Anda di halaman 1dari 65

1

Tugas 5
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

MATRIKS PERBEDAAN PROSEDUR PENGEMBANGAN BAHAN AJAR CETAK


DAN NON CETAK

Oleh
RISKA WAHYUNI
15175036

DOSEN :
Prof. Dr. Festiyed, M.S

PROGRAM PASCA SARJANA PENDIDIKAN FISIKA


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya,
saya dapat menyusun tugas ini dengan judul Matriks Perbedaan Prosedur Pengembangan Bahan

Ajar Cetak Dan Non Cetak


Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mendapat masalah, namun hal tersebut dapat
diatasi dengan bimbingan dan dan dukungan dari berbagai pihak. Maka penulis mengucapkan
terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar Fisika, pengarang
buku serta pembuat blog (internet) yang sangat membantu sebagai pencarian bahan dalam pembuatan
tugas ini, dan teman-teman yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam pembuatan
makalah ini.
Tugas ini telah diusahakan untuk dapat diselesaikan dengan sebaik mungkin, namun saya
sebagai penyusun menyadari bahwa tidak ada karya yang sempurna. Untuk itu semua kritik dan saran
dari pembaca sangat saya harapkan, sebagai bahan penyempurnaan dimasa yang akan dating. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua serta mendapat Ridho disisi Allah dan dapat menjadi salah
satu referensi dalam ilmu pengetahuan.

Padang, Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii
BAB I...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN....................................................................................................... 1
A.

Latar belakang.................................................................................................. 1

B.

Rumusan masalah.............................................................................................. 1

C.

Tujuan penulisan............................................................................................... 1

D.

Manfaat penulisan.............................................................................................. 2

BAB II..................................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................ 3
A.

BAHAN AJAR................................................................................................. 3

B.

PROSEDUR PENGEMBANGAN BAHAN AJAR.....................................................4

C.

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN................................................................12
1.

Model 4D................................................................................................... 12

2.

Model ADDIE............................................................................................. 18

3.

Model IDI.................................................................................................. 25

4.

Model Desain Research.................................................................................. 26

5.

Model Jerol E. Kamp ,dkk.............................................................................. 28

6.

Model Dick & Carey...................................................................................... 30

7.

Model ASSURE........................................................................................... 31

8.

Model Bela H. Banathy.................................................................................. 33

D.

PROSEDUR PENGEMBANGAN BAHAN AJAR...................................................33

E.

BAHAN AJAR NON CETAK POWER POINT.......................................................37

F.

BAHAN AJAR CETAK LEMBAR KERJA SISWA (LKS).........................................38

BAB III.................................................................................................................. 42
PEMBAHASAN....................................................................................................... 42
A.

Matriks Perbedaan Model Pengembangan..............................................................42

B. Matriks Perbedaan Prosedur Penyusunan Bahan Ajar Cetak Lembar Kerja Siswa dan Non
Cetak Powerpoint................................................................................................... 44
C. Matriks Perbedaan Prosedur Pengembangan Bahan Ajar Cetak dan Non Cetak dengan Model
ADDIE............................................................................................................... 48
BAB IV PENUTUP................................................................................................... 54
A.

Kesimpulan.................................................................................................... 54

B.

Saran............................................................................................................ 54

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 55
Alur prosedur kerja pengembangan bahan aja...................................................................56
Instruksi Kerj a Analisis Kebutuhan Bahan Aj ar..............................................................58
Instruksi Kerj a Penyusunan Peta Bahan Aj ar..................................................................59

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Menurut Depdiknas (2010) sumber belajar salah satunya dapat berupa bahan ajar.
Bahan ajar dapat membantu guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran. Oleh
karena itu, sudah seharusnya guru mengembangkan bahan ajar yang akan digunakan
dalam pembelajaran.
Permendikbud nomor 65 tahun 2013 tentang Standar Proses menyatakan bahwa
perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan
penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario
pembelajaran. Sehingga dapat diketahui bahwa sumber belajar merupakan salah satu
komponen perencanaan pembelajaran yang memegang peranan penting.
Bahan ajar dapat dibagi menjadi dua, yaitu bahan ajar cetak dan non cetak. Untuk
mengembangkan bahan ajar cetak dan non cetak perlu memperhatikan model-model
pengembangan yang ada. Hal ini bertujuan agar bahan ajar yang dikembangkan memiliki
kualitas yang baik. Terdapat beberapa model pengembangan bahan ajar yang dapat
digunakan diantaranya ADDIE, 4D, EDR, dll.
Berdasarkan uraian sebeumnya maka dalam makalah ini akan dipaparkan tentang
prosedur pengembangan bahan ajar cetak dan non cetak dengan menggunakan salah satu
model pengembangan bahan ajar.
B. Rumusan masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana prosedur pengembangan bahan ajar cetak?
2. Bagaimana prosedur pengembangan bahan ajar non cetak?
3. Bagaimana matriks perbedaan prosedur pengembangan bahan ajar cetak dan non cetak?
C. Tujuan penulisan
Tujuan dari penulisan makalaha adalah sebagai berikut:
1. Untuk memahami prosedur pengembangan bahan ajar cetak dan non cetak
2. Untuk memahami matriks perbedaan prosedur pengembangannya

D. Manfaat penulisan
Manfaat dari penulisan makalah adalah sebagai berikut:
1. Sebagai tambahan wawasan mengenai bahan ajar, peran dan prosedur bahan ajar, serta
implementasinya bagi guru atau tenaga pendidik.
2. Sebagai referensi atau ide bagi penulis lainnya
1

3. Sebagai mengembangkan diri dalam menulis perangkat pembelajaran

4.
5. BAB II
6. TINJAUAN PUSTAKA
7.

A. BAHAN AJAR
8.
Menurut Gagne dalam Ratna Wilis Dahar (2011), belajar dapat didefenisikan
sebagai suatu proses di mana suatu organisasi berubah perilakunya sebagai akibat
pengalaman. Bahan Ajar atau learning material, merupakan materi ajar yang dikemas sebagai
bahan untuk disajikan dalam proses pembelajaran. Bahan pembelajaran dalam penyajiannya
berupa deskripsi yakni berisi tentang fakta-fakta dan prinsip-prinsip, norma yakni berkaitan
dengan aturan, nilai dan sikap, serta seperangkat tindakan/keterampilan motorik. Dengan
demikian, bahan pembelajaran pada dasarnya berisi tentang pengetahuan, nilai, sikap,
tindakan dan keterampilan yang berisi pesan, informasi, dan ilustrasi berupa fakta, konsep,
prinsip, dan proses yang terkait dengan pokok bahasan tertentu yang diarahkan untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
9.
Bahan ajar di kurikulum 2013 terdiri atas modul, lks, buku cetak . LKS pada
kurikulum 2013 dapat berupa LKS yang dikreasikan oleh guru. Sedangkan buku paket untuk
jenjang SMP dan SMA merupakan buku paket yang telah di biayai oleh dinas pendidikan
untuk diberikan kepada siswa.

( 1)





( 2)

( 3)









( 4)

10.

11.

12. Artinya: (1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu

yang telah menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari


segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah. (4)
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (alat tulis) (5) Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
13.
Ayat ini menjadi bukti bahwa Al-Quran memandang
bahwa aktivitas belajar merupakan sesuatu yang sangat penting
dalam

kehidupan

manusia.

Kegiatan

belajar

dapat

berupa

menyampaikan, menelaah, mencari, dan mengkaji, serta meniliti.


2

14.

Menurut Ahmad Sudrajad, bahan ajar adalah seperangkat materi yang

disusun secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan atau
suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Menurut Tim Sosialisasi KTSP,
bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau
instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.Bahan yang
dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.
15.

B. PROSEDUR PENGEMBANGAN BAHAN AJAR


16.

Pengembangan

bahan

ajar

perlu

dilakukan

secara

sistematik

berdasarkan langkah-langkah yang saling terkait untuk menghasilkan bahan ajar yang
bermanfaat. Penatar seringkali mengabaikan prosedur pengembangan bahan ajar yang
sistematik ini karena berasumsi, jika sudah dibuat dengan baik sesuai dengan materi
yang akan diajarkan, maka bahan ajar dapat digunakan dengan efektif dalam proses
pembelajaran. Padahal ada beberapa langkah yang harus dilakukan penatar sebelum
sampai pada kesimpulan bahawa bahan ajar sudah dikembangkan dengan baik, serta
bahan ajar yang digunakan memang baik. Paling tidak ada lima langkah utama dalam
prosedur pengembangan bahan ajar yang baik, sebagai berikut:
17. 1. Analisis

18.

Pada tahap ini dicoba untuk mengenali siapa peserta diklat, dengan perilaku

awal dan karakteristik yang dimiliki. Perilaku awal berkenaan dengan penguasaan dan
kemampuan bidang ilmu atau mata tataran yang sudah dimiliki peserta. Seberapa jauh
peserta sudah menguasai mata tataran itu? Sementara itu karakteristik awal
memberikan informasi tentang ciri-ciri peserta.
19. Jika informasi tentang peserta sudah diketahui, maka inplikasi terhadap
rancangan bahan ajar dapat ditentukan, dan bahan ajar dapat segera dikembangkan.
Pengenalan yang baik terhadap perilaku awal dan karakteristik awal peserta sangat
diperlukan untuk menentukan kebutuhan peserta dan kemudian merancang bahan ajar
yang bermanfaat bagi peserta.
20. 2. Perancangan
21.
Dalam tahap perancangan, ada beberapa hal yang harus dilakukan atau
diperhatikan yaitu:
a

Perumusan tujuan pembelajaran berdasarkan analisis,


22.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, akan diperoleh peta atau

diagram tentang kompetensi yang akan dicapai peserta baik kompetensi umum
maupun kompetensi khusus. Kompetensi umum dan kompetensi khusus, jika
3

dirumuskan kembali dengan kaidah-kaidah yang berlaku, akan menjadi tujuan


pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus. Adapun kaidah yang berlaku,
antara lain dengan melengkapi komponen tujuan pembelajaran yaitu Audience,
Behavior, Condition, Degree
b

Pemilihan topik mata tataran


23.

Jika tujuan pembelajaran sudah ditetapkan dan analisis sudah

dilakukan, maka peserta sudah mempunyai gambaran tentang kompetensi yang


harus dicapai oleh peserta melalui proses belajar. Dengan demikian petatar juga
dapat segera menetapkan topik mata tataran dan isinya. Apa saja topik, tema isu
yang tepat untuk disajikan dalam bahan ajar, sehingga peserta dapat belajar dan
mencapai kompetensi yang telah ditetapkan? Apa saja teori, prinsip atau prosedur
yang perlu didiskusikan dalan bahan ajar?
24.
Acuan utama pemilihan topik mata tataran adalah silabus dan analisis
instruksional yang telah penatar miliki. Selanjutnya penatar juga dapat menggunakan
berbagai buku dan sumber belajar serta melakukan penelusuran pustaka, yaitu
mengkaji buku-buku tentang mata tataran termasuk encyclopedia atau majalah yang
ada di perpustakaan atau buk.
c

Pemilihan media dan sumber


25.

Pemilihan media dan sumber belajar harus dilakukan setelah penatar

memiliki analisis instruksional dan mengetahui tujuan pembelajaran. Penatar


diharapkan tidak memilih media hanya karena media tersebut tersedia bagi penatar,
disamping itu penetar diharapkan juga tidak langsung terbujuk oleh kesediaan
beragam media canggih yang sudah semakin pesat berkembang saat ini seperti
komputer. Yang perlu diingat, media yang dipilih adalah untuk digunakan oleh
peserta dalah proses belajar. Jadi pilihlah media yang dibutuhkan untuk
menyampaikan topik mata tataran, yang memudahkan peserta belajar, serta yang
menarik dan disukai peserta. Kata kuncinya adalah: Media yang dapat
membelajarkan peserta. Media itulah yang perlu dipertimbangkan untuk dipilih
d

Pemilihan strategi pembelajaran


26.

Tahap pemilihan strategi pembelajaran merupakan tahap ketika

merancang aktivitas belajar. Dalam merancang urutan penyajian harus berhubungan


dengan

penentuan

tema/isu/konsep/teori/prinsip/prosedur

utama

yang

harus

disajikan dalam topik mata tataran. Hal ini tidaklah terlalu sulit jika sudah memiliki

peta konsep dari apa yang ingin dibelajarkan. Jika sudah mengetahuinya maka
bagaimana materi itu disajikan, secara umum dapat dikatakan bagaimana struktuk
bahan ajarnya.
27.
Berbagai urutan penyajian dapat dipilih berdasarkan urutan kejadian
atau kronologis, berdasarkan lokasi, berdasarkan sebab akibat dan lain sebagainya.
28. 3. Pengembangan
29.
Persiapan dan perancangan yang matang sangat diperlukan untuk
mengembangkan bahan ajar dengan baik. Beberapa saran yang dapat membantu untuk
memulai pengenbangan bahan ajar:
a) Tulislah apa dapat ditulis, mungkin berbentuk LKS, bagian dari penyususnan buku

atau panduan praktik


b) Jangan merasa bahwa bahan ajar harus ditulis secara berurutan
c) Tulis atau kembangkan bahan ajar untuk peserta yang telah dikenal
d) Ingat bahan ajar yang dikembangkan harus dapat memeberikan pengalaman belajar
kepada peserta
e) Ragam media, sumber belajar, aktivitas dan umpan balik merupakan komponen

penting dalam memperoleh bahan ajar yang menarik, bermanfaat dan efektif bagi
peserta
f) Ragam contoh, alat bantu belajar, ilustrasi serta pengemasan bahan ajar juga berperan
dalam membuat bahan ajar
g) Gaya penulisan untuk bagian tekstual, naratif, explanatory, deskriptif, argumentatif
dan perintah sangat penting agar peserta dapat memahami maksud penatar.
30.
31. 4. Evaluasi Dan Revisi
32.Evaluasi merupakan proses untuk memperoleh beragam reaksi dari berbagai
pihak terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Reaksi ini hendaknya dipandang
sebagai masukan untuk memperbaiki bahan ajar dan menjadikan bahan ajar lebih
berkualitas. Evaluasi sangat diperlukan untuk melihat efektifitas bahan ajar yang
dikembangkan. Apakah bahan ajar yang dikembangkan memang dapat digunakan untuk
belajar-dimengerti, dapat dibaca dengan baik dan dapat membelajarkan peserta. Di
samping itu evaluasi diperlukan untuk memperbaiki bahan ajar sehingga nmenjadi
bahan ajar yang baik.
33.
Secara umum ada 4 cara untuk mengevaluasi bahan ajar yaitu
a) Telaan oleh ahli materi (lebih ditekankan pada validitas keilmuan serta ketepatan
cakupan)
b) Uji coba satu-satu (Salah seorang peserta mengkaji bahan ajar, kemudian diminta
untuk memberikan komentar tentang keterbacaan, bahasa, ilustrasi, perwjahan dan
tingkat kesukaran)

c) Uji coba kelompok kecil (Satu kelompok kecil mengkaji bahan ajar, kemudian

diminta untuk memberikan komentar tentang keterbacaan, bahasa, ilustrasi,


perwjahan dan tingkat kesukaran)
d) Uji coba lapangan ( Untuk memperoleh informasi apakah bahan ajar dapat mencapai

tujuan?. Apakah bahan ajar dianggap memadai dan seterusnya.


34.
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan maka perbaikan bahan ajar
yang mungkin dilakukan antara lain:
a) menghilangkan bagian-bagian yang dianggap tidak perlu
b) Memperluas penkelasan dan uraian atas suatu konsep atau topik yang dianggap masih

kurang
c) Menambah latihan dan contoh-contoh yang dianggap perlu
d) Memilah bahan ajar menjadi bagian-bagian yang lebih mudah dicerna peserta
e) Memeperbaiki kalimat, istilah, serta bahasa yang digunakan untuk meningkatkan

keterbacaan
f) Menambah analogi, ilustrasi dan contoh kasus yang dianggap lebih efektif
g) Menambah penggunaan media lain yang dianggap dapat memperjelas dan membantu

peserta belajar
35. Perlu diingat bahwa pada komponen yang satu harus diikuti oleh perbaikan dan

penyesuaian pada komponen bahan ajar yang lain, sehingga diperoleh bahan ajar yang
utuh dan terpadu
36.
1

Prosedur Pengembangan Bahan ajar cetak


37.

Mengembangkan bahan ajar cetak berarti mengajarkan suatu mata

pelajaran melalui tulisan. Oleh karena itu, prinsip-prinsip yang digunakan dalam
mengembangkan modul sama dengan yang digunakan dalam pembelajaran biasa.
Bedanya adalah, bahasa yang digunakan bersifat setengah formal dan setengah lisan,
bukan bahasa buku teks yang bersifat sangat formal.
38.

Ada tiga teknik yang dapat dipilih dalam menyusun modul. Ketiga

teknik tersebut menurut Sungkono, dkk.(2003: 10), yaitu menuulis sendiri,


pengemasan kembali informasi, dan penataan informasi:
39.

1. Menulis Sendiri (Starting from Scratch)

40. Penulis/guru dapat menulis sendiri modul yang akan digunakan dalam proses
pembelajaran. Asumsi yang mendasari cara ini adalah bahwa guru adalah pakar yang
berkompeten dalam bidang ilmunya, mempunyai kemampuan menulis, dan mengetahui
6

kebutuhan siswa dalam bidang ilmu tersebut. Untuk menulis modul sendiri, di samping
penguasaan bidang ilmu, juga diperlukan kemampuan menulis modul sesuai dengan
prinsip-prinsip pembelajaran, yaitu selalu berlandaskan kebutuhan peserta belajar, yang
meliputi pengetahuan, keterampilan, bimbingan, latihan, dan umpan balik. Pengetahuan
itu dapat diperoleh melalui analisis pembelajaran, dan silabus. Jadi, materi yang disajikan
dalam modul adalah pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang tercantum dalam
silabus.
41. 2. Pengemasan Kembali Informasi (Information Repackaging)
42. Penulis/guru tidak menulis modul sendiri, tetapi memanfaatkan buku-buku teks dan
informasi yang telah ada di pasaran untuk dikemas kembali menjadi modul yang
memenuhi karakteristik modul yang baik. Modul atau informasi yang sudah ada
dikumpulkan berdasarkan kebutuhan (sesuai dengan kompetensi, silabus dan RPP/SAP),
kemudian disusun kembali dengan gaya bahasa yang sesuai. Selain itu juga diberi
tambahan keterampilan atau kompetensi yang akan dicapai, latihan, tes formatif, dan
umpan balik.
43. 3. Penataan Informasi (Compilation)
44. Cara ini mirip dengan cara kedua, tetapi dalam penataan informasi tidak ada
perubahan yang dilakukan terhadap modul yang diambil dari buku teks, jurnal ilmiah,
artikel, dan lain-lain. Dengan kata lain, materi-materi tersebut dikumpulkan, digandakan
dan digunakan secara langsung. Materi-materi tersebut dipilih, dipilah dan disusun
berdasarkan kompetensi yang akan dicapai dan silabus yang hendak digunakan.
45.

Komponen-komponen utama yang perlu tersedia di dalam bahan ajar

cetak, yaitu tinjauan mata pelajaran, pendahuluan, kegiatan belajar, latihan; ramburambu jawaban latihan, rangkuman, tes formatif, dan kunci jawaban tes formatif
Kedelapan komponen tersebut akan dijelaskan satu persatu dalam bagian selanjutnya.
1. Tinjauan Mata Pelajaran
46. Tinjauan mata pelajaran adalah paparan umum mengenai keseluruhan pokok-pokok
isi mata pelajaran yang mencakup:
a. Deskripsi mata pelajaran
b. Kegunaaan mata pelajaran
c. Kompetensi dasar
7

d. Bahan pendukung lainnya (kaset, kit, dll)


e. Petunjuk Belajar
47. Petunjuk memuat antara lain penjelasan tentang berbagai macam kegiatan yang harus
dilakukan, alat-alat yang perlu disediakan, dan prosedur yang dilakukan.
48. Perlu dipahami bahwa letak atau posisi tinjauan mata pelajaran di dalam modul sangat
tergantung kepada pembagian pokok bahasan dalam mata pelajaran. Mungkin saja satu
mata pelajaran terdiri atas beberapa pokok bahasan, sehingga tinjauan mata pelajaran
terletak pada modul pertama saja. Contohnya, pada modul 1 terdapat tinjauan mata
pelajaran, sementara modul 2, dan 3 dst tidak terdapat tinjauan mata pelajaran karena
sudah terletak pada modul 1. Tetapi tidak menutup kemungkinan pada setiap modul
disertakan tinjauan mata pelajaran untuk menuntun siswa dalam memahami kegunaan
mata pelajaran.
2. Pendahuluan
49. Pendahuluan suatu modul merupakan pembukaan pembelajaran suatu modul. Oleh
karena itu, dalam pendahuluan seyogyanya memuat hal-hal sebagai berikut:
a.
Cakupan isi modul dalam bentuk deskripsi singkat
b. Indikator yang ingin dicapai melalui sajian materi dan kegiatan modul
c. Deskripsi perilaku awal (entry behaviour) yang memuat pengetahuan dan
keterampilan yang sebelumnya sudah diperoleh atau seyogyanya sudah dimiliki
sebagai pijakan (anchoring) dari pembahasan modal itu.
d. Relevansi, yang terdiri atas:
1) Keterkaitan pembahasan materi dan kegiatan dalam modul itu dengan mateni dan
kegiatan dalam modul lain dalarn satu mata pelajaran atau dalam mata pelajaran
(cross reference)
2) Pentingnya mempelajari materi modul itu dalam pengembangan dan pelaksanaan
tugas guru secara profesional
e. Urutan butir sajian bahan ajar cetak (kegiatan belajar) secara logis
f. Petunjuk belajar berisi panduan teknis mempelajari modul itu agar berhasil dikuasai
dengan baik.
50. Pendahuluan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a.
Memenuhi dan merangsang rasa ingin tahu
b. Urutan sajian yang logis
c. Mudah dicerna dan enak dibaca
51.

3. Kegiatan Belajar
52.

Bagian ini merupakan daging atau inti dalam pemaparan materi pelajaran.

Bagian ini terbagi menjadi beberapa sub bagian yang disebut Kegiatan Belajar. Bagian ini
memuat materi pelajaran yang harus dikuasai siswa. Materi tersebut disusun sedemikian
rupa, sehingga dengan mempelajari materi tersebu, tujuan yang telah dirumuskan dapat
tercapai. Agar materi pelajaran mudah diterima siswa, maka perlu disusun secara
sisternatis.
53.

Di dalam kegiatan belajar terdapat uraian atau penjelasan secara rinci tentang

isi pelajaran yang diikuti dengan contoh-contoh konkrit dan non contoh. Sedapat mungkin
uraian ini diikuti gambar, bagan atau grafik. Urutan penyajian seperti ini yang dimulai
dengan penjelasan kemudian diikuti dengan contoh. Urutan penyajian dapat pula dimulai
dengan contoh dan non contoh, atau kasus-kasus kemudian diikuti dengan penjelasan
tentang konsep yang dimaksud.
54.

Sajian materi modul memperhatikan elemen uraian dan contoh yang dirancang

untuk menumbuhkan proses belajar dalarn diri pembaca. Berikut akan dijelaskan kedua
elemen dasar yang ada dalarn sajian materi bahan ajar cetak.
a. Uraian
55.

Uraian dalarn sajian materi modul adalah paparan materi-materi pelajaran

berupa: fakta/data, konsep, prinsip, generalisasi/dalil, teori, nilai, prosedur/metode,


keterampilan, hukum, dan masalah.
56.

Paparan tersebut disajikan secara naratif atau piktorial yang berfungsi untuk

merangsang dan mengkondisikan tumbuhnya pengalaman belajar

(learning

experiences). Pengalaman belajar diupayakan menampilkan variasi proses yang


memungkinkan siswa memperoleh pengalaman konkret, observasi reflektif,
konseptualisasi abstrak, dan ekperimentasi aktif Jenis pengalaman pelajaran
disesuaikan dengan kekhususan setiap mata pelajaran, misalnya untuk mata pelajaran
yang bersifat keterampilan berbeda dengan yang bersifat pengetahuan. Prinsip dalam
penyajian uraian harus memenuhi syarat-syarat:
1)
2)
3)

materi harus relevan dengan esensi kompetensi.


Materi berada dalam cakupan topik inti
Penyajiannya bersifat logis, sistematis, komunikatif/interaktif, dan
tidak kaku
9

4)
5)

Memperhatikan latar/setting kondisi siswa


Menggunakan teknik, metode penyajian yang menarik dan

menantang
57.
b. Contoh
58.

Contoh adalah benda, ilustrasi, angka, gambar dan lain-lain yang

mewakili/mendukung konsep yang disajikan. Contoh bertujuan untuk memantapkan


pemahaman pembaca tentang fakta/data, konsep, prinsip, generalisasi/dalil, hukum,
teori, nilai, prosedur/metode, keterampilan dan masalah.
59.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
4. Latihan

Prinsip dalam penyajian contoh hendaknya:


Relevan dengan isi uraian
Konsistensi istilah, konsep, dalil, dan peran
Jumlah dan jenisnya memadai
Logis (masuk akal)
Sesuai dengan realitas
Bermakna

60. Latihan adalah berbagai bentuk kegiatan belajar yang harus dilakukan oleh siswa
setelah membaca uraian sebelumnya. Gunanya untuk memantapkan pengetahuan,
keterampilan, nilai, dan sikap tentang fakta/data, konsep, prinsip, generalisasi/dalil, teori,
prosedur, dan metode. Tujuan latihan ini agar siswa benar-benar belajar secara aktif dan
akhirnya menguasai konsep yang sedang dibahas dalam kegiatan belajar tersebut. Latihan
disajikan secara kreatif sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran. Latihan dapat
ditempatkan di sela-sela uraian atau di akhir uraian.
61. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan latihan:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Relevan dengan materi yang disajikan


Sesuai dengan kemampuan siswa
Bentuknya bervariasi, misalnya tes, tugas, eksperimen, dsb
Bermakna (bermanfaat)
Menantang siswa untuk berpikir dan bersikap kritis
Penyajiannya sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran

62.
5.

Rambu-rambu Jawaban latihan


63. Rambu-rambu jawaban latihan merupakan hal-hal yang harus diperhatikan oleh siswa
dalam mengerjakan soal-soal latihan. Kegunaan rambu-rambu jawaban ini adalah untuk

10

mengarahkan pemahaman siswa tentang jawaban yang diharapkan dari pertanyaan atau
tugas dalam latihan dalam mendukung tercapainya kompetensi pembelajaran.
6.

Rangkuman
64. Rangkuman adalah inti dari uraian materi yang disajikan pada kegiatan belajar dari
suatu modul, yang berfungsi menyimpulkan dan memantapkan pengalaman belajar (isi
dan proses) yang dapat mengkondisikan tumbuhnya konsep atau skemata baru dalam
pikiran siswa.
65. Rangkuman hendaknya memenuhi ketentuan:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

7.

Berisi ide pokok yang telah disajikan


Disajikan secara berurutan
Disajikan secara ringkas
Bersifat menyimpulkan
Dapat dipahami dengan mudah (komunikatif)
Memantapkan pemahaman pembaca
Rangkuman diletakkan sebelum tes fonnatif pada setiap kegiatan belajar
Menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan tidak menggunakan kata-kata yang

sulit dipahami.
Tes Formatif
66. Pada setiap modul selalu disertai lembar evaluasi (evaluasi formatif) yang biasanya
berupa tes. Evaluasi ini dilakukan untuk mengukur apakah tujuan yang dirumuskan telah
tercapai atau belum. Tes formatif merupakan tes untuk mengukur penguasaan siswa
setelah suatu pokok bahasan selesai dipaparkan dalam satu kegiatan belajar berakhir. Tes
formatif ini bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi sesuai
dengan indikator yang telah ditetapkan. Hasil tes formatif digunakan sebagai dasar untuk
melanjutkan ke pokok bahasan selanjutnya. Tes formatif secara prinsip harus memenuhi
syarat-syarat:
a) Mengukur kompetensi dan indikator yang sudah dirumuskan
b) Materi tes benar dan logis, baik dari segi pokok masalah yang dikemukakan maupun

8.

dart pilihan jawaban yang ditawarkan


c) Pokok masalah yang ditanyakan cukup penting
d) Butir tes harus memenuhi syarat-syarat penulisan butir soal
Kunci Jawaban Tes Formatif dan Tindak Lanjut
67.

Kunci jawaban tes formatif pada umumnya diletakkan di bagian paling akhir

suatu modul. Jika kegiatan belajar berjumlah 2 buah, maka kunci jawaban tes formatif
terletak setelah tes formatif kegiatan belajar 2, dengan halaman tersendiri. Tujuannya agar
siswa benar-benar berusaha mengerjakan tes tanpa melihat kunci jawaban terlebih dahulu.
11

Lembar ini berisi jawaban dari soal-soal yang telah diberikan. Jawaban siswa terhadap tes
yang ada diketahui benar atau salah dapat dilakukan dengan cara mencocokkannya dengan
kunci jawaban yang ada pada lembar ini. Tujuannya adalah agar siswa mengetahui tingkat
penguasaannya terhadap isi kegiatan belajar tersebut. Di samping itu, pada bagian ini
berisi petunjuk tentang cara siswa memberi nilai sendiri pada hasil jawabannya.
68.
C. MODEL-MODEL PENGEMBANGAN
1.
Model 4D
69. Model pengembangan perangkat 4D Model disarankan oleh Sivasailam
Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel (1974). Model ini terdiri dari 4
tahap pengembangan yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate atau diadaptasikan
menjadi model 4-D, yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran.
a.
Define (Pendefinisian)
70. Kegiatan pada tahap ini dilakukan untuk menetapkan dan mendefinisikan
syarat-syarat pengembangan. Dalam model lain, tahap ini sering dinamakan analisis
kebutuhan. Tiap-tiap

produk tentu membutuhkan analisis yang berbeda-beda. Secara

umum, dalam pendefinisian ini dilakukan kegiatan analisis kebutuhan pengembangan,


syarat-syarat pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna serta model
penelitian dan pengembangan (model R & D) yang cocok digunakan untuk
mengembangkan produk. Analisis bias dilakukan melalui studi literature atau penelitian
pendahuluan. Thiagrajan (1974) menganalisis 5 kegiatan yang dilakukan pada tahap define
yaitu:
a. Front and analysis
71.

Pada tahap ini, guru melakukan diagnosis awal untuk meningkatkan efisiensi

dan efektivitas pembelajaran.


b. Learner analysis
72.

Pada tahap ini dipelajari karakteristik peserta didik, misalnya: kemampuan,

motivasi belajar, latar belakang pengalaman, dsb.


c. Task analysis
73.

Guru menganalisis tugas-tugas pokok yang harus dikuasai peserta didik agar

peserta didik dapat mencapai kompetensi minimal.


d. Concept analysis
74.

Menganalisis konsep yang akan diajarkan, menyusun langkah-langkah yang

akan dilakukan secara rasional


e. Specifying instructional objectives

12

75.

Menulis tujuan pembelajaran, perubahan perilaku yang diharapkan setelah

belajar dengan kata kerja operasional.


76.
77. Dalam konteks pengembangan bahan ajar (modul, buku, LKS), menurut
Endang Mulyatingingsih (2012), tahap pendefinisian dilakukan dengan cara:
1) Analisis kurikulum
78.
Pada tahap awal, peneliti perlu mengkaji kurikulum yang berlaku pada saat
itu. Dalam kurikulum terdapat kompetensi yang ingin dicapai. Analisis kurikulum berguna
untuk menetapkan pada kompetensi yang mana bahan ajar tersebut akan dikembangkan.
Hal ini dilakukan karena ada kemungkinan tidak semua kompetensi yang ada dalam
kurikulum dapat disediakan bahan ajarnya
2) Analisis karakteristik peserta didik
79.
Seperti layaknya seorang guru akan mengajar, guru harus mengenali
karakteristik peserta didik yang akan menggunakan bahan ajar. Hal ini penting karena
semua proses pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Hal-hal
yang perlu dipertimbangkan untuk mengetahui karakteristik peserta didik antara lain:
kemampuan akademik individu, karakteristik fisik, kemampuan kerja kelompok, motivasi
belajar, latar belakang ekonomi dan sosial, pengalaman belajar sebelumnya, dsb. Dalam
kaitannya dengan pengembangan bahan ajar, karakteristik peserta didik perlu diketahui
untuk menyusun bahan ajar yang sesuai dengan kemampuan akademiknya, misalnya:
apabila tingkat pendidikan peserta didik masih rendah, maka penulisan bahan ajar harus
menggunakan bahasa dan kata-kata sederhana yang mudah dipahami. Apabila minat baca
peserta didik masih rendah maka bahan ajar perlu ditambah dengan ilustasi gambar yang
menarik supaya peserta didik termotivasi untuk membacanya.
3) Analisis materi
80.
Analisis materi dilakukan dengan cara mengidentifikasi materi utama yang
perlu diajarkan, mengumpulkan dan memilih materi yang relevan, dan menyusunnya
kembali secara sistematis
4) Merumuskan tujuan
81.
Sebelum menulis bahan ajar, tujuan pembelajaran dan kompetensi yang
hendak diajarkkan perlu dirumuskan terlebih dahulu. Hal ini berguna untuk membatasi
peneliti supaya tidak menyimpang dari tujuan semula pada saat mereka sedang menulis
bahan ajar.
82.
b.
Design (perancangan)
83. Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran .
Thiagarajan membagi tahap design dalam empat kegiatan, yaitu: constructing criterion

13

referenced test, media selection, format selection, initial design. Kegiatan yang dilakukan
pada tahap tersebut antara lain:
1.

Menyusun tes kriteria, sebagai tindakan

pertama untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik, dan sebagai alat evaluasi
setelah implementasi kegiatan. Menurut Thiagarajan, dkk (1974), penyusunan tes
kriteria

merupakan

langkah

pendefinisian (define) dengan

yang

tahap

menghubungkan

antara

perancangan (design).

tahap

Tes

kriteria

disusun berdasarkan spesifikasi tujuan pembelajaran dan analisis siswa, kemudian


selanjutnya disusun kisi-kisi tes hasil belajar. Tes yang dikembangkan disesuaikan
dengan jenjang kemampuan kognitif. Penskoran hasil tes menggunakan panduan
evaluasi yang memuat kunci dan pedoman penskoran setiap butir soal.
2.
Memilih media pembelajaran
3.

sesuai dengan materi dan karakteristik peserta didik.


Pemilihan

media

dilakukan

yang
untuk

mengidentifikasi media pembelajaran yang relevan dengan karakteristik materi.


Lebih dari itu, media dipilih untuk menyesuaikan dengan analisis konsep dan
analisis tugas, karakteristik target pengguna, serta rencana penyebaran dengan
atribut yang bervariasi dari media yang berbeda-beda.hal ini berguna untuk
membantu siswa dalam pencapaian kompetensi dasar. Artinya, pemilihan media
dilakukan
4.

untuk

mengoptimalkan

penggunaan

pengembangan bahan ajar pada pembelajaran di kelas.


Pemilihan

bahan

ajar

dalam

bentuk

proses

penyajian

pembelajaran disesuaikan dengan media pembelajaran yang digunakan. Bila guru


akan menggunakan media audio visual, pada saat pembelajaran tentu saja peserta
didik disuruh melihat dan mengapresiasi tayangan media audio visual tersebut.
Pemilihan bentuk penyajian pembelajaran dimaksudkan untuk mendesain atau
merancang isi pembelajaran, pemilihan strategi, pendekatan, metode pembelajaran,
dan sumber belajar. Format yang dipilih adalah yang memenuhi kriteria menarik,
memudahkan dan membantu dalam pembelajaran matematika realistik.
5.
Mensimulasikan
penyajian

materi

dengan media dan langkah-langkah pembelajaran yang telah dirancang. Pada saat
simulasi pembelajaran berlangsung, dilaksanakan juga penilaian dari teman sejawat.
Rancangan seluruh perangkat pembelajaran harus dikerjakan sebelum ujicoba
dilaksanakan. Hal ini juga meliputi berbagai aktivitas pembelajaran yang terstruktur

14

seperti membaca teks, wawancara, dan praktek kemampuan pembelajaran yang


berbeda melalui praktek mengajar.
84.
85.

Dalam tahap perancangan, peneliti sudah membuat produk awal (prototype)

atau rancangan produk. Pada konteks pengembangan bahan ajar, tahap ini dilakukan untuk
membuat modul atau buku ajar sesuai dengan kerangka isi hasil analisis kurikulum dan
materi. Dalam konteks pengembangan model pembelajaran, tahap ini diisi dengan
kegiatan menyiapkan kerangka konseptual model dan perangkat pembelajaran (materi,
media, alat evaluasi) dan mensimulasikan penggunaan model dan perangkat pembelajaran
tersebut dalam lingkup kecil.
86. Sebelum rancangan (design) produk dilanjutkan ke tahap berikutnya, maka
rancangan produk (model, buku ajar, dsb) tersebut perlu divalidasi. Validasi rancangan
produk dilakukan oleh teman sejawat seperti dosen atau guru dari bidang studi/bidang
keahlian yang sama. Berdasarkan hasil validasi teman sejawat tersebut, ada kemungkinan
rancangan produk masih perlu diperbaiki sesuai dengan saran validator.
87.
c.

Develop (Pengembangan)
88.Thiagarajan membagi tahap pengembangan dalam dua kegiatan yaitu: expert

appraisal dan developmental testing. Expert appraisal merupakan teknik untuk


memvalidasi atau menilai kelayakan rancangan produk. Dalam kegiatan ini dilakukan
evaluasi oleh ahli dalam bidangnya. Saran-saran yang diberikan digunakan untuk
memperbaiki materi dan rancangan pembelajaran yang telah disusun.
89.Developmental testing merupakan kegiatan uji coba rancangan produk pada
sasaran subjek yang sesungguhnya. Pada saat uji coba ini dicari data respon, reaksi atau
komentar dari sasaran pengguna model. Hasil uji coba digunakan memperbaiki produk.
Setelah produk diperbaiki kemudian diujikan kembali sampai memperoleh hasil yang
efektif.
90.Dalam konteks pengembangan bahan ajar (buku atau modul), tahap
pengembangan dilakukan dengan cara menguji isi dan keterbacaan modul atau buku
ajar tersebut kepada pakar yang terlibat pada saat validasi rancangan dan peserta didik
yang akan menggunakan modul atau buku ajar tersebut. Hasil pengujian kemudian
digunakan untuk revisi sehingga modul atau buku ajar tersebut benar-benar telah
memenuhi kebutuhan pengguna. Untuk mengetahui efektivitas modul atau buku ajar
tersebut dalam meningkatkan hasil belajar, kegiatan dilanjutkan dengan memberi soalsoal latihan yang materinya diambil dari modul atau buku ajar yang dikembangkan.

15

91.

Dalam konteks pengembangan model pembelajaran, kegiatan pengembangan

(develop) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.


a. Validasi model oleh ahli/pakar. Hal-hal yang divalidasi meliputi panduan
penggunaan model dan perangkat model pembelajaran. Tim ahli yang dilibatkan
dalam proses validasi terdiri dari: pakar teknologi pembelajaran, pakar bidang
studi pada mata pelajaran yang sama, pakar evaluasi hasil belajar.
b. Revisi model berdasarkan masukan dari para pakar pada saat validasi.
c. Uji coba terbatas dalam pembelajaran di kelas, sesuai situasi nyata yang akan
dihadapi.
d. Revisi model berdasarkan hasil uji coba.
e. Implementasi model pada wilayah yang lebih luas. Selama proses implementasi
tersebut, diuji efektivitas model dan perangkat model yang dikembangkan.
Pengujian efektivitas dapat dilakukan dengan eksperimen atau Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Cara pengujian melalui eksperimen dilakukan dengan
membandingkan hasil belajar pada kelompok pengguna model dan kelompok
yang tidak menggunakan model. Apabila hasil belajar kelompok pengguna model
lebih bagus dari kelompok yang tidak menggunakan model maka dapat
dinyatakan model tersebut efektif. Cara pengujian efektivitas pembelajaran
melalui PTK dapat dilakukan dengan cara mengukur kompetensi sebelum dan
sesudah pembelajaran. Apabila kompetensi sesudah pembelajaran lebih baik dari
sebelumnya, maka model pembelajaran yang dikembangkan juga dinyatakan
efektif.
92.
d.

Disseminate (Penyebarluasan)
93.Thiagarajan membagi tahap dissemination dalam tiga kegiatan yaitu:

validation testing, packaging, diffusion and adoption. Pada tahap validation testing,
produk yang sudah direvisi pada tahap pengembangan kemudian diimplementasikan
pada sasaran yang sesungguhnya. Pada saat implementasi dilakukan pengukuran
ketercapaian tujuan. Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas produk
yang dikembangkan. Setelah produk diimplementasikan, pengembang perlu melihat
hasil pencapaian tujuan. Tujuan yang belum dapat tercapai perlu dijelaskan solusinya
sehingga tidak terulang kesalahan yang sama setelah produk disebarluaskan. Kegiatan
terakhir dari tahap pengembangan adalah melakukan packaging (pengemasan),
diffusion and adoption. Tahap ini dilakukan supaya produk dapat dimanfaatkan oleh
orang lain. Pengemasan model pembelajaran dapat dilakukan dengan mencetak buku
panduan penerapan model pembelajaran. Setelah buku dicetak, buku tersebut
16

disebarluaskan supaya dapat diserap (diffusi) atau dipahami orang lain dan digunakan
(diadopsi) pada kelas mereka.
94.Pada konteks pengembangan bahan ajar, tahap dissemination dilakukan
dengan cara sosialisasi bahan ajar melalui pendistribusian dalam jumlah terbatas
kepada guru dan peserta didik. Pendistribusian ini dimaksudkan untuk memperoleh
respons, umpan balik terhadap bahan ajar yang telah dikembangkan. Apabila respon
sasaran pengguna bahan ajar sudah baik maka baru dilakukan pencetakan dalam jumlah
banyak dan pemasaran supaya bahan ajar itu digunakan oleh sasaran yang lebih luas
95.Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam melakukan diseminasi
adalah analisis pengguna, menentukan strategi dan tema, pemilihan waktu, dan
pemilihan media
a) Analisis Pengguna
96.

Analisis pengguna adalah langkah awal dalam tahapan diseminasi

untuk mengetahui atau menentukan pengguna produk yang telah dikembangkan.


Menurut Thiagarajan, dkk (1974), pengguna produk bisa dalam bentuk
individu/perorangan

atau

kelompok

seperti:

universitas

yang

memiliki

fakultas/program studi kependidikan, organisasi/lembaga persatuan guru, sekolah,


guru-guru, orangtua siswa, komunitas tertentu, departemen pendidikan nasional,
komite kurikulum, atau lembaga pendidikan yang khusus menangani anak cacat.
b) Penentuan strategi dan tema penyebaran
97.

Strategi penyebaran adalah rancangan untuk pencapaian penerimaan

produk oleh calon pengguna produk pengembangan. Guba (Thiagarajan, 1974)


memberikan beberapa strategi penyebaran yang dapat digunakan berdasarkan asumsi
pengguna diantaranya adalah: (1) strategi nilai, (2) strategi rasional, (3) strategi
didaktik, (4) strategi psikologis, (5) strategi ekonomi dan (6) strategi kekuasaan.
c) Waktu
98.

Menurut Thiagarajan, dkk (1974) selain menentukan strategi dan tema,

peneliti juga harus merencanakan waktu penyebaran. Penentuan waktu ini sangat
penting khususnya bagi pengguna produk dalam menentukan apakah produk akan
digunakan atau tidak (menolaknya).
d) Pemilihan media penyebaran
99.

Menurut Thiagarajan, dkk (1974) dalam penyebaran produk, beberapa

jenis media dapat digunakan. Media tersebut dapat berbentuk jurnal pendidikan,

17

majalah pendidikan, konferensi, pertemuan, dan perjanjian dalam berbagai jenis


serta melalui pengiriman lewat e-mail.
100.
2. Model ADDIE
101.
ADDIE merupakan singkatan dari Analysis, Design, Development or
Production, Implementation or Delivery and Evaluations. Menurut langkah-langkah
pengembangan produk, model penelitian dan pengembangan ini lebih rasional dan lebih
lengkap daripada model 4D. Model ini memiliki kesamaan dengan model
pengembangan sistem basisdata yang telah diuraikan sebelumnya. Inti kegiatan pada
setiap tahap pengembangan juga hampir sama. Oleh sebab itu, model ini dapat
digunakan untuk berbagai macam bentuk pengembangan produk seperti model, strategi
pembelajaran, metode pembelajaran, media dan bahan ajar.

Model ADDIE

dikembangkan oleh Dick and Carry (1996) untuk merancang sistem pembelajaran.
102.
ADDIE telah banyak diterapkan dalam lingkungan belajar yang telah
dirancang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Berdasarkan landasan filosofi pendidikan
penerapan ADDIE harus bersifat student center, inovatif, otentik dan inspriratif. Konsep
pengembangannya sudah diterapkan sejak terbentuknya komunitas sosial. Pembuatan
sebuah produk pembelajaran dengan menggunakan ADDIE merupakan sebuah kegiatan
yang menggunakan perangkat yang efektif. ADDIE yang membantu menyelesaikan
permasalah pembelajaran yang komplek dan juga mengembagkan produk-produk
pendidikan dan pembelajaran.
103.
Allah SWT berfirman dalam Quran Surat An-Nahl ayat yang berbunyi 125,

104.
105.

Artinya: 125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845]

dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
106.
107.Langkah-langkah desain model ADDIE

18

108.
a.

Analysis (analisa)
109.

Analisis merupakan tahap pertama yang harus dilakukan oleh seorang

pengembang pembelajaran. Shelton dan Saltsman menyatakan ada tiga segmen yang
harus dianalisis yaitu siswa, pembelajaran, serta media untuk menyampaikan bahan
ajarnya.

Langkah-langkah

dalam

tahapan

analisis

ini

setidaknya

adalah:

menganalisis siswa; menentukan materi ajar; menentukan standar kompetensi (goal)


yang akan dicapai; dan menentukan media yang akan digunakan (Fadli, 2012).
Langkah analisis melalui dua tahap, yaitu :
1) Analisis Kinerja
110.

Analisis

Kinerja

dilakukan

untuk

mengetahui

dan

mengklarifikasi apakah masalah kinerja yang dihadapi memerlukan solusi


berupa penyelenggaraan program pembelajaran atau perbaikan manajemen
(Alik, 2010).
111. Contoh :
-

Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan menyebabkan rendahnya kinerja


individu dalam organisasi atau perusahaan, hal ini diperlukan solusi berupa

penyelenggaraan program pembelajaran.


Rendahnya motivasi berprestasi, kejenuhan, atau kebosanan dalam bekerja
memerlukan solusi perbaikan kualitas manajemen.Misalnya pemberian
insentif terhadap prestasi kerja, rotasi dan promosi, serta penyediaan

fasilitas kerja yang memadai (Alik, 2010).


2) Analisis Kebutuhan
112. Analisis kebutuhan merupakan langkah yang diperlukan untuk
menentukan kemampuan-kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari oleh
siswa untuk meningkatkan kinerja atau prestasi belajar. Oleh karena itu, output
yang akan kita hasilkan adalah berupa karakteristik atau profile calon peserta

19

belajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang


rinci didasarkan atas kebutuhan.
113.
b.

Design (desain/perancangan)
114.

Tujuan dalam tahap desain ini adalah Memverifikasi kinerja yang akan

dicapai dan pemilihan metode tes yang sesuai.


115.
Dalam tahap desain ini ada beberapa hal yang harus dilakukan.
Pertama, merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR (spesifik, measurable,
applicable, dan realistic). Selanjutnya menyusun tes, dimana tes tersebut harus
didasarkan pada tujuan pembelajaran yag telah dirumuskan tadi. Kemudian tentukanlah
strategi pembelajaran media danyang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan
tersebut. Selain itu, dipertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal
sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan lainlain. Semua itu tertuang dalam sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.
Desain merupakan langkah kedua dari model desain sistem pembelajaran ADDIE.
Langkah ini merupakan:
1) Inti dari langkah analisis karena mempelajari masalah kemudian menemukan
alternatif solusinya yang berhasil diidentifikasi melalui langkah analisis
kebutuhan.
2) Langkah penting yang perlu dilakukan untuk, menentukan pengalaman belajar
yang perlu dimilki oleh siswa selama mengikuti aktivitas pembelajaran.
3) Langkah yang harus mampu menjawab pertanyaan, apakah program
pembelajaran dapat mengatasi masalah kesenjangan kemampuan siswa?
4) Kesenjangan kemampuan disini adalah perbedaan kemampuan yang dimilki
siswa dengan kemampuan yang seharusnya dimiliki siswa. Contoh pernyataan
kesenjangan kemampuan:
Siswa tidak mampu mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan

setelah mengikuti proses pembelajaran.


Siswa hanya mampu mencapai tingkat kompetensi 60% dari standar
kompetensi yang telah digariskan.
116. Pada saat melakukan langkah ini perlu dibuat pertanyaan - pertanyaan

kunci diantaranya adalah sebagai berikut :


Kemampuan dan kompetensi khusus apa yang harus dimilki oleh siswa setelah
menyelesaikan program pembelajaran?
Indikator apa yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam
mengikuti program pembelajaran?
20

Peralatan atau kondisi bagaimana yang diperlukan oleh siswa agar dapat melakukan
unjuk kompetensi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - setelah mengikuti program
pembelajaran?
Bahan ajar dan kegiatan seperti apa yang dapat digunakan dalam mendukung program
pembelajaran?
117.
c.

Development (pengembangan)
118.

Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi

menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa
multimedia pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Satu
langkah

penting

dalam

tahap

pengembangan

adalah

uji

coba

sebelum

diimplementasikan. Tahap uji coba ini memang merupakan bagian dari salah satu
langkah ADDIE, yaitu evaluasi.
119.
Pengembangan
mengimplementasikan

model

merupakan
desain

sistem

langkah

ketiga

pembelajaran

ADDIE.

dalam
Langkah

pengembangan meliputi kegiatan membuat, membeli, dan memodifikasi bahan ajar.


Dengan kata lain mencakup kegiatan memilih, menentukan metode, media serta strategi
pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam menyampaikan materi atau substansi
program. Dalam melakukan langkah pengembangan, ada dua tujuan penting yang perlu
dicapai. Antara lain adalah :
1) Memproduksi, membeli, atau merevisi bahan ajar yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya.
2) Memilih media atau kombinasi media terbaik yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
120.

Pada saat melakukan langkah pengembangan, seorang perancang akan

membuat pertanyaan-pertanyaan kunci yang harus dicari jawabannya, Pertanyaanpertanyaannya antara lain :
1) Bahan ajar seperti apa yang harus dibeli untuk dapat digunakan dalam mencapai
tujuan pembelajaran?
2) Bahan ajar seperti apa yang harus disiapkan untuk memenuhi kebutuhan siswa
yang unik dan spesifik?
3) Bahan ajar seperti apa yang harus dibeli dan dimodifikasi sehingga dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan siswa yang unik dan spesifik?
4) Bagaimana kombinasi media yang diperlukan dalam menyelenggarakan program
pembelajaran?
21

121.
d.

Implementation (implementasi/eksekusi)
122.

Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan

sistem

pembelajaran yang sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah
dikembangkan diinstal atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya
agar bisa diimplementasikan. Implementasi atau penyampaian materi pembelajaran
merupakan langkah keempat dari model desain sistem pembelajaran ADDIE. Tujuan
utama dari langkah ini antara lain :
1) Membimbing siswa untuk mencapai tujuan atau kompetensi.
2) Menjamin terjadinya pemecahan masalah / solusi untuk mengatasi kesenjangan
hasil belajar yang dihadapi oleh siswa.
3) Memastikan bahwa pada akhir program pembelajaran, siswa perlu memilki
kompetensi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - yang diperlukan. Pertanyaanpertanyaan kunci yang harus dicari jawabannya oleh seorang perancang program
pembelajaran pada saat melakukan langkah implementasi yaitu sebagai berikut :
Metode pembelajaran seperti apa yang paling efektif utnuk digunakan dalam
penyampaian bahan atau materi pembelajaran?

Upaya atau strategi seperti apa yang dapat dilakukan untuk menarik dan
memelihara minat siswa agar tetap mampu memusatkan perhatian terhadap
penyampaian materi atau substansi pembelajaran yang disampaikan?

123.
e. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)
124.

Evaluasi yaitu proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang

sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap
evaluasi bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap
empat tahap di atas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan
revisi.
125.

Evaluasi merupakan langkah terakhir dari model desain sistem

pembelajaran ADDIE. Evaluasi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk


memberikan nilai terhadap program pembelajaran. Evaluasi terhadap program
pembelajaran bertujuan untuk mengetahui beberapa hal, yaitu :
1) Sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran secara keseluruhan.
2) Peningkatan kompetensi dalam diri siswa, yang merupakan dampak dari
keikutsertaan dalam program pembelajaran.

22

3) Keuntungan yang dirasakan oleh sekolah akibat adanya peningkatan kompetensi


siswa setelah mengikuti program pembelajaran. Beberapa pertanyaan penting yang
harus dikemukakan perancang program pembelajaran dalam melakukan langkahlangkah evaluasi, antara lain :
a) Apakah siswa menyukai program pembelajaran yang mereka ikuti selama ini?
b) Seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh siswa dalam mengikuti program
pembelajaran?
c) Seberapa jauh siswa dapat belajar tentang materi atau substansi pembelajaran?
d) Seberapa besar siswa mampu mengaplikasikan pengetahuan, ketrampilan, dan
sikap yang telah dipelajari?
e) Seberapa besar kontribusi program pembelajaran yang dilaksanakan terhadap
prestasi belajar siswa?
126.
Implementasi model desain sistem pembelajaran ADDIE yang
dilakukan secara sistematik dan sistemik diharapkan dapat membantu seorang
perancang program, guru, dan instruktur dalam menciptakan program pembelajaran
yang efektif, efisien, dan menarik.
127.

Konsep Penting Dalam Desain Instruksional Model ADDIE

a. Tahap Analisis
128.

Kosep menarik dari tahap ini adalah bagaimana seorang perancang

instruksional melakukan analisis kinerja untuk mengetahui dan mengklarifikasi


apakah masalah kinerja yang dihadapi memerlukan solusi berupa penyelenggaraan
program pembelajaran atau perbaikan manajemen, apakah masalah tersebut adalah
benar-benar masalah dan membutuhkan upaya untuk penyelesaian. Disamping itu
kemampuan menganalisis kebutuhan, juga merupakan langkah yang sangat penting
untuk menentukan kemampuan-kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari
oleh pemelajar untuk meningkatkan kinerja atau prestasi belajar.
b. Tahap Desain
129.

Langkah penting yang dilakukan dalam tahap desain adalah bagaimana

seorang perancang instruksional mampu menetapkan pengalaman belajar atau


learning experience seperti apa yang perlu dimiliki oleh pemelajar selama mengikuti
aktivitas pembelajaran. Hal tersebut berkaitan juga dengan akltifitas mendesain,
daftar tugas, Perangkat pembelajaran, dan penyusunan strategi tes, dan rancangan
investasi program.
23

c. Tahap Pengembangan
130.

Konsep penting dalam tahap ini adalah bahwa seorang perancang

instruksional harus memiliki kemampuan mencakup kegiatan memilih dan


menentukan metode, media, serta strategi pembelajaran yang sesuai untuk
digunakan dalam menyampaikan materi atau substansi program pembelajaran.
d. Tahap Implementasi
131.

Konsep penting pada tahap implementasi, adalah bagaimana perancang

instruksional mampu memilih metode pembelajaran seperti apa yang yang paling
efektif dalam menyampaikan bahan atau materi pembelajaran. Bagaimana upaya
menarik dan memelihara minat pemelajar agar mampu memusatkan perhatian pada
penyampaian materi.
e. Tahap Evaluasi
132. Konsep penting dari tahapan evaluasi model ADDIE adalah bagaimana
seorang perancang instruksional mampu melakukan evaluasi keseluruhan model,
dari tahap awal sampai akhir. Langkah-langkah yang penting dalam evaluasi model
ADDIE adalah bagaimana menentukan kriteria evaluasi, memilih alat untuk
evaluasi, dan mengadakan Evaluasi itu sendiri. Kegiatan evaluasi setidaknya mampu
menjawab pertanyaan sebagai berikut: bagaimana sikap pemelajar terhadap kegiatan
pembelajaran secara keseluruhan, bagaimana peningkatan kompetensi dalam diri
pemelajar yang merupakan dampak dari keikutsertaan dalam program pembelajaran,
dan keuntungan apa yang dirasakan oleh sekolah akibat adanya peningkatan
kompetensi pemelajar setelah mengikuti program pembelajaran.
133. Kelebihan dan Kekurang Model Desain ADDIE
134.

Kelebihan desain ADDIE


i) Sifatnya lebih sederhana
j) Terstruktur dengan sistematis
k) Mudah dipelajari pendidik

136.
137.
3. Model IDI

24

135. Kekurangan desain ADDIE


1. Waktunya lama
2. Pendidik harus melakukan analisis
kinerja dan kebutuhan

138.

Model

IDI,

dikembangkan

oleh University

Consortium

for

Instructional Development and Technology (UCIDT), pengembangan model IDI


menerapkan

prinsip-prinsip

pendekatan

sistem,

yaitu

penentuan

(define),

pengembangan (develop), dan evaluasi (evaluate). Ketiga tahapan ini dihubungkan


dengan umpan balik (feedback) untuk mengadakan revisi.
a. Tahap Penentuan (Define)
139.

Identifikasi

masalah

dimulai dengan

analisis

kebutuhan

atau

disebut need assesment. Need assesment ini berusaha mencari perbedaan antara apa
yang ada dan apa yang idealnya. Karena banyaknya kebutuhan pengajaran, maka perlu
ditentukan prioritas mana yang lebih dahulu dan mana yang selanjutnya. ada tiga hal
yang perlu dipertimbangkan yaitu: karakteristik siswa, kondisi dan sumber yang
relevan.
b. Tahap Pengembangan (Develop)
140.

Identifikasi tujuan yaitu dengan menganalisis terlebih dahulu tujuan

instruksional yang hendak dicapai, baik tujuan intruksional umum (TIU) dalam hal ini
IDI menyebutkan dengan Terminal Objectives. TIK Merupakan penjabaran lebih rinci
dari TIU.
141.

Dalam menentukan metode pembelajaran, ada beberapa hal yang harus

dipertimbangkan antara lain:


1) Metode apa yang cocok digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan;
2) Bagaimana urutan bahan yang akan disajikan;
3) Bentuk instruksional apa yang dipilih sesuai dengan karakteristik siswa dan
kondisinya (ceramah, diskusi, praktikum, karyawisata, tugas individu/kelompok, dan
lain-lain).
142.
c. Tahap Penilaian (Evaluate)
143.

Setelah program instruksional disusun diadakan tes uji coba untuk

menentukan kelemahan dan keunggulan, serta efisiensi dan keefektifan dari program
yang dikembangkan.
144.

Hasil uji coba yang dilakukan perlu dianalisis terutama yang berkenaan

dengan:

25

1) Apakah tujuan dapat dicapai, bila tidak atau belum semuanya, dimanakah letak
kesalahannya?;
2) Apakah metode atau teknik yang dipakai sudah cocok denganpencapaian tujuantujuan tersebut, mengingat karakteristik siswa yang telah diidentivikasi?;
3) Apakah tidak ada kesalahan dalam pembuatan instrumen evaluasi?;
4) Apakah sudah dievaluasi hal-hal yang seharusnya perlu dievaluasi?
145.
4. Model Desain Research
146.
termasuk

Setiap model penelitian memiliki karakteristik masing-masing,


design research. Walaupun memiliki beberapa karakteristik yang sama

dengan model penelitian lain, design research memiliki karakteristik sebagai berikut
(Cobb et al. 2003; Kelly 2003; Design-Based Research Collective 2003; Reeves et al.
2005; van den Akker 1999, dalam van den Akker et al., 2006: 5).
a. Interventionist : penelitian bertujuan untuk merancang suatu intervensi dalam dunia
nyata;
b. Iterative: penelitian menggabungkan pendekatan siklikal (daur) yang meliputi
perancangan, evaluasi dan revisi;
c. Process oriented: model kotak hitam pada pengukuran input-output diabaikan, tetapi
difokuskan pada pemehaman dan pengembangan model intervensi;
d. Utility oriented: keunggulan dari rancangan diukur untuk bisa digunakan secara
praktis oleh pengguna; serta
e. Theory oriented: rancangan dibangun didasarkan pada preposisi teoritis kemudian
dilakukan pengujian lapangan untuk memberikan konstribusi pada teori.
147.

Berdasarkan karakteristik tersebut, berikut ini adalah salah satu definisi

educational design research yang berikan oleh Barab dan Squire (2004, van den Akker
et al., 2006: 5), yaitu: serangkaian pendekatan, dengan maksud untuk menghasilkan
teori-teori baru, artefak, dan model praktis yang menjelaskan dan berpotensi berdampak
pada pembelajaran dengan pengaturan yang alami (naturalistic).
148.
Sementara menurut Plomp (2007: 13), design research adalah: Suatu
kajian sistematis tentang merancang, mengembangkan dan mengevaluasi intervensi
pendidikan (seperti program, strategi dan bahan pembelajaran, produk dan sistem)
sebagai solusi untuk memecahkan masalah yang kompleks dalam praktik pendidikan,
yang juga bertujuan untuk memajukan pengetahuan kita tentang karakteristik dari
intervensi-intervensi tersebut serta proses perancangan dan pengembangannya. Proses
penelitian pada design research meliputi langkah-langkah seperti halnya proses
perancangan pendidikan (educational design), yaitu analisis, perancangan, evaluasi dan
26

revisi yang merupakan proses siklikal yang berakhir pada keseimbangan antara yang
ideal dengan prakteknya.
149.
Ada beberapa model langkah-langkah pelaksanaan design research,
diantaranya yaitu :
a.

Model Greivemeijer dan Cobb (2006)

150.

Adapun langkah-langkah pada model ini adalah sebagai berikut:

1) Preparing for the Experiment/Preparation and Design Phase


151. Bekker (2004) tujuan utama tahap ini adalah memformulasikan teori
pembelajaran lokal (local instructional theory) yang dielaborasi dan diperbaiki
selama pelaksanaan eksperimen. Hal-hal yang dilakukan dalam tahap ini adalah:
menganalisis tujuan yang ingin dicapai misalnya tujuan pembelajaran;
menentukan dan menetapkan kondisi awal penelitian;
mendiskusikan konjektur dari local instructional theory yang akan
dikembangkan;
menentukan karakteristik kelas dan peran guru; serta
menetapkan tujuan teoritis yang akan dicapai melalui penelitian.
152.
153.
2) Design Experiment
154.

Tahap merupakan tahap pelaksanaan desain eksperimen yang

dilakukan setelah semua persiapan dilakukan. Tahap ini bukan untuk menguji
apakah rancangan dan local instructional theory bekerja atau tidak, tetapi sekaligus
menguji dan mengembangkan local instructional theory yang telah dikembangkan
serta memahami bagaimana teori itu bekerja selama eksperimen berlangsung.
Design eksperimen dilakukan dalam bentuk kegiatan siklikal, misalnya dalam
beberapa kali pembelajaran. Pada tahap ini dikumpulkan data yang diperlukan
meliputi proses pembelajaran yang terjadi di kelas serta proses berpikir siswa baik
dari perspektif sosial yang mencakup norma sosial kelas, sosio-matematik dan
praktik matematik di kelas maupun persfektif psikologi mencakup pandangan
(beliefs) tentang peran sendiri di kelas serta tentang aktivitas matematika; pendangan
dan nilai matematik secara khusus; serta konsepsi dan aktivitas matematika.
3) Restrospective Analysis
155.

Tujuan tahap ini adalah menganalisis data-data yang telah diperoleh

untuk mengatahui apakah mendukung atau sesuai tidak dengan konjektur yang telah
dirancang. Data yang dianalisis meliputi rekaman video proses pembelajaran dan

27

hasil interview terhadap siswa dan guru, lembar hasil pekerjaan siswa, catatan
lapangan serta rekaman video dan audio yang memuat proses penelitian dari awal.
Tahapan ini bergantung kepada tujuan teoritis yang hendak dicapai, sehingga analisis
yang dilakukan untuk mengetahui dukungan data terhadap local instructional theory.
Pada tahap ini dilakukan rekonstruksi dan revisi pada local instructional theory serta
menyajikan suatu isu kemungkinan yang dapat berimplikasi pada teori dan
penerapannya pada konteks dan situasi yang lebih luas. Selain berkonstribusi dalam
mengembangkan pembelajaran di level local instructional theory (instructional
sequence), design research juga berkontribusi dalam mengembangkan di level
aktivitas pembelajaran (microtheories) dan pengembangan di level domain-specific
instruction theory.
b.

Model Plomp (2007:15)


156. Adapun langkah-langkah EDR menurut Plomp adalah sebagai berikut:
1) Preliminary research
157.

Pada tahap ini dilakukan analisis kebutuhan dan konteks, kajian

literatur, mengembangkan kerangka konseptual dan teoritis untuk penelitian.


2) Prototyping stage
158.

Proses perancangan secara siklikal dan berurutan dalam bentuk proses

penelitian yang lebih mikro serta menggunakan evaluasi formatif untuk


meningkatkan dan memperbaiki model intervensi.
3) Assessment phase
159.

Semi evaluasi sumatif untuk menyimpulkan apakah solusi atau

intervensi sudah sesuai dengan diinginkan serta mengajukan rekomendasi


pengembangan model intervensi.
5. Model Jerol E. Kamp ,dkk
160. Model desain sistem pembelajaran yang dikemukakan oleh Jerold E. kemp
dkk. (2001) berbentuk lingkaran atau Cycle. Menurut mereka, model berbentuk lingkaran
menunjukkan adanya proses kontinyu dalam menerapkan desain sistem pembelajaran.
Model desain sistem pembelajaran yang di kemukakan oleh Kemp dkk terdiri atas
komponen-komponen sebagai berikut:

28

a. Mengidentifikasi masalah dan menetapkan tujuan pembelajaran yaitu menentukan


tujuan pembelajaran umum dimana tujuan yang ingin dicapai dalam mengajarkan
masing-masing pokok bahasan.
b. Menentukan dan menganalisis karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain
untuk mengetahui apakah latar belakang pedidikan dan sosial budaya siswa
memungkinkan untuk mengikuti program, dan langkah apa yang perlu diambil.
c. Mengidentifikasi materi dan menganalisis komponen-komponen tugas belajar yang
terkait dengan pencapaian tujuan pembelajaran.
d. Menetapkan tujuan pembelajaran khusus bagi siswa. Yaitu tujuan yang spesifik,
operasional dan terukur, dengan demikian siswa akan tahu apa yang akan dipelajari,
bagaimana mengerjakannya, dan apa ukurannya bahwa siswa telah berasil. Dari segi
guru rumusan itu dalam menyusun tes kemampuan dan pemilihan bahan/materi yang
sesuai.
e. Membuat sistematika penyampaian materi pelajaran secara sistematis dan logis.
f. Merancang strategi pembelajaran. Kriteria umum untuk pemilihan strategi
pembelajaran khusus tersebut: 1) efisiensi, 2) keefektifan, 3) ekonomis, 4)
kepraktisan, peralatan, waktu, dan tenaga.
g. Menetapkan metode untuk menyampaikan materi pelajaran.
h. Mengembangkan instrument evaluasi. Yaitu untuk mengontrol dan mengkaji
keberhasilan program secara keseluruhan, yaitu: 1) siswa, 2) program pembelajaran,
c) instrumen evaluasi.
i. Memilih sumber-sumber yang dapat mendukung aktifitas pembelajaran.
161. Model desain sistem pembelajaran memungkinkan penggunanya untuk
memulai kegiatan desain dari komponen yang mana saja. Model ini tergolong dalam
taksonomi model yang berorientasi pada kegiatan pembelajaran individual atau klasikal.
Model ini dapat digunakan oleh guru untuk menciptakan proses pembelajaran yang
berlangsung di dalam kelas secara efektif, efisien dan menarik.
162. Model ini berbentuk siklus yang memberi kemungkinan bagi penggunanya
untuk memulai kegiatan desain sistem pembelajaran dari fase atau komponen yang mana
pun sesuai dengan kebutuhan.
163. Faktor penting yang mendasari penggunaan model desain sistem pembelajaran
kamp, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kesiapan siswa dalam mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran;


Strategi pembelajaran dan karakteristik siswa;
Media dan sumber belajar yang tepat;
Dukungan terhadap keberhasilan belajar siswa;
Menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuaan pembelajaran;
Revisi untuk membuat program pembelajaran yang efektif dan efisien.

29

6. Model Dick & Carey.


164. Model Dick & Carey adalah model desain pembelajaran yang dikembangkan
oleh Walter Dick, Lou Carey dan James O Carey. Model ini adalah salah satu dari model
prosedural, yaitu model yang menyarankan agar penerapan prinsip disain pembelajaran
disesuaikan dengan langkah-langkah yang harus di tempuh secara berurutan.
165. Model Dick & Carey tertuang dalam bukunya The Systematic Design of
Instruction edisi 6 tahun 2005. Desain pembelajaran menurut sistem pendekatan model
Dick & Carey terdapat beberapa komponen yang akan dilewati di dalam proses
pengembangan

dan

perencanaan

tersebut,

yaitu

memberikan

pedoman

untuk

mengembangkan pembelajaran.
166.
Berikut adalah langkah pengembangan desain pembelajaran menurut
Dick & Carey:
a. Identity Instructional Goal(s)
167.

Tahap awal model ini adalah menentukan apa yang diinginkan siswa

ketika mereka telah menyelesaikan program pembelajaran. Tujuan pembelajaran


mungkin dapat diturunkan dari daftar tujuan, dari analisis kinerja (performance
analysis), dari penilaian kebutuhan (needs assessment), dari pengalaman praktis dengan
kesulitan belajar siswa, dari analisis orang-orang yang melakukan pekerjaan (job
analysis), atau dari persyaratan lain untuk instruksi baru.
b. Conduct Instructional Analysis
168.

Langkah ini, pertama mengklasifikasi tujuan ke dalam ranah belajar

Gagne, menentukan langkah-demi-langkah apa yang dilakukan orang ketika mereka


melakukan tujuan tersebut (mengenali keterampilan bawahan/subordinat). Langkah
terakhir dalam proses analisis pembelajaran adalah untuk menentukan keterampilan,
pengetahuan, dan sikap, yang dikenal sebagai perilaku masukan (entry behaviors), yang
diperlukan peserta didik untuk dapat memulai Pembelajaran. Peta konsep akan
menggambarkan hubungan di antara semua keterampilan yang telah diidentifikasi.
c. Analyze Learners and Contexts
169.

Langkah ini melakukan analisis siswa, analisis konteks di mana

mereka akan belajar, dan analisis konteks di mana mereka akan menggunakannya.
Keterampilan siswa, pilihan, dan sikap yang telah dimiliki siswa akan digunakan untuk
merancang strategi pembelajaran.
d. Write Performance Objectives
30

170.

Pernyataan-pernyataan tersebut berasal dari keterampilan yang

diidentifikasi dalam analisis pembelajaran, akan mengidentifikasi keterampilan yang


harus dipelajari, kondisi di mana keterampilan yang harus dilakukan, dan kriteria untuk
kinerja yang sukses.
e. Develop Assessment Instruments
171.

Langkah ini adalah mengembangkan butir-butir penilaian yang sejajar

(tes acuan patokan) untuk mengukur kemampuan siswa seperti yang diperkirakan dari
tujuan. Penekanan utama berkaitan diletakkan pada jenis keterampilan yang
digambarkan dalam tujuan dan penilaian yang diminta.
f. Develop Instructional Strategy
172.

Bagian-bagian strategi pembelajaran menekankan komponen untuk

mengembangkan belajar pebelajar termasuk kegiatan sebelum pembelajaran, presentasi


isi, partisipasi siswa, penilaian, dan tindak lanjut kegiatan.
g. Develop and Select Instructional Materials
173.

Bahan pembelajaran sudah termasuk segala bentuk pembelajaran

seperti panduan guru, LKS, overhead transparansi, kaset video, komputer berbasis
multimedia, dan halaman web untuk pembelajaran jarak jauh.
h. Design and Conduct Formative Evaluation of Instruction
174.

Evaluasi formatif yaitu evaluasi ahli, evaluasi satu-satu, evaluasi

kelompok kecil, dan ujicoba lapangan. Setiap jenis evaluasi memberikan informasi
yang berbeda bagi desainer untuk digunakan dalam meningkatkan pembelajaran.
Teknik serupa dapat diterapkan pada penilaian formatif terhadap bahan atau
pembelajaran di kelas.
i. Revise Instruction
175.

Strategi

pembelajaran

ditinjau

kembali

dan

akhirnya

semua

pertimbangan ini dimasukkan ke dalam revisi pembelajaran untuk membuatnya


menjadi alat pembelajaran lebih efektif.
j. Design And Conduct Summative Evaluation
176.

Hasil-hasil pada tahap sebelumnya dijadikan dasar untuk menulis

perangkat yang dibutuhkan. Hasil perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan di


kelas/diimplementasikan di kelas dengan evaluasi sumatif
31

7. Model ASSURE
177. Model ASSURE adalah jembatan antara peserta didik, materi, dan semua
bentuk media. Model ini memastikan pengembangan pembelajaran dimaksudkan untuk
membantu pendidik dalam pengembangan instruksi yang sistematis dan efektif. Hal ini
digunakan untuk membantu para pendidik mengatur proses belajar dan melakukan
penilaian hasil belajar peserta didik. Ada enam langkah dalam pengembangan model
ASSURE yaitu: Analyze learner; State objectives; Select instructional methods, media
and materials; utilize media and materials; Require learner participation; Evaluate and
revise.
178.
a. Analyze learner
179.
Langkah

pertama

adalah

mengidentifikasi

dan

menganalisis

karakteristik siswa yang disesuaikan dengan hasil-hasil belajar. Hal yang penting dalam
menganalisis karakteristik siswa meliputi karakteristik umum dari siswa, kompetensi
dasar yang harus dimiliki siswa (pengetahuan, kemampuan dan sikap), dan gaya belajar
siswa.
b. State objectives
180.
Langkah

selanjutnya

adalah

menyatakan

standar

dan

tujuan

pembelajaran yang spesifik mungkin. Tujuan pembelajaran dapat diperoleh dari


kurikulum atau silabus, keterangan dari buku teks, atau dirumuskan sendiri oleh
perancang pembelajaran.
c. Select instructional methods, media and materials
181.
Tahap ini adalah memilih metode, media dan bahan ajar yang akan
digunakan. Dalam memilih metode, media dan bahan ajar yang akan digunakan,
terdapat beberapa pilihan, yaitu memilih media dan bahan ajar yang telah ada,
memodifikasi bahan ajar, atau membuat bahan ajar yang baru.
d. Utilize media and materials
182.
Tahap selanjutnya metode, media dan bahan ajar diuji coba untuk
memastikan bahwa ketiga komponen tersebut dapat berfungsi efektif untuk digunakan
dalam situasi sebenarnya. Untuk melakukannya melalau proses 5P, yaitu: preview
(mengulas) metode, media dan bahan ajar; prepare (menyiapkan) metode, media dan
bahan ajar; prepare (menyiapkan) lingkungan; prepare (menyiapkan) para pemelajaran;
dan provide (memberikan) pengalaman belajar.
e. Require learner participation
183.
Keterlibatan siswa secara aktif menunjukkan apakah media yang
digunakan efektif atau tidak. Pembelajaran harus didesain agar membuat aktivitas yang
memungkinkan siswa menerapkan pengetahuan atau kemampuan baru dan menerima
umpan balik mengenai kesesuaian usaha mereka sebelum dan sesudah pembelajaran.
32

f. Evaluate and revise


184.
Tahap evaluasi dilakukan untuk menilai efektivitas pembelajaran dan
juga hasil belajar siswa. Proses evaluasi dilakukan untuk memperoleh gambaran yang
lengkap tentang kualitas sebuah pembelajaran.
185. Model ASSURE merupakan model desain pembelajaran yang bersifat praktis
dan mudah diimplimentasikan dalam mendesain aktivitas pembelajaran yang bersifat
individual maupun klasikal. Dalam menganalisis karakteristik siswa sangat memudahkan
untuk menentukan metode, media dan bahan ajar yang akan digunakan, sehingga dapat
menciptakan aktivitas pembelajaran yang efektif, efisien dan menarik
186.
187.
8. Model Bela H. Banathy
188. Model Banathy dikembangkan pada tahun 1968 oleh Bela H. Banathy. Model
yang dikembangkannya ini berorientasi pada hasil pembelajaran, sedangkan pendekatan
yang digunakan adalah pendekatan sistem, yakni pendekatan yang didasarkan pada
kenyataan bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan suatu hal yang sangat kompleks,
terdiri atas banyak komponen yang satu sama lain harus bekerja sama secara baik untuk
mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Tahapan model pengembangan instruksional Banathy
meliputi enam tahap, yaitu:
a. Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan umum maupun tujuan yang lebih
spesifik, yang merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai peserta didik.
b. Mengembangkan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai Hal ini
dilakukan agar setiap tujuan yang dirumuskan tersedia alat untuk menilai
keberhasilannya.
c. Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni merumuskan apa yang harus
dipelajari (kegiatan belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka mencapai
tujuan belajar). Kemampuan awal siswa harus dianalaisis atau dinilai agar mereka
tidak perlu mempelajari apa yang telah mereka kuasai.
d. Merancang sistem, yakni kegiatan menganalisis sistem dan setiap komponen sistem.
Dalam langkah ini juga ditetapkan jadwal dan tempat pelaksanaan dari masingmasing komponen instruksional.
e. Mengimplementasikan dan melakukan tes hasil, yakni melatih (ujicoba) sekaligus
men
33

f. ilai efektifitas sistem. Dalam tahap ini perlu diadakan penilaian atas apa yang
dilakaukan siswa agar dapat diketahui seberapa jauh siswa mampu mencapai hasil
belajar.
g. Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi
189.
D. PROSEDUR PENGEMBANGAN BAHAN AJAR
190.

Pengembangan

bahan

ajar

perlu

dilakukan

secara

sistematik

berdasarkan langkah-langkah yang saling terkait untuk menghasilkan bahan ajar yang
bermanfaat. Penatar seringkali mengabaikan prosedur pengembangan bahan ajar yang
sistematik ini karena berasumsi, jika sudah dibuat dengan baik sesuai dengan materi
yang akan diajarkan, maka bahan ajar dapat digunakan dengan efektif dalam proses
pembelajaran. Padahal ada beberapa langkah yang harus dilakukan penatar sebelum
sampai pada kesimpulan bahawa bahan ajar sudah dikembangkan dengan baik, serta
bahan ajar yang digunakan memang baik. Paling tidak ada lima langkah utama dalam
prosedur pengembangan bahan ajar yang baik, sebagai berikut:
1. Analisis
192. Pada tahap ini dicoba untuk mengenali siapa peserta diklat, dengan perilaku

191.

awal dan karakteristik yang dimiliki. Perilaku awal berkenaan dengan penguasaan dan
kemampuan bidang ilmu atau mata tataran yang sudah dimiliki peserta. Seberapa jauh
peserta sudah menguasai mata tataran itu? Sementara itu karakteristik awal
memberikan informasi tentang ciri-ciri peserta.
193. Jika informasi tentang peserta sudah diketahui, maka inplikasi terhadap
rancangan bahan ajar dapat ditentukan, dan bahan ajar dapat segera dikembangkan.
Pengenalan yang baik terhadap perilaku awal dan karakteristik awal peserta sangat
diperlukan untuk menentukan kebutuhan peserta dan kemudian merancang bahan ajar
yang bermanfaat bagi peserta.
194.
2. Perancangan
195.
Dalam tahap perancangan, ada beberapa hal yang harus dilakukan atau
diperhatikan yaitu:
e

Perumusan tujuan pembelajaran berdasarkan analisis,


196.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, akan diperoleh peta atau

diagram tentang kompetensi yang akan dicapai peserta baik kompetensi umum
maupun kompetensi khusus. Kompetensi umum dan kompetensi khusus, jika
dirumuskan kembali dengan kaidah-kaidah yang berlaku, akan menjadi tujuan
34

pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus. Adapun kaidah yang berlaku,
antara lain dengan melengkapi komponen tujuan pembelajaran yaitu Audience,
Behavior, Condition, Degree
197.
f

Pemilihan topik mata tataran


198.

Jika tujuan pembelajaran sudah ditetapkan dan analisis sudah

dilakukan, maka peserta sudah mempunyai gambaran tentang kompetensi yang


harus dicapai oleh peserta melalui proses belajar. Dengan demikian petatar juga
dapat segera menetapkan topik mata tataran dan isinya. Apa saja topik, tema isu
yang tepat untuk disajikan dalam bahan ajar, sehingga peserta dapat belajar dan
mencapai kompetensi yang telah ditetapkan? Apa saja teori, prinsip atau prosedur
yang perlu didiskusikan dalan bahan ajar?
199. Acuan utama pemilihan topik mata tataran adalah silabus dan analisis
instruksional yang telah penatar miliki. Selanjutnya penatar juga dapat menggunakan
berbagai buku dan sumber belajar serta melakukan penelusuran pustaka, yaitu
mengkaji buku-buku tentang mata tataran termasuk encyclopedia atau majalah yang
ada di perpustakaan atau buk.
g

Pemilihan media dan sumber


200.

Pemilihan media dan sumber belajar harus dilakukan setelah penatar

memiliki analisis instruksional dan mengetahui tujuan pembelajaran. Penatar


diharapkan tidak memilih media hanya karena media tersebut tersedia bagi penatar,
disamping itu penetar diharapkan juga tidak langsung terbujuk oleh kesediaan
beragam media canggih yang sudah semakin pesat berkembang saat ini seperti
komputer. Yang perlu diingat, media yang dipilih adalah untuk digunakan oleh
peserta dalah proses belajar. Jadi pilihlah media yang dibutuhkan untuk
menyampaikan topik mata tataran, yang memudahkan peserta belajar, serta yang
menarik dan disukai peserta. Kata kuncinya adalah: Media yang dapat
membelajarkan peserta. Media itulah yang perlu dipertimbangkan untuk dipilih
h

Pemilihan strategi pembelajaran


201.

Tahap pemilihan strategi pembelajaran merupakan tahap ketika

merancang aktivitas belajar. Dalam merancang urutan penyajian harus berhubungan


dengan

penentuan

tema/isu/konsep/teori/prinsip/prosedur

utama

yang

harus

disajikan dalam topik mata tataran. Hal ini tidaklah terlalu sulit jika sudah memiliki
peta konsep dari apa yang ingin dibelajarkan. Jika sudah mengetahuinya maka
35

bagaimana materi itu disajikan, secara umum dapat dikatakan bagaimana struktuk
bahan ajarnya.
202. Berbagai urutan penyajian dapat dipilih berdasarkan urutan kejadian
atau kronologis, berdasarkan lokasi, berdasarkan sebab akibat dan lain sebagainya.
203.
3. Pengembangan
204.
Persiapan dan perancangan yang matang sangat diperlukan untuk
mengembangkan bahan ajar dengan baik. Beberapa saran yang dapat membantu untuk
memulai pengenbangan bahan ajar:
a Tulislah apa dapat ditulis, mungkin berbentuk LKS, bagian dari penyususnan buku
b
c
d

atau panduan praktik


Jangan merasa bahwa bahan ajar harus ditulis secara berurutan
Tulis atau kembangkan bahan ajar untuk peserta yang telah dikenal
Ingat bahan ajar yang dikembangkan harus dapat memeberikan pengalaman belajar

kepada peserta
Ragam media, sumber belajar, aktivitas dan umpan balik merupakan komponen
penting dalam memperoleh bahan ajar yang menarik, bermanfaat dan efektif bagi

peserta
Ragam contoh, alat bantu belajar, ilustrasi serta pengemasan bahan ajar juga

berperan dalam membuat bahan ajar


Gaya penulisan untuk bagian tekstual, naratif, explanatory, deskriptif, argumentatif

dan perintah sangat penting agar peserta dapat memahami maksud penatar.
205.
206.
4. Evaluasi Dan Revisi
207.
Evaluasi merupakan proses untuk memperoleh beragam reaksi dari
berbagai pihak terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Reaksi ini hendaknya
dipandang sebagai masukan untuk memperbaiki bahan ajar dan menjadikan bahan ajar
lebih berkualitas. Evaluasi sangat diperlukan untuk melihat efektifitas bahan ajar yang
dikembangkan. Apakah bahan ajar yang dikembangkan memang dapat digunakan untuk
belajar-dimengerti, dapat dibaca dengan baik dan dapat membelajarkan peserta. Di
samping itu evaluasi diperlukan untuk memperbaiki bahan ajar sehingga nmenjadi
bahan ajar yang baik.
208.
Secara umum ada 4 cara untuk mengevaluasi bahan ajar yaitu
a Telaan oleh ahli materi (lebih ditekankan pada validitas keilmuan serta ketepatan
cakupan)
b Uji coba satu-satu (Salah seorang peserta mengkaji bahan ajar, kemudian diminta
untuk memberikan komentar tentang keterbacaan, bahasa, ilustrasi, perwjahan dan
tingkat kesukaran)

36

Uji coba kelompok kecil (Satu kelompok kecil mengkaji bahan ajar, kemudian
diminta untuk memberikan komentar tentang keterbacaan, bahasa, ilustrasi,

perwjahan dan tingkat kesukaran)


Uji coba lapangan ( Untuk memperoleh informasi apakah bahan ajar dapat mencapai
tujuan?. Apakah bahan ajar dianggap memadai dan seterusnya.
209.
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan maka perbaikan bahan ajar

yang mungkin dilakukan antara lain:


menghilangkan bagian-bagian yang dianggap tidak perlu
Memperluas penkelasan dan uraian atas suatu konsep atau topik yang dianggap

a
b
c
d
e

masih kurang
Menambah latihan dan contoh-contoh yang dianggap perlu
Memilah bahan ajar menjadi bagian-bagian yang lebih mudah dicerna peserta
Memeperbaiki kalimat, istilah, serta bahasa yang digunakan untuk meningkatkan

f
g

keterbacaan
Menambah analogi, ilustrasi dan contoh kasus yang dianggap lebih efektif
Menambah penggunaan media lain yang dianggap dapat memperjelas dan
membantu peserta belajar

210.Perlu diingat bahwa pada komponen yang satu harus diikuti oleh perbaikan dan
penyesuaian pada komponen bahan ajar yang lain, sehingga diperoleh bahan ajar yang
utuh dan terpadu
E. BAHAN AJAR NON CETAK POWER POINT
211. Bahan ajar interaktif adalah bahan ajar yang mengkombinasikan beberapa
media pembelajaran (audio, video, teks atau grafik) yang bersifat interaktif untuk
mengendalikan suatu perintah atau perilaku alami dari suatu presentasi. Bahan ajar
interaktif memungkinkan terjadinya hubungan dua arah antara bahan ajar dan
penggunanya, sehingga peserta didik akan terdorong untuk lebih aktif. Bahan ajar
interaktif dapat ditemukan dalam bentuk CD interaktif, powerpoint, dsb yang dalam
proses pembuatan dan penggunaannya tidak terlepas dari perangkat komputer. Maka dari
itu, bahan ajar interaktif juga termasuk bahan ajar berbasis komputer
212. Kemendiknas (2010) menjelaskan bahwa secara umum pengembangan bahan
ajar non cetak dilakukan melalui beberapa tahap kegiatan. Tahap kegiatan tersebut dapat
digambarkan melalui gambar 1.

213.
214. Gambar 1. Tahap kegiatan bahan ajar non cetak
37

215.
216.

Secara detil kegiatan pengembangan bahan ajar non cetak perlu

dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut:


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Pemilihan materi
Pemilihan GBPM (Garis Besar Program Media)
Review GBPM
Revisi GBPM
Penulisan naskah
Review naskah
Produksi program/bahan ajar
Review program
Revisi program
Implementasi
217.Kegiatan pengembangan bahan ajar non cetak dapat dilihat pada Gambar 2.
218.

Pemilihan Materi

Produksi

Penulisan GBPM

Review dan Revisi Produk

219.
F. BAHAN AJAR CETAK LEMBAR KERJA SISWA (LKS)
220. Menurut Dhari dan Haryono (1988) yang dimaksud dengan lembar kerja siswa
adalah lembaran yang berisi pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang

terprogram. Setiap LKS berisikan antara lain: uraian singkat materi, tujuan kegiatan, alat/
bahan yang diperlukan dalam kegiatan, langkah kerja pertanyaan-pertanyaan untuk
didiskusikan, kesimpulan hasil diskusi, dan latihan ulangan.

38

221. Lembar kerja siswa merupakan bahan pembelajaran cetak yang yang paling

sederhana karena komponen isinya bukan pada materi ajar tetapi pada pengembangan
soal-soalnya serta latihan. LKS sangat baik dipergunakan dalam rangka strategi heuristik
maupun ekspositorik. Dalam strategi heuristik LKS dipakai dalam metode penemuan
terbimbing, sedangkan dalam strategi ekspositorik LKS dipakai untuk memberikan latihan
pengembangan.. Selain itu LKS sebagai penunjang untuk meningkatkan aktifitas siswa
dalam proses belajar dapat mengoptimalkan hasil belajar.
1. Komponen-Komponen LKS
222. Lembar Kerja Siswa atau yang biasa disebut dengan LKS tersusun dengan
komponen-komponen sebagai berikut:
a. Kata pengantar
b. Daftar isi
c. Pendahuluan (berisi analisis / daftar dari tujuan pembelajaran dan indikator
ketercapaian berdasarkan hasil analisis dari GBPP)
d. Bab 1 berisi tentang ringkasan materi/penekanan materi dari pokok bahasan tersebut.
e. Lembar kerja: berisi berbagai soal ataupun penugasan yang akan dikerjakan oleh
siswa
f. Bab 2 berisi tentang ringkasan materi/penekanan materi dari pokok bahasan tersebut.
g. Lembar kerja dst.
h. Daftar pustaka
223.
2. Karakteristik LKS
224.

LKS memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan bahan ajar

lainnya, yakni sebagai berikut:


a. LKS memiliki soal-soal yang harus dikerjakan siswa, dan kegiatan-kegitan seperti
percobaan atau terjun ke lapangan yang harus siswa lakukan.
b. Merupakan bahan ajar cetak.
c. Materi yang disajikan merupakan rangkuman yang tidak terlalu luas pembahasannya
tetapi sudah mencakup apa yang akan dikerjakan atau dilakukan oleh peserta didik.
d. Memiliki komponen-komponen seperti kata pengantar, pendahuluan, daftar isi, dll
225.
3. Prosedur Penyusunan LKS
226. Dalam pembuatan lembar kerja siswa perlu diperhatikan beberapa syarat dan
hal-hal yang penting, diantaranya sebagai berikut.

39

a. Mempunyai tujuan yang ingin dicapai berdasarkan GBPP, AMP, dan buku
pegangan/paket, mengandung proses dan kemampuan yang dilatih, serta
mengutamakan bahan-bahan yang penting.
b. Tata letak harus dapat menunjukkan urutan kegiatan secara logis dan sistematis,
menunjukan bagian-bagian yang sudah diikuti dari awal sampai akhir, serta
desainnya menarik dan indah.
c. Susunan kalimat dan kata-kata memenuhi kriteria berikut: sederhana dan mudah
dimengerti, singkat dan jelas, istilah baru hendaknya diperkenalkan, serta
informasi/penjelasan yang panjang hendaknya dibuat dalam lembar catatan peserta
didik.
d. Gambar ilustrasi dan skema sebaiknya membantu peserta didik, menunjukkan cara,
menyusun, dan merangkai sehingga membantu anak didik berpikir kritis.
227. Agar lebih spesifik lagi pembahasan tentang cara pembuatan Lembar Kerja
Siswa (LKS) maka diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Syarat didaktik
228.

Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai salah satu bentuk sarana

berlangsungnya proses belajar-mengajar haruslah memenuhi persyaratan didaktik,


artinya suatu LKS harus mengikuti asas belajar-mengajar yang efektif, yaitu :
memperhatikan adanya perbedaan individual, sehingga LKS yang baik itu adalah
yang dapat digunakan baik oleh siswa yang lamban, yang sedang maupun yang
pandai, menekankan pada proses untuk menemukan konsep-konsep sehingga LKS
dapat berfungsi sebagai petunjuk jalan bagi siswa untuk mencari tahu, memiliki
variasi stimulus melalui berbagai media dan kegiatan siswa, dapat mengembangkan
kemampuan komunikasi sosial, emosional, moral, dan estetika pada diri siswa,
pengalaman belajarnya ditentukan oleh tujuan pengembangan pribadi siswa
(intelektual, emosional dan sebagainya), bukan ditentukan oleh materi bahan
pelajaran.
b. Syarat konstruksi
229.

Syarat konstruksi adalah syarat-syarat yang berkenaan dengan

penggunaan bahasa, susunan kalimat, kosa kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan yang
pada hakikatnya haruslah tepat guna dalam arti dapat dimengerti oleh peserta didik.
Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan peserta didik,
menggunakan struktur kalimat yang jelas, memiliki taat urutan pelajaran yang sesuai
dengan tingkat kemampuan peserta didik menghindari pertanyaan yang terlalu terbuka,
40

tidak mengacu pada buku sumber yang diluar kemampuan keterbacaan, peserta didik
menyediakan ruangan yang cukup untuk memberi keleluasaaan pada peserta didik
untuk menulis maupun menggambarkan pada LKS, menggunakan kalimat yang
sederhana dan pendek, lebih banyak menggunakan ilustrasi daripada kata-kata,
sehingga akan mempermudah peserta didik dalam menangkap apa yang diisyaratkan
LKS, memiliki tujuan belajar yang jelas serta manfaat dari pelajaran itu sebagai sumber
motivasi, mempunyai identitas untuk memudahkan administrasinya.
c. Syarat teknis
230.

Dari segi teknis LKS memiliki beberapa pembahasan yaitu:

1) Tulisan
231.

Menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin atau

romawi, menggunakan huruf tebal yang agak besar, bukan huruf biasa yang diberi
garis bawah, menggunakan tidak lebih dari 10 kata dalam satu baris, menggunakan
bingkai untuk membedakan kalimat perintah dengan jawaban peserta didik,
mengusahakan agar perbandingan besarnya huruf dengan besarnya gambar serasi.
2) Gambar
232.

Gambar yang baik untuk LKS adalah yang dapat menyampaikan

pesan/isi dari gambar tersebut secara efektif kepada penguna LKS. Yang lebih
penting adalah kejelasan isi atau pesan dari gambar itu secara keseluruhan.
3) Penampilan
233.

Penampilan adalah hal yang sangat penting dalam sebuah LKS.

Apabila suatu LKS ditampilkan dengan penuh kata-kata, kemudian ada sederetan
pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik, hal ini akan menimbulkan kesan
jenuh sehingga membosankan atau tidak menarik. Apabila ditampilkan dengan
gambarnya saja, itu tidak mungkin karena pesannya atau isinya tidak akan sampai.
Jadi yang baik adalah LKS yang memiliki kombinasi antara gambar dan tulisan.
234.
235.
Langkah-langkah prosedur penulisan LKS yaitu sebagai berikut:
236. 1) Melakukan analisis kurikulum; KI, KD, Indikator dan materi pokok.
237. 2) Menyusun peta kebutuhan LKS
238. 3) Menentukan judul LKS
239. 4) Menulis LKS
240. 5) Menentukan alat Penilaian

41

241.

42

242.BAB III
PEMBAHASAN

A Matriks Perbedaan Model Pengembangan


Terdapat berbagai macam model pengembangan yang dapat digunakan untuk
mengembangkan perangkat pembelajaran yang dibuat. Adapun model-model
pengembangan bahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel 1. Matriks Perbedaan Model Pengembangan

No

4D

ADDIE

IDI

Design Research

Greivemijer
dan Cobb

Jerold E,
Kamp

Dick
Ca

Plomp

Define

Analysis

Define

Preparing for
the experiment/
preparation and
design phase

Preliminary
research

Mengidentifika Identif
si masalah dan instruc
menetapkan
l
tujuan
pembelaja-ran

Design

Design

Develop

Design
experiment

Prototyping
stage

Menentukan
dan
menganalisis
karakteristik
siswa

Develop

Develop

Evaluate

Restrospec-tive
analysis

Assessment
phase

Mengidentifika Analyz
si materi dan
learne
menganalissi
contex
komponenkomponen
tugas belajar

Dissemina
te

Implement
ation

Menetapkan
tujuan
pembelaja-ran
43

Condu
instruc
l analy

Write
perfor
e obje

khusus bagi
siswa
5

Evaluatio
n

Membuat
sistematika
penyampaian
materi

Develo
assess
instrum

Merancang
strategi
pembelaja-ran

Develo
instruc
l strate

Menetapkan
metode
pembelaja-ran

Develo
and se
instruc
l mate

Mengembangkan
instrumen
evaluasi

Design
condu
format
luation
instruc

Memilih
sumbersumber belajar

Revise
instruc

10

Revise
instruc

11

Design
condu
summa
evalua

B Matriks Perbedaan Prosedur Penyusunan Bahan Ajar Cetak Lembar Kerja Siswa
dan Non Cetak Powerpoint
Setiap bahan ajar memiliki prosedur penyusunan masing-masing. Oleh karena itu,
instrumen yang dihasilkan oleh setiap bahan ajar juga akan berbeda. Tabel 2 menunjukkan
prosedur penyusunan LKS dan Powerpoint, indikator, sub indikator, dan instrumen untuk
bahan ajar handout.

44

No

Prosedur Penyusunan Bahan


Ajar

Non Cetak Powerpoint

Pemilihan Materi

Indikator

Materi disesuaikan dengan


tujuan
pembelajaran/kompetensi
yang ingin dicapai

Sub Indikator

Pemilihan materi disesuaikan


dengan kompetensi yang ingin
dicapai

M
d
m
tu

a
a. Mencantumkan informasi
identifikasi GBPM secara
lengkap
b. Standar Kompetensi
program sesuai dengan
silabus

Penulisan Garis Besar


Pengembangan Media
(GBPM) Powerpoint

c. Kompetensi dasar
menunjang pencapaian
kompetensi inti
d. Kompetensi dasar ditulis
dengan lengkap dan benar
e. Teknik penyampaian isi
program tepat
f. Mencantumkan informasi
rujukan atau referensi

a. Mencantumkan informasi
identifikasi GBPM secara
lengkap
b. Standar Kompetensi
program sesuai dengan
silabus

c. Kompetensi dasar
menunjang pencapaian
kompetensi inti

d. Kompetensi dasar ditulis


dengan lengkap dan benar

e. Teknik penyampaian isi


program tepat

f. Mencantumkan informasi
rujukan atau referensi

Review dan Revisi GBPM

Melakukan pengecekan dan


memperbaiki kembali
popwerpoint

Perbaikan/revisi powerpoint
sudah sesuai dengan saran
yang diberikan oleh tenaga
ahli

P
re
a

Penulisan Naskah

Penulisan powerpoint sudah


menunjukkan ciri pemakaian
media yang baik

Penulisan powerpoint sudah


menunjukkan ciri pemakaian
media yang baik

P
m
m

45

No

Prosedur Penyusunan Bahan


Ajar

Indikator

Sub Indikator

Review dan Revisi Produk

Melakukan pengecekan dan


memperbaiki kembali naskah
powerpoint

Melakukan pengecekan dan


memperbaiki kembali naskah
powerpoint

P
n
d
a
b

Produksi

Powerpoint yang dibuat telah


bisa digunakan untuk kegiatan
pembelajaran

Powerpoint yang dibuat telah


bisa digunakan untuk kegiatan
pembelajaran

P
b
p

a. Mengembangkan
kemampuan komunikasi
sosial pada diri siswa

L
k
m
d

b. Mengembangkan
kemampuan komunikasi
emosional pada diri siswa

L
k

c. Mengembangkan
kemampuan komunikasi
moral pada diri siswa

L
k
s

d. Mengembangkan
kemampuan komunikasi
estetika pada diri siswa

L
n

a. Penggunaan bahasa

a. Sesuai dengan EYD

L
E

b. Susunan kalimat

b. Susunan kalimat
mengikuti aturan SPOK

S
m

c. Kosa kata

c. Kata-kata yang
digunakan mudah
dipahami dan
menggunakan kata-kata
baku

K
L

Cetak Lembar Kerja Siswa (LKS)

Didaktik

Konstruksi

a. Perbedaan Individual

46

No

Prosedur Penyusunan Bahan


Ajar

Teknis

Indikator

Sub Indikator

d. Tingkat kesukaran

d. Soal-soal yang ada di


LKS bervariasi mulai
dari tingkat paling rendah
sampai tingkat sulit

S
b
m

e. Kejelasan

e. Isi LKS jelas dan


sistematis

Is

a. Tulisan

a. Menggunakan huruf
cetak

L
c

H
b. Menggunakan huruf tebal m
yang agak besar
c
c. Menggunakan tidak lebih
dari 10 kata dalam satu
baris

M
b

d. Menggunakan bingkai
untuk membedakan
kalimat perintah dengan
jawaban peserta didik

T
a
ja

e. Perbandingan besarnya
huruf dengan besarnya
gambar serasi

B
b

b. Gambar

a. Jelas isi atau pesan dari


gambar secara
keseluruhan

G
y

b. Tampilan

a. Kombinasi antara gambar D


dan tulisan
g

47

48

C Matriks Perbedaan Prosedur Pengembangan Bahan Ajar Cetak dan Non Cetak
dengan Model ADDIE
Tabel 3. Matriks Perbedaan Prosedur Pengembangan Bahan Ajar Cetak dan Non Cetak
dengan Model ADDIE
Tahapan Model ADDIE

Uraian

Analysis

Pada tahap ini, kegiatan utama


adalah menganalisis perlunya
pengembangan model/metode
pembelajaran baru dan
menganalisis kelayakan dan
syarat-syarat pengembangan
model/metode pembelajaran baru

Analisis kurikulum

1. Ditinjau dari dokumen


kurikulum (buku guru dan
buku siswa)

Berd
sisw
tersa
men
(kom
tidak

Dalam pelaksanaannya, guru


kesulitan dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran yang sesuai
dengan petunjuk dalam buku guru
dan buku siswa

Dala
kesu
kegi
deng
dan

1. Siswa masih belum kreatif Dibutuhkan suatu Powerpoint


yang mampu meningkatkan
dalam pembelajaran
2. Siswa tidak mandiri dalam kreativitas siswa.
belajar
Powerpoint dapat membantu siswa
untuk belajar mandiri karena
didalam Modul dilengkapi dengan
info pendukung dan latihanlatihan

Dibu
mam
sisw

Powerpoint dapat memuat gambar,


video, grafik, animasi, dll.

Design

Berdasarkan buku guru dan buku


siswa, materi pembelajaran yang
tersaji dalam buku siswa belum
mencapai seluruh kompetensi inti
(kompetensi religius dan sosial
tidak terlalu tampak)

2. Ditinjau dari Perencanaan,


Pelaksanaan, dan Penilaian

a. Analisis Karakteristik
Siswa

Powerpoint

Desain merupakan langkah kedua


dari model dan sistem
pembelajaran ADDIE. Pada
49

LKS
bela
LKS
pend

Tahapan Model ADDIE

Uraian

Powerpoint

langkah ini diperlukan adanya


klarifikasi program pembelajaran
yang didesain sehingga program
tersebut dapat mencapai tujuan
pembelajaran seperti yang
diharapkan
a. Membuat garis besar
isi LKS yang berisi
berisi tentang
penyajian materi

1.
Membuat garis besar isi LKS
yang berisi berisi tentang
penyajian materi
1. Menyiapkan buku referensi,
gambar, dan materi yang
9. Menyiapkan buku
berkaitan dengan materi yang
referensi, gambar, dan
akan digunakan untuk
materi yang berkaitan
mengembangkan Handout,
dengan materi yang
akan digunakan untuk
mengembangkan LKS,

Materi dalam powerpoint meliputi


elastisitas, hokum Hooke,
penerapan sifat elastisitas bahan

Mat
LKS
gas

Adapun sumber belajar yang akan


digunakan adalah:
Buku:
Marthen kanginan. 2014. Fisika
SMA kelas X. Jakarta: Erlangga
Buku siswa Kurikulum 2013 kelas
X

Ada
digu
Buk
Mar
SMA
Buk
X
Buk
X

Buku guru kurikulum 2013 kelas


X
Gambar:

Video:
Aplikasi elastisitas dalam
kehidupan sehari-hari
Pedders Coil Springs
50

Gam

Tahapan Model ADDIE

10. Menentukan
spesifikasi LKS

Uraian

2. Menentukan spesifikasi
Handout

3. Menyusun instrumen penilaian


Handout yang meliputi angket
penilaian untuk ahli materi
dan ahli media, tes hasil
belajar (post-test), dan
angket respon siswa.

11. Menyusun instrumen


penilaian LKS yang
meliputi angket
penilaian untuk ahli
materi dan ahli media,
tes hasil belajar
(post-test), dan angket
respon siswa.
Develop
Develop dalam model ADDIE
berisi kegiatan realisasi rancangan
produk.

Powerpoint

Bagian awal terdiri dari: cover,


judul, video
Bagian isi terdiri dari: paparan
materi, contoh soal
Bagian penutup: Latihan, tugas,
dan daftar pustaka

Instrumen berupa angket


penilaian LKS untuk ahli. Angket
penilaian berbentuk checklist
dengan menggunakan skala
bertingkat yang terdiri dari 5
kategori, yaitu skor 5 (sangat
valid), 4 (valid), 3 (cukup valid), 2
(kurang valid), atau 1 (tidak
valid).
Mengembangkan Powerpoint pada
materi Elastisitas,
dengan tahapan sebagai berikut:
a. Mengembangkan Powerpoint
dengan model ADDIE
sesuai dengan hasil
perancangan.
b. Menilai kualitas Powerpoint
(validasi Powerpoint)
sebelum diujicobakan.

Bag
iden
Tuju
Bela

Bag
Pend
kegi
Bag
eval
Instr
peni
peni
chec
skal
5 ka
valid
(kur
valid

Men
mat
taha
a.

b.

c.
c. Melakukan revisi awal
setelah penilaian kualitas
Powerpoint.
Implementation

Implementasi adalah langkah


nyata untuk menerapkan sistem
pembelajaran yang sedang kita
buat. Artinya, pada tahap ini
semua yang telah dikembangkan
51

Pada tahap ini, peneliti


mengimplementasikan hal yang
terkait dengan pengembangan
Powerpoint pada materi Elastisitas
yang dikembangkan dalam

Pada
men
terka
LKS

Tahapan Model ADDIE

Uraian
diinstal atau diset sedemikian rupa
sesuai dengan peran atau
fungsinya agar bisa
diimplementasikan

Evaluation

Evaluasi yaitu proses untuk


melihat apakah sistem
pembelajaran yang sedang
dibangun berhasil, sesuai dengan
harapan awal atau tidak.

Powerpoint

kegiatan pembelajaran fisika di


sekolah.

pada

a. melakukan revisi akhir


setelah Powerpoint yang
dikembangkan
diimplementasikan dalam
pembelajaran fisika.

a. M
s
d
d
p

b. menghasilkan produk akhir


b. M
yang layak digunakan dalam
y
pembelajaran fisika di sekolah.
p

52

53

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bahan ajar dapat berupa bahan ajar cetak dan bahan ajar non cetak.
2. Terdapat berbagai macam model pengembangan bahan ajar yang dapat digunakan dalam
pembuatan bahan ajar, seperti 4D, ADDIE, EDR, ASSURE, DICK & CAREY, JEROL E KAMP,
BELA H.BANATHY
3. Untuk melihat perbedaan prosedur pengembangan bahan ajar dan non cetak dapat dibuat dalam
bentuk matriks.
B. Saran
Dari bermacam-macam model pengembangan bahan ajar yang ada, diharapkan pendidik/guru
hendaknya mampu menggunakan salah satu model dalam mengembangkan bahan ajar yang dibuat
sehingga mampu memaksimalkan hasil belajar peserta didik

54

DAFTAR PUSTAKA
Akhmad Sudrajat. 2008. Pengembangan bahan ajar.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/24/download-pengembangan-bahan-ajar/
andy-sapta.blogspot.com/2009/01/pengembangan-bahan-ajar-6.html (diakses Oktober 2015)
Arsyad Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Grafindo Persada.
Depdiknas. 2010. Juknis Pengembangan Bahan Ajar SMA. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA
http://ahmadsyahbio.blogspot.com/2010/02/jenis-bahan-ajar-cetak.html (diakses Oktober 2015)
http://dakwahquransunnah.blogspot.com/2012/03/tafsir-surat-al-alaq-1-5.html (diakses Oktober
2015)
http://monalisacurhat.blogspot.com/2013/01/pemilihan-dan-kegunaan-bahan-ajar-dalam.html
(diakses 20 September 2014)
http://ridwan-sururi.blogspot.com/2013/06/makalah-proses-pengembangan-media.html

(diakses

Oktober 2015)
Kemendiknas. 2010. Modifikasi dari Modul Pendamping Pengembangan Bahan Ajar Non Cetak.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Nieveen, Nienke. 1999. Prototyping to Reach Product Quality. In Jan Van den Akker, R.M.
Branch, K. Gustafson, N. Nieveen & Tj. Plomp (Eds). Design Approaches and Tools in
Education and Training. Nederlands: Kluwer Academic Publishers.
Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses
Plomp, Tjeerd. 2007. An Introduction to Educational Design Research. Proceedings of the
seminar conducted at the East China Normal University. Shanghai (PR China). November
23-26, 2007.
Ratna Wilis Dahan. 2011. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Erlangga
Rochmad. 2012. Desain Model Perangkat Pembelajaran. Jurnal Kreano, ISSN : 2086-2334.
Volume 3 Nomor 1, Juni 2012. FMIPA UNNES
Sungkono, dkk. (2003). Pengembangan Bahan Ajar. Yogyakarta: FIP UN
Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional Development for Training
Teachers of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota: Leadership Training
Institute/Special Education, University of Minnesota

55

Alur prosedur kerja pengembangan bahan aja


Input
Kepala sekolah
1. PP No 19/2005
2. Permendiknas No 22/2006
3. Permendiknas No 16/2007
4. Permendiknas No 41/2007
5.PP Nomor 65 Tahun 2013

1. Menugaskan Wakasek
Kurikulum untuk
menyusun perencanaan
pengembangan bahan
ajar
2. Memberi arahan
teknis tentang
pengembangan
bahan ajar

Proses
Wakasek bidang
kurikulum

Output
Guru/MGMP

Membuat perencanaan dan


jadwal kegiatan
pengembangan bahan ajar

Menyusun rambu-rambu
tentang mekanisme
pengembangan bahan ajar

Melakukan analisis kebutuhan


bahan ajar yang meliputi:
Analisis SK-KD;
Analisis sumber belajar;
Pemilihan dan penentuan
bahan ajar

Membuat peta bahan ajar

tidak

Melakukan penyusunan/
pengembangan bahan ajar

Melakukan reviu dan revisi terhadap bahan ajar


yang telah dikembangkan

layak

y
a
Menandatangani bahan ajar
yang telah difinalkan

Memfinalkan bahan ajar yang telah direvisi

Naskah
Bahan Ajar

56

57

Instruksi Kerj a Analisis Kebutuhan Bahan Aj ar

Menyiapkan SK/KD untuk


melakukan analisis kebutuhan

Standar Kompetensi /
Kompetensi Dasar

Menuliskan indikator Pencapaian

Menuliskan materi pembelajaran

Mengembangkan kegiatan
pembelajaran

Menentukan sumber belajar

Menentukan jenis Bahan Ajar yang akan


dibuat

Jenis Bahan Ajar

Analisis Kebutuhan Bahan Ajar telah


dibuat

58

Instruksi Kerj a Penyusunan Peta Bahan Aj ar


Menyiapkan SK-KD untuk menyusun
peta bahan ajar

Standar Kompetensi &


Kompetensi Dasar

Menganalisis materi
pembelajarannya

Menentukan judul bahan ajar yang akan


dikembangkan

Judul Bahan Ajar yang akan


dikembangkan

Penyusunan Peta Bahan Ajar


telah dibua

59

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)


PERTEMUAN 1
PEMUAIAN PADA GAS

Kegiatan 1
Tujuan: Menyelediki pengaruh kalor terhadap pemuaian volume gas
Alat dan bahan :
1. Botol kaca
: 2 buah
2. Air panas
: secukupnya
3. Air dingin
: secukupnya
4. Air kran
: secukupnya
5. Wadah
: 2 buah
6. Selang
: secukupnya
7. Kantong plastik : 1 buah
8. Karet gelang
: secukupnya
9. Pewarna makanan

Langkah Kerja
1. Susun alat dan bahan seperti gambar dibawah !

2. Letakkan botol yang kosong (botol 1) kedalam wadah air hangat! Amati apa yang terjadi pada
air yang telah diberi pewarna di botol 2, lalu jawablah pertanyaan pada nomor 1
3. Ganti wadah air hangat dengan wadah yang berisi air es, ulangi langkah 2 dan jawablah
pertanyaan pada nomor 2!
4. Tuliskan kesimpulanmu di tabel kesimpulan !

60

Ayo kita beraksi !!!

Pertanyaan:
1. Berdasarkan eksperimen yang telah kamu lakukan, apa yang terjadi pada air berwarna
yang terdapat didalam botol 2 setelah botol 1 diletakkan didalam air panas?

Mengapa demikian?

Botol 1 berisi udara, udara termasuk benda gas, ketika botol 1 diletakkan kedalam
wadah berisi air panas, Ini berarti air panas memiliki suhu ___________________
(tinggi/rendah) sehingga volume udara yang terdapat didalam botol 1
___________________ (memuai/menyusut) yang menyebabkan udara dari botol 1
berpindah ke botol 2 melalui selang dan menimbulkan ___________________ pada air
didalam botol 2
Jadi, bagaimanakah pengaruh suhu air panas terhadap volume udara didalam botol 1?

..

..
2. Berdasarkan eksperimen yang telah kamu lakukan, apa yang terjadi pada air berwarna
yang terdapat didalam botol 2 setelah botol 1 diletakkan didalam air dingin?

Mengapa demikian?

..
Ketika botol 1 diletakkan kedalam wadah berisi air dingin, Ini berarti air dingin memiliki
suhu ___________________ (*tinggi/rendah) sehingga volume udara yang terdapat
didalam botol 1 ___________________ (*memuai/menyusut) yang menyebabkan botol

61

1 kekurangan udara, sehingga udara dari botol 2 berpindah ke botol 1 melalui selang dan
menimbulkan air pada botol 2 ___________________
Jadi, bagaimanakah pengaruh suhu air dingin terhadap volume udara didalam botol 1?

..
(cat : * coret yang dianggap salah)
3. Apa yang dapat kamu simpulkan?

Kesimpul
anku
adalah

62