Anda di halaman 1dari 49

ILMU KITA BLOGBAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Inflamasi merupakan respon protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau
kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan , mengurangi baik agen pencedera
maupun jaringan yang cedera itu. (Dorland, 2002). Apabila jaringan yang cidera misalnya
karena terbakar, teriris atau karena infeksi kuman maka pada jaringan ini akan terjadi
rangkaian reaksi yang memusnahkan agen yang membahayakan jaringan atau yang mencegah
agen menyebar lebih luas. Reaksi-reaksi ini kemudian juga menyababkan jaringan yang
cidera diperbaiki atau diganti dengan jaringan-jaringan baru. Rangkaian reaksi ini disebut
inflamasi. (Rukmono, 1973).
Gejala inflamasi dapat berupa edema (pembengkakan), eritema (kemerahan), panas,
nyeri, dan hilangnya fungsi jaringan. Penyakit ini sampai sekarang mekanisme inflamasi
tingkat bioselular masih belum dapat dijelaskan secara rinci, walaupun demikian banyak hal
yang telah diketahui dan disepakati. Fenomena inflamasi ini meliputi kerusakan
mikrovaskuler, meningkatnya permeabilitas kapiler dan migrasi leukosit kejaringan radang.
(Wilmana, 1995)
Dalam pengobatan infamasi, kelompok obat yang banyak diberikan adalah obat
antiinflamasi non steroid (AINS). Obat ini merupakan obat sintetik dengan struktur kimia
heterogen. Prototype obat golongan ini adalah aspirin, karena itu sering disebut juga obat
mirip aspirin ( Wilmana dan Gan, 2007 ). Efek terapi AINS berhubungan dengan mekanisme
kerja penghambatan pada enzim siklooksigenase-1 (COX-1) yang dapat menyebabkan efek
samping pada saluran cerna dan penghambatan pada enzim siklooksigenase-2 (COX-2) yang
dapat menyebabkan efek samping pada system kardiovaskular. Kedua enzim tersebut
dibutuhkan dalam biosintesis prostalglandin (Lelodan Hidayat, 2004).
Tanaman kencur khususnya bagian rimpang dapat digunakan sebagai antiinflamasi.
Rimpang kencur mengandung flavonoid, saponin dan minyak atsiri yang dapat berfungsi
sebagai antiinflamasi. Antiinflamasi pada kencur merupakan yipe anti inflamasi non steroi.
Flavonoid dapat menghambat jalur metabolism asam arakidonat, pembentukan prostalglandin
dan pelepasan histamine pada radang.(Logio dkk, 1986). Saponin bersifat seperti detergen
diduga mampu berinteraksi dengan banyak membrane lipid seperti fosfolipid yang
merupakan perkusor prostalglandin mediator-mediator inflamasi lainnya.(Sri Rastava, 1993).
Minyak atsiri dapat menghambat agregasi platelet dengan cara menghambat pembentukan
tromboksan sehingga juga berperan dalam efek antiinflamasi.(Sri Rastava, 1993)

Di Indonesia sendiri rimpang kencur mudah ditemui dan sering digunakan sebagai
jamu dalam sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan potensi tanaman
kencur sebagai obat antiinflamasi dengan melakukan uji antiinflamasi dan formulasi sediaan
suspensi rimpang kencur.
1.2
a.
b.
c.
d.
e.

Rumusan Masalah
Pada penelitian ini terdapat beberapa rumusan masalah yaitu :
Bagaimanakah pembuatan simplisia rimpang kencur dan cara ekstraksinya?
Bagaimanakah cara melakukan ekstraksi maserasi rimpang kencur ?
Bagaimana cara melakukan uji antiinflamasi ekstrak rimpang kencur pada mencit ?
Bagaimana cara membuat formulasi sediaan suspense ekstrak rimpang kecur ?
Bagaimana uji evaluasi sediaan suspense ekstrak rimpang kencur ?

1.3

Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
a. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara melakukan uji efektivitas anti inflamasi
rimpang kencur.
b. Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara membuat formulasi sediaan suspense dari
ekstrak rimpang kencur.
c. Mahasiswa dapat melakukan evaluasi sediaan suspensi dari ekstrak rimpang kencur.

1.4

Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah dapat menambah pengetahuan akan kegunaan rimpang
kencur sebagai anti inflamasi serta cara pengolahan sediaan suspensi. Selain itu dapat
memberikan informasi akan penyakit inflamasi serta mekanisme penyembuhan obat
antiinflamasi.

BAB II
TINJUAN PUSTAKA
2.1

Tinjauan Tanaman Kencur


Kencur (Kaemferia galangal L) merupakan salah satu dari lima jenis tumbuhan yang
dikembangkan sebagai tanaman obat asli Indonesia. Kencur merupakan tanaman obat yang
bernilai ekonomis cukup tinggi sehingga banyak dibudidayakan. Bagian rimpangnya
digunakan sebagai bahan baku industry obat tradisional, bumbu dapur, bahan makanan,
maupun minuman penyegar lainnya (Rostiana dkk., 2003). Adapun klasifikasi tanaman
kencur sebagai berikut :
Nama daerah :
Kencur (jawa).
Kingdom
:
Plantae.

tsiri

Divisi
:
Spermatophyta.
Subdivisi
:
Angiospermae.
Kelas
:
Liliopsida.
Ordo
:
Zingiberales.
Family
:
Zingiberaceae.
Species
:
Kaemferia galangal L.
2.1.2 Ciri morfologi tanaman
Habitat semak semusim tinggi 30-70 cm, akar bergerombol, bercabang-cabang,
serabut putih, coklat gelap berkesan mengkilap. Batang lunak berpelepah membentuk
rimpang, hitam keabu-abuan. Daging buah mempunyai daging buah paling lunak, tidak
berserat, berwarna putih, kulit luar berwarna coklat.
2.1.3 Kandungan kimia
Saponin, flavonoid, minyak atsiri, kandungan utama kencur antara lain etil sinamat, pmetoksitilen, Karen, borneol dan paraffin (Afriastini, 1990). Kandungan minyak atsiri dari
rimpang kencur diantaranya terdiri atas miscellaneous compounds (misalnya etil pmetoksinamat 58,47%, isobutyl -2-furilakrilat 30,90% dan heksil format 4,78%) derivate
monoterpen teroksigenasi (misalnya borneol 0,03% dan kamfer hidrat 0,83%), serta
monoterpen hidrokarbon (misalnya kamfer 0,04% dan terpinolen 0,02%) (Sukari dkk., 2008).
2.1.4 Mekanisme antiinflamasi rimpang kencur
: penghambatan pada jalur metabolism asam arakidonat pembentukan prostalglandin,
pelepasan histamine pada radang (Logia dkk., 1986).
: bersifat seperti detergen, diduga mampu berinteraksi dengan banyak membrane lipid
seperti fosfolipid yang merupakan perkusor prostalglandin mediator-mediator inflamasi
lainnya.
: dapat menghambat agregasi platelet dengan cara menghambat pembentukan tromboksan
sehingga juga berperan dalam efek antiinflamasi (Srirastava, 1993).
2.2.1

Inflamasi
Inflamasi merupakan respon protektif setempat yang ditimbulkan oleh cidera atau
kerusakan jaringan yang berfungsi menghancurkan, mengurangi baik agen pencedera maupun
jaringan yang cedera itu (Dorland, 2002). Apabila jaringan yang cidera misalnya karena
terbakar atau karena infeksi kuman, maka pada jaringan ini akan terjadi rangkaian reaksi
yang memusnahkan agen yang membahayakan jaringan atau yang mencegah agen menyebar
lebih luas. Reaksi-reaksi ini kemudian juga menyebabkan jaringan yang cidera diperbaiki
atau diganti dengan jaringan-jaringan baru. Ragkaian reaksi ini disebut inflamasi (Rukmono,
1973).
2.2.2 Tahapan Inflamasi
a. Inflamasi akut adalah inflamasi yang terjadi segera setelah adanya rangsang iritan.
Pada tahapan ini terjadi pelepasan plasma dan komponen seluler darah kedalam ruang-ruang
jaringan ekstra seluler. Termasuk didalamnya granulosit neutrofil yang melakukan pelahapan

(fagositosis) untuk membersihkan debris jaringan dan mikroba (Soesatyo, 2002). Inflamasi
akut dapat terjadi cepat (menit-hari) dengan cirri khas utama eksudasi cairan, akumulasi
neutrofil memiliki tanda-tanda umum berupa rubor (kemerahan), color (panas), tumor
(pembengkakan), dolor (sakit), function laesa (kegagalan fungsi).
b. Inflamasi kronis adalah inflamasi yang berdurasi panjang (berminggi-minggu atau
bertahun-tahun) dan terjadi proses secara simultan dari inflamasi aktif, cedera jaringan dan
penyembuhan. Perbedaan dari radang akut ditandai dengan adanya perubahan vaskuler,
edema dan infiltrasi sel mononuklir (seperti makrofag, limfosit dan sel plasma) dekstruksi
jaringan dan perbaikan (meliputi poliferasi pembuluh darah baru) angiogenesis dan fibriosis
(Mitchell & Coltran, 2003).
2.2.3 Gejala Inflamasi
Eritema (kemerahan) terjadi pada tahap pertama inflamasi. Darah berkumpul pada
daerah cidera jaringan akibat pelepasan mediator kimia tubuh (Kinin, prostalglandin dan
histamine).
Edema (Pembengkakan) merupakan tahap kedua dari inflamasi, plasma menembus
kedalam jaringan intestinal pada tempat cidera. Kinin mendilatasi asteriol, meningkatkan
permeabilitas kapiler.
Kolor (Panas) dapat disebabkan oleh bertambahnya pengumpulan darah, atau
mungkin disebabkan pathogen/pirogen yaitu substansi yang menyebabkan panas atau demam
yang mengganggu pusat pengatur panas pada hipotalamus.
Dolor (Nyeri) disebabkan oleh penumpukan cairan pada tempat cidera jaringan dank
arena rasa nyeri. Keduanya mengurangi mobilitas pada daerah yang terkena (Kee dan Hayes,
1996).
Functio Laesa (hilangnya Fungsi) disebabkan oleh penumpukan cairan pada tempat
cedera jaringan dank arena rasa nyeri. Keduanya mengurangi mobilitas pada daerah yang
terkena (Kee dan Hayes, 1996)
2.2.4 Patofisiologi Inflamasi
Terjadinya inflamasi adalah reaksi setempat dari jaringan atau sel terhadap suatu
rangsangan untuk dilepaskannya zat kimia tertentu yang akan menstimulasi terjadinya
perubahan jaringan pada reaksi radang tersebut, diantaranya histamine, serotonin,
breadikinin, leukotrin dan prostalglandin. Histamine bertanggungjawab pada perubahan yang
paling awal yaitu menyebabkan vasodilatasi pada arteriol yang didahului dengan vasodilatasi
awal dan peningkatan permeabilitas kapiler. Hal ini menyebabkan perbedaan distribusi sel
darah merah dank arena aliran darah yang lambat sel darah merah akan menggumpal,
akibatnya sel darah putih terdobak kepinggir. Makin lambar aliran darah maka sel darah putih
akan menempel pada dinding pembuluh darah, makin lama akan meningkat. Perubahan
permeabilitas ini menyebabkan cairan keluar dari pembuluh darah dan berkumpul di jaringan.
Bradikuinon bereaksi local menimbulkan rasa sakit. Vasodilatasi meningkatkan permeabilitas
kapiler , sebagai penyebab radang , prostalglandin berpotensi kuat setelah bergabung dengan
mediator lainnya (Lumbonjara,L.B,. 2009).
2.3
Anti Inflamasi

Antiinflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan
karena mikroorganisme (non infeksi). Gejala inflamasi dapat disertai dengan gejala panas,
kemerahan, pembengkakan, rasa nyeri dan gangguan fungsi. Obat-obat yang digunakan
sebagai antiinflamasi adalah golongan obat yang memiliki aktifitas menekan atau mengurangi
peradangna. Obat ini terbagi atas dua golongan, yaitu golongan antiinflamasi steroid dan anti
inflamasi non steroid (AINS). Kedua golongan obat ini selain berguna untuk mengobati juga
memiliki efek samping yang dapat menimbulkan reaksi toksisitas kronis bagi tubuh
(Katzung, 1992).

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

2.3.1 Antiinflamasi Non Steroid (AINS)


Obat antiinflamasi non steroid merupakan kelompok obat yang paling banyak
dikonsumsi diseluruh dunia untuk mendapatkan efek analgetik, antipiretik dan antiinflamasi.
OAINS merupakan pengobatan dasar untuk mengobati atau mengatasi peradangan di dalam
dan seluler sendi, seperti lumbang astralgia, osteoartitis, artitis rematoid dan gout artitis.
Disamping itu OAINS juga banyak penyakit-penyakit non rematik seperti saluran kemih,
infark miokardium dan dismenorhoea. OAINS merupakan suatu kelompok obat yang
heterogen, obat-obat mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi dan efek samping.
NSAID dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu :
Golongan salisilat

Aspirin, asam asetilsalisilat, metal salisilat, Mg


salisilat, Salisil Salisilat dan salisilamid.
Golongan asam aril alkanoat
Diklofenac, endometasin, proglumetasin dan
oksametasin.
Golongan profen

ibuprofen, alminoprofen, indoprofen, naprofen dan


ketorolac.
Golongan Asam fenamat

asam mefenamat, asam flufenam dan asam tolfenamat.


Golongan turunan pirazolidin
fenilbutason, ampiron, metamizol dan fenazon.
Golongan oxicam

proxicam dan meloksicam.


Golongan penghambat Cox-2
celeoxib dan luminacoxib.
Golongan sulfonalimida

nimesulide.
Golongan lain

Licofelone dan asam lemak omega 3.


2.3.2 Antiinflamasi Steroid
Obat ini merupakan antiinflamasi yang sangat kuat karena obat-obat ini menghambat
enzyme phospolipase A2. Sehingga tidak terbentuk asam arakidonat. Asam arakidonat tidak
terbentuk berarti prostalglandin juga tidak akan terbentuk.
Senyawa steroid adalah senyawa golongan lipid yang memiliki struktur kimia tertentu
yang memiliki susunan sikloheksana dan satu asam siklopentana. Suatu molekul steroid yang
dihasilkan secara alami oleh korteks adrenal dengan nama senyawa kortikosteroid. Contoh
obat antara lain deksametason, prednisone, metal prednisolon, triamsinolon dan betametason
(Ikawati.,2006).
2.4
Suspensi

Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel tidak larut yang terdispersi
dalam fase cair (FI edisi IV, 1995). Suspense oral sediaan cair mengandung partikel padat
yang terdispersi dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan
untuk penggunaan oral.
Keuntungan sediaan suspensi baik digunakan untuk pasien sukar menelan tablet /
kapsul terutama anak-anak dan lansia. Homogenitas tinggi, lebih mudah diabsorbsi dari pada
tablet/kapsul, mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air dan dapat menutupi
rasa tidak enak pada obat.
Kerugian kestabilan rendah, jika membentuk cracking sulit terdispersi kembali, aliran
menyebabkan sukar dituang, ketepatan dosis menurun dari pada sediaan larutan dan pada saat
penyimpanan kemungkinan terjadi system disperse.
2.4.2
1.
b.
c.
2.
a.
b.
c.
d.
e.
3.

4.

5.

Evaluasi Sediaan Suspensi


Uji evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas sediaan, uji tersebut meliputi :
Uji Organoleptis
:
a. Bau.
Warna
Rasa
Uji Masa Jenis
Piknometer kosong yang bersih dan kering ditimbang.
Masukkan aquadest ad tanda batas lalu ditimbang.
Piknometer dibersihkan dan dikeringkan.
Sediaan suspensi dimasukkan kedalam piknometer dan ditimbang.
Massa jenis suspensi ditentukan dengan rumus .
Uji Viskositas
Menggunakan viscometer stomer, stampel dimasukkan kedalam wadah. Sampel dinaikkan
sampat tanda batas pada dayung terendam tepat letaknya ditengah sampel. Rem dilepaskan
sampai pemberat dibawah.
Volume Sedimentasi
Suspense dimasukkan kedalam gelas ukur 10 mL dan disimpan (V 0) pada suhu kamar serta
terlindung dari cahaya secara langsung perubahan volume diukur dan dicatat. Rumus : F =
Vu/Vo
Pengukuran pH
Sediaan dituang kedalam wadah khusus secukupnya, dimasukkan pH meter kedalam sediaan
dan tunggu hingga nilai pada pH meter konstan.

BAB III
METODOLOGI
3.1

Rancangan Formulasi

Dosis sediaan :

45 mg/KgBB (Tikus).

Konversi Tikus Mencit


= 1.26mg/20 gram.
Konversi Mencit Manusia
= 488.754 mg/70KgBB
Formulasi Sediaan Suspensi Ekstrak Rimpang Kencur :
R/
Ekst. Rimpang Kencur
488.754mg
CMC Na
0.5%
Na Benzoat
0.02%
Syr Simplex
25%
Aquadest
ad
60mL.
S 3 dd 1.

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Penimbangan Bahan :
Ekstrak Rimpang Kencur
=
488.754 mg.
CMC Na
=
= 0,3 gram.
Syr Simplex
=
= 15mL
Na Benzoat
=
= 0,012 gram.
Aquadest
=
60mL- (0,3+0,012+15+6) = 38,68 mL.
Air untuk CMC Na
=
20 x 0,3 gram = 6 mL.
3.2
Pembuatan Simplisia
A. Pengumpulan Bahan
Rimpang kencur didapat dari pasar Bandar Kediri Jawa timur sebanyak 2 kg, rimpang
kencur yang dibeli dipilah rimpang yang masih bagus.
B. Pengolahan Bahan
Rimpang kencur dibersihkan dari residu dari luar dengan air keran, kemudian dirajang
sampai tipis kurang lebih 0,5 cm. Hasil rajangan diangin-anginkan selama 3 hari, bahan
kering dihaluskan dengan blender sehingga didapat serbuk halus rimpang kencur. Hasil akhir
serbuk diayak dengan menggunakan pengayak no mesh 40 selama 3 X pengayakan.
3.3
Pembuatan Ekstrak Rimpang Kencur
Ekstrak Rimpang kencur dibuat dengan menggunakan metode maserasi. Simplisia
ditimbang 64,48 gram, serbuk tadi dimasukkan kedalam botol 500 ml. Serbuk rimpang
kencur dilarutkan dengan etanol 96% sebanyak 7X bobot serbuk rimpang kencur yaitu
451,36 mL. Larutan dikocok selama 30 menit sebanyak 3X dalam sehari. Pengocokan
dilakukan selama 2 hari.

3.4

Pembuatan Suspensi Ekstrak Rimpang Kencur

Siapkan Alat dan Bahan


CMC Na 0,6 gram dimasukkan kedalam mortir
Ditambahkan Aqua panas 6 mL
Dan digerus sampai mucilago
Dimasukkan ekstrak rimpang kencur dan Na Benzoat kedalam CMC Na gerus ad homogen
Dimasukkan Syrup Simplex kedalam mortir gerus ad homogen
Dimasukkan aquadest ad 60 mL
Dimasukkan botol dan dikemas

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil
Uji Berat Jenis
Berat piknometer kosong (W)
Berat piknometer + solven
(W)
Bobot solven (W-W=W)
Ekstrak + solven (W)
W
= 2,49 g/cc
Uji pH
Uji Viskositas
Uji Evektifitas Antiinflamasi Rimpang Kencur =

= 27,27 g
= 76,78 g
= 49,51 g
= 77,09 g
= 1,5 g
= 6
= 285 mpAs

Diameter kaki mencit (Cm)


Hewan Coba

Sebelum
30menit
Setelah Pemberian Ekstrak Rimpang Kencur
diinduksi putih setelah
60 menit
90 menit
telur
diinduksi putih 30 menit
telur

Mencit A

1,15

1,7

1,6

1,5

1,3

Mencit B

1,1

1,7

Mencit C

0,9

1,4

1,35

0,92

Uji Organoleptis =
Warna
Bau
Rasa
4.1

=
=
=

Putih Kekuningan
Khas Kencur
Manis

Pembahasan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rimpang kencur yang diolah
menjadi sediaan suspense sebagai antiinflamasi. Rimpang kencur diekstraksi dengan
menggunakan metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%. Sebanyak 64,48
gram serbuk rimpang kencur dilarutkan dengan etanol 96% sebanyak 451,36 mL.

Dalam pengujian rimpang kencur sebagai antiinflamasi dilakukan uji evektifitas


rimpang kencur sebagai antiinflamasi dengan menggunakan hewan coba mencit dan sebagai
inflamatornya adalah putih telur. Pada uji ini digunakan 3 ekor mencit, ke 3 mencit diukur
diameter kakinya sebelum diinduksi dengan putih telur dari pengukuran diperoleh diameter
Mencit A 1,15 cm, Mencit B 1,1 cm dan Mencit C 0,9 cm. Kemudian diinsuksi dengan putih
telur dan ditunggu selama 30 menit, diameter kaki mencit mengalami tumor (pembengkakan)
dengan perubahan diameter kaki Mencit A 1,7 cm , Mencit B 1,7 cm dan Mencit C 1,4 cm.
Setelah diinduksi dengan putih telur diinduksi dengan ekstrak rimpang kencur tiap 30 menit
sebanyak 3 kali replikasi. Diameter kaki mencit A dan C saja yang mengalami pengecilan
ukuran pembengkakan, sedangkan mencit B tidak mengalami perubahan. Hal ini disebabkan
oleh pemberian ekstrak kencur pada mencit B yang tidak sepenuhnya masuk kedalam tubuh
sehingga kadar ekstrak tidak sesuai dosis yang diinginkan. Akan tetapi dengan adanya 2
mencit yang mengalami pengecilan pembengkakan maka dapat dinyatakan bahwa ekstrak
kencur dapat digunakan sebagai obat antiinflamasi.
Formulasi pada penelitian ini digunakan sediaan suspensi, digunakannya suspensi
dalam sediaan kami karena sediaan ditujukan untuk penggunaan oral yang mudah dikonsumsi
oleh anak-anak dan lansia yang sulit menelan pil atau tablet serta dengan sediaan suspensi
dikatakan lebih cocok dengan kandungan yang ditujukan sebagai antiinflamasi. Rancangan
dari sediaan ini tidak menghilangkan cirri khas dari sediaan kencur yaitu aroma yang khas
dari kencur serta warna dari kencur sendiri yaitu putih kekuningan. Rasa dari sediaan yang
diinginkan adalah manis. Dari hasil pembuatan formulasi sediaan kami memenuhi rancangan
spesifikasi yang diinginkan. Hanya saja rasa dari kencur terlalu manis disebabkan syrup
simplex yang sedikit berlebih.
Hasil uji evaluasi sediaan suspense memenuhi standart yang telah ditetapkan yaitu
untuk uji pH 6 sedangkan syarat yang ditetapkan adalah 4-6. Uji viskositas didapat 285
mpAs. Pada uji evaluasi ini seharusnya dilakukan uji volume sedimentasi untuk mengetahui
kecepatan partikel mengendap, hal ini sangat penting karena kelemahan dari sediaan suspense
adalah cracking yaitu membentuk endapan yang sukar terdispersi kembali. Tetapi bila
dilakukan uji sedimentasi hal itu bisa dikurangi dengan cara membandingkan suspending
agent yang baik untuk formulasi kami.

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Dari hasil praktikum ini ekstrak rimpang kencur dapat digunakan sebagai
antiinflamasi terbukti kemampuannya mengecilkan pembengkakan pada kaki mencit yang
diinduksi dengan putih telur. Sediaan suspensi merupakan sediaan yang berupa larutan dari
zat yang tidak larut dalam air yang terdispersi kedalam larutan.
5.2

Saran
Dalam melakukan penyondean / induksi mencit dibutuhkan ketelitian agar sediaan
yang diinduksikan masuk semua sesuai dosis yang diharapkan(tidak tumpah). Serta pada uji
evaluasi sediaan suspensi harus dilakukan uji sedimentasi agar dapat mengetahui suspending
agent yang cocok yang tidak mudah cracking.

DAFTAR PUSTAKA
Afriastini, J.J., 2002. Bertanam Kencur. Edisi Revisi. Penerbit Penebar Swadaya. hal. 1-33.
Rostiana, O., Rosita SMD, W. Haryudin, Supriadi dan S. Aisyah, 2003. Status pemuliaan tanaman
kencur. Status Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Perkembangan Teknologi Tanaman
Rempah dan Obat. Vol XV. No 2. hal. 25-37.
Buku Panduan Program Magister Herbal Indonesia. Jakarta: Universitas Indonesia; 2010.
Depkes RI. Farmakope Indonesia Edisi III.
Depkes RI. Farmakope IV.
Anonim 1989, Materia Medika Indonesia, Jilid V, Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta
Dalimartha, S., 2003, Atlas Tumbuhan Obat Jilid 3, Trubus Agriwidya, Jakarta

PHARMACY CARE
Education isn't a line I'm spinning. Its a lifeline thats saving. Saving futures.

HOME
BUSINESS
INFO
PHARMACY
ISLAM
HEALTH
ABOUT ME

Suspensi Oral
Thursday, October 11, 2012

1.

3 comments

Pengertian Suspensi
Suspensi merupakan sistem heterogen yang terdiri dari dua fase yaitu

fase luar dan kontinue umumnya merupakan cairan atau semi padat dan fase
terdispersi atau fase dalam terbuat dari partikel partikel kecil yang pada
dasarnya tidak larut tapi terdispersi seluruhnya pada fase kontinue (Patel dkk,
1994). Suspensi secara umum dapat didefinisikan sebagai sediaan yang
mengandung obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut terdispersi dalam
cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat
mengendap dan bila dikocok perlahan lahan endapan harus segera terdispersi
kembali (Anief, 2007).
Suspensi dalam farmasi digunakan dalam berbagai cara yaitu:
a.

Intramuskular inject

b.

Tetes mata

c.

Peroral

d.

Rektal

Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang
terdispersi dalam pembawa cairdengan bahan pengaroma yang sesuai dan
ditujukan untuk penggunaan oral (Depkes RI, 1995).
Ada beberapa alasan pembuatan sedian supensi oral salah satunya adalah
karena obat obat tertentu tidak stabil secara kimia bila ada dalam larutan tapi
stabil bila disuspensi. Selain itu, untuk banyak pasien bentuk cairan lebih banyak
disukai daripada bentuk padat (tablet dan kapsul). Karena mudahnya menelan
cairan dan keluwesan dalam pemberian dosis aman dan mudah diberikan untuk
anakanak (Ansel, 1989).
Adapun sifatsifat spesifik yang untuk suspensi farmasi (Ansel, 1989):
a.

Suatu suspensi farmasi yang dibuat dengan tepat dan mengendap secara
lambat dan harus rata lagi bila dikocok

b.

Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel


suspensi tetap agak konstan untuk waktu lama pada penyimpanan

c.

Supensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan homogen

2.

Formula Suspensi Oral


Formulasi sedian suspensi terdiri dari:
R/ Zat aktif
Pensuspensi
Zat tambahan
Zat pengawet
Pendapar
Pembasah
Zat penambah rasa
Zat penambah warna
Zat penambah bau
Zat pembawa

Tabel 1. Contoh Formula Suspensi

a.

No

Formula

Konsentrasi

Parasetamol

5gr

Asam sitrat

0,5%

Natrium sitrat

0,5%

Kollidon CL-M

5%

Dextrosa

30%

Essence orange

0,1%

Aquadest

Ad 100ml

Zat aktif
Yaitu zat yang berkhasiat dalam suspensi

b.

Pensuspensi (Suspending agent)


Merupakan bahn yang dapat meningkatkan viskositas dari suspensi
sehingga pengendapan dapat diperlambat.
Menurut Aulton (1989), bahan pensuspensi dapat dikelompokkan menjadi:

1)

Polisakarida
Yang termasuk golongan polisakarida yaitu:

a)

Acacia/ Gom
Merupakan bahan alam yang berasal dalam getah eksudat dari tanaman
acasia serbuk berwarna putih. Mudah terkontaminasi oleh sebab itu perlu
disterilisasi terlebih dahulu sebelumnya (Aulton, 1989). Biasanya digunakan
dalam bentuk mucilagodengan 35% terdispersi dalam air (King, 1984)

b)

Tragacant

Merupakn ekstrak kering dari tanaman semak Astragalus, umumnya tidak


larut dalam air dan baik untuk membuat kekentalan yang sedang. Secara umum
penggunaannya lebih sulit dari pada acacia. Biasanya digunakn dalam bentuk
mucilago 6% (King, 1984).
c)

Na Alginat
Berasal dari rumput laut, mengandung bagian asan dan bagian garam.
Bagian asam dan garam kalsiumnya tidak larut dalam air sebaliknya garam
natrium,

garam kalium dan

garam ammonium alginat larut dalam air.

Penggunaan 3-6% akan membentuk gel seperti salep (Voight, 1995).


d)

Starch
Digunakan

dalam

bentuk

kombinasi

bersama

Caboxymethilcellulose

sebanyak 2,5% dalam air akan menghasilkan produk kental (Aulton, 1989)

e)

Xanthan Gum
Merupakan polisakarida semisintesis mengandung garam natrium, kalsium
dan kalium dengan berat molekul tinggi. Larut dalam air panas dan dingin,
digunakan dengan kadar 0,5% (Aulton, 1989).

f)

Povidon
Larut dalam air dan etanol. Memilki pH 3-7, digunakan dalam sediaan
suspensi sebagaisuspending agent dengan kadar >5% (Wade, 1994).
2)
a)

Cellulose larut dalam air


Methylsellulose
Larut dalam air dingin tetapi tidak larut dalam air panas (King, 1984)

konsentrasi methylsellulose >1% memberi larutan air yang jernih, sedangkan


pada konsentrasi 5-10% mengarah pada pembentukan gel yang bersifat plastis
yang digunakan untuk terapi kutan (Voight, 1995).
b)

Hidroksietilcellulose

Larut dalam air dingin dan panas, memiliki aktivitas permukaan yang
rendah, bereaksi netral dan menunjukkan koagualsi bolak-balik (Aulton, 1989).
Pada konsentrasi 10-15% membentuk gek seperti salep (Voight, 1995).
c)

Natriumcarboksimethylsellulose
Larut dalam air dingin dan panas menghasilkan larutan jernih. Lebih sensitf

terhadap pH dibandingkan dengan metilselulosa. Stabil pada pH 5-10. Digunakan


pada

konsentrasi

antara

0,25-1%

(Aulton,

1989).

Menghasilkan

empat

kekentalan yang rendah, sedang, tinggi dan ekstra tinggi (Jenkins dkk, 1995).
Pembuatan mucilago dengan menaburkan Na CMC diatas air panas sebanyak 20
kalinya. Biarkan sampai mengembang kemudian gerus sampai homogen.
3)

Tanah Liat (Clay)


Menurut Jankins (1995) ada 2 jenis tanah liat yang digunakan sebagai
pensuspensi, yaitu:

a)

Bentonit
Suatu clay yang tidak dapat larut dalam air tetapi dapat menyerap air
dalam membetuk suatu suspensi yang kental.

b)

Veegum
Merupakan

gabungan

dari

magnesium

dan

aluminium

silikat

yang

digunakan sebagai pengental dengan kadar 0,25-2%.


c.

Zat Tambahan, terdiri dari:


1)

Pengawet
Menurut Boylan (1994) ada tiga kriteria pengawet yang ideal yaiu:

a)

Pengawet harus efektif terhadap mikroorganisme spektrum luas.

b)

Pengawet harus stabil fisika kimian dan mikribiologisselama masa berlaku


produk tersebut.

c)

Pengawet harus tidak toksis, mensesitasi, larut dengan memadai, dapat


bercampur dengm komponen-komponen formulasi lain dan dapat diterima dilihat
dari rasa dan bau pada konsentrasi yang digunakan (Boylan, 1994).

Adapun

pengawet

yang

yaitu: asam benzoat 0,1%,

umum

digunakan

dalam

Natrium benzoat 0,1%,

atau

sediaan

farmasi

kombinasi

dari

metilparaben (0,05%) dan propilparaben (0,03) (Jenkins dkk, 1995).


2)

Larutan dapar (Buffer)


Menurut Boylan (1994) untuk dapat menjaga kelarutan obat, maka suatu

sistem harus didapar secara memadai. Pemilihan suatu dapar harus konsisten
dengan kriteria sebagai berikut:
a)

Dapar harus mempunyai kappasitas memadai dalam kisaran pH yang


diinginkan.

b)

Dapar harus aman secara biologis untuk penggunaan yang dimaksud.

c)

Dapar hanya mempunyai sedikit atau tidak mempinyai efek merusak terhadap
stabilitas produk akhir.

d)

Dapar harus memberikan rasa dan warna yang dapat diterima produk.

3)

Zat Pembasah (wetting agent)


Dalam pembuatan suspensi penggunaan zat basah sangat berguna dalam

penurunan tegangan antar muka partikel padat dan cairan pembawa (Anief,
1994). Zat pembasah yang sering digunakan dalam pembuatan suspensi adalah
air, alkohol, gliserin (Ansel, 1989).
Zat-zat hidrofilik (sukar pelarut) dapat dibasahi dengan mudah oleh air atau
cairan-cairan polar lainnya sehingga dapat meningkatkan viskositas suspensisuspensi air dengan besar. Sedangkan zat-zat hidrofobik (tidak sukar pelarut)
menolak air, tetapi dapat dibasahi oleh cairan-cairan nonpolar. Zat pada hidrofilik
biasanya dapat digabungmenjadi suspensi tanpa zat pembasah (Patel dkk,
1994).

4)

Zat Penambah Rasa


Ada empat rasa sensasi dasar yaitu: asin, pahit, manis dan asam. Suatu
kombinasi zat pemberi rasa biasanya diperlukan untuk menutupi sensasi rasa ini
secara efektif. Menthol kloroform dan berbagai garam sering kali digunakan
sebagai zat pembantu pemberi rasa (Patel dkk, 1994).

Menurut Aulton (1989), ada tiga tipe penambahan rasa yaitu:


a)

Zat pemanis, contohnya: sorbitol, saccharin dan invert syrup.

b)

Syrup Berasa, contohnya: blackcurant, rasoberry dan chererry.

c)

Minyak Beraroma / Aromatic Oils, contohnya: anisi, cinnamon lemon dan


pepermint.

d)

Penambahan Rasa Sintetik, contohnya: kloroform, vanillin, benzaldehid, dan


berbagai senyawa organik lain (alkohol, aldehid, ester dan keton).

5)

Zat Penambah Warna


Ada beberapa alasan mengapa farmasi perlu ditambahkan zat pewarna
yaitu menutupi penampilan yang tiadak enak dan untuk menambah daya tarik
pasien. Zat pewarna harus aman, tidak berbahaya dan tidak memilikiefek
farmakologi. Selain itu tidak bereaksi dengan zat aktif dan dapat larut baik dalam
sediaan (Ansel, 1989).
Pemilihan warna biasanya dibuat konsisten dengan rasa misalnya merah
untuk strawbery dan warna kuning untuk rasa jeruk (Ansel, 1989). Beberapa
contoh yang bisa digunakan yaitu Tartazin (kuning), amaranth (merah), dan
patent blue V (biru). Clorofil (hijau) (Aulton, 1989).

6)

Zat Penambah Bau


Tujuan penambahan bau adalah untuk dapat menutupi bau yang tidak enak
yang ditimbulkan oleh zat aktif atau obat. Bau sangat mempengauhi rasa dari
suatu preparat pada bahan makan (Ansel, 1989). Dapat digunakan penambah
bau berupa essense dari buah-buahan yang disesuaikan dengan rasa dan warna
sediaan yang akan dibuat.

7)

Zat Pembawa
Zat pembawa yang bisa digunakan dalam pembuatan suspensi oral adalah
air murni (Ansel, 1989).

1.

Stabilitas Suspensi

Salah satu masalah yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi


adalah

cara

untuk

memperlambat

penimbunan

partikel

serta

menjaga

homogenitas dari partikel ini merupakan salah satu cara untuk menjaga
stabilitas suspensi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi suspensi:
a.

Kekentalan (viskositas)
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pola kecepatan aliran dari suatu
cairan tersebut. Makin kental kecepatan alirannya makin turun kecepatan aliran
dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang
terdapat didalamnya dengan menambah viskositas cairan. Gerakan turun dari
partikel

yang

dikandungnya

akan

diperlambat

(Ansel,

1989).

Viskositas

suspensi menurut SNI adalah 37cp-396cp


Hal ini dibuktikan dengan rumus:
Dimana:
: kekentalan cairan
: kekentalan air pada suhu penetapan
tc

: waktu cair aliran (dtk)


dc
ta
da

: kerapatan cairan (g/ml)


: waktu alir air (dtk)
: kerapatan air (gr/ml)

Istilah rheologi digunakan untuk menggambarkan aliran cairan dan Isaac


newton yang menyatakan bahwa tahanan terhadap aliran adalah sebanding
dengan kecepatan geser. Istilah newton tentang tahanan terhadap aliran
sekarang dikenal dengan kekentalan atau viskositas yang didefinisikan sebagai
tetapan perbandingan antara tekanan geser (Shering stress) dengan kecepatan
geser (Rate of share). Tekanan geser adalah gaya per luas area yang digeser
(dyne/cm). Kecepatan geser adalah kecepatan dibagi ketebalan film (detik-1).
Viskositas= (dyne/cm2) / (1/detik)= poise (P)= 100centipoise (cps)
Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat
bagi pasien, stabilitas fisik obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh

(bioavailability). Sehingga viskositas telah terbukti dapat mempengaruhi laju


absorpsi obat dalam tubuh.
b.

Ukuran Partikel
pengecilan ukuran partikel berguna untuk kestabian supensi karena laju
endap dari partikel padat berkurang kalu ukuran partike dikurangi. Pengurangan
kuran partikel menghasilkan laju pengendapan yang lambat dan lebih beragam.

c.

Volume Sedimentasi
Endapan yang terbentuk harus dengan mudah didispersikan kembali
dengan pengocokan sedangkan agar menghasilkan suatu sistem homogen maka
penguurn volume endapan dan mudah mendispersi membentuk dua prosedur
evaluasi dasar yang paling umum (Patel dkk, 1994)
Volume sedimentasi yaitu mempertimbangkan rasio tinggi akhir endapan
(Hu) terhadap tinggi awal (Ho) pada waktu suspensi mengendap dalam suatu
kondisi standar.
F = Hu/Ho
Makin besar fraksi ini, makin baik kemampuan suspensinya (Lachman, 1994)

d.

pH
pH merupakan suatu penentu utama adalam kestabilan suatu obat yang
cenderung penguraian hidrolitik. Untuk kembanyakan obat pH kestabilan
optimum adalah pada situasi asam antara pH 5-6. Oleh karena itu, melalui
penggunakan zat pendapar yang tepat kestabilan senyawa yang tidak stabil
dapat ditinggikan (Ansel, 1989). pH standar suspensi menurut Kulshreshta,
Singh, dan Wall (2009) antara 5-7.

e.

Redispersibilitas
Daya kocok sedimen dapat dilakukan dengan gerak membalik susupensi
yang mengandung sedimen sebasar 90 0 kemudian dapat diukur waktunya atau
jumlah gerak membalik, yang dibutuhkan untuk mendispersikan kembali seluruh
partikel (Voight, 1995).
Kemampuan suspensi untuk menjaga agar dosis obat terdispersi secara
merata diukur berdasarkan kemampuannya untuk mendispersikan kembali suatu

suspensi yang mengendap. Endapan yang terbentuk selama penyimpanan harus


mudah didispersikan kembali bila wadahnya dikocok, membentuk suspensi yang
homogen. Oleh karena itu pemeriksaan kemampuan redispersi sangat penting
dalam evaluasi stabilitas fisik suspensi.
Penentuan

redispersi

dapat

ditentukan

dengan

cara mengkocok

sediaannya dalam wadahnya secara konstan dengan menggunakan pengocok


mekanik. Kemempuan redispersi baik bila suspensi telah terdispersi sempurna
dengan tangan maksimum 15 kali pengocokan.
4.

Pembuatan Suspensi
Menurut Patel dkk (1994), ada beberapa metode dalam pembuatan
suspensi, yaitu:

a.

Metode pengendapan

1)

Pengendapan Dengan Pelarut Organik


Obatobatan yang tidak larut dalam air dapat diendapkan dengan
melarutkannya dalam pelarut organik yang bercmpur dengan air dan kemudian
menambah fase organik ke air murni dibawah kondisi standar.

2)

Pengendapan yang dipengaruhi oleh perubahan pH dan medium


Metode ini dapat lebih membantu dan tidak menimbulkan yang serupa
dengan endapan organik. Tetapi teknik ini hanya dapat diterapkan keobat obat
yang seharusnya tergantung pada pH.

3)

Penguraian rangkap
Metode ini meliputi kimia sederhana, meskipun beberapa faktor fisis juga
ikut berperan
Menurut Anief (2007) dalam pembuatan suspensi stabil secara fisis yang
biasa dipakai sebagai pegangan pedekatan adalah:

a)

Penggunaan pembawa tersusun untuk partikel deflokulasi dalam suspensi.


Pembawa tersusun pseudoplastis dan plastis. Pembawa tersusun bekerja dengan
cara

penjeratan

(calmpiping)

partikelpartikel

(umumnya

deflokulasi)

sedemikian, hingga secara deal tidak terjadi pengendapan.


b)

Penggunaan prinsip prinsip untuk membentuk flok, mskipun terjadi cepat


mengenap, tetapi dengan pengocokkan dengan mudah tersuspensi kembali.

Stabilitas fisis yang optimum dan bentuk rupanya yang baik akan terjadi
bila suspensi diformulasikan dengan patiklpartikel flokulasi dengan pembawa
tersusun dari tipe koloid hidrofil (flokulasi terkontrol). Menurut Hinds, untuk
membentuk flokulasi dalam suspensi digunakan elektrolit, surfaktan, dan
polimer.
Pembuatan suspensi sistem flokulasi dapat dilakukan seperti berikut:
a)

Partikel diberi pembasah dan dispersi medium

b)

Lalu ditambah zat pemflokulasi dan diperolah suspensi flokulasi

c)

Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengenap maka
ditambah pembawa tersusun.

b.

Metode Dispersing
Bahan tersebut dilarutkan dahulu dengan air sebelum dicampur dengan
dengan bahan bahan yang akan disuspensikan. Surfaktan dapat digunakan
untuk menjamin pembasahan zat padat pada hidrofobik engan seragam.
Penggunaan zat pensuspensi bisa iusulkan tergantung pada penggunaan
spesifik. Metode sebenernya dari pendispersi zat padat merupakan salah satu
pertimbangan yang ebih pentin, karena pengurangan ukuran prtikel mungkin
dihasilkan atau mungkin tidak dihasilkan dari proses dispersi.

5.

Sistem Flokulasi dan Deflokulasi


Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi adalah terikat lemah cepat
mengenap dan mudah tersuspensi kembali dan tidak membentuk cake.
Sedangkan pada sisitem deflokulasi, partikel terdeflokulasi mengenap perlahan
lahan dan akhirnya membentuk sedimen dan terjadi agregrasi dan selanjutnya
cake yang keras dan sukar tersuspensi kembali.
Pada sistem flokulasi biasanya mencegah pemisahan yang sungguh
sungguh tergantung pada kadar partikel padat dan derajat flokulasinya pada
suatu waktu sisitem flokulasi klihatan kasar akibat terjadinya flokul. Dalam
sistem deflokulasi, partikel terdispersi baik dn mengenap senderian, tapi lebih
lamat dari pada sistem flokulasi tapi partikel delokulasi berkehendak membentuk
sedimen atau cake yang sukar terdispersi kembali.

Tabel 2.

Sifatsifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi dalam susupensi menurut Anief
(2007)

6.

No

Deflokulasi

Flokulasi

Partikel tersuspensi dalam keadaan


terpisah satu dengan lainnya

Partikel merupakan agregat yang


bebas

Sedimentasi
lambat,masing
Sedimentasi
cepat,
partikel
masing partikel mengenap terpish mengenap sebagai flok yaitu
dan ukuranya minimal
kumpulan partikel

Sedimentasi terjadi lambat

Akhirnya
sedimentasi
akan Sedimentasi terbungkus bebas
membentuk cake (agregat) yang membentuk cake yang keras dan
sukar terdispersi kembali
padat dan mudah terdispersi
kembali seperti semula

Wujud
suspensi
menyenangkan
karena zat tetap tersuspensi dalam
waktu relative lama, meskipun ada
endapan cairan atau tetap berkabut

Sedimentasi terjadi cepat

Wujud
susupensi
kurang
menyenangkan
sebab
sedimentasi terjadi cepat dan
diatasnya terjadi daerah cairan
yang jernih

Pengemasan dan Penyimpanan


Semua suspensi

harus dikemas

dalam wadah

mulut lebar

yang

mempunyai ruang udara yang menandai di atas cairan sehingga dapat dikocok
dan mudah dituang. Kebanyakan suspensi harus disimpan dalam wadah yang
tertutup rapat dan terlindung dari pembekuan, panas berlebihan dan cahaya.
Suspensi perlu dikocok setiap kali sebelum digunakan untuk menjamin distribusi
zat yang merata dalam pembawa sehingga dosis yang diberikan setiap kali tepat
dan seragam (Ansel, 1989).

Tantri Sugianto
(Tantri)
Bismillah.. semoga bisa bermanfaat bagi yang membacanya :)

Minggu, 15 Juli 2012

suspensiii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Beberapa bentuk sediaan obat yang umumnya dipakai dalam pembuatan obat, setiap
bentuk sediaaan memiliki fungsi dan kegunaannya masing-masing sesuai dengan kebutuhan
dan untuk apa obat tersebut dipakai. Salah satu bentuk sediaan dari obat yang sering
dijumpai dan sering digunakan adalah suspensi.
suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat yang tidak larut
tetapi terdispersi dalam fase cair. Partikel yang tidak larut tersebut dimaksudkan secara
fisiologi dapat diabsorpsi yang digunakan sebagai obat dalam atau untuk pemakaian luar
denagn tujuan penyalutan. Sediaan dalam bentuk suspensi juga ditujukan untuk pemakaian
oral dengan kata lain pemberian yang dilakukan melalui mulut. Sediaan dalam bentuk
suspensi diterima baik oleh para konsumen dikarenakan penampilan baik itu dari segi
warna atupun bentuk wadahnya. Pada prinsipnya zat yang terdispersi pada suspensi

haruslah halus, tidak boleh cepat mengendap, dan bila digojog perlahan-lahan, endapan
harus segera terdispersi kembali. Selain larutan, suspensi juga mengandung zat tambahan
(bila perlu) yang digunakan untuk menjamin stabilitas suspensi tetapi kekentalan suspensi
harus menjamin sediaan mudah digojog dan dituang.
Suspensi dapat didefinisikan sebagai preparat yang mengandung partikel obat yang
terbagi secara halus (dikenal sebagai suspensoid) disebarkan secara merata dalam pembawa
dimana obat menunjukkan kelarutan yang sangat minimum.
Beberapa

suspensi

diperdagangan

tersedia

dalam

bentuk

siap

pakai,

telah

disebarkan dalam cairan pembawa dengan atau tanpa penstabil dan bahan tambahan
farmasetik lainnya.
Selain itu pembuatan suspensi ini didasarkan pada pasien yang sukar menerima tablet
atau kapsul, terutama bagi anak-anak dan lansia, dapat menutupi rasa obat yang tidak enak
atau pahit yang sering kita jumpai pada bentuk sediaan tablet, dan obat dalam bentuk
sediaan suspensi lebih mudah diabsorpsi daripada tablet/kapsul dikarenakan luas
permukaan kontak antara zat aktif dan saluran cerna meningkat. Oleh karena itu dibuatlah
sediaan suspensi. Pembuatan suspensi ini pula didasarkan pada pengembangan sediaaan
cair yang lebih banyak diminati oleh masyarakat luas. Tetapi dalam pembuatan suspensi
juga memerlukan ketelitian dalam proses pembuatan sehingga kestabilannya dapat terjaga.
Salah satu masalah yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah cara
memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari partikel. Cara tersebut
merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi.
Penggunaan dalam bentuk suspensi bila dibandingkan dengan larutan sangatlah efisien
sebab suspensi dapat mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air.
Kekurangan suspensi sebagai bentuk sediaan adalah pada saat penyimpanan,
memungkinkan terjadinya perubahan sistem dispersi (cacking, flokulasi, deflokulasi)
terutama jika terjadi fluktuasi atau perubahan temperatur.
Sasaran utama didalam merancang sediaan berbentuk suspensi adalah untuk
memperlambat kecepatan sedimentasi dan mengupayakan agar partikel yang telah
tersedimentasi dapat disuspensi dengan baik.
Jadi, alasan pembuatan suspensi yaitu untuk membuat sediaan obat dalam bentuk cair
dengan menggunakan zat aktif yang tidak dapat larut dalam air tetapi hanya terdispersi

secara merata. Dengan kata lain, bahan-bahan obat yang tidak dapat larut dapat dibuat
dalam bentuk suspensi.
Dengan demikian sangatlah penting bagi kita sebagai tenaga farmasis untuk mengetahui
dan mempelajari pembuatan sediaan dalam bentuk suspensi yang sesuai dengan persyaratan
suspensi yang ideal ataupun stabil agar selanjutnya dapat diterapakan pada pelayanan
kefarmasian dalam kehidupan masyarakat.

B. PERMASALAHAN DAN PENYELESAIAN PERMASALAHAN


1. Suspensi Chloramphenicol palmitat
a.

Permasalahan

Suspensi dengan cara pengendapan kembali

b. Penyelesaian permasalahan
-

Memperkecil diameter partikel bahan aktif dalam suspensi

Bahan aktif diperkecil agar zat aktif lebih mudah terdispersi secara homogen.

2. Suspensi Bismuth Sub nitrat


a.

Permasalahn

Membuat suspensi terflokulasi

b. Penyelesaian permasalahan
-

Dengan menggunakan dispersi dimana pertama kali kita membuat mucilago kemudian
serbuk bahan obat dicampur ke dalam mucillago yang telah terbentuk kemudian diencerkan,
flokulasi encer dan ditambahkan langsung pada bahan yang diflokulasi.

BAB II
LANDASAN TEORI

Suspensi adalah sediaaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus
dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus, tidak
boleh cepat mengendap, dan bila dikocok perlahan endapan harus segera terdispersi
kembali. Dapat ditambahkan zat tambahan untuk menjamin stabilitas tetapi kekentalan
suspensi harus menjamin sediaan mudah dikocok dan dituang.
Menurut FI Edisi III, suspensi merupakan sediaan yang mengandung bahan obat
padat dalam bentuk halus dan tidak larut , terdispersi dalam cairan pembawa.
Menurut FI Edisi IV, suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat
tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.
Menurut Formularium nasional Edisi II, suspensi adalah sediaan cair yang
mengandung obat padat, tidak melarut dan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa
atau sediaan padat terdiri dari obat dalam bentuk serbuk halus, dengan atau tanpa zat
tambahan yang akan terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa yang ditetapkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi adalah :
1. Ukuran partikel.
2. Sedikit banyaknya bergerak partikel (viskositas)
3. olak menolak antar partikel karena adanya muatan listrik
4. Kadar partikel terdispersi
Ciri-ciri sediaan suspensi adalah :

- Terbentuk dua fase yang heterogen


- Berwarna keruh
- Mempunyai diameter partikel > 100 nm
- Dapat disaring dengan kertas saring biasa
- Akan memisah jika didiamkan
Macam-macam suspensi
Suspensi berdasarkan kegunaanya
1. Suspensi oral
Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang terdispersi dalam
cairan pembawa dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditunjukan untuk penggunaan
oral.
2. Suspensi topical
Suspensi topical adalah sediaan cair yang mengandung partikael-partikel padat yang
terdispersi dalam cairan pembawa yang ditujukan untuk penggunaan pada kulit.
3. Suspensi tetes telinga
Yaitu sediaan cair yang mengandung partikel-partikel halus yang ditujukan untuk diteteskan
pada bagian telinga luar.
4. Suspensi optalmik
Yaitu sediaan cair yang steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam
cairan pembawa untuk pemakaian pada mata.

Suspensi berdasarkan istilah


1. Susu
Yaitu suspensi untuk pembawa yang mengandung air yang ditujukan untuk penggunaan
oral. Contohnya : susu magnesia

2. Magma
Yaitu suspensi zat padat anorganik dalam air seperti lumpur, jika zat padatnya
mempunyai kecenderungan terhidrasi dan teragredasi kuat yang menghasilkan konsistansi
seperti jell dan sifat relogi tiksotropik

3. Lotio
Untuk golongan suspensi tropical dan emulsi untuk pemakaian pada kulit.

Suspensi berdasarkan sifatnya


1.

a.

Suspensi deflokulasi

Ikatan antar partikel terdispersi kuat

b. Partikel dispersi mudah mengendap


c.

Partikel dispersi mudah terdispersi kembali

d. Partikel dispersi tidak membentuk cacking yang keras


2. Suspensi flokulasi
a.

Ikatan antar partikel terdispersi lemah

b. Partikel dispersi mengendap secara perlahan


c.

Partikel dispersi susah terdispersi kembali

d. Partikel dispersi membentuk cacking yang keras

Syarat-syarat suspensi adalah sebagai berikut :


Menurut FI edisi III adalah :
Zat terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap
Jika dikocok harus segera terdispersi kembali
Dapat mengandung zat dan bahan menjamin stabilitas suspensi
Kekentalan suspensi tidak bolah terlalu tinggi agar mudah dikocok atau sedia dituang
Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga ukuran partikel dari suspensi tetap
agak konstan untuk jangka penyimpanan yang lama
Menurut FI edisi IV adalah :
Suspensi tidak boleh di injeksikan secara intravena dan intratekal
Suspense yang dinyatakan untuk digunakan untuk cara tertentu harus mengandung anti
mikroba
Suspense harus dikocok sebalum digunakan.

Cara pembuatan suspensi


Suspensi dapat dibuat dengan cara :
Metode dipersi

Serbuk yang terbagi halus didispersikan kedalam cairan pembawa. Umumnya sebagai
cairan pembawa adalah air. Dalam formulasi suspensi yang penting adalah pertikel-pertikel
harus terdispersi betul dalam fase cair. Mendispersikan serbuk yang tidak larut dalam air
kadang-kadang sukar, hal ini disebabkan karena adanya udara, lemak yang terkontaminasi
pada permukaan serbuk. Serbuk dengan sudut kontak 90 0C disebut hidrofob. Contohnya
sulfur, magnesium stearat, dan magnesium karbonat. Untuk menurunkan tegangan antar
muka, antara partikel padat dan cairan pembawa digunakan zat pembasah dengan nilai HCB
(hidrofil lipofil balance) atau keseimbangan hidrofil lipofil. Nilai HLB 7-9 dan sudut kontak
jadi kecil. Udara yang dipindahkan dan partikel akan terbasahi dapat pula menggunakan
gliserin, larutan Gom, propilenglikol untuk mendispersi parikel padat. Biasa juga digunakan
Gom (pengental).

Metode presipitasi
Metode ini terbagi atas 3 yaitu :
Metode presipitasi dengan bahan organic
Dilakukan dengan cara zat yang tak larut dengan air, dilarutkan dulu dengan pelarut organic
yang dapat dicampur air. Pelarut organic yang digunakan adalah etanol, methanol,
propilenglikol, dan gliserin. Yang perlu diperhatikan dari metode ini adalah control ukuran
partikel yang terjadi bentuk polimorfi atau hidrat dari Kristal.
Metode presipitasi dengan perubahan PH dari media
Dipakai untuk obat yang kelarutannya tergantung pada PH.
Metode presipitasi dengan dekomposisi rangkap/penguraian
Dimana stabilitas fisik yang optimal dan bentuk rupanya yang baik bila suspensi
diformulasikan dengan partikel flokulasi dalam pembawa berstruktur atau pensuspensi tipe
koloid hidrofi. Bila serbuk telah dibasahi dan didispersikan diusahakan untuk membentuk
flokulasi terkontrol agar tidak terjadi sediaan yang kompak yang sulit didispersi kembali.
Untuk membentuk flokulasi digunakan elektrolit, surfaktan, dan polimer.

Bentuk suspensi yang diinginkan


1) Partikel-partikel harus mengendap secara perlahan
2) Partikel-partikel yang mengendap harus mudah didispersikan kembali
3) Suatu suspensi yang terflokulasi lebih diinginkan daripada suspensi yang terdeflokulasi.

4) Suatu suspensi tidak boleh terlalu kental untuk mengurangi kecepatan sedimentasi.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam suspensi adalah :


1. Kecepatan sedimentasi (hokum stokes)
Untuk sediaan farmasi, tidak mutlak dipakai untuk sediaan farmasi biasanya dimana
bentuk suspensorik tidak teratur, tetapi dapat dipakai sebagai pegangan supaya suspensi
stabil sehingga tidak cepat mengendap. Maksudnya akan terbentuk cacking dan
homogenitas kurang.
2. Pembahasan serbuk
Pembasahan adalah fenomena terjadinya kontak antara medium pendispersi dan
medium terdispersi dimana permukaan padat udara digantikan oleh padat cair. Untuk
menurunkan tegangan permukaan digunakan wetting agent atau surfaktan (zat yang dapat
menurunkan tegangan permukaan) misalnya span dan tween.

3. Floatasi
Floatasi atau trafung disebabkan oleh :
- Perbedaan densitas
- Partikel padat hanya terbasahi dan tetap pada permukaan
- Adanya absorbsi gas pada permukaan zat padat. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan
humektan (zat yang digunakan untuk membasahi zat padat).
4. Pertumbuhan Kristal
Larutan air suatu suspensi sebenarnya merupakan larutan jenuh, bila terjadi
perubahan suhu akan terjadi pertumbuhan kristal ini dapat dicegah dan penambahan
surfaktan.
5.

Pengaruh gula

Penambahan larutan gula dalam suspensi akan mengakibatkan fiskositas suspensi naik.

Konsentrasi gula yang besar akan menyebabkan akan terbentuknya kristalisasi dengan cepat
Gula cair 25% mudah ditumbuhi bakteri hingga diperlukan pengawet

Hati-hati jika ada alkohol dalam suspensi

6. Pemilihan metode dispersi, depokulasi, dan prokulasi


Komponen sediaan suspensi :

Komposisi sediaan suspensi yaitu :


1. Zat aktif
2. Bahan tambahan :
-

Bahan pensuspensi / suspending agent, fungsinya adalah untuk memperlambat


pengendapan, mencegah penurunan partikel, dan mencegah penggumpalan resin, dan
bahan berlemak. Contoh untuk golongan polisakarida yaitu seperti gom akasia, tragakan,
alginat starc. Sedangkan pada golongan selulosa larut air yaitu seperti metil selulosa,
hidroksi etilselulosa, avicel, dan na-cmc.untuk golongan tanah liat misalnya seperti bentonit,
aluminium magnesium silikat, hectocrite, veegum. Sementara itu untuk golongan sintetik
seperti carbomer, carboxypolymethylene, colloidal silicon dioxide.

Bahan pembasah (wetting agent) / humektan, fungsinya adalah untuk menurunkan


tegangan permukaan bahan dengan air (sudut kontak) dan meningkatkan dispersi bahan
yang tidak larut. Misalnya gliserin, propilenglikol, polietilenglikol, dan lain-lain.

Pemanis, fungsinya untuk memperbaiki rasa dari sediaan. Misalnya sorbitol dan sukrosa.

Pewarna dan pewangi, dimana zat tambahan ini harus serasi. Misalnya vanili, buahbuahan berry, citrus, walnut, dan lain-lain.

Pengawet, sangat dianjurkan jika didalam sediaan tersebut mengandung bahan alam, atau
bila mengandung larutan gula encer (karena merupakan tempat tumbuh mikroba). Selain
itu, pengawet diperlukan juga bila sediaan dipergunakan untuk pemakaian berulang.
Pengawet yang sering digunakan adalah metil atau propil paraben, asam benzoat,
chlorbutanol, dan senyawa ammonium.

Antioksidan, jarang digunakan pada sediaan suspensi kecualiuntuk zat aktif yang mudah
terurai karena teroksidasi.misalnyahidrokuinon, asam galat, kasein, sisteina hidroklorida,
dan jugatimol.

Pendapar,

fungsinya

untuk

mengatur

pH,

memperbesar

potensial

pengawet,

meningkatkan kelarutan. Misalnya dapar sitrat, dapar fosfat, dapar asetat, dan juga dapar
karbonat.

Acidifier,

fungsinya

untuk

mengatur

pH,

meningkatkan

kestabilan

suspensi,

memperbesar potensial pengawet, dan meningkatkan kelarutan. Misalnya asam sitrat.


-

Flocculating agent, merupakan bahan yang dapat menyebabkan suatu partikel


berhubungan secara bersama membentuk suatu agregat atau floc. Misalnya polisorbat 80
(untuk surfaktan), tragakan (polimer hidrofilik), bentonit (untuk clay), dan juga NaCl (untuk
elektrolit).
Kriteria suspensi yang ideal :

Partikel yang terdispersi harus memiliki ukuran yang sama dan tidak mengendap cepat dalam
wadah.
Endapan yang terbentuk tidak boleh keras (kompak) dan harus terdispersi dengan cepat
dengan sedikit pengocokan.
Harus mudah dituang, memiliki rasa enak dan tahan terhadap serangan mikroba
Untuk obat luar, harus mudah disebar dipermukaan kulit dan tidak cepat hilang ketika
digunakan serta cepat kering.

Keuntungan dan kerugian sediaan suspensi


- Keuntungan :
1.

Baik digunakan untuk pasian yang sukar menerima tablet/ kapsul, terutama anak-anak.

2.

Homogenitas tinggi

3.

Lebih mudah diabsorpsi daripada tablet/kapsul karena luas permukaan

4.

kontak antara zat aktif dan saluran cerna meningkat

5.

Dapat menutupi rasa tidak enak/pahit obat (dari larut/tidaknya)

6.

Mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air


- Kerugian :

1.

Kestabilan rendah (pertumbuhan Kristal (jika jenuh), dan degradasi)

2.

Jika membentuk cacking akan sulit terdispersi kembali sehingga homogenitasnya turun

3.

Alirannya menyebabkan sukar dituang

4.

Ketetapan dosis lebih rendah daripada bentuk sediaan larutan

5.

Pada saat penyimpanan, kemungkinan terjadi perubahan systemdispersi terutama jika


terjadi perubahan temperatur

6.

Sediaan suspensi harus dikocok terlebih dahulu untuk memperoleh dosis yang diinginkan.
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. RESEP SUSPENSI CHLORAMPENICOL PALMITAT

Dr. Alphian .SIP 859458/SIP/2001


Jln. Mekar 18 Kendari
R/
Chloramphenicol
palmitat
2,875
CMC
Na
0,5
Polysorbat
80
0,25
Propilenglikol
0
Sir.
Simplex
15
Aqua ad
Pro : Putri

50

B. KELENGKAPAN RESEP

Keterangan :

R/

: Recipe

m.f.d.s

: misce fac da signa

3 dd

: ter de die

: 3 x sehari

ck

: cochlear

: sendok makan

pro

: propere

: untuk

: Ambillah
: campur buat dan tandai

C. URAIAN BAHAN

1. CHLORAMPHENICOL PALMITAT (FI Edisi III Hal. 145)

a resmi

: CHLORAMPHENICOLI PALMITAS

a sinonim

: kloramfenikol palmitat

us molekul

: C27H42Cl2N2O6

molekul

: 561,56

rian

: serbuk hablur halus, licin, putih, bau lemah,rasatawar

utan

: praktis tidak larut dalam air, larut dalam 45 bagian etanol (95%)p, dalam 6 bagian kloroform

impanan

iat

p, dan dalam 14 bagian eter p


: dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
: antibiotikum (obat yang digunakan untukmenghambat pertumbuhan mikroorganismeatau
membunuh mikroorganisme)

2. CMC Na (FI Edisi III Hal. 401)

a resmi

: NATRII CARBOXYMETHYLCELLULOSUM

a sinonim

: natrium karboksimetil selulosa

rian

: serbuk atau butiran, putih atau putih kuning gading tidak berbau atau hampir tidak berbau,
higroskopik

utan

: mudah mendispersi dalam air,membentuk suspensi koloidal, tidak larut dalam etanol
(95%)p, dalam eter p dan dalam pelarut organic lain

impanan

iat

: dalam wadah tertutup rapat


: zat tambahan

3. POLYSORBAT 80 (FI Edisi III Hal. 509)

a resmi

: POLYSORBATUM 80

a sinonim

: polisorbat 80

rian

: cairan kental seperti minyak, jernih, kuning, bauasam lemak, khas

utan

: mudah larut dalam air, dalam etanol (95%)p,dalam etil asetat p dan dalam etanol p, sukar
larut dalam parafin cair, dan dalam minyak biji kapas p

impanan

iat

: dalam wadah tertutup rapat


: zat tambahan

4. PROPILENGLIKOL (FI. Edisi III Hal. 534)

a resmi

: PROPYLENGLYCOLUM

a sinonim

: Propilenglikol

us molekul

: C3H8O2

molekul

: 76,10

rian

: Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidakberbau, rasa agak manis, higroskopik

utan

: Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%)p,dan dengan kloroform p, larut dalam 6

impanan

iat

bagian eter p, tidak dapat campur dengan eter minyak tanah p, dan dengan minyak lemak
: Dalam wadah tertutup baik
: Zat tambahan, pelarut

5. SIRUP SIMPLEX (FI. Edisi III Hal. 567)

a resmi

: SIRUPUS SIMPLEX

a sinonim

: Sirop gula

buatan

: Larutkan 65 bagian sakarosa dalam larutan metalparaben 0,25% b/v secukupnya hingga
diperoleh 100 bagian sirop

rian

: Cairan jernih, tidak berwarna

impanan

: Dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk

6. AQUADEST ( FI.Edisi III Hal.96 )

a resmi

: AQUA DESTILLATA

a sinonim

: Air suling, Air murni

us molekul

: H2O

molekul

: 18,02

rian

: Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidakmempunyai rasa

impanan

: Dalam wadah tertutup baik


D. PERHITUNGAN BAHAN
1. Chloramphenicol palmitat
2. CMC Na

Air panas

= 2,875 gram
= 0,5 gram

= 20 bagian x 0,5 (bb CMC Na)

= 10 gram 10 mL

Air dingin

= 10 bagian x 0,5 (bb CMC Na)

= 5 gram 5 mL
3. Polysorbat 80

= 0,25 gram

4. Propilenglikol

= 10 gram

5. Sir. Simplex

= 15 gram

6. Aqua ad

= 50 (2,875+0,5+0,25+10+15+10+5)

= 50 43,625 = 6,375 gram 6,375 mL


E. ALAT DAN BAHAN
ALAT
1. Botol 50 g
2. Cawan krus
3. Gelas ukur
4. Hot plate
5. Kertas perkamen
6. Lap kasar
7. Lap halus
8. Lumpang dan alu
9. Pipet tetes
10. Sendok tanduk
11. Sudip
12. Timbangan kasar
BAHAN
1. Aquadest
2. Cholaramphenikol palmitat
3. CMC Na
4. Polisorbat 80
5. Propilenglikol
6. Sirup simplex
F. CARA KERJA
1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Tara botol 50 gram
3. Buat mucilago Na.CMC

Timbang Na.CMC 0,5 gram, ukur aqua panas 10 mL kemudian masukkan dalam mortir

Taburkan Na.CMC kedalam mortir yang telah berisi aqua panas

Diamkan 15 hingga 20 menit ad mengembang

Ukur aqua dingin 5 mL tambahkan lalu kocok

4. Timbang propilenglikol 10 gram, pada cawan yang telah ditara


5. Timbang polisorbat-80 0,25 gram pada cawan yang telah ditara
6. Timbang kloramfenikol 2,875 gram
7. Campur propilenglikol dan polisorbat, panaskan diatas hotplate, aduk lalu masukkan
kloramfenikol sambil diaduk
8. Semua campuran dituangkan pada Na.CMC sambil digerus
9. Timbang sir. Simplex 15 gram dalam cawan kemudian campur pada campuran tadi
10. Masukkan dalam botol, tambahkan sisa aqua ad 50 gram
11. Beri etiket putih dan tulisan kocok dahulu

G. WADAH
-

Botol 50 g

H. ETIKET PUTIH

Apotek Bina Husada Kendari


Jln. Asrama Haji no.17 Telp. 0401 319093
Apoteker : Tantri
SIK

: F.11.113

No

: 07

Tgl : 20-4-

12
Nama

: Putri

Aturan Pakai : 3 x sehari 1


Tablet
Kapsul
Sendok makan
Sebelum / sesudah makan

A. RESEP NO. SUSPENSI BISMUTH SUB NITRAT

Dr. Syelomitha
SIP 859458/IDI/2003
Jln. Mekar 18 Kendari
R/
Bismuth subnitrat
Tragacanth
Alkohol
Sod. Citrat
Aqua ad
m. f. d. s. tdd.c1
Pro
: Anna

B. KELENGKAPAN RESEP

2
0,65
4
0,01
60

Keterangan :

R/

: Recipe

m.f.d.s

: misce fac da signa

3 dd

: ter de die

c1

: cochlear unum

: Ambillah
: campur buat dan tandai
: 3 x sehari
: 1 sendok

C. URAIAN BAHAN
1. BISMUTH SUBNITRAT (FI Edisi III Hal.118)

a resmi

: BISMUTHI SUBNITRAS

a sinonim

: bismuth subnitrat

rian

: serbuk hablur renik, putih, tidak berbau, tidakberasa , berat

utan

: praktis tidak larut dalam air dan dalam pelarutorganik, larut sempurna dalam asam klorida p

impanan

iat

dan dalam asam nitrat p


: dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
: adstrigen saluran pencernaan (obat yang digunakan untuk menciutkan selaput lendir
dalam saluran pencernaan)

2. TRAGACANTH (FI Edisi III Hal. 616)

a resmi

: TRAGACANTHA

a sinonim

: tragakan

rian

: tidak berbau, hampir tidak berasa

utan

: dalam air agak sukar larut dalam air, tetapimengembang menjadi massa homogen, lengket
dan seperti gelatin

impanan

iat

: dalam wadah tertutup baik


: zat tambahan

3. AETHANOLUM (FI.Edisi III Hal.66)

a resmi

: AETHANOLUM

a sinonim

: Etanol, Alkohol

rian

: Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguapdan mudah bergerak, bau khas, rasa panas.
Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap

utan

: Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform p,dan dalam eter p

impanan

: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung daricahaya, ditempat sejuk, jauh dari nyala api.

iat

: Zat tambahan

4. SOD. CITRAT (FI Edisi III Hal. 406)

a resmi

: NATRII CITRAS

a sinonim

: natrium sitrat

us molekul

: C6H5Na3O7.2H2O

molekul

: 294, 10

rian

: hablur tidak berwarna atau serbuk halus putih

utan

: mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air mendidih, praktis tidak larut

impanan

iat

dalam etanol (95%)p


: dalam wadah tertutup rapat
: antikoagulan (obat yang berfungsi mencegahterjadinya pembekuan darah)

5. AQUADEST (FI.Edisi III Hal.96)

a resmi

: AQUA DESTILLATA

a sinonim

: Air suling, Air murni

us molekul

: H2O

molekul

: 18,02

rian

: Cairan jernih; tidak berwarna; tidak berbau; tidakmempunyai rasa

impanan

: Dalam wadah tertutup baik

D. PERHITUNGAN BAHAN
1. Bismuth subnitrat

= 2 gram

Aqua untuk membasahi, yang akan dipipet


=
x 2 gram = 0,5 mL
2. Tragakan

= 0,65 gram

Mucilago tragakan

= 20 bagian aqua x berat tragakan

= 20 x 0,65 = 13 mL
Jadi, air untuk tragakan 13 mL
3. Alcohol
=
=

4. Sod. Citrat

= 4,9 mL

= 0,01 gram = 10 mg

Pengenceran Na. sitrat :


=
x 20 mL = 4 mL

5. Aqua

= 60 (2+0,5+0,65+13+4,9+4)
= 60 25,05 = 34, 95 mL

E. ALAT DAN BAHAN


ALAT
1. Batang pengaduk
2. Botol 60 mL
3. Gelas ukur
4. Kertas perkamen
5. Pipet tetes
6. Lap halus
7. Lap kasar
8. Lumpang dan alu
9. Sendok tanduk
10. Sudip
11. Timbangan kasar

12. Tisu
BAHAN
1. Aquadest
2. Alkohol
3. Bismuth sub nitrat
4. Natrium sitrat
5. Tragakan
F. CARA KERJA
1. Siapkan alat dan bahan
2. Tara botol 60 gram
3. Buat mucilago tragakan dengan cara timbang 0,65 gram tragakan, basahi dengan aqua 13
mL, tambahkan alcohol 4,9 mL lalu diamkan hingga membentuk mucilago
4. Gerus bismuth subnitrat 2 gram, basahi dengan aqua 0,5 mL
5. Ambil 4 mL sod.sitrat, masukkan kecampuran sebelumnya
6. Buat pengenceran natrium Sitrat dan ambil 4 mL , kemudian masukkan dalam campuran
No.5
7. Masukkan No. 5 ke No. 4, gerus, kemudian masukkan dalam botol
8. Ditambahkan aqua ad 60 g
9. Beri etiket putih yang berlabel kocok dahulu

G. WADAH
-

Botol 60 mL

H. ETIKET PUTIH

APOTEK BINA HUSADA


Jln. Asrama haji No. 17 C Telp.
319130
Apoteker
: Tantri
SIK
: F.11.113
No : 08
Tgl :
20-04-2012
Nama pasien : Anna
Aturan pakai : 3 x sehari
1 sendok makan
Kocok dahulu
Sebelum/sesudah makan

BAB IV
PEMBAHASAN

Suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang
terdispersi dalam fase cair. Dalam pembuatan suspensi, kita selaku praktikan mengharapkan
hasil dari suspensi yang kita buat itu adalah merupakan suspensi yang masuk dalam kategori
suspensi ideal atau stabil setidaknya.Suspensi yang ideal merupakan suspensi yang memiliki
kriteria yakni, partikel yang terdispersi harus mempunyai ukuran yang sama dan tidak
mengendap cepat dalam wadah, endapan yang terbentuk tidak boleh keras, dan harus
terdispersi dengan cepat dengan sedikit pengocokan, harus mudah dituang, memiliki rasa
enak dan tahan terhadap serangan mikroba, untuk obat luar harus mudah disebar
dipermukaan kulit dan tidak cepat hilang ketika digunakan serta cepat mengering.

Namun dalam praktikum, tidak semua suspensi yang dihasilkan itu merupakan
suspensi yang ideal ataupun stabil. Hal ini bisa saja disebabkan karena kurangnya ketelitian
kita selaku praktikan pada saat dilakukannya pembuatan suspensi sehingga menyebabkan
sediaan suspensi tidak maksimal hasilnya. Suspensi yang tidak sempurna pada biasanya
disebabkan

oleh

mucillagonya

yang

kadang-kadang

tidak

mengembang

sehingga

menyebabkan suspensi tidak maksimal. Pada pembuatan mucilago, sering dialami kegagalan
sebab pada saat penuangan air panas misalnya, bahan yang ada di dalam mortir tidak
dengan cepat diaduk pada saat dituangkan air panasnya sehingga menyebabkan mucilago
tidak mengembang.
Pada peracikan R/7, sediaan suspensi yang mengandung chlorampenicol palmitat,
dibuat dengan cara pengendapan kembali dimana untuk membuat suspensi ini maka para
praktikan haruslah memperkecil diameter partikel dari bahan aktifnya. Pada pembuatan
suspensi ini chloramphenicol palmitat dan bahan natrium CMC-nya terlebih dahulu
dilarutkan dalam air panas sebab kita ketahui sendiri bahwa kelarutan dari natrium CMC
adalah dia akan mudah mendispersi dalam air, kemudian setelah itu barulah dilakukan
penambahan aqua dingin.
Bahan propilenglikol dicampur terlebih dahulu dengan polisorbat kemudian
dipanaskan setelah itu chlorampenikolnya ditambahkan terakhir. Hal ini dimaksudkan agar
pada saat menuangkan campuran tersebut ke dalam mucillago natrium CMC, akan
membentuk mucilago yang sempurna. Dengan begitu hasil dari pembuatan suspensi yang
kita dapatkan bisa dikategorikan ke dalam suspensi yang ideal ataupun stabil.
Pada pembuatan suspensi bismuth subnitrat, menggunakan sistem pembuatan
suspensi terflokulasi. Suspensi ini dibuat dengan cara flokulasi agent dilarutkan dalam
larutan encer secara langsung pada bahan yang akan di flokulasi. Pada pembuatan suspensi
R/8 bismuth subnitrat ini, kesalahan sering terjadi pada saat dilakukannya pembuatan
mucillago tragakan. Kesalahan ini biasanya disebabkan karena pada saat dilakukannya
pembasahan pada tragakan oleh aqua serta penambahan pada alkoholnya. Hal seperti ini
biasanya menyebabkan endapan yang terjadi tidaklah sempurna atau maksimal sehingga
memerlukan pengocokan yang maksimal pula agar dapat terdispersi kembali.
Kesalahan yang sering terjadi pada saat pembuatan suspensi harulslah menjadi acuan
untuk kita sebagai praktikan agar pada pembuatan suspensi selanjutnya dapat dperoleh

hasil yang maksimal. Karena dengan belajar dari kesalahan seperti inilah kita dapat
menciptakan ataupun menghasilkan sediaan suspensi yang ideal dan stabil.

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi
dalam fase cair.
2. Salah satu keuntungan suspensi adalah tertutupnya rasa tidak enak atau rasa pahit obat
yang kebanyakan kurang disukai oleh anak-anak sehingga memungkinkan untuk diberikan
pada anak-anak.sedangkan kerugiannya adalah pada saat penyimpanan kemungkinan
terjadi perubahan sistem dispersi.
3. Suspensi yang ideal setidaknya haruslah dibuat dengan tepat, mengendap secara lambat dan
harus rata lagi bila dikocok.

B. SARAN
Diharapkan kepada semua mahasiswa/siswi untuk lebih banyak belajar mengenai sifat,
stabilitas, tipe suspensi maupun cara melarutkan dan penyimpananya.
pada saat pembuatan suspensi, praktikan harus mengetahui kelarutan dari bahan-bahan obat
yang dikerjakan, Praktikan juga harus mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
stabilitas suspensi, agar dapat menghasilkan suspensi yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh . 1997 . Ilmu Meracik Obat . Yogyakarta : Gadjah Mada Universitas Press
Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1979 . Farmakope Indonesia Edisi III .
Jakarta : Dekpes RI
Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1995 . Farmakope Indonesia Edisi IV .
Jakarta : Dekpes RI
Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1978 . Formularium Nasional Edisi
2 . Jakarta : Dekpes RI
Syamsuni . 2007 . Ilmu Resep . Jakarta : EGC