Anda di halaman 1dari 37

SISTEM PERKEMIHAN

ASUHAN KPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HIDROKEL

DISUSUN OLEH :
DWI PURNAWARNI
CHAYYI FANANI RAMDHONI
SUDARMAN

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2015/2016

DAFTAR PUSTAKA
Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan karunia-Nya
sehingga

kami

dapat

menyelesaikan

makalah

yang

berjudul

Asuhan

Keperawatan Pada Pasien Dengan Hidrokel. Makalah ini disusun untuk


memenuhi tugas mata kuliah Sistem Keperawatan pada Program Studi Ilmu
Keperawatan.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah
Sistem Perkemihan yang telah membimbing kami sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik. Terima kasih pula kepada teman-teman
yang secara ikhlas mengerjakan tugas ini dengan semangat dan kerja sama yang
baik.
Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, maka kami menerima
kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan makalah
ini.
Mataram , 3 Juni 2016
Penulis

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.....................................................................................

PRAKATA.....................................................................................................

ii

DAFTAR ISI................................................................................................. iii


BAB 1. PENDAHULUAN............................................................................

1.1 Latar Belakang........................................................................

1.2 Tujuan.......................................................................................

1.3 Manfaat....................................................................................

BAB 2. TINJAUAN TEORI........................................................................

2.1

Definisi....................................................................................

2.2

Epidemiologi..........................................................................

2.3

Etiologi...................................................................................

2.4

Manifestasi klinis...................................................................

2.5

Patofisiologi............................................................................

2.6

Komplikasi & Prognosis.......................................................

2.7

Pemeriksaan Penunjang.......................................................

2.8

Penatalaksanaan....................................................................

2.9

Penatalaksanaan Post Operasi.............................................

2.10 Pencegahan............................................................................

BAB 3. PATHWAYS.................................................................................... 11
BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN.......................................................... 12
4.1 Pengkajian............................................................................... 12
4.2 Diagnosa Keperawatan........................................................... 24
4.3 Perencanaan dan Intervensi................................................... 25
4.5 Evaluasi.................................................................................... 29
BAB 5. PENUTUP........................................................................................ 30
5.1 Kesimpulan............................................................................... 30
5.2 Saran.......................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

iii

31

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hidrokel adalah penimbunan cairan dalam selaput yang membungkus testis,
yang menyebabkan pembengkakan lunak pada salah satu testis. Penyebab
hidrokel yaitu karena gangguan dalam pembentukan alat genitalia eksternal, yaitu
kegagalan penutupan saluran tempat turunnya testis dari rongga perut ke dalam
skrotum. Cairan peritoneum mengalir melalui saluran yang terbuka tersebut dan
terperangkap di dalam skrotum sehingga skrotum membengkak.
Sekitar 10% bayi baru lahir mengalami hidrokel, dan umumnya akan hilang
sendiri dalam tahun pertama kehidupan. Biasanya tidak terasa nyeri dan jarang
membahayakan sehingga tidak membutuhkan pengobatan segera. Pada bayi
hidrokel dapat terjadi mulai dari dalam rahim. Pada usia kehamilan 28 minggu,
testis turun dari rongga perut bayi kedalam skrotum, dimana setiap testis ada
kantong yang mengikutinya sehingga terisi cairan yang mengelilingi testis
tersebut. Pada orang dewasa, hidrokel bisa berasal dari proses radang atau cedera
pada skrotum. Radang yang terjadi bisa berupa epididimitis (radang epididimis)
atau orchitis (radang testis).
Berdasarkan uraian diatas, sangat penting bagi mahasiswa keperawatan
untuk mengetahui konsep dasar penyakit hidrokel beserta konsep asuhan
keperawatan hidrokel. Konsep penyakit dan asuhan keperawatan tersebut nantinya
dapat digunakan sebagai referensi pada saat melakukan asuahan keperawatan pada
pasien dengan hidrokel.
1.2 Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Menjelaskan konsep dasar penyakit hidrokel pada anak.
2. Menjelaskan konsep asuhan keperawatan pasien dengan hidrokel.
1.3 Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh dengan pembuatan makalah ini adalah


sebagai berikut.
1. Memenuhi tugas mata kuliah Sistem Perkemihan
2. Menambah perbendaharaan karya tulis ilmiah pada Program Studi Ilmu
Keperawatan Stikes Yarsi Mataram
3. Menambah wawasan kepada mahasiswa jurusan kesehatan khususnya
mahasiswa keperawatan.
4. Melatih mahasiswa dalam menyusun dan membuat karya tulis ilmiah.

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Hydrocele berasal dari dua kata yaitu hidro (air) dan cell (rongga). Secara
umum hydrocele adalah terjadinya penumpukan air pada rongga khususnya pada
tunika vaginalis. (Behram, 2000). Hydrocele adalah suatu penyakit dimana
penderita mengalami kondisi berupa penumpukan cairan pada selaput yang
melindungi testis. Hydrocele adalah penumpukan cairan yang berlebihan antara
lapisan parietalis dan visceralis tunika vaginalis testis. (Pramono, 2008). Dalam
keadaan normal, cairan yang berada didalam rongga itu memang ada dan berada
dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di
sekitarnya.
2.2 Epidemiologi
Di USA, insidensi hidrokel adalah sekitar 10-20 per 1000 kelahiran hidup
dan lebih sering terjadi pada bayi prematur. Lokasi tersering adalah di sebelah
kanan, dan hanya 10% yang terjadi secara bilateral. Insidensi PPPVP menurun
seiring dengan bertambahnya umur. Pada neonates, 80%-94%memiliki PPPVP.
Risiko hidrokel lebih tinggi pada bayi prematur dengan berat badan lahir
kurangdari 1500 gram dibandingkan dengan bayi aterm.
2.3 Etiologi
Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena hal
berikut ini.
1. Belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran
cairan peritoneum ke prosesus vaginalis (Hernia Komunikan)
2. Belum sempurnanya sistem limfatik di daerah skrotum dalam melakukan
reabsorbsi cairan hidrokel.
Pada bayi laki-laki, hidrokel dapat terjadi mulai dari dalam rahim. Pada usia
kehamilan 28 minggu, testis turun dari rongga perut bayi ke dalam skrotum,

dimana setiap testis ada kantong yang mengikutinya sehingga terisi cairan yang
mengelilingi testis tersebut.
Pada orang dewasa, hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan
sekunder. Penyebab sekunder dapat terjadi karena didapatkan kelainan pada testis
atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorbsi
cairan di kantong hidrokel. Kelainan pada testis itu mungkin suatu tumor, infeksi,
atau trauma pada testis/epididimis, dan penyumbatan cairan atau darah di dalam
korda spermatika. Kemudian hal ini dapat menyebabkan produksi cairan yang
berlebihan oleh testis, maupun obstruksi aliran limfe atau vena di dalam funikulus
spermatikus.
Hydrocele biasanya menjadi lebih kecil dan lebih lembut setelah berbaring
dan terser setelah setelah berdiri lama. Hydrocele dapat di bagi dalam beberapa
jenis tergantung penyebabnya.
1. Hidrokel statis
2. Hidrokel funikuli
3. Hidrokel komunikans
2.4 Manifestasi Klinis
Gambaran klinis hidrokel kongenital tergantung pada jumlah cairan yang
tertimbun. Bila timbunan cairan hanya sedikit, maka testis terlihat seakan-akan
sedikit membesar dan teraba lunak. Bila timbunan cairan banyak terlihat skrotum
membesar dan agak tegang. Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum
yang tidak nyeri. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan di kantong
skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan
menunjukkan adanya transiluminasi.
2.5 Patofisiologi
Hidrokel adalah pengumpulan cairan pada sebagian prosesus vaginalis
yang masih terbuka. Kantong hidrokel dapat berhubungan melalui saluran
mikroskopis dengan rongga peritoneum dan berbentuk katup sehingga cairan dari
rongga peritoneum dapat masuk ke dalam kantong hidrokel dan sukar kembali ke
rongga peritoneum (Mantu, 1993). Pada kehidupan fetal, prosesus vaginalis dapat
berbentuk kantong yang mencapai scrotum. Hidrokel disebabkan oleh kelainan
kongenital (bawaan sejak lahir) ataupun ketidaksempurnaan dari prosesus

vaginalis tersebut sehingga menyebabkan tidak menutupnya rongga peritoneum


dengan prosessus vaginalis sehingga terbentuklah rongga antara tunika vaginalis
dengan cavum peritoneal dan menyebabkan terakumulasinya cairan yang berasal
dari sistem limfatik disekitarnya. Cairan seharusnya seimbang antara produksi dan
reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya, tetapi pada penyakit ini terjadi
gangguan sistem sekresi atau reabsorbsi cairan limfa sehingga terjadi penimbunan
pada tunika vaginalis. Akibat dari tekanan yang terus-menerus, terjadi obstruksi
aliran limfe atau vena di dalam funikulus spermatikus dan terjadi atrofi testis yang
dikarenakan akibat dari tekanan pembuluh darah yang ada di daerah sekitar testis
tersebut.
Hidrokel dapat ditemukan dimana saja sepanjang funikulus spermatikus
dan juga dapat ditemukan di sekitar testis yang terdapat dalam rongga perut pada
undensensus testis. Hidrokel infantilis biasanya akan menghilang dalam tahun
pertama, umumnya tidak memerlukan pengobatan jika secara klinis tidak disertai
hernia inguinalis. Hidrokel testis dapat meluas ke atas atau berupa beberapa
kantong yang saling berhubungan sepanjang processus vaginalis peritonei.
Hidrokel akan tampak lebih besar dan kencang pada sore hari karena banyak
cairan yang masuk dalam kantong sewaktu anak dalam posisi tegak, tapi
kemudian akan mengecil pada esok paginya setelah anak tidur semalaman.
Pada orang dewasa, hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan
sekunder. Penyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau
epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorpsi cairan
di kantong hidrokel. Kelainan tersebut mungkin merupakan suatu tumor, infeksi
atau trauma pada testis atau epididimis. Dalam keadaan normal cairan yang
berada di dalam rongga tunika vaginalis berada dalam keseimbangan antara
produksi dan reabsorpsi dalam sistem limfatik (Purnomo, 2003).
2.6 Komplikasi dan Prognosis
Jika dibiarkan, hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma dan
hidrokel permagna bisa menekan pembuluh darah yang menuju ke testis sehingga
menimbulkan atrofi testis (Purnomo, et al., 2010). Komplikasi yang dapat terjadi
pada pasien dengan hidrokel yaitu:

1. perdarahan yang disebabkan karena trauma dan aspirasi;


2. apabila pasien tidak segera ditangani, penumpukan cairan dapat
mengganggu kesuburan dan fungsi seksual pasien;
3. infeksi testi;
4. kompresi pada peredaran darah testis.
Prognosis pasien dengan hidrokel yang telah dilakukan terapi operasi, angka
rekurensinya kurang dari 1%.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien dengan hidrokel
menurut Noviana (2011) adalah sebagai berikut.
1. Transiluminasi
Merupakan langkah diagnostik yang paling penting untuk menemukan
massa skrotum. Pemeriksaan ini dilakukan didalam suatu ruangan yang
gelap, sumber cahaya diletakkan pada sisi pembesaran skrotum. Struktur
vaskuler, tumor, darah, hernia dan testis normal tidak dapat ditembusi sinar.
Trasmisi cahaya sebagai bayangan merah menunjukkan rongga yang
mengandung cairan serosa, seperti hidrokel.
2. Ultrasonografi
Ultrasonografi dapat mengirimkan gelombang suara melewati skrotum dan
membantu melihat adanya hernia, kumpulan cairan (hidrokel), vena
abnormal (varikokel) dan kemungkinan adanya tumor.
2.8 Penatalaksanaan
Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun
dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup, hidrokel akan sembuh
sendiri, tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar maka perlu
untuk dilakukan koreksi (Purnomo, et al., 2010). Mayoritas hidrokel pada
neonates akan hilang karena penutupan spontan dari PPPVP awal setelah
kelahiran. Cairan dalam hidrokel biasanya akan direabsorpsi sebelum bayi
berumur 1 tahun. Berdasarkan fakta tersebut, observasi umumnya dilakukan pada
hidrokel pada bayi.
Tindakan untuk mengatasi cairan hidrokel menurut Mursalim (2012) adalah
dengan aspirasi dan operasi.
1. Aspirasi

Aspirasi

cairan

hidrokel

tidak

dianjurkan

karena

selain

angka

kekambuhannya tinggi, kadang kala dapat menimbulkan penyulit berupa


infeksi. Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah
sebagai berikut.
a. Hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah
b. Indikasi kosmetik
c. Hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan mengganggu
pasien dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari.
2. Hidrokelektomi
Pada hidrokel kongenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali
hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel,
sekaligus melakukan herniografi. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan
pendekatan scrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi kantong hidrokel
sesuai cara Winkelman atau aplikasi kantong hidrokel sesuai cara Lord. Pada
hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto. Pada hidrokel
tidak ada terapi khusus yang diperlukan karena cairan lambat laun akan diserap,
biasanya menghilang sebelum umur 2 tahun. Tindakan pembedahan untuk
mengangkat hidrokel ini bisa dlakukan anestesi umum ataupun regional (spinal).
Indikasi operasi perbaikan hidrokel menurut Noviana (2011) adalah sebagai
berikut.
1. Gagal untuk hilang pada umur 2 tahun
2. Rasa tidak nyaman terus-menerus akibat hidrokel permagna
3. Pembesaran volume cairan hidrokel sehingga dapat menekan pembuluh
darah
4. Adanya infeksi sekunder (sangat jarang)
2.9 Penatalaksanaan Post Operasi
Penyembuhan post-operasi hidrokel biasanya cepat.

Terapi yang dapat

diberikan menurut Noviana (2011) antara lain sebagai berikut.


1. Analgetik
a) Bayi
1) Ibuprofen 10mg/kg setiap 6-8 jam;
2) paracetamol 15 mg/kg setiap 6-8 jam;
3) hindari penggunaan narkotika pada bayi karena adanya risiko
apneu

b) Anak yang lebih besar


Paracetamol dengan kodein (1mg/kg kodein) setiap 6-8 jam
2. Sekitar 2 minggu setelah operasi, posisi mengangkang (naik sepeda) harus
dihindari untuk mencegah

perpindahan testis yang mobile keluar dari

scrotum, dimana dapat terjebak oleh jaringan ikat dan mengakibatkan


cryptorchidism sekunder.
3. Pada anak dengan usia sekolah, aktivitas olahraga harus dibatasi selama 4-6
minggu.
4. Kebanyakan operasi hidrokel dilakukan pada pasien rawat jalan (outpatient),
pasien dapat kembali ke sekolah segera setelah tingkat kenyamanan
memungkinkan (biasanya 1-3 hari post-operasi).
2.10 Pencegahan
Hidrokel pada bayi baru lahir tidak dapat dicegah karena kondisi telah
berkembang sebelum kelahiran. Namun perawatan sebelum bayi lahir dapat
dilakukan untuk membantu mencegah hidrokel pada bayi laki-laki. Pada laki-laki
dewasa, untuk mencegah hidrokel sebaiknya menghindari daerah kelamin dari
cedera misalnya mengikuti aturan keselamatan ketika sedang berolahraga. Pilihan
gaya hidup sehat, berolahraga, makan-makanan yang bergizi seimbang, dan
menghindari penyakit menular seksual juga dianjurkan untuk membantu
mencegah hidrokel (Belville & Swierzewski, 2011).

PATHWAY

Sekunder (trauma

Primer (kelainan
bawaan)

epididimis,
infeksi,

System lymphatic
yang
sempurna

belum

Terganggunya

Penutupan
prosesus vaginalis
yang

tumor

tidak

system

reabsorpsi cairan
plasma
transuda

Keluarnya cairan
Penumpukan
dari
rongga
HIDROKEL
cairan di tunika

sekresi/
dan

Terhambatnya
proses

reabsorpsi

cairan

Cairan menumpuk
di lapisan parietal
& visceral

PRE OP

Perubahan status

POST OP

Penumpukan
Perubahan
cairan di Skrotum
bentuk skrotum

Klien cemas dengan


kondisinya

GANGGUAN
CITRA TUBUH

ANSIETAS

(body image)

Skrotum
Kelainan pada testis
memebesar
(tumor,
infeksi,
trauma)
penyumbatan cairan/darah di
dalam korda spermatika
GANGGUAN
RASA

adanya

(NYERI)

gesekan dan
peregangan
jaringan kulit

Penatalaksanaan
pembedahan

skrotum
Adanya Luka Insisi

NYAMAN

10

Resiko
kerusakan

Pajanan patogen

integritas
kulit

RISIKO INFEKSI

BAB 4
ASUHAN KEPERAWATAN
4.1 Pengkajian

PENGKAJIAN KEPERAWATAN ANAK


(Anamnese berkaitan tentang identitas pasien, riwayat kesehatan itu bervariasi
baik pada waktu istirahat maupun pada keadaan emosional. Hasil anamneses
dituliskan dalam format di bawah ini sesuai dengan kondisi sebenarnya)

11

Ruangan

: Mawar

Tgl. / Jam MRS

: Senin, 16 September 2013 ( Jam saat masuk rumah sakit )

Dx. Medis

: Hidrocele

No. Reg.

: 12323

TGL/Jam Pengkajian : Senin, 16 September 2013 ( Jam saat pengkajian )


I. Biodata ( Diisi sesuai dengan biodata pasien)
A. Identitas Klien
1. Nama/Nama panggilan

: Catat nama panggilah yang pasien sukai


(anak)

2. Tempat tgl lahir/usia

: ( sering kali terjadi pada usia di bawah 1


tahun, dan normalnya akan hilang dalam
tahun pertama usianya. Dapat pula terjadi
pada berbagai usia jika ter dapat kelainan
seperti radang atau cidera pada skrotum)

3. Jenis kelamin

: ( Laki-laki)

4. A g a m a

: Dari segi agama tidak mempengaruhi


untuk terjadinya penyakit ini.

5. Pendidikan

: dilihat dari segi pendidikan semakin kecil


pendidikan orang tua tingkat pengetahuan
akan penyebab terjadinya penyakit juga
berkurang atau beresiko

6. Alamat

: ( sesuai alamat klien)

7. Tgl masuk

: ( tanggal pasien masuk rumah sakit/ lebih


baik disertai pukul berapa pasien masuk
rumah sakit)

8. Tgl pengkajian

: (tanggal ketika dilakukan pengkajian


terhadap pasien)

9. Diagnosa medik

: (Diangnosa yang ditetapkan oleh dokter


dalam kasus ini adalah hidrokel)

12

10. Rencana terapi

: Jika kondisi hidrokel terlalu besar, maka


tindakan yang harus dilakukan adalah
pembedahan. Terapi anastesi kurang
efektif karena tidak membuat cairan dalam
skrotum berkurang.

B. Identitas Orang tua ( disesuaikan dengan klien )


1. Ayah
a. N a m a

b. U s i a

c. Pendidikan

d.Pekerjaan/sumber penghasilan :
e. A g a m a

f. Alamat

2. Ibu
a. N a m a

b. U s i a

c. Pendidikan

d. Pekerjaan/Sumber penghasilan:
e. Agama

f. Alamat

C. Identitas Saudara Kandung


( Berguna untuk mendeteksi dini apakah penyakit yang diderita oleh klien
berkaitan dengan status kesehatan keluarga atau faktor genetic)
No

N AM A

USIA

HUBUNGAN

STATUS KESEHATAN

13

II. Riwayat Kesehatan ( dari hasil anamneses, dapat diketahui riwayat penyakit
pasien
A. Riwayat Kesehatan Sekarang
Keluhan Utama

Nyeri pada bagian genetalianya khususnya skrotum, biasanya terasa


kaku dan besar, serta sering kali klien mengeluh tidak bisa ereksi
Riwayat Keluhan Utama :
Apa saja keluhan yang disampaikan oleh klien
Keluhan Pada Saat Pengkajian :
(Keluhan yang dirasakan klien ketika dilakukan proses pengkajian,
biasanya hamper sama dengan keluhan ketika awal masuk rumah sakit,
hal ini disebabkan selama belum dilakukan tindakan bedah ( hidrokel
yang sudah cukup besar dan dirasa mengganggu) maka keluhan klien
kemungkinan kecil sekali untuk berkurang atau berubah)
B. Riwayat Kesehatan Lalu (khusus untuk anak usia 0 5 tahun)
1. Prenatal care
a. Ibu memeriksakan kehamilannya setiap minggu di ( bidan,
puskesmas, mantri, atau rumah sakit, atau dokter)
b. Keluhan selama hamil yang dirasakan oleh ibu, tapi oleh dokter
dianjurkan untuk (Umumnya tidak ada)
c. Riwayat terkena radiasi ( mungkisn saja, hal ini terkait bahaya
dan dampak dari radiasi)
d.

Riwayat berat badan selama hamil (umumnya tidak ada yang


janggal)

e. Riwayat Imunisasi TT (tidak ada imunisasi khusus yang dapat


menghidarkan klien dari kemungkinan terkenya penyakit hidrokel
ini )

14

f. Golongan darah orang tua


2. Natal ( pada umumnya tidak ada yang mengalami kelainan, data ini
kurang sesuai ditetapkan sebagai data fokus)
a, Tempat melahirkan :
b. Jenis persalinan :
c. Penolong persalinan :
e. Komplikasi yang dialami oleh ibu pada saat melahirkan dan setelah
melahirkan :
3. Post natal
a. Kondisi bayi : (10% bayi baru lahir mengalami hidrokel, dan
umumnya akan hilang sendiri dalam tahun pertama kehidupan)
APGAR (sebuah metode yang diperkenalkan pertama kali pada
tahun 1952 oleh Dr. Virginia Apgar sebagai sebuah metode
sederhana untuk secara cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru
lahir sesaat setelah kelahiran, biasanya tidak berpengaruh terkait
kasus penyakit hidrokel)
b. Anak pada saat lahir tidak mengalami (hal yang tidak normal juga
dikaji)
(Untuk semua Usia)
o Klien pernah mengalami penyakit ( terkait kondisi penyakit
sekarang/ hidrokel)
o Riwayat kecelakaan ( terkait kemungkinan proses peradangan yang
dapat menyebabkan hidrokel)
o Riwayat mengkonsumsi obat-obatan berbahaya tanpa anjuran
dokter dan menggunakan zat/subtansi kimia yang berbahaya :
(kelomok kami tidak mendapat sumber yang menyatakan
bahwakonsumsi obat tertentu dapat menyebabkan hidrokel)
o Perkembangan anak dibanding saudara-saudaranya

15

( Perkembangan dalam hal ini adalah status mental, kedaan


seseorang dengan hidrokel normal atau dapat dikatan tidak ada
keterbelakangan atau kelainan mental lainnya)
C. Riwayat Kesehatan Keluarga
Genogram
(Ikecil kemungkinan penyakit ini terkait faktor genetik)
IV. Riwayat Immunisasi (imunisasi lengkap)
NO

Jenis immunisasi

1.
2.
3.
4.
5.

BCG
DPT (I,II,III)
Polio (I,II,III,IV)
Campak
Hepatitis

Waktu
pemberian

Frekuensi

Reaksi setelah
pemberian

Frekuensi

V. Riwayat Tumbuh Kembang


A. Pertumbuhan Fisik
1. Berat badan : Normal ( tidak menutup kemungkinan
terjadi pada bayi premature karena organ yang belum
terbentuk sempurna)
2. Tinggi badan : Normal
3. Waktu tumbuh gigi, gigi tanggal, jumlah gigi.
B.

Perkembangan Tiap tahap


Usia anak saat
1. Berguling
2. Duduk
3. Merangkak
4. Berdiri
5. Berjalan
6. Senyum kepada orang lain pertama kali
7. Bicara pertama kali menyebutkan
8. Berpakaian tanpa bantuan

16

VI. Riwayat Nutrisi


A. Pemberian ASI
Pemberian susu formula
1. Alasan pemberian
2. Jumlah pemberian
3. Cara pemberian
Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrisi saat ini
Usia

Jenis Nutrisi

Lama Pemberian

VII. Riwayat Psikososial ( bukan data fokus dan umumnya dalam keadaan
normal)
Anak tinggal bersama
Lingkungan berada di
Rumah dekat dengan
kamar klien
Rumah ada tangga
Hubungan antar anggota keluarga
Pengasuh anak
VIII. Riwayat Spiritual ( bukan data fokus dan umumnya dalam keadaan normal)
Support sistem dalam keluarga
Kegiatan keagamaan
IX. Reaksi Hospitalisasi ( bukan data fokus dan umumnya keadaan klien terkait
reaksi hospitalisasi sama dengan pasien pada umumnya diman terjadi beberapa
perubahan misalnya cenderung lebih emosional)
A. Pengalaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
- Ibu membawa anaknya ke RS karena
- Apakah dokter menceritakan tentang kondisi anak
- Perasaan orang tua saat ini
- Orang tua selalu berkunjung ke RS

17

- Yang akan tinggal dengan anak


B. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap
X. Aktivitas sehari-hari
A. Nutrisi
Kondisi
1. Selera makan

Sebelum Sakit

Saat Sakit

B. Cairan ( cairan yang konsumsi lebih diatur agar terdapat keseimbangan


cairan tubuh terlebih lagi dengan kondisi hidrokelyang menimbulkan
perasaan tidak nyaman (nyeri) terhadap area genetalia khususnya pada
laki-laki)
Kondisi
1. Jenis minuman

Sebelum Sakit

Saat Sakit

2. Frekuensi minum
3. Kebutuhan cairan
4. Cara pemenuhan
C. Eliminasi (BAB & BAK) Pola eliminasi khususnya BAK sedikit
terganggu, sering klien mengeluhkan nyeri pada area genetalianya
Kondisi
1. Tempat

Sebelum Sakit

pembuangan

Saat Sakit
Apabila akumulasi
cairan

cukup

2. Frekuensi (waktu)

banyak

dan

3. Konsistensi

menekan

vesika

4. Kesulitan

urinaria,

maka

5. Obat pencahar

BAK pasien dapat


terganggu.

D. Istirahat tidur ( klien jadi lebih sukar tidur akibat kondisi kesakitannya)
Kondisi
1. Jam tidur
-

Siang

Sebelum Sakit

Saat Sakit

18

Malam

2. Pola tidur
3. Kebiasaan sebelum
tidur
4. Kesulitan tidur
E. Olah Raga (aktivitas olahraga dan gerak cenderung turun drastic karena
kondisi kesakitan)
Kondisi
1. Program olah raga

Sebelum Sakit

Saat Sakit

2. Jenis dan frekuensi


3. Kondisi setelah
olah raga
F. Personal Hygiene ( dilakukan seperti orang normal pada umumnya, tp
pada lokasi tertentu seperti area dekat genetalianya lebih hari-hati
misalnya ketika mandi)
Kondisi
1. Mandi
- Cara
- Frekuensi
- Alat mandi
2. Cuci rambut
- Frekuensi
- Cara
3. Gunting kuku
- Frekuensi
- Cara
4. Gosok gigi
- Frekuensi
- Cara

Sebelum Sakit

Saat Sakit

19

G. Aktifitas/Mobilitas Fisik (menjadi lebih minim,jika kondisi hidrokel sudah


sangat besar maka untuk tidur miring kanan atau kiri akat terasa sakit
untuk kien)
1.

Kondisi
Kegiatan sehari-hari

2.

Pengaturan jadwal

Sebelum Sakit

Saat Sakit

harian
3.

Penggunaan alat Bantu


aktifitas

4.

Kesulitan pergerakan
tubuh

H. Rekreasi
Kondisi
1. Perasaan saat

Sebelum Sakit

Saat Sakit

sekolah
2. Waktu luang
3. Perasaan setelah
rekreasi
4. Waktu senggang
klg
5. Kegiatan hari libur
XI. Pemeriksaan Fisik
(Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan
konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya
transiluminasi.
Pada pemeriksaan fisik, hidrokel dirasakan sesuatu yang oval atau bulat,
lembut dan tidak nyeri tekan. Biasanya hidrokel terjadi nyeri ringan. Hidrokel
dapat dibedakan dengan hernia melalui beberapa cara :

20

a. Pada saat pemeriksaan fisik dengan Transiluminasi/diaponaskopi hidrokel


berwarna merah terang, dan hernia berwarna gelap.
b. Hidrokel pada saat di inspeksi terdapat benjolan yang hanya ada di
scrotum, dan hernia di lipatan paha.
c. Auskultasi pada hidrokel tidak terdapat suara bising usus, tetapi pada
hernia terdapat suara bising usus.
d. Pada saat di palpasi hidrokel terasa seperti kistik, tetapi pada hernia terasa
kenyal.
e. Hidrokel tidak dapat didorong, hernia biasanya dapat didorong.
f. Bila dilakukan transiluminasi pada hidrokel terlihat transulen, pada hernia
tidak.
Dilakukan pemeriksaan sistem perkemihan secara umu, lalu kaji setelah
pembedahan : infeksi, perdarahan, disuria, dan drainase, selanjutnya lakukan
transluminasi test : ambil senter, pegang skrotum, sorot dari bawah ; bila sinar
merata pada bagian skrotum maka berarti isinya cairan ( bila warnanya redup ).
1. Keadaan umum

: ( nyeri area genetalia)

2. Kesadaran

: Kompos mentis

3. Tanda tanda vital ( Normal)


a. Tekanan darah
b. Denyut nadi
c. Suhu : ( hipertermi bila penyebab radang adalah proses peradangan)
d. Pernapasan
4. Berat Badan

(Normal)

5. Tinggi Badan (Normal)


6. Kepala

(Normal dan bukan merupakan data fokus)

Inspeksi
Keadaan rambut & Hygiene kepala
a. Warna rambut
b. Penyebaran
c. Mudah rontok
d. Kebersihan rambut

21

Palpasi
Benjolan : ada / tidak ada
Nyeri tekan : ada / tidak ada
Tekstur rambut : kasar/halus
7. Muka

(Normal dan bukan merupakan data fokus)

Inspeksi
a. Simetris / tidak
b. Bentuk wajah
c. Gerakan abnormal
d. Palpasi
Nyeri tekan / tidak
Data lain
8. Mata

(Normal dan bukan merupakan data fokus)

Inspeksi
a. Pelpebra

: Edema / tidak
Radang / tidak

b. Sclera

: Icterus / tidak

c. Conjungtiva

: Radang / tidak
Anemis / tidak

d. Pupil

: - Isokor / anisokor
- Myosis / midriasis
- Refleks pupil terhadap cahaya

e. Posisi mata :
Simetris / tidak
f. Gerakan bola mata
g. Penutupan kelopak mata
h. Keadaan bulu mata
i. Keadaan visus
j. Penglihatan

: - Kabur / tidak
- Diplopia / tidak

Palpasi

22

Tekanan bola mata


Data lain
9. Hidung & Sinus

(Normal dan bukan merupakan data fokus)

Inspeksi
a. Posisi hidung
b. Bentuk hidung
c. Keadaan septum
d. Secret / cairan
Data lain
10. Telinga

(Normal dan bukan merupakan data fokus)

Inspeksi
a. Posisi telinga
b. Ukuran / bentuk telinga
c. Aurikel
d. Lubang telinga
e. Pemakaian alat bantu
Palpasi
Nyeri tekan / tidak
Pemeriksaan uji pendengaran
a. Rinne
b. Weber
c. Swabach
Pemeriksaan vestibuler
Data lain
11. Mulut

(Normal dan bukan merupakan data fokus)

Inspeksi
a. Gigi
-

Keadaan gigi

Karang gigi / karies

Pemakaian gigi palsu

23

b. Gusi
Merah / radang / tidak
c. Lidah
Kotor / tidak
Bibir
-

Cianosis / pucat / tidak

Basah / kering / pecah

Mulut berbau / tidak

Kemampuan bicara

Data lain
12. Tenggorokan (Normal dan bukan merupakan data fokus)
a. Warna mukosa
b. Nyeri tekan
c. Nyeri menelan
13. Leher

(Normal dan bukan merupakan data fokus)

Inspeksi
Kelenjar thyroid
Palpasi
a. Kelenjar thyroid
b. Kaku kuduk / tidak
c. Kelenjar limfe
Data lain
14. Thorax dan pernapasan

(Normal dan bukan merupakan data fokus)

a. Bentuk dada
b. Irama pernafasan
c. Pengembangan di waktu bernapas
d. Tipe pernapasan
Palpasi
a. Vokal fremitus
b. Massa / nyeri

24

Auskultasi
a. Suara nafas

: Vesikuler / Bronchial / Bronchovesikuler

b. Suara tambahan

: Ronchi / Wheezing / Rales

Perkusi
Redup / pekak / hypersonor / tympani
15. Jantung

(Normal dan bukan merupakan data fokus)

Palpasi
Ictus cordis
Perkusi
Pembesaran jantung
Auskultasi
16. Abdomen

(Normal dan bukan merupakan data fokus)

Inspeksi
a. Membuncit
b. Ada luka / tidak
Palpasi
a. Hepar
b. Lien
c. Nyeri tekan
Auskultasi
Peristaltik
Perkusi
a. Tympani
b. Redup
Data lain
17. Genitalia dan Anus

( benjolan di kantong skrotum dengan

konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan


adanya transiluminasi)
18. Ekstremitas

(Normal dan bukan merupakan data fokus)

Ekstremitas atas

25

a. Motorik
-

Pergerakan kanan / kiri

Pergerakan abnormal

Kekuatan otot kanan / kiri

Tonus otot kanan / kiri

Koordinasi gerak

b. Refleks
-

Biceps kanan / kiri

Triceps kanan / kiri

c. Sensori

Nyeri

Rangsang suhu

Rasa raba
Ekstremitas bawah
a. Motorik
-

Gaya berjalan ( kaki cendengrung melebar / ngangkan ketika


berjalan karena pembesaran skrotum)

Kekuatan kanan / kiri

Tonus otot kanan / kiri

b. Refleks
-

KPR kanan / kiri

APR kanan / kiri

Babinsky kanan / kiri

c. Sensori
-

Nyeri

Rangsang suhu

Rasa raba

26

19. Status Neurologi ( difokuskan ke neurologi di area sekitar genetalia yang


mengalami hidrokel)
XI. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan (0 6 Tahun )
(Normal dan bukan merupakan data fokus)
XII. Test Diagnostik
XIII. Terapi saat ini (ditulis dengan rinci)
4.2 Diagnosa
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan penyumbatan
cairan/darah di dalam korda spermatika
2. Perubaan body image : citra tubuh berhubungan dengan perubahan bentuk
skrotum
3. Resiko kerusakan integritas kulit : skorotum berhubungan dengan adanya
gesekan dan peregangan jaringan kulit skrotum
4. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi post op

27

4.3 Intervensi
No

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria

Dx
Keperawatan
Hasil
1 a. Gangguan rasa Diharapkan setelah
nyaman (nyeri)

dilakukan intervensi,

Intervensi
1. Kaji skala, karakteristik dan
lokasi nyeri yang dialami klien

b.d penyumbatan rasa tidak nyaman

2. Catat petunjuk nonverbal seperti

cairan/darah di

berkurang bahkan

gelisah, menolak untuk bergerak,

dalam korda

hilang dengan Kriteria berhati-hati saat beraktifitas dan

spermatika

hasil :
1) Pembengkakan
skrotum berkurang
2) Klien merasa
nyaman,
nyeri klien
berkurang
bahkan hilang
3) Skala nyeri 0-3

Rasional
1. Mengidentifikasi nyeri
akibat gangguan lain.
2. Mendeskripsikan tingkat nyeri.

meringis
3. Ajarkan pasien untuk memulai

3. Mengurangi sensasi nyeri

posisi yang nyaman atau tekhnik


relaksasi misalnya duduk dengan
kaki agak dibuka dan nafas dalam
4. Berikan tindakan nyaman

4. Mengurangi sensasi nyeri.

massage punggung, mengubah


posisi dan aktifitas senggang
5.Observasi dan catat pembesaran

5. Menjadi acuan dalam

skrotum ( bila perlu ukur tiap hari), perrkembangan terapi yang

28

cek adanya keluhan nyeri.

sudah diberikan.

6. Kolaborasi pemberian analgetik

6. Mengurangi sensasi nyeri.

sesuai indikasi.

Perubaan body

Diharapkan setelah

a)Kaji tingkat pengetahuan pasien

image : citra

dilakuakan intervensi, tentang kondisi dan pengobatan, dan

tubuh b.d

klien tidak merasa

a) Mengidentifikasi luas masalah dan


perlunya intervensi.

ansietas sehubungan dengan situasi

perubahan bentuk bahwa penyakitnya

saat ini.

skrotum.

b) Perhatikan perilaku menarik diri stress terhadap apa yang

adalah suatu

b) Indicator terjadinya kesulitan menangani


terjadi.

penderitaan, dan pada pada keluarga, tidak efektif


bayi, orangtua harus

menggunakan pengingkaran atau

memahami bahwa

perilaku yang mengindikasikan

sedang alami memberikan

penyakit ini dapat

terlalu mempermasalahkan tubuh

pedoman untuk mengenal dan

disembuhkan, dengan dan fungsinya.


Kriteria hasil :

c)Tentukan tahap berduka.

1) Keluarga sabar

Perhatikan tanda depresi berat

menghadapi kondisi /lama.

c) Identifikasi tahap yang pasien

menerima perilaku dengan tepat.


lama menunjukan
intervensi lanjut.
d) Pengenalan perasaan tersebut

Depresi

29

anaknya.

diharapkan membantu orangtua asien untuk


d) Akui kenormalan perasaan

menerima perilaku dan mengatasinya secara

e) Anjurkan orang terdekat untuk efektif.


memperlakukan pasien secara
normal dan bukan sebagai orang
cacat

e) Menyampaikan harapan untuk


mengatur situasi dan membantu
perasaan harga diri dan orang

f)Yakinkan keluarga bahwa penyakit


ini dapat disembuhkan dan tetap
sabar menghadapi kondisi anaknya.

lain.
f) Memperkuat keyakinan keluarga dan
memberikan semangat yang
mempertahankan harga diri
keluarga dan menghindari
kecemasan yang

Resiko kerusakan Diharapkan setelah

a) Kaji adanya tanda kerusakan

berlebihan.
a. Mengetahui lebih dini gejala

integritas kulit : dilakukan intervensi,

kulit seperti lecet dan

kerusakan kulit untuk dilakukan

skorotum

kerusakan integritas

kemerahan sekitar area

intervensi selanjutnya.

berhubungan

kulit tidak terjadi,

dengan adanya

dengan Kriteria hasil :

pembesaran ( lipatan paha ).


b) Berikan salep atau pelumas.

b. Mencegah kerusakan kulit.


c. Mencegah kerusakan yang

30

gesekan dan
peregangan
jaringan kulit
skrotum

1) Tidak ada lecet dan c) Kurangi aktifitas klien selama


kemerahan di
sekitar
area pembesaran.

sakit
d) Berikan posisi yang nyaman :
abduksi
e) Anjurkan klien menggunakan

lebih parah.
d. Memberikan sirkulasi bagi
aliran darah.
e. Mencegah iritasi yang lebih parah.

pakaian yang longgar terutama


4

celana.
a) Cuci tangan sebelum dan

Resiko infeksi

Diharapkan resiko

berhubungan

terjadinya infeksi tidak sesudah melakukan aktivitas

a. mengurangi kontaminasi
silang.

dengan insisi post terjadi dengan kriteria walupun menggunakan sarung


op

hasil :

tangan steril.

1) Berkurangnya

b) Batasi penggunaan alat

b. mengurangi jumlah lokasi

tanda-tanda

atau prosedur invasive jika

yang dapat menjadi tempat

peradangan seperti

memungkinkan.

masuk organisme

kemeraha-merahan,
gatal, panas,
perubahan fungsi

c) Gunakan teknik steril pada


waktu penggatian balutan /
penghisapan /berikan lokasi
perawatan, misalnya jalur invasive.

c. mencegah masuknya bakteri,


mengurangi risiko infeksi
nosokomial
d. Mencegah penyebaran

31

d) Gunakan sarung tangan/pakaian

infeksi /

pada waktu merawat luka yang

silang

terbuka/antisipasi dari kontak


langsung dengan sekresi ataupun
ekskresi

kontaminasi

32

4.4 Evaluasi
(Evaluasi dilakukan terkait penilaian kondisi pasien setelah dilakukannya tindakan
dari rencana keperawatan jika ada masalah keperawatan yang belum teratasi maka
dilakukan modifikasi dari rencana keperawatan atau rencana keperawatantersebut
dilanjutkan kembali.Evaluasi biasanya menggunakan format SOAPIER atau
SOAP). Berikut ini akan diberikan contoh evaluasi pada diagnosa utamanya.
No

Hari, tanggal,

Dx
waktu
1. (Disesuaikan
dengan

Evaluasi
S : Pasien mengatakan, rasa nyeri sudah

hari, berkurang suster

tanggal, dan waktu O : Tidak lagi terlihat pembekakan akibat


evaluasi)

penyumbatan pembuluh darah/cairan


A: masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan tindakan

33

BAB 5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Hydrocele adalah suatu penyakit dimana penderita mengalami kondisi
berupa penumpukan cairan pada selaput yang melindungi testis. Di USA,
insidensi hidrokel adalah sekitar 10-20 per 1000 kelahiran hidup dan lebih sering
terjadi pada bayi prematur. Hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma
dan hidrokel permagna bisa menekan pembuluh darah yang menuju ke testis
sehingga menimbulkan atrofi testis. Prognosis pasien dengan hidrokel yang telah
dilakukan terapi operasi, angka rekurensinya kurang dari 1%. Pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan pada pasien dengan hidrokel transiluminasidan
ultrasonografi. Tindakan untuk mengatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi
dan operasi.
5.2 Saran
a.

Pada

mahasiswa
Diharapkan kepada mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan agar dapat
mengerti, memahami dan dapat menjelaskan tentang penyakit hidrokel baik
mengenai pengertian, patofisiologi, etiologi, manifestasi klinis maupun
b.

pencegahan serta penerapan asuhan keperawatannya.


Pada Dosen
Dosen diharapkan dapat memfasilitasi mahasiswa apabila terdapat mahasiswa
yang kurang paham tentang penyakit hidrokel dan memberikan tambahan
materi atau penjelaskan apabila materi yang diberikan kurang lengkap atau
kurang jelas.

34

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth .2001.Keperawatan Medikal Bedah Vol.1. Jakarta: EGC
Brunner & Suddarth. 2005. Keperawatan Medikal Bedah Vol.2. Jakarta: EGC
Donna L. Wong. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong Edisi 4. Jakarta:
EGC
Mantu, F.N. 1993. Hidrokel, Bedah Anak, Jakarta: EGC.
Noviana, Anna. 2011. Referat Ilmu Bedah: Hidrokel. Makalah. Dipublikasikan.
Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha.
Purnomo, Basuki B. 2003. Dasar-Dasar Urologi. Edisi kedua. Malang: Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya.
Purnomo, et al. 2010. Pedoman Diagnosis dan Terapi SMF Urologi Laboratorium
Ilmu Bedah. Malang: Universitas Brawijaya.