Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH KEBUDAYAAN MASYARAKAT KAMPUNG NAGA 2

BAB I
PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG

Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang
sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya, dalam hal ini adalah adat
Sunda. Seperti permukiman Badui, Kampung Naga menjadi objek kajian antropologi mengenai
kehidupan masyarakat pedesaan Sunda pada masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju
pengaruh Islam di Jawa Barat. Kampung Naga juga merupakan salah satu dari kampung yang
masih memegang tradisi dan adat istiadat leluhur, namun bisa hidup berdampingan dengan
kehidupan masyarakat lain yang lebih modern. Kampung Naga memang memiliki keunikan
tersendiri. Melihat dari dekat kehidupan sederhana dan bersahaja yang masih tetap lestari di
tengah peradaban modern.

B.

MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dan tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui kehidupan masyarakat di Kampung Naga.


2. Mengetahui corak kebudayaan, kepercayaan, hukum, politik, bahasa, perekonomian dan
kemasyarakatan di Kampung Naga.

C.

PERUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang di atas penulis bertolak dari merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana sistem kemasyarakatan di Kampung Naga ?


2. Bagaimana sistem kepercayaan ( religi ) yang di anut oleh masyarakat Kampung Naga ?
3. Seperti apa peralatan hidup masyarakat Kampung Naga ?
4. Bagaimana sistem perekonomian masyarakat Kampung Naga ?
5. Bagaimana sistem pendidikan masyarakat Kampung Naga ?
6. Bagaimana sistem hukum, politik, serta bahasa yang digunakan oleh masyarakat
Kampung Naga ?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Sejarah Kampung Naga
. Ternyata bentuk asli dari kampung tersebut sangat berbeda dengan namanya, dan gambaran kita
tentang hal-hal yang berbau naga, karena tak satupun naga yang berada di sana. Nama Kampung
Naga tu sendiri ternyata merupakan suatu singkatan kata dari Kampung diNa Gawir ( red.
bahasa sunda ) yang artinya adalah merupakan kampung yang berada di lembah yang subur.
Kampung Naga adalah sebuah kampung kecil, yang para penduduknya patuh dan menjaga
tradisi yang ada, hal inilah yang membuat kampung ini unik dan berbeda dengan yang lain. Tak
salah jika kampung ini menjadi salah satu warisan budaya Bangsa Indonesia yang patut
dilestarikan.
Nenek moyang Kampung Naga Sendiri konon adalah Eyang Singaparna yang makamnya sendiri
terletak di sebuah hutan di sebelah barat Kampung Naga. Yang membuat Kampung Naga ini unik
adalah karena penduduk ini seperti tidak terpengaruh dengan modernitas dan masih tetap
memegang teguh adat istiadat yang secara turun temurun. Kepatuhan warga Sanaga ( red. Warga
asli kampung Naga ) dalam mempertahankan upacara upacara adat, termasuk juga pola hidup
mereka yang tetap selaras dengan adapt leluhurnya seperti dalam hal religi da upacara, mata
pencaharian, pengetahuan, kesenian, bahasa dan tata cara leluhurnya.
Masyarakat Kampung Naga memilki tempat-tempat larangan yaitu : 2 hutan larangan, sebelah
Timur dan Barat, tempat ini tidak boleh dimasuki oleh seorangpun kecuali pada waktu upacara
atau berziarah. Ada satu buah bangunan yang dianggap keramat yaitu Bumi Ageung yaitu
tempat pelaksanaan rutinitas upacara adat, tempat ini tidak boleh dimasuki kecuali oleh Ketua
Adat atau Kuncen.

Hari yang diagungkan masyarakat Kampung Naga diantaranya hari Selasa, Rabu dan Sabtu.Pada
hari itu masyarakat dilarang untuk menceritakan asal usul atau sejarah mengenai Kampung Naga
dan pada bulan Syafar tidak boleh melaksanakan upacara adat atau berziarah. Dalam
pembangunan rumah-rumah diatur sedemikian rupa yaitu dengan membujur Timur Barat
menghadap ke Selatan, setiap rumah harus saling berhadapan untuk menjaga kerukunan antar
warga. Praktek pembangunannya pun mempunyai wawasan lingkungan yang futuristik, baik
secara fisik, sosial, ekonomi maupun budaya.
2. Letak Geografis
Kampung Naga secara administratife berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu,
Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya
yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang
subur, dengan batas wilayah, di sebelah barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena
di hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi
oleh sawah-sawah penduduk, dan di sebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang
bermata air dari Gunung Cikuray.
BAB III
PEMBAHASAN
A.

Peralatan Hidup Masyarakat Kampung Naga

Masyarakat Kampung Naga merupakan masyarakat yang masih menggunakan peralatan ataupun
perlengakpan hidup yang sederhana, non teknologi yang kesemua bahannya tersedia di alam.
Seperti untuk memasak, masyarakat Sanaga menggunakan tungku dengan bahan bakar
menggunakan kayu bakar dan untuk membajak sawah mereka tidak menggunkan traktor
melainkan menggunakan cangkul. Dan masih banyak hal lainnya, yang pasti masayarakat
Sanaga tidak menggunakan peralatan canggih berteknologi tinggi, dan kampung mereka pun
tidak ada listrik.
B.

Sistem Perekonomian Masyarakat Kampung Naga

Dalam sistem perekonomian kami fokuskan kepada mata pencaharian dimana mata pencaharian
warga Kampung Naga bermacam-macam mulai dari pokok yaitu bertani, menanam padi
sedangkan mata pencaharian sampingannya adalah membuat kerajinan, beternak dan berdagang.
1. C.

Sistem Kemasyarakatan

Kemasyarakatan di Kampung Naga masih sangat lekat dengan budaya gotong royong, hormat
menghormati, dan mengutamakan kepentingan golongan diatas kepentingan pribadi.
Lebih jauh menilik pola hidup dan kepemimpinan Kampung Naga, kita akan mendapatkan dua
pemimpin dengan tugasnya masing masing yaitu pemerintahan desa dan pemimpin adat atau
yang oleh masyarakat Kampung Naga disebut Kuncen. Peran keduanya saling bersinergi satu

sama lain untuk tujuan keharmonisan warga Sanaga. Sang Kuncen yang meski begitu berkuasa
dalam hal adapt istiadat jika berhubungan dengan system pemerintahan desa maka harus taat dan
patuh pada RT atau RW, begitupun sebaliknya RT atau RW haruslah taat pada sang Kuncen
apabila berurusan dengan adapt istiadat dan kehidupan rohani penduduk Kampung Naga.

Lembaga Pemerintahan

Sistem kemasyarakatan disini lebih terfokus kepada sistem atau lembaga-lembaga pemerintahan
yang ada di Kampung Naga. Ada dua lembaga yaitu :

Lembaga Pemerintahan

RT

RK / RW

Kudus ( Kepala Dusun )

Lembaga Adat

Kuncen dijabat oleh Bapak Ade Suherlin yang bertugas sebagai pemangku adat dan
memimpin upacara adat dalam berziarah.

Punduh dijabat oleh Bapak Mamun

Lebe dijabat oleh Bapak Ateng yang bertugas mengurusi jenazah dari awal sampai akhir
sesuai dengan syariat Islam.

1. D.

Sistem Bahasa

Dalam berkomunikasi warga Kampung Naga mayoritas menggunakan bahasa Sunda Asli, hanya
sebagian orang dalam arti yang duduk di pemerintahan. Adapula yang bisa berbahasa Indonesia
itupun hanya digunakan apabila bercakap cakap dengan wisatawan dari luar jawa barat.

1. E.

Sistem Pendidikan ( Ilmu Pengetahuan )

Tingkat Pendidikan masyarakat Kampung Naga mayoritas hanya mencapai jenjang pendidikan
sekolah dasar, tapi adapula yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi itupun
hanya minoritas. Kebanyakan pola pikirnya masih pendek sehingga mereka pikir bahwa buat apa
sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya pulang kampung juga. Dari anggapan tersebut orang tua
menganggap lebih baik belajar dari pengalaman dan dari alam atau kumpulan-kumpulan yang
biasa dilakukan di mesjid atau aula.

1. F.

Sistem Kepercayaan ( Religi )

Penduduk Kampung Naga Mengaku mayoritas adalah pemeluk agama islam, akan tetapi
sebagaimana masyarakat adat lainnya mereka juga sangat taat memegang adat-istiadat dan
kepercayaan nenek moyangnya.

Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan adat-istiadat warisan


nenek moyang berarti menghormati para leluhur atau karuhun. Segala sesuatu yang datangnya
bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya
dianggap sesuatu yang tabu. Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga
berarti melanggar adat, tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka
Masyarakat Sanaga pun masih mempercayai akan takhayul mengenai adannya makhluk gaib
yang mengisi tempat tempat tertentu yang dianggap angker.

Kepercayaan masyarakat Kampung Naga kepada mahluk halus masih dipegang kuat. Percaya
adanya jurig cai, yaitu mahluk halus yang menempati air atau sungai terutama bagian sungai
yang dalam (leuwi). Kemudian ririwa yaitu mahluk halus yang senang mengganggu atau
menakut-nakuti manusia pada malam hari, ada pula yang disebut kunti anak yaitu mahluk
halus yang berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, ia suka mengganggu wanita
yang sedang atau akan melahirkan. Sedangkan tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal
mahluk halus tersebut oleh masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau
sanget. Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna, Bumi ageung
dan masjid merupakan tempat yang dipandang suci bagi masyarakat Kampung Naga

Adapun upacara upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Sanaga yang bertepatan dengan
hari besar Islam yaitu :

Bulan Muharam untuk menyambut datangnya Tahun Baru Hijriah

Bulan Maulud untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW

Bulan Jumadil Akhir untuk memperingati pertengahan bulan Hijriah

Bulan Nisfu Syaban untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan

Bulan Syawal untuk menyambut datangnya Idul Fitri

Bulan Zulhijah untuk menyambut datangnya Idul Adha

1. G.

Kesenian

Di bidang kesenian masyarakat Kampung Naga mempunyai pantangan atau tabu mengadakan
pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga seperti wayang golek, dangdut, pencak silat,
dan kesenian yang lain yang mempergunakan waditra goong. Sedangkan kesenian yang
merupakan warisan leluhur masyarakat Kampung Naga adalah terbangan, angklung, beluk, dan
rengkong. Kesenian beluk kini sudah jarang dilakukan, sedangkan kesenian rengkong sudah
tidak dikenal lagi terutama oleh kalangan generasi muda. Namun bagi masyarakat Kampung
Naga yang hendak menonton kesenian wayang, pencak silat, dan sebagainya diperbolehkan
kesenian tersebut dipertunjukan di luar wilayah Kampung Naga.
Terdapat tiga pasangan kesenian di Kampung Naga diantaranya :

Terebang Gembrung yang dimainkan oleh dua orang sampai tidak terbatas biasanya ini
dilaksanakan pada waktu Takbiran Idul Fitri dan Idul Adha serta kemerdekaan RI. Alat
ini terbuat dari kayu.

Terebang Sejat, dimainkan oleh 6 orang dan dilaksanakan pada waktu upacara pernikahan
atau khitanan massal.

Angklung, dimainkan oleh 15 orang dan dilaksanakan pada waktu khitanan massal

1. H.

Sistem Bangunan /Arsitek

Bangunan-bangunan yang ada di Kampung Naga berbentuk segitiga semuanya beratap ijuk, dan
menghadap ke arah kiblat, terdapat kurang lebih 113 bangunan dalam area 1,5 ha yang terdiri

dari 110 rumah warga dan 1 tempat ibadah, selain itu juga terdapat balai pertemuan dan lumbung
padi (Leuit) dan Bumi Ageung yang kesemua bahan bangunannya menggunakan bilik-bilik,
kayu-kayu, dan lain-lain. Tidak menggunakan semen atau pasir. Semua bentuk, ukuran, alat dan
bahan bangunan semuanya sama hal ini menunjukkan adanya keseimbangan dan keselarasan
yang ada di daerah tersebut.

Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu.
Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah harus terbuat dari bambu
atau papan kayu. Rumah harus menghadap kesebelah utara atau ke sebelah selatan dengan
memanjang kearah Barat-Timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman
sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh
menggunakan tembok, walaupun mampu membuat rumah tembok atau gedung (gedong).
Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, misalnya kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah
tidak boleh mempunyai daun pintu di dua arah berlawanan. Karena menurut anggapan
masyarakat Kampung Naga, rizki yang masuk kedalam rumah melaui pintu depan tidak akan
keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang daun pintu, mereka selalu
menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis lurus.

1. I.

Sistem Politik

Dalam sistem politik di tekankan pada penyelesaian masalah di pimpin oleh ketua adat yaitu
dengan cara bermusyawarah untuk mufakat dimana hasi yang diperoleh adalah merupakan hasil
mufakat yang demokratis dan terbuka.

1. J.

Sistem Hukum

Seperti kebanyakan kampung adat lainnya, masyarakat Sanaga juga memiliki aturan hukum
sendiri yang tak tertulis namun masyarakat sangat patuh akan keberadaan aturan tersebut.
Kampung Naga memang memiliki Larangan namun tidak memiliki banyak aturan. Prinsip yang
mereka anut adalah Larangan, Wasiat dan Akibat.

Sistem hukum di kampung Naga hanya berlandaskan kepada kata pamali, yakni sesuatu
ketentuan yang telah di tentukan oleh nenek moyang Kampung Naga yang tidak boleh di

langgar. Sanksi untuk pelanggaran yang dilakukan tidaklah jelas, mungkin hanyalah berupa
teguran, karena masyarakat Sanaga memegang prinsip bahwa siapa yang melakukan pelanggaran
maka dia sendiri yang akan menerima akibatnya.

Tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh
khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas
kehidupannya.pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang
mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk
rumah, letak, arah rumah,pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.

BAB IV
PENUTUP

1. A.

KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa ternyata keberadaan Kampung Naga
selain menarik karena keunikan kebudayaan masyarakatnya, namun juga ternyata dapat menjadi
icon bagi masyarakat Kampung Naga Khususnya dan bagi masyarakat Jawa Barat umumnya
bahwa primitifitas atau adat istiadat asli peninggalan nenek moyang itu harusnya bisa menjadi
treadceneter dan suatu kebanggan bagi kita yang mewarisinya karena bisa menjadi daya tarik
bagi turis lokal maupun dari luar negri untuk di adikan bahan observasi.

1. B.

SARAN SARAN

Demikianlah penulisan makalah kami, apabila masih terdapat kesalahan atau kekurangan dalam
pembahasan makalah kami ini, terutamanya kami mohon maaf yang sebesar besarnya dan kami
juga harapkan teguran yang sehat sekiranya dapat membangun dalam perbaikan pembuatan
makalah kami ini.

Anda mungkin juga menyukai