengkakkan sitoplasma sel endotial tubulus. Ginjal tanpa kelainan


struktur lain, kelainan lain yang dapat timbul ialah anuria sampai gagal
ginjal.
J. Komplikasi lain, lidah tergigit, trauma dan faktur karena jatuh akibat
kejang-kejang preumania aspirasi, dan DIC (Disseminated Intravascular
Coogulation).
K. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra uteri.

2.8 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan tinja
A. Pemeriksaan darah lengkap dengan gapusan darah
1) Penurunan hemoglobin (nilai normal 12-14gr%)
B. Urinalisis
1) Ditemukan protein dalam urine
C. Pemeriksaan Fungsi Hati
1) Bilirubin meningkat
2) LDH (Laktat Dehidrogenase)meningkat
D. Tes kimia darah
1) Asam urat meningkat (normal N=2,4-2,7 mg/dl

10

E. Radiologi
1) Utrasonografi : ditemukan retardasi perumbuhan janin intra uterus,
pernafasan intrauterus lambat, aktivitas janin menjadi lambat, volume
cairan ketuban sedikit.
2) Kardiotografi : Diketahui detak jantung janin lemah.(Nurarif Amin
Huda, 2015)
2.8 Penatalaksanaan
A. Pre-eklampsia
Fadlun dan Feryanto
penatalaksanaan

untuk

(2014)

mengatakan

setiap

kehamilan

bahwa
dengan

tujuan

dasar

pre-eklampsia,

diantaranya:
1) Terminasi kehamilan dengan trauma sekecil mungkin bagi ibu dan
bayinya.
2) Lahirnya bayi yang kemudian dapat berkembang.
3) Pemulihan sempurna kesehatan ibu.
Deteksi prenatal dini
Secara tradisional waktu pemeriksaan perinatal dijadwalkan setiap 4
minggu sampai usia kehamilan 28 minggu, kemudian setiap 2 minggu
sampai usia kehamilan 36 minggu. Peningkatan kunjugan prenatal selama
trimester terakhir memungkinkan untuk mendeteksi dini pre-eklampsia.
B. Pre-eklamspia Ringan (POGI, 2005 dalam Sanc, 2010)
Ibu hamil dengan pre-eklampsia ringan dapat dilakukan rawat inap
maupun rawat jalan. Pada rawat jalan ibu hamil dianjurkan banyak
istirahat (tidur miring ke kiri). Pada umur kehamilan diatas 20 minggu
tidur dengan posisi miring dapat menghilangkan tekanan rahim pada vena
kava inferior yang mengalirkan darah dari ibu ke janin, sehingga
meningkatkan aliran darah balik dan akan menambah curah jantung. Hal
ini berarti pula meningkatkan aliran darah ke organ-organ vital.
Penambahan aliran darah ke ginjal akan meningkatkan laju filtrasi
glomerolus dan meningkatkan diuresis sehingga akan meningkatkan
ekskresi natrium, menurunkan reaktivitas kardiovaskuler, sehingga
mengurangi vasospasme. Peningkatan curah jantung akan meningkatkan

11

pula aliran darah ke rahim, menambah oksigenasi plasenta dan


memperbaiki kondisi janin dan rahim. Pada pre-eklampsia tidak perlu
dilakukan retriksi garam jika fungsi ginjal masih normal. Diet yang
mengandung 2 g natrium atau 4-6 g NaCl (garam dapur) adalah cukup.
Diet diberikan cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam
secukupnya. Tidak diberikan obat-obatan diuretik, antihipertensi dan
sedatif (Prawirohardjo, 2008).
Pada keadaan tertentu ibu hamil dengan pre-eklampsia ringan perlu
dirawat di rumah sakit yaitu dengan kriteria bila tidak ada perbaikan yaitu
tekanan darah, kadar proteinuria selama lebih dari 2 minggu dan adanya
satu atau lebih gejala dan tanda preeklampsia berat. Selama di rumah sakit
dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorik. Pemeriksaan
kesejahteraan janin, berupa pemeriksaan USG dan Doppler khususnya
untuk

evaluasi

pertumbuhan

janin

dan

jumlah

cairan

amnion

(Prawirohardjo, 2008).
Perawatan obstetrik yaitu sikap terhadap kehamilan. Menurut Williams,
kehamilan preterm ialah kehamilan antara 22 sampai 37 minggu. Pada
umur kehamilan <37 minggu bila tanda dan gejala tidak memburuk,
kehamilan dapat dipertahankan sampai aterm tapi jika umur kehamilan
>37 minggu persalinan ditunggu sampai timbul onset persalinan atau
dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan pada taksiran
tanggal persalinan dan tidak menutup kemungkinan dapat dilakukan
persalinan secara spontan (Prawirohardjo, 2008).
C. Pre-eklampsia Berat
Penanganan pre-eklampsia berat dan eklampsia sama, kecuali bahwa
persalinan harus berlangsung dalam 12 jam setelah timbulnya kejang pada
eklampsia.
Upaya pengobatan ditujukan untuk mencegah kejang, memulihkan organ
vital pada keadaan normal, dan melahirkan bayi dengan trauma sekecilkecilnya pada ibu dan bayi.
1) Rawat RS
2) Berikan MgSO4 dalm infuse dextrose 5% dengan kecepatan 15-20
tetes per menit. Dosis awal MgSO4 IV dalam 10 menit selanjutnya

12

2G/jam dalm drip infuse sampai tekanan darah stabil (140-150/90100mmHg). Ini diberikan sampai 24 jam pasca persalinan atau
hentikan bila 6 jam pasca persalinan ada perbaikan nyata ataupun ada
tampak tanda-tanda intoksikasi. Syarat pemeberian MgSO4 adalah
reflex patella kuat, frekuensi pernapasan >16 kali, dan dieresis >100
cc dalm 4 jam sebelumnya (0,5 ml/kg BB/jam). Harus tersedia
antidote MgSO4 yaitu kalsium glukonas 10% yang dapat segera
diberikan secara Iv selama 3 menit. Selama pemberian MgSO4
perhatikan tekanan darah, suhu, perasaan panas, serta wajah merah.
3) Berikan nifedipin 3-4 x 10 mg oral. Bila pada jam ke-4 tekanan
diastolic belum turun sampai 20%, berikan tambahan 10 mg oral
(dosis maksimum 80mg/hari). Bila tekanan diastolic meningkat 110
mmHg, berikan tambahan sublingual. Tujuannya adalah penurunan
tekanan darah 20% dalam 6 jam, kemudian diharapkan menjadi stabil
(140-150/90-100mmHg).

Bila

sulit

dikendalikan,

dapat

dikombinasikan dengan pindolol.


4) Periksa tekanan darah, nadi dan pernapasan tiap jam. Pasang kateter
dan kantong urin. Ukur urin setiap 6 jam. Bila < 100 ml/4 jam,
kurangi dosis MgSO4 menjadi 1 gram/jam.
5) Dilakukan USG dan karidotografi (KTG). Pemeriksaan KTG diulangi
sekurang-kurangnya 2 kali/24 jam.
6) Penaganan aktif bila kehamilan 35 minggu, ada tanda-tanda
impending eklampsia, kegagalan terapi konservatif, ada tanda gawat
janin atau pertumbuhan janin terhambat, dan sindrom HELLP.
7) Berikan diuretic bila ada edema paru, payah jantung kongestif atau
edema anasarka, berupa furosemid 40 mg. oksigenasi 4-6 L/menit.
Periksa gas darah secara berkala untuk koreksi asidosis.
8) Berikan antipiretik bila suhu rectal diatas 38,5C dan dibantu kompres
dingin. Antibiotic diberikan atas indikasi
9) Lakukan treminasi kehamilan secara seksio memakai anastesi umum
N2O mengingat keuntungan relaksasi sedasi pada ibu dan dampaknya
relative kecil bagi janin. Bila dari pemeriksaan lab tidak ada tanda
KID, dapat dilakukan anastesi epidural atau spinal.anastesi lokal

13

diperlukan pada indikasi treminasi segera dengan keadaan ibu kurang


baik.

14

D. Eklampsia
1) Pada eklampsia intervensi yang diberikan, yaitu:
a) Berikan O24-6 L/menit
b) Pasang infuse dextrose 5% 500 ml/6 jam dengan kecepatan 20
c)
d)
e)
f)
g)
h)

tetes per menit


Pasang kateter urin
Pasang goedel atau spatel
Bahu diganjal kain setebal 5cm agar leher defleksi sedikit.
Posisi tempat tidur dobuat fowler agar kepala tetap tinggi
Fiksasi pasien dengan baik agar tidak jatuh
Berikan MgSO4 IV kemudian 2 G/jam dalam drip infuse
desktrose 5% untuk pemeliharaan sampai kondisi atau tekanan
darah stabil (140-150 mmHg). Bila kondisi belum stabil obat
tetap

diberikan.

Alternative

lain

antikonvulsan

adalah

amobarbital, atau fenobarbitak atau diazepam.


i) Pada pasien koma, monitor kesadaran dengan skala GCS
j) Berikan asupan kalori sebesar 1500 kal IV atau dengan selang
nasogastrik dalam 24 jam perawatan selama pasien belum dapat
makan akibat kesadaran menurun
2) Penanganan kejang, yaitu: Berikan obat antikonvulsan
a) Perlengkapan untuk menangani kejang (jalan naps, sedotan,
masker oksigen, oksigen)
b) Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
c) Asprasi mulut dan tenggorokan
d) Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi tredelenburg untuk
mengurangi aspirasi
e) Beri O2 4-6 L/menit
3) Antihipertensi
a) Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5mg IV pelan-pelan
selama 5 menit sampai tekanan darah turun
b) Jika perlu, pemberian hidralazin dapat diulang setiap jam, atau
12,5 mg IM setiap 2 jam.
c) Jika hidralazin tidak tersedia, dapat diberikan:
(1) Nifedipine 5 mg sublingual. Jika respon tidak baik setelah 10
menit, beri tambahan 5mg sublingual
(2) Labetolol 10 mg IV, yang jika respon tidak baik setelah 10
menit, diberikan lagi labetolol 20 mg IV.
2.9 Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
1) Riwayat Kesehatan
15

a) Keluhan Utama: Klien mengeluh demam dan sakit kepala


b) Riwayat Kesehatan Sekarang: Terjadi peningkatan tekanan darah,
edema, pusing, nyeri epigastrium, mual muntah, penglihatan
kabur.
c) Riwayat Kesehatan Sebelumnya: Penyakit ginjal, anemia, vaskuler
esensial, hipertensi kronik
2) Riwayat kehamilan
Riwayat kehamilan ganda, mola, hidatidosa, hidramnion, serta
kehamilan dengan pre-eklampsia sebelumnya.
3) Riwayat KB
Yang perlu dipertanyakan adalah:
a) Pernah mengikuti KB atau tidak
b) Jenis kontrasepsi yang digunakan
c) Alasan pemberhentian kontrasepsi (bila tidak memakai lagi)
d) Lamanya menggunakan kontrasepsi
4) Pemeriksaan fisik
a) Sistem pernafasan
(1) Pernafasan kurang dari 14x per menit, klien biasanya
mengalami sesak sehabis beraktifitas, terdengar suara krekles
dan adanya edema paru.
b) Sistem kardiovaskuler
(1) Apakah terdapat sianosis, kulit pucat, konjungtiva anemis,
terjadi peningkatan tekanan darah, nadi meningkat atau
menurun, serta edema periorbital yang tidak hilang dalam
kurun waktu 24 jam.
c) Sistem reproduksi
(1) Ada atau tidaknya massa abnormal, nyeri tekan pada payudara,
ada atau tidaknya pengeluaran pervaginam berupa lendir yang

16

bercampur darah serta ketahui tinggi fundus uteri, letak janin,


lokasi edema dan biasanya terdapat kontraksi uterus
d) Sistem integumen dan perkemihan
(1) Cloasma gravidarum, oliguria, fungsi ginjal menurun, dan
protein nuria
e) Sistem persyarafan
(1) Biasanya hiperrefleksi dan klonus pada kaki.
B. Diagnosa Keperawatan
1) Kelebihan volume cairan b.d kerusakan fungsi glumerulus sekuder
terhadap penurunan cardiac output.
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
3) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d terjadinya vasospasme
arterional, edema, perdarahan.
4) Gangguan rasa nyaman b.d kontraksi uterus dan pembukaan jalan
lahir.
5) Nyeri Akut
6) Konstipasi
7) Defisiensi pengetahuan b.d penatalaksanaan terapi dan perawatan.
C. Intervensi
DX 1 : Kelebihan volume cairan b.d kerusakan fungsi glomerulus sekuder
terhadap penurunan cardiac output.
Batasan karakteristik :
1) Gangguan elektrolit
2) Ansietas
3) Perubahan tekanan darah
4) Perubahan pola pernapasan
5) Dispneu
6) Edema
7) Peningkatan tekanan vena sentral
8) Distensi vena jugularis
9) Oliguria
10) Gelisah
11) Perubahan berat jenis urine
Faktor-faktor yang berhubungan:
1) Gangguan mekanisme regulasi
2) Kelebihan asupan cairan
3) Kelebihan asupan natrium

17

NOC:
1) Keseimbangan elektrolit dan asam basa
2) Keseimbangan cairan
3) Hidrasi
Kriteria hasil:
1)
2)
3)
4)

Terbebas dari edema, efusi


Bunyi nafas bersih, tidak ada bunyi dispneu/ortopneu
Terbebas dari distensi vena jugularis.
Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru, output dan

vital sign dalam batas normal


5) Terbebas dari kelelaha dan kecemasan.
NIC
1) Manajemen cairan :
a) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
(1) Pasang urine kateterjika diperlukan
(2) Monitor hasil Hb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN,
(3)
(4)
(5)
(6)

Hmt, Osmolalitas urin)


Monitor vital sign
Monitor indikasi retensi/kelebihan cairan (edema,cvp, asites)
Kaji lokasi dan luas edema
Monitor status nutrisi

(7) Kolaborasi pemberian diuretik sesuai dengan instruksi


b) Pemantauan Cairan
1) Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi
2) Tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidakseimbangan
cairan
3) Monitor berat badan
4) Monitor serum dan elektrolit urine
5) Monitor tanda dan gejala edema.
DX 2 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuan tubuh.
Batasan karakteristik :
1) Nyeri abdomen
2) Berat badan 20%/lebih dibawah
3) Bising usus hioeraktif
4) Diare
5) Nafsu makan berkurang
6) Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat

18

7) Membran mukosa pucat


8) Tonus otot menurun
9) Mengeluh gangguan sensasi makanan
10) Kelemahan otot pengunyah
Faktor-faktor yang berhubungan:
1) Ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrisi
2) Ketidakmampuan mencerna makanan
3) Faktor psikologis
NOC:
1) Status Gizi : Makanan dan Cairan
2) Asupan
3) Pengendalian Berat
Kriteria hasil:
1)
2)
3)
4)
5)

Adanya peningkatan berat badan sesuai


Mampu mengindentifikasi kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda malnutrisi
Menunjukan peningkatan fungsi pengecapan dan menelan
Tidak terjadi penurunan berat badan yang berartiTerbebas dari edema,
efusi

NIC
Manajemen Nutrisi:
1) Kaji adanya alergi makanan
2) Anjurkan pasien untuk meningkatkan Fe, protein, vitamin
3) Yakinkan diet yang dimakan mengandung serat tinggi untuk
4)
5)
6)
7)

mencegah konstipasi
Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien untuk mendapat nutrisi yang dibutuhkan
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien.

Pemantauan Nutrisi
1) BB pasien dalam batas normal
2) Monitor adanya penurunan berat monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang bisa dilakukan
3) Monitor kondisi pasien ketika makan
4) Monitor turgor kulit
19

5)
6)
7)
8)
9)

Monitor mual dan muntah


Monitor kadar albumin dan total protein, Hb,Ht
Monitor pucat, kemerahan, konjungtiva
Monitor kalori dan intake nutrisi
Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas
oral.

DX 3: Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d terjadinya vasospasme


arterional, edema, perdarahan.
Batasan karakteristik :
1) Tidak ada nadi
2) Perubahan fungsi motorik
3) Perubahan karakteristik kulit (warna, elastisitas, rambut, kelembaban,
kuku, sensasi suhu)
4) Perubahan tekanan darah
5) Waktu pengisian kapiler >3 detik
6) Keterlambatan penyembuhan luka
7) Penurunan nadi
8) Edema
9) Nyeri ekstremitas
10) Bruit femoral
11) Warna kulit pucat saat elevasi
Faktor-faktor yang berhubungan:
1)
2)
3)
4)

Kurang pengetahuan tentang proses penyakit


Diabetes militus
Hipertensi
Merokok

NOC:
1) Status Sirkulasi
2) Jaringan Perfusi Serebral
Kriteria hasil:
1) Tekanan darah dalam batas normal
2) Tidak ada ortostatik hipertensi
3) Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial
NIC
Manajemen Sensorik Perifer:
1) Kaji adanya alergi makanan

20

2) Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap


panas/dingin/tumpul tajam
3) Gunakan sarung tangan untuk proteksi
4) Monitor adanya tromboplebitis
5) Kolaborasi pemberian analgetik.
DX 4: Gangguan rasa nyaman b.d kontraksi uterus dan pembukaan jalan
lahir.
Batasan karakteristik:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Cemas
Gangguan pola tidur
Takut
Iritabilitas
Merintih
Gelisah
Menangis

Faktor-faktor yang berhubungan:


1)
2)
3)
4)

Gejala terkait penyakit


Sumber yang tidak adekuat
Kurang pengendalian lingkungan
Kurang kontrol situasional

5) Efek samping terkait terapi


NOC:
1) Cemas
2) Tingkat Ketakutan
3) Kurang Tidur
Kriteria hasil:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Mampu mengontrol kecemasannya


Kualitas tidur/ istrirahat adekuat
Status lingkungan yang nyaman
Mampu mengontrol nyeri
Agresi pengendalian diri
Respon terhadap pengobatan
Mampu mengontrol ketakutan

NIC
Penurunan Kecemasan:
1) Kaji adanya alergi makanan

21

2) Gunakan pendekatan yang menyenangkan


3) Nyatakan dengan jelas harapan terhadap perilaku pasien
4) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
5) Pahami perspektif pasien terhadap stress
6) Indentifikasi tingkat kecemasan
7) Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
8) Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan ketakutan
9) Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
10) Berikan obat untuk megurangi kecemasan.

22

BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian
A. Identitas Klien:
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Diagnosa Medis

: Ny. M
: Perempuan
: 24 tahun
: Pre-eklampsia Berat

B. Resume:
Ny.M (24 thn) G2P1A0, usia kehamilan 40 minggu, HPHT 25-12-2011.
Pendidikan terakhir SMP, pekerjaan ibu rumah tangga, agama islam, suku
sunda. Ny.M datang bersama kakaknya ke poli Kebidanan dengan
keluhan mual muntah sejak usia kehamilan 5 bulan, tidak suka makan,
pusing, kaki bengkak. Menurut Ny. M ia dirujuk oleh bidan R untuk
melanjutkan pemeriksaan kehamilannya di RSUD Cibinong. Dalam
rujukannya tertulis TD 170/110mmHg, protein uri +3 diagnosa PEB. Data
pemeriksaan fisik yang ditemukan klien saat klien berada di Poli
Kebidanan adalah TTV: TD 190/120 mmHg, Nadi 90x/menit, Pernapasan
23x/menit, Suhu 36,80C. Berat badan sebelum hamil 55 kg, berat badan
saat ini 53 kg, tinggi badan 158cm. Pemeriksaan abdomen: TFU 27cm,
pu-ki, let-kep, belum masuk PAP,DJJ 136x/menit. Ekstremitas bawah
ditemukan pitting udem +2. Hasil USG : jenis kelamin janin perempuan,
taksiran BB 2200gr. Manajemen medik : Dopamet 3x250mg, Nifedipin
3x10mg, Alodipin 1x10mg. Ny M dianjurkan untuk rawat inap di RSUD
Cibinong namun klien mengatakan ingin pulang dulu untuk negosiasi
dengan suaminya.

23

3.2 Case Study


A. Jelaskan patofiologi keadaan ibu tersebut menggunakan WOC (Web of
Causation)

galnya sel trofoblast


Kegagalan
dalaminvasi
mengekspresikan
trofoblast lap.
integrin
Otot a. Siliaris dan
jaringan
Lapisan
ototmatriks
spinalissekitarnya
kaku dan keras

Kegagalan remodeling
Arteri
a. Spinalis
spinalisLumen
spinalisarteri
vasokontrikasi
kesulitan untuk terjadi distensi dan vasodila

Aliran darah eteroplasenta


Terbentuk oksidan (hidroksil
Hipoksia dan iskemi pada plasenta

Terjadi edema

Perubahan sel endotel glomerulus


Sel endotel rusak
proteinuria

Gangguan perfusiGanggguan
plasenta pertumbuhan plasenta
Janin menjadi kecil
Intra uterin growth

Penumpukan trombus dan perdarahan


Sistem syaraf pusat Sakit kepala/kejang

24

B. Apalagi pengkajian yang dilakukan agar diperoleh data yang akurat dalam
menegakan diagnosa keperawatan pada klien tersebut ?
Pengkajian yang harus dilakukan kepada Ny M untuk menegakkan
diagnosa keperawatan meliputi:
Data subjektif:
1) Kaji riwayat kesehatan sekarang
Misal : pada kasus dikatakan mual muntah, sejak usia kehamilan
berapa? tanyakan dalam sehari berapa kali muntah (frekuensi,
jumlah)?
2) Kaji riwayat kesehatan ibu sebelumnya
Tanyakan apakah ibu pernah menderita hipertensi, anemia, diabetes.
3) Kaji riwayat kesehatan keluarga ibu
Tanyakan apakah ada anggota keluarga Ny. M yang memiliki
hipertensi, atau pernah mengalami PEB.
4) Kaji riwayat kehamilan sebelumnya
Tanyakan apakah pada kehamilan anak pertama ibu mengalami preeklampsia/

eklampsia,

hidroamnian,

kehamilan

ganda,

molahidatidosa.
5) Kaji faktor eksogen
Tanyakan apakah ibu merokok, stress, ketegangan psikis terkait
pekerjaan, makanan tidak adekuat (yang menyebabkan Ny. M mual
dan muntah sejak usia kehamilan 5 bulan).
6) Tanyakan apakah adanya penyakit penyerta lain
Seperti hipertensi kronis dan penyakit ginjal, retensi insulin, berat
badan ibu rendah (53 Kg: BB Ny. M), tubuh yang pendek, migrain,
diabetes gestasional, DM tipe 1, talasemia, SLE.

25

Data Objektif
1) Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam.
2) Palpasi : letak janin Ny M
3) Pemeriksaan diagnostik
a) USG : untuk melihat posisi janin, melihat keadaan janin, meihat
kemungkinan plasenta previa
4) Pemeriksaan laboratorium
a) Serum kreatinin
b) Hematologi H2T (hemoglobin, hematokrit, trombosit)
c) Bj urine
d) Elektrolit
C. Diagnosa keperawatan apa saja yang muncul pada kasus diatas?
1) Kelebihan volume cairan b.d kerusakan fungsi glumerulus sekunder
terhadap penurunan cardiac output.
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake
tidak adekuat.
3) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d edema.
D. Susun rencana tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengatasi
masalah keperawatan tersebut ?
DX 1 : Kelebihan volume cairan b.d kerusakan fungsi glomerulus sekuder
terhadap penurunan cardiac output.
Batasan karakteristik :
1) Gangguan elektrolit
2) Ansietas
3) Perubahan tekanan darah
4) Perubahan pola pernapasan
5) Dispneu
6) Edema
7) Peningkatan tekanan vena sentral
8) Distensi vena jugularis
9) Oliguria
10) Gelisah
11) Perubahan berat jenis urine
Faktor-faktor yang berhubungan:
1) Gangguan mekanisme regulasi
2) Kelebihan asupan cairan
3) Kelebihan asupan natrium
NOC:

26

1) Keseimbangan elektrolit dan asam basa


2) Keseimbangan cairan
3) Hidrasi
Kriteria hasil:
1)
2)
3)
4)

Terbebas dari edema, efusi


Bunyi nafas bersih, tidak ada bunyi dispneu/ortopneu
Terbebas dari distensi vena jugularis.
Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru, output dan

vital sign dalam batas normal


5) Terbebas dari kelelaha dan kecemasan.
NIC
Manajemen cairan :
(1) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
(2) Monitor hasil Hb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN, Hmt,
(3)
(4)
(5)
(6)

Osmolalitas urin)
Monitor vital sign
Monitor indikasi retensi/kelebihan cairan (edema,cvp, asites)
Kaji lokasi dan luas edema
Monitor status nutrisi

(7) Kolaborasi pemberian diuretik sesuai dengan instruksi


Pemantauan Cairan
1)
2)
3)
4)
5)

Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi


Tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidakseimbangan cairan
Monitor berat badan
Monitor serum dan elektrolit urine
Monitor tanda dan gejala edema.

DX 2 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake


tidak adekuat.
Batasan karakteristik :
1) Nyeri abdomen
2) Berat badan 20%/lebih dibawah
3) Bising usus hioeraktif
4) Diare
5) Nafsu makan berkurang
6) Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat
7) Membran mukosa pucat
8) Tonus otot menurun
9) Mengeluh gangguan sensasi makanan

27

10) Kelemahan otot pengunyah


Faktor-faktor yang berhubungan:
1) Ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrisi
2) Ketidakmampuan mencerna makanan
3) Faktor psikologis
NOC
1) Status Gizi : Makanan dan Cairan
2) Asupan
3) Pengendalian Berat
Kriteria hasil:
1)
2)
3)
4)

Adanya peningkatan berat badan sesuai


Mampu mengindentifikasi kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda malnutrisi
Menunjukan peningkatan fungsi pengecapan dan menelan

5) Tidak terjadi penurunan berat badan yang berartiTerbebas dari edema,


efusi
NIC
Manajemen Nutrisi:
1) Kaji adanya alergi makanan
2) Anjurkan pasien untuk meningkatkan Fe, protein, vitamin
3) Yakinkan diet yang dimakan mengandung serat tinggi untuk
mencegah konstipasi
4) Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
5) Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
6) Kaji kemampuan pasien untuk mendapat nutrisi yang dibutuhkan
7) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien.
Pemantauan Nutrisi
1) BB pasien dalam batas normal
2) Monitor adanya penurunan berat monitor tipe dan jumlah aktivitas
3)
4)
5)
6)
7)

yang bisa dilakukan


Monitor kondisi pasien ketika makan
Monitor turgor kulit
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin dan total protein, Hb,Ht
Monitor pucat, kemerahan, konjungtiva
28

8) Monitor kalori dan intake nutrisi


9) Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas
oral.
DX 3: Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d terjadinya edema.
Batasan karakteristik :
1) Nadi lemah (bradikardia)
2) Perubahan fungsi motorik
3) Perubahan karakteristik kulit (warna, elastisitas, rambut, kelembaban,
kuku, sensasi suhu)
4) Perubahan tekanan darah
5) Waktu pengisian kapiler >3 detik
6) Keterlambatan penyembuhan luka
7) Penurunan nadi
8) Edema
9) Nyeri ekstremitas
10) Bruit femoral
11) Warna kulit pucat saat elevasi
Faktor-faktor yang berhubungan:
1) Kurang pengetahuan tentang proses penyakit
2) Diabetes militus
3) Hipertensi
4) Merokok
NOC:
1) Status Sirkulasi
2) Jaringan Perfusi Serebral
Kriteria hasil:
1) Tekanan darah dalam batas normal
2) Tidak ada ortostatik hipertensi
3) Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial
NIC
Manajemen Sensorik Perifer:
1) Kaji adanya alergi makanan
2) Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/
dingin/ tumpul tajam
3) Gunakan sarung tangan untuk proteksi

29

4) Monitor adanya tromboplebitis


5) Kolaborasi pemberian analgetik.

30

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pre-eklamsia adalah kelainan multiorgan spesifik pada kehamilan yang
ditandai dengan terjadinya hipertensi, edema, dan proteinuria tetapi tidak
menunjukan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya,
sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan 20 minggu (Nurarif
Amin Huda, 2015). Dan pada kasus ibu mengalami PEB karna ibu
mengalami gejala PEB yaitu TD ibu pada saat dipoli 190/120 mmHg, pitting
edem +2, protein uri +3.
Pada pengkajian, dilakukan pengkajian lebih lanjut yaitu untuk mendapatkan
data subjektif seperti riwayat kesehatan ibu sebelumnya dan sekarang,
kesehatan keluarga ibu, riwayat kehamilan sebelumnya, dan kaji faktor
eksogen dan penyakit penyerta lainnya pada ibu. Dan data objokteif seperti
pemerikasaan fisik, pemeriksaan diagnostik. Sehingga dapat mengangkat
diagnoasa untuk dilakukan intevensi lebih lanjut sesuai diagnosa.
Pada kasus diatas ibu memiliki tiga diagnoasa keperawatan yaitu salah
satunya diagnoasa keperawatan yang pertama adalah kelebihan volume cairan
b.d kerusakan fungsi glomerulus sekuder terhadap penurunan cardiac output.
Dan intervensi yang harus dilakukan diantaranya seperti monitor intake dan
output cairan, vital sign, kurangin asupan cairan natrium dan air, baik dari
diet maupun intravena kerena tidak semua pasien edema memerlukan terapi
terpai farmakologis, pada beberapa pasien terapi non farmakologis sangat
efektif seperti pemgurangan asupamn natrium (yakni kurang dari jumlah yang
disekresikan oleh ginjal).
4.2 Saran
A. Kepada Pelayanan Kesehatan
Agar dapat meningkatkan pelayanan ibu hamil dan bersalin, khususnya
pada penderita Pre-eklampsia.
B. Kepada pihak Akademis

31

Agar dapat membimbing para tenaga dan calon tenaga kesehatan dan
meningkatkan kualotas peayanan terhadap ibu hamil.
C. Kepada tenaga kesehatan
Agar dapat lebih mengiptimalkan pelayanan kesehatan mengingat preeklampsia merupakan suatu gejala penyakit yang cukup mempengaruhi
kesehatan ibu hamil.
D. Ibu hamil
Diharapkan pada ibu hamil memeriksan kehamilannya secara rutin.
Dimana pada trimester pertama satu kali pemeriksaan, pada trimester
kedua satu kali pemeriksaan setiap empat minggu, pada usia kehamilan 32
minggu pemeiksaan satu kali setiap dua minggu dan pada usia 38 minggu
pemeriksaa dilakukan satu kali setiap minggu. Ini dilakukan untuk
mendeteksi dini terjadinya pre-eklampsia atau komplikasi lainnya pada
ibu hamil.

32

DAFTAR PUSTAKA
Amelda, 2009. Gambaran Karakteristik Ibu Hamil dengan Preeklampsia di
RSUP H. Adam Malik Medan, Periode 2005-2006. Karya Tulis
Ilmiah STIKes Helvetia Medan, Diakses tanggal 22 September 2016.
<http://www.helvetia.ac.id.library/html/stikes/amelda.>
Bobak, L. 2005. Keperawatan Maternitas, Edisi 4.Jakarta: EGC.
DINKES, 2009. Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Diakses
tanggal 22 September 2016.
<http:/www.litbang. depkes.go.id>
Fadlun dan Feryanto, Achmad. 2014. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta:
Salemba Medika.
Huda, Nurarif Amin. 2015. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
Nanda NIC NOC. Jilid: 3. Jakarta: Mediaction.
Mansjoer, Areif, dkk. 2008. Penyakit-Penyakit Pada Kehamilan: Peran Seorang
Internis. Jakarta Pusat: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI. No
Mochtar. 1998. Synopsis Obstetri. Jilid 1. Edisi kedua. Jakarta: EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustakaedc
RINI, SANC. 2010. Pematalaksanaan Terapi Pasien Pre Eklamsia Rawat Inap
RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten 2009. Diakses tanggal 23
September 2016
<eprints.ums.ac.id/8993/1/K100060036.pdf>

33