Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Masalah biaya kesehatan sejak beberapa tahun ini telah banyak menarik

perhatian. Sementara itu sesuai dengan kebijakan pemerintah, tenaga kesehatan


diharapkan dapat lebih mendekatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dalam
menjawab berbagai tantangan tersebut diperlukan pemikiran-pemikiran khusus dalam
meningkatkan efisiensi atau penggunaan dana secara lebih rasional (Trisna, 2010).
Biaya pelayanan kesehatan khususnya biaya obat telah meningkat tajam
beberapa dekade terakhir, dan kecenderungan ini tampaknya akan terus berlanjut. Hal
ini antara lain disebabkan populasi pasien usia lanjut yang semakin banyak dengan
konsekuensi meningkatnya penggunaan obat, adanya obat-obat baru yang lebih mahal
dan perubahan pola pengobatan. Di sisi lain, sumber daya yang dapat digunakan
terbatas sehingga harus dicari cara agar pelayanan kesehatan menjadi efisien dan
ekonomis. Tidak hanya meneliti penggunaan dan efek obat dalam hal khasiat dan
keamanan saja, tetapi juga menganalisis dari segi ekonominya. Studi khusus yang
mempelajari hal tersebut dikenal dengan nama farmakoekonomi (Trisna, 2010).
Dengan demikian, tujuan farmakoekonomi adalah untuk memperbaiki
kesehatan individu dan publik, serta memperbaiki proses pengambilan keputusan
dalam memilih nilai relatif diantara terapi-terapi alternative. Jika digunakan secara
tepat, data farmakoekonomi memungkinkan penggunanya mengambil keputusan
yang lebih rasional dalam proses pemilihan terapi, pemilihan pengobatan, dan alokasi
sumberdaya sistem. Dalam kaitannya dengan hal ini, penggunanya bisa dari berbagai
kalangan, diantaranya pengambil keputusan klinis dan administratif, termasuk dokter,
apoteker, anggota komite formularium dan administrator perusahaan asuransi.

1.2

RUMUSAN MASALAH
1) Apa yang dimaksud dengan farmakoekonomi ?
2) Apa saja ruang lingkup farmakoekonomi ?
3) Bagaimana hubungan farmakoekonomi dengan mata kuliah lain ?
4) Apa saja metode evaluasi farmakoekonomi ?
5) Bagaimana hubungan farmakoekonomi dengan pengembangan obat?

1.3

TUJUAN MASALAH
1) Mahasiswa mampu memahami definisi dari farmakoekonomi.
2) Mahasiswa mampu menjelaskan ruang lingkup dari farmakoekonomi.
3) Mahasiswa mampu menghubungkan farmakoekonomi dengan mata kuliah
lain.
4) Mahasiswa mampu menyebutkan serta menjelaskan metode evaluasi
farmakoekonomi.
5) Mahasiswa mampu menghubungkan farmakoekonomi dengan
pengembangan obat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi, Ruang Lingkup & Hubungan Dengan Mata Kuliah Lain

2.1.1 Definisi Farmakoekonomi


Farmakoekonomi adalah ilmu yang mengukur biaya dan hasil yang diperoleh
dihubungkan dengan penggunaan obat dalam perawatan kesehatan (Orion, 1997).
Farmakoekonomi juga didefenisikan sebagai deskripsi dan analisis dari biaya terapi
dalam suatu sistem pelayanan kesehatan. Lebih spesifik lagi adalah sebuah penelitian
tentang proses identifikasi, mengukur dan membandingkan biaya, resiko dan
keuntungan dari suatu program, pelayanan dan terapi (Vogenberg, 2001)
Farmakoekonomi didefinisikan sebagai deskripsi dan analisis biaya terapi
pada masyarakat

atau sistem pelayanan kesehatan.

Lebih spesifik, studi

farmakoekonomi adalah proses identifikasi, pengukuran, dan membandingkan biaya,


risiko, dan manfaat dari program, pelayanan, atau terapi dan menentukan alternatif
yang memberikan keluaran kesehatan terbaik untuk sumber daya yang digunakan (Tri
Murti, 2013).
Klinisi dan pembuat keputusan dapat menggunakan metode ini untuk
mengevaluasi dan membandingkan total biaya dan keluaran (outcome) dari suatu
pilihan terapi. Dari gambar 1 dapat dijelaskan, sisi sebelah kiri dari persamaan
menunjukkan input (biaya) yang digunakan untuk mendapatkan produk atau
pelayanan farmasi. Produk obat atau pelayanan yang akan dinilai diberi simbol Rx.
Jika hanya sisi sebeloah kiri persamaan diukur tanpa menilai outcome, maka disebut
cost analysis (analisis biaya atau analisis ekonomi parsial). Jika hanya sisi sebelah
kanan dari persamaan yang diukur tanpa melihat biaya, merupakan strudi klinik atau
outcome (bukan analisis ekonomi). Pada analisis farmakoekonomi, kedua sisi pada
persamaan diperhitungkan dan dibandingkan.

Gambar 1. Persamaan Farmakoekonomi Dasar (Rascati, 2009)

Tujuan farmakoekonomi adalah membandingkan obat yang berbeda untuk


pengobatan pada kondisi yang sama. Selain itu juga membandingkan pengobatan
yang berbeda pada kondisi yang berbeda (Vogenberg, 2001). Dimana hasilnya
bisa dijadikan informasi yang dapat membantu para pembuat kebijakan dalam
menentukan pilihan atas alternatif-alternatif pengobatan yang tersedia agar pelayanan
kesehatan menjadi lebih efisien dan ekonomis. Informasi farmakoekonomi saat ini
dianggap sama pentingnya dengan informasi khasiat dan keamanan obat dalam
menentukan pilihan obat mana yang akan digunakan. Farmakoekonomi dapat
diaplikasikan baik dalam skala mikro maupun dalam skala makro (Trisna, 2010).
Farmakoekonomi diperlukan karena adanya sumber daya yang terbatas,
dimana hal yang terpenting adalah bagaimana memberikan obat yang efektif dengan
dana

yang tersedia, pengalokasian sumber daya yang tersedia secara efisien,

kebutuhan pasien dimana dari sudut pandang pasien adalah biaya yang seminimal
mungkin (Vogenberg, 2001).
Dengan keterbatasan sumber daya yang tersedia dalam memberikan
pelayanan kesehatan, maka sudah seyogyanya farmakoekonomi dimanfaatkan
dalam membantu membuat keputusan dan menentukan pilihan atas alternatifalternatif pengobatan agar pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien dan ekonomis
(Trisna, 2010).

2.1.2 Ruang Lingkup Farmakoekonomi


Ruang lingkup farmakoekonomi tidak hanya untuk para pembuat kebijakan di
bidang kesehatan saja, tetapi juga bagi tenaga kesehatan, industri farmasi, perusahaan
asuransi dan bahkan pasien, dengan kebutuhan dan cara pandang yang berbeda.
Bagi pemerintah, farmakoekonomi sangat berguna dalam memutuskan
apakah suatu obat layak dimasukkan ke dalam daftar obat yang disubsidi, serta
membuat kebijakan-kebijakan strategis lain yang terkait dengan pelayanan kesehatan.
Contoh kebijakan terkait farmakoekonomi yang relatif baru diterapkan di Indonesia
adalah penerapan kebijakan INA-DRG (Indonesia-Diagnosis Related Group) yang
menyetarakan standar pelayanan kesehatan di rumah sakit pemerintah.
Hasil studi farmakoekonomi dapat berguna untuk industri farmasi dalam hal,
antara lain penelitian dan pengembangan obat, strategi penetapan harga obat, serta
strategi promosi dan pemasaran obat.
Selain itu, data farmakoekonomi dapat dimanfaatkan untuk memutuskan obat
mana saja yang dapat dimasukkan atau dihapuskan dalam formularium rumah sakit,
yang biasanya disusun oleh Komite Farmasi dan Terapi Rumah Sakit.
Farmakoekonomi juga dapat digunakan sebagai dasar penyusunan pedoman terapi
obat.
Bagi tenaga kesehatan, farmakoekonomi berperan mewujudkan penggunaan
obat yang rasional dengan membantu pengambilan keputusan klinik, mengingat
penggunaan obat yang rasional tidak hanya mempertimbangkan aspek keamanan,
khasiat, dan mutu saja, tetapi juga harus mempertimbangkan aspek ekonomi. Pada
akhirnya, pasien diharapkan akan memperoleh alokasi sumber daya pelayanan
kesehatan yang optimal dengan cara mengukur serta membandingkan aspek khasiat
serta aspek ekonomi dari berbagai alternatif terapi pengobatan.
Dengan memahami peranan farmakoekonomi dalam mengendalikan biaya
pengobatan, sudah selayaknya farmakoekonomi dimanfaatkan dalam proses
pengambilan kebijakan pelayanan kesehatan sehingga dapat tercapai hasil yang
efisien dan ekonomis. Kesadaran akan terbatasnya sumber daya dalam upaya

pelayanan kesehatan membuat kebutuhan akan farmakoekonomi menjadi semakin


mendesak.

2.1.3 Hubungan dengan mata kuliah lain


Farmakoekonomi merupakan bidang ilmu yang mengevaluasi perilaku atau
kesejahteraan individu, perusahaan dan asar terkait dengan penggunaan produk obat,
pelayanan, dan program, yang difokuskan pada biaya (input) dan konsekuensi
(outcome) dari penggunaannya. Farmakoekonomi mengevaluasi aspek klinik,
ekonomi dan humanistik dari intervensi pelayanan kesehatan, baik dalam
pencegahan, diagnosis, terapi, maupun manajemen penyakit. Farmakoekonomi
merupakan kumoulan teknik deskriptif dan analitik untuk mengevaluasi intervensi
farmasi, mencakup pasien secara individu pada sistem pelayanan kesehatan secara
menyeluruh.
Farmakoekonomi termasuk ilmu yang relatif baru, istilah tersebut pertama
kali muncul di literatur pada pertengahan 1980, namun konsep dan metode ini
mengacu dari disiplin dan area penelitian yang telah mapan. Farmakoekonomi
berhubungan denagn keluaran klinik dan humanistik. Ekonomi kesehatan mencakup
berbagai topik, termasuk permintaan dan kebutuhan dari sumber daya kesehatan,
pengaruh dari asuransi kesehatan, dan kebutuhan tenaga. Penelitian outcome klinik
dan humanistik didefinisikan sebagai cara untuk mengidentifikasi, mengukur dan
mengevaluasi hasil akhir dari suatu pelayanan kesehatan. Dalam hal ini tidak hanya
konsekuensi klinik dan humanistik, tetapi juga outcome seperti keadaan kesehatan
pasien dan kepuasan terhadap pelayanan kesehatan yang diterima. Farmakoekonomi
merupakan salah satu tipe penelitian outcome, tetapi tidak semua penelitian outcome
adalah penelitian farmakoekonomi. Jika penelitian dilakukan dengan mengevaluasi
dan membandingkan outcome ekonomi dan klini dari suatu produk atau pelayanan
farmasi maka termasuk dalam penelitian farmakoekonomi.

2.2

Metode Evaluasi Farmakoekonomi


Pada kajian farmakoekonomi terdapat empat metode analisis. Metode ini

bukan hanya mempertimbangkan efektivitas, keamanan, dan kualitas obat yang


dibandingkan tetapi juga aspek ekonomi yang merupakan prinsip dasar kajian
farmakoekonomi. Hasil kajian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan
masukan untuk menetapkan penggunaan yang paling efisien dari sumber daya
kesehatan yang terbatas jumlahnya. Metode farmakoekonomi dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1 Metode analisis dalam kajian Farmakoekonomi
Metode analisis
Analisis Minimalisasi
(AMiB)
Analisis
Efektivitas
(AEB)

Karakteristik analisis
Biaya Efek
dua
intervensi
sama
(setara),
valuasi/biaya dalam rupiah
Biaya Efek dari satu intervensi lebih tinggi, hasil
pengobatan
diukur
dalam
unit
alamiah/indikator kesehatan, valuasi/biaya dalam
rupiah
Analisis Utilitas Biaya (AUB)
Efek dari satu intervensi lebih tinggi, hasil
pengobatan dalam quality-adjusted lfe years/
biaya dalam rupiah
Analisis Manfaat Biaya (AMB) Efek dari satu intervensi lebih tinggi, hasil
pengobatan dinyatakan dalam rupiah/biaya
dalam rupiah
1.

Analisis Minimalisasi Biaya (AMiB)


Metode AMiB merupakan metode farmakoekonomi paling sederhana dan

hanya dapat digunakan untuk membandingkan dua atau lebih

intervensi

kesehatan, termasuk obat yang memberikan hasil yang sama, serupa atau setara. Oleh
karena hasil pengobatan dari intervensi sama, maka yang dibandingkan hanya
satu sisi yaitu biaya (Kementrian Kesehatan RI., 2013). Contoh AMiB yang sering
dilakukan adalah membandingkan dua obat generik yang dinyatakan ekuivalen oleh
FDA. Jika obat yang dibandingkan ekuivalen (tetapi diproduksi dan dijual oleh
perusahaan berbeda), hanya perbedaan biaya obat yang digunakan untuk memilih
salah satu yang nilainya paling tinggi. AMiB tidak bisa digunakan untuk

membandingkan obat yang berbeda kelas terapi dengan outcome yang berbeda (Tri
Murti, 2013).
AMiB digunakan untuk membandingkan dua intervensi kesehatan yang telah
dibuktikan memiliki efek yang sama, serupa, atau setara. Kalau dua terapi atau dua
(jenis, merek) obat setara secara klinis, yang perlu dibandingkan tinggal biaya untuk
melakukan intervensi. Sesuai prinsip efisiensi ekonomi, jenis atau merek obat yang
menjanjikan nilai terbaik adalah yang membutuhkan biaya per periode terapirupiah
yang harus dikeluarkan untuk mencapai efek yang diharapkanpaling kecil.
Dengan demikian, langkah terpenting yang harus dilakukan sebelum
menggunakan AMiB adalah menentukan kesetaraan (equivalence) dari intervensi
(misalnya obat) yang akan diKajian. Tetapi, karena jarang ditemukan dua terapi,
termasuk obat, yang setara atau dapat dengan mudah dibuktikan setara, penggunaan
AMiB agak terbatas, misalnya untuk:
1. Membandingkan obat generik berlogo (OGB) dengan obat generik bermerek
dengan bahan kimia obat sejenis dan telah dibuktikan kesetaraannya melalui
uji BA/BE. Jika tidak ada hasil uji BA/BE yang membuktikan kesetaraan hasil
kesehatan, AMiB tidak layak untuk digunakan.
2. Membandingkan obat standar dengan obat baru yang memiliki efek setara.

Contoh Perhitungan Analisis Minimalisasi-Biaya


Skenario:
Onkoplatin adalah agen kemoterapi yang relatif baru, diberikan secara intravena di rumah sakit.
Karena efek mual pada kemoterapi ini, onkoplatin kerap diberikan menurut dua pilihan cara:
1. Pemberian dosis yang mestinya setiap bulan, dapat dibagi menjadi setiap 15 hari (2 x sebulan)
2. Pemberian dosis setiap bulan, tetapi dengan penambahan obat antimual
Efektivitas kedua cara pemberian sama.
Untuk mengetahui biaya pengobatan yang paling minimal di antara kedua cara pemberian tersebut,
dilakukan analisis minimalisasi-biaya (AMiB).
Dari analisis struktur biaya didapatkan hasil berikut:
Komponen biaya

29.640.000

1.600.000

(dalam rupiah)
Onkoplatin dosis lengkap +
antimual
29.800.000
400.000
800.000

1.280.000

640.000

32.520.000

31.640.000

Onkoplatin dosis terbagi

Onkoplatin (rata-rata)
Antimual (rata-rata)
Jasa pemberian onkoplatin
IV
Jasa klinik & kunjungan
dokter
Biaya total per asien

Dari struktur biaya terlihat, biaya onkoplatin rata-rata relatif sama untuk kedua cara pemberian. Tetapi,
pada kelompok onkoplatin dosis terbagi, tidak ada biaya antimual karena tidak diberikan antimual.
Sebaliknya, pada pemberian dosis terbagi, biaya untuk jasa pemberian onkoplatin IV menjadi dua kali
lipat dari pemberian dosis lengkap. Begitu pula biaya untuk jasa klinik dan kunjungan dokter, menjadi
dua kali lipat. Dengan demikian, biaya total pemberian dosis lengkap dengan tambahan antimual lebih
murah Rp880.000, atau 2,71%, dibanding pemberian onkoplatin dosis terbagi.

3.

Analisis

Efektivitas

Biaya (AEB)

Analisis efektivitas biaya (AEB) cukup sederhana. Dan banyak digunakan


untuk kajian farmakoekonomi untuk membandingkan dua atau lebih intervensi
kesehatan yang memberikan besaran efek berbeda (Rascati et al., 2009). Dengan
analisis yang mengukur biaya sekaligus hasilnya ini, pengguna dapat menetapkan
bentuk intervensi kesehatan yang paling efisien membutuhkan biaya termurah untuk
hasil pengobatan yang menjadi tujuan intervensi tersebut. Dengan kata lain, AEB

dapat digunakan untuk memilih intervensi kesehatan yang memberikan nilai tertinggi
dengan dana yang terbatas jumlahnya, misalnya:
1. Membandingkan dua atau lebih jenis obat dari kelas terapi yang sama tetapi
memberikan besaran hasil pengobatan berbeda, misalnya dua obat
antihipertensi yang memiliki kemampuan penurunan tekanan darah diastolik
yang berbeda.
2. Membandingkan dua

atau

lebih

terapi

yang

hasil pengobatannya

dapat diukur dengan unit alamiah yang sama, walau mekanisme kerjanya
berbeda, misalnya obat golongan proton

pump

inhibitor dengan H2

antagonist untuk reflux oesophagitis parah.


Pada AEB, biaya intervensi kesehatan diukur dalam unit moneter (rupiah) dan
hasil dari intervensi tersebut dalam unit alamiah/indikator kesehatan baik klinis
maupun non klinis (non-moneter). Tidak seperti unit moneter yang seragam atau
mudah dikonversikan, indikator kesehatan sangat beragammulai dari mmHg
penurunan tekanan darah diastolik (oleh obat antihipertensi), banyaknya katarak yang
dapat dioperasi dengan sejumlah biaya tertentu (dengan prosedur yang berbeda),
sampai jumlah kematian yang dapat dicegah (oleh program skrining kanker payudara,
vaksinasi meningitis, dan upaya preventif lainnya).
Sebab itu, AEB hanya dapat digunakan untuk membandingkan intervensi
kesehatan yang memiliki tujuan sama, atau jika intervensi tersebut ditujukan untuk
mencapai beberapa tujuan yang muaranya sama (Drummond et al., 1997). Jika hasil
intervensinya berbeda, misalnya penurunan kadar gula darah (oleh obat antidiabetes)
dan penurunan kadar LDL atau kolesterol total (oleh obat antikolesterol), AEB tak
dapat digunakan. Oleh pengambil kebijakan, metode Kajian Farmakoekonomi ini
terutama digunakan untuk memilih alternatif terbaik di antara sejumlah intervensi
kesehatan, termasuk obat yang digunakan, yaitu sistem yang memberikan hasil
maksimal untuk sejumlah tertentu dana.
Pada penggunaan metode AEB perlu dilakukan penghitungan rasio biaya
rerata

dan

rasio

inkremental efektivitas-biaya (RIEB = incremental cost-

effectiveness ratio/ICER). Dengan RIEB dapat diketahui besarnya biaya tambahan


untuk setiap perubahan satu unit efektivitas- biaya. Selain itu, untuk mempermudah
pengambilan kesimpulan alternatif mana yang memberikan efektivitas-biaya terbaik,
pada kajian dengan metode AEB dapat digunakan tabel efektivitas-biaya.
Dengan menggunakan tabel efektivitas-biaya (tabel 2), suatu intervensi
kesehatan secara relatif terhadap intervensi kesehatan yang lain dapat dikelompokkan
ke dalam satu dari empat posisi, yaitu:
Tabel 2. Kelompok Alternatif Berdasarkan Efektivitas-Biaya

Efektivitas-biaya

Biaya lebih rendah


A

Efektivitas lebih
rendah

Biaya sama
B

[Perlu perhitungan

Biaya lebih tinggi


C
[Didominasi]

RIEB]
D

Efektivitas sama

Efektivitas

lebih

[Dominan]

tinggi

[Perlu perhitungan
RIEB]

1. Posisi dominan Kolom G (juga Kolom D dan H)


Jika sebuah intervensi kesehatan menawarkan efektivitas lebih tinggi dengan
biaya sama (Kolom H) atau efektivitas yang sama dengan biaya lebih rendah
(Kolom D), apalagi efektivitas lebih tinggi dengan biaya lebih rendah (Kolom
G), sudah pasti terpilih sehingga tak perlu dilakukan AEB.
2. Posisi didominasi Kolom C (juga Kolom B dan F)

Sebaliknya, jika sebuah intervensi kesehatan menawarkan efektivitas lebih


rendah dengan biaya sama (Kolom B) atau efektivitas sama dengan biaya
lebih tinggi (Kolom F), apalagi efektivitas lebih rendah dengan biaya lebih
tinggi (Kolom C), tidak perlu dipertimbangkan sebagai alternatif, sehingga tak
perlu pula diikutsertakan dalam AEB.
3. Posisi seimbang Kolom E
Sebuah intervensi kesehatan yang menawarkan efektivitas dan biaya yang
sama (Kolom E) masih mungkin dipilih jika lebih mudah didapat dan/atau
cara pemakaiannya lebih memungkinkan untuk ditaati oleh pasien, misalnya
tablet lepas lambat yang hanya perlu diminum 1 x sehari versus tablet yang
harus diminum 3 x sehari.
4. Posisi yang memerlukan pertimbangan efektivitas-biaya Kolom A dan
I
Jika sebuah intervensi kesehatan yang menawarkan efektivitas yang lebih
rendah dengan biaya yang lebih rendah pula (Kolom A) atau, sebaliknya,
menawarkan efektivitas yang lebih tinggi dengan biaya yang lebih tinggi,
untuk melakukan pemilihan perlu memperhitungkan RIEB.

Contoh Perhitungan Analisis Efektivitas-Biaya (AEB) Skenario:


Asma merupakan penyakit kronis yang ditandai oleh bronkokonstriksi (penyempitan
saluran nafas). Inhalasi kortikosteroid telah menjadi cara pengobatan rutin. Tetapi,
pengobatan

inhalasi kortikosteroid tunggal kadang tidak cukup efektif untuk

mengontrol gejala asma. Dua pengobatan baru digunakan sebagai terapi penunjang,
yaitu BreatheAgain dan AsthmaBeGone.
Pada kasus ini akan dibandingkan efektivitas-biaya pengobatan dari:
1.

Pemberian inhalasi kortikosteroid tunggal

2.

Pemberian kombinasi inhalasi kortikosteroid + BreatheAgain

3.

Pemberian kombinasi inhalasi kortikosteroid + AsthmaBeGone

Tabel 3. Langkah Perhitungan Analisis Efektivitas-Biaya


No. Langkah
1. Tentuk
an
tujuan.

Contoh
Membandingkan biaya dan efektivitas dua terapi penunjang
baru bagi pasien asma yang mendapat pengobatan inhalasi
kortikosteroid, yaitu terapi penunjang BreatheAgain dan
AsthmaBeGone

2.

Buat
daftar
cara
untuk
mencapa
i tujuan
tersebut.

Membandingkan:
Inhaler kortikosteroid + Plasebo (A)
Inhaler kortikosteroid + BreatheAgain (B)
Inhaler kortikosteroid + AsthmaBeGone (C)

3.

Identifik
asi
tingkat
efektivit
as.

Hasil studi literatur menunjukkan:


Efektivitas Pengobatan A = 35%
Efektivitas Pengobatan B = 60%
Efektivitas Pengobatan C = 61%

4.

Identifik
asi dan
hitung
biaya
pengobat
an.

Biaya yang teridentifikasi dan diukur adalah biaya medikasi ,


biaya kunjungan tak terjadwal, biaya kunjungan ke unit gawat
darurat, biaya rawat inap:
Biaya rerata Pengobatan A = Rp320.000/ pasien
Biaya rerata Pengobatan B = Rp537.000/pasien
Biaya rerata Pengobatan C = Rp381.000/pasien

Membandingkan jumlah pasien dari masing- masing terapi


yang meningkatkan FEV (forced- expiration volume)-nya >
12%

5.

Hitung
dan
lakukan
interpret
asi
efektivit
as- biaya
dari
pilihan
pengobat
an.

1. Hitung rasio efektivitas-biaya (REB)


pengobatan.
Rumus: Biaya / Efektivitas
REB Pengobatan A = Rp 320.000 / 0,35
914.286
REB Pengobatan B = Rp 537.000 / 0,60
890.000
REB Pengobatan C = Rp 381.000 / 0,61
624.590

setiap

Rp

Rp

Rp

2. Tentukan posisi alternatif pengobatan dalam Tabel


atau Diagram Efektivitas-Biaya. Biaya yang dilihat
adalah biaya pengobatan, bukan rerata efektivitasbiaya.

3. Hitung rasio inkremental efektivitas-biaya (RIEB)


setiap pengobatan:
Untuk Pengobatan C terhadap B, atau sebaliknya,
tidak dilakukan perhitungan RIEB.
RIEB Pengobatan B terhadap A = (Rp 537.000 Rp
320.000) / (0,60 0,35) = Rp 868.000
RIEB Pengobatan C terhadap A = (Rp 381.000
Rp 320.000) / (0,61 0,35) = Rp 234.615
6.

Interpret
asi.

7.

3.

Lakukan
analisis
sensitivit
as dan
ambil
kesimpul
an.

Antara
Pengobatan B dan C harus dipilih
Pengobatan C, karena dengan efektivitas yang sama
Pengobatan C lebih murah.
Antara Pengobatan A dan B, bila dipilih
Pengobatan B harus dikeluarkan biaya lebih sebesar
Rp 868.000 untuk peningkatan 1 unit efektivitas.
Antara Pengobatan A dan C, bila dipilih
Pengobatan C harus dikeluarkan biaya lebih sebesar
Rp 234.615 untuk peningkatan 1 unit efektivitas.
Bila Pengobatan B atau C akan dipilih,
pengambil
kebijakan di fasilitas pelayanan
kesehatan
harus
mempertimbangkan apakah
biaya lebih yang harus dikeluarkan sebanding
dengan peningkatan efektivitas yang diperoleh.

Analisis dilakukan dengan melihat standar deviasi dari


efektivitas setiap pengobatan, limit atas, dan limit bawah.
Setelah itu, hitung biaya satuan dengan mempertimbangkan
variasi volume obat yang digunakan.

Analisis Utilitas Biaya (AUB)


Metode

analisis utilitas-biaya (AUB) mirip

dengan

AEB, tetapi hasil

(outcome)-nya dinyatakan dengan utilitas yang terkait dengan peningkatan kualitas


atau perubahan kualitas akibat intervensi kesehatan yang dilakukan. Menurut
Bootman (1996), hasil pengobatan dalam bentuk kuantitas dan kualitas hidup itu
mencerminkan keadaan berikut:

1. Apakah penyakit yang diderita atau pengobatan terhadap penyakit yang


diberikan secara kuantitas akan memperpendek usia pasien?
2. Apakah kondisi penyakit yang diderita pasien atau pengobatan terhadap
penyakit tersebut tidak seperti yang diinginkan? Kalau jawabannya ya,
sebesar apa?
3. Apakah dampaknya terhadap usia? Berapa banyak berkurangnya usia
(kuantitatif) dan kepuasan (kualitas) hidup?

Dalam praktek, AUB hampir selalu digunakan untuk membandingkan


alternatif yang memiliki tujuan (objective) sama, seperti:
1.

Membandingkan operasi versus kemoterapi;

2.

Membandingkan obat kanker baru versus pencegahan (melalui kampanue


skrining).

Beberapa istilah yang lazim digunakan dalam AUB, termasuk:


1. Utilitas (utility)
Analisis utilitas-biaya (AUB) menyatakan hasil dari intervensi sebagai
utilitas atau tingkat kepuasan yang diperoleh pasien setelah mengkonsumsi suatu
pelayanan kesehatan, misalnya setelah mendapatkan pengobatan kanker atau penyakit
jantung. Unit utilitas yang digunakan dalam Kajian Farmakoekonomi biasanya
Jumlah Tahun yang Disesuaikan (JTKD) atau quality-adjusted life years (QALY).
2. Kualitas hidup (quality of life, QOL)
Kualitas hidup dalam AUB diukur dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan
kuantitas (duration of life) dan pendekatan kualitas (quality of life). (Bootman et al.,
1996). Kualitas hidup merupakan sebuah konsep umum yang mencerminkan keadaan
yang terkait dengan modifikasi dan peningkatan aspek-aspek kehidupan, yaitu fisik,
politik, moral dan lingkungan sosial.
3. QALY (quality-adjusted life years)
Quality-adjusted life years (QALY) atau Jumlah Tahun yang Disesuaikan
(JTKD) adalah suatu hasil yang diharapkan dari suatu intervensi kesehatan yang

terkait erat dengan besaran kualitas hidup. Pada QALY, pertambahan usia (dalam
tahun) sebagai hasil intervensi disesuaikan nilainya dengan kualitas hidup yang
diperoleh (Bootman et al., 1996).
AUB menambah dimensi dari titik pandang atau perspektif pihak tertentu
(biasanya pasien). Pandangan yang bersifat subyektif inilah yang memungkinkan
pengukuran utilitas (preference/value). Unit utilitas, termasuk JTKD, merupakan
sintesis dari berbagai hasil (outcome) fisik yang dibobot menurut preference
terhadap masing-masing hasil pengobatan tersebut.
JTKD didasarkan pada

keyakinan bahwa

intervensi kesehatan dapat

meningkatkan survival (kuantitas hidup) ataupun kemampuan untuk menikmati hidup


(kualitas hidup). Pada penghitungan besaran utilitas yang paling banyak dipakai ini,
dilakukan pembobotan kualitas terhadap setiap tahun pertambahan kuantitas hidup
yang dihasilkan suatu intervensi kesehatan. Dengan demikian, JTKD merupakan
penggabungan dari kedua elemen tersebut.
Secara teknis, JTKD diperoleh dari perkalian antara nilai utilitas dan nilai
time preference, dimana nilai utilitas menggambarkan penilaian pasien terhadap
kualitas hidupnya saat itu. Penilaian yang dilakukan secara subyektif oleh pasien
didasarkan pada berbagai atribut kualitas hidup yang terkait dengan kesehatan,
sementara time preference menggambarkan perkiraan pertambahan usia (dalam
tahun) yang diperoleh karena pengobatan yang diterima.
Terkait teknis perhitungan, pengertian adjusted atau disesuaikan pada
JTKD adalah penyesuaian pertambahan usia yang akan diperoleh dengan utilitas.
Dengan penyesuaian ini, diperoleh jumlah tahun pertambahan usia dalam kondisi
sehat penuh. Nilai utilitas berkisar dari 1 (hidup dalam keadaan sehat sempurna)
sampai 0 (mati). Jadi, jika seorang pasien menilai bahwa keadaannya setelah periode
terapi yang diperoleh setara dengan 0,8 keadaan sehat sempurnautilitas = 0,8 dan
pertambahan usianya 10 tahun, pertambahan usia yang berkualitas bukanlah 10 tahun,
melainkan 0,8 x 10 tahun = 8 tahun (Drummond et al., 1987).

Contoh Perhitungan Analisis Utilitas-Biaya (AUB) Skenario:


Guna

mengendalikan

biaya

pelayanan

kesehatan,

coba dikembangkan

program skrining dengan uji Sentinel lymph-node biopsy (SLN). Mereka yang
ditemukan positif mikrometastase (terkena malignant melanoma stadium II) diberi
pengobatan interferon.
Pada kasus ini akan dibandingkan utilitas-biaya dari:
1. Program A: Tanpa uji, tanpa interferon
2. Program B: Uji SLN, interferon untuk mereka yang positif
Lakukan analisis utilitas-biaya (AUB).
Tabel 4. Langkah Perhitungan Analisis Utilitas-Biaya
No. Langkah
Contoh
1. Tentuk
Menentukan alternatif program untuk penanggulangan malignant
an
melanoma yang memberikan utilitas -biaya, dalam QALY
tujuan.
tertinggi
Program A: Tanpa uji, tanpa interferon
Program B: Uji SLN, interferon untuk pasien
yang positif
2. Buat
daftar
cara
untuk
mencapa
i tujuan
tersebut.

Membandingkan:

3. Identifik
asi
utilitas
masingmasing
alternati
f.

Data yang dari produsen interferon dan/atau literatur


menunjukkan bahwa utilitas masing- masing program adalah:
Program A QALY = 3,06
Program B QALY = 3,37

Program A: Tanpa uji, tanpa interferon


Program B: Uji SLN, interferon untuk mereka yang
positif

4. Identifik
asi dan
hitung
biaya
pengoba
tan.

Biaya yang teridentifikasi menunjukkan:


Biaya rerata Program A = Rp 184.000.000/ pasien
Biaya rerata Program B = Rp 242.000.000/ pasien

5. Hitung
dan
lakukan
interpret
asi
utilitasbiaya
dari
pilihan
pengoba
tan.

1. Hitung rasio utilitas -biaya (RUB) setiap pengobatan.


Rumus: Biaya / Utilitas
RUB Program A =Rp 184.000.000 / 3,06 = Rp
50.130.719
RUB Program B =Rp 242.000.000 / 3,37 =Rp 71.810.089
2. Tentukan posisi alternatif pengobatan dalam Tabel atau
Diagram Utilitas-Biaya. Biaya yang dilihat adalah biaya
pengobatan, bukan rerata utilitas- biaya.

3. Hitung rasio inkremental utilitas-biaya (RIUB)


pengalihan program.
RIUB Program B terhadap A : = (Rp 242.000.000 Rp
184.000) / (3,37 3,06) = Rp 187.096.774/QALY
6

Interpret
asi.

Program B memerlukan tambahan biaya Rp 187.096.774


/ QALY, namun masyarakat mendapat tambahan usia 0,31
(survival years) atau 3,72 bulan.

4.

Lakukan
analisis
sensitivi
tas dan
ambil
kesimpu
lan.

Analisis dilakukan dengan mengukur kualitas hidup pasien


setelah pengobatan sampai meninggal, dengan memperhitungkan
variasi utilitas dan variasi biaya. Selain itu, perlu
dipertimbangkan perubahan nilai inflasi biaya dan hasil
pengobatan.

Analisis Manfaat Biaya (AMB)


Analisis Manfaat Biaya (AMB - cost benefit-analysis, CBA) adalah suatu

teknik analisis yang diturunkan dari teori ekonomi yang menghitung dan
membandingkan surplus biaya suatu intervensi kesehatan terhadap manfaatnya.
Untuk itu, baik surplus biaya dan manfaat diekspresikan dalam satuan moneter
(misal. Rupiah, US Dollar).
Suatu program kesehatan selalu diperbandingkan dengan beberapa alternatif,
baik dengan program/intervensi kesehatan lainnya maupun dengan tidak memberikan
program/

intervensi.

Nilai

manfaat

dari

suatu

program/intervensi

adalah

meningkatnya hasil pengobatan (outcome) bila dibandingkan dengan hasil serupa dari
program /

intervensi lain. Outcome dapat berupa nilai terkait pasien (misal :

kesembuhan, pulihnya abilitas fisik, dll), nilai pilihan (manfaat keberadaan


program/intervensi saat dibutuhkan), dan nilai altruistik (manfaat peningkatan
kesehatan orang lainnya). Parameter outcome diukur dengan satuan moneter (mata
uang), umumnya dengan Kemauan untuk Membayar (Willingness to Pay, WTP). Dan
untuk menghitung surplus biaya program/intervensi, biaya dari program / intervensi
dan hal-hal terkaitnya (misal. obat, dokter, rumah sakit, home care, biaya pasien dan
keluarga, biaya kehilangan produktivitas, biaya lain karena hilangnya waktu, dll)
dikurangi biaya yang serupa dari program/intervensi lainnya.
Dasar dari AMB adalah surplus manfaat, yaitu manfaat yang diperoleh
dikurangi dengan surplus biaya. Surplus manfaat adalah kriteria dasar dalam AMB.

Bila surplus manfaat suatu intervensi/program bernilai positif, maka umumnya


intervensi/program tersebut dapat diterima untuk dilaksanakan.
AMB menggunakan perspektif sosial (masyarakat) dan mencakup seluruh
biaya dan manfaat yang relevan. Namun, perhitungan dari biaya (terutama biaya tidak
langsung) yang terkait biasanya diperdebatkan/ kontroversial. AMB jarang digunakan
untuk membandingkan obat atau alternatif terapi medis karena pertimbangan etika.
Penilaian kondisi kesehatan menggunakan nilai moneter dan metode yang dipakai
untuk hal tersebut seringkali diperdebatkan.
AMB memiliki dua keuntungan, yang salah satunya bersifat unik/khas AMB.
Keuntungan

pertama,

AMB

memungkinkan

adanya

perbandingan

antara

program/intervensi dengan outcome yang sangat berbeda (misal. program klinik


antikoagulan

atau

program

klinik

antidiabetes),

sehingga

memungkinkan

perbandingan dengan nilai moneter antar program/ intervensi yang sama sekali
tidak

berkaitan.

Ketentuan

pengambilan

keputusannya

adalah

memilih

program/intervensi dengan surplus manfaat yang paling besar.


Keuntungan kedua, AMB adalah satu-satunya teknik yang dapat digunakan
untuk membandingkan internal satu program/intervensi. Bila surplus manfaatnya
bernilai positif, maka program/intervensi tersebut harus dipilih/didanai/dilakukan.

Kesulitan AMB adalah melakukan konversi/menerjemahkan kondisi klinis


non-moneter dan outcome kualitas hidup (misal. tahun hidup terselamatkan)
menjadi nilai moneter. Lebih lanjut, metode yang umum digunakan untuk melakukan
konversi/ penerjemahan tersebut Kemauan untuk Membayar (Willingness to Pay,
WTP) mengundang perdebatan etika karena condong kepada preferensi kekayaan.
Oleh karenanya, teknik analisa ini tidak umum digunakan dalam perumusan
kebijakan kesehatan.
AMB umumnya dilakukan berdasarkan model dan menggunakan asumsiasumsi yang signifikan. Oleh karenanya, perlu dilakukan analisa sensitivitas untuk

memvalidasi model dan asumsi yang digunakan serta untuk menilai kekuatan dari
hasil analisisnya.
2.3

Farmakoekonomi & Pengembangan Obat


Industri

farmasi

menghabiskan

miliaran

dolar

setiap

tahun

untuk

pengembangan obat baru. Sebagai persentase dari penjualan farmasi, biaya penelitian
dan pengembangan (R & D) ini tentu lebih tinggi dari yang ditemukan di industri
lain.Banyaknya senyawa yang harus dievaluasi untuk membawa satu obat untuk
menuju kontribusi pasar untuk biaya R & D yang tinggi dalam pengembangan obat.
Persentase ini juga lebih tinggi daripada yang ditemukan di industri lain.
Diperkirakan bahwa dibutuhkan $ 802.000.000 dan 14 tahun untuk membawa obat
baru ke pasar. Prosesyang obat dievaluasi dan dikembangkan untuk pasar
adalahdiilustrasikan pada Gambar 1.
Karena data pharmacoeconomic menjadi semakin penting untuk praktisi
membuat keputusan formularium obat, Sangat penting untuk memiliki data ini
secepat mungkin setelah persetujuan Food and Drug Administration . Untuk
melakukan hal ini, diskusi dan perencanaan untuk evaluasi pharmacoeconomic harus
dimulai selamatahap awal pengembangan obat. Sebuah pertanyaan besar muncul
untuk waktu yang ideal dalam melakukan studi pharmacoeconomic dan proses
terbaik yang digunakan untuk melakukannya. Studi Pharmacoeconomic mungkin
direncanakan dan dilakukan di pengembangan klinis dan pada tahap fase IV yaitu
penelitian pasca pemasaran. penelitian dasar dan aktivitas pengembangan mungkin
sebagian dipandu oleh mula analisis pharmacoeconomic.
Oleh karena itu, penelitian mungkin perlu dilakukan pada beberapa tahapan
penelitian farmasi. Berikut ini adalah ringkasan dari kegiatan penelitian untuk setiap
tahap.

Gambar . Tahapan penelitian dan pengembangan dari suatu obat baru.

1. UJI FASE I
Tujuan dari uji klinis awal, atau Tahap I, adalah untuk menentukan profil
toksisitas obat pada manusia. Uji coba fase pertama biasanya terdiri dari
administrasi tunggal, dosis konservatif untuk sejumlah kecil sukarelawan
sehat. Dampak peningkatan ukuran dan jumlah dosis harian dievaluasi
sampai efek toksik permukaan atau dosis terapi mungkin secara substansial
terlampaui. Biasanya pada saat tahap ini bahwa biaya studi penyakit
seharusnya diselesaikan untuk membantu memutuskan apakah untuk lebih

lanjut mengembangkan obat dan mengumpulkan data latar belakang untuk


evaluasi pharmacoeconomic masa depan. Data Biaya dari sakit yang juga
dapat membantu dalam pengembangan model awal untuk menilai manfaat
klinis yang harus dicapai dalam rangka untuk memiliki produk berharga.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan

Farmakoekonomi (pharmacoeconomics) adalah suatu metoda baru untuk


mendapatkan pengobatan dengan biaya yang lebih efisien dan serendah mungkin
tetapi efektif dalam merawat penderita untuk mendapatkan hasil klinik yang baik
(cost effective with best clinical outcome).
Farmakoekonomi diperlukan karena adanya sumber daya terbatas misalnya
pada Rumah Sakit pemerintah dengan dana terbatas dimana hal yang terpenting

adalah bagaimana memberikan obat yang efektif dengan dana yang tersedia,
pengalokasian sumber daya yang tersedia secara efisien, kebutuhan pasien, profesi
pada pelayanan kesehatan (Dokter, Farmasis, Perawat) dan administrator tidak sama
dimana dari sudut pandang pasien adalah biaya yang seminimal mungkin.
Manfaat utama yang dapat diperoleh dengan menerapkan farmakoekonomi
dalam setiap pengobatan yang dilakukan adalah meminimalkan biaya pengobatan
serendah mungkin dari mulai terapi sampai sembuh dan terhindar dari tuntutan pihak
asuransi karena pengobatan yang mahal.

Anda mungkin juga menyukai