Anda di halaman 1dari 6

CRITICAL REVIEW JURNAL

IMPACT FEES
J Flood, AHURI-RMIT, Melbourne, VIC, Australia,2012

A. RINGKASAN JURNAL
Sebelum adanya peraturan wajib pajak, di Amerika Serikat biaya pajak properti di
tanggung oleh pemerintah berupa hibah dari pemerintah Negara Bagian dan Federal. Namun
sejak tahun 1950, pemerintah mulai turut ikut serta dalam mengatur mekanisme biaya
pembangunan baru melalui sistem negosiasi dengan pengembang, dimana pada awalnya hanya
dilakukan untuk menutupi kerugian pada air limbah. Kemudian pada tahun 1970-an, Negara
Federal dan Negara Bagian Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi sehingga pemerintah
membuat sistem tambahan untuk memberikan pajak juga terhadap penggunaan jalan, sekolah,
fasilitas kesehatan, polisi, dan ruang publik. Pembayaran pajak tersebut bertujuan untuk
membiayai seluruh atau sebagian biaya fasilitas umum, sehingga dapat diindikasikan sebagai
bentuk persetujuan masyarakat terhadap proyek pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah
daerah.
Tuntutan dari pemerintah yang sangat besar untuk memperbesar pungutan pajak
menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap pembayar pajak, sehingga pembayar
pajak melakukan pemberontakan, dimana pajak properti yang berkaitan dengan nilai properti
mengakibatkan inflasi meningkat dengan cepat, sehingga menimbulkan kekhawatiran pada
beberapa masyarakat karena harus meninggalkan rumah mereka dengan keterbatasan dana untuk
membayar pajak propertinya. Di California, masyarakat berinisiatif membatasi pajak properti itu
sendiri,pembatasan jumlah pajak property tersebut yang dibebankan di setiap tahunnya dan
membatasi kenaikan pajak untuk jumlah yang sangat kecil sampai property terjual. Dengan
adanya konflik dan pemberontakan dari masyarakat tersebut, pemerintah kembali mengalami
krisis dana. Pemerintah mencari sumber-sumber dana baru untuk menutupi biaya infrastruktur
lokal. Pemberontakan Sejak tahun 1980-an, dampak biaya mulai dituntut kepada seluruh
pengguna pelayanan pemerintah, sistem ini berjalan secara otomatis tanpa pemberontakan dan
telah diterapkan di 29 negara bagian di Amerika Serikat.

ANALISA BIAYA DAMPAK PEMBANGUNAN 2015

Di Australia juga menerapkan sistem yang serupa dalam melibatkan pengembang untuk
membayar infrastrukur terkait dengan pertumbuhan/pembangunan yang cepat. Pemerintah
Australia menawarkan untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur publik dimana biayanya
dapat diambil dari pembayaran pajak masyarakat tersebut, sehingga warga tidak melakukan
pemberontakan dan juga tidak keberatan terhadap peraturan pajak, seperti yang pernah terjadi di
Amerika Serikat. Sistem ini disetujui dan telah diterapkan di Australia. Di Italia beban pajak
terhadap masyarakat dengan sistem biaya pajak sebanding dengan biaya pembangunan tempat
tinggal mereka.
Implikasi Hukum
Serangkaian kasus pengadilan menetapkan beberapa prinsip-prinsip umum dimana
dampak biaya bisa diterapkan oleh otoritas lokal. Dibawah ini merupakan beberapa hal yang
menyangkut penerapan dampak biaya berdasarkan hukum yang berlaku, yaitu:
-

Pemerintah harus menunjukkan ke-rasionalitas beban pajak (biaya harus jelas menhenai
biaya untuk layanan dan bukan pajak dan biaya tersebut tidak dapat digunakan untuk
memperbaiki kekurangan pada fasilitas yang ada)

Biaya pajak harus diterapkan kepada semua pihak

Alokasi biaya pengeluaran harus tepat guna,pada fasilitas yang benar dan properti tidak
di perbolehkan ambil alih tanpa ganti rugi yang adil

Bentuk pemungutan pajak harus sebanding dengan dampak terhadap proyek


pembangunan

Mekanisme dan sistem pengelolaan dampak biaya harus berjalan baik, pemerintah harus
memperbaharui data biaya penyedian berbagai macam infrastruktur yang dibangun dan
akan dibangun dan pertanggung jawaban yang benar atas biaya yang telah di keluarkan
dan didapatkan dari dampak biaya. Banyak pemerintah masih belum sempurna dalam
melakukan akuntabel dimana beberapa pemerintah belum menerapkan biaya dalam kurun
waktu 6 tahun.

Kegiatan suap menyuap dan KKN harus dihindari, karena masyarakat telah membayar
pajak untuk biaya modal pembangunan infrastruktur sehingga peruntukan dana harus
tepat guna

ANALISA BIAYA DAMPAK PEMBANGUNAN 2015

Untuk beban dampak biaya itu sendiri, banyak penulis menyatakan bahwa pajak bisa
jatuh secara parsial terhadap pemilik asli

tanah yang diperuntukkan untuk membangun

bangunan. Hal ini tergantung pada pasokan tanah dan keadaaN pasar. Di negara-negara dengan
ketersediaan lahan perkotaan yang elastis, seperti negara bagian di Amerika Serikat dan
Australia, seluruh pajak akan dibebankan kepada pembeli. Walaupun jika dilihat lebih dalam,
harga rumah akan naik lebih jauh daripada jumlah pajak yang dibayarkan setiap tahunnya. Dari
hal tersebut, jelas terlihat bahwa pajak diperuntukkan kepada pemilik tanah dan pemilik
bangunan.
Dampak biaya atau biasa disebutkan pajak ini memiliki efek terhadap perkembangan
harga properti,permainan harga properti juga tergantung pada pajak,semakin besar pajak yang di
bayar maka harga properti juga semakin naik begitu ungkapnya . Hal ini berdampak pada
regulasi pajak semakin diperketat, seperti pada kawasan perkotaan yang lahannya semakin
mengecil sedangkan bangunan semakin banyak dan juga penduduk semakin tumbuh pesat biaya
pajak baik lahan/tanah maupun bangunan semakin tinggi.
Penggunaan dampak biaya (pajak) untuk pembangunan merupakan sebagai alat untuk
mengurangi ekspansi terhadap instansi yang mendukung pertumbuhan rendah. Pemerintah
menyadari bahwa penerapan dampak biaya ini dapat membantu mencegah timbulnya urban
sprawl. Penulis menyatakan ada beberapa alasan mengapa dampak sangat diminati oleh banyak
instansi pemerintah, karena pemerintah setempat tidak lagi harus meminjam dana untuk biaya
investasi modal dalam hal pembangunan kota,karena sistem pengadaan dampak biaya ini
berjalan secara continue didapatkan dari hasil masyarkat yang membayar pajak. Pendanaan
untuk meningkatkan infrastruktur untuk publik diperoleh secara langsung dan pada waktu yang
tepat dan juga dapat meningkatkan kas daerah tersebut. Masyarakat di daerah berkembang yang
memiliki dampak biaya dapat menikmati kualitas hidup yang lebih tinggi dan efek negatif yang
lebih sedikit dari pertumbuhan jangka panjang dari masyarakat di daerah-daerah yang memilih
untuk tidak menggunakan dampak biaya begitu ungkapnya.
B. ANALISIS
Amerika Serikat adalah sebuah republic federal dengan pemerintahan negara bagian dan
lokal otonom. Sistem pemungutan pajak yang diterapkan di Amerika Serikat tergantung pada
masing-masing tingkatannya, yaitu termasuk didalamnya adalah pajak atas penghasilan, gaji,
property, penjualan, impor, perkebunan, dan hadiah, serta berbagai biaya lainnya. Amerika
ANALISA BIAYA DAMPAK PEMBANGUNAN 2015

membebankan pajak progresif pada pajak pendapatan masing-masing individu, kemitraan,


perusahaan, dan perkebunan. Meskipun hokum yang berlaku di Amerika Serikat sangat
kompleks, tapi hukum yang mengatur pajak tersebut mudah dipahami.
Terkhusus untuk pajak property, dikenalan langsung oleh pemerintah lokal paling banyak
dan otoritas tujuan khusus berdasarkan nilai pasar property yang berlangsung pada saat itu. Pajak
property umumnya hanya dikenakan pada realty, meskipun beberapa peraturan hukum untuk
pajak property bervariasi.
Ada beberapa dampak yang berpengaruh terhadap penerapan konsep di atas yaitu:
Dampak Positif :
-

Dapat meningkatkan pendapatan pemerintah daerah setempat

Dapat mengurangi penggunaan lahan terhadap bangunan yang meningkat pesat akibat
pertumbuhan penduduk dan perkembangan daerah tersebut

Pemerintah tidak lagi harus mencari dana pinjaman untuk membangun infrastruktur
karena dampak biaya sudah dibebankan pada pajak dimana pemasukan kas pemerintah
masuk secara continue

Pembangunan infrastruktur lancar dengan adanya dana dari penarikan pajak tersebut

Dampak Negative :
-

Konsep yang di tawarkan hanya bisa digunakan pada kawasan perkotaan yang
mempunyai investasi tinggi.

Di wilayah pedesaan atau terpencil sangat kecil kemungkinan untuk di terapkan karena
selain daerah yang belum berkembang minat pengembang untuk membangun properti
sangat minim

Dampak biaya terhadap pembangunan infrastruktur di perdesaan juga tidak terlalu tinggi
karena pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut permintaannya tidak terlalu tinggi
dibandingkan dengan kawasan perkotaan

Dana hasil dari dampak biaya yang dibebankan atas pajak juga belum tentu dikelola
dengan baik oleh pemerintah,

Konsep dampak biaya yang ditawarkan hanya berkaitan dengan pembangunan properti
dan lahan,padahal dampak biaya tidak hanya terjadi pada properti dan lahan

ANALISA BIAYA DAMPAK PEMBANGUNAN 2015

Di Indonesia sendiri sudah menerapkan konsep yang di sebutkan oleh J-Flood ini. Sistem
pajak yang di tawarkan juga cocok dengan karakter masyarakat Indonesia. Sistem perpajakan di
Indonesia sudah banyak berubah semenjak perubahan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan pada tahun 1983,yang merupakan awal dimulainya reformasi perpajakan Indonesia
menggantikan sistem perpajakan yang dibuat oleh kolonnel belanda. Sampai saat ini Indonesia
telah memperluas sistem pemungutan pajak. Semula untuk hamper keseluruhan jenis pajak
diberlakukan sistem official assessment yaitu yaitu sistem yang hampir sama yang ditawarkan
oleh J-Flood. Namun sekarang Indonesia mulai memperkenalkan self assessment yang hingga
kini kedua sistem tersebut massih di terapkan.
Sistem perpajakan yang berlaku di Indonesia Adalah Self Asessment System, dimana
Wajib Pajak diberi kebebasan untuk menghitung, menyetor dan melaporkan pajaknya sendiri ke
kantor pajak. Sistem ini memiliki arti bahwa utang pajak timbul apabila ada yang menyebabkan
timbulnya utang pajak. Hingga saat ini kantor pajak telah merubah sistem administrasinya
menjadi tiga yaitu KPP Besar, KPP Madya, KPP Pratama. Dimana ketiga KPP tersebut telah
menerapkan sistem administrasi modern diantaranya ada Account Representative (AR), kring
pajak, dan help desk. Mereka mengharapkan dengan adanya perubahan sistem tersebut citra
negatif pajak di masyarakat dapat berubah dari yang semula enggan membayar pajak karena
takut berurusan dengan orang pajak menjadi lebih pro aktif untuk membayar pajak. Tetapi yang
lebih diinginkan masyarakat sebenarnya adalah perubahan budaya orang pajak sendiri yaitu dari
penguasa menjadi pelayan masyarakat sesuai dengan namanya kantor pelayanan. Kesulitan
masyarakat untuk membayar pajak disebabkan kurangnya sosialisasi dari aparat pajak khususnya
dimana mereka hanya memberikan sosialisasi kepada WP (wajib pajak) tertentu saja (besar &
berpotensi) bukannya kepada seluruh wajib pajak.
Salah satu perbedaan antara sistem pajak yang diterapkan di Amerika Serikat dan
Indonesia adalah mengenai tax return. Di Indonesia, belum pernah diterapkan adanya sistem
pengembalian pajak kepada wajib pajak (dalam bentuk uang). Tetapi mungkin alokasi tax return
telah diterapkan langsung untuk memperbaiki sarana dan prasarana umum, misalnya
memperbaiki jalan, jembatan, gedung public, dan sebagainya. Namun, hingga saat ini hal
tersebut masih tidak lepas dari kejadian oknum-oknum yang ikut menikmati pajak tersebut untuk
kepentingan pribadi mereka. Sedangkan di negara Amerika Serikat, setiap orang berhak untuk
mendapatkan tax return atau tax kredit selama memenuhi persyaratan yang berlaku. Tax return
ANALISA BIAYA DAMPAK PEMBANGUNAN 2015

ini dapat diperoleh dalam bentuk yang bermacam-macam, contohnya adalah tunjangan untuk
pengasuhan anak dari pajak (earned income credit, dan yang lain-lain).
C. KESIMPULAN
Pajak merupakan iuran wajib yang harus dibayar oleh setiap warga Negara Indonesia
yang telah digolongkan berdasarkan jenisnya masing-masing. Pajak telah dialokasikan untuk
membiayai proyek pembangunan untuk kepentingan negara. Penggunaan dampak biaya (pajak)
untuk pembangunan merupakan sebagai alat untuk mengurangi ekspansi terhadap instansi yang
mendukung pertumbuhan rendah. Pemerintah menyadari bahwa penerapan dampak biaya ini
dapat membantu mencegah timbulnya urban sprawl.
Perbedaan mendasar sistem perpajakan di Indonesia dan di Amerika Serikat adalah
mengenai penetapan tariff yang selalu berubah di Amerika Serikat yang disesuaikan dengan
kondisi pasar. Seperti yang telah diketahui bahwa di Amerika Serikat menganut sistem
demokrasi liberal atau sistem pasar bebas. Sedangkan di Indonesia tariff pajak sudah ditentukan
dalam UU Perpajakan, dimana untuk setiap jenisnya dikenakan tariff yang bermacam-macam,
misalnya untuk pajak pertambahan dikenakan tarif sebesar 10%.
Perbedaan yang kedua adalah mengenai tata cara pembayaran perpajakan, di Indonesia
wajib pajak melaporkan sendiri pajaknya ke petugas pajak, sedangkan di Amerika Serikat semua
hal yang berhubungan dengan pajak dilakukan oleh petugas pajak yang telah memiliki
wewenang.
Selain itu, perbedaan yang lainnya terletak pada sistem tax return yang diterapkan di
Amerika Serikat, dimana negara tersebut memberikan pengembalian pajak secara langsung
dalam bentuk asuransi pendidikan kepada anak. Sedangkan di Indonesia lebih ke pengembalian
secara tidak langsung, seperti dialokasikan langsung untuk pembiayaan barang publik.

ANALISA BIAYA DAMPAK PEMBANGUNAN 2015