Anda di halaman 1dari 18

EFISIENSI DALAM PRODUKSI

Mata Kuliah : Ekonomi Produksi


DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 5
ANJU GEMPITA J HUTAGAOL

7143141007

APRITA KASSANDRA BANGUN

7143141008

BUTET NATARIA SIMBOLON

7143141014

DIAN CAHYA OCTARIKA SILALAHI 7143141020


ESTERIA SARAGIH

7143141023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami Panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan
karunia-Nya, Kelompok 5 dapat menyelesaikan makalah tentang Efisiensi dalam Produksi
tepat pada waktunya. Makalah ini merupakan tugas mata kuliah Ekonomi Produksi. Makalah
ini untuk memenuhi tugas mata kuliah ekonomi produksi. Kami berharap semoga makalah ini
membantu menambah pengetahuan bagi pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk
maupun isi makalah ini sehingga kedepannya menjadi lebih baik.
Kami juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu Kami
sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dan pada intinya untuk
memperbaiki kekurangan-kekurangan agar dimasa yang akan datang lebih baik lagi.

Penyusun,

Kelompok 5

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................... 1
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................. 3
1.1

Latar Belakang................................................................................................... 3

1.2

Rumusan Masalah............................................................................................... 4

1.3

Tujuan Masalah.................................................................................................. 4

BAB 2 PEMBAHASAN................................................................................................... 5
A.

Konsep Dasar Efisiensi Ekonomi................................................................................5

B.

Jenis Efisiensi........................................................................................................ 8

C.

Metode Meningkatkan Efisiensi Produk.....................................................................10

D.

Efisiensi di exchange............................................................................................. 11

F.

Pengaruh Perubahan Teknologi Terhadap Efisiensi Produksi............................................12

BAB 3 PENUTUP......................................................................................................... 16
3.1

Kesimpulan....................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 17

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Di dalam sebuah organisasi dalam mencapai tujuannya dibutuhkan sebuah manajemen

yang baik, dan manajemen yang baik adalah manajemen yang efisien namun juga efektif. Karena
manajemen yang efisien saja akan sia-sia jika gagal dalam mencapai tujuannya karena kurang
efektif, dan manajemen yang efektif saja akan sangat mungkin terjadi pemborosan karena tidak
efisien namun,dalam makalah kami akan lebih menekankan terhadap efisiensi saja. Semakin
majunya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, persaingan didalam dunia usaha menunjukan
peningkatan yang sangat pesat.
Ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan baru yang sejenis dengan
produknya yang inovatif dan berkualitas. Hal ini menjadi pemicu bagi tiap perusahaan untuk
menunjukan kompetensinya. Masing-masing perusahaan memiliki cara dan metode sendiri untuk
mengembangkan usahanya. Hampir dari setiap perusahaan selalu melakukan inovasiinovasi baru
terhadap produk yang dihasilkan. Hal ini bertujuan agar perusahaan mampu memenangkan
kompetisi dan menguasai pasar.
Semakin ketatnya persaingan dalam bidang industri seperti sekarang ini, maka setiap
perusahaan harus mempunyai manajemen yang baik. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi dan
menghadapi segala perubahan yang terjadi, salah satunya yang dilatar belakangi oleh
perkembangan teknologi, karena perkembangan ini sangat berpotensi untuk menimbulkan
inovasi suatu produk yang berakibat kebutuhan masyarakat meningkat.
Proses produksi merupakan hal yang sangat penting pada perusahaan manufaktur, oleh
sebab itu diperlukan perencanaan dan pengawasan secara kontinyu dan terus menerus. Adanya
perencanaan produksi akan memberikan kemudahan dalam melaksanakan proses produksi pada
perusahaan. Proses produksi adalah aktivitas bagaimana membuat produk jadi dari bahan baku
yang melibatkan mesin, energi, pengetahuan teknis, dan lain-lain Perencanaan proses produksi
tersebut akan menunjukan pemakaian komponen produksi dalam perusahaan. Misalnya jenis dan
jumlah dari bahan baku yang diperlukan, waktu, tenaga kerja, serta mesin yang digunakan untuk
keperluan pelaksanaan proses produksi, perusahaan harus mampu melakukan efisiensi pada

seluruh faktor usahanya terutama terhadap faktor-faktor produksi. Efisiensi faktor-faktor


produksi mempunyai peran yang sangat penting bagi perusahaan, dimana perusahaan
mengharapkan laba yang semaksimal mungkin dengan mengeluarkan atau menggunakan biaya
produksi yang seminimal mungkin.
Produk yang berkualitas adalah produk yang memiliki tingkat presisi yang tepat dan
melalui proses yang efektif dan efisien.
1.2

Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

1.3

Apa yang dimaksud Efisiensi?


Bagaimana keadaan efisiensi dalam produksi?
Bagaimana Jenis-jenis Efisiensi dalam produksi?
Apa saja metode-metode dalam meningkatkan efisiensi produki?
Apa kegunaan dalam mengukur efisiensi?

Tujuan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Untuk mengetahui pengertian dari Efisiensi


Untuk mengetahui bagaimana keadaan efisiensi di dalam kegiatan produksi
Untuk mengetahui Jenis-jenis efisiensi dalam produksi
Untuk mengetahui Metode-metode dalam meningkatkan efisiensi produksi
Untuk mengetahui kegunaan dalam mengukur efisiensi

BAB 2
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Efisiensi Ekonomi


1.1 Arti Efisiensi
Efisiensi seringkali dikaitkan dengan kinerja suatu organisasi karena efisiensi
mencerminkan perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input). Dalam
berbagai literatur, efisiensi juga sering dikaitkan dengan produktivitas karena sama-sama
menilai variabel input terhadap output. Pengertian produktivitas berkebalikan dengan
pengertian efisiensi. Produktivitas dihitung dengan cara membagi output terhadap input,
sedangkan efisiensi adalah input dibagi dengan output. Gambar 1 menjelaskan hubungan
antara input, proses, dan output dalam perhitungan efisiensi dan produktivitas.
Produtivitas

Proses

Input

Output

Efisiensi
Gambar 1 Konsep Efisiensi dan Produktivitas
Agar lebih jelas, dapat dicontohkan sebagai berikut. Untuk menghasilkan 100 unit
output diperlukan 20 kg input. Efisiensi dalam penggunaan input dihitung sebesar 20%
(20 : 100), yang berarti bahwa setiap unit output membutuhkan 0,20 kg input.
Produktivitas input dihitung sebesar 5 (100 : 20), yang berarti bahwa setiap 1 kg input
dapat menghasilkan 5 unit output. Jika misalnya, dengan melakukan perbaikan proses,
dapat dihasilkan 125 unit output dengan mengkonsumsi 20 kg input, maka efisiensi baru
dihitung sebesar 16% (20 : 125) atau dengan kata lain efisiensi meningkat 4% (20% 16%). Ditinjau dari produktivitas, perbaikan terhadap proses tersebut mengakibatkan
produktivitas meningkat menjadi 6,25 (125 : 20) atau dengan kata lain produktivitas
meningkat 1,25 (6,25 5).

Berdasarkan contoh di atas, efisiensi dan produktivitas merupakan indeks yang


menunjukkan hasil perbandingan antara output dan input. Kedua rasio tersebut
menunjukkan bahwa indeks efisiensi atau produktivitas dapat dikendalikan dengan jalan
merekayasa pengelolaan input atau output, atau bahkan keduanya sekaligus. Efisiensi dan
produktivitas dapat digunakan untuk mengukur kinerja suatu unit kegiatan ekonomi.
Wirapati (1976) mendefinisikan efisiensi sebagai usaha untuk mencapai hasil
yang maksimal dengan menggunakan sumber daya yang tersedia, yang meliputi sumber
daya alam, modal, dan manusia dalam suatu waktu. Jadi menurut Wirapati, efisiensi dapat
dilihat dari 2 segi, yaitu pertama, hasil yang telah dicapai, dan kedua adalah usaha yang
telah dilakukan.
The Liang Gie dan Miftah Thoha (1978) menjelaskan bahwa suatu kegiatan dapat
disebut efisien jika usaha yang telah dilakukan, memberikan output yang maksimum,
baik dari jumlah maupun kualitas. Suatu kegiatan juga dapat dikatakan efisien jika
dengan usaha minimum dapat mencapai output tertentu. Usaha yang dimaksud mencakup
material, pikiran, tenaga jasmani, ruang, dan waktu.
Menurut Samsubar Saleh (2000) ada tiga kegunaan mengukur efisiensi. Pertama,
sebagai tolak ukur untuk memperoleh efisiensi relatif, mempermudah perbandingan
antara unit ekonomi satu dengan yang lainnya. Kedua, apabila terdapat variasi tingkat
efisiensi dari beberapa unit ekonomi yang ada maka dapat dilakukan penelitian untuk
menjawab faktor-faktor apa yang menentukan perbedaan tingkat efisiensi, dengan
demikian dapat dicari solusi yang tepat. Ketiga, informasi mengenai efisiensi memiliki
implikasi kebijakan karena membantu pengambilan kebijakan untuk menentukan
kebijakan yang tepat.
Dalam ekonomi publik, efisiensi yang terjadi mengacu pada kondisi pareto
optimal, yaitu suatu kondisi perekonomian dimana tidak ada satu pihakpun yang dapat
menjadi lebih baik tanpa merugikan pihak lain (Guritno, 1993).
Ada tiga faktor yang menyebabkan efisiensi, yaitu apabila dengan input yang
sama menghasilkan output yang lebih besar, dengan input yang lebih kecil menghasilkan
output yang sama, dan dengan input yang lebih besar menghasilkan output yang besar
pula (Kost dan Rosenwig, 1979 dalam Dhita Triana Dewi, 2010)

Jika pengertian efisiensi dijelaskan dengan pengertian input-output maka efisiensi


merupakan rasio antara output dengan input atau dinyatakan dengan rumus sebagai
berikut (Marsaulina N, 2011):
E = O/I
Dimana;
E
= efisiensi
O

= Output

I
= Input
Efisiensi merupakan hasil perbandingan antara output fisik dan input fisik.
Semakin tinggi rasio output terhadap input maka semakin tinggi tingkat efisiensi yang
dicapai. Efisiensi juga dapat dijelaskan sebagai pencapaian output maksimum dari
penggunaan sumber daya tertentu. Jika output yang dihasilkan lebih besar dari pada
sumber daya yang digunakan maka semakin tinggi pula tingkat efisiensi yang dicapai.
Efisiensi dalam ilmu ekonomi digunakan untuk merujuk pada sejumlah konsep
yang terkait pada kegunaan pemaksimalan serta pemanfaatan seluruh sumber daya dalam
proses produksi barang dan jasa.
Definisi tersebut tidak akan selalu sama akan tetapi pada umumnya akan
mencakup semua ide yang hanya dapat dicapai dengan sumber daya yang tersedia.
Sebuah sistem ekonomi yang efisien dapat memberi lebih banyak barang dan jasa bagi
masyarakat tanpa menggunakan lebih banyak sumber daya. Dalam ekonomi pasar secara
umum diyakini akan lebih efisien dibandingkan dengan alternatif lainnya yang pertama
mendasar dalil kesejahteraan berdasarkan penyediaan kepercayaan oleh karena itu bagi
yang menyatakan bahwa setiap pasar berkeseimbangan sempurna berdasarkan kompetitif
adalah efisien (tetapi hanya ada bila tidak teradi ketidaksempurnaan pasar).
Sebuah sistem ekonomi dapat disebut efisien bila memenuhi kriteria berikut:
1. Tidak ada yang bisa dibuat menjadi lebih makmur tanpa adanya pengorbanan.
2. Tidak ada keluaran yang dapat diperoleh tanpa adanya peningkatkan jumlah
masukan.
3. Tidak ada produksi bila tanpa adanya biaya yang rendah dalam satuan unit.

Efisiensi berbicara mengenai input dan output. Efisiensi terkait dengan hubungan
antara output berupa barang atau pelayanan yang dihasilkan dengan sumber daya yang
digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Suatu organisasi, program atau kegiatan
dikatakan efisien apabila mampu menghasilkan output tertentu dengan input serendahrendahnya, atau dengan input tertentu mampu menghasilkan output sebesar-besarnya.
Konsep

efisiensi

juga

terkait

dengan

produktivitas.

Produktivitas

merupakan

perbandingan antara input dan out put. Dalam pusat pertanggungjawaban teknik, untuk
mengukur efisiensi dilakukan dengan cara membandingkan biaya sesungguhnya dengan
biaya standar. Pengukuran efisiensi dilakukan dengan cara membandingan realisasi
dengan standar biaya.
Efektivitas terkait dengan hubungan antara hasil yang diharapkan dengan hasil
yang sesungguhnya dicapai. Efektivitas merupakan hubungan antara output dengan
tujuan. Semakin besar kontribusi output terhadap pencapaian tujua, maka semakin efektif
organisasi, program, atau kegiatan. Karena output yang dihasilkan organisasi sektor
publik

lebih banyak bersifat output tidak berwujud yang tidak mudah untuk di

kuantifikasi , maka pengukuran efektivitas sering menghadapi kesulitan. Kesulitan dalam


pengukuran efektivitas tersebut adalah karena pencapaian hasil sering tidak bisa fiketahui
dalam jangka pendek, akan tetapi jangka panjang setelah program berakhir, sehingga
ukuran efektivitas biasanya dinyatakan secara kualitatif dalam bentuk pernyataan saja.
Value for money menghendaki organisasi bisa memenuhi prinsip efisiensi dan efektivitas
tersebut secara bersama-sama. Dengan pengertian lain, value for maoney menghendaki
organisasi dapat mencapai tujuan yang ditetapkan dengan biaya yang lebih rendah.
B.

Jenis Efisiensi
Dalam sudut pandangan perusahaan dikenal tiga macam efisiensi,yaitu
1. Efisiensi Teknis (Technical Efficiency) yang merefleksikan kemampuan perusahaan
untuk mencapai level output yang optimal dengan menggunakan tingkat input tertentu.
Efisiensi ini mengukur proses produksi dalam menghasilkan sejumlah output tertentu
dengan menggunakan input seminimal mungkin. Dengan kata lain, suatu proses produksi
dikatakan efisien secara teknis apabila output dari suatu barang tidak dapat lagi
ditingkatkan tanpa mengurangi output dari barang lain.

Efisensi teknis merupakan kombinasi antara kapasitas dan kemampuan unit kegiatan
ekonomi untuk memproduksi sampai tingkat output maksimum dari input-input dan
teknologi yang tetap.
Efisiensi teknis sebenarnya mencerminkan seberapa tinggi tingkat teknologi dalam proses
produksi. Pada umumnya teknologi yang dipergunakan dalam proses produksi dapat
digambarkan dengan mempergunakan kurva isokuan (isoquant), fungsi produksi
(production function), fungsi biaya (cost function), dan fungsi keuntungan (profit
function)
2. Efisiensi Alokatif (Allocative Efficiency), merefleksikan kemampuan perusahaan dalam
mengoptimalkan penggunaan inputnya dengan struktur harga dan tekhonologinya.
Terminologi efisiensi Pareto sering disamakan dengan efisiensi alokatif untuk
menghormati ekonomi Italia Vilfredo Pareto yang mengembangkan konsep efficiency
inexchange. Efisiensi Pareto mengatakan bahwa input produksi digunakan secara efisien
apabila input tersebut tidak mungkin lagi digunakan untuk meningkatkan suatu usaha
tanpa menyebabkan setidak-tidaknya keadaan suatu usaha yang lain menjadi lebih buruk.
Dengan kata lain, apabila input dialokasikan untuk memproduksi output yang tidak dapat
digunakan atau tidak diinginkan konsumen, hal ini berarti input tersebut tidak digunakan
secara efisien.
3. Efisiensi Ekonomis (Economic Efficiency), yaitu kombinasi antara efisiensi teknikal dan
efisiensi alokatif. Efisiensi ekonomis secara implicit merupakan konsep least cost
production. Untuk tingkat output tertentu, suatu perusahaan produksinya dikatakan
efisien secara ekonomi jika perusahaan tersebut menggunakan biaya dimana biaya per
unit dari output adalah yang paling minimal. Dengan kata lain, untuk tingkat output
tertentu, suatu proses produksi dikatakan efisien secara ekonomi jika tidak ada proses
lainnya yang dapat digunakan untuk memproduksi tingkat output tersebut pada biaya per
unit yang paling kecil.

C.

Metode Meningkatkan Efisiensi Produk


Efisiensi Produksi adalah kemampuan menghasilkan output pada suatu tingkat
kualitas tertentu dengan biaya yang lebih rendah. Perusahaan dapat menentukan target
efisiensi produksi dengan menggunakan sistem Benchmarking adalah metode

mengevaluasi kinerja dengan cara perbandingan pada beberapa tingkat tertentu, biasanya
suatu tingkat yang telah dicapai oleh perusahaan lain.
Ada tiga metode untuk meningkatkan efisiensi produk, yaitu:
a. Teknologi
Perusahaan melakukan Otomisasi,dimanapekerjaan diselesaikan oleh mesin tanpa
penggunaan karyawan
- Panduan Otomisasi yang efektif :
1. Perencanaan
2. Penggunaan otomatisasi berlebih pada semua bagian proses produksi
3. Pelatihan
4. Evaluasi biaya dan manfaat dalam jangka waktu tertentu
b. Skala Ekonomi
Jumlah/ Kualitas yang diproduksi meningkat, sehingga biaya per unit
menurun. (Skala ekonomi merefleksikan timbulnya biaya ratarata yang lebih
rendah sebagai akibat dari produksi dengan volume yang lebih besar)
1. Biaya Tetap
Biaya operasi yang tak berubah jika jumlah produksi yang dihasilkan bertambah
atau berkurang. Contoh : Biaya sewa pabrik.
2. Biaya Variabel
Biaya yang operasi yang bervariasi, berhubungan langsung dengan jumlah produk
yang dihasilkan.
3. Titik break-even
Kualitas unit yang terjual dimana pendapatan total sama dengan biaya total.
c. Restrukturisasi
Revisi dari proses produksi dalam upaya meningkatkan efisiensi, yang dilakukan
melalui:
1. Re-engineering
Rancangan ulang struktur organisasi dan operasi perusahaan
Contoh revisi kecil adalah prosedur yang dipakai untuk menerima pesan
lewat telepon.

Contoh revisi besar adalah operasi lini perakitan yang baru untuk produksi

perusahaan.
2. Perampingan
Suatu pengurangan dalam jumlah karyawan. Perusahaan menentukan berbagai
posisi pekerjaan yang dapat di eliminasi tanpa mempengaruhi volume atau
kualitas produk yang dihasilkan. Beberapa bentuk perampingan muncul karena
teknologi yang digunakan untuk menggantikan sumber daya manusia.
3. Anorexia korporat
Masalah yang muncul saat perusahaan menjadi terobsesi untuk mengeliminasi
komponen mereka yang tidak efisien dan mengakibatkan timbulnya perampingan
yang terlalu banyak.
Ada tiga kegunaan mengukur efisiensi, yaitu:
1. Sebagai tolak ukur untuk memperoleh efisiensi relative, mempermudah
memperbandingkan antara unit ekonomi satu dengan lainnya.
2. Apabila terdapat variasi tingkat efisiensi dari beberapa unit ekonomi yang ada
maka dapat dilakukan penelitian untuk menjawab factor-faktor apa yang
menentukan perbedaan tingkat efisiensi.
3. Informasi mengenai efisiensi memilki implikasi kebijakan karena manajer dapat
menentukan kebijakan perusahaan secara tepat.
D.

Efisiensi di exchange
Pasar yang kompetitif adalah efisien karena memaksimalkan konsumen dan
surplus produsen. Untuk menguji konsep efisiensi ekonomi secara lebih rinci, kita mulai
dengan pertukaran ekonomi, menganalisis perilaku dua konsumen yang dapat
perdagangan salah satu dari dua barang antara mereka. Analisis tersebut juga berlaku
untuk perdagangan antara kedua negara. Misalkan dua barang awalnya dialokasikan
sehingga kedua konsumen dapat membuat diri mereka lebih baik oleh perdagangan
dengan satu sama lain. Dalam hal ini, alokasi awal barang ekonomis tidak efisien. Dalam
alokasi efisien barang, tidak ada yang bisa dilakukan lebih baik tanpa membuat orang lain
lebih buruk. Istilah efisiensi Pareto kadang-kadang digunakan sinonim dengan alokasi
yang efisien, untuk kredit ekonom Italia Vilfredo Pareto, yang mengembangkan konsep
efisiensi dalam pertukaran. Dalam sub bagian tindak itu, kami menunjukkan mengapa
perdagangan yang saling menguntungkan menghasilkan Pareto efisien alokasi barang.

Efisiensi Input (Input Efisiensi)


Untuk melihat bagaimana input dapat dikombinasikan secara efisien, kita harus
menemukan berbagai kombinasi input yang dapat digunakan untuk menghasilkan
masing-masing dua output. A tertentu alokasi input ke dalam proses produksi secara
teknis efisien jika output dari satu yang baik tidak dapat ditingkatkan tanpa mengurangi
output lain baik.
Perhitungan Efisiensi
Farrell (1957) menyatakan alasan pentingnya pengukuran efisiensi :
1. Masalah pengukuran efisiensi produksi suatu industri adalah penting untuk ahli teori
ekonomi maupun pengambil kebijakan ekonomi;
2. Jika alasan-alasan teoritis efisiensi relatif dari berbagai sistem ekonomi harus diuji,
maka pentinguntuk mampu membuat pengukuran efisiensi aktual;
3. Jika perencanaan ekonomi sangat terkait dengan industri tertentu adalah penting
untuk meningkatkan output tanpa menyerap sumberdaya-sumberdaya tambahan atau
menaikkan efisiensinya.
F.

Pengaruh Perubahan Teknologi Terhadap Efisiensi Produksi


Berikut ini kami akan memisalkan dalam pertanian. Terdapat tiga jenis sumberdaya
utama yang menentukan produksi pertanian, yaitu lahan, tenaga kerja dan modal (Harianto,
2010). Upaya peningkatan produksi dan produktivitas pertanian tidak terlepas dari
peningkatan ketiga faktor produksi tersebut. Faktor produksi yang memungkinkan petani
untuk melakukan adopsi teknologi yang lebih maju adalah modal. Peningkatan kualitas
tenaga kerja baik dari aspek keterampilan teknis maupun kapabilitas manajerialnya akan
menentukan tingkat efisiensi dan produktivitas yang dicapai. Peningkatan luas lahan garapan
kepada petani akan memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan produksi pertanian.
Hick (1932) menulis buku yang terkenal The theory of wages mengemukakan
bahwa perubahan teknologi yang bias terhadap pemakaian salah satu faktor produksi
didorong (induced) oleh struktur harga faktor produksi tersebut. Perubahan harga relatif dari
faktor masukan akan berpengaruh terhadap arah penemuan (invention) dan perbaikan atau
perubahan (innovation) teknologi. Teori induced innovation dari Hick bertitik tolak pada
suatu keyakinan dan bukti empiris bahwa kenaikan harga relatif dari salah satu faktor

produksi terhadap faktor produksi lainnya akan mendorong perubahan teknologi yang akan
mengurangi penggunaan faktor produksi tersebut relatif terhadap faktor produksi lainnya.
Pemikiran Hick tersebut merupakan dasar bagi teori An Induced Development Model
(ID) yang diperkenalkan oleh Hayami dan Rutan (1985). Salah satu pertanyaan utama
Hayami dan Rutan (1985) adalah bagaimana hubungan di antara perubahan-perubahan
teknologi, kelembagaan dan ekonomi tersebut dapat menjamin kesinambungan proses
pembangunan

pertanian.

mengidentifikasi

kondisi

Hayami
yang

dan

Ruttan

mendukung

memberikan

pertumbuhan

perhatian

sektor

bagaimana

pertanian

yang

berkesinambungan dalam proses pembangunan secara keseluruhan.


Berdasar kajian tersebut, dalam penyusunan model ID, Hayami dan Ruttan (1985)
mengemukakan hipotesis pokok yaitu : Keberhasilan peningkatan produktivitas pertanian
secara cepat ditentukan oleh kemampuan untuk menciptakan teknologi yang secara ekologis
dan ekonomis dapat diterapkan dan dikembangkan di tiap negara atau wilayah
pembangunan. Hayami dan Ruttan (1985) juga mengajukan hipotesis tentang produktivitas
pertanian yang tinggi di negara-negara berkembang, yaitu :
1.

Perkembangan sektor non-pertanian, yang mampu memberikan dampak


terhadap peningkatan produksi pertanian, disebabkan kemampuan sektor ini
menyediakan faktor produksi modern yang murah bagi sektor pertanian, seperti

traktor dan pupuk buatan;


2. Kapasitas masyarakat pertanian dalam menciptakan inovasi teknologi yang
berkesinambungan untuk meningkatkan permintaan input yang dihasilkan sektor
industri. Kondisi lingkungan yang kondusif (enable environment), proses dan
mekanisme, dan sistem dalam melakukan pembangunan pertanian akan sangat
menentukan tingkat produktivitas pertanian.
Semaoen (1992) mengemukakan terdapat empat macam karakteristik abstraksi
teknologi, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Efisiensi teknis yang ditunjukkan oleh intersep,


Skala operasi dari proses produksi,
Intensitas faktor masukan, dan
kemudahan substitusi antar faktor masukan yang dikenal dengan elastisitas
substitusi.

Dua macam karakteristik abstraksi teknologi yaitu efisiensi teknis dan perolehan
terhadap skala (return of scale) adalah tidak tergantung pada ratio produktivitas marjinal dari
faktor masukan. Tetapi elastisitas substitusi antar faktor (marginal rate of technical
substitution/MRTS) adalah bergantung pada produktivitas marginal dari faktor masukan.
Pengaruh perbaikan teknologi terhadap efisiensi produksi diteliti oleh Theingi dan
Thanda (2005) dalam sebuah konferensi penelitian pertanian internasional untuk
pembangunan.
Hasil penelitian dengan judul Analisis Efisiensi Teknis Sistem Produksi Beras
Beririgasi di Myanmar diperoleh temuan bahwa masalah yang dihadapi oleh petani antara
lain adalah : harga pupuk yang tinggi, kekurangan air irigasi, keterbatasan investasi,
minimnya pengetahuan tentang proteksi tanaman, serta sulitnya meperoleh benih yang
berproduktivitas tinggi. Berdasarkan hasil estimasi dengan menggunakan fungsi produksi
frontier stokastik, menunjukkan bahwa penggunaan tenaga kerja keluarga dan penggunaan
pupuk berpengaruh positif dan nyata terhadap peningkatan produktivitas pada usahatani
kecil. Lebih lanjut dikemukakan bahwa tingkat pendidikan petani yang skala usahataninya
menengah berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis. Petani dengan skala besar
memiliki efisiensi teknis tertinggi yaitu sebesar 0.77 atau di atas petani skala menengah dan
kecil. Implikasinya adalah pemerintah seharusnya melanjutkan dukungannya dalam
investasi publik dan teknologi untuk meningkatkan efisiensi teknis dan tingkat produktivitas.
Menurut Gathak dan Ingersent (1984), perbaikan teknologi dalam bidang pertanian
akan memiliki dua karakteristik, yaitu :
1.

Membentuk fungsi produksi yang baru yang lebih tinggi dari

penggunaan

2.

sejumlah input yang jumlahnya tetap, dan


Dapat dihasilkan output yang sama dengan memberikan sejumlah input yang lebih
sedikit, sehingga akan menurunkan biaya produksi.
Selanjutnya dikemukakan bahwa dengan adanya perbaikan teknologi akan

menyebabkan terjadinya pergeseran fungsi produksi secara positif dan vertikal ke atas.
Sumarno (2011) mengemukakan bahwa peran teknologi dalam meningkatkan produktivitas
agregat nasional tidak semata-mata disebabkan oleh peningkatan daya hasil per hektar, tetapi
juga disebabkan oleh adanya stabilitas dan kepastian hasil, terkendalikannya hama-penyakit

tanaman, adanya pengurangan senjang produktivitas, perbaikan kualitas hasil, dan


pengurangan kehilangan hasil panen.

BAB 3
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, efisiensi diterjemahkan dengan daya guna. Untuk

menentukan apakah suatu kegiatan itu termasuk efisien atau tidak maka prinsip-prinsip atau
persyaratan efisiensi harus terpenuhi. Adapun prinsip tersebut adalah sebagai berikut : efisiensi
harus dapat diukur, efisisensi mengacu pada pertimbangan yang rasional, efisiensi tidak boleh

mengorbankan kualitas, efisiensi merupakan teknis pelaksanaan, pelaksanaan efisiensi harus


disesuaikan dengan kemamapuan organisasi yang bersangkutan.
Agar tercipta organisasi yang efisien, ada beberapa cara untuk meningkatkan efisiensi
dalam organissasi. Adapun cara tersebut adalah : pelaksanaan fungsi manajemen secara tepat,
pemanfaatan sumber daya ekonomi yang tepat, pelaksanaan fungsi-fungsi organisasi sebagai alat
pencapai tujuan yang setepat-tepatnya, pengarahan dan dinamika organisasi dilakukan untuk
pengembangan dan kemajuan yang berkesinambungan.
Efisiensi maupun produktivitas keduanya dapat digunakan sebagai bahan untuk mengukur
kinerja suatu unit kegiatan ekonomi, meskipun secara prinsip kedua pengukuran tersebut
berbeda. Konsep efisiensi lebih berkaitan dengan seberapa jauh suatu proses mengkonsumsi
masukan untuk menghasilkan keluaran tertentu, sementara konsep produktivitas berkaitan
dengan seberapa jauh suatu proses menghasilkan keluaran dengan mengkonsumsi masukan
tertentu

DAFTAR PUSTAKA
Sihombing, Mayor.,dan Aurora Elise.2016. Ekonomi Produksi.Medan
http://2frameit.blogspot.co.id/2011/07/landasan-teori-pengertian-efisiensi.html (diakses tanggal
11 April 2016)
http://stiebanten.blogspot.co.id/2011/05/metode-meningkatkan-efisiensi-produksi.html (diakses
tanggal 11 April 2016)

http://abstraksiekonomi.blogspot.com/2013/07/pengertian-efisiensi-dalam-teori-ekonomi.html
(diakses tanggal 11 April 2016)
http://muzayyinahns.blogspot.com/2012/11/pengertian-efektifitas-dan-efisien.html(diakses
tanggal 11 April 2016)
https://justkie.wordpress.com/2012/06/04/produksi-teori-fungsi-dan-efisiensi/(diakses tanggal 11
April 2016)