Anda di halaman 1dari 32

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pengertian pencemaran Udara


Pencemaran udara adalah dimasukkannya komponen lain kedalam udara,

baik oleh kegiatan manusia secara langsung atau tidak langsung maupun akibat
proses alam sehingga kualitas udara turun sampai ketingkatan tertentu yang
menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat lagi berfungsi sesuai
peruntukannya (Chandra, 2006).
Pencemaran udara dapat diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zatzat asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi)
udara dari keadaan normalnya. Kehadiran bahan atau zat asing di dalam udara
dalam jumlah tertentu serta berada di udara dalam waktu yang cukup lama, akan
mengganggu kehidupan manusia, hewan dan binatang (Wardhana, 2004).
Menurut Mukono (2010), yang dimaksud dengan pencemaran udara
adalah bertambahnya bahan atau substrat fisik atau kimia ke dalam lingkungan
udara normal yang mencapai sejumlah tertentu, sehingga dapat dideteksi oleh
manusia (atau dapat dihitung dan diukur) serta memberikan efek pada manusia,
binatang, vegetasi dan material.
Pencemaran udara menurut Peraturan pemerintah Republik Indonesia No.
41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara adalah masuknya atau
dimasukkanya zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh
kegiatan manusia, mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.

2.2. Sumber Bahan Pencemar Udara


Dalam peraturan mengenai pengelolaan udara yaitu Peraturan Pemerintah No.
41/1999 mendefinisikan sumber pencemar sebagai setiap usaha dan/atau kegiatan
yang mengeluarkan bahan pencemar ke udara yang menyebabkan udara tidak
berfungsi sebagaimana mestinya.
Menurut Soemirat (2009), bahwa sumber pencemaran udara dapat dibagi
atas:
1.

Sumber bergerak, seperti: kendaraan bermotor

2.

Sumber tidak bergerak, seperti:


a. Sumber titik, contoh: cerobong asap
b. Sumber area, contoh: pembakaran terbuka di wilayah pemukiman.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 41/1999 sumber pencemar dapat

digolongkan atas lima kelompok, yaitu:


1.

Sumber bergerak: sumber emisi yang bergerak atau tidak tetap pada suatu
tempat yang berasal dari kendaraan bermotor.

2.

Sumber bergerak spesifik: serupa dengan sumber bergerak namun berasal dari
kereta api, pesawat terbang, kapal laut dan kendaraan berat lainnya.

3.

Sumber tidak bergerak: sumber emisi yang tetap pada suatu tempat.

4.

Sumber tidak bergerak spesifik: serupa dengan sumber tidak bergerak namun
berasal dari kebakaran hutan dan pembakaran sampah.

5.

Sumber gangguan: sumber pencemar yang menggunakan media udara atau


padat untuk penyebarannya. Sumber ini terdiri dari kebisingan, getaran,
kebauan dan gangguan lain.

Dari berbagai sektor yang potensial dalam mencemari udara, pada


umumnya sektor transportasi memegang peran yang sangat besar dibandingkan
dengan sektor lainnya. Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan
bermotor sebagai sumber polusi udara 60-70%. Sedangkan kontribusi gas buang
dari cerobong asap industri hanya berkisar 10-15%, sisanya berasal dari sumber
pembakaran lain, misalnya dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran
hutan, dan lain-lain.
Di Jakarta misalnya, kendaraan bermotor telah menyumbangkan 70 persen
dari pencemar PM10 dan NOx di tahun 1998. (Syahril, 2002 ). Untuk sebagian
daerah di Kalimantan dan Sumatera, sumber tidak bergerak spesifik, dalam hal ini
kebakaran hutan, telah memberikan kontribusi yang cukup tinggi dan semakin
meningkat sejak tahun 1997 (Sadat, 2003).
Kegiatan transportasi mempunyai kontribusi terhadap polusi udara atmosfir.
Setiap liter bahan bakar yang dibakar akan mengemisikan sekitar 100 gram
Karbon Monoksida; 30 gram Oksida Nitrogen; 2,5 Kg karbon Dioksida dan
berbagai senyawa lainnya termasuk sulfur (Hickman, 1999)
2.3.

Jenis Bahan Pencemar Udara


Ada beberapa jenis pencemaran udara, yaitu (Sunu, 2001):

1. Berdasarkan bentuk
a.

Gas, adalah uap yang dihasilkan dari zat padat atau zat cair karena
dipanaskan atau menguap sendiri. Contohnya: CO2, CO, SOx, NOx.

b.

Partikel, adalah suatu bentuk pencemaran udara yang berasal dari


zarahzarah kecil yang terdispersi ke udara, baik berupa padatan, cairan,

maupun padatan dan cairan secara bersama-sama. Contohnya: debu, asap,


kabut, dan lain-lain.
2. Berdasarkan tempat
a.

Pencemaran udara dalam ruang (indoor air pollution) yang disebut juga
udara tidak bebas seperti di rumah, pabrik, bioskop, sekolah, rumah sakit,
dan bangunan lainnya. Biasanya zat pencemarnya adalah asap rokok, asap
yang terjadi di dapur tradisional ketika memasak, dan lain-lain.

b.

Pencemaran udara luar ruang (outdoor air pollution) yang disebut juga
udara bebas seperti asap dari industri maupun kendaraan bermotor.

3. Berdasarkan gangguan atau efeknya terhadap kesehatan


a.

Iritansia, adalah zat pencemar yang dapat menimbulkan iritasi jaringan


tubuh, seperti SO2, Ozon, dan Nitrogen Oksida.

b.

Aspeksia, adalah keadaan dimana darah kekurangan oksigen dan tidak


mampu melepas Karbon Dioksida. Gas penyebab tersebut seperti CO,
H2S, NH3, dan CH4.

c.

Anestesia, adalah zat yang mempunyai efek membius dan biasanya


merupakan pencemaran udara dalam ruang. Contohnya; Formaldehide dan
Alkohol.

d.

Toksis, adalah zat pencemar yang menyebabkan keracunan. Zat


penyebabnya seperti Timbal, Cadmium, Fluor, dan Insektisida.

4. Berdasarkan susunan kimia


a.

Anorganik, adalah zat pencemar yang tidak mengandung karbon seperti


asbestos, ammonia, asam sulfat, dan lain-lain.

10

b.

Organik, adalah zat pencemar yang mengandung karbon seperti pestisida,


herbisida, beberapa jenis alkohol, dan lain-lain.

5. Berdasarkan asalnya
a.

Primer, adalah suatu bahan kimia yang ditambahkan langsung ke udara


yang menyebabkan konsentrasinya meningkat dan membahayakan.
Contohnya: CO2, yang meningkat diatas konsentrasi normal.

b.

Sekunder, adalah senyawa kimia berbahaya yang timbul dari hasil reaksi
antara zat polutan primer dengan komponen alamiah. Contohnya: Peroxy
Acetil Nitrat (PAN).
Perkiraan persentase pencemar udara di Indonesia dari sumber transportasi

dapat dilihat dilihat pada tabel berikut:


Tabel 2.1. Perkiraan Persentasi Komponen Pencemar Udara dari Sumber
Pencemar Transportasi di Indonesia.
Komponen Pencemar

Persen (%)

CO

70,50

NOX

8,89

SOX

0,88

HC

18,34

Partikel

1,33

Total

100

Sumber: Wardhana (2004). Dampak Pencemaran Lingkungan


2.4. Klasifikasi Bahan Pencemar Udara
Bahan pencemar udara atau polutan dapat dibagi menjadi dua bagian :
1.

Polutan Primer
Polutan primer adalah polutan yang dikeluarkan langsung dari sumber
tertentu, dan dapat berupa :
a. Polutan gas, terdiri dari :

11

1) Senyawa karbon, yaitu hidrokarbon, hidrokarbon teroksigenasi, dan


karbon oksida (CO atau CO2).
2) Senyawa sulfur, yaitu sulfur oksida.
3) Senyawa nitrogen, yaitu nitrogen oksida dan amoniak
4) Senyawa halogen, yaitu flour klorin, hidrogen klorida, hidrokarbon
terklorinasi, dan bromin
b. Partikel
Partikel yang di atmosfer mempunyai karakteristik yang spesifik, dapat
berupa zat padat maupun suspensi aerosol cair di atmosfer. Bahan partikel
tersebut dapat berasal dari proses kondensasi, proses dispersi (misalnya
proses menyemprot/spraying) maupun proses erosi bahan tertentu. Asap
(smoke) seringkali dipakai untuk menunjukkan campuran bahan partikulat
(partikulate matter), uap (fumes), gas, dan kabut (mist).
2.

Polutan Sekunder
Polutan sekunder biasnya terjadi karena reaksi dari dua atau lebih bahan

kimia di udara, misalnya reaksi foto kimia. Sebagai contoh adalah disosiasi NO2
yang menghasilkan NO dan O radikal. Proses kecepatan dan arah reaksinya
dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain :
a.

Konsentrasi relatif dari bahan reaktan

b.

Derajat fotoaktivasi

c.

Kondisi klim

d.

Topografi lokal dan adanya embun

12

Polutan sekunder mempunyai sifat fisik dan sifat kimia yang tidak stabil.
Termasuk dalam polutan sekunder ini adalah ozon, Peroxy Acyl Nitrat (PAN), dan
formaldehid.
2.5. Komponen Pencemar Udara
2.5.1. Karbon Monoksida (CO)
Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berbau, tidak berasa dan
juga tidak berwarna. Oleh karena itu lingkungan yang telah tercemar oleh gas CO
tidak dapat dilihat oleh mata. Di daerah perkotaan dengan lalu lintas yang padat
konsentrasi gas CO berkisar antara 1015 ppm. Gas CO dalam jumlah banyak
(konsentrasi tinggi) dapat menyebabkan gangguan kesehatan, bahkan dapat
menimbulkan kematian (Wardhana,2004).
Karbon Monoksida secara praktis diproduksi oleh proses-proses yang
artifisial dan 80% diduga berasal dari asap kendaraan bermotor. Konsenrasi CO di
udara perkotaan menunjukkan korelasi yang positif dengan kepadatan lalu lintas,
dan korelasi yang negatif dengan kecepatan angin. Efeknya terhadap kesehatan
disebabkan karena CO dapat menggeser oksigen yang terkait pada Hemoglobin
(Hb) dan mengikat Hb menjadi karbon monoksida hemoglobin (COHb)
(Soemirat, 2009).
Pengaruh karbon Monoksida ternyata (CO) terhadap tubuh manusia
ternyata tidak sama untuk manusia satu dengan manusi lainnya. Daya tahan tubuh
ikut menentukan toleransi tubuh terhadap pengaruh adanya karbon monoksida.
Keracunan gas karbon monoksida (CO) dapat ditandai dari keadaan yang ringan,
berupa musing, sakit kepala dan mual. Keadaan yang lebih berat dapat berupa

13

menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan sistem kardiovaskuler, serangan


jantung sampai pada kematian (Wardhana, 2004).
Tabel 2.2 Konsentrasi Karbon Monoksida Terhadap Kesehatan
Konsentrasi CO
(ppm)
10-15
30

Waktu Paparan

Efek terhadap kesehatan

8 jam
8 jam

Gangguan terhadap interval waktu


Memberikan kelainan pada
berbagai test-test psychomotorik
8-14
1 minggu
Angka fatalitas meningkat
Sumber : ( Tanan, 2001) Strategi Penanggulan Pencemaran Udara dari Sektor
Transportasi
2.5.2. Nitrogen Oksida
Gas nitrogen oksida (NOx) ada dua macam, yaitu gas nitrogen monoksida
(NO) dan gas nitogen dioksida (NO2). Udara yang telah tercemar oleh gas
nitrogen oksida tidak hanya berbahaya bagi manusia dan hewan saja, tetapi juga
berbahaya bagi kehidupan tanaman. Pengaruh gas NOx pada tanaman antara lain
timulnya bintik-bintik pada permukaan daun. (Wardhana, 2004).
Selain dikenal sebagai prekursor terjadinya hujan asam dan prekursor
terbentuknya senyawa ozone (bersama hidrokarbon), NOx juga dikenal menjadi
penyebab masalah gangguan pernafasan. Kadar NO2 antara 0,063-0,083 ppm
selama 6 bulan terus menerus akan mengakibatkan terjadinya masalah kesehatan
berupa gangguan pernafasan ( Tanan, 2011).
Kendaraan bermotor memproduksi nitrogen oksida dalam bentuk NO
sebanyak 98%. Di dalam udara NO ini akan berubah menjadi NO2. NO2 adalah
gas yang toksis bagi manusia. Efek yang terjadi tergantung pada dosis serta
lamanya paparan yang diterima seseorang. Konsentrasi NO2 yang berkisar antara
50-100 ppm dapat menyebabkan peradangan paru-paru bila orang terpapar selama
beberapa menit saja (Soemirat, 2009).

14

2.5.3. Belerang Oksida (SOx)


Belerang oksida (SOx) terdiri atas gas SO2 dan SO3. Pencemaran SO2 di
udara terutama berasal dari pemakaian yang digunakan pada kegiatan industri,
transportasi dan lain sebagainya. SO2 dikenal sebagai gas yang tidak berwarna
brsifat iritan kuat bagi kulit dan selaput lendir, pada konsentrasi 6-12 ppm. SO2
mudah diserap oleh selaput lendir saluran pernapasan bagian atas (tidak ebih
dalam daripada larynx). Selain pengaruhnya terhadap kesehatan, sulfur dioksida
juga berpengaruh terhadap tanaman dan hewan. Pengaruh SO2 terhadap hewan
sangat menyerupai efek SO2 terhadap tumbuhan tampak terutama pada daun yang
menjadi putih atau terjadi nekrosis. Daun yang hijau dapat berubah menjadi
kuning, ataupun bercak-bercak putih (Soemirat, 2009).
Menurut Mukono (2008), efek SO2 terhadap kesehatan dan lingkungan yaitu:
1.

Terhadap Alat Pernapasan


Iritasi terhadap selaput lendir saluran pernapasan pdan pada kadar 8-12 ppm
dapat menyebabkan batuk dan kesukaran bernafas. Pada paparan kronis
terhadap saluran pernapasan dapat menyebabkan terjadinya bronchitis,
chronic obstructive disese (COPD) dan edema paru.

2.

Terhadap Mata
Iritasi pada mata bisa menyebabkan keluarya air mata dan mata menjadi
merah dan terasa pedas.

15

Tabel 2.3 Pengaruh Kadar SO2 terhadap Gangguan Kesehatan


Konsentrasi
(ppm)

Pengaruh

3-5

Jumlah terkecil yang dapat dideteksi baunya

8-12

Jumlah terkecil yang seger mengakibatkan iritasi tenggorokan

20

Jumlah terkecil akan menyebabkan iritasi mata

20

Jumlah terkecil akan menyebabkan batuk

20

Maksimum yang diperbolehkan untuk konsentrsi dalam waktu


lama

50-100

Maksimum yang diperbolehkan untuk kontak singkat (30


menit)

400-500

Berbahaya meskipun kontak secra singkat

Sumber: Depkes (2005), Parameter Pencemar Udara dan Dampaknya terhadap


Kesehatan
2.5.4

Hidrokarbon
Hidrokarbon atau sering disingkat HC adalah pencemar udara yang berupa

gas, cairan maupun padatan. Keberadaan hidrokarbon sebagai bahan pencemar di


udara dapat berupa gas apabila termasuk suku rendah, ataupun berupa cairan
apabila termasuk suku sedang, atau berupa padatan apabila hidrokarbon termasuk
suku tinggi (Wardhana, 2004).
Hidrokarbon dapat berasal dari prose alamiah dan buatan manusia. Secara
alamiah hidrokarbon diproduksi oleh tanaman, dekomposisi zat organik, sumber
alamiah bagi hidrokarbon adalah sumur-sumur minyak dan gas bumi. Sumber
buatan utama hidrokarbon adalah asap kendaraaan bermotor. Hidrokarbon total
yang ada di dalam atmosfir menunjukkan korelasi yang positif dangan kepadatan
lalu-lintas. Kebanyakan hirokarbon yang didapat adalah gas metan. Selain itu,
didapat 10 senyawa hidrokarbon lainnya, dalam jumlah yang cukup banyak.
Dengan demikian kewaspadaan tehadap hidrokarbon di dalam udara mengalami
reaksi-reaksi fotokimia, dapat berubah menjadi zat-zat yang lebih berbahaya

16

daripada asalnya. Misalnya, terbentuknya peroxy asetil nitrat (PAN), keton,


aldehida ( Soemirat, 2009).
Sumber HC dapat pula berasal dari saran transportasi. Kondisi mesin yang
kurang baik akan menghasilkan hidrokarbon. Pada umumnya pada pagi hari kadar
hidrokarbon di udara tinggi, namun pada siang hari menurun. Sore hari kadar
hidrokarbon meningkat lagi dan kemudian menurun lagi pada malam hari
(Depkes, 2005)
2.5.5

Partikel
Partikel adalah pencemar udara yang dapat berada bersama-sama dengan

bahan atau bentuk pencemar lainnya. Partikel dapat diartikan secara murni atau
sempit sebagai bhan pencemar udara yang berbentuk padatan. Namun, dalam
pengertian lebih luas, partikel dapat meliputi berbagai macam bentuk, mulai dari
bentuk yang sederhana sampai bentuk yang rumit dan kompleks (Wardhana,
2004).
Pengaruh partikel (partikulat) debu bentuk padat maupun cair yang berada
di udara sangat tergantung pada ukurannya. Ukuran partikulat debu yang
berbahaya bagi kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 10
mikron. Pada umumnya ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan yang
dapat langsung masuk ke dalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Keadaan ini
bukan berarti bahwa ukuran partikel yang lebih besar dari 5 mikron tidak
berbahaya, karena partikel yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan
bagian atas dan menyebabkan iritasi ( Depkes,2005).
Berbagai proses alami yang menyebabkan penyebaran partikel di atmosfer,
misalnya letusan vulkano dan hembusan debu serta tanah oleh angin. Aktivitas

17

manusia juga berperan dalam penyebaran partikel, misalnya dalam bentuk


partikelpartikel debu dan asbes dari bahan bangunan, abu terbang dari proses
peleburan baja, dan asap dari proses pembakaran tidak sempurna, terutama dari
batu arang. Sumber partikel yang utama adalah dari pembakaran bahan bakar dari
sumbernya diikuti oleh proses-proses industri (Fardiaz, 1992).
2.6

Kendaraan Bermotor
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang kendaraan

yang dimaksud dengan kendaraan bermotor adalah setiap kendaraan yang


digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain kendaraan yang berjalan
di atas rel.
2.6.1. Jenis Kendaraan Bermotor
Jenis kendaraan bermotor menurut Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012,
yaitu:
1.

Sepeda motor
Sepeda Motor didefinisikan sebagai kendaraan bermotor beroda dua dengan

atau tanpa rumah-rumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau kendaraan
bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah. Rodanya sebaris dan pada kecepatan
tinggi sepeda motor tetap tidak terbalik dan stabil disebabkan oleh gaya
giroskopik; pada kecepatan rendah pengaturan berkelanjutan setangnya oleh
pengendara memberikan kestabilan.
Berdasarkan siklus langkah kerjanya, sepeda motor dapat dikasifikasikan menjadi
dua jenis :
a. Motor dua langkah yaitu motor pada dua langkah piston (satu putaran
engkol) sempurna akan menghasilkan satu tenaga kerja (satu angkah kerja)

18

b. Motor empat langkah. Motor yang pada setiap empat langkah piston (dua
putaran sudut engkol) sempurna menghasilkan satu tenaga kerja (satu
langkah kerja)
2.

Mobil penumpang,
Yang dimaksud dengan mobil penumpang adalah kendaraan bermotor

angkutan orang yang memiliki tempat duduk maksimal 8 (delapan) orang.


3.

Mobil bus
Yang dimaksud dengan mobil bus adalah kendaraan bermotor angkutan

orang yang memiliki tempat duduk lebih dari 8 (delapan) orang, termasuk untuk
Pengemudi atau yang beratnya lebih dari 3.500 (tiga ribu lima ratus) kilogram.
4.

Mobil barang
Yang dimaksud dengan mobil barang adalah kendaraan bermotor yang

digunakan untuk angkutan barang.


5.

Kendaraan khusus
Yang dimaksud dengan kendaraan khusus adalah kendaraan bermotor yang

dirancang khusus yang memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu, antara lain:
a. Kendaraan Bermotor Tentara Nasional Indonesia;
b. Kendaraan Bermotor Kepolisian Negara Republik Indonesia;
c. Alat berat antara lain bulldozer, traktor, mesin gilas (stoomwaltz), forklift,
loader, excavator, dan crane
d. Kendaraan khusus penyandang cacat.

Golongan jenis kendaraan bermotor pada jalan tol berdasarkan keputusan


Presiden RI Nomor 36 Tahun 2003

19

a. Golongan I : Sedan, Jip, Pick Up, Bus Kecil, Truk Kecil (3/4), dan Bus
Sedang. Umumnya termasuk jenis Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia
b. Golongan I Umum : Bus Kecil dan Bus Sedang.
c. Golongan IIA : Truk Besar dan Bus Besar, dengan 2 (dua) gandar.
d. Golongan IIA Umum : Bus Besar dengan 2 (dua) gandar.
e. Golongan IIB : Truk Besar dan Bus Besar, dengan 3 (tiga) gandar atau
lebih.
Tabel 2.4 Jumlah Sarana Angkutan (Umum dan Pribadi) Tahun 2004-2009
di Kota Medan
Tahun

Mobil
Penumpang

Mobil
Gerobak

2004

149.302

104.776

12.108

756.569

(8,04%)

(5,34%)

(2,47%)

(15,07%)

164.314

112.001

12.406

883.406

5.172.127

(14,02%)

(6,89%)

(2,46%)

(16,76%)

(15%)

175.198

116.184

12.619

985.745

1.289.746

(6,62%)

(6,73%)

(1,71%)

(11,58%)

(10%)

189.157

120.328

12.751

1.103.707

1.425.943

(7,96%)

(3,56%)

(1,04%)

(11,96%)

(11%)

209.547

140.986

22.130

2.102.026

2.476.669

(11,80%)

(17,20%)

(73,60%)

(90,60%)

(73,70%)

222.891

144.865

22.123

2.318.632

2.708.511

(6,40%)

(2,80%)

(7%)

(10,20%)

(9.40%)

2005
2006
2007
2008
2009

Bus

Sepeda
Motor

Jumlah
1.022.755

Sumber : Dinas Perhubungan Kota Medan Tahun 2010

2.6.1.1 Kendaraan Bermotor Roda Empat


Kendaraan bermotor roda empat memiliki dua jenis mesin yaitu, mesin
bensin dan mesin diesel. Mesin bensin adalah mesin yang bekerja dengan cara

20

memasukkan panas dari percikan bunga api listrik dari busi pada campuran udara
dan bahan bakar yang dikompresikan. Beberapa contoh jenis roda Empat kategori
M berpenggerak mesin bensin seperti tipe kijang Innova, Xenia, Avanza,
Fortuner, Trajet, Honda CRV, Stream, Grand Vitara, APV, Carry 1,5 minibus,
Terios, Terano, Grand Livina.
Mesin diesel

adalah mesin yang bekerja dengan cara menginjeksikan

bahan bakar pada udara yang telah dikompresikan sehingga memiliki tekanan dan
temperatur tinggi (Anonim, 2009). Beberapa contoh jenis kendaraan bermotor
roda empat kategori M berpenggerak mesin diesel seperti Panther, Captiva, Isuzu
TBR 54 Turbo, Minibes Mitsubitshi L-300.
Antara motor diesel dan motor bensin yang nyata adalah terletak pada
proses pembakaran bahan bakar, pada motor bensin pembakaran bahan akar
terjadi karena adanya loncatan api listrik yang dihasilkan oleh dua elektroda busi
(spark plug), sedangkan pada motor diesel pembakaran terjadi karena kenaikan
temperatur campuran udara dan bahan bakar akibat kompresi torak hingga
mencapai temperatur nyala. Karena prinsip penyalaan bahan bakarnya akibat
tekanan maka motor diesel juga disebut compression ignition engine sedangkan
motor bensin disebut spark ignition engine (Anonim, 2009).
Suatu motor bakar pengapian pembakarannya memerlukan waktu untuk
kelangsungannya, dan oleh karena itu pembakaran dimulai dengan mempercepat
pengapian. Terdapat kerugian tekanan sewaktu aliran melalui katup pada langkah
hisap

dn

buang,

torak

haru

melakukan

kerja

terhadap

udara

untuk

mengeluarkannya, dan kerja ini lebih besar dari kerja yang dilakukan gas-gas
dalam silinder terhadap tork selama langkah isap ( Arismunandar, 1994).

21

2.6.2. Kapasitas Mesin Kendaraan Bermotor


Kapasitas mesin adalah volume dari semua piston di dalam silinder mesin
pembakaran dalam, yang diukur dari satu pergerakan maksimum dari atas ke
bawah. Biasanya dinyatakan dengan menggunakan satuan sentimeter kubik (cc),
liter (l), atau inchi kubik (CID) di pasar Amerika Utara. Kapasitas mesin tidak
termasuk dengan total volume dari ruang pembakaran
Masing-masing mesin mempunyai kapasitas yang berbeda, hal ini
disebabkan mesin mempunyai prinsip kerja dan jenis yang berbeda.
1.

Motor Diesel.
Udara yang terhisap ke dalam ruang bakar dikompresi sehingga mencapai

tekanan dan temperatur yang tinggi. Bahan bakar (fuel) diinjeksikan dan
dikabutkan ke dalam ruang bakar. Sehingga terjadi pembakaran sesaat setelah
terjadi pencampuran dengan udara.
Prinsip Kerja Motor Diesel 4 Langkah.
a.

Langkah hisap ( intake stroke ).


Piston bergerak dari Titik Mati Atas ( TMA ) ke Titik Mati Bawah ( TMB ).
Intake valve terbuka dan exhaust valve tertutup, udara murni masuk ke dalam
silinder melalui intake valve.

b.

Langkah kompresi ( Compression stroke ).


Udara yang berada di dalam silinder ditutup oleh piston yang bergerak dari
Titik Mati Bawah ( TMB ) ke Titik Mati Atas ( TMA ), dimana kedua valve
intake dan exhaust tertutup. Selama langkah ini tekanan naik 30 - 40 kg/cm2
dan temperatur udara naik 400 - 500 derajat celcius.

22

c.

Langkah Kerja ( Power stroke ).


Pada langkah ini, intake valve dan exhaust valve masih dalam keadaan
tertutup, partikel-partikel bahan bakar yang disemprotkan oleh nozzle akan
bercampur dengan udara yang mempunyai tekaan dan suhu tinggi, sehingga
terjadilah pembakaran yang menghasilkan tekanan dan suhu tinggi. Akibat
dari pembakaran tersebut, tekanan naik 80 - 110 kg/cm2 dan temperatur
menjadi 600 - 900 derajat celcius.

d.

Langkah buang ( exhaust stroke ).


Exhaust valve terbuka sesaat sebelum piston mencapai titik mati bawah
sehingga gas pembakaran mulai keluar. Piston bergerak dari TMB --- > TMA
mendorong gas buang keluar seluruhnya.

2.

Motor Bensin.
Udara dan bahan bakar yang tercampur didalam karburator, terhisap ke dalam

ruang bakar dan dikompresikan hingga mencapai tekanan dan temperatur tertentu.
Pada akhir langkah kompresi, busi memercikan api sehingga terjadi pembakaran.

Prinsip Kerja Motor Bensin 4 Langkah.


a. Langkah hisap ( Intake stroke ).
Piston bergerak dari Titik Mati Atas (TMA) ke Titik Mati Bawah (TMB).
Intake valve terbuka dan exhaust valve tertutup, udara bersih yang
tercampur di karburator, terhisap masuk ke dalam ruang silinder.

23

b. Langkah kompresi ( Compression stroke ).


Campuran udara dan bahan bakar ditekan oleh piston yang bergerak dari
titik mati bawah ke titik mati atas sehingga tekanan dan temperatur
campuran tersebut naik.
c. Langkah Kerja ( Power stroke ).
Beberapa derajat sebelum mencapai titik mati atas, campuran udara dan
bahan bakar tersebut diberi percikan api oleh busi, sehingga terjadi
pembakaran. Akibatnya, tekanan naik menjadi 30 - 40 kg/cm2 dan
temperatur pembakaran menjadi 1500 derajat celcius. Tekanan tersebut
bekerja pada luasan piston dan menekan piston menuju ke titik mati bawah.
d. Langkah buang ( Exhaust stroke ).
Exhaust valve terbuka sesaat sebelum piston mencapai titik mati bawah
sehingga gas pembakaran mulai keluar. Piston bergerak dari titik mati
bawah ke titik mati atas mendorong gas buang keluar seluruhnya.
2.6.3

Perawatan Kendaraan Bermotor


Perawatan kendaraan adalah suatu usaha untuk memelihara keawetan dan

kesempurnaan dari alat kendaraan bermotor atau perlengkapan kendaraan bermoto


agar selalu dalam keadaaan baik, benar dan siap pakai.
Setiap pabrikan kendaraan bermotor biasanya sudah menentukan perawatan
rutin atau berkala untuk mesin. Mesin adalah salah satu bagian yang penting dari
kendaraan, yang didalamnya terdiri dari komponen-komponen yang kompleks dan
saling terhubung. Oleh karena itu,mesin memerlukan perawatan yang rutin agar
kerja komponen dalam mesin dapat bekerja dengan baik.

24

Kegiatan perawatan ini terdiri atas kegiatan pembersihan (cleaning),


pemeriksaaan (checking), pelumasan dan pendinginan (lubricating and cooling),
penyetelan (adjusting), perbaikan (repairing) dan turun motor (over halue).
Adapun tujuan dari perawatan motor ini adalah :
1.

Memperpanjang masa pakai motor

2.

Menjamin kesiapan peralatan kerja

3.

Menjamin keselamatan kerja

4.

Menjamin kesiapan alat bila sewaktu-waktu diperlukan

5.

Kemampuan

produksi

tercapai

sesuai

dengan

yang

direncanakan

(Maimun,1995).
Beberapa usaha yang dapat dilakukan dalam perawatan kendaraan bermotor
seperti :
1.

Menyetel mesin-mesin (di-tune up) secara berkala karena mesin yang besar
setelannya dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar sampai 10%-20%.
(tergantung kondisi kendaraan). Tune-up yang dimaksud adalah servis berkala
sesuai dengan rekomendasi produsen. Tune-up secara berkala dilakukan
setiap 20.000 km

2.

Memeriksa dan mengganti saringan udara. Saringan udara adalah komonen


yang mempengaruhi tingkat konsumsi bahan bakar. Saringan udara yang
sudah rusak biasanya berwarna hitam karena debu dan minyak, sehingga
menghambat masuknya udara. Saringan udara yang kotorkarena debu dapat
dibersihkan dengnan angin setelah 5000 km, namun sebaiknya diganti setiap
20.000 km.

25

3.

Pelumasan mesin dan mengganti oli mesin setiap 5000 km, karena oli yang
bersih mencegah keausan yag disabkan oleh gesekan antar komponen yang
bergerak dan menghilangkan unsur-unsur berbahaya dari mesin.oli juga
berfubgsi sebagai pendingin komponen, karena berfungsi sebagai pelumas
dan pendingin, maka oli akan cepat kotor dan mejadi encar. Jika hal ini terjadi
maka oli tida akan bisa berfungsi sebagimana mestinya ( Teiseran,1992).
Pada dasarnya perawatan mesin diesel dengan mesin bensin tidaka jauh
berbeda, hanya pengecekanya saja yang berbeda, terutama pada filter oli,
filter udara, rutinitas penggantian oli mesin dan yang penting, melakukan
tune-up setiap 50.000 km (Noval MH, 2010).

2.7.

Emisi Kendaraan Bermotor

2.7.1. Pengertian Emisi Kendaraan Bermotor


Menurut PP No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara
yang dimaksud dengan emisi adalah zat, energi dan/atau komponen lain yang
dihasilkan dari suatu kegiatan yang masuk dan/atau dimasukkannya ke dalam
udara ambien yang mempunyai dan/atau tidak mempunyai potensi sebagai unsur
pencemar.
Sumber emisi adalah setiap usaha dan/atau kegiatan yang mengeluarkan
emisi dari sumber bergerak, sumber bergerak spesifik, sumber tidak bergerak
maupun sumber tidak bergerak spesifik.
Pengertian uji emisi kendaraan bermotor berdasarkan Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup nomor 5 tahun 2006 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang
Kendaraan Bermotor Lama adalah uji emisi gas buang yang wajib dilakukan
untuk kendaraan bermotor secara berkala. Di dalam peraturan tersebut juga

26

dijelaskan bahwa pelaksanaan uji emisi di suatu daerah dievaluasi oleh Bupati
atau Walikota minimal 6 bulan sekali.
2.7.2. Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Emisi
Tingginya emisi kendaraan bermotor disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya adalah : (Rhimanto 2007).
1.

Sistem kontrol emisi kendaraan bermotor tidak diterapkan

2.

Pelaksanaan Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) berkala untuk kendaraan


umum tidak berjalan efektif

3.

Pemeriksaan emisi kendaraan di jalan sebagai bagian dari penegakan hukum


(terkait dengan pemenuhan persyaratan kelaikan jalan) belum diterapkan

4.

Kendaraan bermotor tidak diperlengkapi dengan teknologi pereduksi emisi


seperti katalis karena tidak tersedianya bahan bakar yang sesuai untuk
penggunaan katalis tersebut

5.

Kualitas BBM yang rendah Penggunaan kendaraan berteknologi rendah emisi


yang menggunakan bahan bakar alternatif masih belum memadai

6.

Pemahaman tentang manfaat perawatan kendaraan secara berkala yang dapat


menurunkan emisi dan meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar
masih kurang.
Cara mengemudi dan merawat kendaraan bermotor memiliki dampak

langsung terhadap konsumsi bahan bakar dan selanjutnya berpengaruh terhadap


emisi karbon yang dihasilkannya. Metode kunci untuk meningkatkan efisiensi
bahan bakar terkait dengan cara/perilaku mengemudi (kecepatan, pengereman,
akselerasi, mesin, kapasitas angkut dan start dingin) dan kondisi kendaraan

27

(perawatan mesin, ban, oli, filter udara serta usia kendaraan bermotor
(GTZ,2007).
Kendaraan dengan tahun pembuatan yang lebih lama akan mengeluarkan
emisi yang lebih banyak dibandingkan dengan kendaraan baru (Morlok, 1991).
Dengan tidak efisiennya mesin, emisi pun menigkat sehingga polusi
semakin bertambah. Lalu apabila sebaliknya (mesin kompresi tinggi diisi dengan
bensin oktan rendah), ledakan akan terjadi beruntun pada ruang pembakaran yang
semestinya hanya boleh terjadi satu ledakan. Hal ini terjadi karena bensin
beroktan rendah lebih cepat terbakar sehingga terjadi ledakan beruntun pada ruang
pembakaran mesin kompresi tinggi. Dengan adanya ledakan tersebut, mesin
menjadi rusak dan emisi menjadi naik dan polusi pun bertambah.
2.7.3. Dampak Emisi Kendaraan Bermotor
Berdasarkan sifat kimia dan perilakunya di lingkungan, dampak bahan
pencemar yang terkandung di dalam gas buang kendaraan bermotor digolongkan
sebagai berikut :
1.

Bahan-bahan pencemar yang terutama mengganggu saluran pernafasan. Yang


termasuk dalam golongan ini adalah oksida sulfur, partikulat, oksida nitrogen,
ozon dan oksida lainnya.

2.

Bahan-bahan pencemar yang menimbulkan pengaruh racun sistemik, seperti


hidrokarbon monoksida dan timbel/timah hitam.

3.

Bahan-bahan pencemar yang dicurigai menimbulkan kanker seperti


hidrokarbon.

4.

Kondisi yang mengganggu kenyamanan seperti kebisingan, debu jalanan, dll


(Tugaswati, 2008).

28

Emisi kendaraan bermotor diyakini mengakibatkan atau mempunyai


kontribusi yang cukup luas terhadap gangguan kesehatan masyarakat. Gangguan
yang lazim dikenal akibat emisi kendaraan bermotor ini antara lain : gangguan
saluran pernafasan, sakit kepala, iritasi mata, mendorong terjadinya serangan
asma, penyakit jantung dan penurunan kualitas intelegensia pada anak-anak.
Beberapa penelitian terakhir bahkan menemukan bahwa ternyata emisi kendaraan
bermotor juga menyebabkan kanker ( Tanan, 2011).
2.7.4. Manfaat Uji Emisi
Melakukan uji emisi pada kendaraan mempunyai beberapa manfaat, baik bagi
pemilik kendaraan dan lingkungan sekitar. Berikut adalah beberapa keuntungan
uji emisi berdasarkan dari BPLHD :
1.

Mendapat kepastian akan kinerja mesin dalam kondisi prima dan siap
diandalkan

2.

Menjaga korosi mesin akibat pembakaran tidak sempurna

3.

Dapat melakukan setting pencampuran antara udara dan bahan bakar dengan
tepat

4.

Irit bahan bakar

5.

Tenaga mesin lebih optimal

6.

Menurunkan emisi gas buang sehingga tidak merugikan kesehatan orang lain.
Menurut Pasaribu (2010), manfaat uji emisi untuk mengetahui efektivitas

proses pembakaran bahan bakar pada mesin dengan cara menganalisis kandungan
karbon monoksida (CO), hidrokarbon (HC) dan Nitrogen Oksida (Nox) yang
terkandung didalam gas buang. Selain itu uji emisi berguna untuk mengetahui

29

adanya kerusakan pada bagianbagian mesin kendaraan. Uji emisi juga berguna
membantu saat melakukan setting campuran udara dan bahan bakar yang tepat.
2.8 Uji emisi Kendaraan Bermotor
2.8.1. Kriteria Kendaraan Wajib Uji
Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup nomor 5 tahun 2006
tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama, pengujian
emisi ini wajib dilakukan di tempat pengujian milik pemerintah atau swasta yang
telah mendapat sertifikasi berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Adapun kriteria kendaraan bermotor yang wajib uji emisi, yaitu:
1. Kendaraan bermotor tipe baru
Sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup nomor 4 tahun 2009
tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru,
kendaraan bermotor tipe baru adalah kendaraan bermotor yang menggunakan
mesin dan/atau transmisi tipe baru yang siap diproduksi dan akan dipasarkan, atau
kendaraan bermotor yang sudah beroperasi di jalan tetapi akan diproduksi dengan
perubahan desain mesin dan/atau sistem transmisinya, atau kendaraan bermotor
yang diimpor dalam keadaan utuh (completely built-up) tetapi belum beroperasi di
jalan wilayah Republik Indonesia. Kategori kendaraannya yaitu:

a.

Kategori L, yakni sepeda motor.

b.

Kategori M, yakni kendaraan bermotor roda empat atau lebih dan digunakan
untuk angkutan orang berpenggerak cetus api dan berpenggerak penyalaan
kompresi.

30

c.

Kategori N, yakni kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang digunakan
untuk angkutan barang berpenggerak cetus api dan berpenggerak penyalaan
kompresi.

d.

Kategori O, yakni kendaraan bermotor penarik untuk gandengan atau tempel


berpenggerak cetus api dan berpenggerak penyalaan kompresi.

2.8.2. Parameter Uji Emisi


Beberapa aturan mengenai pengendalian polusi sudah diatur dalam
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.4 tahun 2009 tentang ambang
batas emisi gas buang kendaraan bermotor tipe baru dan UU No.22 tahun 2009
tentang Lalu Lintas & Angkutan Jalan. Berikut beberapa parameter yang
digunakan untuk mengetahui kadar gas buang yaitu:
a.

CO (Karbon Monoksida), merupakan salah satu gas yang paling mematikan.


Batas toleransi CO hasil pembakaran mesin bensin adalah di bawah 2,5%.
Bila lebih dari itu menandakan campuran bahan bakar tidak ideal.

b.

HC (Hidrokarbon), kadar HC yang tinggi pada umumnya disebabkan oleh


sistem pengapian yang tidak sempurna. Penyebabnya bisa berasal dari kabel
busi, koil hingga busi. Di samping itu kerak yang menumpuk, waktu
pengapian yang tidak tepat, piston/dinding silinder yang sudah aus juga
menyebabkan HC menjadi tinggi.

c.

CO2 (Karbondioksida). Pembakaran sempurna akan menghasilkan kadar


CO2 yang tinggi. Nilai ambang batas minimal 12%.

d.

O2 (Oksigen), bila kadar CO2 harus tinggi maka O2 sebaliknya harus rendah
karena udara merupakan komponen penting dalam proses pembakaran. Nilai
O2 idealnya berada di rentang 0,5% 2%.

31

e.

Lambda, merupakan angka untuk mengetahui perbandingan udara dengan


bensin (air fuel ratio/AFR). Idealnya nilai AFR berada di angka 1. Bila
nilainya lebih dari 1 menandakan campuran lean ato minim bahan bakar.
Sedangkan bila kurang dari 1 berarti rich ato kebanyakan suplai bahan
bakar.

Sedangkan parameter untuk kendaraan bermotor dengan menggunakan mesin


dieel (solar), yaitu:
a.

Opasitas adalah faktor kekeruhan asap kanlpot. Nilai ideal mesin diesel
Opasitas (opacity) konvensional diesel injection system 50%.

Tabel 2.5. Nilai Ambang Batas Emisi Kendaraan Bermotor


Kategori

Tahun
pembua
tan

Parameter
CO (%)
HC
Opasitas
(ppm) (%HSU)

Metode
Uji

Berpenggerak < 2007


4,5
1200
Idle
bensin
2007
1,5
200
Berpenggerak
diesel
70
Percepatan
- GVW 3,5 < 2010
2010
40
bebas
ton
- GVW > 3,5 < 2010
70
ton
Sumber : Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2006
Tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama

2.8.3.

Sasaran Uji Emisi


Penyelenggaraan Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor ditujukan

kepada kendaraan wajib uji sebagaimana diatur dalam Undang Undang Nomor 22
Tahun 2009 yaitu Sepeda Motor, Mobil Penumpang, Mobil Bus, Mobil Barang
dan Kendaraan Khusus.

32

Adapun petunjuk Pelaksanaan Permohonan Pengujian Berkala Kendaraan


Bermotor (PBKB) adalah sebagai berikut :
1.

Jenis-Jenis Kendaraan yang Dikenakan Wajib Uji.


Sementara pelayanan pengujian berkala kendaraan bermotor ini belum dapat

menjangkau untuk semua kendaraan bermotor, pengujian secara berkala


mengutamakan kepada jenis-jenis kendaraan yang intensitas penggunaannya
dianggap cukup tinggi, yaitu Kendaraan bermotor, Kereta gandengan dan Kereta
tempelan.
2.

Pengujian Kendaraan Bermotor yang Bersifat Khusus


a. Kendaraan bermotor yang mempunyai prototipe campuran, yaitu terdiri
dari penumpang dan barang, dengan ruang bagasi dan penumpang
terpisah, diuji sebagai mobil barang.
b. Kendaraan bemo, bajaj, dan sejenisnya atau kendaraan bermotor roda tiga,
diuji sebagai mobil penumpang umum.

3.

Pengujian Berkala Untuk Pertama Kali (Kendaraan Bermotor Baru).


Pengujian berkala untuk yang pertama kali (kendaraan bermotor baru)

merupakan bentuk pengujian yang dilakukan bagi :


a.

Kendaraan bermotor baru.


Pengajuan permohonan uji berkala pertama kali bagi kendaraan yang telah
memperoleh setifikat uji tipe, sertifikat registrasi uji tipe dan tanda lulus uji
tipe dibebaskan dari kewajiban uji berkala untuk yang pertama kalinya
selama enam (6) bulan terhitung sejak diterbitkan STNK untuk yang pertama
kali. Untuk itu pemilik/pemegang kendaran bermotor baru tersebut selambatlambatnya satu (1) bulan sebelum berakhirnya masa pembebasan uji berkala

33

berakhir, wajib didaftarkan di unit pelaksana pengujian berkala kendaraan


bermotor setempat, dengan menyertakan persyaratan antara lain surat
keterangan bebas uji berkala yang berlaku selama enam (6) bulan sebagai
pengganti buku uji, surat registrasi uji tipe, STNK, BPKB dan sebagainya.
4.

Pengujian Berkala Berikutnya dan Seterusnya (Periodik).


Pengujian berkala periodik merupakan lanjutan dari Pengujian Berkala

Pertama, dan sudah menjadi kategori kendaraan bermotor wajib uji yang
dilakukan setiap enam (6) bulan sekali, sampai kendaraan bermotor tersebut
dilakukan penghapusan/abolisi kendaraan bermotor.
5.

Pengujian Berkala di Luar Wilayah (Menumpang Uji).


Pengujian yang dilaksanakan bagi kendaraan wajib uji dari suatu daerah ke

daerah lain, yang telah jatuh tempo, sementara kendaraan bermotor yang
bersangkutan masih berada di luar daerah yang tidak memungkinkan untuk
dilakukan pengujian kendaraan bermotor secara fisik di daerah asalnya.

2.8.4

Prosedur Uji Emisi Kendaraan Bermotor

2.8.4.1. ProsedurUji Emisi Kendaraan Bermotor Berbahan Bakar Bensin


Uji emisi kendaraan bermotor ini dilakukan untuk mengukur kadar gas Uji
emisi kendaraan bermotor ini dilakukan untuk mengukur kadar gas karbon
monoksida dan hidrokarbon dengan menggunakan gas analyzer pada kondisi idle
(kondisi tanpa beban). Pengujian idle dilakukan dengan cara menghisap gas buang
kendaraan bermotor ke dalam alat uji gas analyzer.
Adapun prosedur uji emisi kendaraan bermotor berbahan bakar bensin
adalah sebagai berikut:

34

1. Persiapkan kendaraan yang akan diuji


a. Kendaraan yang akan diukur komposisi gas buangnya harus diparkir pada
tempat yang datar
b. Pipa gas buang (knalpot) tidak bocor
c. Temperatur mesin normal 600C sampai dengan 700C atau sesuai
rekomendasi manufaktur
d. Sistem asesoris (lampu, AC) dalam kondisi mati
e. Kondisi temperatur tempat kerja pada 200C sampai dengan 350C
2. Persiapkan peralatan uji
a. Pastikan bahwa alat telah dalam keadaan terkalibrasi
b. Hidupkan sesuai prosedur pengoperasian (sesuai dengan rekomendasi
manufaktur alat uji)
c. Naikkan putaran mesin hingga mencapai 2.900 rpm sampai dengan 3.100
rpm. Kemudian tahan selama 60 detik dan selanjutnya kembalikan kepada
kondisi idle
d. Lakukan pengukuran pada kondisi idle dengan putaran mesin 600 rpm
sampai dengan 1000 rpm atau sesuai rekomendasi manufaktur
e. Masukkan probe alat uji ke dalam pipa gas buang sedalam 30 cm, bila
kedalaman pipa gas buang kurang dari 30 cm, maka pasang pipa tambahan.
f. Tunggu 20 detik dan lakukan pengambilan data kadar konsentrasi CO dalam
satuan persen (%) dan HC dalam satuan ppm yang terukur pada alat uji (SNI
09-7118.1-2005)

35

2.8.4.2. Prosedur Uji Emisi Kendaraan Bermotor Berbahan Bakar Diesel


Cara uji ini dilakukan untuk mengukur opasitas asap dengan menggunakan
smoke opacimeter pada kondisi akselerasi bebas untuk kendaraan bermotor tipe
M, N dan O yang berbahan bakar diesel. Adapun prosedur pengujiannya adalah
sebagai berikut:
1. Persiapkan kendaraan yang akan diuji
a. Kendaraan yang akan diukur komposisi gas buangnya harus diparkir pada
tempat yang datar
b. Pipa gas buang (knalpot) tidak bocor
c. Temperatur oli normal 600C sampai dengan 700C atau sesuai rekomendasi
manufaktur
d. Sistem asesoris (lampu, AC) dalam kondisi mati
e. Kondisi temperatur tempat kerja pada 200C sampai dengan 350C
2. Persiapkan peralatan uji
a. Pastikan bahwa alat telah dalam keadaan terkalibrasi
b. Hidupkan sesuai prosedur pengoperasian (sesuai dengan rekomendasi
manufaktur alat uji)
c. Naikkan putaran mesin hingga mencapai 2.900 rpm sampai dengan 3.100
rpm. Kemudian tahan selama 60 detik dan selanjutnya kembalikan kepada
kondisi idle
d. Masukkan probe alat uji ke dalam pipa gas buang sedalam 30 cm, bila
kedalaman pipa gas buang kurang dari 30 cm, maka pasang pipa tambahan.
e. Injak pedal gas maksimum (full throttle) secepatnya hingga mencapai
putaran mesin maksimum, selanjutnya tahan 1 hingga 4 detik. Lepas pedal

36

gas dan tunggu hingga putaran mesin kembali stasioner. Catat nilai opasitas
asap
f. Ulangi proses butir (e) minimal 3 kali.
g. Catat nilai persentase nilai rata-rata opasitas asap dari langkah (f) dalam
satuan persen (%) yang terukur dalam alat uji (SNI 09-7118.2-2005).

37

2.9.

Kerangka Konsep

Karakteristik Kendaraan
Bermotor Roda empat
1. Jenis Kendaraan
2. Kapasitas Mesin
Kendaraan Bermotor
3. Tahun Pembuatan
Kendaraan Bermotor
4. Perawatan Kendaraan
Bermotor

Emisi Gas Buang yaitu


CO, HC, dan Opasitas
(ketebalan asap)
Kendaraan Bermotor

PerMen LH No.05
Tahun 2006

Gambar.1 Kerangka Konsep Penelitian

2.10.

Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian ini adalah :


1.

Ada hubungan antara jenis kendaraan bermotor roda empat dengan emisi gas
buang kendaraan bermotor.

2.

Ada hubungan antara kapasitas mesin kendaraan bermotor roda empat dengan
emisi gas buang kendaraan bermotor.

3.

Ada hubungan antara tahun pembuatan kendaraan bermotor roda empat


dengan emisi gas buang kendaraan bermotor.

4.

Ada hubungan antara perawatan kendaraan bermotor roda empat dengan


emisi gas buang kendaraan bermotor.