Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

BATAS TOLERANSI SATU JENIS ORGANISME PERAIRAN


TERHADAP FAKTOR PEMBATAS FISIK DAN BIOLOGI

OLEH :
NAMA

: TIAN SAPUTRI

STAMBUK

: I1A5 15 089

KELOMPOK

: 6 (ENAM)

MATA KULIAH

: EKOLOGI PERAIRAN

JURUSAN AGROBISNIS PERIKANAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada tuhan YME , atas bimbingan dari teman
teman , makalah yang berjudul faktor pembatas fisik dan biologi satu organisme.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun

menambah

isi

makalah

agar

menjadi

lebih

baik

lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Kendari, September
2016

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Faktor pembatas adalah suatu yang dapat menurunkan tingkat jumlah dan

perkembangan suatu ekosistem. faktor lingkungan menjadi faktor pembatas, baik itu
abiotik maupun biotik. Ekosistem merupakan suatu kesatuan di dalam alam yang
terdiri dari semua organism yang berfungsi bersama-sama di suatu tempat yang
berinteraksi dengan lingkungan fisik yang memungkinkan terjadinya aliran energi
dan membentuk struktur biotik yang jelas dan siklus materi di antara komponen hidup
dan tak hidup (Anonim, 2007). Oleh karena itu, di dalam suatu ekosistem harus
terjadi keseimbangan antara komponen biotik maupun komponen abiotik sehingga
aliran energi yang terjadi dengan baik.
Sebuah ekosistem adalah level paling kompleks dari sebuah organisasi alam.
Ekosistem terbentuk dari sebuah komunitas dan lingkungan abiotiknya seperti iklim,
tanah, air, udara, nutrien dan energi. Ahli ekologi sistem adalah mereka yang
mencoba menghubungkan bersama beberapa perbedaan aktifitas fisika dan biologi di
dalam suatu lingkungan. Penelitian mereka seringkali terfokus pada aliran energi dan
perputaran material-material yang ada di dalam sebuah ekosistem. Mereka biasanya
menggunakan komputer yang canggih untuk membantu memahami data-data yang
dikumpulkan dari penelitian di lapangan dan untuk memprediksi perkembangan yang
akan terjadi (Anonim, 2007). Sebuah ekosistem yang sederhana dapat digambarkan
seperti berikut. Matahari menyediakan energi yang hampir dibutuhkan semua
produsen untuk membuat makanan. Produsen terdiri dari tanaman-tanaman hijau
seperti rumput dan pohon yang membuat makanan melalui proses fotosintesis.

BAB II
ISI

A. Definisi Faktor Pembatas


Faktor pembatas adalah suatu yang dapat menurunkan tingkat jumlah dan
perkembangan suatu ekosistem. faktor pembatas terdiri dari faktor pembatas fisik
yang kita kenal secara luas di antaranya faktor cahaya matahari, suhu, ketersediaan
sejumlah air, dan lain sebagainya, Faktor pembatas nonfisik yaitu nonfisik seperti zat
kimia Dan Tipologi Ekosistem dan Indikator Ekologi.
Lamun adalah kelompok tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) dan
berkeping tunggal (Monokotil) yang mampu hidup secara permanen di bawah
permukaan air laut. Komunitas lamun berada di antara batas terendah daerah pasang
surut sampai kedalaman tertentu dimana cahaya matahari masih dapat mencapai dasar
laut.

B. Faktor Pembatas Fisik


Faktor pembatas mencakup cahaya, temperatur, salinitas, nutrien, gas terlarut,
variasi dalam laut, kedalaman, dan geografi

a. Cahaya
Lamun tumbuh di perairan dangkal karena membutuhkan cahaya matahari.
Namun pada perairan jernih yang memungkinkan penetrasi cahaya dapat masuk lebih
dalam, maka lamun dapat hidup di daerah tersebut. Misalnya lamun jenis Thalassia
testudinum yang mampu tumbuh pada kedalaman 13 meter dan Cymodocea

manatorum tumbuh pada kedalaman 22 meter di kawasan selatan St John, Virgin


Islands.
Kemampuan tumbuh lamun pada kedalaman tertentu sangat dipengaruhi oleh
saturasi cahaya setiap individunya. Kekeruhan karena suspensi sedimen dapat
menghambat penetrasi cahaya, dan secara otomatis kondisi ini akan mempengaruhi
pertumbuhan lamun.Selaim itu, kekeruhan juga dapat disebabkan oleh pertumbuhan
epifitic algae dan fitoplankton, limbah domestik dan limbah organik, yang semuanya
dapat menurunkan keberadaan energi cahaya untuk pertumbuhan lamun, yang pada
kahirnya juga mempengaruhi biota-biota yang ada di habitat lamun tersebut seperti
ikan, beberapa jenis moluska dan krustasea.

b. Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses
kehidupan dan penyebaran organisme. Perubahan suhu terhadap kehidupan
lamun, antara lain dapat mempengaruhi metabolisme, penyerapan unsur hara dan
kelangsungan hidup lamun. Pada kisaran suhu 25 - 30C, fotosintesis bersih akan
meningkat dengan meningkatnya suhu. Demikian juga respirasi lamun meningkat
dengan meningkatnya suhu, namun dengan kisaran yang lebih luas yaitu 5-35C.
1. Menurut Nontji (1993), pengaruh suhu terhadap sifat fisiologi organisme
perairan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi fotosintesis. Suhu
rata-rata untuk pertumbuhan lamun berkiasar antara 24-27 0C. Suhu air
dibagian pantai biasanya sedikit lebih tinggi dari pada yang di lepas pantai,
suhu air permukaan di perairan nusantara umumnya berada dalam kisaran 2830 0C sedangkan pada lokasi yang sering terjadi kenaikan air (upwelling)
seperti Laut Banda, suhu permukaan bisa menurun sekitar 250C.
2. Tumbuhan makrofit seperti lamun, yang tumbuh pada kondisi mendekati level
kompensasi (kekurangan cahaya) akan mencapai pertumbuhan optimum pada
suhu rendah, tetapi pada suhu tinggi akan membutuhkan cahaya yang cukup
banyak untuk mengatasi pengaruh respirasi dalam rangka menjaga
keseimbangan karbon. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan lamun lebih

efektif pada cahaya yang rendah pada musim panas daripada musim dingin.
Pada kondisi intensitas cahaya yang cukup, lamun umumnya mempunyai suhu
optimum untuk fotosintesis sekitar 25-35 derajat Celcius. Demikian juga
respirasi lamun meningkat dengan meningkatnya suhu, namun dengan kisaran
yang lebih luas yaitu 5-35C.

c. Salinitas (Kadar Garam)


Salinitas adalah total kosentrasi ion-ion terlarut yang terdapat di perairan.
Salinitas dinyatakan dalam satuan promil (). Nilai salinitas perairan tawar biasanya
kurang dari 0,5, perairan payau antara 0,5 - 30, dan perairan laut 30 - 40.
Pada perairan pesisir, nilai salinitas sangat dipengaruhi oleh masukan air tawar dari
sungai.
Hutomo (1999) menjelaskan bahwa lamun memiliki kemampuan toleransi yang
berbeda terhadap salinitas, namun sebagian besar memiliki kisaran yang lebar yaitu
10-40. Nilai salinitas yang optimum untuk lamun adalah 35. Walaun spesies
lamun memiliki toleransi terhadap salinitas yang berbeda-beda, namun sebagian besar
memiliki kisaran yang besar terhadap salinitas yaitu antara 10-30 . Penurunan
salinitas akan menurunkan kemampuan fotosintesis.
Toleransi lamun terhadap salinitas bervariasi antar jenis dan umur. Lamun yang tua
dapat menoleransi fluktuasi salinitas yang besar. Ditambahkan bahwa Thalassia
ditemukan hidup dari salinitas 3,5-60 /o, namun dengan waktu toleransi yang
singkat. Kisaran optimum untuk pertumbuhan Thalassia dilaporkan dari salinitas 2435 /0.
Salinitas juga dapat berpengaruh terhadap biomassa, produktivitas, kerapatan, lebar
daun dan kecepatan pulih lamun. Pada jenis Amphibolis antartica biomassa,
produktivitas dan kecepatan pulih tertinggi ditemukan pada salinitas 42,5 /o.
Sedangkan kerapatan semakin meningkat dengan meningkatnya salinitas, namun
jumlah cabang dan lebar daun semakin menurun.

e. Kelarutan Gas
Oksigen terlarut adalah kandungan oksigen yang terlarut dalam perairan yang
merupakan suatu komponen utama bagi metabolisme organisme perairan yang
digunakan untuk pertumbuhan, reproduksi, dan kesuburan lamun.
Kandungan oksigen terlarut di perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
(1) interaksi antara permukaan air dan atmosfir (2) kegiatan biologis seperti
fotosintesis, respirasi dan dekomposisi bahan organik (3) arus dan proses
percampuran massa air (4) fluktuasi suhu (5) salinitas perairan (6) masuknya limbah
organik yang mudah terurai. Keseimbangan struktur senyawa bahan anorganik
dipengaruhi oleh kandungan oksigen perairan. Kesetimbangan nitrogen misalnya
ditentukan oleh besar kecilnya oksigen yang ada di perairan di mana ketika oksigen
tinggi akan bergerak kesetimbangan fasfat. Hal ini disebabkan oleh senyawa
anorganik seperti nitrogen dan fosfat umumnya berada dalam bentuk ikatan dengan
unsur oksigen.

f. Nutrien Terlarut
Ketersediaan nutrien menjadi faktor pembatas pertumbuhan, kelimpahan dan
morfologi lamun pada perairan yang jernih.
Penyerapan nutrien oleh lamun dilakukan oleh daun dan akar. Penyerapan oleh daun
umumnya tidak terlalu besar terutama di daerah tropik. Penyerapan nutrien dominan
dilakukan oleh akar lamun. Lamun mengambil unsur hara terlarut melalui akar dan
daun dengan mekanisme tergantung pada jenis unsur hara dan konsentrasinya. Jika
konsentrasi pada kolom air tinggi, maka pengambilan melalui daun mungkin lebih
dominan. Sebaliknya apabila nilai ambang (ambient level) di kolom air rendah,
pengambilan unsur hara akan lebih banyak dilakukan melalui akar.

C. Faktor Pembatas Biologi Pada Lamun


Adapun Faktor pembatas dari padang lamun adalah sebagai berikut :

a. Kompetisi
Dalam hal kompetisi, Padang lamun juga sangat berpengaruh terhadap ekosistem
terumbu karang dan mangrove.
Adanya saling membutuhkan, lamun juga memiliki persaingan dengan
fitoplankton sebagai produsen untuk berfotosintesis.
lamun membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis, pada rantai makanan
merumput, sumber nutriennya secara langsung adalah tumbuhan lamun itu sendiri
yang daunnya dimakan oleh konsumen tingkat pertama yaitu dugong, penyu, ikan
beronang dan bulu babi. kemudian konsumen tingkat pertama ini dimakan oleh
predator kecuali bulu babi, ia dimakan oleh ikan buntal sebagai konsumen
kedua.Selain rantai makanan pada ekosistem padang lamun, di laut juga terdapat
rantai makanan lainnya dan salah satunya adalah rantai makanan pada ekosistem
mangrove, yang akan dijelaskan pada blog teman saya Aktivitas manusia yang tidak
bertanggung jawab dapat merusak ekosistem padang lamun dan hal itu pun dapat
merusak rantai makanan yang terjadi didalamnya. Jika saja terjadi kerusakan
tingkatan

trofik

atau

produsen

akan

memutuskan

rantai

makanan

dan

keseimbangannya terganggu. Maka dari itu kita sebagai manusia harus merawat dan
menjaga kelestarian ekosistem yang berada di laut seperti ekosistem lamun, terumbu
karang dan lamun.

b. Predasi dan Herbivory


Predasi dan Herbivory Adalah aksi satu organisme memangsa organisme lain.
Pemangsa disebut predator dan termangsa disebut prey
Pada Predasi padang lamun, Lamun dimangsa oleh predator bernama cacing,udang
dan kepiting sebagai konsumen pertama, sebelum itu Pada rantai makanan detritus,

guguran daun sebagai sumber nutrient yang diurai oleh bakteri. Setelah itu hewanhewan tersebut dimakan oleh ikan sedang sebagai konsumen tingkat dua. Konsumen
tingkat kedua pun dimakan oleh ikan besar. Ikan hiu dan burung laut sebagai predator
yang menduduki tingkatan trofik paling tinggi memakan konsumen tingkat dua dan
ikan besar sebagai konsumen tingkat tiga. Saat predator tersebut mati dan jasadnya
akan diurai oleh bakteri sebagai detrivor yang menguraikan materi dari bangkai
predator tersebut, agar detrivor itu akan dikonsumsi kembali oleh konsumen
pertama dan begitulah seterusnya.

BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Padang lamun atau seagrass merupakan salah satu sumber daya alam
wilayah bagian pesisir. Padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang
ditumbuhi oleh lamun sebagai vegetasi yang dominan.
Oksigen terlarut adalah kandungan oksigen yang terlarut dalam perairan
yang merupakan suatu komponen utama bagi metabolisme organisme perairan
yang digunakan untuk pertumbuhan, reproduksi, dan kesuburan lamun.

b. Saran
Unt
K kedepannya organisme yang hidup dilaut maupun air tawar harus ada toleransi
batas toleransi.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid Tiga. Erlangga; Jakarta.


Hutagalung, RA., 2010. Ekologo Dasar. Erlangga; Jakarta.
Soeraatmadja. 1987. Ilmu Lingkungan. ITB; Bandung.
Suwasono, Heddy. 1986. Pengantar Ekologi. Universitas Brawijaya;
Malang

Uya.

2010.

Komponen

Ekosistem.

http://www.shvoong.com/exact-

sciences/biology/2012066-komponen-ekosistem.html
Desember 2011. 21.05 WIB).

(Diakses

tanggal