Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

HEMODIALISA
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Urinari

Disusun Oleh :
Kelompok 2

Diah Ayu Sri Lestari 220110130106


Ilma Rihadatul Aisy

220110130119

Selly Desiani

220110130123

Siti Nur Alfiyah

220110130148

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

1. Topik Bahasan

: Hemodialisa

2. Sasaran

: Pasien dan Keluarga pasien

3. Kriteria

:
-

Pasien dengan diagnosis ESRD/ pasien gagal ginjal kronik ketika

nilai cleareance kreatinin (CCT) antara 20 25 ml /menit


Keluarga pasien yang telah di diagnosis ESRD
Telah mengikuti pertemuan pertama Program Edukasi Predialysis
(PEPD) tentang proses perjalanan penyakit

4. Waktu

: Senin, 3 Oktober 2016, 1 x 30 menit

5. Tempat

: Ruang Tutorial Fakultas Keperawatan UNPAD

6. Narasumber

:
-

Diah Ayu Sri Lestari


Ilma Rihadatul Aisy
Selly Desiani
Siti Nur Alfiyah

7. Tujuan
a. Tujuan Instruksional Umum
Penyuluhan hemodialisa ini diharapkan dapat membantu peserta/ paasien dengan
informasi yang obyektif tentang pengobatan alternatif ESRD
b. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti kegiatan ini, peserta didik mampu:
1. Mengetahui pengertian definisi hemodialisa
2. Mengetahui manfaat hemodialisa
3. Mengetahui penyebab hemodialisa
4. Mengetahui komponen hemodialisa
5. Mengetahui akses pembuluh darah pada hemodialisa
6. Mengetahui cara kerja hemodialisa
7. Mengetahui proses pra. Inta dan post hemodialisa
8. Mengetahui komplikasi saat menjalani hemodialisis

9. Mengetahui diet pada pasien hemodialisa

8. Pokok Bahasan
Hemodialisa
9. Sub Pokok Bahasan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Definisi hemodialisa
Manfaat hemodialisa
Penyebab hemodialisa
Komponen hemodialisa
Akses pembuluh darah pada hemodialisa
Cara kerja hemodialisa
Proses pra. Intra dan post hemodialisa
Komplikasi hemodialisis
Diet pada pasien hemodialisa

10. Materi Pengajaran


(terlampir)
11. Strategi Pembelajaran
Metode

1) Ceramah
2) Diskusi
3) Tanya Jawab
Media

: Power Point

12. Kegiatan Belajar-Mengajar


Tahap
Persiapan

Kegiatan Pendidik

Kegiatan Peserta Didik

Menyiapkan alat dan media

pembuka

Media

Mulai memposisikan diri untuk

(Pra
kegiatan)
Kegiatan

Metode

Alokasi
Waktu
2 menit

mendengarkan materi
a. Memberi salam
b. Perkenalan diri
c. Menjelaskan tujuan pendidikan

Power

Menjawab dan memberi respon


ucapan pembicara

3 menit

point

kesehatan
d. Menyebutkan materi yang akan

Uraian
Materi

diberikan
e. Menyampaikan kontrak waktu
Penyampaian materi oleh pemateri:

Mendengar-kan pemateri
a. Menggali pengetahuan peserta tentang Mencatat materi
masa intranatal
b. Menjelaskan
hemodialisa
c. Menjelaskan
hemodialisa
d. Menjelaskan
hemodialisa
e. Menjelaskan

tentang
tentang
tentang
tentang

definisi
manfaat
penyebab
komponen

hemodialisa
f. Menjelaskan tentang akses pembuluh
darah pada hemodialisa

- Ceramah
- Diskusi
- Tanya jawab

Power
point

18 menit

g. Menjelaskan

tentang

cara

kerja

hemodialisa
h. Menjelaskan tentang proses pra. Intra
dan post hemodialisa
i. Menjelaskan
tentang

komplikasi

hemodialisis
j. Menjelaskan tentang diet pada pasien
hemodialisa
Evaluasi

Melakukan evaluasi terhadap pemahaman


peserta didik atas materi yang telah

Menjawab pertanyaan dari

Tanya jawab

5 menit

pemateri

Kegiatan

disampaikan
a. Menyampaikan rangkuman materi

Memberi respon kepada

Penutup

b. Mengucapkan terima kasih

pembicara

2 menit

c. Menyampaikan salam
Jumlah 30 menit

13. Evaluasi (Formatif/Sumatif)


1. Evaluasi Struktur
a) Peserta hadir ditempat penyuluhan
b) Peserta yang haadir sesuai dengan kriteria
c) Menyiapkan media
2. Rencana evaluasi Proses
a) Peserta akan memperhatikan selama acara penyuluhan
b) Peserta akan memberikan respon aktif selama penyuluhan
c) Peserta akan mengajukan pertanyaan dan pemateri menjawab pertanyaan dengan
benar
d) Tidak akan ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan sebelum acara
berakhir
3. Evaluasi Hasil
1. Setelah penyuluhan diharapkann peserta penyuluhan

mampu

menjawab soal

evaluasi dengan benar secara lisan menggunakan bahasa sendiri


Soal Evaluasi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Apa definisi hemodialisa?


Apa manfaat hemodialisa? (min 3)
Apa penyebab hemodialisa?
Apa saja komponen hemodialisa?
Dimana saja akses pembuluh darah pada hemodialisa?
Bagaimana cara kerja hemodialisa?
Bagaimana proses pra. Intra dan post hemodialisa
Apa saja yang menyebabkan komplikasi hemodialisis
Bagaimana diet pada pasien hemodialisa?

14. Daftar pustaka


Beiber, S.D. dan Himmelfarb, J. 2013. Hemodialysis. In: Schriers Disease of the Kidney. 9
th edition. Coffman, T.M., Falk, R.J., Molitoris, B.A., Neilson, E.C., Schrier, R.W.
editors. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia: 2473-505.
Brunner & sunddarth.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Burnama, Erawati F. 2007. Protap Perawatan Klien Hemodialisa. Instlasi Dialisis RSUD Dr.
Doris Sylvanus. Palangka Raya.
Daugirdas, J.T., Blake, P.G., Ing, T.S. 2007. Handbook of Dialysis. 4 th ed. Phildelphia.
Lipincott William & Wilkins.
Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana asuhan Keperawatan Ed. 3. Jakartaa: EGC
Nursalam, M.Nurs, DR (Hons). 2006. Asuhan Keperaawatan Pasien dengan Gangguan
Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.

Rendi, clevo M. 2012. Asuhan Keperawatan Medikah Bedah Dan Penyakit Dalam.
Jogjakarta:Noha Medika
Lampiran Materi
A. Definisi Hemodialisa
Hemodialisa merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan
cairan dan produk limbah dalam tubuh kita, ketika ginjal tidak mampu melaksanakan
proses tersebut (Brunner& Sunddarth, 2001). Hemodialisa merupakan salah satu
terapi yang diberikan pada pasien dengan gagal ginjal kronis. Hemodialisis berasal
dari kata hemo artinya darah, dan dialisis artinya pemisahan zat-zat terlarut atau
penyaringan. Hemodialisis berarti proses pembersihan darah dari zat-zat sampah,
melalui proses penyaringan di luar tubuh. Hemodialisis menggunakan ginjal buatan
berupa mesin dialisis. Hemodialisis dikenal secara awam dengan istilah cuci darah.

B. Manfaat Hemodialisa
1. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi pembuangan, yaitu membuang sisa-sisa
pembentukan energi dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa pembentukan
energi yang lain.
2. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya
dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.
3. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal.
4. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.

C. Penyebab Hemodialisa
1) Gagal ginjal akut
2) Gagal ginjal kronis

3) Keracunan

D. Komponen Hemodialisa
1. Mesin hemodialisa
Mesin hemodialisa merupakan mesin yang dibuat dengan sistem komputerisasi
yang berfungsi untuk pengaturan dan monitoring yang penting untuk mencapai
kualitas hemodialisa yang baik.
2. Dialiser
Dialiser merupakan komponen penting dari mesin hemodialisa memiliki fungsi
seperti komponen penyaring pada ginjal. Berbentuk seperti tabung yang terdiri
dari dua ruang yaitu kompartemen darah dan kompartemen dialisat yang
dipisahkan oleh selaput tipis (membran semi permeabel). Di dalam dialiser cairan
dan produk limbah dalam tubuh kita dapat berpindah menuju tabung dialisat yang
kemudian dibuang. Semakin baik salaput tipis pada dialiser semakin tinggi pua
kemampuan dalam membuang kelebihan cairan dan limbah, sehingga akan
menghasilkan bersihan yang lebih optimal (Brunner & Suddarth, 2001; Black,
2005).
3. Dialisat
Diasilat merupakan cairan yang komposisinya seperti cairan tubuh normal dan
terdiri dari air dan elektrolit, yang dialirkan kedalam dialiser. Dialisat digunakan
untuk membuat perbedaan konsentrasi yang mendukung perpindahan cairan dan
limbah tubuh dalam proses hemodialisa. Kecepatan aliran dialisat menuju dan
keluar dari dialiser memerlukan kecepatan aliran dialisat yang disebut Quick Of
Dialysate (Qd). Untuk mencapai hemodialisa yang adekuat Qd disarankan adalah
400-800 mL/menit (Pernefri, 2003).
4. Akses pada pembuluh darah
Akses pembuluh darah merupakan jalan untuk memudahkan pengeluaran darah
dalam proses hemodialisa untuk kemudian dimasukkan lagi kedalam tubuh pasien.
Akses yang baik akan memudahkan dalam melakukan penusukan dan
memungkinkan aliran darah sebanyak 200-300 mL/menit. Akses pembuluh darah
dapat berupa kanula atau kateter yang dimasukkan kedalam dinding pembuluh
darah seperti pada pembuluh darah di lengan, dekat ketiak, di leher dan
selangkangan. Akses juga dapat berupa pembuluh darah buatan yang

menyambungkan pembuluk balik dengan pembuluh nadi yang disebut Arteorio


Venousus Fistula/Cimino (Pernefri, 2003).
5. Kecepatan aliran darah (Quick of blood)
Qb adalah banyaknya darah yang dapat dialirkan dalam satuan menit dan
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi bersihan darah dari limbah
tubuh. Qb yang disarankan untuk pasien yang menjalani hemodialisa selama 4 jam
adalah 250-400 m/Lmenit (Daugirdas, 2007; Gatot,2003).

E. Akses Pembuluh Darah


1. Fistula arteriovena

2. Graft arteriovena

3. Katerisasi vena femoralis

4. Kateterisasi vena subklavia

F. Cara Kerja Hemodialisa


Pada hemodialisis, darah dipompa keluar dari tubuh lalu masuk kedalam
mesin dialiser (yang berfungsi sebagai ginjal buatan) untuk dibersihkan dari cairan
dan limbah tubuh melalui proses penyaringan oleh cairan khusus untuk dialisis
(dialisat). Tekanan di dalam ruang dialisat lebih rendah dibandingkan dengan tekanan
di dalam darah, sehingga cairan, limbah sisa pembetukan energi dan zat-zat racun
juga limbah tubuh di dalam darah disaring melalui selaput dan masuk ke dalam
dialisat. Setelah dibersihkan, darah dialirkan kembali ke dalam tubuh. Pengeluaran
siasa pembentukan energi dan libah tubuh berlebih akan membantu tubuh mengontrol
tekanan darah dan kandungan kimia tubuh agar menjaadi lebih seimbang.

G. Proses pra. Inta dan post Hemodialisa

Pemeriksaan Sebelum Hemodialisis


1. Identitas
2. Riwayat Penyakit
a) Riwayat penyakit infeksi
b) Riwayat penykit batu/obstruksi
c) Riwayat pemakaian obat-obatan
d) Riwayat penyakit endokrin
e) Riwayat penyakit vaskuler
f) Riwayat penyakit jantung
3. Data Antardialisis
a) Berat badan kering atau Dry Weight, yaitu: berat badan saat merasa enak,
tidak ada bengkak di tangan dan kaki, tidak merasa melayang dan tidak
merasa sesak, nafsu makan baik, tidak pucat.
b) Berat badan antardialisis: Berat badan hemodialisis sekarang Berat badan
post hemodialisis yang lalu (Kg).
c) Waktu terakhir hemodialisis.
4. Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum
b) Pemeriksaan dari kepala sampai kaki
5. Sebelumnya dianjurkan cuci lengan & tangan
6. Diberikan anestesi local (lidocain inj, procain inj)

7. Dilakukan 2 tusukan di lengan ataupun di paha


8. Diberi heparin dosis awal
Pemeriksaan Selama Hemodialisis
1. Pemeriksaan tanda-tanda vital, seperti tekanan darah, nadi,
2. Tanda-tanda vital diperiksa setiap 1 jam. Bila keadaan tidak baik/ lemah lakukan
akan dilakukan lebih sering.
3. Pemberian dosis heparin lanjutan biasa diberikan tiap 1 jam sampai 1 jam
terakhir sebelum HD selesai
4. Perdarahan
5. Tempat punksi inlet, outlet
6. Keluhan/ komplikasi hemodialisis
Observasi Setelah Hemodialisis
1. Tekanan darah dan nadi
2. BB (kalau memungkinkan)

H. Komplikasi
1. Hipotensi akibat penarikan cairan yang berlebihan, obat antihipertensi atau alergi
2. Hipertensi akibat kelebihan cairan, penyaringan yang kurang
3. Kram otot akibat penarikan cairan yang terlalu cepat
4. Mual atau muntah akibat gangguan cairan tubuh
5. Sakit kepala akibat gangguan cairan tubuh

6. Sakit dada akibat gangguan cairan tubuh (elektrolit)


7. Gatal- gatal akibat alergi
8. Demam dan menggigil akibat cairan tubuh/ darah yang dikeluarkan dari tubuh.
9. Perdarahan akibat fungsi trombosit ang berkurang dan keracunan zat urea
10. Infeksi melalui akses pembuluh darah

I. Diet Pada Pasien Hemodialisa


Anjuran diet didasarkan pada frekuensi hemodialisa, sisa fungsi ginjal, dan ukuran
tubuh. Seseorang yang sudah mengalami gagal ginjal harus menjaga pola makannya
karena banyak makanan yang justru bisa memperparah kondisi penyakitnya.
1. Tujuan diet
Tujuan diet gagal ginjal dengan dialisis adalah:
a) Mencegah kekurangan gizi serta mempertahankan dan memperbaiki status
gizi, agar pesien dapat melakukan aktifitas normal.
b) Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit.
c) Menjaga agar jumlah produk sisa pembentukan tidak berlebihan.
2. Syarat diet
Syarat-syarat diet dengan dialisis adalah:
a) Energi cukup, yaitu 35 kkal/kg BB ideal.
b) Protein tinggi, diutamakan protein dari hewani, untuk mempertahankan
keseimbangan nitrogen dan mengganti asam amino yang hilang selama
dialisis, yaitu 1-1,2 g/kg BB ideal/hari.

c) Karbohidrat cukup, yaitu 55-75 % dari kebutuhan energi total.


d) Lemak normal, diutamakan lemak yang tidak jenuh, yaitu 15-30 % dari
kebutuhan energi total.
e) Natrium diberikan seseuai jumlah urin yang keluar /24 jam yaitu 1 g untuk
tiap 1/2 liter urin.
f) Kalium sesuai dengan urin yang keluar /24 jam yaitu 1 g untuk tiap 1 liter
urin.
g) Kalsium tinggi, yaitu 1000 mg/hari. Bila perlu diberikan suplemen kalsium.
h) Fosfor dibatasi, yaitu < 17 mg/kg BB ideal/hari.
i) Cairan dibatasi, yaitu jumlah urin /24 jam ditambah 500-750 ml.
j) Suplemen vitamin bila diperlukan, terutama vitamin larut air seperti B12,
asam folat dan vitamin C.
k) Bila nafsu makan kurang, berikan suplemen enteral yang mengandung
energi dan protein tinggi (Almatsier, 2008).
3. Jenis diet dan indikasi pemberian
Diet pada dialisis bergantung pada frekuensi dialisis, sisa fungsi ginjal dan berat
badan pasien. Diet untuk pasien dengan dialisis biasanya harus direncanakan
perorangan. Berdasarkan berat badan dibedakan 3 jenis diet dialisis:
a) Diet dialisis I, 60 g protein. Diberikan kepada pasien dengan berat badan 50
kg.
b) Diet dialisi II, 65 g protein, diberikan kepada pasien dengan berat badan 60
kg.
c) Diet dialisis III, 70 g protein, diberikan kepada pasien dengan berat badan
65 kg (Almatsier, 2008).

4. Makanan yang dibatasi dan dihindari


Makanan yang sebaiknya dibatasi bagi penderita gagal ginjal kronik antara lain:
a) Sumber karbohidrat seperti: nasi, jagung, kentang, makaroni, pasta,
hevermout, ubi.
b) Protein hewani, seperti: daging kambing, ayam, ikan, hati, keju, udang, telur.
c) Sayuran dan buah-buahan tinggi kalium, seperti: apel, alpukat, jeruk, pisang,

pepaya dan daun pepaya, seledri, kembang kol, peterseli, buncis.