Anda di halaman 1dari 44

Pertemuan Ke-3

TEORI KUANTUM
RADIASI ELEKTROMAGNETIK DAN
MATERI
FISIKA MODERN
Nurun Nayiroh, M.Si.

Sub-pokok bahasan
 Penemuan Foton, Kuantisasi dan Interaksinya
 Sifat Dualisme Gelombang-Partikel
 Mikroskop Elektron
 Model Awal dari Atom

Pendahuluan
 Dalam Fisika modern tidak memandang bahwa elektron, proton


-

dan neutron sebagai partikel, sedangkan radiasi EM, cahaya sinar x


dan sinar gamma dipandang sebagai gelombang
Abad ke-17 Newton mengemukakan teori korpuskular cahaya
terdiri dari partikel-partikel yang dipancarkan oleh suatu sumber,
sebaliknya teori gelombang dari Huygen cahaya terdiri dari
gelombang-gelombang
Eksperimen dan teori yang menunjang teori gelombang dari
Huygen:
Eksperimen Young gejala difraksi dan interferensi (teori
gelombang)
Persamaan-persamaan Maxwell tentang medan elektromagnetik
Percobaan Hertz membuktikan bahwa tenaga EM (cahaya)
mengalir secara kontinyu dan terdiri dari gelombang-gelombang

 Pada abad ke-20 terdapat beberapa kejadian yang tidak dapat


-

diterangkan dengan teori gelombang:


Spektrum radiasi dari benda hitam
Efek fotolistrik
Spektrum-spektrum dari sinar-x
Hamburan dari Compton
Spektrum-spektrum dari optika

RADIASI ELEKTROMAGNETIK-FOTON

Tinjauan Klasik

Radiasi Benda Hitam


 Benda hitam adalah benda ideal yang mampu menyerap

atau mengabsorbsi semua radiasi yang mengenainya,


serta tidak bergantung pada frekuensi radiasi tersebut.
 Bisa dikatakan benda hitam merupakan penyerap dan
pemancar yang sempurna.
 Benda hitam pada temperatur tertentu meradiasi energi
dengan laju lebih besar dari beanda lain.
 Model yang dapat digunakan untuk mengamati sifat
radiasi benda hitam adalah model rongga.

 Gambaran radiasi benda hitam:

Benda hitam dimodelkan sebagai suatu rongga dengan celah


bukaan yang sangat kecil. Jika ada radiasi yang masuk ke
dalam rongga melalui lubang, radiasi tersebut akan
dipantulkan berulang-ulang oleh dinding dalam rongga
hingga habis terserap terserap energinya. Tidak ada radiasi
yang terpantul memancar keluar lubang karena lubang sangat
kecil. Jadi, rongga berlubang kecil ini berkelakuan sebagai
bneda hitam karena dapat menyerap seluruh radiasi yang
diterimanya. Demikian pula jika rongga ini memancarkan
radiasi, tak ada radiasi yang kembali ke rongga. Dengan
demikian, rongga juga akan memancarkan seluruh energi
yang dikeluarkannya.

Hukum Stefan-Boltzman
 Energi radiasi setiap detik persatuan luas disebut intensitas radiasi (I)
 Joseph Stefan dan Ludwig Boltzman telah melakukan pengukuran laju

energi kalor radiasi yang dipancarkan oleh suatu benda, kemudian dikenal
dengan Hukum Stefan-Boltzman
I (T) = Q/t = e A T4
 Intensitas radiasi yang dipancarkan oleh benda hitam menurut hukum
Stefan-Boltzmann bergantung pada temperatur:
I (T) = T4
Keterangan :
P : daya radiasi (laju energi yang dipancarkan)
Q : energi kalor (J)
t : waktu (t)
: konstanta Stefan-Boltzman (5,67 10-8 W/m2 K2)
A : luas permukaan benda (m2)
T : suhu mutlak permukaan benda (K)

 EMISIVITAS (e) suatu benda menyatakan kemampuan benda

untuk memancarkan radiasi kalor, semakin besar emisivitas


maka semakin mudah benda tersebut memancarkan energi.
 Benda hitam sempurna memiliki emisivitas (e = 1) yaitu
benda yang dapat menyerap semua energi kalor yang datang
dan dapat memancarkan energi kalor dengan sempurna.
 Dengan demikian, intensitas radiasi termal benda yang
berbeda pada temperatur yang sama akan berbeda pula.

Hukum Pergeseran Wien


 Radiasi termal yang dipancarkan oleh suatu permukaan benda

merupakan gelombang EM
 Berdasarkan eksperimen, radiasi termal itu terdiri atas banyak
panjang gelombang. Intensitas radiasi besarnya berbeda-beda
untuk panjang gelombang yang berbeda.

Wilhelm Wien seorang fisikawan Jerman menemukan suatu hubungan


yang empiris sederhana antara panjang gelombang yang dipancarkan
untuk intensitas maksimum (m) dengan suhu mutlak (T) sebuah benda
yang dikenal sebagai Hukum PergeseranWien. W. Wien merumuskan bahwa
terjadi pergeseran maksima maks sesuai perumusan

Teori Rayleigh-Jeans
Reyleigh dan Jeans menggunakan pendekatan fisika klasik
untuk menjelaskan spektrum benda hitam, karena pada
masa itu fisika kuantum belum diketahui.
 Mereka meninjau radiasi dalam rongga bertemperatur T
yang dindingnya adalah pemantul sempurna sebagai
sederetan gelombang elektromagnetik berdiri


Rumus Rayleigh-Jeans

8f 2 kTdf
u ( f )df =
c3

Teori Klasik Radiasi Benda Hitam

Ada dua teori klasik yang mencoba menjelaskan spektrum radiasi


benda hitam yaitu teori Wien dan teori Rayleigh Jeans.
1. Teori Wien menyatakan hubungan antara intensitas radiasi dengan
panjang gelombang menggunakan analogi antara radiasi dalam
ruangan dan distribusi kelajuan molekul gas.
Secara matematis ditulis :
Ternyata persamaan tersebut hanya mampu menjelaskan radiasi
benda hitam untuk pendek, tetapi gagal untuk panjang.
2. Teori Rayleigh-Jeans menyatakan hubungan antara intensitas dan
panjang gelombang radiasi dengan menggunakan penurunan dari
teori klasik murni yang secara matematika dapat dituliskan :

Ternyata persamaan tersebut berhasil menjelaskan radiasi benda


hitam untuk yang panjang, tetapi gagal untuk yang pendek

 Ketidaksesuaian teori klasik ini disebut bencana ultraviolet.

Teori Planck (Teori Modern)


 Max planck (1900 M) mengemukakan perumusan intensitas spektrum

radiasi (disebut spektral radiasi R()) yaitu intensitas radiasi termal


sebagai fungsi pada temperatur tertentu sebagai berikut:
c adalah laju rambat cahaya
h = 6,626 x 10-34 Js (konstanta Planck)
k = 1,381 x 10-23 J/K (konstanta Boltzmann)
 Menurut Planck, atom-atom pada dinding rongga benda hitam
berkelakuan seperti osilator harmonik (OH). Gerak termal OH itu
memancarkan energi radiasi. Energi yang dapat dimiliki oleh OH tsb.
berfrekuensi f hanya nilai-nilai yang tertentu saja, yaitu bilangan bulat
dari hf (E = nhf, n=0,1,2...). OH itu tidak boleh mempunyai energi
selain harga-harga tertentu itu (energi OH terkuantisasi). Dengan
kuantisasi energi ini, perumusan Planck dapat menjelaskan eksperimen
sampai ke daerah yang kecil, tak ada lagi bnecana ultraviolet.

Kuantisasi dari Radiasi


 Semua atom terdiri dari kelipatan dari elektron, proton dan





neutron dimana semuanya masing-masing mempunyai massa yang


sama
Muatan dari suatu atom merupakan kelipatan bulat dari muatan
suatu elektron yang disebut muatan elementer
q = ne
dimana n=1, 2, 3,...
Fakta tersebut menyatakan bahwa muatan adalah terkuantisasi
Tenaga dari gelombang EM juga menunjukkan sifat kuantisasi.
Teori kuantum radiasi mula-mula diusulkan oleh Max-Planck
tahun 1901 (radiasi panas yang dipancarkan oleh benda hitam)
kemudian diperluas oleh Einsten tahun 1905 yang meliputi radiasi
yaitu sinar cahaya, sinar , dll.

Teori Kuantum Planck


 Suatu sistem fisika tersusun dari sejumlah besar dari partikel-

partikel yang berosilasi dengan frekuensi berbeda-beda yang


disebut osilator
 Bila partikel-partikel tadi bergetar dalam suatu arah dengan
frekuensi f, maka tenaga yang dimiliki adalah E=nhf ,
n=1,2,3....
dengan h = 6,626 x 10-34 Js (konstanta Planck), f=frekuensi
dan n=bilangan kuantum

 Max Planck menggunakan dasar teoritis untuk memperkuat rumus

empirisnya dengan membuat asumsi bahwa :


1. Energi radiasi yang dipancarkan oleh getaran molekul-molekul benda
bersifat diskret, yang besarnya :
Planck menemukan rumus dengan
menginterpolasikan rumus wein
dan rumus Rayleigh-Jeans dengan
mengasumsikan bahwa
terbentuknya radiasi benda hitam
adalah dalam paket-paket energi.

n : bilangan kuantum (n = 1, 2, 3, ...)


f : frekuensi getaran molekul
h : konstanta Planck (6,626 . 10-34 Js)
yang hanya mungkin berada pada salah satu keadaan yang disebut
keadaan-keadaan kuantum
2. Molekul-molekul menyerap atau memancarkan energi radiasi dalam
paket diskret yang disebut kuantum atau foton.
3. Bila energi yang dipancarkan atau diserap sebesar hf, maka radiasi itu
dikatakan terkuantisasi.

TEORI FOTON
 Interpretasi kuantum, radiasi elektromagnetik berbentuk bundel

energi deskrit mirip partikel yang disebut foton atau kuantum.


 Setiap foton memiliki energi yang hanya bergantung pada frekuensi:
E = hf =







hc

dengan h = 6,266 x 1034 J.s adalah konstanta Planc


Untuk menyatakan E dalam ev, maka : 1 ev = 1.60 x 10-19 joule
Ketika foton merambat dengan kelajuan cahaya, menurut teori
relativitas, foton tersebut harus memiliki massa diam = 0, sehingga
seluruh energinya = kinetik.
Jika muncul sebuah foton, maka dapat dikatakan foton tersebut
bergerak dengan kecepatan cahaya c.
Jika foton tersebut berhenti bergerak, maka foton tersebut akan
hilang, dan relasi energinya menjadi: E = pc

 Dapat ditentukan bahwa:

Momentum relativistik memenuhi relasi


p=

E hf h
=
=
c
c

Intensitas (I) = (energi sebuah foton) x jumlah foton


luas x waktu
 Untuk memudahkan perhitungan:
h = 4,136 x 10-15 eV.s
hc = 12,4 keV. oA
 Energi foton untuk massa diam (m = 0 )
E = nhf = nh c

 Foton tidak bermuatan

karena foton tidak bermuatan maka foton tidak dipengaruhi baik


oleh medan listrik maupun medan magnet.

DUALISME GELOMBANG PARTIKEL


SIFAT PARTIKEL DARI GELOMBANG
SIFAT GELOMBANG DARI PARTIKEL

Pengantar Dualisme Gelombang Partikel


 Teori fisika klasik yang menganggap cahaya sebagai gelombang

tidak dapat menerangkan spektrum radiasi benda hitam


 Max Planck untuk menjelaskan spektrum radiasi benda hitam
cahaya dianggap sebagai partikel yang terdiri dari pa ket-paket
energi yang disebut KUANTUM atau FOTON
 Teori Max Planck terbukti dengan adanya fenomena efek
fotolistrik dan efek Compton
 Sifat dualisme gelombang partikel lebih meyakinkan lagi ketika de
Broglie mengemukakan teorinya bahwa partikel yang bergerak
dapat memiliki sifat gelombang dengan panjang gelombang
tertentu.

SIFAT PARTIKEL DARI GELOMBANG


Efek Fotolistrik
Spektrum Sinar-X yang kontinyu
Efek Compton

EFEK FOTOLISTRIK
 Efek fotolistrik adalah peristiwa terlepasnya elektron-elektron dari

permukaan logam ketika logam tersebut disinari dengan cahaya (foton).


Elektron yang keluar dari permukaan logam tersebut disebut
fotoelektron

Vo
).

Ilustrasi Efek Fotolistrik


Di dalam tabung vakum terdapat lempeng metal/logam (katoda) dan kolektor
untuk muatan (-) (anoda). Cahaya (sinar monokromatis) dengan suatu frekuensi
tertentu menyinari permukaan logam yang disearahkan oleh celah melalui jendela
Quartz. Bila cahaya memiliki sinar energi yang cukup (E=hf), maka fotoelektron
akan dikeluarkan dari permukaan logam, fotoelektron akan ditarik oleh anoda
yang mempunyai potensial positif sebesar V terhadap katoda. Sehingga pada
rangkaian luar terjadi arus elektrik yang diukur dengan Ammeter A sebesar ip

Berdasarkan hasil pengamatan:


Intensitas cahaya tidak mempengaruhi pergerakan electron
Intensitas cahaya mempengaruhi jumlah elektron yang lepas
dari permukaan logam
Energi kinetik hanya bergantung pada panjang gelombang
cahaya atau frekuensinya.

Persamaan Fotolistrik dari Einstein


Einstein pada tahun 1905 menerangkan efek fotolistrik sbb:
 Bila suatu foton menumbuk pada permukaan dari logam, maka
foton tadi diserap dan tenaganya hf digunakan untuk:
 Membebaskan elektron dari ikatan logam dan mengeluarkan dari
permukaan logam. Energi tsb. Disebut fungsi usaha fotolistrik
(photoelectric Work Function).
 Dimiliki oleh fotoelektron sebagai energi kinetik Ek=mv2
(Persamaan fotolistrik Einstein)
Ek = hf hf 0
Energi minimal dari foton yang cukup untuk mengeluarkan
elektron dari logam adalah Wo = hf o , Ek=0
f0 = frekuensi ambang (frekuensi minimum yang dapat menyebabkan
pemancaran dari fotoelektron)
 Syarat frekuensi cahaya dapat memancarkan elektron adalah f > f0

 Pengusulan Einstein berarti bahwa tiga suku dalam persamaan di

atas dapat ditafsirkan sebagai berikut:


hf = isi energi dari masing-masing kuantum cahaya datang
Ek = enegi kinetik fotoelektron
hf0 = energi minimum yang diperlukan untuk melepaskan
sebuah elektron dari permukaan logam yang disinari.

Berdasarkan data-data eksperimen yang dilakukan oleh Richardson


dan Compton pada tahun 1912, emisi (pemancaran) dari
fotolistrik harus memenuhi hukum sbb:
1. Arus fotolistrik (yaitu jumlah elektron yang dipancarkan
perdetik) adalah berbanding lurus dengan intensitas sinar datang.
2. Untuk setiap permukaan logam yang fotosensitif, maka akan
terdapat suatu harga frekuensi yang minimal yang disebut
frekuensi ambang (fo), mulai dari harga fo pemancaran
fotoelektron dimulai.
3. Kecepatan maksimum dari fotoelektron yang dipancarkan
(Ek=mv2) berubah secara linear dengan frekuensi cahaya yang
datang tetapi tidak bergantung pada intensitas cahaya.

4.

Untuk suatu permukaan logam, terdapat potensial penghenti Vo


yang berbanding lurus dengan frekuensi dari sinar datang tapi
tidak bergantung pada intensitasnya.

Kegagalan teori gelombang dalam menerangkan sifat penting


efek fotolistrik antara lain:
 Jika intensitas cahaya diperbesar, maka energi kinetik elektron foton

harus bertambah. Faktanya energi kinetik maksimum elektron foton tidak


bergantung pada intensitas cahaya.
 Efek fotolistrik dapat terjadi pada setiap frekuensi asalkan
intensitasnya memenuhi, faktaya setiap permukaan membutuhkan frekuensi
minimum (frekuensi ambang = fo) untuk dapat menghasilkan elektron foto..
 Dibutuhkan rentang waktu yang cukup lama agar elektron berhasil
mengumpulkan energi untuk keluar dari permukaan logam. Nyatanya
hampir tanpa selang waktu (kurang dari 10-9 s) setelah penyinaran.
 Tidak dapat menjelaskan mengapa energi kinetik maksimum elektron
foton bertambah jika frekuensi cahaya diperbesar

SPEKTRUM SINAR-X YANG KONTINYU


 Pada umunya bila partikel-partikel bermuatan yang bergerak dengan

kecepatan tinggi diperlambat maka akan dipancarkan sinar x, proses


radiasi tersebut disebut Bremsstrahlung (radiasi yang diperlambat).
 Bila elektron-elektron dengan kecepatan tinggi mengenai suatu
permukaan logam sasaran, maka elektron akan mendekati inti sasaran,
akibat gaya tarik-menarik antara inti atom yang bermuatan (+) dan
elektron yang bermuatan (-), maka lintasan elektron akan terbelokkan,
ini berarti elektron mengalami percepatan atau perlambatan yang
menyebabkan suatu radiasi EM yang disebut sinar-x (=0,1-100 A0)
 Sinar-x mula-mula ditentukan oleh Wilhelm Rontgen pada tahun
1895.
 Prinsip kerja sinar-X merupakam kebalikan dari gejala efek fotolistrik.
Pada gejala fotolistrik katodanya ditumbuk oleh foton-foton sehingga
melepaskan electron. Sedangkan sinar-X anodanya ditumbuk electron,
sehingga memancarkan energi foton (sinar-X)

Peralatan untuk menghasilkan sinar-x

Gambar 2-6 merupakan diagram tabung sinar X. Dalam sebuah tabung


vakum dari sinar-x terdapat katoda dan anoda. Eleilamen dan dipercepat
menuju ke anoda oleh suatu potensial V, maka tenaga kinetis dari elektron
yang menumbuk anoda adalah:
Ek=eV
Dalam tumbukan elektron-elektron kehilangan 98% dari energi mereka
yang dipakai untuk menghasilkan panas. Kurang lebih 2% dari energi itu
digunakan untuk sinar-x

Sinar-X dapat terjadi melalui dua cara yaitu :


1). Sinar-X terjadi tanpa eksitasi elektron
Berkas electron yang berasal dari katode menumbuk atom logam
anoda dengan kecepatan tinggi. Sebagian besar elektron ini
masuk ke dalam logam, sehingga energi kinetiknya mungkin
berkurang, energi yang hilang berubah menjadi energi foton
(sinar-X)

hc
E k E k' = hf jika E k = 0 maka E k = hf =

Karena electron dipercepat dengan beda potensial V, maka


E k = eV jadi hf = eV
karena f = c maka hc = eV

Jadi untuk mencari panjang gelombang pada sinar-X dapat dihitung


dengan :

hc
ev

= 12400
A
v
o

Sinar x mempunyai = (0.01 100) A

2). Sinar-X terjadi karena eksistasi electron


 Elektron yang berkecepatan tinggi ketika menumbuk atom logam
anoda akan menyebabkan elektron pada kulit atom sebelah dalam akan
pindah ke kulit sebelah luarnya. Elektron yang pindah akan cenderung
kembali ke kulit asal sambil melepaskan energi dalam bentuk sinar-X

Ek

hv
Ek

 Spektrum sinar x sebanding dengan potensial pemercepat

Sifat-sifat sinar-X adalah


 Gelombang Elektromagnetik frekuensi tinggi dengan energi E = hf.
 Tidak dipengaruhi oleh E (medan listrik) dan B (medan magnet)
 Daya tembusnya besar, lebih tinggi dari pada cahaya tampak, dan

dapat menembus tubuh manusia,kayu, beberapa lapis logam tebal.


 Dapat menghitamkan film sehingga dapat digunakan untuk membuat
gambar bayangan sebuah objek pada film fotografi (radiograf).
 Tidak dapat dilihat oleh mata, bergerak dalam lintasan lurus, dan
dapat mempengaruhi film fotografi sama seperti cahaya tampak.
 orde panjang gelombang sinar-x adalah 0,5-2,5 A (sedangkan orde
panjang gelombang untuk cahaya tampak = 6000 A). Jadi letak
sinar-x dalam diagram spektrum gelombang elektromagnet adalah
antara sinar ultra violet dan sinar gama

Spektrum sinar-x
 Berkas sinar-x terdiri atas dua jenis spektrum, yaitu: spetrum kontinyus (polikhromatik)

dan spektrum diskrit (monokhromatik)


Spektrum kontinyus (Polikromatis)
 Timbul akibat adanya pengereman elektron-elektron yang berenergi kinetik tinggi oleh anoda.

Pada saat terjadi pengereman tersebut, sebagian dari energi kinetiknya diubah menjadi sinar-x.
 Proses pengereman ini dapat berlangsung baik secara tiba-tiba ataupun secara perlahan-lahan

(disebut juga sinar-x bremsstrahlung), sehingga energi sinar-x yang dihasilkannya akan
memiliki rentang energi yang sangat lebar.


Jika elektron-elektron tersebut direm secara tiba-tiba, maka seluruh energi kinetiknya akan
diubah seketika menjadi energi sinar-x dan energi panas yang numpuk pada anoda. Panjang
gelombang sinar-x ini merupakan panjang gelombang terpendek (min) yang dapat dihasilkan
oleh sebuah sumber.

 jika elektron-elektron itu direm secara perlahan, maka energi kinetiknya akan diubah secara

perlahan pula menjadi energi sinar-x dan energi panas, sehingga sinar-x yang dihasilkannya
akan berenergi yang bervariasi sesuai dengan besarnya energi kinetik yang diubahnya. Sinar-x
ini akan memiliki panjang gelombang (energi) yang berbeda, sehingga karena itulah sinar-x ini
sering disebut sinar-x polikhromatik.

Spektrum sinar-x bremstrahlung untuk tegangan tinggi dengan


beberapa harga tegangan tinggi. V3 > V2 > V1.

Nilai min secara matematik


dapat ditentukan sebagai barikut:

Spektrum diskrit (monokromatis)


 Sinar-x monokhromatik (sinar-x karakteristik) ini timbul akibat adanya
proses transisi eksitasi elektron di dalam anoda.
 Sinar-x ini timbul secara tumpang tindih dengan spektrum bremstrahlung.
 Disamping panjang gelombangnya yang monokhromatik, inensitas sinar-x
monokhromatik ini jauh lebih besar dari pada intensitas sinar-x
bremstrahlung.
 Proses terjadinya sinar-x monokhromatik ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
Jika energi kinetik elektron itu sama dengan atau lebih besar dari pada energi
eksitasi atom-atom di dalam anoda maka pada saat elektron-elektron tersebut
menumbuk anoda, atom-atom tersebut akan tereksitasi sehingga pada saat
atom-atom tersebut kembali ke kaadaan ekuilibriumnya mereka akan
melepaskan energinya dalam bentuk foton gelombang elektromagnetik yang
kita sebut sinar-x karakteristik.
 Karena tingkat-tingkat energi di dalam atom-atom itu terkuantisasi maka
sinar-x yang dipancarkannya akan memiliki panjang gelombang atau energi
yang tertentu, sehingga sinar-x ini disebut sinar-x monokhromatik.

 Sebagai contoh: apabila sinar-x ini timbul akibat transisi elektron

dari kulit L ke kulit K maka sinar-x ini akan memiliki energi E =


EL - EK. Garis spektrum sinar-x tersebut lazim dinamai K ,
sehingga panjang gelombangnya sering disebut K.
 Nama-nama garis spektrum lainnya adalah K (untuk transisi dari
kulit M ke kulit K), K (untuk transisi dari kulit N ke kulit K),
dan seterusnya.
 Jika transisi itu terjadi dari tingkat-tingkat energi yang lebih
tinggi ke kulit L, maka nama-nama untuk garis-garis spektrum
sinar-x yang dihasilkannya adalah La,Lb, Lg, .... dst., untuk
transisi yang terjadi masing masing dari kulit M, N, O, ...., dst

Sinar -x karakteristik K dan K yang tumpang tindih di dalam spektrum bremsstrahlung.

Nilai l sinar-x karakteristik ini tidak bergantung pada besarnya tegangan tinggi yang
digunakan, tetapi ia hanya bergantung pada jenis bahan anoda yang digunakan

EFEK COMPTON
 Compton menganggap bahwa cahaya sebagai partikel sehingga mempunyai

momentum :
P = mc

Atau

hf
E
P=
Atau P =
c
c

Atau

P=

E = pc = mc2

 Gambar diatas merupakan gambar penghamburan foton oleh electron disebut

efek Compton.

 Sinar-x ditembakkan pada grafit sebagai target. Hasilnya: sebagian

sinar-x berubah arah (sinar-x mengalami hamburan), sinar-x yang


terhambur itu mempunyai > dari pada gelombang sinar-x mulamula yang datang pada grafit.
 Teori fisika klasik: gelombang EM berfrekuensi f merupakan osilasi
medan listrik dan medan magnet yang merambat. Jika medan EM itu
sampai pada partikel bermuatan seperti elektron, partikel bermuatan
tersebut akan berosilasi dengan frekuensi f juga. Osilasi partikel
bermuatan itu akan menimbulkan radiasi EM dengan frekuensi f juga.
Jadi, menurut fisika klasik sinar-x yang terhambur frekuensinya sama
dengan frekuensi sinar-x yang datang. Artinya, tidak terjadi pergeseran
.
 Kegagalan fisika klasik: tidak sesuai dengan hasil eksperimen, karena
Compton mengamati adanya pergeseran pada sinar-x yang
terhambur

Teori modern:
 sinar-x dipandang sebagai aliaran foton. Foton sinar-x yang
datang pada grafit dipandang berperilaku seperti partikel. Foton
datang dan menumbuk elektron pada grafit. Energi foton sinar-x
ini jauh lebih besar dari pada energi ikat elektron dalam grafit.
Sehingga dapat diasumsikan foton sinar-x menumbuk elektron
yang tidak terkait dalam bahan.
 Pada proses tumbukan berlaku hukum kekekalan energi dan
hukum kekekalan momentum (dihitung secara relativistik karena
foton bergerak dengan laju c).
 Pada saat tumbukan, sebagian energi foton sinar-x diserap oleh
elektron sehingga menyebabkan foton yang terhambur energinya
lebih rendah dari pada energi foton yang datang. Artinya sinarx yang terhambur > sinar-x datang.

 Setelah terjadi tumbukan antara foton dengan elektron, maka

foton kehilangan energinya sebesar


E = hf - hf '
panjang gelombang setelah tumbukan bertambah besar ( > )
 Pergeseran diungkap dengan rumus pergeseran Compton: