Anda di halaman 1dari 32

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
ATMOSFER
Pengertian
Atmosfer adalah selubung gas atau campuran gas-gas, yang menyelimuti bumi.
Campuran gas-gas ini disebut udara. Di atas atmosfer disebut ruang angkasa. Ruang angkasa
adalah ruang dimana tidak ada lagi udara, bila masih ada udara atau gas maka daerah itu masih
atmosfer, karena molekul gas yang sangat ringan dapat terlepas dari gaya tarik bumi dan beredar
ke ruang angkasa. Oleh karena itu dibuat perjanjian tentang batas antara atmosfer dan ruang
angkasa. Batas ini di Rusia, menurut A.A. Lavikov adalah 3.000 km, sedang di Amerika,
menurut Arm-strong adalah 6.000 mil.
Susunan Atmosfer
Susunan atmosfer pada zaman dahulu berbeda dengan susunan atmosfer pada zaman
sekarang. Susunan atmosfer pada zaman dahulu, yaitu pada saat pembentukan atmosfer, terdiri
dari gas-gas Hidrogen, Amoniak, Methan, Helium dan uap air dan disebut protoatmosfer. Dengan
berbagai perubahan terjadilah atmosfer seperti sekarang ini, yang disebut neoatmosfer dan
selanjutnya kita sebut atmosfer. Gas-gas pada neoatmosfer ter-diri dari : Nitrogen dengan
prosentase 70,09%, Oksigen dengan prosentase 20,95%, Argon 0,93%, Karbon Dioksida 0,03%
dan sisanya terdiri dari gas-gas yang sangat kecil jumlahnya, yaitu Helium, Neon, Hidrogen dan
Xenon.
Pembagian Atmosfer Berdasar Sifat-sifatnya
Berdasarkan sifat-sifatnya atmosfer dapat dibagi menjadi 4
(empat) lapisan, yaitu :
1) Lapisan Troposfer
Lapisan ini merupakan lapisan yang paling tipis dan terletak dari permukaan bumi
sampai ke ketinggian 1012 km. Sifat-sifat troposfer pada umumnya adalah: suhu

berubah-ubah, makin suhu makin rendah, arah dan kecepatan angin berubah-ubah, ada
uap air dan hujan, serta ada turbulensi. Oleh karena sifat troposfer yang sering berubahubah ini, maka sebenarnya ini kurang ideal untuk penerbangan; tetapi pada kenyataannya
banyak penerbangan dilakukan di lapisan ini, sehingga kemungkinan bahaya
penerbangan menjadi lebih besar.
2) Lapisan Stratosfer
Lapisan stratosfer terbentang di atas lapisan troposfer sampai ke ketinggian 5080
km. Kedua lapisan ini dipisahkan oleh lapisan tropopause. Sifat-sifat stratosfer ialah:
suhu tetap walaupun ketinggian berubah yaitu 55C, tidak ada uap air dan turbulensi.
Oleh karena sifat-sifat stratosfer lebih stabil dibandingkan dengan troposfer, maka
stratosfer ini sebenarnya adalah yang ideal untuk kegiatan penerbangan.
3) Lapisan lonosfer
Lapisan ionosfer terbentang dari atas stratosfer sampai ke ketinggian antara 6001.000 km. Pada lapisan ini udara sangat renggang dan terjadi reaksi fotokhemis dan
fotoelelektris, sehingga atom-atom dan molekul-molekul gas ada yang menerima muatan
listrik, menjadi ion-ion. Oleh karena pembentukan ion-ion inilah maka terjadi panas yang
sehingga suhu udara disini sampai 2.000C.
4) Lapisan Eksosfer
Lapisan Eksosfer adalah lapisan atmosfer yang paling atas, di sini gas-gas tidak
kontinu lagi hubungan molekulnya; atom-atom dan molekul-molekulgas membentuk
pulau-pulau udara yang satu sama lain dipisahkan oleh ruang hampa. Oleh karena sifat
inilah maka lapisan ini dibedakan dengan ketiga lapisan di atas. Ketiga lapisan atmosfer
yang berada di bawah eksosfer disebut pula atmosfer, sedang eksosfer disebut outer
atmosfer

Pembagian Atmosfer Berdasarkan Ilmu Faal


Atmosfer juga dapat dibagi dalam 3 (tiga) daerah berdasarkan ilmu faal, yaitu :
1) Physiological Zone
Daerah ini terbentang dari permukaan bumi sampai ke ketinggian 10.000 kaki. Di
daerah ini orang praktis tidak mengalami perubahan faal tubuhnya, kecuali daya adaptasi
gelapnya saja yang memanjang bila berada pada ketinggian lebih dari 5.000 kaki.
2) Physiological Defficient
Di daerah ini orang akan mengalami kekurangan fisiologi atau mengalami
kelainan faal tubuh berupa hipoksia, tetapi masih dapat ditolong dengan pemberian
oksigen saja. Daerah ini terbentang dari ketinggian 10.000 kaki sampai 50.000 kaki.
3) Space equivalent zone
Atmosfer di atas 50.000 kaki dinamakan space equivalent zone, karena di sini
orang akan mengalami hipoksia berat ,dimana pertolongan atau perlindungan sama
seperti di ruang angkasa.
OZONOSFER
Di samping lapisan-lapisan atmosfer di atas, kita mengenal suatu lapisan dalam atmosfer
yang disebut ozonosfer karena mengandung banyak gas ozone. Lapisan ini terbentang antara
ketinggian 12 km sampai 70 km dan yang terbanyak ozonenya berada pada ketinggian antara 45
km sampai 55 km. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ozonosfer adalah payung bumi
terhadap sinar ultra violet.

Tekanan Atmosfer
Seperti benda-benda lain, gas juga mempunyai berat. Berat 1 meter kubik udara pada
permukaan laut dengan tekanan 760 mmHg dan suhu 0C adalah 1.293 gram. Oleh kanena berat
udara inilah maka tiap permukaan atau bidang di dalam atmosfer menerima teknan, yang
besarnya sesuai dengan berat udara yang ada di atasnya. Tekanan inilah yang disebut tekanan
atmosfer atau tekanan barometer bila diukur untuk tiap sentimeter persegi. Pada permukaan laut
tekanan ini besarnyasama dengan 1,033 kg/ cm. Telah dilakukan pengukuran tekanan atmosfer
ini pada garis lintang 45 pada permukaan laut dan suhu 0C pada luas permukaan 1 cm2.
Hasilnya sama dengan tekanan satu kolom air raksa setinggi 760 milimeter dengan
penampang dan suhu yang sama. Oleh kanena itu 760 mmHg ini disebut 1 atmosfer. Satu
atmosfer juga sering dinyatakan dengan 14,7 PSI (pound per Square Inch). Tekanan satu
atmosfer ini juga sering digunakan untuk menyatakan tekanan pada permukaan laut. Makin
kurang tekanan udaranya, karena jumlah udara yang berada di atasnya makin kurang pula. Jadi
tekanan barometer mengecil bila ketinggian bertambah
Efek tekanan Oksigen yang rendah terhadap tubuh pada kadar gas alveolus dan saturasi
oksigen
Penurunan tekanan barometric merupakan penyebab dasar semua persoalan hipoksia
pada fisiologi tempat tinggi. Dimana seiring terjadinya penurunan tekanan barometric, diikuti
juga oleh penurunan tekanan O2 secara proporsional. Tekanan O2 selalu tetap dari waktu ke
waktu, yaitu sedikitnya 21 persen dari tekanan barometric total, dimana PO2 bernilai sekitar 159
mmHg, sedangkan di ketinggian 50.000 kaki hanya 18 mmHg.
PO2 Alveolus di berbagai ketinggian
-

Di tempat tinggi, CO2 terus-menerus diekskresi dari darah paru ke alveoli dan air
menguap ke dalam udara inspirasi dari permukaan alat pernapasan kedua gas ini akan
mengencerkan oksigen di dalam alveoli menurunkan kadar oksigen

Contoh :
Tekanan barometer menurun dari nilai normal di permukaan laut sebesar 760 mmHg
menjadi 253 mmHg di puncak gunung everest pada ketinggian 29.028 kaki 47 mmHg
dr nilai ini tentunya uap air sisanya hanya 206 mmHg untuk seluruh gas-gas lain

pada seseorang

yang teraklimatisasi, 7 mmHg dari 206 mmHg tersebut tentunya

merupakan CO2 jika tidak ada oksigen yang digunakan oleh tubuh, 1/5 dr 199 mmHg
ini akan berupa oksigen dan 4/5 nya berupa nitrogen
-

Pada puncak everest, hanya orang yang memiliki aklimatisasi terbaik saja yang dapat
bertahan hidup saat menghirup udara.

Efek Akut Hipoksia


-

Beberapa efek akut penting dari hipoksia pada orang yang blm teraklimatisasi saat
menghirup udara biasa, mulai dari ketinggian 12.000 kaki ialah
a. Mengantuk
b. Malas
c. Kelelahan mental dan otot
d. Kadang sakit kepala
e. Mual
f. Euphoria

Jika seorang penerbang yang belum teraklimatisasi berada pada ketinggian 15.000 kaki
selama 1 jam, kemampuan mental biasanya turun menjadi 50 persen normal dan setelah
18 jam turun menjadi 20 persen

Aklimatisasi terhadap PO2 rendah


-

Seseorang yang tinggal di tempat tinggi selama beberapa hari, minggu atau
tahun,menjadi semakin teraklimatisasi terhadap PO2 yang rendah efek buruknya
terhadap tubuh makin lama makin berkurang, dan memungkinkannya bekerja lebih berat
tanpa mengalami efek hipoksia atau untuk naik ke tempat yang lebih tinggi

Prinsip utama yang terjadi pada aklimatisasi ialah :


a. Peningkatan jumlah sel darah merah

b. Peningkatan ventilasi paru yang cukup besar


c. Peningkatan kapasitas difusi paru
d. Peningkatan vaskularisasi jaringan perifer
e. Peningkatan kemampuan sel dalam menggunakan oksigen sekalipun nilai PO2 rendah

HUKUM GAS
Berguna untuk menjelaskan gangguan fisiologis penerbangan
1. Hukum Boyle
volume suatu gas berbanding terbalik dengan tekanannya
PI/P2 = V2/V1

atau

V= T/P

Untuk menjelaskan masalah penyakit dekompresi


2. Hukum Dalton
tekanan total suatu campuran gas sama dengan jumlah tekanan parsiil gas-gas penyusun
campuran tersebut
Ptot = P1 + P2 + P3 + + Pn
Untuk menghitung tekanan parsiil gas dalam suatu campuran gas
3. Hukum Henry
jumlah gas yang larut dalam suatu cairan tertentu berbanding lurus dengan tekanan
parsiil gas tersebut pada permukaan cairan
PI/P2 = A1/A2
Untuk menjelaskan penyakit dekompresi seperti bends, chokes, yang dasarnya penguapan
gas yang larut.
4. Hukum Charles
Menjelaskan tentang turunnya tekanan oksigen atau berkurangnya persediaan oksigen
bila isi tetap, maka tekanan gas berbanding lurus dengan suhu absolutnya.
Bila isi tetap :
P1 : P2 = T1 : T2
5. Hukum difusi gas
Penting untuk menjelaskan pernapasan baik dari luar maupun dalam
Semipermeabel dari konsentrasi tinggi ke rendah
Pengaruh Percepatan dan Kecepatan pada Penerbangan terhadap Tubuh

Benda itu punya berat ditambah dengan adanya gaya gravitasi bumi apabila benda dalam
keadaan diam benda tersebut akan jatuh
Apabila sebuah benda dari keadaan diam lalu bergerak maka karena ada percepatan yang bekerja
pada benda tersebut, akan terjadi gaya lain yang arahnya berlawanan dengan arah percepatan
penggeraknya, sesuai dengan Hukum inertia dari Newton
Macam-macam Akselerasi
1. Akselerasi linier pada saat mau mulai terbang
2. Akselerasi sentrifugal ketika pesawat berbelok
3. Akselerasi Angulair pada saat akhir terbang dimana terjadi perlambatan.
Efek gaya percepatan linier pada tubuh

Gaya percepatan dalam penerbangan luar angkasa


o Percepatan saat peluncuran dan perlambatan merupakan percepatan linieas
Gaya perlambatan ketika terjun dengan parasut
o Ketika penerjun paying meninggalkan pesawat dengan parasut kecepatan
terjun pada saat awal adalah 0 kaki perdetik dengan adanya gaya percepatan
gravitasi, dalam 1 detik, kecepatan penerjun menjadi 32 kaki perdetik. Dengan
meningkatnya kecepatan terjun, tahanan udara yang memperlambat jatuh akan
meningkat juga akhirnya gaya perlambatan tahanan udara akan menyamai
gaya gravitasi sehingga orang tersebut akan jatuh dengan kecepatan akhir
o BIla penerjun paying telah mencapai kecepatan akhir sebelum membuka
parasutnya akan terjadi gaya kejutan sewaktu parasut dikembangkan.

Efek gaya percepatan sentrifugal pada tubuh


Rumus :

F = m . v2 / r

Meningkatkan kecepatan gaya percepatan sentrifugal akan meningkat sebanding dengan


kuadrat kecepatan
Gaya percepatan berbanding lurus dengan ketajaman belokan (berkurangnya ukuran jari-jari)

Pengukuran gaya percepatan G


Akibat adanya akselerasi timbul adanya gay ayang sama besar tapi berlawanan arahnya
Gaya G transversal
o Gaya G yang arahnya memotong tegak lurus sumbu panjang tubuh
o Identik dengan peluncuran pesawat ruang angkasa dengan roket dimana posisi
awak pesawat diusahakan setengah berdiri
Gaya G positif
o Gaya yang bekerja dengan arah dari kepala ke kaki
o Pada saat pull up dan dive merasa tertekan pada tempat duduk BB lebih
berat penerbang seperti orang tua pipi tertarik ke bawah
o Sebanding dengan gaya tarik bumi, dimana saat penerbang terkena G+ akan
o
o
o
o

tertarik kebawah lurus


Makin besar gaya G yang mempengaruhinya makin besar perubahan pad a mata.
+ 2 G + 3G lantang pandangan menciut (tubular sight)
+3 G - +4,5 penglihatan remang (grey out)
+ 4,5 G - + 6 G Semua tampak gelap (black out) tapi masih sadar kalau
bertahan lebih dari 3 detik pingsan

Gaya G negative
o Gaya G yang bekerja dengan arah dari kaki kek kepala
o Gaya G negative dapat dengan hebat merusak secara permanen dan sentrifugasi
darah ke kepala juga tinggi meningkatkan tekanan PD otak PD kecil di otak
pecah
o Pada steep climbing mendadak level flight darah akan terlempar kea rah otak
jumlah darah dalam otak meningkat tekanan nya pun meningkat timbul
rasa sakit kepala pecah PD di otak
o Bila G negative 2 2,5 G red out (penglihatan jadi merah)

Hipoksia
Tujuan akhir pernapasan adalah untuk mempertahankan konsentrasi oksigen, karbondioksida dan
ion hidrogen dalam cairan tubuh. Kelebihan karbondioksida atau ion hidrogen mempengaruhi
pernapasan terutama efek perangsangan pusat pernapasannya sendiri, yang menyebabkan
peningkatan sinyal inspirasi dan ekspirasi yang kuat ke otot-otot pernapasan. Akibat peningkatan

ventilasi pelepasan karbondioksida dari darah meningkat, ini juga mengeluarkan ion hidrogen
dari darah karena pengurangan karbondioksida juga mengurangi asam karbonat darah.1
PO2 darah yang rendah pada keadaan normal tidak akan meningkatkan ventilasi alveolus secara
bermakna sampai tekanan oksigen alveolus turun hampir separuh dari normal. Sebab dari
berkurangnya efek perubahan tekanan oksigen pada pengaturan pernapasan berlawanan dengan
yang disebabkan oleh mekanisme yang mengatur karbondioksida dan ion hidrogen. Peningkatan
ventilasi yang benar-benar terjadi bila PO2 turun mengeluarkan karbondioksida dari darah dan
oleh karena itu mengurangi tekanan PCO2, pada waktu yang sama konsentrasi ion hidrogen juga
menurun. Berbagai keadaan yang menurunkan transpor oksigen dari paru ke jaringan termasuk
anemia, dimana jumlah total hemoglobin yang berfungsi untuk membawa oksigen berkurang,
keracunan karbondioksida, sehingga sebagian besar hemoglobin menjadi tidak mampu
mengangkut oksigen, dan penurunan aliran darah ke jaringan dapat di sebabkan oleh penurunan
curah jantung atau iskemi lokal jaringan.1
Perubahan tegangan oksigen dan karbondioksida serta perubahan konsentrasi intraeritrosit dari
komponen fosfat organik, terutama asam 2,3 bifosfat (2,3-BPG) men yebabkan pergeseran kurva
disosiasi oksigen. Bila hasil hipoksia sebagai akibat gagal pernapasan, PaCO2 biasanya
meningakat, dan kurva disosiasi oksigen bergeser ke kanan. Dalam kondisi ini, persentase
saturasi hemoglobin dalam darah arteri pada kadar penurunan tegangan okmsigen alveolar
(PaO2) yang diberikan. Akibat dari hipoksia, terjadinya perubahan pada sistem syaraf pusat.
Hipoksia akaut akan menyebabkan gangguan judgement, inkoordinasi motorik dan gambaran
klinis yang mempunyai gambaran pada alkoholisme akut. Kalau keadaan hipoksia berlangsung
lama mengakibatkan gejala keletihan, pusing, apatis, gangguan daya konsentrasi, kelambatan
waktu reaksi dan penurunan kapasitas kerja. Begitu hipoksia bertambah parah pusat batang otak
akan terkena, dan kematian biasanya disebabkan oleh gagal pernapasan. Bila penurunan PaO2
disertai hiperventilasi dan penurunan PaCO2, resistensi serebro-vasculer meningkat, aliran darah
serebral meningkat dan hipoksia bertambah.2
Pengaruh hipoksia stagnant tergantung pada jaringan yang dipengaruhi. Pada hipoksia, otak
dipengaruhi pertama kali.3 Di otak terdapat pusat pernapasan yang merupakan sekelompok
neuron yang tersebar luas dan terletak bilateral (dari kiri ke kanan) medula oblongata dan pons.
Ada tiga kelompok neuron utama: (1) kelompok neuron pernapasan dorsal terletak di bagian
dorsal medulla, yang menyebabkan inspirasi, (2) kelompok pernapasan ventral yang terletak di

ventro lateral medulla yang menyebabkan ekspirasi atau inspirasi tergantubg pada kelompok
neuron yang dirangsang, (3) pusat pneumotaksik, terletak di bagian superior belakang pons yang
membantu kecepatan dan pola pernapasan.1 neuron-neuron kelompok pernapasan dorsal
memegang peranan penting dalam mengontrol pernapasan.
II.1 Definisi
Hipoksia adalah penurunan pemasukan oksigen ke jaringan sampai di bawah tingkat fisiologik
meskipun perfusi jaringan oleh darah memedai.4,5
II.2 Etiologi
Hipoksia dapat terjadi karena defisiensi oksigen pada tingkat jaringan akibatnya sel-sel tidak
cukup memperoleh oksigen sehingga metabolisme sel akan terganggu. Hipoksia dapat
disebabkan karena:(1) oksigenasi paru yang tidak memadai karena keadaan ekstrinsik, bisa
karena kekurangan oksigen dalam atmosfer atau karena hipoventilasi (gangguan syaraf otot), (2)
penyakit paru, hipoventilasi karena peningkatan tahanan saluran napas atau compliance paru
menurun. Rasio ventilasi perfusi tidak sama (termasuk peningkatan ruang rugi fisiologik dan
shunt fisiologik). Berkurangnya membran difusi respirasi, (3) shunt vena ke arteri (shunt dari
kanan ke kiri pada jaringan), (4) transpor dan pelepasan oksigen yang tidak memedai
(inadekuat). Hal ini terjadi pada anemia, penurunan sirekulasi umum, penurunan sirkulasi lokal
(perifer, serebral, pembuluh darah jantung), edem jaringan, (5) pemakaian oksigen yang tidak
memedai pada jaringan, misal pada keracunan enzim sel, kekurangan enzim sel karena defisiensi
vitamin B.1
Gagal pernapasan dapat akut dapat didefinisikan sebagai kurangnya PO2 dari 50 mmHg dengan
atau tanpa PCO2 lebih dari 50 mmHg. Hipoksia dapat disebabkan oleh gagal kardiovaskuler
misalnya syok, hemoglobin abnormal, penyakit jantung, hipoventilasi alveolar, lesi pirau,
masalah difusi, abnormalitas ventilasi-perfusi, pengaruh kimia misal karbonmonoksida,
ketinggian, faktor jaringan lokal misal peningkatan kebutuhan metabolisme, dimana hipoksia
dapat menimbulkan efek-efek pada metabolisme jaringan yang selanjutnya menyebabkan
asidosis jaringan dan mengakibatkan efek-efek pada tanda vital dan efek pada tingkat
kesadaran.6 Gagal napas selalu disertai hipoksia. Beberapa kasus umum gagal pernapasan
adalah: (1) syaraf pusat, segala sesuatu yang menimbulkan depresi pada pusat napas akan
menimbulkan gangguan napas misalnya obat-obatan(anestesia, narkotik, tranquiliser),trauma

kepala, radang otak, strok, neoplasma. (2) syaraf tepi:


a. Jalan napas, sumbatan jalan napas akan menganggu ventilasi dan oksigenasi, tetapi setelah
sumbatan jalan napas bebas masih tetap ada gangguan ventilasi maka harus di cari penyebab
yang lain.
b. Paru, kelainan di paru seperti radang, aspirasi, atelektasis, edem, contusio, dapat menyebabkan
gangguan napas.
c. Rongga pleura, normalnya rongga pleura kosong dan bertekanan negatif, tetapi biula sesuatu
yang menyebabkan tekanan menjadi positif seperti udara (pneumothorak), cairan (fluidothorak),
darah (hemothorak) maka paru dapat terdesak dan timbul gangguan napas.
d. Dinding dada, patah tulang iga yang multipel apalagi segmental akan menyebabkan nyeri
waktu inspirasi dan terjadinya flail chest sehingga terjadi hipoventilasi sampai atelektasis paru,
scleroderma, kyphoscoliosis.
e. Otot napas, otot inspirasi utama adalah diafragma dan interkostal eksternus. Bila ada
kelumpuhan otot-otot tersebut misal karena sisa obat pelumpuh otot, myastenia gravis, akan
menyebabkan gangguan napas. Tekanan intra abdominal yang tinggi akan menghambat gerak
diafragma.
f. Syaraf, kelumpuhan atau menurunnya fungsi syaraf yang mengnervasi otot interkostal dan
diafragma akan menurunkan kemampuan inspirasi sehingga terjadi hipoventilasi. Misalnya: Blok
subarachnoid yang terlalu tinggi, cedera tulang leher, Guillain Barre Syndrome, Poliomyelitis.
(3) Percabangan neuromuscular misalnaya otot yang relaksasi, keracunan organophospat. (4)
Post operasi misal bedah thorak, bedah abdomen.7,8
Dalam anestesi, gagal pernapasan/sumbatan jalan napas dapat disebabkan oleh tindakan operasi
itu sendiri misalnya karena obat pelumpuh otot, karena muntahan,/lendir, suatu penyakit,(koma,
stroke, radang otak), trauma/kecelakaan (trauma maksilofasial, trauma kepala, keracunan).8
II.3 Macam Hipoksia
Hipoksia di bagi dalam 4 tipe : (1) hipoksia hipoksik (anoksia anoksik), dimana PO2 darah arteri
berkurang, (2) hipoksia anemik, dimana PO2 darah arteri normal tetapi jumlah hemoglobin yang
tersedia untuk mengangkut oksigen berkurang, (3) hipoksia stagnant atau iskemik, dimana aliran
darah ke jaringan sangat lambat sehingga oksigen yang adekuat tidak di kirim ke jaringan
walaupun PO2 konsentrasi hemoglobin normal, (4) hipoksia histotoksik dimana jumlah oksigen

yang dikirim ke suatu jaringan adalah adekuat tetapi oleh karene kerja zat yang toksik sel-sel
jaringan tidak dapat memakai oksigen yang disediakan.3
II.4 Diagnosis
Setiap keluhan atau tanda gangguan respirasi hendaknya mendorong di lakukannya analisis gasgas darah arteri. Saturasi hemoglobin akan oksigen (SaO2) kurang dari 90% yang biasanya
sesuai dengan tegangan oksigen arterial (PaO2) kurang dari 60 mmHg sangat mengganggu
oksigenasi CO2 arterial (PaCO2) hingga lebih dari 45-50 mmHg mengandung arti bahwa
ventilasi alveolar sangat terganggu. Kegagalan pernapsan terjadi karena PaCO2 kurang dari
60mmHg pada udara ruangan, atau pH kurang dari 7,35 dengan PaCO2 lebih besar dari
50mmHg. Dimana daya penyampaian oksigen ke jaringan tergantung pada: (1) sistem
pernapasan yang utuh yang akan memberikan oksigen untuk menjenuhi hemoglobin, (2) kadar
hemoglobin, (3) curah jantung dan microvascular, (4) mekanisme pelepasan oksihemoglobin.9
II.5Patofisiologi
Pada keadaan dengan penurunan kesadaran misalnya pada tindakan anestesi, penderita trauma
kepal/karena suatu penyakit, maka akan terjadi relaksasi otot-otot termasuk otot lidah dan
sphincter cardia akibatnya bila posisi penderita terlentang maka pangkal lidah akan jatuh ke
posterior menutup orofaring, sehingga menimbulkan sumbatan jalan napas. Sphincter cardia
yang relaks, menyebabkan isi lambung mengalir kembali ke orofaring (regurgitasi). Hal ini
merupakan ancaman terjadinya sumbatan jalan napas oleh aspirat yang padat dan aspirasi
pneumonia oleh aspirasi cair, sebab pada keadaan ini pada umumnya reflek batuk sudah
menurun atau hilang.
Kegagalan respirasi mencakup kegagalan oksigenasi maupun kegagalan ventilasi. Kegagalan
oksigenasi dapat disebabkan oleh: (1) ketimpangan antara ventilasi dan perfusi. (2) hubungan
pendek darah intrapulmoner kanan-kiri. (3) tegangan oksigen vena paru rendah karena inspirasi
yang kurang, atau karena tercampur darah yang mengandung oksigen rendah. (4) gangguan
difusi pada membran kapiler alveoler. (5) hipoventilasi alveoler. Kegagalan ventilasi dapat
terjadi bila PaCO2 meninggi dan pH kurang dari 7,35. Kegagalan ventilasi terjadi bila minut
ventilation berkurang secara tidak wajar atau bila tidak dapat meningkat dalam usaha
memberikan kompensasi bagi peningkatan produksi CO2 atau pembentukan rongga tidak
berfungsi pada pertukaran gas (dead space). Kelelahan otot-otot respirasi /kelemahan otot-otot

respirasi timbul bila otot-otot inspirasi terutama diafragma tidak mampu membangkitkan tekanan
yang diperlukan untuk mempertahankan ventilasi yang sudah cukup memadai. Tanda-tanda awal
kelelahan otot-otot inspirasi seringkali mendahului penurunan yang cukup berarti pada ventilasi
alveolar yang berakibat kenaikan PaCO2. Tahap awal berupa pernapasan yang dangkal dan cepat
yang diikuti oleh aktivitas otot-otot inspirasi yang tidak terkoordinsiberupa alterans respirasi
(pernapasan dada dan perut bergantian), dan gerakan abdominal paradoxal (gerakan dinding
perut ke dalam pada saat inspirasi) dapat menunjukan asidosis respirasi yang sedang mengancam
dan henti napas.9
Jalan napas yang tersumbat akan menyebabkan gangguan ventilasi karena itu langkah yang
pertama adalah membuka jalan napas dan menjaganya agar tetap bebas. Setelah jalan napas
bebas tetapi tetap ada gangguan ventilasi maka harus dicari penyebab lain.penyebab lain yang
terutama adalah gangguan pada mekanik ventilasi dan depresi susunan syaraf pusat. Untuk
inspirasi agar diperoleh volume udara yang cukup diperlukan jalan napas yang bebas, kekuatan
otot inspirasi yang kuat, dinding thorak yang utuh, rongga pleura yang negatif dan susunan
syaraf yang baik.Bila ada gangguan dari unsur-unsur mekanik diatas maka akan terjadi
hipoventilasi yang mengakibatkan hiperkarbia dan hipoksemia. Hiperkarbia menyebabkan
vasodilatasi pembuluh darah otak yang akan meningkatkan tekanan intrakranial, yang dapat
menurunkan kesadran dan menekan pusat napas bila disertai hipoksemia keadaan akan makin
buruk. Penekanan pusat napas akan menurunkan ventilasi. Lingkaran ini harus dipatahkan
dengan memberikan ventilasi dan oksigensi. Gangguan ventilasi dan oksigensi juga dapat terjadi
akibat kelainan di paru dan kegagalan fungsi jantung. Parameter ventilasi : PaCO2 (N: 35-45
mmHg), ETCO2 (N: 25-35mmHg), parameter oksigenasi : Pa O2 (N: 80-100 mmHg), Sa O2 (N:
95-100%).8
II.6 Penatalaksanaan
Penilaian dari pengelolaan jalan napas harus dilakukan dengan cepat, tepat dan cermat. Tindakan
ditujukan untuk membuka jalan napas dan menjaga agar jalan napas tetap bebas dan waspada
terhadap keadaan klinis yang menghambat jalan napas.Penyebab sumbatan jalan napas yang
tersering adalah lidah dan epiglotis, muntahan, darah, sekret, benda asing, trauma daerah
maksilofasial. Pada penderita yang mengalami penurunan kesadaran maka lidah akan jatuh ke
belakang menyumbat hipofarings atau epiglotis jatuh kebelakang menutup rima glotidis. Dalam

keadaan seperti ini, pembebasan jalan napas dapat dilakukan tanpa alat maupun dengan
menggunakan jalan napas buatan. Membuka jalan napas tanpa alat dilakukan dengan cara Chin
lift yaitu dengan empat jari salah satu tangan diletakkan dibawah rahang ibu jari diatas dagu,
kemudian secara hati-hati dagu diangkat ke depan. Bila perlu ibu jari dipergunakan untuk
membuka mulut/bibir atau dikaitkan pada gigi seri bagian bawah untuk mengangkat rahang
bawah. Manuver Chin lift ini tidak boleh menyebabkan posisi kepala hiperekstensi. Cara Jaw
Thrust yaitu dengan mendorong angulus mandibula kanan dan kiri ke depan dengan jari-jari
kedua tangan sehingga barisan gigi bawah berada di depan barisan gigi atas, kedua ibu jari
membuka mulut dan kedua telapak tangan menempel pada kedua pipi penderita untuk
melakukan immobilisasi kepala. Tindakan jaw thrust buka mulut dan head tilt disebut airway
manuver.8
Jalan napas orofaringeal. Alat ini dipasang lewat mulut sampai ke faring sehingga menahan lidah
tidak jatuh menutup hipofarings. Jalan napas nasofaringeal. Alat di pasang lewat salah satu
lubang hidung sampai ke faring yang akan menahan jatuhnya pangkal lidah agar tidak menutup
hipofaring. Untuk sumbatan yang berupa muntahan, darah, sekret, benda asing dapat dilakukan
dengan menggunakan alat penghisap atau suction. Ada 2 macam kateter penghisap yang sering
digunakan yaitu rigid tonsil dental suction tip atau soft catheter suction tip. Untuk menghisap
rongga mulut dianjurkan memakai yang rigid tonsil/dental tip sedangkan untuk menghisap lewat
pipa endotrakheal atau trakheostomi menggunakan yang soft catheter tip. Jangan menggunakan
soft catheter tip lewat lubang hidung pad penderita yang den gan fraktur lamina cribosa karena
dapat menembus masuk rongga otak. Harus diperhatikan tata cara penghisapan agar tidak
mendapatkan komplikasi yang dapat fatal. Benda asing misalnya daging atau patahan gigi dapat
dibersihkan secara manual dengan jari-jari. Bila terjadi tersedak umumnya nyantoldidaerah
subglotis, dicoba dulu dengan cara back blows, abdominal thrust.
PERSIAPAN SEBELUM TERJUN PAYUNG

Sebelum melakukan terjun payung pastikan kondisi kesehatan betul-betul prima


Jangan anggap remeh influenza karena bisa mengakibatkan telinga budek serta berpengaruh

terhadap konsentrasi
Hindari mengonsumsi obat-obatan terutama antihistamin karena bisa berakibat melambatnya

reaksi
Istirahat yang cukup dan hindari mengonsumsi minuman beralkohol

Jangan pernah menggunakan pakaian yang bisa membatasi gerakan


Jangan memakai sandal atau sepatu yang terbuka
Harus selalu menggunakan pakaian ternyaman dan sepatu running
Hindari merokok
Hindari mengonsumsi alkohol dan obat-obatan (termasuk histamine antagonists, sedatives,

dan analgesics)
Anemia, karbon monoksida, kelelahan dan kegelisahan dapat mengakibatkan semua
pelompat menjadi lebih rentan terhadap Hypoxia dan bisa menyebabkan pingsan di udara dan

membahayakan dalam proses pembukaan parasut


Otot bisa tegang atau keram selama melakukan manuver-manuver tertentu dan gerakan jatuh
yang tidak terkontrol Untuk mengurangi kemungkinan keram otot, lakukan berberapa hal

untuk membuat otot relaks:


- Gerakkan perlahan-lahan anggota tubuh
- Regangkan / pijat semua otot agar relaks
Cat :
- Otot dingin lebih rentan cedera. Hindari cedera dengan memahami keterbatasan
tubuh.
Resiko lain adalah dari rendahnya suhu Ambient lazim di altitudes tinggi. Pelompat yang
mungkin dihadapi subzero temperatur dan dapat mengalami radang dingin untuk
pencegahan : HALO jumper memakai Polypropylene undergarments dan baju hangat

DYSBARISM

Adalah sindroma klinis yang disebabkan oleh perbedaan tekanan atmosfer sekeliling dan
tekanan gas total pada berbagai jaringan, cairan dan rongga dalam tubuh, kecuali Hipoksia
(dorland)
Rongga dalam tubuh:
-

Sinus paranasalis
Cavum tympani
Saluran pencernaan yang bermuara di mulut dan anus
Paru-paru, saluran yang nermuara pada hidung dan mulut
Gigi-gigi berlubang

Dysbarism dibagi menjadi dua golongan, yaitu :

1. Sebagai akibat pengembangan gas-gas dalam rongga tubuh.


Golongan ini sering juga disebut : pengaruh mekanis pengembangan gas-gas dalam
rongga tubuh atau pengaruh mekanis akibat perubahan tekanan sekitar tubuh.
2. Sebagai akibat penguapan gas-gas yang terlarut dalam tubuh. Kelompok ini kadangkadang juga disebut penyakit dekompresi, sehingga kadang-kadang mengaburkan
pengertian penyakit dekompresi yang digunakan orang untuk istilah pengganti
dysbarism.

Pengaruh Mekanis Gas-gas dalam Rongga Tubuh


Berubahnya tekanan udara di luar tubuh akan mengganggu keseimbangan tekanan antara
rongga tubuh yang mengandung gas dengan udara di luar. Hal ini akan berakibat timbulnya rasa
sakit sampai terjadinya kerusakan organ-organ tertentu. Rongga tubuh yang mengandung gas
adalah :
1. Traktus Castro Intestinalis
Gas-gas terutama berkumpul dalam lambung dan usus besar. Sumber gas-gas
tersebut sebagian besar adalah dani udara yang ikut tertelan pada waktu makan dan
sebagian kecil timbul dari proses pencernaan, peragian atau pembusukan (dekomposisi
oleh bakteri). Gas-gas tersebut terdiri dani O,CO2, metan, H, S dan N2 (bagian terbesar).
Apabila ketinggian dicapai dengan perlahan, maka perbedaan antara tekanan udara di luar
dan di dalam tidak begitu besar sehingga pressure equalisation yaitu mekanisme
penyamanan tekanan berjalan dengan lancar dengan jalan kentut atau melalui mulut.
Gejala-gejala yang dirasakan adalah ringan yaitu rasa tidak enak (discomfort)
pada perut. Sebaliknya apabila ketinggian dicapai dengan cepat atau terdapat halangan
dalam saluran pencernaan maka pressure equalisation tidak berjalan dengan lancan,
sehingga gas-gas sukar keluar dan timbul rasa discomfort yang lebih berat. Pada
ketinggian di atas 25.000 kaki timbul rasa sakit perut yang hebat; sakit perut ini secara
reflektoris dapat menyebabkan turunnya tekanan darah secara drastis, sehingga jatuh
pingsan.
Tindakan preventif agar tidak banyak terkumpul gas dalam saluran pencernaan, meliputi :
a) Dilarang minum bir, air soda dan minuman lain yang mengandung gas CO2
sebelum terbang.

b) Makanan yang dilarang sebelum terbang adalah bawang merah, bawang putih,
kubis, kacang-kacangan, ketimun, semangka dan chewing gum.
c) Tidak dibenarkan makan dengan tidak teratur, tergesa-gesa dan sambil bekerja.
Tindakan regresif bila gejala sudah timbul, adalah :
a) Ketinggian segera dikurangi sampai gejala-gejala ini hilang.
b) Diusahakan untuk mengeluarkan udara dani mulut atau kentut
c) Banyak mengadakan gerakan.
2. Telinga
Bertambahnya ketinggian akan menyebabkan tekanan dalam telinga tengah
menjadi lebih besar dari tekanan di luar tubuh, sehingga akan terjadi aliran udara dani
telinga tengah ke luar tubuh melalui tuba Eustachii. Bila bertambahnya ketinggian terjadi
dengan cepat, maka usaha mengadakan keseimbangan tidak cukup waktu; hal ini akan
menyebabkan rasa sakit pada telinga tengah karena teregangnya selaput gendang, bahkan
dapat merobekkan selaput gendang. Kelainan ini disebut aerotitis atau barotitis. Kejadian
serupa dapat terjadi juga pada waktu ketinggian berkurang, bahkan lebih sering terjadi
karena pada waktu turun tekanan di telinga tengah menjadi lebih kecil dari tekanan di
luar sehingga udara akan mengalir masuk telinga tengah, sedang muara tuba eustachii di
tenggorokan biasanya sering tertutup sehingga menyukarkan aliran udara.
Bila ada radang di tenggorokan lubang tuba Eustachii makin sempit sehingga
lebih menyulitkan aliran udana melalui tempat itu; hal ini berarti kemungkinan terjadinya
banotitis menjadi lebih besar. Di samping itu pada waktu turun udara yang masuk ke
telinga tengah akan melalui daerah radang di tenggorokan, sehingga kemungkinan infeksi
di telinga tengah sukar dihindarkan.
Tindakan preventif terhadap kelainan ini adalah :
a) Mengurangi kecepatan naik maupun kecepatan turun, agar tidak terlalu besar
selisih tekanan antana udana luan dengan telinga tengah.
b) Menelan ludah pada waktu pesawat udana naik agar tuba Eustachii terbuka dan
mengadakan gerakan Valsava pada waktu pesawat turun. Gerakan Valsava adalah
menutup mulut dan hidung kemudian meniup dengan kuat.
c) Melarang terbang para awak pesawat yang sedang sakit saluran pernapasan
bagian atas.
d) Penggunaan pesawat udana dengan pressurized cabin.
Tindakan represif pada kelainan ini adalah :
a) Bila terjadinya pada waktu naik, dilakukan :

1) Berhenti naik dan datar pada ketinggian tersebut sambil menelan ludah
berulang-ulang sampai hilang gejalanya.
2) Bila dengan usaha tadi tidak berhasil, maka pesawat diturunkan kembali
dengan cepat sampai hilangnya rasa sakit tadi.
b) Bila terjadi pada waktu turun, dilakukan :
1) Berhenti turun dan datar sambil melakukan Valsava berulang sampai gejalanya
hilang.
2) Bila usaha di atas tidak berhasil, pesawat dinaikkan kembali sampai rasa sakit
hilang, kemudian datar lagi untuk sementara. Bila rasa sakit sudah hilang
sama sekali, maka pesawat diturunkan perlahan-lahan sekali sambil
melakukan gerakan Valsava . terus menerus. .
3. Sinus Paranasalia
Muara sinus paranasalis ke rongga hidung pada umumnya sempit. Sehingga bila
kecepatan naik atau turun sangat besar, maka untuk penyesuaian tekanan antara rongga
sinus dan udara luar tidak cukup waktu, sehingga akan timbul rasa sakit di sinus yang
disebut aerosinusitis. Karena sifat sinus paranasalis yang selalu terbuka, maka
aerosinusitis ini dapat terjadi pada waktu naik maupun turun dengan prosentase yang
sama. Pada keadaan radang saluran pernapasan bagian atas, kemungkinan terjadinya
aerosinusitis makin besar. Aerosinusitis ini lebih jarang bila dibandingkan dengan
aerotitis, karena bentuk saluran penghubung dengan udara luar.
4. Gigi
Pada gigi yang sehat dan normal tidak ada rongga dalam gigi, tetapi pada gigi
yang rusak kemungkinan terjadi kantong udara dalam gigi besar sekali. Dengan
mekanisme seperti pada proses aerotitis dan aerosinusitis di atas, pada kantong udara di
gigi yang rusak ini dapat pula timbul rasa sakit. Rasa sakit ini disebut aerodontalgia.
Patofisiologi aerodontalgia ini masih belum jelas.

Pengaruh Penguapan Gas yang Larut dalam Tubuh


Dengan berkurangnya tekanan atmosfer bila ketinggian bertambah, gas-gas yang tadinya
larut dalam sel dan jaringan tubuh akan keluar sebagian dari larutannya dan timbul sebagai

gelembung-gelembung gas sampai tercapainya keseimbangan baru. Mekanismenya adalah sesuai


dengan Hukum Henry. Pada kehidupan sehari-hari peristiwa ini dapat dilihat pada waktu kita
membuka tutup botol yang bersisi limun, air soda atau bir yaitu timbul gelembung-gelembung
gas. Gelembung-gelembung gas yang timbul dalam tubuh manusia bila tekanan atmosfer
berkurang sebagian besar terdiri dari gas N2. Gejala-gejala pada penerbang baru timbul pada
ketinggian 25.000 kaki. Semakin cepat ketinggian bertambah, semakin cepat pula timbul gejala.
Pada ketinggian di bawah 25.000 kaki gas N2masih sempat dikeluarkan oleh tubuh melalui
paru-paru. Gas tersebut diangkut ke paru-paru oleh darah dari scl-sel maupun jaringan tubuh.
Timbulnya gelembung-gelembung ini berhenti bila sudah terdapat keseimbangan antara tekanan udara di dalam dan tekanan udara di luar. Hal ini dapat di-mengerti dengan mengingat
Hukum Henry dan Hukum Graham. Gelembung-gelembung ini memberikan gejala karena uraturat saraf di dekatnya tertekan olehnya, di samping itu tertekan pula pembuluh-pembuluh darah
kecil di sekitarnya. Menurut sifat dan lokasinya, gejala-gejala ini terdiri atas :
1) Bends
Bends adalah rasa nyeri yang dalam dan terdapat di sendi serta dirasakan terus-menerus,
dan umumnya makin lama makin bertambah berat. Akibatnya penerbang atau awak pesawat tak
dapat sama sekali bergerak karena nyerinya. Sendi yang terkena umumnya adalah sendi yang
besar seperti sendi bahu, sendi lutut, di samping itu juga sendi yang lebih kecil seperti sendi
tangan, pergelangan tangan dan pergelangan kaki, tetapi lebih jarang.
2) Chokes
Chokes adalah rasa sakit di bawah tulang dada yang disertai dengan batuk kering yang
terjadi pada penerbangan tinggi, akibat penguapan gas nitrogen yang membentuk gelembung di
daerah paru-paru. Chokes lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan bends, tetapi bahayanya
jauh lebih besar, karena dapamenganqam jiwa penerbang.
3) Gejala-gejala pada kulit
Gejala-gejala pada kulit adalah perasaan seperti ditusuk-tusuk dengan jarum, gatal-gatal,
rasa panas dan dingin, timbul bercak kemerah-merahan dan gelembung-gelembung pada kulit.
Gejala-gejala ini tidak memberikan gangguan yang berat, tetapi merupakan tanda bahaya atau
tanda permulaan akan datangnya bahaya dysbarism yang lebih berat.
4) Kelainan pada sistem syaraf

Jarang sekali terjadi dan bila timbul mempunyai gambaran dengan variasi yang besar
yang kadang-kadang saja memberikan komplikasi yang berat. Yang sering diketemukan adalah
kelainan penglihatan dan sakit kepala yang tidak jelas lokasinya. Dapat pula timbul kelumpuhan
sebagian (parsiil), kelainan peng-inderaan, dan sebagainya

PENYAKIT DEKOMPRESI
Definisi
Berbagai mekanisme faal akibat pengembangan gas yang timbul karena turunnya tekanan
barometer

Pengaruh Penurunan Tekanan Barometrik


1. pengembangan gas terperangkap
Saat pesawat terbang naik, gas bebas yang biasa terdapat dalam rongga tubuh mengembang.
Bila gas yang mengembang terperangkap karena bentuk anatomik dan kondisi fisiologi,
tekanan dalam rongga tubuh akan lebih tinggi daripada lingkungan luar sehingga timbul rasa
sakit. Pengembangan gas yang terjadi di rongga ini dapat menimbulkan rasa sakit di perut,
sakit di telinga, sakit di sinus, dan sakit gigi
2. penguapan gas
Volume gas inert yang tidak ikut metabolisme di dalam jaringan tubuh terutama nitrogen
adalah seimbang dengan tekanan parsial gas itu di atmosfer. Bila tekanan barometer mengecil
maka tekanan parsial gas dalam atmosfer juga turun sehingga gas tersebut dalam tubuh
mengalami supersaturasi sementara. Sebagai tanggapan terhadap supersaturasi ini tubuh
berusaha untuk membuat keseimbangan baru dengan jalan mengirim kelebihan gas tadi ke
darah vena menuju paru. Bila supersaturasi ini tidak dapat teratasi dengan jalan sirkulasi vena
maka akan timbul gelembung udara dalam jaringan yang dikenal dengan aeroembolisme

Mekanisme Gangguan Karena Pengaruh Penurunan Tekanan Barometrik

1. gas terperangkap dalam traktus digestivus


Efek penurunan tekanan atmosfer yang cepat yang sering dialami adalah rasa tidak enak yang
terjadi karena pengembangan gas dalam traktus digestivus. Untungnya gejala ini tidak terlalu
berat bagi beberapa orang pada ketinggian yang rendah atau sedang. Pada ketinggian di atas
25000 kaki dapat terjadi pengembangan gas yang demikian hebatnya sehingga menimbulkan
rasa sakit bahkan dapat terjadi refleks yang menurunkan tekanan darah dan pingsan.
Lambung, usus besar, dan usus kecil biasanya mengandung gas yang berbeda-beda
jumlahnya. Umumnya lebih banyak gas di dalam lambung dan usus besar daripada di dalam
usus kecil. Sumber gas yang utama adalah menelan udara dan dalam jumlah kecil gas berasal
dari hasil pencernaan, fermentasi, dekomposisi bakterial, dan hasil pembusukan sisa
makanan yang mengalami pencernaan.
Gas-gas dalam lambung dan usus berkembang sesuai dengan ketinggian, menimbulkan rasa
tidak enak dan akan berkurang atau sembuh bila gas yang berlebih itu dikeluarkan melalui
mulut ( belching ) atau melalui anus ( flatus ). Pada ketinggian yang sangat tinggi dengan
bernapas dengan tekanan, gas dalam lambung dapat mempengaruhi pernapasan karena
menekan diafragma ke atas.
Mekanisme rasa sakit gastrointestinal pada ketinggian tidak hanya bergantung pada isi
pengembangan mutlak atau tempat gas saja. Pada penelitian fial didapatkan bahwa kepekaan
usus kecil sangat menentukan. Akibatnya seorang merasakan akibat pengembangan gas yang
berbeda-beda tergantung pada berbagai faktor seperti kelelahan, perasaan, emosi, dan
keadaan fisik umum. Meskipun pembentukan gas dari makanan mungkin dapat memberikan
pengaruh langsung pada timbulnya rasa sakit pada perut waktu terbang tinggi, tetapi ada
makanan tertentu yang menyebabkan perubahan kepekaan traktus intestinalis terhadap
pengembangan gas.
Pencegahan rasa sakit abdominal yang dilakukan awak pesawat yang selalu ikut terbang
tinggi secara teratur biasanya dengan pengaturan diet yang menghindari makanan dan
minuman yang meningkatkan dan memproduksi gas di dalam traktus digestivus. Perlu
diperhatikan kebiasaan makan dalam kaitannya dengan rasa sakit abdominal pada terbang

tinggi karena makan tidak teratur, makan tergesa-gesa, dan makan waktu bekerja
menyebabkan orang menjadi lebih peka terhadap rasa sakit akibat pengembangan gas.
2. gas terperangkap yang menimbulkan efek pada telinga, sinus, dan gigi
Pada waktu terbang naik, udara dalam telinga tengah biasanya keluar tanpa kesulitan melalui
tuba Eustachius dan tekanan dibebaskan dari sinus paranasalis ke dalam kavum nasi.
Mempertahankan tekanan telinga tengah selalu sama dengan lingkungan luar lebih sulit pada
waktu terbang turun. Sinus dan gigi mungkin akan menerima pengaruh yang sama baik
waktu terbang naik maupun terbang turun.
3. penguapan gas inert
Fenomena penguapan gas yang dikenal sebagai emboli udara, penyakit dekompresi, bends,
dan aeroemphysema adalah suatu keadaan yang dialami dalam penerbangan sebagai akibat
langsung dari penurunan tekanan atmosfer. Gas yang larut dalam cairan tubuh pada tekanan
di permukaan laut dilepaskan dari larutan dan masuk ke dalam status gas lagi jika tekanan di
sekitarnya diturunkan.

Etiologi
Secara empiris penyakit dekompresi disebabkan oleh supersaturasi nitrogen. Hal ini
berhubungan dengan tidak cukupnya waktu untuk membuang gas yang berlebihan ke paru
dimana terjadi difusi menuju ke udara luar sehingga gas nitrogen membentuk gelembung di
jaringan dan di darah.

Epidemiologi
Penyakit dekompresi bervariasi dalam frekuensi kejadian dan berat ringannya tergantung pada
faktor-faktor berikut
1. ketinggian, lama di ketinggian, dan kecepatan naik
semakin tinggi, semakin lama di ketinggian, dan semakin cepat naik ke ketinggian
menyebabkan semakin tinggi insiden penyakit dekompresi dan semakin berat derajat
penyakit.
2. kegiatan fisik

semakin banyak kegiatan fisik cenderung menyebabkan semakin mudah mengalami penyakit
dekompresi.
3. umur dan bentuk badan
semakin tua dan semakin tinggi IMT menyebabkan semakin tinggi insiden penyakit
dekompresi
4. kepekaan individual
kepekaan individu yang berbeda-beda menyebabkan insiden penyakit dekompresi yang
berbeda berdasarkan kepekaan individu tersebut.

Tanda dan Gejala


1. bends
rasa sakit di dalam dan di sekitar sendi yang bervariasi mulai dari rasa nyeri ringan
hingga rasa perih, dan rasa tertusuk.
2. chokes
gejala yang timbul dalam dada mungkin disebabkan sebagian oleh sumbatan pembuluh
darah kapiler paru oleh gelembung udara. Keluhan yang dirasakan adalah rasa seperti
terbakar di bawah tulang dada, rasa menusuk pada saat menarik nafas dalam, nafas cepat
dan dangkal, batuk, dan muncul sianosis.
3. gejala kulit
parestesi, rasa gatal, rasa dingin, dan rasa hangat di kulit diduga disebabkan oleh
pembentukan gelembung di tempat itu atau sistem saraf pusat yang mempersarfi tempat
yang terserang di kulit
4. gejala neurologi
timbul gangguan penglihatan sementara dan rasa sakit kepala. Hal lain yang dirasakan
adalah paralisis sebagian, gangguan sensoris, dan afasia.
5. gejala sirkulasi
shock pada derajat penyakit yang berat yang diawali dengan pucat, keringat dingin,
perubahan denyut nadi, rasa mual, dan muntah

Patofisiologi
peningkatan ketinggian
penurunan tekanan barometer
peningkatan volume gas inert

peningkatan konsentrasi gas inert dalam jaringan yang sementara


supersaturasi sementara

tubuh berusaha membuat keseimbangan baru dengan mengirim kelebihan gas ke vena dan
volume gas yang berlebih keluar secara difusi melalui paru-paru

(gagal)
disebabkan oleh
ketidakcukupan waktu untuk membuat keseimbangan baru antara lingkungan internal tubuh dan
lingkungan eksternal tubuh

aeroembolisme

bends
chokes
gejala kulit
gejala neurologi
gejala sirkulasi

BAROTITIS
DEFINISI
Barotitis Media (Aerotitis, Barotrauma) adalah
gangguan telinga yang terjadi akibat perubahan
tekanan udara di telinga luar dan telinga tengah yang
dipisahkan oleh gendang telinga. Gendang telinga
merupakan pemisah antara saluran telinga dan
telinga tengah. Jika tekanan udara di dalam saluran
telinga dan tekanan udara di dalam telinga tengah
tidak sama, maka bisa terjadi kerusakan pada
gendang telinga.
Dalam keadaan normal, tuba eustakius (yang merupakan penghubung antara telinga tengah dan
hidung bagian belakang) membantu menjaga agar tekanan di kedua tempat tersebut tetap sama
dengan cara membiarkan udara dari luar masuk ke telinga tengah atau sebaliknya.
PENYEBAB
Penyebab terjadinya barotrauma adalah penyumbatan pada tuba eustakius. Jika tuba eustakius
mengalami penyumbatan sebagian maupun penyumbatan total akibat adanya jaringan parut,
infeksi atau alergi, maka udara tidak akan sampai ke telinga tengah dan terjadilah perbedaan
tekanan.
Faktor resiko terjadinya barotrauma adalah:

Perubahan ketinggian : misalnya penerbangan, menyelam atau bepergian ke daerah


pegunungan.

Hidung tersumbat akibat alergi, pilek atau infeksi saluran nafas atas.

GEJALA
Penderita akan merasakan nyeri pada salah satu atau kedua telinganya, yang disertai dengan
hilangnya pendengaran yang sifatnya ringan. Penderita juga merasakan telinganya penuh dan
pusing. Jika keadaannya berat atau berlangsung lama maka ketulian bisa bertambah berat,
penderita merasakan adanya tekanan di dalam telinganya dan mungkin akan terjadi
perdarahan hidung.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Pada pemeriksaan telinga dengan
otoskop akan tampak penggembungan ringan atau retraksi (tarikan ke dalam) pada gendang
telinga.

PENGOBATAN
Jika selama mengikuti penerbangan perubahan tekanan yang terjadi secara tiba-tiba
menyebabkan rasa penuh atau nyeri di telinga, maka untuk menyamakan tekanan di telinga
tengah dan mengurangi rasa nyeri bisa diatasi dengan:

menguap

mengunyah permen karet

mengisap permen

menelan.
Mengunyah atau menelan bisa membantu membuka tuba eustakius sehingga udara

bisa keluar-masuk untuk menyamakan tekanan dengan udara luar. Penderita infeksi atau
alergi hidung dan tenggorokan bisa mengalami rasa nyeri ketika bepergian dengan pesawat
terbang atau menyelam. Untuk meringankan penyumbatan dan membantu membuka tuba

eustakius bisa diberikan dekongestan, misalnya penilefrin dalam bentuk tetes hidung atau
obat semprot.

PENCEGAHAN
Gunakan dekongestan atau antihistamin sebelum mengalami perubahan ketinggian. Selama
menderita infeksi saluran nafas atas atau selama serangan alergi sebaiknya tidak mengikuti
penerbangan, menyelam atau bepergian ke daerah dengan ketinggian yang berbeda.

PENYAKIT LAIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERJUNAN

Hipotermia
Rendahnya suhu ambient lazim terutama pada altitude tinggi dapat menyebabkan
penurunan suhu tubuh, namun biasanya hal ini sudah diantisipasi dengan mengenakan pakaian
tebal dan hangat, terbuat dari polypropylene undergarment dan dari bahan rajutan yang hangat.

Hipoksia
Dapat terjadi dan membahayakan bila kondisi penerjun yang mengkonsumsi rokok,
alcohol, dan obat-obatan (anti histamin, sedatif, dan analgesik), juga pada penderita anemia,
orang yang sering terpapar CO, dan yang sedan mengalami kelelahan. Orang-orang ini rentan
terhadap hipoksia dan dapat menyebabkan pngsan dan sesak napas, terutama pada penerjun
HALO (High Altitude Low Opening) dan HAHO (High Altitude High Opening).

1) HAHO Jump & 2) HALO Jump


Perdarahan Intra Kranial
Dapat terjadi jika penerjun berada dalam posisi tegak dengan kaki di bawah dalam waktu
tertentu. Dalam posisi tersebut akan bekerja Gaya G-negatif dimana terjadi sentrifugasi ke
kepala sehingga terjadi penumpukan darah di pembuluh darah otak, akibatnya tekanan intra
kranial pun meningkat dan penerjun akan merasa sangat sakit kepala. Jika ini terjadi terus
menerus dapat terjadi pecah pembuluh darah otak

Fraktur
Biasanya dikarenakan cara mendarat yang tidak benar, sehingga tulang dan sendi-sendi
kaki tidak siap menerima beban langsung saat membentur tanah. Seharusnya pada saat kaki
menyentuh tanah penerjun dalam keadaan berusaha berlari agar beban bentuan langsung
dialihkanke kaki lainnya secara bergantian. Dapat juga terjadi karena parasut tidak membuka
dengan baik atau tidak membuka sama sekali.sehingga anggota tubuh membentur tanah langsung
dengan kecepatan jatuh yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton, 1994.,Pernapasan, Pengangkutan Oksigen dan Karbondioksida di dalam Darah dan


Cairan Tubuh,Pengaturan Pernapasan, hal: 181-207, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, ed.7,
Bag.II, Cet.I., EGC, Jakarta.
2. Kurt J.I et all, 1999.,Hipoksia, Polisitemia dan Sianosis, hal: 208-212, Horrison, Prinsipprinsip Ilmu Penyakit Dalam, Vol. I, EGC, Jakarta.
3. Ganong M.D., 1988, Penyesuaian Pernapasan Pada Orang Sehat dan Sakit, Hipoksia, hal:
586-597,Fisiologi Kedokteran,ed.10,Cet.IV,EGC, Jakarta
4. Rima dkk., 1996, Hipoksia, Kamus Kedokteran Dorlan, hal: 898, cet.II, EGC, Jakarta.
5. Sylvia A.P., Lorraine M.W., 1995, Tanda dan Gejala Penyakit Pernapasan, Hiperkapnea dan
Hipokapnea, hal: 685, Fisiologis Proses-proses Penyakit, ed. 4, Buku II, EGC, Jakarta.
6. Carolyn M.H., Barbara M.G., 1995, Gagal Pernapasan Akut, hal: 563, Keperawatan Kritis,
Pendekatan Holistik, ed.VI, Vol. I, EGC, Jakarta.