Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH AGRIBISNIS TENTANG

KOMODITAS TANAMAN JAGUNG

Di susun oleh :
ECHIKA BR TARIGAN
NPM : 144210174

FAKUTLAS PERTANIAN
JURUSAN AGRIBISNIS
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2014/2015

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu komoditi palawija yang memiliki peranan yang penting di Indonesia adalah
jagung, karena merupakan sumber protein dan kalori yang sangat dibutuhkan oleh tubuh
manusia. Nilai nutrisi jagung hampir seimbang dengan beras dan dapat menggantikan beras
sebagai bahan makanan pokok.
Hampir sebagian besar jagung yang dihasilkan digunakan untuk bahan makanan manusia,
terutama dalam bentuk tepung, digiling atau dimasak seperti beras atau dicampur dengan beras.
Persentase kegunaan jagung di Indonesia adalah 71,7 persen untuk bahan makanan manusia,
15,5 persen untuk makanan ternak, 0,8 persen untuk industri, 0,1 persen untuk diekspor dan 11,9
persen untuk kegunaan lain (Sudjana dkk.,1991).
Produksi jagung di Indonesia masih relatif rendah dan masih belum dapat memenuhi
kebutuhan konsumen yang cenderung terus meningkat. Menurut Subandi dkk. (1998), produksi
jagung nasional belum mampu mengimbangi permintaan yang sebagian dipacu oleh
pengembangan industri pakan dan pangan. Masih rendahnya produksi jagung ini disebabkan oleh
berbagai faktor antara lain, seperti teknologi bercocok tanam yang masih kurang baik, kesiapan
dan ketrampilan petani jagung yang masih kurang, penyediaan sarana produksi yang masih
belum tepat serta kurangnya permodalan petani jagung untuk melaksanakan proses produksi
sampai ke pemasaran hasil.
Umumnya agribisnis jagung dilakukan berskala kecil, karena masih banyaknya
permasalahan yang dihadapi oleh petani jagung. Permasalahan klasik yang sering dihadapi oleh
petani jagung adalah terbatasnya permodalan, manajemen usaha dan pemasaran hasil sehingga
tidak dapat melakukan usaha dengan volume usaha yang luas dan lebih intensif serta pemasaran
hasil dengan baik. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan
petani jagung diantaranya adalah dengan system kemitraan usaha dalam agribisnis jagung.

BAB II
PEMBAHASAN
1. KOMODITI JAGUNG
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam
80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua
untuk tahap pertumbuhan generatif. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman
jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi
6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga
jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya
jagung tidak memiliki kemampuan ini. Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada
pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji.
Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada
jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak
banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan
pangan. Jagung manis tidak mampu memproduksi pati sehingga bijinya terasa lebih manis ketika
masih muda.
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang
terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan
Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa
daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai
pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak
(hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal
dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung
tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan
furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan
farmasi. Jagung termasuk komoditas strategis dalam pembangunan pertanian dan
perekonomian Indonesia, mengingat komoditas ini mempunyai fungsi multiguna, baik untuk
pangan maupun pakan. Penggunaan jagung untuk pakan telah mencapai 50% daritotal
kebutuhan. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2000-2004), kebutuhan jagung untuk bahan
baku industri pakan, makanan, dan minuman meningkat 10-15%/tahun. Dengan demikian,
produksi jagung mempengaruhi kinerja industri peternakan yang merupakan sumber utama
protein masyarakat.
2. PROSPEK AGRIBISNIS JAGUNG
Jagung memiliki potensi yang cukup besar untuk diusahakan secara agribisnis, hal ini
karena tanaman ini memiliki prospek yang cerah untuk diusahakan baik dari aspek budidaya
maupun dari aspek peluang pasar.
Dari aspek budidaya tanaman jagung tidak sulit untuk dibudidayakan. Tanaman
jagung dapat tumbuh hampir di semua jenis tanah. Yang terpenting dan sangat berhubungan erat
dengan hasil jagung adalah tersedianya unsur hara NPK pada tanah tersebut. Untuk pertumbuhan
yang lebih baik lagi, tanaman jagung memerlukan tanah yang subur, gembur dan kaya humus
(Sudjana dkk., 1991). Demikian juga benih jagung telah banyak varietas-varietas unggul yang
dilepas. Menurut Rahmanto (1997), perkembangan daya hasil dari varietas-varietas unggul yang
diadopsi petani telah terbukti memberikan sumbangan yang tidak kecil terhadap peningkatan

produksi dan produktivitas jagung nasional.


Dari aspek peluang pasar tanaman jagung mempunyai prospek yang cerah untuk
diusahakan, karena permintaan konsumen dalam negeri dan peluang ekspor yang terus
meningkat. Rukmana (1997) mengemukakan bahwa prospek usahatani tanaman jagung cukup
cerah bila dikelola secara intensif dan komersial berpola agribisnis. Permintaan pasar dalam
negeri dan peluang ekspor komoditas jagung cenderung meningkat dari tahun ke tahun, baik
untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun non pangan. Disamping itu juga prospek pasar
produksi jagung semakin baik, karena didukung oleh adanya kesadaran gizi dan diversifikasi
bahan makanan pada masyarakat. Demikian juga untuk keperluan bahan baku industri rumah
tangga seperti emping jagung, wingko jagung dan produk jagung olahan lainnya dan untuk
keperluan bahan baku pakan ternak, serta untuk ekspor memerlukan produk jagung dalam
jumlah yang besar. Keadaan ini merupakan peluang pasar yang potensial bagi petani dalam
mengusahakan tanaman jagung. Dengan demikian peningkatan produksi jagung baik kualitas
maupun kuantitas sangat penting.
3. SUBSISTEM AGRIBISNIS JAGUNG
Secara konsepsional sistem agribisnis jagung merupakan keseluruhan aktivitas yang
saling berkaitan mulai dari pembuatan dan pengadaan sarana produksi pertanian hingga
pemasaran hasil jagung, baik hasil usahatani maupun hasil olahannya. Menurut Said dan Intan
(2001) sistem agribisnis terdiri dari subsistem pengadaan dan penyaluran sarana produksi,
subsistem produksi primer, subsistem pengolahan, subsistem pemasaran dan lembaga penunjang.
Pada umumnya sistem agribisnis jagung yang dilakukan oleh petani antara lain meliputi :
A. Subsistem pembuatan, pengadaan dan penyaluran sarana produksi pertanian. Sarana produksi
pertanian ini diperoleh petani dengan sistem pembelian atau dengan bantuan dalam bentuk
kemitraan.
B. Subsistem produksi dalam usahatani, kegiatan pada subsistem ini meliputi pemilihan benih
jagung, penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman dan panen. Dari aspek budidaya,
tanaman jagung tidak sulit untuk dibudidayakan.
Tanaman jagung dapat tumbuh hampir di semua jenis tanah, yang terpenting dan sangat berhubungan erat dengan hasil jagung adalah tersedianya unsur hara NPK padatanah tersebut. Untuk
pertumbuhan yang lebih baik lagi, tanaman jagungmemerlukan tanah yang subur, gembur dan
kaya humus (Sudjana dkk., 1991).Demikian juga benih jagung telah banyak varietas-varietas
unggul yang dilepas.Menurut Rahmanto (1997), perkembangan daya hasil dari varietas-varietas
unggulyang diadopsi petani telah terbukti memberikan sumbangan yang tidak kecilterhadap
peningkatan produksi dan produktivitas jagung nasional.Benih bermutu varietas unggul
merupakan salah satu faktor yangmenentukan produktivitas jagung. Produktivitas jagung yang
masih rendah (3,34ton/ha) walaupun cenderung meningkat 3,34%/tahun, menggambarkan
bahwa penggunaan benih jagung berkualitas di tingkat petani belum berkembang
sepertidiharapkan, di samping cara pemeliharaan yang juga belum intensif. Disampingitu petani
tidak mendapat masalah yang serius berhubungan dengan lahan untukkomoditas jagung karena
di Indonesia sendiri, jagung dibudidayakan padalingkungan yang beragam dan tersedia cukup
luas. Hasil studi 18 tahun yang lalumenunjukkan bahwa sekitar 79% areal pertanaman jagung
terdapat pada lahankering, 11% pada lahan sawah irigasi, dan sisanya (10%) pada lahan sawah
tadah hujan (Mink et al. 1987). Diperkirakan saat ini areal pertanaman jagung padalahan sawah
irigasi dan lahan sawah tadah hujan meningkat masing-masingmenjadi 10-15% dan 20-30%,
terutama pada daerah produksi jagung komersial(Kasryno 2002).

C. Subsistem pengolahan hasil panen. Penanganan lepas panen jagung pada tingkat petani pada
umumnya baru sampai pada pengeringan jagung tongkol dan pengupasan kulit jagung (klobot),
hal ini karena petani belum memiliki alat teknologi dan biaya yang cukup untuk melakukan
pengolahan lanjutan. Untuk tingkat pengolahan lanjutan seperti pemipilan dan pengolahan
dilakukan pada tingkat pedagang atau perusahaan, sehingga nilai tambah yang besar biasanya
berada pada tingkat ini.
D. Subsistem pemasaran hasil. Pola pemasaran jagung melalui jalur pemasaran yang beragam,
diantaranya bagi petani yang tidak melakukan kemitraan usaha dengan perusahaan mitra
biasanya pemasaran jagung dilakukan melalui pedagang pengumpul baik yang memfungsikan
kelompok tani atau koperasi maupun yang tidak, ada pula yang langsung menjual produknya ke
pabrik pengolahan atau langsung ke konsumen jika produk tersebut untuk langsung dikonsumsi.
Bagi petani yang telah melakukan kemitraan usaha dengan perusahaan mitra pemasaran produk
jagung dilakukan melalui kelompok tani atau koperasi, perusahaan mitra, pabrik pengolahan dan
konsumen.
E. Kelembagaan pendukung agribisnis jagung pada umumnya adalah lembaga di tingkat petani
dan lembaga di luar petani. Lembaga ditingkat petani terdiri dari kelompok tani dan koperasi,
Lembaga di luar petani seperti pemerintah, lembaga keuangan, perusahaan dan lain-lain.
4. PENANGAN DAN PENGOLAHAN PRODUK
Penanganan atau pengolahan jagung secara garis besar, dapat dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu menjadi bahan pangan, bahan pakan ternak,dan bahan baku industri.
Bahan pangan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, jagung sudah menjadi
konsumsi seharihari. Biasanya jagung dibuat dalam bentuk makanan
seperti jagung, bubur jagung, jagung campuran beras, dan banyak lagi makanan tradisional yang
berasal dari jagung.
Bahan Pakan Ternak Bagi sebagian besar peternak di Indonesia, jagung merupakan salah
satu bahan campuran pakan ternak. Bahkan di beberapa pedesaan jagung digunakan sebagai
bahan pakan utama. Biasanya, jagung dicampur bersama bahan pakan lain seperti dedak, hijauan,
dan tepung ikan. Pakan berbahan jagung umumnyadiberikan pada ternak ayam, itik, dan puyuh.
Bahan Baku Industri di pasaran, banyak beredar produk olahan jagung. Produk olahan
jagung tersebut umumnya berasal dari industri skala rumah tangga hingga industri besar.Secara
garis besar, beberapa industri yang mengolah jagung menjadi produksebagai berikut :
a. Industri giling kering, yaitu menghasilkan tepung jagung
b. Industri giling basah, yaitu menghasilkan pati, sirup, gula jagung,minyak, dan dextrinc.
Industri destilasi dan fermentasi, yaitu industri yang menghasilkan etilalkohol, aseton,
asam laktat, asam sitrat, gliserol, dan lain-lain.Produksi jagung di Indonesia masih belum
diimbangi kemampuan pascapanen petani jagung yang baik. Petani kurang mendapatkan
informasi tentang kegiatan panen dan pascapanen yang dapat mengurangi biaya dan
menekan susut mutu jagung. Karena itu, petani di beberapa
wilayah pengembangan jagung masih belum merasakan nilai tambah dengan
meningkatnya kualitas produk biji jagung. Penanganan lepas panen jagung pada tingkat
petani pada umumnya baru sampai pada pengeringan jagung tongkol
dan pengupasan kulit jagung (klobot), hal ini karena petani belum memiliki alatteknologi
dan biaya yang cukup untuk melakukan pengolahan lanjutan. Untuk tingkat pengolahan

lanjutan seperti pemipilan dan pengolahan dilakukan padatingkat pedagang atau


perusahaan, sehingga nilai tambah yang besar biasanya berada pada tingkat ini.
5. PEMSARAN PRODUK
Dari aspek peluang pasar tanaman jagung mempunyai prospek yang cerahuntuk diusahakan,
karena permintaan konsumen dalam negeri dan peluang ekspor yang terus meningkat. Rukmana
(1997) mengemukakan bahwa prospek usahatani tanaman jagung cukup cerah bila dikelola
secara intensif dan komersial berpola agribisnis. Permintaan pasar dalam negeri dan peluang
ekspor komoditas jagung cenderung meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk memenuhi
kebutuhan pangan maupun non pangan. Disamping itu juga prospek pasar produksi jagung
semakin baik, karena didukung oleh adanya kesadaran gizi dan
diversifikasi bahan makanan pada masyarakat.
Demikian juga untuk keperluan bahan baku industri rumah tangga seperti emping jagung,
wingko jagung dan produk jagung olahan lainnya dan untuk keperluan bahan baku pakan ternak,
serta untuk ekspor memerlukan produk jagung dalam jumlah yang besar. Keadaan ini
merupakan peluang pasar yang potensial bagi petani dalam mengusahakan tanaman jagung.
Dengan demikian peningkatan produksi jagung baik kualitas maupun kuantitassangat
penting.Pola pemasaran jagung melalui jalur pemasaran yang beragam,diantaranya bagi petani
yang tidak melakukan kemitraan usaha dengan perusahaanmitra biasanya pemasaran jagung
dilakukan melalui pedagang pengumpul baikyang memfungsikan kelompok tani atau koperasi
maupun yang tidak, ada pulayang langsung menjual produknya ke pabrik pengolahan atau
langsung kekonsumen jika produk tersebut untuk langsung dikonsumsi. Bagi petani yangtelah
melakukan kemitraan usaha dengan perusahaan mitra pemasaran
produk jagung dilakukan melalui kelompok tani atau koperasi, perusahaan mitra, pabrik pengola
han dan konsumen.
Masalah yang dihadapi petani dalam pemasaran produksi adalah belumdapat menjual
langsung kepada pedagang besar (eksportir), PUSKUD,
atau pedagang lainnya di kota provinsi. Petani umumnya menjual hasil jagung hanyake pedagang
pengumpul atau ke pasar (pedagang penyalur kota atau pengecer
di pasar umum). Dengan demikian, harga yang diterima petani relatif rendah danfluktuatif.
Keadaan ini kurang menguntungkan bagi petani, sebab tidak adanya jaminan harga yang
layak.Akhir musim kemarau merupakan waktu terbaik bagi petani untuk menjual hasil
jagungnya, karena harga mencapai tingkat tertinggi. Namun demikian, tidak semua petani dapat
memanfaatkan peluang tersebut karenaterdesak oleh kebutuhan keluarga dan keterbatasan
fasilitas penyimpanan hasil.Untuk itu, kelebihan produksi pada waktu tertentu perlu diantisipasi
melalui usaha penampungan hasil oleh pihak penyangga seperti PUSKUD dan KUD di masingmasing wilayah untuk memenuhi kebutuhan pada periode berikutnya. Hal
ini berperan penting dalam stabilisasi persediaan jagung yang pada akhirnya akan menetralkan
harga.

6. KEMITRAAN USAHA PADA AGRIBISNIS JAGUNG


1. Landasan Perlunya Kemitraan Usaha pada Agribisnis Jagung
Pengembangan agribisnis jagung membutuhkan dukungan permodalan dan komitmen
yang kuat, sementara itu kemampuan permodalan dan manajemen petani jagung untuk
melakukan kegiatan usaha agribisnis jagung masih sangat terbatas, demikian juga dukungan
pemerintah semakin berkurang dengan dikuranginya subsidi terhadap sarana produksi pertanian.
Hal ini membutuhkan alternatif usaha untuk meningkatkan kemampuan petani dalam
melaksanakan agribisnis jagung agar tidak tergantung terhadap bantuan pemerintah yang telah
semakin berkurang itu. Salah satu alternatif usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
kemampuan petani dalam melakukan agribisnis jagung adalah dengan melakukan kemitraan
usaha dengan berbagai perusahaan, baik perusahaan swasta, maupun perusahaan milik
pemerintah (BUMN/BUMD). Kemitraan usaha ini dimaksudkan untuk mengatasi berbagai
permasalahan yang dihadapi petani jagung seperti pemodalan, manajemen dan pemasaran hasil,
sehingga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani disamping itu juga
dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan mitra.
Pada dasarnya kemitraan usaha dalam bidang pertanian telah dilakukan petani
Indonesia sejak lama yang masih bersifat tradisional dan non formal, terutama di daerah-daerah
perkebunan. Petani penggarap maupun pemilik di daerah perkebunan rakyat umumnya telah
melakukan kemitraan dengan pedagang, system yang dilakukan biasanya dengan system kontrak.
System kemitraan ini terus berkembang sesuai dengan tuntutan kebutuhan tidak hanya pada
tanaman perkebunan, tetapi juga pada tanaman semusim.
Kemitraan usaha ini baru diformalkan sejak dikeluarkan Undang-Undang
Republik Indonesia nomor 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil pada tanggal 26 Desember 1995,
kemudian disosialisasikan sejak tanggal 15 Mei 1996, pada saat itu pemerintah mencanangkan
Gerakan Kemitraan Nasional (GKN). Pencanangan tersebut menggambarkan adanya perhatian
dari pemerintah terhadap pengusaha kecil, jangan sampai usahanya terdesak oleh pengusaha
yang lebih besar, sehingga lambat laun pengusaha kecil usahanya menjadi terhenti. Hal tersebut
merupakan himbauan bagi pengusaha yang lebih besar untuk turut serta membantu
mengembangkan perusahaan kecil, sehingga mereka bisa bertahan dan meningkatkan usahanya
(Satiakusumah, 2002).
Berdasarkan pasal 1 ayat 8 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 9 tahun 1995
tentang Usaha Kecil, yang dimaksud dengan kemitraan adalah kerjasama usaha antara usaha
kecil dengan usaha menengah atau dengan usaha besar disertai pembinaan dan pengembangan
oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling
memperkuat dan saling menguntungkan.
Dalam bidang pertanian berdasarkan pasal 1 keputusan menteri pertanian Republik
Indonesia nomor : 940/Kpts/OT.210/10/97 tentang Pedoman Kemitraan Usaha Pertanian, yang
dimaksud dengan kemitraan usaha pertanian adalah kerjasama antara perusahaan mitra dengan
kelompok mitra dibidang usaha pertanian. Sedangkan pada pasal 2 keputusan ini menyatakan
bahwa tujuan kemitraan usaha pertanian ini adalah untuk meningkatkan pendapatan,
kesinambungan, meningkatkan kualitas kelompok mitra, peningkatan usaha, dalam rangka
menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha kelompok mitra yang mandiri. Pasal 3 pada
keputusan ini menyatakan bahwa kemitraan usaha pertanian berdasarkan asas persamaan
kedudukan, keselarasan dan peningkatan keterampilan kelompok mitra oleh perusahaan mitra
melalui perwujudan sinergi kemitraan.

2. Beberapa Manfaat Kemitraan Usaha pada Agribisnis Jagung


Beberapa manfaat yang dapat diambil oleh petani jagung pada kemitraan usaha pertanian
dengan perusahaan mitra dengan pola inti plasma antara lain adalah tersedianya fasilitas modal
usaha yang murah (tanpa diperhitungkan bunga) yang selama ini tidak mudah diperoleh,
terjaminya pemasaran hasil baik dari volume maupun harga yang memadai, pendapatan petani
meningkat. Pada kemitraan pola inti plasma antara PT. BISI dengan kelompok tani pada tahun
1997 pendapatan petani dapat meningkat antara 14,9 persen hingga 72,9 persen, sedangkan
manfaat lainnya adalah semakin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dan
kelompok tani dalam penerapan teknologi dan kelembagaan karena mendapat bimbingan dan
pembinaan yang lebih intensif dari perusahaan inti. Bagi perusahaan mitra, kemitraan usaha
memberikan manfaat berupa terjaminnya pasokan bahan baku jagung untuk industri pakan
ternak pada tingkat harga yang wajar dalam arti masih memberikan keuntungan dan mendorong
kegairahan usaha berkelanjutan bagi petani dan pihak perusahaan masih mampu melakukan
efisiensi dalam proses industri pakan ternak, sehingga pada gilirannya harga pakan yang dijual
tidak memberatkan bagi peternak (Hafsah, 1999). Menurut Hasanawi Mt. (2003), pendapatan
petani jagung di Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung Propinsi Jawa Barat yang
melakukan kemitraan usaha pertanian dengan PT. Dharma Niaga meningkat rata-rata sebesar
35,71 persen dibandingkan dengan sebelum melakukan kemitraan usaha pertanian tersebut, pola
kemitraan usaha pertanian yang dilakukan adalah pola Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA)
yang disertai dengan pembinaan. Peningkatan ini antara lain dikarenakan produktivitas lahan
petani meningkat karena penggunaan input produksi yang lebih baik.
3. Kendala dan Alternatif Model Kemitraan pada Agribisnis Jagung
Kendala yang sering terjadi dalam pelaksanaan kemitraan usaha dalam bidang
pertanian khususnya dalam agribisnis jagung yang dapat menimbulkan kerugian pada pihak
petani adalah masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dan masih rendahnya tingkat
pendapatan petani jagung, serta kurangnya komitmen dalam pelaksanaan mekanisme kemitraan
usaha tersebut baik oleh petani maupun oleh perusahaan mitra.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah
dalam pelaksanaan kemitraan usaha diperlukan peningkatan dalam pembinaan dan kontrol.
Fungsi pembinaan dan kotrol ini dapat dilakukan oleh pihak pemerintah maupun perusahaan
mitra atau lembaga lain yang terlibat dalam kemitraan usaha tersebut.
Dalam kemitraan usaha pada bidang pertanian telah banyak
diterapkan berbagai model hubungan kemitraan, dari yang tradisional hingga modern dengan
kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Model kemitraan usaha alternatif yang dapat
diterapkan dalam agribisnis jagung dalam upaya untuk meningkatkan pendapatan petani jagung
dan juga meningkatkan keuntungan bagi perusahaan mitra adalah sebagai berikut:
(1) Model kemitraan usaha dengan melibatkan satu perusahaan mitra. Pada model ini biasanya
perusahaan mitra bertindak sebagai off farm business (sector hulu) dan sekaligus juga sebagai
out farm business (sector hilir), sedangkan kelompok mitra sebagi on farm business (sector
produksi/usahatani).
(2) Model kemitraan usaha dengan melibatkan lebih dari satu perusahaan mitra. Pada model ini
biasanya ada perusahaan mitra yang bertindak sebagai off farm business (sector hulu) dan yang
lainnya bertindak sebagai out farm business (sector hilir), sedangkan kelompok mitra sebagi on
farm business (sector produksi/usahatani).

7. IMPLIKASI KEBIJAKAN
Implikasi kebijakan pengembangan jagung untuk meningkatkan
produksi jagung dalam negeri meliputi:
1. Diperlukan percepatan dan akselerasi alih teknologi melalui
revitalisasi kelembagaan penyuluhan dan petani sehingga
peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani maupun
penyuluh dapat terus ditingkatkan.
2. Delineasi wilayah pengembangan sangat diperlukan untuk memperoleh luas lahan yang secara
operasional dapat dikembangkan untuk pertanaman jagung. Upaya ini diperlukan
untuk meningkatkan keunggulan kompetitif di tingkat on-farm maupun keunggulan komparatif
di tingkat global.
3. Delineasi wilayah pengembangan atas dasar varietas unggul baru juga sangat penting.Jagung
hibrida sebaiknya diarahkan ke lahan sawah irigasi untuk meningkatkan produktivitas. Jagung
komposit diarahkan ke lahan suboptimal untuk menekan senjang hasil antara penelitian dan
tingkat on-farm dengan dukungan PTT spesifik lokasi.
4. Dukungan kebijakan yang diperlukan dalam pengembangan jagung untuk mencapai sasaran
jangka menengah maupun jangka panjang adalah: ( ) dari aspek sistem produksi, yaitu,
penerapan inovasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi guna menghasilkan produk dengan
kualitas yang lebih baik (less cost better quality), 2) dari aspek promosi dan diseminasi, yaitu,
memenuhi kualitas yang diminta pasar, waktu yang tepat, jumlah produk yang tersedia secara
kontinu (timing know how), 3) aspek distribusi dan pemasaran, yaitu, pengembangan jaringan
pasar antarrantai pemasaran (networking), dan 4) prioritasi program dan kegiatan disesuaikan
dengan ketersediaan sumber daya (deep pocket policy)

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Jagung memiliki potensi yang cukup besar untuk diusahakan secara agribisnis, hal ini
karena tanaman ini memiliki prospek yang cerah untuk diusahakan baik dari aspek
budidaya maupun dari aspek peluang pasar.
2. Salah satu alternatif usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan
petani dalam melakukan agribisnis jagung adalah dengan melakukan kemitraan usaha
dengan berbagai perusahaan, baik perusahaan swasta, maupun perusahaan milik
pemerintah (BUMN/BUMD).
3. Jagung adalahsalah satu bahan pangan yang mendukung kemajuan pertanian di
Indonesia.Banyak sekali petani yang tertarik menanam jagung karena sifatnya
yangmudah dikembangbiakan. Selain itu jagung memiliki potensi untuk
dijadikan produk sekunder yang memiliki nilai jual tinggi. Namun karena kurangnya pen
getahun tentang usaha agribisnis dan faktor lainnya, masih banyak petanirakyat yang rugi
karena tidak adanya jaminan harga yang layak.
4. . Beberapa manfaat yang dapat diambil oleh petani jagung pada kemitraan usaha
pertanian dengan perusahaan mitra antara lain adalah tersedianya fasilitas modal usaha
yang murah (tanpa diperhitungkan bunga), terjaminya pemasaran hasil baik dari volume
maupun harga yang memadai, pendapatan petani meningkat, semakin meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan petani dan kelompok tani dalam penerapan teknologi dan
kelembagaan karena mendapat bimbingan dan pembinaan yang lebih intensif dari
perusahaan mitra. Bagi perusahaan mitra, kemitraan usaha memberikan manfaat berupa
terjaminnya pasokan bahan baku jagung untuk industri pengolahan pada tingkat harga
yang wajar dalam arti masih memberikan keuntungan dan mendorong kegairahan usaha
berkelanjutan bagi petani dan pihak perusahaan masih mampu melakukan efisiensi dalam
proses industri.
5. Kendala yang sering terjadi dalam pelaksanaan kemitraan usaha dalam bidang pertanian
khususnya dalam agribisnis jagung yang dapat menimbulkan kerugian pada pihak petani
adalah masih rendahnya kualitas sumber daya manusia dan masih rendahnya tingkat
pendapatan petani jagung, serta kurangnya komitmen dalam pelaksanaan mekanisme
kemitraan usaha tersebut, baik oleh petani maupun oleh perusahaan mitra. Upaya yang
dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dalam pelaksanaan kemitraan usaha
diperlukan peningkatan dalam pembinaan dan kontrol. Fungsi pembinaan dan kotrol ini
dapat dilakukan oleh pihak pemerintah maupun perusahaan mitra atau lembaga lain yang
terlibat dalam kemitraan usaha tersebut.
6. Dalam kemitraan usaha pada bidang pertanian telah banyak diterapkan berbagai model
hubungan kemitraan, model alternatif yang dapat dilaksanakan adalah model kemitraan
usaha dengan melibatkan hanya satu perusahaan mitra dan model kemitraan yang
melibatkan lebih dari satu perusahaan mitra.

Saran
Untuk pemerintah untuk lebih memperhatikankesejahteraan petani rakyat. Seperti
memberi bantuan subsidi benih, pupuk,alat atau teknologi pertanian, penyuluhan tentang usaha
agribisnis, penyuluhantentang proses pengolahan produk sekunder sehingga menghasilkan nilai

jualyang tinggi, atau program kerja lain yang mampu memberikan kesejahteraankepada petani
rakyat sehingga pertanian Indonesia menjadi maju dan berkembang.Kita sebagai generasi muda
harus memberi dukungan kepada petanirakyat dengan membeli produk-produk pertanian dalam
negeri untukmewujudkan Indonesia yang mandiri Badan Litbang Pertanian. 2005. Prospek dan
Arah Pengembangan AgribisnisJagung. JakartaJames, M. G.. "Characterization of the Maize
Gene sugary1, a Determinant ofStarch Composition inKernels". The Plant Cell 7 (4): 417429.Kasryno, F. 2006. Suatu penilaian mengenai prospek masa depan jagung diIndonesia.
Makalah Disampaikan pada Seminar dan Lokakarya Nasional Jagung, 29-30 September 2005.
Balai Penelitian TanamanSerealia. Maros

DAFTAR PUSTAKA
Hafsah, M.J. 1999. Kemitraan Usaha Konsepsi dan Strategi. Pustaka Sinar Harapan.
Jakarta.
Hasanawi Mt. 2003. Peranan Kemitraan Usaha Pertanian antara Petani Jagung dengan
PT. Dharma Niaga dalam Meningkatkan Pendapatan Petani pada Agribisnis Jagung (Zea mays
Linn.). Tesis Program Magister (S2) Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Bandung.
(Unpublish).
Rahmanto, B. 1997. Perkembangan Adopsi Varietas Unggul Jagung Serta Dampaknya
Terhadap Peningkatan Produksi dan Pendapatan Petani. Prosiding Agribisnis. Dinamika
Sumberdaya dan Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Buku II. Pusat Penelitian Sosial
Ekonomi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.
Bogor.
Rukmana, R. 1997. Usahatani Jagung. Kanisius. Yogyakarta.
Satiakusumah, H.R.E.D. 2002. Koperasi Prinsip-prinsip Dasar Koperasi dan Konsep Kemitraan.
Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan. Bandung.
Said, E.G. dan A.H. Intan. 2001. Manajemen Agribisnis. Ghalia Indonesia. Jakarta.
Subandi, I.G. Ismail dan Hermanto. 1998. Jagung Teknologi Produksi dan Pasca Panen. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Bogor.
Sudjana, A., A. Rifin dan M. Sudjadi. 1991. Jagung. Buletin Teknik No. 3. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor
Badan Litbang Pertanian. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan AgribisnisJagung.
JakartaJames, M. G.. "Characterization of the Maize Gene sugary1, a Determinant ofStarch
Composition inKernels". The Plant Cell 7 (4): 417-429.Kasryno, F. 2006. Suatu penilaian
mengenai prospek masa depan jagung diIndonesia. Makalah Disampaikan pada Seminar dan
Lokakarya Nasional Jagung, 29-30