Anda di halaman 1dari 10

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (TERM OF REFERENCE)

PELAYANAN KEFARMASIAN DI PUSKESMAS


TAHUN 2013
Unit Kerja

: UPTD Puskesmas Sukamaju

Program

: Pelayanan Kefarmasian

Hasil (Outcome)

: Meningkatnya Mutu Penggunaan Obat dan


Perbekalan Kesehatan di Puskesmas.

Kegiatan

: Pelayanan Resep

A. Pendahuluan
Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang
memiliki peranan penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Pelayanan Kefarmasian
di Puskesmas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan
upaya kesehatan, yang berperan penting

dalam meningkatkan mutu pelayanan

kesehatan bagi masyarakat. Pelayanan kefarmasian di Puskesmas harus mendukung


tiga fungsi pokok Puskesmas, yaitu sebagai pusat penggerak pembangunan
berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, dan pusat pelayanan
kesehatan strata pertama yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan
pelayanan kesehatan masyarakat.
B. Latar Belakang
Pelayanan kefarmasian bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan,
termasuk didalamnya pelayanan kefarmasian di Pukesmas.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 30 Tahun 2014 Tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas dijelaskan bahwa Pelayanan Kefarmasian di
Puskesmas meliputi 2 (dua) kegiatan,

kegiatan yang bersifat manajerial berupa

pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dan Kegiatan Farmasi Klinik.
Pelayanan Resep merupakan salah satu kegiatan Farmasi klinik yang dilaksanakan
secara langsung dan bertanggungjawab kepada pasien. Kegiatan ini dimulai dari
penerimaan resep, skrining resep, penyiapan obat, dan Pemberian Informasi Obat.
Dengan makin kompleksnya upaya pelayanan kesehatan, khususnya masalah terapi
obat menuntut kita untuk memberikan pelayanan kefarmasian khususnya pelayanan
resep sesuai standar untuk mencapai hasil pengobatan yang optimal.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk menyiapkan dan menyediakan obat atas permintaan dokter, dokter
gigi, dokter hewan, sehingga obat dan alat kesehatan terjamin keamanan dan
kerasionalannya.
2. Tujuan Khusus

ESE

Untuk mampu melakukan kegiatan skrining resep, penyediaan/peracikan


obat, penyerahan obat, dan Pemberian Informasi Obat.
D. Kegiatan pokok dan rincian kegiatan
Tahapan pelayanan resep terdiri atas :
-

Skrining resep dimulai dengan penomoran, pemeriksaan kelengkapan


administratif

resep,

pemeriksaan

kesesuaian

farmaseutik,

dan

pertimbangan klinis, hingga berkonsultasi ke dokter apabila ditemukan


-

permasalahan pada resep.


Penyediaan obat dilakukan dengan menyiapkan obat sesuai permintaan
pada resep, melakukan peracikan, memberikan etiket, dan memasukkan

obat kedalam wadah.


Penyerahan obat dilakukan dengan memeriksa kembali kelengkapan
pada etket, memanggil nama dan no. tunggu pasien, dan menyerahkan

obat disertai dengan pemberian Informasi Obat.


Pemberian Informasi obat dilakukan dengan memberikan informasi
mengenai cara penggunaan obat, aturan pakai, efek samping, cara

penyimpanan, dll.
E. Cara melaksanakan kegiatan
Kegiatan pelayanan resep dilakukan dengan metode pelayanan langsung dari tim
kerja di ruang farmasi Puskesmas. Masing-masing tenaga melaksanakan tugas sesuai
dengan alur pelayanan resep.
F. Sasaran
Sasaran yang dicapai dalam pelaksanaan pelayanan resep antara lain :
a. Pelayanan Obat untuk masyarakat Umum, peserta BPJS, dan Jamkesmas.
b. penggunaan Obat Rasional melalui pelayanan kefarmasian yang berkualitas.
G. Jadwal kegiatan
Kegiatan pelayanan resep di Puskesmas merupakan bentuk kegiatan rutin
yang dilaksanakan setiap harinya yang terdiri atas pelayanan resep pasien rawat jalan
dan Pasien rawat inap. Pelayanan resep rawat jalan dilaksanakan dalam kurun waktu
6 hari kerja mulai pukul 07.30 12.00. Sedangkan Pelayanan resep rawat inap
dilakukan dengan sistem 24 jam termasuk hari libur/hari raya.
H. Evaluasi pelaksanaan kegiatan.
Evaluasi kegiatan pelayanan resep di Puskesmas dilaksanakan setiap bulan
oleh Apoteker pengelola Obat dalam bentuk evaluasi penggunaan Obat Rasional,
penggunaan Obat Generik dan Non Generik, dan evaluasi Kesesuaian resep dengan
Formularium.

I. Pencatatan, Pelaporan, dan Evaluasi Kegiatan


a. Pencatatan kegiatan pelayanan Resep di Puskesmas dilakukan dengan membuat
data register harian penggunaan obat generik dan non generik dari resep setiap
harinya dan data pasien dari register harian resep dengan diagnosis tunggal pada
kasus ISPA Non Pneumonia dengan kode Diagnosis J.00, Diare Non Spesifik
dengan kode diagnosis A.09 , atau Myalgia dengan kode diagnosis M.79.1.
b. Pelaporan dibuat untuk masing-masing data yang diperoleh.

ESE

Untuk pelaporan penggunaan obat generik dan non generik dibuat


dengan cara menghitung persentase penggunaan obat generik dan non

generik dari data dan direkap setiap bulannya.


Untuk pelaporan Penggunaan Obat Rasional

pemantauan indikator peresepan untuk 3 Diagnosis penyakit yaitu ISPA


Non Pneumonia, Diare Non Spesifik, dan Myalgia. Data yang telah

dilakukan melalui

diambil dimasukkan kedalam Formulir Pelaporan Indikator Peresepan


yang tersedia dan direkap perbulan kemudian dilaporkan setiap bulan ke
-

Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Utara.


Evaluasi Kegiatan Pelayanan resep di Puskesmas melalui monitoring
dan evaluasi ketersediaan Obat dan Perbekalan Kesehatan, mutu
pelayanan obat di Ruang Farmasi serta pencatatan dan pelaporannya.
Monitoring dan evaluasi dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kab./Kota
dan dilaksanakan per triwulan.

Demikian kerangka Acuan ini kami buat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Sukamaju, 30 Desember 2013
Ka. UPTD Puskesmas Sukamaju

ROHADI FATWA,SKM
NIP. 19741230 199603 1 003

KERANGKA ACUAN KEGIATAN ( TERM OF REFERENCE )


PENGELOLAAN OBAT DAN BAHAN MEDIS HABIS PAKAI
TAHUN 2013

Instansi

UPTD Puskesmas Sukamaju

Program

Pelayanan Kefarmasian

Hasil

Terjaminnya ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang

ESE

Merata, bermutu, dan terjangkau.


Kegiatan

Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP).

A. Pendahuluan
Dalam berbagai Upaya pelayanan kesehatan, obat merupakan salah satu unsur
penting. Diantara berbagai alternative yang ada, intervensi dengan obat merupakan
intervensi yang paling besar digunakan dalam menyelenggarakan upaya kesehatan.
Dalam rangka pembangunan kesehatan di daerah diperlukan keseimbangan dan
kesinambungan untuk kelangsungan program program kesehatan, dimana harus
didukung oleh ketenagaan, pembiayaan, pengelolaan yang baik dan sesuai standar, serta
sarana dan prasarana yang memadai.
B. Latar Belakang
Kebijakan pemerintah yang mengatur tentang pelayanan Kefarmasin di saranasarana pelayanan kesehatan dan distribusi sediaan farmasi antara lain Undang Undang
No.36 tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah No.51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan
Kefarmasian, Kebijakan Obat Nasional (KONAS), Peraturan Menteri Kesehatan No. 30
Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Dalam Aturan-aturan
tersebut dijelaskan bahwa Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas meliputi 2 kegiatan
antara lain Kegiatan yang bersifat Manajerial yaitu pengelolaan Obat dan Bahan Medis
Habis Pakai (BMHP) dan kegiatan Farmasi Klinik.
Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) merupan salah satu
kegiatan pelayanan kefarmasian yang dimulai dari perencanaan, permintaan, penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, pencatatan dan pelaporan, pemusnahan,
pemantauan dan evaluasi. Rangkaian Kegiatan ini wajib dilaksanakan di setiap
Puskesmas sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan strata pertama. Dan Kepala
Ruang Farmasi atau Apoteker Pengelola Obat di Puskesmas mempunyai tugas dan
tanggungjawab untuk menjamin terlaksananya pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis
Pakai yang baik sesuai Standar/ Aturan yang berlaku.
C. Tujuan Umum dan tujuan khusus
a. Tujuan Umum
Untuk menjamin kelangsungan ketersediaan dan keterjangkauan Obat dan
Bahan Medis Habis Pakai yang efisien, efektif dan rasional, meningkatkan
kompetensi tenaga kefarmasian, mewujudkan sistem informasi manajemen, dan
melaksanakan pengendalian mutu pelayanan.
b. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus pengelolaan obat antara lain :
1. Untuk menjamin Ketersediaan Obat PKD yang aman dan bermutu
2. Untuk meningkatkan penggunaan Obat secara Rasional.
3. Untuk menjamin bahwa Obat yang diterima sesuai dengan kebutuhan berdasarkan
permintaan yang diajukan oleh Puskesmas.
4. Untuk menjamin mutu Obat yang tersedia di puskesmas dapat dipertahankan
sesuai persyaratan yang ditetapkan.
5. Untuk memenuhi kebutuhan obat sub unit pelayanan kesehatan yang ada di
wilayah kerja Puskesmas dengan jenis, mutu, dan waktu yang tepat.
6. Untuk menjamin tidak terjadinya kekososngan dan kelebihan Obat di unit
pelayanan Kesehatan Dasar.
ESE

D. Kegiatan pokok dan rincian kegiatan


Kegiatan pengelolaan obat dan Bahan Medis Habis Pakai terdiri atas :
a. Perencanaan
Perencanaan Kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas
setiap periode dilaksanakan oleh Ruang Farmasi di Puskesmas. Proses seleksi Obat
dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan dengan mempertimbangkan pola penyakit,
pola konsumsi obat periode sebelumnya, data mutasi obat, dan rencana
pengembangan dan harus mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan
Formularium Nasional. Selanjutnya Puskesmas menyediakan data pemkaian Obat
dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO).
b. Permintaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Permintaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas diajukan kepada
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang
undangan dan kebijakan pemerintah daerah setempat.
c. Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan oleh petugas Ruang
Farmasi dengan melakukan pengecekan terhadap Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
yang diserahkan, mencakup jumlah kemasan, jenis dan jumlah obat, bentuk obat
sesuai dengan isi dokumen (LPLPO), ditandatangani oleh petugas penerima, dan
diketahui oleh Kepala Puskesmas.
d. Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan dengan metode
FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expire First Out) dengan meletakkan Obat
dan Bahan Medis Habis Pakai di tempat/ruangan dengan mempertimbangkan hal-hal
berikut:
-

Bentuk dan jenis sediaan


Stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban)

- Mudah atau tidaknya meledak/terbakar


- Narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus.
e. Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai ke sub unit (pasien poli,
ruang rawat inap, UGD,dll) dilakukan dengan cara pemberian obat sesuai resep dan
per sekali minum ( unit dose). Sedangkan pendistribusian ke jaringan Puskesmas
dilakukan dengan penyerahan Obat sesuai kebutuhan.
f. Pemusnahan
Kegiatan Pemusnahan dilakukan terhadap Obat Obatan yang telah
kadaluarsa, rusak, tidak memenuhi syarat, dan terkait masalah hokum. Pemusnahan
dilakukan sesuai dengan bentuk sediaan, artinya beda bentuk beda pula cara
pemusnahannya. Apakah di timbun, di bakar, di larutkan, dsb. Petugas melakukan
pemusnahan diawali dengan melakuan inventarisasi obat yang akan dimusnakan
kemudian membuat berita acara pemusnahan, melaksanakan pemusnahan dengan
disaksikan oleh saksi dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
g. Pencatatan dan pelaporan
Pencatatan dan pelaporan pengelolaan obat dan Bahan Medis Habis Pakai
dilakukan oleh petugas Ruang Farmasi dengan mencatat dan mengelola data obat dan
Bahan medis Habis Pakai yang diterima, disimpan, didistribusikan, dan yang

ESE

digunakan di Puskesmas.Pencatatannya dalam bentuk Kartu Stok, Buku Penerimaan,


Buku Penerimaan, Register harian penggunaan Obat PKD, sedangkan pelaporannya
dalam bentuk Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO).
h. Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan dan Evaluasi penngelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai
dilakukan secara periodik, biasanya per triwulan. Evaluasi dilakukan dengan
membandingkan kondisi pengelolaan Obat di Puskesmas yang di monitoring dengan
aturan yang berlaku.
E. Cara melaksanakan kegiatan
Kegiatan Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas
dilakukan dengan metode kerja tim Tenaga Kefarmasian dimana tiap rangakaian kegiatan
pengelolaan dilaksanakan oleh masing-masing tenaga yang diberi tanggungjawab.
F. Sasaran
Sasaran kegiatan pengelolaan Obat di Puskesmas adalah :
a. Meningkatkan persentase ketersediaan Obat dan Perbekalan Kesehatan secara merata,
aman, dan bermutu keseluruh unit pelayanan Kesehatan.
b. Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian masyarakat melalui pengelolaan obat
yang baik dan sesuai standar.
c. Meningkatkan jumlah tenaga pelayanan kefarmasian yang profesional dan terlatih.

G. Jadwal pelaksanaan kegiatan

NO.

TANGGAL

KEGIATAN

1
1

Perencanaan

Permintaan

Penerimaan

Penyimpanan

Pendistribusi

an
Pemusnahan

Pencatatan

Pelapopran

Pemantauan

dan Evaluasi

H. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan


Evaluasi kegiatan pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas
dilakukan setiap akhir bulan dalam pelaksanaan lokakarya mini (lokmin) yang dihadiri
oleh seluruh personil Puskesmas dan Jaringannya serta monitoring dari Dinas Kesehatan
dilaksanakan secara berkala per triwulan. Pelaporan pengelolaan Obat di Puskesmas
dibuat dari pencatatan dan pengelolaan data kegiatan pengelolaan obat dan dilaporkan
setiap bulan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
I. Pencatatan, pelaporan, dan Evaluasi Kegiatan.

ESE

a. Pencatatan pengelolaan Obat di Puskesmas dengan mengelola data register harian


penggunaan obat, data penerimaan dan pendistribusian obat dari kartu stok. Data
tersebut kemudian di rekap setiap bulannya.
b. Pelaporan
Pelaporan pengelolaan Obat di buat dengan cara membuat laporan dalam bentuk
Laporan Pemakaian Obat dan Lembar Permintaan Obat ( LPLPO) dari data yang
telah di rekap dan diserahkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
c. Evaluasi Pengelolaan Obat di Puskesmas dilakukan secara berkala oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota. Hal-hal yang di evaluasi adalah tingkat ketersediaan obat
dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas dan Mutu pelaksanaan pelayanan
kefarmasian yang terdiri atas Aspek manajerial dan Farmasi Klinik ( Pelayanan
Resep Pelayanan Informasi Obat ). Pada Aspek manajerial, yang di evaluasi adalah
pengelolaan sumber daya manusia, sarana dan prasarana pelayanan kefarmasian serta
pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai. Sedangkan pada Farmasi Klinik,

yang dievaluasi adalah mutu pelayanan resep, Pemberian Informasi Obat, Konseling,
dan Monitoring Efek samping Obat.
Demikian Kerangka Acuan ini kami Buat dan dipergunakan sebagaimana mestinya
Sukamaju 30 Desember 2013
Ka.UPTD Puskesmas Sukamaju

ROHADI FATWA,SKM
NIP.19741230 199603 1 003

ESE

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (TERM OF REFERENCE)


PELAYANAN INFORMASI OBAT (PIO)
TAHUN 2013
Unit kerja/ Instansi
Program
Hasil
Kegiatan

: UPTD Puskesmas Sukamaju


: Pelayanan Kefarmasian
: Meningkatnya kepatuhan pasien terhadap proses
Pengobatan demi terciptanya penggunaan Obat
Yang Rasional.
: Pelayanan Informasi Obat.

A. Pendahuluan
Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang
memiliki peranan penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Pelayanan Kefarmasian
merupakan pelayanan langsung dan bertanggungjawab kepada pasien yang berkaitan
dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil pengobatan yang optimal.
Standar Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas menjelaskan bahwa pelayanan
kefarmasian di Puskesmas terdiri dari Aspek manajerial dan Farmasi Klinik.
Pelayanan Informasi Obat (PIO) adalah salah satu kegiatan pelayanan Farmasi Klinik.
B. Latar Belakang
Pengobatan yang rasional adalah suatu keadaan dimana pasien menerima
pengobatan sesuai kebutuhan klinis mereka, dosis, cara pemberian, biaya, waktu
pemberian yang tepat. Menurut WHO, meningkatkan kepatuhan berarti bahwa
pemberian pengobatan harus disertai dengan pemberian Informasi yang memadai.
Dengan kata lain, Pelayanan Informasi Obat merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari proses terapi rasional.Seringkali, dokter dianggap sebagai pemegang
keputusan terakhir dalam suatu proses terapi. Namun, dalam hal penggunaan obat,
apoteker dan petugas lain yang menyerahkan obat merupakan unsur yang tak kalah
penting. Proses penyerahan obat seringkali diabaikan oleh para penyusun kebijakan di
bidang kesehatan selama proses pelayanan kesehatan. Proses ini dianggap kurang
penting dibandingkan proses diagnosis, pengadaan, penyimpanan, dan distribusi.
Keadaan tersebut sudah tidak berlaku lagi mengingat telah terjadi perubahan
paradigm pelayanan kefarmasian dari Drug Oriented ( pelayanan berorientasi pada
penyediaan obat) ke Patient Oriented ( Pelayanan berorientasi pada kesembuhan
pasien). Maka proses Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan tahap yang sangat
penting dan harus dilaksanakan oleh petugas dalam melakukan pelayanan
kefarmasian di Puskesmas.
C. Tujuan Umum dan Tujuan Khusus
a. Tujuan Umum
Untuk memberikan informasi obat secara akurat, jelas dan terkini kepada
dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya untuk meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan.
b. Tujuan khusus
Tujuan Khusus Pelayanan Informasi Obat antara lain :

ESE

1. Untuk menyediakan informasi mengenai obat kepada tenaga kesehatan lain


dilingkungan Puskesmas, pasien dan masyarakat.
2. Untuk menyediakan informasi dalam membuat kebijakan yang berhubungan
dengan obat (Contoh ; kebijakan permintaan obat oleh jaringan dengan
mempertimbangkan stabilitas, memiliki alat penyimpanan yang memadai,
cara pakai, waktu pemberian, dan masalah yang mungkin ditimbulkan).
3. Menunjang penggunaan Obat yang Rasional melalui peningkatan kepatuhan
pasien.
D. Kegiatan Pokok dan rincian kegiatan
Tahapan kegiatan Pelayanan Informasi Obat antara lain :
a. Memeriksa kembali kesesuaian antara jenis, jumlah dan cara penggunaan obat
dengan permintaan pada resep.
b. Memanggil nama dan no.urut pasien.
c. Memberi informasi kepada pasien saat menyerahkan obat, yang terdiri dari :
waktu penggunaan obat, lama penggunaan obat, cara penggunaan obat, dan efek
yang akan timbul dari penggunaan obat, dan hal lain yang mungkin timbul pada
kondisi tertentu.
d. Menerima dan menjawab pertanyaan baik lisan maupun tertulis, mudah
dimengerti, tidak bias, etis dan bijaksana melalui penelusuran literature secara
sistematis.
e. Mendokumentasikan setiap kegiatan PIO secara sistematis.
f. Memasang poster, booklet, leaflet, yang berisi informasi obat pada tempat yang
mudah dilihat oleh pasien.
E. Cara melaksanakan kegiatan
Kegiatan Pelayanan Informasi Obat (PIO) dilaksanakan dengan metode
pelayanan 24 jam atau on call di sesuaikan dengan kondisi Puskesmas.
F. Sasaran
Sasaran Kegiatan Pelayanan Informasi Obat antara lain :
a. Pasien dan/atau keluarga pasien.
b. Tenaga kesehatan : dokter, dokter gigi, apoteker, perawat, bidan, asisten
apoteker,dll.
c. Pihak lain : manajemen, tim/kepanitiaan klinik,dll.
G. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
Pelayanan Informasi Obat dilaksanakan 6 hari kerja kecuali hari libur/hari
raya bersamaan dengan pelayanan resep.

H. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan Pelaporan


Pemantauan dan evaluasi dilaksanakan dengan mengumpulkan data dari awal dan
mendokumentasikan pertanyaan pertanyaan yang diajukan, serta jawaban dan
pelayanan kefarmasian yang diberikan kemudian dibuat laporan.dalam bentuk lembar
Pelayanan Informasi Obat (PIO).
Demikian Kerangka Acuan ini kami Buat dan dipergunakan sebagaimana mestinya
Sukamaju 30 Desember 2013
Ka.UPTD Puskesmas Sukamaju

ROHADI FATWA,SKM
NIP.19741230 199603 1 003

ESE

ESE

Anda mungkin juga menyukai