Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 DEFINISI
HNP (Hernia Nukleus Pulposus) adalah terdorongnya nukleus pulposus suatu zat
yang berada diantara ruas-ruas tulang belakang, kearah belakang baik lurus maupun
kearah kanan atau kiri menekan sumsum tulang belakang atau serabut-serabut sarafnya
sehingga mengakibatkan rasa sakit yang sangat hebat.
Atau penonjolan diskus intervertebralis dengan protrusi dari nukleus kedalam
kanalis spinalis yang mengakibatkan penekanan pada radiks saraf tepi.
II.2 EPIDEMIOLOGI
Hernia Nukleus Pulposus paling sering terjadi pada pria dewasa dengan insiden
puncak pada dekade ke-4 dan ke-5. Kelainan ini lebih banyak terjadi pada individu
dengan pekerjaan yang banyak membungkuk dan mengangkat. Karena ligamentum
longitudinalis posterior pada daerah lumbal lebih kuat pada bagian tengahnya, maka
protrusi diskus cenderung terjadi kearah posterolateral, dengan kompresi radiks saraf
Insiden puncak HNP cervikalis adalah pada usia dekade 3-4 atau 20-40 tahun, paling
sering terjadi pada C5-C6 dan C6-C7.
Biasanya terjadi pada lokasi parasentral unilateral dimana anulus fibrosus daerah
tersebut adalah yang terlemah dan ligamennya tipis.
Insiden kasus HNP dapat terjadi pada tiga daerah vertebra,yaitu:
1. Vertebra lumbalis
2. Vertebra cervikalis
3. Vertebra thorakalis ( jarang sekali )
Dari data HNP pada daerah
L5-S1 atau L4-L5 95%
L3-L4 4%
L2-L3 dan L1-L2 1%

II.3 ETIOLOGI
Diskus intervertebralis karena trauma (misalnya secara tiba-tiba membungkuk badan
untuk mengambil sepotong kertas yang jatuh di lantai atau mengangkat barang dengan
posisi badan yang kurang menguntungkan) atau karena degenerasi dapat mengalami
herniasi . Anulus fibrosus mengalami robekan menurut garis sirkuler dan menurut garis
radial, sehingga :
1. Nukleus pulposus menonjol ke atas dan ke bawah masuk kedalam korpus vertebra
di atas dan di bawahnya.
2. Apabila herniasi menuju ke lateral akan mengenai radiks di dalam foramen
intervertebra maka selain low back pain (LBP) juga akan timbul nyeri radikular
sesuai dengan dermatom dan juga kelemahan otot.
Pada umumnya sindroma HNP mulai dengan sakit pinggang. Hal ini disebabkan oleh
degenerasi diskus dan ligamentum longitudinal akibat stress setiap kali seseorang
mengangkat benda berat.
Adapun sebab lain yang perlu kita perhatikan adalah tumor, infeksi, batu ginjal, dll.
Kesemuanya dapat menyebabkan tekanan pada serabut saraf.
II.4 PATOGENESIS dan PATOFISIOLOGI
Herniaasi diskus intervertebralis ke segala arah dapat terjadi akibat teruma atau
stres fisik. Kebanyakan herniasi terjadi pada arah posterolateral sehubungan dengan
faktor-faktor : nukleus pulposus yang cenderung terletak lebih di posterior dan adanya
ligamentum longitudinalis posterior yang cenderung memperkuat anulus fibrosus di
posterior tengah. Mula-mula nukleus pulposus mengalami herniasi melalui cincin
konsentrik anulus fibrosus yang robek, dan menyebabkan cincin lain di bagian luar yang
masih intak menonjol setempat (fokal) sehingga menyebabkan Protusio Diskus.
Bila proses tersebut berlanjut, sebagian materi nukleus kemudian akan menyusup
keluar dari siklus (diskus ekstrusi) ke anterior ligamen longitudinalis posterior (herniasi
diskus subligamentus) atau harus masuk kedalam kanalis spinalis (herniasi diskus
fragmen bebas).

Biasanya protusio atau ekstrusi diskus posterolateral akan menekan (menjepit)


akar saraf ipsilateral pada tempat keluarnya saraf dari kantong dura (misal herniasi diskus
L4-L5 kiri akan menjepit akar saraf L5 kiri). Jepitan saraf akan menampilkan gejala dan
tanda radikuler sesuai dengan distribusi persarafannya. Herniasi diskus sentral yang
signifikan dapat melibatkan beberapa elemen kauda ekuina pada kedua sisi, sehingga
menampilkan radikulopatia bilateral atau gangguan sfingter seperti retensio urine.
II.5 MANIFESTASI KLINIS
1. Low back pain
2. Punggung terfiksir artinya tidak dapat difleksi ke depan, diekstensi atau difleksi
ke
3. lateral. Laterofleksi tulang punggung (dalam ekstensi) yang menimbulkan nyeri
4. radikuler di sisi laterofleksi dinamai Kemp positif.
5. Lordose lumbal yang berkurang, bahkan dapat datar sama sekali.
6. Skoliosis, agar rasa nyerinya berkurang.
7. Spurlings sign positif
8. Nyeri radikuler yang menjalar sepanjang N. iskhiadikus sisi kaki yang sakit.
Biasanya satu radiks saja yang ditekan oleh diskus yang menonjol ke dalam
kanalis vertebralis. Misalnya pada HNP L4/L5 yang tertekan adalah radiks L5.
Pada HNP L5/S1 yang tertekan adalah radiks S1.Oleh karena diskus prolaps itu
tidak pernah terjadi di garis tengah (karena adanya ligamentum longitudinale
posterior yang cukup kuat), tetapi selalu di samping, di sisi kanan atau kiri dari
ligamentum tadi, maka radiks saraf tepi yang tertekanpun selalu satu saja, yang di
sisi kanan atau kiri. Dengan demikian maka gejala iskhialgia pada diskus hernia
akan timbul hanya pada satu tungkai saja.
9. Kedudukan panggul yang khas (di sisi tungkai yang sakit, pinggul itu menonjol ke
samping).
10. Tanda Naffziger positif.
11. Tanda Lasegue positif di tungkai yang sakit (kadang-kadang terdapat Lasegue
silang).

12. Gangguan sensibilitas.


Pada HNP L4/L5 sensibilitas di dorsum pedis tungkai yang sakit terganggu. Pada
HNP L5/S1 sensibilitas di pinggir lateral dorsum pedis tungkai yang sakit akan
terganggu. Namun gangguan sensibilitas itu tidaklah jelas oleh karena yang
tertekan hanyalah satu radiks saja.
13. Gangguan motorik biasanya tidak ada (jadi tidak terdapat parese). KPR biasanya
positif, pada HNP di L5/S1 APR dapat jadi negatif. Pada diskus L5/S1 kiri
misalnya, maka APR kiri akan menjadi negatif
14. Likuor serebrospinalis (LCS)
Hasil pemeriksaan likuor sangat tergantung dari lokasi pungsi lumbal itu sendiri.
Hasil pemeriksaan likuor yang diambil dengan pungsi lumbal L3/L4 masih berda
dalam batas-batas normal. Tetapi bila pada HNP L4/L5 diambil likuor melalui
pungsi L5/S1 maka mungkin likuor itu akan memperlihatkan total protein yang
sedikit meningkat
15. Foto Rntgen dapat memperlihatkan :
a) Lordose lumbal yang berkurang, bahkan dapat sampai datar sama sekali
b) Skoliosis.
c) Diskus intervertrebalis pada tempat lokasi HNP itu adalah lebih tipis
daripada di tempat-tempat yang lain (untuk itu perlulah kita membuat foto
rontgen yang berpusat pada diskus yang dicurigai). Seringkali tampak pula
suatu gambaran dari spondiloartrosis deformans. Osteofit-osteofit suatu
spondiloartrosis deformans dapat pula menekan suatu saraf tepi dan
menimbulkan suatu nyeri radikuler.

II.6 KLASIFIKASI
Menurut derajatnya HNP dibagi atas :
1.

Protruded intervertebral disc


Nukleus terlihat menonjol ke satu arah tanpa kerusakan anulus fibrosus

Prolapsed intervertebral disc


Nukleus berpindah tetapi masih dalam lingkaran anulus fibrosus

3.

Extruded intervertebral disc


Nukleus keluar dari anulus fibrosus dan berada dibawah ligamentum
longitudinalis posterior

4.

Suquestrated intervertebral disc


Nukleus telah menembus ligamentum longitudinal posterior

II.7 PEMERIKSAAN NEUROLOGI


Pemeriksaan neurologi meliputi :
a.

Pemeriksaan motorik
- Kekuatan
- Atrofi otot

b.

Pemeriksaan sensorik
- Rasa raba
- Rasa sakit
- Rasa suhu
- Rasa tekan
- Rasa getar
Bila ada kelainan tentukan batasnya dapat ditentukan dermatom mana yang

terganggu untuk menentukan radiks mana yang terganggu


c.

Pemeriksaan refleks
- Refleks patella
- Refleks achiles

d.

Pemeriksaan range of movement(ROM)


Untuk memperkirakan:
- Derajat nyeri
- Functiolaesa
- Ada atau tidaknya rasa nyeri

e. Percobaan-percobaan
- Percobaan Lassegue
- Percobaan Naffziger
- Percobaan valsava
- Percobaan Patrick
- Percobaan kontra Patrick
II.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.

Fungsi Lumbal
Dapat diketahui warna cairan serebrospinal (jernih, kekuningan/xantokrom
keruh), adanya kesan sumbatan/hambatan aliran cairan serebrospinal secara total
atau parsial, jumlah sel, kadar protein, NaCl dan glukosa.

b.

Foto Rontgen (AP, lateral, oblique)

c.

CT-Scan
Dapat dilihat gambar vertebra dan jaringan di sekitarnya termasuk diskus
intervertebralis.

d.

MRI

e.

Mielografi

II.10 DIAGNOSIS BANDING

Tumor

Kelainan jantung kongenital (spondilolistesis, spina bifida)

Penyakit peradangan (abses, osteomielitis, penyakit rheumatoid).

II.11 KOMPLIKASI

Hilangnya fungsi motorik dan sensorik yang diakibatkan karena


terjadinya kerusakan permanen pada serabut saraf dan medula spinalis.

Tekanan langsung pada medula spinalis dan penekanan pada vaskuler yang keras
dapat mengakibatkan mielopati yang ireversibel dengan spastik paraplegi atau
quadriplegi yang tidak respon terhadap tindakan bedah. Pasien juga mudah
mengalami suatu paraparesis atau quadriparesis yang mendadak hanya akibat
trauma hiperekstensi servikal yang ringan.

II12 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan yang terbaik adalah menghilangkan penyebabnya (kausal),
walaupun bagi pasien yang terpenting adalah menghilangkan rasa sakitnya (simtomatis).
Jadi kita menggunakan kombinasi antara pengobatan kausal dan simtomatis
1. Konservatif
Penderita disuruh tidur terlentang selama 6 minggu.
Istirahat mutlak di tempat tidur dengan kasur harus padat, kasur jangan
melengkung. Sikap berbaring terlentang tidak membantu lordosis lumbal yang
lazim, maka bantal sebaiknya ditaruh di bawah pinggang. Istirahat terlentang
dengan fleksi lumbal yang menyenangkan.
Obat-obat analgesik, anti inflamasi, NSAID, penenang, muscle relaxan.
Traksi dapat dilakukan. Cara pelvic traction dapat dilakukan dalam masa yang
cukup lama bahkan terus menerus, kedua

tungkai bebas untuk bergerak, berat

anak timbangan yang diperlukan 10 15 kg.


Selama nyeri belum hilang fisioterapi untuk mencegah

atrofi

otot

dan

dekalsifikasi sebaiknya jangan dimulai. Setelah nyeri sudah hilang latihan


gerakan sambil berbaring terlentang atau miring harus dianjurkan.
Penyinaran dengan lampu infra merah/diatermi/UKG.
Korset pinggang sebaiknya dipakai untuk masa peralihan ke mobilisasi penuh.
Traksi lumbal atau traksi servikal.

2. Operatif
Terapi operatif diterapkan bila pengobatan konservatif tidak mampu memulihkan
gejala-gejala herniasi, adanya tanda-tanda kelumpuhan atau gejala gangguan sfingter.
Operatif HNP lumbalis
Terapi operasi standar untuk herniasi diskus posterolateral terdiri dari
tindakan-tindakan : hemilaminektomi parsiel pada sisi dan level diskus
yang mengalami herniasi, pengangkatan kartilago yang terlepas di dalam
diskus dan dekompresi saraf yang terjepit.
Pada kasus herniasi yang besar (tidak seperti biasanya), herniasi fragmen
bebas yang mengalami migrasi atau herniasi sentral, perlu dilakukan
laminektomi bilaeral. Biasanya pasien hanya dirawat selam lima hari dan
dapat bekerja kembali setelah 4-6 minggu kemudian.
Operatif HNP Servikalis
Secara umum ada 2 cara terapi operatif untuk HNP servikal yaitu :
a. Pendekatanposterior yang ditujukan untuk eksisi diskus lunak
servikal lateral melalui insisi linear pada garis tengah posterior. Disini
dilakukan foramino-laminotomi yang mencakup pinggir inferior dan
superior lamina di atas dan di baeah segmen HNP serta separuh dari
sendi faset
b. Pendekatan anterior yang ditujukan untuk eksisi diskus dan
pengangkatan osteofit melalui insisi pada leher bagian anterior. Pasca
eksisi diskus dan osteofit, dilakukan pemasangan garft tulang yang
diambil dari krista iliaka atau dengan segmen tulang. Biasanya fusi
terjadi setelah tiga bulan.
II.13 PENCEGAHAN
Penting sekali untuk mengetahui bagaimana caranya mencegah timbulnya nyeri
pinggang semacam ini.

Tidurlah di atas kasur yang keras. Apabila kasur itu lembek, letakan selembar
kayu di bawahnya. Yang paling baik adalah tidur miring dengan satu bantal di

bawah kepala dan dengan lutut yang dibengkokkan. Bila tidur terlentang
sebaiknya diletakan bantal kecil di bawah lutut.

Bila duduk, duduklah di atas kursi yang keras dengan sandaran yang lempeng.
Bila duduk hendaknya kaki disilangkan, sehingga lutut itu itu letaknya lebih
tinggi dari pada panggul. Kedudukan yang demikian akan mengurangi lordose di
daerah lumbal. Kaki yang disilangkan, sebaiknya bila dapat diletakkan di atas
suatu sandaran kaki.

Bila akan mengangkat benda berat, jongkoklah terlebih dahulu di depan barang
tersebut. Setelah itu barulah benda tersebut diangkat. Sekali-kali janganlah
mengangkat benda berat dengan cara berdiri (atau duduk) sambil membungkuk.
Kedudukan yang demikian akan menimbulakan nyeri pinggang karena diskus
henia

BAB III
KESIMPULAN
Diskus intervertebralis terdiri dari tiga bagian yaitu nukleus pulposus, anulus
fibrosus dan lempeng kartilago
Ada dua jenis HNP adalah HNP lumbal dan HNP servikal
Penyebab dari HNP terbanyak adalah trauma
Pada umumnya sindroma hernia nukleus pulposus (HNP) mulai dengan sakit
pinggang ata low back pain (LBP)
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan : Foto Rontgen tulang belakang,
MRI, CT-scan lumbal, mielografi, LCS.
Penatalaksanaan pada HNP dapat dilakukan dengan dua cara yaitu konservatif
dan operatif.
Pencegahan dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain sikap waktu tidur,
duduk dan sikap pada waktu mengangkat barang.

DAFTAR PUSTAKA
1) Priguna Sidharta, MD, PhD, Nyeri Pinggang dalam Neurologi Klinis dalam
Praktek Umum, PT Dian Rakyat, Jakarta, 2003
2) Sjamsuhidajat, R, Wim deJong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta, 1997.
3) I Gusti Ng. Gd.Ngoerah, Nyeri Pinggang, Dasar-dasar Ilmu Penyakit Saraf,
Airlangga University Press, Surabaya, hal: 316-325
4) Aston, JN, Keadaan-keadaan yang Mempunyai Hubungan dengan Sikap, dalam
Kapita Selekta Traumatologik dan Ortopedik, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta, hal: 182.
5) www.prospektif.com@Msn.co.id
6) www.perdossi.or.idAdlnfk.lib.unair.ac.id.
7) www.yahoo.com@Cybermed.cbn.net.id
8)