Anda di halaman 1dari 55

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S.

, ITB

BAB. XI. Prinsip Directional Drilling

TUJUAN

Memahami alasan-alasan yang mendasari dilakukannya pemboran berarah


Mengenali Tipe-tipe pemboran berarah
o Shallow Deviation Type
o Deep Deviation Type
o Return to Vertical Type
Memahami proses pembuatan kemiringan lubang dan masalah-masalah yang dihadapi
Mengenali metoda-metoda yang digunakan untuk pengarahan lubang pemboran
Mengenali peralatan-peralatan survey
Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kemiringan dan arah lubang pemboran
o Faktor formasi
o Faktor mekanis
Mengenali cara-cara pengontrolan terhadap penyimpangan sudut lubang pemboran
Memahami penggunaan Bottom Hole Assembly dalam pemboran berarah
Memahami metoda-metoda perhitungan hasil survey pemboran berarah

Prinsip Directional Drilling

11

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


11.1. Pendahuluan
Pemboran berarah adalah suatu seni membelokkan lubang sumur untuk kemudian
diarahkan ke suatu sasaran tertentu di dalam formasi yang tidak terletak vertikal dibawah
mulut sumur. Di dalam membor suatu formasi, sebenarnya selalu diinginkan lubang yang
vertikal, karena dengan lubang yang vertikal, kecuali operasinya lebih mudah, juga umumnya
biayanya lebih murah dari pada pemboran berarah. Jadi pemboran berarah hanya dilakukan
karena alasan-alasan dan keadaan yang khusus saja. Adapun alasan-alasan dilakukannya
pemboran berarah ini adalah :
A. Alasan topografis.
Pemboran berarah disini dilakukan apabila keadaan di permukaan tidak memungkinkan
untuk mendirikan lokasi pemboran, misalnya:
a. Formasi produktif terletak dibawah paya-paya, sungai (Gambar. 11.1).
b. Formasi produktif terletak di bawah bangunan-bangunan, perkotaan (Gambar 11.2)

Gambar 11.1. Formasi Produktif di Bawah Paya-Paya, Sungai

12

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.2. Formasi Produktif Terletak di Bawah Perkotaan, Bangunan


B. Alasan geologis.
Pemboran berarah disini dilakukan untuk menghindari kesulitan apabila dibor secara
vertikal misalnya :
a. Adanya kubah garam (salt dome), (Gambar 11.3).
b. Adanya patahan, (Gambar 11.4).

Gambar 11.3. Pemboran Terarah Karena Salt Dome

Prinsip Directional Drilling

13

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11. 4. Pemboran Berarah Karena Patahan


C. Alasan-alasan lain :
a. Pemboran yang dilakukan dengan sistem gugusan sumur (cluster system) untuk
menghemat luasnya lokasi pemboran. Misalnya di lepas pantai (Gambar 11.5). Di
permukaan dibuat beberapa sumur, kemudian di bawah permukaan lubang sumur
tersebut menyebar. Sistem ini juga dapat dilakukan pada pemboran di daratan.

Gambar 11.5. Pemboran Dengan Cluster System


b. Mengatasi semburan liar (blow out) dengan relief well. (Gambar 11.6)
c. Menghindari garis batas di permukaan. (Gambar 11.7).
d. Menyimpang dari garis lurus. (Gambar 11.8).

14

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.6. Relief Well

Gambar 11.7. Menghindari Garis Batas di Permukaan

Gambar 11.8. Pemboran Menyimpang dari Garis Lurus


Prinsip Directional Drilling

15

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


11.2. Tipe Pemboran Berarah
Gambaran umum dari suatu sumur pemboran berarah dan bagian-bagian yang penting
dapat dilihat pada (Gambar 11.9).

Gambar 11.9. Gambaran Umum Pemboran Berarah dan Bagian-Bagiannya


Pada dasarnya dikenal 3 macam pemboran berarah (Gambar 11.10), yaitu:

Gambar 11.10.Tipe Belok Pemboran Berarah


11.2.1. Tipe belok di tempat dangkal (Shallow Deviation Type).
Di sini titik belok (kick of point) terletak di kedalaman yang tidak begitu jauh dari
permukaan tanah (dangkal).
11.2.2. Tipe belok di tempat dalam (Deep Deviation Type).
Di sini titik belok terletak jauh di dalam permukaan tanah.

16

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


11.2.3. Tipe kembali ke vertikal (Return to Vertikal Type).
Mula-mula sama seperti tipe belok di tempat dangkal, tetapi kemudian dikembalikan ke
vertikal.
Adapun pemilihan tipe pemboran di atas didasarkan pada lokasi koordinat di
permukaan dan jarak antara lokasi permukaan dengan sasaran (formasi produktif) apabila
faktor-faktor lain tidak berpengaruh. Misalnya apabila jarak sasaran tidak begitu jauh dari
sumbu vertikal yang melalui mulut sumur, maka kita memilih tipe belok di tempat dalam.
Lain halnya apabila jarak sasarannya jauh dari sumbu vertikal tadi, kita akan memilih tipe
belok di tempat dangkal.

11.3. Kemiringan Lubang Bor


Di dalam pemboran berarah, pada kedalaman titik belok tertentu, lubang bor diarahkan
ke suatu sasaran yang dikehendaki dengan sudut kemiringan yang tertentu. Miringnya lubang
bor ini mendatangkan banyak kesulitan antara lain :
1. Fatigue failure pada drill pipe.
2. Key seating atau terjepitnya sebagian drill string karena goresan antara drill string
dengan dinding lubang bor seperti terlihat pada Gambar 11.11.
3. Berkurangnya umur drill pipe karena tension (tegangan) yang terjadi pada tool joint
(sambungan).
Kesulitan-kesulitan di atas disebabkan oleh perubahan sudut kemiringan yang terlalu
besar (mendadak) diantara dua titik di dalam lubang bor. Untuk mengatasi kesulitankesulitan tersebut, perlu ditetapkan perbedaan sudut maksimum yang diizinkan diantara dua
titik survey (sudut dog leg). Dari sudut dog leg ini dapat ditetapkan perubahan sudut
kemiringan yang diperkirakan tidak akan menimbulkan kesulitan.

Prinsip Directional Drilling

17

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.11. Key Seating36)

11.3.1. Alat-Alat Pembuat Sudut (Deflection Tool)


Setelah kedalaman titik belok ditentukan, maka mulai dari titik tersebut kita
mengarahkan lubang bor ke sasaran tertentu dengan membelokkan lubang bor dengan sudut
kemiringan tertentu. Alat-alat pembelok ini adalah :

Badger bit
Spud bit
Knuckle joint
Whipstock
Turbodrill
Dyna drill
Setelah mencapai sudut tertentu (14o misalnya) maka digunakan bottomhole assembly
baik untuk menambah atau memantapkan sudutnya.
a. Badger Bit.
Badger bit dan operasi alatnya dapat dilihat pada Gambar 11.12. Prinsip kerja dari alat
ini adalah adanya salah satu nozzle pada bit yang ukurannya lebih besar dari yang lainnya.
Hal ini akan mengakibatkan semburan lumpur yang lebih besar sehingga lubang akan
membelok ke arah dimana ukuran nozzle lebih besar.

18

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.12. Badger Bit dan Cara Kerjanya

b. Spud Bit
Jenis alat ini dapat dilihat pada Gambar 11.13. Alat ini merupakan bit tanpa roller,
bentuknya seperti baji dan mempunyai nozzle. Cara kerjanya sama dengan badger bit hanya
disini ditambah dengan tumbukan.

Prinsip Directional Drilling

19

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.13. Spud Bit di Lubang Bor

c. Knuckle Joint
Knuckle joint adalah suatu drill string yang diperpanjang dengan sendi peluru, sehingga
memungkinkan putaran bersudut antara drill string dan bitnya. Gambar 11.14 menunjukkan
operasi suatu knuckle joint, dimana sebelumnya dibuat terlebih dahulu pilot hole yang
kemudian dibor kembali dengan bit yang dirangkaikan dengan reamer.

20

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.14. Knuckle Joint 12)

d. Whipstock
Adalah suatu alat yang terbuat dari besi tuang yang berbentuk baji dengan saluran yang
melengkung tempat bergeraknya bit. Operasi dari whipstock dapat dilihat dari Gambar 11.15.
Dengan alat ini akan diperoleh lengkungan sebesar 1 sampai 7 derajat.

Prinsip Directional Drilling

21

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15. Whipstock dan Operasi Alatnya 12)

e.Turbodrill.
Turbodrill adalah down hole mud turbin yang dapat memutar bit tanpa harus memutar
rangkaian bor (drill string). Kecepatan putaran sangat tergantung kepada volume lumpur dan
tekanan sirkulasi di permukaan. Adanya bent sub pada turbodrill (Gambar 11.16)
menyebabkan dapat membeloknya lubang sumur.

22

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.16. Bent Sub Pada Turbodrill

f. Dyna Drill.
Dyna Drill adalah down hole mud motor. Alat ini dibuat oleh Dyna Drill Coy. Seperti
juga Turbodrill, Dyna Drill akan memutar bit tanpa harus memutar drill string. Adanya bent
sub pada Dyna Drill menghasilkan lengkungan yang halus (smooth). Alat ini dapat dilihat
pada gambar 11.17. Di dalam pemakaiannya, Dyna Drill tergantung kepada kecepatan
sirkulasi lumpur dan beda tekanan pompa seperti terlihat pada Tabel 11.1. Dyna Drill Coy
juga telah membuat Tabel 11.2, untuk memilih kelengkungan lubang bor yang sesuai dengan
ukuran lubang bor dan perubahan sudut yang diharapkan.

Prinsip Directional Drilling

23

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.17. Bent Sub Pada Dyna Drill


Tabel 11.1. Data Operasi Dyna Drill11)

24

Ukuran

Volume

Beda

Kecepatan

Diameter

Dyna Drill

Lumpur

Tekanan

Putar

Lubang Bor

in, 0D
5
6 1/2
7 3/4

Gpm
225
325
400

psi
225
225
225

rpm
400
350
350

in
6 7 7/8
8 --12
10 5/8 --15

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Tabel 11.2. Sudut Defleksi Yang Diharapkan Per 100 Ft.11)
5 O.D. DYNA DRILL 6 O.D. DYNA DRILL 7 O.D. Dyna DRILL
BENT SUB

HOLE

DEFLECTION

HOLE

DEFLECTION

ANGLE

SIZE

ANGLE

SIZE

ANGLE

1o
1o
2o
1o
1o
2o
2o
1o
1o
2o
2o

3o 30
4o 45
5o 30
3o 00
4o 15
5o 00
5o 45
2o 30
3o 30
4o 30
5o 30

2o 30
3o 30
4o 30
1o 45
3o 00
3o 45
5o 00
1o 15
2o 00
3o 00
4o 00

6
7 7/8

9 7/8

10 5/8
Thru
12

HOLE SIZE

DEFLECTION
ANGLE

9 7/8
10 5/8

12

2o 30
3o 45
5o 00
2o 00
3o 30
4o 15
5o 30
1o 45
2o 30
3o 30
5o 00

11.4. Pengarahan Lubang Bor


Sewaktu membelokkan lubang bor dengan alat-alat pembelok, lubang bor harus selalu
ke arah dimana sudut tersebut dapat mencapai sasaran. Pengarahan ini dapat dilakukan pada
titik belok atau setelah titik belok apabila ternyata lubang yang dibuat telah menyimpang dari
sasaran yang dikehendaki.
11.4.1. Metoda Pengarahan
Kita mengenal dua cara di dalam pengarahan ini, yaitu metoda Stokenbury Drill Pipe
Alligment dan metoda Orientasi Dasar Lubang.
a. Metoda Stokenbury Drill Pipe Alligment.
Metoda ini caranya seperti Gambar 11.18.

Mula-mula alat pembelok di permukaan dihadapkan ke arah mana sasaran


dikehendaki, misalnya B-B'.

Pada drill pipe diikatkan suatu sighting bar (tanda) dan di arahkan ke suatu titik, disini
misalnya diarahkan ke kaki derrick (titik C).

Pasang drill pipe baru, kemudian di dekat puncak drill pipe ini dipasang sighting bar
yang kedua dan diluruskan dengan yang pertama dengan bantuan teleskop.

Sighting bar yang pertama diturunkan, untuk kemudian dipasang lagi pada drill pipe
yang berikutnya dan diluruskan kembali seperti tadi dengan teleskop.

Pertahankan agar sudut antara B-B' dan C-C' tetap besarnya.


Demikian seterusnya sampai seluruh drill string berada didasar lubang.

Prinsip Directional Drilling

25

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Kelemahan metoda ini adalah memakan waktu yang panjang, juga sering menimbulkan
kesalahan sehingga cara ini jarang digunakan.

Gambar 11.18. Metoda Stokenbury Drill Pipe Alligment.12)


b. Metoda Orientasi Dasar Lubang.
Metoda ini banyak digunakan pada operasi-operasi pemboran terarah. Prinsipnya adalah
sebagai berikut :

Misalkan, muka alat pembelok mempunyai arah 90o ke arah kanan dari kutub
magnet utara yang telah ditentukan (Gambar 11.19) pada Shadow Graph Compass.

26

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Gambar 11.19. Metoda Orientasi Dasar Lubang

Turunkan alat pembelok ini ke dasar lubang. Sebuah kamera memotret bersama-sama
free compass dan shadow graph compass.

Misalnya gambar yang didapatkan ternyata S 45oE. Ini berarti arah muka alat
pembelok adalah S 45oE ditambah putaran 90o kearah kanan jadi S 45o W.
Jadi dengan mengetahui arah "muka" alat pembelok dalam lubang bor, akan mudah
mengubah kearah yang dikehendaki.

11.4.2. Alat-Alat Survey


Selama operasi pemboran berarah, setiap telah dicapai titik-titik di kedalaman tertentu
kita mengukur sudut kemiringan dan sudut arah lubang bor (melakukan survey). Dari
pengukuran ini dapat diketahui penyimpangan sudut dari sasaran yang direncanakan sehingga
dari setiap titik pengukuran ini kita dapat mengoreksi penyimpangan bila arah dan
kemiringan telah menyimpang dan mengarahkan kembali kesasaran semula.
Tujuan dilakukan survey pada directional drilling adalah :
a. Untuk memonitor lintasan sumur sehingga dapat dibandingkan dengan lintasan yang
direncanakan.
b. Untuk mencegah collision dengan existing well di sekitarnya.
c. Untuk menentukan orientasi yang diperlukan untuk menempatkan alat pembelok
(deflection tool) pada arah yang tepat.
d. Untuk menentukan lokasi yang tepat dari dasar sumur (koordinat dasar sumur).
e. Untuk menghitung dog-leg severity.
Peralatan yang digunakan terbagi atas dua macam yaitu Single Shot dan Multi Shot,
dimana Single Shot hanya dapat mencatat pengukuran sekali sedangkan Multi Shot dapat
berkali- kali. Prinsip kerja alat ini adalah sebagai berikut (Gambar 11.20). Sebuah kompas
dan unit pencatat sudut yang berbentuk cakram dipotret bersama- sama oleh sebuah kamera.
Hasil pemotretan ini akan menghasilkan penyimpangan dari vertikal, karena adanya fluida
yang bebas bergerak, sedang arah dicatat pada unit pencatat (unit ini terdiri dari 3 macam : 012o, 0- 20o dan 15- 90o).

Sudut kemiringan lubang bor = 5 1/2 o

Sudut arah lubang bor = N 42oE.

Efek Kemagnetan Bumi Terhadap Pengukuran Dengan Alat- Alat Survey.

Prinsip Directional Drilling

27

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.20. Contoh Alat Survey dan Prinsip Kerjanya9)


Sebagai contoh pembacaan lihat Gambar 11.21 (ini adalah contoh alat pencatat unit 0
-12o). Dari gambar ini dapat dibaca :

Gambar 11.21. Cara Pembacaan Pengukuran Alat Survey9)

11.4.3. Efek Kemagnetan Bumi Terhadap Pengukuran dengan Alat- Alat Survey

28

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Penggunaan alat-alat survey di dalam pengukuran sudut kemiringan dan sudut arah
memerlukan pemakaian drill collar yang anti magnetik (alat survey ini diturunkan ke dalam
lubang bor melalui drill pipe dan nantinya akan terletak pada drill collar di dekat bit).
Pemakaian drill collar anti magnetik ini untuk menghindari kesalahan-kesalahan pengukur
survey (kompas). Tetapi efek kemagnetan bumi masih berpengaruh terhadap pengukuran.
Thometz mengemukakan bahwa panjang drill collar anti magnetik yang diperlukan
tergantung dari besarnya sudut kemiringan dan sudut arah lubang bor. Adanya tiga zone
kemagnitan bumi yang berbeda digambarkan pada Gambar 11.22. Akibat dari perbedaan
kemagnetan ini dapat dilihat bahwa kurva hubungan panjang drill collar anti magnetik yang
diperlukan dengan sudut kemiringan dan sudut arah, akan berbeda untuk ketiga zone tersebut.
Sebagai ilustrasi, misalnya kita hendak melakukan survey di lokasi pemboran dengan
koordinat 60o lintang utara dan 160o bujur barat (daerah Arctik), sudut kemiringan maksimum
diharapkan 40oE. Dari Gambar 11.23 daerah ini ada pada zone II. Oleh sebab itu, dipakai
gambar untuk zone II. Dari kurva 23 ternyata sudut-sudut ini jatuh dibawah kurva B. Jadi
disini diperlukan non magnetik drill collar sepanjang 60 ft.

Gambar 11.22. Pembagian Zone Kemagnitan Yang Sama9)

Prinsip Directional Drilling

29

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Gambar 11.23. Kurva Non Magnetik Drill Collar Yang Diperlukan

11.5 . Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemiringan dan Arah Lubang Bor


Lubang bor yang dihasilkan di bawah permukaan menyimpang dari sudut yang
diinginkan. Hal ini disebabkan lubang bor yang terjadi berbengkok-bengkok dengan
sendirinya. Hal semacam ini disebut Crooked Hole (lubang bor pada pemboran terarah
disebut Slant hole).
Penyebab Crooked Hole ini terdiri dari 2 faktor yang bekerja bersama-sama yaitu faktor
formasi dan faktor mekanis.

11.5.1. Faktor Formasi


Pada formasi yang berlapis-lapis dengan bidang perlapisan yang miring maka lubang
bor akan cenderung untuk tegak lurus pada bidang perlapisan. Penembusan bit pada formasi
akan meninggalkan suatu baji kecil yang dapat bertindak sebagai whipstock kecil (miniature
whipstock) yang dapat membelokkan lubang sumur (Gambar 11.24). Teori ini disebut
Miniature Whipstock Theory.

Gambar 11.24. Miniature Whipstock Theory12)


Pada formasi dengan perlapisan yang berganti-ganti dari lunak ke keras dan sebaliknya
akan menyebabkan bit ditahan dengan berat sebelah pada kedua sisinya, sehingga bit akan
terperosok ke salah satu sisi dan mengakibatkan bengkoknya lubang bor (Gambar 11.25).
Teori ini disebut Formation Drillability Theory.

30

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.25. Formation Drillability Theory


Pada formasi dimana kemiringan bidang perlapisan lebih besar dari 45 o, maka bit akan
cenderung mengikuti bidang perlapisan (Gambar 11.26).

Gambar 11.26. Formasi Dengan Bidang Perlapisan > 45o

11.5.2. Faktor Mekanis


Faktor-faktor ini menyangkut :

Drill collar yang tidak cukup kekar sehingga mudah melengkung.


Beban pada bit yang berlebihan sehingga drill collar melengkung.
Perubahan botton hole assembly akan memberikan bentuk lubang yang berlainan.
11.6. Pengontrolan Terhadap Penyimpangan
Dasar pemikiran pengaturan penyimpangan ini dapat diterangkan dengan teori
Pendulum. Untuk menerangkan teori ini lihat Gambar 11.27, suatu drill string yang terdapat
pada lubang bor yang miring. Karena ada clearance antara drill collar dan dinding lubang,
pada jarak tertentu di atas bit, rangkaian drill string akan menempel pada dinding lubang bor.
Prinsip Directional Drilling

31

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Titik ini (P) disebut titik kontak (point of contact). Di atas titik ini rangkaian drill string akan
berbaring pada dinding lubang bor.

Gambar 11.27. Drill String Pada Lubang Bor Yang Miring (Teori Pendulum)
Drill collar antara titik P dengan bit, akan bekerja sebagai gaya Fa dimana gaya ini
cenderung untuk membelokkan lubang ke arah vertikal atau memperkecil sudut kemiringan.
Selain daripada itu akan timbul pula gaya Fb yang merupakan akibat dari berat pada bit. Gaya
ini cenderung untuk memperbesar sudut kemiringan karena membuat sudut dengan lubang
bor (sudut b).
Didalam waktu yang sama gaya Fa dan Fb ini akan bekerja bersama-sama (dianggap
tidak ada pengaruh formasi di sekitarnya), gaya-gaya ini akan menentukan penyimpangan
sudut kemiringan lubang bor.
Gaya Fa merupakan fungsi berat per satuan panjang drill collar antara titik P dan bit,
sedangkan gaya Fb tergantung kepada berat pada bit (weight on bit). Tetapi pengaruh gaya Fb
ini pun akan berkurang dan akibatnya bending moment drill collar berkurang juga.
Berkurangnya bending moment ini akan menyebabkan jarak titik P dan bit bertambah
sehingga gaya Fa bertambah dan cenderung mengurangi penyimpangan lubang.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengontrol penyimpangan sudut
dapat dilakukan dengan mengatur titik kontak P atau mengatur jarak titik P dengan bit. Hal
ini dapat dilakukan dengan menggunakan drill collar yang dirangkaikan dengan stabilizer.

32

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


11.6.1. Penggunaan Drill Collar Dengan Stabilizer
Pada dasarnya, penggunaan drill collar dengan stabilizer pada suatu rangkaian drill
string adalah untuk mengatur jarak titik kontak (P) dengan bit, sehingga secara tidak langsung
mengatur gaya Fa dan Fb serta akan mengontrol penyimpangan. Sebagai gambaran dapat
dilihat pada Gambar 11.28.
Bila kita bandingkan Gambar 11.28a dan 11.28b, akan terlihat bahwa dengan
memperbesar berat drill collar akan mengakibatkan titik kontak P naik karena kekakuan drill
collar naik dan sudut b mengecil. Hal ini mengakibatkan berat collar antara bit dan titik P
naik sehingga Fa membesar dan Fb mengecil. Sekarang kita perhatikan Gambar 11.28c dan
11.28a. Clearance drill collar pada Gambar 11.28c mengecil mengakibatkan titik P mendekati
bit. Hal ini menyebabkan gaya Fa mengecil dan Fb membesar.
Terakhir kita lihat Gambar 11.28d dan 11.28a. Pemasangan stabilizer disini akan
mengakibatkan Fa membesar dan Fb mengecil. Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa pengaturan clearance dan penempatan stabilizer yang tepat akan dapat mengontrol
penyimpangan.

Gambar 11.28. Penggunaan Drill Collar Dengan Stabilizer Pada Suatu Rangkaian Drill
String
WILSON membuat hubungan antara ukuran drill collar minimum dengan diameter
casing dan diameter bit sebagai berikut :
Prinsip Directional Drilling

33

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Diameter (OD) drill collar yang diizinkan = (Diameter Casing-OD) - (Diameter bitOD).
WOODS dan LUBINSKY membuat grafik-grafik untuk penempatan stabilizer(single
stabilizer) agar weight on bit (WOB) dapat ditingkatkan secara maksimal dengan sudut
kemiringan lubang bor yang tertentu.
Gambar 11.29a dan 11.29b adalah salah satu dari grafik-grafik yang telah dibuatnya.

Gambar 11.29. Grafik-grafik Untuk Penempatan Stabilizer (Single Stabilizer) 12)


Sebagai contoh, misalkan kita membor lubang dengan ukuran 8-3/4 inch dan ukuran
drill collar 7 inch. Dengan kemiringan lubang maksimum 3o WOB = 5000 lb pada kedalaman
tertentu.
Dengan melihat Gambar 11.29b. (tanda panah), akan dicapai kenaikan 25% pada WOB
apabila dipasang stabilizer pada posisi yang ideal. Dari Gambar 29a dapat ditentukan bahwa
posisi stabilizer yang ideal tersebut adalah sejauh 87 ft dari bit.

34

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


11.7. Penggunaan Bottom Hole Assembly
Dengan latar belakang teori yang telah dipaparkan pada bagian 16.5, pengaturan sudut
kemiringan dan sudut arah dapat dilakukan dengan mengatur atau mengkombinasikan
rangkaian bottom hole assembly. Ini biasanya dilakukan setelah mencapai sudut tertentu
misalnya 14o. Pengaturan ini termasuk antara lain mengatur titik kontak, memilih jarak
penempatan stabilizer dari bit, memilih ukuran dan kekakuan drill collar yang tertentu,
mengatur WOB dan RPM, mengatur jarak stabilizer pertama dan kedua dan lain-lain.
Susunan bottom hole assembly yang ternyata berhasil baik digunakan pada suatu sumur,
belum tentu baik pula diterapkan disumur lain, hal ini dikarenakan pengaruh daripada formasi
yang dibor.
Dari uraian tersebut diatas, maka sangat diperlukan pengalaman di dalam pengaturan
rangkaian botton hole assembly ini agar diperoleh hasil yang baik di dalam suatu operasi
pemboran terarah. Disini letak seni daripada pemboran terarah ini.
Berikut ini akan diuraikan mengenai penggunaan berbagai susunan rangkaian bottom
hole assembly yang umumnya digunakan sebagai dasar di dalam pemilihan posisi bottom
hole assembly di dalam suatu pemboran terarah.
11.7.1. Vertical Hole Assembly
Susunan rangkaian ini umumnya digunakan untuk membor tegak lurus dari permukaan
sebelum titik belok (KOP), atau bagian setelah drop off section (Gambar 11.30). Adapun
susunan ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Bit - Monel DC - DC - Stab - 90'DC - Stab - 90'DC Stab
dan seterusnya.
Apabila formasi yang dibor lunak, maka dianjurkan hal- hal dibawah ini :
1. WOB rendah
2. RPM tinggi
3. Output pompa sehingga sirkulasi lumpur cepat.

Prinsip Directional Drilling

35

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.30. BHA Untuk Seksi Vertikal9)

11.7.2. Build Up Assembly


Pada rangkaian ini reamer harus selalu ditempatkan di dekat bit. Adanya beban pada bit
menyebabkan bagian drill collar di atas reamer membelok dengan kemiringan tertentu. Rate
build up ini sangat tergantung kepada WOB, posisi reamer dan ukuran drill collar Gambar
11.31.
Untuk perubahan sudut build up yang besar, dianjurkan :
1. WOB tinggi
2. Ukuran monel drill collar kecil
3. RPM dan rate pemompaan kecil apabila formasi lunak.
Rangkaian bottom hole assembly yang umumnya digunakan pada build up section ini
dapat digambarkan sebagai berikut .
Bit - Sub - Reamer - Monel DC - Stab - DC - Stab - 90'DC
4'

36

6'

60'

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.31. BHA Untuk Menaikkan Inklinasi9)


Untuk perubahan sudut build up kecil, dianjurkan :
1. WOB kecil.
2. Ukuran monel drill collar besar.
3. Tempatkan stabilizer pada puncak monel drill collar.
4. Tambah jarak bit - reamer.
5. Tambah RPM dan rate pemompaan pada formasi lunak.

11.7.3. Drop off Assembly


Dengan menambah jarak bit ke reamer, bagian bawah reamer mempunyai tendensi
untuk mengarah ke bawah. Karena berat rangkaiannya, perlahan-lahan akan menghasilkan
penurunan sudut pada drop off section tergantung pada WOB, RPM dan posisi reamer serta
stabilizer pada rangkaian. Gambar 11.32.
Umumnya drop off assemblies ini berbentuk :
Bit - Monel DC -

Reamer - DC - Stab - DC - Stab -90'DC- stab.

Prinsip Directional Drilling

37

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.32. BHA Untuk Menurunkan Inklinasi9)


Untuk perubahan sudut drop off yang besar dianjurkan :
1. WOB kecil.
2. RPM dan rate pemompaan besar pada formasi lunak.
3. Ukuran monel besar.
4. Ukuran drill collar kecil diatas reamer.
Untuk perubahan sudut drop off yang kecil, dianjurkan:
1. WOB besar.
2. RPM dan rate pemompaan kecil pada formasi lunak.
3. Gunakan monel drill collar yang besar.
4. Kurangi jarak bit-reamer.

11.7.4. Tangent Assembly


Pada kasus ini sangat sukar menentukan tangent assemblies yang dapat sekaligus
mengatur atau mempertahankan kemiringan dan arah lubang bor. Umumnya persoalan
terbesar adalah di dalam mengontrol sudut arah, sedang mengontrol sudut kemiringan agak
lebih mudah. Apabila WOB dan RPM diubah untuk dapat mempertahankan sudut arah, tetapi
efek lain yang mengubah sudut kemiringan atau sebaliknya, juga faktor-faktor formasi sangat
mempengaruhi.
Karena tangent assembly digunakan pada bagian dari lubang bor dimana sudut arah dan
kemiringan harus dipertahankan tetap, maka rangkaiannya haruslah sekaku mungkin. Sangat

38

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


sukar menemukan tangent assemblies yang ideal atau kombinasi yang tepat. Pada beberapa
kasus yang lain hasil akan baik dengan banyak ditempatkan stabilizer.
Beberapa susunan yang memberikan hasil yang baik adalah:

Bit-Reamer-Monel DC-Stab-Dc-Stab-DC-Stab-dst
Bit-10'DC-Reamer-Monel DC-Stab-DC-Stab-DC-Stab-dst.
Bit-15'DC-Reamer-15'DC-Reamer-Mone l DC-Stab-DC-Stab-dst
Bit-Reamer-Stab-Monel DC-Stab-Stab-DC-DC-Stab-dst.
11.8. Metoda Analisa Pemboran Berarah
Di dalam perencanaan suatu pemboran berarah, lubang bor yang direncanakan dibuat
pada bidang datar dengan sudut arah dan perubahan sudut kemiringan tertentu. Tetapi seperti
yang telah diterangkan pada sub-bab yang lalu, lubang bor tidak akan terletak pada satu
bidang disebabkan pengaruh dari banyak faktor. Baik sudut kemiringan maupun sudut arah
lubang bor akan selalu berubah-ubah menyimpang dari yang telah direncanakan. Sehingga
pada praktek suatu pemboran berarah, setelah dicapai kedalaman-kedalaman pemboran
tertentu (biasanya setiap 50 - 100 ft kedalaman), dilakukan pengukuran sudut kemiringan dan
sudut arah (dilakukan survey). Apabila terjadi penyimpangan, lubang bor tadi diarahkan
kembali ke arah yang telah ditetapkan semula.
Sebagai gambaran sebenarnya, penampang horizontal suatu contoh sumur pemboran
berarah dapat dilukiskan seperti terlihat pada Gambar 33.

Gambar 11.33. Penampang Horizontal Suatu Pemboran Berarah


Titik dan garis patah di dalam Gambar 11.33 (misalnya titik M) didapat setelah kita
mengetahui koordinat titik tersebut dan titik ini disebut titik survey. Terlihat dalam gambar
bahwa titik tersebut menyimpang dari garis AE (garis yang telah direncanakan). Sehingga
Prinsip Directional Drilling

39

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


dari titik tersebut kita membetulkan arah kembali ke arah semula. Demikian seterusnya
dengan titik survey selanjutnya hingga dicapai sasaran.
Hal yang sama terjadi pula pada penampang vertikalnya, sudut kemiringan yang terjadi
akan selalu berubah-ubah menyimpang dari yang telah direncanakan.
Dari uraian di atas, masalah yang terpenting adalah menentukan koordinat titik-titik
survey setepat mungkin disamping perencanaan pemborannya. Karena dengan diketahuinya
titik-titik survey ini, maka kita dapatkan hal-hal berikut :
a. Mengetahui kedalaman vertikal (True vertikal depth) pada titik-titik tertentu di dalam
lubang sumur.
b. Mengetahui penyimpangan dari sasaran, sehingga pada setiap titik survey dapat
dikoreksi arah dan kemiringan lubang bor, mengarahkan kembali ke sasaran semula
bila terjadi penyimpangan.
c. Dari hal a dan b di atas, dengan kata lain dapat diketahui sejauh mana lubang bor kita
meleset atau berhasil mencapai sasaran.
11.8.1. Metoda-Metoda Perencanaan Pemboran Terarah
Di dalam merencanakan suatu pemboran terarah dikenal dua cara yaitu Metoda
Tangensial dan Metoda Radius Of Curvature. Metoda yang disebutkan pertama merupakan
metoda yang tertua yang dikenal sejak dimulainya pemboran terarah. Sedangkan metoda
yang terakhir diperkenalkan oleh WILSON pada tahun 1968 yang merupakan perbaikan dari
metoda Tangensial.
11.8.1.1. Perencanaan Dengan Metoda Tangensial.
Dari Gambar 11.34, setelah titik belok ditentukan (titik 1), build up section (1-2) dibuat
dengan mengubah sudut kemiringan sampai dicapai sudut maksimum yang diinginkan.
Tangen section (2-3) dibuat dengan mempertahankan sudut kemiringan maximum sampai
kedalaman tertentu.
Drop off Section (3-4) dibuat dengan mengembalikan sudut maksimum ke nol derajat
dan bagian back to vertical (4-5) dibuat dengan mempertahankan sudut kemiringan nol
derajat.
Pada perencanaan dengan metoda Tangensial, dianggap bahwa interval-interval lubang
berupa garis-garis patah (lurus untuk masing-masing interval) baik untuk build up maupun
drop off section. Jadi dengan kata lain dianggap bahwa setiap interval yang diambil
mempunyai sudut kemiringan yang sama pada awal, maupun pada akhir interval. Disini
40

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


apabila diambil interval kecil-kecil (misal diambil MD setiap 100 ft) garis lengkung MD
dianggap garis lurus, makin kecil kita mengambil intervalnya (misal 25 ft) perhitungan akan
semakin teliti.

Gambar 11.34. Penampang Vertikal Suatu Lubang Bor (Metoda Tangensial).


TVD MD cos I ......................................................................................(1)
H MD sin I ...........................................................................................(2)

dimana :
TVD = True vertical depth (kedalaman tegak) pada suatu

interval lubang bor, ft.

= Drift (throw) atau penyimpangan horizontal


pada interval tersebut, ft.

MD = Measure depth pada interval tersebut, ft


I

= Besarnya sudut kemiringan pada interval tersebut, derajat.

Sudut = A adalah sudut arah yang tetap besarnya.


Berdasarkan persamaan-persamaan (11.1) dan (11.2) dapat dibuat suatu program
komputer perencanaan pemboran terarah dan dapat ditentukan TVD dan H untuk setiap harga
I per MD tertentu (misalnya 2o/100ft, 4o/100 ft) hingga dicapai sudut maksimum yang
diinginkan.

Prinsip Directional Drilling

41

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


11.8.1.2. Perencanaan Dengan Metoda Radius Of Curvature
a. Perhitungan Secara Segmental
Metoda ini diperkenalkan oleh WILSON.G.J pada tahun 1968, yang merupakan
perbaikan dari metoda tangensial.Tidak seperti pada metoda tangensial, perencanaan ini tidak
me nganggap interval-interval lubang bor merupakan garis-garis lurus. Di dalam metoda ini,
segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu lingkaran yang bersifat menyinggung di titik
awal dan akhir suatu interval lubang bor yang mempunyai sudut kemiringan dan sudut arah
tertentu. Karena di dalam prakteknya, memang alat-alat pembelok seperti turbo drill, dyna
drill dan lain-lain dapat menghasilkan lubang dengan belokan yang kontinyu (smooth),
sehingga lebih tepat apabila segmen-segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu
lingkaran.
Di dalam perencanaannya pemboran berjalan pada suatu bidang datar dengan sudut arah
tetap (Gambar 11.35).

Gambar 35. Penampang Vertikal Suatu Lubang Bor (Metoda ROC)


Apabila suatu bagian kecil interval lubang bor dM didalam gambar 11.35 kita
perhatikan, maka akan didapatkan segmen kecil lubang bor.
180
......................................................................................................(3)

I x

dimana :

I = Sudut kemiringan, derajat

x = Suatu sudut di dalam radial


tetapi juga :
l b M ............................................................................................................(11.4)

dimana :

42

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


b

= Kecepatan sudut kemiringan, o/ft.

M = Jarak suatu titik M dari KOP, sehingga substitusi persamaan (11.4) ke (11.-3)
didapat :

x b

180

M ................................................................................................(11.5)

Dari gambar 16.35, apabila dM yang diambil sangat kecil, akan didapatkan :
dZ Cosx dM .................................................................................................(11.6)

Substitusi ke persamaan 5 didapatkan :

dZ cos b

180

M dM

diintegrasi menjadi :

Z 2 Z1 180

sinb 180M

sin b

180

M
1

atau :

Z 2 Z1 180

sin I 2 sin I1 ........................................................................(11.7)

untuk titik di KOP, I 1 0 , sehingga :

Z 2 Z1 180

sin I .................................................................................(11.8)
2

Arah horizontal sepanjang build up section (=H) dapat dilihat dari gambar 16.35,
apabila interval dM sangat kecil maka :
dH sin x dM .................................................................................................(11.9)

Kemudian persamaan ini disubstitusi ke persamaan (5).

dH sin b

180

dM ................................................................................(11.10)

Apabila diintegrasi akan didapatkan :

H 2 H 1 180

cos I cos I ..................................................................(11.11)


1

Untuk KOP, I 1 0 , sehingga :

H 2 H 1 180

1 cos I .........................................................................(11.12)
2

Perlu diingat bahwa :


Prinsip Directional Drilling

43

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


MD2 MD1

I 2 I1
.......................................................................................(11.13)
b

Persamaan-persamaan di atas tetap berlaku untuk drop off section.


Apabila digunakan program komputer untuk perencanaan, maka dapat dipakai
persamaan-persamaan 11.7, 11.11 dan 11.13, untuk menghitung TVD, MD dan Drift-nya.
b. Build-and-Hold Trajectory
Gambar 11.36 menunjukkan geometry build-and-hold trajectory,

Gambar 11.36. Build-and-Hold Type Well Path Untuk X3 < r19),23)


dimana :
D1 : TVD kick of point, feet

D2 : TVD buildup section, feet


D3 : TVD dasar sumur, feet

X 3 : Horizontal departure, feet


q

: Rate of inclination angle buildup, o /panjang

Radius of curvature, r1 , adalah :


r1 =

180

1
...................................................................................................(14)
q

Maximum inclination angle, diperoleh dari


90 0 90

44

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


atau,
...........................................................................................................(15)

Dengan memperhatikan segitiga OAB, maka


r x3
BA
1
......................................................................................(16a)
AO D3 D1

tan

dan
r1 x3
........................................................................................(16b)
D

D
3
1

arctan

Dengan memperhatikan segitiga OBC, maka


sin

r1
......................................................................................................(17)
OB

dan

r1 x3 2 D3 D1 2

LOB

Substitusi OB ke dalam persamaan 16-17 memberikan


r1

sin

r1 x3

D3 D1

.........................................................................(18)

Sudut inklinasi maximum untuk build-and-hold dimana x3 r1 adalah :

r1

arcsin

r1 x3 2 D3 D1 2

arctan r1 x3
D D ....................................(19)

1
3

Panjang busur, DC, adalah


LDC

r1
180

atau
LDC

...........................................................................................................(20)
B

Panjang CB dapat ditentukan dari segitiga BCO


tan

r
CO
1
LCB LCB

dan
LCB

r1
tan

Prinsip Directional Drilling

45

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Total measured depth, , untuk TVD dari adalah
DM D1

1 ........................................................................................(21)
q tan

Horizontal departure dari buildup section dapat diperoleh dengan memperhatikan


segitiga D'OC, dimana
x 2 r1 r1 cos r1 1 cos .........................................................................(22)

Untuk menghitung measured depth dan horizontal departure serta TVD sepanjang build
up section digunakan persamaan :
D N D1 r1 sin ' ............................................................................................(23)

Dan
x N r1 r1 cos ' r1 (1 cos ' ) ....................................................................(24)

TVD pada akhir build up section adalah


D2 D1 r1 sin ..............................................................................................(25)

Measured depth sepanjang build up section adalah :


DMN D1

...................................................................................................(26)
q

Measured depth pada setiap TVD D' ditentukan dari segitiga PP'C :
DMP D1

CP ...........................................................................................(27)
q

dimana
CP

CP '
cos

dan

CP' D' D2 D' D1 r1 sin


Oleh karena itu,
CP

D ' D1 r1 sin
....................................................................................(28)
cos

Substitusi persamaan 28 ke dalam persamaan 27, menghasilkan :


D MP D1

D ' D1 r1 sin

.....................................................................(29)
q
cos

Horizontal departure pada titik P adalah :

46

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


x' x 2 P' P ...................................................................................................(30)

dimana
P' P CP ' tan

Menggabungkan persamaan 30, persamaan 22, dan CP' menghasilkan :

x' r1 1 cos D' D1 r1 sin tan .......................................................(31)


Penurunan persamaan di atas berlaku jika x3 r1
Cara lain untuk menghitung sudut inklinasi maksimum

D3 D1
arccos
r1 x3

arctan

D D1
r1
sin arctan 3

D
r

x
1
3
1 3

Untuk kasus x3 r1 , persamaan untuk menghitung sudut inklinasi maksimum adalah:

D3 D1
arccos

x3 r1

180 arctan

Prinsip Directional Drilling

D D1
r1
sin arctan 3

D
x

r
1
3
3 1

47

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Contoh 1 :
Diinginkan membor suatu sumur di bawah danau dengan menggunakan directional drilling.
Lintasan (trajectory) yang akan digunakan adalah build-and-hold trajectory. Horizontal
departure antara target dengan titik bor adalah 2655 ft dan TVD 9650 ft. Rate of build up
adalah 2.0/100 ft. Kedalaman kick off adalah 1600 ft.
Tentukan :
1. Radius of curvature
2. Sudut inklinasi maximum
3. Measured depth dari build up section
4. Total measured depth
5. Horizontal departure dari buildup section
6. Measured depth pada TVD 1915 ft
7. Horizontal displacement pada TVD 1915 ft
8. Measured depth pada TVD 7614 ft
9. Departure pada TVD 7614 ft

48

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


c. Build-Hold-and-Drop Trajectory
Lintasan jenis ini ditunjukkan oleh gambar 11.37 untuk r1 x3 dan r1 r2 x 4 , dan
gambar 11..38 untuk r1 x3 dan r1 r2 x 4 .Sudut inklinasi maksimum untuk kondisi
r1 r2 x 4 ,

D4 D1
arccos

r1 r2 x 4

arctan

r1 r2
D4 D1

sin arctan

x
1
2
4
D4 D1

......(11.-33)

Gambar 11.37. Build-Hold-and Drop Untuk r1 < X3 and r1 + r2 > X49), 23)

Prinsip Directional Drilling

49

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.38. Build-Hold-and-Drop and Hold (Modified-S) dimana r1 < X3 dan (r1 + r2)
< X4),23)
Sedang sudut inklinasi maksimum untuk kondisi r1 r2 x 4 ,

D4 D1
arccos
x 4 r1 r2

180 arctan

r1 r2
D4 D1

sin arctan

D
x

r
4
1
4 1 2

...........................................................................................................................(11.34)

d. Build, Hold, Partial Drop, and Hold (Modified Trajectory)


Gambar 16.39 menunjukkan tipe ini.
Panjang kurva LCA adalah:
LCA

'
q

dan
LCB r2 sin ' ............................................................................................(11.35a)

untuk CO' B, maka dapat ditulis :

50

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


s BA r2 r2 cos ' r2 1 cos ' ..............................................................(11.35b)

Persamaan 11-33 dan 11-34 dapat ditulis dengan mensubstitusi D5 r2 sin ' untuk
D4 dan x5 r2 1 cos ' untuk x 4 .

Untuk tipe 'S' ini, perhitungan MD dan H dapat dilakukan seperti pada tipe Build - and Hold.

Gambar 11.39. Build, Hold, Partial Drop dimana r1 < X3 dan r1 + r2 < X49),23)

11.8.1.3. Perencanaan X-Y Trajectory


Gambar 11.40 dan 11.41 menunjukkan trajektori vertical dan horizontal dari directional
well, dimana :
A A1
A1
cos A
..........................................................(11.36)
2
2

L DM sin

L = Panjang Utara/Selatan
A A1
A1
sin A
.........................................................(11.37)
2
2

M DM sin

M = Panjang Timur/Barat
TVD dapat dihitung dengan
A1
D DM cos A
................................................................................(11.38)
2

Prinsip Directional Drilling

51

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


dimana adalah pertambahan measured depth.

Gambar 11.40. Trajektori Vertikal9)

Gambar 11.41. Trajektori Horizontal9)


52

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Contoh 2:
Hitunglah Trajektori dari 8000 ke 8400 feet, dimana KOP pada 8000 feet dan Build-Up Rate
adalah 1o/ 100 ft, dengan sudut lead 10 o dengan Right-hand rate adalah 1o/100 ft. Arah Anual
adalah N 3oE.
Asumsi bahwa 200 ft pertama dipakai untuk mengarahkan sudut lead, dimana arah dibuat
konstan sampai 8200 ft dan kemudian belok kanan dengan kecepatan 1o/100 ft.

Prinsip Directional Drilling

53

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


11.9. Metoda-Metoda Perhitungan Hasil Survey Pemboran Berarah
Setelah perencanaan dibuat dan praktek pemboran terarah dilaksanakan, seperti telah
diterangkan terdahulu, pada setiap kedalaman-kedalaman tertentu dilakukan pengukuran
sudut kemiringan dan arah lubang bor (dilakukan survey). Apabila pada titik-titik survey
tersebut terjadi penyimpangan, lubang bor diarahkan kembali ke arah yang telah ditetapkan.
Ada beberapa metoda yang dapat menentukan koordinat titik-titik survey ini. Berturutturut akan dibicarakan metoda yang terdahulu hingga yang terbaru ditemukan, dimana
masing-masing metoda mempunyai limitasi-limitasi tertentu di dalam menganalisa persoalan.
Perlu diingatkan bahwa metoda yang ditemukan kemudian merupakan perbaikan dari metoda
yang mendahuluinya.
Dalam rangka menganalisa persoalan, semua metoda yang akan dibicarakan
mendasarkan perhitungannya kepada pengukuran 3 besaran yaitu kedalaman sumur (

MD M ), perubahan sudut kemiringan ( I ) dan sudut arah ( A ) yang dicatat oleh alat-alat
survey.

11.9.1. Metoda Tangential


Prinsip dari metoda ini adalah menggunakan sudut inklinasi dan azimuth dari titik awal
interval untuk menghitung vertical depth, departure, dan posisi. Prinsip dari metoda
tangential tersebut ditunjukkan oleh gambar 16.42
VD MD cos I 2
H MD sin I 2

E D sin A2 MD sin I 2 sin A2


N D cos A2 MD sin I 2 cos A2

dimana :

MD : Pertambahan measured depth

54

VD

: Pertambahan TVD

: Pertambahan departure

: Pertambahan koordinat arah utara

: Pertambahan koordinat arah Timur

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.42. Tangential Method : (a) Vertical Section;


(b) Plan View

11.9.2. Metoda Balanced Tangential


Metoda ini membagi dua interval dimana untuk bagian atas interval digunakan sudut
inklinasi dan azimuth pada titik awal interval dan untuk bagian bawah interval digunakan
sudut inklinasi dan azimuth pada titik akhir interval. Prinsip dari metoda ini ditunjukkan oleh
Gambar 11.43.
MD
sin I 1
2

D1

MD
sin I 2
2

D 2

D D1 D2

MD
sin I 1 sin I 2
2

MD
cos I 1
2

VD1

MD
cos I 2
2

VD2

Prinsip Directional Drilling

55

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.43. Balanced Tangential Method : (a) Vertical Section; (b) Plan View 36)
VD VD1 VD2

MD
cos I 1 cos I 2
2

N N 1 N 2 D1 cos A1 D2 cos A2

E E1 E 2 D1 sin A1 D2 sin A2 =

MD
sin I1 cos A1 sin I 2 cos A2
2

MD
sin I 1 sin A1 sin I 2 sin A2
2

11.9.3. Metoda Angle Averaging


Prinsip dari metoda ini adalah menggunakan rata-rata sudut inklinasi dan rata-rata sudut
azimuth dalam menghitung vertical depth, departure, dan posisi. Perhitungan dengan
menggunakan metoda ini hampir sama dengan menggunakan metoda tangensial.
I1 I 2

D MD sin

I1 I 2

VD MD cos

I1 I 2
A A2
sin 1

2
2

E MD sin

I1 I 2
A A2
cos 1

2
2

N MD sin

56

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


11.9.4. Metoda Radius of Curvature
Metoda ini menganggap bahwa lintasan yang melalui dua station berbentuk kurva yang
mempunyai radius of curvature tertentu. Prinsip perhitungan dengan menggunakan metoda
ini ditunjukkan oleh Gambar 11.44.
TVD
H

360MD
sin I 2 sin I 1
2 I 2 I 1

360MD
cos I 2 cos I 2
2 I 2 I 1

360 2 MD cos I1 cos I 2 sin A2 sin A1


N
4 2 A2 A1 I 2 I 1
2

360 MD cos I 1 cos I 2 cos A2 cos A1


E
4 2 A2 A1 I 2 I 1

Gambar 11.44. Metoda Radius of Curvature 36)

Prinsip Directional Drilling

57

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 11.45. Metode Minimum of Curvature36)

11.9.5. Metoda Minimum of Curvature


Persamaan metoda minimum of curvature hampir sama dengan persamaan metoda
balanced tangential, kecuali data survey dikalikan dengan faktor RF .

DL

RF

DL

tan
Radian

derajat

dimana :

DL = dog-leg angle

CosDL cos I 2 I 1 sin I 1 sin I 2 1 cos A2 A1


TVD

58

MD
cos I 1 cos I 2 RF
2

MD
sin I 1 cos A1 sin I 2 cos A2 RF
2

MD
sin I1 sin A1 sin I 2 sin A2 RF
2

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


11.9.6. Metoda Mercury
Metoda mercury adalah perbaikan dari metoda balanced tangential dengan memasukkan
faktor koreksi panjang dari alat survey yang dipergunakan.
MD STL
cos I 2 cos I 1 STL cos I 2
2

TVD

MD STL
sin I 1 cos A1 sin I 2 cos A2 STL sin I 2 cos A2
2

MD STL
sin I 1 sin A1 sin I 2 sin A2 STL sin I 2 sin A2
2

dimana :
STL adalah panjang peralatan survey.

Prinsip Directional Drilling

59

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Contoh 3 :
Buatlah evaluasi Trajektori Pemboran dari data survey sbb :
MD
7100
7200
7300
7400
7500
Hitunglah menggunakan metoda:

Inklinasi
0
10,1
13,4
16,3
19,6

Arah
0
S 68o W
S 65o W
S 57o W
S 61o W

a. Tangential
b. Balanced Tangential
c. Angle Averaging
d. Radius of Curvature
e. Minimum of Curvature
f. Mercury, dengan panjang alat Survey = 15 feet

60

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


Contoh 4:
1. Perancangan Pemboran MiringPerencanaan pemboran miring dilaksanakan berbentuk
"Build and Hold" terhadap suatu target dengan kedalaman TVD 8000 feet, Posisi target
North (N) 1181 feet dan East (E) 845 feet. Peralatan BHA yang dipakai akan
menghasilkan kecepatan pembentukan sudut kemirian (BUR) sebesar 1o / 100 ft, dimana
pembentukan lengkungan pertama (KOP) pada kedaaman pemboran (MD) 3000 feet.
Buatlah rencana lintasan (Trajectory) serta urutan-urutan perhitungannya, dan isilah tabel
berikut:
MD(feet)

Inklinasi (I, o)

TVD (feet)

Displacement
(H, feet)

0
1000
2000
3000 (KOP)
4000
5000
6000
7000
8000

2. Evaluasi Trajektori Pemboran Miring Tentukanlah jarak displacement (H) dan arah akhir
(N-E) untuk setiap Measure Depth (MD) dengan metoda Balanced Tangential. Berikanlah
contoh secara lengkap tentang perhitungannya:
Depth (MD)

Inclination

(feet)
5000 (KOP)
5100
5500
6000
7000
8000

(Degrees)
0
1.0
2.5
3.5
5.0
3.0

Direction
o

N0E
N 10oE
N 12oE
N 5 oW
N 15oW
N 35oW

Departure (H)

Final Direction

(feet)
0

(N-E)
N 0oE

3. Perancangan Pemboran MiringPerancangan pemboran miring dilakukan berbentuk "Return


to Vertical" terhadap suatu target dengan kedalaman TVD 8000 feet, Posisi target North
(N) 1311 feet dan East (E) 1511 feet. Peralatan BHA yang dipakai akan menghasilkan
kecepatan peningkatan sudut kemiringan (BUR) sebesar 1o / 100 ft dan penurunan sudut
sebesar 2o / 100 ft, dimana pembentukan lengkungan pertama (KOP) pada kedalaman
pemboran (MD) 2100 feet.Buatlah rencana lintasan (Trajectory) serta urutan-urutan

Prinsip Directional Drilling

61

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


perhitungannya, dan isilah tabel berikut dengan selang MD 1000 feet, dan dilengkapi titik
SURFACE, KOP, EOB, EOT, EOD:
MD (feet)
0 (Surface)
................
................
...............

62

Inklinasi (Io)
0
................
................
...............

TVD (feet)
0
................
................
...............

Displacement (H, feet)


0
................
................
...............

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


QUIZ
1. Jelaskan dengan singkat!
a. Alasan-alasan dilaksanakannya pemboran berarah
b. Penyebab belokan selama pemboran
c. Jenis Pemboran berarah
2. Sebutkan :
a. Alat-alat pembelokan sumur, dan jelaskan prinsip kerjanya!
b. Alat-alat survey!
c. Alat-alat Bottom Hole Assembly!
3. Sebutkan dan jelaskan metoda yang digunakan dalam pengarahan lubang, gambarkan!
4. Jelaskan dengan Singkat apa yang dimaksud :
a. KOP, b. TVD, c. Measured Depth, d. Inklinas,i e. Azimuth, f. Displacement, g.
Dogleg, h. Dogleg Severity, i. MPDLS.
Buat sketsa gambar untuk memperjelas penjelasan anda! Dari manakah data-data
tersebut diatas diperoleh!
5. a. Sebutkan tujuan dilakukannya survey pada pemboran berarah!
b. Metode-metode apakah yang dipakai dalam menganalisa titik survey!
6. Masalah-masalah apakah yang sering timbul dalam pemboran berarah, jelaskan!
7. Sebutkan dan gambarkan peralatan yang dipakai untuk pertama kali membelokan
sumur (membentuk KOP)!
8. Prinsip apa dan terangkan cara-cara untk memperbesar, menetapkan dan memperkecil
sudut inclinasi!
9. Jelaskan 5 (lima) metoda perhitungan penentuan letak sumur pada direc-tional drilling
yang utama!
10. Masalah-masalah apa yang sering terjadi pada pemboran horizontal!

Prinsip Directional Drilling

63

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

DAFTAR PARAMETER DAN SATUAN


A

= Azimuth, derajat

= Kecepatan sudut kemiringan, o/ft

= Jarak vertical, feet

DL

= Sudut dogleg, derajat

DM

= Total measured depth, feet

DN

= Measured depth hingga build up section, feet

= Rate of inclination angle, build up/panjang

= Sudut inklinasi maksimum, derajat

= Ketinggian sebenarnya suatu interval, feet

= Horizontal departure, feet

= Inklinasi, derajat

= Panjang utara/selatan, feet

= Jarak horizontal, feet

KOP = Kick of point

= Jarak suatu titik M dari KOP / panjang timur/barat, feet

MD = Measured depth, feet

= Jari-jari kelengkungan lubang , feet

= Pertambahan koordinat arah timur , feet

= Pertambahan horizontal departure , feet

MD = Pertambahan measured depth , feet


N

= Pertambahan koordinat arah utara , feet

TVD = Pertambahan TVD , feet

= Sudut inklinasi, derajat

= Inklinasi, derajat

64

= Azimuth, derajat

Prinsip Directional Drilling

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

DAFTAR PUSTAKA
1. Alliquander,

"Das

Moderne

Rotarybohren",

VEB

Deutscher

Verlag

Fuer

Grundstoffindustrie,Clausthal-Zellerfeld, Germany, 1986


2. Mian M.A., "Petroleum Engineering Handbook for Practicing Engineer", Vol.2, Penn
Well Publishing Company, Tulsa-Oklahoma, 1992.
3. Aguilera R., "Horizontal Wells: Formation Evaluation, Drilling, and Production,
Including Heavy Oil Recovery", Gulf Publishing Company, Houston, 1991.
4. Short J., "Introduction to Directional And Horizontal Drilling", Penn Well Publishing
Company, Tulsa, 1993.
5. Azar J.J., "Drilling in Petroleum Engineering", Magcobar Drilling Fluid Manual.
6. Gatlin C., "Petroleum Engineering: Drilling and Well Completions", Prentice Hall
Inc., Englewood Cliffs, New Jersey, 1960.
7. nn., "Drilling", SPE Reprint Series no. 6a., SPE of AIME, Dallas-Texas, 1973.
8. Bourgoyne A.T. et.al., "Applied Drilling Engineering", First Printing Society of
Petroleum Engineers, Richardson TX, 1986.
9. Moore P.L., "Drilling Practices Manual", Penn Well Publishing Company, First
Edition, Tulsa-Oklahoma, 1974.
10. Moore P.L., "Drilling Practices Manual", Penn Well Publishing Company, Second
Edition, Tulsa-Oklahoma, 1986.
11. McCray A.W., Cole F.W., "Oil Well Drilling Technology", The University of
Oklahoma Press,1979.
12. Rabia. H., "Oil Well Drilling Engineering : Principles & Practice", University of
Newcastle upon Tyne, Graham & Trotman, 1985.

Prinsip Directional Drilling

65