Anda di halaman 1dari 3

Arbitrase terutama arbitrase internasional terkadang mengharuskan para pihak untuk memahami

dan mempelajari terkait dengan peraturan maupun cara memilih arbiter serta banyaknya lembaga
arbitrase yang dapat dipilih untuk menyelesaikan sebuah sengketa.
Sebagai seorang lawyer, baik itu negara/pemerintah maupun pengusaha pasti akan menunjuk
saya untuk mewakili mereka dalam proses arbitrase khususnya terkait arbitrase internasional dan
tentu ada untung dan ruginya untuk saya apabila saya membela salah satu diantara mereka baik
negara ( pemerintah) maupun pengusaha.
Keuntungan saya membela negara di dalam arbitrase adalah :
1. Berlakunya asas resiprositas (timbale balik)
Di dalam Konvensi New York tahun 19581, dijelaskan bahwa di dalam pasal I ayat III setiap
negara yang meratifikasi Konvensi New York harus menjunjung tinggi asas resiprositas dimana
apabila kita sebagai negara dapat memiliki kebebasan untuk dapat menerapkan asas timbale balik
berupa berlakunya hukum nasional hanya terhadap perjanjian yang lahir dari kontrak atau bukan
selama hal tersebut bersifat komersial. Jika ternyata lawan saya adalah orang perorangan atau
negara lain dan sengketa nya bersifat bukan komersial, saya akan menggunakan asas resiprositas
saya dengan mengatakan bahwa hukum nasional saya adalah yang lebih tinggi bila dibandingkan
dengan Konvensi New York yang bersifat soft law dan penggunaan asas ini tidak harus secara
mutlak digunakan dengan timbal balik yang setara
2. Berlakunya asas ketertiban umum
Menurut pasal 66 huruf c juncto huruf a UU Arbitrase 2, putusan arbitrase internasional yang
dapat diakui di Indonesia haruslah tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan putusan ini
haruslah putusan internasional yang dimana Indonesia memiliki hubungan multilateral dan
bilateral dengan negara tersebut. Jika ternyata misalnya saya yang mewakili negara melawan
1 PBB, New York Convention 1958, Ps 1 ayat 3

2 Indonesia, Undang Undang tentang Administrasi Pemerintahan, UU No.30 tahun 1999, LN No.138, TLN.
No.3872, Ps 66 angka 3

persona/negara lain yang hanya memiliki salah satu hubungan baik secara bilateral atau
multilateral, maka saya mewakili negara dapat tidak mengakui putusan arbitrase tersebut
terutama apabila klausul arbitrase yang terdapat di dalamnya tidak sesuai dengan hukum nasional
yang negara saya anut.
Namun, kelemahan apabila saya membela negara yang sekaligus menjadi keuntungan apabila
saya membela pengusaha adalah adanya asas kebebasan berkontrak yang sesuai dengan bunyi
yang terdapat di dalam pasal 1338 KUHPer3 yang dimana perjanjian merupakan undang-m
undang bagi para pihak yang mengikatkan diri kepadanya. Disini dengan adanya asas ini maka
dalam proses arbitrase terutama yang terkait dengan hal yang bersifat komersil, pengusaha
(apbila klien saya pengusaha) dapat diuntungkan dengan adanya asas ini terutama apabila lawan
saya adalah pemerintah yang dengan semena-mena dengan asas resiprositas dan kepentingan
umum melakukan revisi terhadap perjanjian yang merugikan bisnis saya sehingga atas dasar
tersebut, saya dapat mengajukan argument terhadap hakim terkait dengan kewenangan
pemerintah (apabila pemerintah adalah lawan saya) terkait dengan penggunaan asas timbale
balik dan penafsiran terkait dengan asas yang tidak sesuai dengan ketertiban umum tersebut.
Saya apabila menjadi kuasa hukum dari pengusaha saya akan menggunakan pasal v angka 3
Konvensi New York 19584 apabila saya mengajukan sengketa arbitrase saya karena di setiap
negara selain kegiatan bisnis atau komersil atau terkait dengan hal yang sebenarnya masuk ke
dalam bidang komersil di dalam bidang perdagangan namun tidak diatur dalam negara yang
dituju untuk melaksanakan arbitrase tersebut dan saya dapat mengajukan hal tersebut atau
putusan arbitrase di negara tersebut untuk tidak usah dilaksanakan di negara saya sehingga
sebagai entitas baik pribadi kodrati maupun badan hukum sehingga karena apabila saya
mengalami kekalahan maka saya dapat mengajukan banding dengan mudahnya ke lembaga
arbitrase lain dan dengan mudah menggunakan argument yang lain untuk meminta ganti rugi
kepada pihak lawan khususnya kepada pihak negara.
Namun, asas yang tidak sesuai dengan ketertiban umum dan hukum nasional di negara tersebut
terkait dengan klausul arbitrase dapat menjadi pengganjal bagi klien saya dan saya karena
3 Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pasal 1338
4 PBB, op.cit, Ps 5 ayat 3

dengan argument itu, negara akan lebih mudah dimenangkan oleh arbiter berdasarkan asas
timbale balik yang digunakan menurut pasal 1Konvensi New York.