Anda di halaman 1dari 89

PENGERTIAN IBADAH DALAM ISLAM[1]

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

A. Definisi Ibadah
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk.
Sedangkan menurut syara (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi,
tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:
1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui
lisan para Rasul-Nya.
2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan
tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang
paling tinggi.
3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai
Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun
yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.
Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf
(takut), raja (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan),
raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan
dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan
dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat,
zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta
masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati,
lisan dan badan.
Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:


Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan
Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku.
Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi
sangat kokoh. [Adz-Dzaariyaat: 56-58]
Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia
adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan
Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah
yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka

barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa


yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyariatkan-Nya,
maka ia adalah mubtadi (pelaku bidah). Dan barangsiapa yang beribadah
kepada-Nya hanya dengan apa yang disyariatkan-Nya, maka ia adalah mukmin
muwahhid (yang mengesakan Allah).
B. Pilar-Pilar Ubudiyyah Yang Benar
Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu: hubb (cinta),
khauf (takut), raja (harapan).
Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedangkan khauf harus
dibarengi dengan raja. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini.
Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin:

Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. [Al-Maa-idah: 54]

Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cinta-nya kepada Allah. [AlBaqarah: 165]

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam
(mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap
dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami. [AlAnbiya: 90]
Sebagian Salaf berkata [2], Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa
cinta saja, maka ia adalah zindiq [3], siapa yang beribadah kepada-Nya dengan
raja saja, maka ia adalah murji[4]. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya
dengan khauf, maka ia adalah haruriy [5]. Barangsiapa yang beribadah kepadaNya dengan hubb, khauf, dan raja, maka ia adalah mukmin muwahhid.
C. Syarat Diterimanya Ibadah
Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang
disyariatkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak
disyariatkan berarti bidah mardudah (bidah yang ditolak) sebagaimana sabda
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
.

Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan
tersebut tertolak. [6]

Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa
dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:
a. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
b. Ittiba, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah,
karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari
syirik kepada-Nya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat
Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul,
mengikuti syariatnya dan meninggal-kan bidah atau ibadah-ibadah yang diadaadakan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya
kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya
dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. [AlBaqarah: 112]
Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah.
Wahua muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu
'alaihi wa sallam.
Syaikhul Islam mengatakan, Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah
kecuali hanya kepada Allah, dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang
Dia syariatkan, tidak dengan bidah.
Sebagaimana Allah berfirman:


Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya
ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun
dalam beribadah kepada Rabb-nya. [Al-Kahfi: 110]
Hal yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat
syahadat Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah.
Pada yang pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua,
bahwasanya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang
menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai
beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah
menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bidah. Beliau Shallallahu

'alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bidah itu sesat.[7]


Bila ada orang yang bertanya: Apa hikmah di balik kedua syarat bagi sahnya
ibadah tersebut?
Jawabnya adalah sebagai berikut:
1. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya
semata. Maka, beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya
adalah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. [Az-Zumar:
2]
2. Sesungguhnya Allah mempunyai hak dan wewenang Tasyri (memerintah dan
melarang). Hak Tasyri adalah hak Allah semata. Maka, barangsiapa beribadah
kepada-Nya bukan dengan cara yang diperintahkan-Nya, maka ia telah
melibatkan dirinya di dalam Tasyri.
3. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama bagi kita [8]. Maka, orang
yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya, berarti ia telah menambah
ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai
kekurangan).
4. Dan sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan
kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri
dalam ibadah. Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam kehidupan
manusia adalah kekacauan yang tiada taranya karena perpecahan dan
pertikaian akan meliputi kehidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan
perasaan, padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan
menurut syariat yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.
D. Keutamaan Ibadah
Ibadah di dalam syariat Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhaiNya. Karenanyalah Allah menciptakan manusia, mengutus para Rasul dan
menurunkan Kitab-Kitab suci-Nya. Orang yang melaksanakannya dipuji dan yang
enggan melaksanakannya dicela.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

Dan Rabb-mu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah
kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. [AlMumin: 60]

Ibadah di dalam Islam tidak disyariatkan untuk mempersempit atau


mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam
kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyariatkan untuk berbagai hikmah yang
agung, kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Pelaksanaan
ibadah dalam Islam semua adalah mudah.
Di antara keutamaan ibadah bahwasanya ibadah mensucikan jiwa dan
membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju
kesempurnaan manusiawi.
Termasuk keutamaan ibadah juga bahwasanya manusia sangat membutuhkan
ibadah melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya.
Karena manusia secara tabiat adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah.
Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demikian
pula hati dan ruh memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah. Bahkan
kebutuhan ruh manusia kepada ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan
jasadnya kepada makanan dan minuman, karena sesungguhnya esensi dan
subtansi hamba itu adalah hati dan ruhnya, keduanya tidak akan baik kecuali
dengan menghadap (bertawajjuh) kepada Allah dengan beribadah. Maka jiwa
tidak akan pernah merasakan kedamaian dan ketenteraman kecuali dengan
dzikir dan beribadah kepada Allah. Sekalipun seseorang merasakan kelezatan
atau kebahagiaan selain dari Allah, maka kelezatan dan kebahagiaan tersebut
adalah semu, tidak akan lama, bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak
ada kelezatan dan kebahagiaannya.
Adapun bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya, maka itulah
kebahagiaan yang tidak akan terhenti dan tidak hilang, dan itulah kesempurnaan
dan keindahan serta kebahagiaan yang hakiki. Maka, barangsiapa yang
menghendaki kebahagiaan abadi hendaklah ia menekuni ibadah kepada Allah
semata. Maka dari itu, hanya orang-orang ahli ibadah sejatilah yang merupakan
manusia paling bahagia dan paling lapang dadanya.
Tidak ada yang dapat menenteramkan dan mendamaikan serta menjadikan
seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia lakukan kecuali ibadah kepada
Allah semata. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, Tidak ada
kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati melainkan bila ia
meyakini Allah sebagai Rabb, Pencipta Yang Maha Esa dan ia beribadah hanya
kepada Allah saja, sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya
daripada yang lain.[9]
Termasuk keutamaan ibadah bahwasanya ibadah dapat meringankan seseorang
untuk melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan kemunkaran. Ibadah
dapat menghibur seseorang ketika dilanda musibah dan meringankan beban
penderitaan saat susah dan mengalami rasa sakit, semua itu ia terima dengan
lapang dada dan jiwa yang tenang.

Termasuk keutamaannya juga, bahwasanya seorang hamba dengan ibadahnya


kepada Rabb-nya dapat membebaskan dirinya dari belenggu penghambaan
kepada makhluk, ketergantungan, harap dan rasa cemas kepada mereka. Maka
dari itu, ia merasa percaya diri dan berjiwa besar karena ia berharap dan takut
hanya kepada Allah saja.
Keutamaan ibadah yang paling besar bahwasanya ibadah merupakan sebab
utama untuk meraih keridhaan Allah l, masuk Surga dan selamat dari siksa
Neraka.

ENGERTIAN IBADAH
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk.
Sedangkan menurut syara (terminologi), ibadah mempunyai banyak
a.

definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:
Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya

b.

melalui lisan para Rasul-Nya.


Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu
tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah

c.

(kecintaan) yang paling tinggi.


Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan
diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang
zhahir maupun yang bathin.
Dalam ajaran Islam manusia itu diciptakan untuk menghamba kepada
Allah, atau dengan kata lain beribadah kepada Allah dalam QS Adz
Dzaariyat ayat 56 yang artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzaariyaat : 56).
Dan manusia yang menjalani hidup beribadah kepada Allah itu tiada lain
manusia yang berada pada jalan yang lurus sperti dalam QS Yaasiin ayat
61 yang artinya:
Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. inilah jalan yang lurus. (QS. Yaasiin:
61)

2. MACAM-MACAM IBADAH
1) Ibadah Mahdah (khusus)
Ibadah mahdah adalah Ibadah yang teknik pelaksanaannya telah diatur
secara rinci oleh Al-Quran dan Hadits seperti shalat, zakat, puasa dan
haji.
Contohnya:

Delapan golongan yang boleh menerima zakat,

telah disebutkan Allah

SWT dengan jelas pada QS At-Taubah ayat 60 yang artinya sebagai


berikut:
Artinya:
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orangorang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk
hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang,
untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan,
sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana.
2) Ibadah Ghairu Mahdah (Umum)
Adalah Ibadah yang teknik pelaksanaannya tidak diatur secara rinci oleh
Al-Quran dah Hadits seperti tolong menolong, dan tidak mengganggu
orang lain. Semuanya diserahkan kepada manusia sendiri. Islam hanya
memberi perintah/anjuran, dan prisnip-prinsip umum saja. Ibadah dalam
arti umum contohnya adalah pada QS Al-Maidah ayat 2 mengenai
berbagai macam ibadah yang tidak disebutkan secara rinci yng artinya
sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar
Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan
(mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id,
dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah
sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila
kamu Telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan
janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum Karena mereka
menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat
aniaya

(kepada

mereka).

dan

tolong-menolonglah

kamu

dalam

(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam


berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kita sering mengenal seseorang dengan citra dirinya. Ketika kita berbicara tentang
kerakusan kita teringat pada Karun, dan kta membicarakan tentang kultus individu dan
pendewaan kita teringat pada Firaun. Begitulah seterusnya, citra diri adalah kepribadian.1[1]
Kepribadian seorang muslim adalah sifat tertentu dengan ciri yang membedakannya dengan
non muslim. Kepribadian seorang muslim terbentuk dari interaksi antara pembawaan dan
lingkungan, serta bimbingan wahyu yang terdapat dalam Alquran dan Hadist. Kepribadian
yang terbimbing oleh wahyu pastilah kepribadian yang kuat dan tahan uji, yang akan mampu
mendatangkan kebahagiaan. Agar kepribadian islami terbentuk pada diri seseorang, islam
memberikan ajaran yang disebut; ikhsan, ikhlas, tawakal, sabar dan mahabbah. Ihsan
merupakan sikap mental yang timbul dari kesadaran bahwa Allah akan terus mengawasi
perbuatan hamba-hambaNya.
Ikhlas adalah sikap memelihara niat suci, batin yang bersih, lurus hati dalam
bertindak, tidak berlaku pamer, berpura-pura dan mengharapkan pamrih. Ikhlas adalah hanya
mengharapkan ridha Allah. Ikhlas bisa membuat seorang muslim tidak mudah tergoda oleh
apapun, sebaliknya ikhlas memperkukuh pertahanan dan ketahanan uji seseorang.
Tawakal identik dengan sikap berserah diri setelah melakukan upaya yang optimal.
Tawakal mendorong seorang muslim untuk terus berupaya dan mempercayakan hasil akhir
upayanya semata-mata hanya kepada Allah SWT. Sabar menunjukan sikap mental yang tidak
suka mengeluh ketika ditimpa bencana dan kesulitan. Dengan mengembangkan sikap sabar,
seorang muslim sanggup menghadapi ujian apapun dalam melaksanakan bakti dan
perjuangan.2[2]
Mahabbah adalah cinta kepada sang Pencipta. Dengan menyadari kemuliaan, kesempurnaan,
kemahakuasaan dan kasih sayangNya, terjelmalah hati sanubari seorang muslim. Dengan
memiliki mahabbah, seorang muslim akan menunjukan kesetiaan dalam menjalankan bakti
perjuangan, sekalipun untuk itu ia memberikan pengorbanan.3[3]
Manusia diciptakan bukan sekedar hidup mendiami dunia ini dan kemudian
mengalami kematian tanpa adanya pertanggung-jawaban kepada penciptanya, melainkan
manusia itu diciptakan oleh Allah SWT untuk mengabdi kepada-Nya. Sebagaimana
dinyatakan dalam Al Quran surah Al Bayyinah ayat 5 :
1
2
3

Artinya : "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.4[4]

Dapat kita pahami dari ayat ini bahwa manusia diciptakan bukan sekedar sebagai unsur
pelengkap isi alam saja yang hidupnya tanpa tujuan, tugas dan tanggung-jawab. Sebagai
makhluk yang diciptakan paling sempurna, pada hakikatnya manusia diperintahkan untuk
mengabdi kepada penciptanya, Allah SWT.5[5]
Pada prinsipnya pengabdian manusia (ibadah) merupakan sari dari ajaran Islam yang
mempunyai arti penyerahan diri secara total pada kehendak Allah SWT. Dengan demikian,
hal ini akan mewujudkan suatu sikap dan perbuatan dalam bentuk ibadah. Apabila ini dapat
dicapai sebagai nilai dalam sikap dan perilaku manusia, maka akan lahir suatu keyakinan
untuk tetap mengabdikan diri kepada Allah SWT dan tentunya bila keyakinan itu kemudian
diwujudkan dalam bentuk amal keseharian akan menjadikan maslahah dalam kehidupan
sosial.
Sering kita dengar dari kalangan Muslim, orang yang mempertentangkan antara
kesalehan individual dan kesalehan sosial. Mereka memisahkan secara dikotomis antara dua
bentuk kesalehan ini. Seolah-olah dalam Islam memang ada dua macam kesalehan:
kesalehan individual/ ritual dan kesalehan sosial. Dalam kenyataannya, kita juga melihat
masih terdapat ketimpangan yang tajam antara kesalehan individual dan kesalehan sosial.
Banyak orang yang saleh secara individual, namun tidak atau kurang saleh secara sosial.
Dalam sebuah hadis dikisahkan, bahwa suatu ketika Nabi Muhammad SAW
mendengar berita tentang seorang yang rajin shalat di malam hari dan puasa di siang hari,
tetapi lidahnya menyakiti tetangganya. Apa komentar nabi tentang dia, singkat saja, Ia di
neraka. Kata nabi. Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum
cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi dengan kesalehan sosial.
Dalam hadis lain diceritakan, bahwa seorang sahabat pernah memuji kesalehan orang
lain di depan Nabi. Nabi bertanya, Mengapa ia kau sebut sangat saleh?" tanya Nabi. Sahabat
itu menjawab, "Soalnya, tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap
saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa." "Lho, lalu siapa yang memberinya
4
5

makan dan minum?" tanya Nabi lagi. "Kakaknya," sahut sahabat tersebut. Lalu kata Nabi,
"Kakaknya itulah yang layak disebut saleh." Sahabat itu diam.6[6]
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah
ini adalah :
1. Apakah definisi, pembagian, ruang lingkup, serta tujuan ibadah?
2. Apakah definisi dan ciri kesalehan social ?
3. Apakah definisi, sumber, ruang lingkup, kedudukan dan keistimewaan serta ciri-ciri akhlak
dalam islam ?
4. Apa hubungan antara ibadah, akhlak dan kesalehan sosial ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi, Pembagian, Ruang Lingkup, Serta Tujuan Ibadah.


1. Definisi Ibadah
Ibadah diambil dari bahasa Arab yang artinya adalah menyembah. Konsep ibadah
memiliki makna yang luas yang meliputi seluruh aspek kehidupan baik sosial, politik
maupun budaya. Ibadah merupakan karakteristik utama dalam sebuah agama, karena
pusatnya ajaran agama terletak pada pengabdian seorang hamba pada Tuhannya.7[7]

Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,
tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba

6
7

sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan


membangga-banggakan diri.(QS. Annisa : 36).8[8]
Berbicara tentang ibadah berarti membahas mengenai posisi diantara dua dimana
yang satu kedudukannya lebih tinggi dari yang lain seperti hubungan antara seorang majikan
dan budaknya. Seorang budak tidak memiliki kekuatan lain kecuali hanya tunduk dan patuh
pada perintah majikannya. Seorang budak tentu didasari oleh kesadarannnya sebagai hamba
yang lemah dan tak berdaya. Oleh karena itu kesadaran ibadah bersifat fitrah, karena manusia
menyadari akan kekurangan dan kelemahan dirinya, sehingga ia membutuhkan kekuatan lain
yang dapat memberikan bantuan dan pertolongan. Begitulah seharusnya manusia, ia harus
tunduk dan patuh kepada sang Pencipta, yakni Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah SWT
dalam surat Adzariyat ayat 56 :

Artinya : Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.9[9]
Ayat ini menjelaskan tentang kecendrungan fitrah manusia untuk beribadah. Tidak

mungkin ada mahluk yng keluar dari kecendrungannya sebagai hamba, namun
kecendrungan ini jika tidak diiringi oleh wahyu maka ketundukan manusia sebagai bentuk
penghambaan diri pada yang mutlak menjadi pembelengguan

diri manusia, sehingga

manusia jatuh ke dalam derajat yang hina.


2. Pembagian Ibadah
Ibadah dibagi menjadi dua, yaitu ibadah mahdhoh dan ibadah ammah. Ibadah
mahdhah (murni), adalah suatu rangkaian aktivitas ibadah yang ditetapkan Allah Swt. Dan
bentuk aktivitas tersebut telah dicontohkan oleh Rasul-Nya, serta terlaksana atau tidaknya
sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran teologis dari masing-masing individu. Yang
termasuk Ibadah mahdhoh misalnya: Shalat, puasa, Zakat, dan haji.10[10]
Selain ibadah mahdhah, maka ada bentuk lain diluar ibadah mahdhah tersebut yaitu
Ibadah Ghair al-Mahdhah atau ibadah ammah, yakni sikap gerak-gerik, tingkah laku dan
perbuatan yang mempunyai tiga tanda yaitu: pertama, niat yang ikhas sebagai titik tolak,
kedua keridhoan Allah sebagai titik tujuan, dan ketiga, amal shaleh sebagai garis amal. Ada
pula yang memberikan definisi ibadah ammah dengan semua perbuatan yang mendatangkan
8
9
10

kebaikan dan dilaksanakan dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT, seperti minum,
makan, dan bekerja mencari nafkah.11[11]
3. Ruang Lingkup Ibadah
Islam amat istimewa hingga menjadikan seluruh kegiatan manusia sebagai ibadah
apabila diniatkan dengan penuh ikhlas karena Allah demi mencapai keridhaan-Nya serta
dikerjakan menurut cara-cara yang disyariatkan olehNya. Islam tidak membatasi ruang
lingkup ibadah kepada sudut-sudut tertentu saja. Seluruh kehidupan manusia adalah medan
amal dan persediaan bekal bagi para mukmin sebelum mereka kembali bertemu Allah di hari
pembalasan nanti. Islam mempunyai keistimewaan dengan menjadikan seluruh kegiatan
manusia sebagai ibadah apabila ia diniatkan dengan penuh ikhlas karena Allah demi untuk
mencapai keridaan Nya serta dikerjakan menurut cara cara yang disyariatkan oleh Nya. Islam
tidak menganggap ibadah ibadah tertentu saja sebagai amal saleh akan tetapi meliputi segala
kegiatan yang mengandung kebaikan yang diniatkan karena Allah SWT. Ruang lingkup
ibadah di dalam Islam sangat luas sekali. Mencakup setiap kegiatan kehidupan manusia.
Setiap apa yang dilakukan baik yang bersangkut dengan individu maupun dengan masyarakat
adalah ibadah menurut Islam ketika ia memenuhi syarat syarat tertentu.
Syarat syarat tersebut adalah :
a) Amalan yang dikerjakan itu hendaklah diakui Islam, sesuai dengan hukum hukum syara' dan
tidak bertentangan dengan hukum hukum tersebut. Adapun amalan - amalan yang diingkari
oleh Islam dan ada hubungan dengan yang haram dan maksiyat, maka tidaklah bisa dijadikan
amalan ibadah.
b) Amalan tersebut dilakukan dengan niat yang baik dengan tujuan untuk memelihara
kehormatan diri, menyenangkan keluarga nya, memberi manfaat kepada seluruh umat dan
untuk kemakmuran bumi seperti yang telah diperintahkan oleh Allah.
c) Amalan tersebut haruslah dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
d) Ketika membuat amalan tersebut hendaklah sentiasa menurut hukum - hukum syara' dan
ketentuan batasnya, tidak menzalimi orang lain, tidak khianat, tidak menipu dan tidak
menindas atau merampas hak orang.
e)
Tidak melalaikan ibadah - ibadah khusus seperti salat, zakat dan sebagainya
dalammelaksanakan ibadah - ibadah umum.12[12]
4. Tujuan ibadah

11
12

Manusia, bahkan seluruh mahluk yang berkehendak dan berperasaan, adalah hambahamba Allah. Hamba sebagaimana yang dikemukakan diatas adalah mahluk yang dimiliki.
Kepemilikan Allah atas hamba-Nya adalah kepemilikan mutklak dan sempurna, oleh karena
itu mahluk tidak dapat berdiri sendiri dalam kehidupan dan aktivitasnya kecuali dalam hal
yang oleh Alah swt. Telah dianugerahkan untuk dimiliki mahluk-Nya seperti kebebasan
memilih walaupun kebebasan itu tidak mengurangi kepemilikan Allah. Atas dasar
kepemilikan mutak Allah itu, lahir kewajiban menerima semua ketetapan-Nya, serta menaati
seluruh perintah dan larangan-Nya.13[13]
Manusia diciptakan Allah bukan sekedar untuk hidup di dunia ini kemudian mati
tanpa pertanggungjawaban, tetapi manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadahhal ini dapat
difahami dari firman Allah swt. :

Artinya : Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami menciptakan kamu secara mainmain (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS alMuminun:115)14[14]
Karena Allah maha mengetahui tentang kejadian manusia, maka agar manusia terjaga

hidupnya, bertaqwa, diberi kewajiban ibadah. Tegasnya manusia diberi kewajiban ibadah
agar menusia itu mencapai taqwa.
B. Definisi, Sumber, Ruang Lingkup, Kedudukan dan Keistimewaan Akhlak, serta Ciriciri Akhlak.
1. Definisi Akhlak
Secara etimologis (lughatan) akhlak (Bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari khuluk
yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang
berarti menciptakan. Seakar dengan kata Khaliq (Pencipta), makhluq (yang diciptakan) dan
khalq (penciptaan).15[15]
Secara terminologis akhlak (khuluq) adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia,
sehingga ia muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau
pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.16[16]
Dari keterangan diatas bahwa akhak itu haruslah bersifat konstan, spontan, tidak
temporer dan tidak tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari luar.
13
14
15
16

Sekalipun dari beberapa definisi diatas kata akhlak bersifat netral, belum menunjuk kepada
baik dan buruk, tapi pada umumnya apabila disebut sendirian, tidak dirangkai dengan sifat
tertentu, maka yang dimaksud adalah akhla mulia. Misalnya bila seseorang tidak sopan kita
mengatakan padanya, kamu tidak berakhlak. Padahal tidak sopan itu dalah akhlaknya.
Tentu yang kita maksud adalah kamu tidak memilki akhlak yang mulia, dalam hal ini sopan. 17
[17]
2. Sumber Akhlak
Yang dimaksud dengan sumber akhlak adalah yang menjadi ukuran baik dan buruk
atau mulia dan tercela. Sebagaimana keseluruhan ajaran islam, sumber akhlak adalah
Alquran dan Sunnah, bukan akal pikiran atau pandangan masyarakat sebagaimana pada
konsep etika dan moral. Dan bukan pula karena baik atau buruk dengansendirinya sebagai
pandangan Mutazilah. Dalam konsep akhlaq, segala sesuatu dinlai baik atau buruk, terpuji
atau tercela, semata-mata karena syara (Alquran dan Sunnah) menilainya demikian.18[18]
3. Ruang Lingkup Akhlak
Muhammad Abdullah Draz dalam buku Yunahar Ilyas membagi ruang lingkup akhlak
a.

kepada lima bagia :


Akhlaq pribadi, terdiri dari : 1) yang diperintahkan, 2) yang dilarang, yang dibolehkan, 3)

b.

akhlak dalam keadaan darurat.


Akhlak berkeluarga, terdiri dari : 1) kewajiban timbal balik antara orang tua dan anak, 2)

kewajiban suami istri, 3) kewajiban kepada karib kerabat.


c. Akhlak bermasyarakat, terdiri dari : 1) yang dilarang, 2) yang diperintahkan, 3) kaedahkaedah adab.
d. Akhlak bernegara, terdiri dari : 1) hubungan antara pemimpin dan rakyat, 2) hubungan luar
negeri.
e. Akhlak beragama, yakni : kewajiban terhadap Allah SWT.19[19]
4. Kedudukan dan Keistimewaan Akhlak Dalam Islam
Dalam keseluruhan ajaran islam akhlaq menempati kedudukan yang istimewa dan sangat
penting. Hal ini dapat dilihat dari beberapa poin berikut:
a. Rasulullah SAW menempatkan penyempurnaan akhlak yang mulia sebagai misi pokok
Risalah Islam. (HR. Baihaqi)

17
18
19

b. Akhlaq merupakan salah satu ajaan pokok agama islam, sehingga Rasulullah SAW pernah
mendefinisikan agama itu denga akhlak baik (husn Alkhulq).
c. Akhlak yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat.
(HR. Tirmidzi)
d. Rasulullah menjadikan baik buruknya akhlak seseorang sebagai ukuran kualitas imannya.
Hal ini dapat kita lihat dari beberapa hadits: HR. Tirmidzi, HR. Hakim dan Thabrani, HR.
e.

Bukhari, HR.Bukhari dan Muslim.


Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti da buah dari ibadah kepada Allah SWT.

f.

Misalnya; shalat, puasa, zakat dan haji. (QS. Al-Ankabut:45)


Nabi Muhammad SAW selalu berdoa agar Allah SWT membaikkan akhlak beliau. HR.

Muslim
g. Di dalam Alquran banyak ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlak, baik berupa perintah
untuk berakhlak yang baik serta pujian dan pahala yang diberikan kepada orang-orang yanng
mematuhi perintah itu, maupun larangan berakhlak yang buruk serta celaan dan dosa yang
melanggarnya. 20[20]
5. Ciri-ciri Akhlak Dalam Islam
Yang menjadi ciri-ciri akhlak dalam Islam yaitu :
a.

Akhlak Rabbani
Ajaran akhlak dalam islam bersumber dari wahyu ilahi yang termaktub dalam
Alquran dan Assunnah. Di dalam Alquran terdapat kira-kira 1500 ayat yang mengandung
ajaran akhlak, baik yang teoritis maupun yang praktis. Demkian pula hadits-hadits nabi, amat
banyak jumlahya yang memberikan pedoman akhlak sifat rabbani, dari akhlak juga

menyangku tujuannya, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan dunia ini, da akhirat nanti.21[21]
b. Akhlak Manusia
Ajaran akhlak dalam islam sejalan dan memenuhi tuntunan fitrah manusia. Kerinduan
jiwa manusia akan kebaikan terpenuhi dengan mengikuti ajaran akhlak dalam islam. Ajaran
akhlak dalam islam diperuntukan bagi manusia yang merindukan kebahagiaan dalam arti
hakiki, bukan kebahagiaan semu. Akhlak islam adalah akhlak yang benar-benar memelihara
eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat, sesuai dengan fitrahnya.22[22]
c. Akhlak Universal
Ajara akhlak dalam islam sesuai dengan kemanusiaan yang universal dan mencakup
segala aspek hidup manusia, baik yang dimensinya vertikal maupun yang horizontal. Sebagai
20
21
22

contoh Alquran menyebutkan sepuluh macam keburukan yang dijauhi oleh setiap orang,
yaitu ; menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh anak kerana takut
miskin,
d. Akhlak keseimbangan
Ajaran akhlak didalam islam berada ditengah antara menghayalka manusia sebagai
malaikat yang menitik beratkan segi kebaikannya da menghayalkan manusia seperti hewan
yang menitik beratkan sifat buruknya saja. Manusia menurut pandangan islam meiliki dua
kekuatan dalam dirinya, yakni kekuatan baik pada hati nurani dan akalnya dan kekuatan
buruk pada hawa nafsunya.23[23]
C. Definisi dan Ciri-ciri Kesalehan Sosial.
1. Definisi Kesalehan Sosial
Secara bahasa kita bisa memaknai kesalehan sosial adalah kebaikan atau keharmonisan
dalam hidup bersama, berkelompok baik dalam lingkup kecil antar keluarga, RT, RW, dukuh,
desa kota, Negara sampai yang paling luas dunia. Allah SWT berfirman, Jikalau sekiranya
penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka
berkah dari langit dan bumi (Al Quran) Pesan utama ayat ini, disatu sisi, dapat dilihat dari
sebagai janji Allah yang menyatakan bahwa jiwa sesuatu masyarakat beriman dan bertaqwa,
maka mereka akan memperoleh keberuntungan. Disisi lain, pesan utama ayat ini juga
mengilustrasikan hubungan kausalitas antara iman takwa dengan kesejahteraan hidup para
pemeluknya.
Iman-takwa dalam ini, dapat dipahami sebagai keadaan kualitas jiwa seseorang yang
membimbing dan memandu hidupnya dalam mewujudkan kondisi sosial yang makmur dan
sejahtera bagi seluruh alam semesta. Kesejahteraan kolektif ini akan terwujud dengan
sendirinya jika setiap individu telah melaksanakan ketentuan-ketentuan iman takwa secara
utuh dan benar, yang mana manifestasi iman dan takwa itu harus diwujudkan dengan perilaku
yang baik dalam hubunganya dengan sang pencipta atau dalam hubungannya dengan sesama
manusia dan lingkungan yang kemudian kita kenal dengan perilaku ibadah. Bahkan,
keberkahan yang datang dari langit dan bumi itu hanya akan lahir dari keimanan dan
ketakwaan.24[24]
2. Ciri-ciri Kesalehan Sosial

23
24

Untuk melihat dimensi-dimensi ketakwaan seseorang khususnya dalam kaitanya dengan


ukuran-ukuran kesalehan individu dan sosial, lima ciri penting manusia yang shaleh secara
sosial yakni :
a) Memiliki semangat spiritualitas yang diwujudkan dalam sistem kepercayaan kepada sesuatu
yang gaib serta

berketuhanan dan pengertian beragama atau menganut sesuatu

kepercayaan agama. Masyarakat yang memiliki kualitas kesalehan sosial itu adalah
masyarakat beragama, masyarakat yang percaya pada hal-hal yang gaib. Ciri ini juga
sekaligus menjadi ukuran kedewasaan seseorang, baik dalam kehidupan sosial, politik
maupun kehidupan beragama sendiri. Masyarakat yang memiliki kesalehan sosial yang tinggi
akan mengedepankan etika beragama dan keberagamaan.
b) Terikat pada norma, hukum, dan etika seperti tercermin dalam struktur ajaran sholat. Sholat
juga mengajarkan kepada para pelakunya untuk terbiasa disiplin. Disiplin dalam hidup sesuai
dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Artinya masyarakat yang memiliki kesalehan
sosial itu adalah mereka yang konsisten menegakan hukum dan hukum menjadi aturan main.
c) Memiliki kepedulian sosial yang salah satu perwujudanya ditandai dengan kesanggupan
berbagi terhadap golongan yang lemah. Keadilan sosial itu harus diwujudkan secara bersama
oleh seluruh komponen masyarakat dan bukan hanya oleh penguasa.
d) Memiliki sikap toleran sebagai salah satu dari perwujudan dari keimanan terhadap adanya
pengikut kitab-kitab suci selain kitab sucinya sendiri. Ajaran ini juga sekaligus
mengisyaratkan adanya pluralitas kehidupan, baik pada aspek agama dan kepercaan maupun
pada aspek sosial budaya lainya. Dinamika masyarakat juga akan terus berubah membentuk
struktur sosial yang semakin beragam. Di sinilah arti penting mengembangkan sikap toleran,
khususnya dalam menyikapi secara terbuka perbedaan-perbedaan sebagai suatu keniscayaan.
e) Berorientasi kedepan sebagai salah satu wujud dari keimanan terhadap adanya hari akhir.
Masyarakat yang memiliki dimensi kesalehan sosial itu adalah mereka yang berorientasi
kedepan , sehingga akan selalu mementingkan kerja keras untuk membangun hari esok yang
lebih gemilang.25[25]
D. Hubungan Antara Ibadah, Akhlak dan Kesalehan Sosial.
Antara ibadah, akhlak dan kesalehan sosial adalah merupakan satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan, utamanya dalam membangun bangsa dan agama. Ibadah merupakan tunduk
dan patuh, serta wujud kebaktian kita terhadap sang pencipta. Akhlak adalah sifat dan
perilaku kita yang baik dan mulia yang kita tunjukan kepada manusia atau individu lain.
Kesalehan sosial merupakan kebaikan serta keharmonisan yang tercipta dalam kehidupan
bersama dalam suatu lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara.
25

Bila masyarakat suatu kampung atau wilayah taat beribadah maka akan terwujud
ketenangan jiwa bagi yang taat beribadah tersebut. Dari unsur ketaatan beribadah inilah maka
akan lahir ataupun timbul akhlaq mulia. Ketika manusia telah mengedepankan akhlaq yang
mulia maka akan timbul keharmonisan antara sesama warga masyarakat. Dengan demikian
akan menwujudkan suatu wilayah atau daerah yang aman dan tentram.
Segala kejadian yang pernah terjadi, telah terjadi dan akan terjadi tergantung dari
amalan manusia. Pengaruh amalan manusia sangat besar karena akan dibalas oleh Allah
SWT, walaupun hanya sebesar dzar-ah, baik dunia maupun akhirat. Jika seseorang manusia
beramal saleh ia akan ditempatkan di Jannah dan jika beramal buruk maka tempatnya adalah
Jahannam. 26[26]
Keadaan dipengaruhi oleh amal, sedangkan amal dipengaruh oleh iman. Bila iman
betul, maka Allah SWT akan memberikan keberkahan dari atas langit dan dari bawah bumi.
Sebaliknya, bila ima rusak, amal pun ikut menjadi rusak dan amal ini akan terangkat ke
langit lalu Allah menurunkan kembali ke bum berupa bencana.27[27]
Dari pengaruh perbuatan manusia, berpengaruh pada lautan, udara, sampai
mempengaruhi pada lapisan ozon di atmosfir bumi. Abu Hurairah RA berkata Akibat
perbuatan manusia, burung-burung pun menjadi kurus dan mati dalam sarangnya. 28[28]
Firman Allah SWT dalam Alquran :

Artinya : Telah tampak kerusakan di muka bumi ini, didarat dan di laut disebabkan karena tangan
manusia. Supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali ke yang benar. (QS. Ar-Ruum: 41)29[29]
Binatang tak pernah disebut-sebut sebagai biang keladi kerusakan bumi. Sejahat-jahat
binatang tak akan menjadi sebab kerusakan alam. Apa yang akan terjadi bila seanadainya
kerbau memiliki alat yang canggih utuk memenuhi kebutuhan perutnya. Tentu dan aneka
ragam tanaman akan habis untuk mengisi perutnya. Bila musang mempunyai radar untuk
mendeteksi mangsanya dengan pesawat pemburu, tentu tidak ada ayam yang dibiarkan hidup

di muka bumi. Apabila harimau memiliki tank dan beberapa peralatan canggih, mungkin
26
27
28
29

makhluk-makhluk lain tidak diberi kesempatan hidup. Andai kuda dan kambing jantan yang
sarat dengan nafsu bisa menonton tayangan film atau gambar porno, siapakah yang mampu
membendung hawa nafsunya. Jika kambing-kambing betina pandai bersolek, bergaya seksi,
menantang dan merangsang lawan jenisnya bagaimana dengan kehidupan ini.30[30]
Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum apabila mereka tidak mau memperbaiki iman
dan amalan mereka. Allah SWT menciptakan manusia dan juga menciptakan keperluan
manusia, bila manusia taat kepada Allah SWT maka segala keperluannya akan datang dengan
mudah. Firman Allah SWT :

Artinya : Jika seandainya penduduk-penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan
(ayat-ayat kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-Araf:96)31
[31]
Datangnya kemakmuran dengan harta yang melimpah, sangat berbahaya bagi orang
yang tidak beriman, sebab mereka tidak tahu bagaimana menggunakan hartanya sesuai
dengan perintah Allah SWT. Seluruh potensi yang dia miliki akan ia gunakan untuk
menyempurnakan hawa nafsunya.

30
31

BAB III
KESIMPULAN
Ibadah diambil dari bahasa Arab yang artinya adalah menyembah. Konsep ibadah
memiliki makna yang luas yang meliputi seluruh aspek kehidupan baik sosial, politik
maupun budaya. Ibadah merupakan karakteristik utama dalam sebuah agama, karena
pusatnya ajaran agama terletak pada pengabdian seorang hamba pada Tuhannya. Pembagian
ibadah ada 2 macam yakni ibadah maghdah dan ibadah ammah.
Secara terminologis akhlak (khuluq) adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia,
sehingga ia muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau
pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar. Sumber akhlaq adalah
Alquran dan Assunah. Ruang lingkup akhlak meliputi; akhlaq pribadi, akhlaq keluarga,
akhlaq bermasyarakat, akhlaq bernegara, dan akhlaq beragama. Ada beberapa keistimewaan
akhlaq sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadits. Ciri-ciri akhlaq ; akhlaq rabani,
akhlaq manusia, akhlaq universal dan akhlaq keseimbangan.
Kesalehan sosial adalah kebaikan atau keharmonisan

dalam hidup bersama,

berkelompok baik dalam lingkup kecil antar keluarga, RT, RW, dukuh, desa kota, Negara
sampai yang paling luas dunia.
Antara ibadah, akhlak dan kesalehan sosial adalah merupakan satu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan, utamanya dalam membangun bangsa dan agama. Ibadah merupakan
tunduk dan patuh, serta wujud kebaktian kita terhadap sang pencipta. Akhlak adalah sifat dan
perilaku kita yang baik dan mulia yang kita tunjukan kepada manusia atau individu lain.
Kesalehan sosial merupakan kebaikan serta keharmonisan yang tercipta dalam kehidupan
bersama dalam suatu lingkungan masyarakat, bangsa, dan negara.

Macam - Macam Ibadah


Praktek ibadah sangatlah beragam, tergantung dari sudut mana kita meninjaunya.
1.

Dilihat dari segi umum dan khusus, maka ibadah dibagi dua macam:
a) Ibadah Khoshoh adalah ibadah yang ketentuannya telah ditetapkan dalam nash
(dalil/dasar hukum) yang jelas, yaitu sholat, zakat, puasa, dan haji;

b) Ibadah Ammah adalah semua perilaku baik yang dilakukan semata-mata karena
Allah SWT seperti bekerja, makan, minum, dan tidur sebab semua itu untuk menjaga
kelangsungan hidup dan kesehatan jasmani supaya dapat mengabdi kepada-Nya.
2.

3.

4.

Ditinjau dari kepentingan perseorangan atau masyarakat, ibadah ada dua macam:
a)

ibadah wajib (fardhu) seperti sholat dan puasa;

b)

ibadah ijtimai, seperti zakat dan haji.

Dilihat dari cara pelaksanaannya, ibadah dibagi menjadi tiga:


a)

ibadah jasmaniyah dan ruhiyah (sholat dan puasa)

b)

ibadah ruhiyah dan amaliyah (zakat)

c)

ibadah jasmaniyah, ruhiyah, dan amaliyah (pergi haji)

Ditinjau dari segi bentuk dan sifatnya, ibadah dibagi menjadi:


a) ibadah yang berupa pekerjaan tertentu dengan perkataan dan perbuatan, seperti
sholat, zakat, puasa, dan haji;
b)

ibadah yang berupa ucapan, seperti membaca Al-Quran, berdoa, dan berdzikir;

c) ibadah yang berupa perbuatan yang tidak ditentukan bentuknya, seperti membela
diri, menolong orang lain, mengurus jenazah, dan jihad;
d) ibadah yang berupa menahan diri, seperti ihrom, berpuasa, dan itikaf (duduk di
masjid); dan
e)
ibadah yang sifatnya menggugurkan hak, seperti membebaskan utang, atau
membebaskan utang orang lain.
Apapun macam ibadah yang akan kita lakukan, yang pasti selalu menghadapi godaan
baik yang berasal dari hawa nafsu kita sendiri maupun dari setan baik dari golongan jin dan
manusia, antara lain:
perasaan malas yang luar biasa, entah karena ingin menyelesaikan pekerjaan dengan
segera, atau karena kelelahan.
terhalang pekerjaan yang menumpuk. Dalam hal ini ada memang oknum yang
menghalang-halangi kita beribadah. Misalnya dengan mendesak agar tugas itu harus
kita selesaikan secepatnya. Sehingga kita abaikan sholat Dhuhur atau Ashar. Orang
yang menghalangi orang lain beribadah mendapat mendapat siksaan dunia akhirat.
Dan siapakah yang lebih aniaya (selain) dari orang- orangyang menghalangi
menyebut nama Allah dalam masjid-masjid dan berusaha untuk merobohkannya?
Mereka itu tidak sepatutnya masukke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa
takut. Mereka di dunia mendpaat kehinaan dan di akhirat mendapat azab yang besar.
(QS. 2/Al-Baqoroh: 114)

Pengertian dan Macam-Macam Ibadah


Menurut Fuqaha
Fuqaha adalah ulama yang ahli di bidang fikih (al fiqh). Sedangkan fikih sendiri meliputi
hasil ijtihad para alim ulama terdahulu, terutama imam empat madzab yang populer dikenal
dengan fiqih mazhab Imam Hanafi, Imam Syafi'i, Imam Maliki, dan Imam Hambali. Berbeda
dengan syariat yang didefinisikan sebagai wahyu yang diturunkan Allah kepada manusia
berupa Al Quran, termasuk hadis. Adapun pengertian ibadah menurut fuqaha adalah segala
perbuatan yang dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah dan berharap kepada pahala yang
diberikan Allah di akhirat.
Menurut fuqaha, ta'abbud yang diartikan "beribadah" bermakna melaksanakan semua hak
Allah. Menurut sebagian fuqaha, ubudiyah akan menciptakan kehambaan diri kepada Allah,
sedangkan ibadah lebih dari sekadar menghambakan diri. Fuqaha berpandangan bahwa
ibadah adalah bentuk penghambaan diri secara totalitas kepada Allah di mana hanya Allah
yang berhak menerima atau menolaknya. Dari definisi tersebut, sebagian ulama fuqaha
mengartikan "ubudiyah" dan "ibadah" adalah dua entitas yang sama, memiliki arti serupa,
dan satu hakikat.
Ibadah diwujudkan dalam bentuk mencari keridhaan Allah secara lahir dan batin serta secara
sungguh-sungguh karena Allah ta'ala, bukan karena manusia atau karena hal lainnya.
Sementara itu, hal-hal yang berkaitan dengan hukum yang dilakukan untuk keluarga,
masyarakat, serta negara bukan dikatakan sebagai ibadah, tetapi muamalah. Inilah perbedaan
ibadah menurut fuqaha dan ulama akhlak.
Menurut fuqaha, macam-macam ibadah dibagi menjadi dua, yaitu ibadah mahdhah (misalnya
iman, shalat, puasa, serta haji) dan ibadah ghairu mahdhah (misalnya zakat, amal jariyah,
kaffarah). Selanjutnya, macam-macam ibadah menurut fuqaha dibagi menjadi lima macam,
yaitu:
- Ibadah badaniyah atau ibadah dzatiyah, contohnya shalat
- Ibadah maliyah, contohnya adalah zakat
- Ibadah ijtima'iyah, contohnya adalah haji
- Ibadah ijabiyah, misalnya adalah thawaf
- Ibadah salbiyah, seperti meninggalkan sesuatu yang dilarang atau diharamkan selama
berihram
Demikian pengertian dan macam-macam ibadah menurut fuqaha di mana pengertian ibadah
menurut pandangan fuqaha dan ulama akhlak memiliki perbedaan terma yang signifikan. Jika
ulama akhlak memandang muamalah merupakan bagian dari ibadah, sedangkan fuqaha
mengklasifikasikan ke dalam terma "muamalah", bukan ibadah. Hal ini sebetulnya sama,
tetapi berbeda pada tataran klasifikasi.
MACAM-MACAM IBADAH DITINJAU DARI BERBAGAI SEGI
Ibadah ditinjau dari beberapa segi memiliki begitu banyak klasifikasi, mulai dari ruang
lingkup bentuk dan sifat, dan juga lain sebagainya klasifikasi yang dimaksut antara lain:
a. Dari Segi Ruang Lingkupnya.

Ditinjau dari segi ruang lingkupnya, ibadah dapat dibagi menjadi dua macam:
1. Ibadah khashsah, yaitu ibadah yang ketentuan dan caranya pelaksanaannya secara khusus
sudah ditetapkan oleh nash, seperti shalat, zakat, puasa dan haji
2. Ibadah ammah, yaitu semua perbuatan baik yang dilakukan dengan niat yang baik dan
semata-mata karena Allah SWT (ikhlas), seperti makan dan minum, bekerja, amar maruf
nahi munkar, berlaku adil, berbuat baik kepada orang lain dan sebagainya.
b. Dari Segi Bentuk dan Sifatnya.
Ditinjau dari segi bentuk dan sifatnya ibadah terbagi dalam enam macam antara lain:
1. Ibadah yang berupa perkataan dan ucapan lidah, seperti: tasbih, tahmid, tahlil, takbir, taslim,
doa, membaca hamdalah oleh orang bersin, tasymit (menyahuti) orang bersin, memberi
tahniyah (salam), khutbah, menyuruh yang maruf, mencegah yang munkar, bertanya
mengenai sesuatu yang tidak diketahui, menjawab pertanyaan (memberi fatwa),
mengungkapkan persaksian (syahadah), membaca iqamah, membaca adzan, membaca AlQuran, membaca basmalah ketika hendak makan, minum dan menyembelih binatang,
membaca Al-Quran ketika dikejuti syaitan dan lain-lain sebagainya.
2. Ibadah-ibadah berupa perbuatan, seperti menolong orang yang karam atau yang tenggelam,
berjihad di jalan Allah SWT, membela diri dari gangguan, menyelenggarakan mayat dan
mandi.
3. Ibadah-ibadah yang berupa menahan diri dari mengerjakan sesuatu pekerjaan. Termasuk
kedalam ibadah ini, ibadah puasa, yaitu menahan diri dari makan, minum dan dari segala
yang merusak puasa.
4. Ibadah-ibadah yang terdiri dari melakukan dan menahan diri dari suatu perbuatan, seperti
itikaf (duduk dirumah Allah) serta menahan diri dari ijma dan mubasyaroh (bergaul dengan
istri), haji, tawaf, wukuf di Arafah, ihram serta menahan diri ketika haji atau umrah dari
menggunting rambut, memotong kuku, jima, nikah dan menikahkan, berburu, menutup
muka oleh para wanita dan menutup kepala oleh lelaki.
5. Ibadah-ibadah yang bersifat menggugurkan hak, seperti membebaskan orang yang berhutang
dari hutangnya dan memaafkan kesalahan dari orang yang bersalah dan memerdekakan
6.

budak dengan kaffarat.


Ibadah-ibadah yang meliputi perkataan, pekerjaan, khudu, khusyu, menahan diri dari
berbicara dan dari berpaling lahir dan batin dari yang diperintahkan kita menghadapinya,
seperti shalat. Shalat di pandang sebagai ibadah yang paling utama, karena shalat melengkapi
perbuatan-perbuatan yang lahir dan batin, melengkapi ucapan-ucapan dan menahan diri dari

berbicara serta menahan diri dari memalingkan hati dari Allah SWT.
c. Dari Segi Sifat, Waktu, Keadaan, dan Rukunya
Apabila ditinjau dari segi sifat, waktu, keadaan dan hukumnya, ibadah terbagi menjadi:

1.

Muadda, yaitu ibadah yang dikerjakan dalam waktu yang ditetapkan syara. Ibadah tersebut
dilakukan pada waktu yang ditetapkan itu untuk pertama kalinya, bukan sebagai

2.

pengulangan. Pelaksaan ibadah ini disebut dengan ibadah tunai (ada).


Maqdhi, yaitu ibadah yang dikerjakan sesudah keluar waktu yang ditentukan syara. Ibadah
ini bersifat sebagai pengganti yang tertinggal, baik Karena disengaja atau tidak, seperti
tertinggal karena sakit atau sedang dalam berpergian. Pelaksanaan ibadah ini disebut dengan

3.

qadha.
Muad, yaitu ibadah yang diulang sekali lagi dalam waktunya untuk menambah
kesempurnaan, misalnya melaksanakan shalat secara berjamaah dalam waktunya yang

4.

ditentukan setelah melaksanakannya secara sendirian pada waktu yang sama.


Muthlaq, yaitu ibadah yang tidak dikaitkan waktunya oleh syara dengan sesuatu waktu yang

5.

terbatas, seperti membayar kiffarat, sebagai hukuman bagi pelanggar sumpah.


Muwaqqat, yaitu ibadah yang dikaitkan oleh syara dengan waktu tertentu yang terbatas,
seperti shalat pada waktu subuh, zuhur, asar, magrib dan isya. Termasuk juga puasa pada

6.

bulan ramadhan.
Muwassa, yaitu ibadah yang lebih luas waktunya dari yang diperlukan untuk melaksanakan
kewajiban yang dituntut pada waktu itu, seperti shalat lima waktu. Seorang yang shalat
diberikan kepadanya hak mengerjakan shalatnya di awal waktu, di pertengahan dan di

7.

akhirnya.
Mudhayyaq (miyar), yaitu ibadah yang waktunya sebanyak atau sepanjang fardhu atau difardhu-kan dalam waktu itu, seperti puasa. Dalam bulan ramadhan, hanya dikhususkan untuk
puasa wajib dan tidak boleh dikerjakan puasa yang lain pada waktu itu seperti puasa sunnah,

8.

nazar dan lain-lain.


Dzusyabain, yaitu ibadah yang mempunyai persamaan dengan mudhayyaq dan mempunyai
persamaan pula dengan muwassa, seperti pada ibadah haji. Dari segi pelaksanaanya, ibadah
haji menyerupai mudayyaq, karena hanya diwajibkan sekali dalam setahun, dan dari segi

9.

keberlanjutan bulan-bulan haji itu menyerupai muwassa.


Muayyan, yaitu ibadah tertentu dituntut oleh syara, misalnya Allah SWT memerintahkan
shalat, maka seorang mukallaf wajib melaksanakan shalat yang diperintahkan itu, tidak boleh

mengganti dengan ibadah lain.


10. Mukhayyar, yaitu ibadah yang boleh dipilih salah satu dari yang diperintahkan. Seperti
kebolehan memilih antara ber-istinja dengan air dan ber-istinja dengan batu.
11. Muhaddad, yaitu ibadah yang dibatasi kadarnya oleh syara, seperti shalat fardu dan zakat.
12. Ghairu muhaddad, yaitu ibadah yang tidak dibatasi kadarnya oleh syara, seperti
mengeluarkan harta di jalan Allah SWT, memberi makan orang yang lapar dan memberi
pakaian orang yang tidak berpakaian.
13. Muratab, yaitu ibadah yang harus dikerjakan secara tertib. Maksudnya, sesudah pertama
tidak disanggupi barulah dikerjakan yang kedua. Seperti kaffarat jima yang dilakukan oleh

orang yang sedang puasa ramadhan. Mula-mula memerdekakan budak , kalau budak tidak
disanggupi berpindah kepada puasa dan bulan berurut-urut. Kalau puasa tidak sanggup,
berpindah kepada memberi makan 60 orang miskin.
14. Ma yaqbal al-takhyir wa la yaqbal al-taqdim, yaitu ibadah yang dapat di-takhir-kan
(dilambatkan) dan tidak dapat didahulukan dari waktunya, seperti shalat magrib dan puasa.
Shalat magrib boleh dijama taqdimkan ke waktu isya dan tidak boleh dijama taqdimkan ke
waktu asar. Puasa juga dapat ditakhirkan ke waktu-waktu yang dibolehkan puasa di
dalamnya, seperti puasa orang yang sakit atau sedang dalam berpergian. Kepada mereka
dibolehkan mentakhirkan puasanya setelah bulan ramadhan.
15. Ma yaqbal al-taqdim wa la yaqbal al-takhir, yaitu ibadah yang boleh didahulukan dari
waktunya, tetapi tidak boleh ditunda dari waktunya, seperti shalat ashar dan isya. Shalat ashar
bisa didahulukan pelaksanaanya ke waktu dhuhur, tetapi tidak boleh ditakhirkan ke waktu
magrib, dan shalat isya bisa pula didahulukan ke waktu magrib tetapi tidak bias ditunda ke
waktu subuh.
16. Ma la yaqbal al-taqdim wa la takhir, yaitu ibadah tidak dapat didahulukan dan ditunda dari
waktunya, seperti shalat subuh. Shalat subuh tidak dapat didahulukan ke waktu isya dan
tidak pula dapat ditunda ke waktu dhuhur.
17. Ma yajibu ala al-faur, yaitu ibadah yang mesti segera dilaksanakan, seperti menyuruh yang
maruf dan mencegah yang munkar dan zakat yang telah memenuhi persyaratan.
18. Ma yajibu ala al-tarakhi, yaitu ibadah yang boleh dilambatkan pelaksanaanya, seperti nazar
yang mutlak dan kaffarat.
19. Ma yaqbal al-tadakhul, yaitu ibadah yang dapat diterima secara tadakhul (masuk-memasuki).
Dengan kata lain ibadah yang dapat dengan sekali pelaksanaan menghasilkan dua ibadah
sekaligus, seperti dalam pelaksanaan haji sudah termasuk didalamnya pelaksanaan umrah,
dan dalam pelaksanaan puasa qadha pada hari senin termasuk didalamnya pelaksanaanya
puasa sunnah, wudu untuk berbagai ibadah dapat dilakukan satu kali, seperti wudu untuk
baca Al-Quran dapat digunakan untuk shalat.
20. Ma la yaqbal al-tadakhul, yaitu ibadah yang tidak dapat menerima secara tadakhul, seperti
shalat, zakat, sedekah, hutang, haji dan umrah. Orang yang melaksanakan dua shalat, qadha
dan tunai, maka menurut syafiiyah shalatnya tidak sah, sedangkan menurut jumhur fuqaha
sah untuk tunai dan tidak untuk qadha. Orang yang memberikan hartanya kepada fakir
miskin dengan niat zakat dan sedekah sunat, maka yang dipandang sah adalah zakat. Orang
yang berniat dua haji dan dua umrah, hanya sah satu haji dan satu umrah.
21. Ma ukhtulifa qabul al-tadakhul, yaitu ibadah yang diperbedakan para ulama tentang dapat
atau tidaknya secara tadakhul, seperti masuknya wudu ke dalam mandi.
22. Ma azhimatuhu afdhal min rukhshatih, yaitu ibadah yang azimah-nya lebih utama dari
rukhsah-nya, seperti istinja dengan air lebih utama dari istinja dengan batu.

23. Ma rukhsatuh afdhal min azhimatih, yaitu ibadah yang rukhsah-nya lebih utama dari
azimah-nya, seperti shalat qashar (meringkas shalat) dalam perjalanan tiga hari lebih utama
dari menyempurnakanya (azimah).
24. Ma yaqbal fi jami al-auqat, yaitu ibadah yang boleh diselesaikan (di-qadha) dalam segala
waktu.
25. Ma la yuqdha illa fi mitsli watihi, yaitu ibadah yang tidak boleh di-qadha kecuali waktu
semisalnya, seperti haji.
26. Ma yaqbal ada wa al-qadha, yaitu ibadah yang boleh dilaksanakan di dalam atau di luar
waktunya, seperti haji dan puasa. Akan tetapi qadha haji harus ditunggu masa haji
berikutnya.
27. Ma yaqbal ada wa la yaqbal al-qadha, yaitu ibadah yang menerima pelaksanaan dalam
waktunya dan tidak menerima pelaksanaan di luar waktunya (tidak bisa di-qadha), seperti
shalat jumat.
28. Ma la yushafu bi qadha wa la ada, yaitu ibadah yang tidak disifatkan dengan tunai dan
tidak pula dengan qadha, seperti shalat sunah mutlaq dan memutuskan perkara atau memberi
fatwa.
29. Ma yataqaddar waqt adaih maa qabulih li takhir, yaitu ibadah yang terbatas waktu mengqadha-nya, tetapi dapat juga dikerjakan sesudah lewat waktu qadha itu, seperti puasa yang
waktunya ditentukan dalam setahun sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Tetapi diterima
juga qadha itu bila dikerjakan sesudah waktunya.
30. Ma yakun qadhauh mutarakhiyan, yaitu ibadah yang boleh di-qadha kapan saja dikehendaki
dan tidak perlu disegerakan. Menurut golongan syafiiyah shalat yang terlewat karena tertidur
atau lupa tidak perlu disegerakan meng-qadha-nya.
31. Ma yajibu qadhauh ala al-faur, yaitu ibadah yang wajib segera di-qadha, seperti haji dan
umrah yang dirusakkan.
32. Ma yadkhuluh al-syarth min al-ibadat, yaitu ibadah yang bisa dilaksanakan atas dasar
sesuatu syarat, seperti nazar. Ibadah ini dapat dikaitkan dengan suatu syarat.
33. Ma la yaqbal al-taliq wa la al-syarth, yaitu ibadah yang tidak bisa digantungkan kepada
suatu syarat, seperti puasa dan shalat yang telah diwajibkan oleh syara.
34. Ma yutabar bi waqt filih la liwaqt wujubih, yaitu ibadah yang dipandang waktu
pelaksanaanya, bukan waktu wajibnya, seperti suci untuk shalat, menghadap qiblat dan
menutup aurat dalam shalat. Contoh lain adalah keadilan, seorang saksi dipandang keadilanya
pada waktu pelaksanaan kesaksian, bukan waktu menyaksikan suatu peristiwa.
35. Ma yutabaru bi waqt wujubih, yaitu ibadah yang dipandang dengan waktu wajibnya, seperti
meninggalkan shalat yang wajib dalam hdhar (waktu hadir, tidak berpergian) lalu di-qadha
dalam saffar. Dalam keadaan seperti ini shalat qadha-nya tidak boleh dilakukan dengan cara
qashar, meskipun ketika itu seseorang dalam keadaan bepergian, karena yang dipandang
adalah waktu wajibnya, yang dalam hal ini adalah waktu hadir.

36. Ma ukhtulifa fi itibarih bi waqt wujubih, yaitu ibadah yang diperselisihkan tentang apakah
yang dipandang adalah waktu wajib dan waktu pelaksanaanya, seperti shalat yang
ditinggalkan dalam saffar bila di-qadha di waktu hadhar. Ulama yang memandang kepada
waktu wajibnya, maka mendahulukan shalat qadha lebih utama. Sedangkan ulama yang
memendang pada waktu pelaksanaanya, berpendapat bahwa mendahulukan shalat hadhar
lebih utama.32[1]

C hakekat ibadah

PENGERTIAN, HAKIKAT DAN FUNGSI IBADAH


a. Pengertian Ibadah
Ibadah

secara

etimologi

berasal

dari

kata

bahasa

Arab

yaitu

abida-

yabudu-abdan-ibaadatan yang berarti taat, tunduk, patuh dan merendahkan diri. Kesemua
pengertian itu mempunyai makna yang berdekatan. Seseorang yang tunduk, patuh dan
merendahkan diri dihadapan yang disembah disebut abid (yang beribadah).33[1]
Kemudian pengertian ibadah secara terminologi atau secara istilah adalah sebagai
berikut :
1. Menurut ulama tauhid dan hadis ibadah yaitu:
Mengesakan dan mengagungkan Allah sepenuhnya serta menghinakan diri dan
menundukkan jiwa kepada-Nya
Selanjutnya mereka mengatakan bahwa ibadah itu sama dengan tauhid. Ikrimah salah
seorang ahli hadits mengatakan bahwa segala lafadz ibadah dalam Al-Quran diartikan
dengan tauhid.
2. Para ahli di bidang akhlak mendefinisikan ibadah sebagai berikut:
Mengerjakan segala bentuk ketaatan badaniyah dan melaksanakan segala bentuk
syariat (hukum).
Akhlak dan segala tugas hidup34[2] (kewajiban-kewajiban) yang diwajibkan atas
pribadi, baik yang berhubungan dengan diri sendiri, keluarga maupun masyarakat, termasuk
kedalam pengertian ibadah, seperti Nabi SAW bersabda yang artinya:

32
33
34

Memandang ibu bapak karena cinta kita kepadanya adalah ibadah (HR

Al-

Suyuthi).
Nabi SAW juga bersabda: Ibadah itu sepuluh bagian, Sembilan bagian dari padanya
terletak dalam mencari harta yang halal. (HR Al-Suyuthi).35[3]
3. Menurut ahli fikih ibadah adalah:
Segala bentuk ketaatan yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah SWT dan
mengharapkan pahala-Nya di akhirat.
Dari semua pengertian yang dikemukakan oleh para ahli diatas dapat ditarik pengertian
umum dari ibadah itu sebagaimana rumusan berikut:
Ibadah adalah semua yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridhai
oleh Allah SWT, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang-terangan maupun
tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya.
Pengertian ibadah tersebut termasuk segala bentuk hukum, baik yang dapat dipahami
maknanya (maqulat al-mana) seperti hukum yang menyangkut dengan muamalah pada
umumnya, maupun yang tidak dapat dipahami maknanya (ghair maqulat al-mana), seperti
shalat, baik yang berhubungan dengan anggota badan seperti rukuk dan sujud maupun yang
berhubungan dengan lidah seperti dzikir, dan hati seperti niat. 36[4]
b. Hakikat ibadah
Tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini yaitu untuk beribadah kepada Allah
SWT. Ibadah dalam pengertian yang komprehensif menurut Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah
adalah sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah
SWT berupa perkataan atau perbuatan baik amalan batin ataupun yang dhahir (nyata).
Adapun hakekat ibadah yaitu:
1) Ibadah adalah tujuan hidup kita. Seperti yang terdapat dalam surat Adz-dzariat ayat 56, yang
menunjukan tugas kita sebagai manusia adalah untuk beribadah kepada Allah.
2) Hakikat ibadah itu adalah melaksanakan apa yang Allah cintai dan ridhai dengan penuh
ketundukan dan perendahan diri kepada Allah.
3) Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.
4) Hakikat ibadah sebagai cinta. 37[5]
35
36
37

5) Jihad di jalan Allah (berusaha sekuat tenaga untuk meraih segala sesuatu yang dicintai Allah).
6) Takut, maksudnya tidak merasakan sedikitpun ketakutan kepada segala bentuk dan jenis
makhluk melebihi ketakutannya kepada Allah SWT.38[6]
Dengan demikian orang yang benar-benar mengerti kehidupan adalah yang mengisi
waktunya dengan berbagai macam bentuk ketaatan, baik dengan melaksanakan perintah
maupun menjauhi larangan. Sebab dengan cara itulah tujuan hidupnya akan terwujud.
c. Fungsi Ibadah
Setiap muslim tidak hanya dituntut untuk beriman, tetapi juga dituntut untuk beramal
sholeh. Karena Islam adalah agama amal, bukan hanya keyakinan. Ia tidak hanya terpaku
pada keimanan semata, melainkan juga pada amal perbuatan yang nyata. Islam adalah agama
yang dinamis dan menyeluruh. Dalam Islam, Keimanan harus diwujudkan dalam bentuk amal
yang nyata, yaitu amal sholeh yang dilakukan karena Allah. Ibadah dalam Islam tidak hanya
bertujuan untuk mewujudkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga untuk
mewujudkan hubungan antar sesama manusia. Islam mendorong manusia untuk beribadah
kepada Allah SWT dalam semua aspek kehidupan dan aktifitas. Baik sebagai pribadi maupun
sebagai bagian dari masyarakat. Ada tiga aspek fungsi ibadah dalam Islam.
1. Mewujudkan hubungan antara hamba dengan Tuhannya.
Mewujudkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya dapat dilakukan melalui
muqorobah39[7] dan khudlu40[8]. Orang yang beriman dirinya akan selalu merasa diawasi
oleh Allah. Ia akan selalu berupaya menyesuaikan segala perilakunya dengan ketentuan Allah
SWT. Dengan sikap itu seseorang muslim tidak akan melupakan kewajibannya untuk
beribadah, bertaubat, serta menyandarkan segala kebutuhannya pada pertolongan Allah SWT.
Demikianlah ikrar seorang muslim seperti tertera dalam Al-Quran surat Al-Fatihah ayat 5
Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta
pertolongan.
Atas landasan itulah manusia akan terbebas dari penghambaan terhadap manusia, harta
benda dan hawa nafsu.
2. Mendidik mental dan menjadikan manusia ingat akan kewajibannya

38
39
40

Dengan sikap ini, setiap manusia tidak akan lupa bahwa dia adalah anggota masyarakat
yang mempunyai hak dan kewajiban untuk menerima dan memberi nasihat. Oleh karena itu,
banyak ayat Al-Qur'an ketika berbicara tentang fungsi ibadah menyebutkan juga dampaknya
terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat. Contohnya:
Ketika Al-Qur'an berbicara tentang sholat, ia menjelaskan fungsinya:
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan
dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan
mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya
dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.41[9]
Dalam ayat ini Al-Qur'an menjelaskan bahwa fungsi sholat adalah mencegah dari
perbuatan keji dan mungkar. Perbuatan keji dan mungkar adalah suatu perbuatan merugikan
diri sendiri dan orang lain. Maka dengan sholat diharapakan manusia dapat mencegah dirinya
dari perbuatan yang merugikan tersebut.
Ketika Al-Qur'an berbicara tentang zakat, Al-Qur'an juga menjelaskan fungsinya:
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan
dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha
mengetahui.42[10]
Zakat berfungsi untuk membersihkan mereka yang berzakat dari kekikiran dan
kecintaan yang berlebih-lebihan terhadap harta benda. Sifat kikir adalah sifat buruk yang anti
kemanusiaan.

Orang

kikir

tidak

akan

disukai

masyarakat

zakat juga akan menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati pemberinya dan
memperkembangkan harta benda mereka. Orang yang mengeluarkan zakat hatinya akan
tentram karena ia akan dicintai masyarakat. Dan masih banyak ibadah-ibadah lain yang
tujuannya tidak hanya baik bagi diri pelakunya tetapi juga membawa dapak sosial yang baik
bagi masyarakatnya. Karena itu Allah tidak akan menerima semua bentuk ibadah, kecuali
ibadah tersebut membawa kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Dalam hal ini Nabi SAW
bersabda:
Barangsiapa yang sholatnya tidak mencegah dirinya dari perbuatan keji dan munkar,
maka dia hanya akan bertambah jauh dari Allah (HR. Thabrani)
41
42

3. Melatih diri untuk berdisiplin


Adalah suatu kenyataan bahwa segala bentuk ibadah menuntut kita untuk berdisiplin.
Kenyataan itu dapat dilihat dengan jelas dalam pelaksanaan sholat, mulai dari wudhu,
ketentuan waktunya, berdiri, ruku, sujud dan aturan-aturan lainnya, mengajarkan kita untuk
berdisiplin. Apabila kita menganiaya sesama muslim, menyakiti manusia baik dengan
perkataan maupun perbuatan, tidak mau membantu kesulitan sesama manusia, menumpuk
harta dan tidak menyalurkannya kepada yang berhak. Tidak mau melakukan amar ma'ruf
nahi munkar, maka ibadahnya tidak bermanfaat dan tidak bisa menyelamatkannya dari siksa
Allah SWT. 43[11]

Allah taala berfirman (yang artinya), Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56). Imam Ibnu Katsir
rahimahullah menyimpulkan bahwa makna ayat di atas adalah, Sesungguhnya Aku
menciptakan mereka tidak lain untuk Aku perintahkan mereka beribadah kepada-Ku, bukan
karena kebutuhan-Ku kepada mereka. (lihat Tafsir al-Quran al-Azhim [7/425]).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, Bahkan, ibadah kepada Allah, marifat, tauhid, dan
syukur kepada-Nya itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi
bagi hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang layak
untuk mendapatkannya (lihat adh-Dhau al-Munir ala at-Tafsir [5/97])
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, Dia (Allah) tidaklah membutuhkan
ibadahmu. Seandainya kamu kafir maka kerajaan Allah tidak akan berkurang. Bahkan,
kamulah yang membutuhkan diri-Nya. Kamulah yang memerlukan ibadah itu. Salah satu
bentuk kasih sayang Allah adalah dengan memerintahkanmu beribadah kepada-Nya demi
kemaslahatan dirimu sendiri. Jika kamu beribadah kepada-Nya, maka Allah subhanahu wa
taala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Ibadah menjadi sebab Allah
memuliakan kedudukanmu di dunia dan di akherat. Jadi, siapakah yang memetik manfaat dari
ibadah? Yang memetik manfaat dari ibadah adalah hamba. Adapun Allah jalla wa ala, Dia
tidak membutuhkan makhluk-Nya. (lihat Syarh al-Qawaid al-Arba, hal. 15-16)
Ibadah juga terkadang ditafsirkan oleh para ulama dengan tauhid; sebab ia merupakan syarat
utamanya. Sebagaimana dalam riwayat yang dibawakan Imam Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas
radhiyallahuanhuma mengenai maksud firman Allah (yang artinya), Wahai umat manusia,
beribadahlah kepada Rabb kalian. (QS. al-Baqarah: 21). Beliau menjelaskan, Artinya
tauhidkanlah Rabb kalian (lihat Tafsir al-Quran al-Azhim [1/75])

43

Imam al-Baghawi rahimahullah menukil ucapan Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma, beliau


berkata, Setiap istilah ibadah yang disebutkan di dalam al-Quran maka maknanya adalah
tauhid. (lihat Maalim at-Tanzil, hal. 20)
Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah berkata, Ketahuilah, bahwa ibadah tidaklah
disebut dengan ibadah kecuali jika bersama dengan tauhid. Sebagaimana sholat tidak disebut
sholat kecuali jika bersama dengan thaharah. Apabila syirik memasuki ibadah maka rusaklah
ia, sebagaimana hadats yang menimpa pada orang yang telah bersuci. (lihat al-Qawaid alArba, hal. 7).
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, Makna supaya mereka
beribadah kepada-Ku- adalah agar mereka mengesakan Aku (Allah, pent) dalam beribadah.
Atau dengan ungkapan lain supaya mereka beribadah kepada-Ku maksudnya adalah agar
mereka mentauhidkan Aku; karena tauhid dan ibadah itu adalah sama (tidak bisa dipisahkan,
pent). (lihat Ianat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid [1/33])
Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, Patut dimengerti, sesungguhnya
tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah melainkan dia pasti memiliki
kecondongan beribadah kepada selain Allah. Mungkin orang itu tidak tampak memuja patung
atau berhala. Tidak tampak memuja matahari dan bulan. Akan tetapi, dia menyembah hawa
nafsu yang menjajah hatinya sehingga memalingkan dirinya dari beribadah kepada Allah.
(lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 147)
Makna Ibadah
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, Menurut pengertian syariat ibadah itu adalah suatu
ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.
(lihat Tafsir al-Quran al-Azhim [1/34] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah).
Ibadah pada asalnya mengandung makna perendahan diri, akan tetapi ibadah yang
diperintahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah suatu bentuk perendahan diri
yang paling tinggi kepada Allah dengan disertai puncak rasa cinta kepada-Nya. Seorang yang
menundukkan dirinya kepada orang lain namun menyimpan rasa benci kepadanya tidaklah
dianggap beribadah kepadanya. Demikian juga orang yang mencintai seseorang namun tidak
menundukkan diri kepadanya pun tidak dikatakan beribadah kepadanya. Oleh sebab itu kedua
pilar ibadah tersebut -yaitu perendahan diri dan puncak kecintaan- itu harus selalu ada dalam
menjalani ibadah kepada Allah. Bahkan Allah harus lebih dicintainya daripada segala sesuatu
dan menjadi sosok yang paling agung daripada segala-galanya. Bahkan, tidaklah berhak
untuk mendapatkan rasa cinta dan ketundukan yang sempurna kecuali Allah semata. Segala
sesuatu yang dicintai bukan karena Allah maka kecintaannya adalah kecintaan yang
rusak/tidak sah. Begitu pula tidaklah sesuatu selain Allah diagung-agungkan tanpa perintah
dari-Nya melainkan pengagungan itu adalah sebuah kebatilan (lihat al-Ubudiyah, hal. 12)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, Ibadah adalah kecintaan dan
tundukan secara total, disertai kesempurnaan rasa takut dan perendahan diri. (lihat Tafsir alFatihah, hal. 49 tahqiq Dr. Fahd ar-Rumi)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah memberikan sebuah definisi yang
cukup bagus, bahwa ibadah merupakan perendahan diri kepada Allah yang dilandasi rasa
cinta dan pengagungan dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi
larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syariat-Nya (lihat Syarh
Tsalatsat al-Ushul, hal. 23 cet. Dar al-Kutub al-Ilmiyah)
Cakupan Ibadah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, Ibadah merupakan sebuah istilah yang
mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang
batin maupun lahir. Ini artinya sholat, zakat, puasa, haji, jujur dalam berbicara, menunaikan
amanat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji,
memerintahkan yang maruf, melarang yang mungkar, berjihad memerangi orang kafir dan
munafik, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, maupun
kepemilikan dari kalangan manusia (budak) atau binatang piaraan, berdoa, berdzikir,
membaca al-Quran, dan lain sebagainya itu semua adalah ibadah. Demikian juga kecintaan
kepada Allah dan rasul-Nya, rasa takut kepada Allah, inabah kepada-Nya, mengikhlaskan
agama untuk-Nya, bersabar menghadapi ketetapan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, ridha
dengan takdir-Nya, bertawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, takut kepada azabNya, dan semisalnya [itu semua juga] termasuk ibadah kepada Allah. (lihat al-Ubudiyah,
hal. 6 cet. Maktabah al-Balagh)
Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah menerangkan, Dengan ungkapan lain, dapat
dikatakan bahwa ibadah adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi
larangan-larangan-Nya. Tercakup di dalamnya menunaikan kewajiban-kewajiban dan
menjauhkan diri dari berbagai hal yang diharamkan. Melakukan hal-hal yang wajib dan
meninggalkan hal-hal yang diharamkan; yaitu dengan melakukan kewajiban-kewajiban yang
Allah wajibkan baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang bersifat batin maupun lahir.
Meninggalkan hal-hal yang diharamkan, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, yang
batin maupun yang lahir. (lihat Syarh al-Ubudiyah, hal. 5)
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, Ibadah mencakup melakukan segala hal yang
diperintahkan Allah dan meninggalkan segala hal yang dilarang Allah. Sebab jika seseorang
tidak memiliki sifat seperti itu berarti dia bukanlah seorang abid/hamba. Seandainya seorang
tidak melakukan apa yang diperintahkan, orang itu bukan hamba yang sejati. Seandainya
seorang tidak meninggalkan apa yang dilarang, orang itu bukan hamba yang sejati. Seorang
hamba -yang sejati- adalah yang menyesuaikan dirinya dengan apa yang dikehendaki Allah
secara syari. (lihat Tafsir al-Quran al-Karim, Juz Amma, hal. 15)

Dengan ungkapan yang lebih sederhana, dapat disimpulkan bahwa ibadah adalah melakukan
segala sesuatu yang membuat Allah subhanahu wa taala ridha (lihat al-Qamus al-Mubin fi
Ishthilahat al-Ushuliyyin karya Dr. Mahmud Hamid Utsman, hal. 204)
Pilar-Pilar Ibadah
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, Ibadah dibangun di
atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang
menggapai keridhaan sesembahannya (Allah). Dengan pengagungan maka seorang akan
menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya
maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun
berharap dan mencari keridhaan-Nya. (lihat asy-Syarh al-Mumti ala Zaad al-Mustaqni
[1/9] cet. Muassasah Aasam)
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, Ibadah yang diperintahkan
itu mengandung perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini ditopang oleh tiga pilar; cinta,
harap, dan takut. Ketiga pilar ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada
salah satunya maka dia belum beribadah kepada Allah dengan benar. Beribadah kepada Allah
dengan modal cinta saja adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan rasa harap
semata adalah metode kaum Murjiah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa
takut belaka, maka ini adalah jalannya kaum Khawarij. (lihat al-Irsyad ila Shahih al-Itiqad,
hal. 35 cet. Dar Ibnu Khuzaimah)
Syarat Diterimanya Ibadah
Allah taala berfirman (yang artinya), Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan
Rabb-nya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah
kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun. (QS. Al-Kahfi: 110).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa amal salih ialah amalan yang sesuai
dengan syariat Allah, sedangkan tidak mempersekutukan Allah maksudnya adalah amalan
yang diniatkan untuk mencari wajah Allah (ikhlas), inilah dua rukun amal yang akan diterima
di sisi-Nya (lihat Tafsir al-Quran al-Azhim [5/154] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah)
Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak
benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas
juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah,
sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan. (lihat Jami al-Ulum wa al-Hikam,
hal. 19 cet. Dar al-Hadits).
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Allah tabaraka wa taala berfirman, Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan
sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan
selain-Ku bersama diri-Ku maka Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya. (HR. Muslim)

Dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam


bersabda, Sesungguhnya setiap amal dinilai dengan niat. Dan setiap orang akan mendapat
balasan sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya,
maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia
yang ingin dia dapatkan atau karena wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya kepada apa
yang dia niatkan. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya niat dalam kehidupan seorang muslim. Ia laksana
ruh bagi tubuhnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, Sabda Nabi
shallallahu alaihi wa sallam Innamal amaalu bin niyaat adalah kalimat yang komprehensif
dan sempurna, sebab niat bagi amalan laksana ruh bagi jasad. (lihat Dhawabith wa Fiqh
Dawah inda Syaikhil Islam, hal. 106)
Dari Abu Musa al-Asyari radhiyallahuanhu, beliau menceritakan bahwa dahulu ada
seorang lelaki yang datang menemui Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Lalu dia bertanya,
Ada orang yang berperang untuk fanatisme kelompok, berperang untuk menunjukkan
keberanian, dan berperang untuk mendapat pujian. Manakah diantara itu semua yang berada
di jalan Allah?. Maka beliau menjawab, Barangsiapa yang berperang demi meninggikan
kalimat Allah, maka itulah yang berjihad di jalan Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abdurrahman bin Yazid, dari Salman radhiyallahuanhu. Dia (Abdurrahman) berkata:
Ada orang dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik- yang
berkata kepada Salman, Nabi kalian shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan
segalanya, sampai urusan tata cara buang air sekalipun. Abdurrahman berkata: Maka dia
(Salman) pun menjawab, Ya, benar. Beliau melarang kami menghadap kiblat ketika buang
air besar atau buang air kecil. Beliau juga melarang kami cebok dengan tangan kanan atau
istinja dengan batu yang jumlahnya kurang dari tiga batu. Beliau pun melarang kami istinja
dengan kotoran binatang atau tulang. (HR. Muslim)
Kaum muslimin yang dirahmati Allah, hadits yang agung ini merupakan salah satu dalil yang
menunjukkan kesempurnaan ajaran Islam. Bahkan, musuh-musuh Islam pun mengakui hal
itu, walaupun mereka tidak menyukainya. Mereka tidak sanggup menyembunyikan
keheranan dan kekaguman mereka terhadap ajaran yang diturunkan dari sisi Rabb alam
semesta ini. Ajaran yang demikian lengkap dan sempurna. Ajaran yang tidak meninggalkan
masalah kecil dan yang besar di dalam lembaran kehidupan melainkan telah ada aturannya.
Aturan yang diajarkan bagi setiap muslim guna menjalani hidupnya, semenjak hari ia
dilahirkan, hingga pada saat ia diletakkan di liang kubur (lihat al-Bidah wa Atsaruha asSayyi fi al-Ummah karya Syaikh Salim al-Hilali, hal. 14)
Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah radhiyallahuanha beliau berkata:
Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang
mengada-adakan suatu perkara di dalam urusan [agama] kami ini yang bukan berasal darinya,
maka ia pasti tertolak. (HR. Bukhari dan Muslim). Di dalam riwayat Muslim, Barangsiapa
yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka ia pasti tertolak.

Ibnul Majisyun berkata: Aku pernah mendengar Malik berkata, Barangsiapa yang mengadaadakan di dalam Islam suatu bidah yang dia anggap baik (baca: bidah hasanah), maka
sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mengkhianati
risalah. Sebab Allah berfirman (yang artinya), Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama
kalian. Apa-apa yang pada hari itu bukan termasuk ajaran agama, maka hari ini hal itu bukan
termasuk agama. (lihat al-Itisham, [1/64-65])
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, Simpul pokok ajaran agama ada dua:
kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan kita beribadah kepada-Nya hanya
dengan syariat-Nya. Kita tidak beribadah kepada-Nya dengan bidah-bidah. Hal itu
sebagaimana firman Allah taala (yang artinya), Maka barangsiapa yang mengharapkan
perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak
mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya. (QS. al-Kahfi: 110). (lihat
Daaim Minhaj Nubuwwah, hal. 87)
Intisari Ibadah
Intisari ibadah adalah doa/permintaan. Tidaklah seorang hamba melakukan suatu bentuk
ibadah melainkan dia mengharapkan pahala dan keselamatan dari siksa. Ini artinya secara
lisanul hal itu menunjukkan bahwa apa yang dia lakukan sebenarnya juga mengandung
doa/permintaan. Adakalanya perbuatan (amal ibadah) itu juga disertai doa dengan lisannya,
dan adakalanya tidak disertai doa/permohonan (lihat al-Qaul al-Mufid ala Kitab at-Tauhid
[1/162] cet. Maktabah al-Ilmu, lihat juga al-Mujalla fi Syarh al-Qawaid al-Mutsla, hal. 37)
Dari an-Numan bin Basyir radhiyallahuanhuma, Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, Doa adalah intisari ibadah. Kemudian beliau membaca ayat (yang artinya),
Rabbmu berfirman: Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku kabulkan permintaan kalian.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan
masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan hina. (QS. Ghafir: 60) (HR. Tirmidzi dinyatakan
sahih oleh Syaikh al-Albani)
Dalam hadits yang lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma, beliau berkata, Seutamautama ibadah adalah doa. Lalu beliau membaca ayat (yang artinya), Rabbmu berfirman:
Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku kabulkan permintaan kalian. Sesungguhnya orangorang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk ke dalam
Jahannam dalam keadaan hina. (QS. Ghafir: 60) (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak)

PENGERTIAN, HAKIKAT, DAN HIKMAH IBADAH


A. Pengertian Ibadah

Ibadah ( ) secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk.


Ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu.
Definisi ibadah itu antara lain;
1. Ibadah ialah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintahNya yang ditetapkan melalui para Rasul-Nya,
2.
Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah, yaitu tingkatan
ketundukan yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan)
yang paling tinggi pula.
3. Ibadah ialah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan
diridhai Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang dzahir maupun
bathin.
Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan dan anggota badan. Rasa
khauf (takut), raja (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal
(ketergantungan), raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah
qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan
jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih
banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati, lisan dan
badan.
Maka Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia, Allah
SWT berfirman;
tBur M)n=yz `g:$# }RM}$#ur w) br7u9

!$tB $

& Nk]B `iB 5-h !$tBur & br& bqJ b)


!$# uqd -#9$# r oq)9$# GyJ9$#
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan
Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.
Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rizki yang mempunyai
kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)
Allah memberitahukan, tujuan penciptaan jin dan manusia adalah
agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah. Dan Allah Maha Kaya,
tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang
membutuhkan-Nya. Karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka
mereka menyembah-Nya sesuai dengan aturanNya.
Adapun definisi ibadah dalam bahasa Arab berarti kehinaan atau
ketundukan. Dalam terminology, ibadah diartikan sebagai sesuatu yang
diperintahkan AllahSWT, bukan karena adanya keberlangsungan tradisi
sebelumnya, juga bukan karena tuntutan logika, atau akal manusia. Maka,
ruang lingkup ibadah adalah seluruh aktifitas manusia yang diniatkan
semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT.
B. Hakikat Ibadah

Tujuandiciptakannyamanusia di mukabumiiniyaituuntukberibadahkepadaNya. Ibadah dalam pengertian yang komprehensif menurut Syaikh AlIslam IbnuTaimiyah adalah sebuah nama yang mencakup segala sesuatu
yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT berupa perkataan atau
perbuatan baik amalan batin ataupun yang zhahir (nyata).
Adapunhakekatibadahyaitu:
1. Ibadah adalah tujuan hidup kita.
2. Hakikat ibadah itu adalah melaksanakan apa yang Allah cintai dan
ridhai dengan penuh ketundukan dan kerendahan diri kepadaNya.
3. Ibadah akan terwujud dengan cara melaksanakan perintah Allah dan
meninggalkan larangan-Nya
4. Cinta, maksudnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang
mengandung makna mendahulukan kehendak Allah dan Rasul-Nya atas
yang lainnya. Adapun tanda-tandanya: mengikuti sunah Rasulullah saw.
5. Jihad di jalan Allah (berusaha sekuat tenaga untuk meraih
segalasesuatu yang dicintai Allah).
6.
Takut, maksudnya tidak merasakan sedikitpun ketakutan kepada
segala bentuk dan jenis makhluk melebihi ketakutannya kepada Allah
SWT.
Dengan demikian orang yang benar-benar mengerti kehidupan adalah
yang mengisi waktunya dengan berbagai macam bentuk ketaatan; baik
dengan melaksanakan perintah maupun menjauhi larangan. Sebab
dengan cara itulah tujuan hidupnya akan terwujud.
C. Hikmah Ibadah
1. Tidak Syirik. Seorang hamba yang sudah berketetapan hati untuk
senantiasa beribadah menyembah kepada Nya, maka ia harus
meninggalkan segala bentuk syirik. Ia telah mengetahui segala sifat-sifat
yang dimiliki Nya adalah lebih besar dari segala yang ada, sehingga tidak
ada wujud lain yang dapat mengungguli-Nya.
2. Memiliki ketakwaan. Ketakwaan yang dilandasi cinta timbul karena
ibadah yang dilakukan manusia setelah merasakan kemurahan dan
keindahan Allah SWT. Setelah manusia melihat kemurahan dan keindahan
Nya munculah dorongan untuk beribadah kepada Nya. Sedangkan
ketakwaan yang dilandasi rasa takut timbul karena manusia menjalankan
ibadah dianggap sebagai suatu kewajiban bukan sebagai kebutuhan.
Ketika manusia menjalankan ibadah sebagai suatu kewajiban adakalanya
muncul ketidak ikhlasan, terpaksa dan ketakutan akan balasan dari
pelanggaran karena tidak menjalankankewajiban.
3. Terhindar dari kemaksiatan. Ibadah memiliki daya pensucian yang
kuat sehingga dapat menjadi tameng dari pengaruh kemaksiatan, tetapi
keadaan ini hanya bisa dikuasai jika ibadah yang dilakukan berkualitas.

Ibadah ibarat sebuah baju yang harus selaludipakai dimanapun manusia


berada.
4. Berjiwa sosial, ibadah menjadikan seorang hamba menjadi lebih peka
dengan keadaan lingkungan disekitarnya, karena dia mendapat
pengalaman langsung dari ibadah yang dikerjakannya. Sebagaimana
ketika melakukan ibadah puasa, ia merasakan rasanya lapar yang biasa
dirasakan orang-orang yang kekurangan. Sehingga mendorong hamba
tersebut lebih memperhatikan orang lain.
5. Tidak kikir. Harta yang dimiliki manusia pada dasarnya bukan miliknya
tetapi milik Allah SWT yang seharusnya diperuntukan untuk kemaslahatan
umat. Tetapi karena kecintaan manusia yang begita besar terhadap
keduniawian menjadikan dia lupa dan kikir akan hartanya. Berbeda
dengan hamba yang mencintai Allah SWT, senantiasa dawam
menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT, ia menyadari bahwa miliknya
adalah bukan haknya tetapi ia hanya memanfaatkan untuk keperluanya
semata-mata sebagai bekal di akhirat yang diwujudkan dalam bentuk
pengorbanan hartauntuk keperluan umat.
D. IBADAH MAHDHAH & GHAIRU MAHDHAH
Ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis,
dengan bentuk dan sifat yang berbeda antara satu dengan lainnya;
1. Ibadah Mahdhah, (ibadah Khas) artinya penghambaan yang murni
hanya merupakan hubungan antara hamba dengan Allah secara langsung.
Ibadah bentuk ini memiliki 4 prinsip:
a. Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari alQuran maupun al- Sunnah al-Maqbulah, jadi merupakan otoritas wahyu,
tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya.
b. Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasul saw. Salah satu tujuan
diutus rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh:
Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul kecuali untuk ditaati dengan izin
Allah(QS.
4:
64).
Dan apa saja yang dibawakan Rasul kepada kamu maka ambillah, dan
apa yang dilarang, maka tinggalkanlah( QS. 59: 7).
Shalat dan haji adalah ibadah mahdhah, maka tata caranya, Nabi
bersabda: Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat. Ambillah dari
padaku tata cara haji kamu
Jika melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai
dengan praktek Rasul saw., maka dikategorikan Muhdatsatul umur
perkara meng-ada-ada, yang populer disebut bidah: Sabda Nabi saw.:

Salah satu penyebab hancurnya agama-agama yang dibawa sebelum


Muhammad saw. adalah karena kebanyakan kaumnya menyalahi perintah
Rasul-rasul mereka:
c. Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal), artinya ibadah bentuk
ini bukan ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah
wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia dibaliknya yang disebut
hikmah. Shalat, adzan, tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya,
keabsahannnya bukan ditentukan oleh mengerti atau tidak, melainkan
ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan atau tidak. Atas dasar ini,
maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat.
d. Azasnya taat, yang dituntut dalam melaksanakan ibadah ini adalah
kepatuhan atau ketaatan. Maka wajib meyakini bahwa apa yang
diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan
kebahagiaan, bukan untuk Allah, dan salah satu misi utama diutus Rasul
adalah untuk dipatuhi: Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah :
Wudhu, Tayammum, Mandi hadats, Adzan, Iqamat, Shalat, Membaca alQuran, Itikaf, Puasa, Haji dan Umrah, Mengurus Janazah
2. Ibadah Ghairu Mahdhah, (ibadah Am) (tidak murni semata
hubungan dengan Allah) yaitu ibadah yang di samping sebagai
hubungan hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi
antara hamba dengan makhluk lainnya. Prinsip-prinsip dalam ibadah ini,
ada 4:
a. Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang.
Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh
diseleng
garakan.
b. Tatalaksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya
dalam ibadah bentuk umum ini tidak dikenal istilah bidah.
c. Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untungruginya, manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau
logika. Sehingga jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, dan
madharat, maka tidak boleh dilaksanakan.
d. Azasnya Manfaat, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh
dilakukan.
E. Fungsi Ibadah
Setiap muslim tidak hanya dituntut untuk beriman, tetapi juga
dituntut untuk beramal sholeh. Karena Islam adalah agama amal, bukan
hanya keyakinan. Ia tidak hanya terpaku pada keimanan semata,
melainkan juga pada amal perbuatan yang nyata. Islam adalah agama
yang dinamis dan menyeluruh. Dalam Islam, Keimanan harus diwujudkan
dalam bentuk amal yang nyata, yaitu amal sholeh yang dilakukan karena
Allah. Ibadah dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk mewujudkan

hubungan antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga untuk


mewujudkan hubungan antar sesama manusia. Islam mendorong manusia
untuk beribadah kepada Allah SWT dalam semua aspek kehidupan dan
aktifitas. Baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat.
Ada tiga aspek fungsi ibadah dalam Islam yaitu;
1. Mewujudkan hubungan antara hamba dengan Tuhannya.
Mewujudkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya dapat dilakukan
melalui muqarabah dan khudlu. Orang yang beriman dirinya akan
selalu merasa diawasi oleh Allah. Ia akan selalu berupaya menyesuaikan
segala perilakunya dengan ketentuan Allah SWT. Dengan sikap itu
seseorang muslim tidak akan melupakan kewajibannya untuk beribadah,
bertaubat, serta menyandarkan segala kebutuhannya pada pertolongan
Allah SWT. Demikianlah ikrar seorang muslim seperti tertera dalam AlQuran surat Al-Fatihah ayat 5
Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami
meminta pertolongan.
Atas landasan itulah manusia akan terbebas dari penghambaan terhadap
manusia, harta benda dan hawa nafsu.
2. Mendidik mental dan menjadikan manusia ingat akan kewajibannya
Dengan sikap ini, setiap manusia tidak akan lupa bahwa dia adalah
anggota masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban untuk
menerima dan memberi nasihat. Oleh karena itu, banyak ayat Al-Qur'an
ketika berbicara tentang fungsi ibadah menyebutkan juga dampaknya
terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat. Contohnya: Ketika Al-Qur'an
berbicara tentang shalat, ia menjelaskan fungsinya: Bacalah apa yang
telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan)
keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah
lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. Al-ankabut 45
Dalam ayat ini Al-Qur'an menjelaskan bahwa fungsi shalat adalah
mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Perbuatan keji dan mungkar
adalah suatu perbuatan merugikan diri sendiri dan orang lain. Maka
dengan shalat diharapakan manusia dapat mencegah dirinya dari
perbuatan yang merugikan tersebut.
Ketika Al-Qur'an berbicara tentang zakat, Al-Qur'an juga
menjelaskan fungsinya:
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.
dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.QS. Attaubah 103)
Zakat berfungsi untuk membersihkan mereka yang berzakat dari
kekikiran dan kecintaan yang berlebih-lebihan terhadap harta benda. Sifat

kikir adalah sifat buruk yang anti kemanusiaan. Orang kikir tidak akan
disukai masyarakat zakat juga akan menyuburkan sifat-sifat kebaikan
dalam hati pemberinya dan memperkembangkan harta benda mereka.
Orang yang mengeluarkan zakat hatinya akan tentram karena ia akan
dicintai masyarakat. Dan masih banyak ibadah-ibadah lain yang tujuannya
tidak hanya baik bagi diri pelakunya tetapi juga membawa dapak sosial
yang baik bagi masyarakatnya. Karena itu Allah tidak akan menerima
semua bentuk ibadah, kecuali ibadah tersebut membawa kebaikan bagi
dirinya dan orang lain. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda:
Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dirinya dari perbuatan keji
dan munkar, maka dia hanya akan bertambah jauh dari Allah (HR.
Thabrani)
3. Melatih diri untuk berdisiplin
Adalah suatu kenyataan bahwa segala bentuk ibadah menuntut kita untuk
berdisiplin. Kenyataan itu dapat dilihat dengan jelas dalam pelaksanaan
shalat, mulai dari wudhu, ketentuan waktunya, berdiri, ruku, sujud dan
aturan-aturan lainnya, mengajarkan kita untuk berdisiplin. Apabila kita
menganiaya sesama muslim, menyakiti manusia baik dengan perkataan
maupun perbuatan, tidak mau membantu kesulitan sesama manusia,
menumpuk harta dan tidak menyalurkannya kepada yang berhak. Tidak
mau melakukan amar ma'ruf nahi munkar, maka ibadahnya tidak
bermanfaat dan tidak bisa menyelamatkannya dari siksa Allah SWT.
F. Syarat-Syarat Diterimanya Ibadah
Ibadah adalah perkara taufiqiyyah, yaitu tidak ada suatu ibadah yang
disyariatkan kecuali berdasarkan al-Quran dan as Sunnah. Apa yang
tidak disyariatkan berarti bidah marddah (bidah yang ditolak ), hal ini
berdasarkan sabda Nabi SAW.
Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntutan dari Kami, maka
amalan tersebut tertolak.
Ibadah-ibadah itu bersangkut penerimaannya kepada dua faktor yang
penting, yang menjadi syarat bagi diterimanya. Syarat-syarat diterimanya
suatu amal (ibadah) ada dua macam yaitu[5]:
1. Ikhlas
Katakanlah: Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.
Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama
berserah diri. Katakanlah: Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari
yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku. Katakanlah: Hanya Allah
saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agamaku. (QS az-Zumar/39 : 11-14).
2. Ittiba Rasul. Dilakukan secara sah yang sesuai dengan tuntunan
Rasulullah SAW.

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang


diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah
Tuhan yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya,
maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia
mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. (QS
al-Kahfi/18: 110)
Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat l ilha
illallh, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan
jauh dari syirik kepada-Nya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi
dari syahadat Muhammad Rasulullah s.a.w., karena ia menuntut wajib-nya
taat kepada Rasul, mengikuti syariatnya dan meninggalkan bidah atau
ibadah-ibadah yang diada-adakan.
B. Hubungan Antara Aqidah, Ibadah, Muamalah, dan Ahklak
Hubungan aqidah dengan akhlak
Aqidah merupakan suatu keyakinan hidup yang dimiliki oleh
manusia. Keyakinan hidup inidiperlukan manusia sebagai pedoman hidup
untuk mengarahkan tujuan hidupnya sebagai mahluk alam. Pedoman
hidup ini dijadikan pula sebagai pondasi dari seluruh bangunan aktifitas
manusia.
Aqidah sebagai dasar pendidikan akhlak Dasar pendidikan akhlak
bagi seorang muslim adalah aqidah yang benar terhadap alam dan
kehidupan, Karena akhlak tersarikan dari aqidah dan pancaran dirinya.
Oleh karena itu jika seorang beraqidah dengan benar, niscahya akhlaknya
pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika aqidah salah
maka akhlaknya pun akan salah.
ilmu yang menjelaskan baik dan buruk, menjelaskan yang
seharusnya dilakukan manusia kepada yang lainya, yang disebut dengan
akhlak. Dengan akhlak yang baik seseorang akan bisa memperkuat
aqidah dan bisa menjalankan ibadah dengan baik dan benar. Ibadah yang
dijalankan dinilai baik apabila telah sesuai dengan muamalah. Muamalah
bisa dijalankan dengan baik apabila seseorang telah memiliki akhlak yang
baik.
Aqidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan
keyakinanya terhadap alam juga lurus dan benar. Karena barang siapa
mengetahui sang pencipta dengan benar, niscahya ia akan dengan
mudah berperilaku baik sebagaimana perintah allah. Sehingga ia tidak
mungkin menjauh bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah
ditetapkanya. Pendidikan akhlak yang bersumber dari kaidah yang benar
merupakan contoh perilaku yang harus diikuti oleh manusia. Mereka harus
mempraktikanya dalam kehidupan mereka, karena hanya inilah yang
menghantarkan mereka mendapatkan ridha allah dan atau membawa
mereka mendapatkan balasan kebaikan dari allah
Jujur merupakan salah satu sifat manusia yang berhubungan
dengan aqidah. Jujur dapat terwujud apabila seseorang telah memegang
konsep-konsep yang berhubungan dengan aqidah. Dengan dijalankanya
konsep-konsep aqidah tersebut maka seseorang akan memiliki akhlak
yang baik. Sehingga orang akan takut dalam melakukan perbuatan dosa.

Hubungan aqidah dengan ibadah


Akidah menempati posisi terpenting dalam ajaran agama Islam.
Ibarat sebuah bangunan, maka perlu adanya pondasi yang kuat yang
mampu menopang bangunan tersebut sehingga bangunan tersebut bisa
berdiri dengan kokoh. Demikianlah urgensi akidah dalam Islam, Akidah
seseorang merupakan pondasi utama yang menopang bangunan
keislaman pada diri orang tersebut. Apabila pondasinya tidak kuat maka
bangunan yang berdiri diatasnya pun akan mudah dirobohkan.
Selanjutnya Ibadah yang merupakan bentuk realisasi keimanan
seseorang, tidak akan dinilai benar apabila dilakukan atas dasar akidah
yang salah. Hal ini tidak lain karena tingkat keimanan seseorang adalah
sangat bergantung pada kuat tidaknya serta benar salahnya akidah yang
diyakini orang tersebut. Sehingga dalam diri seorang muslim antara
akidah, keimanan serta amal ibadah mempunyai keterkaitan yang sangat
kuat antara ketiganya.
Muslim apabila akidahnya telah kokoh maka keimanannya akan
semakin kuat, sehingga dalam pelaksanaan praktek ibadah tidak akan
terjerumus pada praktek ibadah yang salah. Sebaliknya apabila akidah
seseorang telah melenceng maka dalam praktek ibadahnya pun akan
salah kaprah, yang demikian inilah akan mengakibatkan lemahnya
keimanan.
Pondasi aktifitas manusia itu tidak selamanya bisa tetap tegak
berdiri, maka dibutuhkan adanya sarana untuk memelihara pondasi yaitu
ibadah. Ibadah merupakan bentuk pengabdian dari seorang hamba
kepada allah. Ibadah dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada
allah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap allah.
Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, sejak kelahirnya
telah dibekali dengan akal pikiran serta perasaan (hati). Manusia dengan
akal pikiran dan hatinya tersebut dapat membedakan mana yang baik dan
mana yang benar, dapat mempelajari bukti-bukti kekuasaan Allah,
sehingga dengannya dapat membawa diri mereka pada keyakinan akan
keberadaan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk
tidak mengakui keberadaan Allah SWT. karena selain kedua bekal yang
dimiliki oleh mereka sejak lahir, Allah juga telah memberikan petunjuk
berupa ajaran agama yang didalamnya berisikan tuntunan serta tujuan
dari hidup mereka di dunia.
Ibadah mempunyai hubungan yang erat dengan aqidah. Antaranya :
1. Ibadah adalah hasil daripada aqidah yaitu keimanan terhadap Allah
sebenarnya yang telah membawa manusia untuk beribadat kepada
Allah swt.
2. Aqidah adalah asas penerimaan ibadah yaitu tanpa aqidah
perbuatan seseorang manusia bagaimana baik pun tidak akan
diterima oleh Allah swt.

3. Aqidah merupakan tenaga penggerak yang mendorong manusia


melakukan ibadat serta menghadapi segala cabaran dan rintangan.
Akidah adalah merupakan pondasi utama kehidupan keislaman
seseorang. Apabila pondasi utamanya kuat, maka bangunan keimanan
yang terealisasikan dalam bentuk amal ibadah orang tersebut pun akan
kuat pula.
Amal ibadah tidak akan bisa benar tanpa dilandasi akidah yang benar.
amal ibadah dinilai benar apabila dilakukan hanya untuk Allah semata
dengan ittiba Rasul SAW.
Manusia diberi bekali akal pikiran agar dengan akal pikiran tersebut
mereka dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batil,
mempelajari tanda-tanda kekuasaan Allah, menganalisa hakikat
kehidupannya sehingga dia tahu arah dan tujuan dirinya diciptakan di
dunia. Akal pikiran dan perasaan inilah yang membedakan manusia
dengan makhluk-makhluk lain. Oelh karena itu manusia dipercaya untuk
menjadi khalifah Allah di Bumi.
Hubungan aqidah dengan muamalah
Pola pikir, tindakan dan gagasan umat Islam hendaknya selalu
bersendikan pada aqidah Islamiyah. Ungkapan buah dari aqidah yang
benar (Iman) tidak lain adalah amal sholeh harus menjadi spirit dan etos
ummat Islam. Pribadi yang mengaku muslim mestinya selalu menebar
amal shalih sebagai implementasi keimanannya di manapun mereka
berada. Tidak kurang 60 ayat Al Quran menerangkan korelasi antara
keimanan yang benar dengan amal sholeh ini. Ayat-ayat tersebut
menegaskan bahwa perintah beriman kepada Allah dan hari akhir selalu
diikuti dengan perintah untuk melaksanakan amal shalih. Inilah makna
operatif dari ungkapan al-Islamu aqidatun wa jihaadun, bahwa
kebenaran Islam itu harus diyakini sekaligus juga diperjuangkan
pengamalannya secara sungguh-sungguh dalam konteks kemaslahatan
dan bebas dari perilaku teror.
Apabila aqidah telah dimiliki dan ibadah telah dijalankan oleh
manusia, maka kedua hal tersebut harus dijalankan dengan sebaikbaiknya, oleh karena itu diperlukan adanya suatu peraturan yang
mengatur itu semua. Aturan itu disebut Muamalah. Muamalah adalah
segala aturan islam yang mengatur hubungan antar sesama manusia.
Muamalah dikatakan berjalan baik apabila telah memiliki dampak sosial
yang baik. Untuk dapat mewujudkan aqidah yang kuat yaitu dengan cara
ibadah yang benar dan juga muamalah yang baik, maka diperlukan suatu
adanya
Aqidah adalah pondasi keber-Islaman yang tak terpisahkan dari
ajaran Islam yang lain: akhlaq, ibadah dan Muamalat. Aqidah yang kuat
akan mengantarkan ibadah yang benar, akhlaq yang terpuji dan
muamalat yang membawa maslahat. Selain sebagai pondasi, hubungan
antara aqidah dengan pokok-pokok ajaran Islam yang lain bisa juga
bersifat resiprokal dan simbiosis. Artinya, ketaatan menuanaikan ibadah,
berakhlaq karimah, dan bermuamalah yang baik akan memelihara aqidah.

Dengan kata lain, ibadah adalah pelembagaan aqidah dalam


konteks hubungan antara makhkluq dengan Khaliq; akhlaq merupakan
buah dari aqidah dalam kehidupan yang etis dan egaliter; dan muamalah
sebagai implementasi aqidah dalam masyarakat yang bermartabahat dan
menebar maslahat. Karena itu, agar aqidah tumbuh dan berkembang,
aqidah harus operatif dan fungsional. Amal usaha atau unit pelayanan
umat seperti Panti sosial dan anak yatim, lembaga pendidikan dan pondok
pesantren, balai pengobatan dan rumah sakit, lembaga pengumpul dan
penyalur zakat serta lembaga-lembaga sosial keagamaan lainnya
meminjam istilah M. Amin Abdullah, merupakan bentuk faith in action,
buah keimanan yang aktif dan salah satu bentuk penjelmaan tauhid
sosial. Sayanya, tidak sedikit buah faith in action tersebut yang terjebak
pada berbagai kepentingan mulai dari ekonomi hingga politik.
Agar tetap kokoh dan kuat serta menjadi penyangga seluruh sendi
keber-Islaman, aqidah harus dijaga, dipelihara dan dipupuk sehingga bisa
hidup subur dalam pribadi setiap Muslim. Pentingnya memelihara aqidah
ini juga tersirat dalam Sirrah Nabawiyah. Saat membangun masyarakat
Islam di Makkah dan Madidah selama 23 tahun Rasulullah Muhammad
SAW tidak kenal lelah membina aqidah umatnya. Mengingat pentingnya
aqidah ini bisa dimengerti bila setiap surat dalam Al Quran mengandung
pokok-pokok ajaran keimanan.
Di tengah pasar bebas nilai dan ideologi saat ini, upaya
merevitalisasi aqidah serasa memperoleh momentum. Mudah tergiurnya
sebagian umat pada faham atau aliran-aliran yang bertentangan dengan
prinsip-prinsip Islam merupakan efek dari lemahnya aqidah mereka.
- See more at: http://lppkk-umpalangkaraya.blogspot.com/2014/09/materi-i-pengertianhakikat-dan-hikmah.html#sthash.piBOPijl.dpuf

Transcript

1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Puasa adalah menahan diri dari halhal yang membatalkannya dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama
mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat
kelamin sehari penuh, Sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenamnya matahari
dengan berdasarkan niat. Puasa merupakan dasar praktis dan teoritis bagi sisi
pengendalian diri untuk menjalankan perintah Allah. Allah SWT menetapkan kunci
masuk surga terletak dalam masalah mengendalikan diri. Selain mengendalikan diri
dari syahwat-syahwat yang diharamkan dan dorongan-dorongan terlarangnya,
mengendalikan diri juga untuk menetapi akhlak yang agung dan baik. Adapun
macam-macam puasa ditinjau dari hukumnya, puasa bisa diklasifikasikan menjadi
puasa wajib, puasa sunah, puasa haram, dan puasa makruh. Puasa wajib. Untuk
melaksanakan puasa baik puasa wajib ataupun sunnah mempunyai syarat - syarat dan
juga rukunnnya. Puasa wajib merupakan puasa yang harus dilaksanakan oleh seluruh
umat islam di dunia. Sebagaimana kita ketahui bahwa puasa yang dihukumi wajib
adalah merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan dan apabila puasa wajib
ditinggalkan atau tidak dilaksanakan maka akan mendapat dosa. Diwajibkannya puasa
atas umat Islam mempunyai hikmah yang dalam yakni merealisasikan ketaqwaan
kepada Allah SWT. Puasa mempunyai banyak faedah bagi rohani dan jasmani kita.
Ibadah puasa juga banyak mengandung aspek sosial, karena lewat ibadah ini kaum
muslimin ikut merasakan penderitaan orang lain yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan pangannya seperti yang lain. Ibadah puasa juga menunjukkan bahwa

orang-orang beriman sangat patuh kepada Allah karena mereka mampu menahan
makan atau minum dan hal-hal yang membatalkan puasa.

2. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan


masalah yaitu tentang Puasa menurut padangan hadits. C. Tujuan Masalah Tujuan
makalah ini untuk mengetahui puasa menurut padangan hadits.

3. BAB II PEMBAHASAN A. Teori 1. Pengertian puasa Puasa menurut bahasa


adalah menahan diri dari segala sesuatu. Sedangkan menurut istilah Fiqih puasa
adalah menahan diri dari segala perbuatan yang membatalkan seperti makan, minum,
serta hawa nafsu dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan berdasarkan
niat, mematuhi persyaratan-persyaratan dan rukunnya. Menurut Ash Shiddieqy
(1987:114) Puasa adalah Menahan nafsu dari godaan syahwat dan mengekang diri
dari segala kebiasaan yang mengutamakan kenikmatan badani dan menciptakan
kesucian batin yang akan membawa ketenangan jiwa. Adapun menurut Al-Zuhayly
(1996: 85 ) Puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya yang
berupa syahwat perut dan syahwat kemaluan serta menahan hawa nafsu dari makan
dan minum dengan niat yang dilakukan oleh seseorang yang akan berpuasa dari terbit
fajar sampai terbenamnya matahari. 2. Macam-macam puasa Macam-macam puasa
apabila ditinjau dari segi pelaksanaan hukumunya A.Ridwan (1983: 278)
membedakannya menjadi puasa wajib, puasa sunat, puasa makruh dan puasa haram.
Adapun puasa yang termasuk dalam puasa wajib yaitu: a. Puasa Ramadhan Puasa
bulan Ramdhan merupakan salah satu dari rukun islam yang lima, sebagaimana sabda
Rasulullah saw: Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin
Khathab ra, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: Islam dibangun di atas
lima perkara yaitu bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah dan Muhammad utusan
Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji ke Baitullah dan
berpuasa pada bulan Ramadhan. (Riwayat Turmuzi dan Muslim).

4. Adapun Puasa bulan Ramadhan diwajibkan berdasarkan firman Allah swt dalam
surat Al-Baqarah [2]: 183 dan Al-Baqarah [2]: 185 Artinya: Hai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu bertakwa.( Al- Baqarah:180) Artinya: Bulan Ramadhan,
yang padanya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta pembeda (antara yang hakq dan
yang bathil). Maka barang siapa yang berpuasa di antara kamu berada di bulan itu,
hendaklah ia mempuasainya. Dan barang siapa sedang sakit atau dalam perjalanan
(lalu ia tidak berpuasa) maka (wajiblah ia menggantikannya) sebanyak hari-hari yang
ditinggalkannya itu, pada hari-hari lainnya. ( Al-Baqarah: 185). Dari surat AlBaqarah dan Hadits diatas menunjukan bahwa puasa bulan Ramdhan merupakan
puasa yang wajib dilaksanakan bagi seluruh umat islam di dunia. Sebagai mana
definisi wajib menurut fiqh adalah perintah yang harus dilakukan atau dikerjakan. Jika
perintah tersebut dipatuhi , maka yang mengerjakannya mendapat pahala sebaliknya
apabila perintah tersebut ditinggalkan atau tidak dikerjakan maka akan mendapat
dosa. Menurut Rasjid ( 2010: 220) puasa Ramadhan diwajibkan pada tahun kedua
hijriah, yaitu tahun kedua sesudah Nabi Muhammad Saw.hijrah ke Madinah.
Hukumnya Fardu ain atas tiap-tiap mukallaf (baligh dan berakal). Selanjutnya
dibawah ini akan dijelaskan hal-hal yang terikat dalam puasa Ramadhan diantaranya
sebagai berikut: a. Syarat-syarat puasa Adapun syarat-syarat puasa terbagi menjadi
dua yaitu syarat syah puasa dan syarat wajib puasa. Syarat syah puasa menurut Ash

Shiddieqy (1987: 84-85) secara garis besar syarat yang harus dipenuhi untuk syahnya
puasa Ramadhan adalah:

5. 1) Tetap dalam islam sepanjang hari Apabila seseorang kafir, baik asli atau kafir
murtad berniat puasa, tidaklah sah puasanya. Apabila seorang muslim yang
berpuasavmenjadi murtad karena mencela agama islam, atau mengingkari sesuatu
hukum Islam yang diijmaI oleh ummat atau dia mengerjakan sesuatu yang
merupakan penghinaan bagi al-Quran atau memaki seorang Nabi, niscaya keluarlah ia
dari Islam dan batallah puasanya. 2) Suci dari haid, nifas dan wiladah (bersalin) Puasa
wanita yang mendapat haid, bernifas dan ataupun bersalin (wiladah), pada saat darah
keluar baik banyak, ataupun sedikit, baik anak yang lahir itu sempurna, ataupun yang
dilahirkan itu segumpal darah atau daging. 3) Tam-yiz Tam-yiz yaitu dapat
membedakan antara yang baik dan yang tidak baik. 4) Berpuasa pada waktunya
Berpuasa harus dilakukan pada waktunya yang tepat. Karenanya tidak sah puasa jika
dikerjakan diwaktu-waktu yang tidak dibenarkan berpuasa, seperti hari raya Idul Fitri,
Idul Adha dan hari-hari Tasyriq. Syarat syarat diatas berlaku pula untuk puasa-puasa
lain, baik fardlu, maupun puasa qadla, nazar, ataupun puasa sunnat, seperti puasa
Arafah, Asyura dan lain-lain. Adapun syarat wajib puasa Rasjid ( 2010: 227)
mengemukakan sebagai berikut: a) Berakal. Orang yang gila tidak wajib berpuasa, b)
Balig (umur 15 tahun ke atas ) atau tanda yang lain. Anak-anak tidak wajib puasa
Sabda Rasulullah saw: tiga orang yang terlepas dari hukum: (a) orang yang sedang
tidur hingga ia bangun, (b) orang gila sampai ia sembuh, (c) kanak-kanak sampai ia
balig. ( Riwayat Abu Dawud dan Nasaih) c) Kuat berpuasa, orang yang tidak kuat,
misalnya karna sudah tua atau sakit, tidak wajib puasa. b. Rukun puasa Menurut A.
Ridwan (1983: 303-304) rukun puasa meliputi: 1) NIat.

6. Kedudukan niat dalam ajaran islam penting sekali, karena ia menyangkut dengan
kemauan. Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhari menyatakan: Artinya :
sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung kepada niat, dan setiap manusia
hanya memperoleh menurut apa yang diniatkannya. Banayak terjadi salah pengertian
tentang niat dalam berpuasa ini. Kata niat itu sebenarnya berarti kehendak atau
maksud untuk mengerjakan sesuatu dengan sadar dan sengaja. Tetapi banyak orang
mengartikan seoalah-olah niat itu berarti mengucapkan atau melapalkan serangkaian
kata-kata yang menjelaskan bahwa yang bersangkutan akan berbuat ini atau itu. Niat
bermakna gerak kemauan yang timbul dari hati nurani. Gerak kemauan inilah yang
dinilai dan merupakan cerminan asli dari hati seseorang untuk berbuat sesuatu.
Sebagai suatu amalan hati, maka orang yang berniat untuk berpuasa adalah orang
yang mulai mengarahkan hatinya dengan tekad akan melaksanakan ketentuanketentuan dalam puasa baik yang bersifat anjuran maupun yang bersifat larangan
untuk mendapat ridha-Nya. Karena itu maka yang berniat itu adalah hati. Hal ini tidak
berarti bahwa melapalkan niat tidak boleh, tetapi yang dinilai adalah niat yang ada
didalam hati tiap-tiap hambanya. 2) Menahan diri dari segala yang membatalkan
puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. c. Adab berpuasa Adab-adab dalam
melaksanakan puasa menurut Al-Habsyi ( 2000: 353-356) adalah sebagai berikut: 1.
Makan sahur Para ulama bersepakat bahwa makan sahur adalah sunnah (tidak wajib
tetapi dianjurkan) bagi oaring yang akan berpuasa. Al-Bukhari dan Muslim
merawikan dari Anas r.a bahwa Nabi Saw. Pernah bersabda, bersahurlah kamu,
sebab didalam makanan sahur terkandung berkah (yakni kebaikan yang banyak).
Sahur dapat dilaksanakan dengan makan atau minum, sedikit atau banyak (meskipun

hanya seteguk air); waktunya mulai pertengahan malam sampai terbitnya fajar (yakni
masuknya waktu untuk shalat subuh).

7. Walaupun demikian, sebaiknya ber-ihtiyath ( bersikap hati-hati) dengan berhenti


dari makan dan minum kira-kira sepuluh menit sebelum masuk waktu subuh, yaitu
pada waktu yang biasa disebut waktu imsak. 2. Menyegerakan Buka Puasa
Dianjurkan bagi yang berpuasa untuk berbuka, segera setelah meyakini terbenamnya
matahari. Tentang hal ini, Bukhari dan Muslim merawikan dari Sahl bin Saad, bahwa
Nabi Saw. Pernah bersabda, Manusia masih dalam keadaan baik sepanjang mereka
masih menyegerakan buka puasa. Dianjurkan pula untuk berbuka dengan satu atau
tiga butir kurma, atau boleh juga dengan sesuatu yang manis, atau air walaupun hanya
seteguk. Kemudian heendaknya melaksanakan shalat maghrib sebelum makan
malamnya. Kecuali jika makan malamnya telah tesedia, maka tak ada salahnya
mendahulukannya sebelum shalat magrib. Telah dirawikan dari Anas r.a bahwa Nabi
Saw, biasa berbuka dengan beberapa butir rutbab (kurma yang setengah masak)
sebelum shalat. Kalau tidak ada, dengan kurma biasa, dan kalau tidak ada juga,
dengan minum air beberapa teguk. (HR Abu Daud dan Tirmidzi). 3. Doa setelah
Berbuka Dianjurkan bagi orang yang sedang berpuasa agar memperbanyak bacaa
zikir dan doa sepanjang hari, terutama setelah berbuka. Diriwayatkan oleh tirmidzi,
bahwa Nabi Saw. Pernah bersabda, tiga orang takan tertolak doanya: seorang yang
sedang berpuasa sampai ia berbuka, penguasa negri yang adil, dan seoarang Mazhlum
( yakni yang tertimpa kedzaliman). Diantara doa-doa yang dianjurkan membacanya
berulang-ulang, terutama disore hari menjelang saat berbuka. 4. Bersiwak
(Menggosok Gigi) Seorang yang sedang berpuasa tetap dianjurkan menjaga
kebersihan giginya dengan bersiwak (menggunakan kayu siwakataupun sikat gigi dan
sebagainya); baik pada pagi hari

8. 5. Banyak bersedekah dan mendarus Al-Quran Banyak bersedekah dan mendaras


(membaca bersama-sama atau sendiri-sendiri) serta mempelajari Al-Quran adalah
perbuatan yang sangat dianjurkan pada setiap saat. Namun lebih dianjurkan lagi pada
bulan Ramadhan. Telah dirawikan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah Saw. Adalah
yang paling dermawan diantara semua dermawan. Lebih-lebih lagi pada bulan
Ramadhan, ketika jibril menemuinya pada setiap malam, lalu mendaras Al-Quran
bersama beliau. (HR Bukhari). 6. Bersungguh sungguh dalam beribadat dan beramal
shaleh Telah disebutkan sebelum hal ini, bahwa ibadah dan amal kebaikan pada bulan
Ramadhan memperoleh pahala berlipat ganda disbanding pada bulan-bulan lainnya.
Karenanya, dianjurkan untuk menggunakan kesempatan ini sebaik-baikya., dengan
memperbanyak ibadah dan amal shaleh, baik disiang hari maupun dimalam hari
Ramadhan, terlebih lagi pada sepuluh malam terakhir. Bukhari dan muslim
merawikan dari Aisyah r.a bahwa telah menjadi kebiasaan Nabi Saw apabila berada
disepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, menghidupkan malam-malamnya (dengan
bersungguh-sungguh dalam beribadah), sambil membangunkan istrinya(agar
beribadah bersamanya). 7. Menjauhkan diri dari perbuatan dan ucapan tidak senonoh
Puasa adalah ibadah yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, dan melatih jiwa
agar selalu bertakwa kepada-Nya. Oleh sebab itu, seorang yang sedang berpuasa
hendaknya tidak hanya menahan dirinya dari makan, minum serta perbuatan terlarang
lainnya, tetapi harus pula mencangkup perbaikan jiwa dengan akhlak mulia dan
menjauh dari segala perbuatan tercela. Sabda Nabi Saw: puasa bukan hanya
menahan diri dari makan dan minum, tetapi harus pula menahan diri dari perbutan siasia dan ucapan tidak senonoh. Maka apabila orang lain menunjukan cercaan atau

keajaiban terhadapmu, janganlah membalasnya dengan perbuatan seperti itu, tetapi


katakanlah: Aku sedang berpuasa; aku sedang berpuasa! (HR Ibnu Khuzaimah,
Ibnu Hibban dan Al-Hakim). Diriwayatkan pula bahwa Nabi Saw, pernah bersabda:

9. Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan keji, maka tak ada
sedikitpun kehendak Allah untuk menerima puasanya dari makan dan minum. (HR
Al-Jamaah kecuali Muslim). d. Hal-hal yang membatalkan puasa Hal- hal yang
membatalkan puasa Rasjid (2010: 230-233) mengemukakan: 1. Makan dan minum.
Makan dan minum yang membatalkan puasa ialah apabila dilakukan dengan sengaja.
Kalu tidak sengaja, misalnya lupa, tidak membatalkan puasa.sebagaimana sabda
Rasulullah Saw: Barang siapa lupa, sedangkan ia dalam keadaan puasa, kemudian ia
makan atau minum, maka hendaklah puasanya disempurnakan, karena sesungguhnya
Allah-lah yang memberinya maka dan minum.( Riwayat Bukhari dan Muslim).
Memasukkan seuatu kedalam lubang yang ada pada badan, seperti lubang telinga,
hidung, dan sebagainya, menurut sebagian ulama sama dengan makan dan minum;
artinya membatalkan puasa. Mereka mengambil alas an dengan Qias, diqiaskan
(disamakan) dengan makan dan minum. Ulama yang lain berpendapat bahwa hal itu
tidak membatalkan karena tidak dapat diqiaskan dengan makan dan minum. Menurut
pendapat yang kedua itu, kemasukan air sewaktu mandi tidak membatalkan puasa,
begitu juga memasukan obat melalui lubang badan selain mulut, suntik, dan
sebagainya, tidak membatalkan puasa karena yang demikian tidak dinamakn makan
dan minum. 2. Muntah yang disengaja, sekalipun tidak ada yang kembali kedalam.
Muntah yang tidak disengaja tidaklah membatalkan puasa. Sabda Rasulullah Saw:
Dari Abu Hurairah. Rasulullah Saw telah berkata, barangsiapa terpasksa muntah,
tidaklah wajib mengqada puasanya;dan barang siapa yang mengusahakan muntah,
maka hendaklah dia mengqada puasanya. (Riwayat Abu Dawud, Tirmizi, dan Ibnu
Hibban)

10. 3. Bersetubuh Firman Allah Swt: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan
puasa bercampur dengan istri-istrimu. (Al-Baqarah: 187). Laki-laki membatalkan
puasanya dengan bersetubuh diwaktu siang hari dibulan Ramadhan, sedangkan dia
berkewajiban puasa, maka ia wajib membayar kafarat. 4. Keluar darah Haid (kotoran
atau nifas (darah sehabis melahirkan). Dari Aisyah. Ia berkata, kami disuruh oleh
Rasulullah Saw. Mengqada puasa, dan tidak disuruhnya untuk mengqada salat. 5.
Gila. Jika gilaitu dating waktu siang hari, batallah puasa. 6. Keluar mani dengan
sengaja (karena bersentuhan dengan perempuan /istri atau lainnya). Karena keluar
mani itu adalah puncak yang dituju orang pada persetubuhan, maka hukumnya
disamakan dengan bersetubuh. Adapun keluar mani karena bermimpi, mengkhayal
dan sebagainya, tidak membatalkan puasa. Adapun orang-orang yang memperoleh
keringanan untuk berbuka ketika sedang berpuasa menurut Hamid ( 2009: 244 )
diantaranya: a) Orang yang sedang hamil termasuk kelompok yang harus menjaga
kondisi bayi dalam perutnya normal dan menerima makanan yang seimbang, sehingga
jika orang yang hamil berpuasa akan berdampak buruk terhadap perkembangan janin
di dalam perutnya, b) Orang yang sudah sangat tua yang tidak akan mampu menahan
lapar dan dahaga, c) Orang-orang yang sakit yang tidak ada lagi harapan
kesembuhannya, d) Orang yang sedang bepergian jauh yang sangat melelahkan dan
tidak akan mampu menahan lapardan dahaga, yang jika dipaksakan akan berakibat
kemadaratan bagi jiwanya, dan e) Para buruh kasar yang tenaganya terkuras dalam
mencari nafkah. e. Manfaat Puasa Dalam catatan Dr. A.A mengemukakan tentang

penelitian yang dilakukan oleh dua orang ilmuan muslim bahwa puasa sangat banyak
manfaatnya diantaranya

11. dengan puasa memberikan kesempatan beristirahat bagi alat pencernaan,


mencukupkan makan secara teratur pada waktu-waktu tertentu saja tanpa banyak
mengkonsumsi makanan ringan itu lebih baik dari pada mengkonsumsi segala macam
bentuk makanan baik yang bermanfaat atau tidak, akan tetapi tentunya mengkonsumsi
makanan yang bisa mencukupi kebutuhan tubuh, terbukti secara ilmiah bahwa
memperbanyak makan bisa menimbulkan berbagai dampak negatif bahkan beberapa
jenis penyakit seperti penyakit rematik, liver, tekanan darah tinggi, dan penyakit
kencing manis. (dalam Hawwa, 2004: 236). Sedangkan manfaat puasa menurut AlZuhayly (1996:86-88) adalah sebagai berikut: 1. Puasa merupakan suatu bentuk
ketaatan kepada Allah SWT. Seorang mukmin, dengan puasnya, akan diberi pahala
yang luas dan tidak terbatas. Sebab, puasa itu hanya diperuntukan bagi Allah SWT.
Yang Kedermawaan-NYa sangat luas. Dengan puasa, dia akan memperoleh ridha
Allah SWT, dan berhak memasuki surge dari pintu Khusus yang hanya disediakan
untuk orang-orang yang berpuasa namanya Ar-Rayyan. Puasa juga akan menjauhkan
dirinya dari siksaan yang disebabkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya. Puasa
merupakan tebusan (kafarat) bagi dosa dari satu tahun ke tahun berikutnya. Dengan
ketaatan, urusan seorang Mukmin akan berdiri tegak ditas kebenaran yang
disyariatkan oleh Allah SWT. Dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dilarangNya. Allah SWT berfirman: hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian
bertaqwa. ( Al-Baqarah:183). 2. Puasa merupakan madrasah moralitas yang besar dan
dapat dijadikan sarana latihan untuk menempa berbagai macam sifat terpuji. Puasa
adalah jihad melawan nafsu, menangkal godaan-godaan dan rayuan-rayuan setan yang
terkadang terlintas dalam pikiran. Puasa bisa membiasakan seseorang bersikap sabar
terhadap hal-hal yang diharamkan, penderitaan, dan kesulitan yang kadang muncul
dihadapannya. 3. Puasa mendidik seseorang untuk bersikap jujur dan merasa diawasi
oleh Allah SWT. Baik dalam kesendirian maupun dalam keramaian.

12. 4. Puasa dapat menguatkan kemauan, mempertajam kehendak, memdidik


kesabaran, membantu kejernihan akal, memyelamatkan pikiran, dan mengilhami ideide cemerlang. 5. Puasa mengajarkan sikap disiplin dan ketetapan, karena puasa
menuntut orang yang berpuasa untuk makan dan minum pada waktu yang telah
ditentukan. 6. Puasa dapat menumbuhkan naluri kasih sayang, ukhuwah, dan perasaan
keterkaitan dalam tolong-menolong yang dapat menjalin rasa persaudaraan sesame
umat islam. f. Amalan amalan di bulan Ramadhan Bulan Ramadhan memanglah
bulan kita bercocok tanam untuk dipetik hasilnya kelak diakhirat. Maka di antara
amalan-amalan yang disyariatkan dalm bulan Ramadhan yang penuh berkah Ash
Shiddieqy (1987: 123) mengemukaan pendapatnya sebagai berikut: a. Membanyakan
pemberian kepada orang-orang yang memerlukannya, b. Membanyakan tilawah
(membaca al-Quran), c. Menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan
sembahyangmalam (tarawih), d. Mengerjakan iktikaf pada puluhan yang akhir dari
bulan Ramadhan, dan g. Keutamaan Bulan Ramadhan Keutamaan bulan Ramadhan
adalah merupakan bulan ibadah, bulan ditrimanya doa-doa, bulan permohonan
ampunan, bulan pertobatan, bulan terjaga (tidak tidur) malam,dan bulan penyucian
diri, ibadah pada bulan ini dilipatgandakan pahalanya, ramadhan merupakan bulan
ketika pintu-pintu surge dibuka sedangkan pintu neraka ditutup. Sedangkan menurut
Burhanudin (2006: 12) mengenai keutamaan bulan Ramadhan yaitu Ramadhan

menjadi bulan suci dan penuh berkah bagi umat islam, karena didalamnya terdapat
ragam pengorbanan. Ramadhan menjadi berkah karena enam keutamaan; bulan
diturunkannya al-Quran, puasa di siang hari, shalat tarawih di

13. malam hari, malam lailatul qadr (malam penentuan bagi hidup seseorang),
pelaksanaan zakat fitrah, dan hari raya idul fitri. h. Nama-nama bulan puasa
Ramadhan Ditinjau dari segi fungsi-fungi bulan Ramadhan mempunyai beberapa
nama, yang masing-masing nama itu menunjukan kepada suatu pengertian. Adapun
menurut Ash Shiddieqy mengenai nama-nama bulan puasa Ramadhan adalah sebagai
berikut: a. Syahrullahi = Bulan Allah Bulan ini Allah sandarkan kepada diri- Nya
sendiri. Karenanya bulan ini dinamakan bulan Allah. b. Syahrull ala-I = Bulan yang
penuh kenikmatan dan limpahan karunia. c. Syahrull Quran = Bulan yang didalamnya
diturunkan permulaan Al Quran. d. Syahrull Najah = Bulan pelepasan dari azab
neraka, e. Syahrull jud = Bulan memberikan keihlasan kepada sesama manusia dan
melimpahkan bantuan kepada fakir miskin atau bulan bermurah tangan, f. Syahrul
Munawasah = Bulan memberikan pertolongan kepada yang berhajat, g. Syahrut
Tilawah = Bulan membacakan Al Quran atau bulan menentukan diri untuk memahami
makna Al Quran, h. Syahrush shabri = Bulan melatih diri bersabar dalam
melaksanakan tugas-tugas agama, sabar terhadap ujian hidup dengan ridla hati, i.
Syahrur Rahmah = Bulan Allah limpahkan Rahmat-Nya sendiri j. Syahrur Rahmah =
Bulan Allah limpahkan Rahmat- Nya kepada hamba-Nya k. Syahrulid = Bulan yang
merayakan hari berduka. b. Puasa Qadha. Puasa Qadha adalah Puasa yang wajib
ditunaikan karena seorang muslim berbuka dalam puasanya di bulan Ramadhan yang
disebabkan udzur seperti safar (bepergian), sakit, haid dan nifas atau dengan sebabsebab yang lain. Menurut Handrianto ( 2007: 1) mengenai puasa Qadha adalah:

14. Sebenarnya puasa sebagai ibadah yang diwajibkan hanya puasa Ramadhan,
adapun puasa wajib yang lain berkaitan dengan puasa Ramadhan atau hal lain Salah
satunya adalah puasa qadha, yaitu puasa untuk menggantikan puasa Ramadhan yang
di tinggalkan karena suatu sebab syari. puasa qadha adalah puasa yang wajib dibayar
tunai, jangan ditunda-tunda apalagi sampai utang berikutnya. Adapun menurut Aulia
(hlm. 89) mengenai puasa Qadha yakni: Orang yang wajib puasa kemudian ia tidak
berpuasa, maka ia berdosa.bagi mereka tidak berpuasa dan membatalkan puasa di
bulan suci Ramadhan karena alasan sakit, musafir maupun karena kesengajaan,wajib
menggantinya dihari lain diluar bulan Ramdhan dan waktu-waktu yangdiharamkan
untuk berpuasa, yaitu hari-hari selain pada hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha,dan
hari-hari Tasyrik. Puasa ini disebut puasa Qadha, dikerjakan sesuai dengan jumlah
yang tertinggal. Dalam proses pelaksanaannya, tidak berbeda jauh dengan
pelaksanaan puasa di bulan Ramadhan atau puasa sunnahlainnya,. Syarat wajib
syahnya disesuaikan pula dengan pusa lainnya asalkan diniatkan untuk meng-qadha
puasa wajib di bulan ramadhan. c. Puasa Kaffarat ( denda karena suatu pelanggaran)
Puasa kaffarat ialah puasa yang wajib ditunaikan karena berbuka dengan sengaja
dalam melaksanakan puasa bulan ramadhan (dalam hal ini ada khilaf), bukan karena
sesuatu udzur yang dibenarkan syara akan tetapi diantaranya karena bersetubuh
dengan sengaja bagi suami istri dibulan Ramadhan disiang hari ketika dalam
melaksanakan puasa, karena membunuh dengan tidak sengaja, karena mengerjakan
Sesuatu yang diharamkan dalam haji, serta tidak sanggup menyembelih binatang
hadyu; karena merusak sumpah dan berdhihar terhadap isteri. Adpun puasa kaffarat
menurut Aulia ( hlm 90) Puasa kafarat atau kifarah merupakan puasa sebagai
penebusan karena melakukan pelanggaran terhadap suatu hukum atau kelalaian dalam

melaksanakan suatu kewajiban, sehingga mengharuskan seorang mukmin dikenakan


hukuman denda. Dalam masalah ini

15. yang wajib membayar kafarat menurut Sumaji (2008-194) mengungkapkan


bahwa: Para ulama berbeda pendapat dalam masalah siapakah yang wajib membayar
kafarat tentang prilaku kesengajaan suami istri yang melakukan hubungan seksual
pada saat puasa di bulan Ramadhan. Pertama, kewajiban membayar kafarat hanya
dibebankan kepada laki-laki saja dan bukan pada istrinya meskipun mereka
melakukannya berdua. Akan tetapi, pelakunya tetap saja jatuh pada laki-laki karena
walau bagaimanapun, laki-laki yang menentukan terjadi tidaknya hubungan seksual.
Pendapat ini didukung oleh imam SyafiI dan ahli zahir. Dalil yang mereka gunakan
adalah bahwapada hadis tentang kafarat puasa rasulullah saw hanya memerintahkan
suami untuk membayar kafarat tanpa menyinggung sama sekali kewajiban membayar
bagi istrinya. Kedua, kewajiban membayar kafarat itu berlaku bagi keduanya, yakni
suami dan istri. Pendapat ini didukung oleh Imam Abu Hanifah dan Imam Malikserta
lainnya. Adapun dalil yang mereka gunakan, adalah qiyas bahwa
mengiyaskankewajiban suami kepada kewajiban istri pula. d. Puasa Nadzar Puasa
nadzar ialah puasa wajib yang difardlukan sendiri oleh seseorang muslim atas dirinya
untuk mendekatkan diri kepada Allah. Puasa nadzar wajib ditunaikan menurut
nazarnya. Menurut Yasin (2009: 112) Puasa nadzar adalah puasa yang dilakukan
karena niat. Contoh, kalau saya lulus ujian dikampus, saya bernadzar, atau saya
berniat akan berpuasa selama tiga hari bulan ini, ketika saya lulus ujian, puasa
tersebut hukumnya wajib, artinya harus dilakukan. Adapun menurut Handrianto
( 2007:129) mengenai puasa Nadzar adalah sebagai berikut: Bernadzar artinya
berjanji akan berpuasa, apabila misalnya sembuh dari sakit atau jika diperkenankan
sesuatu maksud yang baik (yang bukan maksiat) dalam rangka mensyukuri nikmat
atauuntuk mendekatkan diri kepda Allah, maka wajiblah atasnyauntuk
melaksanakannya. Puasa Nadzar pada dasarnya utang, bahkan lebih tegas lagi karena
biasanya dikaitkan dengan sesuatu. Oleh karena itu, seorang yang bernadzar wajib
melaksanakan puasa Nadzar tersebut sebab ia sendiri yang

16. membuatnyawajib. Dengan mengatakan misalnya, jika saya sembuh nanti, maka
saya akan puasa selamalima hari berturut-turut. Wajib baginya untuk
dilaksanakan.Dengan demikian, kita harus berhati-hati dalam bernadzar jangnlah kita
mengucapkan nadzar akan melakukan sesuatu termasuk puasa. Jika kita tidak sanggup
melaksanakannya. Jangan hanya kesulitan yang menerpa kita kemudian bernadzar
akan, misalnya, berpuasa dua bulan berturut-turut karena itu akan memberatkan diri
sendiri. Padahal, Allah sendiri tidak memintanya. Nadzar sangat baik dilaksanakan
sebagai rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada kita, terutama setelah
hilangnya kesulitan dalam diri atau keluarga, asal nadzar tersebut masuk akal dalam
pelaksanaanya dan tidak memberatkan diri.

17. BAB III PENUTUP A. Simpulan Puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu
yang dapat membatalkannya seperti makan, minum, serta hawa nafsu dari terbit fajar
sampai terbenamnya matahari dengan berdasarkan niat dan mematuhi syarat dan
rukunnya. Puasa wajib adalah puasa yang harus dilaksanakan oleh seluruh umat islam
di dunia. Sebagaimana kita ketahui segala sesutu yang dihukumi wajib maka haruslah
dilaksanakan karena jika tidak dilaksanakan akan mendapat dosa. Puasa wajib
meliputi puasa Ramadhan, puasa Qadha, puasa Nadzar, dan puasa Kaffarat. Puasa
Ramdahan merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Syarat-syarat yang

terdapat dalam puasa meliputi syarat syah puasa dan syarat wajib puasa. Sayar-syarat
puasa adalah merupakan hal yang penting yang harus diperhatikan. Dimana dalam hal
ini syarat-syarat puasa menjadi suatu penentuan diterimanaya puasa seseorang.
Adapun niat merupakan bagian dari rukun puasa. Niat juga merupakan hal yang
sangat penting yang juga harus diperhatikan. Sebagaimana sabda Nabi Nabi saw yang
diriwayatkan oleh Bukhari menyatakan: sesungguhnya segala amal perbuatan itu
tergantung kepada niat, dan setiap manusia hanya memperoleh menurut apa yang
diniatkannya. Niat juga bisa dikatakan suatu pembeda antara untuk melaksanakan
ibadah ataupun hanya sekedar kebiasaan. Sedangkan puasa Qadha merupakan puasa
yang dilakukan atau dikerjakan di luar bulan Ramadhan untuk mengganti atau
membayar puasa Ramadhan yang terlewat atau tidak berpuasa karena sakit, mufasir
(bepergian), Haid dan nifas. Adapun Puasa Kaffarat adalah puasa yang dilakukan
karena adanya kekhilafan seoarang muslim. Puasa kaffarat ini adalah sebagai denda
suatu perbuatan seperti suami istri yang bersetubuh di siang hari di bulan ramdhan,
membunuh dengan sengaja dan lain-lain. Adapun puasa nadzar adalah puasa yang
dilakukan karena niat seseorang untuk dirinya sendiri, dimana niat ini untuk
mendekatkan diri kepada Allah swt.

18. DAFTAR PUSTAKA Al-Habsyi Muhammad Bagir. Fiqih Praktis. 2000.


Bandung: Mizan. Ridwan Wawan. 1983. Ilmu Fiqih. Jakarta: PTAI IAIN. Aulia
Nofisah Bunda. 1001 Cara Dahsyat Melatih Anak (online),
http://books.google.co.id, diunduh 7 Desember 2012 pukul 10:29 WIB). Al-Zuhayly
Wahbah. 1996. Puasa & Itikaf. Bandung: Remaja Rosdakarya. Ash Shiddieqy
Teungku Muhammad Hasbi. 1987. Al Islam. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra.
Burhanudin Yusuf. Misteri Bulan Ramadhan. 2006. Jakarta: QultumMedia. Hamid
Abdul, Beni Ahmad Saebani. Fiqh Ibadah. Bandung: Pustaka Setia. Handrianto
Budi, Miftah Faridl. 2007. Puasa Ibadah Karya Makna (online),
(http://books.google.co.id/books, diunduh 7 Desember 2012 pukul 10:07 WIB).
Hawwa Said. 2004. Al-Islam. Jakarta: Gema Insani Press. Rasjid Sulaiman. 2010.
Fiqih Islam. Bandung: Penerbit Sinar Baru. Sumaji Muhammad Anis. 2008. 125
Masalah Puasa (online), http://books.google.co.id. Diunduh 7 Desember 2012
pukul 10:25 WIB). Yasin Ahmad Hadi. 2009. Puasa Cinta (online),
http://books.google.co.id. Diunduh 7 Desember 2012 pukul 10:40 WIB).

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Puasa adalah rukun Islam yang ketiga. Karena itu setiap orang yang beriman, setiap
orang islam yang mukallaf wajib melaksanakannya. Melaksanakan ibadah puasa ini selain
untuk mematuhi perintah Allah adalah juga untuk menjadi tangga ke tingkat takwa, karena
takwalah dasar keheningan jiwa dan keluruhan budi dan akhlak.
Untuk ini semua, perlu diketahui segala sesuatu yang berkenaan dengan puasa, dari
dasar hukum, syarat-syarat, rukun puasanya dan lain sebagainya.

Makalah ini kami sajikan sebagai suatu sumbangan kecil kepada para pembaca untuk
maksud tersebut di atas dengan harafan ada faedahnya.
Tegur sapa, kritik dan saran dalam usaha menyempurnakan makalah ini kami ucapkan
terima kasih. Semoga Allah Swt. mengiringi kita semua dengan taufik dan hidayah-Nya.
Aamiin.
B.
1.
2.
3.
4.

Rumusan Masalah
Apa dasar hukum pelaksanaan puasa?
Apa saja syarat dan rukunnya?
Apa saja hal-hal yang sunnah dalam berpuasa?
Apa saja yang membatalkannya?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Puasa
Puasa adalah terjemahan dari Ash-Shiyam. Menurut istilah bahasa berarti menahan diri
dari sesuatu dalam pengertian tidak terbatas. Arti ini sesuai dengan firman Allah dalam surat
Maryam ayat 26:

..





sesungguhnya aku bernazar shaum ( bernazar menahan diri dan


berbiacara ).44[1]
Saumu (puasa), menurut bahasa Arab adalah menahan dari segala
sesuatu, seperti makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak
bermanfaat dan sebagainya.
Menurut istilah agama Islam yaitu menahan diri dari sesuatu yang
membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai
terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat. 45[2]
Menahan diri dari berbicara dahulu disyariatkan dalam agama Bani Israil.
Menurut Syara (istilah agama Islam) arti puasa adalah sebagaimana
tersebut dalam kitab Subulus Salam. Yaitu :




.






.





.

.













.










.














Menahan diri dari makan, minum, jima (hubungan seksual) dan lain-lain
yang diperintahkan sepanjang hari menurut cara yang disyariatkan, dan
disertai pula menahan diri dari perkataan sia-sia, perkataan yang
diharamkan pada waktu-waktu tertentu dan menurut syarat-syarat yang
ditetapkan.46[3]
44
45
46

B. Dasar hukum pelaksanaannya


Puasa Ramadhan adalah salah satu dari rukun Islam yang
diwajibkan kepada tiap mukmin. Sebagai dalil atau dasar yang
menyatakan bahwa puasa Ramadhan itu ibadat yang diwajibkan Allah
kepada tiap mukmin, umat Muhammad Saw., ialah:
a. Firman Allah Swt., :




.
.

.
.








Artinya : Wahai mereka yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa


(Ramadhan) sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang yang sebelum
kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah-183).
b. Sabda Nabi Saw., :



.
.





Didirikan Islam atas lima sendi: mengakui bahwa tidak ada Tuhan
melainkan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa
Ramadhan dan naik haji ke Baitullah. (H.R Bukhari dan Muslim dari Ibnu
Umar).47[4]
Berdasarkan ketetapan Alquran, ketetapan hadis tersebut, puasa
diwajibkan atas umat Islam sebagaimana diwajibkan atas umat yang
terdahulu. Ayat itu menerangkan bahwa orang yang berada di tempat
dalam keadaan sehat, di waktu bulan Ramadhan, wajib dia berpuasa.
Seluruh Ulama Islam sepakat menetapkan bahwasanya puasa, salah satu
rukun Islam yang lima, karena itu puasa di bulan Ramadhan adalah wajib
dikerjakan.
Yang diwajibkan berpuasa itu adalah orang yang beriman (muslim)
baik laki-laki maupun perempuan (untuk perempuan suci dari haid dan
nifas), berakal, baligh (dewasa), tidak dalam musa fir (perjalanan) dan
sanggup berpuasa.
Orang yang tidak beriman ada pula yang mengerjakan puasa
sekarang dalam rangka terapi pengobatan. Meskipun mereka tidak
beriman namun mereka mendapat manfaat juga dari puasanya yaitu
manfaat jasmaniah.
Kecuali itu dalam ilmu kesehatan ada orang yang berpuasa untuk
kesehatan. Walaupun orang ini berpuasa sesuai dengan ketentuanketentuan ajaran Islam, namun mereka puasanya tanpa niat ibadah
kepada Allah yaitu dengan niat berpuasa esok hari karena Allah dan
mengharapkan ridho-Nya, maka puasanya adalah puasa sekuler. Orang ini
mendapat manfaat jasmaniah, tetapi tidak mendapat manfaat rohaniah. 48
C. Memulai Puasa Bulan Ramadhan

47
48

1.
2.
3.

4.

Puasa Ramadhan lamanya sebulan yaitu 29 atau 30 hari, yang


dimulai setiap harinya sejak terbit pagi hingga terbenam matahari. 49[6]
Puasa Ramadhan dimulai dengan salah satu sebab sebagai berikut :
Melihat bulan Ramadhan setelah terbenam matahari pada tanggal 29
(akhir) Syaban.
Penetapan Hakim Syari akan awal bulan Ramadhan berdasarkan
keterangan saksi, sekurang-kurangnya seorang laki-laki, bahwa ia melihat
bulan.
Penetapan awal bulan Ramadhan dengan perhitungan ahli hisab
(perhitungan) ; a. Apabila bulan tidak terlihat, maka bulan Syaban
disempurnakan 30 hari. ; b. Keterangan orang yang dapat dipercaya
kebenarannya oleh penerima berita, bahwa ia melihat bulan Ramadhan.
Dengan hisab sebagaimana firman Allah. Swt. :











.

.

.


.
.













Artinya: Allah yang telah menjadikan matahari bersinar dan bulan


bercahaya serta diaturnya tempat perjalanan, supaya kamu mengetahui
bilangan tahun dan hitungan (hisabnya). Tuhan tidak menjadikan
semuanya itu kecuali dengan pasti. Tuhan menerangkan segalanya
(tandaan)
dengan
ayat-ayat-Nya
bagi
semua
orang
yang
berpengatahuan. (QS. Yunus-5).
Sabda Rasulullah Saw. :


.
:

Artinya: Dari Umar ra., Rasulullah Saw., bersabda : Apabila kamu


melihat bulan Ramadhan, hendaklah berpuasa dan apabila kamu melihat
bulan Syawal hendaklah kamu berbuka. Maka jika tidak tampak olehmu,
maka hendaklah kamu perhitungkanlah jumlahnya hari dalam satu
bulan. (HR. Bukhari, Muslim, Nasai dan Ibnu Majah).50[7]
D. Syarat Puasa
1. Syarat-syarat wajib berpuasa
a. Islam
b. Baligh dan berakal ; anak-anak belumlah diwajibkan berpuasa ; tetapi
apabila kuat mengerjakannya, boleh diajak berpuasa sebagai latihan.
c. Suci dari haid dan nifas (ini tertentu bagi wanita)
d. Kuasa (ada kekuatan). Kuasa disini artinya, tidak sakit dan bukan yang
sudah tua. Orang sakit dan orang tua, mereka ini boleh tidak berpuasa,
tetapi wajib membayar fidyah.
2. Syarat-syarat sahnya puasa
a. Islam.
b. Tamyiz.
49
50

c.

Suci dari haid dan nifas. Wanita yang sedang haid dan nifas tidak sah jika
mereka berpuasa, tetapi wajib qadha pada waktu lain, sebanyak bilangan
hari yang ia tinggalkan.
d. Tidak di dalam hari-hari yang dilarang untuk berpuasa, yaitu diluar bulan
Ramadhan51[8] ; seperti puasa pada hari Raya Idul Fitri ( 1 Syawal), Idul
Adha (10 Zulhijjah), tiga hari tasyrik, yakni hari 11, 12 dan 13 Zulhijjah,
hari syak, yakni hari 30 Syaban yang tidak terlihat bulan (hilal) pada
malamnya.
E. Rukun Puasa
1. Niat ; yaitu menyengaja puasa Ramadhan, setelah terbenam matahari hingga sebelum fajar
shadiq. Artinya pada malam harinya, dalam hati telah tergerak (berniat), bahwa besok harinya
akan mengerjakan puasa wajib Ramadhan. Adapun puasa sunnat, boleh niatnya dilakukan
pada pagi harinya.
2. Meninggalkan segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam
matahari.
Berdasarkan Firman Allah Taala :



.
.

.










.




Artinya: Maka sekarang, bolehlah kamu mencampuri mereka dan
hendaklah kamu mengusahakan apa yang diwajibkan Allah atasmu, dan
makan-minumlah hingga nyata garis putih dan garis hitam berupa fajar,
kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam.
Yang dimaksud dengan garis putih dan garis hitam ialah terangnya siang
dan g elapnya malam. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari
dan Muslim bahwa Adi bin Hatim bercerita : Tatkala turun ayat yang
artinya : hingga nyata benang putih dari benang hitam berupa fajar
saya ambillah seutas tali hitam dan seutas tali putih, lalu saya taruh
dibawah bantal dan saya amat-amati di waktu malam dan ternyata tidak
dapat saya bedakan. Maka pagi-pagi saya datang menemui Rasulullah
Saw dan saya ceritakan padanya hal itu. Sabda Nabi Saw :




.



.
52

Artinya: Maksudnya ialah gelapnya malam dan terangnya siang. [9]

F. Yang membatalkan puasa


1. Memasukkan sesuatu kedalam lobang rongga badan dengan sengaja, seperti makan, minum,
merokok, memasukkan benda ke dalam telinga atau ke dalam hidung hingga melewati
pangkal hidungnya. Tetapi jika karena lupa, tiadalah yang demikian itu membatalkan puasa.
Suntik di lengan, di paha, di punggung atau lainnya yang serupa, tidak membatalkannya,
karena di paha atau punggung bukan berarti melalui lobang rongga badan.
2. Muntah dengan sengaja; muntah tidak dengan sengaja tidak membatalkannya.
51
52

3.
4.
5.
6.
7.

Haid dan nifas; wanita yang haid dan nifas haram mengerjakan puasa, tetapi wajib
mengqodha sebanyak hari yang ditinggalkan waktu haid dan nifas.
Jima pada siang hari.
Gila walaupun sebentar.
Mabuk atau pingsan sepanjang hari.
Murtad, yakni keluar dari agama Islam.53[10]
Perlu diterangkan disini tentang sangsi orang yang jima (bercampur) pada siang hari
di bulan Ramadhan; Orang yang berjima (melakukan hubungan kelamin) pada siang hari
bulan Ramadhan, puasanya batal. Selain itu ia wajib membayar denda atau kifarat,
sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah Saw. :






.


.













.

.



:


.


. :

. :

.

.( ) ..








Artinya: Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya seorang laki-laki pernah
bercampur dengan istrinya siang hari pada bulan Ramadhan, lalu ia minta
fatwa kepada Nabi Saw. : Adakah engkau mempunyai budak ?.
(dimerdekakan). Ia menjwab : Tidak. Nabi berkata lagi : Kuatkah engkau
puasa dua bulan berturut-turut ?. Ia menjawab : Tidak. Sabda Nabi lagi :
Kalau engkau tidak berpuasa, maka berilah makan orang-orang miskin
sebanyak enam puluh orang. (HR.Muslim). 54[11]
G.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Hal-hal sunnat dalam berpuasa


Menyegrakan berbuka puasa apabila telah nyata dan yakin bahwa matahari sudah terbenam.
Berbuka dengan kurma, sesuatu yang manis, atau dengan air.
Berdoa sewaktu berbuka puasa.
Makan sahur sesudah tengah malam, dengan maksud supaya menambah kekuatan ketika
puasa.
Mentakhirkan makan sahur sampai kira-kira 15 menit sebelum fajar.
Memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang puasa.
Hendaklah memperbanyak sedekah selama dalam bulan puasa.
Memperbanyak membaca Alquran dan mempelajarinya (belajar atau mengajar) karena
mengikuti perbuatan Rasulullah Saw.55[12]

H. Puasa sunnat dan macam-macamnya.


Puasa sunnat adalah puasa yang disunnatkan kita melakukannya. Di antara puasa-puasa
sunnat ini ialah :
1. Berpuasa sehari dan berbuka sehari (puasa Nabi Daud)
2. Puasa enam di bulan Syawal.
3. Puasa hari Arafah (tanggal 9 bulan haji), kecuali orang yang sedang mengerjakan ibadah haji,
maka puasa ini tidak disunnatkan atasnya.
53
54
55

4. Puasa hari Asyura (hari yang kesepuluh dari bulan Muharram).


5. Puasa hari senin dan kamis.
6. Puasa tiga hari pada tiap bulan ; dalam hubungan ini berpuasa pada tanggal 13, 14 dan 15
tiap bulan berpuasa pada hari putih.
7. Puasa Syaban.56[13]
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Puasa adalah terjemahan dari Ash Shiyam. Menurut istilah bahasa berarti menahan
diri dari sesuatu dalam pengertian tidak terbatas. Saumu (puasa), menurut bahasa
Arab adalah menahan dari segala sesuatu, seperti makan, minum,
nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya.
Menurut istilah agama Islam yaitu menahan diri dari sesuatu yang
membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai
terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.
Berdasarkan ketetapan Alquran surat Al-Baqarah ayat 183 dan
ketetapan hadis yang telah disebutkan diatas, puasa diwajibkan atas umat
Islam sebagaimana diwajibkan atas umat yang terdahulu. Ayat itu
menerangkan bahwa orang yang berada di tempat dalam keadaan sehat,
di waktu bulan Ramadhan, wajib dia berpuasa. Seluruh Ulama Islam
sepakat menetapkan bahwasanya puasa, salah satu rukun Islam yang
lima, karena itu puasa di bulan Ramadhan adalah wajib dikerjakan.
Yang diwajibkan berpuasa itu adalah orang yang beriman (muslim)
baik laki-laki maupun perempuan (untuk perempuan suci dari haid dan
nifas), berakal, baligh (dewasa), tidak dalam musa fir (perjalanan) dan
sanggup berpuasa.
Puasa Ramadhan lamanya sebulan yaitu 29 atau 30 hari, yang
dimulai setiap harinya sejak terbit pagi hingga terbenam matahari.
1. tar Belakang Masalah
Seperti yang kita ketahui agama islam mempunyai lima rukun islam yang salah satunya ialah
puasa, yang mana puasa termasuk rukun islam yang keempat. Karena puasa itu termasuk
rukun islam jadi, semua umat islam wajib melaksanakannya namun pada kenyataannya
banyak umat islam yang tidak melaksanakannya, karena apa? Itu semua karena mereka tidak
mengetahui manfaat dan hikmah puasa. Bahkan, umat muslim juga masih banyak yang tidak
mengetahui pengertian puasa, dan bagaimana menjalankan puasa dengan baik dan benar.
Banyak orang-orang yang melakasanakan puasa hanya sekedar melaksanakan, tanpa
mengetahui syarat sahnya puasa dan hal-hal yang membatalkan puasa. Hasilnya,pada saat
mereka berpuasa mereka hanyalah mendapatkan rasa lapar saja. Sangatlah rugi bagi kita jika
sudah berpuasa tetapi tidak mendapatkan pahala. Seperti yang dikatakan hadits: urung
rampung

56

Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan membahas tentang apa itu puasa, manfaat
puasa, hikmah puasa, dan alasan mengapa kita wajib menjalankannya.
1. Pokok Masalah
Sebagai orang muslim sangatlah wajib bagi kita untuk mengetahui, bahkan untuk paham
betul apa itu puasa, sarat sahnya puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, dan manfaat, serta
hikmah puasa bagi kita.
Dan berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan, maka kami mendapatkan
beberapa pokok permasalahan di dalam pembahasan ini. Diantaranya ialah:

Penyebab orang-orang tidak menjalankan ibadah puasa

Berpuasa tanpa mengetahui apa syarat dan ketentuan puasa

Bagaimana cara berpuasa tanpa mengurangi aktivitas kita

Tidak mengetahui fidyah yang akan dibayar jika meninggalkan puasa


1. Tujuan makalah

Adapun tujuan dari makalah ini kami buat adalah :

Agar ummat islam selalu melaksanakan ibadah puasa dengan baik dan benar.

Bisa melaksanakan puasa dengan ikhlas

Untuk mengetahui semua hal yang membahas tentang puasa dan bersangkut paut
dengan puasa
1. Isi yang diuraikan

Pengertian puasa secara bahasa dan syari.

Rukun dan syarat puasa

Hal-hal yang membatalkan dan yang mengurangi puasa nilai puasa

Adab berpuasa

Macam-macam puasa

Halangan puasa

Hal-hal yang disunnahkan dalam berpuasa

Meng-qadha puasa Ramadhan

Hikmah puasa

BAB II
ISI MAKALAH
A. DEFINISI PUASA
Shaum (puasa) berasal dari kata bahasa arab yaitu shaama-yashuumu, yang
bermakna menahan atau sering juga disebut al-imsak. Yaitu menahan diri dari segala apa
yang membatalkan puasa.
Adapun puasa dalam pengertian terminology (istilah) agama adalah menahan diri dari
makan, minum dan semua perkara yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar sampai
terbenamnya matahari, dengan syarat-syarat tertentu.

B.

MACAM-MACAM PUASA DARI


SEGI HUKUM

Ulama madzhab Maliki, Syafii dan hambali sepakat bahwasanya puasa itu terbagi menjadi
empat macam, yaitu :
1.

Puasa wajib, yaitu puasa bulan ramadhan, puasa kifarat, puasa nazar.

2.

Puasa sunnah (mandub)

3.

Puasa makruh

4.

Puasa haram

Yang Pertama Ialah Puasa Wajib (Fardhu)


1. Puasa wajib atau fardhu yaitu puasa pada bulan ramadhan.
Telah kita ketahui bahwasanya puasa fardhu ialah puasa ramadhan yang dilakukan secara
tepat waktu artinya pada bulan Ramadhan secara ada dan demikian pula yang dikerjakan
secara qadha. Termasuk puasa fardhu lagi ialah puasa kifarat dan puasa yang dinazarkan.
Ketentuan ini telah disepakati menurut para imam-imam madzhab, meskipun sebagian ulama
hanafiyah berbeda pendapat dalam hal puasa yang dinazarkan. Mereka ini mengatakan bahwa
puasa nazar itu puasa wajib bukan puasa fardhu.
1. Puasa ramadhan dan dalil dasarnya
Puasa ramadhan adalah fardhu ain bagi setiap orang mukllaf yang mampu berpuasa. Puasa
ramdhan tersebut mulai diwajibkan pada tanggal 10 syaban satu setengah tahun setelah
hijrah. Tentang dalil dasarnya yang menyatakan kewajiban puasa ramadhan ialah Al-quran,
hadits dan ijma. Dalil dari Al-quran iala firma Allah swt :

)
Artinya : (bulan yang diwajibkan berpuasa didalamnya) ialah bu;lan ramdhan, yang
didlamanya diturunkan (permulaan) Al-quran.(Al-baqarah 185)

Yang kedua ialah puasa sunnah (mandub)


Puasa sunnah ialah puasa yang apabila kita kerjakan mendapat pahala, dan apabila kita
tinggalkan atau tidak kita kita kerjakan tidak berdosa.
Berikut contoh-contoh puasa sunnat:

Puasa hari Tasua asyura hari-hari putih dan sebagainya

Puasa sunnah diantaranya ialah berpuasa pada bulan Muharram. Yang lebih utama adalah
tanggal ke 9 dan ke 10 bulan tersebut.

Puasa hari arafah

Disunnahkan berpuasa pada tanggal 9 dari bulan Dzulhijjah, dan hari itu disebut hari arafah.
Disunnahkannya, pada hari itu bagi selain orang yang sedang melaksanakan ibadah haji.

Puasa hari senin dan kamis

Disunnahkan berpuasa pada hari senin dan kamis setiap minggu dan di dalam melakukan
puasa dua hari itu mengandung kebaikan pada tubuh. Hal demikian tak ada keraguan lagi.

Puasa 6 hari di bulan syawal

Disunnhakan berpuasa selama 6 hari dari bulan syawal secara mutlak dengan tanpa syaratsyarat

Puasa sehari dan berbuka sehari

Disunnahkan bagi oramg yang mampu agar berpuasa sehari dan tidak berpuasa sehari.
Diterangkan bahwa puasa semacam ini merupakan salah satu macam puasa sunnah yang
lebih utama.

Puasa bulan rajab, syaban dan bulan-bulan mulia yang lain.

Disunnahkan berpuasa pada bulan rajab dan syaban menurut kesepakatan tiga kalangan
imam-imam madzhab.
Adapun bulan-bulan mulia yaitu ada 4, dan yang tiga berturut-turut yakni: Dzulqadah,
dzulhijjah dan Muharram, dan yang satu sendiri yakni bulan Rajab, maka berpuasa pada
bulan-bulan tersebut memang disunnahkan .

Bila seseorang memulai berpuasa sunnah lalu membatalkannya

Menyempurnakan puasa sunnah setelah dimulai dan meng-qadha nya jika dibatalkan adalah
disunnahkan menurut ulama syafiiyyah dan hanafiyyah.

Yang Ketiga Ialah Puasa Makruh


Puasa hari jumat secara tersendiri, puasa awal tahun Qibthi, puasa hari perayaan besar yang
keduanya disendirikan tanpa ada puasa sebelumnya atau sesudahnya selama hal itu tidak
bertepatan dengan kebiasaan, maka puasa itu dimakruhkan menurut tiga kelompok imam
madzhab. Namun ulama madzhab syafiI mengatakan : tidak dimakruhkan berpuasa pada
kedua hari itu secara mutlaq.
Yang keempat ialah puasa haram
Maksudnya ialah seluruh ummat islam memang diharamkan puasa pada saat itu, jika kita
berpuasa maka kita akan mendapatkan dosa, dan jika kita tidak berpuasa maka sebaliknya
yaitu mendapatkan pahala. Allah telah menentukan hukum agama telah mengharamkan puasa
dalam beberapa keadaan, diantaranya ialah :
1. Puasa pada dua hari raya, yakni Hari Raya Fitrah (Idul Fitri) dan hari raya kurban
(idul adha)
2. Tiga hari setelah hari raya kurban. Banyak ulama berbeda pendapat tentang hal
ini(fiqih empat madzhab hal 385)
3. Puasa seorang wanita tanpa izin suaminya dengan melakukan puasa sunnat, atau
dengan tanpa kerelaan sang suami bila ia tidak memberikan izin secara terangterangan. Kecuali jika sang suami memang tidak memerlukan istrinya, misalnya
suami sedang pergi, atau sedang ihram, atau sedang beritikaf.

C.

Syarat Wajib Puasa

Beragama Islam

Baligh (telah mencapai umur dewasa)

Berakal

Mumayyiz

Berupaya untuk mengerjakannya.

Sehat

Tidak musafir

D. Syarat Sah Puasa

Beragama Islam

Berakal

Tidak dalam haid, nifas dan wiladah (melahirkan anak) bagi kaum wanita

Hari yang sah berpuasa.

E.

Rukun-rukun puasa

1. Niat mengerjakan puasa pada tiap-tiap malam di bulan Ramadhan(puasa wajib) atau
hari yang hendak berpuasa (puasa sunat). Waktu berniat adalah mulai daripada
terbenamnya matahari sehingga terbit fajar. Meninggalkan sesuatu yang membatalkan
puasa mulai terbit fajar sehingga masuk matahari.

F.

Hal-hal yang membatalkan puasa dan


mengurangi nilai puasa

Beberapa hal yang membatalkan dan mengurangi nilai puasa:


1. Makan
Ayat yang menjelaskan tentang batalnya puasa karena makan adalah Surah Al-baqarah ayat
187.
Artinya : dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri
kamu, mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah
mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni
kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang
telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlam hingga terang bagimu benang putih
dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai(datang) malam.
1. Minum
2. Hubungan seksual
Sama seperti surat diatas tapi yang membedakan adalah konsekuensi hukumnya yang lebih
berat yaitu bagi suami istri yamg vberhubungan sex saat puasa Ramadhan maka ia harus
membebaskan budak jika punya, atau jika tidak punya, berpuasalah selama 2 bulan berturutturut, atau jika tidak mampu, memberi makan fakir miskin 60 orang, dan mengganti
puasanya. Adapun jika bermimpi di siang hari atau bangun kesiangan padahal dia lupa mandi
zunub maka hal itu tidak membatalkan puasa.
1. Muntah dengan sengaja
Hadist yang menjelaskan tentang muntah yang disengaja yang artinya : Barang siapa yang
muntah maka tidak ada kewajiban mengganti terhadapnya. Namun barang siapa muntah

denjgan sengaja maka hendaklah ia menggantinya. (HR. Tirmidzi, abu daud, ibn mazah, dari
abu hurairah)
1. Keluar darah haidh dan nifas sebagai konsekwensi dari syarat syahnya puasa.
2. Gila saat sedang puasa
Sedangkan hal yang mengurangi nilai puasa adalah mengerjakan hal-hal yang memang
dibenci oleh Allah swt, seperti bertengkar berkata jorok, berperilaku curang, atau berbuat
sesuatu yang tidak ada manfaatnya dan semacamnya.
Intinya, bila seluruh panca indera dan anggota badannya tidak ikut dipuasakan terhadap halhal yang memang dibenci bahkan dilarang oleh allah swt maka dapat mengurangi bahkan
menghilangkan bobot puasanya, sehingga dia termasuk orang yang merugi.

G. Adab-adab berpuasa
1. Niat karena Allah swt semata.
Niat ini cukup dalam hati tanpa diucapkan. Akan tetapi banyak ulama yang berbeda pendapat
tentang hal ini. Yang pertama ialah menurut imam hanbali, menurut beliau niat cukup pada
awal puasa saja untuk satu bulan penuh. Kedua, ialah menurut imam Maliki yang
mengatakan niat bisa dimulai ketika awal ramadhan sekaligus. Yang terakhir yaitu menurut
imam Syafii yang mengatakan bahwa niat dilakukan setiap malam atau bertepatan dengan
terbitnya fajar shadiq. Bahkan jika semisal ada seseorang yang berniat puasa satu tahun yang
lalu itupun sebenarnya sudah bisa dikatakan niat.
Berbeda halnya dengan puasa wajib, untuk puasa sunat kebanyakan ulama membolehkan
berniat puasa pada siang hari, sebagaimana riwayat dari Aisyah bahwa Rosululloh saw
pernah datang kepadanya dan bertanya apakah kamu punya sesuatu (maksudnya makanan?)
jawab aisyah tidak! Kata Nabi saw kalau begitu saya puasa saja. Dan dari riwayat
tersebut dapat disimpulkanb bahwa niat puasa sunat bisa dilakukan pada siang hari.
1. Makan sahur
Nabi saw bersabda yang artinya sahurlah kalian, karena pada sahur itu terdapat berkah
(HR. Jamaah kecuali abu Daud, dari Anas ra). Dari riwayat tersebut sudahlah jelas bahwa
sahur pada saat akan berbuasa sangatlah dianjurkan.
Sedangkan waktu makan sahur yang disunatkan dan yang paling baik menurut Nabi saw
yaitu diakhir malam.
1. Menjahui hal-hal yang dapat membatalkan puasa atau mengurangi nilai puasa.
Selain yang telah disebutkan di atas berkumur secara berlebihan saat berwudu juga termasuk
salah satu hal yang bisa mengurangi nilai puasa. Seperti sabda Nabi saw yang artinya
sempurnakanlah dalam berwudhu, sela-selailah diantara jari-jemarimu dan smpikanlah (ke
dalam-dalam) dalam berkumur, kecualai kamu berpuasa. ( HR. Imam yang lima, dari Laqith
bin Shabirah).

1. Berbuka puasa dengan segera.


Bila waktu berbuka sudah tiba, sangat dianjurkan untuk menygerakannya. Hal ini karena
Nabi saw bersabda yang artinaya: manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka
menyegerakan berbuka. Segerakanlah berbuka karena orang Yahudi mengakhirkannya.

H.

Halangan puasa

Beberapa uzur (halangan) yang membolehkan berbuka(tidak berpuasa)


1. Sakit dan menderita kepayahan yang sangat
Beberapa uzur atau halangan yang membolehkan orang yang berpuasa, berbuka atau
membatalkan puasanya diantaranya ialah sakit. Apabila orang yang berpuasa jatuh sakit dan
ia merasa khawatir bertambah sakit jika berpuasa atau ia khawatir terlambat kesembuhannya,
atau ia malah menderita kepayahan yang sangat jika berpuasa maka ia diperbolehkan
berbuka.
1. Khawatirnya wanita hamil dan wanita menyusui terhadap bahaya bila berpuasa.
Apabila wanita hamil dan wanita menyusui merasa khawatir ditimpa bahaya akibat berpuasa
yang kelak akan menimpa pada diri mereka dan anak mereka sekaligus, atau pada dirinya
saja, atau pada anak mereka saja, maka mereka diperbolehkan tidak berpuasa(berbuka).
1. Berbuka sebab bepergian
Diperbolehkan berbuka(tidak berpuasa) bagi orang yang bepergian dengan syarat
bepergiannya itu dalam jarak yang jauh yang membolehkan shalat qashar, sesuai dengan
ketentuannya. Dan dengan syarat hendaknya ia telah mulai pergi sebelum terbit fajar, yaitu
sekiranya ia bisa sampai di tempat dimana ia memulai meng-qashar shalat sebelum terbit
fajar. Apabila keadaan pergi itu yang membolehlkan meng-qashar shalat, maka ia tidak boleh
berbuka.
1. Puasa wanita yang sedang haidh dan nifas
Apanila wanita yang sedang berpuasa datang bulan atau haidh, atau nifas, maka wajiblah
berbuka dan haramlah baginya berpuassa. Jikalau ia memaksakan diri berpuasa, maka
puasanya adalah batal dan dalam hal ini ia berkewajiban meng-qadha.
1. Orang yang ditimpa kelaparan atau kehausan yang sangat.
Adapun kelaparan dan kedahagaan yang sangat yang dengan kedua-duanya itu seorang
seseorang tidak kuat berpuasa, maka bagi orang yang tertimpa hal seperti itu boleh berbuka
dan ia berkewajiban meng-qadha.
1. Orang yang sudah lanjut usia

Orang yang telah berusia lanjut, yang tidak kuat melakukan puasa pada seluruh masa dalam
setahun, ia boleh berbuka, artinya ia boleh tidak berpuasa Ramadhan, tetapi ia berkewajiban
membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin.
Orang yang sudah lanjut usia tidak berkewajiban meng-qadha. Sebab sudah tidak mampu
melakukan puasa.
1. Orang yang ditimpa penyakit gila disaat berpuasa.
Apabila orang yang berpuasa ditimpa penyakit gila, meskipun hanya sekejap mata, maka ia
tidak berkewajiban berpuasa dan puasanya tidak sah. Kewajiban atas meng-qadaha puasanya
itu dijelaskan oleh imam syafiI sebagai berikut: bila ia sengaja dengan penyakit gilanya
misalnya di malam harinya secara sengaja memakan sesuatu benda yang pagi harinya bisa
menghilangkan akalnya, maka ia berkewajiban meng-qadha hari-hari dimana ia gila. Tetapi
kalau ia tidak bersengaja gila, maka ia tidak berkewajiban meng-qadha.

I.

Hal-hal yang disunnahkan dalam


berpuasa

Disunnahkan bagi orang yang berpuasa itu beberapa hal, yaitu:


1. Bersegera untuk berbuka setelah nyata-nyata matahari terbenam. Dan berbuka itu
dilakukan sebelum shalat. Dan disunnahkan berbuka itu dengan kurma basah, atau
kurma kering, atau manisan atau air. Hendaknya yang dibuat berbuka itu ganjil, yaitu
tiga atau lebih.
2. Berdoa setelah berbuka dengan doa yang telah diajarkan oleh Nabi SAW.
3. Makan sahur dengan sesuatu makanan walaupun sedikit. Meskipun hanya seteguk air.
Seperti sabda Nabi SAW yang menjelaskan tentang makan sahur itu adalah berkah.
4. Mencegah lisan dari omongan yang tidak berfaidah. Sedangkan mencegah lisan dari
hal yang haram seperti menggunjing (ghibah) dan adu domba, maka hal itu adalah
wajib setiap saat, dan hal itu lebih dikukuhkan pada bulan Ramadhan.
5. Memperbanyak sedekah dan berbuat baik kepada sanak saudara, kaum fakir dan
miskin.
6. Menyibukkan diri dalam menunutut ilmu, membaca Al-Quran, berzikir, membaca
shalawat atas Nabi SAW. Bilamana ada kesempatan untuknya baik siang hari maupun
malamnya.
7. Beritikaf.

J.

Meng-qadha puasa Ramadhan

Barang siapa berkewajiban meng-qadha puasa Ramadhan karena membatalkannya secara


sengaja, atau karena suatu sebab dari beberapa sebab terdahulu, maka ia berkewajiban mengqadha sebagai pengganti hari-hari yang ia batalkan dan ia qadha pada masa yang
diperbolehkan melakukan puasa sunnah. Jadi tidak dianggap mencukupi meng-qadha puasa
Ramadhan pada hari-hari yang dilarang berpuasa padanya. Seperti hari raya, baik idul fitri
maupun idul adha. Juga tidak dianggap mencukupi pada hari-hari yang memang ditentukan
untuk berpuasa fardhu, seperti bulan ramadhan yang sedang tiba waktunya, hari-hari nazar
yang ditentukan, misalnya ia bernazar akan berpuasa sepuluh hari diawal bulan bulan
Dzulqodah. Jadi meng-qadha puasa ramadhan pada hari-hari itu tidak bisa dinilai
mencukupi. Sebab telah ditentukan untuk nazar. Demikianlah menurut kalangan ulama
Malikiyah dan Syafiiyyah.
Begitu juga tidak bisa mencukupi melakukan qadha pada bulan Ramadhan yang sedang tiba
saatnya. Sebab bulan tersebut ditentukan untuk menunaikan kewajiban puasa secara khusus.
Jadi tidak bisa untuk dibuat melakukan puasa selainnya. Melakukan puasa qadha dianggap
sah pada hari syak, karena pada hari itu melakukan puasa sunnah dianggap sah. Ketentuan
meng-qadha ialah dengan cara mengikuti jumlah puasa yang terluput(tertinggal), bukan
mengikuti hilal atau tanggal bulan. Jadi kalau seseorang meninggalkan puasa selama 30 hari
atau sebulan penuh, maka ia harus meng-qadha(berpuasa) selama 30 hari juga. Jika dalam
bulan yang ia puasa tersebut ada 29 hari, maka ia harus menambah 1 hari lagi.
Bagi yang mempunyai kewajiban meng-qadha puasa disunnahkan untuk segera meng-qadha
puasanya. Disunnahkan juga agar dilakukan secara berturut-turut dalam melakukannya. Dan
berkewajiban juga meng-qadha secara segera apabila Ramadhan yang selanjutnya akan
segera tiba. Barang siapa mengundur-undur qadha hingga bulan Ramadhan keduanya tiba
maka ia berkewajiban membayar fidyah sebagai tambahan atas kewajiban meng-qadha.
Yang dimaksud fidyah ialah memberi makanan orang miskin untuk setiap hari dari hari-hari
qadha. Ukurannya ialah sebagaimana yang diberikan kepada orang miskin dalam kifarat.

Cara mengeluarkan fidyah

Maksud Fidyah ialah satu cupak makanan asasi tempatan yang disedekahkan kepada fakir
miskin mewakilli satu hari yang tertinggal puasa Ramadhan padanya. Makanan asasi
masyarakat Malaysia adalah beras, maka wajib menyedekahkan secupak beras kepada fakir
miskin bagi mewakili sehari puasa. Ukuran secupak beras secara lebih kurang sebanyak
670gram. Contohnya sipulan telah meninggalkan puasanya sebanyak 5 hari, maka dia wajib
membayar Fidyahnya sebanyak 5 cupak beras kepada fakir miskin. Firman Allah yang
bermaksud :
(Puasa Yang Diwajibkan itu ialah beberapa hari Yang tertentu; maka sesiapa di antara
kamu Yang sakit, atau Dalam musafir, (bolehlah ia berbuka), kemudian wajiblah ia berpuasa
sebanyak (hari Yang dibuka) itu pada hari-hari Yang lain; dan wajib atas orang-orang Yang
tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar Fidyah Iaitu memberi makan
orang miskin. maka sesiapa Yang Dengan sukarela memberikan (bayaran Fidyah) lebih dari
Yang ditentukan itu, maka itu adalah suatu kebaikan baginya; dan (Walaupun demikian)
berpuasa itu lebih baik bagi kamu daripada memberi Fidyah), kalau kamu mengetahui. (AlBaqarah : 184)
Fidyah dikenakan kepada orang yang tidak mampu berpuasa dan memang tidak boleh
berpuasa lagi. Maka dengan itu Islam telah memberikan keringanan (rukshoh) kepada mereka

yang tidak boleh berpuasa dengan cara membayar Fidyah yaitu memberikan secupak beras
kepada orang fakir miskin. Begitu juga kepada orang yang meninggalkan puasa dan tidak
menggantikan puasanya sehingga menjelang puasa Ramadhan kembali (setahun), maka
dengan itu mereka dikehendaki berpuasa dan juga wajib memberikan secupak beras kepada
fakir miskin. Begitu juga pada tahun seterusnya. Fidyah akan naik setiap tahun selagi mana
orang tersebut tidak menggantikan puasanya.

K.

Hikmah puasa

Puasa memiliki hikmah yang sangat besar terhadap manusia, baik terhadap individu maupun
social, terhadap ruhani maupun jasmani.
Terhadap ruhani, puasa juga berfungsi mendidik dan melatih manusia agar terbiasa
mengendalikan hawa nafsu yang ada dalam diri setiap individu. Puasa juga mampu melatih
kepekaan dan kepedulian social manusia dengan merasakan langsung rasa lapar yang sering
di derita oleh orang miskin dan di tuntunkan untuk membantu mereka dengan memperbanyak
shadaqah.
Sedangkan terhadap jasmani, puasa bisa mempertinggi kekuatan dan ketahanan jasmani kita,
karena pertama, umumnya penyakit bersumber dari makanan, dan kedua, sebenarnya Allah
SWT menciptakan makhluq-Nya termasuk manusia sudah ada kadarnya. Allah memberikan
kelebihan demikian pula keterbatasan pada manusia, termasuk keterbatasan pada soal kadar
makan-minumnya.
Berikut ini hikmah yang kita dapatkan setelah berjuang seharian sacara umum:
1. Bulan Ramadhan bulan melatih diri untuk disiplin waktu. Dalam tiga puluh hari kita
dilatih disiplin bagai tentara, waktu bangun kita bangun, waktu makan kita makan,
waktu menahan kita sholat, waktu berbuka kita berbuka, waktu sholat tarawih, iktikaf,
baca quran kita lakukan sesuai waktunya. Bukankah itu disiplin waktu namanya? Ya
kita dilatih dengan sangat disiplin, kecuali orang tidak mau ikut latihan ini.
2. Bulan Ramadhan bulan yang menunjukkan pada manusia untuk seimbang dalam
hidup. Di bulan Ramadhan kita bersemangat untuk menambah amal-amal ibadah,
dan amal-amal sunat.
3. Bulan Ramadhan adalah bulan yang mengajarkan Manusia akan pentingnya arti
persaudaraan, dan silaturahmi.
4. Bulan Ramadhan mengajarkan agar peduli pada orang lain yang lemah.
5. Bulan Ramadhan mengajarkan akan adanya tujuan setiap perbuatan dalam kehidupan.
6. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita hidup ini harus selalu mempunyai nilai
ibadah. Setiap langkah kaki menuju masjid ibadah, menolong orang ibadah, berbuat
adil pada manusia ibadah, tersenyum pada saudara ibadah, membuang duri di jalan
ibadah, sampai tidurnya orang puasa ibadah, sehingga segala sesuatu dapat dijadikan
ibadah. Sehingga kita terbiasa hidup dalam ibadah. Artinya semua dapat bernilai
ibadah.

7. Bulan Ramadhan melatih diri kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan,
terutama yang mengandung dosa.
8. Bulan Ramadhan melatih kita untuk selalu tabah dalam berbagai halangan dan
rintangan.
9. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita akan arti hidup hemat dan sederhana.
10. Bulan Ramadhan mengajarkan pada kita akan pentingnya rasa syukur kita, atas
nikmat-nikmat yang diberikan pada kita.
Dan masih banyak lagi manfaat atau hikmah puasa yang lain baik di dalam bidang kesehatan
dan lain-lain.

BAB IV
Kesimpulan
Puasa adalah salah satu rukun islam, maka dari itu wajiblah bagi kita untuk melaksanakan
puasa dengan ikhlas tanpa paksaan dan mengharap imbalan dari orang lain. Jika kita berpuasa
dengan niat agar mendapat imbalan atau pujian dari orang lain, maka puasa kita tidak ada
artinya. Maksudnya ialah kita hanya mendapatkan rasa lapar dan haus dan tidak mendapat
pahala dari apa yang telah kita kerjakan. Puasa ini hukumnya wajib bagi seluruh ummat islam
sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kita. Sebagaimana firman Allah
swt yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa(Q.S AlBaqarah)
Berpuasalah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah dibuat oleh Allah swt. Allah telah
memberikan kita banyak kemudahan(keringanan) untuk mengerjakan ibadah puasa ini, jadi
jika kita berpuasa sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah kami sebutkan diatas, kita
sendiri akan merasakan betapa indahnya berpuasa dan betapa banyak faidah dan manfaat
yang kita dapatkan dari berpuasa ini.
Maka dari itu saudara-saudari kami sekalian, janganlah sesekali meninggalkan puasa, karena
puasa ini mempunyai banyak nilai ibadah. Mulai dari langkah, tidur dan apapun pekerjaan
orang yang berpuasa itu adalah ibadah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Puasa

Sebelum kita mengkaji lebih jauh meteri tentang puasa, terlebih dahulu kita akan
mempelajari pengertian puasa baik itu menurut bahasa arab maupun menurut istilah.
Pengertian puasa (Saum) menurut bahasa Arab artinya menahan dari segala sesuatu seperti
menahan makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya.
Sedangkan puasa menurut istilah ajaran islam yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang
membatalkannya, lamanya satu hari, mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari
dengan niat dan beberapa syrat. Firman Allah SWT :
Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. Al Baqarah . 183).

2.2

Macam-macam Puasa

2.2.1

Puasa wajib

Puasa wajib adalah puasa yang dilakukan untuk memenuhi kewajiban perintah allah SWT,
apabila ditinggalkan mendapat dosa.
Adapun macam-macam puasa adalah sebagai berikut:
1. Puasa di bulan Ramadhan
Puasa ramadhan adalah puasa yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan yang dilaksanakan
selama 29 atau 30 hari. Puasa dimulai pada terbit fajar himgga terbenam matahari. Puasa
ramadhan ini ditetapkan sejak tahun ke-2 H. Puasa ini hukumnya wajib, yaitu apabila
dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan akan mendapat dosa.
Bulan Ramadhan menurut pandangan orang-orang mukmin yang berfikir adalah merupakan
bulan peribadatan yang harus diamalkan dengan ikhlas kepada Allah SWT. Harus kita sadari

bahwa Allah Maha Mengetahui segala gerak-gerik manusia dan hati mereka .Dalam
pelaksanaannya, khusus puasa Ramadhan, kita akan menjumpai beberapa masalah yang
penting dipecahkan antara lain:
1. Cara penempatan waktu
Cara mengetahui puasa ini ada 2 macam yaitu: hisab dan rukyat. Kemajuan teknologi
beakangan ini dirasakan semakin mudahkan proses hisab dan rukiyah tersebut. Disiplin ilmu
astronomi dan kelengkapan teknologi semacam planetrium atau teleskop atau secara khusus
ilmu falaq yang berkembang di dunia Islam, semuanya mendukung vadilitas penetapan waktu
puasa.
Rukyat : adalah suatu cara untuk menetapkan awal awal bulan Ramadhan dengan cara
melihat dengan panca indera mata timbulnya / munculnya bulan sabit dan bila uadara
mendung atau cuaca buruk. Sehingga bulan tidak bisa dilihat maka hendaknya menggunakan
istikmal yaitu menyempurnakan bulan syaban menjadi 30 hari. Di Indonesia pelaksanaan
rukyat untuk penetapan puasa Ramadhan telah dikoordinasi oleh Departemen Agama
(DEPAG) RI.
Hisab : adalah suatu cara untuk menetapkan awal bulan Ramadhan dengan cara
menggunakan perhitungan secara atsronomi, sehingga dapat ditentukan secara eksak letak
bulan. Seperti cara rukyat yang telah dikoordinasikan oleh pemerintah, maka cara hisab pun
sama. Di Indonesia penetapan awal dan akhir bulan Ramadhan ini dengan cara yang manapun
memang telah diambil kewenangan koordinatifnya oleh pemerintah.
Adapun lembaga-lembaga keagamaan seperti Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah,
PERSIS, Jamiat al-Khair dan sebagainya berfungsi sebagai pemberi masukan hasil rukyat
dan hisabnya dalam rangka pengambilan ketetapan awal dan akhir Ramadhan oleh
pemerintah.

Firman Allah SWT surat Yunus ayat 5:


Artinya:Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui
bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu
melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang
yang Mengetahui.(QS. Yunus :5)
Sabda Nabi SAW
Artinya:Dari Abu Umar ra: bahwasanya Rasulullah SAW, menceritakan bulan Ramadhan
lalu memukul kedua tangannya lalu bersabda: Bulan adalah itu sekian dari sekian
bulan,kemudian beliau melengkungkan ibu jarinya pada perkataan yang ketiga kali (termasuk
menunjukkan bahwa bulan itu jumlahnya terdiri dari 29 hari), maka berpuasalah kamu karena
melihat bulan. Jika kamu sekalian tidak dapat memelihatnya karena tertutup awan /
mendukung, maka pastikanlah bilangan itu menjadi 30 hari.(HR. Muslim).
1. Puasa Nazar (karena berjanji untuk berpuasa)
Puasa nazar adalah orang yang bernazar puasa karena mengiginkan sesuatu, maka ia wajib
puasa setelah yang diinginkannya itu tercapai, dan apabila puasa nazar itu tidak
dilaksanakannya maka ia berdosa dan ia dikenakan denda / kifarat.
Misalnya bernazar untuk lulus keperguruan tinggi, maka ia wajib melaksanakan puasa nazar
tersebut apabila ia berhasil.Ibnu Majjah meriwayatkan, bahwa seorang wanita bertanya
kepada Nabi Muhammad SAW.
Artinya:Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia. Ia mempunyai nazar berpuasa sebelum
dapat memenuhinya. Rasulullah SAW menjawab: Walinya berpuasa untuk mewakilkannya.
2. Puasa Kifarat

Puasa kifarat adalah puasa untuk menembus dosa karena melakukan hubungan suami isteri
(bersetubuh) disiang hari pada bulan Ramadhan, maka denda (kifaratnya) berpuasa dua bulan
berturut-turut.

2.2.2 Puasa Sunnh

Puasa sunnah adalah puasa yang bila dikerjakan mendapat pahala dan apabila dikerjakan
tidak mendapat dosa. Adapun puasa sunnah adalah sebagai berikut:
1. Puasa enam hari pada bulan syawal
Disunnahkan bagi mereka yang telah menyelesaikan puasa Ramadhan untuk mengikutinya
dengan puasa enam hari pada bulan Syawal. Pelaksanaannya tidak mesti berurutan, boleh
kapan saja selama masih dalam bulan Syawal, karena puasa enam hari pada bulan Syawal ini
sama dengan puasa setahun lamanya. Akan tetapi diharamkan pada tanggal 1 syawal karena
ada chari raya Idul Fitri. Dalam sebuah hadits dikatakan yang artinya: Rasulullah saw
bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan
berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka sama dengan telah berpuasa selama satu tahun"
(HR. Muslim).
2.

Puasa Arafah

Orang yang tidak melaksanakan ibadah haji, disunnatkan untuk melaksanakan puasa pada
tanggal sembilan Dzulhijjah atau yang sering disebut dengan puasa Arafah. Disebut puasa
Arafah karena pada hari itu, jemaah haji sedang melakukan Wukuf di Padang Arafah.
Sedangkan untuk yang sedang melakukan ibadah Haji, sebaiknya tidak berpuasa. Nabi
Muhammad SEW bersabda:

Dari Abu Qotadah al-Anshory Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam pernah ditanya mengenai puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab: "Ia menghapus
dosa-dosa tahun lalu dan yang akan datang.: (Riwayat Muslim)
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang
untuk berpuasa hari raya arafah di Arafah. (Riwayat Imam Lima selain Tirmidzi. Hadits
shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Hakim. Hadits munkar menurut Al-'Uqaily.)
3.

Puasa Senin Kamis

Rasulullah saw bersabda yang Artinya dari Aisyah : Nabi Muhammad SAW memilih waktu
puasa hari senin kamis.
4.

Puasa pada bulan syaban

Dalam berbagai keterangan disebutkan bahwa Rasulullah saw berpuasa pada bulan Sya'ban
hampir semuanya. Beliau tidak berpuasa pada bulan tersebut kecuali sedikit sekali . Hal ini
sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini yang artinya: Siti Aisyah berkata: "Adalah
Rasulullah saw seringkali berpuasa, sehingga kami berkata: "Beliau tidak berbuka". Dan
apabila beliau berbuka, kami berkata: "Sehingga ia tidak berpuasa". Saya tidak pernah
melihat Rasulullah saw berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Dan saya
juga tidak pernah melihat beliau melakukan puasa sebanyak mungkin kecuali pada bulan
Sya'ban" (HR. Bukhari dan Muslim).
5.

Puasa As-Syura

Puasa ini dikerjakan pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram. Hadist Rasulullah Saw
yang berbunyi: "Rasulullah saw bersabda: "Puasa Asyura itu (puasa tanggal sepuluh
Muharram), dihitung oleh Allah dapat menghapus setahun dosa yang telah lalu" (HR.
Muslim). Demikian juga sunnah hukumnya melakukan puasa pada tanggal sembilan
Muharram. Hadist Rasulullah: Ibn Abbas berkata: "Ketika Rasulullah saw berpuasa pada hari

Asyura', dan beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari tersebut, para sahabat berkata:
"Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura itu hari yang dimuliakan oleh orang Yahudi dan
Nashrani". Rasulullah saw menjawab: "Jika tahun depan, insya Allah saya masih ada umur,
kita berpuasa bersama pada tanggal sembilan Muharramnya". Ibn Abbas berkata: "Belum
juga sampai ke tahun berikutnya, Rasulullah saw keburu meninggal terlebih dahulu" (HR.
Muslim).

2.2.3 Puasa Makruh

1. Berpuasa pada hari jumat


Berpuasa hanya pada hari Jum'at saja termasuk puasa yang makruh hukumnya, kecuali
apabila ia berpuasa sebelum atau setelahnya, atau ia berpuasa Daud lalu jatuh pas hari Jumat,
atau juga pas puasa Sunnat seperti tanggal sembilan Dzuhijjah itu, jatuhnya pada hari Jum'at.
Untuk yang disebutkan di akhir ini, puasa boleh dilakukan, karena bukan dengan sengaja
hanya berpuasa pada hari Jum'at.
Dalil larangan hanya berpuasa pada hari Jum'at saja adalah: Artinya: Rasulullah saw
bersabda: "Seseorang tidak boleh berpuasa hanya pada hari Jum'at, kecuali ia berpuasa
sebelum atau sesudahnya" (HR. Bukhari Muslim).
2.

Puasa setahun penuh (puasa dahr)

Puasa dahr adalah puasa yang dilakukan setahun penuh. Meskipun orang tersebut kuat untuk
melakukannya, namun para ulama memakruhkan puasa seperti itu. Hal ini sebagaimana
disebutkan dalam hadits berikut ini: Artinya: Umar bertanya: "Ya Rasulallah, bagaimana
dengan orang yang berpuasa satu tahun penuh?" Rasulullah saw menjawab: "Ia dipandang
tidak berpuasa juga tidak berbuka" (HR. Muslim).

3.

Puasa Wishal

Puasa wishal adalah puasa yang tidak memakai sahur juga tidak ada bukanya, misalnya ia
puasa satu hari satu malam, atau tiga hari tiga malam. Puasa ini diperbolehkan untuk
Rasulullah saw dan Rasulullah saw biasa melakukannya, namun dimakruhkan untuk
ummatnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:Artinya: Rasulullah saw bersabda: "Janganlah
kalian berpuasa wishal" beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Para sahabat bertanya:
"Ya Rasulullah, anda sendiri melakukan puasa wishal?" Rasulullah saw bersabda kembali:
"Kalian tidak seperti saya. Kalau saya tidur, Allah memberi saya makan dan minum. Oleh
karena itu, perbanyaklah dan giatlah bekerja sekemampuan kalian" (HR. Bukhari Muslim).

2.2.4 Puasa Haram

Maksudnya ialah seluruh umat islam memang diharamkan puasa pada saat itu, jika kita
berpuasa maka kita akan mendapatkan dosa, dan jika kita tidak berpuasa maka sebaliknya
yaitu mendapatkan pahala. Allah telah menentukan hukum agama telah mengharamkan puasa
dalam beberapa keadaan, diantaranya ialah :
1. Puasa pada tanggal 1 syawal dan 10 Dzulhijjah
Artinya: "Rasulullah saw melarang puasa pada dua hari: Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha"
(HR.Bukhari Muslim).
2. Puasa Hari Tasyrik tanggal 11, 12, 13 bulan Dzulhijjah
Para ulama juga telah sepakat bahwa puasa pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13
Dzulhijjah) diharamkan. Hanya saja, bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji dan
tidak mendapatkan hadyu (hewan sembelihan untuk membayar dam), diperbolehkan untuk
berpuasa pada ketiga hari tasyrik tersebut. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits

berikut ini: Artinya: Siti Aisyah dan Ibn Umar berkata: "Tidak diperbolehkan berpuasa pada
hari-hari Tasyrik, kecuali bagi yang tidak mendapatkan hadyu (hewan sembelihan)" (HR.
Bukhari).
3. Puasa pada hari yang diragukan (hari syak/hari ragu)
Apabila seseorang melakukan puasa sebelum bulan Ramadhan satu atau dua hari dengan
maksud untuk hati-hati takut Ramadhan terjadi pada hari itu, maka puasa demikian disebut
dengan puasa ragu-ragu dan para ulama sepakat bahwa hukumnya haram.
Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw:Artinya: Rasulullah saw bersabda:
"Seseorang tidak boleh mendahului Ramadhan dengan jalan berpuasa satu atau dua hari
kecuali bagi seseorang yang sudah biasa berpuasa, maka ia boleh berpuasa pada hari terebut"
(HR. Bukhari Muslim).

2.3

Syarat-syarat puasa

Syarat Wajib Puasa :


1. Beragama islam
2. Baligh dan berakal
3. Suci dari haidh dan nifas (ini tertentu bagi wanita)
4. Kuasa (ada kekuatan). Kuasa disini artinya tidak sakit dan bukan yang sudah tua

2.4

Rukun Puasa

Rukun puasa ada tiga, dua diantaranya telah disepakati, yaitu waktu dan menahan diri
(imsak) dari perkara yang membatalkan, sedangkan rukun satu lainnya masih diperselisihkan
yaitu niat.
1.

Waktu

Waktu dibagi menjadi dua, yaitu waktu wajibnya puasa yakni bulan Ramadhan, dan Waktu
menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa yaitu waktu-waktu siang hari
bulan ramadhan. Bukan waktu-waktu malamnya.
2.

Menahan diri dari perkara yang membatalkan

Meninggalkan segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar shidiq hingga terbenam
matahari.
-

Hal-Hal yang membatalkan puasa

1.

Memasukkan sesuatu kedalam lubang rongga badan dengan sengaja.

2.

Muntah dengan sengaja.

3.

Haid dan Nifas.

4.

Jima pada siang hari dengan sengaja.

5.

Gila walau sebentar.

6.

Mabuk atau pinsan sepanjang hari.

7.

Murtad.

Disamping itu, ada keringanan yang diberikan oleh islam kepada umat muslim untuk tidak
berpuasa, yakni mencakup dua golongan :
-

Beleh meninggalkan puasa tetapi wajib mengqadha

Yang termasuk dalam golongan ini yaitu :

a. Orang yang sedang sakit dan sakitnya akan memberikan mudharat baginya apabila
mengerjakan puasa.
b. Orang yang berpergian jauh atau musafir sediktnya sejauh 81 KM.
c. Orang yang hamil dan di khawatirkan akan mudharat baginya dan kandungannya.
d. Orang yang sedang menyusui anak yang dapat mengkhawatirkan/memudharatkan baginya
dan anaknya.
e. Orang yang sedang haid, melahirkan atau nifas.
f. Orang-orang yang tidak wajib qadha namun wajib membayar fidyah
g. Orang yang sakit dan tidak ada harapan untuk sembuh.
h. Orang yang lemah karna sudah tua.
Yaitu memberi makanan kepada fakir miskin sebanyak hari yang telah di tinggalkan
puasanya, satu hari satu mud (576 Gram) berupa makanan pokok.
3.

Niat

Niat, yaitu menyengaja puasa ramadhan setelah terbenam matahari hingga sebelum fajar
shadiq. Artinya pada malam harinya dalam hati telah tergetar (berniat) bahwa besok harinya
akan mengerjakan puasa ramadhan.

2.5

Sunat puasa dan puasa sunat

Sunat puasa :
1.

Makan sahur meski sedikit.

2.

Mengakhirkan makan sahur.

3.

Menyegerakan berbuka.

4.

Membaca doa ketika berbuka puasa.

5.

Menjauhi dari ucapan yang tidak senonoh.

6.

Memperbanyak amal kebajikan.

7.

Memperbanyak Itikaf di masjid.

Puasa Sunat :
Puasa sunnat (nafal) adalah puasa yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan
apabila tidak dikerjakan tidak berdosa. Adapun puasa sunnat itu antara lain :
1.

Puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah/ selain mereka yang berhaji)

2.

Puasa 6 hari dalam bulan syawal

3.

Puasa tanggal 13,14, dan 15 pada tiap-tiap bulan Qamariah

4.

Puasa hari senin dan kamis

5.

Puasa pada bulan Dzulhijjah, Dzulqaidah, Rajab, Syaban dan 10 Muharram

6.

puasa nabi Daud As.

2.6

Hari-hari yang di haramkan berpuasa

1. Hari raya Idul Fitri yaitu satu syawal dan Hari Raya Idul Adha yaitu 10 dzulhijjah.
Dari Abu Said Al-Khudry bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang shaum
pada dua hari, yakni hari raya Fithri dan hari raya Kurban. Muttafaq Alaihi
2. Berpuasa pada hari-hari tasyriq yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Dari Nubaitsah al-Hudzaliy Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa


Sallam bersabda: "Hari-hari tasyriq adalah hari-hari untuk makan dan minum serta
berdzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla." Riwayat Muslim.

2.7

1.

Hari-hari yang di makruhkan berpuasa

Hari jumat, kecuali telah berpuasa sejak hari sebelumnya.

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: "Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu shaum pada hari Jum'at, kecuali
ia shaum sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya." Muttafaq Alaihi.

2.8

Ketetapan Hilal

Hilal ramadhan ditetapkan dengan caracara sebagai berikut:


a.

Penglihatan Mata (Rukyah)

Yaitu cara menetapkan awal bulan qomariah dengan jalan melihat atau menyaksikan dengan
mata lahir munculnya bulan sabit (hilal) beberapa derajat di ufuk barat.
Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Apabila engkau sekalian melihatnya (bulan) shaumlah, dan apabila
engkau sekalian melihatnya (bulan) berbukalah, dan jika awan menutupi kalian maka
perkirakanlah." Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Muslim: "Jika awan menutupi kalian
maka perkirakanlah tiga puluh hari." Menurut riwayat Bukhari: "Maka sempurnakanlah
hitungannya menjadi tigapuluh hari.
b.

Syiya (Ketenaran)

Yang dimaksud dengan syiya adalah hilal dapat ditetapkan dengannya , bukanlah
berpuasanya sekelompok orang atau penduduk suatu tempat berdasarkan pada keputusan
seseorang yang baik bahwa besok masih ramadhan, atau tidak berpuasanya mereka itu
berdasarkan ketentuan itu bahwa besok sudah syawal. Tetapi syiya adalah hendaknya hilal
dilihat oleh umum, bukan satu orang saja.
c.

Menyempurnakan Bilangan

Diantara cara menetapkan hilal, ialah menyempurnakan bilangan. Bulan Qamariyah


manapun, apabila awal harinya telah diketahui maka dia akan habis dengan berlalunya 30
hari. Hari berikutnya berarti sudah masuk bulan berikutnya, sebab jumlah hari bulan
Qamariyah tidak akan lebih dari 30 dan tidak kurang dari 29 hari. Jika awal Syaban telah
diketahui maka hari ke-31 nya pasti sudah masuk satu ramadhan . Demikian pula jika telah
kita ketahui awal ramadhan maka hari ke-31 nya bisa kita pastikan sebagai tanggal 1 syawal.
d.

Bayyinah Syariyyah(Bukti Syari)

Hilal bisa juga dipastikan dengan kesaksian dua orang lelaki yang adil (inilah yang disebut
bayyinah syariyyah), dan juga kesaksian para perempuan yang terpisah dengan lelaki
ataupun bergabung dengan mereka. Siapa saja yang yakin akan keadilan dua orang saksi
tersebut maka ia harus mengamalkannya.

2.9

Hikmah Puasa

Adapun hikmah dari berpuasa yaitu :


1.

Bertakwa dan menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala, takwa adalah

meninggalkan keharaman, istilah itu secara mutlak mengandung makna mengerjakan


perintah, meninggalkan larangan , Firman Allah SWT: Artinya: Hai orang-orang yang

beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa(QS. Al-Baqarah: 183).
2.

Puasa adalah serupa dengan revolusi jiwa untuk merombak cara dan kebiasaan yang

diinginkan oleh manusia itu, sehingga mereka berbakti pada keinginannya dan nafasnya itu
berkuasa padanya.
3.

Puasa menunjukkan pentingnya seseorang merasakan pedihnya laparmaupun tidak

dibolehkan mengerjakan sesuatu. Sehingga tertimpa pada dirinya dengan suatu kemiskinan
atau hajatnya tidak terlaksana. Dengan sendirinya lalu bisa merasakan keadaan orang lain,
bahkan berusaha untuk membantu mereka yang berkepentingan dalam hidup ini.
4.

Puasa dapat menyehatkan tubuh kita, manfaat puasa bagi kesehatan adalah sebagai

berikut:
a.

Puasa membersihkan tubuh dari sisa metabolisme. Saat berpuasa tubuh akan

menggunakan zat-zat makanan yang tersimpan. Bagian pertama tubuh yang mengalami
perbaikan adalah jaringan yang sedang lemah atau sakit.
b. Melindungi tubuh dari penyakit gula. Kadar gula darah cenderung turun saat seseorang
berpuasa. Hal ini memberi kesempatan pada kelenjar pankreas untuk istirahat. SepertiAnda
ketahui, fungsi kelenjar ini adalah menghasilkan hormon insulin.
c.

Menyehatkan sistem pencernaan. Di waktu puasa, lambung dan sistem pencernaan akan

istirahat selama lebih kurang 12 sampai 14 jam, selama lebih kurang satu bulan. Jangka
waktu ini cukup mengurangi beban kerja lambung untuk memroses makanan yang bertumpuk
dan berlebihan.Puasa mengurangi berat badan berlebih. Puasa dapat menghilangkan lemak
dan kegemukan, secara ilmiah diketahui bahwa lapar tidak disebabkan oleh kekosongan
perut. Tetapi juga disebabkan oleh penurunan kadar gula dalam darah

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan

Menurut bahasa (etimologis) Shyam atau puasa berarti menahan diri dan menurut syara
(ajaran agama), puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkanya dari mulai terbit
fajar hingga terbenam matahari karena Allah SWT semata-mata dan disertai niat dan syarat
tertentu .
Adapun hikmah dari berpuasa yaitu :
a.

Menumbuhkan nilai-nilai persamaan selaku hamba Allah, karena sama-sama

memberikan rasa lapar dan haus serta ketentuan-ketentuan lainnya.


b.

Menumbuhkan rasa perikemanusian dan suka member, serta peduli terhadap orang-

orang yang tak mampu.


c.

Memperkokoh sikap tabah dalam menghadapi cobaan dan godaan, karna dalam

berpuasa harus meninggalkan godaan yang dapat membatalkan puasa.


d.

Menumbuhkan sikap amanah (dapat dipercaya), karna dapat mengetahui apakah

seseorang melakukan puasa atau tidak hanyalah dirinya sendiri.


e.

Menumbuhkan sikap bersahabat dan menghindari pertengkaran selama berpuasa

seseorang tidak diperbolehkan saling bertengkar.


f.

Menanamkam sikap jujur dan disiplin.

g.

Mendidik jiwa agar dapat menguasai diri dari hawa nafsu, sehingga mudah

menjalankan kebaikan dan meninggalkan keburukan.


h.

Meningkatkan rasa syukur atas nikmat dan karunia Allah.

i.

Menjaga kesehatan jasmani.