Anda di halaman 1dari 17

Konflik Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan Laut : Kasus

Nelayan di Perairan Utara Jawa Timur


Posted: Desember 4, 2009 in Gerakan, Lingkungan, Lingkungan Sosial Budaya, Perikanan Kelautan
Tags: konflik, nelayan, perikanan, sumber daya

0
Ferry Agusta

A. Potensi Sumber Daya dan Pemanfaatannya


Indonesia mempunyai wilayah perairan sebesar 5,8 juta km2, yang terdiri dari 0,3 juta km2 laut
teritorial, 2,8 juta km2 perairan nusantara dan 2,7 km2 zona ekonomi ekslusif. Sekitar 70 %
wilayah Indonesia berupa laut dengan jumlah pulau lebih dari 17.000 dan garis pantai sepanjang
81.000 km. Oleh karena itu sumber daya pantai dan laut yang dimiliki Indonesia sangat besar
baik yang non hayati seperti bahan tambang dan energi maupun hayati terutama ikan. Potensi
sumber daya ikan (SDI) laut diperkirakan sebesar 6,26 juta ton/tahun yang terdiri dari potensi
wilayah perairan Indonesia sekitar 4,40 juta ton/tahun dan wilayah Zona Ekonomi Ekslusif
Indonesia (ZEEI) sekitar 1,86 juta ton/tahun.[1] Hasil pengkajian stok (stock assessment) yang
dilakukan oleh Pusat Riset Perikanan Tangkap, Badan Riset Kelautan dan Perikanan,
Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 2001, potensi SDI di wilayah perairan Indonesia
diperkirakan sebesar 6,40 juta ton per-tahun, dengan rincian 5,14 juta ton per-tahun berasal dari
perairan teritorial dan 1,26 juta ton pertahun berasal dari ZEEI.[2] Mengingat besarnya sumber
daya yang ada maka pantai dan laut dapat dijadikan sumber pangan dan bahan baku industri.
Pemanfaatan sumber daya perikanan laut memungkinkan terjadi kompetisi baik antarnelayan
lokal maupun dengan nelayan pendatang (andon). Kompetisi terjadi dalam penggunaan teknologi
alat tangkap juga perebutan sumber daya di lokasi wilayah penangkapan (fishing ground). Hal ini
kemudian menjadi potensi konflik yang suatu saat akan mengakibatkan terjadinya konflik
terbuka. Pemanfaatan teknologi penangkapan sangat tergantung pada kemampuan modal dan
ketrampilan nelayan dalam menggunakaannya. Tidak semua lapisan masyarakat dapat
memanfaatkan teknologi penangkapan modern. Sementara laut sebagai sumber daya milik
bersama (common property resources) tidak memiliki batasan wilayah yang jelas.dalam kondisi
demikian, sering terjadi benturan atau konflik diantara para nelayan yang sangat tergantung
secara ekonomis terhadap laut.
Konflik nelayan terjadi diantara kelompok nelayan yang menggunakan sumber daya alam yang
sama dengan penggunaan alat tangkap yang sama pula atau diantara para nelayan yang
menggunakan peralatan tangkap yang berbeda pada daerah penangkapan yang sama. Konflik
seperti demikian yang sering terjadi perairan utara Jawa Timur4.

B. Konflik Antarnelayan

Pesisir utara Jawa Timur yang membentang dari Kabupaten Tuban hingga Kabupaten Situbondo
juga wilayah pesisir Pulau Madura. Konflik antar kelompok nelayan dalam memperebutkan
sumber daya perikanan terjadi di beberapa daerah. Kasus di perairan Bangkalan dimana dua
kelompok nelayan terlibat bentrok fisik akibat berebut daerah penangkapan ikan. Peristiwa ini
terjadi pada tanggal 12 Juli 1995 di perairan Karangjamuang, Bangkalan utara. Konflik terjadi
antara nelayan lokal dengan nelayan Lamongan. Terjadilah pembakaran perahu-perahu nelayan
Lamongan oleh nelayan Bangkalan, karena menganggap wilayah perairan tersebut adalah milik
mereka sejak turun temurun dan melarang nelayan Lamongan untuk menangkap lagi di perairan
mereka. Kasus serupa terjadi pula di perairan Sidoarjo, dimana bentrok antara nelayan Pulau
Mandangin sampang dengan Nelayan Kisik, Pasuruan yang disebabkan perebutan lokasi
penangkapan udang[3].
Kasus penggunaan alat tangkap terjadi di Perairan Probolinggo, Pausuran dan Lamongan. Di
Probolinggo, nelayan asal Kalibuntu, Kraksan terlibat bentrok dengan nelayan Pulau Gili
Ketapang yang disebabkan penggunaan alat tangkap mini trawl untuk menagkap ikan. Sementara
di Pasuruan, bentrokan terjadi antara nelayan Kecamatan Lekok dengan nelayan Kisik, Kalirejo
Kecamatan Kraton dengan kasus yang sama. Di Lamongan, ratusan nelayan Paciran
menghancurkan fasilitas publik, seperti kantor Camat, Mapolsek, dan Makoramil karena
menganggap Pemkab Lamongan tidak segera mengatasi nelayan yang menggunakan alat tangkap
mini trawl yang telah berlangsung lama. Mereka beranggapan kehadiran alat tangkap ini telah
merusak ekosistem laut[4]
Konflik antarnelayan di perairan Jawa Timur sebenarnya telah berlangsung lama, sejak tahun 70an. Kejadian di Muncar misalnya, berawal dari kalahnya bersaing antara nelayan tradisional dan
nelayan purse seine. Dan pertikaian akibat kecemburuan ini berlangsung hingga tahun 1980-an.
Namun sejak tahun 1990-an keadaan konflik bergeser tidak hanya antara tradisional dan nelayan
modern seperti kejadian pembakaran purse seine di Masalembu dan Sumenep, tapi juga
antarnelayan tradisional[5].

Perahu Nelayan Lamongan


C. Jenis Konflik dan Faktor yang Mempengaruhinya[6]
Secara umum konflik antarnelayan dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) macam, yaitu : (1)
konflik kelas, (2) konflik orientasi, (3) konflik agraria, dan (4) konflik primordial. Konflik kelas
atau disebut juga konflik vertikal, yakni konflik antara nelayan perikanan industri dengan
nelayan perikanan rakyat. Hal ini biasanya dipicu oleh perbedaan upaya tangkap (effort), yang

dicerminkan oleh ukuran kapal dan penerapan teknologi. Pada perikanan industri, kapal yang
digunakan berukuran relatif besar dan menerapkan teknologi maju. Sedangkan pada perikanan
rakyat, kapalnya lebih kecil dan teknologi yang diterapkan sederhana. Perbedaan ini
mengakibatkan timbulnya kecemburuan sosial, karena hasil tangkapan nelayan perikanan
industri lebih banyak dibanding perikanan rakyat. Disamping itu, nelayan perikanan rakyat
merasa khawatir hasil tangkapannya akan semakin menurun karena sumber daya ikan yang
tersedia ditangkap oleh kapal-kapal berukuran besar.
Konflik orientasi yaitu konflik antara nelayan yang berorientasi pasar dengan nelayan yang
masih terikat nilai-nilai tradisional. Nelayan yang berorientasi pasar biasanya mengabaikan
aspek kelestarian untuk mendapatkan hasil tangkapan sebanyak-banyaknya. Dalam praktiknya,
nelayan tersebut sering menggunakan alat tangkap yang merusak sumber daya ikan dan
lingkungannya, misalnya bahan peledak dan bahan beracun. Di sisi lain, sebagian nelayan sangat
peduli terhadap kelestarian sumber daya ikan, sehingga mereka menggunakan alat tangkap yang
ramah lingkungan.
Konflik agraria yaitu konflik perebutan penangkapan (fishing ground), biasanya terjadi
antarnelayan yang berbeda domisilinya. Konflik seperti ini yang sekarang sedang marak, sebagai
dampak euforia otonomi daerah. Sedangkan konflik primordial terjadi sebagai akibat perbedaan
identitas atau sosial budaya, misalnya etnik dan daerah asal. Konflik ini agak kabur sebagai
konflik tersendiri, karena seringkali sebagai selubung dari konflik lainnya yakni konflik kelas,
konflik orientasi maupun konflik agraria.
D. Pembahasan
Keadaan sumber daya di suatu kawasan dipengaruhi oleh enam faktor utama, yaitu: pranata
pengelolaan sumber daya lokal, konteks sosial budaya, kebijakan Negara, variable teknologi,
tingkat tekanan pasar dan tekanan penduduk. Keenam faktor tersebut mempengaruhi secara
langsung terhadap keadaan sumber daya atau yang tidak langsung dengan diperantarai oleh
pranata lokal[7] .
Upaya pemerintah yang dilakukan lebih berorientasi pada pertumbuhan daripada pemerataaan
yang mengedepankan partisipasi masyarakat sebagai pelaku utama. Hal ini terjadi saat
pemerintahan Orde Baru. Ciri-ciri pembangunan Orde Baru dapat disimak dari: (1) pola
pembangunan yang sentralistik; (2) Negara sangat dominan terhadap masyarakat; (3)
pembangunan yang diterapkan secara seragam dengan mengabaikan keanekaragaman atau
pluralitas masyarakat dan kebudayaannya; (4) pendekatan yang bersifat mobilisasi lebih
diutamakan daripada partisipasi sosial[8].

Penyebab Konflik
Terjadinya konflik di masyarakat nelayan disebabkan salah satunya oleh kondisi kepemilikan
bersama sumber daya perikanan laut. Dalam hal ini keikutsertaan bersifat bebas dan terbuka[9].
Sementara, Daniel Mohammad Rosyid[10] mengungkapkan ada 4 faktor penting yang
menyebabkan terjadinya konflik anatara nelayan. Pertama, jumlah nelayan dengan beragam alat
tangkap serta ukuran kapal telah meningkat. Kedua, luas wilayah operasi tidak bertambah luas

karena teknologi yang dikuasai tidak berkembang. Ketiga, telah mengalami kondisi tangkap
lebih dan populasi ikan mulai menurun. Keempat, kesalahan pemahaman atas implikasi dan
perumusan Undang-Undang mengenai otonomi daerah yang mengatur kewenangan pengelolaan
wilayah perairan laut.
Tiga faktor pertama sebagian dapat disebabkan oleh krisis ekonomi yang telah menimbulkan
pergeseran sektor ketenagakerjaan dari manufaktur ke perikanan tangkap. Sementara over
kapitalisasi operasi perikanan laut dalam pemanfaatan sumber daya laut bersama, sudah
berkurang potensinya. Sedang faktor keempat berkaitan dengan regulasi yang mengatur
pengelolaan laut sebagai sumber daya bersama[11].
Dari sisi kepentingan, konflik di wilayah pantai menjadi sangat tinggi terutama setelah masuknya
masyarakat non lokal yang cenderung memanfaatkan sumber daya pantai secara intensif baik
modal maupun teknologi dan kurang memperhatikan kepentingan kelompok atau
sektor/subsektor lain terutama masyarakat lokal. Sering terjadi masyarakat lokal justru makin
tersisihkan karena tidak mampu bersaing[12].
Sementara Ibrahim Ismail[13] mengidentifikasi konflik menjadi 2 permasalahan pokok yakni
eksternal dan internal. Konflik terjadi akibat terusiknya kelangsungan usaha masyarakat
setempat karena beroperasinya kapal-kapal besar dari daerah sehingga aktivitas keseharian
nelayan setempat terganggu. Sedang kasus yang diakibatkan faktor internal adalah konflik
penggunaan alat penangkap ikan. Masalah ini yang sering terjadi dibanyak daerah, dimana alat
tradisional akan terlindas oleh nelayan yang menggunakan alat yang dimodifikasi dan aktif
seperti dogol atau cotok. Konflik tersebut sering kali melibatkan dua kelompok nelayan yang
berbeda teknologi untuk memperebutkan daerah dan target penangkapan yang sama[14].
Keberadaan UU Otonomi Daerah
UU No. 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan Daerah mengatur bahwa Pemerintah Propinsi
memiliki kewenangan pengelolaan wilayah laut sejauh 12 mil dari garis pantai ke arah laut lepas
dan atau ke arah perairan kepulauan, sedangkan pemerintah kota/kabupaten berhak mengelola
sepertiganya atau sejauh 4 (empat) mil. Ketentuan itu mencerminkan adanya pergeseran
paradigma pembangunan kelautan (termasuk perikanan) dari pola sentralistik ke desentralistik.
Namun, konflik antarnelayan makin marak setelah lahirnya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999
Tentang Pemerintahan Daerah. Namun demikian, karena operasionalisasi desentralisasi
pengelolaan wilayah laut belum tergambar secara jelas maka timbul penafsiran yang berbedabeda baik di kalangan pemerintah daerah maupun nelayan. Gejala ini terlihat dari adanya
beberapa pemerintah daerah yang mengeluarkan perijinan di bidang penangkapan ikan yang
diluar kewenangannya. Sementara, sebagian kalangan nelayan menafsirkan otonomi daerah
dalam bentuk pengkavlingan laut, yang berarti suatu komunitas nelayan tertentu berhak atas
wilayah laut tertentu dalam batas kewenangan daerahnya, baik dalam pengertian hak
kepemilikan (property rights) maupun pemanfaatan (economic rights). Fenomena ini menyulut
timbulnya konflik antarnelayan.

Masalah yang mucul dengan adanya pemberian kewenangan wilayah laut kepada daerah oleh,
antara lain:
(1) Tidak sesuai dengan filosofis laut sebagai perekat dan pemersatu sehingga tidak seharusnya
boleh dibagi-bagi;
(2) Secara teknis akan sulit, karena titik-titik koordinat dan garis-garis batas memang dapat
digambarkan pada peta, tetapi pada pelaksanaannya (di laut) tidak mungkin jelas, sehingga dapat
menimbulkan kesalahpahaman yang berakhir dengan konflik;
(3) Pengertian yang benar mengenai batas dan berbagai implikasinya tidak mudah dipahami,
baik oleh masyarakat umum maupun oleh pejabat[15].
Interprestasi UU No. 22 Tahun 1999 masih kurang jelas. Banyak pihak yang mempertanyakan
tentang Wilayah otonomi penangkapan ikan, sementara peraturan pelaksanaan dari UU tersebut
belum ada. Sehingga penguasaan wilayah perairan ditafsirkan sebagai bentuk pengkavlingan
laut. Sedang pada tingkat nelayan telah menimbulkan konflik horisontal yang amat tajam.
Potensi Sumber daya Ikan versus Jumlah Nelayan
Potensi sumber daya ikan yang besar manajemen perikanan yang menganut asas kehatian-hatian
(precautionary approach). Dengan menetapkan JTB (Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan)
yang berasal dari perairan territorial dan perairan wilayah serta perairan ZEEI. Potensi dan JTB
di atas dimungkinkan mengalami perubahan ke arah yang positif, yakni terjadi kenaikan.
Asumsi bahwa potensi SDI di perairan Indonesia sebesar 6,40 juta ton pertahun dan JTB sebesar
5,12 juta ton pertahun, maka produktifitas nelayan di Indonesia diperkirakan rata-rata sebesar
1,35 ton/orang/tahun atau ekivalen 6,63 kg/orang/hari (lama melaut 200 hari dalam 1 tahun)[16].
Rendahnya produktifitas nelayan tersebut menyebabkan persaingan untuk mendapatkan hasil
tangkapan semakin lama akan semakin ketat, karena rezim pengelolaan sumber daya ikan
bersifat terbuka (open access).
Kondisi di atas dimungkinkan merupakan salah satu penyebab nelayan di negara kita rentan
terhadap konflik. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah strategis dan komprehensif untuk
mengatasi masalah ini, terutama guna melindungi nelayan perikanan rakyat yang merupakan
bagian terbesar dari seluruh nelayan dan tingkat kesejahteraannya masih rendah.
Tangkapan Lebih (Over Fishing)[17]
Pada tahun 2001 produksi ikan dari hasil penangkapan di laut mencapai 4,069 juta ton. Tingkat
Pemanfaatan SDI di Indonesia telah mencapai 63,49 % dari potensi lestari sebesar 6,409 juta ton
pertahun atau 79,37 % dari JTB sebesar 5,127 juta juta ton pertahun. Pemanfaatan tersebut tidak
merata untuk setiap Wilayah Pengelolaan Perikanan, di beberapa wilayah pengelolaan telah
terjadi over fishing seperti di Laut Jawa dan Selat Sunda (171,72 %)[18].
Terjadinya over fishing telah mendorong nelayan yang biasa menangkap ikan di perairan tersebut
melakukan penangkapan ikan di daerah penangkapan (fishing ground) lain yang masih potensial.

Hal ini apabila tidak diantisipasi dapat menjadi faktor pendorong timbulnya konflik antara
nelayan pendatang dengan nelayan lokal.
Perilaku/Motivasi[19]
Seperti diketahui bahwa sebagian besar nelayan di Indonesia baik nelayan perikanan industri
maupun nelayan perikanan rakyat masih terlalu mengejar rente ekonomi dalam memanfaatkan
sumber daya ikan. Hal ini mendorong nelayan untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya dan
mengabaikan aspek-aspek kelestarian, meskipun di beberapa daerah berlaku kearifan-kearifan
lokal (local wisdom), pengetahuan lokal dan hukum-hukum adat. Dampak dari padanya, prinsipprinsip kanibalisme sering terjadi di laut dan konflik antarnelayan tidak dapat dihindari. Untuk
itu ke depan, pembangunan perikanan tangkap harus mampu merubah orientasi nelayan ke arah
yang lebih arif dan bijak dalam memanfaatkan sumber daya ikan, guna menjaga kelestarian dan
menghindari konflik.

Sosial Ekonomi
Jumlah nelayan kategori miskin pada akhir tahun 2000 diperkirakan mencapai 23.327.228
nelayan[20]. Sumber lain menyebutkan 85 % penduduk di wilayah pantai yang subur dan
produktif masih miskin, terutama di wilayah pantai yang tingkat aksesibilitasnya sangat rendah.
Sekitar 60 % penduduk tinggal dan menggantungkan hidupnya di wilayah pantai dan laut. Lebih
dari 90 % produksi ikan dihasilkan di daerah perairan pantai oleh nelayan tanpa perahu, perahu
motor dan perahu motor tempel[21].
Sampai saat ini kondisi sosial ekonomi masyarakat nelayan di Indonesia masih memprihatinkan.
Tingkat pendidikan mereka rata-rata rendah bahkan sebagian tidak berpendidikan, penghasilan
tidak menentu, tanpa jaminan kesehatan dan hari tua, tinggal di rumah yang kurang layak dan
sebagainya. Disisi lain, mereka pada umumnya konsumtif dan tidak mempunyai budaya
menabung. Masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi yang demikian, biasanya emosional,
nekat dan mudah dipengaruhi. Permasalahan kecil yang timbul diantara mereka dapat
menyebabkan terjadinya pembunuhan. Oleh karena itu mereka sangat rentan terhadap konflik,
meskipun penyebabnya seringkali masalah sepele.
E. Upaya Mengatasi Konflik
Dengan memperhatikan aspek sosial-budaya dan kepentingan ekonomi masyarakat nelayan,
pemikiran-pemikiran mengatasi konlik perebutan sumber daya perikanan laut tidak mudah
dilaksanakan. Prinsip yang harus dikembangkan untuk menghindari konflik adalah strategi
pemanfataan sumber daya harus mempertimbangkan pendekatan yang menyeluruh tentang
jumlah biaya, keuntungan yang dicapai dari proses eksploitasi. Strategi harus memperhatikan
interaksi positif antara kepentingan ekonomi dan lingkungan.
Pemberdayaan Nelayan
Salah satu pemicu timbulnya konflik antarnelayan adalah kondisi sosial ekonomi dan
motivasi/perilaku yang ada pada masyarakat nelayan. Untuk itu, agar konflik dapat dihindari

maka perlu dilakukan upaya-upaya yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan nelayan dan
perubahan motivasi/perilaku ke arah yang lebih positif. Upaya tersebut antara lain dapat
dilakukan melalui kegiatan pemberdayaan (empowerment). Diharapkan dengan kegiatan
pemberdayaan yang dilakukan secara intensif dan berkesinambungan maka konflik antarnelayan
dapat dihindari.

Relokasi
Sebagian besar armada perikanan berada di daerah yang padat penduduknya dalam hal ini Pantai
Utara Jawa Timur. Kondisi ini menyebabkan perairan di sekitar daerah tersebut mengalami padat
tangkap bahkan menunjukkan gejala over fishing. Dampak dari padanya, di perairan tersebut
sering terjadi konflik antarnelayan karena perebutan daerah penangkapan (fishing ground). Oleh
karena itu perlu dilakukan pemindahan (relokasi) armada dari daerah sekitar perairan yang sudah
padat tangkap atau telah menunjukkan gejala over fishing ke perairan lain yang masih surplus
tingkat pemanfaatan sumber daya ikannya24.
Dengan adanya kegiatan ini maka diharapkan akan terjadi keseimbangan tingkat pemanfaatan di
masing-masing Wilayah Pengelolaan Perikanan, sehingga pemanfaatan sumber daya ikan dapat
dilakukan secara berkelanjutan dan konflik yang disebabkan karena perebutan daerah
penangkapan dapat dihindari.
Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan dan Berbasis Masyarakat[22]
Sumber daya ikan dapat mengalami degradasi bahkan pemusnahan apabila dieksploitasi secara
tidak terkendali, meskipun sumber daya ikan merupakan sumber daya yang dapat pulih
(renewable resources). Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran sebagian nelayan akan
hilangnya mata pencaharian mereka, sehingga memunculkan konflik dengan nelayan yang
kurang peduli terhadap kelestarian.
Penerapan manajemen perikanan yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat adalah keharusan,
agar pemanfaatan sumber daya ikan dapat dilakukan secara terus menerus dari generasi ke
generasi. Pelibatan masyarakat secara penuh dalam pemanfaatan sumber daya ikan (perencanaan,
pelaksanaan sampai pengawasan termasuk rehabilitasi dan konservasi) dimaksudkan agar
seluruh stakeholders merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap kelestarian sumber daya
ikan.

Pengembangan Usaha Alternatif [23]


Upaya lain yang dapat dilakukan untuk menghindari konflik antarnelayan adalah pengembangan
usaha alternatif, misalnya di bidang budidaya ikan, pengolahan ikan, perbengkelan dll. Dengan
adanya usaha alternatif diharapkan nelayan akan memperoleh penghasilan tambahan, sehingga
ketergantungan terhadap hasil tangkapan ikan dapat dikurangi dan keinginan nelayan untuk
menangkap ikan sebanyak-banyaknya juga dapat ditekan.

Disamping itu, upaya ini dapat juga mengurangi jumlah nelayan kerena beralih profesi ke usaha
alternatif yang lebih prospektif. Berkurangnya jumlah nelayan di daerah-daerah yang padat,
seperti Pantai Utara Jawa dan Pantai Timur Sumatera juga merupakan solusi untuk menghindari
konflik.
Peningkatan Nilai Tambah Ikan Hasil Tangkapan
Selama ini, dalam melakukan usaha penangkapan ikan, nelayan pada umumnya lebih berorentasi
pada jumlah (volume) hasil tangkapan, dibanding nilai (value) hasil tangkapan tersebut. Hal ini
menyebabkan terjadinya inefisiensi (pemborosan) dalam pemanfaatan sumber daya ikan dan
dapat menjadi pemicu timbulnya konflik.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut adalah meningkatkan
nilai tambah melalui pembinaan mutu. Dengan meningkatnya mutu diharapkan harga jual ikan
akan mengalami kenaikan dan pada gilirannya akan merubah orientasi nelayan dari mengejar
jumlah tangkapan ke margin pendapatan[24].
Pengawasan dan Penegakan Hukum
Pemerintah melalui KepMen Pertanian No. 607 Tahun 1975 jo No. 392 Tahun 1999 tentang
Jalur-Jalur Penangkapan Ikan telah berupaya agar konflik antarnelayan dapat dihindari. Dalam
keputusan tersebut menjelaskan tentang daerah penangkapan ikan di laut dibagi atas 3 (tiga)
Jalur Penangkapan[25].
Peningkatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap keputusan tersebut di atas dapat
menghindari terjadinya konflik antarnelayan. Penegakkan aturan hukum yang melarang
penggunaan teknologi penangkapan yang merusak lingkungan, yang juga dapat menyebabkan
kecemburuan sosial dan meningkatkan kesenjangan pendapatan diantara kelompok nelayan.
Penegakan hukum harus dibarengi dengan pengawasan yang ketat, bilamana terjadi pelanggaran
peraturan harus ditindak tegas, tentunya aturan hukum yang berkaitan dengan permasalahan ini
harus jelas terlebih dulu, agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

F. Penutup
Sumber daya kawasan pesisir dan laut termasuk obyek strategis yang menjadi ajang perebutan
kepentingan. Konflik di perkirakan masih akan terus berlangsung. Secara struktural, nelayan di
Indonesia rentan terhadap konflik, sehingga perlu ditempuh langkah-langkah untuk
mengantisipasi agar konflik antarnelayan dapat dihindari. Berbagai sumbangan pemikiran yang
ada masih perlu didiskusikan lebih lanjut, dengan harapan diperoleh solusi yang lebih tepat dan
dapat menjadi masukan bagi para pengambil kebijakan dalam pembangunan sektor kelautan dan
perikanan.

STRATEGI PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN SECARA TERPADU


DAN BERKELANJUTAN
I.

PENDAHULUAN

Tidak ada yang meragukan, fakta fisik menunjukan wilayah pesisir dan lautan
Indonesia dengan luas areal mencakup 5,8 juta km2 kaya dengan beragam
sumberdaya alamnya. Sumberdaya alam tersebut terbagi dua, yaitu : pertama
sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources), seperti :
sumberdaya perikanan (perikanan tangkap dan budidaya), mangrove dan terumbu
karang, dan kedua sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (nonrenewable
resources), seperti : minyak bumi, gas dan mineral dan bahan tambang lainnya.
Selain menyediakan dua sumberdaya tersebut, wilayah pesisir Indonesia memiliki
berbagai fungsi, seperti : transportasi dan pelabuhan, kawasan industri, agribisnis
dan agroindustri, jasa lingkungan, rekreasi dan pariwisata, serta kawasan
permukiman dan tempat pembuangan limbah.

Pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan oleh bangsa Indonesia telah dilakukan
sejak berabad-abad lamanya, sebagai salah satu sumber bahan makanan utama,
khususnya protein hewani. Sementara itu, kekayaan minyak bumi, gas alam dan
mineral lainnya yang terdapat di wilayah ini telah dimanfaatkan untuk menunjang
pembangunan ekonomi nasional sejak awal Pelita I. Pemanfaatan sumberdaya
pesisir dan lautan sudah selayaknya dikelola dengan baik dan optimal untuk
menunjang pembangunan ekonomi nasional dalam rangka mengatarkan bangsa ini
menjadi makmur, adil dan sejahtera.

Dalam kaitannya dengan sumberdaya pesisir dan lautan, pemerintah dan bangsa
Indonesia di era reformasi mulai sadar untuk menjadikan pembangunan berbasis
kelautan menjadi pijakan yang kuat dan strategis. Ini tercermin dalam GBHN 1999
yang menyatakan bahwa pembangunan perekonomian yang berorientasi global
sesuai kemajuan teknologi dengan membangun keunggulan komperatif sebagai
negara kelautan dan agraris sesuai kompetensi dan produk unggulan daerah dan
berbasis sumberdaya alam (SDA) dan sumberdaya manusia (SDM). Arti strategis ini
dilandasi empat hipotesa pokok, yaitu :

Pertama, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia memiliki


sebanyak 17.508 pulau (pulau besar dan kecil) dengan kekayaan lautan yang luar

biasa besar dan beragam, maka sudah seharusnya arus utama pembangunan
berbasis pesisir dan lautan akan memberikan manfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bangsa secara keseluruhan.

Kedua, Semakin meningkatnya kegiatan pembangunan dan jumlah penduduk,


serta semakin menipisnya sumberdaya alam daratan, maka sumberdaya pesisir dan
lautan akan menjadi tumpuan harapan bagi kesinambungan pembangunan ekonomi
nasional di masa mendatang.

Ketiga, dalam menuju era industrialisasi, wilayah pesisir dan lautan merupakan
prioritas utama untuk pusat pengembangan industri, pariwisata, agribisnis,
agroindustri pemukiman, transportasi dan pelabuhan. Kondisi demikian bagi kotakota yang terletak di wilayah industri terus dikembangkan menuju tata ekonomi
baru dan industrialisasi. Tidak mengherankan bila sekitar 65% penduduk Indonesia
bermukim di sekitar wilayah pesisir.

Keempat, dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah (UU No. 22 Tahun 1999 dan
UU No. 25 Tahun 1999), tentang pemerintah daerah dan tentang perimbangan
keuangan antara Pusat dan Daerah, maka dengan propinsi dengan otonomi
terbatas dan kabupaten, mempunyai peluang besar untuk memanfaatkan,
mengelola dan melindungi wilayah pesisir dan laut untu sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat dalam batas kewenangan wilayah laut propinsi 12 mil laut
diukur dari garis pantai, dan kewenangan kabupaten sejauh sepertiga dari
kewenangan propinsi. Pengelolaan wilayah pesisir dan laut oleh daerah tidak
terlepas dari misi dan visi secara nasional dan komitmen bangsa dalam melindungi
wilayah pesisir dan laut, pendekatan pemanfaatan dan konservasi perlu dilakukan
dengan kehati-hatian agar tidak mengurangi peluang generasi yang akan datang
juga menikmati kehidupan yang lebih baik dari sekarang.

1. II.
POTENSI DAN PERMASALAHAN PEMBANGUNAN WILAYAH
PESISIR DAN LAUTAN

Suatu kenyataan yang sebenarnya telah kita pahami bersama, jika sumberdaya
pesisir dan lautan memiliki arti penting bagi pembangunan nasional, baik dilihat
dari aspek ekonomi, aspek ekologis, aspek pertahanan dan keamanan, serta aspek
pendidikan dan pelatihan. Salah satu contoh dari aspek ekonomi, total potensi
lestari dari sumber daya perikanan laut Indonesia diperkirakan mencapai 6,7 juta

ton per tahun, masing-masing 4,4 juta ton di perairan teritorial dan perairan
nusantara serta 2,3 ton di perairan ZEE (Departemen Kelautan dan Perikanan,
2002). Sedangkan di kawasan pesisir, selain kaya akan bahan-bahan tambang dan
mineral juga berpotensi bagi pengembangan aktivitas industri, pariwisata,
pertanian, permukiman, dan lain sebagainya. Seluruh nilai ekonomi potensi
sumberdaya pesisir dan laut mencapai 82 milyar dollar AS per tahun.

Kenyataannya, kinerja pembangunan bidang kelautan dan perikanan belumlah


optimal, baik ditinjau dari perspektif pendayagunaan potensi yang ada maupun
perpektif pembangunan yang berkelanjutan. Ekosistem pesisir dan lautan yang
meliputi sekitar 2/3 dari total wilayah teritorial Indonesia dengan kandungan
kekayaan alam yang sangat besar, kegiatan ekonominya baru mampu
menyumbangkan + 20,06% dari total Produk Domestik Bruto (Kusumastanto, 1998
dalam Rohmin 2001). Padahal negara-negara lain yang memiliki wilayah dan
potensi kelautan yang jauh lebih kecil dari Indonesia (seperti Norwegia, Thailand,
Philipina, dan Jepang), kegiatan ekonomi kelautannya (perikanan, pertambangan
dan energi, pariwisata, perhubungan dan komunikasi, serta industri) telah
memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap PDB mereka, yaitu berkisar 2560% per tahun (Rokhmin Dahuri, 2001).

Ini menunjukan bahwa kontribusi kegiatan ekonomi berbasis kelautan masih kecil
dibanding dengan potensi dan peranan sumberdaya pesisir dan lautan yang
sedemikian besarnya, pencapaian hasil pembangunan berbasis kelautan masih jauh
dari optimal.

Jika diamati secara seksama, persoalan pemanfaatan sumber daya pesisir dan
lautan selama ini tidak optimal dan berkelanjutan disebabkan oleh faktor-faktor
kompleks yang saling terkait satu sama lain. Faktor-faktor tersebut dapat
dikategorikan kedalam faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktorfaktor yang berkaitan dengan kondisi internal sumberdaya masyarakat pesisir dan
nelayan, seperti :

1. Rendahnya tingkat pemanfaatan sumberdaya, teknologi dan manajemen


usaha, Pola usaha tradisional dan subsisten (hanya cukup memenuhi
kehidupan jangka pendek),
1. Keterbatasan kemampuan modal usaha,
2. Kemiskinan dan Keterbelakangan masyarakat pesisir dan nelayan.

Sedangkan Faktor eksternal, yaitu :


1. Kebijakan pembangunan pesisir dan lautan yang lebih berorientasi pada
produktivitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi, bersifat
sektoral,parsial dan kurang memihak nelayan tradisional,
2. Belum kondisinya kebijakan ekonomi makro (political economy), suku bunga
yang masih tinggi serta belum adanya program kredit lunak yang
diperuntukan bagi sektor kelautan.
3. Kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah darat,
praktek penangkapan ikan dengan bahan kimia, eksploitasi dan perusakan
terumbu karang, serta penggunaan peralatatan tangkap yang tidak ramah
lingkungan,
4. Sistem hukum dan kelembagaan yang belum memadai disertai
implementasinya yang lemah, dan birokrasi yang beretoskerja rendah serta
sarat KKN,
5. Perilaku pengusaha yang hanya memburu keuntungan dengan
mempertahankan sistem pemasaran yang mengutungkan pedagang
perantara dan pengusaha,
6. Rendahnya kesadaran akan arti penting dan nilai strategis pengelolaan
sumberdaya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu bagi kemajuan dan
kemakmuran bangsa.
Akibatnya potret pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan selama kurun
waktu 32 tahun yang lalu, dicirikan oleh dominan kegiatan yang kurang
mengindahkan aspek kelestarian lingkungan, dan terjadi ketimpangan pemerataan
pendapatan. Pada masa itu, Pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan lautan,
sangat diwarnai oleh rezim yang bersifat open acces, sentralistik, seragamisasi,
kurang memperhatikan keragaman biofisik alam dan sosio-kultural masyarakat
lokal. Lebih jauh antara kelompok pelaku komersial (sektor modern) dengan
kelompok usaha kecil dan subsisten (sektor tradisional) kurang sejalan/ sinergi
bahkan saling mematikan.

1. III. URGENSI DAN MANFAAT PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN


LAUTAN SECARA TERPADU (PWPLT)

Seperti yang dijelaskan diatas, banyak faktor persoalan yang menyebabkan tidak
optimal dan berkelanjutan pengelolaan wilayah pesisir dan lautan. Namun,
kesepakatan umum mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama adalah

perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sumberdaya pesisir dan lautan yang


selama ini dijalankan bersifat sektoral dan terpilah-pilah. Padahal karakteristik dan
alamiah ekosistem pesisir dan lautan yang secara ekologis saling terkait satu sama
lain termasuk dengan ekosistem lahan atas, serta beraneka sumberdaya alam dan
jasa-jasa lingkungan sebagai potensi pembangunan yang pada umumnya terdapat
dalam suatu hamparan ekosistem pesisir, mensyaratkan bahwa pengelolaan
sumberdaya wilayah pesisir dan lautan secara optimal dan berkelanjutan hanya
dapat diwujudkan melalui pendekatan terpadu dan holostik. Apabilaperencanaan
dan pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan tidak dilakukan secara terpadu,
maka dikhawatirkan sumberdaya tersebut akan rusak bahkan punah, sehingga tidak
dapat dimanfaatkan untuk menopang kesinambungan pembangunan nasional
dalam mewujudkan bangsa yang maju, adil dan makmur.
Ditinjau dari sudut pandang pembangunan berkelanjutan dan status bangsa
Indonesia sebagai negara berkembang, Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir
dan Lautan secara Terpadu sesungguhnya berada dipersimpangan jalan (at the
cross road). Disatu sisi kita mengahadapi wilayah pesisir yang padat penduduk
dengan derap pembangunan yang intensif dengan pola yang tidak berkelanjutan
(unsustainable development pattern), seperti yang terjadi di Selat Malaka, Pantai
Utara Jawa, Bali, pesisir antara Balikpapan dan Bontang di Kalimantan Timur dan
Sulawesi Selatan. Sehingga, indikasinya telah terlampaui daya dukung (potensi
lestari) dari ekosistem pesisir dan lautan, seperti pencemaran, tangkap lebih
(overfishing), degradasi fisik habitat pesisir dan abrasi pantai. Di sisi lain, masih
banyak kawasan pesisir dan lautan Indonesia yang tingkat pemanfaatan
sumberdaya alamnya belum optimal, kondisi ini umumnya dijumpai di Kawasan
Timur Indonesia (KTI) dan daerah luar jawa lainnya yang belum tersentuh aktivitas
pembangunan.
Bertitik tolak pada kondisi tersebut, sudah waktunya ada kebijakan dan strategi
pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan lautan yang dapat
menyeimbangkan pemanfaatan antar wilayah dan tidak mengulangi kesalahan
(kerusakan lingkungan dan in-efesiensi), seperti yang terjadi di Kawasan Barat
Indonesia (KBI). Bedasarkan karakteristik dan dinamika dari kawasan pesisir,
potensi dan permasalahannya, maka kebijakan pemerintah untuk membangun
kawasan pesisir dan laut secara optimal dan berkelanjutan hanya dilakukan melalui
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu (PWPLT).

1. IV.
KEUNGGULAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN
SECARA TERPADU (PWPLT)

Pendekatan PWPLT memiliki keunggulan atau manfaat lebih dibanding dengan


pendekatan pengelolaan secara sektoral, yaitu :
1. PWPLT memberikan kesempatan (opportunity) kepada masyarakat pesisir
atau para pengguna sumberdaya pesisir dan lautan (stakeholder) untuk
membangun sumberdaya pesisir dan lautan secara berkelanjutan, melalui
pendekatan secara terpadu konflik pemanfaatan ruang (property rigth) yang
sering terjadi di kawasan pesisir dapat di atasi.
2. PWPLT melibatkan masyarakat pesisir untuk memberikan aspirasi berupa
masukan terhadap perencanaan pengelolaan kawasan pesisir dan laut baik
sekarang maupun masa depan. Dengan pendekatan ini stakeholder kunci
(masyarakat pesisir) dapat memanfaakan, menjaga sumberdaya pesisir dan
lautan secara berkelanjutan.
3. PWPLT menyediakan kerangka (framework) yang dapat merespons segenap
fluktuasi maupun ketidak-menentuan (uncertainties) yang merupakan ciri
khas pesisir dan lautan.
4. PWPLT membantu pemerintah daerah maupun pusat dengan suatu proses
yang dapat menumbuhkembangkan pembangunan ekonomi lokal berbasis
sumberdaya lokal.
5. Meskipun PWPLT memerlukan pengumpulan data dan analisis data serta
perencanaan yang lebih panjang daripada pendekatan sektoral, tetapi secara
keseluruhan akhirnya PWPLT lebih murah ketimbang pendekatan sektoral.

1. V.
STRATEGI PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN
SECARA TERPADU
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu (PWPLT) memerlukan
informasi tentang potensi pembangunan yang dapat dikembangkan di suatu
wilayah pesisir dan Strategi Pengelolaan Wilayah Peisisr dan Lautan
lautan beserta permasalahan yang ada, baik aktual aupun potensial. PWPLTpada
dasarnya ditujukan untuk mendapatkan pemanfaatan sumber daya dan jasa-jasa
lingkungan yang terdapat diwilayah ini secara berkelanjutan dan optimal bagi
kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, rumusan PWPLT disusun berdasarkan pada
potensi, peluang, permasalahan, kendala dan kondisi aktual yang ada, dengan
memperimbangkan pengaruh lingkungan strategis terhadap pembangunan
nasional, otonomi daerah dan globalisasi. Untuk mengimplementasikan PWPLT pada
tataran praktis (kebijakan dan program) maka ada lima strategi, yaitu :
(1) Penerapan Konsep Pembangunan Berkelanjutan dalam PWPLT

(2) Mengacu pada Prinsip-prinsip dasar dalam PWPLT


(3) Proses Perencanaan PWPLT
(4) Elemen dan Struktur PWPLT
(5) Penerapan PWPLT dalam Perencanaan Pembangunan Daerah
Dalam strategi pertama, suatu kawasan pembangunan yang berkelanjutan memiliki
empat dimensi, yaitu : ekologis, sosial-ekonomi-budaya, sosial-politik, dan hukum
serta kelembagaan. Dimensi ekologis menggambarkan daya dukung suatu wilayah
pesisir dan lautan (supply capacity) dalam menopang setiap pembanguan dan
kehidupan manusia, sedangkan untuk dimensi ekonomis-sosial dari pembangunan
berkelanjutan mempresentasikan permintaan terhadap SDA dan jasa-jasa
lingkungan dimana manfaat dari pembangunan wilayah pesisir seharusnya untuk
meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal sekitar program terutama yang
termasuk ekonomi lemah. Untuk Dimensi Sosial-politik, pembangunan berkelanjutan
hanya dapat dilaksanakan dalam sistem dan suasana politik demokratis dan
transparan, tanpa kondisi politik semacam ini, niscaya laju kerusakan lingkungan
akan melangkah lebih cepat ketimbang upaya pencegahan dan
penanggulangannya. Penegakan dimensi Hukum dan kelembagaan, Sistem
peraturan dan perundang-undangan yang berwibawa dan kuat akan mengendalikan
setiap orang untuk tidak merusak lingkungan pesisir dan lautan.
Strategi kedua, Pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir harus mengacu pada
prinsip-prinsip dasar PWPLT, ada 15 prinsip dasar yang sebagian besar mengacu
Clark (1992) yaitu :
1)
Wilayah pesisir adalah suatu sistem sumberdaya (resource system) yang
unik, yang memerlukan pendekatan khusus dalam merencanakan dan mengelola
pembangunannya.
2)

Air merupakan faktor kekuatan pemersatu utama dalam ekosistem pesisir.

3)
Tata ruang daratan dan lautan harus direncanakan dan dikelola secara
terpadu.
4)
Daerah perbatasan laut dan darat hendaknnya dijadikan faktor utama
dalam setiap program pengelolaan wilayah pesisir.
5)
Batas suatu wilayah pesisir harus ditetapkan berdasarkan pada isu dan
permasalahan yang hendak dikelola serta bersifat adaptif.
6)
Fokus utama dari pegelolaan wilayah pesisir adalah untuk mengkonservasi
sumberdaya milik bersama.
7)
Pencegahan kerusakan akibat bencana alam dan konservasi sumberdaya
alam harus dikombinasikan dalam suatu program PWPLT.

8)
Semua tingkatan di pemerintahan dalam suatu negara harus
diikutsertakan dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah pesisir.
9)
Pendekatan pengelolaan yang disesuaikan dengan sifat dan dinamika alam
adalah tepat dalam pembangunan wilayah pesisir.
10)
Evaluasi pemanfaatan ekonomi dan sosial dari ekosistem pesisir serta
partisipasi masyarakat lokal dalam program pengelolaan wilayah pesisir.
11)
Konservasi untuk pemanfaatan yang berkelanjutan adalah tujuan dari
pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir.
12)
Pengelolaan multiguna (multiple uses) sangat tepat digunakan untuk
semua sistem sumberdaya wilayah pesisir.
13)
Pemanfaatan multiguna (multiple uses) merupakan kunci keberhasilan
dalam pembangunan wilayah pesisir secara berkelanjutan
14)

Pengelolaan sumberdaya pesisir secara tradisional harus dihargai.

15)
Analisis dampak lingkungan sangat penting bagi pengelolaan wilayah
pesisir secara terpadu.

Strategi ketiga, Proses perencanaan PWPLT pada dasarnya ada tiga langkah utama,
yaitu : (1) Perencanaan, (2) implementasi dan (3) Pemantauan dan Evaluasi. Secara
jelas ketiga langkah utama tersebut diilustrasikan dalam diagram alur proses
perencanaan pembangunan berkelanjutan wilayah pesisir dan lautan.
Strategi keempat, Agar mekanisme atau proses PWPLT dapat direalisasikan dengan
baik perlu dilengkapi dengan komponen-komponen yang diramu dalam suatu piranti
pengelolaan (management arrangement) sebagai raganya. Pada intinya, piranti
pengelolaan terdiri dari piranti kelembagaan dan alat pengelolaan. Piranti
kelembagaan menyediakan semacam kerangka (frame work) bagi pelaksanaan
tugas-tugas pengelolaan dan penerapan segenap alat pengelolaan.

Meskipun rancangan dan praktek PWPLT bervariasi dari satu negara ke negara yang
lain, namun dapat disimpulkan bahwa keberhasilan PWPLT memerlukan empat
persyaratan utama, yaitu : (1) kepemimpinan pionir (initial leadership), (2) piranti
kelembagaan, (3) kemapuan teknis (technical capacity), dan (4) alat pengelolaan.
Penerapan keempat persyaratan ini bervariasi dari satu negara dengan negara lain,
bergantung pada kondisi geografi, demografi, sosekbud dan politik.

Strategi kelima, Untuk mengatasi konflik perencanaan pengelolaan pesisir, maka


perlu diubah dari perencanaan sektoral ke perencanaan terpadu yang melibatkan
pemerintah daerah, swasta dan masyarakat terkait di pesisir. Semua instansi
sektoral, Pemda dan stakeholder terkait harus menjustifikasi rencana kegiatan dan
manfaat yang akan diperoleh, serta mengkoordinasi kegiatan tersebut dengan
kegiatan sektoral lain yang sudah mapan secara sinergis. Dengan semangat
pelaksanaan otonomi daerah yang diantaranya ditandai dengan lahir dan
diberlakukannya UU No. 22/1999 tentang Pemerintah Daerah, yang di dalamnya
mencakup pengaturan kewenangan daerah dalam mengelola sumber daya kelautan
(pesisir dan lautan), diharapkan dapat membawa angin segar sekaligus menjadi
mometum untuk melaksanakan pembangunan, pendayagunaan, dan pengelolaan
sumber daya kelautan dan perikanan secara yang lebih baik, optimal, terpadu serta
berkelanjutan.

ditulis oleh:
Ir. Syaiful Arifin
Dinas Pertanian Kota Surabaya