Anda di halaman 1dari 45

MAKALAH TENTANG PENGAMPUNAN PAJAK

(AMNESTI PAJAK)

NAMA KELOMPOK:
Kathleen Wiratan (13130210054)
Evelyn (14130210023)
Sindy Saputri (14130210009)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengampunan Pajak atau Amnesti Pajak dilakukan karena beberapa hal yaitu moderasi
pertumbuhan ekonomi global, perekonomian Amerika yang belum stabil, perlambatan
pertumbuhan Tiongkok, ketidakpastian kebijakan moneter, harga komoditas menurun, dan risiko
geopolitik: Timur tengah dan Brexit.
Dimana, beberapa hal tersebut memberikan dampak yang tidak baik bagi Indonesia seperti
perlambatan ekonomi Indonesia, defisit neraca perdagangan, defisit anggaran membesar,
penurunan laju pertumbuhan sektor industri/manufaktur, dan infrastruktur gap yang masih tinggi.
Kondisi tersebut mengakibatkan penggangguran, kemiskinan serta kesenjangan makin
meningkat sehingga kita harus menemukan sumber pertumbuhan ekonomi yang baru bagi
Indonesia.
Indonesia mencari sumber investasi dari luar negeri sehingga peluang investasi di Indonesia
terbuka lebar atau repatriasi yang berarti menanamkan harta yang diungkap dalam program
pengampunan pajak kedalam instrument investasi yang telah ditentukan.
Indonesia harus melakukan hal ini sekarang karena negara ini membutuhkan banyak dana
untuk pembangunan yang berkelanjutan serta inklusif, Automatic Exchange Of Information
(AEOI) akan dilakukan sebentar lagi paling lambat 2018 yang menyebabkan revisi UU
Perbankan untuk keterbukaan data bagi perpajakan, dan kepatuhan perpajakan secara
keseluruhan masih rendah sehingga partisipasi masyarakat dalam pembangunan optimal.
Wajib Pajak harus mengikuti amnesti pajak karena kebijakan Amnesti Pajak adalah terobosan
kebijakan yang didorong oleh semakin kecilnya kemungkinan untuk menyembunyikan kekayaan
di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia karena semakin transparannya sektor
keuangan global dan meningkatnya intensitas pertukaran informasi antarnegara.
Kebijakan Amnesti Pajak juga tidak akan diberikan secara berkala. Setidaknya, hingga beberapa
puluh tahun ke depan kebijakan Amnesti Pajak tidak akan diberikan lagi.
Kebijakan Amnesti Pajak seperti yang ada dalam penjelasan umum Undang-Undang
Pengampunan Pajak harus diikuti dengan kebijakan lain seperti penegakan hukum yang lebih
tegas dan penyempurnaan Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan,
Undang-Undang tentang Pajak Penghasilan, Undang-Undang tentang Pajak Pertambahan Nilai
Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, serta kebijakan strategis lain di bidang
perpajakan dan perbankan sehingga sikap ketidakpatuhan Wajib Pajak akan tergerus di kemudian
hari melalui basis data yang kuat yang dihasilkan oleh pelaksanaan Undang-Undang ini.

Ikut serta dalam Amnesti Pajak juga membantu Pemerintah mempercepat pertumbuhan dan
restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan Harta, yang antara lain akan berdampak terhadap
peningkatan likuiditas domestik, perbaikan nilai tukar Rupiah, penurunan suku bunga, dan
peningkatan investasi yang merupakan bagian dari reformasi perpajakan menuju sistem
perpajakan yang lebih berkeadilan serta perluasan basis data perpajakan yang lebih valid,
komprehensif, dan terintegrasi dan meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain akan
digunakan untuk pembiayaan pembangunan.

B. Asas dan Tujuan


Pengampunan Pajak dilaksanakan berdasarkan asas kepastian hukum, keadilan, kemanfaatan,
dan kepentingan nasional.
Pengampuan pajak yang dilakukan memiliki 3 tujuan yaitu untuk:
a. Mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan harta,
yang antara lain akan berdampak terhadap peningkatan likuiditas domestik, perbaikan
nilai tukar rupiah, penurunan suku bunga, dan peningkatan investasi.
b. Mendorong reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih berkeadilan
serta perluasan basis data perpajakan yang lebih valid, komprehensif, dan terintegrasi.
c. Meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain akan digunakan untuk pembiayaan
pembangunan.
C. Manfaat Pengampunan Pajak
Manfaat dilaksanakan pengampunan pajak adalah
a. Tax ratio meningkat melalui pencapaian target penerimaan pajak atau menambah
penghasilan penerimaan baru dimana penambahannya dirasa cukup efektif dalam
mengurangi penerimaan negara yang semakin berkurang. Dengan diterapkannya
pengampunan pajak maka secara otomatis akan menarik dana yang terdapat di luar
negeri ke Indonesia yang menjadikannya masuk ke dalam pencatatan untuk sumber
penerimaan baru.
b. Perluasan basis data perpajakan yang lebih valid, komprehensif, dan terintegrasi.
Wajib Pajak yang mengikuti program Amnesti Pajak akan memperoleh manfaat berupa:
a.
b.
c.
d.
e.

Penghapusan pajak yang seharusnya terutang


Tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana perpajakan
Tidak dilakukan pemeriksaan, pemeriksaan bukti permulaan, dan penyidikan
Penghentian proses pemeriksaan, pemeriksaan bukti permulaan, dan penyidikan
Jaminan Rahasia dimana data Pengampunan Pajak tidak dapat dijadikan dasar
penyelidikan dan penyidikan tindak pidana lain

f. Pembebasan PPh terkait proses balik nama harta


D. Cara Memanfaatkan Amnesti Pajak
Cara memanfaatkan amnesti pajak terdiri 5 tahap:
a. Datang ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau tempat tertentu
Ke Help Desk Amnesti Pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan tempat tertentu
untuk mendapatkan informasi selengkapnya tentang syarat, kelengkapan, dan cara
pengisian Surat Pernyataan Harta.
b. Hitung dengan benar dan lunasi uang tebusan
Ke Bank Persepsi yang ditetapkan melalui e-Billing menggunakan Kode Akun Pajak
411129 dan Kode Jenis Setoran 512.
c. Persiapkan pengisian SPH dan kelengkapannya dengan seksama.
Dokumen kelengkapan SPH terdiri dari bukti bayar uang tebusan, bukti pelunasan
tunggakan ajak jika ada, daftar rincian harta, daftar utang serta dokumen
pendukungnya, fotokopi SPT PPh terakhir, bukti pelunasan pajak yang tidak atau
kurang dibayar atau pajak yang seharusnya tidak dikembalikan bagi Wajib Pajak yang
sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan atau penyidikan dan beberapa surat
pernyataan.
d. Ajukan SPH beserta kelengkapan ke KPP atau tempat tertentu
Disini dilakukan cek syarat serta kelengkapan SPH, cek kesesuaian isian juga
dokumen, dan cek kebenaran hitungan uang tebusan dan pelunasannya pada hari yang
sama anda akan mendapatkan Tanda Terima.
e. Surat Keterangan Pengampunan Pajak diterima oleh Wajib Pajak
Dalam jangka waktu 10 hari kerja terhitung sejak tanggal tanda terima anda peroleh
dan terbit Surat Keterangan Pengampunan Pajak.
E. Jangka Waktu Berlaku
Amnesti Pajak berlaku sejak disahkan hingga 31 Maret 2017 dan terbagi kedalam 3 (tiga)
periode yaitu:
a. Periode I: Dari tanggal diundangkan s.d 30 September 2016
b. Periode II: Dari tanggal 1 Oktober 2016 s.d 31 Desember 2016
c. Periode III: Dari tanggal 1 Januari 2017 s.d 31 Maret 2016

BAB 2
LANDASAN TEORI

Menurut UU RI No. 11 Tahun 2016, Pengampunan Pajak adalah penghapusan pajak yang
seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang
perpajakan, dengan cara mengungkap harta dan membayar uang tebusan. Pengampunan Pajak
(amnesti pajak) juga adalah program pengampunan yang diberikan oleh Pemerintah kepada
Wajib Pajak meliputi penghapusan pajak yang seharusnya terutang, penghapusan sanksi
administrasi perpajakan, serta penghapusan sanksi pidana di bidang perpajakan atas harta yang
diperoleh pada tahun 2015 dan sebelumnya yang belum dilaporkan dalam SPT, dengan cara
melunasi seluruh tunggakan pajak yang dimiliki dan membayar uang tebusan.
Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.
Harta adalah akumulasi tambahan kemampuan ekonomis berupa seluruh kekayaan, baik
berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, baik yang digunakan
untuk usaha maupun bukan untuk usaha, yang berada di dalam dan/atau di luar wilayah Negar a
Kesatuan Republik Indonesia.

Utang adalah jumlah pokok utang yang belum dibayar yang berkaitan la ngsung dengan
perolehan Harta.

Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 tahun kalender, kecuali jika Wajib Pajak menggunakan
tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
Tunggakan Pajak adalah jumlah pokok pajak yang belum dilunasi berdasarkan Surat Tagihan
Pajak yang di dalamnya terdapat pokok pajak yang terutang, Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan, Putusan Banding, dan Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan
jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah termasuk pajak yang seharusnya tidak
dikembalikan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan.

Uang Tebusan adalah sejumlah uang yang dibayarkan ke kas negara untuk mendapatkan
Pengampunan Pajak.

Tindak Pidana di Bidang Perpajakan adalah tindak pidana sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang mengenai Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Surat Pernyataan Harta untuk Pengampunan Pajak yang selanjutnya disebut Surat Pernyataan
adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk mengungkapkan Harta, Utang, nilai Harta
bersih, serta penghitungan dan pembayaran Uang Tebusan.
Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerinta han di bidang keuangan
negara.

Surat Keterangan Pengampunan Pajak yang selanjutnya disebut Surat Keterangan adalah
surat yang diterbitkan oleh Menteri sebagai bukti pemberian Pengampunan Pajak.
Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Terakhir yang selanjutnya disebut SPT PPh
Terakhir adalah Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan untuk Tahun Pajak 2015 bagi
Wajib Pajak yang akhir tahun bukunya berakhir pada periode 1 Juli 2015 sampai dengan 31
Desember 2015; atau Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan untuk Tahun Pajak 2014
bagi Wajib Pajak yang akhir tahun bukunya berakhir pada periode 1 Januari 2015 sampai dengan
30 Juni 2015.
Manajemen Data dan Informasi adalah sistem administrasi data dan informasi Wajib Pajak
yang berkaitan dengan Pengampunan Pajak yang dikelola oleh Menteri.
Bank Persepsi adalah bank umum yang ditunjuk oleh Menteri untuk menerima setoran
penerimaan negara dan berdasarkan Undang-Undang ini ditunjuk untuk menerima setoran Uang
Tebusan dan/atau dana yang dialihkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
dalam rangka pelaksanaan Pengampunan Pajak.
Tahun Pajak Terakhir adalah Tahun Pajak yang berakhir pada jangka waktu 1 Januari 2015
sampai dengan 31 Desember 2015.
Amnesti pajak yang dilakukan pada saat ini juga memiliki slogan yaitu ungkap, tebus, dan
lega. Ungkap adalah sebuah pernyataan dari Wajib Pajak untuk bersedia melaporkan seluruh
kekayaan, baik berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, baik
yang digunakan untuk usaha maupun bukan untuk usaha, yang berada di dalam dan/atau diluar
negeri, yang belum dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh terakhir. Belum dilaporkannya kekayaan
tersebut bisa dikarenakan kelalaian atau keadaan di luar kekuasaan yang dialami Wajib Pajak
sehingga kolom Harta dan Utang dalam SPT Tahunan PPh belum diisi dengan benar, lengkap,
dan jelas.
Tebus adalah pembayaran sejumlah uang ke kas negara untuk mendapatkan Amnesti Pajak
berupa pelepasan hak negara untuk menagih pajak yang seharusnya terutang dari pengungkapan
kekayaan yang dilakukan oleh wajib pajak kepada Dirjen Pajak.
Lega adalah sebuah perasaan yang nantinya akan menaungi Wajib Pajak manakala mereka
telah memanfaatkan Pengampunan Pajak. Dengan diterimanya Pengampunan Pajak, Wajib Pajak
akan mendapatkan penghapusan atas pajak yang seharusnya terutang, sanksi administrasi
perpajakan, dan sanksi pidana perpajakan untuk kewajiban perpajakan sebelum 31 Desember
2015.

BAB 3

PEMBAHASAN
A. Subjek dan Objek Pengampunan Pajak
Wajib Pajak yang mempunyai kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan berhak mendapatkan Pengampunan Pajak.
Subjek pajak yang dapat memanfaatkan pengampunan pajak adalah
a. Wajib Pajak Orang Pribadi
a. Orang pribadi seperti petani, nelayan, pensiunan, tenaga kerja Indonesia atau
subjek pajak warisan yang belum terbagi, yang jumlah penghasilannya pada
Tahun Pajak Terakhir di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak dapat tidak
menggunakan haknya untuk mengikuti Pengampunan Pajak.
b. Warga Negara Indonesia yang tidak bertempat tinggal di Indonesia lebih dari
183 hari dalam jangka waktu 12 bulan dan tidak mempunyai penghasilan dari
Indonesia merupakan Subjek Pajak Luar Negeri dan dapat tidak menggunakan
haknya untuk mengikuti Pengampunan Pajak.
b. Wajib Pajak Badan
c. Wajib Pajak yang bergerak di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengan (UMKM)
d. Orang Pribadi atau Badan yang belum menjadi Wajib Pajak atau memiliki NPWP
Subjek pajak yang tidak dapat memanfaatkan pengampunan pajak atau dikecualikan adalah
a. Wajib Pajak yang dilakukan penyidikan dan berkas penyidikannya telah dinyatakan
lengkap oleh kejaksaan,
b. dalam proses peradilan, dan
c. menjalani hukum pidana
Pengampunan pajak diberikan kepada Wajib pajak melalui pengungkapan harta yang
dimilikinya dalam surat pernyataan. Pengampunan pajak meliputi pengampunan atas kewajiban
perpajakan sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir, yang belum atau belum sepenuhnya
diselesaikan oleh Wajib Pajak. Kewajiban perpajakan tersebut terdiri atas Pajak Penghasilan,
Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
Harta tambahan yang dimaksud tersebut merupakan harta warisan; dan/atau harta hibahan
yang diterima keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus sederajat yang belum atau belum
seluruhnya dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan. Harta warisan yang bukan
merupakan objek pengampunan pajak apabila diterima oleh ahli waris yang tidak memiliki
penghasilan dibawah penghasilan tidak kena pajak atau harta warisan yang sudah dilaporkan
dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan Pewaris. Harta hibah yang bukan merupakan objek
pengampunan pajak apabila diterima oleh orang pribadi penerima hibah yang tidak memiliki

penghasilan atau memiliki penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak dan harta
hibahan sudah dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan pemberi hibah.
B. Dokumen-dokumen yang digunakan dalam rangka pelaksanaan Pengampunan Pajak
Dokumen
yang
tercantum
dalam
Peraturan
Menteri
Keuangan
Nomor
118/PMK.03/2016 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang
Pengampunan Pajak yaitu:

Lampiran I, Surat Pernyataan


Lampiran II, Surat Pernyataan Mengalihkan dan Menginvestasikan Harta Tambahan
Lampiran III, Surat Pernyataan Tidak Mengalihkan Harta Tambahan
Lampiran IV, Daftar Rincian Harta dan Utang
Lampiran V, Surat Pernyataan Mencabut Permohonan dan/atau Pengajuan
Lampiran VI, Surat Pernyataan Besaran Peredaran Usaha
Lampiran VII, Surat Permintaan Informasi Tertulis Mengenai Jumlah Pajak Yang
Tidak atau Kurang Dibayar atau Tidak Seharusnya Dikembalikan
Lampiran VIII, Surat Permohonan Pencabutan Atas Permohonan dan/atau Pengajuan
Lampiran IX, Surat Keterangan Pengampunan Pajak
Lampiran X, Laporan Pengalihan dan Realisasi Investasi Harta Tambahan
Lampiran XI, Laporan Penempatan Harta Tambahan Yang Berada di Dalam Wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 118/PMK.03/2016 tentang Pelaksanaan UndangUndang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak. Dokumen dalam lampiran
Peraturan Direktur Jenderal ini yaitu:
Lampiran XII, Surat Pembetulan atas Surat Keterangan
Lampiran XIII, Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari
Pengalihan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan atau Pengalihan Saham
Lampiran XIV, Surat Permohonan Surat Keterangan Bebas Pajak Penghasilan Atas
Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan Atau Pengalihan
Saham
Lampiran XV, Surat Keputusan Pembatalan Surat Tagihan Pajak dan Surat Ketetapan
Pajak
Lampiran XVI, Surat Keputusan Pembatalan Surat Keputusan
Lampiran XVII, Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi Secara Jabatan
Dalam Rangka Pengampunan Pajak
Lampiran XVIII, Surat Ketetapan Penghentian Penyidikan
Lampiran XIX, Surat Klarifikasi
C. Tarif dan Cara Menghitung Tebusan

Tarif uang tebusan terdiri atas 3 jenis yaitu:


a. Tarif Uang Tebusan atas Harta yang berada dalam wilayah NKRI atau Harta yang
berada di luar wilayah NKRI yang dialihkan ke dalam wilayah NKRI dan
diinvestasikan di dalam wilayah NKRI dalam jangka waktu paling singkat 3 tahun
terhitung sejak dialihkan (Repatriasi/deklarasi dalam negeri) adalah sebesar:
a. 2% untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada bulan pertama sampai
akhir bulan ketiga terhitung sejak UU ini mulai berlaku
b. 3% untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada bulan keempat
terhitung sejak UU ini mulai berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember
2016
c. 5% untuk periode penyampaian Surat Pernyataan terhitung sejak tanggal 1
Januari 2017 sampai dengan tanggal 31 Maret 2017
b. Tarif Uang Tebusan atas Harta yang berada di luar wilayah NKRI dan tidak dialihkan
ke dalam wilayah NKRI (Deklarasi Luar Negeri) adalah sebesar:
a. 4% untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada bulan pertama sampai
dengan akhir bulan ketiga terhitung sejak UU ini berlaku
b. 6% untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada bulan keempat
terhitung sejak UU ini mulai berlaku sampai dengan 31 Desember 2016
c. 10% untuk periode penyampaian Surat Pernyataan terhitung sejak tanggal 1
Januari 2017 sampai dengan tanggal 31 Maret 2017
c. Tarif Uang Tebusan bagi Wajib Pajak yang peredaran usahanya sampai dengan Rp
4.800.000.000,00 pada Tahun Pajak Terakhir (UMKM) adalah sebesar:
a. 0,5% bagi Wajib Pajak yang mengungkapan nilai Harta sampai dengan Rp
10.000.000.000,00
b. 2% bagi Wajib Pajak yang mengungkapkan nilai Harta lebih dari Rp
10.000.000.000,00 dalam Surat Pernyataan, untuk periode penyampaian Surat
Pernyataan pada bulan pertama sejak UU ini mulai berlaku sampai dengan
tanggal 31 Maret 2017
Besarnya Uang Tebusan dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan
Uang Tebusan. Dasar pengenaan Uang Tebusan dihitung berdasarkan nilai Harta bersih yang
belum atau belum seluruhnya dilaporkan dalam SPT PPh Terakhir. Nilai harta bersih merupakan
selisih antara nilai Harta dikurangi nilai Utang. Bagi Wajib Pajak yang baru memperoleh Nomor
Pokok Wajib Pajak setelah tahun 2015 dan belum menyampaikan SPT PPh Terakhir tambahan
Harta bersih yang diungkapkan dalam Surat Pernyataan seluruhnya diperhitungkan sebagai dasar
pengenaan Uang Tebusan. Uang tebusan harus dibayar lunas ke kas negara melalui bank persepsi

dengan menggunakan Surat Setoran Pajak yang berfungsi sebagai bukti pembayaran Uang
Tebusan setelah mendapatkan validasi.
Untuk penghitungan dasar pengenaan Uang Tebusan, besarnya nilai Utang yang berkaitan
secara langsung dengan perolehan Harta tambahan yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang
nilai Harta bagi:
a.
b.

Wajib Pajak badan paling banyak sebesar 75% dari nilai Harta tambahan
Wajib Pajak orang pribadi paling banyak sebesar 50% dari nilai Harta tambahan

D. Pembayaran Uang Tebusan


Uang Tebusan harus dibayar lunas ke kas negara melalui Bank Persepsi. Uang Tebusan
diadministrasikan sebagai Pajak Penghasilan Non Migas Lainnya. Pembayaran Uang Tebusan
dilakukan dengan menggunakan Kode Akun Pajak 411129 dan Kode Jenis Setoran 512.
Pembayaran Uang Tebusan menggunakan surat setoran pajak dan/atau bukti penerimaan negara
yang berfungsi sebagai bukti pembayaran Uang Tebusan setelah mendapatkan validasi. Surat
setoran pajak dan/atau bukti penerimaan negara tersebut dinyatakan sah jika telah divalidasi
dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara yang diterbitkan melalui modul penerimaan
negara.
Jika terjadi kesalahan penulisan Kode Akun Pajak dan/atau Kode Jenis Setoran pada surat
setoran pajak atau bukti penerimaaan negara maka Direktur Jenderal Pajak melakukan
pemindahbukuan ke Kode Akun Pajak dan Kode Jenis Setoran atas permintaan Wajib Pajak.
Kelebihan Pembayaran Uang Tebusan
Direktur Jenderal Pajak meneliti secara jabatan terhadap kebenaran kelebihan
pembayaran Uang Tebusan tersebut. Kelebihan pembayaaran tersebut harus dikembalikan
dan/atau diperhitungkan dengan kewajiban perpajakan lainnya, dalam jangka waktu paling
lama 3 bulan terhitung sejak diterbitkannya surat pembetulan atau disampaikannya Surat
Pernyataan kedua atau ketiga sampai dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pengembalian
Kelebihan Pembayaran Pajak.
Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar dalam jangka
waktu paling lama 2 bulan terhitung sejak diterbitkannya surat pembetulan atau
disampaikannya Surat Pernyataan kedua atau ketiga.
Direktur Jenderal Pajak mengembalikan kelebihan pembayaran Uang Tebusan karena:
a. Uang Tebusan yang seharusnya tidak terutang telah dibayar ke kas negara
b. Uang Tebusan yang seharusnya tidak terutang telah dibayar tidak diperhitungkan
dalam Surat Pernyataan berikutnya

c. Uang Tebusan yang seharusnya tidak terutang telah dibayar dan tidak diperhitungkan
dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
Jika ditemukan adanya kesalahan hitung dalam Surat Keterangan yang mengakibatkan
kekurangan pembayaran Uang Tebusan, Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan surat
klarifikasi kepada Wajib Pajak untuk melunasi kekurangan pembayaran Uang Tebusan dalam
jangka waktu paling lama 14 hari kerja sejak surat klarifikasi diterbitkan. Jika sampai waktu
yang telah ditentukan berakhir dan Wajib Pajak tidak melunasi kekurangan pembayaran
Uang Tebusan, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan surat pembetulan atas Surat Keterangan
yang berisi penyesuaian nilai Harta.
E. Pelunasan Uang Tunggakan
Tunggakan Pajak yang harus dilunasi oleh Wajib Pajak merupakan Tunggakan Pajak
berdasarkan Surat Tagihan Pajak, surat ketetapan pajak, surat keputusan, atau putusan, yang
diterbitkan sebelum Wajib Pajak menyampaikan Surat Pernyataan. Tunggakan Pajak yang harus
dilunasi adalah Tunggakan Pajak termasuk biaya penagihan pajak yang timbul sehubungan
dengan adanya tindakan penagihan pajak kepada Wajib Pajak.
Tunggakan Pajak yang telah dibayar sebagian dihitung secara proporsional antara besarnya
pokok pajak dengan sanksi administrasi berdasarkan data yang terdapat dalam sistem
administrasi Direktorat Jenderal Pajak. Data yang terdapat dalam sistem administrasi Direktorat
Jenderal Pajak tidak memuat secara rinci penghitungan besarnya sanksi administrasi dan
besarnya sanksi administrasi dihitung sebesar 48% dari jumlah yang masih harus dibayar dalam
Surat Tagihan Pajak atau surat ketetapan pajak.
F. Wajib Pajak Dengan Peredaran Usaha Tertentu
Bagi Wajib Pajak yang peredaran usahanya sampai dengan Rp 4.800.000.000,00 pada Tahun
Pajak Terakhir harus melampirkan surat pernyataan mengenai besaran peredaran usaha. Wajib
Pajak tersebut merupakan Wajib Pajak yang memiliki peredaran usaha hanya bersumber dari
penghasilan atas kegiatan usaha dan tidak menerima penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan
kerja dan/atau pekerjaan bebas.
Pekerjaan bebas merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai
keahlian khusus sebagai usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu
hubungan kerja, antara lain dokter, notaris, akuntan, arsitek, atau pengacara.
Peredaran usaha ditentukan berdasarkan surat pernyataan mengenai besaran peredaran usaha
yang berisi pencatatan peredaran usaha Wajib Pajak mulai Januari sampai dengan Desember
pada Tahun Pajak 2015 bagi Wajib Pajak yang belum memiliki kewajiban melaporkan Surat

Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan; atau SPT PPh Terakhir bagi Wajib Pajak yang telah
memiliki kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.
G. Surat Pernyataan dan Cara Penyampaian
Untuk memperoleh Pengampunan Pajak, Wajib Pajak harus menyampaikan Surat Pernyataan
kepada Menteri. Wajib pajak harus mengambil sendiri Surat Pernyataan ke Kantor Pelayanan
Pajak (KPP) atau dengan cara mengunduh melalui website www.pajak.go.id. Surat Pernyataan
tersebut ditandatangani oleh Wajib Pajak orang pribadi; pemimpin tertinggi berdasarkan akta
pendirian badan atau dokumen lain yang dipersamakan, bagi Wajib Pajak badan; atau penerima
kuasa, dalam hal pemimpin tertinggi.
Persyaratan Wajib Pajak yang dapat memanfaatkan amnesti pajak sebagai berikut:
a. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak;
b. membayar Uang Tebusan;
c. melunasi seluruh Tunggakan Pajak;
d. melunasi pajak yang tidak atau kurang dibayar atau melunasi pajak yang seharusnya
tidak dikembalikan bagi Wajib Pajak yang sedang dilakukan pemeriksaan bukti
permulaan dan/atau penyidikan;
e. menyampaikan SPT PPh Terakhir bagi Wajib Pajak yang telah memiliki kewajiban
menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan; dan
f. mencabut permohonan:
a. pengembalian kelebihan pembayaran pajak;
b. pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi dalam Surat Ketetapan
Pajak dan/atau Surat Tagihan Pajak yang di dalamnya terdapat pokok pajak
yang terutang;
c. pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang tidak benar;
d. pengurangan atau pembatalan Surat Tagihan Pajak yang tidak benar
e. keberatan;
f. pembetulan atas surat ketetapan pajak dan surat keputusan;

g. banding;
h. gugatan; dan/atau
i. peninjauan kembali, dalam hal Wajib Pajak sedang mengajukan permohonan
dan belum diterbitkan surat keputusan atau putusan.
j. pembetulan atas Surat Tagihan Pajak, surat ketetapan pajak dan/ atau surat
keputusan, ke Kantor Pelayanan Pajak tempat permohonan dan/atau
pengajuan upaya hukum
Surat Pernyataan memuat paling sedikit informasi mengenai identitas Wajib Pajak, Harta,
Utang, nilai Harta bersih, dan penghitungan uang tebusan. Surat Pernyataan harus dilampiri
dengan:
a. Bukti pembayaran Uang Tebusan berupa surat setoran pajak atau bukti penerimaan
negara
b. Bukti pelunasan Tunggakan Pajak bagi Wajib Pajak yang memiliki Tunggakan Pajak
berupa surat setoran pajak atau bukti penerimaan negara dan/atau surat setoran bukan
pajak beserta daftar rincian Tunggakan Pajak bagi Wajib Pajak yang memiliki
Tunggakan Pajak
c. Daftar rincian Harta dengan menggunakan format sesuai contoh dalam Peraturan
Menteri beserta informasi kepemilikan Harta yang dilaporkan
d. Daftar Utang menggunakan format sesuai contoh dalam Peraturan Menteri serta
dokumen pendukung
e. Bukti pelunasan yang tidak atau kurang dibayar atau pajak yang seharusnya tidak
dikembalikan bagi Wajib Pajak yang sedang dilakukan pemeriksaan bukti permulaan
atau penyidikan Tindak Pidana di bidang perpajakan disertai informasi tertulis dari
Dirjen Pajak melalui kepala unit pelaksana pemeriksaan bukti permulaan atau kepala
unit pelaksana penyidikan. Bukti pelunasan itu berupa Surat Setoran Pajak dan bukti
penerimaan negara
f. Fotokopi SPT PPh Terakhir atau salinan berupa cetakan SPT PPh Terakhir yang
disampaikan secara elektronik, bagi Wajib Pajak yang telah memiliki kewajiban
menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
g. Surat Pernyataan mencabut permohonan dengan menggunakan format sesuai contoh
di dalam Peraturan Menteri.
Nilai harta yang diungkapkan dalam Surat Pernyataan meliputi:
a. Nilai harta yang telah dilaporkan dalam SPT PPh Terakhir
a. Nilai harta yang telah dilaporkan ditentukan dalam mata uang Rupiah
berdasarkan nilai yang dilaporkan dalam SPT PPh Terakhir.
b. Wajib Pajak diwajibkan menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan menggunakan satuan mata uang selain Rupiah, nilai Harta yang

telah dilaporkan ditentukan dalam mata uang Rupiah berdasarkan kurs yang
ditetapkan oleh Menteri untuk keperluan penghitungan pajak pada tanggal
akhir tahun buku sesuai dengan SPT PPh Terakhir.
b. Nilai Harta tambahan yang belum atau belum seluruhnya dilaporkan dalam SPT PPh
Terakhir:
a. Nilai Harta tambahan yang belum atau belum seluruhnya dilaporkan
ditentukan dalam mata uang Rupiah berdasarkan nilai nominal untuk Harta
berupa kas atau nilai wajar untuk Harta selain kas pada akhir Tahun Pajak
Terakhir.
b. Jika nilai Harta tambahan menggunakan satuan mata uang selain Rupiah, nilai
Harta tambahan ditentukan dalam mata uang rupiah berdasarkan nilai nominal
untuk Harta berupa kas atau nilai wajar pada akhir Tahun Pajak Terakhir untuk
Harta selain kas dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Menteri
untuk keperluan penghitungan pajak pada akhir Tahun Pajak Terakhir.
Nilai wajar merupakan nilai yang menggambarkan kondisi dan keadaan dari aset yang sejenis
atau setara berdasarkan perhitungan/penilaian Wajib Pajak. Nilai wajar untuk Harta Tambahan
selain kas atau setara kas adalah nilai yang menggambarkan kondisi dan keadaan dari aset yang
sejenis atau setara berdasarkan penilaian Wajib Pajak pada akhir Tahun Pajak Terakhir. Nilai
wajar yang dilaporkan oleh Wajib Pajak dalam Surat Pernyataan Harta tidak dilakukan pengujian
atau koreksi oleh Direktur Jenderal Pajak.
Nilai utang yang diungkapkan dalam Surat Pernyataan meliputi:
a. Nilai Utang yang telah dilaporkan dalam SPT PPh Terakhir
a. Nilai Utang yang telah dilaporkan ditentukan dalam mata uang Rupiah
berdasarkan nilai yang dilaporkan dalam SPT PPh Terakhir.
b. Wajib pajak diwajibkan menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
satuan mata uang selain Rupiah yang ditentukan dalam mata uang Rupiah
berdasarkan kurs yang ditetapkan oleh Menteri untuk keperluan penghitungan
pajak pada tanggal akhir tahun buku sesuai dengan SPT PPh Terakhir.
b. Nilai Utang yang berkaitan dengan Harta tambahan
a. Nilai Utang yang berkaitan dengan Harta tambahan ditentukan dalam mata
uang Rupiah berdasarkan nilai yang dilaporkan dalam daftar Utang pada akhir
Tahun Pajak Terakhir.
b. Nilai Utang yang berkaitan dengan Harta tambahan ditentukan dalam mata
uang selain Rupiah, nilai Utang ditentukan dalam mata uang Rupiah
berdasarkan kurs yang ditetapkan oleh Menteri untuk keperluan penghitungan
pajak pada akhir Tahun Pajak Terakhir.

Bagi Wajib Pajak yang memiliki Harta tidak langsung melalui special purpose vehicle
(SPV), Wajib Pajak harus mengungkapkan kepemilikan Harta beserta Utang yang berkaitan
secara langsung dengan Harta dimaksud dalam daftar rincian Harta serta Utang yang harus
disampaikan dalam bentuk salinan digital (softcopy) dan formulir kertas (hardcopy).
Sebelum menyampaikan Surat Pernyataan beserta lampirannya Wajib Pajak harus meminta
penjelasan mengenai pengisian dan pemenuhan kelengkapan dokumen yang harus dilampirkan
dalam Surat Pernyataan ke kantor Direktorat Jenderal Pajak atau tempat lain yang ditentukan
oleh Menteri.
Surat Pernyataan disampaikan secara langsung oleh Wajib Pajak atau penerima kuasa
Wajib Pajak ke kantor Direktorat Jenderal Pajak/KPP tempat Wajib Pajak terdaftar atau tempat
tertentu yang ditentukan oleh Menteri. Surat Pernyataan tersebut akan dilampiri surat kuasa jika
surat pernyataan ditandatangi oleh penerima kuasa dan Wajib Pajak tidak dapat menyampaikan
secara langsung Surat Pernyataan tersebut. Tempat tertentu tersebut meliputi:
a.
b.
c.
d.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hongkong;


Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura;
Kedutaan Besar Republik Indonesia di London; dan
tempat tertentu selain yang ditetapkan oleh Menteri yang diperlukan untuk
menunjang kelancaran pelaksanaan Undang-Undang Pengampunan Pajak.

Pegawai pada KPP Tempat Wajib Pajak Terdaftar atau pegawai Direktorat Jenderal Pajak
yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak di tempat tertentu memastikan:
a. Mengenai kelengkapan pengisian Surat Pernyataan kelengkapan lampiran Surat
Pernyataan, kesesuaian pengisian Surat Pernyataan dengan lampiran Surat
Pernyataan,
b. kesesuaian antara Harta yang dilaporkan dengan informasi kepemilikan Harta yang
dilaporkan, kesesuaian antara daftar Utang yang dilaporkan dengan dokumen
pendukung,
c. kesesuaian antara bukti pelunasan Tunggakan Pajak dengan daftar rincian Tunggakan
Pajak pada administrasi Direktorat Jenderal Pajak,
d. kesesuaian penggunaan tarif Uang Tebusan,
e. penghitungan serta pelunasan Uang Tebusan, dan
f. kesesuaian antara bukti pelunasan utang pajak bagi Wajib Pajak yang sedang
dilakukan pemeriksaan bukti permulaan dan/atau penyidikan Tindak Pidana di
Bidang Perpajakan dengan informasi tertulis yang diterbitkan oleh kepala unit
pelaksana pemeriksaan bukti permulaan atau kepala unit pelaksana penyidikan.
Wajib Pajak yang menyampaikan Surat Pernyataan tidak berhak:

a. Mengompensasikan kerugian fiskal dalam surat pemberitahuan untuk bagian


Tahun Pajak atau Tahun Pajak, sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir, ke
bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak berikutnya,
b. mengompensasikan kelebihan pembayaran pajak dalam surat pemberitahuan atas
jenis pajak untuk masa pajak pada akhir Tahun Pajak Terakhir, ke masa pajak
berikutnya,
c. mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dalam surat
pemberitahuan atas jenis pajak untuk masa pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun
Pajak, sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir; dan/atau
d. melakukan pembetulan surat pemberitahuan atas jenis pajak untuk masa pajak,
bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak, sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir
dan setelah UU RI No. 11 Tahun 2016 ini diundangkan. Setelah UU diundangkan
maka pembetulan surat pemberitahuan untuk masa pajak, bagian Tahun Pajak,
atau Tahun Pajak, sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir yang disampaikan
oleh Wajib Pajak yang menyampaikan Surat Pernyataan dianggap tidak
disampaikan.
Bagi Wajib Pajak yang bermaksud mengalihkan Harta ke dalam wilayah NKRI, Wajib
Pajak harus mengalihkan Harta ke dalam wilayah NKRI melalui Bank persepsi dan
menginvestasikan Harta paling singkat selama jangka waktu 3 tahun dengan melampirkan surat
pernyataan mengalihkan serta menginvestasikan Harta ke dalam wilayah NKRI paling singkat
selama jangka waktu 3 tahun sejak dialihkan sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan.
(sebelum 31 Desember 2016 dan sebelum 31 Maret 2017).
Bagi Wajib Pajak yang bermaksud mengalihkan Harta tambahan ke dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia mengalihkan Harta tambahan dari luar wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui cabang Bank
Persepsi yang berada di luar negeri dalam jangka waktu 3 tahun yang dihitung sejak Wajib Pajak
menempatkan Harta tambahannya di cabang Bank Persepsi yang berada di luar negeri. Cabang
Bank Persepsi yang berada di luar negeri harus mengalihkan Harta tambahan dimaksud ke Bank
Persepsi di dalam negeri paling lama pada hari kerja berikutnya sejak Harta tambahan tersebut
ditempatkan di cabang Bank Persepsi yang berada di luar negeri.
Bagi Wajib Pajak yang mengungkapkan Harta yang berada dan/atau ditempatkan di dalam
wilayah NKRI, Wajib Pajak tidak dapat mengalihkan Harta ke luar wilayah NKRI dengan
melampirkan surat pernyataan tidak mengalihkan Harta ke luar wilayah NKRI paling singkat
selama jangka waktu 3 tahun sejak diterbitkannya surat keterangan.
Penyampaian Surat Pernyataan Kedua dan Ketiga

Setiap Surat Pernyataan yang disampaikan oleh Wajib Pajak dan telah memperoleh tanda
terima Surat Pernyataan dihitung sebagai 1 kali penyampaian Surat Pernyataan. Wajib Pajak
dapat menyampaikan Surat Pernyataan paling banyak 3 kali dalam jangka waktu terhitung
sejak Undang-Undang ini mulai berlaku sampai dengan tanggal 31 Maret 2017. Wajib Pajak
dapat menyampaikan Surat Pernyataan kedua atau ketiga sebelum atau setelah Surat
Keterangan atas Surat Pernyataan yang pertama atau kedua diterbitkan.
Wajib Pajak menyampaikan Surat Pernyataan kedua atau ketiga dalam periode yang
telah ditentukan. Surat Pernyataan tersebut dapat disampaikan sebelum atau setelah Surat
Keterangan atas Surat Pernyataan yang pertama atau kedua yang sebelumnya diterbitkan.
Surat Pernyataan harus disampaikan dengan ketentuan bahwa Wajib Pajak harus
memasukkan nilai Harta bersih yang tercantum dalam Surat Keterangan atas Surat
Pernyataan yang sebelumnya atau Surat Pernyataan yang sebelumnya dalam hal belum
diterbitkan Surat Keterangan.
Penyampaian Surat Pernyataan kedua atau ketiga dilakukan untuk:
a. Memberikan kesempatan kepada Wajib Pajak seperti mengungkapkan
penambahan Harta yang belum disampaikan dalam Surat Pernyataan atau
pengurangan Harta yang telah disampaikan dalam Surat Pernyataan,
b. mengungkapkan perubahan perhitungan Uang Tebusan dimana Wajib Pajak
melakukan perubahan dari yang semula menyatakan mengalihkan serta
menginvestasikan Harta ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
menjadi tidak mengalihkan serta menginvestasikan Harta ke dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam jangka waktu yang ditentukan, dan
c. mengungkapkan perubahan perhitungan Uang Tebusan dimana Wajib Pajak
melakukan perubahan dari yang semula menyatakan tidak akan mengalihkan
Harta ke luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi mengalihkan
Harta ke luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam jangka waktu
yang ditentukan.
Wajib Pajak yang menyampaikan Surat Pernyataan kedua atau ketiga mengungkapkan
perubahan terhadap penghitungan besarnya Uang Tebusan dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. Untuk Surat Pernyataan kedua atau ketiga yang mengakibatkan penambahan
Harta yang diungkapkan, Uang Tebusan dihitung berdasarkan:
Selisih antara nilai Harta bersih dalam Surat Pernyataan kedua atau ketiga
dengan Surat Keterangan atas Surat Pernyataan yang sebelumnya atau
selisih antara nilai Harta bersih dalam Surat Pernyataan kedua atau ketiga
dengan Surat Pernyataan sebelumnya apabila Surat Keterangan belum

diterbitkan, dikalikan dengan tarif pada periode penyampaian Surat


Pernyataan kedua atau ketiga.
b. Untuk Surat Pernyataan kedua atau ketiga yang mengakibatkan pengurangan
Harta yang diungkapkan sehingga menyebabkan kelebihan pembayaran Uang
Tebusan maka pengembalian Uang Tebusan dihitung berdasarkan tarif yang
digunakan pada periode Surat Pernyataan sebelumnya.
Kelebihan pembayaran Uang Tebusan terjadi karena diterbitkannya surat pembetulan
karena kesalahan hitung atau disampaikannya Surat Pernyataan kedua atau ketiga atas
kelebihan pembayaran yang harus dikembalikan dan/atau diperhitungkan dengan kewajiban
perpajakan lainnya dalam jangka waktu paling lama 3 bulan terhitung sejak diterbitkannya
surat pembetulan atau disampaikannya Surat Pernyataan kedua atau ketiga. Jika Wajib Pajak
menyampaikan Surat Pernyataan yang kedua atau ketiga, penghitungan dasar pengenaan
Uang Tebusan dalam Surat Pernyataan yang dimaksud memperhitungkan dasar pengenaan
Uang Tebusan yang telah dicantumkan dalam Surat Keterangan atas Surat Pernyataan
sebelumnya.
H. Surat Keterangan dan Penerbitannya
Bagi Wajib Pajak yang telah menyampaikan Surat Pernyataan maka akan diberi tanda terima
sebagai bukti penerimaan Surat Pernyataan. Bagi wajib Pajak yang telah memperoleh tanda
terima:
a. Tidak akan dilakukan pemeriksaan; pemeriksaan bukti permulaan; dan/atau penyidikan
Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, untuk masa pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun
Pajak sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir
b. Sedang dilakukan pemeriksaan; pemeriksaan bukti permulaan; dan/atau penyidikan
Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, untuk masa pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun
Pajak sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir, terhadap pemeriksaan, pemeriksaan
bukti permulaan, dan/atau penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan dimaksud
ditangguhkan sampai dengan diterbitkannya Surat Keterangan
Menteri atau pejabat yang ditunjuk atas nama Menteri menerbitkan Surat Keterangan dalam
jangka waktu paling lama 10 hari kerja terhitung sejak tanggal diterima Surat Pernyataan beserta
lampirannya dan mengirimkan Surat Keterangan kepada Wajib Pajak. Jika Menteri atau pejabat
yang ditunjuk atas nama Menteri belum menerbitkan Surat Keterangan maka Surat Pernyataan
dianggap diterima sebagai Surat Keterangan. Dalam jangka waktu paling lama 3 hari kerja
setelah jangka waktu maka Kepala Kanwil DJP Wajib Pajak Terdaftar menerbitkan Surat
Keterangan. Menteri atau pejabat yang ditunjuk atas nama Menteri dapat menerbitkan surat

pembetulan atas Surat Keterangan jika terdapat kesalahan tulis dalam Surat Keterangan dan/atau
kesalahan hitung dalam Surat Keterangan.
Pemeriksaan, pemeriksaan bukti permulaan, dan/atau penyidikan Tindak Pidana di Bidang
Perpajakan dihentikan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk atas nama Menteri dengan
menerbitkan Surat Keterangan. (Tindakan pemeriksaan dihentikan apabila Wajib Pajak
menerima Surat Keterangan atau sejak tanggal diterbitkannya Surat Keterangan). Penghentian
pemeriksaan dilakukan dengan membuat laporan penghentian pemeriksaan dalam rangka
Pengampunan Pajak.
Pemeriksaan bukti permulaan dihentikan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Kepala Kanwil Wajib Pajak Terdaftar mengirimkan secara elektronik salinan Surat
Keterangan kepada kepala unit pemeriksaan bukti permulaan
b. Berdasarkan Surat Keterangan, kepala unit pemeriksaan bukti permulaan
memerintahkan tim pemeriksa bukti permulaan untuk melakukan penelaahan
c. Penelaahan harus dihadiri oleh tim pemeriksa bukti permulaan dan tim penelaah
d. Setelah melakukan penelaahan kepala unit pemeriksa bukti permulaan menerbitkan
Surat Pemberitahuan Tindak Lanjut Pemeriksaan Bukti Permulaan
e. Kepala unit pemeriksaan bukti permulaan menerbitkan surat penghentian
pemeriksaan bukti permulaan dalam jangka waktu 30 hari kerja setelah diterbitkannya
Surat Keterangan.
Penyidikan dihentikan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Kepala Kanwil Tempat Wajib Pajak Terdaftar mengirimkan secara elektronik salinan
Surat Keterangan kepada kepala unit penyidikan
b. Berdasarkan Surat Keterangan, kepala unit penyidikan memerintahkan tim penyidik
untuk melakukan gelar perkara
c. Gelar perkara harus dihadiri oleh tim penyidik dan tim penelaah
d. Setelah melakukan gelar perkara kepala unit penyidikan menerbitkan surat perintah
penyidikan
e. Berdasarkan surat perintah penghentian penyidikan tim penyidik menerbitkan surat
ketetapan penghentian penyidikan
f. Surat ketetapan penghentian penyidikan disampaikan kepada tersangka atau
keluarganya, penyidik pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan penuntut
umum melalui penyidik pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia.
I. Daftar Rincian Harta
Daftar Rincian Harta dan Utang dibagi menjadi 4 bagian yaitu:
a. Bagian A Harta Yang Dilaporkan Dalam SPT PPh Terakhir yang terdiri dari:
a. Bagian A.1 Nilai Harta Yang Dilaporkan Dalam SPT PPh Terakhir

b. Bagian A.2 Nilai Utang Yang Dilaporkan Dalam SPT PPh Terakhir
b. Bagian B Harta Bersih Yang Berada Didalam Negeri Yang Belum Dilaporkan
Dalam SPT PPh Terakhir yang terdiri dari:
a. Bagian B.1 Nilai Harta Yang Tambahan Yang Belum Dilaporkan Dalam SPT
PPh Terakhir
b. Bagian B.2 Nilai Utang Terkait Hart Yang Belum Pernah Dilaporkan Dalam
SPT PPh Terakhir
c. Bagian C Harta Bersih Yang Berada Di Luar Negeri Yang Dialihkan Ke Dalam
Negeri (Repatriasi) Yang Belum Dilaporkan Dalam SPT PPh Terakhir yang terdiri
dari:
a. Bagian C.1 Nilai harta Tambahan Yang Belum Dilaporkan Dalam SPT PPh
Terakhir
b. Bagian C.2 Nilai Utang Terkait Harta Yang Belum Pernah Dilaporkan
Dalam SPT PPh Terakhir
d. Bagian D Harta Bersih Yang Berada Di Luar Negeri Yang Tidak Dialihkan Ke
Dalam Negeri (Non Repatriasi) Yang Belum Dilaporkan Dalam SPT PPh Terakhir
yang terdiri dari:
a. Bagian D.1 Nilai Harta Tambahan Yang Belum Dilaporkan Dalam SPT PPh
Terakhir
b. Bagian D.2 Nilai Utang Terkait Harta Yang Belum Pernah Dilaporkan
Dalam SPT PPh Terakhir
J. Fasilitas Pengampunan Pajak
Wajib Pajak yang telah diterbitkan Surat Keterangan memperoleh fasilitas Pengampunan
Pajak berupa:
a. Penghapusan pajak terutang yang belum diterbitkan ketetapan pajak, tidak dikenai
sanksi administrasi perpajakan, dan tidak dikenai sanksi pidana di bidang perpajakan,
untuk kewajiban perpajakan dalam masa pajak, bagian Tahun Pajak, dan Tahun Pajak,
sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir;
b. Penghapusan sanksi administrasi perpajakan berupa bunga, atau denda, untuk
kewajiban perpajakan dalam masa pajak, bagian Tahun Pajak, dan Tahun Pajak,
sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir;
c. Tidak dilakukan pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan penyidikan
Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, atas kewajiban perpajakan dalam masa pajak,
bagian Tahun Pajak, dan Tahun Pajak, sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir;
d. Penghentian pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan penyidikan
Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, dalam hal Wajib Pajak sedang dilakukan
pemeriksaan pajak, pemeriksaan bukti permulaan, dan penyidikan Tindak Pidana di
Bidang Perpajakan atas kewajiban perpajakan, sampai dengan akhir Tahun Pajak
Terakhir, yang sebelumnya telah ditangguhkan yang berkaitan dengan kewajiban
perpajakan.

Wajib Pajak yang telah memperoleh Surat Keterangan dan mernbayar Uang Tebusan atas
Harta tidak bergerak berupa tanah dan/ atau bangunan yang belum dibaliknamakan atas nama
Wajib Pajak harus melakukan pengalihan hak menjadi atas nama Wajib Pajak. Pengalihan hak
yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Penghasilan yaitu permohonan pengalihan hak dan
penandatanganan surat pernyataan oleh kedua belah pihak di hadapan notaris yang menyatakan
bahwa Harta adalah benar milik Wajib Pajak yang menyampaikan Surat Pernyataan dimana
Harta tersebut belum dapat diajukan permohonan pengalihan hak yang dapat dilakukan dalam
jangka waktu paling lambat sampai dengan tanggal 31 Desember 2017.
Harta tidak bergerak berupa tanah dan/atau bangunan yang dapat dibaliknamakan dan Harta
berupa saham yang dapat dibaliknamakan lalu dibebaskan dari pengenaan Pajak Penghasilan
adalah Harta tambahan yang telah diperoleh dan/atau dimiliki Wajib Pajak sebelum Akhir Tahun
Pajak Terakhir. Pajak Penghasilan yang terutang atas pengalihan hak dibebaskan dengan terlebih
dahulu memperoleh surat keterangan bebas Pajak Penghasilan atas penghasilan dari pengalihan
hak atas tanah dan/atau bangunan yang diberikan fasilitas Pengampunan Pajak.
Permohonan surat keterangan bebas Pajak Penghasilan diajukan oleh Wajib Pajak yang
memperoleh Surat Keterangan ke KPP Tempat Wajib Pajak Terdaftar sebelum dilakukan
pengalihan hak dengan melampirkan fotokopi Surat Keterangan, fotokopi Surat Pemberitahuan
Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan tahun terakhir atas Harta yang dibaliknamakan
(hanya untuk kategori harta tidak bergerak), fotokopi akte jual/beli/hibah atas Harta yang di
baliknamakan, dan surat pernyataan kepemilikan Harta yang dibaliknamakan yang telah
dilegalisasi oleh notaris. Surat keterangan bebas Pajak Penghasilan berisi pembebasan Pajak
Penghasilan yang terutang bagi pihak yang mengalihkan Harta tidak bergerak berupa tanah dan/
atau bangunan dan berlaku sepanjang digunakan dalam jangka waktu yang ditentukan.
Permohonan surat keterangan bebas Pajak Penghasilan memiliki jangka waktu paling lama 5
hari kerja terhitung sejak permohonan surat keterangan bebas Pajak Penghasilan diterima
lengkap lalu Direktur Jenderal Pajak menerbitkan surat keterangan bebas Pajak Penghasilan atas
penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/ atau bangunan atau pengalihan saham yang
diberikan fasilitas Pengampunan Pajak.
Apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan Direktur Jenderal Pajak tidak
menerbitkan surat keterangan bebas Pajak Penghasilan maka permohonan dianggap dikabulkan
dan Direktur Jenderal Pajak harus menerbitkan surat keterangan bebas Pajak Penghasilan paling
lama 2 hari kerja terhitung sejak berakhirnya jangka waktu.
Apabila sampai dengan tanggal 31 Desember 2017, Wajib Pajak tidak mengalihkan hak atas
pengalihan hak yang dilakukan dikenai pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai Pajak Penghasilan.

K. Penyampaian Atau Pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan


Bagi Wajib Pajak yang tidak menggunakan haknya untuk mengikuti Pengampunan Pajak
dapat menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan atau membetulkan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan. Harta yang diperoleh dari penghasilan yang telah
dikenakan Pajak Penghasilan atau Harta yang diperoleh dari penghasilan yang bukan objek Pajak
Penghasilan dan belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
maka berlaku ketentuan sebagai berikut:
a. dalam hal Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan telah disampaikan, Wajib
Pajak dapat melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan;
atau
b. dalam hal Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan belum disampaikan, Wajib
Pajak dapat melaporkan Harta tersebut dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan.
L. Kewajiban Investasi Atas Harta yang Diungkapkan dan Pelaporan (Konsekuensi)
Investasi dilakukan dalam bentuk:
a.
b.
c.
d.
e.

Surat berharga Negara Republik Indonesia;


Obligasi Badan Usaha Milik Negara;
Obligasi lembaga pembiayaan yang dimiliki oleh Pemerintah;
Investasi keuangan pada Bank Persepsi;
Obligasi perusahaan swasta yang perdagangannya diawasi oleh Otoritas Jasa
Keuangan;
f. Investasi infrastruktur melalui kerja sama Pemerintah dengan badan usaha;
g. Investasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh Pemerintah; dan/atau
h. Bentuk investasi lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Wajib Pajak atau kuasa yang ditunjuk harus menyampaikan laporan kepada Menteri atau
pejabat yang ditunjuk atas nama Menteri mengenai:
a. Realisasi pengalihan dan investasi atas Harta tambahan yang diungkapkan dalam Surat
Pernyataan untuk Harta tambahan yang dialihkan ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Laporan disampaikan secara berkala setiap 6 bulan selama 3 tahun
sejak pengalihan Harta.

b. Penempatan atas Harta tambahan yang diungkapkan dalam Surat Pernyataan untuk
Harta tambahan yang berada di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia,
bagi Wajib Pajak yang tidak dapat mengalihkan Harta ke luar wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia
Laporan disampaikan paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya setelah periode berakhir
yaitu tanggal 20 Januari untuk periode laporan realisasi investasi Juli sampai dengan Desember
dan tanggal 20 Juli untuk periode laporan realisasi investasi Januari sampai dengan Juni.
Menteri atau pejabat yang ditunjuk atas nama Menteri dapat menerbitkan dan mengirimkan
surat peringatan setelah batas akhir periode penyampaian Surat Pernyataan dalam hal:
a. Wajib Pajak yang menyatakan mengalihkan dan menginvestasikan Harta ke dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tetapi tidak memenuhi ketentuan yang
berlaku bahwa Wajib Pajak harus mengalihkan Harta ke dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia dan menginvestasikan Harta dimaksud di dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia paling singkat selama jangka waktu 3
tahun (sebelum 31 Desember 2016 dan sebelum 31 Maret 2017)
b. Wajib Pajak yang menyatakan tidak mengalihkan Harta ke luar wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia tetapi tidak memenuhi ketentuan yang berlaku bahwa
Wajib Pajak tidak dapat mengalihkan Harta ke luar wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia paling singkat selama jangka waktu 3 tahun terhitung sejak
diterbitkannya Surat Keterangan.
Wajib Pajak harus menyampaikan tanggapan atas surat peringatan dalam jangka waktu
paling lama 14 hari kerja terhitung sejak tanggal kirim. Jika tanggapan Wajib Pajak diketahui
bahwa Wajib Pajak tidak memenuhi ketentuan yang telah ditentukan maka berlaku ketentuan
sebagai berikut:
a. Terhadap Harta bersih tambahan yang tercantum dalam Surat Keterangan
diperlakukan sebagai penghasilan pada Tahun Pajak 2016 dan atas penghasilan
dikenai pajak dan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang perpajakan sebesar 2%/bulan dihitung sejak tanggal 1 Januari 2017 sampai
dengan diterbitkannya surat ketetapan pajak.
b. Uang Tebusan yang telah dibayar oleh Wajib Pajak diperhitungkan sebagai pengurang
pajak.
Investasi ditempatkan pada instrumen investasi seperti efek bersifat utang termasuk
Medium Term Notes, sukuk, saham, unit penyertaan reksa dana, efek beragun aset, unit
penyertaan dana investasi real e-stat, deposito, tabungan, giro, dan/atau instrumen investasi pasar

keuangan lainnya termasuk produk asuransi, perusahaan pembiayaan, dana pensiun, atau modal
ventura yang mendapatkan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan. Penempatan pada instrumen
investasi dilakukan melalui Gateway. Tata cara berinvestasi pada instrumen investasi mengikuti
prosedur dan ketentuan yang berlaku di masing-masing Gateway.
Investasi yang dilakukan oleh Wajib Pajak pada instrumen investasi dapat digunakan sebagai
jaminan dalam memperoleh fasilitas kredit dari Bank yang ditunjuk oleh Menteri sebagai
Gateway. Persetujuan untuk pemberian fasilitas sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Bank
yang ditunjuk oleh Menteri sebagai Gateway. Untuk dapat ditunjuk sebagai Gateway, Bank,
Manajer Investasi, dan/atau Perantara Pedagang Efek harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Untuk Bank
Harus merupakan Bank Persepsi yang ditetapkan oleh Menteri dan termasuk dalam
kategori Bank Umum Kelompok Usaha 4 dan Bank Umum Kelompok Usaha 3 dan
Bank Persepsi harus mendapat persetujuan untuk melakukan kegiatan penitipan
dengan pengelolaan (trust), memiliki surat persetujuan Bank sebagai kustodian dari
Otoritas Jasa Keuangan, dan/atau menjadi administrator Rekening Dana Nasabah.
b. Untuk Manajer Investasi
Harus dimiliki oleh perusahaan BUMN atau anak perusahaan BUMN, mengelola
dana kelolaan sampai dengan peringkat sepuluh besar untuk periode pelaporan yang
terakhir selain manajer Investasi yang dimiliki perusahaan BUMN atau anak
perusahaan BUMN, dan mengelola reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif
penyertaan terbatas dengan underlying proyek sektor riil dengan dana kelolaan paling
kurang Rp200.000.000.000,00 atau mengelola dana investasi real estat berbentuk
Konttak Investasi Kolektif. Manajer lnvestasi harus tidak pernah dikenakan sanksi
administratif berupa pembatasan kegiatan usaha oleh Otoritas Jasa Keuangan dalam
kurun waktu 1 tahun terakhir sebelum Peraturan Menteri ini berlaku.
c. Untuk Perantara Pedagang Efek
Harus terdaftar sebagai anggota Bursa Efek Indonesia, harus tidak pernah
mendapatkan sanksi administratif berupa pembekuan kegiatan usaha oleh Otoritas
Jasa Keuangan dan/ atau suspensi oleh Bursa Efek Indonesia dalam 1 tahun terakhir
sebelum Peraturan Menteri ini berlaku, telah melayani nasabah ritel yang memiliki
Rekening Dana Nasabah sebelum Peraturan Menteri ini berlaku, telah memperoleh
laba usaha berdasarkan Laporan .Keuangan Tahunan 2015 entitas induk saja,
memiliki rata-rata nilai Modal Kerja Bersih Disesuaikan Tahun 2015 minimal
Rp75.000.000.000,00 dan memiliki ekuitas positif selama 3 tahun terakhir sebelum
Peraturan Menteri ini berlaku.
Penunjukan Bank, Manajer Investasi, dan Perantara Pedagang Efek sebagai Gateway
dilakukan oleh Menteri. Gateway mempunyai kewajiban sebagai berikut:

a. Menyediakan Rekening Khusus dan/atau sub Rekening Khusus bagi Wajib Pajak
yang menginvestasikan dana di dalam wilayah NKRI dalam rangka Pengampunan
Pajak,
b. melaporkan Rekening Khusus dan/atau sub Rekening Khusus kepada Direktorat
Jenderal Pajak,
c. memastikan dana yang dialihkan dari luar wilayah NKRI diinvestasikan di dalam
wilayah NKRI,
d. memastikan penempatan dana oleh Wajib Pajak pada instrumen investasi,
e. memastikan instrumen investasi dan aset yang mendasari (underlying asset)
diterbitkan dan/atau diperdagangkan di wilayah NKRI,
f. memastikan bahwa dana hasil penerbitan instrumen investasi digunakan di wilayah
NKRI dalam hal Wajib Pajak melakukan investasi melalui pasar perdana,
g. menyusun dan menandatangani dokumen perjanjian investasi dengan Wajib Pajak
meliputi Perjanjian persyaratan Pembukaan Rekening untuk Bank, Perjanjian
pembukaan rekening untuk berinvestasi pada portofolio investasi melalui Kontrak
Investasi Kolektif atau Kontrak Pengelolaan Dana untuk Manajer Investasi atau
Perjanjian Pembukaan Rekening Efek Nasabah untuk Perantara Pedagang Efek,
h. melaporkan posisi investasi Wajib Pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak secara
berkala dan setiap terjadi pengalihan Harta Wajib Pajak antar Gateway, dan
i. menghindari/tidak melakukan kegiatan yang menghambat pelaksanaan Pengampunan
Pajak baik kegiatan yang dilakukan di dalam negeri maupun di luar negeri.
Dokumen perjanjian investasi paling kurang memuat ketentuan mengenai investasi hanya
dapat dilakukan pada Efek yang diterbitkan di dalam wilayah NKRI, dana hasil penerbitan Efek
hanya dapat digunakan di dalam wilayah NKRI, dan persetujuan Wajib Pajak kepada Gateway
untuk memberikan laporan secara berkala kepada Direktorat Jenderal Pajak.
Untuk mendukung kelancaraan pelaksanaan program Pengampunan Pajak, Gateway
melakukan sosialisasi mengenai instrumen investasi dalam rangka Pengampunan Pajak.
Gateway harus menyampaikan laporan mengenai posisi realisasi pengalihan dan investasi Wajib
Pajak setiap bulan dan/atau setiap terjadi pengalihan Harta Wajib Pajak antar Gateway.
Laporan dilakukan oleh Gateway selama 3 tahun sejak dana dialihkan oleh Wajib Pajak ke
Rekening Khusus melalui Bank Persepsi. Laporan yang disampaikan oleh Gateway dapat
dijadikan sebagai bahan bagi Direktorat Jenderal Pajak untuk memonitor pelaksanaan investasi
yang dilakukan oleh Wajib Pajak selama jangka waktu investasi.
Direktorat Jenderal Pajak dapat meminta klarifikasi kepada Gateway jika Gateway tidak
memenuhi ketentuan yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil klarifikasi Direktorat Jenderal
Pajak dapat mengusulkan kepada Menteri untuk memberikan sanksi kepada Bank, Manajer
Investasi, dan/atau Perantara Peclagang Efek sebagai Gateway.

Sanksi dapat berupa surat peringatan atau pencabutan penunjukan sebagai Gateway.
Pencabutan penunjukan sebagai Gateway oleh Menteri diumumkan kepacla publik dan
clisampaikan kepada otoritas terkait.
M. Perlakuan Atas Harta yang Belum atau Kurang Diungkap
Wajib Pajak yang telah memperoleh Surat Keterangan kemudian ditemukan adanya data
dan/atau informasi mengenai Harta yang belum atau kurang diungkapkan dalam Surat
Pernyataan maka harta tersebut dianggap sebagai tambahan penghasilan yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak pada saat ditemukannya data dan/atau informasi mengenai Harta tersebut.
Jika Wajib Pajak tidak menyampaikan Surat Pernyataan sampai dengan periode
Pengampunan Pajak berakhir dan Direktur Jenderal Pajak menemukan data dan/atau informasi
mengenai Harta Wajib Pajak yang diperoleh sejak tanggal 1 Januari 1985 sampai dengan 31
Desember 2015 belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan maka
Harta tersebut dianggap sebagai tambahan penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
pada saat ditemukannya data dan/atau informasi mengenai Harta tersebut paling lama 3 tahun
terhitung sejak Undang-Undang ini mulai berlaku. Tambahan penghasilan tersebut dikenai Pajak
dikenai pajak dan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
perpajakan dan Direktur Jenderal Pajak menerbitkan surat ketetapan pajak kurang bayar.
Surat ketetapan pajak kurang bayar diterbitkan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku
sebagai berikut:
a. Diterbitkan untuk masa pajak saat ditemukan adanya data dan/atau informasi mengenai
Harta yang belum atau kurang diungkapkan dalam Surat Pernyataan.
b. Surat ketetapan pajak kurang bayar mencantumkan jumlah Pajak Penghasilan yang tidak
atau kurang dibayar, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah yang masih harus dibayar.
c. Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar dihitung menggunakan tarif yang
diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pajak Penghasilan.
d. Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar menggunakan tarif yang diatur dalam
ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pajak Penghasilan ditambah sanksi
administrasi sebesar:
a. 200% (untuk Wajib Pajak yang telah memperoleh Surat Keterangan kemudian
ditemukan adanya data dan/atau informasi mengenai Harta yang belum atau
kurang diungkapkan dalam Surat Pernyataan). Pembayaran jumlah pajak yang
masih harus dibayar dalam surat ketetapan pajak kurang bayar dilakukan dengan
menggunakan Kode Akun Pajak 411129 dan Kode Jenis Setoran 515.
b. 2% per bulan paling lama 24 bulan (untuk Wajib Pajak tidak menyampaikan Surat
Pernyataan sampai dengan periode Pengampunan Pajak berakhir dan Direktur
Jenderal Pajak menemukan data dan/atau informasi mengenai Harta Wajib Pajak
yang belum dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan

dalam SPT PPh Terakhir sampai dengan diterbitkannya surat ketetapan pajak
kurang bayar). Pembayaran jumlah pajak yang masih harus dibayar dalam surat
ketetapan pajak kurang bayar dilakukan dengan menggunakan Kode Akun Pajak
411129 dan Kode Jenis Setoran 516.
N. Perlakuan Perpajakan Pengampunan Pajak
Wajib Pajak yang diwajibkan menyelenggarakan pembukuan menurut ketentuan UndangUndang mengenai Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, harus membukukan selisih
antara nilai Harta bersih yang disampaikan dalam Surat Pernyataan dikurangi dengan nilai Harta
bersih yang telah dilaporkan oleh Wajib Pajak dalam SPT PPh Terakhir sebagai tambahan atas
saldo laba ditahan dalam neraca.
Harta tambahan yang diungkapkan dalam Surat Pernyataan yang berupa aktiva tidak
berwujud tidak dapat diamortisasi untuk tujuan perpajakan dan yang berupa aktiva berwujud
tidak dapat disusutkan untuk tujuan perpajakan.
Wajib Pajak yang telah memperoleh Surat Keterangan dan membayar Uang Tebusan atas
harta tidak bergerak berupa tanah dan/atau bangunan; dan/atau harta berupa saham, yang belum
dibaliknamakan atas nama Wajib Pajak, harus melakukan pengalihan hak menjadi atas nama
Wajib Pajak.
Pengalihan hak yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Penghasilan terdiri dari permohonan
pengalihan hak atau penandatanganan surat pernyataan oleh kedua belah pihak di hadapan
notaris yang menyatakan bahwa harta adalah benar milik Wajib Pajak yang menyampaikan Surat
Pernyataan, maka belum dapat diajukan permohonan pengalihan hak, dilakukan dalam jangka
waktu paling lambat tanggal 31 Desember 2017. Apabila sampai dengan tanggal 31 Desember
2017, Wajib Pajak tidak mengalihkan hak atas pengalihan hak yang dilakukan dikenai pajak
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai Pajak
Penghasilan.
Wajib Pajak yang diwajibkan menyelenggarakan pembukuan menurut ketentuan UndangUndang mengenai Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, harus membukukan selisih
antara nilai Harta bersih yang disampaikan dalam Surat Pernyataan dikurangi dengan nilai Harta
bersih yang telah dilaporkan oleh Wajib Pajak dalam SPT PPh Terakhir sebagai tambahan atas
saldo laba ditahan dalam neraca.
Harta tambahan yang diungkapkan dalam Surat Pernyataan yang berupa aktiva tidak
berwujud tidak dapat diamortisasi untuk tujuan perpajakan dan yang berupa aktiva berwujud
tidak dapat disusutkan untuk tujuan perpajakan.
Wajib Pajak yang telah memperoleh Surat Keterangan dan membayar Uang Tebusan atas
harta tidak bergerak berupa tanah dan/atau bangunan; dan/atau harta berupa saham, yang belum

dibaliknamakan atas nama Wajib Pajak, harus melakukan pengalihan hak menjadi atas nama
Wajib Pajak.
Pengalihan hak yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Penghasilan terdiri dari permohonan
pengalihan hak atau penandatanganan surat pernyataan oleh kedua belah pihak di hadapan
notaris yang menyatakan bahwa harta adalah benar milik Wajib Pajak yang menyampaikan Surat
Pernyataan, maka belum dapat diajukan permohonan pengalihan hak, dilakukan dalam jangka
waktu paling lambat tanggal 31 Desember 2017. Apabila sampai dengan tanggal 31 Desember
2017, Wajib Pajak tidak mengalihkan hak atas pengalihan hak yang dilakukan dikenai pajak
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai Pajak
Penghasilan.
Perlakuan Atas Penerbitan Surat Ketetapan Pajak, Surat Keputusan, dan Putusan Untuk Masa
Pajak, Bagian Tahun Pajak, dan Tahun Pajak Sebelum Akhir Tahun Pajak Terakhir
Surat Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran
Pajak, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak, Surat
Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, Putusan
Gugatan, Putusan Peninjauan Kembali, untuk masa pajak, bagian Tahun Pajak, dan Tahun Pajak
sebelum akhir Tahun Pajak Terakhir yang terbit sebelum Wajib Pajak menyampaikan Surat
Pernyataan terbagi menjadi dua:
Tetap dijadikan dasar
Direktorat Jenderal Pajak untuk melakukan
penagihan pajak dan/atau pengembalian
kelebihan pembayaran pajak
Wajib Pajak untuk mengompensasikan
kerugian fiskal
Wajib Pajak untuk mengompensasikan
kelebihan pembayaran pajak, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang perpajakan

Tidak dapat dijadikan dasar


Direktorat Jenderal Pajak untuk melakukan
penagihan pajak dan/atau pengembalian
kelebihan pembayaran pajak
Wajib Pajak untuk mengompensasikan
kerugian fiskal
Wajib Pajak untuk mengompensasikan
kelebihan pembayaran pajak

Jika terdapat Surat Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan
Pembayaran Pajak, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan
Pajak, Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengurangan Sanksi
Administrasi, Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi, Surat Keputusan Keberatan,
Putusan Banding, Putusan Peninjauan Kembali, untuk masa pajak, bagian Tahun Pajak, dan
Tahun Pajak sebelum akhir Tahun Pajak Terakhir yang terbit sebelum Wajib Pajak
menyampaikan Surat Pernyataan mengakibatkan timbulnya kewajiban pembayaran imbalan
bunga bagi Direktorat Jenderal Pajak maka kewajiban yang dimaksud tersebut menjadi
hilang/dihapus.

Dalam rangka Pengampunan Pajak, Direktur Jenderal Pajak atau Kepala Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak atas nama Direktur Jenderal Pajak secara jabatan membatalkan Surat
Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak, Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan
Pembayaran Pajak, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan
Pajak, Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak, dan Surat Keputusan Keberatan.
Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak, dan Surat Keputusan merupakan Surat Tagihan
Pajak, Surat Ketetapan Pajak, dan surat keputusan untuk masa pajak, bagian Tahun Pajak dan
Tahun Pajak sampai dengan akhir Tahun Pajak Terakhir yang terbit setelah Wajib Pajak
menyampaikan Surat Pernyataan.
Pembatalan Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak dan surat keputusan dilakukan
setelah Wajib Pajak memperoleh Surat Keterangan. Pembatalan Surat Tagihan Pajak, Surat
Ketetapan Pajak, dan surat keputusan dilakukan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Pajak atas nama Direktur Jenderal Pajak yang menerbitkan surat keputusan atau wilayah
kerjanya meliputi Kantor Pelayanan Pajak yang menerbitkan Surat Tagihan Pajak, Surat
Ketetapan Pajak dan surat keputusan.
Direktur Jenderal Pajak menerbitkan surat pelaksanaan atas Putusan Banding, Putusan
Gugatan, dan/atau Putusan Peninjauan Kembali yang terkait dengan hak serta kewajiban
perpajakan untuk masa pajak, bagian Tahun Pajak, dan Tahun Pajak sebelum akhir Tahun Pajak
Terakhir yang diterima oleh Wajib Pajak setelah memperoleh Surat Keterangan. Dalam surat
pelaksanaan dinyatakan bahwa putusan dimaksud tidak dapat dijadikan dasar untuk:
a. penagihan pajak dan/atau pengembalian kelebihan pembayaran pajak;
b. pengompensasian kerugian fiskal; dan/atau
c. pengompensasian kelebihan pembayaran pajak.
O. Penghapusan Sanksi Administrasi Perpajakan
Direktur Jenderal Pajak atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atas nama
Direktur Jenderal Pajak secara jabatan menghapuskan sanksi adminfatrasi berupa bunga dan/
atau denda yang belum dilunasi yang terdapat pada Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak,
surat keputusan, dan/atau putusan, untuk masa pajak, bagian Tahun Pajak, dan Tahun Pajak
sebelum akhir Tahun Pajak Terakhir dalam rangka pelaksanaan Pengampunan Pajak.
Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan seperti dalam UU tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan. Penghapusan atas sanksi administrasi diberikan setelah Wajib
Pajak memperoleh Surat Keterangan. Penghapusan atas sanksi administrasi dilakukan oleh
Kepala Kantor Wilayah yang wilayah kerjanya meliputi kantor pelayanan pajak yang
mengadministrasikan penghapusan sanksi administrasi.

Kepala Kantor Wilayah menerbitkan Surat Keputusan Penghapusan Sanksi Administrasi


Secara Jabatan Dalam Rangka Pengampunan Pajak. Surat Keputusan Penghapusan Sanksi
Administrasi Secara Jabatan Dalam Rangka Pengampunan Pajak dapat diterbitkan untuk satu
atau lebih produk hukum. Jika Surat Keterangan telah diterbitkan dan Surat Tagihan Pajak atas
sanksi administrasi belum diterbitkan maka sanksi administrasi tersebut dihapuskan dengan tidak
dilakukan penerbitan Surat Tagihan Pajak.
P. Data dan Informasi Dalam Rangka Pengampunan Pajak
Data dan informasi yang bersumber dari Surat Pernyataan dan lampirannya yang
diadministrasikan oleh Kementerian Keuangan atau pihak lain yang berkaitan dengan
pelaksanaan pengampunan pajak ini tidak dapat dijadikan sebagai dasar penyelidikan,
penyidikan, dan/atau penuntutan pidana terhadap Wajib Pajak.
Menteri, Wakil Menteri, pegawai Kementerian Keuangan, dan pihak lain yang berkaitan
dengan pelaksanaan Pengampunan Pajak, dilarang membocorkan, menyebarluaskan, dan/atau
memberitahukan data dan informasi yang diketahui atau diberitahukan oleh Wajib Pajak kepada
pihak lain.
Data dan informasi yang disampaikan Wajib Pajak dalam rangka Pengampunan Pajak tidak
dapat diminta oleh siapapun atau diberikan kepada pihak manapun berdasarkan peraturan kecuali
atas persetujuan Wajib Pajak sendiri dan digunakan sebagai basis data perpajakan Direktorat
Jenderal Pajak.
Menteri, Wakil Menteri, pegawai Kementerian Keuangan, dan pihak lain yang berkaitan
dengan pelaksanaan Pengampunan Pajak, tidak dapat dilaporkan, digugat, dilakukan
penyelidikan, dilakukan penyidikan, atau dituntut, baik secara perdata maupun pidana jika dalam
melaksanakan tugas didasarkan pada iktikad baik dan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Q. Upaya Hukum
Segala sengketa yang berkaitan dengan pelaksanaan Undang-Undang Pengampunan Pajak
hanya dapat diselesaikan melalui pengajuan gugatan. Gugatan hanya dapat diajukan pada badan
peradilan pajak.
R. Pidana
Setiap orang yang melanggar dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun.
Penuntutan terhadap tindak pidana hanya dilakukan atas pengaduan orang yang kerahasiaannya
dilanggar.

BAB 4
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengampunan Pajak (amnesti pajak) adalah program pengampunan yang diberikan oleh
Pemerintah kepada Wajib Pajak meliputi penghapusan pajak yang seharusnya terutang,
penghapusan sanksi administrasi perpajakan, serta penghapusan sanksi pidana di bidang
perpajakan atas harta yang diperoleh pada tahun 2015 dan sebelumnya yang belum dilaporkan
dalam SPT, dengan cara melunasi seluruh tunggakan pajak yang dimiliki dan membayar uang
tebusan.
Yang dapat memanfaatkan kebijakan amnesti pajak adalah Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib
Pajak Badan, Wajib Pajak yang bergerak di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengan (UMKM),
dan Orang Pribadi atau Badan yang belum menjadi Wajib Pajak.
Amnesti Pajak dapat diajukan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau
tempat lain yang ditentukan oleh Menteri juga tempat awal yang harus dituju untuk meminta
penjelasan mengenai pengisian dan pemenuhan kelengkapan dokumen yang harus dilampirkan
dalam Surat Pernyataan.
Amnesti Pajak berlaku sejak disahkan hingga 31 Maret 2017, dan terbagi kedalam 3 (tiga)
periode, yaitu:
a. Periode I: Dari tanggal diundangkan s.d 30 September 2016
b. Periode II: Dari tanggal 1 Oktober 2016 s.d 31 Desember 2016
c. Periode III: Dari tanggal 1 Januari 2017 s.d 31 Maret 2017

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

2016. Amnesti Pajak, http://www.pajak.go.id/amnestipajak


Republik Indonesia, 2016. Undang-Undang No.11 Tahun 2016 Tentang Pengampunan Pajak,
Sekretariat Negara, Jakarta
Republik
Indonesia,
2016.
Peraturan
Menteri
Keuangan
Repulik
Indonesia
No.118/PMK.03/2016 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No.11 Tahun 2016 Tentang
Pengampunan Pajak, Sekretariat Negara, Jakarta
Republik
Indonesia,
2016.
Peraturan
Menteri
Keuangan
Repulik
Indonesia
No.119/PMK.08/2016 Tentang Tata Cara Pengalihan Harta Wajib Pajak Ke Dalam Wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Penempatan Pada Instrumen Investasi Di Pasar
Keuangan Dalam Rangka Pengampunan Pajak, Sekretariat Negara, Jakarta
Republik Indonesia, 2016. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2016 Tentang
Pengaturan Lebih Lanjut Mengenai Pelaksanaan Undang-Undang No.11 Tahun 2016 Tentang
Pengampunan Pajak Direktur Jenderal Pajak, Sekretariat Negara, Jakarta
Republik Indonesia, 2016. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-07/PJ/2016 Tentang
Lampiran I-IV Tanggal 18 Juli 2016, Sekretariat Negara, Jakarta