Anda di halaman 1dari 28

FARMAKOGNOSI II

UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU


1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur hendaknya penulis panjatkan kehadirat Allah
SWT., atas berkat rahmat dan hidayah-Nya lah, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Laporan Praktikum Farmakognosi II ini.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan
yang tulus kepada seluruh pihak, khususnya kepada asisten atas
kebijaksanaan dan kesediaannya dalam membimbing sehingga laporan
ini dapat selesai.
Penulis

menyadari

sepenuhnya

bahwa

masih

banyak

kekurangan dalam penyusunan laporan ini, karena penulis hanyalah


manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, penulis
mohon maaf sebesar-besarnya serta kritik dan saran sangat diperlukan
yang membangun dari semua pihak. Penulis juga berharap laporan
pengamatan ini kedepannya dapat berguna bagi pembaca.
Kendari,

Mei 2016

Penulis

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
2

PERCOBAAN V
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Farmakognosi

adalah

ilmu

yang

mempelajari

mengenai

pengetahuan tentang obat-obatan. Dalam farmakognosi ini, yang


menjadi kajian utamanya adalah bahan alam. Bahan alam dapat
diolah menjadi suatu senyawa yang dapat memberikan manfaat
melalui zat-zat atau kandungan kimia yang ada didalamnya.
Tumbuhan obat sudah sejak lama dimanfaatkan oleh masyarakat
dalam

upaya

penyembuhan

dan

pencegahan

penyakit,

peningkatan daya tahan tubuh serta mengembalikan kebugaran.


Hampir setiap suku bangsa di Indonesia memiliki tumbuhan obat
dan ramuan khas obat tradisional (obat asli Indonesia).
Uji kadar air dan kadar abu dari suatu ekstrak bahan obat
alam sangat berguna dalam pembuatan suatu sediaan obat.
Bukan hanya bahan obat, namun juga dalam bahan pangan
seperti makanan yang sering dikonsumsi sehari-hari. Tidak semua
bahan makanan mengandung kualitas yang baik dan layak
dikonsumsi. Salah satu indikatornya adalah kadar air dan kadar
abu yang berbeda pada setiap bahan pangan dan hal itu dapat
ditentukan dengan berbagai metode dan prinsip. Selain kadar air,
kadar abu juga merupakan salah satu hal yang penting dalam
suatu bahan pangan. Kadar abu juga berbeda untuk setiap jenis
bahan pangan.
Kadar air dan kadar abu merupakan dua hal yang sangat
penting yang harus diketahui pada suatu bahan pangan untuk
mengetahui baik tidaknya bahan pangan tersebut dikonsumsi,
baik atau tidaknya bahan pangan tersebut untuk diolah. Uji kadar
air dari suatu ekstrak bahan obat alam dimaksudkan agar dapat
memberikan gambaran awal sejumlah kandungan. Berbagai
NUR AFNI RIDWAN
MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
3

senyawa penyarian dari bahan obat alam seperti penyarian


dengan pelarut air atau alkohol digunakan untuk menentukan
persentasenya. Kadar abu ada hubungannya dengan mineral
suatu bahan. Mineral yang terdapat dalam suatu bahan terdapat
dalam suatu bahan dapat merupakan dua macam garam yaitu
garam organik dan garam anorganik.
Metode yang digunakan untuk menetapkan kadar air pada
suatu bahan adalah dengan metode oven, yaitu suatu metode
yang dapat digunakan untuk seluruh produk makanan, kecuali
produk tersebut mengandung komponen-komponen yang mudah
menguap atau jika produk tersebut mengalami dekomposisi,
penentuan kadar air dan kadar abu sangat penting diketahui.
Berdasarkan uraian diatas maka perlunya dilakukan percobaan
mengenai kadar air dan kadar abu.
2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah

percobaan

ini

adalah

bagaimana

cara

pengujian kadar air dan kadar abu dari suatu ekstrak simplisia ?
3. Tujuan
Tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu untuk mengetahui cara
pengujian kadar air dan kadar abu dari suatu ekstrak simplisia.
4. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari

percobaan ini adalah

dapat

meningkatkan pengetahuan dan mengetahui cara cara pengujian


kadar air dan kadar abu dari suatu ekstrak simplisia.

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
4

B. Teori Umum
Indonesia terkenal sebagai negara penghasil tanaman obatobatan, memiliki potensi dan prospek pengembangan yang cukup
cerah, karena didukung oleh kondisi flora yang berkeragaman tinggi
dan melimpah, tanah dan iklim yang relatif cocok untuk tanaman
tropik dan beberapa tanaman obat subtropik, adanya peningkatan
konsumsi untuk industri obat tradisional, rempah dan minyak atsiri
untuk keperluan domestik dan luar negeri (ekspor) serta tingginya
potensi konsumen domestik mengingat jumlah penduduk Indonesia
yang menduduki peringkat kelima terbesar di dunia (Irianto, 2009).
Hampir semua daerah di Indonesia memiliki tanaman obat yang
telah dibuktikan kemanjurannya secara empiris. Beberapa tanaman
digolongkan ke dalam tanaman obat unggulan yaitu meniran, kumis
kucing, temu lawak, kunyit, jahe merah, mengkudu, sambiloto, jati
belanda, jambu biji, daun salam dan cabe jawa (Syarif, 2012).
Secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dengan
cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat
kimia murni. Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan
utuh, bagian hewan atau zat zat berguna yang dihasilkan oleh
hewan dan belum berupa zat kimia murni. Simplisia pelikan adalah
simplisia yang berupa bahan mineral yang belum diolah atau telah
diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni
(MMI, 1989).
Dalam perdagangan tidak selalu mungkin untuk memperoleh
simplisia yang sepenuhnya murni ; bahan asing yang tidak

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
5

berbahaya dalam jumlah yang sangat kecil yang terdapat dalam


simplisia ataupun yang ditambahkan atau dicampurkan, pada
umumnya tidak merugikan. Simplisia harus bebas dari serangga,
fragmen hewan atau kotoran hewan ; tidak menyimpan bau dan
warnanya tidak boleh mengandung lendir dan cendawan atau
menunjukkan pengotoran yang lain; tidak mengandung bahan lain
yang beracun atau berbahaya (MMI, 1989).
C. BAHAN
Bahan-bahan

yang

digunakan

pada

percobaan

sebagai berikut:
1. Bunga kesumba (Carthami flos)
2. Bunga cengkeh (Syzygii Flos)
3. Buah ketumbar (CoriaIndri Fructus)
4. Buah merica (Piperi nigri fructus)
5. Biji kacang hijau (Phaseoli semen)
6. Daun belimbing wulu (Bilimbii folium)
7. Daun alpukat (Perseae folium)
8. Daun jambu mete (Anacardii folium)
9. Daun pepaya (Caricae folium)
10.Daun asam jawa (Tamarindi folium)
11.Daun jambu biji (Psidii folium)
12.Daun kembang sepatu (Hibisci rosa-sinensis folium)
13.Daun ubi jalar (Batatasae folium)
14.Daun mengkudu (Morindae fructus)
15.Daun kangkung air (Ipomoeae aquaticae folium)
16.Daun kelor (Moringae folium)
17.Daun kumis kucing (Orthosiphonis folium)
18.Daun jarak pagar (Jatrophae folium)
19.Rimpang jahe (Zingiberis rhizoma)
20.Rimpang lengkuas (Languatis rhizoma)
21.Rimpang kunyit (Curcumae domestica rhizoma)
22.Rimpang kencur (Kaempferiae rhizoma)
23.Rimpang temulawak (Curcumae rhizoma)
24.Kayu secang (Sappan lignum)
25.Kulit kayu manis (Cinnamoni cortex)

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

ini

adalah

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
6

D. KLASIFIKASI TANAMAN
1. Tanaman Kesumba (Bixa orellana) (Prasetyo dan Entang,
2013)
Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Violales

Famili

: Bixaceae

Genus

: Bixa

Spesies

: Bixa orellana

2. Tanaman Cengkeh (Syzigium aromaticum L.) (Prasetyo dan


Entang, 2013)
Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Myrtales

Famili

: Myrtaceae

Genus

: Syzigium

Spesies

: Syzigium aromaticum L.

3. Tanaman Ketumbar (Coriandrum sativum L.) (Prasetyo dan


Entang, 2013)
Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Apiales

Famili

: Apiaceae

Genus

: Coriandrum

Spesies

: Coriandrum sativum L.

4. Tanaman Merica (Piper nigrum L.) (Sarpian, 2003)


Regnum
: Plantae
Divisi
NUR AFNI RIDWAN
MEGAWATI

: Magnoliophyta

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
7

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Piperales

Famili

: Piperaceae

Genus

: Piper

Spesies

: Piper nigrum L.

5. Tanaman Kacang Hijau (Vigna radiata L.) (Prasetyo dan


Entang, 2013)
Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Rosales

Famili

: Leguminasae

Genus

: Vigna

Spesies

: Vigna radiata L.

6. Tanaman Belimbing wulu (Averrhoa bilimbi L.) (Prasetyo dan


Entang, 2013)
Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Geraniales

Famili

: Oxalidaceae

Genus

: Averrhoa

Spesies

: Averrhoa bilimbi L.

7. Tanaman Alpukat (Persea americana Mil.) (Prasetyo dan


Entang, 2013)
Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Ranales

Famili

: Lauraceae

Genus

: Persea

Spesies

: Persea americana P. Mill.

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
8

8. Tanaman

Jambu

Mete

(Anacardium

occidentale

L.)

(Prasetyo dan Entang, 2013)


Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Sapindales

Famili

: Anacardiaceae

Genus

: Anacardium

Spesies

: Anacardium occidentale L.

9. Tanaman Pepaya (Carica papaya L.) (Prasetyo dan Entang,


2013)

10.

Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Violales

Famili

: Caricaceae

Genus

: Carica

Spesies

: Carica papaya L.

Tanaman Asam jawa (Tamarindus indica L.) (Prasetyo dan

Entang, 2013)

11.

Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Tamarindus

Spesies

: Tamarindus indica L.

Tanaman Jambu Biji (Psidium guajava L.) (Parimin, 2005)


Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Myrtales

Famili

: Myrtaceae

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
9

Genus

: Psidium

Spesies

: Psidium guajava L.

12.

Tanaman

Kembang

Sepatu

(Hibiscus

rosa

sinensis L.) (Prasetyo dan Entang, 2013)

13.

Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Malvales

Famili

: Malvaceae

Genus

: Hibiscus

Spesies

: Hibiscus rosa sinensis L.

Tanaman Ubi jalar (Ipomea batatas L.) (Prasetyo dan

Entang, 2013)

14.

Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Solanales

Famili

: Covolvulaceae

Genus

: Ipomea

Spesies

: Ipomea batatas L.

Tanaman Mengkudu (Morinda citrifolia L.) (Prasetyo dan

Entang, 2013)

15.

Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Rubiales

Famili

: Rubiaceae

Genus

: Morinda

Spesies

: Morinda citrifolia L.

Tanaman Kangkung (Ipomoea reptans) (Prasetyo dan

Entang, 2013)
Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
10

Kelas

16.

: Magnoliopsida

Ordo
Famili

: Solanales
: Convovulceae

Genus

: Ipomea

Spesies

: Ipomoea reptans

Tanaman

Kelor

(Moringa

oleifera

L.)

(Prasetyo

dan

Entang, 2013)

17.

Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo
Famili

: Brassicales
: Moringaceae

Genus

: Moringa

Spesies

: Moringa oleifera L.

Tanaman Kumis Kucing (Orthosiphon spicatus) (Sunarto,

2009)

18.

Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Asteridae

Ordo

: Lamiales

Famili

: Lamiaceae

Genus

: Orthosiphon

Spesies

: Orthosiphon spicatus

Tanaman Jarak pagar (Jatropha curcas) (Prasetyo dan

Entang, 2013)
Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

19.

: Dicotyledonae

Ordo

: Euphorbiales

Famili

: Euphorbiaceae

Genus

: Jatropha

Spesies

: Jatropha curcas

Tanaman Jahe (Zingiber officinale Rosc.) (Rukmana, 2000)


Regnum

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

: Plantae

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
11

20.

21.

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberacea

Genus

: Zingiber

Spesies

: Zingiber officinale Rosc.

Tanaman Lengkuas (Alpinia galanga)


Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Alpiniae

Genus

: Alpinia

Spesies

: Alpinia galanga

Tanaman Kunyit (Curcuma domestica Val.) (Prasetyo dan

Entang, 2013)

22.

Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberacea

Genus

: Curcuma

Spesies

: Curcuma domestica Val.

Tanaman Kencur (Kaempferia galangal L.) (Prasetyo dan

Entang, 2013)
Regnum

: Plantae

Divisi

: Tracheopyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Kaempferia

Spesies

: Kaempferia galangal L.

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
12

23.

Tanaman

Temulawak

(Curcuma

xantorrhiza

Roxb.)

(Rukmana, 1995)

24.

Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae

Genus

: Curcuma

Spesies

: Curcuma xantorrhiza Roxb.

Tanaman Secang (Caesalpinia sappan L.) (Prasetyo dan

Entang, 2013)

25.

Regnum

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Caesalpinia

Spesies

: Caesalpinia sappan L.

Tanaman Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) (Prasetyo

dan Entang, 2013)


Regnum

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Laurales

Famili

: Lauraceae

Genus

: Cinnamomum

Spesies

: Cinnamomum burmannii

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
13

E. DESKRIPSI TANAMAN
1. Bunga kesumba (Carthami flos)
Carthami flos adalah bunga majemuk Carthamus tinctorius
L., anggota Asteraceae. Carthamus tinctorius L. merupakan
terna semusim, yang memiliki bau agak aromatik dengan rasa
agak pahit yang tumbuh tegak, tingginya sampai 130 m,
batangnya hijau pucat, berusuk, licin, percabangnya banyak.
Daun duduk atau bertangkai pendek, bersilang, bentuknya
lonjong hingga lonjong-lanset, bundar telur lonjong, atau elips
dengan ujung yang berbentuk jarum atau tumpul, tepinya
bergigi atau rata, licin pada kedua permukaannya. Ukuran
panjang 3-15 cm dan lebar 1-15 cm. Urat-urat daunnya nyata.
Bunga

bonggol,

keluar

diujung

cabang-cabangnya.

Secara

mikroskopik pada pengamatan tangensial daun mahkota terlihat


sel epidermis berbentuk persegi empat panjang dengan dinding
bergelombang, pembuluh kayu dengan penebalan bentuk spiral
didampingi oleh deretan sel berisi zat warna coklat. Pada
pengamatan tangensial kepala sari terlihat sel berbentuk persegi
panjang berdinding tebal, bernoktah atau berpenebalan jala:
pembuluh kayu dengan penebalan bentuk spiral didampingi
sederet sel berisi zat warna coklat, sel-sel berbentuk memanjang
dengan dinding tipis: serbuk sari berbentuk hampir bulat dengan
permukaan

tidak

rata,

berbintik

dan

dengan

tonjolan

berbentuk bulat, garis tengah serbuk sari lebih kurang 30 m.


Serbuk: warna coklat kemerahan. Fragmen pengenal adalah
fragmen kepala putik bagian ujung dengan papila pendek

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
14

berujung membulat, fragmen kepala putik dibawah bagian ujung


dengan papila lebih panjang berujung agak meruncing, fragmen
tangkai putik, fragmen tangkai sari, serbuk sari, papila dari
kepala putik, fragmen mahkota bunga. Pada penambahan asam
sulfat pekat P zat yang berwarna coklat didalam fragmen akan
menjadi warna biru tua (Ditjen POM, 1944).
2. Cengkeh (Caryophyllum)
Daun tunggal, berwarna hijau kecoklatan, helaian daun
berbentuk lanset memanjang, panjang daun 6 cm sampai 13,5
cm, lebar 1,5 cm sampai 5,5 cm, umumnya 3 cm, ujung dan
pangkal daun runcing, pinggir daun rata, panjang tangkai 0,6 cm
sampai 2,5 cm. Tulang daun menyirip, tiap tulang cabang sejajar
dengan yang lain dan mengarah ke pinggir, ibu tulang daun
menonjol pada permukaan daun, permukaan atas berwarna hijau
kecoklatan, licin dan mengkilap, permukaan bawah berwarna
lebih muda. Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung
ranting daun dengan tangkai pendek serta bertandan. Pada saat
masih

muda

bunga

cengkeh

berwarna

keungu-unguan,

kemudian berubah menjadi kuning kehijau-hijauan dan berubah


lagi menjadi merah muda apabila sudah tua. Sedang bunga
cengkeh kering akan berwarna coklat kehitaman dan berasa
pedas sebab mengandung minyak atsiri (Ditjen POM, 1989).
3. Buah ketumbar (CoriaIndri fructus)
CoriaIndri fructus adalah buah Coriandrum sativum L., suku
Apiaceae. Coriandrum sativum L. merupakan terna tinggi 20-100
cm, batang bila memar berbau wangi. Buah berupa biji yang
kecil 1-2 mm, rusuk-rusuk pada buah kurang nyata, mirip
dengan biji lada tetapi lebih kecil dan berwarna kuning jerami
sampai kecoklatan. Buah bila diremas berbau aromatik, khas,
rasa khas, lama-lama agak pedas (Yuwono, 2011). Secara
mikroskopik, merikarp, epikarp terdiri dari selapis sel kecil
berdinding agak tebal, tidak berlignin, kutikula tipis, banyak sel
epikarp berisi hablur kalsium oksalat berbentuk prisma kecil,
juga terdapat bagian ujung buah, tidak terdapat rambut
NUR AFNI RIDWAN
MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
15

penutup. Mesokarp terdiri dari beberapa macam jaringan yaitu


jaringan parenkim dengan sel-sel termampat dan berdinding
tipis, jaringan sklerenkimatik yang tersusun membujur terdiri
dari serabut berdinding tebal, berlignin, lumen sempit, jaringan
sklerenkimatik yang tersusun arah tangensial, terdiri dari
serabut berdinding tebal, berlignin, di daerah rusuk utama
terdapat berkas pembuluh kayu spiral dan cincin, didaerah
rususk sekunder jaringan sklerenkimatik hampir semua terdiri
dari serabut yang tersusun arah tangensial, lapisan terdalam
mesokarp terdiri dari beberapa lapis sel parenkim besar
berbentuk poligonal, dinding tipis tetapi antar sel banyak, pada
daerah komisual tiap merikarp terdapat 2 saluran minyak
berbentuk jorong dengan epitelium berwarna coklat, didalam
saluran terdapat minyak atsiri. Pada buah yang masih muda
terdapat juga saluran minyak dimesokarp bagian punggung
yang

apabila

buah

bertambah

masak,

saluran

menjadi

termampat dan susut menjadi rongga bentuk pipih arah


tangensial. Endokarp terdiri dari satu lapisan sel yang pada
pandangan tangensial tampak terdiri sel-sel. Serbuk: warna
coklat mudah kekuningan atau coklat kemerahan, bau khas
aromatik.

Fragmen

pengenal

adalah

serabut

sklerenkim

misokarp, fragmen endokarp, fragmen epikarp dari bagian ujung


buah, fragmen mesokarp berikut endokarp, spermoderm dan
endosperm, fragmen pembuluh kayu, hablur kalsium oksalat
berbentuk prisma dan roset. Tidak terdapat rambut penutup
atau butir pati (Ditjen POM, 1944).
4. Merica (Piper nigrum L.)
Batang tanaman merica beruas-ruas.

Ukuran

batang

berdiameter 6-25 mm. Daun merica berbentuk bundar lebar


atau lonjong seperti daunt alas. Bagian pangkal daun berbentuk
bulat dan semakin ke ujung semakin meruncing. Permukaan atas
daun tanaman merica berwarna hijau tua mengkilap, sedangkan
permukaan bawah berwarna hijau pucat dan buram. Bunga lada
termasuk

bunga

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

berumah

satu

O1A1 14 032

dan

merupakan

bunga

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
16

duduk.Buah merica berbentuk bulat seperti bola. Buah yang


masih muda (mentah) memiliki kulit luar (epikarp) berwarna
hijau mengkilap, setelah masak berubah menjadi kuning dan
merah menyala. Buah merica memiliki rasa pedas yang berbeda
dengan pedas dari cabai rawit (Ditjen POM, 1989).
5. Kacang hijau (Vigna radiata L.)
Tanaman kacang hijau memiliki daun berwarna hijau,
berbentuk jantung dengan ujung runcing, pinggir rata, ke dua
sisi sedikit berambut, panjang 4 cm sampai 5 cm, lebar 3 cm,
lebar 3 cm sampai 3,5 cm kerap kali terdapat bintik bintik
pucat. Berbatang tegak dengan ketinggian sangat bervariasi,
antara

30-60

cm,

tergantung

varietasnya.

Cabangnya

menyamping pada bagian utama, berbentuk bulat dan berbulu.


Polong kacang hijau berebntuk silindris dengan panjang antara
6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong
berwarna hijau dan dan setelah tua berwarna hitam atau coklat.
Setiap polong berisi 10-15 biji. Biji kacang hijau lebih kecil
dibanding biji kacang-kacangan lain. Warna bijinya kebanyakan
hijau kusam atau hijau mengilap, beberapa ada yang berwarna
kuning, cokelat dan hitam. Tanaman kacang hijau berakar
tunggang dengan akar cabang pada permukaan (Ditjen POM,
1989).
6. Belimbing wulu (Averrhoa bilimbi)
panjang atas anak daun berwarna hijau muda, hijau sampai
hijau kecoklatan, permukaan bawah berwarna lebih muda,
bentuk bundar panjang sampai jorong, panjang 2 cm sampai 10
cm, lebar 0,7 cm sampai 3 cm. Ujung daun runcing, pangkal
daun membundar, pinggir daun rata. Tangkai daun 1 mm sampai
2 mm, tulang daun, terutama tulang daun utama menonjol pada
permukaan bawah.Permukaan bawah berambut lebih banyak
dari pada permukaan atas, jika diraba terasa halus (Ditjen POM,
1989).
7. Daun alpukat (Perseae folium)

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
17

Perseae folium merupakan daun dari Persea americana Mill.


Persea americana Mill. merupakan tanaman berupa pohon tinggi
3-10 m dengan daun tersebar, tunggal, berdesakan di ujung
ranting,

helaian

memanjang,

daun

bulat

berbentuk

telur

terbalik,

bulat

telur,

menjangat,

elips,
kedua

bulat
sisi

permukaan mula-mula berambuat kemudian gundul, ukuran


panjang 10-20 cm, lebar 3-10 cm, panjang tangkai 1,5-5 cm. Biji
alpukat satu berbentuk bola, garis tengah 2,5-5 cm (BPOM,
2007). Simplisia Persea americana Mill. secara mikroskopik
epidermis atas terdiri dari satu lapis sel berbentuk pipih, pada
penampang

tangensial

berbentuk

piligonal

dan

berdinding

samping lurus, kutikula tebal, jelas berbintik. Epidermis bawah


terdiri dari satu sel, pada penampang tangensial tampak dinding
samping agak bergelombang, kutikula tebal berbintik. Stomata
tipe anomositik, hanya terdapat pada epidermis bawah. Rambut
penutup berbentuk kerucut berujung runcing, dinding tebal,
lumen berwarna agak kecoklatan, panjang 40 m- 80 m, terdiri
dari satu atau dua sel, umumnya terdiri dari satu sel, terdapat
pada epidermis bawah. Mesofil terdiri dari jaringan palisade dan
jaringan bungakarang. Jaringan palisade terdiri dari satu lapis
sel, tebal jaringan palisade hampir setengah tebal mesofil.
Jaringan bunga karang terdiri dari lima sampai tujuh lapis sel. Sel
minyak, berbentuk bulat telur atau bulat, garis tengah lebih
kurang 100 m, terdapat tersebar didalam mesofil, terutama di
jaringan palisade. Berkas pembuluh tipe kolateral, serabut
sklerenkim, dinding tebal dan berlignin disebelah atas dan
bawah berkas pembuluh, pada parenkim tulang daun terdapat
hablur kalsium oksalat berbentuk prisma. Serbuk: warna hijau
sampai hijau kecoklatan. Fragmen pengenal adalah jaringan
mesofil

dengan

sel

minyak,

rambut

berbentuk

kerucut

berdinding tebal, lepas atau menempel pada epidermis, fragmen


epidermis atas, fragmen epidermis bawah, hablur kalsium

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
18

oksalat berbentuk prisma, lepas atau terdapat dalam mesofil


(Ditjen POM, 1944).
8. Jambu mete (Anacardium occidentale L.)
Helaian daun tunggal, bertangkai, warna hijau kekuningan
sampai hijau tua kecoklatan, bentuk bundar telur sungsang,
panjang 4-22 cm, lebar 2-15 cm, ujung daun membundar
dengan lekukan kecil di tengah, pangkal daun runcing, pinggir
daun rata, panjang tangkain daun sampai 3 cm, tulang daun
menyirip, permukaan atas dan bawah daun licin, tidak berambut
(Ditjen POM, 1989).
9. Pepaya (Carica papaya L.)
Helaian daun rapuh, warna permukaan atas hijau tua,
permukaan bawah berwarna lebih muda; bentuk bundar dengan
tulang-tulang daun menjari, pinggir daun bercangap sampai
berbagi menjari, cuping-cuping daun berlekuk sampai berbagi
tidak beraturan, tulang cuping daun menyirip. Ujung daun
lancip, pangkal daun berbentuk jantung. Tulang daun sangat
menonjol di permukaan bawah. Garis tengah helaian daun 25 cm
sampai 75 cm (Ditjen POM, 1989).
10.Asam jawa (Tamarindus indica L.)
Helaian anak daun berwarna hijau kecoklatan atau hijau
muda, bentuk bundar panjang, panjang 1 cm sampai 2,5 cm,
lebar 4 mm sampai 8 mm, ujung daun membundar, kadangkadang berlekuk pangkal daun membundar, pinggir daun rata
dan hampir sejajar satu sama lain. Tangkai daun sangat pendek
sehingga mirip daun duduk. Tulang daun terlihat jelas. Kedua
permukaan daun halus dan licin, permukaan bawah berwarna
lebih muda (Ditjen POM, 1989).
11.
Jambu Biji (Psidium guajava L.)
Semak atau pohon, tinggi 3 10 m, kulit batang halus
permukaannya berwarna coklat dan mudah mengelupas. Daun
berhadapan, bertulang menyirip, berbintik, berbentuk bundar
telur agak menjorong atau agak bundar sampai meruncing,
panjang helai daun 6 cm sampai 14 cm, lebar 3-6 cm, panjang
tangkai 3-7 mm, daun yang muda berambut, dan yang tua
permukaan atasnya menjadi licin. Perbungaan terdiri dari 1-3
NUR AFNI RIDWAN
MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
19

bunga, panjang gagang per bungaan 2-4 cm, panjang kelopak 710 mm, tajuk tajuk berbentuk bundar telur sungsang, panjang
1,5-2 cm. buah bentuk bulat atua bulat telur, kalau masak
berwarna

kuning,

panjang

5-8,5

cm,

berdaging

yang

menyelimuti biji-biji dalam massa berwarna kuning atau merah


jambu (Ditjen POM, 1980).
12.

Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis L.)


Daun tunggal berwarna hijau kecoklatan, helaian daun

berbentuk bundar telur, panjang helaian daun 3,5 cm sampai 9,5


cm, lebar 2-6 cm, ujung daun meruncing, pinggir daun bergerigi
kasar, tulang daun menjari, tangkai daun panjang 1 cm sampai
3,7 cm (Ditjen POM, 1989).
13.
Daun ubi jalar (Ipomea batatas L.)
Helaian daun rapuh, patah-patah, berwarna hijau hingga
hijau kekuningan, hijau tua kecoklatan atau hijau kehitaman,
permukaan bawah umumnya berwarna lebih pucat; bentuk
bundar telur, jantung melebar atau agak berlekuk menjari,
panjang helaian 4 cm sampai 14 cm, lebar 4 cm sampai 11 cm;
pangkal daun berlekuk, ujung daun runcing atau meruncing,
pinggir daun rata atau agak berlekuk, kadang-kadang berbagi
menjari; tulang daun menyirip (Ditjen POM, 1989).
14.
Mengkudu (Morinda citrifolia L.)
Helaian daun umumnya tidak utuh, berwarna hijau sampai
hijau

tua kekuningan,

bentuk

bundar telur,

lebar hingga

berbentuk elip, panjang 4,5 cm sampai 21 cm, lebar 4,5 cm


sampai 8 cm, ujung daun runcing, pangkal daun meruncing,
pinggir daun rata. Daun penumpu berbentuk bundar telur,
pinggir rata warna kehijauan, panjang 0,5 cm sampai 1,5 cm,
tangkai daun 0,5 cm sampai 1,5 cm. Tulang daun menyirip jelas
(Ditjen POM, 1989).
15.
Kangkung (Ipomoea reptans)
Daun tunggal, warna hijau sampai hijau
kecoklatan;

rapuh;

helaian

daun

berbentuk

kelabu atau
bundar

telur,

segitiga, atau bentuk memanjang, lanset sampai garis, ujung


meruncing, pangkal terpancung atau bentuk jantung sampai
bentuk panah, tepi daun rata atau bergigi; panjang helaian daun
NUR AFNI RIDWAN
MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
20

3 cm sampai 15 cm, lebar 1 cm sampai 9 cm; permukaan daun


rata, penulangan menyirip, menonjol, pada permukaan bawah;
panjang tangkai 3 cm sampai 20 cm (Ditjen POM, 1989).
16.
Kelor (Moringa oleifera L.)
Helaian anak daun berwarna hijau sampai hijau kecoklatan,
bentuk bundar telur atau bundar telur tebalik, pangjang 1-3 cm,
lebar 4 mm sampai 1 cm, ujung daun tumpul, pangkal daun
membulat, tepi daun rata. Tangkai daun 1-3 mm (Ditjen POM,
1989).
17.
Kumis Kucing (Orthosiphon spicatus)
Terna, tumbuh tegak, pada bagian bawah beakar di bagian
buku-bukunya, tinggi dapat mencapai 2 m, batang bersegi
empat agak beralur, berambut pendek atau gundul. Helai
daunberbentuk bundar telur lonjong, lanset, bundar telur, atau
belah ketupat yang dimulai dari pangkalnya, lancip atau tumpul,
panjang 1-10 cm, panjang 7,5 mm sampai 5 cm; urat daun
sepanjang tepi berambut tipis atau gundul, panjang tankai 3 cm
(Ditjen POM, 1980).
18.

Jarak pagar (Jatropha curcas)


Daun tunggal, berwarna hijau kecoklatan, helaian daun

berbentuk bundar telur melebar, panjang helaian daun 5 cm,


sampai 15 cm, lebar 6 cm sampai 16 cm, bersudut atau berlekuk
3 sampai 5, ujung daun meruncing, pangkal daun berbentuk
jantung, tulang daun untuk menjari, permukaan atas helaian
daun berwarna hijau kecoklatan, permukaan bawah berwarna
lebih pucat, menonjoll pada permukaan bawah, tulang cabang
menyirip (Ditjen POM, 1989).
19.
Jahe (Zingiber officinale Roxb.)
Morfologi

tanaman Terna berbatang semu, tinggi 30 cm

sampai 1 m, rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga.


Daun sempit, panjang 15 - 23 mm, lebar 8 - 15 mm, tangkai
daun berambut, panjang 2 - 4 mm; bentuk lidah daun
memanjang, panjang, tidak berambut, seludang agak berambut.
Perbungaan berupa malai tersembul di permukaan tanah,
berbentuk tongkat atau bulat telur yang sempit, sangat tajam,
NUR AFNI RIDWAN
MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
21

panjang malai. Daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik,


panjang 2,5 cm, lebar 1 cm sampai 1,75 cm; mahkota bunga
berbentuk tabung, panjang tabung 2 cm sampai 2,5 cm,
helainya agak sempit, bentuk tajam, berwarna kuning kehijauan,
panjang 1,5 mm sampai 2,5 mm, lebar 3 mm sampai 3,5 mm
(Ditjen POM, 1980).

20.

Rimpang lengkuas (Alpiniae rhizoma)


Alpiniae galangae rhizoma adalah rimpang Alpiniae galanga

L.,

suku

Zingiberaceae.

Alpiniae

galanga

L.

merupakan

tumbuhan terna yang tegak tinggi batangnya mencapai 2-2,5 m.


Lengkuas mempunyai batang pohon yang terdiri dari susunan
pelepah-pelepah daun. Daun-daunnya berbentuk bulat panjang
dan antara daun yang terdapat pada bagian bawah terdiri dari
pelepah-pelepah saja sedangkan bagian atas batang terdiri dari
pelepah-pelepah

lengkap

dengan

helaian

daun.

Bunganya

muncul pada bagian ujung tumbuhan. Rimpang umbi selain


berserat kasar juga mempunyai bau aromatis yang khas
(Yuwono, 2011) dengan rasa pedas, bentuk berupa potongan,
panjang 4 cm-6 cm, kadang-kadang bercabang, ujung bengkok,
warna permukaan coklat kemerahan, parul daun jelas. Berkas
patahan berserat pendek, berbutir-butir kasar, warna coklat.
Secara mikroskopik epidermis terdiri dari satu lapis sel kecil agak
pipih, dinding berwarna kuning kecoklatan, kutikula jelas.
Korteks parenkimatik, jaringan korteks bagian luar terdiri dari
beberapa lapis sel dengan dinding tipis berwarna kuning
kecoklatan, jaringan korteks bagian dalam terdiri dari sel
parenkim besar, dinding sel tipis, tidak berwarna, kadangkadang bernoktah halus, berisi butir pati. Pada parenkim
tersebar idioblas berisi minyak dan zat samak, warna coklat
muda atau coklat tua yang dengan penambahan besi (III) klorida
LP warna berubah menjadi kehitaman. Butir pati tunggal, bentuk
lonjongatau bulat telur, lamela tidak jelas, panjang butir 8 m
NUR AFNI RIDWAN
MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
22

sampai 60 m, umumnya 25 m sampai 50 m. Endodermis


terdiri dari sel yang lebih kecil dari sel parenkim, dinding sel
tipis, tidak berisi pati. Berkas pembuluh kolateral, tersebar
dalam parenkim, dikelilingi serabut. Serabut kecil memanjang,
dinding sel tebal, tidak berlignin, lebar lumen 20 m samapai 40
m,

bernoktah.

Xilem

umumnya

berupa

pembuluh

jala,

pembuluh noktah dan pembuluh tangga, lebar 20 m sampai 60


m, tidak berlignin. Floem sedikit tidak jelas. Serbuk: fragmen
pengenal adalah jaringan gabus, butir pati, idioblas berisi
minyak dan zat samak, fragmen parenkim, serabut sklerenkim
dan pembuluh kayu, tidak terdapat serbuk hablur (Ditjen POM,
1944).

21.

Kunyit (Curcuma domestica Val.)


Terna dengan batang berwarna semu hijau atau tampak

agak

keunguan,

rimpang

terbentuk

dengan

sempurna,

bercabang-cabang, berwarna jingga. Setiap tanaman berdaun 38 helai, panjang tangkai daun berserta pelepah daun sampai 70
cm, tanpa lidah-lidah, berambut halus jarang-jarang, helaian
daun berbentuk lanset lebar, ujung daun lancip berekor,
keseluruhannya berwarna hijau atau hanya bagian atas dekat
tulang utama berwarna agak keunguan, panjang 28-85 cm, lebar
10-25 cm (Ditjen POM, 1980).
22.

Kencur (Kaempferia galangal L.)


Terna yang hampir menutupi tanah,

rimpang

bercabang-cabang,

tidak

berbatang,

berdesak-desakan,

akar-akar

berbentuk gelendong kadang-kadang berumbi, panjang 1 cm


sampai 1,5 cm. Setiap tanaman berdaun sebanyak 1 sampai 3
(umumnya 2) helai, lebar merata dan hampir menutupi tanah,
daun berbentuk jorong lebar sampai hampir bundar, pangkal
hampir berbentuk jantung, pinggir bergelombang berwarna
merah kecoklatan, bagian tengah berwarna hijau, panjang helai
daun 7-15 cm, lebar 2-8 cm, tangkai pendek, berukuran 3-10
NUR AFNI RIDWAN
MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
23

mm, pelepah terbenam dalam tanah, panjang 1,5 cm sampai 3,5


cm, warna putih (Ditjen POM, 1980).
23.
Temulawak (Curcumae xantorrhiza Roxb.)
Terna berbatang semu setinggi kurang lebih 2 m, berwarna
hijau

atau

coklat gelap,

akar rimpang

terbentuk

dengan

sempurna, bercabang-cabang kuat, berwarna hijau gelap. Tiap


tanaman mempunyai daun 2 sampai 9 helai, berbentuk bundar
memanjang hingga bangun lanset, berwarna hijau atau coklat
keunguan terang sampai gelap, panjang 31-84 cm, lebar 10-18
cm, panjang tangkai daun 43-80 cm lebih (Ditjen POM, 1980).
24.

Secang (Caesalpinia sappan L.)


Kulit menggulung membujur berupa pipa atau gelendong;

tebal 1-2 mm; lapisan gabus tipis; mudah mengelupas; warna


putih

kuning

kehijauan

dengan

banyak

lentisel

berwarna

kecoklatan berbentuk bundar atau jorong melintang. Di bawah


lapisan gabus terdapat kulit, bagian luar berwarna kelabu
kehijauan, licin dengan garis-garis halus membujur dan berkas
lentisel yang melintang; permukaan dalam kulit licin, warna
coklat muda. Kulit mudah dipatahkan, bekas patahan rata, warna
putih kekuningan (Ditjen POM, 1989).
25.
Kayu Manis (Cinnamomum burmanii)
Semak atau pohon kecil, tinggi 5-15 m, pepagan (kulit)
berbau khas. Helaian daun berbentuk lonjong panjang 4-14 cm,
lebar 1,5-6 cm, permukaan atas halus, permukaan bawah
berambut

bewarna

kelabu

kehijaaun

yang

tertekan

pada

permukaan daun atau bertepung, daun muda berwarna merah


pucat, berpenulangan 3, panjang tangkai daun 0,5 cm- 1,5 cm.
perbungaan berupa malai, berambut halus berwarna kelabu
yang bertekan pada permukaan, panjang gagang bunga 4 mm
sampai 12 mm, juga berambut halus, tenda bunga panjang 4-5
mm, helai tenda bunga setelah berkembang tersobek secara
melintang dan terpotong agak jauh dari dasar bunga. Buah,
adalah buah buni, panjang lebih kurang 1 cm (Ditjen POM,
1980).

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
24

F. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Hasil Pengamatan

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
25

2. Pembahasan
Sampel yang digunakan pada percobaan pengujian kadar air
dan kadar abu yaitu bunga kesumba (Carthami flos), bunga
cengkeh (Syzygii Flos), ketumbar (Coriandri Fructus), merica
(Piper nigrum fructus), biji kacang hijau (Phaseoli semen), daun
belimbing wulu (Bilimbii folium), daun alpukat (Perseae folium),
daun jambu mete (Anacardii folium), daun pepaya (Caricae
folium), daun asam jawa (Tamarindi Indica folium), daun jambu
biji (Psidii folium), daun kembang sepatu (hibisci rosa-sinensis
folium), daun ubi jalar (Batatasae folium), daun mengkudu
(Morindae folium), daun kangkung air (Ipomoeae aquaticae
folium),

daun

kelor

(Moringae

folium),

daun

kumis

kucing

(Orthosiphonis folium), daun jarak pagar (Jatrophae folium),


rimpang jahe (Zingiberis
rhizoma),

rimpang

rhizoma), rimpang lengkuas (Alpiniae

kunyit

(Curcumae

domesticae

rhizoma),

rimpang kencur (Kaempferiae rhizoma), rimpang temulawak


(Curcumae xanthorrhizae rhizoma), kayu secang (Sappan lignum),
dan kulit kayu manis (Cinnamoni cortex).
Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam
bahan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air juga salah satu
karakteristik yang sangat penting pada bahan pangan, karena air
dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, dan cita rasa pada
bahan pangan. Kadar air dalam bahan pangan ikut menentukan
kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut, kadar air yang
tinggi mengakibatkan mudahnya bakteri, kapang, dan khamir
untuk berkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan pada
bahan pangan.
Sifat dari metode analisa kadar air dengan menggunakan
metode oven berdasarkan pada gravimetri, yaitu berdasarkan
pada selisih berat sebelum pemanasan dan setelah pemanasan.
Sehingga sebelum dilakukan analisa, terlebih dahulu dilakukan
penimbangan

cawan

yang

akan

dipergunakan

untuk

mengeringkan sample. Penimbangan dilakukan sampai berat

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
26

cawan konstan, yaitu dengan memanaskan cawan dalam oven


pada suhu 100-105 oC selama 1 jam.
Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik
atau mineral yang terdapat pada suatu bahan pangan. Bahan
pangan terdiri dari 96% bahan anorganik dan air, sedangkan
sisanya merupakan unsur-unsur mineral. Bahan-bahan organik
dalam proses pembakaran akan terbakar tetapi komponen
anorganiknya tidak, karena itulah disebut sebagai kadar abu.

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
27

G. Penutup
1. Kesimpulan

2. Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini adalah saat
mengidentifikasi

sebaiknya

proses

preparasi

haksel

harus

dilakukan dengan baik dan benar agar haksel yang diuji benarbenar murni dan bebas dari pengotor, sehingga kita dapat
memperoleh hasil yang tepat.

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032

FARMAKOGNOSI II
UJI KADAR AIR DAN KADAR ABU
28

DAFTAR PUSTAKA
Aksara, R., Weny J.A. M, dan La Alio. 2013. Identifikasi Senyawa Alkaloid
dari Ekstrak Metanol Kulit Batang Mangga (Mangifera indica L.).
Jurnal Entropi. Vol 3 (1).
BPOM. 2007. Acuan Sediaan Herbal , Edisi I Vol 3. Jakarta.
Ditjen POM. 1944. Materia Medika Indonesia, jilid 1-4. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Ditjen POM. 1989. Materia Medika Indonesia, jilid 1-4. Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

NUR AFNI RIDWAN


MEGAWATI

O1A1 14 032