Anda di halaman 1dari 5

Perbedaan daya antibakteri larutan irigasi NaOCl 2,5%

dan MTAD terhadap bakteri Enterococcus faecalis


(Antimicrobial effect of 2,5% NaOCl and MTAD against Enterococcus faecalis)
Dian Agustin W., M. Rulianto dan Soejatmi Iskandar
Departemen Konservasi Gigi
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga
Surabaya

ABSTRACT
The purpose of this study was to compare and to find out the bigger antimicrobial of 2,5% NaOCl and
MTAD. The antimicrobial of each irrigation solution was evaluated using diffusion agar method and zone
inhibition. The data of each irrigation solution was recorded and then analyzed statistically using One Way
ANOVA. The results of the statistic analyzes showed that there where significant differences between the
antimicrobial of 2,5% NaOCl and MTAD. It was concluded that the most bigger antimicrobial against
Enterococcus Faecalis was MTAD and it was followed by 2,5% NaOCl.
Key Words : antimicrobial NaOCl 2,5%, MTAD, Enterococcus Faecalis
Korespondensi (correspondence) : Dian Agustin W, Departemen Konservasi Gigi, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga.
Jln. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No. 47, Surabaya 60132, Indonesia

PENDAHULUAN
Mikroorganisme merupakan hal penting terjadinya
infeksi jaringan pulpa dan jaringan periapikal. Adapun prinsip
perawatan saluran akar adalah mengeluarkan jaringan
nekrotik, sterilisasi dan pengisian untuk mencegah
terulangnya kontaminasi setelah perawatan saluran akar.1,2
Kegagalan eliminasi mikroorganisme dalam saluran akar
akan mengakibatkan kegagalan perawatan saluran akar gigi.3
Pinheiro menyatakan bahwa perawatan pada saluran
akar gigi yang mengalami kegagalan di dapatkan Enterococcus
faecalis sebagai spesies terbanyak.3 Enterococcus faecalis
merupakan bakteri fakultatif Gram positif dan paling resisten
di rongga mulut dengan sifat alkali pada pH 9,0-pH 10,0
serta merupakan salah satu kemungkinan penyebab
kegagalan post perawatan saluran akar gigi.4,5 Dari 30 kasus
dideteksi sebanyak 20 kasus dengan Enterococcus faecalis

46

pada infeksi endodontik persisten pada gigi yang telah diisi.5


Hancock menyatakan bahwa Enterococcus faecalis
ditemukan 30% pada gigi dengan positif kultur dari perawatan
endodontik yang tidak berhasil pada suatu populasi di Amerika
Utara.6 Rocas menyatakan bahwa Enterococcus faecalis lebih
banyak ditemukan pada kasus kegagalan endodontik dengan
infeksi yang persisten daripada kasus infeksi endodontik
primer, prevalensinya pada gigi dengan pengisian saluran
akar lebih tinggi lagi yaitu 67% dari kasus kegagalan
endodontik. Enterococcus faecalis terdapat di tubuli dentin
saluran akar gigi selama dilakukan preparasi
chemomekanikal, dan teknik dressing intracanal. Selanjutnya,
Enterococcus faecalis dapat keluar dari tubuli dentin menuju
ruangan saluran akar dan dapat menjadi sumber infekasi
ulang.8

ISSN : 0852-9109

Agustin W. : Perbedaan daya antibakteri larutan irigasi NaOCl 2,5% dan MTAD terhadap bakteri Enterppcoccus faecalis

Sodium hipoklorit (NaOCl) merupakan larutan irigasi yang


memiliki kemampuan untuk melarutkan jaringan nekrotik,
bersifat antibakteri, mempunyai tegangan permukaan dan
viskositas rendah yang memungkinkan penetrasi ke dalam
tubuli dentin dengan baik, mempunyai biokompatibilitas yang
baik pada konsentrasi rendah. Kelemahan NaOCl terletak
pada rasanya yang kurang enak, bersifat toksik bila mengenai
jaringan periradikular, dan tidak mampu membersihkan smear
layer.9,10 Konsentrasi NaOCl yang sering digunakan adalah
0,5%, 1%, 2,5% dan 5,25%. Penggunaan NaOCl 2,5% lebih
disarankan karena mempunyai efek minimal dengan daya
antibakteri yang maksimal sebagai bahan irigasi.11
Mixture of tetracycline (doxyxycline), and acid (citric
acid) and a detergent (Tween 80)/ MTAD merupakan bahan
irigasi paten yang mengandung isomer tetracycline, asam,
detergen dan dapat menghilangkan smear layer12, bersifat
antibakteri dan efektif terhadap bakteri Enterococcus
faecalis13, mempunyai sifat biokompatibilitas lebih baik dari
NaOCl14.Torabinejad , dalam penelitiannya menyatakan bahwa
pemakaian NaOCl yang konsentrasi 1%, 2,5% dan 5,25%
yang dilanjutkan dengan irigasi MTAD menunjukkan bahwa
NaOCl 5,25% mempunyai daya antibakteri yang lebih baik
terhadap bakteri Enterococcus faecalis10. Shabahang15, dalam
penelitiannya NaOCl 1,3% dan MTAD menunjukkan bahwa
daya antibakteri MTAD lebih baik terhadap bakteri
Enterococcus faecalis.
Berdasarkan hal tersebut, ternyata bakteri Enterococcus
faecalis memegang peranan penting pada kegagalan kasus
perawatan saluran akar oleh karena itu diperlukan bahan
irigasi yang efektif terhadap eliminasi bakteri Enterococcus
faecalis.

BAHAN DAN METODE


Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental
laboratoris dengan rancangan Post test only control group
design. Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Laboratorium
Kesehatan Surabaya. Bahan yang digunakan adalah larutan
sodium hipoklorit murni (extra pure) buatan UPT BPPTK LIPI
dengan konsentrasi awal 12% kemudian diencerkan
menggunakan aquades steril hingga mencapai konsentrasi
2,5%, larutan irigasi MTAD (Dentsply, Tulsa, Oklahoma, USA),
aquades, media padat Nutrient Agar Aquades,alcohol,Media
BHIB, bakteri Enterococcus Faecalis (Balai Besar
Laboratorium Kesehatan Surabaya). Alat yang digunakan
adalah petridish, tabung reaksi, kaca pembesar, inkubator,
eksikator, pinset, lampu spiritus, mikropipet , jangka sorong,
dan dry heat sterilizer.

ISSN : 0852-9109

Cara kerja
Bakteri Enterococcus faecalis dari Balai Besar
Laboratorium Kesehatan disiapkan terlebih dahulu, dibiakkan
dalam media BHIB.
Biakan Enterococcus faecalis dengan suspensi 0,5 Mc
farland (150 juta/unit. dimasukkan ke dalam eksikator dalam
suasana anaerob dan diinkubasi pada suhu kamar (37OC)
selama 24 jam, kemudian ditanam pada media blood agar
secara merata.
5 cawan petridish yang berisi media agar dibagi menjadi
3 zona, didalam petridish masing masing sumur berisi NaOCl
2,5%, MTAD dan akuades sebagai kontrol. Cawan petridish
yang telah siap dimasukkan kedalam eksikator dalam
suasana anaerob dan diinkubasi pada suhu kamar (37OC)
selama 24 jam
Pembacaan hasil dilakukan dengan cara mengamati dan
menghitung daerah zona hambatan. Pengukuran zona
hambatan dengan cara mengukur diameter zona hambatan
menggunakan jangka sorong yang mempunyai ketelitian 0,05
mm. Cara pengukuran: diameter zona hambatan diukur
dengan menggunakan jangka sorong dari dua sisi terbesar
yang berbeda kemudian diambil reratanya. Pengukuran zona
hambat dengan cara mengambil dua garis saling tegak lurus
melalui titik pusat lubang sumuran, sedangkan garis ketiga
diambil diantara kedua garis tersebut yaitu dengan
membentuk sudut 450. Pengukuran dilakukan sebanyak tiga
kali pada tempat yang sama. 22
Distribusi data yang diperoleh dilihat dengan
menggunakan uji Kolmogorov smirnov test dan homogenitas
variannya dengan uji Levene test. Untuk melihat perbedaan
zona hambat larutan irigasi NaOCl 2,5%, dan MTAD terhadap
Enterococcus faecalis memakai uji Independent t test.
Analisa statistik pada data penelitian dilakukan dengan
menggunakan program SPSS versi 13.00 (2005). Dalam
penelitian ini taraf kemaknaan yang digunakan untuk uji
hipotesis adalah 0,05

HASIL
Dari hasil penelitian mengenai daya hambat larutan irigasi
saluran akar NaOCl 2,5% dan MTAD terhadap Enterococcus
faecalis didapatkan hasil pada tabel 1.
Pada tabel 1 semua kelompok pengukuran zona hambat
terhadap Enterococcus faecalis mempunyai besar sampel
masing-masing 5. Pada kelompok MTAD mempunyai rerata
zona hambat terhadap Enterococcus Faecalis yang terbesar
dibandingkan dengan NaOCl 2,5% dan aquades sebagai
kontrol.

47

Endo Restorasi Jurnal Ilmu Konservasi Gigi

Tabel 1. Rerata zona hambat terhadap Enterococcus faecaliss


(mm)

NaOCl 2,5%
MTAD
Aquades
Keterangan

SB

5
5
5

2,15
13,4
0

0,1369
0,1285
0

: n = Besar sampel
x = Rerata
SD = Standart deviasi

Analisis selanjutnya untuk mengetahui perbedaan zona


inhibisi antar kelompok dilakukan dengan uji Independent
t Test. Hal ini disebabkan karena kelompok bahan tersebut
mempunyai distribusi data yang normal dan varians yang
tidak homogen. Hasil uji perbedaan zona hambat antar
kelompok dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Nilai p hasil uji Independent t Test kelompok bahan
larutan irigasi NaOCl 2,5%, MTAD dan kontrol
NaOCl 2,5%
NaOCl 2,5%
MTAD
Aquades

MTAD
*p = 0,001
-

Aquades
*p = 0,001
*p = 0,001
-

Pada tabel 2 dapat diketahui hasil uji beda antar semua


kelompok zona inhibisi bahan dan mempunyai nilai p < 0,05.
Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna zona
inhibisi pada kelompok bahan tersebut. Nilai zona inhibisi
NaOCl 2,5% berbeda dengan kontrol dimana NaOCl 2,5%
memiliki daya antibakteri yang lebih besar. Nilai zona inhibisi
MTAD berbeda dengan kontrol dimana MTAD memiliki daya
antibakteri yang lebih besar. Nilai zona inhibisi NaOCl 2,5 %
berbeda dengan MTAD dimana MTAD memiliki daya
antibakteri yang lebih besar.

PEMBAHASAN
Perawatan saluran akar merupakan salah satu upaya
untuk mempertahankan gigi selama mungkin di dalam rongga
mulut. Tiga tahap pokok perawatan saluran akar adalah
preparasi, sterilisasi dan pengisian saluran akar. Ketiga tahap
ini saling berkaitan satu sama lain untuk menghasilkan
perawatan saluran akar yang sempurna.1
Adanya persistensi bakteri di dalam saluran akar akan
mengakibatkan kegagalan perawatan. Enterococcus faecalis

48

 Volume 1  No. 1, Januari - Juni 2008: 46-50

dipilih pada penelitian ini karena merupakan salah satu


penyebab kegagalan perawatan saluran akar gigi.3,4,5,6
Spesies ini merupakan bakteri fakultatif anaerob yang mudah
tumbuh, cepat berkolonisasi pada tubulus dentin.
Enterococcus faecalis dapat bertahan pada lingkungan yang
kurang menguntungkan seperti dapat tumbuh pada suhu 100C
dan 450C, pada pH 9,6. Pada penelitian ini digunakan kultur
murni dari Enterococcus faecalis ATCC 29212.
Penelitian tentang daya antibakteri bahan irigasi NaOCl
2,5% dan MTAD telah dilakukan dengan mengamati adanya
zona hambatan pada media Blood Agar. Zona hambat
merupakan suatu metode perhitungan laboratoris untuk
mengetahui kemampuan suatu bahan dalam menghambat
atau membunuh pertumbuhan bakteri.30,31 Daerah zona
hambat merupakan daerah yang jernih dan tidak terdapat
pertumbuhan mikroorganisme di sekeliling bahan, diukur
dengan menggunakan jangka sorong.
Pada kedua kelompok bahan irigasi terlihat bahwa
keduanya sama-sama mempunyai zona hambat pada media
Blood Agar sesudah diinkubasi 48 jam.30,31 Hasil analisa
perhitungan statistik dengan Independent t Test didapatkan
adanya perbedaan yang bermakna pada diameter zona
hambat antara larutan NaOCl 2,5% dan MTAD. Bahan irigasi
NaOCl 2,5% mempunyai zona hambat lebih kecil
dibandingkan dengan larutan MTAD.
Diameter zona hambat larutan NaOCL 2,5% lebih kecil
dibandingkan dengan larutan MTAD menunjukkan bahwa
larutan NaOCl 2,5% memiliki daya antibakteri yang lebih
kecil dibandingkan larutan MTAD. Hal ini disebabkan cara
kerja NaOCl 2,5% pada membran sitoplasma sel bakteri
Enterococcus faecalis.21 NaOCl membunuh kuman melalui
beberapa cara antara lain dengan melepaskan oksigen bebas
yang bergabung dengan sel protoplasma yang akan merusak
sel, kombinasi CL2 dengan sel membran membentuk
N-chlorocompound akan mengganggu metabolisme sel.
Perubahan membran sel menyebabkan difusi sehingga isi
sel keluar dan kerusakan sel terjadi secara mekanis oleh CL2
dan oksidasi CL2 pada enzim menyebabkan hambatan kerja
enzim dan kematian sel. Selain itu karena aktifitas enzimatik
berada pada membran sitoplasma, yang bertanggung jawab
pada beberapa fungsi penting seperti metabolisme,
pertumbuhan sel, berperan pada fase akhir pembentukan
dinding sel, biosintesis lipid, transport elektron dan oksidasi
fosforilase. Zona hambat pada MTAD lebih besar dibandingkan
NaOCL 2,5%, hal ini menunjukkan bahwa larutan MTAD
mempunyai daya antibakteri lebih besar daripada larutan
NaOCl 2,5%, ini disebabkan oleh cara kerja tetrasiklin yang

ISSN : 0852-9109

Agustin W. : Perbedaan daya antibakteri larutan irigasi NaOCl 2,5% dan MTAD terhadap bakteri Enterppcoccus faecalis

terkandung dalam MTAD pada 2 bagian sel yaitu pada


membran sitoplasma dan pada inti sel.17 Pada membran
sitoplasma tetrasiklin memutus pembentukan apoprotein
yaitu protein yang dibutukan untuk membawa lemak keluar
sel, akibatnya terjadi stetosis yaitu penumpukan lemak di
dalam sel sehingga sel akan membengkak, permeabilitas
membran akan terganggu dan sel akan mati. Selain itu
tetrasiklin mampu merubah membran sitoplasma sehingga
menyebabkan leakage nukleotida dan komponen intraseluler
lainnya. Perubahan sitoplasma sering berupa degenerasi sel,
selain itu terlihat perubahan khas pada inti/nukleus. Mulamula nukleus mengkerut dan menunjukkan penggumpalan
dan densitas kromatinnya meningkat (pyknosis). Membran
nukleus kemudian robek, sehingga terjadi pemisahan
kromatin (karyorrhexis). Akhirnya bahan nukleus tercerna dan
hilang (karyolisis). Bila terjadi kematian sel, tampak
kekacauan struktur yang parah, dan akhirnya organel
sitoplasma hilang karena dicerna oleh enzim litik
intraseluler(autolysis).
Selain itu sifat dari Enterococcus faecalis dapat bertahan
pada lingkungan yang kurang menguntungkan seperti dapat
tumbuh pada pH 9,6, mengakibatkan bakteri tersebut lebih
rentan terhadap MTAD yang mempunyai pH 2,15. dibanding
dengan NaOCL 2,5% yang lebih bersifat basa. Hal tersebut
mengakibatkan zona inhibisi MTAD lebih besar dibanding
NaOCl 2,5%.

7.

8.

9.
10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

DAFTAR PUSTAKA
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Grossman LI, Oliet S, and Rio CED. Ilmu endodontik dalam


praktek. Alih bahasa: Rafiah Abyono. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.1995. h: 196 -247.
Walton RE and Torabinejad M. Prinsip dan Praktik Ilmu
Endodonsi. Alih bahasa: Narlan Sumawinata dkk. Edisi ke 2.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.1998.h: 360-78.
Pinheiro ET, Gomes BP, Ferraz CC, Sousa EL, Teixeira FB
and Souza-Filho FJ. Microorganisms from canals of rootfilled teeth with periapical pesions. Int Endod J . 2003;
36(1). 1-11.
Nakajo K, Nakazawa F, Iwaku M and Hoshino E. Alkaliresistant bacteria in root canal systems. Oral Microbiol
Immunol. 2004; 19. 390-4.
Gomes NV, Filho EDG, Gomes BPFA, dkk. Recovery of
Enterococcus Faecalis after single-or multiple- visit root
canal treatments carried out in infected teeth ex vivo.
International Endodontic Journal. 2005; 38. 697-704.
Hancock HH, Sigurdsson A, Trope M and Moiseiwitsch J.
Bacteria Isolated after Unsuccessful Endodontic Treatment
in a North American Population. Oral Surg Oral Med Oral
Pathol Oral Radiol Endod. 2001; 91(5). 579-86.

ISSN : 0852-9109

17.
18.

19.

20.

21.

22.

23.

Rocas IN, Siqueira, Santos KRN. Association of


enterococcus faecalis with different forms of periradicular
diseases. The American Association of Endodontics. May
2004. Vol 30 (5). p: 1-5.
Sedgley CM, Molander A, Flannagan SE. Virulance,
phenotype and genotype characteristics of endodontic
Enterococcus spp. Oral Microbiol Immunol. 2005; 20.
10-19.
Clarkson RM and Moule AJ. Sodium hypochlorite and its use
as an endodontic irrigant. Aus Den J. 1998; 43. 16-20.
Siqueira JF, Rocas IN, Favieri A and Lima KC.
Chemomechanical reduction of the bacterial population
in the root canal after instrumentation and irrigation
with 1%, 2,5%, and 5,25% sodium hypohlorite.
J Endodon. 2000; 26. 331-4.
Buck R, Eleazer P and Staat R. In vitro disinfection of
tubulus by various endodontic irrigants. J Endodon .1999;
25. 786-8.
Baumgartner JC and Cuenin PR. Efficacy of several
concentration of sodium hypochlorite for root canal
irrigation. J Endodon. 1992;18(12). 605-12.
Torabinejad M and Shahrokh Shabahang. Effect of MTAD
on enterococcus faecalis-contaminated root canals of
extracted human teeth. J Endodon. 2003; 29. 576-9.
Torabinejad M, Shabahang S, Aprecio R, Kettering JD.
The antimicrobial effect of MTAD. An in Vitro Investigation.
J Endodon.2003; 29. 400-3.
Shabahang S, Manouchehr Pouresmail, Torabinejad M.
In vitro entimicrobial efficacy of MTAD and vodium
vypochlorite. J Endodon.2003; 29. 450-2.
Tanya K, Torabinejad M, Carlos A Munoz, Shabahang S.
Effect of MTAD on fexural strength and modulus of elasticity
of dentin. J Endodon.2003; 29(11). 747-50.
Kettering JD. Microbiology and Immunology. Pathway of
the Pulp. 6th ed. Mosby 1994. p: 363-72.
Sunde PT, Olsen I, Debelian GJ, Tronstad L. Microbiota of
Periapical lessions refractory to endodontic therapy.
J Endodn. 2002; 28. 304-10.
Kayaoglu G, Erten H, Orstavik D. Growth at high pH Increase
Enterococcus Faecalis Adhesion to Collagen. International
Endodontic Journal. 2005; 38. 389-96.
Ferari PHP, Cai S, Bombana AC. Effect of Endodontic
Procedures on Enterococci, Enteric Bacteria and Yeasts
in Primary Endodontic Infections. International Endodontic
Journal.2005; 20. 10-19.
Estrela C, Estrela CRA and Barbin EL. 2002. Mechanism
of Action of Sodium Hypochlorite. Braz Dental J. 2002;13(2)
113-7.
Emboava. Solvent Action of Sodium Hypochlorite on Bovine
Pulp and PhysicoChemical Properties of Resulting Liquid.
J Braz Dent 2001;12(3).154-7.
Gambarini G, Luca M and Gerosa R. Chemical Stability of
Heated Sodium Hypoclorite Endodontic Irrigants. J Endod.
1998; 24 (6).432-3.

49

Endo Restorasi Jurnal Ilmu Konservasi Gigi

24. Baumgartner JC and Cuenin PR. Efficacy of Several


Concentration of Sodium Hypochlorite for Root Canal
Irrigation. J Endodon. 1992; 18(12); 605-12.
25. White GC. The Handbook of Chlorination.2nd ed. Van
Nostrand Reinhold Company . New York .2000. p: 67-7
26. Glassman GD and Serota KS. Endodontics: A Predictable
Protocol for The Biochemical Cleansing of the Root Canal
System. Oral Health J.2001; 1-6.
27. Harrison JW. Irrigation of the Root Canal System. Dent.Clin
of North America. 1984; 4. 794-808.

50

 Volume 1  No. 1, Januari - Juni 2008: 46-50

28. Smilack, JD. The Tetracycline. Mayo Clin Proc. 1999; 74.
p: 727-9
29. Ganiswarna, SG, Farmakologi dan Terapi. Edisi ke 4.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1995. h: 651-6
30. Markus BR. Morfologi dan Sitologi Bakteri. Buku Petunjuk
Praktikum Mikrobiologi Mahasiswa FKG Universitas
Airlangga. Surabaya, 1999. h: 3-15
31. Brooks G, Butel JS and Morse S. Mikrobiologi Kedokteran.
ed.22. Mudihardi E. Jakarta. Salemba Medika.2001;
h : 95-9,233-45,278-81,328-41.

ISSN : 0852-9109