Anda di halaman 1dari 18

Perkembangan Tata Kelola dan Tantangan serta Strategi Eksplorasi Migas

di Indonesia
Tata kelola MIGAS akan berubah besar dalam beberapa waktu dekat ini pasca
pembubaran BPMIGAS. Dibawah ini sebgian dari tulisan yang pernah saya bawakan
dalam acara Lokakarya Jurnalistik tentang Migas untuk Wartawan di Jawa Timur 3
Desember 2011

Sejarah Eksplorasi Migas di Indonesia Perminyakan Sebelum Kemerdekaan.


Uraian dibawah ini dikumpulkan dari berbagai sumber terutama di internet yang sumber
asalnya tidak diketahui serta beberapa buku bacaan dan diskusi di mailist IAGI-net. Untuk
perkembangan yuridis telah disusun oleh BPK terlampir sebagai addendum tulisan ini.
Mendongeng Sejarah ya Pak Dhe ?

Pemanfaatan dan penggunaan minyak bumi dimulai oleh bangsa Indonesia sejak abad
pertengahan. Menurut sejarah, orang Aceh menggunakan minyak bumi untuk menyalakan bola
api saat memerangi armada Portugis.
Selama ini yang lebih dikenal sebagai awal eksplorasi atau pencarian migas dilakukan adalah
pengeboran sumur Telaga tunggal oleh Zijker, namun penelitian yang dilakukan oleh salah satu
anggota IAGI (Awang HS) menemukan bahwa usaha pengeboran pertama kali sebenarnya sudah
dilakukan oleh Jan Reerink, tahun 1857.

Gambar.1 Usaha eksplorasi minyak di Indonesia dimulai menjelang abad ke20 di Jawa dan di
Sumatera Utara. Disusul kemudian di Papua.
Jan Reerink adalah seorang anak laki-laki saudagar penggilingan beras pada zaman Belanda di
Indonesia pada paruh kedua abad ke-19. Reerink ditugaskan ayahnya menjaga sebuah toko
kelontong di Cirebon. Tetapi, Reerink selalu melamunkan penemuan minyak seperti yang
dilakukan Kolonel Drake di Pennsylvania pada tahun 1857. Akhirnya, sebuah berita ia terima
bahwa ada rembesan minyak keluar dari lereng barat Gunung Ciremai di kawasan Desa Cibodas,
Majalengka. Reerink berketetapan hati akan membor rembesan minyak itu.
Awal sejarah perkembangan eksplorasi dan eksploitas migas secara modern di Indonesia ditandai
saat dilakukan pengeboran pertama pada tahun 1871 ini, yaitu sumur Madja-1 di desa Maja,
Majalengka, Jawa Barat, oleh pengusaha belanda bernama Jan Reerink diatas. Akan tetapi
hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan dan akhirnya sumur pengeborannya ditutup.
Akan halnya Telaga Tunggal, tokoh yang terkenal adalah Jan Zijlker (nama Jan adalah nama
pasaran orang Belanda). Tahun 1880, ia ditugaskan atasannya mengunjungi sebuah
perkebunan tembakau di Sumatra Utara. Jan Zijlker adalah manager of the East Sumatra Tobacco
Company. Di sana, ia melihat penduduk setempat (Langkat) menggunakan obor dengan suatu zat
untuk membuatnya tahan lama menyala. Zijlker mengenal zat itu sebagai minyak tanah

Penemuan sumber minyak dengan pengeboran moderen yang pertama di Indonesia ini yang
akhirnya lebih dikenal sebagai awal eksplorasi yang terjadi pada tahun 1883 yaitu
diketemukannya lapangan minyak Telaga Tiga dan Telaga Said di dekat Pangkalan Brandan oleh
seorang Belanda bernama A.G. Zeijlker.

Gambar 2. Sejarah perkembangan yuridis (aturan) tentang pengelolaan migas di Indonesia


sejak awal 1900 hingga 2011.
Penemuan-penemuan selanjutnya juga dilakukan dengan pengeboran sumur ini kemudian disusul
oleh penemuan lain yaitu di Pangkalan Brandan dan Telaga Tunggal. Penemuan lapangan Telaga
Said oleh Zeijlker menjadi modal pertama suatu perusahaan minyak yang kini dikenal sebagai
Shell. Pada waktu yang bersamaan, juga ditemukan lapangan minyak Ledok di Cepu, Jawa
Tengah, Minyak Hitam di dekat Muara Enim, Sumatera Selatan, dan Riam Kiwa di daerah
Sanga-Sanga, Kalimantan.
Menjelang akhir abad ke 19 terdapat 18 prusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Pada
tahun 1902 didirikan perusahaan yang bernama Koninklijke Petroleum Maatschappij yang
kemudian dengan Shell Transport Trading Company melebur menjadi satu bernama The Asiatic
Petroleum Company atau Shell Petroleum Company. Pada tahun 1907 berdirilah Shell Group
yang terdiri atas B.P.M., yaitu Bataafsche Petroleum Maatschappij dan Anglo Saxon. Pada waktu
itu di Jawa timur juga terdapat suatu perusahaan yaitu Dordtsche Petroleum Maatschappij namun
kemudian diambil alih oleh B.P.M.
Awal masuknya Amerika dalam industri Migas di Indonesia.

Pada tahun 1912, perusahaan minyak Amerika mulai masuk ke Indonesia. Pertama kali dibentuk
perusahaan N.V. Standard Vacuum Petroleum Maatschappij atau disingkat SVPM. Perusahaan
ini mempunyai cabang di Sumatera Selatan dengan nama N.V.N.K.P.M (Nederlandsche
Koloniale Petroleum Maatschappij) yang sesudah perang kemerdekaan berubah menjadi P.T.
Stanvac Indonesia. Perusahaan ini menemukan lapangan Pendopo pada tahun 1921 yang
merupakan lapangan terbesar di Indonesia pada jaman itu.

Gambar 3. Masuknya investor ke Indonesia dimulai sejak terbentuknya perushaan migas


Belanda yang disusul oleh perusahan berasal dari Amerika sekitar 1920-1940.
Untuk menandingi perusahaan Amerika, pemerintah Belanda mendirikan perusahaan gabungan
antara pemerintah dengan B.P.M. yaitu Nederlandsch Indische Aardolie Maatschappij. Dalam
perkembangan berikutnya setelah perang dunia ke-2, perusahaan ini berubah menjadi P.T.
Permindo dan pada tahun 1968 menjadi P.T. Pertamina.
Pada awalnya Pemerintah Hindia Belanda memberlakukan pembedaan antara Shell dengan
perusahaan lain. Pada tahun 1920 masuk dua perusahaan Amerika baru yaitu Standard Oil of
California dan Texaco. Pada tahun 1920 ini di Amerika diundangkan General Lisencing Act
yang mengusulkan untuk non discriminasi.
Kemudian, pada tahun 1930 dua perusahaan ini membentuk N.V.N.P.P.M (Nederlandsche Pasific
Petroleum Mij) dan menjelma menjadi P.T. Caltex Pasific Indonesia, sekarang P.T. Chevron

Pasific Indonesia. Perusahaan ini mengadakan eksplorasi besar-besaran di Sumatera bagian


tengah dan pada tahun 1940 menemukan lapangan Sebangga disusul pada tahun berikutnya 1941
menemukan lapangan Duri. Di daerah konsesi perusahaan ini, pada tahun 1944 tentara Jepang
menemukan lapangan raksasa Minas yang kemudian dibor kembali oleh Caltex pada tahun 1950.
Pada tahun 1935 untuk mengeksplorasi minyak bumi di daerah Irian Jaya dibentuk perusahaan
gabungan antara B.P.M., N.P.P.M., dan N.K.P.M. yang bernama N.N.G.P.M. (Nederlandsche
Nieuw Guinea Petroleum Mij) dengan hak eksplorasi selama 25 tahun. Hasilnya pada tahun 1938
berhasil ditemukan lapangan minyak Klamono dan disusul dengan lapangan Wasian, Mogoi, dan
Sele. Namun, karena hasilnya dianggap tidak berarti akhirnya diseraterimakan kepada
perusahaan SPCO dan kemudian diambil alih oleh Pertamina tahun 1965.

Gambar 4. Pasca PD II dan kemerdekaan, mulai munculnya perusahaan lokal dan dibentuknya
PERMINA sebagai perusahaan nasional yang pertama. Merupakan cikal bakal PERTAMINA.
Setelah perang kemerdekaan di era revolusi fisik tahun 1945-1950 terjadi
pengambilalihan semua instalasi minyak oleh pemerintah Republik Indonesia. Pada
tahun 1945 didirikan P.T. Minyak Nasional Rakyat yang pada tahun 1954 menjadi
perusahaan Tambang Minyak Sumatera Utara (PT MTMSU). Perusahaan ini bersifat
lokal. Operasinya belum secara nasional. Pada tahun 1957 didirikan P.T. Permina
oleh Kolonel Ibnu Sutowo yang kemudian menjadi P.N. Permina pada tahun 1960.
Pada tahun 1959, N.I.A.M. menjelma menjadi P.T. Permindo yang kemudian pada
tahun 1961 berubah lagi menjadi P.N. Pertamin. Pada waktu itu juga telah berdiri di
Jawa Tengah dan Jawa Timur P.T.M.R.I (Perusahaan Tambang Minyak Republik

Indonesia) yang menjadi P.N. Permigan dan setelah tahun1965 diambil alih oleh P.N.
Permina.
Pada tahun 1961 sistem konsesi perusahaan asing dihapuskan diganti dengan
sistem kontrak karya. Tahun 1964 perusahaan SPCO diserahkan kepada P.M.
Permina. Tahun 1965 menjadi momen penting karena menjadi sejarah baru dalam
perkembangan industri perminyakan Indonesia dengan dibelinya seluruh kekayaan
B.P.M. Shell Indonesia oleh P.N. Permina. Pada tahun itu diterapkan kontrak bagi
hasil (production sharing) yang menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia
merupakan daerah konsesi P.N. Permina dan P.N. Pertamin. Perusahaan asing hanya
bisa bergerak sebagai kontraktor dengan hasil produksi minyak dibagikan bukan
lagi membayar royalty.

Gambar 5. Jeda antara saat ditemukan (discovery) hingga puncak produksi dicapai dalam 2030 tahun. Saat ini sekitar diperlukan waktu 10 hingga 15 tahun utk memproduksikan lapangan
baru.
Tahun 1960 anjungan pengeboran (Jack-up Rig) mulai beroperasi secara massal. Dan sSejak
tahun 1967 eksplorasi besar-besaran juga dilakukan di Indonesia baik di darat maupun di laut
oleh P.N. Pertamin dan P.N. Permina bersama dengan kontraktor asing. Tahun 1968 P.N.
Pertamin dan P.N. Permina digabung menjadi P.N. Pertamina dan menjadi satu-satunya
perusahaan minyak nasional. Di tahun 1969 ditemukan lapangan minyak lepas pantai yang diberi
nama lapangan Arjuna di dekat Pemanukan, Jabar. Tidak lama setelah itu ditemukan lapangan

minyak Jatibarang oleh Pertamina. Kini perusahaan minyak PERTAMINA ini tengah berbenah
diri menuju perusahaan bertaraf internasional.
Pertumbuhan dan pengembangan lapangan migas di Indonesia mencapai puncaknya ketika
produksi minyak Indonesia mencapai diatas satu setengah juta barel perhari yang dicapai pada
tahun 1977 (gambar 5).
Arun LNG sebagai awal pemicu produksi Gas di Indonesia.
Produksi gas mulai menggeliat ketika gas mulai diperdagangkan dan mulai dipergunakan sebagai
energi. Pada tahun 1972 ditemukan sumber gas alam lepas pantai di ladang North Sumatra
Offshore (NSO) yang terletak di Selat Malaka pada jarak sekitar 107,6 km dari kilang PT Arun di
Blang Lancang. Selanjutnya pada tahun 1998 dilakukan pembangunan proyek NSO A yang
diliputi unit pengolahan gas untuk fasilitas lepas pantai (offshore) dan di PT Arun. Fasilitas ini
dibangun untuk mengolah 450 MMSCFD gas alam dari lepas pantai sebagai tambahan bahan
baku gas alam dari ladang arun di Lhoksukon yang semakin berkurang.
Tanggal 16 Maret 1974, PT Arun didirikan sebagai perusahaan operator. Perusahaan ini baru
diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 19 September 1978 setelah berhasil mengekspor
kondensat pertama ke Jepang (14 Oktober 1977).
Produksi gas Indonesia terus meningkat hingga tahun 2000 ini dan masih menunjukkan produksi
yang terus meningkat setelah gas dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam
negeri dengan pemipaan (pipe gas).
Penemuan lapangan gas terbesar di Indonesia diketemukan di Laut Natuna di Lapangan DAlpha. Lapangan ini memiliki kandungan gas lebih dari 200 TCF, namun hampir 70%
merupakan CO2. Total hydrocarbon (combustible) gas sekitar 40 TCF. Karena banyaknya porsi
kandungan CO2 ini menjadikan pengembangan lapangan ini terus tertunda hingga saat ini.
Penemuan lapangan-lapangan minyak semakin sulit dan gas di Indonesia ini membuat
pengelolaan migas dengan PSC (Production Sharing Contract) ini harus selalu dikembangkan.
Sistem bagi hasil ini sebenarnya sudah dikenalkan pada tahun 1951, namun sistem PSC modern
memang dimulai pada tahun 1966 setelah 2 tahun negosiasi antara PERMINA dengan IIAPCO
untuk WK ONWJ. Disebut sebagai PSC modern karena pokok-pokok kontrak tersebut hingga
saat ini masih dipakai.
Sedangkan kalau dilihat perkembangann PSC dengan digabungkan UU-nya maka:
PSC Generasi pertama (1960 1976):

Produksi minyakd an gas bumi setiap tahun dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

o 40% pertama disebut sebagai cost oil yang dialokasikan untuk pengembalian
biaya eksplorasi dan eksploitasi. (Ceiling Cost Recovery)
o 60% sisanya disebut sebagai profit oil atau equity oilyang dibagi:

65% untuk PERMINA dan 35% untuk Kontraktor untuk produksi 75 ribu
BOPD

67.5% % Pertamina, 32 % % Kontraktor untuk produksi antara 75.000 sid


200.000 per hari:

70 % Pertamina, 30 % Kontraktor untuk produksi di atas 200.000 barrel


per hari.

Jangka Waktu eksplorasi selama 6 Tahun, dan dapat diperpanjang 2 kali (masing-masing
2 tahun)

Pajak Sebesar 56% dan tidak dibedakan antara pajak coorporate dan dividen.

Komersialitas dibatasi dengan minimum pendapatan negara adalah 49% dari pendapatan
kotor dan ditentukan oleh Pertamina dan Kontraktor.

DMO sebesar 25% dari milik kontraktor dengan pembayaran sebesar US$0.2/bbl.

PSC Generasi kedua (1976 1988):


Dalam usahanya pemerintah meningkatkan keuntungan, pemerintah berusaha untuk mengganti
model yang sebelumnya memberikan dua level bagi hasil dihapuskan dan menjadi satu bagi hasil
sebesar 85:15 (70:30 untuk gas) bagi Pertamina. Perkecualian untuk Rokan PSC di mana bagi
hasilnya 88:12 untuk Pertamina.
Penerimaan Negara dibagi dalam dua kelompok yaitu:

Penerimaan Negara berupa Pajak Perseroan dan Dividen termaksud dalam peraturan
perpajakan yang berlaku pada saat penandatanganan perjanjian

Penerimaan Negara diluar pajak-pajak tersebut dalam butir 1 di atas, termasuk bagian
produksi yang diserahkan kepada Negara sebagai pemilik kuasa atas sumber daya minyak
dan gas bumi, kewajiban kontraktor menyerahkan sebagian dari produksi yang
diterimanya untuk kebutuhan dalam negeri, bea masuk, iura pembanguna daerah (PBB),
bonus, dan lain-lain.

Pajak sebesar 56% yang terdiri dari 45% pajak Coorporate dan 11% pajak Dividen.

Limit cost recovery yang sebelumnya 40% dihapuskan, sehingga Kontraktor dapat
mendapatkan kembali maksimum 100% dari revenue untuk penggantian biaya dan
didasarkan pada Generally Accepted Acounting principle (GAAP).

Selisih antara Pendapatan Kotor per tahun dengan Cost Recovery, Kemudian dibagi
antara Pertamina dan Kontraktor masing masing sebesar 65.91% : 34.09% (minyak)
31.82% : 68.18% (gas). Bagian Kontraktor akan dikenakan pajak total sebesar 56%
(terdiri dari 45% pajak pendapatan dan 20% pajak dividen), dengan demikian pembagian
bersih setelah pajak adalah : 85% : 15% (minyak) dan 70% : 30% (gas).

Pajak turun dari 56% menjadi 48%, maka untuk mempertahankan pembagian (share)
diatas, pembagian produksi sebelum kena pajak diubah menjadi : 71.15% : 28.85%
(minyak) dan 42.31% : 57.69% (gas).

Untuk lapangan baru, Kontraktor diberikan kredit investasi sebesar 20% dari pengeluaran
kapital untuk fasilitas produksi. dan diberikan DMO Holiday selama 5 tahun.

DMO sebesar 25% dari milik kontraktor dengan pembayaran sebesar US$0.2/bbl.

Jangka Waktu Eksplorasi selama 6 Tahun, dan tidak dapat diperpanjang (dalam beberapa
kontrak dapat diperpanjang satu kali selama 2 tahun).

Komersialitas dibatasi dengan minimum pendapatan negara adalah 49% dari pendapatan
kotor dan ditentukan oleh Pertamina dan Kontraktor

PSC Generasi ketiga (1988 1993):


Pada tahun 1988 dan 1989, fiscal term yang telah direvisi tersebut diperkenalkan sebagai model
PSC baru. Perubahan penting dalam model PSC tersebut adalah diberlakukannya FTP, kenaikan
besaran DMO fee, dan perbaikan terms untuk proyek-proyek marginal, frontier, deepwater dan
reservoir pre-tersier . Pada tahun 1988 Pertamina memperkenalkan beberapa terms and
condition yang berbeda untuk kontrak area baru dan perpanjangan. Kontrak area baru dibagi
menjadi 2 kategori yaitu konvensional dan frontier. Komersialitas dibatasi dengan minimum
pendapatan negara adalah 25% dari pendapatan kotor dan ditentukan oleh Pertamina dan
Kontraktor
PSC Generasi keempat (1994 2001):

Titik acuan PP Nomor 35 Tahun 1994

Dana ASR

Besaran pajak berubah dari 48% menjadi 44% yang terdiri dari 30% dan pajak dividen
sebesar 14%.

Standar investment credit untuk keperluan cost recovery turun dari 17% menjadi 15.78%.

Skema bagi hasil sebelum pajak juga berubah menjadi 73.22%:26.78%.

DMO sebesar 25% dari milik kontraktor (15% dari harga export setelah 5 tahun pertama
produksi)

Jangka Waktu Esplorasi selama 6 tahun dan hanya dapat diperpanjang 1 kali selama 4
tahun

Komersialitas tidak diberi batasan minimum pendapatan pemerintah.

Sebelum melakukan kegiatannya Kontraktor diwajibakan melakukan environmental base


line study.

Perubahan ke satu
Pada tahun 1997, Pertamina merubah beberapa pokok terms & condition dalam rangka
meningkatkan kegiatan eksplorasi. Pokok-pokok tersebut adalah:
Sebelum generasi keempat komitmen dalam bab IV PSC berupa komitmen finansial maka dalam
PSC generasi ini komitmen berubah menjadi komitmen Finansial dan Kegiatan. Namun
pelaksanaannya masih dihitung secara finansial.
Sebelum generasi keempat komitmen dalam bab IV PSC berupa komitmen finansial tanpa ada
pembagian jenis komitmen maka dalam PSC generasi ini berubah menjadi untuk 3(tiga) tahun
atau 2 (dua) tahun pertama disebut sebagai komitmen pasti. Apabila gagal memenuhi komitmen
pasti dan kontraktor mengembalikan wilayah kerja tersebut maka kontraktor wajib membayar
kekurangan pelaksanaan komitmen pasti tersebut.
Perubahan kedua
Pada tahun 1998, besaran harga DMO berubah dari 15% menjadi 25% harga ekspor

Perubahan ketiga
Pada tahun 1999, mulai diperkenalkan istilah performance deficiency notice.

PSC Generasi kelima: 2001-2007:


Perubahan dari finansial komitmen menjadi work program Komitmen

PSC Generasi Keenam: 2008-skrg:


POD Basis, dana ASR dalam escrow account, LCCA, Subsequent Petroleum Discovery,
persyaratan perpanjangan jangka waktu eksplorasi dipertegas, penurunan pajak penghasilan
mengikuti UU No.36 Tahun 2008

Perubahan pertama-2009: untuk WK GMB diperkenalkan Handling production sebelum POD


Perubahan Pengelolaan Migas Pasca Reformasi
Setelah Reformasi politik terjadi di Indonesia tahun 1998, perubahan pengelolaan migas berubah
menjadi sangat berbeda.
Pada tanggal 23 Nopember 2001 telah diundangkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001
tentang Minyak dan Gas Bumi, dimana yang menjadi dasar pertimbangan diundangkannya
Undang-Undang tersebut adalah sudah tidak sesuainya lagi UU No. 44 Prp. Tahun 1960 dengan
perkembangan usaha pertambangan migas baik dalam taraf nasional maupun internasional. UU
22/2001 ini terutama merubah sisi downstream atau hilir menjadi terbuka utk perusahaan asing
dari luar negeri.

Perubahan yang terjadi pada UU Migas 22/2001 ini dapat disarikan terlihat dibawah ini.

Gambar 6. Perubahan perundangan dalam pengelolaan migas sejak Indische Mijnwest (IMW,
UU Prp 44/tahun 1960 dan UU 22/2011.
Yang paling utama dalam pembaharuan pengelolaan migas ini adalah pengalihan pengelolaan
migas dalam Kuasa Pertambangan dari Perusahaan Negara PERTAMINA kepada pemerintah.

Gambar 7. Pengaturan pengelolaan Migas dalam UU No 22 tahun 2001.


Salah satu hal utama sebagai konsekuensi pengesahan UU 22/2001 ini adalah perlu dibentuknya
adanya Badan Pelaksana (dibentuk BPMIGAS) dan Badan Pengatur (dibentuk BPHMIGAS)
serta perubahan bentuk PERTAMINA menjadi persero. PERTAMINA bukan lagi sebagai
perusahaan pengelola dan pemegang kuasa pertambangan. Dalam kegiatan hulu PERTAMINA
akan menjadi perusahaan yang diberlakukan seperti perusahaan-perusahaan kontraktor. Dan
akhirnya PERTAMINA juga mendandatangani KKKS dengan MIGAS pada tanggal 17
September 2005.
Dalam hal produksi nasional, BPMIGAS menjadi badan negara yang mengelola produksi atas
bagihasil di lapangan-lapangan yang dikelola oleh kontraktor (KKKS).
Tantangan : Eksplorasi sebagai satu-satunya cara meningkatkan produksi.

Gambar 8. Tantangan Eksplorasi di Indonesia terutama di Indonesia Timur dengan


kemungkinan terdapatnya gas di daerah laut dalam.
Penemuan-penemuan gas setelah tahun 1990 banyak dijumpai di Indonesia Timur. Tentusaja
daerah ini sulit untuk dikembangkan dengan cepat. Namun setelah diundangkan UU Migas
22/2001 ini penemuan migas ini menjadi sangat menurun. Hanya penemuan lapangan-lapangan
kecil yg dijumpai dan banyak yang sangat marjinal untuk dikembangkan secara ekonomis.
Perlu dana eksplorasi migas dari APBN.
Didalam pengusahaan migas untuk menjamin ketersediaan serta kesinambungan produksi maka
usaha eksplorasi-lah yang merupakan satu-satunya cara untuk mempertahankan dan
meningkatkan produksi. Permasalahan yang sering dijumpai investor dalam usaha penemuan
minyak (eksplorasi) ini terutama tumpang tindih lahan, tumpang tindih aturan ( ESDM
KEHUTANAN PERIKANAN KELAUTAN- PERHUBUNGAN), keterbatasan data, serta
sulitnya akses dan minimnya infra struktur.
Lemahnya niat pemerintah dalam usaha peningkatan produksi dengan usaha eksplorasi ini
tercermin pada minimnya dana Plow Back (yaitu dana untuk kebutuhan eksplorasi migas yang
diperoleh dari keuntungan usaha eksplorasi itu sendiri). Dari penerimaan Negara Dari Sektor
Migas Sebesar 28% hanya diberikan Plow Back Migas 0,07% Dari Penerimaan Sektor ESDM

Tahun 2011. Rata-rata perusahaan migas akan mengeluarkan 10-20% anggarannya untuk usaha
eksplorasi (pencarian lapangan baru).

Dalam dunia eksplorasi termasuk eksplorasi migas, data geologi yang menjadi bahan dasar
untuk kegiatan eksplorasi merupakan soft infrastrcuture. Pengambilan data baru oleh
pemerintah yang diambil dari dana APBN perlu ditambah untuk membantu serta mempercepat
usaha eksplorasi, dimana nantinya akan membantu menjamin ketersediaan energi migas dimasa
mendatang. Dengan cara investasi seperti inilah perusahaan dapat bertahan bahkan
meningkatkan produksinya. Semestinya negara (pemerintah) juga memberikan batuan akselerasi
waktu dalam melakukan usaha eksplorasi dengan memberikan dana belanja untuk penyediaan
dan akuisisi data baru untuk melakukan penelitian sebagai bagian dari perbaikan infrastruktur
eksplorasi.
Referensi :

- Teuku H. Moehammad Hasan (1985), Sejarah Perjuangan Perminyakan Nasional.


Penerbit : Yayasan Sari Pinang Sakti Jakarta.

- Adendum Tinjauan Historis Yuridis Pengusahaan Pertambangan Migas di


Indonesia, oleh BPK. Diambil dari :
(http://www.jdih.bpk.go.id/informasihukum/HisYuridis_usahamigas.pdf)

- Berbagai sumber lain di Internet.

Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (disingkat: BPMIGAS)
adalah lembaga yang dibentuk Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 16 Juli 2002 sebagai
pembina dan pengawas Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di dalam menjalankan kegiatan
eksplorasi, eksploitasi dan pemasaran migas Indonesia. Dengan didirikannya lembaga ini melalui
UU No 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi serta PP No 42/2002 tentang BPMIGAS,
masalah pengawasan dan pembinaan kegiatan Kontrak Kerja Sama yang sebelumnya dikerjakan
oleh PERTAMINA selanjutnya ditangani langsung oleh BPMIGAS sebagai wakil pemerintah.
Badan ini dibubarkan Mahkamah Konstitusi melalui putusannya pada 13 November 2012 karena
dianggap bertentangan dengan UUD 1945.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Wewenang BPMIGAS

2 Kontraktor Kontrak Kerja Sama BPMIGAS

3 Pembubaran BPMIGAS

4 Referensi

5 Lihat pula

6 Pranala luar

Wewenang BPMIGAS[sunting]
Dalam menjalankan tugas, memiliki wewenang:

membina kerja sama dalam rangka terwujudnya integrasi dan sinkronisasi


kegiatan operasional KKKS

merumuskan kebijakan atas anggaran dan program kerja KKKS

mengawasi kegiatan utama operasional kontraktor KKKS

membina seluruh aset KKKS yang menjadi milik negara

melakukan koordinasi dengan pihak dan/atau instansi terkait yang diperlukan


dalam pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu

Kontraktor Kontrak Kerja Sama BPMIGAS[sunting]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kontraktor Kontrak Kerja Sama

Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terdiri dari perusahaan luar dan dalam negeri, serta
joint-venture antara perusahaan luar dan dalam negeri. Daftar ini selalu berkembang, mengikuti
dari tender konsesi yang dilakukan oleh BP Migas setiap tahunnya.

Pembubaran BPMIGAS[sunting]
Pada tanggal 13 November 2012, Mahkamah Konstitusi memutuskan pasal yang mengatur tugas
dan fungsi Badan Pelaksana Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) yang diatur dalam UU Nomor
22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak
memiliki hukum mengikat.
Putusan MK itu berawal dari pengajuan Judicial Review oleh 30 tokoh dan 12 organisasi
kemasyarakatan (ormas), di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin,
Lajnah Siyasiyah Hizbut Tahrir Indonesia, PP Persatuan Umat Islam, PP Syarikat Islam
Indonesia, PP Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam, PP Al-Irsyad Al-Islamiyah, PP Persaudaraan
Muslim Indonesia, Pimpinan Besar Pemuda Muslimin Indonesia, Al Jamiyatul Washliyah,
Solidaritas Juru Parkir, Pedagang Kaki Lima, Pengusaha dan Karyawan (SOJUPEK), Kesatuan
Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, dan IKADI. Mereka menilai UU Migas membuka
liberalisasi pengelolan migas karena sangat dipengaruhi pihak asing. Para tokoh itu dibantu oleh
kuasa hukum Dr Syaiful Bakhri, Umar Husin, dengan saksi ahli Dr Rizal Ramli, Dr Kurtubi dan
lain-lain.[1]
MK memutuskan pasal yang mengatur tugas dan fungsi BPMIGAS dalam UU nomor 22 tahun
2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yaitu Frasa "dengan Badan Pelaksana" dalam Pasal 11 ayat
(1), frasa "melalui Badan Pelaksana" dalam Pasal 20 ayat (3), frasa "berdasarkan pertimbangan
dari Badan Pelaksana dan" dalam Pasal 21 ayat (1), frasa "Badan Pelaksana dan" dalam Pasal 49
UU Migas bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki hukum mengikat. MK juga
menyatakan Pasal 1 angka 23, Pasal 4 ayat (3), Pasal 41 ayat (2), Pasal 44, Pasal 45, Pasal 48
ayat (1), Pasal 59 huruf a, Pasal 61, dan Pasal 63 UU Migas bertentangan dengan UUD 1945 dan
tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.[2]
Pemerintah memutuskan mengeluarkan Perpres No. 95/2012 untuk membentuk Satuan Kerja
Sementara Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SK Migas), sebagai langkah
pasca putusan Mahkamah Konsitusi tersebut.[3] Badan ini kemudian menjadi Satuan Kerja
Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melalui Perpres

No. 9/2013 dan mantan Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini ditunjuk sebagai Kepala SKK
Migas yang pertama.[4]