Anda di halaman 1dari 48

Cokelat dihasilkan dari kakao (Theobroma cacao) yang diperkirakan mula-mula tumbuh di

daerah Amazon utara sampai ke Amerika Tengah. Mungkin sampai ke Chiapas, bagian paling
selatan Meksiko. Orang-orang Olmec memanfaatkan pohon dan, mungkin juga, membuat
cokelat di sepanjang pantai teluk di selatan Meksiko. Dokumentasi paling awal tentang
cokelat ditemukan pada penggunaannya di sebuah situs pengolahan cokelat di Puerto
Escondido, Honduras sekitar 1100 -1400 tahun SM [2]. Residu yang diperoleh dari tangkitangki pengolahan ini mengindikasikan bahwa awalnya penggunaan kakao tidak
diperuntukkan untuk membuat minuman saja, namun selput putih yang terdapat pada biji
kokoa lebih condong digunakan sebagai sumber gula untuk minuman beralkohol.
Residu cokelat yang ditemukan pada tembikar yang digunakan oleh suku Maya kuno di Ro
Azul, Guatemala Utara, menunjukkan bahwa Suku Maya meminum cokelat di sekitar tahun
400 SM. Peradaban pertama yang mendiami daerah Meso-Amerika itu mengenal pohon
kakawa yang buahnya dikonsumsi sebagai minuman xocoltl yang berarti minuman pahit.
Menurut mereka, minuman ini perlu dikonsumsi setiap hari, entah untuk alasan apa. Namun,
tampaknya cokelat juga menjadi simbol kemakmuran. Cara menyajikannya pun tak
sembarangan. Dengan memegang wadah cairan ini setinggi dada dan menuangkan ke wadah
lain di tanah, penyaji yang ahli dapat membuat busa tebal, bagian yang membuat minuman
itu begitu bernilai. Busa ini sebenarnya dihasilkan oleh lemak kokoa (cocoa butter) namun
kadang-kadang ditambahkan juga busa tambahan. Orang Meso-Amerika tampaknya memiliki
kebiasaan penting minum dan makan bubur yang mengandung cokelat. Biji dari pohon kakao
ini sendiri sangat pahit dan harus difermentasi agar rasanya dapat diperolah. Setelah
dipanggang dan dibubukkan hasilnya adalah cokelat atau kokoa. Diperkirakan kebiasaan
minum cokelat suku Maya dimulai sekitar tahun 450 SM - 500 SM. Konon, konsumsi cokelat
dianggap sebagai simbol status penting pada masa itu. Suku Maya mengonsumsi cokelat
dalam bentuk cairan berbuih ditaburi lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain. Minuman
Xocoatl juga dipercaya sebagai pencegah lelah, sebuah kepercayaan yang mungkin
disebabkan dari kandungan theobromin di dalamnya.
Ketika peradaban Maya klasik runtuh (sekitar tahun 900) dan digantikan oleh bangsa Toltec,
biji kokoa menjadi komoditas utama Meso-Amerika. Pada masa Kerajaan Aztec berkuasa
(sampai sekitar tahun 1500 SM) daerah yang meliputi Kota Meksiko saat ini dikenal sebagai
daerah Meso-Amerika yang paling kaya akan biji kokoa. Bagi suku Aztec biji kokoa
merupakan makanan para dewa (theobroma, dari bahasa Yunani). Biasanya biji kokoa
digunakan dalam upacara-upacara keagamaan dan sebagai hadiah.
Cokelat juga menjadi barang mewah pada masa Kolombia-Meso Amerika, dalam kebudayaan
mereka yaitu suku Maya, Toltec, dan Aztec biji kakao (cacao bean) sering digunakan sebagai
mata uang [3]. Sebagai contoh suku Indian Aztec menggunakan sistem perhitungan dimana
satu ayam turki seharga seratus biji kokoa dan satu buah alpukat seharga tiga biji kokoa [4]
Sementara tahun 1544 M, delegasi Maya Kekchi dari Guatemala yang mengunjungi istana
Spanyol membawa hadiah, di antaranya minuman cokelat.

Cokelat cair.
Di awal abad ke-17, cokelat menjadi minuman penyegar yang digemari di istana Spanyol.
Sepanjang abad itu, cokelat menyebar di antara kaum elit Eropa, kemudian lewat proses yang
demokratis harganya menjadi cukup murah, dan pada akhir abad itu menjadi minuman yang
dinikmati oleh kelas pedagang. Kira-kira 100 tahun setelah kedatangannya di Eropa, begitu
terkenalnya cokelat di London, sampai didirikan rumah cokelat untuk menyimpan
persediaan cokelat, dimulai di rumah-rumah kopi. Rumah cokelat pertama dibuka pada 1657.
Pada tahun 1689 seorang dokter dan kolektor bernama Hans Sloane, mengembangkan sejenis
minuman susu cokelat di Jamaika dan awalnya diminum oleh suku apothekari, namun
minuman ini kemudian dijual oleh Cadbury bersaudara [5].
Semua cokelat Eropa awalnya dikonsumsi sebagai minuman. Baru pada 1847 ditemukan
cokelat padat. Orang Eropa membuang hampir semua rempah-rempah yang ditambahkan
oleh orang Meso-Amerika, tetapi sering mempertahankan vanila. Juga mengganti banyak
bumbu sehingga sesuai dengan selera mereka sendiri mulai dari resep khusus yang
memerlukan ambergris, zat warna keunguan berlilin yang diambil dari dalam usus ikan paus,
hingga bahan lebih umum seperti kayu manis atau cengkeh. Namun, yang paling sering
ditambahkan adalah gula. Sebaliknya, cokelat Meso-Amerika tampaknya tidak dibuat manis.
Cokelat Eropa awalnya diramu dengan cara yang sama dengan yang digunakan suku Maya
dan Aztec. Bahkan sampai sekarang, cara Meso-Amerika kuno masih dipertahankan, tetapi di
dalam mesin industri. Biji kokoa masih sedikit difermentasikan, dikeringkan, dipanggang,
dan digiling. Namun, serangkaian teknik lebih rumit pun dimainkan. Bubuk cokelat
diemulsikan dengan karbonasi kalium atau natrium agar lebih mudah bercampur dengan air
(dutched, metode emulsifikasi yang ditemukan orang Belanda), lemaknya dikurangi dengan
membuang banyak lemak kokoa (defatted), digiling sebagai cairan dalam gentong khusus
(conched), atau dicampur dengan susu sehingga menjadi cokelat susu (milk chocolate).

[sunting] Rasa cokelat


Rasa cokelat masih sulit didefinisikan. Dalam bukunya Kaisar Cokelat (Emperors of
Chocolate), Joel Glenn Brenner menggambarkan riset terkini tentang rasanya. Menurutnya
rasa cokelat tercipta dari campuran 1.200 macam zat, tanpa satu rasa yang jelas-jelas
dominan. Sebagian dari zat itu rasanya sangat tidak enak kalau berdiri sendiri. Karenanya,
sampai kini belum ada rasa cokelat tiruan.
Efek psikologis yang terjadi saat menikmati cokelat dikarenakan titik leleh lemak kokoa ini
terletak sedikit di bawah suhu normal tubuh manusia. Sebagai ilustrasi, bila anda memakan
sepotong cokelat, lemak dari cokelat tersebut akan lumer di dalam mulut. Lumernya lemak

kokoa menimbulkan rasa lembut yang khas dimulut, riset terakhir dari BBC mengindikasikan
bahwa lelehnya cokelat di dalam mulut meningkatkan aktivitas otak dan debaran jantung
yang lebih kuat daripada aktivitas yang dihasilkan dari ciuman mulut ke mulut, dan juga akan
terasa empat kali lebih lama bahkan setelah aktivitas ini berhenti [6].

[sunting] Pemalsuan rasa


Pemalsuan rasa cokelat sering terjadi karena kokoa adalah bahan yang relatif mahal
dibandingkan dengan gula atau minyak nabati. Kedua bahan ini sering digunakan untuk
menggantikan kokoa.
Lemak kokoa sering digantikan minyak yang lebih murah, seperti lesitin dari kedelai atau
minyak palem. Selain soal harga, dengan kedua bahan ini pelapisan cokelat menjadi lebih
mudah. Perbandingan kokoa padat (komponen nonlemak pada biji yang digiling) juga
cenderung rendah. Dalam cokelat batangan, misalnya, sekitar 20% gula-gula itu diisi cokelat.
Cokelat premium, di sisi lain, biasanya mengandung sekitar 50 - 70% cokelat padat. Karena
mengandung lebih sedikit gula dan mungkin juga sedikit minyak nabati, cokelat pekat ini
mengandung lebih sedikit kalori dari produk cokelat pada umumnya. Pantaslah bila para
pencinta cokelat sering protes gara-gara cokelat disalahkan untuk masalah yang sebenarnya
disebabkan oleh konsumsi gula berlebihan.

[sunting] Kandungan cokelat


Cokelat mengandung alkaloid-alkaloid seperti teobromin, fenetilamina, dan anandamida,
yang memiliki efek fisiologis untuk tubuh. Kandungan-kandungan ini banyak dihubungkan
dengan tingkat serotonin dalam otak. Menurut ilmuwan cokelat yang dimakan dalam jumlah
normal secara teratur dapat menurunkan tekanan darah [7] . Cokelat hitam akhir-akhir ini
banyak mendapatkan promosi karena menguntungkan kesehatan bila dikonsumsi dalam
jumlah sedang, termasuk kandungan anti oksidannya yang dapat mengurangi pembentukan
radikal bebas dalam tubuh

Ternyata manfaat coklat baik juga untuk kesehatan


Si manis, lezat dan favorite setiap orang ini ternyata mempunyai nama ilmiah Theobroma
Cacao merupakan sejenis buah yang bisa dijadikan berbagai makanan. Coklat diimpor dan
ekspor oleh banyak negara di seluruh dunia. Beberapa negara yang memproduksi coklat
adalah Meksiko, Amerika Serikat, bahkan Italia, danIndia. Berbagai jenis coklat yang
dikonsumsi adalah:
1. Coklat putih
2. Coklat susu
3. Coklat hitam (paling sehat)
Selain suka memakan coklatnya karena rasanya, sebaiknya kita harus tahu juga dong
manfaat coklat itu apa aja, mari cari tahu bersama !!

10 Manfaat coklat yang berguna bagi kesehatan kita :


1. Coklat meningkatkan aliran darah.
Dalam coklat terkandung flavonoid yang juga disebut vitamin P mempunyai tugas sebagai
antioksidan. Antioksidan yang terkandung dalam coklat ini juga terkandung dalam the,
anggur, buah-buahan dan sayuran. Dengan mengonsumsi coklat secara berkala, jantung dan
semua organ utama lainya mendapatkan aliran darah yang lancer dan pastinya sehat.
2. Coklat meningkatkan kesehatan mata.
Dengan mengonsumsi coklat maka kita bisa mendapatkan manfaat meningkatnya kesehatan
mata kita. Hal ini dikarenakan aliran darah yang menuju ke retina meningkat dengan baik dan
dapat membantu memperbaiki penglihatan dan kekuatan mata kita.
3. Coklat mengurangi risiko kanker.
Kakao, atau coklat, mengandung antioksidan yang menghentikan pertumbuhan kanker,
dengan menyebabkan protein tertentu dalam tubuh untuk menonaktifkan bagian-bagian yang
menghasilkan sel-sel tumor. Cukup baik bukan?
4. Coklat menurunkan tekanan darah.
Coklat disebut-sebut juga dapat membantu kita untuk menghilangkan stress yang kita alami
lho. Rasanya yang manis dapat memberikan efek rileks pada syaraf-syaraf kita. Jadi cobalah!
5. Coklat meningkatkan produksi insulin alami.
Dengan mengonsumsi coklat, maka kita sama saja dengan meningkatkan produksi insulin
secara alami. Hal ini juga membantu menurunkan resiko terkena diabetes lho. Dengan
mengonsumsi coklat kita juga mebdapatkan energy tambahan untuk beraktifitas kembali.
6. Coklat menurunkan kolesterol.
Flavanoids, yang juga ditemukan dalam anggur merah, mempunyai peran penting sebagai
antioksidan. Ini akan berfungsi untuk menurunkan kolesterol jahat, LDL atau kolesterol l
seperti bahan kimia yang terkandung dalam cokelat gelap hanya menurunkan kolesterol jahat,
Lipoprotein dengan kepadatn rendah juga dapat membantu untuk melindungi kita dari
penyakit jantung koroner.
7. Coklat dapat menghaluskan kulit.
Flavanols yang terdapat pada coklat bisa melindungi kita dari sinar UV, menjaga kelembaban
kulit kita dan menjaganya untuk tetap bersinar. Coklat juga membantu mempertahankan
elastisitas kulit dan meremajakan sel-sel kulit kita lo kawan. Jadi bintik-bintik hitam, kulit
kasar akan jauh dari kulit yang kita punya.
8. Coklat sebagai anti depresi yang alami.

Serotonin, merupakan bahan kimia yang dapat memberikan perasaan yang baik, tenang dan
fresh. Hal ini mempunyai fungsi yang sama dengan anti depresan alami. Coklat ini juga
meningkatkan produksi endorfin, yang juga meningkatkan perasaan senang, itulah sebabnya
mengapa setiap orang berada dalam suasana hati yang lebih baik setelah mengonsumsi
coklat.
9. Coklat membantu kita untuk menurunkan berat badan.
Coklat bukan hanya memberikan efek senang akan tetapi juga dapat membantu dalam
program diet yang ingin anda lakukan. Coklat yang kaya akan serat seperti halnya roti,
gandum dan buah dapat membantu kamu untuk diet.
10. Coklat sangat baik untuk Kesehatan Otak
Kamu mungkin akan kaget kalau coklat juga bisa bikin cerdas lho. Coklat yang bisa membuat
syaraf-syaraf kita rileks dapat membantu system kerja otak yang bekerja untuk mengontrol
semua organ. Termasuk rasa senang yang akan membuat anda enjoy untuk beraktifitas.
Cokelat banyak menjadi makanan favorit terutama bagi anak-anak dan
wanita. Tapi tidak semua orang bisa menikmati makanan manis tersebut,
karena beberapa orang merasakan sakit perut tiap kali makan cokelat.
Sakit perut yang disebabkan oleh cokelat dapat berhubungan dengan
berbagai gangguan, seperti sindrom iritasi usus, alergi makanan atau
intoleransi laktosa.
Gejala lain yang berkembang selain sakit perut setelah makan cokelat adalah
gatal-gatal, sakit kepala ringan dan hidung tersumbat.
Berikut beberapa penyebab sakit perut tiap kali makan cokelat, yaitu:
1. Sindrom iritasi perut (Irritable Bowel Syndrome atau IBS)
Irritable Bowel Syndrome adalah gangguan pencernaan kronis yang
mempengaruhi usus besar. IBS menyebabkan reaksi yang tidak menentu di
usus, seperti diare yang tidak bisa ditahan. Penyebab pasti kondisi ini tidak
diketahui, tapi makanan tertentu, seperti cokelat, dapat memicu gejala
IBS, menurut MayoClinic.com.
Jika menderita IBS, tak lama setelah makan cokelat orang mungkin
mengalami kembung, kentut, nyeri perut, kram, diare, sembelit atau mual.
2. Alergi makanan
Sakit perut setelah makan cokelat juga dapat menjadi akibat dari alergi
makanan. Produk cokelat dapat mengandung bahan-bahan yang sangat alergi,
seperti susu, kedelai, dan gandum.
Jika orang alergi terhadap satu bahan dalam cokelat, ia akan
mengembangkan gejala-gejala dalam beberapa menit. Gejala alergi makanan
mempengaruhi berbagai bagian tubuh dan bukan hanya sistem pencernaan.
Gejala umum selain dari sakit perut misalnya ruam kulit, wajah bengkak,
sesak napas, mengi, batuk, kongesti sinus, bersin dan mata berair.

3. Intoleransi laktosa
Kebanyakan cokelat mengandung laktosa, gula yang ditemukan dalam susu.
Intoleransi laktosa atau juga dikenal sebagai defisiensi laktase,
menyebabkan sakit perut dalam waktu 30 menit atau sampai dua jam setelah
makan cokelat.
Karena usus kecil gagal menciptakan cukup laktase, yakni enzim yang
dibutuhkan untuk mencerna laktosa, jumlah bakteri yang berlebihan dapat
menyebabkan kembung, kram dan nyeri perut yang menyebabkan diare.

Efek Positif Makan Coklat Bagi Kesehatan


Manfaat coklat untuk kesehatan ternyata banyak sekali. Coklat itu baik bagi
kesehatan kita, demikian menurut berbagai penelitian. Manfaat Coklat untuk
kesehatan jantung sering dibicarakan dan bisa membantu kita untuk merasa lebih
rileks,nyaman,dan gembira. Bahkan jika kita batuk,kita bisa makan coklat karena
kandungan bahan alami di dalamnya bisa meredakan batuk.
Namun tidak semua coklat memberi dampak positif. Hanya coklat asli yang baik
untuk kesehatan, yaitu coklat yang hanya mengandung 100% cocoa butter, seperti
produk deChocola. Sedangkan coklat dengan kandungan lemak nabati serta pengawet
di dalamnya, bisa digolongkan sebagai coklat palsu, sama sekali tidak baik untuk
tubuh. Itulah sebabnya, mengapa kadang tenggorokan gatal dan batuk ketika makan
coklat, yaitu karena kita mengkonsumsi coklat dengan kandungan lemak nabati yang
tidak sehat. Coklat bisa mengurangi batuk jika yang kita makan itu coklat asli.
Manfaat Coklat untuk kesehatan juga bisa memperbaiki fungsi peredaran
darah,coklat juga mampu merangsang sistem kekebalan tubuh,coklat juga bisa
membuat umur lebih panjang. Katekin adalah antioksidan kuat yang terkandung
dalam coklat. Salah satu fungsi antioksidan adalah mencegah penuaan dini yang bisa
terjadi karena polusi ataupun radiasi. Katekin juga dapat dijumpai pada teh meski
jumlahnya tidak setinggi pada coklat.
Orang tua jaman dahulu sering mempraktekkan cuci muka dengan air teh,karena
dapat membuat kulit muka bercahaya dan awet muda.Seandainya mereka tau bahwa
coklat mengandung katekin lebih tinggi dari pada teh,mungkin mereka akan
menganjurkan mandi lulur dengan coklat. Coklat juga mengandung theobromine dan
kafein. Kedua substansi ini telah dikenal memberikan efek terjaga bagi yang
mengkomsumsinya. Oleh karena itu ketika kita terkantuk-kantuk di bandara atau
menunggu antrian panjang, makan coklat cukup manjur untuk membuat kita senang
kembali.

Abstrak
Malnutrisi pada anak masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia.

Data dari WHO pada tahun 2010


menunjukkan sebanyak 18% anak usia di bawah lima tahun di negara
berkembang mengalami underweight. Keadaan
kurang gizi dapat meningkatkan risiko terkena penyakit infeksi karena
daya tahan tubuh yang menurun. Sebaliknya,
penya
kit infeksi juga dapat mem
engaruhi status gizi karena asupan makanan menurun, malabsorpsi,
dan katabolisme
tubuh meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah
terdapat hubungan antara diare dengan status
gizi balita. Jenis penelitian ini adal
ah studi observasional dengan desain cross sectional. Populasi peneliti
an adalah ibu
dan balita usia 12
60 bulan yang bertempat tinggal di Kelurahan Lubuk Buaya. Sampel
yang diambil sebanyak 145
orang dengan metode proportionate random sampling. Data dikum
pulkan dengan kuesioner untuk mengetahui riwayat
diare dalam sebulan terakhir dan penimbangan berat badan. Data diolah
dengan uji statistik chi square menggunakan
program SPSS 17.0. Hasil analisis univariat menunjukkan terdapat balita
berstatus gizi baik (
84,1%), status gizi kurang
(13,8%), dan status
gizi buruk (2,1%). Terdapat 25,5
% balita yang pernah mengalami diare dengan rerata durasi diare
3,0 hari. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan
bermakna antara diare dengan status gizi (B
B/U)
balita di Kelurahan Lubuk
Buaya (p
=0,742). Penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan
antara diare
dengan status gizi balita di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto
Tangah Kota Padang.
Kata kunci
:
status gizi balita, diare
Abstract
Malnutrition in children is still a major health problem in the world. Data
from WHO in 2010 showed 18% of

children under five years old in developing countries are underweight.


Malnutrition may increase the risk of infectious
disease because the
immune system is decreased. Otherwise, infectious disease can also
affect the nutritional status
because of decreased food intake, malabsorption, and increased body
catabolism. This study aimed to determine
association between diarrhea and nutritional stat
us of children. The study was an observational study with cross
sectional design. The population is mother and children aged 12
60 months residing in Lubuk Buaya Village. There
are 145 samples taken with proportionate random sampling method.
Data were col
lected with questionnaire to
determine the history of diarrhea in the last month and weighing. The
data were processed with chi square test by
using SPSS 17.0 program. Results of univariate analysis showed that
there are children with good nutritional stat
us
(84,1%), underweight (13,8%), and poor nutritional status (2,1%). There
are 25,5% children had diarrhea with average
duration of illness 3,0 days. Results of bivariate analysis showed no
significant association between diarrhea and
nutritional status (w
eight/age) of chil
dren in Lubuk Buaya Village (p
= 0,742). This study showed no association
between diarrhea and nutritional status of children in Lubuk Buaya
Village, Koto Tangah Subdistrict, Padang City.
Keywords
:
nutritional status of children, diarrhea
Affiliasi penulis
:
Alania Rosari,
Korespondensi
:
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas,
email :
alania_dcoins@yahoo.com
,
Telp:

085263764558
PENDAHULUAN
Gizi
merupakan salah satu indikator
untuk
menilai keberhasilan pembangunan kesehatan sebuah
negara dalam membangun sumber daya manusia
yang berkualitas.
1
Permasalahan gizi yang
masih
menjadi
masalah
utama di dunia
adalah malnutrisi.
Malnutrisi dapat meningkatk
an kerentanan anak
terhadap penyakit dan mempengaruhi tumbuh
kembangnya.
2
Pada tahun 2010, sebanyak 103 juta anak
berusia di bawah lima tahun di negara berkembang
mengalami
underweight
atau berat badan terlalu
rendah.
3
Prevalensi balita
yang mengalami masa
lah
gizi berdasarkan berat badan per umur
(BB/U)
di
Indonesia pada tahun 2010
meliputi kasus gizi kurang
13
,0
%
dan
gizi buruk 4,9%
. Prevalensi di
Sumatera
Barat menunjukkan

kasus
gizi
kurang 14,4%
dan
gizi
buruk
2,8%.
4
Data tersebut memperlihatkan bahwa
jumlah balita dengan status gizi kurang di Sumatera
Barat masih tinggi di atas persentase rata
rata
Indonesia. Berdasarkan hasil pemantauan status gizi
Dinas Kesehatan Kota Padang pada tahun 2011,
didapatkan prevalensi balita gizi kurang dengan
indikator B
B/U sebesar 10,6% dan balita gizi buruk
1,7%.
5
Status gizi anak dipengaruhi oleh banyak
faktor. Tiga faktor utama yang mempengaruhi status
gizi anak yaitu aspek konsumsi, kesehatan anak, dan
pengasuhan psikososial.
6
Diare adalah suatu keadaan yang ditandai
dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari
tiga kali sehari yang disertai dengan perubahan
konsistensi tinja menjadi lebih cair, dengan/tanpa
darah dan dengan/tanpa lendir.
7
Diare menjadi
penyebab kematian terbanyak nomor dua pada anak
berusia di b
awah lima tahun
dengan 1,5 juta anak
meninggal tiap tahunnya. Diare juga merupakan
penyebab utama kejadian malnutrisi pada anak
berusia di bawah lima tahun.
8
Prevalensi diare pada kelompok umur 1
4

tahun di Indonesia sebanyak 16,7% dan merupakan


prevale
nsi terbanyak dibandingkan kelompok umur
lainnya. Data yang dilaporkan dalam Riskesdas 2007
menunjukkan diare sudah menjadi penyebab kematian
terbanyak pada balita di Indonesia dengan persentase
25,2%.
9
Artikel Penelitian
112
http://jurnal.fk.unand.ac.id
Jurnal Kesehatan Andalas. 201
3
;
2
(
3
)
Prevalensi diare di Indonesia sebanyak 9%
dan Sumate
ra Barat termasuk dalam salah satu
provinsi dengan prevalensi diare klinis di atas rata
rata
yaitu 9,2%.
9
Di Kota Padang, diare masih termasuk ke
dalam 10 penyakit terbanyak yang diderita
masyarakat. Kelompok umur terbanyak adalah anak
berusia di bawah lim
a tahun (45,8%).
10
Berdasarkan
data diare Kota Padang Tahun 2011, terdapat 11.653
kasus diare dengan jumlah kasus pada balita
sebanyak 4755 kasus (40,8%).
11
Penelitian yang dilakukan oleh Scrimshaw,
Taylor, dan Gordon (1968) memperlihatkan bahwa
terdapat h
ubungan timbal balik antara diare dan
malnutrisi.
Diare dapat menimbulkan terjadinya

malnutrisi
dan sebaliknya, m
alnutrisi juga bisa menjadi
penyebab timbulnya diare
. Infeksi mempengaruhi
status gizi melalui penurunan asupan makanan,
penurunan absorpsi mak
anan di usus, meningkatkan
katabolisme, dan mengambil nutrisi yang diperlukan
tubuh untuk sintesis jaringan dan pertumbuhan. Di
samping itu, malnutrisi bisa menjadi faktor predisposisi
terjadinya infeksi karena menurunkan pertahanan
tubuh dan mengganggu fu
ngsi kekebalan tubuh
manusia.
12
Data dari Dinas Kesehatan Kota Padang
Tahun 2011
menunjukkan
bahwa kasus diare tertinggi
di Kota Padang
terdapat di Puskesmas Lubuk Buaya
(12,3%). J
umlah kasus
diare
pada balita
di
Puskesmas Lubuk Buaya
sebanyak 493 kasus
(3
4,3%)
. Berdasarkan
data kasus diare perkelurahan
tahun 2011 di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya,
kasus diare terbanyak ditemukan di Kelurahan Lubuk
Buaya dengan 470 kasus (31,5%). Data dari hasil
pemantauan status gizi Dinas Kesehatan Kota Padang
Tahun
2011 di Puskesmas Lubuk Buaya
memperlihatkan persentase balita dengan status gizi
kurang sebanyak 10,02%. Tujuan penelitian
ini adalah
untuk

melihat
hubungan
antara
diare dengan status
gizi
balita
di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto
Tangah Kota Padang
.
METODE
Jenis penelitian adalah studi observasional
dengan desain
cross sectional
. Populasi p
enelitian
adalah balita usia 12
60 bulan di Kelurahan Lubuk
Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Sampel berjumlah 145 orang yang diambil
berdasarkan metode
proportionate random sampling
pada 21 RW. Kriteria inklusi sampel adalah ibu dan
balita berusia 12
60 bulan, bertempat tinggal di
Kelurahan Lubuk Buaya, bersedia ikut dalam
penelitian dengan menandatangani
informed consent
,
dan ibu yang mampu berkomunikasi
dengan baik.
Kriteria eksklusi antara lain anak dengan cacat fisik
(hidrosefalus, cerebral palsy, dan amputasi anggota
gerak) dan anak yang mengalami sakit berat dalam
sebulan terakhir, kecuali diare berat. Penelitian
dilaksanakan dari bulan Maret 2012 sa
mpai Maret
2013.
Variabel dependen penelitian adalah status
gizi yang dinyatakan dengan
variabel BB/U. Alat yang
digunakan

untuk menimbang berat badan anak yaitu


timbangan injak merk Smic dengan kapasitas 150 kg
dan ketelitian 0,1 kg dan hasilnya dikonver
sikan ke
dalam bentuk nilai terstandar (Z
score) dengan
menggunakan baku antropometri balita WHO 2005.
Hasil
ukurnya
yaitu
(1) Gizi
baik (gizi baik:
Z
score

2,0 s/d Z
sco
re 2,0; gizi lebih: Z
score >
2,0) dan
(2) Gizi kurang (gizi kuran
g: Z
score
3,0 s/d Z
score
<
2,0; gizi buruk: Z
score <
3,0). Variabel independen
adalah riwayat diare, yaitu bertambahnya frekuensi
defekasi lebih dari tiga kali sehari yang disertai dengan
perubahan konsistensi tinja menjadi lebih cair,

dengan/tanpa d
arah dan lendir dalam sebulan terakhir.
Data didapatkan melalui wawancara langsung dengan
hasil ukur pernah menderita diare atau tidak pernah
menderita diare dalam sebulan terakhir.
Langkah
langkah pengolahan data yang
dilakukan yaitu memeriksa kelengkapa
n data dari
kuesioner, memberikan kode pada setiap data variabel
yang telah terkumpul, memasukkan data ke dalam
komputer dengan program
Microsoft Excell
dan
Statistical Program for Social Science
(SPSS) 17.0,
dan memeriksa kembali data yang telah dimasukka
n
untuk memastikan bahwa data tersebut telah bersih
dari kesalahan. Analisis data terdiri dari analisis
univariat dan bivariat. Analisis bivariat digunakan
untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yaitu
diare dengan status gizi menggunakan uji c
hi squ
are
dengan derajat kemaknaan p<
0,05.
HASIL
1.
Karakteristik Responden Ibu
Lebih dari setengah responden ib
u berada
dalam kelompok umur 30
39 tahun (51,7%)
dengan rerata umur 33,1 tahun (SD 5,9).
Sebagian besar ibu memiliki tingkat
pendidikan baik dengan m
enyelesaikan
pendidikan SLTA/sederajat (53,1%) dan
tamat akademi/perguruan tinggi (24,1%).
Sebanyak 83,4% ibu adalah ibu rumah

tangga. Persentase jumlah anak dalam


keluarga yang paling banyak adalah 2 orang
(32,4%).
2.
Karakteristik Responden Balita
Jenis
kelamin perempuan ditemukan
sebanyak 54,5% dan laki
laki 45,5%.
Sebagian besar balita lahir dengan berat
badan normal (97,9%) dan ditemukan kasus
BBLR sebanyak 2,1%. Sebanyak 62,8%
balita diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan
oleh ibunya.
Ketersediaan jam
ban sudah baik
karena hampir seluruh responden memiliki
jamban keluarga di rumahnya (99,3%).
3.
Status Gizi Balita
Tabel 1. Distribusi Balita Berdasarkan Status
Gizi BB/U di Kelurahan Lubuk Buaya
Status Gizi
Frekuensi
Persentase (%)
Gizi Baik
122
84,1
Gizi Kurang
20
13,8
Gizi Buruk
3
2,1
Jumlah
145
100
X

Z
Score =

1,1 (SD 0,9)


113
http://jurnal.fk.unand.ac.id
Jurnal Kesehatan Andalas. 201
3
;
2
(
3
)
3.
Riwayat Diare
Tabel 2. Distribusi Riwayat Diare Balita dalam
Sebulan Terakhir di Kelurahan Lubuk Buaya
Diare
Frekuensi
Persentase (%)
Ya
37
25,5
Tidak
108
74,5
Jumlah
145
100
X

frekuensi = 1,0 kali (SD 0,0)


X

durasi = 3,0 hari (SD 2,0)


Tabel 3. Distribusi Balita Diare Berdasarkan
Terjadinya Demam
Demam
Frekuensi
Persentase (%)
Ya
26
70,3
Tidak
11

29,7
Jumlah
37
100
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa
sebagian besar balita mengalami demam saat
diare.
Tabel 4. Distribusi Balita Diare Berdasarkan
Terjadinya Penurunan Nafsu Makan
Nafsu Makan
Frekuensi
Persentase (%)
Turun
30
81,1
Tidak turun
7
18,9
Jumlah
37
100
Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa
sebagian besar balita mengalami penurunan
nafsu makan saat diare.
Tabel 5. Distribusi Balita Diare Berdasarkan
Tindakan Perawatan yang Diberikan Saat Sakit
Tindakan Perawatan
Frekuensi
Persentase
(%)
Bidan/Dokter
28
75,7
Oralit
2
5,4
Dibiarkan saja
3
8,1
Obat tradisional
3
8,1
Obat dari apotek

1
2,7
Jumlah
37
100
Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa
sebagian besar balita dibawa oleh ibunya ke
bidan/dokter untuk
mendapatkan perawatan
ketika menderita diare.
4.
Analisis Bivariat
Tabel 6. Hubungan Diare dengan Status Gizi
Balita di Kelurahan Lubuk Buaya
Status
Gizi
Diare
Jumlah
p
value
Ya
Tid
ak
f
%
f
%
f
%
Gizi Baik
30
81,1
92
85,2
122
84,1
0,742
Gizi
Kurang
7
18,9
16
14,8

23
15,9
Jumlah
37
100
108
100
145
100
x
2
= 0,348;
p
= 0,742
Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa balita
yang mengalami status gizi kurang lebih banyak
terjadi pada balita diare dibandingkan dengan
balita tidak diare.
Namun, perbedaan tersebut
secara statistik tidak bermakna (
p

0,05).
PEMBAHASAN
1.
Status Gizi Balita
Sebagian besar balita memiliki status gizi baik
(84,1%) dan masih ditemukan balita gizi kurang
sebanyak 13,8% serta gizi buruk 2,1%. Hasil
tersebut
menunjukkan bahwa persentase balita
gizi kurang di Kelurahan Lubuk Buaya masih
tinggi bila dibandingkan dengan persentase di
Puskesmas Lubuk Buaya (10,0%), di Kota
Padang (12,4%), dan di Indonesia (13,0%).
Namun, masih lebih rendah dibandingkan
dengan pers
entase di Sumatera Barat (14,4%).
Angka kejadian gizi buruk lebih rendah
dibandingkan prevalensi di Sumatera Barat
(2,8%) dan di Indonesia (4,9%).
4,5
Keadaan gizi

kurang dapat disebabkan kurangnya asupan


makanan, terkena infeksi, serta pola pengasuhan
yang
tidak baik terutama pola asuh makan.
13
2.
Diare pada Balita
Kejadian diare pada balita di Kelurahan Lubuk
Buaya sebanyak 25,5%. Angka kejadiannya
masih tinggi jika dibandingkan dengan
prevalensi diare di Indonesia (16,7%) dan di
negara berkembang lainnya s
eperti bagian rural
Bangladesh (7,6%).
9,14
Menurut Santoso dan Ranti (1995), anak
balita lebih rentan menderita penyakit infeksi
karena sudah mulai bergerak aktif untuk bermain,
sehingga sangat mudah terkontaminasi oleh
kotoran.
15
Pudjiadi (2000) juga men
jelaskan
bahwa anak usia 2
5 tahun sudah mulai memiliki
kebiasaan membeli makanan jajanan yang belum
tentu terjaga kebersihannya, baik dalam
pengolahan maupun penyajiannya, sehingga
sangat mudah terkontaminasi oleh kuman yang
bisa menyebabkan diare.
16
Seb
agian besar anak yang menderita diare
mengalami demam (70,3%) dan penurunan
nafsu makan (81,1%). Demam timbul sebagai
respon tubuh saat terjadinya proses inflamasi
akibat infeksi dan penurunan nafsu makan atau
114
http://jurnal.fk.unand.ac.id
Jurnal Kesehatan Andalas. 201
3
;

2
(
3
)
asupan makanan terjadi sejalan dengan tingkat
keparahan infeksi. Semakin parah infeksi yang
terjadi maka penurunan asupan makanan akan
semakin besar
.
17
3.
Hubungan Diare dengan Status Gizi Balita
Balita yang mengalami status gizi kurang lebih
banyak terjadi pada balita diare (18,9%)
dibandingkan dengan
balita tidak diare (14,8%).
Namun, hasil analisis secara statistik
menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan
yang bermakna antara kejadian diare dalam
sebulan terakhir dengan status gizi balita di
Kelurahan Lubuk Buaya (
p
>
0,05).
Penelitian lain yang dilak
ukan oleh Indriyasti
di Puskesmas Karawaci Baru Kota Tangerang
juga memperlihatkan hasil yang sama dengan
peneliti yang menunjukkan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara kejadian
penyakit diare dengan status gizi balita.
18
Berbeda dengan peneliti
an yang dilakukan oleh
Martianto dkk pada balita di Kabupaten Lembata,
Nusa Tenggara Timur yang mendapatkan
hubungan signifikan antara keberadaan penyakit
infeksi dengan status gizi anak.
6
Rerata frekuensi diare pada balita adalah 1 kali
dalam sebulan
terakhir dan rerata d
urasi diare adalah

3,0 hari (SD


2,0). Penelitian N
urcahyo dkk pada balita
usia 12
59 bulan di Kabupaten Bogor menunjukkan
bahwa semakin sering frekuensi diare maka status gizi
balita menurut BB/U akan semakin buruk.
19
Demikian
pula den
gan penelitian yang dilakukan oleh Fatimah
yang memperlihatkan bahwa semua anak dengan gizi
kurang memiliki riwayat penyakit infeksi seperti diare
berulang, ISPA berulang, dan tuberkulosis.
20
Penelitian yang dilakukan oleh Rusmiati
di RSU
Dr.Tengku Mansyur
Tanjungbalai Medan
mendapatkan adanya hubungan antara lamanya
kejadian diare dengan status gizi balita menurut
BB/U.
21
Sebagian besar ibu juga melakukan tindakan
yang cepat dalam menanggulangi diare dengan
membawa berobat ke tempat pelayanan kesehatan
sep
erti bidan/dokter (75,7%) dan memberikan
oralit/cairan rumah tangga (5,4%). Tindakan tersebut
akan memperkecil terjadinya gangguan keseimbangan
elektrolit pada anak karena prinsip utama dalam
pengobatan diare akut adalah rehidrasi.
22
Frekuensi
diare yang jarang, durasi diare singkat, serta
pemberian tindakan penanggulangan yang tepat
menyebabkan diare yang terjadi tidak mempengaruhi
status gizi balita secara bermakna.
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan
bahwa kejadian balita
gizi kurang di Kelurahan Lubuk
Buaya cukup tinggi dan masih ditemukan kejadian

balita gizi buruk. Kasus diare pada balita juga masih


tinggi dan dari hasil uji statistik tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara diare dengan status
gizi balita usi
a 12
60
bulan di Kelurahan Lubuk Buaya.
Daftar Pustaka
1.
Departemen Kesehatan RI. Rencana
pembangunan jangka panjang bidang kesehatan
2005
2025. Jakarta: 2009.
2.
Katz R, Manikam R, Schuberth L. Pediatric and
adolescent disorders. Dalam: Shils ME, Shike M,
Ross AC, C
aballero B, Cousins RJ (editor).
Modern nutrition in health and disease. Edisi ke
10. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins;
2006. hlm. 876
80.
3.
World Health Organization. Underweight in
children. 2010 (d
iunduh 18 Maret 2012). Tersedia
dari:
http://w
ww.who.int/gho/mdg/poverty_hunger/unde
rweight_text/en/ index.html
.
4.
Riskesdas. Riset kesehatan dasar 2010. Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI; 2010. hlm. 52.
5.
Dinas Kesehatan Kota Padang. Pemantauan
status gizi di
nas kesehatan kota Padang tahun

2011. Padang: 2011.


6.
Martianto D, Riyadi H, Hastuti D, Alfiasari,
Briawan D. Penilaian situasi pangan dan gizi di
kabupaten Lembata, provinsi NTT. Departemen
Gizi dan Masyarakat: Institut Pertanian Bogor;
2006.
7.
Suraatmaja S.
Kapita selekta gastroenterologi
anak. Jakarta: Sagung Seto; 2007. hlm. 1
22.
8.
World Health Organization. Diarrhoeal disease.
2009 (diunduh
27 Maret 2012). Tersedia dari:
http://www.who.
intmediacentre/factsheets/fs330/e
n/index.html
.
9.
Riskesdas. Riset kesehata
n dasar 2007. Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI; 2007. hlm. 154; 325.
10.
Dinas Kesehatan Kota Padang. Laporan tahunan
tahun 2010 edisi 2011. Padang: 2011.
11.
Dinas Kesehatan Kota Padang. Data diare kota
Padang tahun 20
11. Padang: 2012.
12.
Brown KH. Diarrhea and malnutrition. J. Nutr.
2003; 133:328S
32S.
13.
Supriatin A. Analisis faktor
faktor yang
mempengaruhi pola asuh makan dan

hubungannya dengan status gizi balita (skripsi).


Bogor: Institut Pertanian Bogor; 2004.
14.
Nutritiona
l Surveillance Project.
Nutrition and
health surveillance in barisal division. Bangladesh:
Helen Keller Worldwide; 2002.
15.
Emiralda. Pengaruh pola asuh anak terhadap
terjadinya balita malnutrisi di wilayah kerja
puskesmas Montasik kecamatan Montasik
kabupaten Aceh Besar tahun 2006 (tesis). Medan:
Universitas Sumatera Utara; 2007.
16.
Palupi A, Hadi H, Soenarto SS. Status gizi dan
hubungannya dengan kejadian diare pada anak
diare akut di ruang rawat inap RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta. Jurnal Gizi Klinik Ind
onesia.
2009;6(Pt 1): 1
7.
17.
Scrimshaw NS. Historical concepts of interactions,
synergism and antagonism between nutrition and
infection. J. Nutr. 2003;133:316S
21S.
18.
Indriyasti, S. Hubungan kejadian penyakit diare
terhadap status gizi balita di puskesmas Kar
awaci
Baru kota Tangerang (skripsi). Jakarta:
Universitas Indonusa Esa Unggul; 2007.
19.
Nurcahyo K, Briawan D. Konsumsi pangan,
penyakit infeksi, dan status gizi anak balita pasca
perawatan gizi buruk. Jurnal Gizi dan Pangan.
2010;5(Pt 3): 164
70.
20.

Fatimah S,
Nurhidayah I, Rakhmawati W. Faktor
faktor yang berkontribusi terhadap status gizi
pada balita di kecamatan Ciawi kabupaten
Tasikmalaya (laporan akhir penelitian peneliti
muda). Bandung: Universitas Padjadjaran; 2008.
21.
Rusmiati. 2008. Gambaran pola konsumsi
pangan
dan status gizi anak balita penderita diare di
ruang anak RSU Dr. Tengku Mansyur
115
http://jurnal.fk.unand.ac.id
Jurnal Kesehatan Andalas. 201
3
;
2
(
3
)
Tanjungbalai tahun 2008 (skripsi). Medan:
Universitas Sumatera Utara; 2008.
22.
Petri WA, Miller M, Binder HJ, Levine MM,
Dillingham R, Guerrant LR. Enteric infections,
dia
rrhea, and their impact on function and
development. J. Clin. Invest. 2008;118(Pt 4):
1277
90

Written by Guest

June 24, 2013

11441 0 2 0 0

Harga Baru
Rp. 2.750.000,00
Harga Second
Rp.2.350.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung P6200 Galaxy Tab 7.0 Plus White Hot

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest

September 04, 2012

1874 0 2 0 0

Harga Baru
Rp. 0,00
Harga Second
Rp.3.850.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung Galaxy P7510 Tab 10.1 32GB Hot

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest
Harga Baru
Rp. 0,00
Harga Second
Rp.2.900.000,00

May 07, 2012

1731 0 1 0 0

Compare Read more Read reviews Write review

Samsung Galaxy Tab 3 10.1 P5200 Hot

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest

November 30, 2013

3245 0 6 0 0

Harga Baru
Rp. 4.750.000,00
Harga Second
Rp.4.350.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung Galaxy Tab 3 7.0 T211 Hot

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest
Harga Baru
Rp. 3.175.000,00
Harga Second

November 30, 2013

5555 0 4 0 0

Rp.2.750.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung Galaxy Tab 3 8.0 T311 Hot

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest

November 30, 2013

6056 0 3 0 0

Harga Baru
Rp. 3.950.000,00
Harga Second
Rp.3.550.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung Galaxy Tab 2 7.0 P3110 Hot

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest
Harga Baru
Rp. 1.675.000,00

November 30, 2013

4172 0 3 0 0

Harga Second
Rp.1.300.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung Galaxy Tab 2 10.1 P5100 Hot

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest

November 30, 2013

2704 0 2 0 0

Harga Baru
Rp. 4.300.000,00
Harga Second
Rp.3.750.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung P6200 Galaxy Tab 7.0 Plus Hot

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest
Harga Baru

November 30, 2013

1911 0 1 0 0

Rp. 0,00
Harga Second
Rp.2.800.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung Galaxy Tab P 7300 8.9 inchi

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest

November 30, 2013

885 0 1 0 0

Harga Baru
Rp. 0,00
Harga Second
Rp.2.850.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung Galaxy Tab P1010

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest

November 30, 2013

886 0 1 0 0

Harga Baru
Rp. 0,00
Harga Second
Rp.1.000.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung Galaxy Tab P7500 10.1 3G 16GB Hot

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest

November 30, 2013

1613 0 1 0 0

Harga Baru
Rp. 0,00
Harga Second
Rp.3.100.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung Galaxy Tab P7500 10.1 3G 32GB

0.0 (0)

Samsung
Written by Guest

November 30, 2013

898 0 1 0 0

Harga Baru
Rp. 0,00
Harga Second
Rp.3.350.000,00
Compare Read more Read reviews Write review

Samsung P 1000 Galaxy Tab

0.0 (0)
Samsung
Written by Guest

November 30, 2013

787 0 1 0 0

Harga Baru
Rp. 0,00
Harga Second
Rp.2.000.000,00

Samsung Galaxy Tab 3 7.0 T211 Hot


Written by Guest

0.0 (0)
5563 0 4 0 0
Compare

Write Review

November 30, 2013

Harga
Harga Baru
Rp. 3.175.000,00
Harga Second
Rp.2.750.000,00
General
Tipe
TFT capacitive touchscreen, 16M colors
Layar
Network
GSM 850 / 900 / 1800 / 1900, 3G HSDPA 900 / 2100
Ukuran

600 x 1024 pixels, 7.0 inches (~170 ppi pixel density)


Multitouch - TouchWiz UX UI
Dimensi
Ukuran/Berat
188 x 111.1 x 9.9 mm / 306 g
Audio
Fitur
Vibration, Polyphonic(64), MP3 ringtones
Jack
3,5 mm Jack Audio
Speakerphone
Ya
Memory
Internal
16 GB storage, 1 GB RAM
Eksternal
microSD, up to 64 GB
Data
3G
HSDPA, 21 Mbps; HSUPA, 5.76 Mbps
EDGE
Ya
GPRS
Ya
WLAN
Wi-Fi 802.11 a/b/g/n, dual-band, Wi-Fi Direct, DLNA, Wi-Fi hotspot
Bluetooth
Ya, v3.0 with A2DP
Infrared

Ya
USB/Port
Ya, v2.0
Kamera
Primer
3.15 MP, 2048x1536 pixels, autofocus, Geo-tagging
Sekunder
Ya, 1,3 MP
Video Record
Ya, 720p@30fps
Baterai
Tipe
Non-removable Li-Ion 4000 mAh battery
Standby
Talk Time
Fitur
OS
Android OS v4.1.2 (Jelly Bean)
CPU
Dual-core 1.2 GHz
Sensors Accelerometer, proximity, compass
Browser
HTML5
GPS
Ya, with A-GPS support and GLONASS
Java

Ya, via Java MIDP emulator. Fitur tambahan: SNS integration - TV-out (via MHL A/V
link) - Organizer - Image/video editor - Document viewer - Google Search, Maps,
Gmail, YouTube, Calendar, Google Talk, Picasa - Voice memo/dial - Predictive text
input (Swyp
Fitur Lain
Multiple SIM
Tidak
Video Player
MP4/H.263/H.264/WMV player
MP3 Player
MP3/WAV/WMA/eAAC+ player
Audio Record
Ya
TV
Tidak

Samsung Galaxy Tab 3 8.0 T311 Hot


Written by Guest

0.0 (0)
6061 0 3 0 0
Compare

Write Review

November 30, 2013

Harga
Harga Baru
Rp. 3.950.000,00
Harga Second
Rp.3.550.000,00
General
Tipe
TFT capacitive touchscreen, 16M colors
Layar
Network
GSM 850 / 900 / 1800 / 1900, 3G HSDPA 850 / 900 / 1900 / 2100
Ukuran
800 x 1280 pixels, 8.0 inches (~189 ppi pixel density)
Multitouch
Dimensi

Ukuran/Berat
209.8 x 123.8 x 7.4 mm / 314 g
Audio
Fitur
Vibration, MP3 ringtones
Jack
3,5 mm Jack Audio
Speakerphone
Ya
Memory
Internal
16 GB, 1.5 GB RAM
Eksternal
microSD, up to 64 GB
Data
3G
HSDPA, 21 Mbps; HSUPA, 5.76 Mbps
EDGE
Ya
GPRS
Ya
WLAN
Wi-Fi 802.11 a/b/g/n, dual-band, DLNA, Wi-Fi Direct, Wi-Fi hotspot
Bluetooth
Ya, v4.0 with A2DP
Infrared
Ya
USB/Port

Ya, microUSB v2.0 (MHL), USB Host


Kamera
Primer
5 MP, 2560?1920 pixels, autofocus, LED flash, Geo-tagging, touch focus, face
detection
Sekunder
Ya, 1.3 MP
Video Record
Ya, 720p@30fps
Fitur
OS
Android OS, v4.2.2 (Jelly Bean)
CPU
Exynos 4212
CPU Dual-core 1.5 GHz
GPU Mali-400MP
Sensors Accelerometer, compass, proximity
Browser
HTML5
GPS
Ya, with A-GPS support and GLONASS
Messaging
SMS (threaded view), MMS, Email, Push Email, IM
Java
Ya, via Java MIDP emulator. Fitur tambahan: SNS integration
- TV-out (via MHL A/V link)
- Organizer
- Image/video editor
- Document viewer
- Google Search, Maps, Gmail,
YouTube, Calendar, Google Talk, Picasa
- Voice memo/dial
- Predictive text in

Fitur Lain
Multiple SIM
Tidak
Video Player
MP3/WAV/eAAC+/Flac player
MP3 Player
MP4/DivX/Xvid/FLV/MKV/H.264/H.263 player
Audio Record
Ya
TV
Tidak

Harga
Harga Baru
Rp. 3.175.000,00
Harga Second
Rp.2.750.000,00
General
Tipe
TFT capacitive touchscreen, 16M colors

Layar
Network
GSM 850 / 900 / 1800 / 1900, 3G HSDPA 900 / 2100
Ukuran
600 x 1024 pixels, 7.0 inches (~170 ppi pixel density)
Multitouch - TouchWiz UX UI
Dimensi
Ukuran/Berat
188 x 111.1 x 9.9 mm / 306 g
Audio
Fitur
Vibration, Polyphonic(64), MP3 ringtones
Jack
3,5 mm Jack Audio
Speakerphone
Ya
Memory
Internal
16 GB storage, 1 GB RAM
Eksternal
microSD, up to 64 GB
Data
3G
HSDPA, 21 Mbps; HSUPA, 5.76 Mbps
EDGE
Ya
GPRS
Ya
WLAN

Wi-Fi 802.11 a/b/g/n, dual-band, Wi-Fi Direct, DLNA, Wi-Fi hotspot


Bluetooth
Ya, v3.0 with A2DP
Infrared
Ya
USB/Port
Ya, v2.0
Kamera
Primer
3.15 MP, 2048x1536 pixels, autofocus, Geo-tagging
Sekunder
Ya, 1,3 MP
Video Record
Ya, 720p@30fps
Baterai
Tipe
Non-removable Li-Ion 4000 mAh battery
Standby
Talk Time
Fitur
OS
Android OS v4.1.2 (Jelly Bean)
CPU
Dual-core 1.2 GHz
Sensors Accelerometer, proximity, compass
Browser
HTML5

GPS
Ya, with A-GPS support and GLONASS
Java
Ya, via Java MIDP emulator. Fitur tambahan: SNS integration - TV-out (via MHL A/V
link) - Organizer - Image/video editor - Document viewer - Google Search, Maps,
Gmail, YouTube, Calendar, Google Talk, Picasa - Voice memo/dial - Predictive text
input (Swyp
Fitur Lain
Multiple SIM
Tidak
Video Player
MP4/H.263/H.264/WMV player
MP3 Player
MP3/WAV/WMA/eAAC+ player
Audio Record
Ya
TV
Tidak

Samsung Galaxy Tab 3 10.1 P5200

Harga
Harga Baru
Rp. 4.750.000,00

Harga Second
Rp.4.350.000,00
General
Tipe
TFT capacitive touchscreen, 16M colors
Layar
Network
GSM 850 / 900 / 1800 / 1900, 3G HSDPA 900 / 2100
Ukuran
1280 x 800 pixels, 10.1 inches (~149 ppi pixel density)
Multitouch, TouchWiz UX UI
Dimensi
Ukuran/Berat
243.1 x 176.1 x 8 mm / 510 g
Audio
Fitur
Vibration, MP3 ringtones
Jack
3,5 mm Jack Audio
Speakerphone
Ya, with stereo speakers
Memory
Internal
16/32 GB, 1 GB RAM
Eksternal
microSD, up to 64 GB
Data
3G
HSDPA, 21 Mbps; HSUPA, 5.76 Mbps

EDGE
Ya
GPRS
Ya
WLAN
Wi-Fi 802.11 a/b/g/n, Wi-Fi Direct, DLNA, Wi-Fi hotspot
Bluetooth
Ya, v4.0 with A2DP
Infrared
Ya
USB/Port
Ya, microUSB v2.0, USB Host
Kamera
Primer
3.15 MP, 2048x1536 pixels
Geo-tagging
Sekunder
Ya, 1,3 MP
Video Record
Ya, 720p@30fps
Baterai
Tipe
Non-removable Li-Po 6800 mAh battery
Standby
Talk Time
Fitur
OS

Android OS v4.2.2 (Jelly Bean)


CPU
Intel Atom Z2560
CPU Dual-core 1.6 GHz
GPU PowerVR SGX544MP2
Sensors Accelerometer, compass
Browser
HTML5
GPS
Ya, with A-GPS support and GLONASS
Messaging
SMS (threaded view), MMS, Email, Push Email, IM
Java
Ya, via Java MIDP emulator. Fitur tambahan: SNS integration - TV-out (via MHL A/V
link) - Organizer - Image/video editor - Document viewer - Google Search, Maps,
Gmail, YouTube, Calendar, Google Talk, Picasa - Voice memo/dial - Predictive text
input (Swyp
Fitur Lain
Multiple SIM
Tidak
Video Player
MP4/DivX/Xvid/FLV/MKV/H.264/H.263 player
MP3 Player
MP3/WAV/eAAC+/Flac player
Audio Record
Ya
TV
Tidak