Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Infanticide (Pembunuhan Anak Sendiri) adalah pembunuhan bayi (Dorland,
2000).

Sedangkan

menurut

Undang-Undang

di

Indonesia,

infanticide

adalah

pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya ketika dilahirkan atau tidak
berapa lama setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak
(Budiyanto, 1997).
Infanticide dapat dibagi berdasarkan atas jenis kelamin anak yang dibunuh, yaitu
pembunuhan anak laki-laki (male infanticide) dan pembunuhan anak perempuan (female
infanticide). Female infanticide lebih banyak dibandingkan dengan male infanticide, hal
ini dilatarbelakangi banyak hal, antara lain faktor kultural dan ekonomi (Laksono, 2010).
B. KRITERIA
Berdasarkan definisi yang telah disebutkan sebelumnya, maka kriteria dari
infanticide adalah :
1. Pelaku adalah ibu kandung
2. Korban adalah anak kandung
3. Alasan melakukan tindakan tersebut adalah takut ketahuan telah melahirkan anak
4. Waktu pembunuhan, yaitu tepat pada saat melahirkan, atau beberapa saat setelah
melahirkan.
C. PREVALENSI
Menurut Friedman dan Resnick (2007), di Amerika prevalensi infanticide sekitar 8
kasus setiap 100.000 kelahiran anak. Di Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal
RSUD Dr.Moewardi, selama 2006-2011, terdapat 24 kasus infanticide. 4 kasus pada
2006, 5 kasus pada 2007, 6 kasus pada 2008, 5 kasus pada 2009, 1 kasus pada 2010, dan
3 kasus pada 2011. Dari 24 kasus didapatkan jenis kelamin laki-laki 17 (70,83%) kasus
dan perempuan sebanyak 7 (29,17%) kasus. Penyebab terjadinya adalah asfiksia (13
kasus), kelalaian (7 kasus), dan trauma tumpul (4 kasus) (Setyarini, 2012).
D. ASPEK MEDIKOLEGAL
Laksono (2010) menyebutkan bahwa dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana), pembunuhan anak sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap nyawa
orang.

Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya,
diancam karena membunuh anaknya sendiri dengan pidana penjara paling lama tujuh
tahun.
Pasal 341 KUHP
Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan
ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat akan dilahirkan atau tidak lama
kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak
sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pasal 342 KUHP
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang lain
yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan anak dengan
rencana.
Pasal 343 KUHP
Apabila ditemukan mayat bayi di tempat yang tidak semestinya, seperti di tempat
sampah, sungai, got, atau di tempat lainnya, mungkin bayi tersebut merupakan korban
pembunuhan anak sendiri (dijerat dengan pasal tersebut di atas), lahir mati kemudian
dibuang (pasal 181), atau mungkin bayi tersebut ditelantarkan sampai mati (pasal 308).
Barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari, atau menghilangkan mayat
dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya, diancam dengan pidana
penjara selama 9 bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 181 KUHP
Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya, tidak
lama sesudah melahirkan, menempatkan anaknya untuk ditemukan atau
meninggalkannya dengan maksud melepaskan diri daripadanya, maka maksimum
pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh.
Pasal 308 KUHP
Barang siapa menempatkan seorang anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk
ditemukan atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk melepaskan diri
daripadanya, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan.
Pasal 305 KUHP
1. Jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 305 itu mengakibatkan luka-luka berat
yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lambat 7 tahun 6 bulan.
2. Jika mengakibatkan kematian, pidana penjara paling lama 9 tahun.
Pasal 306 KUHP
E. PEMERIKSAAN POST MORTEM
1. Viabilitas

Bayi yang viable adalah bayi yang sudah mampu untuk hidup di luar kandungan
ibunya atau sudah mampu untuk hidup terpisah dari ibunya (separate existence).
Viabilitas mempunyai beberapa syarat, yaitu:
a. Umur 28 minggu dalam kandungan.
b. Panjang badan 45 cm.
c. Berat badan 2500 gram.
d. Tidak ada cacat bawaan yang berat.
e. Lingkaran fronto-ocipital 32 cm (Budijanto dkk, 1988; Apuranto H, Hoediyanto,
2007).
Selain itu, juga dilihat adanya kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi
kelangsungan hidup bayi, seperti kelainan jantung (ASD, VSD), otak (anensefalus
atau mikrosefalus), dan saluran pencernaan (stenosis esophagus, gastroskizis) (Idries,
1997).
2. Lahir Hidup atau Mati
Lahir hidup (live birth) adalah keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang
lengkap, yang setelah pemisahan, bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain
tanpa mempersoalkan usia gestasi, sudah atau belumnya tali pusat dipotong dan uri
dilahirkan.
Lahir mati (still birth) adalah kematian hasil konsepsi sebelum keluar atau
dikeluarkan oleh ibunya, tanpa mempersoalkan usia kehamilan (baik sebelum ataupun
setelah kehamilan berumur 28 minggu dalam kandungan). Kematian ditandai oleh
janin yang tidak bernapas atau tidak menunjukkan tanda kehidupan lain seperti denyut

a.

jantung, denyut nadi tali pusat atau gerakan otot rangka (Budiyanto et al.,1997).
Adapun tanda-tanda kehidupan pada bayi yang baru dilahirkan yaitu :
Pernapasan
Pernapasan spontan terjadi akibat rangsangan atmosfer dan adanya gangguan
sirkulasi plasenta, dan ini menimbulkan perubahan penting yang permanen pada paru.
1) Uji Apung Paru
Uji apung paru dilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch technique),
paru-paru tidak disentuh untuk menghindari kemungkinan timbulnya artefak pada
sediaan histopatologik jaringan paru akibat manipulasi berlebihan.
Lidah dikeluarkan seperti biasa di bawah rahang bawah, ujung lidah dijepit
dengan pinset atau klem, kemudian ditarik ke arah ventrokaudal sehingga tampak
palatum mole. Dengan scalpel yang tajam, palatum mole disayat sepanjang
perbatasannya dengan palatum durum. Faring, laring, esophagus bersama dengan
trakea dilepaskan dari tulang belakang. Esofagus bersama dengan trakea diikat di

bawah kartilago krikoid dengan benang. Pengikatan ini dimaksudkan agar pada
manipulasi berikutnya cairan ketuban, mekonium atau benda asing lain tidak
mengalir ke luar melalui trakea; bukan untuk mencegah masuknya udara ke
dalam paru.
Pengeluaran organ dari lidah sampai paru dilakukan dengan forsep atau
pinset bedah dan scalpel, tidak boleh dipegang dengan tangan. Kemudian
esophagus diikat di atas diafragma dan dipotong di atas ikatan. Pengikatan ini
dimaksudkan agar udara tidak masuk ke dalam lambung dan uji apung lambungusus (uji Breslau) tidak memberikan hasil meragukan.
Setelah semua organ leher dan dada dikeluarkan dari tubuh, lalu
dimasukkan ke dalam air dan dilihat apakah mengapung atau tenggelam.
Kemudian paru-paru kiri dan kanan dilepaskan dan dimasukkan kembali ke
dalam air, dilihat apakah mengapung atau tenggelam. Setelah itu tiap lobus
dipisahkan dan dimasukkan ke dalam air, dan dilihat apakah mengapung atau
tenggelam. Lima potong kecil dari bagian perifer tiap lobus dimasukkan ke dalam
air, diperhatikan apakah mengapung atau tenggelam.
Hingga tahap ini, paru bayi yang lahir mati masih dapat mengapung oleh
karena kemungkinan adanya pembusukan. Bila potongan kecil itu mengapung,
letakkan di antara dua karton dan ditekan dengan arah penekanan tegak lurus
jangan digeser untuk mengeluarkan gas pembusukan yang terdapat pada jaringan
interstisial paru, lalu masukkan kembali ke dalam air dan diamati apakah masih
mengapung atau tenggelam. Bila masih mengapung berarti paru terisi udara
residu yang tidak akan keluar. Namun, terkadang dengan penekanan, dinding
alveoli pada mayat bayi yang telah membusuk lanjut akan pecah dan udara residu
keluar dan memperlihatkan hasil uji apung paru negatif.
Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potongan kecil paru
mengingat kemungkinan adanya pernapasan sebagian (parsial respiration) yang
dapat bersifat buatan atau alamiah (vagitus uternus atau vagitus vaginalis) yaitu
bayi sudah bernapas walaupun kepala masih dalam uterus atau dalam vagina).
Hasil negatif belum berarti pasti lahir mati karena adanya kemungkinan
bayi dilahirkan hidup tapi kemudian berhenti bernapas meskipun jantung masih
berdenyut, sehingga udara dalam alveoli diresorpsi. Pada hasil uji negatif ini,
pemeriksaan histopatologik paru harus dilakukan untuk memastikan bayi lahir
mati atau lahir hidup.
Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka uji apung paru kurang dapat
dipercaya, sehingga tidak dianjurkan untuk dilakukan.

2) Mikroskopik paru-paru
Setelah paru-paru dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh, dilakukan fiksasi
dengan larutan formalin 10 %. Sesudah 12 jam, dibuat irisan melintang untuk
memungkinkan cairan fiksatif meresap dengan baik ke dalam paru. Setelah
difiksasi selama 48 jam, kemudian dibuat sediaan histopatologik. Biasanya
digunakan perwarnaan HE dan bila paru telah membusuk digunakan pewarnaan
Gomori atau Ladewig.
Struktur seperti kelenjar bukan merupakan ciri paru bayi yang belum
bernapas, tetapi merupakan ciri paru janin yang belum mencapai usia gestasi 26
minggu. Tanda khas untuk paru janin belum bernapas adalah adanya tonjolan
(projection) yang berbentuk seperti bantal (cushion-like) yang kemudian akan
bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga akan tampak seperti gada (club
like). Pada permukaan ujung bebas projection tampak kapiler yang berisi banyak
darah. Pada paru bayi belum bernapas yang sudah membusuk dengan perwarnaan
Gomori atau Ladewig, tampak serabut-serabut retikulin pada permukaan dinding
alveoli berkelok-kelok seperti rambut yang keriting, sedangkan pada projection
berjalan di bawah kapiler sejajar dengan permukaan projection dan membentuk
gelung-gelung terbuka (open loops).
Pada paru bayi yang lahir mati mungkin pula ditemukan tanda inhalasi
cairan amnion yang luas karena asfiksia intrauterin, misalnya akibat tertekannya
tali pusat atau solusio plasenta sehingga terjadi pernapasan janin prematur
(intrauterine submersion). Tampak sel-sel verniks akibat deskuamasi sel-sel
permukaan kulit, berbentuk persegi panjang dengan inti piknotik berbentuk huruf
S, bila dilihat dari atas samping terlihat seperti bawang. Juga tampak sel-sel
amnion bersifat asidofilik dengan batas tidak jelas dan inti terletak eksentrik
dengan batas yang juga tidak jelas.
Mekonium yang berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua mungkin
terlihat dalam bronkioli dan alveoli. kadang-kadang ditemukan deskuamasi selsel epitel bronkus yang merupakan tanda maserasi dini, atau fagositosis
mekonium oleh sel-sel dinding alveoli.
Lahir mati ditandai pula oleh keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya
kehidupaan seperti trauma persalinan yang hebat, perdarahan otak yang hebat,
dengan atau tanpa robekan tentorium serebeli, pneumonia intrauterin, kelainan
kongenitasl yang fatal seperti anensefalus (Budiyanto et al.,1997).
Adapun ringkasan perbedaan dari pemeriksaan paru yaitu (Apuranto, H.
dan Hoediyanto, 2007):

N
o
1.

Paru Belum Bernapas

Paru Sudah Bernapas

Volume kecil, kolaps, menempel Volume 4-6x lebih besar, sebagian


pada vertebra, konsistensi padat, menutupi

jantung,

konsistensi

2.

tidak ada krepitasi


seperti karet busa (ada krepitasi)
Seluruh bagian paru tenggelam Bagian-bagian
paru
yang

3.
4.

dalam air
Tepi paru tajam
Warna
homogen,

5.

kebiruan/ungu
Kalau diperas di bawah permukaan Gelembung gas yang keluar halus

mengembang terapung dalam air.


Tepi paru tumpul
merah Warna merah muda

air tidak keluar gelembung gas atau dan rata ukurannya.


bila

sudah

ada

pembusukan

6.

gelembungnya besar dan tidak rata.


Tidak tampak alveoli yang Tampak alveoli, kadang-kadang

7.

berkembang pada permukaan


terpisah sendiri
Kalau diperas hanya keluar darah Bila diperas keluar banyak darah
sedikit dan tidak berbuih (kecuali berbuih
bila sudah ada pembusukan)

8. Berat paru kurang lebih 1/70 BB


b. Menangis

walaupun

belum

ada

pembusukan (volume darah dua


kali volume sebelum napas.
Berat paru kurang lebih 1/35 BB

Bernapas dapat terjadi tanpa menangis, tetapi menangis tidak dapat terjadi tanpa
bernapas. Suara tangis yang terdengar belum berarti bayi tersebut lahir hidup karena
suara tangisan dapat terjadi dalam uterus atau dalam vagina. Yang merangsang bayi
menangis dalam uterus adalah masuknya udara dalam uterus dan kadar oksigen
dalam darah menurun dan atau kadar CO2 dalam darah meningkat.
c.

Pergerakan otot
Keadaan ini harus disaksikan oleh saksi mata, karena post mortem tidak dapat
dibuktikan. Kaku mayat dapat terjadi pada bayi yang lahir hidup kemudian mati

d.

maupun yang lahir mati.


Sirkulasi darah dan denyut jantung serta perubahan hemoglobin
Meliputi bukti fungsional yaitu denyut tali pusat dan detak jantung (harus ada
saksi mata) dan bukti anatomis yaitu perubahan-perubahan pada Hb serta perubahan
dalam duktus arteriosus, foramen ovale dan dalam duktus venosus (cabang vena
umbilicalis yang langsung masuk vena cava inferior).
Bila ada yang menyaksikan denyut nadi tali pusat/detak jantung pada bayi yang
sudah terlahir lengkap, maka ini merupakan bukti suatu kelahiran hidup. Foramen

ovale tertutup bila telah terjadi pernapasan dan sirkulasi (satu hari sampai beberapa
minggu). Duktus arteriosus perlahan-lahan menjadi jaringan ikat (paling cepat dalam
e.

24 jam) Duktus venosus menutup dalam 2-3 hari sampai beberapa minggu.
Isi usus dan Lambung
Bila dalam lambung bayi ditemukan benda asing yang hanya dapat masuk
akibat reflek menelan, maka ini merupakan bukti kehidupan (lahir hidup). Udara
dalam lambung dan usus dapat terjadi akibat pernapasan wajar, pernapasan buatan,
atau tertelan. Keadaan-keadaan tersebut tidak dapat dibedakan. Cara pemeriksaan
yaitu esophagus diikat, dikeluarkan bersama lambung yang diikat pada jejunum lekuk
pertama, kemudian dimasukkan ke dalam air. makin jauh udara usus masuk dalam
usus, makin kuat dugaan adanya pernapasan 24-48 jam post mortem, mekonium

f.

sudah keluar semua seluruhnya dari usus besar.


Keadaan tali pusat
Yang harus diperhatikan pada tali pusat adalah pertama ada atau tidaknya
denyut tali pusat setelah kelahiran. Ini hanya dapat dibuktikan dengan saksi mata.
Kedua, pengeringan tali pusat, letak dan sifat ikatan, bagaimana tali pusat itu di putus
(secara tajam atau tumpul).
g. Keadaan Kulit
Tidak satupun keadaan kulit yang dapat membuktikan adanya kehidupan setelah
bayi lahir, sebaliknya ada satu keadaan yang dapat memastikan bahwa bayi tersebut
tidak lahir hidup yaitu maceration, yang dapat terjadi bila bayi sudah mati in utero
beberapa hari (8-10 hari). Hal ini harus dibedakan dengan proses pembusukan yaitu
pada maserasi tidak terbentuk gas karena terjadi secara steril. Kematian pada bayi
dapat terjadi waktu dilahirkan, sebelum dilahirkan atau setelah terpisah sama sekali
dari ibu. (Apuranto, H. dan Hoediyanto, 2007)
Sedangkan bukti kematian dalam kandungan di antaranya:
a. Ante partum rigor mortis yang sering menimbulkan kesulitan waktu melahirkan
b. Meceration, yaitu perlunakan janin dalam air ketuban dengan ciri-ciri:
1) Warna merah kecoklatan (pada pembusukan warnanya hijau)
2) Kutikula putih, sering membentuk bula berisi cairan kemerahan
3) Tulang-tulang lentur dan lepas dari jaringan lunak
4) Tidak ada gas, baunya khas
5) Maserasi ini terjadi bila bayi sudah mati 8-10 hari dalam kandungan
(Apuranto, H. dan Hoediyanto, 2007)
3. Cukup Bulan dalam Kandungan

Bayi yang cukup bulan (matur, term) adalah bayi yang lahir setelah dikandung
selama 37 minggu atau lebih tetapi kurang dari 42 minggu penuh. Pengukuran bayi
cukup bulan dapat dinilai dari:
a. Ciri-ciri eksternal
1) Daun telinga
Pada bayi yang lahir cukup bulan, daun telinga menunjukkan pembentukan tulang
rawan yang sudah sempurna, pada helix teraba tulang rawan yang keras pada
bagian dorsokranialnya dan bila dilipat cepat kembali ke keadaan semula
(Budijanto dkk, 1988).
2) Puting susu
Pada bayi yang matur puting susu sudah berbatas tegas, areola menonjol diatas
permukaan kulit dan diameter tonjolan puting susu tersebut 7 milimeter atau lebih
(Budijanto dkk, 1988).
3) Kuku jari tangan
Kuku jari tangan sudah panjang, melampaui ujung jari, ujung distalnya tegas dan
relatif keras sehingga terasa bila digarukkan pada telapak tangan pelaku autopsi.
Kuku jari kaki masih relatif pendek. Pada bayi yang prematur kuku jari tangan
belum melampaui ujung jari dan relatif lebih lunak sehingga ujungnya mudah
dilipat (Budijanto dkk, 1988).
4) Garis telapak kaki
Pada bayi yang matur terdapat garis-garis pada seluruh telapak kaki, dari depan
hingga tumit. Yang dinilai adalah garis yang relatif lebar dan dalam. Dalam hal
kulit telapak kaki itu basah maka dapat juga tampak garis-garis yang halus dan
superfisial (Budijanto dkk, 1988).
5) Alat kelamin luar
Pada bayi laki-laki matur, testis sudah turun dengan sempurna yakni pada dasar
skrotum dan rugae pada kulit skrotum sudah lengkap. Pada bayi perempuan yang
matur, labia minor sudah tertutup dengan baik oleh labia mayor (Budijanto dkk,
1988).
6) Rambut kepala
Rambut kepala relatif kasar, masing-masing helai terpisah satu sama lain dan
tampak mengkilat. Batas rambut pada dahi jelas. Pada bayi yang prematur rambut
kepala halus seperti bulu wol atau kapas, masing-masing helai sulit dibedakan satu
sama lain dan batas rambut pada dahi tidak jelas (Budijanto dkk, 1988).
7) Skin opacity
Pada bayi matur, jaringan lemak bawah kulit cukup tebal sehingga pembuluh
darah yang agak besar pada dinding perut tidak tampak atau tampak samar-samar.

Pada bayi prematur pembuluh-pembuluh tersebut tampak jelas (Budijanto dkk,


1988).
8) Processus xiphoideus
Pada bayi yang matur processus xiphoideus membengkok ke dorsal, sedangkan
pada yang prematur membengkok ke ventral atau satu bidang dengan korpus
manubrium sterni (Budijanto dkk, 1988).
9) Alis mata
Pada bayi yang matur, alis mata sudah lengkap, yakni bagian lateralnya sudah
terdapat, sedangkan pada yang prematur bagian itu belum terdapat (Budijanto dkk,
1988).
b. Pusat penulangan
Pusat-pusat penulangan khususnya pada tulang paha (femur) mempunyai
arti yang cukup penting. Bagian distal femur dan proksimal tibia akan
menunjukkan pusat penulangan pada umur kehamilan 36 minggu. Demikian juga
pada cuboideum dan cuneiform. Sedangkan, talus dan calcaneus pusat
penulangan akan tampak pada umur kehamilan 28 minggu (Budijanto dkk, 1988).
c. Penaksiran umur gestasi
1) Rumus De Haas
Menurut rumus De Haas, untuk 5 bulan pertama panjang kepala-tumit dalam
sentimeter adalah sama dengan kuadrat angka bulan. Untuk 5 bulan terakhir,
panjang badan adalah sama dengan angka bulan dikalikan dengan angka 5
(Budijanto dkk, 1988).
2) Rumus Arey
Menggunakan panjang kepala, tumit dan bokong.
Umur (bulan) = panjang kepala - tumit (cm) x 0,2
Umur (bulan) = panjang kepala - bokong (cm) x 0,3
3) Rumus Finnstrom
Menggunakan panjang lingkar kepala oksipito-frontal.
Umur gestasi = 11,03 + 7,75 (panjang lingkar kepala)
4. Lama Hidup di luar Kandungan
Apabila bayi tersebut sudah pernah bernafas atau lahir hidup, untuk mengetahui
sudah berapa lama bayi tersebut hidup sebelum dibunuh dengan memperhatikan kulit,
kepala dan umbilicus mayat tersebut. Pada bayi yang baru lahir, warna kulit merah
terang. Adanya vernix caseosa pada ketiak, sela paha dan leher. Vernix akan
menghilang setelah dua hari lalu kulit menjadi gelap dan menjadi normal kembali.
Setelah 1 minggu, kulit akan mengelupas, terutama di bagian abdomen kulit
akan mengelupas setelah 3 hari. Caput succedaneum akan menghilang setelah 24 jam

sampai 2 3 hari setelah dilahirkan. Setelah 2 jam kelahiran, terdapat bekuan darah
pada ujung pemotongan tali pusat. Dua belas jam kemudian akan mengering. Setelah
36 48 jam terbentuk cincin peradangan pada pangkal tali pusat. Tali pusat
mengering setelah 2 3 hari. Enam sampai tujuh hari tali pusat akan lepas
membentuk cicatriks. Tali pusat akan sembuh sempurna lebih kurang 15 hari.
Feses bayi juga dapat membantu menentukan sudah berapa lama bayi hidup.
Feses bayi yang baru lahir disebut meconium, biasa dikeluarkan dari usus setelah 24
28 jam, tetapi kadang kala bisa lebih lama. Untuk mengetaui lama bayi hidup diluar
kandungan dapat dinilai dari pemeriksaan dalam dengan terdapat udara pada usus
kecil (1 jam setelah lahir), duodenum (6-12 jam pasca lahir) dan usus besar (12-24
jam pasca lahir) (Budiyanto dkk, 1997).
5. Penyebab Kematian
Cara atau metoda yang banyak dijumpai untuk melakukan tindakan
pembunuhan anak adalah cara atau metoda yang menimbulkan keadaan mati lemas
(asfiksia) seperti penjeratan, pencekikan dan pembekapan serta membenamkan ke
dalam air. Adapun cara yang lain seperti menusuk atau memotong serta kekerasan
dengan benda tumpul relatif jarang ditemukan.
Perlu diperhatikan adanya tanda-tanda mati lemas seperti sianosis pada bibir dan
ujung-ujung jari, bintik-bintik perdarahan pada selaput biji mata dan selaput kelopak
mata serta jaringan longgar lainnya, lebam mayat yang lebih gelap dan luas, busa
halus berwarna putih atau putih kemerahan yang keluar dari lubang hidung dan atau
mulut serta tanda-tanda bendungan pada alat dalam.
Bila terbukti bayi lahir hidup (sudah bernafas), maka harus ditentukan penyebab
kematiannya. Bila terbukti bayi lahir mati (belum bernafas) maka ditentukan sebab
lahir mati atau sebab mati antenatal atau sebab mati janin (fetal death) (Budijanto dkk,
1988). Ada berbagai penyebab kematian pada bayi, yaitu:
a. Kematian wajar
1) Kematian secara alami
a) Imaturitas
Terjadi jika bayi yang lahir belum cukup matang dan mampu hidup di luar
kandungan sehingga mati setelah beberapa saat sesudah lahir.
b) Penyakit kongenital

Seringkali terjadi jika ibu mengalami sakit ketika sedang mengandung seperti
sifilis, tifus, campak sehingga anak memiliki cacat bawaan yang menyebabkan
kelainan pada organ internal seperti paru-paru, jantung dan otak.
2) Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi dari umbilikus, perut, anus dan organ genital.
3) Malformasi
Kadangkala bayi tumbuh dengan kondisi organ tubuh yang tidak lengkap seperti
anensefali. Jika kelainan tersebut fatal, maka bayi tidak akan bisa bertahan hidup.
4) Penyakit plasenta
Penyakit plasenta atau pelepasannya secara tidak sengaja dari dinding uterus akan
dapat menyebabkan kematian dari bayi dan ibu, dan dapat diketahui jika sang ibu
meninggal dan dilakukan pemeriksaan dalam.
5) Spasme laring
Hal ini dapat terjadi karena aspirasi mekonium ke dalam laring atau akibat
pembesaran kelenjar timus.
6) Eritroblastosis fetalis
Ini dapat terjadi karena ibu yang memiliki rhesus negatif mengandung anak
dengan rhesus positif, sehingga darah ibu akan membentuk antibodi yang
menyerang sel darah merah anak dan menyebabkan lisisnya sel darah merah
anak, sehingga menyebabkan kematian anak baik sebelum maupun setelah
kelahiran.

b. Kematian akibat kecelakaan


1)

Akibat persalinan yang lama

Ini dapat menyebabkan kematian pada bayi akibat ekstravasasi dari darah ke
selaput otak atau hingga mencapai jaringan otak akibat kompresi kepala dengan
pelvis, walaupun tanpa disertai dengan fraktur tulang kepala.
2) Jeratan tali pusat
Tali pusat seringkali melingkar di leher bayi selama proses kelahiran. Hal ini
dapat menyebabkan bayi menjadi tercekik dan mati karena sufokasi.
3) Trauma

Hantaman yang keras pada perut wanita hamil dengan menggunakan senjata
tumpul, terjatuhnya ibu dari ketinggian juga merupakan penyebab kematian bayi
intrauterin. Untuk kasus seperti ini harus diperiksa tanda-tanda trauma pada ibu.
4) Kematian dari ibu
Ketika ibu mati saat proses melahirkan ataupun sebelum melahirkan, maka anak
tidak akan bertahan lama di dalam kandungan sehingga harus dilahirkan sesegera
mungkin. Jika kematian disebabkan oleh penyakit kronis, seperti perdarahan
kronis, maka kesempatan untuk menyelamatkan nyawa anak sangatlah kecil.
Sedangkan jika kematian disebabkan karena kejadian akut seperti kecelakaan,
dimana ibu sebelumnya sehat, maka kemungkinan untuk menyelamatkan nyawa
bayi lebih besar.
c. Kematian karena tindakan pembunuhan
1) Pembekapan (sufokasi)
Ini merupakan tindakan yang paling sering dilakukan. Bayi baru lahir sangat
mudah dibekap dengan menggunakan handuk, sapu tangan atau dengan tangan.
Dapat juga ditemukan benda asing yang menyumbat jalan napas, seringkali
karena ibu berusaha mencegah agar anak tidak menangis dan ini justru
menyebabkan kematian.
Keadaan mulut dan sekitarnya yaitu adanya luka lecet tekan di bibir dan
sekitarnya, biasanya berbentuk bulan sabit, memar pada bibir bagian dalam yang
berhadapan dengan gusi serta adanya gumpalan benda asing seperti koran atau
kain yang mengisi rongga mulut.
2) Penjeratan (strangulasi)
Penjeratan juga merupakan cara pembunuhan anak yang cukup sering ditemui.
Sering ditemukan tanda-tanda kekerasan yang sangat berlebihan dari yang
dibutuhkan untuk membuat bayi mati. Tanda-tanda bekas jeratan akan ditemukan
di daerah leher disertai dengan memar dan resapan darah. Kadang juga ditemukan
penjeratan dengan menggunakan tali pusat sehingga terlihat bahwa bayi mati
secara alami.
Keadaan di daerah leher dan sekitarnya yaitu adanya luka lecet tekan yang
melingkari sebagian atau seluruh bagian leher yang merupakan jejas jerat sebagai
akibat tekanan yang ditimbulkan oleh alat penjerat yang digunakan, adanya luka-

luka lecet kecil berbentuk bulan sabit yang diakibatkan dari ujung kuku dan
adanya luka-lua lecet dan memar yang tidak beraturan akibat tekanan ujung jari.
d. Penenggelaman (drowning)
Ini dilakukan dengan membuang bayi ke dalam penampungan berisi air, sungai dan
bahkan toilet. Adanya tanda terendam seperti tubuh yang basah dan berlumpur,
telapak tangan dan telapak kaki yang pucat dan keriput (washer woman hand), kulit
yang berbintil-bintil (cutis anserina seperti kulit angsa, serta adanya benda asing di
saluran pernapasan terutama trakea).

e. Kekerasan tumpul pada kepala


Jika ditemukan fraktur kranium, maka dapat diperkirakan bahwa terjadi kekerasan
terhadap bayi. Pada keadaan panik, ibu memukul kepala bayi hingga terjadi patah
tulang.
f. Kekerasan tajam
Kematian pada bayi baru lahir yang dilakukan dengan melukai bayi dengan senjata
tajam seperti gunting atau pisau dan menyebabkan luka yang fatal hingga menembus
organ dalam seperti hati, jantung dan otak.
g. Keracunan
Jarang dilakukan, tetapi pernah terjadi dimana ditemukan sisa opium pada putting
susu ibu, yang kemudian menyusui bayinya dan menyebabkan bayi tersebut mati.
Penentuan penyebab kematian dapat ditunjang dari pemeriksaan patologi anatomi
yang diambil dari jaringan tubuh mayat bayi.
(Budijanto dkk, 1988)
6. Tanda Perawatan
Penentuan ada tidaknya tanda perawatan sangat penting artinya dalam kasus
pembunuhan anak. Keadaan baru lahir dan belum dirawat merupakan petunjuk dari
bayi tersebut tidak lama setelah dilahirkan. Menurut Ponsold, bayi baru lahir

(neugeborenen) adalah bayi yang baru dilahirkan dan belum dirawat. Jika sudah
dirawat, maka bayi itu bukan bayi baru lahir dan tidak dapat disebut sebagai
pembunuhan anak sendiri (Budijanto dkk, 1988; Budiyanto dkk, 1997)
Adapun anak yang baru dilahirkan dan belum mengalami perawatan dapat
diketahui dari tanda-tanda sebagai berikut:
a. Tubuh masih berlumuran darah.
b. Ari-ari (plasenta) masih melekat dengan tali pusat dan masih berhubungan dengan
pusat (umbilikus).
c. Bila ari-ari tidak ada, maka ujung tali pusat tampak tidak beraturan, hal ini dapat
diketahui dengan meletakkan ujung tali pusat tersebut ke permukaan air.
d. Adanya lemak bayi (vernix caseosa), pada daerah dahi serta di daerah yang
mengandung lipatan-lipatan kulit, seperti daerah lipat ketiak, lipat paha dan bagian
belakang bokong (Budijanto dkk, 1988; Budiyanto dkk, 1997).

Gambar 1. Tali Pusat Belum Terpotong dan Masih Terhubung dengan


Ari-Ari.
F. PEMERIKSAAN LUAR
Pelaksanaan otopsi didahului dengan pemeriksaan luar jenazah. Pemeriksaan luar
adalah pemeriksaan jenazah dengan mengamati sangat hati hati atas kelainan yang
ditimbulkan oleh tindak kekerasan pada tubuh korban dan kemudian dicatat dan dibuat
deskripsi secara sistematis dengan memggunakan titik titik anatomis yang tetap pada
tubuh korban.
Pemeriksaan ini dilakukan mulai dari ujung rambut kepala sampai ujung kuku kaki
seteliti mungkin. Periksa identitas jenazah, memastikan keamanan pengelolaan jenazah

(ada/tidaknya label), memeriksa benda-benda di sekitar jenazah (baik yang menutupi,


melekat ataupun yang dikenakan korban), menilai keadaan umum jenazah (utuh atau
tercerai-berai), memeriksa ukuran jenazah (tinggi badan-berat badan), memeriksa tandatanda kematian sekunder untuk memperkirakan saat kematian, dan mencari tanda-tanda
kekerasan serta kelainan-kelainan yang mungkin berhubungan dengan peristiwa
kematian korban.
Yang perlu dinilai dalam pemeriksaan luar adalah:
1. Label
Pada pemeriksaan luar harus dijelaskan label pada mayat terletak atau terikat
pada bagian tubuh yang mana, terbuat dari apa, berwarna apa, ada atau tidak materai /
cap, bertuliskan apa.
2. Tutup / bungkus mayat
Dijelaskan dengan rinci apa yang digunakan untuk menutup/ membungkus
mayat lapis demi lapis, bahannya apa, bertuliskan apa, ukurannya berapa, bila
ditutup koran sebutkan koran apa, terbitan tanggal berapa, bila mayat diikat sebutkan
diikat dengan apa, bila ditutup dengan kain sebutkan jenis kainnya, warnanya,
corak/motifnya, merknya bila ada.
3. Kaku mayat
Tingkat kaku mayat ( rigor mortis ) dinilai dengan memfleksikan lengan dan
kaki untuk mengetes tahanan. Kaku mayat mulai tampak kira kira 2 jam setelah
mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh ( otot otot kecil )kearah dalam
( sentripetal ). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar kranio
kaudal. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan
selam 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat
umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku
mayat, otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk akan
terjadi pemendekan otot.
Faktor faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivitas fisik
sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot- otot kecil
dan suhu lingkungan yang tinggi.
4. Lebam Mayat

Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit paska mati, makin lama
intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8 12 jam.
Sebelum waktu ini, lebam mayat masih hilang ( memucat pada penekanan dan dapat
berpindah jika posisi mayat diubah. Memucatnya lebam akan lebih cepat dan lebih
sempurna apabila penekanan atau perubahan posisi tersebut dilakukan dalam 6 jam
pertama setelah mati klinis.
5. Identifikasi Umum
a. Umur
Untuk mengetahui apakah anak tersebut cukup bulan dalam kandungan (matur)
atau belum cukup bulan dalam kandungan (prematur), dapat diketahui dari
pemeriksaan sebagai berikut:
1) Pengukuran lingkar kepala, lingkar dada, panjang badan dan berat badan:
dimana yang mempunyai nilai tinggi adalah lingkar kepala dan tinggi atau
panjang badan. Panjang badan diukur dari tumit hingga vertex (puncak kepala).
Bayi dianggap cukup bulan jika:
Panjang badan di atas 45 cm.
Berat badan 2500 3500 gram.
Lingkar kepala lebih dari 34 cm.
Termasuk infanticide bila umur janin 7 bulan dalam kandungan oleh karena
pada umur ini janin telah dapat hidup di luar kandungan secara alami tanpa
bantuan beralatan. Apabila umur janin di bawah 7 bulan termasuk kasus
abortus.
2) Untuk menentukan umur bayi dalam kandungan, ada rumus empiris yang
dikemukakan oleh De Haas, yaitu menentukan umur bayi dari panjang badan
bayi. Untuk bayi (janin) yang berumur di bawah 5 bulan, umur sama dengan
akar pangkat dua dari panjang badan. Jadi bila dalam pemeriksaan didapati
panjang bayi 20 cm, maka taksiran umur bayi adalah antara 4 sampai 5 bulan
dalam kandungan atau lebih kurang 20 22 minggu kehamilan. Untuk janin
yang berumur di atas 5 bulan, umur sama dengan panjang badan (dalam cm)
dibagi 5 atau panjang badan (dalam inchi) dibagi 2.
b. Panjang tubuh
Panjang tubuh diukur dari tumit sampai puncak kepala. Pada bayi juga diukur
lingkar kepala fronto occipital dan Mento Occipitale, serta lingkkar dada.
c. Berat Badan

Berat badan dalam kilogram diukur bila tersedia fasilitas, jika tidak ada sebaiknya
ditaksir. Berat badan bayi harus selalu diukur.
6. Identifikasi khusus
Kelainan kongenital dari beberapa tipe dilaporkan dari talipes equinovarus
sampai spina bifida, dari nevus sampai kaki tambahan.
7. Rambut
Dijelaskan secara rinci seluruh keadaan rambut, yang dimaksud rambut disini
mencakup seluruh rambut yang terdapat pada bagian kepala, yakni meliputi rambut
kepala, alis mata, dan bulu mata. Rambut dijelaskan warnanya, jenisnya, tumbuhnya,
panjangnya, sukar dicabut atau tidak. Termasuk disini keadaan bagian yang tertutup
rambut, apakah tampak pengelupasan atau tidak, pada bayi dijelaskan keadaan ubun
ubun, apakah masih terbuka, terdapat luka atau hematom, warnanya, dan
konsistensinya lunak atau tidak.
8. Mata
Mata harus diperiksa dengan cermat, terutama untuk mendeteksi petekie pada
sisi luar dari kelopak mata, konjungtiva dan sklera. Petekie juga dicari dibelakang
telinga dan pada kulit dari wajah, terutama sekeliling mulut, dagu dan dahi.
Disamping itu sangat penting untuk dilihat apakah mata mayat dalam keadaan
tertutup atau terbuka, dilihat keadaan kekeruhan selaput bening mata (kornea) dan
lensa, pupil, iris, selaput bola mata (konjungtiva bulbi), dan selaput kelopak mata
(konjungtiva palpebra).
9. Hidung, Telinga, dan Mulut
Dianalisa dengan teliti bentuk hidung, ada kelainan anatomis atau kelainan
akibat trauma, warna, cairan yang keluar, dan adanya krepitasi. Dilihat bentuk
telinga, apakah ada kelainan atau tidak dan apakah telinga masih utuh atau tidak.
Mulut mungkin terdapat benda asing, obat obatan, gusi dan bibir yang luka
(terutama frenulum yang ruptur pada kekerasan terhadap anak anak). Isi lambung
dan mulut mungkin tidak mengidentifikasikan regurgitasi ante mortem, tetapi
sebaiknya dicatat. Bubuk kering pada bibir mungkin bisa didapat obat obatan atau
racun; korosi dari mulut, bibir dan dagu mungkin dapat dilihat pada racun yang

mengiritasi. Perdarahan dari mulut, lubang hidung atau telinga harus dicatat, dan
kemudian diteliti sebagai sumber dari pemeriksaan dalam.
10. Keadaan Tali Pusat
Yang harus diperhatikan pada tali pusat adalah pertama ada atau tidaknya
denyut tali pusat setelah kelahiran. Ini hanya dapat dibuktikan dengan saksi mata.
Kedua, pengeringan tali pusat, letak dan sifat ikatan, bagaimana tali pusat itu di
putus (secara tajam atau tumpul).
11. Keadaan Kulit
Tidak satupun keadaan kulit yang dapat membuktikan adanya kehidupan
setelah bayi lahir, sebaliknya ada satu keadaan yang dapat memastikan bahwa bayi
tersebut tidak lahir hidup yaitu maceration, yang dapat terjadi bila bayi sudah mati in
utero beberapa hari (8-10 hari). Hal ini harus dibedakan dengan proses pembusukan
yaitu pada maserasi tidak terbentuk gas karena terjadi secara steril. Kematian pada
bayi dapat terjadi waktu dilahirkan, sebelum dilahirkan atau setelah terpisah sama
sekali dari ibu. Bukti kematian dalam kandungan:
a. Ante partum rigor mortis yang sering menimbulkan kesulitan waktu melahirkan
b. Meceration, yaitu perlunakan janin dalam air ketuban dengan ciri-ciri:
1) Warna merah kecoklatan (pada pembusukan warnanya hijau)
2) Kutikula putih, sering membentuk bula berisi cairan kemerahan
3) Tulang-tulang lentur dan lepas dari jaringan lunak
4) Tidak ada gas, baunya khas
5) Maserasi ini terjadi bila bayi sudah mati 8-10 hari dalam kandungan
12. Luka-luka yang dapat Dikaitkan dengan Penyebab Kematian
Cara atau metoda yang banyak dijumpai untuk melakukan tindakan
pembunuhan anak adalah cara atau metoda yang menimbulkan keadaan mati lemas
(asfiksia) seperti penjeratan, pencekikan dan pembekapan serta membenamkan ke
dalam air. Adapun cara yang lain seperti menusuk atau memotong serta kekerasan
dengan benda tumpul relatif jarang ditemukan. Dalam kasus ini yang harus
diperhatikan yaitu:
a. Adanya tanda-tanda mati lemas seperti sianosis pada bibir dan ujung-ujung jari,
bintik-bintik perdarahan pada selaput biji mata dan selaput kelopak mata serta
jaringan longgar lainnya, lebam mayat yang lebih gelap dan luas, busa halus
berwarna putih atau putih kemerahan yang keluar dari lubang hidung dan atau
mulut serta tanda-tanda bendungan pada alat dalam.

b. Keadaan mulut dan sekitarnya yaitu adanya luka lecet tekan di bibir dan
sekitarnya, biasanya berbentuk bulan sabit, memar pada bibir bagian dalam yang
berhadapan dengan gusi serta adanya gumpalan benda asing seperti koran atau
kain yang mengisi rongga mulut.
c. Keadaan di daerah leher dan sekitarnya yaitu adanya luka lecet tekan yang
melingkari sebagian atau seluruh bagian leher yang merupakan jejas jerat sebagai
akibat tekanan yang ditimbulkan oleh alat penjerat yang digunakan, adanya lukaluka lecet kecil berbentuk bulan sabit yang diakibatkan dari ujung kuku dan
adanya luka-lua lecet dan memar yang tidak beraturan akibat tekanan ujung jari.
d. Adanya luka tusuk atau luka sayat pada daerah leher, mulut atau bagian tubuh
lainnya. adanya istilah tusukan bidadari yaitu menusukkan benda tajam pada
langit-langit rongga mulut sampai menembus rongga tengkorak.
e. Adanya tanda terendam seperti tubuh yang basah dan berlumpur, telapak tangan
dan telapak kaki yang pucat dan keriput (washer woman hand), kulit yang
berbintil-bintil (cutis anserina sepert kulit angsa, serta adanya benda asing di
saluran pernapasan terutama trakea).
G. PEMERIKSAAN DALAM
a. Leher, adakah tanda penekanan, resapan darah pada kulit sebelah dalam.
b. Mulut, apakah terdapat benda asing, robekan palatum mole.
c. Rongga dada, pemeriksaan makroskopik paru, pemeriksaan histopatologik paru dan
tes apung paru.
d. Tanda asfiksia, Tardieus spots pada permukaan paru, jantung, timus dan epiglotis.
e. Tulang belakang, apakah terdapat kelainan kongenital atau tanda kekerasan.
f. Pusat penulangan pada distal femur, proximal tibia, kalkaneus, talus dan kuboid.
g. Kepala, kulit kepala disayat dan dilepaskan seperti pada orang dewasa

A. Tanda Pernafasan :
1. Letak Diafragma
Pada bayi yang sudah bernapas, letak diafragma setinggi iga ke-5 atau ke-6.
Sedangkan pada yang belum bernapas setinggi iga ke-3 atau ke-4.
2. Gambaran Makroskopik Paru
Paru-paru bayi yang sudah bernapas berwarna merah muda tidak homogen
namun berbercak-bercak (mottled). Konsistensinya adalah seperti spons dan
berderik pada perabaan. Sedangkan, pada paru-paru bayi yang belum bernapas

berwarna merah ungu tua seperti warna hati bayi dan homogen, dengan
konsistensi kenyal seperti hati atau limpa.
3. Uji Apung Paru
Uji apung paru dilakukan dengan teknik tanpa sentuh (no touch technique),
paru-paru tidak disentuh untuk menghindari kemungkinan timbulnya artefak pada
sediaan histopatologik jaringan paru akibat manipulasi berlebihan.
Lidah dikeluarkan seperti biasa di bawah rahang bawah, ujung lidah dijepit
dengan pinset atau klem, kemudian ditarik ke arah ventrokaudal sehingga tampak
palatum mole. Dengan scalpel yang tajam, palatum mole disayat sepanjang
perbatasannya dengan palatum durum. Faring, laring, esophagus bersama dengan
trakea dilepaskan dari tulang belakang. Esofagus bersama dengan trakea diikat di
bawah kartilago krikoid dengan benang. Pengikatan ini dimaksudkan agar pada
manipulasi berikutnya cairan ketuban, mekonium atau benda asing lain tidak
mengalir ke luar melalui trakea; bukan untuk mencegah masuknya udara ke dalam
paru. Pengeluaran organ dari lidah sampai paru dilakukan dengan forsep atau
pinset bedah dan scalpel, tidak boleh dipegang dengan tangan. Kemudian
esophagus diikat di atas diafragma dan dipotong di atas ikatan. Pengikatan ini
dimaksudkan agar udara tidak masuk ke dalam lambung dan uji apung lambungusus (uji Breslau) tidak memberikan hasil meragukan. Setelah semua organ leher
dan dada dikeluarkan dari tubuh, lalu dimasukkan ke dalam air dan dilihat apakah
mengapung atau tenggelam. Kemudian paru-paru kiri dan kanan dilepaskan dan
dimasukkan kembali ke dalam air, dilihat apakah mengapung atau tenggelam.
Setelah itu tiap lobus dipisahkan dan dimasukkan ke dalam air, dan dilihat apakah
mengapung atau tenggelam. Lima potong kecil dari bagian perifer tiap lobus
dimasukkan ke dalam air, diperhatikan apakah mengapung atau tenggelam.
Hingga tahap ini, paru bayi yang lahir mati masih dapat mengapung oleh karena
kemungkinan adanya pembusukan. Bila potongan kecil itu mengapung, letakkan
di antara dua karton dan ditekan dengan arah penekanan tegak lurus jangan
digeser untuk mengeluarkan gas pembusukan yang terdapat pada jaringan
interstisial paru, lalu masukkan kembali ke dalam air dan diamati apakah masih
mengapung atau tenggelam. Bila masih mengapung berarti paru terisi udara residu
yang tidak akan keluar. Namun, terkadang dengan penekanan, dinding alveoli
pada mayat bayi yang telah membusuk lanjut akan pecah dan udara residu keluar
dan memperlihatkan hasil uji apung paru negatif.

Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potongan kecil paru
mengingat kemungkinan adanya pernapasan sebagian (parsial respiration) yang
dapat bersifat buatan atau alamiah (vagitus uternus atau vagitus vaginalis) yaitu
bayi sudah bernapas walaupun kepala masih dalam uterus atau dalam vagina).
Hasil negatif belum berarti pasti lahir mati karena adanya kemungkinan bayi
dilahirkan hidup tapi kemudian berhenti bernapas meskipun jantung masih
berdenyut, sehingga udara dalam alveoli diresorpsi. Pada hasil uji negatif ini,
pemeriksaan histopatologik paru harus dilakukan untuk memastikan bayi lahir
mati atau lahir hidup. Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka uji apung paru
kurang dapat dipercaya, sehingga tidak dianjurkan untuk dilakukan.
4. Histopatologik paru-paru
Setelah paru-paru dikeluarkan dengan teknik tanpa sentuh, dilakukan fiksasi
dengan larutan formalin 10 %. Sesudah 12 jam, dibuat irisan melintang untuk
memungkinkan cairan fiksatif meresap dengan baik ke dalam paru. Setelah
difiksasi selama 48 jam, kemudian dibuat sediaan histopatologik. Biasanya
digunakan perwarnaan HE dan bila paru telah membusuk digunakan pewarnaan
Gomori atau Ladewig. Struktur seperti kelenjar bukan merupakan ciri paru bayi
yang belum bernapas, tetapi merupakan ciri paru janin yang belum mencapai usia
gestasi 26 minggu. Tanda khas untuk paru janin belum bernapas adalah adanya
tonjolan (projection) yang berbentuk seperti bantal (cushion-like) yang kemudian
akan bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga akan tampak seperti gada
(club-like).
Pada permukaan ujung bebas projection tampak kapiler yang berisi banyak
darah. Pada paru bayi belum bernapas yang sudah membusuk dengan perwarnaan
Gomori atau Ladewig, tampak serabut-serabut retikulin pada permukaan dinding
alveoli berkelok-kelok seperti rambut yang keriting, sedangkan pada projection
berjalan di bawah kapiler sejajar dengan permukaan projection dan membentuk
gelung-gelung terbuka (open loops). Pada paru bayi yang lahir mati mungkin pula
ditemukan tanda inhalasi cairan amnion yang luas karena asfiksia intrauterin,
misalnya akibat tertekannya tali pusat atau solusio plasenta sehingga terjadi
pernapasan janin prematur (intrauterine submersion). Tampak sel-sel verniks
akibat deskuamasi sel-sel permukaan kulit, berbentuk persegi panjang dengan inti
piknotik berbentuk huruf S, bila dilihat dari 6 atas samping terlihat seperti
bawang. Juga tampak sel-sel amnion bersifat asidofilik dengan batas tidak jelas
dan inti terletak eksentrik dengan batas yang juga tidak jelas.

Mekonium yang berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua mungkin
terlihat dalam bronkioli dan alveoli. kadang-kadang ditemukan deskuamasi sel-sel
epitel bronkus yang merupakan tanda maserasi dini, atau fagositosis mekonium oleh
sel-sel dinding alveoli.
Ada beberapa keadaan dimana test ini diragukan hasilnya.
1. Paru-paru sudah berkembang, namun dalam pemeriksaan ternyata tenggelam.

Penyakit: pada edema paru atau pemadatan karena bronkopneumonia atau


lues (sifilis). Tetapi biasanya jarang melibatkan kedua bagian paru atau seluruh
jaringan paru. Sebagian tetap akan merapung. Lagi pula pemeriksaan ini
secara patologi anatomi akan menegaskan adanya penyakit tersebut.

Atelektase paru. Biasanya jarang terjadi.

2. Paru-paru yang belum berfungsi (bayi belum bernafas), tetapi pada pemeriksaan
mengapung:

Telah terjadi proses pembusukan. Ini mudah dikenal karena proses


pembusukan pada daerah lain juga didapati.

Dimasukkan udara secara artifisial. Susah melakukannya, apalagi oleh orang


awam.

B. Saluran Pencernaan
Adanya udara dalam lambung dan usus merupakan petunjuk bahwa si-anak
menelan udara setelah ia dilahirkan hidup, dengan demikian nilai dari pemeriksaan
udara di dalam lambung dan usus ini sekedar memperkuat saja. Seperti halnya pada
pemeriksaan untuk menentukan adanya udara dalam paru-paru, maka pemeriksaan
yang serupa terhadap lambung dan usus baru dapat dilakukan bila keadaan si-anak
masih segar dan belum mengalami proses pembusukan serta tidak mengalami
manipulasi seperti pemberian pernafasan buatan. Caranya adalah dengan mengikat
bagian bawah esofagus di bawah thyroid proksimal dari cardia dan colon, kemudian
dilepaskan dari organ lainnya. Bila yang terapung adalah lambung, hal ini tidak
berarti apa-apa. Bila usus yang terapung berarti bayi telah pernah menelan udara dan
ini berarti bayi telah pernah bernafas.
Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah hanya dapat terjadi bila
anak menelan udara dan udara tersebut melalui tuba eustachii masuk ke dalam liang
bagian tengah. Untuk dapat mengetahui keadaan tersebut pembukaan liang telinga

bagian tengah harus dilakukan di dalam air; tentunya baru dilakukan pada mayat yang
masih segar.
Adanya makann di dalam lambung dari seorang anak yang baru dilahirkan
tentunya baru dapat terjadi pada anak yang dilahirkan hidup dan diberi makan oleh
orang lain, dan makanan tidak mungkin akan dapat masuk ke dalam lambung bila
tidak disertai dengan aktivitas atau gerakan menelan.
Adanya udara di dalam paru-paru, lambung dan usus serta di dalam liang
telinga bagian tengah merupakan petujuk pasti bahwa si-anak yang baru dilahirkan
tersebut memang dilahirkan dalam keadaan hidup. Sedangkan adanya makanan di
dalam lambung lebih mengarahkan kepada kenyataan bahwa si-anak sudah cukup
lama dalam keadaan hidup; hal mana bila keadaannya memang demikian maka si-ibu
yang menghilangkan nyawa anak tersebut dapat dikenakan hukuman yang lebih berat
dari ancaman hukuman seperti yang tertera pada pasal 341 dan 342.
Apabila bayi dilahirkan dalam keadaan mati, ada 2 kemungkinan yang harus
diperhatikan, yaitu:
1. Still birth, artinya dalam kandungan masih hidup, waktu dilahirkan sudah mati.
Ini mungkin disebabkan perjalanan kelahiran yang lama, atau terjadi accidental
strangulasi dimana tali pusat melilit leher bayi waktu dilahirkan.
2. Dead born child, di sini bayi memang sudah mati dalam kandungan. Bila
kematian dalam kandungan telah lebih dari 2 3 hari akan terjadi maserasi pada
bayi. Ini terlihat dari tanda-tanda:

Bau mayat seperti susu asam.

Warna kulit kemerah-merahan.

Otot-otot lemas dan lembek.

Sendi-sendi lembek sehingga mudah dilakukan ekstensi dan fleksi.

Bila lebih lama didapati bulae berisi cairan serous encer dengan dasar bullae
berwarna kemerah-merahan.

Alat viseral lebih segar daripada kulit.

Paru-paru belum berkembang.

H. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada kasus infanticide antara lain:
1. Pemeriksaan plasenta

Pemeriksaan plasenta dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan plasenta bayi


untuk mengetes kecocokan DNA bayi dengan DNA ibu jika ibu sudah ditemukan.
2. Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk melihat aerasi paru dan gelembung gas pada
lambung. Jika terdapat aerasi paru dan gelembung gas pada lambung, kemungkinan
bayi sempat lahir hidup. Selain itu, pada bagian kepala bayi terdapat Spauldings sign,
yakni kepala bayi kurang terbentuk.
3. Pemeriksaan histologi-PA
Pemeriksaan histologi-PA dapat menggunakan jaringan plasenta maupun paru. Pada
pemeriksaan histologis jaringan plasenta dapat ditemukan reaksi sel radang di sekitar
lokasi pemotongan plasenta jika bayi sempat hidup antara 24-48 jam. Namun pada
bayi yang segera mati saat lahir, tidak terdapat reaksi sel radang. Pada pemeriksaan
histologis paru dapat ditemukan alveoli yang sudah terbuka sehingga terbentuk
kavitas udara dan dinding alveolus dilapisi epitel pipih pada bayi yang sempat lahir
hidup dan bernafas secara spontan. Pada bayi yang meninggal dalam proses kelahiran,
sebagian alveoli terbuka, namun ada alveoli yang kolaps juga. (Padure dan Bondarev,
2015; Byard, 2004)

Gambar 1. Radiografi pada bayi yang meninggal saat proses kelahiran menunjukkan
paru-paru padat dan tidak ada udara di lambung.

Gambar 2. Radiografi menunjukkan adanya gelembung gas pada lambung dan aerasi
paru yang menindikasikan bahwa bayi sempat bernafas spontan setelah lahir.
I. PEMERIKSAAN TERHADAP PELAKU INFANTICIDE
1. Tanda telah melahirkan anak (pada Ibu korban)
a. Robekan pada jalan lahir
b. Ostium uteri dapat dilewati ujung jari
c. Keluar darah dari rahim
d. Tinggi fundus uteri post partum setinggi pusat, 6-7 hari post partum setinggi os
pubis
e. Payudara mengeluarkan air susu
f. Hiperpigmentasi areola mammae
g. Striae gravidarum dari warna merah menjadi putih
2. Berapa lama telah melahirkan
a. Ukuran rahim kembali ke ukuran semula setelah 2-3 minggu post partum
b. Darah nifas : 1-3 hari post partum berwarna merah, 4-9 hari post partum
berwarna putih, 10-14 hari post partum darah nifas habis
c. Robekan jalan lahir membaik dalam 8-10 hari
3. Mencari tanda-tanda partus precipitatus
a. Robekan jalan lahir
b. Inversio uteri (rahim terbalik) yaitu bagian dalam rahim menjadi keluar, lebihlebih bila tali pusat pendek

c. Robekan tali pusat anak yang biasanya terdapat pada anak atau pada tempat
melekat tali pusat. Robekan ini tumpul dibuktikan dengan pemeriksaan
histopatologi
d. Luka pada kepala bayi menyebabkan perdarahan di bawah kulit kepala,
perdarahan di dalam tengkorak
4. Pemeriksaan golongan darah
5. Pemeriksaan histopatologi yaitu sisa plasenta dalam darah yang berasal dari rahim
(Apuranto, 2007)

DAFTAR PUSTAKA
Affandi et al. (2008). Pembunuhan Anak Sendiri (PAS) Dengan Kekerasan Multipel.
Majalah Kedokteran Indonesia, September 2008, Vol 58 Nomor 9.
Apuranto H, Hoediyanto (2007). Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.
Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik & Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga.
Budijanto, dkk (1988). Pembunuhan Anak Sendiri. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Budiyanto A, dkk (1997). Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi kedua. Jakarta: Balai Penerbit
FK UI, pp: 165-176
Budiyanto, dkk (1997). Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi pertama, cetakan kedua.
Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hal. 165 176.

Byard RW. 2004. Sudden Death in Infancy, Childhood and Adolescence Second Edition.
New York: Cambridge University Press.Dorlands Illustrated Medical Dictionary
(2000). Edisi 29 (Ed). Philadelpia : WB Saunders
Forensik BI, Indonesia MF (2005). Pedoman teknik pemeriksaan dan interpretasi luka
dengan orientasi medikolegal atas kecederaan. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Indonesia.
Friedman SH, Resnick PJ (2007). Child murder by mothers: Patterns and prevention.
World Psychiatry. 6 (3) : 137-141
Hoediyanto. (Last Update: 2008, September 17). Pembunuhan Anak (Infanticide).
Available from: http://www.fk.uwks.ac.id
Idries, A.M. (1997). Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Binarupa Aksara.
Laksono S (2010). Aspek Hukum Pembunuhan Anak Sendiri (Infanticide). Cermin
Dunia Kedokteran, pp: 617-620
Padure A, Bondarev A (2015). Infanticide Neonaticide Medicolegal Examination of
Newborn Cadavers (Guidline). Department of Forensic Medicine State University
of Medicine and Pharmacy Nicolae Testemitanu.
Saukko P, Knight B (2015). Knight's Forensic Pathology Fourth Edition. CRC Press.
Setyarini RI (2012). Prevalensi Jenis Kelamin dan Variasi Penyebab Kematian Bayi
pada Kasus Infanticide di RSUD Dr.Moewardi Januari 2006 sampai engan
Desember 2011. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret