Anda di halaman 1dari 13

Pemanfaatan Mikroorganisme dalam Bioteknologi

Pemanfaatan Mikroorganisme dalam Bioteknologi. Bioteknologi merupakan cabang ilmu biologi


yang mempelajari pemanfaatan organisme, sistem, atau proses biologi untuk menghasilkan produk
berupa barang atau jasa yang berguna untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
Perkembangan bioteknologi didukung oleh perkembangan cabang ilmu yang lain yaitu mikrobiologi,
genetika, fisika, kimia biokimia, fisiologi, dan lain-lain. Bioteknologi memberikan harapan besar
untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dengan berbagai terobosan yang dilakukannya.
Mikroorganisme yang berperan dalam bioteknologi contohnya virus, bakteri, alga, jamur,

maupun
protozoa.
Alasan penggunaan
mikroorganisme
dalam
bioteknologi
adalah perkembangannya sangat cepat, kemampuan metabolismenya sangat tinggi, dapat tumbuh di
berbagai
media,
dapat
tumbuhdan
berkembang
tanpa
terpengaruh
cuaca
dan
iklim, pertumbuhannya mudah dikontrol, dan sifat genetisnya mudah dimodifikasi. Oleh karena itu
dalam proses bioteknologi, mikroorganisme ditumbuhkan dalam kondisi yang optimum
sehingga efisiensi produksi sangat tinggi.
1. Pemanfaatan Mikroorganisme untuk Produksi Pangan
Mikroorganisme juga dimanfaatkan sebagai penghasil bahan pangan yang berprotein tinggi, atau
dikenal sebagai protein sel tunggal (PST). Kelebihan mikroorganisme sebagai penghasil protein
adalah mudah dibudidayakan, pertumbuhannya sangat cepat, dan kadar proteinnya sangat tinggi
yaitu dapat mencapai 80%. Bandingkan dengan protein pada biji kedelai yang kadarnya sekitar 45%.
Contoh organisme penghasil PST adalah ganggang Chlorella dan Spirulina.
Perhatikan beberapa contoh
pengolahannya.

jenis

makanan

dan

mikroorganisme

yang

berperan dalam

Jumlah Kromosom
No.

Produk Makanan

Bahan Mentah

Mikroorganisme Pengolah

1. Berbagai jenis kue

Tepung gandum

Saccharomyces cerevisiae

2. Kopi

Biji kopi

Erwinia dissolvens

3. Kecap

Kedelai

Aspergillus wentii

4. Yoghurt

Susu

L. bulgaricus & L. acidophilus

5. Keju

Susu

Lactobacillus casei

6. Nata de coco

Air kelapa

Acetobacter xylinum

7. Oncom

Kacang tanah

Neurospora crassa

8. Tape

Umbi ketela pohon

Saccharomyces cerevisiae

9. Tempe

Kedelai

Rhizopus oryzae

10. Sayur asin

Sawi hijau

Bakteri asam laktat

Berikut ini adalah beberapa contoh peran mikroorganisme sebagai pengolah makanan.
a. Pemanfaatan Mikroorganisme untuk Membuat Kue/Roti
Dalam pembuatan kue, pada adonan tepung ditambahkan ragi ke dalam adonan tersebut

. Di dalam ragi terdapat jamur Saccharomyces cerevisiae. Jamur ini akan berkembang biak dengan
cepat dalam substrat tepung dan memfermentasi adonan gula (glukosa). Dalam proses fermentasi
ini dihasilkan gelembung-gelembung gas karbon dioksida. Keluarnya gas inilah yang menyebabkan
adonan kue atau roti dapat mengembang.
b. Mikroorganisme untuk Membuat Asinan
Asinan atau acar merupakan hasil fermentasi bakteri asam laktat (Lactobacillus bulgaricus) yang
memberi rasa masam dan sedikit asin pada bahan-bahan seperti kubis, mentimun, dan lobak. Pada
umumnya, pembuatan acar dilakukan secara terbuka sehingga memungkinkan bakteri aerob
mengubah rasa menjadi masam.
c. Mikroorganisme untuk Membuat Minuman
Mikroorganisme yang banyak digunakan untuk membuat minuman adalah kelompok jamur
anaerob. Substrat yang digunakan jamur berupa zat tepung atau karbohidrat. Jamur akan
menghasilkan semacam enzim sehingga dapat memfermentasi tepung menjadi glukosa dan karbon
dioksida. Anggur dibuat dari buah anggur atau buah yang lain dengan memanfaatkan
Saccharomyces cerevisiae dan Saccharomyces bayanus melalui proses fermentasi.
d. Mikroorganisme untuk Membuat Yogurt
Yogurt adalah sejenis minuman yang berasal dari susu yang diproses dengan dimanfaatkan
mikroorganisme tertentu. Dalam pembuatan yogurt, susu diuapkan agar lebih kental dan kadar
lemaknya berkurang. Susu kental ini kemudian difermentasikan pada suhu 45 dengan
menggunakan campuran bakteri Streptococcus thermophillus dan bakteri Lactobacillus bulgaricus.
Bakteri Streptococcus thermophillus pada pembuatan yogurt berfungsi memberi rasa
masam, sedangkan bakteri Lactobacillus bulgaricus memberi aroma dan rasa yang berbeda. Jadi,
kombinasi antara kedua bakteri itulah yang memberi cita rasa dan aroma pada yogurt.

e. Mikroorganisme untuk Membuat Mentega dan Keju


Mentega dibuat dari susu krim atau susu skim. Cita rasa dan aroma mentega berasal dari hasil
fermentasi bakteri yang sama seperti bakteri yang digunakan untuk membuat yogurt yaitu bakteri
asam laktat (Lactobacillus bulgaricus). Sedangkan keju juga dibuat dari susu yang
difermentasikan oleh bakteri asam laktat. Pembuatan keju memerlukan air dadih yang dibuat dari
protein
susu
yang
disebut
kasein. Beberapa
jenis
keju
difermentasikan
oleh
bakteri Propionibacterium. Jamur lain juga dapat digunakan untuk membuat keju, misalnya
beberapa spesies dari genus Penicillium untuk membuat keju yang berwarna hijau kebiruan.
2. Pemanfaatan Mikrobiologi di Bidang Industri
Selain berperan dalam industri makanan, mikroorganisme juga digunakan dalam industri minuman,
industri kesehatan, industri pakaian, dan industri kayu. Syarat-syarat mikroorganisme yang dipakai
dalam industri adalah sebagai berikut.
Organisme yang digunakan harus menghasilkan produk yang banyak, stabil, dan tidak

membahayakan kesehatan manusia.


Bahan substrat/tempat hidup mikroorganisme

harus

murah dan

mudah

untuk

mendapatkannya.
Berikut ini beberapa industri atau bidang usaha yang memanfaatkan organisme dalam proses
pembuatannya.
a. Industri Makanan dan Minuman
Dalam industri makanan dan minuman, mikroorganisme berperan penting untuk menghasilkan
berbagai bahan seperti asam cuka dan minuman fermentasi. Mikroorganisme yang berperan adalah
khamir (jenis jamur uniseluler, contohnya Saccharomyces cerevisiae). Produk minuman fermentasi
berbeda-beda sesuai dengan bahan mentah dan jenis khamir yang digunakan. Contohnya
rum merupakan hasil fermentasi dari jagung sedangkan anggur merupakan hasil fermentasi dari sari
buah anggur. Khamir yang digunakan pada rum dan anggur adalah sama-sama dari genus
Saccharomyces.
b. Industri Farmasi dan Obat-Obatan
Dalam industri farmasi atau industri obat-obatan, mikroorganisme menghasilkan antibiotik dan
hormon. Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang dapat menghambat
pertumbuhan mikroorganisme lain, khususnya mikroorganisme parasit pada tubuh manusia dan
hewan. Penisilin merupakan antibiotik pertama yang dibuat dalam skala industri, dihasilkan oleh
jamur Penicillium notatum. Contoh lain adalah neomisin-B dihasilkan oleh Streptomyces fradiae,
streptomisin dihasilkan oleh Streptomyces griseus, dan fumigilin dihasilkan oleh Aspergillus
fumigatus. Hormon juga dapat dihasilkan oleh mikroorganisme. Contohnya hormon insulin
berguna untuk menolong penderita diabetes melitus. Bahan lain yang dihasilkan adalah berbagai
jenis asam amino, enzim, dan vitamin.

c. Produk Sumber Energi


Melalui bioteknologi, kamu dapat juga mengubah kotoran hewan, sampah, dan limbah pertanian
dijadikan energi dengan bantuan mikroorganisme. Gas bio atau biogas adalah hasil fermentasi
berbagai mikroorganisme yang banyak mengandung gas metana. Oleh karena itu gas bio
dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi panas dan penerangan. Prinsip pembuatan gas bio
seperti pada pembentukan gas yang terjadi pada hewan memamah biak, misalnya sapi. Di dalam
lambung sapi, serat dari rumput yang bercampur air akan diubah oleh bakteri menjadi asam
organik. Kemudian asam organik akan berubah menjadi gas metan dan karbon dioksida dengan
bantuan
mikroorganisme
seperti Bacterioides,
Clostridium
butyrinum,
Methanobacterium, Methanobacillus, dan Eschericia coli.
d. Industri Perminyakan dan Pertambangan
Mikroorganisme digunakan dalam berbagai bidang perminyakan dan pertambangan. Dalam bidang
perminyakan berperan dalam pembentukan minyak, eksplorasi minyak, dan pembersihan ceceran
minyak. Selain itu beberapa jenis bakteri dapat dimanfaatkan dalam pemisahan logam dari bijihnya.
Contohnya adalah Thiobacillus ferooxidans. Bakteri ini tumbuh dalam lingkungan asam, seperti
tempat pertambangan dan mampu memisahkan tembaga-tembaga dari bijinya melalui reaksi kimia.
Strain yang lain mampu memisahkan logam besi dari bijihnya (besi sulfida). Chlorella vulgaris juga
dapat melepaskan emas dari bijihnya dan mengakumulasi emas itu di dalam selnya. Jenis bakteri
yang lain telah digunakan untuk memperoleh kembali beberapa bijih logam seperti mangan (Mn)
dan uranium yang terdapat pada konsentrasi rendah pada bijih.
Mikroorganisme bermanfaat dalam pertambangan karena alasan-alasan berikut.
Tidak merusak lingkungan dibandingkan pengolahan dengan bahan kimia.
Lebih banyaknya mineral yang dapat menggunakan mikroorganisme dalam pengolahannya.
Mikroorganisme mampu mengumpulkan mineral dari bijih yang hanya mengandung sedikit
mineral. Bijih miskin mineral ini tidak layak diproses secara konvensional.

BAKTERI PENGHASIL SUMBER ENERGI


Wednesday, 01 September 2010 09:11

(http://www.upsaps.com)
Seperti yang telah kita ketahui bersama, energi fosil yang merupakan sumber energi utama pada
saat ini, berasal dari jasad renik makhluk hidup yang terkubur berjuta-juta tahun lalu. Jasad-jasad
renik tersebut diuraikan oleh bakteri-bakteri ataupun mikroorganisme di dalam tanah sehingga
mengalami pengubahan bentuk menjadi minyak bumi, gas alam, maupun batu bara. Hal itu
menggambarkan bahwa bakteri-bakteri berperan penting dan besar dalam pembentukan sumber
energi fosil yang kita pergunakan selama ini.
Bakteri metanogen merupakan salah satu jenis bakteri yang dapat menghasilkan sumber energi.
Sumber energi yang dapat dihasilkan oleh bakteri ini adalah biogas. Biogas merupakan gas yang
dilepaskan jika bahan-bahan organik difermentasi atau mengalami proses metanisasi. Proses
fermentasi (penguraian material organik) tersebut terjadi secara anaerob (tanpa oksigen). Biogas
terdiri atas beberapa macam gas, antara lain metana (55-75%), karbon dioksida (25-45%),
nitrogen (0-0.3%), hydrogen (1-5%), hidrogen sulfida (0-3%), dan oksigen (0.1-0.5%).
Persentase terbesar dalam biogas ini, metan, membuat gas ini mudah terbakar dan dapat
disamakan kualitasnya dengan gas alam setelah dilakukan pemurnian terhadap gas metan.
.
Sumber pembuatan gas metan ini berasal dari bahan-bahan organik yang tidak memerlukan
waktu yang terlalu lama dalam penguraiannya, seperti kotoran hewan, dedaunan, jerami, sisa
makanan, dan sortiran sayur. Dalam menghasilkan gas metan ini, bakteri metanogen tidak
bekerja sendiri. Terdapat beberapa tahap yang harus dilalui dan memerlukan kerja sama dengan
kelompok bakteri yang lain. Berikut ini merupakan tahapan dalam proses pembentukan biogas :

1.

Hidrolisis
Hidrolisis merupakan penguraian senyawa kompleks atau senyawa rantai panjang
menjadi senyawa yang sederhana. Pada tahap ini, bahan-bahan organik seperti
karbohidrat, lipid, dan protein didegradasi menjadi senyawa dengan rantai pendek, seperti
peptida, asam amino, dan gula sederhana. Kelompok bakteri hidrolisa,
seperti Steptococci, Bacteriodes, dan beberapa jenisEnterobactericeae yang melakukan
proses ini.
2. Asidogenesis
Asidogenesis adalah pembentukan asam dari senyawa sederhana. Bakteri
asidogen, Desulfovibrio,pada tahap ini memproses senyawa terlarut pada hidrolisis
menjadi asam-asam lemak rantai pendek yang umumnya asam asetat dan asam format.
3.
Metanogenesis
Metanogenesis ialah proses pembentukan gas metan dengan bantuan bakteri pembentuk
metan
seperti Mathanobacterium, Mathanobacillus, Methanosacaria,
dan Methanococcus. Tahap ini mengubah asam-asam lemak rantai pendek menjadi H ,
CO , dan asetat. Asetat akan mengalami dekarboksilasi dan reduksi CO , kemudian
bersama-sama dengan H dan CO menghasilkan produk akhir, yaitu metan (CH ) dan
karbondioksida (CO ).
Penghasilan biogas dapat mencapai kondisi optimum jika bakteri-bakteri yang terlibat dalam
proses tersebut berada dalam lingkungan yang nyaman. Berikut ini merupakan beberapa hal yang
perlu diperhatikan agar bakteri-bakteri penghasil biogas dapat menghasilkan gas secara
optimum, yaitu:
1.
Lingkungan abiotis
Bakteri yang dapat memproduksi gas metan tidak memerlukan oksigen dalam
pertumbuhannya (anaerobik). Oleh karena itu, biodigester harus tetap dijaga dalam
keadaan abiotis (tanpa kontak langsung dengan Oksigen (O )).
2. Temperatur
Secara umum terdapat 3 rentang temperatur yang disenangi oleh bakteri, yaitu:
a.
Psikrofilik (suhu 0 25C), optimum pada suhu 20-25C
b.
Mesofilik (suhu 20 40C), optimum pada suhu 30-37C
c.
Termofilik (suhu 45 70C), optimum pada suhu 50-55C
Temperatur merupakan salah satu hal yang penting bagi pertumbuhan dan
perkembangbiakan bakteri. Menjaga temperatur tetap pada kondisi optimum yang
mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri, akan meningkatkan produksi
biogas.
3.
Derajat keasaman (pH)
Bakteri asidogen dan metanogen memerlukan lingkungan dengan derajat keasaman
optimum yang sedikit berbeda untuk berkembangbiak. pH yang rendah dapat
menghambat pertumbuhan bakteri asidogenesis, sedangkan pH di bawah 6,4 dapat
meracuni bakteri metanogenesis. Rentang pH yang sesuai bagi perkembangbiakan bakteri
metanogenesis 6,6-7 sedangkan rentang pH bagi bakteri pada umumnya adalah 6,4-7,2.
Derajat keasaman harus selalu dijaga dalam wilayah perkembangbiakan optimum bagi
bakteri agar produksi biogas stabil.
4.
Rasio C/N bahan isian
Syarat ideal untuk proses digesti adalah C/N = 25 30. Nilai rasio C/N yang terlalu
tinggi menandakan konsumsi yang cepat oleh bakteri metanogenisis, hal itu dapat
2

menurunkan produksi biogas. Sedangkan rasio C/N yang terlalu rendah akan
menyebabkan akumulasi ammonia sehingga pH dapat terus naik pada keadaan basa
hingga 8,5. Kondisi tersebut dapat meracuni bakteri metanogen. Kadar C/N yang sesuai
dapat dicapai dengan mencampurkan beberapa macam bahan organik, seperti kotoran
dengan sampah organik.
Biogas yang dihasilkan oleh sekelompok bakteri yang telah diuraikan di atas, dapat dijadikan
sebagai sumber energi alternatif untuk menggantikan sumber energi fosil yang saat ini semakin
menipis jumlahnya. Meskipun sama-sama dihasilkan oleh mikroorganisme, namun pembentukan
biogas tidak memerlukan waktu yang sangat lama seperti pembentukan energi fosil.

BAKTERI PENGHASIL SUMBER ENERGI


Abi Royen | Mei 8, 2016 | Sumber Energi | Tidak ada Komentar

BAKTERI METANOGEN
Bakteri mempunyai peranan sangat penting dalam pembentukan sumber energi. Salah satu
buktinya adalah dengan digunakan-nya fosil sebagai salah satu sumber pembangkitlistrik. Fosil
berasal dari jasad renik dari makhluk hidup yang telah terkubur jutaan tahun lamanya. Bakteri yang
akan saya bahas dalam artikel ini adalah khususnya bakteri metanogen. Lalu seperti apa dan
bagaimana peranannya bakteri tersebut dalam pembentukan energi?

Bakteri Metanogen Penghasil Sumber Energi


Simak informasinya dibawah ini:

TENTANG BAKTERI METANOGEN


Salah satu bakteri yang dapat menghasilkan energi adalah jenis bakteri metanogen. Sumber energi
yang berasal dari bakteri metanogen adalah berupa biogas. Biogas dihasilkan dari bahan-bahan
organik yang mengalami fermentasi atau proses metanisasi dan terjadi secara anaerob atau tanpa
oksigen.
Gas penyusun biogas antara lain:

Metana sebanyak 55-75%


Karbondioksida sebanyak 25-45%

Nitrogen sebanyak 0-0,3%

Hydrogen sulfida sebanyak 0-3%

Hydrogen sebanyak 1-5%

Oksigen sebanyak 0.1-0.5%

Dikarenakan penyusun biogas ini prosentase terbesar-nya adalah metan, gas ini menyebabkan
mudah terbakar.

KARAKTERISTIK MIKROBA YANG MENGAHASILKAN METANA


(METANOGEN)
Metanogen adalah merupakan mikroba penghasil metana. Sedangkan metanogenesis merupakan
proses pembentukan metana itu sendiri yang dibantu oleh mikroba. Bakteri metanogen penghasil
metana mempunyai karakteristik sebagai berikut:

KARAKTERISTIK
Karakteristik

Metanogen

Sifat

Gram / Gram +

Bentuk sel

Batang, spirilla, kokus, filament, sarcina

Klasifikasi

Archaebacteria

Metabolisme

Anaerob

Struktur dinding sel

Pseudomurein, protein, heteropolysaccharida

Sumber energi dan karbon

H2 + CO2, H2+ metanol, metilamin, format,


metanol (30% diubah
jadi CH4), asetat (80%diubah jadi CH4)

Produk katabolisme

CH4 atau CH4 + CO2

Dalam membentuk metana membutuhkan jenis bakteri dan substrat yang berbeda, berikut jenisnya:
Bakteri Metanogen berikut Substratnya

Genus

Substrat metanogenesis

Methanobakteriales

Methanobacterium

H2 + CO2, format

Methanobrevibacter

H2 + CO2, format

Methanothermobacter

H2 + CO2, format, termofilik

Methanosphaera

Methanol + H2

Methanothermus

H2 + CO2, hipertermofilik

Methanococcales
.

Methanothermococcus

H2 + CO2, format

Methanococcus

H2 + CO2, piruvat + CO2, format

Methanocaldococcus

H2 + CO2

Methanotorris

H2 + CO2

Methanomicrobiales

Methanomicrobium

H2 + CO2, format

Methanocorpusculum

H2 + CO2, format, alkohol

Methanogenium

H2 + CO2, format

Methanoplanus

H2 + CO2, format

Methanospirillum

H2 + CO2, format

Methanolacinia

H2 + CO2, alkohol

Methanofollis

H2 + CO2, format

Methanoculleus

H2 + CO2, format, alkohol

H2 + CO2, hipertermopilik

Methanopyrales

methanopyrus

Methanosarcinales

Methanohalobium

metanol, metilalanin,halophilik

Methanosarcina

H2 + CO2, asetat, metanol,


metilalanin

Methanohakophilus

metanol, metil sulfida, metilalanin


halophilik

Methanosaeta

asetat

Methanococoides

metanol, metalanin

Meethanosalsum

metanol, metilalanin, dimetilsulfida

TAHAPAN PROSES PEMBENTUKAN BIOGAS


Dalam menghasilkan gas metan penghasil biogas, ada beberapa tahapan yang harus dilalui yaitu:

1. HIDROLISIS
Merupakan penyederhanaan senyawa yang melalui proses penguraian kompleks atau rantai
panjang. Dalam hal ini bakteri yang membantu penguraiannya adalah bakteri dari kelompok
hidrolisa yang meliputi Bacteriodes, Steptococci dan beberapa Enterobactericeae.

2. ASIDOGENESIS
Merupakan sebutan proses yang membentuk asam dari senyawa sederhana. Bakteri yang berperan
dalam pemrosesan senyawa yang terlarut dalam hidrolisis adalah bakteri asidogen, desulfovibrio.

3. METANOGENESIS
Bakteri
yang
dibutuhkan
dalam
pembentukan
gas metan dalam metanogenesis adalahmathanobacillus, mathanobacterium, methanococcus dan
methanosacaria.
Sedangkan ada beberapa hal yang semestinya Anda perhatikan agar kelak dapat menghasilkan gas
secara maksimal bagi biogas diantaranya:
1.
2.

Lingkungan abiotik: yang harus dijaga dalam keadaan abiotis adalah biodigester
Temperatur: produksi biogas dapat meningkat jika temperatur dalam kondisi yang optimum

3.

Derajat keasaman (pH): rentang pH bakteri yang baik adalah 6,6 7

4.

Rasio C/N: kadar C/N yang sesuai untuk pengoptimalan penghasil biogas dapat dicapai
dengan mencampur beberapa jenis bahan organik seperti sampah organik dengan kotoran.

Demikian bahasan mengenai bakteri sebagai sumber energi yang bisa saya bagikan. Semoga
bermanfaat.

Bakteri "Geobacter Metallireducens" Penghasil Listrik


Dikembangkan di Jepang
Jumpa lagi sahabat BlogTeknisi, hari ini saya ingin berbagi berita tentang satu jenis
bakteri yang bisa menjadi alternatif sumber daya pembangkit tenaga listrik. Bakteri ini
sudah dimanfaatkan oleh negara Jepang untuk memproduksi energi listrik.
Jepang memanfaatkan pembuangan air limbah dan mengolahnya menjadi teknologi
penghasil listrik dengan menggunakan jenis mikroba khusus yang disebut
bakteri "Geobacter Metallireducens".
Bakteri "Geobacter Metallireducens" dari keluarga Geobacteraceae ini dapat memakan
dan hidup dengan mengurai material organik. Mikroba geobacter yang pertama
ditemukan di tambang batu bara di Sungai Potomac, Washington D.C. 1987. Bakteri ini
bersifat anaerob, yaitu hidup pada tempat yang tidak ada oksigen. Mereka juga
mempunyai kemampuan untuk berpindah, dengan cara menggerakkan elektron dalam
metal. Kemampuan ini menjadikan bakteri geobacter, mampu menguraikan limbah
sekaligus menghasilkan listrik.

Geobacter Metallireducens (Sumber Foto : Istimewa)

Bakteri ini dikenal sebagai Geobacter metallireducens, adalah mikroba pertama yang
mampu mengoksidasi bahan organik menghasilkan karbon dioksida. Geobacter
metallireducens mendapat tenaganya dengan memanfaatkan oksida dari besi, dengan
cara yang sama seperti manusia menghirup oksigen.
Spesies Geobacter dapat digunakan mengatasi pencemaran lingkungan. Misalnya,
menguraikan tumpahan minyak di perairan menjadi karbon dioksida yang tak
berbahaya. Spesies Geobacter mengubah kondisi lingkungan, dengan mempercepat laju
degradasi kontaminan. Spesies Geobacter juga memiliki kemampuan menyingkirkan
kontaminan logam radioaktif dari perairan.
Genom beberapa Sesies Geobacter sudah diurutkan dan sedang dimasukkan ke dalam
model komputer, yang bisa meramalkan metabolisme Geobacter di bawah kondisi
lingkungan berbeda. Pendekatan biologi sistem ini sangat mempercepat proses
bagaimana Spesies Geobacter berfungsi dan mengoptimasi proses bioremediasi dan
produksi energi listrik.
Teknologi ini sedang dikembangkan oleh Jepang di bawah sponsor New Energy and
Industrial technology Development Organization (NEDO). Proyek ini dipimpin oleh
Kazuhito Hashimoto, Profesor Universitas Tokyo dan melibatkan perusahaan swasta dan
lembaga akademis, seperti Sekisui, Chemical, Panasonic, Tokyo university of pharmacy
and life sciences and Osaka University.
Dilansir dari Nikkei, Ahad (30/8), para peneliti berusaha mengkomersialkan teknologi
pengelolahan air limbah di resin dan pabrik kimia lainnya.
Air limbah yang dihasilkan di pabrik kimia mengandung sejumlah besar zat organik
seperti etanol. Pengelolahan air limbah konvensional tersebut menggunakan sesuatu
yang disebut metode lumpur aktif di mana di dalamnya terdapat mikroba dari bahan
organik yang membusuk.
Microba akhirnya mati setelah berkembang biak dan menciptakan sejumlah besar
lumpur. Setiap tahaunnya, mikroba menghasilkan lumpur sebanyak 76 ton per tahun,
atau sekitar 20 persen dari dari ekseluruhan limbah industri Jepang.
Spesies Geobacter sebagai bahan bakar mikroba saat ini yang sedang dikembangkan
oleh para peneliti. Karena sel bahan bakar mikroba ini memiliki kemampuan
memghasilkan listrik