Anda di halaman 1dari 47

GENESA BATUBARA

DEVINA TRISNAWATI, ST, MENG


TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS DIPONEGRORO

FAKTOR FAKTOR PEMBENTUK


BATUBARA
Pembentukan batubara merupakan proses yang kompleks yang harus

dipelajari dari banyak segi, karena ada bermacam-macam proses


yang

berbeda

satu

dengan

lainnya

yang

mempengaruhi

pembentukan batubara, baik derajat maupun jenis batubaranya

pada suatu cekungan (L.E. Schlatters ,1973).

1.

Posisi geotektonik

2.

Topografi purba (paleotopografi)

3.

Posisi geografi (geographical position)

4.

Iklim

5.

Tumbuhan (flora)

6.

Pembusukan (decomposition)

7.

Penurunan dasar cekungan (subsidence)

8.

Waktu geologi (geological age)

9.

Sejarah setelah pengendapan (post-depositional history)

10.

Metamorfosa organik (organic metamorphism)

PEMBATUBARAAN
Pembentukan

tumbuhan

mati menjadi gambut dan


batubara melalui dua tahap,

yaitu

tahap

diagenesa

gambut (peatification) dan

tahap

pembatubaraan

(coalification).

Vegetasi

Gambut

Batubara

Waktu
Suhu

GAMBUT
DIAGENESA GAMBUT (PEATIFICATION)

Tahap Biokimia
Tumbuhan tumbang di rawa
proses biokimia terjadi.

Secara vertikal dibagi menjadi


dua zona :

zona

permukaan

perubahan

berlangsung

dengan bantuan oksigen

zona

tengah

sampai

kedalaman 0,5 m yang disebut


dengan peatigenic layer.

Zona peatigenic terdapat bakteri aerob, lumut, dan actinomyces yang aktif.

Bakteri aerob oksidasi biologi pada komponenn tumbuhan (material utama:


cellulose).

Senyawa protein dan gula terhidrolisa. Cellulose diubah menjadi glikose dengan
cara hidrolisis:

C6H10O5 + H2O C6H12O6


(cellulose)

(glikose)

Jika suplai oksigen berlangsung terus, maka proses ini akan menuju pada
penguraian lengkap dari senyawa organik, yaitu:

C6H10O5 + 6 O2 6 CO2 + 5 H2O

Material tumbuhan membentuk koloid disebut asam humus (humic acid).

Lemak dan material resin umumnya hanya mengalami perubahan sedikit.

Penurunan kandungan oksigen air rawa bertambahnya kedalaman


bakteri-bakteri

aerob mati

sisa tumbuhan

tidak mengalami

proses

pembusukan dan penghancuran yang sempurna, dengan kata lain tidak


terjadi proses oksidasi yang sempurna.

Selanjutnya bakteri-bakteri anaerob melakukan fungsinya melanjutkan proses


pembusukan yang kemudian membentuk gambut (peat).

Penambahan kedalaman kehidupan bakteri makin berkurang dan hanya

terjadi perubahan kimia, terutama kondensasi primer, polymerisasi, dan reaksi


reduksi.

Bakteri anaerob mengkonsumsi oksigen dari substansi organik mengubah lignit


menjadi produk bituminous yang kaya hidrogen tidak tersedia oksigen
hidrogen dan karbon H2O, CH4, CO, dan CO2.

Penambahan kandungan karbon berbandaing lurus dengan pertambahan


kedalaman.

Kandungan karbon yang tinggi pada peatigenic layer disebabkan karena pada

lapisan tersebut kaya substansi yang mengandung oksigen, terutama cellulose


dan humicellulose yang diubah secara mikrobiologi.

Faktor yang mempengaruhi proses


humifikasi
Bakteri dapat beraktivitas dengan baik adalah kondisi lingkungan :

Keasaman air, yaitu pada pH 7,0-7,5 (netral).

Kedalaman, yaitu pada kedalaman sekitar 0,5 m untuk bakteri aerob,


sedangkan untuk bakteri anaerob bisa sampai kedalaman 10 m.

Suplai oksigen, akan menurun mengikuti kedalaman.

Temperatur lingkungan, pada suhu yang hangat akan mendukung


kehidupan bakteri.

Transformasi organik dalam kaitannya dengan

ketersediaan oksigen :

Disintergrasi
Tumbuhan bereaksi dengan oksigen dan merapuh menghasilkan zat
terbang, terutama CO2, metan, dan air. Umumnya menghasilkan sisa yang
tidak padat. Beberapa unsur utama tumbuhan akan lebih tahan pada tipe
ubahan ini, misal resin dan lilin.

Humifikasi atau pembusukan


tumbuhan terubah menjadi humus akibat oleh terbatasnya oksigen dari
atmosfir dan tingginya kandungan air lembab. Batubara yang dihasilkan
berupa humic coal.

Proses penggambutan (peatification),


Keadaan muka air tinggi di atas lapisan yang terakmulasi dapat
mencegah terjadinya oksidasi, akibatnya pada lingkungan yang reduksi
dan adanya bakteri anaerob, jaringan-jaringan tumbuhan menjadi

hancur, kemudian terakumulasi dan menjadi gambut, selanjutnya akan


menghasilkan humic coal.

Putrefaction (permentasi)
Peruraian hancuran tanaman akuatik (terutama algae), bahan hanyutan,

dan plankton dalam lingkungan reduksi pada kondisi air diam (stagnant),
hasilnya membentuk sapropel, sedangkan batubara yang dihasilkan

adalah batubara sapropelik.

Perbedaan Gambut dan Brown


Coal
Parameter pembanding

Gambut

Brown coal

Kelembaban

> 75%

< 75%

% Karbon

< 60%

>60%

Celulose bebas

Ya

Tidak

Dapat di potong

Ya

Tidak

Bentuk

PEMBATUBARAAN
DIAGENESA BATUBARA (COALIFICATION)

Tahap Geokimia
Menurut Stach (1972) tahap geokimia atau tahap pembatubaraan

disebut sebagai tahap fisika-kimia (physicochemical stage), yaitu


tahap perubahan dari gambut menjadi batubara secara bertingkat
(brown coal, sub-bituminous coal, bituminous coal, semi anthracite,

anthracite, meta-anthracite) yang disebabkan oleh peningkatan


temperatur dan tekanan.

Perubahan-perubahan fisika-kimia
pada proses coalification:

Tahap pertama
Pembentukan peat, Proses berlangsung terus sampai membentuk endapan,
di bawah kondisi asam menguapnya H2O, CH4, dan sedikit CO2 membentuk
C65H4O30 yang dalam kondisi dry basis besarnya analisa pada ultimate adalah
karbon 61,7%, hidrogen 0,3%, dan oksigen 38,0%.

Tahap kedua
Tahap lignit >> bituminous tingkat rendah dengan susunan C79H55O141 yang
pada kondisi dry basis adalah karbon 80,4%, hidrogen 0,3%, dan oksigen
19,1%.

Tahap ketiga
peningkatan batubara bituminous tingkat rendah >> tingkat medium dan kemudian
sampai batubara bituminous tingkat tinggi. Pada tahap ini kandungan hidrogen tetap

dan oksigen berkurang sampai satu atom oksigen tertinggal di molekul.

Tahap keempat,
Kandungan hidrogen berkurang, sedangkan kandungan oksigen menurun lebih lambat
dari tahapan sebelumnya. Hasil sampingan tahap tiga dan empat adalah CH4, CO2,
dan sedikit H2O.

Tahap kelima
Proses pembentukan antrasit kandungan oksigen tetap dan kandungan hidrogen

menurun lebih cepat dari tahap-tahap sebelumnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi


derajat/rank/peringkat batubara

Tekanan, Temperatur & Waktu

Penambahan tekanan >> penambahan temperatur.

Kenaikan temperatur juga meningkat dengan bertambahnya kedalaman


yang disebut gradien geotermal

Kenaikan temperatur dan tekanan juga disebabkan oleh aktivitas magma


dan aktivitas tektonik lainnya.

Peningkatan tekanan dan temperatur pada lapisan gambut akan

mengkonversi gambut menjadi batubara dimana terjadi proses


pengurangan kandungan air, pelepasan gas-gas (H2O, CH4, CO, dan
CO2), peningkatan kepadatan dan kekerasan, serta peningkatan kalor.

Faktor tekanan dan temperatur serta waktu merupakan faktor-faktor yang

menentukan kualitas batubara.

Pada tahap ini terjadi perubahan rombakan tumbuhan dari kondisi reduksi ke
suatu seri menerus dengan prosentase karbon makin meningkat dan prosentase
oksigen serta hidrogen makin berkurang.

Sifat fisik maseral mulai terbentuk, seperti kenaikan reflektansi maseral batubara
seiring dengan naiknya derajat proses kimia-fisika.

Meningkatnya tekanan dapat disebabkan oleh penambahan ketebalan lapisan

penutup (lapisan sedimen di atasnya) atau penurunan post-depositional.

Akibat tekanan yang tinggi, maka porositas pada gambut akan menurun dan
sejalan dengan terdekomposisinya senyawa OH grup akan mengakibatkan
menurunnya kandungan air.

Grup senyawa yang lain (COOH, CH3, CO) akan terpecah, sehingga terbentuk
karbondioksida dan makin meningkatnya oksigen yang hilang, maka kandungan
karbon akan meningkat.

Derajat batubara tergantung pada temperatur, yaitu dapat akibat terobosan


batuan beku, gradien geotermal, dan konduktifitas panas batuan.

Contoh pada sedimen Tersier di Upper Rhein Graben dengan gradien


hidrotermal

7-80C/100

m,

kedalaman

1500

sedangkan

m,

menghasilkan

di

batubara

daerah

bituminous

dingin

yang

pada

gradien

hidrotermalnya 40C/100m dapat mencapai derajat yang sama pada


kedalaman 2600m.

Faktor waktu menurut hasil penelitian pada gambut lepas setebal 10-12 ft
akan menghasilkan 1 ft gambut padat memerlukan waktu sekitar 100
tahun.

Dalam proses dari gambut menjadi batubara terjadi pemampatan dan jika
diambil contoh kayu sebagai basis (100%) pembentukan gambut dan
batubara, maka perbandingan volume dalam % adalah:

Gambut

= 28 - 45%

Lignite

=17 - 28%

Bituminous coal =10 - 17%

Anthracite

= 5 - 10%

Jika diasumsikan bahwa waktu yang diperlukan untuk

menghasilkan 1 ft gambut termampatkan adalah 100 tahun,


maka dengan menggunakan persentasi di atas dapat
diasumsikan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk akumulasi
gambut hingga diperoleh ketebalan batubara 1 ft, yaitu:
- Lignite

= 160 tahun

- Bituminous

= 260 tahun

- Anthracite

= 490 tahun

Pengaruh waktu berbanding lurus dengan pengaruh temperatur

Di Gulf Coast of Louisiana yang mengandung batubara Miosen Akhir,


terbenam pada kedalaman 5440 m selama 17 juta tahun dengan

temperatur 1400C menghasilkan high volatile bituminous (35-40% VM),


sedangkan pada batubara Karbon dengan kedalaman yang sama
selama 270 juta tahun hanya mencapai low volatile bituminous (14-16%

VM).

Lignit di Moscow Basin yang berumur Karbon Bawah, tetapi sampai


sekarang tidak pernah menjadi batubara, karena temperaturnya tidak

tercapai.

Dapat

disimpulkan

bahwa

faktor-faktor

yang

mengendalikan

derajat/rank/peringkat batubara adalah:

Derajat batubara sebelum terganggu kegiatan intrusi atau struktur geologi.

Ukuran dan bentuk kegiatan intrusi atau struktur geologi.

Jumlah dan asal tekanan.

Jarak batubara dari gangguan.

Suhu batubara dari gangguan

Lama gangguan berlangsung.

Tempat Terbentuknya Batubara

Tempat Terbentuknya Batubara

Insitu

autochtone

Esksitu/ drift

allotochtone

Batubara

Autochthonous

Batubara

yang

bahan-bahan

pembentuknya

berasal

dari

tumbuhan yang tumbang di tempat tumbuhnya dan membentuk


batubara di tempat itu juga.

Ciri ciri
1.

Hadirnya seat earths.

2.

Ada struktur akar tumbuhan yang tegak terhadap bidang perlapisan.

3.

Ada pokok (tunggul) pohon yang tumbuh di tempat itu.

4.

Batubaranya relatif bersih, kadar abunya relatif kecil, baik pada lapisan
batubara maupun lapisan antar seam.

5.

Umumnya berasosiasi dengan lingkungan rawa dengan drainase buruk.

6.

Sebarannya luas dan merata di seluruh lapangan batubara.

7.

Ketebalannya seragam (kurang bervariasi) cenderung tipis dan berbentuk


lentikuler.

8.

Hadirnya batupasir kuarsa halus atau ganister.

9.

Kandungan karbonan berangsur pada kontak antara batubara dengan


lapisan sedimen di atasnya (roof).

10.

Berasosiasi dengan lingkungan floating swamps, low-lying swamps, dan raised


swamps.

11.

Maceral terawetkan secara baik dan hadir litotipe vitrain, clarain, durain, dan
fusain.

Allochthonous

Batubara yang bahan pembentuknya (bagian-bagian dari


tumbuhan) berasal dari tempat lain dimana tumbuhan asal
berada, kemudian tertransport, terendapkan, dan membentuk
batubara.

Ciri ciri
1.

Tidak adanya seat earths.

2.

Tidak dijumpainya struktur akar tumbuhan atau pokok pohon yang tegak
terhadap bidang perlapisan.

3.

Ketebalan dan kualitas lebih bervariasi.

4.

Berasosiasi dengan endapan delta.

5.

Kontaknya tegas (tiba-tiba) antara batubara dengan lapisan sedimen di


atasnya.

6.

Batubara yang berasosiasi dengan lingkungan marin.

7.

Hadirnya coal balls pada batupasir lapisan penutup.

8.

Sebarannya tidak luas dan tersebar pada beberapa tempat.

9.

Kadar abunya relatif lebih tinggi, banyak pengotornya.

10.

Mengandung maceral yang resisten seperti liptinites dan inertinites dengan


mineral matter yang melimpah.

FASIES BATUBARA

Fasies batubara berhubungan dengan tipe genetik batubara yang

diekspresikan melalui komposisi maseral, komposisi mineral, komposisi


kimia dan tekstur (Taylor&Teichmuller, 1993)

Faktor faktor yang


mempengaruhi fasies batubara

Tipe pengendapan

Rumpun tumbuhan pembentuk

Lingkungan pengendapan

Supply Nutrien

pH, aktivitas bakteri, persediaan sulfur

Temperatur gambut

Potensial redok

Tipe Pengendapan

Authochtonous / Allochtonous

Hampir semua endapan batubara yang terkenal (ekonomis) diendapkan


secara

autochtonous,

karena

batubara

yang

diendapkan

secara

allochtonous biasanya berupa detritus halus, kandungan mineral tinggi dan

lapisan tipis (microlayering).

Gambut terhancurkan menjadi detritus halus dan terendapkan kembali.


Dekomposisi

tumbuhan juga berlangsung selama proses transport oleh air

(angin) sehingga maseral yang tahan terhadap proses dekomposisi akan


terkonsentrasi pada sedimen klastik.

Rumpun Tumbuhan Pembentuk


Berdasarkan rumpun tumbuhan pembentuknya maka dikenal 4 tipe rawa :

Rawa daerah terbuka dengan tumbuhan air (in part submerged).

Pada daerah ini sebagian tumbuhan terendam air dan jenis tumbuhannya
bisa bermacam-macam. Jenis tumbuhan ini juga sangat dipengaruhi oleh

pengaruh air laut atau tidak (tawar, payau dan asin).

Rawa terbuka dengan tumbuhan alang-alang (Open reed swamp)

Daerah ini hanya ditumbuhi oleh jenis rumput-rumputan yang


membutuhkan banyak air.

Rawa Hutan (Forest swamps)


Rawa dengan tumbuhan kayu.

Rawa Lumut (Moss swamps)


Rawa dengan tumbuhan lumut-lumutan.

Rawa gambut berdasarkan


tumbuhan pembentuknya

Bog

Lumut/ tanaman rambat yan


miskin kandungan makanan

Fenogeni

Kaya perdu & beberapa jenis


pohon lain. Terletak pada
lingk.ombrogenik

Marsh

Dominasi tanaman perdu/


tanaman merambat lainnya
yg umum di sekitar danau/laut

Swamp

Daerah basah pada iklim tropis


dingin yg tumbuh rawa dgn
dominasi tanaman berkayu

Lingkungan Pengendapan

Telmatis / terrestrial (kadang terendam air)

Lingkungan pengendapan ini menghasilkan gambut yang tidak


terganggu dan tumbuh di situ (forest peat, reed peat dan high
moor moss peat).

Limnis / subaquatik
Lingkungan bawah air, terendapkan di rawa danau,
Batubara yang terendapkan pada lingkungan telmatis dan limnis
sulit dibedakan karena pada forest swamp biasanya ada bagian
yang berada di bawah air (feed swamp).

Payau / marine
Batubara yang terbentuk pada lingkungan ini mempunyai ciri khas : Kaya
abu, S dan N dan mengandung fosil laut. Untuk daerah tropis biasanya
terbentuk dari mangrove (bakau) dan kaya S. Tingginya S akibat naiknya
kemampuan ion Sulphat dari air laut dan oleh aktifitas anaerobik bakteri.
Banyaknya H dan N berasal dari protein tubuh bakteri

Ca-rich
Batubaranya mempunyai ciri yang sama dengan yang terendapkan
pada lingkungan marine. Lingkungan pengendapan pada batuan
gamping atau campuran air yang kaya akan Ca dari daerah sekitarnya
mengurangi keasaman gambut. Akibatnya aktifitas bakteri naik sehingga
degradasi tumbuhan menjadi makin tinggi.
Ca-rich coal selalu terjadi pada lingkungan bawah air dengan kondisi
oksigen terbatas. Sisa binatang (tulang yang kaya Ca) yang seharusnya
terlarutkan oleh asam humin, maka pada Ca-rich akan terawetkan
dengan baik. Sehingga pada batubara yang terendapkan pada
lingkungan ini akan banyak fosilnya.

Persediaan Bahan Makanan

Berdasarkan banyak sedikitnya


bahan makanan
yang bisa
digunakan dibagi menjadi: Rawa Eutrophic (kaya bahan
makanan), Rawa Mesotrophic (Sedang) dan Rawa Oligotrophic
(kurang)
Topogenic low moor biasanya eutrophic (kaya bahan makanan)
karena menerima air dari air tanah yang banyak mengandung
bahan makanan terlarut.
Sementara Hoch moor adalah oligotropic karena hanya
mengandalkan air hujan.
Transisi antara topogenic low moor dan Hoch moor disebut
mesotrophic.
Di bawah kondisi hidrologi yang seragam maka tumbuh-tumbuhan
rawa eutrophic banyak spesiesnya, sedangkan pada Oligotrophic
tidak banyak spesiesnya

pH, Aktifitas Bakteri dan Sulfur


Keasaman gambut sangat mempengaruhi keberadaan
bakteri sehingga dengan demikian akan sangat
mempengaruhi pengawetan sisa tumbuhan.
Contohnya : Akibat pengaruh laut / Ca-rich, lingkungan
pengendapan yang Alkalin (basa) mengakibatkan
dekomposisi struktur yang kuat, dengan pembentukan
Humin gel dan produk penggambutan yang kaya akan
N dan H.
Low moor peat mempunyai pH 4,8 - 6,5

High moor peat mempunyai pH 3,3 - 4,6

Temperatur

Temperatur permukaan gambut memegang


peran yang sangat penting untuk proses
dekomposisi primer.

Iklim yang hangat dan basah membuat bakteri


hidup dengan lebih
baik sehingga prosesproses kimia akibat bakteri bisa berjalan dengan
lebih baik.

Temperatur tertinggi untuk Bakteri penghancur


sellulose pada gambut adalah 35 - 400C.

Potensial Redox

Potensial redox (Eh) memegang peranan yang penting untuk


aktifitas bakteri dan penggambutan.

Persediaan O2 menentukan
berjalan atau tidak

Penggambutan terjadi di permukaan kalau oksigen terbatas

apakah

proses

penggambutan