Anda di halaman 1dari 160

Imaging in Otorhinolaryngology

Foto
Waters

Deskripsi
Sinus maksilaris, frontal, dan
ethmoidal

Schedel
PA
sinus frontal
PA
dan Lateral
sinus frontal,
lateral
sphenoidal,dan ethmoidal
Schuller

Mastoid lateral

Towne

Dinding
posterior
maksilaris

Caldwell

Sinus frontalis

Rhese/
oblique

Bagian posterior dinding


ethmoid, kanalis optikus, dan
dasar orbita

Stenver

Seluruh bagian mastoid

sinus

BACK

OTITIS EKSTERNA
O

s Eksterna Furunkulosa (Sirkumskripta)

Penyebab: Staph. Aureus, Staph. Albus.


Terletak di folikel rambut atau gld.sebasea yang tersumbat.
Hanya terjadi di 1/3 ext canal (part kar laginosa)
TRAUMA ABRASION / MACERATION
STAPHY. SP (DM)
INFECTION
SPONTANEUS / RECURRENCY

s eksterna difusa

Penyebab: Pseudomonas (usually), Staph albus, E. Coli.


Mengenai seluruh CAE, menyebabkan penyempitan kanal
Manipulasi liang telinga hilangnya lapisan lemak muara kelenjar
terbuka resorbsi cairan dari luar oedem sekresi kelenjar sebacea
& sudorifera
permukaan kulit kering rasa gatal pada liang telinga
ingin menggaruk & laserasi kulit mempermudah invasi kuman
(Mawson 1974 )

Terapi OE
Furunkulosa/Sirkumskripta

Difusa

Otitis eksterna sirkumskripta pada stadium


infiltrat diberikan salep ikh ol atau an bio k
dalam bentuk salep seperti polymixin B atau
basitrasin. (PPM Puskesmas)

Pada otitis eksterna difus dengan memasukkan


tampon yang mengandung an bio k ke liang
telinga supaya terdapat kontak yang baik antara
obat dengan kulit yang meradang. Pilihan
antibiotika yang dipakai adalah campuran
polimiksin B, neomisin, hidrokor son dan
anestesi topikal. (PPM Puskesmas)

Kebanyakan furunkel direabsorpsi secara


spontan, namun jika dalam 24-48 jam bisulnya
belum pecah maka dilakukan insisi dan
drainase
Sistemik : Antibiotika diberikan dengan pertimbangan infeksi yang cukup berat. Diberikan pada
orang dewasa ampisillin 250 mg qid, eritromisin 250 qid. Anak-anak diberikan dosis 40-50 mg per
kg BB.
Topical antibiotics usually contains boric or acetic acid to decrease pH of the canal
neomycin, actives againts S. aureus, Proteus sp., Klebsiella sp., and E.coli.
polymyxin B or E, active againts Pseudomonas sp., E. coli, and Klebsiella sp.
gentamicin, actives againts Pseudomonas sp.
newer quinolon preparations of cipro oxacin and o oxacin appear to equally efficacious in
controlling acute otitis externa

Keratosis Obturans
Penumpukan epitel skuamous
dalam jumlah besar yang
susah di keluarkan
Penyebab: inflamasi kronik
Tx: aural drops, campuran
dari alkohol/ gliserin dalam
H2O2, 3x seminggu

Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003.


Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

BACK

Malignant O s Eksterna
(Necro zing OE)
Sering terjadi pada penderita diabetes
usia tua atau imunokompromised
Berasal Otitis eksterna selulitis,
kondritis, osteitis, osteomielitis the
osseous auditory canal & skull base
(
fissures).
Bisa menyebabkan facial nerve
paralysis n. IX, X atau XI jika
terjadi di foramen jugularis
Kematian jika terjadi trombosis
sinus lateralis
Tx: antibiotik sistemik dan topikal, dan
debridement agresive
BACK

Miringi s Bulosa
Infeksi pada membran mpani
yang dikarakteristikkan dengan
onset cepat, nyeri sekali, dan
ukuran bula yang bervariasi
pada membran timpani dan
struktur tulang sekitar kanalis
Penyebab: virus, Mycoplasma,
dan bakteria
Bula cairan serosa dan
hemoragic
Tx: analgesia, antibiotik topikal,
dan tetes kortikosteroid
Hindari pemecahan bula dan
irigasi telinga!!
BACK

Herpes Zooster O cus


Herpes zooster otticus
The virus stays dormant in the
sensory ganglia & reactivates
under conditions of decreased
immune competence.
The virus causes blisters on the
auricle, the EAC, even on the
lateral surface of the tympanic
membrane.
Involvement of the facial &
cochleoves bular nerves
facial palsy, with or without
hearing loss & dizziness
Ramsay Hunt syndrome.
The mostly self-limiting.
Tx: acyclovir & corticosteroid
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Celluli s of the Auricle


Infeksi bakteri aurikula
abrasi, laserasi atau ear piercing.
Tanda: merah, bengkak, nyeri, & nyeri tekan.
Etilogi: Staphylococcus or Streptococcus, Pseudomonas (jarang).
Jika trauma (-)
alergi / polychondritis
Tx: antibiotik oral / iv, perawatan luka
Bentuk KHUSUS:
Erysipelas disebabkan
-hemolytic Streptococcus
Tanda:
Systemic toxicity: fever and chills
Erythema
Pain - swelling is contagious.
Tx: oral / intravenous penicillin G & wound care.

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Perichondri s & Chondri s


Perichondritis / chondritis
a
bacterial infection of perichondrium
or car lage of the auricle.
Etiologi:
inadequately
treated
auricular cellulitis, acute otitis
externa, accidental or surgical
trauma, or multiple ear piercing in
the scapha.
Sign: painful, red, swollen & drains
serous - purulent exudates. Extend
to the surrounding soft tissues of the
face & neck.
The most common pathogen:
Pseudomonas sp.
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Auricula Hematom / Othaematom

BACK

Pseudokista
Terdapat benjolan didaun telinga yang
disebabkan oleh adanya kumpulan cairan
kekuningan diantara lapisan perikondrium dan
tulang rawan telinga

Cerumen Prop
Ear wax
mixture of secretions of the ceruminose & pilosebaseus glands,
squames of epithelium, dust & other foreign debris located in the cartilaginous
portion of the ears canal.
Protection acid condition : PH 6
Transport of debris
Lubricant
Bactericid efect

Faktor Risiko
1. Dermatitis kronik liang telinga luar
2. Liang telinga sempit
3. Produksi serumen banyak dan kering
4. Adanya benda asing di liang telinga
5. Kebiasaan mengorek telinga

WET - SOFT
Symtomps :
Hearing impairment (deafness)
CHL
Earache
Reflex cough
Fullness in the ear
Tinitus vertigo

Objec ve
Otoskopi: dapat terlihat adanya obstruksi liang telinga oleh material
berwarna kuning kecoklatan atau kehitaman. Konsistensi dari serumen dapat
bervariasi.
Pada pemeriksaan penala dapat ditemukan tuli konduktif akibat sumbatan
serumen.

DRY - HARD

BACK

Penatalaksanaan
1. Menghindari membersihkan telinga secara berlebihan
2. Menghindari memasukkan air atau apapun ke dalam telinga
3. Tatalaksana farmakoterapi:
Serumen yang lembek, dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada pelilit
kapas.
Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret.Apabila dengan
cara ini
Serumen tidak dapat dikeluarkan, maka serumen harus dilunakkan lebih
dahulu dengan tetes karbogliserin 10% selama 3 hari.
Serumen yang sudah terlalu jauh terdorong kedalam liang telinga sehingga
dikuatirkan menimbulkan trauma pada membran timpani sewaktu
mengeluarkannya, dikeluarkan dengan mengalirkan (irigasi) air hangat yang
suhunya disesuaikan dengan suhu tubuh.

Indikasi untuk mengeluarkan serumen adalah sulit untuk melakukan evaluasi


membran timpani, otitis eksterna, oklusi serumen dan bagian dari terapi tuli
konduktif.
Kontraindikasi dilakukannya irigasi adalah adanya perforasi membran
timpani. Bila terdapat keluhan tinitus, serumen yang sangat keras dan pasien
yang tidak kooperatif merupakan kontraindikasi dari suc on.
Serumen dianjurkan dikeluarkan setiap 6-12 bulan sekali

Irriga on
Ceruminoly c

Manual Removal

BACK

Otomycosis
Otitis Eksterna yang
disebabkan oleh jamur
Mikosis pembengkakan,
pengelupasan epitel superfisial
penumpukan debris yang
berbentuk hifa, disertai
suppurasi, dan nyeri
Aspergillus niger
A. avus,
A. fumigatus,
Allescheria boydii,
Scopulariopsis,
Penicillium,
Rhizopus,
Absidia, dan
Candida Spp.

Faktor Resiko
Cuaca yang lembab,
Ketiadaan serumen,
Instrumentasi pada
telinga,
Olah raga air
Status pasien yang
immunocompromised ,
Peningkatan pemakaian
preparat steroid dan
antibiotik topikal.

Gejala klinik :
otalgia dan otorrhea
sebagai gejala yang paling
banyak dijumpai,
kurangnya pendengaran,
rasa penuh pada telinga
gatal
Gambaran hifa
dan spora
dalam liang
telinga
Cotton wool
appearance
(Candida)

BACK

Pemeriksaan penunjang
Preparat langsung :
skuama dari kerokan kulit liang
telinga diperiksa dengan KOH
10 %
hifa-hifa lebar,
berseptum, dan kadang-kadang
dapat ditemukan spora-spora
kecil.
Pembiakan :
Skuama dibiakkan pada media
Agar Saboraud, dan dieramkan
pada suhu kamar. Koloni akan
tumbuh dalam satu minggu.

Manajemen
Ear toilet
Obat anti jamur topikal
Nystatin efektif untuk
Candida sp.
Miconazole efektif utk
Aspergillus sp.

Asam asetat 2 % dalam


alkohol sebagai
keratolytic
Jaga telinga tetap kering dan
cegah manuver2 pada
telinga
BACK

1. P Hueso Gutirrez, S Jimenez Alvarez, E Gil-carcedo Sanudo, et al. (2005). Presumed diagnosis :
Otomycosis. A study of 451 patients. Acta Otorinolaringol Esp, 56, 181-186.

OTITIS MEDIA AKUT

The presence of in amma on in the


middle ear accompanied by the
rapid onset of signs and
symptoms of an ear infection

BACK
BACK

BACK
BACK

Acute

<3 minggu
Subacute :
3 minggu 2
bulan
Chronic
> 2 bulan

BACK

Faktor Resiko
Pa ent Factors

Environmental Factors

Prematurity and low birth weight

Day care

Young age

Crowded living conditions

Early onset
Family history
Race Native American, Inuit, Australian
aborigine
Altered immunity
Craniofacial abnormalities

Low socioeconomic status


Tobacco and pollutant exposure
Use of pacifier
Prone sleeping position

Neuromuscular disease

Fall or winter season

Allergy

Not breastfed, prolonged bottle use


(AAP, 2004)

BACK

Stage 1 :
Oklusi tuba

Stage 2 :
Pre supurasi

Stage 3 :
Supurasi

Stage 4 :
Perforasi

Stage 5 :
Resolusi

Nasopharyngeal oedema blocks the tube


negative intratympanic pressure
TM retrac on + minimal
e usion in the middle ear
Symptoms:
Deafness
earache (no fever)
Signs.
Retracted TM with handle of malleus
more horizontal position, prominence of
lateral process of malleus and loss of light
reflex.
Tuning fork: conduc ve dea ness

BACK

Stage 1 :
Oklusi tuba

Stage 2 :
Pre supurasi

Stage 3 :
Supurasi

Vasodilatation of vessel in tympanic


membrane(cartwheel appearance)
edema and hyperemic TM
Symptoms:
earache disturb sleep.
Deafness and tinnitus.
Children high fever
Signs:
Conges on of pars tensa.
Leash of blood vessels appear along the
handle of malleus.
Reddening of whole tympanic
membrane
Tuning fork: conductive deafness

Stage 4 :
Perforasi

Stage 5 :
Resolusi

BACK

Stage 1 :
Oklusi tuba

Stage 2 :
Pre supurasi

Stage 3 :
Supurasi

Formation of pus in the middle ear


Tympanic membrane starts bulging
to the point of rupture.
Symptoms:
Earache excruciating.
Deafness increases
Child: 102-103F may be
accompanied by vomiting, convulsions.
Signs:red and bulging.
TM:
Yellow spot may be seen on the tympanic
membrane (rupture is imminent).
X-rays of mastoid: clouding of air
cells exudate

Stage 4 :
Perforasi

Stage 5 :
Resolusi

Tx:
Myringotomy

BACK

Stage 1 :
Oklusi tuba

Stage 2 :
Pre supurasi

Stage 3 :
Supurasi

Stage 4 :
Perforasi

Stage 5 :
Resolusi

The delayed take of antibiotic


or high virulence of bacterial
tympanic membrane ruptured
and pus extend to external ear.
Symptoms :
Decrease of temperature
Restless kid calm
Sign :
Perforated TM
Discharge (+)
BACK

Stage 1 :
Oklusi tuba

Stage 2 :
Pre supurasi

Stage 3 :
Supurasi

Stage 4 :
Perforasi

Stage 5 :
Resolusi

If the immune stage is high and low virulence of


bacterial self limiting.
Pada stadium ini proses penyakit menyembuh
Oedem mukosa berkurang, fungsi tuba membaik, sekret
berkurang/mengering
Membrana tympani kembali normal, terjadi resolusi
pada perforasi membran timpani
AOM chronic suppurate otitis media, if perforated
tympanic membrane is permanent.
AOM serous otitis media (sequele), if sterile effusion
persists for more than 3 months (without any
perforation)
(FKUI, 2007)
BACK

Pemberian farmakoterapi
Topikal
Pada stadium oklusi, tujuan terapi dikhususkan
untuk membuka kembali tuba eustachius. Obat
tetes hidung HCl efedrin 0,5-1% (atau
oksimetazolin 0,025 0,05%)
Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci
telinga H2O2 3% selama 3-5 hari, dilanjutkan
an bio k adekuat yang dak ototoksik seperti
o oxacin tetes telinga sampai 3 minggu.

Oral sistemik
Dapat diberikan an histamin bila ada tanda-tanda alergi.
An pire k seperti paracetamol sesuai dosis anak.
Antibiotik yang diberikan pada stadium hiperemis ialah penisilin atau
eritromisin, selama 10-14 hari:
Ampisilin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/KgBB 4 x sehari atau
Amoksisilin: Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari atau
Eritromisin : Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 4 x sehari

Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam


klavulanat atau sefalosporin.
Pada stadium supurasi dilakukan miringotomi (kasus rujukan) dan
pemberian an bio k. Antibiotik yang diberikan:
Amoxyciline: Dewasa 3x500 mg/hari. Pada bayi/anak 50mg/kgBB/hari; atau
Erythromycine: Dewasa/ anak sama dengan dosis amoxyciline;atau
Cotrimoxazole: (kombinasi trimethroprim 80 mg dan sulfamethoxazole 400
mg tablet) untuk dewasa 2x2 tablet, anak (trimethroprim 40 mg dan
sulfamethoxazole 200 mg) suspensi 2x5 ml.

Jika kuman sudah resisten (infeksi berulang): kombinasi amoxyciline dan


asam klavulanat, dewasa 3x625 mg/hari.

Manajemen

BACK

Pengobatan Operatif
Indications :

1. Myringotomy
Insisi kecil melubangi gendang
telinga
Fungsi: mengeluarkan cairan
dari telinga dalam dan
menghilangkan rasa sakit.
Terkadang dibuat dua insisi
pada membran timpani (opencan):
daerah anteroinferior dan insisi
kedua di daerah anterosuperior,
untuk mengaspirasi sekret yang
tebal seperti lem (glue ear)
Bimbel UKDI MANTAP

Suppurative stage: extreme


pain, bulging
Impending intracranial
complica ons
Perforated AOM with
insufficient drainage
Secretory AOM
Hemotimpanum
Unresolutive AOM

(Bhargava, 2002)

Bimbel UKDI MANTAP

2. Pemasangan Tube Ven lasi

Tube ventilasi ini dipasang


sifatnya sementara,
berlangsung 6 hingga 12
bulan di dalam telinga
hingga infeksi telinga bagian
tengah membaik dan
sampai tuba Eustachi
kembali normal.
3. Terapi pembedahan (opera f)

faktor predisposisi (+) mungkin dibutuhkan


adenoidektomi, tonsilektomi
dan mencuci (membersihkna)
sinus maksillaris

Bimbel UKDI MANTAP

Indikasi miringotomi
dan
pemasangan pipa

Komplikasi

Otitis media akut berulang yang


tidak respon terhadap terapi
medikamentosa
Otitis media efusi persisten >3
bulan & disertai CHL
Indikasi absolut jika terjadi OME
40dB
Indikasi relatif jika penurunan
pendengaran 21-40dB
Tujuan :
Mengurangi frekuensi dan
keparahan OMA
Secara umum memperbaiki
CHL yang disebabkan oleh
OME
Bimbel UKDI MANTAP

Persisten perforasi MT pada


waktu TT diambil(pipa yg
dipertahankan selama 36 bulan)
Timpanosklerosis atau scarring
Pipa tersumbat
Pembentukan jaringan granulasi
disekitar pipa
Penipisan atau atrofi disekitar
pipa

Post Pemasangan
Grommet tube
Follow up 3 minggu setelah
pemasangan tube
Kemudian kontrol se ap 6
bulan sampai tube diambil
Jika terjadi 2x episode otore
sebelum jadwal folow up 6
bulan, harus kontrol ke THT
Tube biasanya lepas pada 9-12
bulan
Pengambilan tube setelah 1824 bulan

Surgical Care
Tympanocentesis - the
aspiration of middle ear
fluid. For:
Immunosupressed child
Neonates with AOM
Patients in whom
antimicrobial therapy has
failed and who continue to
experience local or systemic
signs of sepsis
Complication of AOM
(CMDT,2008)

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

BACK

Komplikasi
Intra-temporal
complica ons:

Intra-cranial
complica ons:

Mastoiditis
Petrositis
Labyrinthitis
Facial nerve
paralysis

extradural
abscess
brain abscess
subdural abscess
sigmoid sinus
thrombophlebitis
otic
hydrocephalus
meningitis

BACK

Mastoidi s
Inflammation of the
mastoid air cells of the
temporal bone
Acute mastoiditis

Fever, otalgia, pain


behind ear, swelling,
redness, ear discharge.

associated with AOM.

Chronic mastoiditis
most commonly associated
with Chronic suppurative
otitis media (OMSK) and
particularly
with
cholesteatoma formation

BACK

Aero

s (Barotrauma)

Disebabkan perubahan tekanan telinga tengah menjadi


nega f dalam waktu cepat
Mukosa tuba bersifat one way ball valve
Saat take off tekanan telinga tengah > lingkungan luar
masih dapat terkompensasi
Saat landing tekanan telinga tengah < lingkungan luar
Retraksi membran mpani & resiko hemotympanum dan
efusi
Pencegahan:
Preflight dose of a 12 hour vasoconstricting nasal spray like
oxymetazoline
Oral decongestant
Gum chewing while landing
BACK

s Media Supura f Kronik (OMSK)

Radang kronis telinga tengah dengan


perforasi membrane timpani dan riwayat
keluarnya secret dari telinga (otore) lebih
dari 2 bulan, baik terus-menerus atau hilang
timbul.
Secret mungkin encer atau kental, bening
atau berupa nanah
OMSK : OMA + Perforasi memb. tympani >
2 bulan
OMSA : OMA + Perforasi memb. tympani <
2 bulan

Biasanya OMSK akibat


campuran bakteri aerob dan
anaerob:
Aerobic: Pseudomonas
aeruginosa, Staph. aureus
and epidermidis, proteus
species, klebsiella, and E.
coli
Anaerobic:
prevotella and
porphyromonas, anaerobic
Streptococci, Bacteroides
fragilis.

BACK

Faktor- faktor yang menyebabkan OMSA menjadi OMSK:


Terapi terlambat diberikan
Terapi tidak adekuat
Virulensi kuman tinggi, infeksi persisten
Daya tahan tubuh pasien rendah, gizi kurang
Higiene buruk
Gangguan fungsi tubuh oleh ISPA, obstruksi
parsial
retraksi membrane timpani
Perforasi membrane telinga persisten
Aerasi telinga tengah/mastoid yang mengalami
obstruksi
Skuestri atau osteomyelitis
Alergi
ISPA dengan sepsis atau obstruksi (adenoid, tonsillitis
kronis, sinusitis)

Safe

Dangerous/Unsafe

Central

A c or marginal

Intermiten
Mukopurulen/purulen
+/Putih/kekuningan
Jarang
Banyak

Kontinu
Selalu purulent
+
Kekningan/kecoklatan/kehijauan
Bisa ada darah
Sedikit
Tidak berpengaruh

Polyp

Jarang

Sering

Kolesteatoma

Sangat jarang

Hampir selalu ada

Tuli

Konduksi ringan sampai


sedang

Konduksi atau mix Ringan


sampai berat

Complication

Sangat jarang

Sering

Radiograph mastoid

Seluler or sklerotik

Sklerotik with erosi

Perforasi
Discharge

Frekuensi
Mukus
Bau tidak enak
Warna
Berdarah
Volume
Hubungan
dengan URTI

BACK

Bimbel UKDI MANTAP

Tataksana OMSK
OTOREA KRONIS

OTOSKOPI
MT PERFORASI

MT UTUH

OMSK
OTITIS EKSTERNA DIFUSA
OTOMIKOSIS
DERMATITIS/EKSIM
OTITIS EKSTERNA MALIGNA
MIRINGITIS GRANULOMATOSA

KOMPLIKASI (-)

KOLESTEATOM (-)
OMSK non kolesteatoma
ALGORITMA 1

ONSET, PROGRESIVITAS, PREDISPOSISI


PENYAKIT SISTEMIK,
FOKUS INFEKSI,
RIWAYAT PENGOBATAN
GEJALA/TANDA KOMPLIKASI

KOMPLIKASI (+)

KOLESTEATOM (+)
OMSK kolesteatoma
ALGORITMA 2

BACK

Bimbel UKDI MANTAP

ALGORITMA 1

OMSK TENANG

OMSK AKTIF

STIMULASI
EPITELIALISASI
TIPE PERFORASI

PERFORASI
MENUTUP
Tuli Konduksi?

TIDAK
(sembuh)

OMSK BAHAYA
KOLESTEATOM

OMSK NON
KOLESTEATOM

PERFORASI
MENETAP

RO MASTOID
(SCHULLER) X-RAY
AUDIOGRAM

TULI
KONDUKTIF (+)

IDEAL:
TIMPANOPLASTI TANPA/
DENGAN MASTOIDEKTOMI

Cuci telinga
Antibiotik sistemik
Lini 1 : Amoksisilin/sesuai
kuman penyebab
Antibiotik topikal

OTOREA MENETAP >1 MGG


ANTIBIOTIK BERDASAR
PX. MIKRO-ORGANISME
OTOREA MENETAP >3 BLN
IDEAL: MASTOIDEKTOMI +
TIMPANOPLASTI
PILIHAN
ATIKOTOMI ANTERIOR
TIMPANOPLASTI DINDING UTUH
TIMPANOPLASTI DINDING RUNTUH
ATIKOANTEROPLASTI
TIMPANOPLASTI BUKA TUTUP

BACK

ALGORITMA 2

OMSK + KOMPLIKASI

KOMPLIKASI
INTRA TEMPORAL

ABSES SUBPERIOSTEAL
LABIRINTISTIS
PARESIS FASIAL
PETROSITIS

ANTIBIOTIK DOSIS TINGGI


MASTOIDEKTOMI
DEKOMPRESI N. VII
PTROSEKTOMI

Bimbel UKDI MANTAP

KOMPLIKASI
INTRA KRANIAL

ABSES EKSTRA DURA


ABSES PERISINUS
TROMBOFLEBITIS SINUS LATERAL
MENINGITIS
ABSES OTAK
MENINGITIS OTIKUS

RAWAT INAP
PERIKSA SEKRET TELINGA
ANTIBIOTIK I.V. DOSIS TINGGI 7-15 HARI
KONSUL SPESIALIS SARAF/SARAF ANAK
MASTOIDEKTOMI ANASTESI LOKAL/UMUM
OPERASI BEDAH SARAF

Otosclerosis
Otosklerosis merupakan penyakit pada kapsul tulang labirin yang
mengalami spongiosis di daerah kaki stapes sehingga stapes menjadi kaku
dan tidak dapat menghantarkan getaran suara ke labirin dengan baik
Penyebab belum dapat dipastikan, beberapa faktor yang mempengaruhi
faktor keturunan dan gangguan sirkulasi pada stapes
Gejala dan tanda klinis
Penurunan pendengaran progresif
Tinnitus dan Vertigo
Membran timpani kemerahan akibat pelebaran pembuluh darah pada
promontorium (
sign)
Pasien merasa pendengaran lebih baik pada ruang bising (Paracusis Willisi)

Terapi
Stapedektomi, stapes diganti bahan prostesa
Pemberian Alat Bantu Dengar (ABD)
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Preaurikular fistule
Adanya lubang kecil di depan auricula (crux helix) akibat tidak
tertutupnya sulcus brachialis II lubang yang berlanjut sebagai
saluran pendek/panjang, dpt sampai kavitas tympani atau faring,
dibatasi epitel sehingga dari lubang dapat keluar hasil deskuamasi
epitel
Bila lubang tetap terbuka tidak ada gangguan
Bila lubang tertutup kista atau abses, pembengkakan hiperemis,
purulent, tidak ada elemen mukoid krn bukan mukosa
Pemeriksaan radiologik : Fistulografi
Bila terjadi abses, incisi pada lubang, jangan tegak lurus, karena bisa
terbentuk sikatrik, rekurensi tinggi, sehingga harus ekstirpasi
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Pemeriksaan Pendengaran
Conduction process
Air conduction
EAC Tympanic mb.
ossiculae ovale fenestra
Bone conduction
cranial bone internal
auditory canal

1. Sound resources receiver


organ
2. Physical energy conversion
nerve impuls
3. Nerve impuls hearing
cortex

Perceptive process
Organum spirale
N. auditory VIII
Central nerve system

BACK

Pemeriksaan Pendengaran
Tes Bisik (Whispered
Voice Test)
Tes Garputala
Audiometri Nada Murni
(Pure tone audiometry)
Audiometri Nada Tutur
(Speech audiometry)
Impedance Audiometri
Suprathreshold
Audiometri

Suara berbisik, setengah ekspirasi, pemeriksa


mengucapkan materi tes.
Telinga tidak diperiksa ditutup & pasien tidak
melihat bibir pemeriksa (pemeriksa berdiri
sekitar 0.6m dibelakang pasien)
Syarat :
1. Ruangan cukup sepi, kebisingan
maksimal 40 dB.
2. Ruangan cukup lebar, jarak 6 meter.
3. Materi tes disiapkan, diusahakan
memakai perkataan
yang digunakan sehari-hari.
4. Pemeriksa harus terlatih mengucapkan
materi tes.

BACK

Pemeriksaan Pendengaran
Tes Bisik (Whispered
Voice Test)

TES RINNE

Tes Garputala
Audiometri Nada Murni
(Pure tone audiometry)
Audiometri Nada Tutur
(Speech audiometry)
Impedance Audiometri
Suprathreshold
Audiometri

TES WEBER

TES SCHWABACH
Garpu tala 512 HZ!!!

BACK

Tes Garputala
TES
TUJUAN
INTERPRETASI

RINNE

WEBER

SCHWABACH

AC VS BC

BC Ka VS Ki

BC Px VS Pasn

Rinne(+) =
AC>BC
N/SNHL
Rinne(-) =
BC>AC CHL

Lateralisasi ke BC ps = BC
arah sakit
px normal.
CHL.
BC ps < BC
Lateralisasi ke px SNHL.
sehat SNHL.
BC ps > BC
Normal # latss px CHL.

Bimbel UKDI MANTAP

Pemeriksaan Pendengaran
Tes Bisik (Whispered
Voice Test)
Tes Garputala
Audiometri Nada Murni
(Pure tone audiometry)
Audiometri Nada Tutur
(Speech audiometry)
Impedance Audiometri
Suprathreshold
Audiometri

BACK

Pemeriksaan Pendengaran
Tes Bisik (Whispered
Voice Test)
Tes Garputala
Audiometri Nada Murni
(Pure tone audiometry)
Audiometri Nada Tutur
(Speech audiometry)
Impedance Audiometri
Suprathreshold
Audiometri

Kata-kata
sumber bunyi
Kegunaan :
1.
2.
3.
4.

Mengetahui jenis & derajat ketulian


Mengetahui lokasi kerusakan rantai
pendengaran
Mengetahui kenaikan ambang
pendengaran post-timpanoplasti
Untuk pemilihan hearing aid

SRT Speech Reception Threshold menirukan secara


betul kata-kata yang disajikan sebanyak 50%.
SDS Speech Discrimination Score Diperoleh dg
intensitas antara 25 40 dB diatas titik SRT
menirukan jumlah kata disajikan antara 90 100%.

BACK

Pemeriksaan Pendengaran
Tes Bisik (Whispered
Voice Test)
Tes Garputala
Audiometri Nada Murni
(Pure tone audiometry)

3 komponen dasar
impedans:
1.Acoustic Impedance
2.Tympanometri
3.Acoustic Reflex Tresshold

Audiometri Nada Tutur


(Speech audiometry)
Impedance Audiometri
Suprathreshold
Audiometri

BACK

Pemeriksaan Pendengaran
Tes Bisik (Whispered
Voice Test)
Tes Garputala
Audiometri Nada Murni
(Pure tone audiometry)
Audiometri Nada Tutur
(Speech audiometry)
Impedance Audiometri
Suprathreshold
Audiometri

BACK

Tuli Sensorineural Koklea


Gejala klinis
Penurunan pendengaran progresif, simetris
Tinnitus nada tinggi
Pasien dapat mendengar suara percakapan tetapi sulit memahaminya, terutama bila
diucapkan dengan latar belakang bising (Cocktail party deafness)
Bila intensitas ditinggikan akan timbul rasa nyeri di telinga akibat faktor kelelahan
(recruitment)

Diagnosis
Tes penala didapat tuli sensorineural
Pemeriksaan audiometri nada murni didapat hasil tuli saraf nada tinggi, bilateral dan
simetris
Pemeriksaan audiometri nada tutur menunjukkan gangguan diskriminasi wicara (speech
discrimination)

PRESBIKUSIS
Tuli sensorineural
Usia > 65 tahun
Bilateral
Akibat proses degenerasi

NOISE INDUCED HEARING LOSS


Akibat pajanan bising yang cukup keras dalam
waktu yang cukup lama
Pemeriksaan audiometri nada murni didapat tuli
sensori neural pada frekuensi 3000-6000 Hz,
terberat pada 4000 Hz
Pencegahan dengan mengusahakan bising < 85dB
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Presbycusis

Gradually slopping downward pa ern


Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Noise Induced Hearing Loss

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Ototoxic Drug
Kerusakan yang di mbulkan

Aminoglikosida

(Streptomisin,
Degenerasi stria vaskularis
Neomisin, Kanamisin
Terjadi pada hampir semua obat
Gentamisin)
ototoksik
Degenerasi sel epitel sensori pada
organon cor dan labirin
Loop Diure c
ves bular. Pada penggunaan
(Furosemide,
aminoglikosida
bumetanide,
Degenerasi sel ganglion
ethycrinic acid)
Sekunder akibat degenerasi sel
epitel sensori
An Malaria
(Kina dan Klorokuin)

Bimbel UKDI MANTAP

Eritromisin

An in amasi
(Salisilat dan aspirin)

An Tumor
(Cisplatin
Karboplatin)

BACK

Ver go
Vertigo adalah perasaan penderita merasa dirinya atau dunia berputar
Otologi

Neurologik

Interna

24-61% kasus
Benigna
Paroxysmal
Positional
Vertigo (BPPV)
Meniere
Desease
Parese N VIII
Uni/bilateral
Otitis Media

23-30% kasus
Gangguan
serebrovaskuler
batang otak/
serebelum
Ataksia karena
neuropati
Gangguan visus
Gangguan
serebelum
Gangguan
sirkulasi LCS
Multiple
sklerosis
Malformasi
Chiari
Vertigo servikal

+/- 33% karena


gangguan
kardio vaskuler
tekanan darah
Aritmia kordis
Penyakit
koroner
Infeksi
< glikemia
Intoksikasi
Obat: Nifedipin,
Benzodiazepin,
Xanax,

Psikiatri
> 50% kasus
Klinik dan
laboratorik :
dbn
Depresi
Fobia
Anxietas
Psikosomatik

Fisiologi
Melihat dari
ketinggian

BACK

Jenis Vertigo
Gejala

Ver go Perifer

Ver go Sentral

Onset

Mendadak

Tersembunyi

Intensitas

Berat

Ringan -Sedang

Munculnya

Episodik

Konstan

Durasi

Singkat

Panjang

Eksaserbasi posisi

Berat

Ringan

Nistagmus

Horizontal atau torsional

Vertikal, horizontal,
torsional

Romberg- test mata


Terbuka
Tertutup

Normal
Abnormal

Abnormal
Abnormal

Gejala Neurologis

Jarang

Sering

Vertigo perifer

Bimbel UKDI MANTAP

Dura on of symptom in rela on to ae ology


(Dhillon, 1999)
Second

Minutes to
hours
Hours to
days

BPPV
Cervical spondilosys
Postural
hypotension
disease
Labyrinthitis
Labyrinthine failure
Ototoxicity
Central vestibular
Bimbel UKDI MANTAP
disease

BPPV
Comparison of two pathophysiological theories for BPPV
Theory
Cupulolithiasis
Canalithiasis
Originator

Schuknecht, 1969

Hall,et al.,1979

Location of lesion

Posterior semicircular canal (PSC)

PSC

Proposed
pathophysiology

Cupulolithiasis (basophilic
densities adhered to the PSC
cupula) alter the specific gravity of
the cupula making it sensitive to
gravitational changes

Canalith (free-floating psc


endolympathic densities) create a
hydrodynamic drag which
displaces & stimulates the cupula

Supportive evidence

1. Histological observation of
1. Operative observation of freecupular basophilic densities
floating endolymphatic
2. Reports of positive responses
densities
to physical treatment inspired 2. Reports of positive responses
by this pathophysical theory
to physical treatment inspired
by this pathophysical theory
(Velde, 1999)
Bimbel UKDI MANTAP

KRITERIA DIAGNOSIS BPPV:


a. Recurrent vestibuler vertigo
b. Duration of attack always < 1 minute
c. Symptoms invariably provoked by the following
changes of head position:
- lying down or
- turning over in the supine position
- or at least 2 of the following manouvres:
- reclining the head
- rising up from supine position
- bending forward
d. Not attributable to another disorder
(Brevern
Bimbel UKDI MANTAP

., 2007)

DIX-HALLPIKE MANEUVER

D
I
A
G
N
O
S
I
S

Bimbel UKDI MANTAP

TREATMENT BPPV
Non surgical
Spontaneous resolution within several months
Vestibular habituation
position of maximal stimulation
with the affected ear in the dependent position
Liberatory maneuvers displace the heavy debris on the
cupula away from the ampula of PCS
(Young & Quin, 1994)
Expectant observation self limiting natural history of
BPPV
Medication
Physical treatment inspired by canalithiasis theory
Operative procedures for intractable case
(Velde, 1999)
Bimbel UKDI MANTAP

a. Reclined head hanging 45 degree


turn

b. Rotate 45 degrees contralateral

EPLEY

d. Keep head
turn and to
sitting
e. Turn
forward chin
down 20
degrees

c. Head and body rotated to 135 degrees


from supine
Bimbel UKDI MANTAP

SEMONT

BRANDT & DAROFF


EXCERCISES

Bimbel UKDI MANTAP

Vertigo sentral

Bimbel UKDI MANTAP

Secara garis besar terapi dibagi


dalam:
1.

Fase Akut
An kolinergik
Sulfas Atropin : 0,4 mg/im
Scopolamin : 0,6 mg IV bisa diulang tiap
3 jam

2.

Simpatomime ka
Epidame 1,5 mg IV bisa diulang tiap 30
menit

3.

Menghambat ak vitas nukleus


ves buler
a.

Golongan antihistamin
Golongan ini, yang menghambat
aktivitas nukleus vestibularis adalah :
i.
Diphenhidramin: 1,5 mg/im/oral
bisa diulang tiap 2 jam
ii.
Dimenhidrinat: 50-100 mg/ 6 jam
iii. Flunarizin
Bimbel UKDI MANTAP

b.

Sedatif
i.
ii.
iii.

a.

Phenobarbital: 15-30 mg/ 6 jam


Diazepam: 5-10 mg
Chlorpromazin (CPZ): 25 mg

Terapi Kausalis
Oklusi:
Anti platelet agregasi
Vasodilator
Flunarizin

b.

Epilepsi:
Phenitoin
Carbamazeoin

c.

Migren:
Ergotamin
Flunarizin

a.
b.
c.

Terapi Opera f
Tumor
Spondilosis servicalis
Impresi
basiler
Bimbel UKDI MANTAP

NOSE

Rhinitis Alergi
Rhini s
alergi
adalah
penyakit
inflamasi yang disebabkan oleh reaksi
alergi pada pasien atopi yang
sebelumnya
sudah
tersensitisasi
dengan alergen yang sama serta
dilepaskannya suatu mediator kimia
ketika terjadi paparan ulangan dengan
alergen spesifik terkait. (Von Pirquet,
1986)
Kelainan pada hidung dengan gejala
bersin-bersin, rinorea, rasa gatal dan
tersumbat setelah mukosa hidung
terpapar alergen yang diperantai oleh
IgE. (WHO ARIA (Allergic Rhini s and Its
Impact on Asthma) tahun 2007)

BACK

Klasi kasi

seasonal
Waktu
timbulnya

perennial

Alergi
WHO
ARIA
Viral
Rhinitis
Rhinitis

Sifat
berlangsungnya

Berat/ringannya
Moderatesevere

Vasomotor rhinitis
Rhinitis Medicamentosa
Rhinitis during pregnancy
NARES
Rhinitis atrofi
Bimbel UKDI MANTAP

Persistent
Mild

Occupational
Rhinitis

Non
Alergi

Intermitten

Bailey, 2006 et CMDT,

Dikategorikan berdasar munculnya gejala:


Seasonal Allergic Rhini s (SAR)/hay fever, polinosis/rino
konjung vi s: gejalanya muncul krn trigger yang musiman,
biasanya pada negara 4 musim. Alergen: serbuk sari, spora
jamur
Perennial Allergic Rhini s (PAR): gejala muncul hampir
sepanjang tahun. Alergen yang sering inhalan (indoor atau
outdoor) dan alergen ingestan

BACK

How to diagnose?
Anamnesis

Pemeriksaan
Fisik

Pemeriksaan
Penunjang

Serangan bersin
berulang
Keluar ingus
(rhinorrhea) encer
dan banyak
Hidung tersumbat
Hidung dan mata
yg gatal
Kadang2 disertai
dengan lakrimasi
Riwayat alergi

BACK

Etiologi Rhinitis Alergi


Rhinitis alergi merupakan reaksi alergi hipersensitivitas tipe 1 yang
terjadi akibat paparan alergen. Berdasarkan cara masuknya alergen
dibagi atas:

Alergen
inhalan

masuk bersama dengan udara pernapasan


misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel, dan bulu
binatang serta jamur.

Alergen
ingestan

masuk ke saluran cerna berupa makanan seperti susu,


telur, coklat, ikan, udang.

Alergen
injektan
Alergen
kontaktan

masuk melalui suntikan atau tusukan

masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa, misal


bahan kosmetik atau perhiasan
Bimbel UKDI MANTAP

Anamnesis

Pemeriksaan
Fisik

Pemeriksaan
Penunjang

Rhinoskopi anterior: mukosa edem, basah,


livid, sekret encer yang banyak
Gejala spesifik pada anak:
Allergic shinner: stasis vena o/k obstruksi
hidung
Allergic sallute: gerakan gosok hidung
Allergic crease: garis melintang dorsum nasi
1/3 bawah
Facies adenoid: karena mulut sering terbuka
Cobblestone appearance: dinding post faring
granuler dan edema
Geographic tongue

BACK

BACK

Anamnesis

Pemeriksaan
Fisik

Pemeriksaan
Penunjang

Pemeriksaan
sitologi hidung,

berguna sebagai pelengkap. Jika ditemukan eosinofil meningkat,


menunjukan kemungkinan alergen berasal dari alergen inhalan.

Hitung eosinofil
darah tepi,

dapat normal atau meningkat

Pemeriksaan IgE
total

dengan metode prist-paper radio immunosorbent test, RAST, atau ELISA.

Uji kulit

uji intrakutan tunggal atau serial (Skin End-Point Titration/SET), uji cukit
(prick test)
uji tempel (patch test). SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan
menyuntikan alergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat
kepekatannya. Keuntungannya adalah selain menentukan alergen
penyebab juga dapat menentukan derajat alergi serta dosis inisial untuk
desensitisasi.

BACK

BACK

Medikamentosa
1. H1-antagonist,
generasi 2:
2. Decongestant
3. Steroid
4. Leukotriene
inhibitor

- Cetirizine 10mg, 1x1


- Loratadine 10mg, 1x1

Nasal: Phenylephrine 0,5% 4x2 tetes/hari (max 3-4 hari)


Sistemik: Pseudoepehdrine 60mg, 2x1

- Fluticasone spray
- Mometasone spray

- Zafirlukast

BACK

Rhinitis non alergi


1. Rhini s irita f-toksik (occupa onal): iritan secara airborne
(pelarut, bahan kimia, asap rokok) dan agen toksik
2. Rhini s hormonal: byk pd saat hamil -> estrogen terbukti
meningkatkan asam hyaluronat yg membuat edema dan nasal
congestion. Estradiol dan progesteron juga meningkatkan jumlah
reseptor H1 shg membuat nasal congestion. Increase in mucous
glands and a decrease in nasal cilia during pregnancy, both of which
heighten nasal congestion decreasing mucus clearance. Rhinitis is
usually most severe during the second and third trimesters of
pregnancy.
3. Drug-induced rhini s: using over-the-counter topical
vasoconstrictive nasal sprays prolonged periods leads to rebound
UKDI MANTAP
rhinitis severe obstructionBimbel
as the
effects of the topical agents
subside.

Rhinitis non alergi


4. Rhini s vasomotor (idiopathic): diagnosis ditegakkan jika sdh
menyingkirkan sebab alergi dan non-alerginya. Bisa dengan atau
tanpa rhinorrhea. Rhinitis vasomotor merefleksikan ketidakseimbangan antara parasimpatis dan simpatis shg muncul capillary
leakage dan hipersekresi glandula. Biasa pada pasien usia >60 thn.
Dibagi menjadi tipe runner, sneezer, dan blocker
5. Non-allergic rhini s with eosinophilia (NARES): etiologi masih
blm diketahui. Menunjukkan gejala bersin terus-menerus, profuse
watery rhinorrhea, gatal di hidung, hidung tersumbat, dan
hyposmia dengan tes alergi negatif dan jumlah eosinofil > 25% pada
nasal smear.
Bimbel UKDI MANTAP

Rhinitis non alergi


6. Viral rhini s: very common and often
associated with other manifestations of
viral illness, which can include headache,
malaise, body aches, and cough. Nasal
drainage in viral rhinitis is most often clear
or white and can be accompanied by nasal
congestion and sneezing
7. Rhini s atrophy (ozaena): infeksi hidung
kronis, adanya atrofi progesif pada mukosa
dan tulang konka mukosa hidung
menghasilkan sekret yang kental dan cepat
mengering terbentuk krusta yang
berbau busuk
Bailey, 2006, CMDT, 2007

Bimbel UKDI MANTAP

Rhinosinusi s
Rinosinusitis
peradangan mukosa sinus paranasal &
mukosa hidung (Benninger et al., 2003)
Sinus yang paling sering terkena: sinus ethmoid dan maksilla
Sinus maksilla disebut juga sebagai antrum Highmore,
letaknya dekat akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah
menyebar ke sinus sinus dentogen

BACK

Klasi kasi RSK

S. Pneumonia
(30-50%), H.
In uenzae
(20-40%), M.
Catarrhalis

Akut

Subakut

Rhinosinusi s

Kronis

Rekuren

4-12 minggu
S. Aureus
(40%), P.
Aeruginosa
(10-25%), K.
Pneumoniae,
P. Mirabilis,
-10 hari,
ada periode sembuh sempurna

Kronik
Perburukan RSK, namun kembali ke
eksaserbasi
baseline setelah terapi
akut Bimbel UKDI MANTAP

Patofisiologi
Edema

os um KOM
tersumbat dan
cilia dak dapat
bergerak

tekanan nega f

RSA non
bakterial

bisa self-limi ng

transudasi
serosa

Bila menetap

pertumbuhan
bakteri

RSA bakterial

terapi antibiotik

tidak berhasil

Gangguan
patensi ostiumostium sinus dan
mucociliary
clearance

hipertrofi,
polipoid, atau
pembentukan
polip dan kista

mukosa makin
bengkak

inflamasi,
hipoksia, bakteri
anaerob, faktor
predisposisi

BACK

Temuan Objek f
Gejala atau tanda
klinis terus menerus
dengan kriteria Task
Force 1996

Adanya sekret rongga hidung purulen, polip, atau


pertumbuhan polipoid pada pemeriksaan rhinoskopi (dengan
dekongesti) atau endoskopi
Edema or erythema meatus media pada endoskopi
Erythema, edema, atau jaringan granulasi, baik terlokalisir atau
difus. Bila tidak melibatkan meatus media atau bulla ethmoid,
pencitraan radiologis diperlukan untuk konfirmasi diagnosis
Pemeriksaan pencitraan untuk konfirmasi diagnosis:
- CT scan: mucosal thickening, bone changes, air-fluid levels
- Plain sinus Xray: air-fluid levels atau >5 mm
1 sinus

Bimbel UKDI MANTAP

Bailey 2006

CT Scan Coronal
Bimbel UKDI MANTAP

XRay

Treatment

Bimbel UKDI MANTAP

Bimbel UKDI MANTAP

Antibiotik

Source: American Academy of Otolaryngology Head


Bimbel UKDI
MANTAP
and Neck Surgery
Foundation,
2007

Komplikasi
Kelainan orbita
Selulitis orbita
abses subperiosteal
Abses orbital
Optic neuritis
Thrombosis sinus
cavernosis

Miscellaneous: mucocele
dan osteomielitis (pott
puffy tumor)
Kelainan intracranial
Meningitis
Abses
epidural/subduran/cerebral
Bimbel UKDI MANTAP

Epistaksis
Epistaksis anterior

Epistaksis posterior

Perdarahan dari arteri


eithmoidalis anterior atau
pleksus kisselbach
Biasanta diawali oleh trauma
atau infeksi
Penanganan awal berupa
penekanan digital selama 1015 menit. Jika perdarahan
terlihat dapat dikauter
Jika masih berdarah dapat
ditampon anterior 2x24 jam

Perdarahan dimulai dari


arteri ethmoidalis posterior
atau arteri sphenopala na
Mempengaruhi pasien
dengan hipertensi atau
arteriosklerosis
Terapi: aplikasi tampon
belloq/posterior selama 2-3
hari.

Bimbel UKDI MANTAP

Buku ajar ilmu THTK&L FKUI edisi keenam

Bimbel UKDI MANTAP

Bimbel UKDI MANTAP

Polip Hidung
Massa lunak dan berwarna pu h/
keabu-abuan yang terdapat pada
rongga hidung
Epidemiology
Biasanya timbul di dewasa usia >20
thn dan lebih sering di usia > 40 thn
menyerang pria 2-3 kali lebih besar
dibandingkan dengan wanita
Massa bertangkai dgn permukaan licin
Berbentuk bulat/lonjong, berwarna putih keabu-abuan, bening, dan
lobular
Tunggal/ multiple dan tidak sensitif
Berasal dari kompleks ostio-meatal di meatus media dan sinus
ethmoid
Polip koana
tumbuh kearah belakang dan membesar di nasofaring
Berasal dari sinus maxillaris
Bimbel UKDI MANTAP
Disebut juga polip antro-koana

BACK

Etiologi
Inflamasi kronik
Sinusitis Kronis
Rhinitis allergi
Asma
Fibrosis Kistik
Predisposisi genetik
Disfungsi saraf autonom
Chronic in amma on causes a
reac ve hyperplasia of the intranasal
Intoleransi alkohol
mucosal membrane, which results in
the forma on of polyps.
Intoleransi aspirin
The precise mechanism of polyp
forma on is incompletely
Edema Peningkatan
understood.
tekanan cairan interstitial
Medscapesehingga timbul edema
BACK
Bimbel UKDI MANTAP
mukosa hidung

Diagnosis
Pemeriksaan Fisik

Anamnesis

Rhinoskopi anterior massa berwarna


pucat, berasal dari meatus medius dan
mudah digerakkan

Gejala Utama

Hidung tersumbat
Stadium polip(Mackay dan Lund
Rinore (dari jernih sampai purulen);1997)
Stadium 1 polip masih terbatas di
meatus medius
Hiposmia / Anosmia
Stadium 2 polip sudah keluar dari
Nyeri pada hidung
meatus medius, tampak di rongga
hidung tapi belum memenuhi rongga
Sakit kepala
hidung

Gejala Sekunder

Stadium 3

Bernafas melalui mulut


Suara sengau
Halitosis
Gangguan tidur
Penurunan kualitas hidup

polip yang masif

Pemeriksaan Penunjang
Naso-Endoskopi
Pemeriksaan Radiologi

Bimbel UKDI MANTAP

Foto polos SPN (posisi Waters,


AP, Caldwell dan lateral)
CT Scan SPN

BACK

Tatalaksana
Operasi

Medikamentosa

Indikasi: anak dengan multipel ,


benign polip nasi atau
rhinosinustitis kronis yang
tidak membaik dengan terapi
medis maximum

Kortikosteroid
oral most e ec ve
treatment
Dewasa: prednisone (3060 mg) selama 4-7 hari,
ditaper 1-3 minggu.
Anak - dosis max 1
mg/kg/d selama 5-7 hari,
ditaper selama 1-3
minggu.

Intranasal spray pertumbuhan polip kecil

Antibiotik
Antiallergi

Bimbel UKDI MANTAP

Polipektomi
Etmoidektomi
intranasal/ekstranasal polip
etmoid
Operasi Caldwell-Luc sinus
maxilla

ESS (Endoscopic sinus surgery)


Melebarkan celah di meatus
media rekurensi berkurang

BACK

Komplikasi

Prognosis

Polip antro-koana
Obstructive sleep apnea
Chronic mouth breathing

Cenderung berulang
setelah operasi (jika
polip multiple)
pada informed consent
perlu memberitahu
pasien tentang
kemungkinan polip
berulang setelah operasi

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Nasal Foreign Bodies


Intranasal foreign
bodies (FBs) occur
most commonly in
young children and
consist of a variety
of inorganic and
organic objects.

Bimbel UKDI MANTAP

Nasal Foreign Bodies


CLINICAL MANIFESTATIONS
History of nasal FB insertion
without symptoms (71 to 88
percent)
Unilateral mucopurulent nasal
discharge (17 to 24 percent)
Foul odor (9 percent)
Epistaxis (3 to 6 percent)
Nasal obstruction (1 to 3
percent)
Mouth breathing (2 percent)

Bimbel UKDI MANTAP

THROAT

Tonsili s
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina
yang merupakan bagian dari cincin
waldeyer
Cincin waldeyer:
tonsil pharyngeal (adenoid)
tonsil palatina (faucial)
tonsil lingual (tonsil pangkal lidah) dan
tonsil tuba Eustachius (lateral band
dinding faring/
tonsil)
Rute penyebaran infeksi: airborne droplets,
kontak langsung
Dapat terjadi pada semua umur, terutama
pada anak

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Adenovirus, rhinovirus, reovirus, respiratory


syncytial virus (RSV), and the influenza and
parainfluenza virusesEpstein-Barr Virus,
Hemofillus infulenza, Coxschakie

Klasifikasi
Viral

GABHS
Akut

Bakterial

Fungal

Tonsilitis

Other
bacteria

Streptococcus viridan,
Streptoccus pyogenes,
Treponema vincentii and
Spirochaeta denticulata
(Vincent angina),
Corynebacterium
diphtheriae,

Candida albicans

7 or more episodes of
tonsillitis in 1 year

Rekuren
akut

Consider
surgery

5 episodes/y for 2
consecutive years
3 episodes/y for 3
consecutive years

Kronis
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Tonsilitis
akut

penularan mikroorganisme melalui


droplet
menginfiltrasi lapisan epitel
jaringan tonsil epitel terkikis reaksi
dari jaringan limfoid superfisial reaksi
radang berupa keluarnya leukosit
polimorfonuklear terbentuk detritus
(kumpulan leukosit, bakteri yang mati, dan
epitel yang terlepas) mengisi kriptus
tonsil dan tampak sebagai bercak kuning

Tonsilitis
kronis

Jika proses radang ini berulang epitel


mukosa dan jaringan limfoid akan terkikis
jaringan parut pengerutan sehingga
kripta tertarik dan melebar drainase
kripta menjadi kurang baik retensi
debris sel menembus kapsul tonsi
perlekatan dengan jaringan di sekitar
fossa tonsilaris.
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Tonsilitis Viral
Gejala yang tampak seperti common cold + nyeri
tenggorok
Demam, nyeri menelan, sakit tenggorokan,
oropharynx hiperemis, biasanya tanpa eksudat
Coxsackie virus result in herpangina, which
presents as ulcerative vesicles over the tonsils,
posterior pharynx, and palate
Consider infectious mononucleosis due to EBV in
an adolescent or younger child with acute tonsillitis,
particularly when it is accompanied by tender
cervical,
axillary,
and/or
inguinal
nodes;
splenomegaly; severe lethargy and malaise; and lowgrade fever. A gray membrane may cover tonsils that
are inflamed from an EBV infection. This membrane
can be removed without bleeding.
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Tonsilitis Fungal
Oropharyngeal candidiasis
(thrush) often presents in
immunocompromised patients or
in patients who have undergone
prolonged treatment with
antibiotics.

On exam:
White co age-cheese-like plaques
over the pharyngeal mucosa
Plaques bleed if removed with a
tongue depressor
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Tonsilitis Bakterial
GABHS
most common and important pathogen causing
acute bacterial pharyngotonsillitis
most commonly presents in children aged 5 6
characterized by fever, dry sore throat, cervical
adenopathy, dysphagia, otalgia (referred pain
from n.IX) and odynophagia. The tonsils and
pharyngeal mucosa are erythematous and may be
covered with purulent exudate; the tongue may
also become red ("strawberry tongue")
Bentuk detritus:
Jelas tonsilitis folikularis
Bercak detritus menjadi satu, membentuk alur
tonsilitis lakunaris
Melebar membentuk pseudomembrane

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Patients with all


four of the classic
symptoms of Group
A Streptococcal
pharyngitis:

1. pharyngeal or
tonsillar exudate
2. swollen anterior
cervical nodes
3. a history of a
fever greater
than 38C
4. absence of cough
a 44% chance
that they will not
have Group A
Streptococcal
pharyngitis.
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Tonsilitis bakterial
Other bacterial
Angina Plaut Vincent (stomatitis
ulseromembranosa), akibat bakteri
spirocheta atau treponema, gejala:
demam, rasa nyeri dimulut,
hipersalivasi, gigi dan gusi mudah
berdarah
Tonsili s sep k, penyebabnya
Steptococcus hemoli cus, terdapat
dalam susu sapi
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Tonsilitis difteri
Disebabkan oleh bakteri gram
positif Corynebacterium
diphteriae.
Gejala: kenaikan suhu
subfebris, nyeri kepala, tidak
nafsu makan, badan lemah,
nadi lambat serta keluhan nyeri
menelan.
Pemeriksaan sik: Tonsil
membengkak ditutupi bercak
pu h kotor yang melekat erat
dengan dasarnya, mudah
berdarah, infeksi yang menjalar
ke kelenjar limfe bull neck (+)

Terapi
Anti difteri serum 20.000100.000 unit
Antibiotik Penicillin atau
Eritromisin 25-50 mg/kg
dibagi 3 dosis selama 14 hari
Kortikosteroid 1,2 mg/kgbb/
hari
Pengobatan simptomatis
(antipiretik)
Isolasi dan tirah baring
selama 2-3 minggu

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Tonsilitis kronis
Defined by persistent sore
throat, anorexia, dysphagia,
and pharyngotonsillar
erythema.
It is also characterized by the
presence of malodorous
tonsillar concretions and the
enlargement of jugulodigastric
lymph nodes.
The organisms involved are
usually both aerobic and
anaerobic mixed flora, with a
predominance of streptococci.

Pada
tonsilitis
kronis,
permukaan tonsil tampak
dak rata, tampak pelebaran
kripta, dan beberapa kripta
dapat terisi oleh detritus.

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Grading
Grading disusun berdasarkan rasio tonsil
terhadap jarak antar arcus palatoglosus. Grading
pembesaran tonsil adalah:
T0

: tonsil masih berada dalam fossa


tonsilaris

T1

: <25% tonsil menempati orofaring


T2

: 25-<50% tonsil menempati


orofaring
T3

T4

: 50-<75%

: >75%
Bimbel UKDI MANTAP

How to diagnose

Anamnesis

Pemeriksaan
sik

Pemeriksaan
penunjang pada
tonsilitis ditujukan
untuk mengetahui
organisme penyebab
dengan kultur dan
mengetahui
sensitivitas terhadap
antibiotik.

Pemeriksaan
penunjang

Pemeriksaan ini
dilakukan terutama
jika Streptococcus
beta hemolitikus
grup A dicurigai
sebagai penyebab.

Kultur organisme
diperoleh dengan
cara mengambil
apusan dari
permukaan tonsil
dan orofaring
posterior, dan diapus
di permukaan
medium agar darah.

Bimbel UKDI MANTAP

Lab darah rutin, KED,


ASTO dapat
dilakukan

Bailey 2006

BACK

Prinsip tatalaksana
Prevensi: menjaga kondisi imun tubuh
dan kebersihan serta kesehatan rongga
mulut dengan cara berkumur atau cuci
mulut.
Medikamentosa: Terapi
medikamentosa diberikan jika terdapat
serangan akut. Periode tonsilitis akut
dapat diberikan antibiotik spektrum
luas (penicillin dan derivatnya),
sulfonamide, dan terapi simtomatis
seperti antipiretik dan analgetik.
Opera f: Pada tonsilitis kronik dapat
dilakukan tonsilektomi sesuai indikasi.
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Indikasi TE

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Indikasi
Obstruksi saluran napas, disfagia berat, gangguan
tidur, dan komplikasi kardiopulmonar.

Abses peritonsil yang tidak membaik dengan


pengobatan medis dan drainase
Indikasi absolute

Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam.

Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk patologi


anatomi

Source: American Academy


ofMANTAP
Otolaryngology-Head and
Bimbel UKDI
Neck Surgery (AAO-HNS)

BACK

Indikasi
Infeksi rekuren akut dengan terapi antibiotik yang
adekuat

Indikasi relatif

Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak


membaik dengan pemberian terapi medis
Tonsilitis kronik atau berulang pada karier
streptokokus yang tidak membaik dengan
pemberian antibiotik beta-laktamase resisten

Hipertrofi tonsil unilateral yang dicurigai


merupakan suatu keganasan.

Source: American Academy


ofMANTAP
Otolaryngology-Head and
Bimbel UKDI
Neck Surgery (AAO-HNS)

BACK

Kontraindikasi TE
Gangguan perdarahan
Anemia
Infeksi akut yang berat
Penyakit sistemik tak terkontrol : diabetes
mellitus
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Komplikasi

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Abses dan Infiltrat peritonsiler


Dilapisi kapsul
secara medial (dari
aponeurosis
interpharyngeal)
pathway untuk
pembuluh darah
dan saraf
Abses peritonsillar
di antara kapsul
dan tonsil
Kumpulan pus di belakang tonsil palatina
Local accumumulation of pus
Bimbel UKDI
MANTAP quinsy
Nama lain dari abses ini adalah
abses

BACK

GEJALA KLINIS
SIMPTOM

SIGN

Demam

Palatum molle
edematous, hiperemis;
deviasi uvula ke sisi
kontralateral;
pembesaran tonsil

Malaise

Trismus

Nyeri tengorrokan (lebih


pada satu sisi)

Drooling

Dysphagia

Hot potato voice

Otalgia (ipsilateral

Halitosis
Cervical lymphadenitis
(Gallioto,
2008)
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Edema
palatum
molle

Ton
sil

Pasien dengan PTA dextra


Tonsil displaced ke inferior dan medial + deviasi
kontralateral uvula (Gallioto, 2008)
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

DIAGNOSIS
Dibuat melalu anamnesis dan pemeriksaan fisik
DDx:
Infectious mononucleosis
Cellulitis peritonsiler area antara tonsil dan kapsul
hiperemis + edema tanpa formasi pus
Abses retromolar

Aspirasi dengan jarum pus mengkonfirmasi


diagnosis
Intraoral USG cellulitis VS abses (Steyer, 2002)
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Suspek penyebaran infeksi selain peritonsiler /
komplikasi leher lateral = CT/MRI diindikasi
CT scan : cellulitis vs. abses, spread of
infection ke regio deep neck
MRI : Superior dalam deteksi komplikasi dari
deep neck infections (Gidley, 1997)

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

PENATALAKSANAAN
CLINICAL RECOMMENDATION

(Gallioto, 2008)

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

PENATALAKSANAAN

Drainage

Antibiotics

Bimbel UKDI MANTAP

Supportive
(hydration dan
kontrol nyeri)

BACK

Gallioto,2008)

PENATALAKSANAAN - DRAINAGE
Needle aspiration
Incision and drainage
Immediate tonsillectomy
+ antibiotics = resolusi dari 90%
kasus PTA (Herzon et Martin
,2006)
Immediate TE tidak lebih
superior berbanding aspirasi
jarum/insisi drainase dan lebih
kurang kost-efektif (Johnson et
al, 2003; Herzon et Harris, 1995)
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

PENATALAKSANAAN - ANTIBIOTIK
ORGANISME SERING PADA PTA (Brook, 2004)
AEROBIC

ANAEROBIC

Group A streptococcus

Fusobacterium

Staphylococcus aureus

Peptostreptococcus

Haemophilus influenzae

Pigmented Prevotella

Rx empiris inisial group A streptococcus & anaerobes


IV Penicillin sama efektivitas berbanding broad spectrum
lainnya (abscess adequately drained) (Herzon et Harris,
1995; Kieff et al, 1999)
50% kultur = beta-lactamase producers (Ozbek et al, 2005)
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

PENATALAKSANAAN - ANTIBIOTIK

Regimen selama 10 hari


(Fairbanks, 2005)
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Infiltrat Peritonsil
Infiltrat peritonsil merupakan satu tahap sebelum
terjadinya abses. Namun pada infiltrate jumlah pus belum
banyak dan terlokalisir sehingga tidak ditemukan fluktuasi.
Komplikasi dari tonsilitis yang tidak diobati dengan
sempurna.
Pada daerah superior dan lateral fosa tonsilaris merupakan
jaringan ikat longgar sehingga bisa terjadi penjalaran pus.
Keluhan: nyeri menelan, trismus, hipersalivasi.
Pada pemeriksaan fisik terlihat: palatum mole
membengkak dan uvula bergeser
Terapi: antibiotik, obat kumur dan obat simptomatik.

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Angina Ludwig
Infeksi ruang submandibula
Ditandai dengan pembengkakan
(edema) pada bagian bawah
ruang
submandibular
yang
mencakup
jaringan
yang
menutupi otot2 antara laring dan
dasar mulut.
Peradangan kekerasan
berlebihan jar. dasar mulut
mendorong lidah ke atas dan
belakang obstruksi jalan napas
Penyebab:
Infeksi gigi molar, premolar
Tindik lidah peradangan
kelenjar limfe servikal

Gejala:
Demam
Nyeri tenggorokan
Pembengkakan
Drooling
Trismus
Terjadi secara bilateral

BACK

Laryngitis
Causes:
Most commonly due to to a viral infection (viral laryngitis).
Coughing-induced laryngitis may also occur in bronchitis,
pneumonia, influenza, pertussis, measles, and diphtheria.
Excessive use of the voice (especially with loud speaking or
singing)
Allergic reactions
Gastroesophageal reflux
Bulimia or
Inhalation of irritating substances (eg, cigarette smoke or certain
aerosolized drugs) can cause acute or chronic laryngitis.
Drugs can induce laryngeal edema, for example, as a side effect
of ACE inhibitors.
Bacterial laryngitis is extremely rare.
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Signs and symptoms


An unnatural change of voice is usually the most
prominent symptom.
Volume is typically greatly decreased (sometimes aphonia)
Hoarseness
A sensation of tickling, rawness, and a constant urge to
clear the throat may occur.
Symptoms vary with the severity of the inflammation.
Fever, malaise, dysphagia, and throat pain may occur in
more severe infections.
Laryngeal edema, although rare, may cause stridor and
dyspnea.

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Diagnosis

Treatment

Clinical evaluation
Sometimes direct or indirect
laryngoscopy
Diagnosis is based on symptoms.
Indirect or direct exible
laryngoscopy is recommended
for symptoms persis ng > 3 wk

Symptoma c treatment (eg,


cough suppressants, voice rest,
steam inhalations)
No specific treatment is
available for viral laryngitis.
Cough suppressants, voice rest,
and steam inhalations relieve
symptoms and promote
resolution of acute laryngitis.
Smoking cessation and
treatment of acute or chronic
bronchitis may relieve
laryngitis.
Depending on the presumed
cause, specific treatments to
control gastroesophageal reflux,
bulimia, or drug-induced
laryngitis may be beneficial.

Findings include mild to marked


erythema of the mucous
membrane, which may also be
edematous.
With reflux, there is swelling of the
inner lining of the larynx and
redness of the vocal cords that
extends above and below the
edges of the back part of the cords.
If a pseudomembrane is present,
diphtheria is suspected.

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Laringomalasia
Laringomalasia adalah kelainan kongenital dimana
epiglotis lemah
Kelemahan epiglotis akan menyebabkan penyumbatan
saluran pernafasan nafas berbunyi/stridor terutama
saat berbaring, no feeding intolerance, biasanya remisi
usia 2 tahun
Pada pemeriksaan dapat terlihat laring berbentuk omega
Bila sumbatan semakin hebat maka dapat dilakukan
intubasi

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Epiglotitis akut
Akibat Hib
Onset rapid,
sorethroat,
odynophagia/dysphagi
a, muffled voice/hot
potato voice, adanya
preceeding ISPA
Tripod position,
drolling, stridor (late
finding), cervical
adenopathy
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Nodul Pita Suara/Vocal nodule


Kelainan ini biasanya disebabkan
oleh penggunaan suara dalam waktu
lama, mis. pada seorang guru,
penyanyi dan sebagainaya.
Keluhan: suara parau, batuk.
Pemeriksaan sik: nodul pita suara,
sebesar kacang hijau berwarna
keputihan. Predileksi di sepertiga
anterior pita suara dan sepertiga
medial. Nodul biasanya bilateral.
Pengobatan:
Istirahat bicara dan voice therapy.
Bedah mikro - dilakukan bila
dicurigai
Bimbel UKDI MANTAP
adanya keganasan atau lesi fibrotik.

Massa lain pada pita suara


Polip pita suara: lesi bertangkai pada
seprtiga anterior, sepertiga tengah
atau seluruh pita suara. Pasien biasa
mengeluhkan suara parau.
2) Kista pita suara: kista retensi kelenjar
minor laring, terbentuk akibat
tersumbatnya kelenjar tersebut
Faktor risiko: iritasi kronis, GERD dan
infeksi.
3) Keganasan laring: Keganasan pada
daerah laring, faktor risiko berupa
perokok, peminum alkohol dan
terpajan sinar radioaktif.

1)

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Candida esophagitis
Candida esophagitis is the
most common type of
infectious esophagitis.
The prognosis is good with
rapid diagnosis and
proper treatment.
Esophagitis is commonly seen
in adults and is uncommon in
childhood

Patients may be
asymptomatic, but typical
symptoms include the
following:

Bimbel UKDI MANTAP

Onset of difficult or painful


swallowing (ie, dysphagia or
odynophagia)
Heartburn
Retrosternal discomfort or pain
Nausea and vomiting
Fever and sepsis
Abdominal pain
Epigastric pain
Hematemesis (occasionally)
Anorexia and weight loss
Cough

BACK

Achalasia
Achalasia is an uncommon
swallowing disorder
Affects about 1 in every
100,000 people.
The major symptom of
achalasia is usually difficulty
with swallowing.
Most people are diagnosed
between the ages of 25 and
60 years.
Although the condition
cannot be cured, the
symptoms can usually be
controlled with treatment.
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Symptoms
ACHALASIA CAUSE
In achalasia, nerve cells in the
esophagus degenerate for reasons
that are not known. The loss of nerve
cells in the esophagus causes two
major problems that interfere with
swallowing
The muscles that line the esophagus
do not contract normally
The lower esophageal sphincter (LES)
fails to relax normally with
swallowing. Instead, the LES muscle
con nues to squeeze the end of the
esophagus
Over time, the esophagus above the
persistently contracted LES dilates,
and large volumes of food and saliva
can accumulate in the dilated
esophagus.

ACHALASIA SYMPTOMS
The most common symptom of
achalasia is difficulty swallowing.
Patients experience the sensa on
that swallowed material, both solids
and liquids, gets stuck in the chest.
This problem often begins slowly and
progresses gradually.
Other symptoms can include chest
pain, regurgitation of swallowed food
and liquid, heartburn, difficulty
burping, a sensation of fullness or a
lump in the throat, hiccups, and
weight loss

Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Diagnosis
Esophageal manometry (aka
esophageal motility
study) measures changes in
pressures within the esophagus
that are caused by the contraction
of the esophageal muscles.
This test is used to confirm the
diagnosis of achalasia.
The test typically reveals three
abnormalities in people with
achalasia:
high pressure in the LES at rest,
failure of the LES to relax after
swallowing, and
an absence of useful (peristaltic)
contractions in the lower
esophagus
Bimbel UKDI MANTAP

X-ray: Bird beak sign or Rat tail


Sign

BACK

Treatment
The approach to treatment is to reduce the
pressure at the lower esophageal sphincter.
Therapy may involve:
Injec on with botulinum toxin (Botox). This
may help relax the sphincter muscles, but
any benefit wears off within a matter of
weeks or months.
Medica ons, such as long-ac ng nitrates
or calcium channel blockers, which can be
used to relax the lower esophagus sphincter
Surgery (called an esophagomyotomy),
which may be needed to decrease the
pressure in the lower sphincter
Widening (dila on) of the esophagus at the
location of the narrowing (pneumatic
balloon dilatation)
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

Malignancy in ENT
History
Male in 5th decade,
exposed with nickel,
chrom, formalin,
terpentin.

Diagnosis

Treatment

Ca sinonasal

Surgery

KNF

Radiotherapy,
chemoradiatio
n, surgery.

Ca tonsil

Surgery

Juvenile
angio broma

Surgery

Physical Exam.

unilateral obstruction &


rhinorrea. Diplopia, proptosis
. Bulging of palatum, cheek
protrusion, anesthesia if
involving n.V
Elderly with history of
Posterior rhinoscopy: mass at
smoking, preserva ve
fossa Rosenmuller, cranial
food. Tinnitus, otalgia
nerves abnormality,
epistaxis, diplopia,
enlargement of jugular lymph
neuralgia trigeminal.
nodes.
Painful ulcera on,
Painful ulceration with
otalgia & slight bleeding. induration of the tonsil.
Lymph node enlargement.
Male, young adult, with Anterior rhinoscopy: red
recurrent epistaxis.
shiny/bluish mass. No lymph
nodes enlargement.
Bimbel UKDI MANTAP

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

BACK

Nasopharynx Carcinoma

CORPUS ALIENUM IN ENT

BACK

Bimbel UKDI MANTAP

Jackson classification
Jackson 1 : pernafasan cuping hidung, retraksi
suprasternal, stridor, tanpa sianosis, pasien
tenang
Jackson 2: retraksi suprasternal dan
epigastrium,gelisah, sianosis ringan
Jackson 3: retraksi suprasternal, infraklavikula,
intercostal, tampak gelisah dan sianosis
Jackson 4: retraksi sangat jelas, sianosis, paralisa
pusat pernafasan o/k hiperkapnea, penderita
bisa tampak tenang seperti tidur, as ksia
Bimbel UKDI MANTAP

BACK

A.
B.

C.

D.

At first, during the initial coughing fit, there is usually a by-pass valve (air moves freely around
the foreign body).
After a small amount of swelling occurs, there is a check-valve. Air can enter during inspiration,
but can no longer freely exit around the foreign body during expiration (when our bronchi
collapse a little). This causes trapping of air, often within an entire lung.
Each time the patient breaths out, the affected lung remains hyperinflated (obstructive
emphysema). As seen on Xrays, this causes shifting of the heart to the opposite side, with each
expiration. Also, with each breath out, only a tiny amount of air can escape past the foreign
object. This causes turbulent air flow and a rippling effect on the soft tissues; thus producing
those high-pitched sounds which are known as expiratory wheezes.
After more swelling, there is a stop-valve. This causes lung collapse (atelectasis)