Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Bumi memiliki banyak fenomena struktur geologi yang perlu diketahui oleh
manusia seperti rongga di bawah permukaan, patahan dan retakan, penentuan
kedalaman batuan dasar dan tahanan jenis (resistifitas). Untuk memberikan informasi
tentang struktur geologi di bawah permukaan bumi yang akurat diperlukan
metodologi yang dapat digunakan dalam eksplorasi geofisika.
Metode ini dilakukan melalui pengukuran beda potensial yang ditimbulkan
akibat injeksi arus listrik ke dalam bumi. Sifat-sifat suatu formasi dapat digambarkan
oleh tiga parameter dasar yaitu konduktivitas listrik, permeabilitas magnet, dan
permitivitas dielektrik. Sifat konduktivitas batuan berpori dihasilkan oleh sifat
konduktivitas dari fluida yang mengisi pori, interkoneksi ruang pori dan sifat
konduktivitas dari interfase butiran dan fluida pori. Berdasarkan pada harga
resistivitas listriknya, suatu struktur bawah permukaan bumi dapat diketahui material
penyusunnya. Metode geolistrik cukup sederhana, murah dan sangat rentan terhadap
gangguan sehingga cocok digunakan dalam eksplorasi dangkal (Ngadimin, 2001).
Geolistrik merupakan salah satu metoda geofisika yang mempelajari sifat aliran
listrik di dalam bumi dan bagaimana cara mendeteksinya di dalam bumi dan
bagaiman cara mendeteksinya di permukaan bumi. Dalam hal ini meliputi
pengukuran potensial, arus dan medan elektromagnetik yang terjadi baik secara
alamiah ataupun akibat injeksi arus ke dalam bumi. Ada beberapa macam metoda

geolistrik, antara lain : metoda potensial diri, arus telluric, magnetotelluric, IP


(Induced Polarization), resistivitas (tahanan jenis) dan lain-lain.
1.2. Maksud Dan Tujuan
Praktikum geofisika eksplorasi acara geolistrik ini diadakan dengan maksud
agar praktikan atau dapat memahami proses dari penentuan resistivitas suatu daerah
dengan metode geofisika dalam hal ini geolistrik mulai dari awal pengambilan data
sampai akhir atau hasil data.
Tujuan Praktikum geofisika eksplorasi acara geolistrik ini diadakan yaitu :
1. Mengukur potensial (V) dari tiap datum pada lintasan yang ditentukan pada
suatu daerah dengan pengukuran metode Wenner ataupun Schlumberger.
2. Mengukur kuat anus (1) dari tiap datum pada lintasan yang ditentukan pada
suatu daerah dengan pengukuran metode Wenner ataupun Schlumberger.
3. Melakukan proses pengolahan data untuk metode Wenner dan Schlumberger
sesuai prosedur yang ditentukan untuk menghasilkan nilai resistivitasnya.
4. Membuat model bawah permukaan nilai resistivitas lintasan dengan
menggunakan software yang sesuai dalam hal ini menggunakan software
Res2dinv.
1.3. Lokasi Dan Waktu Kegiatan
Praktikum geofisika eksplorasi acara geolistrik ini dilakukan pada hari Sabtu, 3
Maret 2012 pada pukul 13.00 WITA sampai dengan pukul 16.00 WITA. Adapun
lokasi pengukuran yang diambil sebagai lokasi pengukuran yaitu pada daerah sekitar
gedung TNR Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
1.4. Jadwal Kegiatan

Pengambilan data untuk pengukuran dengan menggunakan metode geolistrik


ini dilakukan selama 3 hari secara berturut-turut dengan pengambilan data 2 kali
pengambilan data dalam sehari. Lokasi pengambilan data berada disekitaran
lapangan Kampus Unhas.
1.5. Alat Dan Bahan
Alat dan bahan yang diginakan dalam Praktikum geofisika eksplorasi acara
geolistrik kali ini antara lain adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Resistivitimeter Naniura Model NRD-22S


Elektroda potensial, 2 buah
Elektroda arus, 2 buah
Kabel elektroda, 4 gulung
Kabel konektor, 6 buah
Baterai basah/kering (12 V, 15 A), 1 buah
Palu elektroda, 2 buah
Meteran, 2 gulung @ 50 m
Alat tulis menulis

BAB II
PENGUKURAN DAN PENGOLAHAN DATA

2.1. Metode Pendugaan Geolistrik


Geolistrik merupakan metode geofisika untuk menngetahui perubahan tahanan
jenis lapisan batuan di bawah permukaan tanah dengan cara mengalirkan arus listrik

DC (direct current) yang mepunyai tegangan tinggi yang ke dalam tanah. Iinjeksi
arus listrik ini mengunakan 2 elektroda arus A dan B yang ditancapkan ke dalam
tanah dengan jarak tertentu. Semakin panjang jarak elektroda AB akan menyebabkan
aliran arus listrik bisa menembus lapisan batuan lebih dalam. Dengan adanya aliran
arus listrik tersebut maka akan menimbulkan tegangan listrik di dalam tanah.
Tegangan listrik yang terjadi di permukaan tanah diukur dengan menggunakan multi
meter yang terhubung melalui 2 buah elektroda tegangan M dan N yang jaraknya
lebih pendek dari pada jarak elektroda AB.
Bila posisi jarak elektroda AB diubah menjadi lebih besar maka tegangan
listrik yang terjadi pada elektroda AB diubah menjadi lebih besar maka tegangan
listrik yang terjadi pada elektroda MN ikut berubah sesuai dengan informasi jenis
batuan yang ikut terinjeksi arus lisrik pada pada kedalaman yang lebih besar. Dengan
asumsi bahka kedalaman lapisan batuan yang bisa di tembus oleh arus lisrik ini sama
dengan separuh dari jarak AB yang bisa disebut AB/2.
Resestiviti ditentukan dari suatu tahanan jenis semu yang dihitung dari
pengukuran perbadaan potensi antar elektroda yang ditempatkan di dalam bawah
permukaan.Pengukuran suatu beda poensial antara dua elektroda seperti pada gambar
di bawah sebagai hasil dua elektroda lain pada titik C pada gambar dibawah yaitu
tahanan jenis di bawah permukaan tanah di bawah elektroda.

Siklus Elektrik Determinasi Resistivitas dan Lapangan Elektrik Untuk Stratum Homogenous
Permukaan bawah tanah

Berdasarkan asal sumber arus listrik yang digunakan, metode resistivitas dapat
dikelompokan kedalam dua kelompok yaitu (Prasetiawati, 2004):
1. Metode pasif
Metode ini menggunakan arus listrik alami yang terjadi di dalam tanah (batuan)
yang timbul akibat adanya aktivitas elektrokimia dan elektromekanik dalam materimateri penyusun batuan. Metode yang termasuk dalam kelompok ini diantaranya
Potensial Diri/Self Potensial (SP) dan Magneto Teluric (MT).
2. Metode aktif
Yaitu bila arus listrik yang diinjeksikan (dialirkan) didalam batuan, kemudian
efek potensial yang ditimbulkan arus buatan tersebut diukur di permukaan. Metode
yang termasuk kedalam kelompok ini diantaranya metode resistivity dan Induced
Polarization (IP).

Ada dua jenis penyelidikan tahanan jenis, yaitu Horizontal Profilling (HP) dan
Vertical Electrical Sounding (VES) atau penyelidikan kedalaman, dengan pembedaan
penampang anisotropis pada arah yang horisontal dan pembedaan pendugaan
anisotropis pada arah yang vertikal. Hasil profiling dan sounding sering dipengaruhi
oleh kedua variasi yang vertikal dan pada jenis formasi listrik. Distribusi vertikal dan
horisontal tahanan jenis di dalam volume batuan disebut penampang geolistrik
seperti gambar 2 (Karanth, K.R., 1987).

Horizontal Profiling

Vertical Electrical Sounding


Konfigurasi Elektroda pada Metode Wenner-Schlumberger Untuk Penampang Horizontal dan
Pendugaan Vertikal (Karanth, K.R., 1987).

Metode geolistrik lebih efektif jika digunakan untuk eksplorasi yang sifatnya
dangkal, jarang memberikan informasi lapisan di kedalaman lebih dari 1000 atau
1500 kaki. Oleh karena itu metode ini jarang digunakan untuk eksplorasi minyak
tetapi lebih banyak digunakan dalam bidang geologi teknik seperti penentuan
kedalaman batuan dasar, pencarian reservoir air, juga digunakan dalam eksplorasi
panas bumi (geothermal) (Anonim, 1991). Keunggulan secara umum adalah Harga
peralatan relatif murah, biaya survei relatif murah, waktu yang dibutuhkan relatif
sangat cepat, bisa mencapai 4 titik pengukuran atau lebih per hari, beban pekerjaan;

peralatan yang kecil dan ringan sehingga mudah untuk mobilisasi, kebutuhan
personal sekitar 5 orang, terutama untuk konfigurasi Schlumberger serta analisis data
secara global bisa langsung diprediksi saat di lapangan (Anonim, 2007a).
A. Hubungan Antara Geologi dan Resistivitas Batuan
Survai resisitivitas memberikan gambaran distribusi resistivitas bawah
permukaan. Untuk mengkonversi gambaran resistivitas bawah permukaan menjadi
sebuah gambaran geologi maka pengetahuan untuk membedakan tipe dari material
bawah permukaan dan kenampakan geologinya berdasarkan nilai resistivitasnya
sangat dibutuhkan.
Tabel dibawah memberikan nilai resistivitas dari beberapa jenis material dan
batuan. Resistivitas batuan tergantung dari derajat kekompakan dan besarnya
persentase kandungan fluids yang mengisi batuan. Bagaimanapun nilai dari
beberapa jenis batuan biasanya overlap. Hal ini disebabkan karena resistivitas
dari batuan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu, porositas batuan, derajat
saturasi dan konsentrasi garam yang terlarut.
Tabel-1. Daftar Tahanan Jenis Beberapa Batuan dan Air

B. Konfigurasi Metode Schlumberger


Prinsip konfigurasi Schlumberger idealnya jarak MN dibuat sekecil-kecilnya,
sehingga jarak MN secara teoritis tidak berubah. Tetapi karena keterbatasan
kepekaan alat ukur, maka ketika jarak AB sudah relatif besar maka jarak MN
hendaknya dirubah. Perubahan jarak MN hendaknya tidak lebih besar dari 1/5 jarak
AB seperti pada gambar 5. Kelemahan dari konfigurasi Schlumberger adalah
pembacaan tegangan pada elektroda MN adalah lebih kecil terutama ketika jarak AB
yang relatif jauh, sehingga diperlukan alat ukur multimeter yang mempunyai
karakteristik high impedance dengan mengatur tegangan minimal 4 digit atau 2 digit
di belakang koma atau dengan cara peralatan arus yang mempunyai tegangan listrik
DC yang sangat tinggi. Keunggulan konfigurasi Schlumberger adalah kemampuan
untuk mendeteksi adanya sifat tidak homogen lapisan batuan pada permukaan, yaitu
dengan membandingkan nilai resistivitas semu ketika terjadi perubahan jarak
elektroda MN/2(Anonim, 2007a).

Konfigurasi Metode Schlumberger (Anonim, 2007a).

Parameter yang diukur yaitu : jarak antara stasiun dengan elektroda-elektroda


(AB/2 dan MN/2), arus (I) dan beda potensial (V). Parameter yang dihitung yaitu :
tahanan jenis (R) dan faktor geometrik (K) (Asisten Geofisika, 2006). Faktor
geometrik (K) dapat dicari dengan formula :

Berdasarkan Sunaryo, dkk, (2003) tahanan jenis semu (a) dalam pengukuran
resistivitas secara umum adalah dengan cara menginjeksikan arus ke dalam tanah
melalui 2 elektroda arus (C1 dan C2), dan mengukur hasil beda potensial yang
ditimbulkannya pada 2 elektroda potensial (P1 dan P2). Dari data harga arus (I) dan
beda potensial (V), dapat dihitung nilai resistivitas semu (a) sebagai berikut :

Pengolahan Data Geolistrik Metode Schlumberger


Proses pengambilan data dapat dilakukan melalui 2 (dua) tahap pekerjaan
(Asisten Geofisika, 2006), yaitu:
Pekerjaan Pra- survey
Tahapan dalam pelaksanaan pra survei adalah :
1. Mencatat posisi dan ketinggian lokasi.
2. Pemetaan geologi jenis batuan dan penyebarannya (urutan stratigrafi).
3. Mendeskripsikan jenis batuan (struktur, tekstur, komposisi mineral).
Survei Lapangan
Tahapan dalam pelaksanaan survei lapangan adalah :
1. Mengukur kedalaman sumur-sumur gali (lubang bor) guna untuk
mengamati mineral-mineral yang khas dan penghantar listrik.
2. Mengukur resistivitas sebaiknya menghindari tiang listrik, aliran air
permukaan, rentangannya tegak lurus aliran air permukaan atau tiang
listrik.
3. Mendeskripsi jenis batuan (struktur, tekstur, komposisi mineral).
Selain metode Schlumberger ada beberapa metode lain. Berikut adalah metodemetode tersebut.

Konfigurasi Metode Geofisika:


Schlumberger

Wenner

Wenner-Schlumberger

Dipole-dipole

2.2. Pengukuran Geolistrik


Dalam pengukuran atau pengambilan data geolistrik metode Schlumberger
dilapangan terdapat 2 bagian yaitu :
A. Prosedur Penggunaan Restivitymeter Naniura NRD 22S
1. Memasang elektroda sesuai konfigurasi yang diimginkan menggunakan palu
untuk menancapkan elektroda ke tanah.
2. Menghubungkan elektroda arus menggunakan kabel gulung dan konektor ke
C1 dan C2 pada resistivitimeter.
3. Menghubiungkan elektroda potensial menggunakan kabel gulung dan
konektor ke P1 dan P2 resistivitimeter.
4. Menghubungkan baterai menggunakan kabel konektor ke jack input (+) dan
(-) pada resistiviti meter. Melihat jarum indicator Batt hingga menunjukkan
ke bagian merah dikanan hal ini menunjukkan baterai dalam keadaan

penuh(tegangan memadai). Jika tidak baterai perlu diisi (discharge) hingga


penuh sebelum digunakan.
5. Memutar tombol Power kekanan dari OFF menjadi ON, maka resistivitimeter
sudah dinyalakan. Melihat jarum indicator Current Loop hingga menunjuk ke
bagian merah dikanan, hal ini menunjukkan kontak elektroda dengan arus
dengan tanah dan resistivitimeter sudah cukup memadai. Jika tidak perbaiki
koneksinya tancap elektroda arus lebih dalam atau siram tanah disekitar
elektroda arus dengan air atau larutan elektrolit untuk memperbaiki kontak.
6. Memutar tombol output dari angka 0 ke angka yang dikehendaki. Makin
besar angka yang dipilih (1-6) makin besar arus yang dihasilkan.
7. Memutar Compensator Coarse kemudian Fine hingga display tegangan
V(autorange) menunjuk angka nol atau mendekati nol.
8. Menginjeksikan arus dengan menekan tombol START hingga display arus
I(mA) menunjukkan angka stabil.
9. Menekan tombol HOLD dan membaca harga arus pada display arus I(mA)
serta harga tegangan potensial pada display tegangan V(Autorange) sebagai
data pengukuran.
10. Melakukan pengukuran beberapa kali (missal 3 kali) untuk lebih meyakinkan
data hasil pengukuran, mencatat semua hasil pengukuran termasuk jarak spasi
elektroda (a, n) dalam tabel pengukuran.
11. Memindahkan posisi elektroda ke posisi pengukuran berikutnya. Melakukan
prosedur pengukuran yang sama seperti diatas (1-12) untuk mendapatkan data
dengan posisi elektroda berbeda.
12. Melakukan hal yang sama hingga seluruh data diperoleh pada tiap stasiun.

Instrumen Resistivity Meter, Naniura Model NRD 22 S (Bonjotama, W., 2007)

B. Akusisi Data Metode Konfigurasi Schlumberger

Konfigurasi Schlumberger
1. Pasang elektroda dengan jarak spasi elektroda seperti pada gambar diatas.
2. Hal ini bias dilakukan sepanjang lintasan pengukuran untuk data 2D dengan
menjadikan ujung-ujung lintasan sebgai patokan.
3. Pengubahan jarak spasi elektroda bias diubah setiap kali pengukuran atau
diselesaikan sepanjang lintasan batu dilakukan pengukuran untuk jarak spasi
elektroda yang berbeda.
2.3. Pengolahan Data
Data hasil pengukuran Geolistrik metode Schlumberger (sounding) pada daerah
Teknik Mesin Fakultas Teknik Unversitas Hasanuddin.
Lokasi

: MESIN TEKNIK UNHAS

No. Stasiun

: GX

Tanggal

Koordinat
Arah Lintasan : N 140 E
No
1

: 3-03-2012

Pengamat : Minfadliansah Sujanah Putra

MN

MN/2

AB

AB/2

(m)

(m)

(m)

(m)

0.5

1.5

Semu

(mV)

(mA)

(m)

()

( m)

63.8

28

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

1
1
4
4
4
4
10
10
10
10
20
20
20
20
30
30

0.5
0.5
2
2
2
2
5
5
5
5
10
10
10
10
15
15

6
8
10
12
16
20
30
40
50
60
80
100
120
150
200
250

3
4
5
6
8
10
15
20
25
30
40
50
60
75
100
125

35.7
19.4
92.4
55.8
30.1
15.7
20.5
10.6
6.1
4.1
6.8
4.1
1.8
1.8
1.5
0.2

27
26
35
31
31
56
29
36
27
28
38
41
29
30
37
24

18

30

15

300

150

0.2

35

Pengolahan data dengan metode konfigurasi Schlumberger yaitu dengan


tahapan sebagai berikut dikerjakan dalam Microsoft Exel dengan menggunakan
rumus-rumus sebagai berikut:
1. Menghitung faktor konfigurasi (K) dengan rumus :
K=

.(S2b2)
2b

2. Menghitung nilai R () dengan rumus :


V
R= I
3. Menghitung nilai semu dengan rumus :
V
=K I

atau =

.(S b )
2b

Data hasil perhitungan dari pengukuran Geolistrik metode Schlumberger (sounding)

Data perhitungan 1
Setelah diperoleh data seperti tabel diatas, maka dilanjutkan lagi pada olah data
untuk sheet 2 (olah data) dengan cara mengambil jarak elektroda awal-tengah-akhir,
jarak AB/2 dan semu sebanyak pengambilan data pengukuran seperti ditunjukkan
pada gambar dibawah ini.

Data perhitungan 2
Selanjutnya pada pembuatan STC (Stacking Chart) dengan mengambil nilai DP
(Datum Poin),

Kedalaman dan Jumlah lapisan sebanyak data pengambilan

pengukuran se perti pada gambar dibawah ini.

Data perhitungan 3

Setelah data-data diatas didapatkan, selanjutnya Masukkan data hasil


perhitungan pada program Surver 10 untuk mendapatkan nilai resistivitas semu()
yang pasti. Langkah langkanya sebagai berikut :
1. Buka program Surver 10
2. Pilih menu Grid Data, pilih data hasil perhitungan yang dalam format exel. Klik
Open pilih data pada perhitungan ke-2 (Olah Data). Klik OK.
3. Kemudian pilih menu Map New Contour Map, pilih data format Grid. Klik
Open.
4. Kemudian pilih menu Map New Post Map, pilih data hasil perhitungan yang
dalam format exel. Klik Open pilih data pada perhitungan ke-3 (Stacking
Chart/STC). Klik OK.
5. Setelah langkah-langkah diatas, dapat ditentukan nilai resistivitas semu() yang
pasti berdasarkan nilai yang dintukkan nilai Z.

6. Setelah didapatkan nilai Z, maka dimasukkan dalam data pengolahan Exel,


sebagai berikut :

Data perhitungan 4
7. Setelah didapatkan nilai resistivitas semu() yang pasti, Save file data
perhitungan ke-4 dalam bentuk file text.
8. Buat input untuk program Res2dinv deprogram Notepad, dengan format input
sebagai berikut :
Nama lintasan survey
Jarak elektroda terkecil (a).
Jenis konfigurasi (Wenner = 1, Schlumberger = 7, Pole-pole =2, DippoleDipole = 3, Pole-dipole = 6).
Jumlah total datum point.
Posisi datum pertama (tulis 0 jika pertama di elektroda pertama atau tulis
1 jika datum pertama berada ditengah lintasan elektroda).
Masukkan 0 untuk resistivitas 1 untuk IP.
Susunan data.
Posisi horizontal spasi elektroda x n (lapisan ke-n) nilai resistivitas.

Ketik nol di akhir input data 4 kali.


9. Setelah diperoleh data input dalam program Notepad, kemudian save as dalam
bentuk *.dat (missal: Geolistrik.dat).

10. Keluar dari program Notepad.


11. Buka program Res2Dinv.
12. Dari tampilan windows Res2dinv, buka menu file untuk membaca dat yang
disimpan dalam program Notepad (file Geolistrik.dat), kemudian klik OK.
13. Kemudian langkah selanjutnya pilih Inversion Least Squares Inversion maka
akan muncul tampilan Penampang Resistivity seperti dibawah ini :

Untuk memperkecil koreksi kesalahan pembacaan data (persentase nilai erornya) maka pilih Inversion
pilih Choose Logarithm of Apparent Resistivity seperti dibawah ini, Kemudian pilih Use Apparent
resistivity Klik OK

14. Pilih kembali Inversion Least Squares Inversion, maka koreksi Error akan
berkurang.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan dari hasil pengukuran dan pengolahan data dengan menggunakan


metode Schlumberger diatas maka dapat kita peroleh penanampang Resistiviti 2D
yang bila dikaitkan dengan nilai resistivitas material batuan penyusun bawah
permukaan maka kita dapat melakukan interpretasi data hasil pengukuran geolistrik
tersebut didaerah seperti pada gambar dan tabel dibawah ini:

Penampang Resistiviti 2 D

Hasil Interpretasi Perlapisan Batua Terhadap Inversi


Lapisan

Tahanan Jenis

Tebal

Kedalaman

(Ohm)
16.8-73.5

16.25

3.75-19.1

Interpretasi

Hasil Inversi
Tersusun atas Batu Lumpur
dan lempung

73.5-321

20

27.8-47.8

Tersusun

atas

Batu

lempung, pasir dan kerikil


2

pasir

16.8-73.5

11.5

47.8-59.3

Tersusun

atas

Napal

dan

material pembawa air dalam


lapisan alluvial

Berdasarkan dari data pengukuran yang meliputi hasil nilai resistivitas terhadap
jenis material penyusun batuan bawah permukaannya dapat kita interpretasikan
bahwa daerah tersebut dapat dibagi kedalam 3 lapisan.
Lapisan pertama berupa lapisan yang tersusun atas batu lumpur dan lempung
dimana batu lumpur dan lempung pada lapisan ini memiliki sifat kedap air karena
agak sulit dilewati oleh air tetapi dapat menyimpan air dalam jumlah yang besar
sehingga dapat kita interpretasikan pada penampang resisitiviti tersebut sebagai
lapisan penutup. Lapisan ini memiliki kedalaman yang berkisar antara 3.75 19.1
meter dengan tebal lebih kurang 16.25 meter.
Lapisan kedua berupa lapisan yang tersusun atas batu pasir lempungan, pasir
dan kerikil dimana pasir dan kerikil pada lapisan ini memiliki sifat permeable dan
porositasnya tinggi karena mampu menyimpan dan meloloskan air dalam jumlah
yang banyak dan besar sehingga dapat disebut pula lapisan pembawa air. Pada
lapisan ini pula dapat kita interpretasikan sebagai lapisan akuifer pada penamapang
resistivity diatas karena batu pasir dan batu kerikil bila mengalami saturasi akan
membentuk lapisan akuifer. Lapisan ini memiliki kedalaman yang berkisar
antara27.8 - 47.8 dengan tebal yang berkisar antara 20 meter.

Lapisan ketiga berupa lapisan yang tersusun atas napal dan material air dalam
lapisan alluvial dimana napal pada lapisan ini memiliki sifat impermeable atau kedap
air sehingga air pada lapisan kedua tidak dapat bergerak turun dan dapat kita
interpretasikan bahwa lapisan ini memiliki sedikit lapisan akuifer karena terdapat
pula air dalam lapisan alluvial. Lapisan ini memiliki kedalaman 47.8 59.3 meter
dan tebal sekitar 11.5 meter.

BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

1.

Kesimpulan

Dari hasil pengolahan dan interpretasi data diatas maka dapat ditarik beberapa
kesimpulan yaitu pada daerah tersebut tersusun atas 3 lapisan :

1. Lapisan Pertama yang tersusun atas material lempung dan batu lumpur
berfungsi sebagai lapisan penutup
2. Lapisan Kedua yang tersusun atas kerikil batu pasir lempungan dan pasir
berfungsi sebagai lapisan akuifer
3. Lapisan ketiga yang tersusun atas napal dan batuan pembawa air dalam
lapisan alluvial berfungsi sebagai lapisan pembawa air.
4. Lapisan akuifer pada daerah tersebut merupakan lapisan akuifer bebas atau
tidak tertekan karena tersusun atas material kerikil dan pasir sebagai
2.

komposisi dari endapan aluvial


Rekomendasi
Rekomendasi yang bias saya berikan yaitu bahwa pada daerah ini terdapat

lapisan akuifer pada kedalaman 30 40 meter sehingga bila dilakukan pemboran


dapat dibuat sumur bor untuk kebutuhan penduduk daerah sekitar.

DAFTAR PUSTAKA

http://Alfonsussimalango.blogspotcom/2011/Metode Gravity dan Geolistrik


http://Halmer Helide. 1984. Tugas Akhir Jurusan Fisika. ITB, Bandung
http://lib.uin-malang.ac.id/appendix/07640003%5B1%5D-miftahul-huda.pdf
http://Trisusantosetiawan.wordpress.com/2011/.../metode-geolistrik-resistivit...
http://www.joya-tech.com/proposal_geolistrik.pdf
http://www.scribd.com/doc/13886047/GEOLISTRIK

L
A
M
P
I

R
A
N