Anda di halaman 1dari 5

FENOMENA RELAWAN AHOK:

Kembang Gula Pilkada DKI Jakarta 2017

Edison Guntur Aritonang NPM 1506783703

A. Pendahuluan

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di

Indonesia akan digelar serentak pada tahun 2017

nanti. Begitu juga dengan Propinsi DKI Jakarta,

akan diselenggarakan Pilkada pada tahun 2017

untuk pemilihan calon gubernur. Namun ada

fenomena yang menarik pada persiapan

pemilihan calon gubernur tersebut, sebab ada

suatu kelompok non partai dari himpunan

anggota masyarakat Jakarta yang

mengatasnamakan Teman Ahok. [1] Teman Ahok

adalah sebuah perkumpulan relawan yang

didirikan oleh sekelompok anak muda yang

bertujuan untuk membantu dan “menemani”

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama

(Ahok) dalam mewujudkan Jakarta baru yang

lebih bersih, maju, dan manusiawi. Begitulah

mereka mendefenisikan identitasnya melalui

situs resmi yang telah dipublikasikan.

Jika dilihat dari teori struktural

fungsional Talcot Person, maka Teman Ahok

telah menjelma menjadi suatu sistem

“tindakan”, dimana proses adaptasi (Adaptation

- A), pencapaian tujuan (Goal attainment - G),

1 Teman Ahok Online

integrasi (Integration I) dan pemeliharan pola

(Latency - L) telah berfungsi dengan baik.

Jalur yang ditempuh oleh Teman Ahok

untuk mencapai tujuan dari organisasi non

pemerintahan tersebut adalah jalur independen

(jalur perseorangan) dengan cara pengumpulan

satu juta Kartu Tanda Penduduk (KTP) warga

DKI Jakarta sebagai target, melebihi jumlah

yang dipersyaratkan oleh KPU DKI Jakarta,

yaitu 532.000 KTP.

Ketika proses dukungan tersebut

berjalan, tetapi hanya mengacu pada satu nama,

Ahok sebagai gubernur tanpa ada nama

wakilnya, jumlah dukungan yang telah berhasil

dihimpun adalah 784.977 dukungan melalui

KTP, melebih dari yang dipersyaratkan. Namun

sebagaimana yang dipersyarakat, dukungan

pencalonan melalui jalur independen tersebut

adalah satu paket, dalam arti sudah mengusung

nama calon gubernur dan wakil gubernur, maka

terjadilah proses lobby politik.

Ahok memiliki preferensi ke wakilnya

saat ini, Djarot Saiful Hidayat, untuk maju

sebagai wakilnya melalui jalur independen,

bukan melalui jalur partai politik walaupun

Partai PDI-P tanpa berkoalisi dapat mengusung

melalui jalur independen , bukan melalui jalur partai politik walaupun Partai PDI-P tanpa berkoalisi dapat mengusung

pencalonan gubernur dan wakilnya karena memiliki 28 suara, melebihi syarat minimal 22 suara di DPRD DKI Jakarta.

Komunikasi politik yang dibangun antara Ahok dengan Megawati Soekarno Poetri sebagai Ketua Umum PDI-P berlangsung, namun komunikasi dengan latar belakang budaya yang berbeda tersebut tidak berhasil memenuhi tujuan Teman Ahok. Ahok dengan kecederungan gaya komunikasi low context dan Megawati high context tidak dijembatani secara baik, sehingga Ahok menerima feed back atas komunikasi yang terbangun itu dengan persepsinya sendiri. Krisis komunikasi tersebut terpolarisasi dan telah berkembang saat ini hingga bermunculan kelompok-kelompok baru, baik yang tidak mendukung Ahok atau yang ingin mencalonkan diri sendiri, baik melalui partai maupun jalur independen.

B. Perburuan Kembang Gula

Eksistensi Teman Ahok melalui prestasi yang mereka buat tersebut memberikan suatu kesan yang menarik, khususnya bagi para politikus yang tergabung dalam partai politik. Hal tersebut terpapar dari bagaimana mereka mengorganisir dirinya sendiri dan mampu mempertahankan keberlangsungan organisasinya melalui penghimpunan dana yang akuntabel dan partisipatif.

Krisis komunikasi yang terjadi antara Teman Ahok melalui Ahok dengan Megawati sebagai Ketua Umum PDI-P, mengerucutkan langkah Teman Ahok untuk memulai tugas mereka kembali. Ahok yang telah memilih Heru Budi Hartono, SE, MM, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) DKI Jakarta sebagai wakilnya [2] .

Bentuk dukungan untuk pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Heru Budi Hartono sebagai bakal calon pada Pilkada DKI Jakarta 2017 sangat antusias dari masyarakat. Pengumpulan KTP dukungan yang masuk ke markas Relawan Teman Ahok paling sedikit 15 ribu per hari, suatu prestasi yang luar biasa [3] .

Beberapa politikus dari partai politik sudah lama menyadari fenomena ini dan mulai melakukan pendekatan periferal yang beragam. Tentu hal tersebut dengan berbagai tujuan yang salah satunya adalah agenda Pemilihan Legislatif 2019. Banyak pihak yang ingin mendapatkan perhatian seperti yang diberikan Teman Ahok kepada Ahok, formula organisasi Teman Ahok dan basis data (database) pendukung tersebut sebagai petunjuk untuk membaca sebaran kekuatan dukungan tersebut. Hal tersebut menjadi kembang gula yang diburu

2 Detik Online

3 MetroNews Online

kekuatan dukungan tersebut. Hal tersebut menjadi kembang gula yang diburu 2 Detik Online 3 MetroNews Online

oleh

umumnya.

politikus

khususnya

dan

pengamat

C. Perang Antar Semut Politik

Suatu kompetisi untuk memperebutkan kembang gula tersebut menimbulkan adanya konflik, hal tersebut ditandai dengan adanya partai politik yang mendukung dan melarang anggotanya untuk berselisih paham dengan Teman Ahok melalui media, semua partai

politik cenderung untuk menahan diri dengan alasan takut terhukum pada proses Pileg dan Pilpres 2019 nanti.

Jika calon legislatif atau komponen dari suatu partai politik yang selalu melakukan perburuan kekuasaan melalui konstituen (pemilih), sebagai semut politik, mereka melihat Teman Ahok ini sebagai kembang gula, suatu hal yang berpotensi untuk mengantarkan pada pencapaian cita-cita politiknya. Banyak dari mereka yang menyikapi eksistensi Teman Ahok secara berhati-hati, karena daya sebar media untuk menjatuhkan dan mengangkat popularitas seseorang sangat besar. Untuk itu, aspek front stage mulai dimainkan guna membangun ketokohan lewan kelompok Teman Ahok mulai bermunculan. Munculnya Sahabat Djarot, Sahabat Lulung, Sahabat Sandiaga Uno, Relawan Yusril dan lain sebagainya yang suka atau tidak suka mengambil role model Teman

Ahok mencoba membangun front stage tokoh yang didukung melalui media. Kompetisi melalui media komunikasi dalam membangun ketokohan figur yang didukung oleh kelompok- kelompok tersebut seolah-olah menjadi perang, saling serang dan counter-pun terjadi bahkan sampai ke ranah sosial media.

C.1. Krisis Kepercayaan Pada Partai Politik

Latar belakang Teman Ahok terbentuk sebenarnya disebabkan adanya krisis kepercayaan terhadap partai politik. Hal tersebut dipicu oleh seringnya konflik yang terjadi antara Anggota DPRD DKI Jakarta yang berselisih paham dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, sejak masa jabatannya dimulai per 19 November 2014 lalu.

Komunikasi yang buruk dan dipublikasikan secara masif oleh media antara pihak eksekutif yang diwakili oleh Gubernur DKI Jakarta dengan beberapa anggota legislatif atas persepsi masing-masing terhadap kepentingan yang menjadi tujuan menimbulkan beberapa persepsi yang berbeda, khususnya di kalangan anak muda yang tergolong generasi atas persepsi masing-masing terhadap kepentingan yang menjadi tujuan menimbulkan beberapa persepsi yang berbeda, khususnya di kalangan anak muda yang tergolong generasi Y. Mereka bergerak dan mewujudkan diri menjadi

yang berbeda, khususnya di kalangan anak muda yang tergolong generasi Y. Mereka bergerak dan mewujudkan diri

suatu kelompok yang mereka namakan Teman Ahok sebagai bentuk implementasi persepsi mereka.

C.2. Sandera Biaya Politik Tinggi

Tentu pembentukan Teman Ahok dengan alasan adanya krisis kepercayaan terhadap partai politik memiliki dasar pemikiran. Pemikiran tersebut mengacu pada data dan fakta yang berkembang dilapangan karena ongkos politik yang mahal. Hal serupa juga pernah diungkapkan oleh Ahok sebagai alasan memilih didukung Teman Ahok daripada dicalonkan oleh partai politik. Biaya untuk menggerakkan mesin partai sebagai ongkos politik mulai dari kegiatan kampanye dan menyiapkan perangkat serta lain-lainnya bisa mencapai Rp 26,7 miliar, taksasi secara kasar [4] .

Atas dasar pertimbangan tersebutlah Teman Ahok secara urunan melakukan pengumpulan dana, bukan hanya pengumpulan dukungan lewat KTP, bahkan melakukan kegiatan ekonomi untuk meningkatkan jumlah dana tersebut guna menunjang kegiatan kampanye Ahok nanti. Mereka melakukannya secara akuntabel dan menginginkan Ahok tidak tersandera karena adanya ongkos politik yang besar tersebut oleh pihak manapun. Mereka

4 Viva News

menginginkan Ahok tetap menjadi dirinya sendiri untuk memimpin DKI Jakarta sesuai harapan terbentuknya Teman Ahok tersebut.

C.3. Pembagian Kekuasaan Sebagai Hadiah

Tentu tujuan dari suatu kegiatan politik adalah kekuasaan. Dari beberapa rangkaian kegiatan politik yang pernah terjadi, kelompok- kelompok yang terbentuk dalam konsep koalisi dari suatu aktivitas politik berujung pada bagi- bagi kekuasaan sebagai hadiahnya.

Teman Ahok secara tegas menyatakan bahwa mereka tidak akan ikut dalam proses tersebut, hanya mengawal dan mendukung proses pencalonan Ahok menjadi gubernur, setelah terpilih hanya sebatas mengkritisi kebijakannya jika keluar dari koridor hukum yang berlaku. Tidak ada keinginan untuk menjadikan salah satu dari mereka untuk menjadi Kepala Dinas di Instansi Pemerintah DKI Jakarta atau untuk mendapatkan proyek.

D. Kesimpulan dan Saran

Teman Ahok terbentuk karena adanya krisis kepercayaan terhadap partai politik. Penyebab krisis tersebut antara lain adanya ongkos politik yang mahal jika melalui partai politik dan kecenderungan berujung pada penyanderaan kebijakan dan bagi-bagi kekuasaan.

yang mahal jika melalui partai politik dan kecenderungan berujung pada penyanderaan kebijakan dan bagi-bagi kekuasaan.

Fenomena eksistensi Teman Ahok ini menjadi sebuah kembang gula menuju pesta demokrasi Pilkada DKI Jakarta 2017 nanti, banyak semut politik yang ingin mendekat dan mendapatkan manfaat atasnya, namun semua itu bagian dari strategi yang sah-sah saja sebagai bentuk komunikasi politik yang bisa dijadikan sebagai role model.

Daftar Pustaka [1] Puspitasari. 2016. Komunikasi Krisis:

Strategi Mengelola dan Memenangkan Citra di Mata Publik. Jakarta: Penerbit Libri.

[2] Panggabean, Hana, dkk. 2014. Kearifan Lokal Keunggulan Global: Cakrawala Baru di Era Globalisasi. Jakarta: Elex Media Komputindo.

[3] Wirawan. 2014. Kepemimpinan: Teori, Psikologi, Perilaku Organisasi, Aplikasi dan Penelitian/ Wirawan. Edisi 1 Cetakan 2. Jakarta: Rajawali Pers.

[4] Asgart, Sofian Munawar. 2003. Politisasi SARA: Dari Masa ORBA ke Masa Transisi Demokrasi. Jakarta: ISAI.

[5] Mulyanan, Deddy & Rakhmat, Jalaluddin. 1990. Komunikasi Antarbudaya: Panduan Berkomunikasi Dengan Orang Orang

Berbeda

Budaya.

Bandung:

PT

Remaja

Rosakarya.

 

Sumber Internet

[1] Teman

Ahok

Online.

http://temanahok.com/?l=id#about (diakses 27 Maret 2016 Jam 20.01 WIB)

[2] Detik Online. http://news.detik.com/berita/

3163037/teman-ahok-kumpulkan-ulang-

ktp-dukungan-untuk-ahok-heru-di-pilgub-

dki

WIB)

(diakses

27

Maret

2016

Jam

20.05

[3] MetroNews Online.

http://news.metrotvnews.com/read/2016/03/

25/503872/per-hari-dukungan-untuk-ahok-

heru-capai-15-ribu (diakses 27 Maret 2016 Jam 20.15 WIB)

[4] VivaNews Online.

http://politik.news.viva.co.id/news/read/746

822-ahok-klarifikasi-mahar-politik-pdip

(diakses 27 Maret 2016 Jam 20.26 WIB)

http://politik.news.viva.co.id/news/read/746 822-ahok-klarifikasi-mahar-politik-pdip (diakses 27 Maret 2016 Jam 20.26 WIB)