Anda di halaman 1dari 2

BAB III

PEMBAHASAN
Dari anamnesis diketahui bahwa pasien Ny. R, 64 tahun datang dengan terdapat benjolan
keluar dari vagina sejak tahun 2004, setelah melahirkan anak ke 6. Benjolan muncul saat
beraktivitas, berjalan dan berdiri, awalnya kecil. 2 tahun kemudian makin menonjol dan besar..
BAK/BAB dalam batas normal,. Tak Terdapat riwayat perdarahan dan flek-flek dari kemaluan
sebelumnya.
Pada pemeriksaaan fisik didapatkan generalis dalam batas normal, termasuk tak terdapat
nyeri tekan suprapubik. Pada status ginekologis ditemukan tampak massa uterus keluar sebagian
dari introitus vagina, prolaps uteri grade III, sistokel grade III, rektokel grade I, erosif (+) portio
arah jam 8. Pada vaginal touche uterus kesan mengecil, massa adneksa -/-, nyeri tekan -/-,
parametrium teraba kaku di daerah forniks posterior. Pada pemeriksaan penunjang, laboratorium
darah dalam batas normal.
Adanya keluhan peranakan turun pada pasien ini dipikirkan sebagai prolaps organ pelvis..
Organ yang prolaps melalui vagina bisa merupakan uretra, vesika urinaria, uterus, atau rektum.
Akibat lemahnya ligament-ligament penyokong organ tersebut, ditambah riwayat multipara yang
mempengaruhi menurunnya fungsi ligament tersebut. Pada pemeriksaan fisik, secara inspeksi
terlihat massa yang membonjol keluar dari introitus vagina, terdapat erosif pada permukaannya.
Massa berbentuk bulat tersebut merupakan protrusi uterus yang keluar melalui introitus vagina.,
menunjukkan bahwa peningkatan tekanan intraabdominal berperan dalam menyebabkan prolaps.
Seiring proses penuaan dan menopause, terdapat penurunan kadar estrogen sehingga jaringan
pelvis kehilangan elastisitas dan kekuatannya. Kebiasaan mengangkat benda berat dan riwayat
asma pada pasien menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen sehingga menambah
penekanan pada dasar pelvis dan memperberat prolaps organ di dalamnya. Maka, etiologi yang
dipikirkan pada pasien antara lain trauma obstetrik, penurunan kadar estrogen, dan peningkatan
tekanan intraabdomen
Rencana terapi pada pasien ini sudah tepat yaitu dilakukan operasi Total Vaginal
Histerektomi (TVH) dengan Kolporafi Anterior (KA) dan Kolpoperineorafi Posterior (KP). TVH
untuk mengatasi prolapsus uteri derajat III, KA untuk mengatasi sistokel derajat III dan KP untuk

15 | P r o l a p s U t e r i

mengatasi rektokel derajat I. Tatalaksana pasca operasi pada pasien ini sudah baik, yaitu
diberikan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi.
Edukasi sangat penting pada pasien ini. Pada pasien perlu diberikan edukasi mengenai
pengendalian faktor risiko, yaitu mengurangi kebiasaan mengangkat berat, obesitas Pengendalian
terhadap faktor risiko ini sangat membantu untuk menurunkan tekanan intraabdomen yang
dianggap sebagai salah satu etiologi terjadinya prolapsus organ pelvis pada pasien ini.

16 | P r o l a p s U t e r i