Anda di halaman 1dari 67

Log In

Sign Up

MAKALAH IBADAH

Uploaded by
Arif Syarifudin

top 2%

1,884

Allah mensifati orang mukmin pada sisi turunnya Al Qur'an dengan:"


Orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka
merasa gembira
".(QS. At TAubah: 124)Dan Utsman bin Affan pernah berkata:'Jika hati kalian suci kalian
tidak bakalkenyang dengan firman Rabb kalian"Oleh karena itu kita jumpai para salafush
sholih yang mampu mengkhatamkan AlQur'an dalam satu malam pada waktu yang
berfadhilah, diantara nereka adalah ImamAbu Hanifah, Atha' bin Saib (wafat: 137H), Yahya
bin Qathan (wafat: 198 H), danImam Syafei (wafat: 204 H), semoga Allah merahmati
mereka.Dan di antara mereka ada yang mengkhatamkan Al Qur'an dalam dua
malam,diantaranya Sa'id bin Jubair, Aswad bin Yazid (wafat: 75H), Mus'ar bin Kadam(wafat:
152 H), semoga Allah merahmati mereka.Dan sudah selayaknya di sini saya sebutkan hukum
menghatamkan Al Qur'an kurangdari tiga hari ditinjau dari sabda Rasulullah SAW:




"Belum paham siapa yang membaca Al Qur'an (menghatamkan AL qur'an kurang daritiga
hari".
Dan Imam Ahmad berpendapat dengan riwayat dari Abu Ubaidah dan yang lainnyamakruh.
Sebagaian besar ulama berpendapat memperbolehkannya. Imam Nawawi berkata dalam kitab
At Tibyan setelah menyebutkan pendapat para salaf dalammasalah itu:"Dan yang paling

banyak apa yang kami mampu dalam satu hari satumalam 4 kali khatam dalam satu malam
dan empat kali pada siang harinya. Dan yangdipilih bahwa yang demikian itu berbeda dengan
perbedaan kemampuan manusia dan barang siapa dengan kecerdasannya dapat memahami
seni dan makna ayat makahendaknya ia memperpendek waktu bacaannya kerena
pemahamnan yang sempurnayang ia dapatkan. Dan begitu juga bagi mereka yang sibuk
menyebarkan agama dandalam pemerintahan orang muslim atau yang selainnya dari
kepentingan agama dankesejahteraan kaum muslimin maka hendaknya ia membatasi dirinya
ataskemampuannya karena kesibukan yang ia jalani.Maka bersegargeralah wahai saudara dan
asaudariku! Untuk memakan makanan
ruhiyah, dari hidangan Allah taala yakni al quranul karim, cukuplah bagi kamukelezatannya,
sesungguhnya al quran adalah pejaran dari Allah taala maka terimalah pelajaranNya sungguh
Alllah taala senang m
emulyakan hambaNya yang berimanmeski ia tidak berada dalam pendidikanNya lalu
bagaiaman jika berada dalam pendidikanNya?.
5.
bersedih atas ketaatan yang luput.

Di antara tanda rasa kelezatan beribadah adalah seorang mukmin jika lepas darinyasuatu
kebaikan dia akan bersedih, bersedih sehingga terlepasnya kebaikan tersebuttidak terulang
lagi. Bersedih karena yang lainnya telah mendahului menuju Allah.Sebagaiman kesedihan
orang-orang yang tertinggal jihad di dalam perang 'asarahmaka'
lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karenakesedihan, lantaran
mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan
.(QS.9: 92). Dan sebagimana kesedihan Abdullah bin Umar ra yang tertinggal jihad,dia
berkata: "saya datang meminta ikut serta kepada Rasulullah
Sallahualaihiwasallam akan tetapi beliau tidak mengizinkan menganggap saya masih
kecil, tidak pernah kulalui malam-malam seperti yang kulalui waktu itu dalamkegundahan
kesedihan dan tangis karena Rasulullah tidak menerimaku, kemudian pada tahun selanjutnya
saya meminta untuk ikut serta alhamdulillah bealiaumengizinkan, sebagaiaman Muadz bin
jabal juga menangis ketika menjelang ajalnyaseraya berkata: itulah Sa'id bin Abdul Aziz At
Tanukhi ra (wafat 167 H) jika terlepasdari sholat jamaah dia menangis.Berkata Sulaiam bin
Hamzah Al Maqdisi ra (wafat 715 H):"Saya tidak pernah sholatsendirian kecuali hanya dua
kali dan seolah-olah aku tidak sholat (ketika sholatsendirian tersebut).
6.
Berangan-angan untuk mati karena kerinduannya bertemu dengan Allahuntuk mendapatkan
kelezatan yang besar.
Sebagian dari tanda orang yang merasakan kelezatan dalam beribadah adalah diarindu untuk
bertemu dengan Allah SWT sehingga dia betah mendengarkan danmembaca firman-firmanNya, sholat dan memerangi hawa nafsunya, shoum untuk mendapatkan ketaqwaan kepadaNya. Akan tetapi dia tidak akan merasakankebahagiaan dengan melihat-Nya (karena dia
masih di dunia-pent) sehingga ia terus-menerus memanjatkan doa:

"Ya, Allah aku mohon kepada-Mu kelezatan memandang wajah-Mu yamg mulia danmohon
agar aku senantiasa merindukan perjumpaan dengan-Mu"
sabda Rasulullah SAW:


"Sesungguhnya jannah itu merindukan kepada tiga orang, yaitu Ali, Umar danSalman" Jadi
bukan hanya mereka yang merindukan jannah bahkan jannah sendiriyang merindukan mereka
karena bersegera dan banyaknya amal mereka sertakeutamaan mereka sehingga Allah
menjadikan mereka dalam pemeliharan-Nyadengan nikmat dan kasi-sayang-Nya.:

Seandainya Anda mengatakan kepadaku, matilah. matilah maka saya akan mendengar dan
taatDan akan kukatakan kepada penyeru kematian: Selamat datang.Inilah kebenaran
kerinduan bertemu dengan Allah SWT dan ketakutan dirinya ataslemahnya iman di hari-hari
yang akan datang. Akan tetapi bagi siapa yang cinta akankekekalan dunia dan berhasrat
menambah kebaikan serta memberi manfaat kepadakaum muslimin sesungguhnya ia akan
dibalas dengan idzin Allah Ta'ala sesuaidengan niatnya. Rasulullah SAW bersabda:


" Janganlah salah seorang di antara kalian berangan-angan mati, jika ia seorang yang baik
(muhsin) siapa tahu Allah akan menambah kebaikannya dan jika dia seorangyang jahat siapa
tahu dia akan berhenti".
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Kritik dan Saran
Tiada kesempurnaan di dunia ini, kami sangat mengharapkan kritik maupun saran
darimakalah ini tujuannya hanyalah demi kesempurnaan. Dan semoga makalah ini
bermanfaat.Amin

Job Board

About

Press

Blog

Stories

Terms

Privacy

Copyright

We're Hiring!

Help Center

Academia 2015

Sepatutnya bagi seorang muslim haruslah menyadari bahwa Agamanya ini merupakan Agama
yang telah diturunkan Oleh Alloh Subhanahu wa Ta'ala memang untuk kepentingan hidup
manusia , itulah sebabnya tidak ada sesuatupun dari yang telah diperintahkan oleh Alloh
Ta'ala dan juga Rosul-Nya untuk dikerjakan kecuali padanya terdapat banyak kebaikan serta
hal hal yang memang bermanfaat bagi kehidupan manusia itu sendiri .
Begitupun sebaliknya bahwa tidak ada sesuatupun dari yang telah dilarang oleh Allohu Ta'ala
dan juga Rosul-Nya untuk dikerjakan melainkan padanya mengandung berbagai keburukan
serta hal hal yang akan merugikan bagi kehidupan manusia itu sendiri . Selanjutnya ,
dan tentunya bagi seorang muslim sudah sepatutnya kita untuk memperhatikan daripada
perintah - perintah serta yang menjadi larangan - larangan dari Alloh Ta'ala dan juga RosulNya tersebut itu , dan yang kesemuanya itu telah disebutkan didalam Al-Qur'an dan juga
Hadits - Hadits Nabi sholallohu alaihi wa salam . Oleh sebab itulah pentingnya atau bahkan
wajibnya bagi setiap muslim untuk mempelajari Agamanya ,sehingga dengan begitu mereka
akan dapat mengetahui dari apa - apa yang memang telah diperintahkan ataupun yang
dilarang atas mereka itu .
Dan hal yang juga perlu untuk diketahui ,bahwa yang namanya manusia itu telah diciptakan
dengan memiliki 2 unsur yaitu jasad dan juga ruh , maka dari itu ajaran Islam ini dengan
segala perintah dan laranganya yang tersebut itu, bila manusia mau memperhatikanya
mempelajarinya dan juga mau memikirkanya disertai dengan melakukan bentuk
penghayatan /perenungan yang benar , maka pastilah mereka akan sampai kepada satu
kesimpulan yaitu bahwasanya Agama Islam ini adalah Agama yang memang diciptakan
untuk kebaikan hidup manusia . Sebab itu Islam datang dengan membawa ajaran yang bukan
saja untuk mengurusi bagi hidup manusia secara lahiriah / jasad mereka semata namun juga
terhadap hal - hal yang berhubungan dengan persoalan bathin /ruh mereka. Jadi tidak benar
bila ada orang /pihak yang mengatakan bahwa Agama Islam ini cuma mengurusi hal - hal
keakheratan semata ,tetapi sebenarnya Agama Islam ini juga mengurusi hal hal keduniaan
bagi
manusia
.
Wal hasil ,Islam sebagai Agama dari keseluruhan bagi Ajaranya telah meliputi semua perkara
perkara untuk pencapaian kebahagian hidup manusia didunia serta bagi keselamatan hidup
manusia diakhirat kelak ,sehingga dari itu tidak ada sesuatupun yang terlewatkan ataupun
yang terlupakan ataupun yang ditinggalkan dalam Ajaran Islam ini dari hal - hal yang
memang dibutuhkan oleh setiap manusia guna yang mengatur untuk kebaikan hidup dan
kehidupan mereka baik yang berkaitan dengan persoalan dunia ataupun akhirat mereka
,demikian pula bagi urusan yang berhubungan dengan permasalahan untuk jasad maupun ruh
mereka.
Setiap dari perintah ataupun dari semua larangan Alloh dan Rosul-Nya bila dipatuhi berarti
kita telah beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala dengan sesuatu yang telah dicintai
lagi diridhoi-Nya, dari itu berikut dibawah ini kita sampaikan pembagian /jenis daripada
Ibadah dengan beberapa bentuknya yaitu sbb :
1.

Pembagian bentuk serta jenis Ibadah. Bentuk (wujud ) Ibadah. Sebagaimana yang telah
disebutkan oleh para Ulama ketika memberikan definisi tentang makna Ibadah yaitu
sebuah nama yang mencakup bagi segala sesuatu dari yang dicintai dan diridhoi oleh
Alloh Subhanahu wa Ta'ala baik dari perkataan ataupun perbuatan baik yang lahir

maupun yang bathin, maka dari definisi tersebut dapatlah diketahui bahwasanya bentuk
ataupun wujud dari sebuah Ibadah itu ada 2 kategori yaitu :
a. Ibadah yang berupa perkataan baik yang bersifat lahir maupun perkataan yang bersifat
bathin. Contoh dari perkataan yang lahir seperti : berdzikir ,berdoa ,membaca AlQuran ...dsb ,dan sedangkan contoh dari perkataan yang bathin seperti
:membenarkan /Tasdiq sebagaimana dalam kaitanya dengan persoalan iman .
b. Ibadah yang berupa perbuatan baik yang bersifat lahir maupun perbuatan yang
bersifat bathin. Contoh dari perbuatan yang lahir seperti : sholat ,berhajji
,berpuasa ...dsb ,dan sedangkan contoh dari perbuatan yang bathin seperti :berniat
,Tawakal ,Takut kepada Alloh Ta'ala ,mencintai-Nya.
2.

Jenis Ibadah. Dalam hal ini maka dapatlah disebutkan tentang jenis jenis Ibadah yaitu
sebagai berikut :
a. Jenis ibadah aqodiah /keyakinan seperti ,membenarkan sebagaimana dalam kaitanya
dengan persoalan iman.
b. Jenis ibadah qolbiah /Hati seperti ,rasa cinta ,takut ,berharap ,tawakal kepada Allohu
Ta'ala ,termasuk pula kedalam jenis ibadah Hati ini yaitu rasa khusyu ,ikhlas ..dsb .
c. Jenis ibadah lafdziah /lisan seperti ,berdzikir ,berdoa ,membaca Al-Qur'an
,memerintahkan kepada yang ma'ruf dan melarang dari yang mungkar ...dsb.
d. Jenis ibadah badaniah /badan seperti ,sholat ,berpuasa ,berhajji ,berjihad ,menikah
..dsb.
e. Jenis ibadah maliah /harta seperti ,zakat ,wakaf ,infak ...dsb .

Demikianlah diantara bentuk dan juga jenis ibadah dan yang kesemuanya itu wajib hanya
diberikan /ditujukan kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala semata dan serta wajib untuk
dilaksanakan /dikerjakan sesuai dengan yang telah dicontohkan oleh Rosululloh sholallohu
alaihi wa salam.
Selanjutnya dan tidaklah sebuah ibadah itu dari yang telah dikerjakan oleh seseorang dapat
dikatakan telah sesuai dengan contoh /sunnah Rosululloh , kecuali dalam pelaksanaan ibadah
tersebut itu memang telah adanya kesesuaian dalam beberapa hal berikut :
1.

Tata cara /sifat daripada pelaksanaanya, seperti ketika melaksanakan ibadah sholat,
berpuasa ,berhajji ,berdakwah ...dsb , maka dalam hal tata cara ataupun sifat daripada
pelaksanaanya haruslah sesuai dengan yang telah diperintahkan ataupun yang
dicontohkan oleh Rosululloh .

2.

Jumlahnya ,seperti ketika dalam membaca dzikir sesudah sholat yang wajib yaitu saat
membaca Tasbih /SubhanaLLOH ,Tahmid /Alhamdulillah ,Takbir /Allohu Akbar ,
maka kita tidak boleh menentukan bagi jumlah yang harus kita baca kecuali hanya
mengikuti berapa jumlah yang memang telah ditetapkan oleh Rosululloh dalam hal itu .

3.

Kadar /ukuranya ,seperti ketika dalam mengeluarkan zakat untuk semua jenisnya ,maka
dalam hal tersebut Rosululloh telah menentukan bagi ukuranya dari zakat yang harus
dikeluarkan dan kita tinggal mengikuti saja dan tidak boleh membuat kadar atau ukuran
sendiri dalam perkara zakat tersebut .

4.

Jenisnya, seperti ketika dalam menyembelih hewan qurban, maka Rosululloh telah
menetapkan jenis bagi hewan qurban itu dan barang siapa yang telah berqurban namun
tidak dengan hewan yang telah ditetapkan oleh Rosululloh maka qurbanya tidaklah akan
diterima alias tidak sah .

5.

Tempatnya , seperti ketika berhajji dengan semua rangkaianya , maka telah tertentu bagi
tempatnya.

6.

Waktunya ,seperti ketika hendak sholat ,berhajji ,berqurban ,maka kesemuanya itu telah
ditetapkan bagi waktu waktunya masing masing .

7.

Sebabnya ,seperti ketika mengucapkan hamdalah /Alhamdulillah karena sebab bersin


,maka pada yang demikian itu telah ada dasar perintahnya dari Rosulullloh ,
jadi maksudnya kita tidak boleh atau tidak diperkenankan untuk menetapkan suatu bacaan
ataupun perbuatan tertentu yang kita lakukan untuk suatu sebab tertentu
yang mana hal tersebut itu memang tidak pernah diperintahkan ataupun dicontohkan oleh
Rosululloh sholallohu alaihi wa salam.

Jadi ringkasnya ,bahwa secara umum dari semua bentuk /jenis ibadah itu baginya telah terikat
oleh sebuah persyaratan serta ketentuan yang berlaku ,yang mana hal tersebut tidak keluar
dari 6 perkara yang telah disebutkan diatas dimana suatu ibadah itu tentunya dalam
pelaksanaanya akanlah terkait dengan tata cara /sifat dari melaksanakanya ,jumlah
/banyaknya ,kadar /ukuranya ,tempatnya ,waktunya ,jenis /macamnya ,dan sebabnya .
Maka bagi seorang hamba dalam kita beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala ,tidak
boleh menyelisihi /menyimpang dengan apa yang telah menjadi syarat dan ketentuan yang
berlaku atas pelaksanaan dari suatu ibadah tersebut itu .
Demikianlah kiranya yang dapat disampaikan dan semoga bermanfaat . Alhamdulillah
A. Pendahuluan
Agama adalah suatu sistem nilai yang diakui dan diyakini kebenarannya dan merupakan jalan
menuju keselamatan hidup. Agama merupakan suatu hakikat eksternal, dapat dikatakan
agama merupakan kumpulan hukum dan ketentuan ideal yang mendiskripsikan sifat-sifat dari
kekuatan Ilahiah itu dan kumpulan kaidah-kaidah praktis yang menggariskan cara beribadah
kepada-Nya.
Islam berasal dari kata aslama, yuslimu yang berarti menyerah, tunduk dan damai. Islam
dalam arti terminologi berarti agama yang ajaran-ajarannya diberikan oleh Allah kepada
manusia melalui para Rasul-Nya untuk keselamatan hidup manusia. dalam al-Quran
dikatakan bahwa agama Allah adalam Islam yang telah diturunkan melalui perantara para
Rasul.
Agama merupakan ibadah dan konsekuensi ibadah manusia hanya kepada Allah. Islam
dijelaskan dalam Al Quran sebagai agama. Kata ini merupakan bentuk masdhar dari dana-

yadinu, yang memiliki beberapa arti yaitu: taat atau patuh, wara, agama, mazhab, keadaan
cara atau kebiasaan, raja, paksaan dan pembalasan atau perhitungan.
Apabila makna-makna di atas dikaitkan dengan arti yang dikandung oleh Islam, maka
hubungan yang erat terdapat pada makna kepatuhan atau ketaatan. Dengan demikian, seorang
muslim (pemeluk agama Islam) adalah orang yang telah menyatakan tunduk dan patuh
kepada perintah Allah. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal yang berkaitan dengan
ibadah yang didasari oleh hadits dan ayat al-Quran.
B. Pembahasan
Tentang Ibadah
Pilar islam yang pertama yaitu akidah dan pilar Islam yang kedua adalah ibadah. Ibadah
berasal dari kata abada, yabudu, yang berarti menghamba atau tunduk dan patuh. abdun
berarti budak atau hamba sahaya, almabad berarti mulia dan agung, abada bih berarti selalu
mengikutinya, almabud berarti yang memiliki, yang dipatuhi dan diagungkan. Jika makna
kata-kata tersebut diurutkan akan menjadi susunan kata-kata yang logis, yaitu: Jika
seseorang menghambakan diri terhadap yang lain, ia akan mengikuti, mengagungkan,
memuliakan, mematuhi dan tunduk.






[1]

Terjemah :
Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan dianggap bagi tiap
manusia apa yang dia niatkan. Maka yang hijrahnya tulus ikhlas kepada Allah dan Rasulnya
maka akan diterima. Sedangkan yang hijrahnya untuk dunia kekayaan maka itulah yang
akan diperoleh. Atau wanita yang akan dinikahi maka hijrah itu terhenti pada niat hijrah
yang dia tuju.[2]
Hadits diatas marfu dan ittishal sanad kepada Nabi, akan tetapi hadits tersebut tergolong
hadits ahad karena pada tingkatan hanya diriwayatkan oleh shahabat Umar ibn al-Khattab
sehingga Umar tidak memiliki syawahid. Pada riwayat Bukhari ini ditemukan 7 [tujuh] sanad
namun rangkaian sanad tersebut memiliki mutabi pada tingkatan tabiin maupun tabi tabiin.
Dijelaskan dalam fath al-Bari syarh Shahih Bukhori, bahwa niat merupakan kunci dari semua
ibadah dan perbuatan. Bahwa niat menentukan segala perbuatan yang dilakukan[3] dan
melandasi setiap bentuk ibadah baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Dalam
riwayat yang lain :




Hadits diatas di kutip dari Turmudzi. Dilihat dari sanadnya merupakan hadits marfu dan
ittishal kepada Nabi. Akan tetapi dalam tingkatan shahabat tidak memiliki syawahid karena

hanya diriwayatkan oleh an-Numan ibn Basyir. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa doa
adalah ibadah.
Secara terminologis, pengertian ibadah terpetak-petak dengan rumusan yang bervariasi
menurut berbagai disiplin ilmu. Menurut Ahli Tauhid dan Hadits ibadah adalah:

Mengesakan dan mengagungkan Allah sepenuhnya serta menghinakan diri dan
menundukkan jiwa kepada-Nya.
Dalam penjelasan lain yang merujuk pengertian ibadah dari sudut akhlak dan etika dalam
kehidupan :
( ) ..
Terjemah :
Nabi saw. bersabda : memandang ibu dan bapak karena cinta kepadanya adalah ibadah
(HR. As-Suyuthi)
..
Terjemah :
Nabi saw. bersabda :Ibadah itu sepuluh bagian, sembilan bagian diantaranya terletak dalam
mencari harta yamg halal
Sedangkan menurut ahli fiqih pengertian ibadah adalah :

Segala bentuk ketaatan yang dikerjakan untu mencapai keridlaan Allah swt. dan
mengharapkan pahalanya di akhirat.[4]
Sepanjang penelusuran dalam penyusunan makalah ini, penulis belum dapat menemukan dan
mencantumkan teks hadits yang menunjukkan adanya klasifikasi baik yang mahdlah maupun
yang ghairu mahdlah bahkan hadits yang menunjukkan pengertian ibadah secara jelas, namun
ketika lebih dikerucutkan pada term ibadah tertentu, banyak dijumpai hadits yang
menjelaskan ibadah seperti tentang thaharah, shalat, puasa, zakat dll. Menurut Wahbah
Zuhayli, ibadah mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, yaitu mencakup segala amal
kebajikan yang dilakukan dengan niat ikhlas[5].
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia
memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.(QS.
Al-Baqarah : 186)

Ayat diatas menyiratkan perintah untuk selalu beribadah kepada Allah. Selanjutnya masih
berkaitan dengan beberapa teks hadits diatas. TM Hasbi Ashshidieqi, membagi ibadah dalam
dua arti menurut bahasa dan arti menurut istilah.
1. Secara etimologis, ibadah atau ibadat berarti: taat, menurut, mengikut dan sebagainya.
Ibadah juga digunakan dalam arti doa.
2. Dari sisi terminologis, ibadah mempunyai arti berdasarkan istilah yang dipergunakan,
antara lain: Menurut ahli tauhid, ibadah itu berarti mengesakan Allah, mentakzimkanNya dengan sepenuh-penuh takzim serta menghinakan diri kita dan menundukkan
jiwa kepada-Nya. Ahli fiqh mengartikan ibadah dengan: apa yang dikerjakan untuk
mendapat keridlaan Allah dan mengharap pahalaNya di akhirat[6].

Ibadah itu sendiri bisa dikelompokkan ke dalam kategori berdasarkan beberapa klasifikasi :
1. Pembagian ibadah didasarkan pada umum dan khusus (khashashah dan ammah)
1. Ibadah ammah, yakni semua pernyataan baik yang dilakukan dengan niat
yang baik dan semata-mata karena Allah, seperti makan, minum, bekerja dan
lain sebagainya dengan niat melaksanakan perbuatan itu untuk menjaga badan
jasmaniah dalam rangka agar dapat beribadah kepada Allah.
2. Ibadah khashashah ialah ibadah yang ketentuannya telah ditetapkan oleh nash,
seperti shalat, zakat, puasa dan haji.
1. Pembagian ibadah dari segi hal-hal yang bertalian dengan pelaksanaannya :
1. Ibadah jasmaniah, ruhiyah, seperti salat dan puasa
2. Ibadah ruhiyah dan amaliyah, seperti zakat
3. Ibadah jasmaniah ruhiyah dan amaliyah, seperti mengerjakan haji
1. Pembagian ibadah dari segi kepentingan perseorangan atau masyarakat :
1. Ibadah fardhi, seperti salat dan puasa
2. Ibadah ijtimai seperti zakat dan haji
1. Pembagian dari segi bentuk dan sifatnya :
1. Ibadah yang berupa perkataan atau ucapan lidah, seperti membaca doa,
membaca Al Quran, membaca dzikir, membaca tahmid dan mendoakan orang
yang bersin
2. Ibadah yang berupa pekerjaan tertentu bentuknya meliputi perkataan dan
perbuatan, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji.

3. Ibadah yang sifatnya menggugurkan hak, seperti membebaskan hutang dan


memaafkan orang yang bersalah
4. Ibadah yang pelaksanaannya menahan diri, seperti ihram, puasa dan Itikaf,
dan menahan diri untuk berhubungan dengan istrinya.
5. Ibadah yang berupa perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya, seperti
menolong orang lain, berjihad, membela diri dari gangguan
Dalam beribadah, terdapat dua syarat yang harus dipenuhi, yakni:
1. Sah, maksudnya amal itu dilakukan sesuai dengan kehendak syara
2. Ikhlas, yakni semata-mata karena Allah
Dalam konstruk ahli fiqih, sah ialah lawan batal. Perbuatan yang dihukumi sah, ila memenuhi
rukun dan syarat-syaratnya. Dalam urusan perkawinan bila tidak terpenuhi rukun, disebut
batal dan bila tidak memenuhi syarat-syaratnya maka fasid.
C. Kesimpulan
Berbagai pembagian ibadah di atas telah dijelaskan bahwa ibadah khashasah (dapat dipahami
sebagai ibadah mahdlah) ialah yang ditentukan bentuk ketentuan dan pelaksanannya. Sedang
ibadah ammah (dipahami sebagai ibadah ghairu mahdlah) adalah semua perbuatan yang
mendatangkan kebaikan dan dilaksanakan dengan niat semata-mata karena Allah. Pernyataan
diatas, seakan-akan niat merupakan kriteria pada ibadah ammah dan tidak merupakan
kriteria pada ibadah mahdhah, padahal niatpun ada pada ibadah mahdlah. Sebagian
berpendapat niat adalah rukun, sebagian berpendapat merupakan syarat.

B. Sumber agama islam


UMBER Ajaran Islam itu ada tiga, yakni Al-Quran, Hadits (As-Sunnah), dan Ijtihad.
Ajaran yang tidak bersumber dari ketiganya bukan ajaran Islam.
Sumber ajaran Islam pertama dan kedua (Al-Quran dan Hadits/As-Sunnah) langsung dari
Allah SWT dan Nabi Muhammad Saw. Sedangkan yang ketiga (ijtihad) merupakan hasil
pemikiran umat Islam, yakni para ulama mujtahid (yang berijtihad), dengan tetap mengacu
kepada Al-Quran dan As-Sunnah.
1. Sumber Ajaran Islam: Al-Quran
Secara harfiyah, Al-Quran artinya bacaan (qoroa, yaqrou, quranan), sebagaimana firman
Allah dalam Q.S. 75:17-18:
Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengum-pulkannya dan membacanya. Jika
Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaan itu.

Al-Quran adalah kumpulan wahyu atau firman Allah yang disampaikan kepada Nabi
Muhammad Saw, berisi ajaran tentang keimanan (akidah/tauhid/iman), peribadahan (syariat),
dan budi pekerti (akhlak).
Al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw, bahkan terbesar pula dibandingkan
mukjizat para nabi sebelumnya. Al-Quran membenarkan Kitab-Kitab sebelumnya dan
menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkan sebelumnya.
Tidak mungkin Al-Quran ini dibuat oleh selain Allah. Akan tetapi ia membenarkan kitabkitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang ditetapkannya. Tidak ada
keraguan di dalamnya dari Tuhan semesta alam (Q.S. 10:37).
Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al-Quran itulah yang benar,
membenarkan kitab-kitab sebelumnya... (Q.S. 35:31).
Al-Quran dalam wujud sekarang merupakan kodifikasi atau pembukuan yang dilakukan para
sahabat. Pertama kali dilakukan oleh shabat Zaid bin Tsabit pada masa Khalifah Abu Bakar,
lalu pada masa Khalifah Utsman bin Affan dibentuk panitia ad hoc penyusunan mushaf AlQuran yang diketuai Zaid. Karenanya, mushaf Al-Quran yang sekarang disebut pula Mushaf
Utsmani.
2. Sumber Ajaran Islam: Hadits/As-Sunnah
Hadits disebut juga As-Sunnah. Sunnah secara bahasa berarti "adat-istiadat" atau "kebiasaan"
(traditions). Sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, dan penetapan/persetujuan serta
kebiasaan Nabi Muhammad Saw. Penetapan (taqrir) adalah persetujuan atau diamnya Nabi
Saw terhadap perkataan dan perilaku sahabat.
Kedudukan As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam dijelaskan Al-Quran dan sabda Nabi
Muhammad Saw.
Demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman sehingga mereka menjadikanmu
(Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, lalu mereka tidak
merasa berat hati terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima sepenuh hati
(Q.S. 4:65).
Apa yang diberikan Rasul (Muhammad) kepadamu maka terimalah dan apa yang
dilarangnya maka tinggalkanlah (Q.S. 59:7).
Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang (selama kalian berpegang teguh dengan
keduanya) kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah-ku. (HR.
Hakim dan Daruquthni).
Berpegangteguhlah kalian kepada Sunnahku dan kepada Sunnah Khulafaur Rasyidin
setelahku (H.R. Abu Daud).
Sunnah merupakan penafsir sekaligus juklak (petunjuk pelaksanaan) Al-Quran. Sebagai
contoh, Al-Quran menegaskan tentang kewajiban shalat dan berbicara tentang ruku dan
sujud. Sunnah atau Hadits Rasulullah-lah yang memberikan contoh langsung bagaimana
shalat itu dijalankan, mulai takbiratul ihram (bacaan Allahu Akbar sebagai pembuka
shalat), doa iftitah, bacaan Al-Fatihah, gerakan ruku, sujud, hingga bacaan tahiyat dan salam.

Ketika Nabi Muhammad Saw masih hidup, beliau melarang para sahabatnya menuliskan apa
yang dikatakannya. Kebijakan itu dilakukan agar ucapan-ucapannya tidak bercampur-baur
dengan wahyu (Al-Quran). Karenanya, seluruh Hadits waktu itu hanya berada dalam ingatan
atau hapalan para sahabat.
Kodifikasi Hadits dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (100 H/718 M), lalu
disempurnakan sistematikanya pada masa Khalifah Al-Mansur (136 H/174 M). Para ulama
waktu itu mulai menyusun kitab Hadits, di antaranya Imam Malik di Madinah dengan
kitabnya Al-Mutwaththa, Imam Abu Hanifah menulis Al-Fqhi, serta Imam Syafii menulis
Ikhtilaful Hadits, Al-Um, dan As-Sunnah.
Berikutnya muncul Imam Ahmad dengan Musnad-nya yang berisi 40.000 Hadits. Ulama
Hadits terkenal yang diakui kebenarannya hingga kini adalah Imam Bukhari (194 H/256 M)
dengan kitabnya Shahih Bukhari dan Imam Muslim (206 H/261 M) dengan kitabnya Shahih
Muslim. Kedua kitab Hadits itu menjadi rujukan utama umat Islam hingga kini. Imam
Bukhari berhasil mengumpulkan sebanyak 600.000 hadits yang kemudian diseleksinya.
Imam Muslim mengumpulkan 300.000 hadits yang kemudian diseleksinya.
Ulama Hadits lainnya yang terkenal adalah Imam Nasa'i yang menuangkan koleksi haditsnya
dalam Kitab Nasa'i, Imam Tirmidzi dalam Shahih Tirmidzi, Imam Abu Daud dalam Sunan
Abu Daud, Imam Ibnu Majah dalam Kitab Ibnu Majah, Imam Baihaqi dalam Sunan Baihaqi
dan Syu'bul Imam, dan Imam Daruquthni dalam Sunan Daruquthni.
3. Sumber Ajaran Islam: Ijtihad
Ijtihad adalah berpikir keras untuk menghasilkan pendapat hukum atas suatu masalah yang
tidak secara jelas disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Pelakunya disebut Mujtahid.
Kedudukan Ijtihad sebagai sumber hukum atau ajaran Islam ketiga setelah Al-Quran dan AsSunnah, diindikasikan oleh sebuah Hadits (Riwayat Tirmidzi dan Abu Daud) yang berisi
dialog atau tanya jawab antara Nabi Muhammad Saw dan Muadz bin Jabal yang diangkat
sebagai Gubernur Yaman.
Bagaimana memutuskan perkara yang dibawa orang kepada Anda?
Hamba akan memutuskan menurut Kitabullah (Al-Quran.
Dan jika di dalam Kitabullah Anda tidak menemukan sesuatu mengenai soal itu?
Jika begitu, hamba akan memutuskannya menurut Sunnah Rasulillah.
Dan jika Anda tidak menemukan sesuatu mengenai hal itu dalam Sunnah Rasulullah?
Hamba akan mempergunakan pertimbangan akal pikiran sendiri (Ijtihadu bi rayi) tanpa
bimbang sedikit pun.
Segala puji bagi Allah yang telah menyebabkan utusan Rasulnya menyenangkan hati
Rasulullah!
Hadits tersebut diperkuat sebuah fragmen peristiwa yang terjadi saat-saat Nabi Muhammad
Saw menghadapi akhir hayatnya. Ketika itu terjadi dialog antara seorang sahabat dengan
Nabi Muhammad Saw.
Ya Rasulallah! Anda sakit. Anda mungkin akan wafat. Bagaimana kami jadinya?
Kamu punya Al-Quran!
Ya Rasulallah! Tetapi walaupun dengan Kitab yang membawa penerangan dan petunjuk
tidak menyesatkan itu di hadapan kami, sering kami harus meminta nasihat, petunjuk, dan

ajaran, dan jika Anda telah pergi dari kami, Ya Rasulallah, siapakah yang akan menjadi
petunjuk kami?
Berbuatlah seperti aku berbuat dan seperti aku katakan!
Tetapi Rasulullah, setelah Anda pergi peristiwa-peristiwa baru mungkin timbul yang tidak
dapat timbul selama hidup Anda. Kalau demikian, apa yang harus kami lakukan dan apa yang
harus dilakukan orang-orang sesudah kami?
Allah telah memberikan kesadaran kepada setiap manusia sebagai alat setiap orang dan akal
sebagai petunjuk. Maka gunakanlah keduanya dan tinjaulah sesuatu dan rahmat Allah akan
selalu membimbing kamu ke jalan yang lurus!
Ijtihad adalah sarana ilmiah untuk menetapkan hukum sebuah perkara yang tidak secara
tegas ditetapkan Al-Quran dan As-Sunnah.
Pada dasarnya, semua umat Islam berhak melakukan Ijtihad, sepanjang ia menguasai AlQuran, As-Sunnah, sejarah Islam, juga berakhlak baik dan menguasai berbagai disiplin ilmu
pengetahuan.
Lazimnya, Mujtahid adalah para ulama yang integritas keilmuan dan akhlaknya diakui umat
Islam. Hasil Ijtihad mereka dikenal sebagai fatwa. Jika Ijtihad dilakukan secara bersamasama atau kolektif, maka hasilnya disebut Ijma atau kesepakatan. Wallahu a'lam.
(www.risalahislam.com).***
Sumber-sumber Ajaran Islam

1. AL-QURAN
PENGERTIAN AL-QURAN
Etimologi = Al-Quran > Qaraa Yaqrau Quranan yang berarti bacaan.
Terminologi = Al-Quran adalah Kalam Allah swt. yang merupakan mujizat yang
diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw., ditulis dalam Mushaf, diriwayatkan secara
mutawatir dan membacanya adalah ibadah.
Al-Quran diwahyukan secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun, 13 tahun
sebelum hijrah hingga 10 tahun setelah hijrah.
FUNGSI AL-QURAN
1. Sebagai pedoman hidup.
2. Sebagai korektor dan penyempurna kitab-kitab Allah swt. yang terdahulu.
3. Sebagai sarana peribadatan.
KANDUNGAN AL-QURAN

1. Prinsip-prinsip keimanan kepada Allah swt., malaikat, rasul, hari akhir, qadha dan qadar,
dan sebagainya.
2. Prinsip-prinsip syariah baik mengenai ibadah khusus maupun ibadah umum
sepertiperekonomian, pemerintahan, pernikahan, kemasyarakatan dan sebagainya.
3. Janji dan ancaman.
4. Kisah para nabi dan Rasul Allah swt. serta umat-umat terdahulu ( sebagai itibar / pelajaran
).
5. Konsep ilmu pengetahuan, pengetahuan tentang masalah ketuhanan ( agama ), manusia,
masyarakat maupun tentang alam semesta.
2. AS-SUNNAH
PENGERTIAN AS-SUNNAH / HADITS
Etimologi = jalan / tradisi, kebiasaan, adat istiadat, dapat juga berarti undang-undang yang
berlaku.
Terminologi = berita / kabar, segala perbuatan, perkataan dan takrir ( keizinan / pernyataan )
Nabi Muhammad saw.
KEDUDUKAN AS-SUNNAH / HADITS
As-Sunnah adalah sumber hukum Islam yang kedua sesudah Al-Quran.
Apabila as-Sunnah / Hadits tidak berfungsi sebagai sumber hukum, maka kaum muslimin
akan mengalami kesulitan-kesulitan seperti :
1. Melaksanakan Shalat, Ibadah Haji, mengeluarkan Zakat dan lain sebagainya, karena ayat
al-Quran dalam hal tersebut hanya berbicara secara global dan umum, sedangkan yang
menjelaskan secara rinci adalah as-Sunnah / Hadits.
2. Menafsirkan ayat-ayat al-Quran, untuk menghindari penafsiran yang subyektif dan tidak
dapat dipertanggungjawabkan.
3. Mengikuti pola hidup Nabi, karena dijelaskan secara rinci dalam Sunnahnya, sedangkan
mengikuti pola hidup Nabi adalah perintah al-Quran.
4. Menghadapi masalah kehidupan yang bersifat teknis, karena adanya peraturan-peraturan
yang diterangkan oleh as-Sunnah / Hadits yang tidak ada dalam al-Quran seperti kebolehan
memakan bangkai ikan dan belalang, sedangkan dalam al-Quran menyatakan bahwa bangkai
itu haram.

HUBUNGAN AS-SUNNAH DENGAN AL-QURAN


1. Sebagai Bayan ( menerangkan ayat-ayat yang sangat umum).
2. Sebagai Taqrir ( memperkokoh dan memperkuat pernyataan al-Quran ).
3. Sebagai Bayan Tawdih ( menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ).
PERBEDAAN AL-QURAN DAN AS-SUNNAH / HADITS SEBAGAI SUMBER
HUKUM
Sekalipun al-Quran dan as-Sunnah sama-sama sebagai sumber hukum Islam, namun diantara
keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang cukup prinsipil, antara lain sebagai berikut :
1. Al-Quran bersifat Qathi ( mutlak ) kebenarannya.
As-Sunnah bersifat Dzhanni ( relatif ), kecuali Hadits Mutawatir.
2. Seluruh ayat al-Quran mesti dijadikan sebagai pedoman hidup.
Tidak seluruh Hadits dapat dijadikan pedoman hidup karena disamping ada Hadits Shahih,
ada pula Hadits yang Dhaif .
3. Al-Quran sudah pasti autentik lafadz dan maknanya.
As-Sunnah belum tentu autentik lafadz dan maknanya.
4. Apabila al-Quran berbicara tentang masalah-masalah aqidah atau hal-hal yang ghaib,
maka setiap muslim wajib mengimaninya.
Apabila as-Sunnah berbicara tentang masalah-masalah aqidah atau hal-hal yang ghaib,
maka setiap muslim tidak diharuskan mengimaninya seperti halnya mengimani al-Quran.
5. Berdasarkan perbedaan tersebut, maka :
Penerimaan seorang muslim terhadap al-Quran hendaknya didasarkan pada keyakinan
yang kuat, sedangkan;
Penerimaan seorang muslim terhadap as-Sunnah harus didasarkan atas keragu-raguan
( dugaan-dugaan ) yang kuat. Hal ini bukan berarti ragu kepada Nabi, tetapi ragu apakah
Hadits itu benar-benar berasal dari Nabi atau tidak karena adanya proses sejarah kodifikasi
hadits yang tidak cukup memberikan jaminan keyakinan sebagaimana jaminan keyakinan
terhadap al-Quran.

3. IJTIHAD
PENGERTIAN IJTIHAD
Etimologi = mencurahkan tenaga, memeras pikiran, berusaha bersungguh-sungguh, bekerja
semaksimal munggkin.
Terminologi = usaha yang sungguh-sungguh oleh seseorang ulama yang memiliki syaratsyarat tertentu, untuk merumuskan kepastian hukum tentang sesuatu ( beberapa ) perkara
tertentu yang belum ditetapkan hukumnya secara explisit di dalam al-Quran dan as-Sunnah.
Menurut Mahmud Syaltut, Ijtihad atau al-Rayu mencakup 2 pengertian, yaitu :
1. Penggunaan pikiran untuk menentukan suatu hukum yang tidak ditentukan secara eksplisit
oleh al-Quran dan as-Sunnah.
2. Penggunaan pikiran dalam mengartikan, menafsirkan dan mengambil kesimpulan dari
suatu ayat atau Hadits.
Dasar melaksanakan Ijtihad adalah al-Quran Surat al-Maidah ayat 48!
48. dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran,
membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan
batu ujian[421] terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka
menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara
kamu[422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki,
niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap
pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu
perselisihkan itu,
[421] Maksudnya: Al Quran adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang
diturunkan dalam Kitab-Kitab sebelumnya.
[422] Maksudnya: umat Nabi Muhammad s.a.w. dan umat-umat yang sebelumnya.
LAPANGAN IJTIHAD
Secara ringkas, lapangan Ijtihad dapat dibagi menjadi 3 perkara, yaitu :
1. Perkara yang sama sekali tidak ada nashnya di dalam al-Quran dan as-Sunnah.
2. Perkara yang ada nashnya, tetapi tidak Qathi ( mutlak ) wurud ( sampai / muncul ) dan
dhalala ( kesesatan ) nya.

3. Perkara hukum yang baru tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.


KEDUDUKANIJTIHAD
Berbeda dengan al-Quran dan as-Sunnah, Ijtihad sebagai sumber hukum Islam yang ketiga
terikat dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Yang ditetapkan oleh Ijtihad tidak melahirkan keputusan yang absolut, sebab Ijtihad
merupakan aktivitas akal pikiran manusia yang relatif. Sebagai produk pikiran manusia yang
relatif, maka keputusan Ijtihad pun relatif.
2. Keputusan yang diterapkan oleh Ijtihad mungkin berlaku bagi seseorang, tetapi tidak
berlaku bagi orang lain. Berlaku untuk satu masa / tempat, tetapi tidak berlaku pada masa /
tempat yang lain.
3. Keputusan Ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah.
4. Berijtihad mempertimbangkan faktor motivasi, kemaslahatan umum, kemanfaatan bersama
dan nilai-nilai yang menjadi ciri dan jiwa ajaran Islam.
5. Ijtihad tidak berlaku dalam urusan Ibadah Makhdah.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumber ajaran islam adalah segala sesuatu yang melahirkan atau menimbulkan aturan yang
mempunyai kekuatan yang bersifat mengikat yang apabila dilanggar akan menimbulkan
sanksi yang tegas dan nyata (Sudarsono, 1992:1). Dengan demikian sumber ajaran islam ialah
segala sesuatu yang dijadikan dasar, acuan, atau pedoman syariat islam.
Ajaran Islam adalah pengembangan agama Islam. Agama Islam bersumber dari Al-Quran
yang memuat wahyu Allah dan al-Hadis yang memuat Sunnah Rasulullah. Komponen utama
agama Islam atau unsur utama ajaran agama Islam (akidah, syariah dan akhlak)
dikembangkan dengan rakyu atau akal pikiran manusia yang memenuhi syarat runtuk
mengembangkannya.
Mempelajari agama Islam merupakan fardhu ain , yakni kewajiban pribadi setiap muslim
dan muslimah, sedang mengkaji ajaran Islam terutama yang dikembangkan oleh akal pikiran
manusia, diwajibkan kepada masyarakat atau kelompok masyarakat.
Allah telah menetapkan sumber ajaran Islam yang wajib diikuti oleh setiap muslim.
Ketetapan Allah itu terdapat dalam Surat An-Nisa (4) ayat 59 yang artinya : Hai orang-orang
yang beriman, taatilah (kehendak) Allah, taatilah (kehendak) Rasul-Nya, dan (kehendak) ulil
amri di antara kamu .... Menurut ayat tersebut setiap mukmin wajib mengikuti kehendak
Allah, kehendak Rasul dan kehendak penguasa atau ulil amri (kalangan) mereka sendiri.
Kehendak Allah kini terekam dalam Al-Quran, kehendak Rasul terhimpun sekarang dalam al

Hadis, kehendak penguasa (ulil amri) termaktum dalam kitab-kitab hasil karya orang yang
memenuhi syarat karena mempunyai kekuasaan berupa ilmu pengetahuan.
Pada umumnya para ulama fikih sependapat bahwa sumber utama hukum islam adalah
Alquran dan hadist. Dalam sabdanya Rasulullah SAW bersabda, Aku tinggalkan bagi
kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat selamanya, selama kalian
berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnahku. Dan disamping itu pula para
ulama fikih menjadikan ijtihad sebagai salah satu dasar hukum islam, setelah Alquran dan
hadist.
Berijtihad adalah berusaha sungguh-sungguh dengan memperguna kan seluruh kemampuan
akal pikiran, pengetahuan dan pengalaman manusia yang memenuhi syarat untuk mengkaji
dan memahami wahyu dan sunnah serta mengalirkan ajaran, termasuka ajaran mengenai
hukum (fikih) Islam dari keduanya.
1.2 Identifikasi Masalah
Dalam penulisan makalah ini penulis memaparkan tentang beberapa sumber ajaran agama
islam.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari makalah ini adalah :
Memaparkan dan menjelaskan tentang sumber-sumber ajaran agama islam
1.4 Sistematika Penulisan
Agar makalah ini dapat dipahami pembaca, maka penulis membuat sistematika penulisan
makalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan berisikan latar belakang mengenai ajaran islam, identifikasi masalah, tujuan
dibuatnya makalah, dan sistematika penulisan.
BAB II PEMBAHASAN
Pembahasan tentang sumber-sumber ajaran agama islam yaitu, al-quran, as-sunnah (hadist),
dan ijtihad.
BAB III KESIMPULAN dan SARAN
Kesimpulan dan saran merupakan bab terakhir yang berisikan kesimpulan dari keseluruhan
pembahasan serta saran-saran.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sumber-Sumber Ajaran Islam Primer


2.1.1 AL-QURAN
Secara etimologi Alquran berasal dari kata qaraa, yaqrau, qiraaatan, atau quranan yang
berarti mengumpulkan (al-jamu) dan menghimpun (al-dlammu). Sedangkan secara
terminologi (syariat), Alquran adalah Kalam Allah taala yang diturunkan kepada Rasul dan
penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu alaihi wasallam, diawali dengan surat alFatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas. Dan menurut para ulama klasik, Alquran sumber
agama (juga ajaran) Islam pertama dan utama yang memuat firman-firman (wahyu) Allah,
sama benar dengan yang disampai- kan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad sebagai
Rasul Allah sedikit demi sediki selama 22 tahun 2 bulan 22 hari, mula-mula di Mekah
kemudian di Medinah.
Al-Quran menyajikan tingkat tertinggi dari segi kehidupan manusia. Sangat mengaggumkan
bukan saja bagi orang mukmin, melainkan juga bagi orang-orang kafir. Al-Quran pertama
kali diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan (Nuzulul Quran). Wahyu yang perta kali turun
tersebut adalah Surat Alaq, ayat 1-5. Al-Quran memiliki beberapa nama lain, antara lain
adalah Al-Quran (QS. Al-Isra: 9), Al-Kitab (QS. Al-Baqoroh: 1-2), Al-Furqon (QS. AlFurqon: 1), At-Tanzil (QS. As-Syuara: 192), Adz-Dzikir (QS. Al-Hijr: 1-9).
Ayat-ayat al-Quran yang diturunkan selama lebih kurang 23 tahun itu dapat dibedakan antara
ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi Muhammad masih tinggal di Mekah (sebelum hijrah)
dengan ayat yang turun setelah Nabi Muhammad hijrah (pindah) ke Madinah. Ayat-ayat yang
tutun ketika Nabi Muhammad masih berdiam di Mekkah di sebut ayat-ayat Makkiyah,
sedangkan ayat-ayat yang turun sesudah Nabi Muhammad pindah ke Medinah dinamakan
ayat-ayat Madaniyah
Ciri-cirinya adalah :
1. Ayat-ayat Makiyah pada umumnya pendek-pendek, merupakan 19/30 dari seluruh isi alQuran, terdiri dari 86 surat, 4.780 ayat. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah pada umumnya
panjang-panjang, merupakan 11/30 dari seluruh isi al-Quran, terdiri dari 28 surat, 1456 ayat.
2. Ayat-ayat Makkiyah dimulai dengan kata-kata yaa ayyuhannaas (hai manusia) sedang
ayatayat Madaniyah dimulai dengan kata-kata yaa ayyuhallaziina aamanu (hai orang-orang
yang beriman).
3. Pada umumnya ayat-ayat Makkiyah berisi tentang tauhid yakni keyakinan pada Kemaha
Esaan Allah, hari Kiamat, akhlak dan kisah-kisah umat manusia di masa lalu, sedang ayatayat Madaniya memuat soal-soal hukum, keadilan, masyarakat dan sebagainya.
Pokok-pokok kandungan dalam Alquran antara lain:
1. Petunjuk mengenai akidah yang harus diyakini oleh manusia. Petunjuk akidah ini
berintikan keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan kepastian adanya hari
kebangkitan, perhitungan serta pembalasan kelak.

2. Petunjuk mengenai syariah yaitu jalan yang harus diikuti manusia dalam berhubungan
dengan Allah dan dengan sesama insan demi kebahagiaan hidup manusia di dunia ini dan di
akhirat kelak.
3. Petunjuk tentang akhlak, mengenai yang baik dan buruk yang harus diindahkan leh
manusia dalam kehidupan, baik kehidupan individual maupun kehidupan sosial.
4. Kisah-kisah umat manusia di zaman lampau. Sebagai contoh kisah kaum Saba yang tidak
mensyukuri karunia yang diberikan Allah, sehingga Allah menghukum mereka dengan
mendatangkan banjir besar serta mengganti kebun yang rusak itu dengan kebun lain yang
ditumbuhi pohon-pohon yang berbuah pahit rasanya.
5. Berita tentang zaman yang akan datang. Yakni zaman kehidupan akhir manusia yang
disebut kehidupan akhirat. Kehidupan akhirat dimulai dengan peniupan sangkakala
(terompet) oleh malaikat Israil. Apabila sangkakala pertamaditiupkan, diangkatlah bumi dan
gunung-gunung, la- lu keduanya dibenturkan sekali bentur. Pada hari itulah terjadilah kiamat
dan terbelahlah langit.... (Qs al-Haqqah (69) : 13-16.
6. Benih dan Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.
7. Hukum yang berlaku bagi alam semesta.
Keutamaan Al-Quran ditegaskan dalam Sabda Rasullullah, antara lain:
1. Sebaik-baik orang di antara kamu, ialah orang yang mempelajari Al-Quran dan
mengajarkannya
2. Umatku yang paling mulia adalah Huffaz (penghafal) Al-Quran (HR. Turmuzi)
3. Orang-orang yang mahir dengan Al-Quran adalah beserta malaikat-malaikat yang
suci dan mulia, sedangkan orang membaca Al-Quran dan kurang fasih lidahnya berat
dan sulit membetulkannya maka baginya dapat dua pahala (HR. Muslim).
4. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah hidangan Allah, maka pelajarilah hidangan Allah
tersebut dengan kemampuanmu (HR. Bukhari-Muslim).
5. Bacalah Al-Quran sebab di hari Kiamat nanti akan datang Al-Quran sebagai
penolong bagai pembacanya (HR. Turmuzi).
Al-Quran mengandung tiga komponen dasar hukum, sebagai berikut:
1. Hukum Itiqadiah, yakni hukum yang mengatur hubungan rohaniah manusia dengan Allah
SWT dan hal-hal yang berkaitan dengan akidah/keimanan. Hukum ini tercermin dalam
Rukun Iman. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Tauhid, Ilmu Ushuluddin, atau Ilmu
Kalam.
2. Hukum Amaliah, yakni hukum yang mengatur secara lahiriah hubungan manusia dengan
Allah SWT, antara manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan lingkungan
sekitar. Hukum amaliah ini tercermin dalam Rukun Islam dan disebut hukum syara/syariat.
Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Fikih.

3. Hukum Khuluqiah, yakni hukum yang berkaitan dengan perilaku normal manusia dalam
kehidupan, baik sebagai makhluk individual atau makhluk sosial. Hukum ini tercermin dalam
konsep Ihsan. Adapun ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Akhlaq atau Tasawuf.
Sedangkan khusus hukum syara dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni:
1. Hukum ibadah, yaitu hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT,
misalnya salat, puasa, zakat, dan haji
2. Hukum muamalat, yaitu hukum yang mengatur manusia dengan sesama manusia dan alam
sekitarnya. Termasuk ke dalam hukum muamalat adalah sebagai berikut:
Hukum munakahat (pernikahan).
Hukum faraid (waris).
Hukum jinayat (pidana).
Hukum hudud (hukuman).
Hukum jual-beli dan perjanjian.
Hukum tata Negara/kepemerintahan
Hukum makanan dan penyembelihan.
Hukum aqdiyah (pengadilan).
Hukum jihad (peperangan).
Hukum dauliyah (antarbangsa).
Fungsi Al-Quran antara lain adalah:
1. Menerangkan dan menjelaskan (QS. 16:89; 44:4-5)
2. Al-Quran kebenaran mutlak (Al-Haq) (QS. 2: 91, 76)
3. Pembenar (membenarkan kitab-kitab sebelumnya) (QS. 2: 41, 91, 97; 3: 3; 5: 48; 6:
92; 10: 37; 35: 31; 46: 1; 12: 30)
4. Sebagai Furqon (pembeda antara haq dan yang bathil, baik dan buruk)
5. Sebagai obat penyakit (jiwa) (QS. 10: 57; 17:82; 41: 44)
6. Sebagai pemberi kabar gembira
7. Sebagai hidayah atau petunjuk (QS. 2:1, 97, 185; 3: 138; 7: 52, 203, dll)

8. Sebagai peringatan
9. Sebagai cahaya petunjuk (QS. 42: 52)
10. Sebagai pedoman hidup (QS. 45: 20)
11. Sebagai pelajaran
2.1.2 HADIST
Al-Hadis adalah sumber kedua agama dan ajaran Islam. Sebagai sumber agama dan ajaran
Islam, al-Hadis mempunyai peranan penting setelah Al-Quran. Al-Quran sebagai kitab suci
dan pedoman hidup umat Islam diturunkan pada umumnya dalam kata-kata yang perlu dirinci
dan dijelaskan lebih lanjut, agar dapat dipahami dan diamalkan.
Ada tiga peranan al-Hadis disamping al-Quran sebagai sumber agama dan ajaran Islam, yakni
sebagai berikut :
1. Menegaskan lebih lanjut ketentuan yang terdapat dalam al-Quran. Misalnya dalam AlQuran terdapat ayat tentang sholat tetapi mengenai tata cara pelaksanaannya dijelaskan oleh
Nabi.
2. Sebagai penjelasan isi Al-Quran. Di dalam Al-Quran Allah memerintah- kan manusia
mendirikan shalat. Namun di dalam kitab suci tidak dijelaskan banyaknya rakaat, cara rukun
dan syarat mendirikan shalat. Nabilah yang menyebut sambil mencontohkan jumlah rakaat
setiap shalat, cara, rukun dan syarat mendirikan shalat.
3. Menambahkan atau mengembangkan sesuatu yang tidak ada atau samar-samar
ketentuannya di dalam Al-Quran. Sebagai contoh larangan Nabi mengawini seorang
perempuan dengan bibinya. Larangan ini tidak terdapat dalam larangan-larangan perkawinan
di surat An-Nisa (4) : 23. Namun, kalau dilihat hikmah larangan itu jelas bahwa larangan
tersebut mencegah rusak atau putusnya hubungan silaturrahim antara dua kerabat dekat yang
tidak disukai oleh agama Islam.
Macam-macam As-Sunnah:

ditinjau dari bentuknya

1. Sunnah qauliyah, yaitu semua perkataan Rasulullah


2. Sunnah filiyah, yaitu semua perbuatan Rasulullah
3. Sunnah taqririyah, yaitu penetapan dan pengakuan Rasulullah terhadap pernyataan
ataupun perbuatan orang lain
4. Sunnah hammiyah, yaitu sesuatu yang telah direncanakan akan dikerjakan tapi tidak
sampai dikerjakan

ditinjau dari segi jumlah orang-orang yang menyampaikannya

1. Mutawir, yaitu yang diriwayatkan oleh orang banyak


2. Masyhur, diriwayatkan oleh banyak orang, tetapi tidak sampai (jumlahnya) kepada derajat
mutawir
3. Ahad, yang diriwayatkan oleh satu orang.

Ditinjau dari kualitasnya

1. Shahih, yaitu hadits yang sehat, benar, dan sah


2. Hasan, yaitu hadits yang baik, memenuhi syarat shahih, tetapi dari segi hafalan
pembawaannya yang kurang baik.
3. Dhaif, yaitu hadits yang lemah
4. Maudhu, yaitu hadits yang palsu.

Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya

1. Maqbul, yang diterima.


2. Mardud, yang ditolak.
2.2 Sumber-Sumber Ajaran Islam Sekunder
2.2.1 IJTIHAD
Ijtihad berasal dari kata ijtihada yang berarti mencurahkan tenaga dan pikiran atau bekerja
semaksimal mungkin. Sedangkan ijtihad sendiri berarti mencurahkan segala kemampuan
berfikir untuk mengeluarkan hukum syari dari dalil-dalil syara, yaitu Alquran dan hadist.
Hasil dari ijtihad merupakan sumber hukum ketiga setelah Alquran dan hadist. Ijtihad dapat
dilakukan apabila ada suatu masalah yang hukumnya tidak terdapat di dalam Alquran
maupun hadist, maka dapat dilakukan ijtihad dengan menggunakan akal pikiran dengan tetap
mengacu pada Alquran dan hadist.
Macam-macam ijtidah yang dikenal dalam syariat islam, yaitu
1. Ijma, yaitu menurut bahasa artinya sepakat, setuju, atau sependapat. Sedangkan menurut
istilah adalah kebulatan pendapat ahli ijtihad umat Nabi Muhammad SAW sesudah beliau
wafat pada suatu masa, tentang hukum suatu perkara dengan cara musyawarah. Hasil dari
Ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang berwenang
untuk diikuti seluruh umat.
2. Qiyas,yaitu berarti mengukur sesuatu dengan yang lain dan menyamakannya. Dengan kata
lain Qiyas dapat diartikan pula sebagai suatu upaya untuk membandingkan suatu perkara
dengan perkara lain yang mempunyai pokok masalah atau sebab akibat yang sama.
Contohnya adalah pada surat Al isra ayat 23 dikatakan bahwa perkataan ah, cis, atau hus
kepada orang tua tidak diperbolehkan karena dianggap meremehkan atau menghina, apalagi
sampai memukul karena sama-sama menyakiti hati orang tua.

3. Istihsan, yaitu suatu proses perpindahan dari suatu Qiyas kepada Qiyas lainnya yang lebih
kuat atau mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima untuk mencegah
kemudharatan atau dapat diartikan pula menetapkan hukum suatu perkara yang menurut
logika dapat dibenarkan. Contohnya, menurut aturan syarak, kita dilarang mengadakan jual
beli yang barangnya belum ada saat terjadi akad. Akan tetapi menurut Istihsan, syarak
memberikan rukhsah (kemudahan atau keringanan) bahwa jual beli diperbolehkan dengan
system pembayaran di awal, sedangkan barangnya dikirim kemudian.
4. Mushalat Murshalah, yaitu menurut bahasa berarti kesejahteraan umum. Adapun menurut
istilah adalah perkara-perkara yang perlu dilakukan demi kemaslahatan manusia. Contohnya,
dalam Al Quran maupun Hadist tidak terdapat dalil yang memerintahkan untuk membukukan
ayat-ayat Al Quran. Akan tetapi, hal ini dilakukan oleh umat Islam demi kemaslahatan umat.
5. Sududz Dzariah, yaitu menurut bahasa berarti menutup jalan, sedangkan menurut istilah
adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi
kepentingan umat. Contohnya adalah adanya larangan meminum minuman keras walaupun
hanya seteguk, padahal minum seteguk tidak memabukan. Larangan seperti ini untuk
menjaga agar jangan sampai orang tersebut minum banyak hingga mabuk bahkan menjadi
kebiasaan.
6. Istishab, yaitu melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah ditetapkan di masa
lalu hingga ada dalil yang mengubah kedudukan hukum tersebut. Contohnya, seseorang yang
ragu-ragu apakah ia sudah berwudhu atau belum. Di saat seperti ini, ia harus berpegang atau
yakin kepada keadaan sebelum berwudhu sehingga ia harus berwudhu kembali karena shalat
tidak sah bila tidak berwudhu.
7. Urf, yaitu berupa perbuatan yang dilakukan terus-menerus (adat), baik berupa perkataan
maupun perbuatan. Contohnya adalah dalam hal jual beli. Si pembeli menyerahkan uang
sebagai pembayaran atas barang yang telah diambilnya tanpa mengadakan ijab kabul karena
harga telah dimaklumi bersama antara penjual dan pembeli.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Mempelajari agama Islam merupakan fardhu ain , yakni kewajiban pribadi setiap muslim
dan muslimah, sedang mengkaji ajaran Islam terutama yang dikembangkan oleh akal pikiran
manusia, diwajibkan kepada masyarakat atau kelompok masyarakat.
Sumber ajaran agama islam terdiri dari sumber ajaran islam primer dan sekunder. Sumber
ajaran agama islam primer terdiri dari al-quran dan as-sunnah (hadist), sedangkan sumber
ajaran agama islam sekunder adalah ijtihad.
3.2 Saran
Sebelum kita mempelajari agama islam lebih jauh, terlebih dahulu kita harus mempelajari
sumber-sumber ajaran agama islam agar agama islam yang kita pelajri sesuia dengan alquran dan tuntunan nabi Muhammad SAW yang terdapat dalam as-sunnah (hadist).

SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM


Kata-kata sumber dalam hukum Islam merupakan terjemah dari kata mashadir yang berarti
wadah ditemukannya dan ditimbanya norma hukum. Sumber hukum Islam yang utama
adalah Al Quran dan sunah. Selain menggunakan kata sumber, juga digunakan kata dalil
yang berarti keterangan yang dijadikan bukti atau alasan suatu kebenaran. Selain itu, ijtihad,
ijma, dan qiyas juga merupakan sumber hukum karena sebagai alat bantu untuk sampai
kepada hukum-hukum yang dikandung oleh Al Quran dan sunah Rasulullah SAW
Secara sederhana hukum adalah seperangkat peraturan tentang tingkah laku manusia yang
diakui sekelompok masyarakat; disusun orang-orang yang diberi wewenang oleh masyarakat
itu; berlaku mengikat, untuk seluruh anggotanya. Bila definisi ini dikaitkan dengan Islam
atau syara maka hukum Islam berarti: seperangkat peraturan bedasarkan wahyu Allah SWT
dan sunah Rasulullah SAW tentang tingkah laku manusia yang dikenai hukum (mukallaf)
yang diakui dan diyakini mengikat semua yang beragama Islam. Maksud kata seperangkat
peraturan disini adalah peraturan yang dirumuskan secara rinci dan mempunyai kekuatan
yang mengikat, baik di dunia maupun di akhirat.
A. Al Quran
Al Quran berisi wahyu-wahyu dari Allah SWT yang diturunkan secara berangsur-angsur
(mutawattir) kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Al Quran diawali
dengan surat Al Fatihah, diakhiri dengan surat An Nas. Membaca Al Quran merupakan
ibadah.
Al Quran merupakan sumber hukum Islam yang utama. Setiap muslim berkewajiban untuk
berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalamnya agar menjadi manusia
yang taat kepada Allah SWT, yaitu menngikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala
larangnannya
Al Quran memuat berbagai pedoman dasar bagi kehidupan umat manusia.
1. Tuntunan yang berkaitan dengan keimanan/akidah, yaitu ketetapan yantg
berkaitan dengan iman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
rasul-rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar
2. Tuntunan yang berkaitan dengan akhlak, yaitu ajaran agar orang muslim
memilki budi pekerti yang baik serta etika kehidupan.
3. Tuntunan yang berkaitan dengan ibadah, yakni shalat, puasa, zakat dan
haji.
4. Tuntunan yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia dalam
masyarakat

Isi kandungan Al Quran


Isi kandungan Al Quran dilihat dari segi kuantitas dan kualitas.
1. Segi Kuantitas

Al Quran terdiri dari 30 Juz, 114 surat, 6.236 ayat, 323.015 huruf dan 77.439 kosa kata
2. Segi Kualitas
Isi pokok Al Quran (ditinjau dari segi hukum) terbagi menjadi 3 (tiga) bagian:
1. Hukum yang berkaitan dengan ibadah: hukum yang mengatur hubungan
rohaniyah dengan Allah SWT dan hal hal lain yang berkaitan dengan
keimanan. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam
2. Hukum yang berhubungan dengan Amaliyah yang mengatur hubungan
dengan Allah, dengan sesama dan alam sekitar. Hukum ini tercermin
dalam Rukun Islam dan disebut hukum syariat. Ilmu yang mempelajarinya
disebut Ilmu Fiqih
3. Hukum yang berkaitan dngan akhlak. Yakni tuntutan agar setiap muslim
memiliki sifat sifat mulia sekaligus menjauhi perilaku perilaku tercela.

Bila ditinjau dari Hukum Syara terbagi menjadi dua kelompok:


1. Hukum yang berkaitan dengan amal ibadah seperti shalat, puasa, zakat,
haji, nadzar, sumpah dan sebagainya yang berkaitan dengan hubungan
manusia dengan tuhannya.
2. Hukum yang berkaitan dengan amal kemasyarakatan (muamalah) seperti
perjanjian perjanjian, hukuman (pidana), perekonomian, pendidikan,
perkawinan dan lain sebagainya.

Hukum yang berkaitan dengan muamalah meliputi:


1. Hukum yang berkaitan dengan kehidupan manusia dalam berkeluarga,
yaitu perkawinan dan warisan
2. Hukum yang berkaitan dengan perjanjian, yaitu yang berhubungan
dengan jual beli (perdagangan), gadai-menggadai, perkongsian dan lainlain. Maksud utamanya agar hak setiap orang dapat terpelihara dengan
tertib
3. Hukum yang berkaitan dengan gugat menggugat, yaitu yang berhubungan
dengan keputusan, persaksian dan sumpah
4. Hukum yang berkaitan dengan jinayat, yaitu yang berhubungan dengan
penetapan hukum atas pelanggaran pembunuhan dan kriminalitas
5. Hukum yang berkaitan dengan hubungan antar agama, yaitu hubungan
antar kekuasan Islam dengan non-Islam sehingga tercpai kedamaian dan
kesejahteraan.
6. Hukum yang berkaitan dengan batasan pemilikan harta benda, seperti
zakat, infaq dan sedekah.

Ketetapan hukum yang terdapat dalam Al Quran ada yang rinci dan ada yang garis besar.
Ayat ahkam (hukum) yang rinci umumnya berhubungan dengan masalah ibadah,
kekeluargaan dan warisan. Pada bagian ini banyak hukum bersifat taabud (dalam rangka
ibadah kepada Allah SWT), namun tidak tertutup peluang bagi akal untuk memahaminya
sesuai dengan perubahan zaman. Sedangkan ayat ahkam (hukum) yang bersifat garis besar,
umumnya berkaitan dengan muamalah, seperti perekonomian, ketata negaraan, undangundang sebagainya. Ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan masalah ini hanya berupa
kaidah-kaidah umum, bahkan seringkali hanya disebutkan nilai-nilainya, agar dapat
ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman.
Selain ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan hukum, ada juga yang berkaitan dengan
masalah dakwah, nasehat, tamsil, kisah sejarah dan lain-lainnya. Ayat yang berkaitan dengan
masalah-masalah tersebut jumlahnya banyak sekali.
B. Hadits
Hadits merupakan segala tingkah laku Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan,
perbuatan, maupun ketetapan (taqrir). Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua
setelah Al Quran. Allah SWT telah mewajibkan untuk menaati hukum-hukum dan
perbuatan-perbuatan yang disampaikan oleh nabi Muhammad SAW dalam haditsnya. Hal ini
sejalan dengan firman Allah SWT: (lihat Al-Quran onlines di google)
!$tBur N39s?#u Aq9$# nrs $tBur N39pktX mYt (#qgtFR$$s 4
Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang
dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, (QS Al Hasyr : 7)
Perintah meneladani Rasulullah SAW ini disebabkan seluruh perilaku Nabi Muhammad SAW
mengandung nilai-nilai luhur dan merupakan cerminan akhlak mulia. Apabila seseorang bisa
meneladaninya maka akan mulia pula sikap dan perbutannya. Hal tersebut dikarenakan
Rasulullah SAW memilki akhlak dan budi pekerti yang sangat mulia. Hadits sebagai sumber
hukum Islam yang kedua, juga dinyatakan oleh Rasulullah SAW:
Artinya: Aku tinggalkan dua perkara untukmu seklian, kalian tidak akan sesat selama
kalian berpegangan kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunah rasulnya. (HR Imam
Malik)
Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua memilki kedua fungsi sebagai berikut.
1. Memperkuat hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Al Quran,
sehingga kedunya (Al Quran dan Hadits) menjadi sumber hukum untuk
satu hal yang sama. Misalnya Allah SWT didalam Al Quran menegaskan
untuk menjauhi perkataan dusta, sebagaimana ditetapkan dalam
firmannya : (lihat Al-Quran onlines di google)

Artinya: Jauhilah perbuatan dusta (QS Al Hajj : 30)

Ayat diatas juga diperkuat oleh hadits-hadits yang juga berisi larangan berdusta.
1. Memberikan rincian dan penjelasan terhadap ayat-ayat Al Quran yang
masih bersifat umum. Misalnya, ayat Al Quran yang memerintahkan
shalat, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji, semuanya bersifat
garis besar. Seperti tidak menjelaskan jumlah rakaat dan bagaimana cara
melaksanakan shalat, tidak merinci batas mulai wajib zakat, tidak
memarkan cara-cara melaksanakan haji. Rincian semua itu telah
dijelaskan oelh rasullah SAW dalam haditsnya. Contoh lain, dalam Al
Quran Allah SWT mengharamkan bangkai, darah dan daging babi. Firman
Allah sebagai berikut: (lihat Al-Quran onlines di google)
Artinya: Diharamkan bagimu bangkai, darah,dan daging babi (QS Al
Maidah : 3)

Dalam ayat tersebut, bangkai itu haram dimakan, tetap tidak dikecualikan bangkai mana yang
boleh dimakan. Kemudian datanglah hadits menjelaskan bahwa ada bangkai yang boleh
dimakan, yakni bangkai ikan dan belalang. Sabda Rasulullah SAW:

, :

(
)


:

Artinya: Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun dua
macam bangkai adalah ikan dan belalalng, sedangkan dua macam darah adalah hati dan
limpa (HR Ibnu Majjah)
1. Menetapkan hukum atau aturan-aturan yang tidak didapati dalam Al
Quran. Misalnya, cara menyucikan bejana yang dijilat anjing, dengan
membasuhnya tujuh kali, salah satunya dicampur dengan tanah,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
( )

Artinya: Mennyucikan bejanamu yang dijilat anjing adlah dengan cara membasuh sebanyak
tujuh kali salah satunya dicampur dengan tanah (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan
Baihaqi)
Hadits menurut sifatnya mempunyai klasifikasi sebagai berikut:
1. Hadits Shohih, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rawi yang adil,
sempurna ingatan, sanadnya bersambung, tidak ber illat, dan tidak
janggal. Illat hadits yang dimaksud adalah suatu penyakit yang samarsamar yang dapat menodai keshohehan suatu hadits
2. Hadits Hasan, adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, tapi
tidak begitu kuat ingatannya (hafalannya), bersambung sanadnya, dan
tidak terdapat illat dan kejanggalan pada matannya. Hadits Hasan
termasuk hadits yang makbul biasanya dibuat hujjah untuk sesuatu hal
yang tidak terlalu berat atau tidak terlalu penting
3. Hadits Dhoif, adalah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih syaratsyarat hadits shohih atau hadits hasan. Hadits dhoif banyak macam
ragamnya dan mempunyai perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan

banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits shohih atau hasan yang tidak
dipenuhi

Adapun syarat-syarat suatu hadits dikatakan hadits yang shohih, yaitu:


1. Rawinya bersifat adil
2. Sempurna ingatan
3. Sanadnya tidak terputus
4. Hadits itu tidak berilat, dan
5. Hadits itu tidak janggal

C. Ijtihad
Ijtihad ialah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memecahkan suatu masalah yang tidak
ada ketetapannya, baik dalam Al Quran maupun Hadits, dengan menggunkan akal pikiran
yang sehat dan jernih, serta berpedoman kepada cara-cara menetapkan hukum-hukumyang
telah ditentukan. Hasil ijtihad dapat dijadikan sumber hukum yang ketiga. Hasil ini
berdasarkan dialog nabi Muhammad SAW dengan sahabat yang bernama muadz bin jabal,
ketika Muadz diutus ke negeri Yaman. Nabi SAW, bertanya kepada Muadz, bagaimana
kamu akan menetapkan hukum kalau dihadapkan pada satu masalah yang memerlukan
penetapan hukum?, muadz menjawab, Saya akan menetapkan hukumdengan Al Quran,
Rasul bertanya lagi, Seandainya tidak ditemukan ketetapannya di dalam Al Quran? Muadz
menjawab, Saya akan tetapkan dengan Hadits. Rasul bertanya lagi, seandainya tidak
engkau temukan ketetapannya dalam Al Quran dan Hadits, Muadz menjawab saya akan
berijtihad dengan pendapat saya sendiri kemudian, Rasulullah SAW menepuk-nepukkan
bahu Muadz bi Jabal, tanda setuju. Kisah mengenai Muadz ini menajdikan ijtihad sebagai
dalil dalam menetapkan hukum Islam setelah Al Quran dan hadits.
Untuk melakukan ijtihad (mujtahid) harus memenuhi bebrapa syarat berikut ini:
1. mengetahui isi Al Quran dan Hadits, terutama yang bersangkutan dengan
hukum
2. memahami bahasa arab dengan segala kelengkapannya untuk
menafsirkan Al Quran dan hadits
3. mengetahui soal-soal ijma
4. menguasai ilmu ushul fiqih dan kaidah-kaidah fiqih yang luas.

Islam menghargai ijtihad, meskipun hasilnya salah, selama ijtihad itu dilakukan sesuai
dengan persyaratan yang telah ditentukan. Dalam hubungan ini Rasulullah SAW bersabda:
( )



Artinya: Apabila seorang hakim dalam memutuskan perkara melakukan ijtihad dan ternyata
hasil ijtihadnya benar, maka ia memperoleh dua pahala dan apabila seorang hakim dalam

memutuskan perkara ia melakukan ijtihad dan ternyata hasil ijtihadnya salah, maka ia
memperoleh satu pahala. (HR Bukhari dan Muslim)
Islam bukan saja membolehkan adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad, tetapi juga
menegaskan bahwa adanya beda pendapat tersebut justru akan membawa rahmat dan
kelapangan bagi umat manusia. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

( )
Artinya: Perbedaan pendapat di antara umatku akan membawa rahmat (HR Nashr Al
muqaddas)
Dalam berijtihad seseorang dapat menmpuhnya dengan cara ijma dan qiyas. Ijma adalah
kese[akatan dari seluruh imam mujtahid dan orang-orang muslim pada suatu masa dari
beberapa masa setelah wafat Rasulullah SAW. Berpegang kepada hasil ijma diperbolehkan,
bahkan menjadi keharusan. Dalilnya dipahami dari firman Allah SWT: (lihat Al-Quran
onlines di google)
Artinya: Hai orang-oran yang beriman, taatilah Allah dan rasuknya dan ulil amri diantara
kamu. (QS An Nisa : 59)
Dalam ayat ini ada petunjuk untuk taat kepada orang yang mempunyai kekuasaan
dibidangnya, seperti pemimpin pemerintahan, termasuk imam mujtahid. Dengan demikian,
ijma ulam dapat menjadi salah satu sumber hukum Islam. Contoh ijam ialah mengumpulkan
tulisan wahyu yang berserakan, kemudian membukukannya menjadi mushaf Al Quran,
seperti sekarang ini
Qiyas (analogi) adalah menghubungkan suatu kejadian yang tidak ada hukumnya dengan
kejadian lain yang sudah ada hukumnya karena antara keduanya terdapat persamaan illat atau
sebab-sebabnya. Contohnya, mengharamkan minuman keras, seperti bir dan wiski. Haramnya
minuman keras ini diqiyaskan dengan khamar yang disebut dalam Al Quran karena antara
keduanya terdapat persamaan illat (alasan), yaitu sama-sama memabukkan. Jadi, walaupun
bir tidak ada ketetapan hukmnya dalam Al Quran atau hadits tetap diharamkan karena
mengandung persamaan dengan khamar yang ada hukumnya dalam Al Quran.
Sebelum mengambil keputusan dengan menggunakan qiyas maka ada baiknya mengetahui
Rukun Qiyas, yaitu:
1. Dasar (dalil)
2. Masalah yang akan diqiyaskan
3. Hukum yang terdapat pada dalil
4. Kesamaan sebab/alasan antara dalil dan masalah yang diqiyaskan

Bentuk Ijtihad yang lain

Istihsan/Istislah, yaitu mentapkan hukum suatu perbuatan yang tidak


dijelaskan secara kongret dalam Al Quran dan hadits yang didasarkan
atas kepentingan umum atau kemashlahatan umum atau unutk
kepentingan keadilan

Istishab, yaitu meneruskan berlakunya suatu hukum yang telah ada dan
telah ditetapkan suatu dalil, sampai ada dalil lain yang mengubah
kedudukan dari hukum tersebut

Istidlal, yaitu menetapkan suatu hukum perbuatan yang tidak disebutkan


secara kongkret dalam Al Quran dan hadits dengan didasarkan karena
telah menjadi adat istiadat atau kebiasaan masyarakat setempat.
Termasuk dalam hal ini ialah hukum-hukum agama yang diwahyukan
sebelum Islam. Adat istiadat dan hukum agama sebelum Islam bisa diakui
atau dibenarkan oleh Islam asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Al
Quran dan hadits

Maslahah mursalah, ialah maslahah yang sesuai dengan maksud syarak


yang tidak diperoeh dari pengajaran dalil secara langsung dan jelas dari
maslahah itu. Contohnya seperti mengharuskan seorang tukang
mengganti atau membayar kerugian pada pemilik barang, karena
kerusakan diluar kesepakatan yang telah ditetapkan.

Al Urf, ialah urursan yang disepakati oelh segolongan manusia dalam


perkembangan hidupnya

Zarai, ialah pekerjaan-pekerjaan yang menjadi jalan untuk mencapai


mashlahah atau untuk menghilangkan mudarat.

D. Pembagian Hukum dalam Islam


Hukum dalam Islam ada lima yaitu:
1. Wajib, yaitu perintah yang harus dikerjakan. Jika perintah tersebut dipatuhi
(dikerjakan), maka yang mebgerjakannya akan mendapat pahala, jika
tidak dikerjakan maka ia akan berdosa
2. Sunah, yaitu anjuran. Jika dikerjakan dapat pahala, jika tidak dikerjakan
tidak berdosa
3. Haram, yaitu larangan keras. Kalau dikerjakan berdosa jika tidak
dikerjakan atau ditinggalkan mendapat pahala, sebagaiman dijelaskan
oleh nabi Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya yang artinya:
Jauhilah segala yang haram niscaya kamu menjadi orang yang paling
beribadah. Relalah dengan pembagian (rezeki) Allah kepadamu niscaya
kamu menjadi orang paling kaya. Berperilakulah yang baik kepada
tetanggamu niscaya kamu termasuk orang mukmin. Cintailah orang lain
pada hal-hal yang kamu cintai bagi dirimu sendiri niscaya kamu tergolong
muslim, dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu
banyak tertawa itu mematikan hati. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

4. Makruh, yaitu larangan yang tidak keras. Kalau dilanggar tidak dihukum
(tidak berdosa), dan jika ditinggalkan diberi pahala
5. Mubah, yaitu sesuatu yang boleh dikerjakan dan boleh pula ditinggalkan.
Kalau dikerjakan tidak berdosa, begitu juga kalau ditinggalkan.

Dalil fiqih adalah Al Quran, hadits, ijma mujtahidin dan qiyas. Sebagian ulama
menambahkan yaitu istihsan, istidlal, urf dan istishab.
Hukum-hukum itu ditinjau dari pengambilannya terdiri atas empat macam.
1. Hukum yang diambil dari nash yang tegas, yakni adanya dan maksudnya
menunjukkan kepada hukum itu
Hukum seperti ini tetap, tidak berubah dan wajib dijalankan oleh seluruh
kaum muslim, tidak seorangpun berhak membantahnya. Seperti wajib
shalat lima waktu, zakat, puasa, haji dan syarat syah jual beli dengan rela.
Imam syafiie berpendapat apabila ada ketentuan hukum dari Allah SWT,
pada suatu kejadian, setiap muslim wajib mengikutinya.
2. Hukum yang diambil dari nash yang tidak yakin maksudnya terhadap
hukum-hukum itu.
Dalam hal seperti ini terbukalah jalan mujtahid untuk berijtihad dalam
batas memahami nas itu. Para mujtahid boleh mewujudkan hukum atau
menguatkan salah satu hukum dengan ijtihadnya. Umpamanya boleh atau
tidakkah khiar majelis bagi dua orang yang berjual beli, dalam memahami
hadits:

Dua orang yang jual beli boleh memilih antara meneruskan jual beli atau tidak selama
keduanya belum berpisah. Kata berpisah yang dimaksud dalam hadits ini mungkin berpisah
badan atau pembicaraan, mungkin pula ijab dan kabul. Sperti wajib menyapu semua kepala
atau sebagian saja ketika wudhu, dalam memahami ayat:
Artinya: Dan sapulah kepalamu (QS Al Maidah : 6)
Juga dalam memahami hadits tidak halal binatang yang disembelih karena semata-mata tidak
membaca basmalah.


Alat apapun yang dapat mengalirkan darah dan disebutkan padanya nama Allah.
1. Hukum yang tidak ada nas, baik secara qai (pasti) maupun zanni
(dugaan), tetapi pada suatu masa telah sepakat (ijma) mujtahidin atas
hukum-hukumnya
Seperti bagian kakek seperenam, dan batalnya perkawinan seorang
muslimah dengan laki-laki non muslim. Di sini tidak ada jalan untuk ijtihad,
bahkan setiap muslim wajib mengakui untuk menjalankannya. Karena
hukum yang telah disepakati oleh mujtahdidin itu adalah hukum untuk
seluruh umat, dan umat itu menurut Rasulullah SAW tidak akan sepakat

atas sesuatu yang sesat. Mujtahidin merupakan ulil amri dalam


mempertimbangkan, sedangkan Allah SWT menyuruh hambanya menaati
ulil amri. Sungguhpun begitu, kita wajib betul-betul mengetahui bahwa
pada huku itu telah terjadi ijma (sepakat) ulama mujtahidin. Bukan hanya
semata-mata hanyan didasarkan pada sangkaan yang tidak berdasarkan
penelitian.
2. Hukum yang tidak ada dari nas, baik qati ataupun zanni, dan tidak pula
ada kesepakatan mujtahidin atas hukum itu. Seperti yang banyak terdapat
dalam kitab-kitab fiqih mazhab. Hukum seperti ini adalah hasil pendapat
seorang mujtahid. Pendapat menurut cara yang sesuai denngan akal
pikirannya dan keadaan lingkungannya masing-masing diwaktu terjadinya
peristiwa itu. Hukum-hukum seperti itu tidak tetap, mungkin berubah
dengan berubahnya keadaan atau tinjauannya masing-masing. Maka
mujtahid dimasa kini atau sesduahnya berhak membantah serta
menetapkan hukum yang lain. Sebagaimana mujtahid pertama telah
memberi (menetapkan) hukum itu sebelumnya. Ia pun dapat pula
mengubah hukum itu dengan pendapatnya yang berbeda dengan tinjauan
yang lain, setelah diselidiki dan diteliti kembali pada pokok-pokok
pertimbangannya. Hasil ijtihad seperti ini tidak wajib dijalankan oleh
seluruh muslim. Hanya wajib bagi mujtahid itu sendiri dan bagi orangorang yang meminta fatwa kepadanya, selama pendapat itu belum
diubahnya.

a. Pengertian Sumber dan Dalil


Kata sumber dalam hukum fiqh adalah terjemahan dari kata mashdar yang jamaknya
adalah dirmasha, yang dapat diartikan suatu wadah yang dalam wadah tersebut dapat
ditemukan atau ditimba norma hukum.
Dalam pengertian ini kata sumber hanya digunakan untuk al Quran dan Sunnah, karena
keduanya merupakan wadah yang dapat ditimba hukum syaranya. Hukum syara yaitu
seperangkat peraturan berdasarkan ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui
dan diyakini berlaku serta mengikat untuk semua umat yang beragama Islam.
Sedangkan kata dalil berarti sesuatu yang dapat menunjuki. Bila dihubungkan dengan kata
hukum atau al adillah syariyyah berarti sesuatu yang memberi petunjuk dan menuntun kita
dalam menemukan hukum Allah. Kata dalil dapat digunakan untuk al Quran, sunnah, ijma,
dan qiyas, karena semuanya menuntun kepada penemuan hukum Allah.
Di kalangan fuqoha, dalil diartikan sesuatu yang padanya terdapat penunjukan pengajaran,
baik yang dapat menyampaikan kepada sesuatu yang meyakinkan atau kepada dugaan kuat
yang tidak meyakinkan.
Menurut ulama ushul fiqh dalil diartikan sesuatu yang menyampaikan kepada tuntutan
khabari dengan pemikiran yang shahih.
Prinsip dalil syara menurut al Syatibi :

1. Dalil syara tidak bertentangan dengan tuntutan akal.


2. Tujuan pembentukan dalil adalah menempatkan perbuatan manusia dalam perhitungannya.
3. Setiap dalil bersifat kulli (global).
4. Dalil syara terbagi dalam qathi dan zhanni.
5. Dalil syara terdiri dari dalil naqli dan dalil aqli.
Al Midi membagi dalil ke dalam dua kelompok, yaitu dalil shahih (wajib diamalkan) dan
sesuatu yang diperkirakan dalil shahih yang sebenarnya bukan dalil. Dalil shahih terdiri dari
al- Quran dan Sunnah yang disebut dalil nash dan bukan nash terdiri dari :
a. terpelihara dari kesalahan, yaitu ijma.
b. terpelihara dari kesalahan tetapi dapat dihubungkan dengan nash, yaitu qiyas
c. tidak terpelihara dari kesalahan dan tidak dapat dihubungkan dengan nash, yaitu istidlal.
Sesuatu yang diperkirakan dalil shahih sebenarnya bukan dalil, yaitu : syaru man qablana,
mazhab shahabi, istihsan, dan maslahah mursalah.
Jadi, dalil-dalil syara yang disepakati adalah al Quran, Sunnah, Ijma, dan Qiyas.
Hukum berasal dari bahasa Arab yang secara etimologi berarti memutuskan,
menetapkan, dan menyelesaikan. Sedangkan pengertian hukum menurut istilah
sederhana adalah seperangkat aturan tentang tingkah laku manusia yang diakui sekelompok
masyarakat, disusun oleh orang-orang yang diberi wewenang oleh masyarakat itu; berlaku
dan mengikat untuk seluruh anggotanya.
Bila pengertian hukum tersebut dihubungkan dengan Islam atau syara maka Hukum Islam
berarti seperangkat aturan berdasarkan wahyu Allah dan Sunnah Rasul tentang tingkah laku
manusia mukallaf yang diakui dan diyakini mengikat untuk semua yang beragama Islam. dari
pengertian ini mengandung arti bahwa hukum Islam mengatur tindak lahir manusia yang
dikenakan hukum. Peraturan tersebut berlaku dan mempunyai kekuatan terhadap orang-orang
yang meyakini kebenaran wahyu dan Sunnah Rasul itu, yaitu umat Islam.
Jadi, yang dimaksud Sumber Hukum Islam adalah al Quran dan Sunnah Rasul yang
merupakan seperangkat aturan tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan
diyakini mengikat untuk semua yang beragama Islam.
b. Macam-Macam Sumber Hukum Islam
Para ulama sepakat bahwa, Sumber Hukum Islam ada tiga, yaitu; al Quran, Sunnah, dan al
Rayu ( akal ).Landasannya adalah :
1.) Al Quran surat al Nisa (4) :59 yang artinyaHai orang-orang yang beriman, taatilah Allah
dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat
tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah ( al Quran ) dan Rasul ( Sunnah ).

Perintah mentaati Allah berarti perintah menjalankan hukum yang terdapat dalam al
Quran.
Perintah mentaati Rasul berarti perintah mengamalkan apa yang disampaikan Rasul
dalam Sunnahnya.
Perintah mentaati ulil amri berarti perintah mengamalkan hukum yang ditemukan
berdasarkan ijma.
Perintah mengembalikan sesuatu yang siperselisihkan hukumnya kepada Allah dan Rasul
berarti perintah mengamalkan hukum yang ditemukan melalui qiyas. Ijma dan qiyas
merupakan hasil dari al Rayu ( hasil ijtihad ).
2.) Sunnah, yaitu kisah pembicaraan Nabi dengan Muaz bin Jabal sewaktu ia diutus oleh Nabi
sebagai qadli ( hakim ) ke Yaman.
Nabi : Bagaimana Anda memutuskan seandainya kepada Anda dihadapkan suatu perkara?
Muaz : Saya memutuskan berdasarkan apa yang saya temukan dalam al Quran.
Nabi : Kalau engkau tidak dapat menemukan dalam al Quran ?
Muaz : Saya memutuskan berdasarkan apa yang saya temukan dalam Sunnah.
Nabi : Seandainya dalam Sunnah pun engkau tidak dapat menemukan jawabannya ?
Muaz : Saya mengamalkan ijtihad dengan nalar saya dan saya tidak akan berbuat
kelengahan.
Nabi : Segala puji untuk Allah yang telah meberikan taufik kepada utusan Rasul Allah
meNurut apa yang direlakannya.
A. Al Quran Sebagai Sumber Hukum Islam
1. Pengertian Al Quran
Secara etimologis al Quran adalah bentuk masdhar dari kata qa-ra-a ( ), sewazan dengan kata
fulan ( ) yang artinya bacaan, berbicara tentang apa yang tertulis padanya, atau melihat dan
menelaah. Dalam pemgertian ini, berarti , yaitu isim maful (ob- yek) dari . hal ini sesuai
dengan firman Allah dalam surat al Qiyamah (75) : 17-18.
Quran juga sebagai nama kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, bila
dilafazkan dengan menggunakan alif-lam yang berarti juga keseluruhan apa yang dimaksud
dengan Quran (QS ( ) : 9). Al Quran juga disebut al Kitab dalam surat al Baqarah ayat 2.
Definisi al Quran menurut beberapa tokoh :

1. Syaltut, al Quran adalah lafaz Arabi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW, dinukilkan kepada kita secara mutawatir .
2. Al Syaukani, al Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW, tertulis dalam mushaf, dinukilkan secara mutawatir .
3. Abu Zahroh, al Quran adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
.
4. Al Sarkhisi, al Quran adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW,
ditulis dalam mushaf, diturunkan dengan huruf yang tujuh yang mashur dan
dinukilkan secara mutawatir .
5. Al Midi, al Quran adalah al kitab adalah al Quran yang diturunkan .
6. Ibnu Subki, al Quran adalah lafaz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW,
mengandung mujizat setiap suratnya, yang beribadah membacanya .
Jadi definisi al Quran dapat disimpulkan sebagai lafaz berbahasa Arab yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW, yang dinukilkan secara mutawatir.
2. Otentisitas ( Keaslian ) al Quran
Umat Islam sepakat bahwa kumpulan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW melalui malaikat Jibril yang disebut al Quran dan termuat dalam mushaf adalah otentik
( betul-betul dariAllah ). Hal ini dibuktikan dari kehati-hatian para sahabat Nabi
memeliharanya sebelum ia dibukukan dan dikumpulkan. Begitu pula kehati-hatian para
sahabat dalam membukukan dan memelihara penggandaanny. Selain itu, al Quran
disampaikan dan disebarluaskan secara periwayatan oleh orang banyak yang tidak mungkin
bersekongkol untuk berdusta ( mutawatir ). Oleh karena itu, al Quran itu bersifat otentik
sebagaimana firman Allah dalam surat al Hijr (15) ayat 9, yang artinya sesungguhnya
Kamilah yang menurunkan al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya .
a. Bacaan ( Qiraat ) al Quran
Dari segi pembacaan ( qiraat ) al Quran, terdapat tujuh macam qiraat yang disepakati
kemutawatirannya. Itulah yang disebut qiraat yang tujuh ( qiraat sabah ), yaitu qiraat : Ibnu
Katsir (Mekah), Ibnu Amir (Syam), Nafi` (Madinah), Abu Amru (Bashroh), `Ashim (Kufah),
Hamzah (Kufah), al Kisai (Kufah).
Selain itu ada tiga qiraat lagi, yaitu Ibnu Ja`far,Ya`kub, dan Khalafa, tetapi tidak disepakati
kemutawatirannya oleh para ulama. Qiraat yang tidak mutawatirini disebut qiraat syadzdzah
atau ganjil, lain dari yang umum berlaku. Keganjilan qiraat syadzdzah ini diantaranya karena
adanya penambahan kata sebagai penjelasan terhadap kata yang terletak di sampingnya atau
pengubahan kata.
b. Kedudukan qira`at syadzdzah
1. Imam al Syafi`I berpendapat, tidak boleh menggunakan dalil untuk menetapkan
hukum dengan qiraat syadzdzah. Alasannya adalah periwayat yang membawa pesan

wahyu dari Nabi, bila ia hanya seorang dengan mengatakan bahwa pesan yang ia
bawa itu adalah al Quran mungkin salah danjika tyidak disebutkannya bahwa pesan
yang ia bawa adalah al Quran, maka ia berada dalam keraguan antara apakah pesan
itu khabar dari Nabi atau pendapatnya sendiri. Karena itu tidak dapat dijadikan hujjah
yang kuat.
2. Imam Abu Hanifah menerima qiraat syadzdzah sebagai sumber dalam menetapkan
hukum. Alasannya, meskipun periwayatannya tidak meyakinkan sebagai ayat al
Quran, namun setidaknya ia sama dengan hadits ahad, sedangkan hadits ahad dapat
dijadikan sumber dalam mengistimbathkan hukum.
c. Basmalah dalam al Qur`an
Terdapat perbedaan pendapat ulama tentang basmalah ( ) dalam al Quran. Basmalah terdapat
dalam mushaf standar sebanyak 114. sekali dalam surat al Naml (27) : 30 dan 113 kali dalam
permulaan setiap surat, kecuali surat al Taubah (9).
Basmalah adalah bagian dari al Qur`an karena terdapat dalam surat al Naml. Dalam hal ini,
sumber khabarnya bersifat mutawatir dan tidak terdapat perbedaan pendapat. Paraulama beda
pendapat mengenai basmalah yang terdapat di luar surat al Naml.
1. Imam Syafi`I berpendapat bahwa basmalah ini merupakan satu ayat dari surat al
Qur`an yang diawali oleh basmalah. Alasannya adalah :
i) Hadits riwayat Abdul Hamid yang artinya alhamdulillah atau surat al fatihah
terdiri dari 7 ayat, satu diantaranya adalah basmalah.
ii) Hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah, dari Umi Salamah bahwa Rasulullah
membaca basmalah pada awal surat al fatihah dan surat-surat lainnya.
1. Imam Malik berpendapat ; basmalah di awal setiao surat bukan merupakan ayat
dalam al- Quran, juga bukan salah satu ayat dalam surat al fatitah atau surat lainnya .
Alasannya adalah umat Islam Madinah tidak membaca al fatihah pada awal setiap
surat dalam shalat yang mereka lakukan ( zaman Nabi sampai masa Imam Malik ).
2. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa tertulisnya basmalah dalam al
Qur`anmenunjukkan bahwa ia bagioan dari al Qur`an, tetapi tidak menunjukkan
bahwa ia bagian dari surat al- Qur`an yang didahului basmalah itu. Basmalah dalam al
Qur`an adalah sebagai pemisah antara satu surat dengan surat lainnya.
3. Fungsi dan Tujuan Turunnya al Qur`an
Fungsi turunnya al Qur`an :
1. Sebagai petunjuk ( hudan ) bagi umat manusia.
2. Sebagai rahmat atau keberuntungan dari Allah dalam bentuk kasih sayang-Nya untuk
umat manusia.

3. Sebagai pembeda ( furqon ) antara yang baik dan buruk, halal haram, salah benar, dan
sebagainya.
4. Sebagai pengajaran yang akan mengajarkan dan membimbing umat dalam kehidupan
untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.
) bagi orang yang telah berbuat baik kepada Allah dan semua manusia.5. Sebagai berita
gembira ( busyro
n ) terhadap sesuatu yang disampaikan Allah.i6. Sebagai penjelasan ( tibyan ) atau yang
menjelaskan ( mub
7. Sebagai pembenar ( mushaddiq ) terhadap kitab yang sebelumnya ( Taurat, Zabur, Injil )
sebelum adanya perubahan terhadap isi kitab tersebut.
8. Sebagai cahaya yang akan menerangi kehidupan manusia menuju jalan keselamatan.
9. Sebagai tafsil, yaitu memberi penjelasan secara rinci sehingga dapat dilaksanakan sesuai
yang dikehendaki Allah.
10.Sebagai syifau al shudur, yaitu obat rtohani yang sakit.
11.Sebagai hakim, yaitu sumber kebijaksanaan.
Al Qur`an diturunkan secara berangsur-angsur. Maksud diturunkan secara berangsur-angsur
yaitu :
tal fu`ad ( kemantapan hati )1. Sebagai tatsbi
Yaitu ketenangan dan kepuasan rohani dalam menerima dan menjalankan alQur`an
bagi Nabi maupun bagi umatnya. Bagi Nabi yaitu seringnya Nabi berkomunikasi
langsung dengan Tuhan. Bagi umatnya yaitu bahwa hukum Allah yang terkandung
dalam al Qur`an merupakan revolusi budaya sehingga mungkin lebih baik bila
dilakukan secara berangsur-angsur. Selain itu, beban hukum yang ada dalam al Qur`an
dapat dilaksanakan tidak dengan sekaligus yang dapat mmenimbulkan masalah social
dan keagamaan.
2. Untuk adanya tartil ( membaca dengan baik dan indah )
Karena al Qur`an turun pada kaum yang umumnya ummi atau but abaca tulis. Allah
menghendaki ayat-ayat al Qur`an dapat dihafal oleh umat dengan baik secara
menyeluruh sehingga otentisitas al Qur`an terjamin.
Turunnya al Qur`an dibagi ke dalam dua tahap, yaitu:
a. Periode Mekah ( ayat Makiyah ), ayat yang turun pada periode ini umumnya berisi tentang
akidah dan moral Islam.

b. Periode Madinah ( ayat Madaniyah ), ayat yang turun pada periode ini berisi hukumhukum dan pemantapan akidah.
4. Mu`jizat al Qur`an
Secara etimologis ( lughowii ) mu`jizat berarti sesuatu yang dapat melemahkan, sehingga
orang lain tidak dapat berbuat yang sama atau melebihi.
Al Qur`an merupakan mu`jizat terbesar Nabi Muhammad SAW. bentuk kemu`jizatan alQur`an yaitu :
1. Segi keindahan bahasa. Keindaannya terdapat dalam penggunaan kata, susunan kata
dan kalimat, ungkapan, dan hubungan satu ungkapan dengan ungkapan lainnya.
2. Dari segi pemberitaan mengenai kejadian masa lalu yang kemudian terbukti
kebenarannya, dan sesuai dengan pemberitaan kitab suci sebelumnya.
3. Dari segi pemberitaan al Qur`an tentang hal-hal yang akan terjadi dan ternyata
memang kemudian terjadi. Misalnya pemberitaan kekalahan Persia dari Romawi ( QS
al Rum (30):2-4)
4. Dari segi kandungannya akan hakekat kejadian alam dengan seisinya serta hubungan
antara satu dengan lainnya. Pemberitaan seperti ini merupakan hal luar biasa yang
kemudian terbukti melalui pemggalian ilmu pengetahuan dan teknologi. Misalnya
kejadian manusia (QS al-Mu`min (23):12-14).
5. Dari segi kandungan mengenai pedoman hidup yang menuntun manusia mencapai
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat ; tentang halal-haram, salah-benar, baikburuk, boleh dan tidak boleh serta tentang etika pergaulan.
Demikian hal-hal luar biasa yang terdapat dalam al Qur`an yang tidak mungkin diciptakan
oleh Nabi Muhammad SAW yang ummi dan tidak pernah belajar ilmu pengetahuan dan
sejarah. Jadi tidak diragukan bahwa al Qur`an itu asli dari Allah SWT.
5. Penjelasan Al Qur`an terhadap Hukum
Ayat-ayat al Qur`an dari segi kejelasan arti ada dua macam, yaitu :
1. Ayat muhkam, yaitu ayat yang jelas maknanya.
bih, yaitu ayat yang tidak pasti arti dan maknanya, sehingga dapat dipahamai2. Ayat mutasya
dengan beberapa kemungkinan.
Dari segi penjelasannya terhadap hukum, ada beberapa cara yang digunakan al Qur`an :
1. Secara juz`I (4):11-12) dan sanksi zina (al Nur( terperinci ), misalnya tentang waris (al
Nisa
(24):4).

( global ) atau garis besar yang masih membutuhkan penjelasan dari Nabi2. Secara kulli
Muhammad SAW.
3. Secara isyarat, satu ayat al Qur`an dapat memberikan beberapa maksud.
Ayat al Qur`an dan juz`I penunjukannya terhadap hukum adalah pasti ( qath`I dilalah ).
Umumnya berlaku untuk bidang aqidah, ibadah pokok, dan norma yang tidak akan
mengalami perubahan ( mis; berbuat baik kepada ibu bapak ).
bihatAyat al Qur`an mutasya serta mengandung isyarat penunjukannya terhadap hukumdan
kulli ( tidak meyakinkan ). Ayat al Qur`an yang bersifatbersifat zhanni ini umumnya berlaku
untuk bidang muamalah dalam arti luas.zhanni
6. Hukum yang Terkandung dalam Al Qur`an
Secara garis besar hukum yang terkandung dalam al Qur`an dapat dibagi 3 macam :
Pertama, hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt mengenai apa yang
harus diyakini dan harus dihindari sehubungan dengan keyakinannya ( hukum diyah ) yang
dikaji dalam ilmu tauhid atau ushuluddin.i`tiqa
Kedua, hukum yang mengatur pergaulan manusia( hukum khuluqiyah ) yang kemudian
dikembangkan dalam ilmu akhlak.
Ketiga, hukum yang menyangkut tindak tanduk manusia dan tingkah laku lahirnya dalam
hubungan dengan Allah Swt, dan dalam hubungannya dengan sesama manusia, dan dalam
bentuk apa-apa yang harus dilakukan atau dijauhi ( hukum amaliyah ) yang dikembangkan
dalam hukum syari`ah.
Hukum amaliyah tersebut secara garis besar dibagi dua :
1. Hukum ibadah dalam arti khusus, hukum yang mengatur tingkah laku dan perbuatan
lahiriah
manusia dalam hubungannya dengan Allah Swt,seperti; shalat, puasa zakat, dan haji.
2. Hukum muamalah dalam arti umum, yaitu hukum yang mengatur tingkah laku lahiriah
manusia dalam hubungannya dengan sesama dan alam sekitar, seperti; jual beli,
perkawinan,pembunuhan, dan lain-lain.
Dilihat dari segi pemberlakuannya, hukum muamalah terdiri dari beberapa macam, yaitu:

a. Hukum muamalah dalam arti khusus, yaitu hukum yang mengatur hubungan sesama
manusia yang menyangkut kebutuhan harta bagi keperluan hidup. Contoh : jual beli,
sewa menyewa, pinjam meminjam, dan sebagainya.
b. Hukum munakahat, yaitu hukum yang mengatur hubungan sesama manusia yang
menyangkut kebutuhan akan penyaluran nafsu sahwat secara sah dan yang berkaitan
dengan itu. Contoh : nikah, talak, cerai, dan pengasuhan anak yang dilahirkan.
c. Hukum mawarits dan wasiat, yaitu hukum yang mengatur hubungan sesama manusia
yang menyangkut kebutuhan perpindahan harta karena adanya kematian.
d. Hukum jinayah atau pidana, yaitu hukum yang mengatur hubungan sesama manusia
yang menyangkut kebutuhan usaha pencegahan terjadinya kejahatan; harta, penyaluran
sahwat, dan lain-lain serta sanksinya. Contoh; pencurian, pembunuhan, perzinaan dan
sebagainya.
e. Hukum murafa`at atau qadha atau hukum acara yaitu hukum yang mengatur hubungan
sesama manusia yang menyangkut kebutuhan usaha penyelesaian akibat tindak
kejahatan di pengadilan. Contoh; kesaksian, gugatan, dan pembuktian.
f. Hukum dusturiyah atau tata Negara yaitu hukum yang mengatur hubungan sesama
manusia yang menyangkut kebutuhan kehidupan bermasyarakat dan bernegara
g. Hukum dualiyah atau hukum hubungan internasional, yaitu hukum yang mengatur
hubungan sesama manusia yang menyangkut kebutuhan dengan negara lain dalam
keadaan damai maupun perang. Contoh; ekstradisi, perjanjian, tawanan perang dan
sebagainya.
B. Sunnah Sebagai Sumber Hukum dan Dalil
a. Pengertian Sunnah
Secara etimologi sunnah berarti cara yang biasa dilakukan, baik cara itu baik atau buruk.
Menurut para ulama Islam mengutip dari al Qur`an, sunnah berarti cara yang biasa dilakukan
dalam pengamalan agama.
Menurut ulama ushul, sunnah adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW,
baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun pengakuan dan sifat Nabi .
Menurut ulama fiqh, sunnah adalah sifat hukum bagi suatu perbuatan yang dituntut
melakukannya dalam bentuk tuntutan yang tidak pasti dengan pengertian diberi pahalaorang
yang melakukannyadan tidak berdosa orang yang tidak melakukannya. Ulama fiqh
menempatkan sunnah sebagai salah satu dari hukum syara` yang lima. Berarti sunnah adalah
hukum bukan suimber hukum.
Kata sunnah identik dengan hadits , yaitu sama-sama dari Nabi Muhammad SAW.
Menurut para, hadits lebih banyak mengarah kepada ucapan Nabi, sedangkan sunnah lebih
banyak mengarah kepada perbuatandan tindakan Nabi yang sudah menjadi tradisi yang hidup
dalam pengalaman agama.

b. Macam-Macam Sunnah :
1. Sunnah Qauliyah, yaitu ucapan Nabi yang didengar sahabat beliau dan disampaikannya
kepada kepada orang lain. Namun ucapan Nabi ini bukan wahyu al Qur`an. Untuk
membedakan sunnah dan wahyu al Qur`an yang sama-sama lahir dari lisan Nabi adalah
dengan cara, antara lain :
a. Bila wahyu al Qur`an selalu mendapat perhatian khusus dari Nabi dan menyuruh
orang lain untuk menghafal dan menuliskannya serta mengurutkannya sesuai
petunjuk Allah. Sedangkan sunnah tidak, bahkan Nabi melarang menuliskannya
karena khawatir tercampur dengan al Qur`an.
b. Penukilan alQur`an selalu dalam bentuk mutawatir, sedangkan sunnah pada
umumnya diriwayatkan secara perorangan.
c. Penukilan al Qur`an selalu dalam bentuk penukilan lafaz dengan arti sesuai dengan
teks aslinya seperti yang didengar dari Nabi. Sedangkan sunnah dinukilkan secara
ma`nawi ( disampaikan dengan redaksi dan ibarat yang berbeda walau maksudnya
sama ).
d. Bila yang diucapkan Nabi al Qur`an mempunyai daya pesona / mu`jizat, sedangkan
bila sunnah tidak.
2. Sunnah Fi`liyah, yaitu perbuatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW yang
dilihat atau diketahui oleh sahabat, kemudian disampaikan kepada orang laindengan
ucapannya.
Para ulama membagi perbuatan Nabi ke dalam tiga bentuk :
a. Perbuatan dan tingkah laku Nabi sebagai manusia biasa. Ulama berbeda pendapat
tentang keteladanannya bagi umat, ada yang berpendapat bahwa perbuatan Nabi
bentuk ini mempunyai daya hukum untuk diikuti dan ada yang berpendapat tidak
mempunyai daya hukum untuk diikuti.
b. PerbuatanNabi yang memiliki petunjuk yang menjelaskan bahwa perbuatan tersebut
khusus untuk Nabi.
c. Perbuatan dan tingkah laku Nabi yang berhubungan dengan penjelasan hukum.
Perbuatan Nabi yang diketahui merupakan penjelasan hukum untuk umat edan menjadi
dalil hukum yang harus diikuti oleh umat.
3. riyah, yaitu perbuatan seorang sahabat atau ucapannya yangSunnah Taqri dilakukan
dihadapan Nabi atau sepengetahuan Nabi, tetapi tidak ditanggapi atau dicegah oleh
Nabi. Keadaan diamnya Nabi dibedakan pada dua bentuk :
Pertama, Nabi mengetahui perbuata itu pernah dibenci dan dilarang ileh Nabi. Diamnya
Nabi dapat berarti perbuatan itu tidak boleh dilakukan atau boleh dilakukan
( pencabutan larangan ).

Kedua, Nabi belum pernah melarang perbuatan itusebelumnya dan tidak diketahui pula
haramnya. Diamnya Nabi menunjukan hukumnya adalah ibahah ( meniadakan
keberatan untuk diperbuat ).
c. Periwayatan Sunnah
Periwayatan Sunnah mempunyai tingkatan kebenaran yang ditentukan oleh faktor-faktor;
bersinambungnya khabar itu dari yang menerimanya dari Nabi sampai kepada orang yang
menyimpulkan dan membukukannya, kuantitas orang yang membawa khabar pada tiap
sambungannya, kualitas pembawa khabar dari segi kuat dan setia ingatannya, dan kejujuran
serta keadilannya.
Dari segi jumlah pembawa khabar, ulama membagi khabar ke dalam tiga tingkat :
1. tir, yaitu khabar yang disampaikan secara bersinambunganKhabar Mutawa oleh orang
banyak kepada orang banyak yang untuk setiap sambungan mencapai jumlah tertentu yang
tidak memungkinkan mereka bersepakat untuk berbohong.
2. Khabar Masyhur, yaitu khabar yang diterima dari Nabi oleh beberapa orang sahabat
kemudian disampaikan kepada orang banyak yang selanjutnya disampaikan kepada orang
banyak pula yang jumlahnya mencapai ukuran batas khabar mutawatir.
3. Khabar Ahad, yaitu khabar yang diterima dari Nabi secara perorangan dan dilanjutkan
periwa- yatannya sampai kepada perawi akhir.
d. Fungsi Sunnah
Fungsi utama Sunnah adalah sebagai penjelas al Qur`an. Dengan demikian, bila al- Qur`an
disebut sumber asli hukum fiqh, maka Sunnah disebut sebagai bayanni ( penjelas ). Oleh
karena itu, Sunnah menjalankan fungsi sebagai berikut :
1. Menguatkan dan menjelaskan hukum-hukum yang tersebut dalam al Qur`an (ta`qid
dan taqrir)
2. Memberikan penjelasan terhadap apa yang dimaksud dalam al Qur`an.
3. Menetapkan suatu t danhukum dalam sunnahyang tidak ada dalam al Qur`an ( itsba
` ).insya
e. Sunnah Berdaya Hukum
Dari segi boleh diikut atau ditinggalkannya suatu Sunnah, ulama membagi Sunnah ke dalam
dua kelompok :
1. atau Sunnah yang berdaya hukum yang mengikat untukSunah Tasyri diikuti. Sunnah ini
terdiri dari aqidah, akhlak, dan hukum-hukum amaliyah.
, yaitu Sunnah yang tidak berdaya hukum dan tidak mengikat untuk didikuti.2. Sunnah bukan
tasyri

f. Kedudukan Sunnah sebagai Sumber Hukum


Jumhur ulama berpendapat bahwa Sunnah berkedudukan sebagai sumber atau dalil kedua
setelah al Qur`an dan mempunyai kekuatan untuk ditaati serta mengikat untuk semua umat
Islam, alasannya antara lain :
1. Banyak ayat al Qur`an yang menyuruh umat untuk menaati Rasul ( al Nisa`(4): 59
2. Ayat al Qur`an sering menyuruh umat untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (al-A`raf :
158)

3. Ayat al Qur`an menetapkan bahwa yang dikatakan Nabi seluruhnya adalah berdasarkan
wahyu ( al Najm (53) : 3-4 ).
Kekuatan Sunnah sebagai d ) dansumber hukum ditentukan oleh kebenaran materi ( wuru
penunjukannya terhadap hukum. Dari segi kebenaran materinya, kekuatan Sunnah mengikuti
kebenaran pemberitaannya yang terdiri dari tiga tir, masyhur, dan ahad.tingkat, yaitu: mutawa
tir akan menghasilkan ilmu yakin (qath`i) bila memenuhi syarat-syarat :Khabar mutawa
1. Pembawa berita mencapai jumlah tertentu yang tidak mungkin sepakat berbohong.
2. Pembawa berita mengetahui pasti apa yang diberitakannya.
3. Pengetahuan mereka tentang berita itu berdasarkan pengalaman sendiri.
4. Jumlah penerima dan pembawa berita sama pada bagian pangkal, tengah, dan ujungnya.
5. Pembawa berita mempunyai kemampuan untuk menerima pengetahuan yang diberikan
kepadanya.
Khabar atau Sunnah masyhur mempunyai kekuatan yang qath`i pada tingkat sahabat tetapi
kekuatannya dari Nabi hanya bersifat zhanni. Menurut Abu Hanifah, khabar masyhur
menimbulkan ilmu yakin walaupun kadarnya di bawah keyakinan yang ditimbulkan oleh
khabar mutawatir.
Khabar ahad pada dasarnya tidak mempunyai kekuatan yang meyakinkan. Ia hanya
menghasilkan ilmu hanya sampai tingkatan zhan ( dugaan kuat dan tidak meyakinkan ).
Menurut mayoritas ulama, khabar ahad dapat dijadikan dalil dalam beramal dan penetapan
hukum bila memenuhi syarat-syarat :
a. Pembawa berita orang Islam
b. Pembawa berita sudah mukallaf ( dewasa )
c. Pembawa berita daya ingatnya kuat
d. Pembawa berita mempunyai sifat adil dan jujur dalam penyampaian khabar yang
diterimanya.

Dari segi bersinambungnya sebuah khabar atau hadits dibagi menjadi dua tingkat :
Pertama, Muttasil Sanad, yaitu khabar yang periwayatannya bersinambungan dan tidak ada
rantai yang putus.
Kedua, Khabar Mursal, yaitu khabar yang garis periwayatannya ada yang terputus. Ulama
Syafi`i tidak menerima khabar mursal sebagai dalil, kecuali diperkuat oleh salah satu diantara
hal berikut :
1. diperkuat oleh khabar yang pembawa beritanya bersinambung.
2. sesuai dengan ucapan sebagian sahabat.
3. diperkuat khabar mursal yang lain yang telah diterima sebagai dalil sebelumnya.
4. secara nyata diterima oleh ahli ilmu dan kelompok yang mengemukakan fatwa menge- nai
hal yang sama dengan apa yang dijelaskan oleh hadits mursal tersebut.
C. Ra`yu ( Nalar ) sebagai Dalil Hukum
1. Pengertian
Ra`yu artinya melihat. Obyek yang dilihat bisa konkrit maupun abstrak. Yang dimaksud ra`yu
dalam pembahasan ini adalah memikirkan, hasil pemikiran atau rasio.
2. BatasPenggunaan Ra`yu
Ra`yu dapat digunakan dalam dua hal, yaitu :
1. Dalam hal yang tidak ada hukumnya sama sekali.
2. Dalam hal yang sudah diatur dalam nash tetapi penunjukannnya terhadap hukum tidak
secara pasti.
3. Kekuatan Hukum Hasil Temuan Nalar
Hukum hasil ra`yu mujtahid kekuatannya bersifat relative ( zhani ). Karena tidak dapat
dipastikan oleh mujtahid itu sendiri bahwa itulah sebenarnya hukum Allah, karena Allah tidak
pernah menjelaskan demikian.
4. Penggunaan Ra`yu sebagai Dalil Hukum Fiqh
Bentuk penggunaan ra`yu diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Dilihat dari segi orang yang menggunakannya, dibagi dua :
a. Penggunaan ra`yu secara kolektif atau ijtihad jama`i, yaitu hukum yang ditetapkan
didasarkan pada hal penalaran yang sama.

b. Penggunaan ra`yu secara perorangan ( ijtihad fardi ), yaitu apa yang dicapaioleh
seseorang mujtahid tentang hukum suatu masalah belum tentu sama dengan apa yang
dapat dicapai oleh mujtahid lain mengenai masalah yang sama.
Dari dua cara penggunaan ra`yu diatas, yang terkuat dari segi kebenaran atau terhindar dari
kesalahan adalah ijtihad jama`i. Cara penggunaan ijtihad jama`i disebut juga ijma`.
2. Dilihat dari segi ada tidaknya dasar rujukan ra`yu itu kepada nash al Qur`an atau Sunnah :
a. Ra`yu yang merujuk pada nash Qur`an dan Sunnah.
b. Ra`yu yang tidak merujuk pada nash Qur`an dan Sunnah
Yang terkuat dari segi pencapaian kebenaran dan terhindar dari kesalahan adalah ra`yu yang
merujuk pada nash al Qur`an dan Sunnah. Penggunaan ra`yu ini disebut qiyas.
Ijma dan qiyas disepakati ulama sebagi dalil yang kuat dalam penemuan hukum fiqh dalam al
Qur`an dan Sunnah yang tidak menjelaskan hukumnya secara pasti.
5. Metode Penentuan Hukum Menggunakan Ra`yu
a. Ijma`
1. Pengertian
Secara etimologi, ijma` mengandung dua arti :
1. Ijma` berarti ketetapan hati untuk melakukan sesuatu atau keputusan berbuat sesuatu.
2. Ijma` juga berarti sepakat.
Menurut istilah syar`i pengertian ijma` dirumuskan sebagai berikut :
a. Al Ghazali, ijma` yaitu kesepakatan umat Muhammad SAW secara khusus atas sesuatu
urusan agama
b. Al Midi, ijma` yaitu kesepakatan sejumlah ahlul halli wal `Aqd ( para ahli yang kompeten
dalam mengurusi umat ) dari umat Muhammad pada suatu masa atas hukum suatu kasus.
Atau kesepakatan para mukallaf dari umat Muhammad pada suatu masa atas hukum suatu
kasus.
c. Ulama Syi`ah, ijma` yaitu kesepakatan suatu komunitas karena kesepakatan mereka dalam
menetapkan hukum syara`.
d. Al Nazham, ijma` yaitu setiap perkataan yang hujjahnya tidak dapat dibantah.
e. Abdul Wahab Khallaf, ijma` yaitu consensus semua mujtahid muslim pada suatu masa
setelah Rasul wafat atassuatu hukum syara` mengenai suatu kasus.
Rukun ( unsur ) ijma`:

1. Terdapat sejumlah orang yang berkualitas mujtahid.


2. Semua mujtahid itu sepakat tentang hukum suatau masalah.
3. Kesepakatan itu tercapai setelah terlebih dahulu masing-masing mujtahid mengemukakan
pendapatnya sebagi hasil dari usaha ijtihadnya.
2. Kedudukan Ijma` sebagai Dalil Hukum
Jumhur ulama berpendapat bahwa kedudukan ijma` menempati salah satu dalil hukum
setelah al Qur`an dan Sunnah. Jadi, ijma` dapat menetapkan hukum yang mengikat dan wajib
dipatuhi umat Islam.
3. Pendapat Jumhur Ulama Tentang Pembatasa Ijma`
a. Keikutsertaan kalangan awam dalam ijma` ;jumhur ulama berpendapat bahwa suara
orang awam tidak diperhitungkan untuk melangsungkan suatu ijma`.
b. Ijma` sesudah masa sahabat ; ijma` tidak hanya berlaku pada masa sahabat saja, tetapi
setiap masaijma` itu mempunyai kekuatan hujjah bila memenuhi ketentuannya.
Alasannya bahwa dalil-dalil yang menunjukkan kehujjahan ijma` tidak keluar dari al
Qur`an, Sunnah, dan logika.
c. Kesepakatan mayoritas ; tidak sah ijma` bila hanya mayoritas ulama saja yang
bersepakat sedangkan ada minoritas yang menentangnya.
d. Kesepakatan ulama Madinah ; kesepakatan ulama Madinah saja tidak merupakan
kekuatan hujjah terhadap ulama lain yang tidak sependapat dengan mereka, sehingga
kesepakatan ulama Madinah bukan ijma`.
e. Kesepakatan ahlu al bait ( keturunan Nabi Muhammad dari Fatimah dan Ali ) ;
kesepakatan mereka atas suatu hukum tidak dianggap ijma` yang mempunyai kekuatan
hukum terhadap orang lain.
f. Kesepakatan khulafaur rasyidin ; kesepakatan kholifah yang empat itu bukan ijma` dan
tidak dapat dijadikan hujjah menurut apa adanya. Alsannya adalah terpelihara dari
kesalahan dan dosa adalah kesepakatan menyeluruh bukan kesepakatan terbatas.
Dasarnya adalah sabda Nabi sahabat-sahabatku semua laksana bintang bercahaya .
4. Pendapat Ulama Tentang Persyaratan Ijma`
a. Kuantitas anggota ijma`
Imam Haramain menetapkan kehujjahan ijma` melalui dalil `aqli. Ia berpendapat bahwa
jumlah ulama mujtahid untuk terlaksanya ijma` adalah jumlah yang mencapai batas
mutawatir, karena kehujjahan ijma` ditentukan terhindarnya dari kesalahan.
Menurut al Midi dan ulama Hambali tidak mensyaratkan jumlah mutawatir untuk terlaksanya
ijma`, karena kehujjahan suatu ijma`ditentukan oleh dalil naqli bukan dalil `aqli.

b. Berlalunya masa
Telah dijelaskan bahwa ijma` itu berlangsungberdasarkan kesepakatan ulamamujtahid dalam
suatu masa tertentu. Sebagian ulama menyatakan syahnya ijma` tidak perlu mensyaratkan
berlalunya masa.
Imam Ahmad Ibn Hambal, Ustadz Abu Bakar Ibn Fauraq, dan sebagian kecil ulama
Syafi`iyah berpendapat bahwa berlalunya masa atau punahnya peserta ijma` merupakan
syarat untuk kekuatan hujjah suatu ijma`.
Jumhur ulama berpendapat bahwa berlalunya masa dan meninggalnya peserta ijma` bukan
syarat kekuatan suatu ijma`, alasannya :
1. Dalil kehujjahan ijma` itu berasal dari al Qur`an dan Sunnah. Keduanya tidak
mewajibkan berlalunya masa.
2. Hakikat ijma` itu adalah kesepakatan. Kekuatan hukum terletak pada kesepakatannya
itu.
3. Para tabi`in berhujjah dengan ijma` pada masa generasi sahabat masih ada.
4. Mempersyaratkan berlalunya masa bagi kekuatan ijma` akan menyebabkan tidak
terlaksananya ketentuan hasil ijma` secara mutlak, padahal ia ketentuan yang mengikat.
Sebagian ulama merinci bahwa berlalunya masa dan meninggalnya semua peserta ijma`
merupakan syarat untuk ijma` sukuti, sedangkan untuk ijma` sharih tidak perlu
persyaratan tersebut.
c. Sandaran ijma`
Yaitu dalil yang kuat dalam bentuknash al Qur`an dan Sunnah, baik langsung maupun tidak.
1. Hampir semua ulama berpendapat bahwa ijma` itu harus menunjuk pada sandaran yang
kuat, bukan hanya berdasar taufik dari Allah SWT. Alasannya, antara lain :
a. Tidak akan tercapai kebenaran tanpa adanya rujukan atau sandaran.
b. Nabi Muhammad tidak menetapkan hukum, kecuali dengan wahyu.
c. Mengemukakan pendapat dalam hal agama tanpa dalil adalah tindakan yang salah.
d. Bila mujtahid dapat menetapkan hukum tanpa sandaran secara perorangan maka tidak
perlu kesepakatan.
e. Produk hukum syar`i bila tidak disandarkan pada dalil, maka tidak diketahui dengan hukum syara`. Keadaan demikian tidak dapat diterima.
2. Sebagian kecil ulama tidak mempersyaratkan adanya sandaran ijma`, alasannya :

a. Jika ijma` memerlukan sandaran dalil, berarti kekuatan ijma` terletak pada dalil. Ini
sama dengan tidak ada ijma` sebagai dalil syara` yang berdiri sendiri.
b. Cukup banyak ijma` yang tidak menyandarkan diri pada dalil. Contoh ijma` ulama
tentang pengambilan sewa pemandian umum.
Tentang qiyas dan ijtihad dijadikan sandaran ijma` ;
1. Jumhur ulama membolehkan qiyas dan ijtihad dijadikan sandaran ijma`.
2. Ulama Syi`ah dan Daud al Zhahiri berpendapat tidak boleh menjadikan qiyas atau
ijtihad sebagai sandaran ijma`, alasannya :
i) Bentuk qiyas berbeda-beda, pandangan ulama terhadapnya juga berbeda-beda.
ii) Para sahabat selalu menetapkan hukum secara ijma` dengan sandaran al Qur`an dan
Sunnah.
3. Sebagian ulama berpendapat qiyas boleh dijadikan sandaran ijma`dengan qiyas yang
mempunyai `ilat yang kuat.
5. Fungsi Ima`:
a. Menetapkan hukum atas dasar taufik Allah.
b. Meningkatkan kualitas dalil yang dijadikan sandaran ijma`.
6. Peringkat Ijma`
a. h, yaitu ijma yang terjadi setelah semua mujtahid dalamriIjma` Sha satu masa
mengemukakan pendapatnya tentang hukum tertentu secara jelas dan terbuka; melalui
lisan, tulisan, atau perbuatan dan ternyata semua pendapat mereka menghasilkan hukum
yang sama atas hukum tersebut.
Bila ijma` sharih berlangsung, maka dilalah (penunjukan) nya terhadap hukumadalah
qath`i.
b. Ijma` sukuti, yaitu kesepakatan ulama melalui cara seorang mujtahid atau lebih
mengemukakan pendapatnya tentang hukum suatu masalah dalam masa tertentu,
kemudian pendapat itu tersebar luas serta diketahui banyak orang, tidak ada mujtahid
lain yang mengemukakan pendapatnya berbeda atau yang menyanggah pendapat itu.
.Ijma` sukuti pengaruhnya terhadap hukum bersifat zhanni
Imam Syafi`i dan pengikutnya berpendapat ijma` sukuti adalah bukan ijma` yang
dipandang bukan sebagai sumber hukum, dengan sendirinya tidak mempunyai
kekeuatan hukum yang mengikat.

Imam Ahmad, ulama Hanafiyah, sebagian ulama Syafi`i, dan al Jubbai berpendapat bahwa
ijma` sukuti adalah ijma` yang mempunyai kekeuatan hukum yang mengikat sebagai
hujjah. Dengan syarat; berlalunya masa penyampaian, semua mujtahid telah meninggal,
dan tidak ada sanggahan.
Abu Hasyim : ijma` sukuti bukan ijma`, tetapi dapat menjadi hujjah dalam menetapkan
hukum .
c. Kesepakatan dalam prinsip, yaitu para mujtahidberbeda pendapat dan menghasilkan
banyak pendapat yang berkembang namun mereka sepakat dalam satu hal tertentu yang
merupakan prinsip. Kesepakatan yang prinsip ini dapat dijadikan hujjah dan tidak boleh
mujtahid mengemukakan pendapat yang menyalahi pendapat orang banyak itu.
Dari segi penerimaan ulama terhadap ijma`, ulama membaginya :
1. Ijma` kaum muslimin, yaitu ijma` yang menyeluruh dan merata dilaksanakan oleh umat
Islam.
2. Ijma` para sahabat, ijma` ini dapat diterima semua pihak.
3. Ijma` ahlul `ilmu dalam segala masa, adalah pengertian ijma` secara umum.
7. Nasakh ( Pembatalan ) Ijma`
Nasakh ( Pembatalan ) Ijma` adalah munculnya ijma` ulama yang menyatakan
bahwakeputusan ijma` sebelumnya tidak berlaku lagi; atau muncul pendapat ulama secara
perorangan; atau muncul suatu ijma` atas suatu hukum berbeda dengan apa yang sebelumnya
disepakati ulama terdahulu.
Pada dasarnya nasakh tidak berlaku kecuali dalam hukum-hukum yang ditetapkan dengan
nash al Qur`an ataupun hadits dan hanya berlaku semasa Nabi masih hidup dan tidak berlaku
sesudahnya.
Jumhur ulama berpendapat bahwa nasakh tidak berlaku dalam ijma`. Alasannya bahwa yang
akan menasakh tentunyan nash, ijma`, dan qiyas. Tidak mungkin ijma` dinasakh dengan nash
al Qur`an atau Sunnah karena keduanya hanya mungkin terjadi pada masa Nabi masih hidup,
sedangkan ijma` terjadi setelah Nabi wafat.
Ulama Mu`tazilah Fakhrur Razi berpendapat bahwa ijma` dapat dinasakh dengan ijma` yang
dating kemudian. Alasannya, diantara sandaran ijma` adalah qiyas yang `illatnya adalah sifat
yang dilihat oleh ulama sebagai maslahat, tetapi maslahat itu berubah pada masa berikutnya
dan pada masa itu ulama merujuk pada sifat yang lain ( yang berbeda ). Keadaan yang telah
berubah ini menghendaki hukum yang berbeda dari hukum yang sebelumnya.
8. Ketetapan Ijma`
Bila telah berlangsung suatu ijma` maka ia mempunyai kekuatan hukum ( hujjah ) untuk pada
masa itu atau untuk umat sesudahnya. Penukilan dan penyebaran ijma` harus meyakinkan

yaitu melalui khabar yang mutawatir supaya bersifat qath`i pada asa hukumnya dan qath`i
pada sanadnya ( materi hukumnya ) dan periwayatannya.
Ulama berbeda tentang periwayatan ijma`. Ada ulama yang mempersyaratkan dalil asal harus
qath`id an menolak penggunaan khabar ahad dalam menukilkan ijma`. Ulama yang lain tidak
mensyaratkan dalil asal harus qath`i, mereka berpendapat bahwa ijma` yang dinukilkan
secara ahad dapat dijadikan hujjah.
9. Merngingkari Hasil Ijma`
Yaitu dengan sadar tidak melaksanakan hasil suatu ijma` dalam perbuatannya. Pengingkaran
ini dapat disebabkan oleh :
a. Ia secara prinsip tidak mengakui ijma` sebagai salah satu dalil hukum yang mengikat.
b. Ia secara prinsip mengakui ijma` sebagai hujjah syar`iyah, namun ia menolak ijma`
tertentu karena menurut keyakinannya penukilan ijma` itu tidak meyakinkan atau ia tidak
yakin telah terjadi ijma` tentang suatu masalah.
c. Ia memang menerima ijma` secara prinsip dan meyakini ima` telah berlangsung, namun ia
tetap tidak mengindahkannya.
Para ulama menganggap kafir orang yangmengingkari ijma` yang qath`i. karena berarti
mengingkari al Qur`an dan Sunnah Nabi.
Muhamad Khudhari Bey berpendapat bahwa mengkafirkan orang yang mengingkari ijma`
tanpa melihat alasannya adalah tidak benar. Seseorang yang mengingkari cara menetapkan
hukum syara` tidak kafir. Tetapi seseorang yang mengakui sesuatu sebagai hukum syara`,
namun dengan sadar ia mengingkarinya, berarti mengingkari syara`. ini berarti ia telah keluar
dari hukum Islam.
b. Qiyas sebagai Metode Penggalian Hukum Syara`
1. Arti Qiyas
Secara etimologi qiyasberarti , artinya mengukur, membandingkan sesuatu dengan yang
semisalnya. Secara terminologi ( istilah hukum ) qiyas didefinisikan :
1. Al Ghazali, mendefinisikan qiyas menanggungkan ( menghubungkan ) sesuatu yang
diketahui kepada sesuatu yang diketahui dalam hal menetapkan hukum pada keduanya
atau meniadakan hukum dari keduanya disebabkan ada hal yang sama antara keduanya
dalam penetapan atau peniadaan hukum .
2. Ibnu Subki qiyas adalah menghubungkan sesuatu yang diketahui kepada sesuatu yang
diketahui karena kesamaannya dalam `illat hukumnya menurut pihak yang
menghubungkan ( mujtahid ) .
3. Abu Hasan al Bashri qiyas adalah menghasilkan ( menetapkan ) hukum ashal pada furu`
karena keduanya sama dalam hal `illat hukum menurut mijtahid .

4. Abu Zahrah menghubungkan suatu perkara yang tidak ada nash kepada perkara lain yang
ada nash hukumnya karena keduanya berserikat dalam `illat hukum .
5. Al Midi ibarat dari kesamaan antara furu` dengan ashal dalam `illat yang diistimbathkan
dari hukum ashal .
Rukun ( unsur qiyas ) :
1. Hal yang telah ditetapkan hukumnya oleh pembuat hukum ( ashal atau maqis `alaih atau
musyabbah bihi ).
2. Hal yang belum ditemukan hukumnya secara jelas dalam nash syara` ( maqis atau furu`
atau musyabbah ).
3. Hukum ashal, yaitu hukum yang disebutkan sendiri oleh syari`.
4. `Illat hukum yang terdapat pada ashal dan terlihat pula oleh mujtahid pada furu`.
2. Qiyas sebagai Dalil Hukum Syara`
Dalam hal penerimaan ulama terhadap qiyas sebagai dalil hukum syara`, Muhammad Abu
Zahrah membagi menjadi tiga kelompok :
a. Kelompok jumhur ulama mnejadikan qiyas sebagai dalil syara`
b. Kelompok ulama Zhahiriyah dan Syi`ah Imamiyah menolak penggunaan qiyas secara
mutlak. Zhahiriyah juga menolk penemuan `illat atas suatu hukum dan menganggap tidak
perlu mengetahui tujuan ditetapkannya hukum syara`.
c. Kelompok yang menggunakan qiyas secara luas dan mudah, kadang-kadang memberikan
kekuatan yang lebih tinggi terhadap qiyas, sehingga qiyas itu dapat membatasi
keumuman sebagian ayat al Qur`an dan Sunnah.
Masing-masing kelompok mengemukakan dalil al Qur`an, Sunnah, ijma` ulama, atau sahabat
dan dalil`aqli.
1. Dalil al Qur`an
a. Allah SWT memberikan petunjuk bagi penggunaan qiyas dengan cara menyamakan dua
hal (QS Yasin (36): 78-79 ); Ia berkata, siapakah yang akan menghidupkan tulang
belulang sesudah ia berserakan? Katakanlah : yang akan menghidupkannya adalah yang
mengadakannya yang pertama kali . Dalam hal ini Allah menyamakan menghidupkan
tulang kepada penciptaan pertama kali.
Kelompok Zhahiriyah menolak argumentasi ini. Menurut mereka ayat tersebut hanya
sebagaimana arti zhahirnya saja, yaitu : yang sanggup mneciptakan sesuatu pertama kali,
sanggup pula menghidupkan orang mati.
b. Allah menyuruh menggunakan qiyas sebagaimana dipahami beberapa ayat al Qur`an ,
antara lain; Maka ambillah ( kejadian itu ) untuk menjadi ibarat ( pelajaran ) hai orang-

orang yang mempunyai pandangan ( QS al Hasyr (59): 2 ). Sesungguhnya pada yang


demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati ( QS Ali
Imran (3) : 13 ).
Kelompok Zhahiri juga menolak argumentasi jumhur ulama ini, mereka mengatakan tidak
satupun ilmu mengenai bahasa Arab sebagai bahasa al Qur`an yang menjelaskan al i`tibar
sebagai qiyas.
2. Dalil Sunnah
Diantara dalil Sunnah yang dikemukakan jumhur ulama sebagai ergumentasi bagi
penggunaan qiyas adalah :
a. Hadits Nabi tentang percakapan Nabi dengan Muaz bin Jabal.
Zhahiri menolak dalil hadits tersebut karena hadits tersebut dianggap gugur dari segi matan
( teks ) dan sanadnya ( periwayatannya ). Dari segi sanad, hadits diriwayatkan dari suatu
kaum yang namanya tidak diketahui. Selain itu. Kelompok Zhahiri menganggap hadits
tersebut maudhu` ( dibuat-buat ) dan jelas kebohongannya, karena mustahil ada hukum
yang tidak dijelaskan dalam al Qur`an seperti dalam Qur`an surat al An`am(6) : 38
tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam al kitab ( al Qur`an ) .
b. Hadits Nabi dari Ibnu Abbas. Nabi berkata : bagaimana pendapatmu bila bapakmu
berhutang, apakah engkau akan membayarnya ? dijawab oleh penanya: ya, memang Nabi
berkata; hutang kepada Allah lebih patut untuk dibayar .
Kelompok ulama yang menolak penggunaan qiyas dalam menetapkan hukum syara` adalah:
1. Syi`ah Imamiyah, mereka tidak membolehkan sama sekali penggunaan qiyas. Dalil yang
mereka gunakan agama Allah tidak dapat dicapai melalui akal dan Sunnah itu bila
diqiyaskan akan merusak agama .
2. Al Nazham, mengatakan bahwa `illat yang tersebut dalam nash mewajibkan adanya usaha
menghubungkan hukum melalui lafaz yang umum, tidak melalui qiyas.
3. Zhahiriyah yang pemimpinnya Abu Daud Khallaf, mereka tidak menggunakan qiyas tetapi
menggunakan kaidah umum lafaz nash. Contohnya, jumhur ulama mengharamkan
memukul orang tua karena diqiyaskan dengan haramnya mengucapkan kata uf kepada
orang tua. Keduanya mempunyai `illat yang sama, yaitu menyakiti orang tua.
Zhahiri juga mengharamkan memukul orang tua tetapi tidak menggunakan qiyas. Mereka
menggunakan dalil umum perintah berbuat baik kepada orang tua dalam firman Allah dan
hadits Nabi, jadi haramnya memukul orang tua itu bukan karena adanya larangan
mengucapkan uf.
Selain itu Zhahiriyah juga mengemukakan beberapa dalil tentang larangan menetapkan
hukum berdasarkan qiyas :
a. Qur`an surat al Maidah (5) ; 3 pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu
dan telah Kucukupkan nikmatKu dan telah Kuridloi Islam sebagai agamamu.

b. Tidak dibenarkan seseorang mengikuti tasyabuh dalam al Qur`an dan tidak boleh
mencari makna ayat yang mutasyabih. QS Ali Imran (3): 7 adapun orang-orang
yang dalam hatinya condong kepada kesesatan ( suka pada yang bathil ) maka
mereka mengikuti ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencaricari ta`wilnya.
c. Terdapat beberapa nash al Qur`an yang dengan jelas menolak penggunaan akal dalam
menetapkan hukum.
d. Hadits Nabi yang menyuruh orang beriman untuk meninggalkan apa-apa yang telah
ditinggalkan Allah dan Rasul ketika tidak adanya nash.
3. Syarat-Syarat Qiyas
a. Maqis `alaih ( tempat mengqiyaskan sesuatu kepadanya ) atau ashal atau mahal hukum,
syaratnya :
1. Harus ada dalil atau petunjuk yang membolehkan mengqiyaskan sesuatu kepadanya
baik secara nau`i atau syakhsi ( lingkungan yang sempit atau maksud yang terbatas )
( Utsman al Baththi ).
2. Harus ada kesepakatan ulama tentang adanya `illat pada ashal maqis `alaih itu ( Basyir
al- Marisi ).
Jumhur ulama menolak syarat di atas karena tidak ada dalil atau petunjuk yang
mempersyaratkannya.
b. Maqis atau Furu` ( sesuatu yang akan disamakan hukumnya dengan ashal atau sesuatu
yang dibangun atau dihubungkan kepada sesuatu yang lain ), syaratnya;
1. `Illat yang terdapat pada furu` mempunyai kesamaan dengan `illat yang terdapat pada
ashal.
2. Harus ada kesamaan antara furu` itu dengan ashal dalam hal `illat, maupun hukum ( ada
kesamaan jenis `illat dan jenis hukum ).
3. Ketetapan pada furu` tidak menyalahi dalil qath`i ( termasuk khabar ahad ).
4. Tidak ada penentang ( hukum lain ) yang lebih kuat terhadap furu` dan `illat qiyas itu.
5. Furu` itutidak pernah diatur hukumnya dalam nash tertentu.
6. Furu` tidak mendahului ashal dalam keberadaannya.
c. Hukum ashal, syaratnya :
1. Hukum ashal itu bukan hukum syara`
2. Hukum ashal itu ditetapkan dengan nash, bukan dengan ijma` atau qiyas.

3. Hukum ashal itu adalah hukum yang tetap berlaku, bukan hukum yang telah
dinasakhkan.
4. Hukum ashal itu tidak menyimpang dari ketentuan qiyas, misalnya alas an hukumnya
irasional dan hukum berlaku hanya untuk kasus tertentu.,
5. Hukum ashal itu harus disepakati ulama
6. Dalil yang menetapkan hukum ashal, secara langsung tidak menjangkau kepada furu`.
d. `Illat, syaratnya :
1. `Illat harus mengandung hikmah yang mendorong pelaksaan hukum dan dapat
dijadikan sebagai kaitan hukum.
2. `Illat itu adalah suatu sifat yang jelas dan dapat disaksikan.
3. `Illat harus dalam bentuk sifat yang terukur, keadaannya jela dan terbatas sehingga
tidak tercampur dengan yang lainnya.
4. Harus ada hubungan kesesuaian dan kelayakan antara hukum dengan sifat yang akan
menjadi `illat.
5. `Illat harus mempunyai daya rentang, maksudnya `illat ada di ashal dan di tempat lain.
6. Tak ada dalil yang menyatakan bahwa sifat itu tidak dipandang untuk menjadi `illat.
1. Arti ` Illat
1. Ulama Syi`ah, `illat adalah pemberitahuan bagi hukum.
2. Ulama Hanafi, `illat itu pemberitahuan untuk adanya hukum, yang menetapkan
hukum-hukum nash , karena nash itulah yang menimbulkan hukum.
3. Ulama Mu`tazilah, `illat adalah sesuatu yang dengan sendirinya
mempengaruhiterhadap hukum yang didasarkan pada manfaat dan mufsadat
( kamanfaatan dan perusak ).
4. Imam al Ghazali pendapatnya sama dengan Mu`tazilah, namun pengaruh`illat
terhadap hukum tidak berlaku dengan sendirinya, tetapi karena adanya izin Allah.
5. Al Midi, `illat adalah pendorong terhadap hukum. Maksudnya, `illat mengandung
hikmah yang pantas menjadi tujuan bagi pembuat hukum dalam menetapkan hukum.
2. Bentuk `Illat
1. Sifat hakiki, yaitu yang dapat dicapai oleh akal dengan sendirinya, tanpa tergantung
pada `urf ( kebiasaan ) atau lainnya.
2. Sifat hissi, yaitu sesuatu yang dapat diamati dengan alat indera.

3. Sifat urfi, yaitu sifat yang tidak dapat diukur tetapi dapat dirasakan bersama.
4. Sifat lughawi, yaitu sifat yang dapat diketahui dari penamaannya dalam artian bahasa.
5. Syar`i, sifat yang keadaannya sebagi hukum syar`i dijadikan alas an untuk
menetapkan sesuatu hukum.
6. Murakkab, yaitu berhubungannya beberapa sifat yang menjadi alasan adanya suatu
hukum.
3. Fungsi `Illat
1.
1. Penyebab atau penetap adanya hukum.
2. fi`ahPenolak ( da ) keberadaan hukum akan terjadi, tetapi tidak mencabut
hukum itu seandainya `illat tersebut terdapat pada saat hukum tengah berlaku.
3. fi`atPencabut ( ra ) kelangsungan suatu hukum, bila `illat terjadi pada masa
tersebut, tetapi `illat ini tidak menolak terjadinya suatu hukum.
4. Penolak dan pencegah suatu hukum. Mencegah terjadinya suatu hukum dan
sekaligus dapat mencabut bila hukum itu telah berlangsung.
4. Hubungan Kesesuaian Illat dengan Hukum (Munasabah)
Dalam mengartikan munasabah ada beberapa rumusan, yaitu :
1. Ibnu Subhi
Munasib yaitu sesuatu yang pantas atau sesuai menurut adat kebiasaan dengan perbuatan
orang-orang yang berakal.
1. Ulama
Munasib yaitu sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat bagi menusia dan
menghindarkan bencana dari manusia.
1. Abu Zaid Al-Dabbusi
Munasib itu ibarat yang bila diserahkan kepada akal maka akan mudah diterimanya.
1. Al-Midi
Munasib yaitu ibarat dari suatu sifat yang jelas dan terukur, yang dari penetapan hukum
atas dasar sifat itu niscaya akan tercapai apa yang patut menjadi tujuan ditetapkannya
hukum tersebut.
Pembagian Munasib

Para ahli ushul fiqih membagi munasib dengan melihat dari 3 segi :
1. Dari segi tingkat pencapaian hukum, menurut Al Midi dan Ibnu Subki :
1. Tercapainya tujuan penetapan hukum secara menyakinkan. Contoh : hukum
jual beli tujuannya pemindahan kepemilikan barang.
2. Tercapainya tujuan penetapan hukum secara zhanni. Contoh : hukum qishosh.
3. Tercapainya tujuan penetapan hukum kemungkinannya sama dengan tidak
tercapainya. Contoh : sanksi bagi para pemabuk.
4. Tercapainya tujuan penetapan hukum dalam kemungkinannya lebih kecil.
Contoh : hukum perkawinan tujuannya mendapat keturunan.
2. Munasib ditinjau dari segi penetapan hukum di atasnya.
1. Dharuri, yaitu sesuatu yang sangat dibutuhkan, atau kebutuhan akan adanya
mencapai batas dhoruri, karena kehidupan manusia tidak akan tegak tanpa
keberadanya.
Dhoruri yang perklu di tegakkan ada lima (Al dhoruri yatal khomsah) :
1. Memelihara agama (hifzh al-din) ; untuk itu perlu ditetapkan hukuman mati terhadap
orang murtad dan memerangi orang kafir.
2. Memelihara jiwa (hifzh al-nafs) ; untuk itu perlu ditetapkan hukum qishosh terhadap
yang melakukan pembunuhan tanpa hak
3. Memelihara akal (hifzh al-`aqli) ; untuk itu perlu ditetapkan hukum had terhadap
peminum minuman keras.
4. Memelihara keturunan (hifzh al-nasl) ; untuk itu perlu ditetapkan hukum had dera dan
rajam atas pelaku zina.
5. Memelihara harta (hifzh al-mal) ; untuk itu perlu ditetapkan hukum potong tangan
terhadp pencuri dan had untuk perampok jalanan.
1.
1. Haji , yakni sesuatu yang diperlukan adanya tetapi tidak sampai pada tingkat
dhoruri. Haji ini juga menyangkut dharwiyat yang lima, tetapi tidak secara
langsung, contohnya belajar agama untuk mewujudkan kehidupan beragama,
melakukan jual beli digunakan untuk mencari harta, menuntut ilmu untuk
meluhurkan akal, makan untuk terpeliharanya jiwa.
Pelanggaran terhadap larangan bersifat Haji jitidak seberat pelanggaran terhadap
yang bersifat dhoruri. Larangan terhadap Ha disebut ardhi, sedangkan pelanggaran
terhadap dhoruri disebut dzati.

1.
1. ,niTahsi yakni sesuatu yang sebaiknya dilakukan.
dalam hubungannya dengan jiwa, umpamanya memelihara diri dari tuduhan palsu
dan caci maki.niTahsi
Ibnu S dalam 2 bagian :niubki membagi tahsi
1.
1. niTahsi yang tidak melanggar kaidah, seperti pencabutan kalau yakin jadi
saksi bagi seorang hamba.
2. niTahsi yang melanggar kaidah, seperti hukum katabah yakni janji untuk
memerdekakan seorang hamba yang diberikan seorang tuan dengan jalan
menebusnya secara mencicil.
1. Munasib ditinjau dari segi diperhitungkannya atau dipandangnya illat oleh syari
antara lain terbagi :
1. Munasib muassir, yakni berlakunnya ain illat (illat itu sendiri) dalam ain
hukum (hukum itu sendiri) yang dipandang atau diperhitungkan oleh nash atau
ijma. Umpamanya penetapan illat membatalkan wudhu` dengan memegang
alat kelamin. Hal ini ditetapkan langsung oleh nash (hadits nabi dari Al
Tirmidzi). Contoh illat yang dipandang oleh ijma adalah menetapkan illat
kewalian ayah atau harta anak dibawah umur, yaitu keadaannya dibawah
umur yang ditetapkan oleh ijma.
2. Munasib mulaim, yakni kesesuaian atau munasib yang berlakunya ain illat
untuk ain hukum secara langsung bukan ditetapkan oleh nash atau ijma.
3. Munasib mulghah, yakni munasib yang oleh akal dapat diterima sebagai
sesuatu yang baik dan mashlahat.
4. Munasib mursal ( lepas ), yakni munasib yang tidak ada dalil yang
menolaknya tetapi juga tidak ada dalil yang memandangnya. Munasib mursal
ini dikalangan ulama yang menyebutnya sebagai maslahah mursalah atau
istislah.
5. Masalih Al-illat
Masalih Al-illat adalah suatu cara atau metode untuk mengetahui illat dalam suatu hukum
atau hal-hal yang memberi petunjuk kepada kita adanya illat dalam suatu hukum. Masalih
al-illat itu adalah :
1. Nash

Penetapan nash dalam menetapkan illat tidaklah berarti illat itu secara langsung
disebutkan dalam nash, tetapi secara pemahaman lafadz-lafadznya. Ada dua lafadz nash
yang memberi petunjuk adanya illat .
1.
1. Nash Syarih, yakni lafadz-lafadz dalam nash yang secara jelas memberi
petunjuk mengenai illat dan tidak ada kemungkinan selain dari itu.
2. Nash Zhahir, yakni lafadz-lafadz yang secara lahir memang digunakan untuk
menunjukan illat tetapi dapat pula berarti bukan untuk illat.
2. Ijma
Ijma menjelaskan illat dalam hukum yang disebutkan dalam nash.
1. Al Ima wa Al-tanbih
Yaitu penyertaan sifat dalam hukum. Sifat yang menyertai dalam hukum itu suatu sifat
yang disebut dalam lafadz. Bentuk al Ima wa al tanbih antara lain :
1.
1. Penetapan hukum oleh syarisesudah mendengar suatu sifat. Sifat yang
menimbulkan hukum itu adalah illat untk hukum tersebut. Contoh : seorang
melapor pada Nabi saw, bahwa bahwa ia telah menggauli istrinya siang hari
pada bulan Ramadhan, Nabi saw : merdekakanlah hamba sahaya.
2. Penyebutan sifat oleh syari dalam hukum memberi petunjuk bahwa illat
untuk hukum tersebut. Contoh hadis Nabi saw : Janganlah seorang
menghakimi antara dua norang dalam keadaan marah.
3. Perbedaan antara dua hukum disebabkan adanya sifat atau syarat atau maani
atau pengecualian. Contoh hadits Nabi saw : Sesungguhnya Nabi saw
memberi dua bagian untuk kuda dan satu bagian untuk orangnya
4. Mengiringkan hukum dengan sifat, sifat yang mengiringi hukum itu ialah illat
untuk hukum yang diiringinya itu. Contoh : Hormatilah ulama itu. Hormati
adalah hukum, ulama adalah sifatnya.
2. Sabru wa Taqsim
Secara harfiyah sabru wa taqsin berarti memperhitungkan dan menyingkirkan.
Maksudnya adalah meneliti kemungkinan sifat yang terdapat dalam ashal, kemudian
meneliti dan menyingkirkan sifat yang tidak pantas menjadi illat, maka sifat yang
tertinggal itulah yang menjadi illat untuk hukum ashal tersebut.
1. Takhrijul Manath

Takhrijul Manath adalah usaha menyakatan illat dengan cara mengemukakan keserasian
sifat dan hukum yang beriringan serta terhindar dari sesuatu yang mencacatkan. Contoh
pencarian illat dalam hadits riwayat Muslim setiap yang ,memabukkan adalah haram .
Dalam nash haram dengan kata yang memabukkan diseiringkan.
1. Tanqihul Manath
Yaitu menetapkan satu sifat diantara bebrapa sifat yang terdapat dalam ashal untuk
menjadi illat hukum setelah meneliti kepantasannya dan menyingkirkan yang lainnya.
Selanjutnya kekhususan sifat itu ditinggalkan dan hukum diberi illat dengan yang lebih
umum. Perbedaannya dengan Sabru wa Taqsin adalah Tanqihul manath sifat-sifat yang
diteliti sudah ada dalam nash, sedangkan sabru wa taqsim belum ada sama sekali dalam
nash.
1. Thard
Tard yaitu pernyataan hukum dengan sifat tanpa adanya titik keserasian yang berarti
1. Syabah
Yaitu sifat yang memiliki kesamaan. Syabah terdiri dari dua bentuk, antara lain :
1.
1. Qiyas yang kesamaan antara hukum dan sifat sangat dominan, yakni
menghubungkan furu dengan dua ashal namun kesamaan dengan salah satu
diantaranya lebih dominan.
2. Qiyas shuri, yakni mengqiyaskan sesuatu hanya karena kesamaan bentuknya ;
seperti mengqiyaskan kuda dengan keledai dalam hal tidak dikenai zakat.
2. Dawran atau yang sirkular
Yaitu adanya hukum sewaktu bertemunya sifat tidak terdapat hukum sewaktu tidak
ditemukan sifat. Kebanyakan ulama menyetujui cara dawran itu dapat menetapkan illat
secara dzani karena adanya beberapa kemungkinan.
1. Ilghau al fariq
Yaitu adanya titik perbedaan yang dapat dihilangkan sehingga terlihat kesamaannya.
Umpamanya laki-laki dan perempuan dalam suatu kasus dibedakan, mamun dalam kasus
lain (masalah ibadah disamakan).
5. Pebagian Qiyas
1. Pembagian qias dari segi kekuatan illat yang terdapat pada furu dibandingkan
menjadi illat yang terdapat pada ashal, yakni ;

1. Qiyas Awlawi, yaitu qiyas yang berlakunya hukum pada furu lebih kuat dari
pemberlakuan hukum pada ashal karena kekuatan illat pada furu. Umpama,
keharaman memukul lebih kuat dari keharaman berkata uf kepada orang tua.
2. Qiyas musawi, yakni qiyas yang berlakunya hukum pada furu sama keadaannya
dengan berluknya hukum pada ashal karena kekuatan illatnya sama. Contoh
membakar hartanya anak yatim atau memakannya secara tidak patut sama-sama
merusak harta anak yatim.
3. Qiyas adwan yakni qiyas yang berlakunya hukum pada furu lebih lemah
dibandingkan berlakunnya hukum pada ashal mskipun qiyas tersebut memiliki
persyaratan. Misalnya, hukum riba pada gandum dengan hukum riba pada apel.
1. Pembagian qiyas dari segi kejelasan illatnya.
1. Qiyas jali, yakni qiyas yang illatnya ditetapkan dalam nash bersamaan dengan
penetapan hukum ashal, atau tidak ditetapkan illatnya dalam nash, namun
titik perbedaan antara ashal dengan furunya dipastikan tidak ada
pengaruhnya.
2. Qiyas Khofi, yaitu qiyas yang illatnya tidak disebutkan dalam nash.
2. Pembagian qiyas dari segi keserasian illatnya dengan hukum. Yakni qiyas muatssir
dan qiyas mulaim.
3. Pembagian qiyas dari segi dijelaskan atau tidak illat itu pada qiyas itu, yakni;
1. Qiyas mana atau qiyas dalam makna ashal, yaitu qiyas yang meskipun
illatnya tidak dijelaskan dalam qiyas namun antara ashal dengan furu tidak
dapat dibedakan, sehingga furu seolah-olah ashal itu sendiri. Umpamanya,
membakar harta anak yatim yang diqiyaskan dengan memakan hartanya
secara tidak patut dengan `illat merusak harta anak yatim.
2. Qiyas illat, yakni qiyas yang illat dijelaskan dalamnya, qiyas tersebut
merupakan pendorong bagi berlakunya hukum dalam ashal. Umpamanya,
qiyas nabiz untuk khomr dengan illat rangsangan yang kuat yang
memabukan.
3. Qiyas dilalah, yaitu qiyas yang illatnya bukan pendorong bagi penetapan
hukum itu sendiri, namun ia merupakan keharusan bagi illat yang memberi
petunjuk akan adanya illat. Umpamanya, mengqiyaskan nabiz kepada khamr
dengan menggunakan alasan bau yang menyengat
4. Pembagian qiyas dari segi metode (masalik) yang digunakan dalam ashal dan furu
1. Qiyas ikhalah, yakni qiyas yang illat hukumnya ditetapkan dengan metode
munasabah dan ikhalah
2. Qiyas Syabah, yakni qiyas yang illat ashalnya ditetapkan dengan metode
Syabah.

3. Qiyas Syabru, yakni qiyas yang illat ashalnya diteetapkan dengan metode
Sabru wa taqsim
4. Qiyas Thard, yakni qiyas yang illat ashalnya ditetapkan fdengan metode tard.
C. ISTIHSAN
I.

Pengertian
Istihsan menurut bahasa berarti menganggap baik atau mencaari yang baik. Menurut
ulama ushul fiqih, ialah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan pada suatu
peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar dalil syara, menuju (menetapkan)
hukum lain dari peristiwa atau kejadian itu juga, karena ada suatu dalil syara yang
mengharuskan untuk meningalkannya. Dalil yang terakhir disebut sandaran istihsan.
Pada istihsan hanya ada satu peristiwa atau kejadian yang mula-mula ditetapkan
hukumnya berdasarkan nash kemudian ditemukan nash lain yang mengharuskan
untuk meninggalkan hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan itu,
pindah ke hukum lain, sekalipun dalil pertama dianggap kuat, tetapi kepentingan
menghendaki perpindahan hukum itu.

I.

Dasar Hukum Istihsan


Yang berpegang pada dalil istihsan adalah madzhab Hanafi, menurut mereka istihsan
sebenarnya seperti qiyas, yakni memenangkan qiyas khofi atas qiyas jali. Madzhab
Maliki dan sebagian madzhab Hanbali juga menggunakan.
Yang menentang istihsan dan tidak menjadikannya hujjah adalah madzhab Safii.
Menurut mereka istihsan adalah menetapkan hukum syara berdasarkan keinginan
hawa nafsu.
Menurut As Sathibi, orang yang menetapkan hukum dengan istihsan tidak boleh
berdasarkan rasa dan keinginannya semata, tetapi harus berdasarkan hal-hal yang
diketahui bahwa hukum itu sesuai dengan tujuan Allah swt menciptakn syara dan
sesuai pula kaidah-kaidah syara yang umum.

I.

Macam-macam Istihsan

Dilihat dari segi pengertian istihsan diatas maka istihsan terbagi menjadi dua macam,
yaitu :

I.
1.

Pindah dari qiyas jali ke qiyas khafi, karena ada dalil yang mengharuskan
perpindahan itu. Contoh menurt madzhab Hanafi, jika wakaf diqiyaskan
kepada jual beli (qiyas Jali), maka tujuan wakaf tidak akan tercapai, karena
pada jual beli yang diutamakan pemindahan hak milik. Karena itu perlu
dicarikan ashal yang lain, yakni sewa-menyewa . kedua peristiwa itu ada
persamaan illatnya mengutamakan manfaat barang dan harta, tetapi qiyasnya

adalah qiyas khafi. Karena ada suatu kepentingan, yakni tercapainya tujuan
wakaf, maka dilakukan perpindahan dari qiyas jali ke qiyas khafi.
2.

Pindah dari hukum kulli ke hukum juzi, karena adanya dalil yang
mengharuskan perpindahan itu. Istihsan semacam ini oleh madzhab Hanafi
dikatakan istihsan dharurat, karena penyimpangan itu dilakukan karena suatu
kepentingan dan karena darurat. Contoh, Syara melarang jual beli dengan
perjanjian barang yang belum ada wujudnya, yakni yang disebut hukum kulli.
Tetapi syara memberi keringanan kepada pembalian barang secara kontan
tetapi barangnya akan dikirim kemudian. Pemberian keringanan ini
merupakan pengecualian dari hukum kulli dengan menggunakan hukum juzi,
karena keadaan memerlukan dan telah menetapkan adat kebiasaan dalam
masyarakat.

Dilihat dari segi sandarannya, maka istihsan dibagi menjadi

1. Istihsan dengan sandaran qiyas khafi


2. Istihsan dengan sandaran nash
3. Istihsan dengan sandaran urf
4. Istihsan dengan sandaran keadaan darurat.
Hadis atau Sunnah Sebagai Sumber Hukum Islam
Sumber-sumber hukum Islam yaitu: al-Quran, Hadis, dan Ijtihad. diantara ketiga
sumber hukum Islam tersebut, Hadis adalah sumber hukum Islam yang kedua.
Al-Qur'an sebagai sumber utama ajaran Islam dapat dibaca di artikel : AlQuranul Karim Sebagai Sumber Hukum Islam yang Pertama sedangkan
mengenai ijtihad dapat dibaca pada artikel Ijtihad Sebagai Sumber Ajaran Islam
dalam upaya Memahami al-Quran dan Hadis

1. Pengertian Hadis atau Sunnah


Hadis berarti perkataan atau ucapan secara bahasa. Sedangkan menurut istilah,
hadis adalah segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan (taqrir) yang dilakukan
oleh Nabi Muhammad saw. Hadis juga dinamakan sunnah. Namun demikian,
ulama hadis membedakan antara hadis dengan sunnah. Hadis adalah ucapan
atau perkataan Rasulullah saw., sedangkan sunnah merupakan segala apa yang
dilakukan oleh Rasulullah saw. yang menjadi sumber hukum Islam. Hadis dalam
arti perkataan atau ucapan Rasulullah saw. terdiri atas beberapa bagian yang
satu sama lainnya saling terkait. Bagian-bagian hadis tersebut antara lain adalah
sebagai berikut.
1. Sanad, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang menyampaikan hadis
dari Rasulullah saw. sampai kepada kita sekarang.
2. Matan, yaitu isi atau materi hadis yang disampaikan oleh Baginda
Rasulullah saw.

3. Rawi, adalah orang yang meriwayatkan hadis dari Baginda Rasulullah saw.

2. Kedudukan Hadis atau Sunnah sebagai Sumber Hukum


Islam
Sebagai sumber hukum Islam, hadis berada satu tingkat di bawah al-Quran.
Artinya, jika terjadi sebuah perkara hukumnya tidak terdapat di dalam al-Quran,
yang harus dijadikan sumber berikutnya adalah hadis. Hal ini sebagaimana
firman Allah Swt: Artinya : ... dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu
maka terimalah ia. Dan apa-apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah. (Q.S. alHasyr/59:7). Selain itu, firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an yang Artinya:
Barangsiapa mentaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya ia telah
mentaati Allah Swt. Dan barangsiapa berpaling (darinya), maka (ketahuilah)
Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka. (Q.S.
an-Nisa/4:80)
Kalian sudah paham bukan? tentang peran penting hadis sebagai sumber hukum
Islam kedua setelah al-Quran? Sekarang mari kita bahas kedudukan hadis
terhadap sumber hukum Islam pertama yaitu al-Quran.

3. Fungsi Hadis terhadap al-Quran


Rasulullah saw. sebagai pembawa risalah dari Allah Swt. bertugas menjelaskan
ajaran yang diturunkan Allah Swt. melalui al-Quran kepada umat manusia. Oleh
sebab itu, hadis berfungsi untuk menjelaskan (bayan) serta menguatkan hukumhukum yang terdapat di dalam al-Quranul Karim.
Fungsi hadis terhadap al-Quran dapat dikelompokkan sebagai berikut.
a. Menjelaskan ayat-ayat al-Quran yang masih bersifat umum
Contohnya adalah ayat al-Quran yang memerintahkan Shalat. Perintah Shalat di
dalam al-Quran masih bersifat umum sehingga diperjelas dengan hadis-hadis
Rasulullah saw. tentang Shalat, baik tentang tata cara maupun jumlah bilangan
rakaat-nya. Misalnya untuk menjelaskan perintah Shalat tersebut keluarlah
sebuah hadis Rasulullah Saw. yang berbunyi, Shalatlah kalian sebagaimana
kalian melihat aku Shalat. (H.R. Bukhari)
b. Memperkuat pernyataan yang ada dalam al-Quran
Seperti sebuah ayat dalam al-Quran yang menyatakan, Barangsiapa di antara
kalian melihat bulan, maka berpuasalah! Maka ayat tersebut diperkuat oleh
sebuah hadis dari Rasulullah Saw. yang berbunyi, ... berpuasalah karena
melihat bulan dan berbukalah karena melihatnya ... (H.R. Bukhari dan Muslim)
c. Menerangkan maksud dan tujuan ayat
Sebagai contoh, dalam Q.S. at-Taubah/9:34 dikatakan, Orang-orang yang
menyimpan emas dan perak, kemudian tidak membelanjakannya di jalan Allah
Swt., gembirakanlah mereka dengan azab yang pedih! Ayat ini kemudian

dijelaskan oleh hadis yang berbunyi, Allah Swt. tidak mewajibkan zakat kecuali
supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah dizakati. (H.R. Baihaqi)
d. Menetapkan hukum baru yang tidak terdapat dalam al-Quran
Maksudnya adalah bahwa jika suatu masalah tidak terdapat hukumnya dalam alQuran, maka diambil dari hadis yang sesuai. Misalnya, bagaimana hukumnya
seorang laki-laki yang menikahi saudara perempuan istrinya. Maka hal tersebut
dijelaskan dalam sebuah hadis Rasulullah saw yang Artinya: Dari Abi Hurairah
ra. Rasulullah saw. bersabda: Dilarang seseorang mengumpulkan (mengawini
secara bersama) seorang perempuan dengan saudara dari ayahnya serta
seorang perempuan dengan saudara perempuan dari ibunya. (H.R. Bukhari)

4. Macam-Macam Hadis
Ditinjau dari segi perawinya, hadis terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu seperti
berikut.
a. Hadis Mutawattir
Hadis mutawattir adalah hadis yang diriwayatkan oleh beberapa orang perawi,
baik dari kalangan para sahabat maupun generasi sesudahnya dan dipastikan di
antara mereka tidak bersepakat dusta. Contohnya adalah hadis yang artinya:
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa berdusta
atas namaku dengan sengaja, maka tempatnya adalah neraka. (H.R. Bukhari,
Muslim)
b. Hadis Masyhur
Hadis masyhur adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau
lebih yang tidak mencapai derajat mutawattir namun setelah itu tersebar dan
diriwayatkan oleh sekian banyak tabiin sehingga tidak mungkin bersepakat
dusta. Contoh hadis jenis ini adalah hadis yang artinya, Orang Islam adalah
orang-orang yang tidak mengganggu orang lain dengan lidah dan tangannya.
(H.R. Bukhari, Muslim dan Tirmizi)
c.Hadis Ahad
Hadis ahad adalah hadis yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua orang
perawi sehingga tidak mencapai derajat mutawattir. Dilihat dari segi kualitas
perawi hadis (orang yang meriwayatkannya), hadis dibagi ke dalam empat
bagian berikut.
1. Hadis Shahih adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, kuat
hafalannya, tajam penelitiannya, dan sanadnya bersambung kepada
Rasulullah saw., tidak tercela, dan tidak bertentangan dengan riwayat
orang yang lebih terpercaya. Hadis ini dijadikan sebagai sumber hukum
dalam beribadah (hujjah).
2. Hadis Hasan, adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi
kurang kuat hafalannya, sanadnya bersambung, tidak cacat, dan tidak
bertentangan. Sama seperti hadis Shahih, hadis ini juga dijadikan sebagai
landasan mengerjakan amal ibadah.

3. Hadis Da'if, yaitu hadis yang tidak memenuhi kualitas hadis Shahih dan
hadis hasan. Para ulama mengatakan bahwa hadis ini tidak bisa dijadikan
sebagai hujjah, tetapi dapat dijadikan sebagai motivasi umat dalam
beribadah.
4. Hadis Maudu, yaitu hadis yang bukan bersumber kepada Rasulullah saw.
atau hadis palsu. Dikatakan hadis padahal sama sekali bukan hadis. Hadis
ini jelas tidak dapat dijadikan landasan hukum, hadis ini adalah hadis
tertolak.