Anda di halaman 1dari 24

Hexokinase

Kata kinase yang menempel pada enzim ini secara tidak langsung akan memberitahu kita bahwa
enzim ini berperan dalam reaksi yang melibatkan perpindahan gugus fosfat. Secara umum enzim
ini berperan dalam mengkatalisis reaksi D-hexosa menjadi D-hexosa-6 fosfat. Kita bisa temukan
hexokinase dalam tahap pertama glikolisis (metabolisme glukosa menjadi piruvat). Dalam
glikolisis, hexokinase mengkatalisis reaksi glukosa menjadi glukosa-6 fosfat. Di dalam liver juga
terdapat jenis enzim yang memiliki fungsi yang sama dengan hexokinase yaitu
glukokinase.Meskipun keduanya memiliki fungsi katalisis terhadap reaksi yang sama tetapi
kedua enzim ini dikode oleh gen yang berbeda. Hasil isolasi dari yeast menunjukkan enzim ini
memiliki massa molekul 54097.86.
Reaksi transfer gugus fosfat pada tahap pertama glikolisis ini berlangsung antara ATP dengan
glukosa yang kemudian akan menghasilkan ADP dan glukosa-6 fosfat. Pada tahap ini hexokinase
akan mengalami perubahan konformasi. Hal ini terlihat dari struktur hexokinase yang ditentukan
dengan difraksi sinar-X dari hexokinase tanpa substrat dan dengan substrat.

hexokinase tanpa substrat

hexokinase dengan substrat

MAKALAH ENZIM

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Setiap makhluk hidup di bumi pasti tersusun atas sel-sel yang berperan aktif
dalam proses metabolisme. Dalam proses metabolisme ini tentunya membutuhkan
zat-zat seperti protein, karbohidrat, vitamin, dan bahan lainnya untuk membantu

proses

metabolisme

itu

sendiri.

Suatu organisme hidup adalah rakitan menakjubkan dari reaksi kimia. Masingmasing reaksi seolah berjalan sendiri tapi memberi sumbangan untuk kehidupann
organisme sebagai suatu kesatuan. Sel dalam tubuh tumbuhan mampu mengatur
lintasan lintasan metabolik yang dikendalikannnya agar terjadi dan dapat
mengatur kecepatan reaksi tersebut dengan cara memproduksi suatu katalisator
dalam jumlah yang sesuai dan tepat pada saat dibutuhkan. Katalisator inilah yang
disebut dengan enzim.
Sebagai contoh proses metabolisme saat pembentukan urea yang nyatanya
membutuhkan

suhu

tinggi

yang

tidak

mungkin

manusia

miliki.

Namun, karena adanya enzim yang merupakan katalisator biologis menyebabkan


reaksi-reaksi tersebut berjalan dalam suhu fisiologis tubuh manusia, sebab enzim
berperan dalam menurunkan energi aktivasi menjadi lebih rendah dari yang
semestinya dicapai dengan pemberian panas dari luar. Kerja enzim dengan cara
menurunkan energi aktivasi sama sekali tidak mengubah G reaksi (selisih antara
energi bebas produk dan reaktan), sehingga dengan demikian kerja enzim tidak
berlawanan dengan Hukum Hess 1 mengenai kekekalan energi. Selain itu, enzim
menimbulkan pengaruh yang besar pada kecepatan reaksi kimia yang berlangsung
dalam organisme. Reaksi-reaksi yang berlangsung selama beberapa minggu atau
bulan di bawah kondisi laboratorium normal dapat terjadi hanya dalam beberapa
detik di bawah pengaruh enzim di dalam tubuh.
Peran enzim sebagai biokatalisator sangat berpengaruh terhadap peristiwaperistiwa dalam tubuh. Hal ini karena enzim sebagai determinan yang menentukan
kecepatan berlangsungnya suatu peristiwa fisiologik, yang memainkan peranan
sentral dalam masalah kesehatan dan penyakit. Sehingga, dalam keadaan-keadaan
tertentu kerja enzim akan mengalami perubahan. Dalam keadaan tubuh yang
kurang seimbang, atau tubuh yang kurang sehat, reaksi-reaksi yang terjadi di dalam
tubuh menjadi tidak seimbang. Hal ini disebabkan kerja enzim tidak terkoordinasi
dengan cermat. Sementara dalam keadaan sehat , semua proses fisiologis akan
berlangsung dengan baik serta teratur.
Enzim sendiri merupakan polimer biologik yang mengatalisis lebih dari satu
proses dinamik yang memungkinkan kehidupan seperti yang kita kenal sekarang.

sifat-sifat enzim pun sangat khas, salah satunya yaitu satu enzim hanya memiliki
satu substrat. Selain sifat, enzim juga memiliki klasifikasi, tata nama serta
spesifikasi tersendiri. Perananan enzim dalam tubuh manusia sangatlah besar.
Untuk itu, pemahaman selengkapnya tentang enzim akan dibahas dalam makalah
ini.

1.2

Rumusan Masalah

1.

Apa pengertian enzim?

2.

Bagaimana tatanama dan kekhasan enzim?

3.

Bagaimana fungsi dan cara kerja enzim?

4.

Bagaimana cara penggolongan enzim?

5.

Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim?

6.

Apakah pengertian koenzim?

1.3

Tujuan Penulisan

1.

Untuk mengetahui pengertian enzim.

2.

Untuk mengetahui bagaimana tatanama dan kekhasan enzim.

3.

Untuk mengetahui fungsi dan cara kerja enzim.

4.

Untuk mengetahui cara penggolongan enzim.

5.

Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kerja enzim.

6.

Untuk mengetahui pengertian koenzim.

1.4

Metode Penulisan

Metode yang digunakan oleh penulis dalam penyusunan makalah ini adalah
metode kepustakaan yang bersumber dari buku dan internet yang berkaitan dengan
permasalahan makalah ini.

BAB II
ENZIM
2.1 Pengertian Enzim
Enzim atau fermen (dalam bahasa yunani, en = di dalam dan zyme = ragi)
adalah senyawa organik yang tersusun atas protein, dihasilkan oleh sel, dan
berperan sebagai biokatalisator dalam reaksi kimia. Enzim adalah biokatalisator
organik yang dihasilkan organisme hidup di dalam protoplasma, yang terdiri atas
protein atau suatu senyawa yang berikatan dengan protein, berfungsi sebagai
senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi dalam suatu reaksi
kimia. Hampir semua enzim merupakan protein.
Enzim sangat penting dalam kehidupan, karena semua reaksi metabolisme
dikatalis oleh enzim. Jika tidak ada enzim, atau aktivitas enzim terganggu maka
reaksi metabolisme sel akan terhambat hingga pertumbuhan sel juga terganggu.
Pada reaksi yang dikatalisasi oleh enzim, molekul awal reaksi disebut sebagai
substrat, dan enzim mengubah molekul tersebut menjadi molekul-molekul yang
berbeda, disebut produk. Jenis produk yang akan dihasilkan bergantung pada suatu
kondisi/zat, yang disebut promoter. Semua proses biologis sel memerlukan enzim
agar

dapat

berlangsung

dengan

cukup

cepat

dalam

metabolisme yang ditentukan oleh hormon sebagai promoter.

suatu

arah lintasan

Dari hasil penelitian para ahli biokimia ternyata banyak enzim mempunyai
gugus bukan protein (kofaktor), jadi termasuk golongan protein majemuk. Enzim
semacam ini (holoenzim) terdiri atas protein (apoenzim) dan suatu gugus bukan
protein (kofaktor). Apoenzim adalah bagian enzim yang tersusun atas protein, dan
merupakan bagian yang paling utama dari enzim. Kofaktor ada yang terikat kuat
pada

protein (protestik),

ada

pula

yang

tidak

begitu

kuat

ikatannya (koenzim). Sebagai contoh enzim katalase terdiri atas protein dan
ferriprotorfirin. Ada juga enzim yang terdiri dari protein dan logam, misalnya
askorbat oksidase adalah protein yang mengikat tembaga.
2.2 Tata Nama dan Kekhasan Enzim
a.

Tata nama enzim


Biasanya enzim mempunyai akhiran ase. Di depan ase digunakan nama
substrat di mana enzim itu bekerja., atau nama reaksi yang dikatalisis. Substrat
adalah senyawa yang bereaksi dengan bantuan enzim. Sebagai contoh enzim yang
menguraikan urea (substrat) dinamakan urease. Kelompok enzim yang mempunyai
fungsi sejenis diberi nama menurut fungsinya, misalnya hidrolase adalah kelompok
enzim yang mempunyai fungsi sebagai katalis dalam reaksi hidrolisis. Karena itu
disamping nama trivial (biasa) maka oleh Commisison on Enzymes of the
International Union of Biochemistry telah ditetapkan pula tata nama yang
sistematik, disesuaikan dengan pembagian atau penggolongan enzim didasarkan
pada fungsinya. Secara ringkas, sistem penamaan enzim menurut IUB dijelaskan
sebagai berikut:

1)

Reaksi dan enzim yang mengkatalisis membentuk 6 kelas, masing-masing


mempunyai 4-13 subkelas.

2)

Nama enzim terdiri atas 2 bagian, pertama menunjukkan substrat dan kedua
ditambah dengan ase yang menunjukkan tipe reaksi yang dikatalisis. Contoh:
heksosa isomerase (subsrat: heksosa dengan reaksi isomerase).

3)

Jika diperlukan, ditambah dengan informasi tambahan tentang reaksi dalam tanda
kurung di bagian akhir nama. Contoh: 1.1.1.37 L-malat:NAD+ oksidoreduktase
(dekarboksilasi).

4)

Setiap enzim mempunyai nomor kode (EC) yang terdiri dari 4 nomor yaitu:

Digit pertama

: kelas tipe reaksi

Digit kedua

: subkelas tipe reaksi

Digit ketiga

: subsubkelas tipe reaksi

Digit keempat

: untuk enzim spesifik

Contoh: 2.7.1.1 diuraikan menjadi:


-

Kelas 2

: transferase

Subkelas 7

: transfer fosfat

Subsubkelas 1

: alkohol merupakan akseptor fosfat

Enzim spesifik 1

: heksokinase atau ATP:D-heksosa 6-fosfotransferase.

Suatu enzim yang mengkatalisis pemindahan fosfat dari ATP ke gugus hidroksil
atom C ke enam molekul glukosa.
b.

Kekhasan enzim
Suatu enzim bekerja secara khas terhadap suatu substrat tertentu. Kekhasan
inilah ciri suatu enzim. Ini berbeda dengan katalis lain (bukan enzim) yang dapat
bekerja terhadap berbagai macam reaksi. Enzim urease hanya bekerja terhadap
berbagai macam reaksi. Enzim urease hanya bekerja terhadap urea sebagai
substratnya. Ada juga enzim yang bekerja terhadap lebih dari suatu substrat namun
enzim tersebut tetap mempunyai kekhasan tertentu, misalnya enzim esterase
dapat menghidrolisir beberapa ester asam lemak, tetapi tidak dapat menghidrolisir
substrat lain yang bukan ester.
Kekhasan terhadap suatu reaksi disebut kekhasan reaksi. Suatu asam amino
tertentu sebagai substrat dapat mengalami berbagai reaksi dengan berbagai
enzim. Jadi, walaupun reaksi tersebut berjalan namun tiap enzim hanya bekerja
pada satu reaksi. Jadi, kekhasan reaksi bukan disebabkan oleh koenzim tetapi oleh
apoenzim.
Daya katalitik enzim sangat besar, yaitu mampu mempercepat reaksi kimia
minimal sejuta kali. Tanpa enzim, kecepatan sebagian besar reaksi kimia di dalam
sistem biologi sangatlah rendah sehingga tak dapat diukur.

Enzim sangat spesifik, baik terhadap terhadap jenis reaksi yang dikatalisisnya
maupun terhadap substrat atau reaktan yang diolahnya. Satu enzim biasanya
mengkatalisis satu jenis reaksi kimia saja, atau seperangkat reaksi yang sejenis.
Dalam reaksi enzimatik sangat jarang terjadi reaksi sampingan yang menyebabkan
terbentuknya hasil sampingan yang tak berguna.

2.3 Fungsi dan Cara Kerja Enzim


a.

Fungsi enzim
Fungsi suatu enzim ialah sebagai katalis untuk suatu proses biokimia yang
terjadi dalam sel maupun di luar sel. Suatu enzim dapat mempercepat reaksi
108 sampai 1011 kali lebih cepat daripada suatu reaksi tersebut dilakukan tanpa
katalis. Jadi enzim dapat berfungsi sebagai katalis yang sangat efisien, di samping
mempunyai derajat kekhasan yang tinggi. Oleh karena itu, enzim mempunyai
peranan yang sangat penting dalam reaksi metabolisme. Peranan enzim dalam
reaksi metabolisme adalah sebagai berikut:

1)

Biokatalisator yaitu meningkatkan kecepatan reaksi kimia dengan menurunkan


energi aktivasinya tetapi tidak ikut bereaksi.

2)

Modulator yaitu mengatur reaksi yang bersifat acak menjadi berpola. Misalnya
glukosa yang terbentuk selama proses fotosintesis. Jika konsentrasi glukosa telah
melebihi keseimbangan, maka akan terurai menjadi CO 2 dan H2O. Dengan adanya
enzim, glukosa dapat diubah menjadi sukrosa atau amilum. Dalam bentuk sukrosa
dapat diedarkan ke seluruh jaringan melalui floem dan disimpan dalam bentuk
amilum. Dengan mengubah glukosa menjadi molekul lain, maka proses fotosintesis
dapat terus berlangsung tidak terhambat oleh akumulasi hasilnya.

b.

Cara kerja enzim

a)

Kompleks enzim substrat


Telah dijelaskan bahwa suatu enzim mempunyai kekhasan yaitu hanya bekerja
pada satu reaksi saja. Untuk dapat bekerja terhadap suatu zat atau substrat harus
ada hubungan atau kontak antara enzim dengan substrat. Oleh karena itu tidak
seluruh bagian enzim dapat berhubungan dengan substrat. Hubungan antara
substrat dengan enzim hanya terjadi pada bagian atau tempat tertentu saja.

Tempat atau bagian enzim yang mengadakan hubungan atau kontak dengan
substrat dinamai bagian aktif (active site). Hubungan hanya mungkin terjadi apabila
bagian aktif mempunyai ruang yang tepat dapat menampung substrat. Apabila
substrat mempunyai bentuk atau konformasi lain, maka tidak dapat ditampung
pada bagian aktif suatu enzim. Dalam hal ini enzim itu tidak dapat berfungsi
terhadap substrat. Ini adalah penjelasan mengapa tiap enzim mempunyai kekhasan
terhadap substrat tertentu.
Hubungan atau kontak antara enzim dengan substrat menyebabkan terjadinya
kompleks enzim-substrat. Kompleks ini merupakan kompleks yang aktif, yang
bersifat sementara dan akan terurai lagi apabila reaksi yang diinginkan telah
terjadi.
1)

Lock and key (gembok dan kunci)


Menurut teori kunci-gembok, terjadinya reaksi antara substrat dengan enzim
karena adanya kesesuaian bentuk ruang antara substrat dengan situs aktif (active
site) dari enzim, sehingga sisi aktif enzim cenderung kaku. Substrat berperan
sebagai kunci masuk ke dalam situs aktif, yang berperan sebagai gembok, sehingga
terjadi

kompleks enzim-substrat.

Pada

saat

ikatan

kompleks

enzim-substrat

terputus, produk hasil reaksi akan dilepas dan enzim akan kembali pada konfigurasi
semula. Berbeda dengan teori kunci gembok. Jika enzim mengalami denaturasi
(rusak) karena panas, maka bentuk sisi aktif berubah sehingga substrat tidak sesuai
lagi.
2)

Teori Kecocokan Induksi (Daniel Koshland)


Menurut

teori

kecocokan

induksi

reaksi

antara

enzim

dengan

substrat

berlangsung karena adanya induksi substrat terhadap situs aktif enzim sedemikian
rupa sehingga keduanya merupakan struktur yang komplemen atau saling
melengkapi. Menurut teori ini situs aktif tidak bersifat kaku, tetapi lebih fleksibel.

(Sumber: http://josuasilitonga.files.wordpress.com/2010/10/enzim1.jpg?w=468.
Diakses pada tanggal 20 Februari 2013)
b)

Persamaaan Michaelis Menten


Leonor Michaelis dan Maude Menten pada tahun 1913 mengajukan hipotesis
bahwa dalam reaksi enzim terjadi dahulu kompleks enzim-substrat yang kemudian
menghasilkan hasil reaksi dan enzim kembali. Secara sederhana hipotesis Michaelis
dan Menten itu dapat dituliskan sebagai berikut :
Enzim

(E)

Substrat

(S)

kompleks

enzim-substrat (ES)

Enzim (E) + Hasil reaksi (P)


Michaelis dan Menten berkesimpulan bahwa kecepatan reaksi tergantung pada
konsentrasi

kompleks

enzim-substrat

konsentrasi

substrat

[S],

maka

[ES],

sebab

penambahan

apabila

konsentrasi

tergantung

pada

substrat

akan

menghasilkan pertambahan kecepatan reaksi yang apabila digambarkan akan


merupakan garis lurus.
2.4 Penggolongan Enzim
Enzim digolongkan menurut reaksi yang diikutinya, sedangkan masing-masing
enzim diberi nama menurut substratnya, misalnya urease, arginase, dan lain-lain.
Disamping itu ada pula beberapa enzim yang dikenal dengan nama lama, misalnya
pepsin, tripsin, dan lain-lain. Oleh Commision on Enzymes of the International Union

of Biochemistry, enzim dibagi dalam enam golongan besar. Penggolongan ini


didasarkan atas reaksi kimia dimana enzim memegang peran. Enam golongan
enzim tersebut adalah:
1.

Oksidoreduktase
Enzim yang melaksanakan katalis dengan melibatkan reaksi oksidasi suatu senyawa
ataupun reduksi dengan senyawa lain.

2.

Transferase
Enzim

melaksanakan

katalis

reaksi

yang

mengalihkan

suatu

gugus

yang

mengandung C, P, N, S suatu senyawa ke senyawa lain


3.

Hidrolase
Enzim yang melaksanakan katalis pemecah hidroik atau sebaliknya

4.

Liase
Enzim yang melaksanakan katalis pemusatan ikatan C-C, C-O, C-N dsb, tanpa
melibatkan hidrolisis atau oksidasi reduksi

5.

Isomerase
Enzim yang melaksanakan katalis reaksi isomerisasi yang merupakan penataan
kembali atom yang membentuk suatu molekul

6.

Ligase
Enzim yang melaksanakan katalis reaksi-reaksi pembentukan ikatan antara dua
moekul substrat yang terkait dengan pemusatan ikatan pirofosfat dalam ATP atau
senyawa energi tinggi lainnya

2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi enzim


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kerja enzim, yaitu:
1)

Konsentrasi enzim, pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksi


bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim.

2)

Konsentrasi Substrat, hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi


enzim yang tetap, maka pertambahan konsentrasi substrat akan menaikkan
kecepatan reaksi. Akan tetapi pada batas konsentrasi tertentu, tidak terjadi
kenaikan kecepatan reaksi walaupun konsentrasi substrat diperbesar. Dengan
demikian

konsentrasi

kompleks

enzim

substrat

makin

besar

dan

hal

ini

menyebabkan makin besarnya kecepatan reaksi. Pada suatu batas konsentrasi


substrat tertentu, semua bagian aktif telah dipenuhi oleh substrat atau telah jenuh
dengan substrat. Dalam keadaan ini, bertambah besarnya konsentrasi substrat
tidak menyebabkan bertambah besarnya kosentrasi kompleks substrat, sehingga
jumlah hasil reaksinya pun tidak bertambah besar.
3)

Suhu, pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan pada suhu
yang lebih tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. Di samping itu, karena enzim
adalah suatu protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya proses
denaturasi, sehingga bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian
konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun
menurun. Kenaikan suhu sebelum terjadinya proses denaturasi dapat menaikkan
kecepatan reaksi. Namun kenaikan suhu pada saat terjadinya denaturasi akan
mengurangi kecepatan reaksi. Oleh karena ada dua pengaruh yang berlawanan,
maka akan terjadi suatu titik optimum, yaitu suhu yang paling tepat bagi suatu
proses reaksi yang menggunakan enzim tersebut.

4)

pH, struktur ion enzim tergantung pada pH lingkungan. Enzim dapat berbentuk ion
positif, ion negative atau ion bermuatan ganda (zwitter ion). Dengan demikian
perubahan pH lingkungan akan berpengaruh terhadap efektifitas bagian aktif enzim
dalam membentuk kompleks enzim substrat. Tinggi rendahnya pH juga dapat
menyebabkan denaturasi yang dapat menurunkan aktifitas enzim, sehingga
diperlukan suatu pH optimum yang dapat menyebabkan kecepatan reaksi enzim
yang paling tinggi.

5)

Produk/hasil reaksi (dapat menghambat enzim)

6)

Zat penggiat (aktivator), misalnya logam alkali, logam alkali tanah, Mn, Mg, dan Cl.

7)

Zat penghambat (Inhibitor), yaitu molekul atau ion yang dapat menghambat reaksi
pembentukan kompleks enzim-substrat. Hambatan yang dilakukan oleh inhibitor
dapat berupa hambatan tidak revesibel atau hambatan revesibel.

a)

Hambatan Revesibel
Hambatan revesibel dapat berupa hambatan bersaing atau hambatan tidak
bersaing.

Hambatan bersaing.
Hambatan bersaing disebabkan karena ada molekul mirip dengan substrat,
yang dapat pula membentuk kompleks, yaitu kompleks enzim inhibitor (EI)
pembentukan kompleks ES, yaitu melalui penggabungan inhibitor dengan enzim
pada bagian aktif enzim. Dengan demikian terjadi persaingan antara inhibitor
dengan substrat terhadap bagian aktif enzim melalui reaksi sebagai berikut :
E + S -------------- ES
E + I --------------- EI
Inhibitor yang menyebabkan hambatan bersaing disebut inhibitor bersaing.
Inhibitor ini menghalangi terbentuknya kompleks ES dengan cara membentuk
kompleks EI dan tidak dapat membentuk hasil reaksi ( P).
E + S -------------- ES ------------ E + P (membentuk hasil reaksi)
E + I -------------- EI ------------ ( tidak terbentuk hasil reaksi)
Dengan demikian adanya inhibitor bersaing dapat mengurangi peluang bagi
terbentuknya kompleks ES dan hal ini menyebabkan berkurangnya kecepatan
reaksi.

Hambatan tak bersaing


Hambatan tidak bersaing ( non competitive inhibition ) tidak di pengaruhi
oleh besarnya konsentrasi substrat dan inhibitor yang melakukannya (inhibitor tidak
bersaing). Dalam hal ini inhibitor dapat bergabung dengan enzim di luar bagian
aktif. Penggabungan antara inhibitor dengan enzim ini terjadi pada enzim bebas,
atau pada enzim yang telah mengikat substrat yaitu kompleks enzim substrat.
E + I ----------- EI
ES + I ------------ ESI

b)

Hambatan tidak reversibel


Hambatan tidak reversibel ini dapat terjadi karena inhibitor bereaksi tidak
reversibel

dengan

bagian

tertentu

pada

enzim,

sehingga

mengakibatkan

berubahnya bentuk enzim. Dengan demikian mengurangi aktivitas katalik enzim


tersebut. Reaksi ini berlangsung tidak reversibel sehingga menghasilkan produk
reaksi dengan sempurna.
8)

Hambatan Alosterik
Hambatan yang terjadi pada enzim alosterik dinamakan hambatan alosterik,
sedangkan inhibitor yang menghambat dinamakan inhibitor alosterik. Bentuk
molekul inhibitor alosterik berkaitan dengan enzim pada tempat diluar bagian aktif
enzim.

Dengan

demikian,

hambatan

ini

tidak

akan

dapat

diatasi

dengan

penambahan sejumlah besar substrat. Terbentuknya ikatan antara enzim dengan


inhibitor mempengaruhi konformasi enzim, sehingga bagian aktif mengalami
perubahan bentuk. Akibatnya ialah penggabungan substrat pada bagian aktif enzim
terhambat.

Inhibitor/penghambat kompetitif, produk (sebagai zat inhibitor) berkompetisi


dengan substrat untuk berikatan dengan sisi aktif enzim. Dapat diatasi dengan
menambahkan konsentrasi substrat.

Inhibitor/penghambat alosterik (non-kompetitif), produk (sebagai zat inhibitor)


berikatan pada bagian enzim selain sisi aktif enzim yang disebut sisi alosterik dan
menyebabkan sisi aktif berubah sehingga substrat tidak dapat berikatan dengan
enzim.

2.6 Koenzim
Koenzim adalah kofaktor berupa molekul organik kecil yang mentranspor
gugus kimia atau elektron dari satu enzim ke enzim lainnya. Contoh koenzim

mencakup NADH, NADPH dan adenosina trifosfat. Gugus kimiawi yang dibawa
mencakup ion hidrida (H) yang dibawa oleh NAD atau NADP+, gugus asetil yang
dibawa oleh koenzim A, formil, metenil, ataupun gugus metil yang dibawa
oleh asam folat, dan gugus metil yang dibawa oleh S-adenosilmetionina. Beberapa
koenzim seperti riboflavin, tiamina, dan asam folat adalah vitamin.
Oleh karena koenzim secara kimiawi berubah oleh aksi enzim, adalah dapat
dikatakan koenzim merupakan substrat yang khusus, ataupun substrat sekunder.
Sebagai contoh, sekitar 700 enzim diketahui menggunakan koenzim NADH.
Regenerasi

serta

pemeliharaan

konsentrasi

koenzim

sel. Contohnya, NADPH diregenerasi melalui lintasan

terjadi

pentosa fosfat,

dalam
dan S-

adenosilmetionina melalui metionina adenosiltransferase.


Beberapa koenzim mempunyai struktur yang mirip dengan vitamin bahkan
menjadi bagian dari molekul vitamin tersebut. Hubungan antara vitamin dengan
koenzim tampak pada contoh berikut :
1) Niasin, merupakan nama vitamin yang berupa molekul nikotinamida atau asam
nikotinat. Molekul nikotinamida terdapat sebagai bagian dari molekul NAD +,
NADP+. Kekurangan niasin akan mengakibatkan pellagra pada manusia.
2) Molekul riboflavin atau vitamin B2 terdiri atas D ribitol yang terikat pada cincin
issoaloksazon yang tersubstitusi. Vitamin ini dikenal sebagai faktor pertumbuhan.
Molekul riboflavin merupakan bagian dari molekul FAD.
3) Asam lipoat adalah suatu vitamin yang juga merupakan faktor pertumbuhan dan
terdapat dalam hati. Asam ini terdapat dalam dua bentuk teroksidasi dan tereduksi,
berfungsi sebagai kofaktor pada enzim piruvat dehidrogenase dan ketoglutarat
dehidrogenase, berperan dalam reaksi pemisahan gugus akil.
4) Biotin adalah vitamin yang terdapat dalam hati dan berikatan dengan suatu
protein. Biotin berfungsi sebagai koenzim dalam reaksi karboksilasi.
5) Tiamin atau vitamin B1 umumnya terdapat dalam keadaan bebas dalam beras atau
gandum. Kekurangan vitamin B1 akan mengakibatkan penyakit beri-beri. Koenzim
yang berasal dari vitamin B1 ialah tiaminifosfat (TPP) dan berperan dalam reaksi
yang menggunakan enzim alpa keto dekarboksilase, asam alpa keto oksidase,
transketolase dan fosfo ketolase.

6) Vitamin B6 terdiri dari tiga senyawa yaitu piridoksal, piridoksin dan piridoksamin.
Kekurangan vitamin B6 dapat mengakibatkan dermatitis (penyakit kulit) dan
gangguan pada sistem saraf pusat. Koenzim dari vitamin B 6 ialah piridoksalfosfat
dan piridoksaminofosfat.
7) Asam folat dan derivatnya terdapat banyak dalam alam. Bakteri dalam usus
memproduksi asam fosfat dalam jumlah kecil. Koenzim yang berasal dari vitamin ini
ialah asam tetrahidrofosfat (FH4). Peranan FH4 ialah sebagai pembawa unit
senyawa satu atom karbon yang berguna dalam biosintesis purin, serin dan glisin.
8) Vitamin B12 sebagaimana diisolasi dari hati adalah sianokobalamina. Fungsi vitamin
B12 adalah bekerja pada beberapa reaksi anatara lain reaksi pemecahan ikatan C-C,
ikatan C-O, dan ikatan C-N dengan enzim mutase dan dehidrase.
9) Asam pantotenat terdapat dalam alam sebagai komponen dalam molekul koenzim
A. Vitamin ini diperlukan oleh tubuh sebagai faktor pertumbuhan. Koenzim A
berperan penting sebagai pembawa gugus asetil, khususnya dalam biosintesis
asam lemak.
Di samping koenzim yang mempunyai hubungan struktural dengan vitamin,
ada pula koenzim yang tidak berhubungan dengan vitamin, yaitu adenosine trifosfat
atau ATP. Koenzim ini termasuk golongan senyawa berenergi tinggi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
-

Enzim adalah biokatalisator organik yang dihasilkan organisme hidup di dalam


protoplasma, yang terdiri atas protein atau suatu senyawa yang berikatan dengan
protein, berfungsi sebagai senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis
bereaksi dalam suatu reaksi kimia.

Secara umum enzim berfungsi sebagai katalis dan memiliki peranan penting
dalam reaksi metabolisme, yaitu sebagai biokatalisator dan modulator. Untuk dapat

bekerja pada suatu zat atau substrat harus ada hubungan atau kontak antara enzim
dengan substrat (kompleks enzim-substrat).
-

Enzim digolongkan menurut tipe reaksi yang diikutinya dan mekanisme reaksi,
sedangkan masing-masing enzim diberi nama menurut substratnya, misalnya
urease, arginase dan lain-lain. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi kerja
enzim, yaitu konsentrasi enzim, konsentrasi substrat, suhu, pH, produk/hasil reaksi,
aktivator, dan inhibitor.

Koenzim adalah kofaktor berupa molekul organik kecil yang mentranspor gugus
kimia atau elektron dari satu enzim ke enzim lainnya.

Penggolongan enzim berdasarkan atas reaksi kimia dimana enzim memegang


peranan, yaitu : oksidoreduktase, tranferase, hidrolase, liase, isomerase, dan ligase.

3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah, membutuhkan bahan yang cukup banyak
sehingga cukup sulit untuk memahami materi sebagai bahan makalah. Dan dengan
mempelajari makalah yang singkat ini diharapkan kita dapat mengetahui apa itu
enzim.

DAFTAR PUSTAKA
Heru Santoso Wahito Nugroho, 2008. Protein dan Enzim, www.heruswn.teach-nology.com

Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW, 2003, Biokimia Harper, Edisi XXV,
Penerjemah Hartono Andry, Jakarta: EGC

Poedjiadi, Anna dan F. M. Titin Supriyanti. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: Universitas
Indonesia (UI-Press).

Stryer L, 1996, Biokimia, Edisi IV, Penerjemah: Sadikin dkk (Tim Penerjemah Bagian
Biokimia FKUI), Jakarta: EGC

http://ira-raners.blogspot.com/2011/05/biokimia-enzim.html. Diakses tanggal 20 Februari


2013.

http://soerya.surabaya.go.id/AuP/e-DU.KONTEN/edukasi.net/SMA/Biologi/Enzim.Kata
lisator/materi2.html. Diakses pada tanggal 21 Februari 2013

http://josuasilitonga.wordpress.com/2010/10/07/enzim/. Diakses pada tanggal


21 Februari 2013

Enzim adalah protein yang khusus disintesa oleh sel hidup untuk mengkatalisa
reaksi yang langsung didalamnya. Oleh karena itu reaksi itu banyak sekali, maka
biokatalisator yang membentuk jumlah maupun jenisnya tak terhitung banyaknya.
Enzim tersusun atas protein, oleh karena itu pengaruh pH berhubungan erat dengan
sifat asam-basa yang dipunyai oleh protein. Pengaruh reaksi sebagian besar naik,
dengan kenaikan suhu sampai batas tertentu. Setiap naik 100C kecepatan
reaksinya naik dua kali. Suhu mempunyai dua pengaruh yang saling berlawanan
terhadap aktivitas enzim. Pertambahan suhu akan menaikkan aktivitas enzim,
sebaliknya juga akan mendenaturasi enzim.
Enzim dapat ditemukan baik pada hewan maupun pada tumbuhan. Salah satu
enzim yang ditemukan di dalam tumbuhan adalah amilase. Amilase adalah enzim
yang dapat menghidrolisis amilum menjadi glukosa.
Enzim dikatakan sebagai suatu kelompok protein yang berperan dalam aktivitas
biologis. Enzim ini berfungsi sebagai katalisator dalam sel dan sifatnya sangat khas.
Dalam jumlah yang sangat kecil, enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga
dalam keadaan normal tidak terjadi penyimpangan hasil reaksinya.
Enzim akan kehilangan aktivitasnya karena panas, asam dan basa kuat, pelarut
organik atau apa saja yang bisa menyebabkan denaturasi protein. Enzim dinyatakan
mempunyai sifat yang sangat khas karena hanya bekerja pada substrat tertentu.
Fungsi penting dari enzim adalah sebagai biokatalisator, reaksi kimia secara kolektif
membentuk metabolisme perantara sel, suatu bagian yang sangat kecil dari suatu
molekul besar protein enzim sangat berperan untuk katalis reaksi.
Enzim mempunyai peranan katalis dalam menurunkan aktivitas dari reaksi energi.
Aktivasi dapat diartikan sebagai sejumlah energi atau kalori yang diturunkan oleh
suatu mol zat pada temperatur tertentu untuk membawa molekul kedalam aktifnya
atau keadaan aktivnya.
Enzim terdiri atas dua bagian, yaitu koenzim dan apoenzim. Koenzim dan apoenzim
membentuk haloenzim yang merupakan enzim aktif. Tanpa adanya koenzim, enzim
menjadi tidak aktif.
Fungsi enzim antara lain, yaitu:
a. menurunkan energi aktivasi

b. mempercepat reaksi pada suhu dan tekanan tetap tanpa mengubah besarnya
tetapan seimbangnya
c. mengendalikan reaksi
Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim:
a. Konsentrasi enzim
Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksi bertambah dengan
bertambahnya konsentrasi enzim.
b. Konsentrasi substrat
Dengan konsentrasi enzim yang tetap, perubahan substrat akan menambah
kecepatan reaksi.
c. Suhu
Kenaikan suhu dapat menyebabkan denaturasi, sehingga bagian aktifnya
terganggu, akibatnya konsentrasi spesifik enzim berkurang dan kecepatan
reaksinya turun. Enzim tersusun oleh protein, sehingga sangat peka terhadap suhu.
Peningkatan suhu menyebabkan energi kinetik pada molekul substrat dan enzim
meningkat, sehingga kecepatan reaksi juga meningkat. Namun suhu yang terlalu
tinggi dapat menyebabkan rusaknya enzim yang disebut denaturasi, sedangkan
suhu yang terlalu rendah dapat menghambat kerja enzim. Pada umumnya enzim
akan bekerja baik pada suhu optimum, yaitu antara 300 400C.
d. Pengaruh pH
Struktur ion enzim tergantung pada pH lingkungannya, enzim dapat terbentuk
ion(+) atau (-) atau bermuatan ganda (switter ion). pH dapat menyebabkan proses
denaturasi yang dapat mengakibatkan menurunnya aktivitas enzim. Perubahan pH
dapat mempengaruhi perubahan asam amino kunci pada sisi aktif enzim, sehingga
menghalangi sisi aktif bergabung dengan substratnya. Setiap enzim dapat bekerja
baik pada pH optimum, masing-masing enzim memiliki pH optimum yang berbeda.
e. Pengaruh inhibitor
Dapat berupa hambatan inversibelyang disebabkan oleh terjadinya destruksi atau
modifikasi sebuah gugus fungsi atau lebih, yang terdapat pada molekul enzim.
Hambatan reversibel dapat berupa hambatan bersaing dan tak bersaing.

Enzim dalam tubuh memainkan peran yang sangat penting dalam proses kimia yang terjadi
dalam sel. Artikel ini akan memperkenalkan Anda dengan berbagai jenis, fungsi dan pentingnya
enzim dalam tubuh manusia.
Enzim dalam tubuh membantu melaksanakan berbagai fungsi kimia seperti pencernaan
makanan, membantu dalam proses penyediaan energi sel, mendukung fungsi otak, memperbaiki
dan menyembuhkan proses dalam tubuh, memecah racun, detoksifikasi darah, dll Singkatnya,
tubuh kita akan berhenti berfungsi, jika tidak ada enzim.
Enzim adalah protein yang mengandung rantai panjang asam amino. Asam-asam amino yang
dilipat dalam struktur tiga dimensi. Enzim diproduksi dalam tubuh dengan organ-organ tertentu
seperti kelenjar ludah, lambung, pankreas, usus halus atau berasal dari makanan yang kita
makan. Enzim dan fungsi mereka adalah pada dasarnya mengkatalisis reaksi dengan jumlah
minimum energi yang digunakan untuk melakukan reaksi tertentu. Ada ratusan enzim yang
dikenal yang melakukan reaksi kimia yang spesifik. Fungsi enzim ditentukan sesuai dengan
bentuk enzim. Marilah kita tahu lebih banyak tentang berbagai jenis enzim hadir dalam tubuh.

Jenis Fungsi Enzim dalam Tubuh


Nama Enzim dalam Tubuh
Ada enam kelas utama enzim yang ditemukan dalam tubuh. Berikut ini adalah nama-nama enzim
dan fungsinya:
Ligase: Enzim ini dalam tubuh memerlukan ATP dan mengikat nukleotida bersama-sama dalam
asam nukleat. Hal ini juga mengikat gula sederhana dalam polysaccarides.
Liase: Enzim ini dalam tubuh memecah ikatan antara atom karbon atau ikatan nitrogen karbon.

Hidrolase: Enzim ini dalam tubuh memecah molekul besar menjadi molekul sederhana dengan
menambahkan molekul air.
Transferase: Enzim ini dalam tubuh memotong bagian dari satu molekul dan menempel ke
molekul lain.
Isomerase: Atom-atom dalam molekul ini adalah mengatur kembali tanpa mengubah rumus
kimianya. Hal ini membantu dalam mendapatkan molekul karbohidrat untuk proses enzimatik
tertentu.
Oxido-reduktase: Enzim ini menghilangkan hidrogen atau elektron dari satu molekul dan
menyumbangkan ke molekul lain. Enzim ini terutama yang terlibat dalam produksi energi
mitokondria.
Kinase: Enzim ini dalam tubuh melekat gugus fosfat untuk ikatan energi tinggi. Ini adalah enzim
yang sangat penting yang diperlukan untuk produksi ATP dan aktivasi enzim tertentu.
Enzim dalam tubuh dan Fungsinya
Ada tiga jenis enzim, enzim makanan, enzim pencernaan dan enzim metabolisme. Enzim ini
dijelaskan dalam paragraf berikut:
Enzim Makanan
Enzim Makanan hadir di semua makanan mentah seperti produk hewan atau tumbuhan. Namanama enzim yang pada nabati ini adalah protease, lipase, amilase dan selulase. Mereka berisi unit
aktif yang membantu memecah lemak, protein dan karbohidrat dalam tubuh pada kisaran luas pH
dalam tubuh. Mereka juga membantu dalam menjaga sistem pencernaan yang tepat dan
membantu tubuh memproduksi enzim yang lebih metabolik. Pepsin, bromelain, dll enzim hewani
yang membantu dalam pencernaan, sebagai agen anti-inflamasi. Tripsin membantu dalam
pengereman turun arginin atau lisin dan aktif pada pH basa. Enzim lain yang melaksanakan
reaksi kimia rennin yang mempersiapkan para susu untuk tindakan pepsin dan lipase dengan
pengereman itu ke protein dan lemak.
Enzim pencernaan
Enzim pencernaan disekresikan oleh tubuh yang membantu dalam pencernaan makanan. Namanama enzim yang membantu dalam pencernaan adalah:
Amilase: Enzim ini membantu dalam memcah karbohidrat. Hal ini ditemukan dalam air liur,
pankreas dan usus jus.
Protease: Ia membantu dalam pencernaan protein. Hal ini hadir dalam cairan perut, pankreas dan
usus.

Lipase: Lipase membantu dalam pencernaan lemak. Hal ini terlihat di perut, jus pankreas dan
lemak makanan.
Amilase I dan II disekresikan oleh kelenjar ludah awalnya dan kemudian oleh pankreas. Mereka
melepaskan ikatan antara molekul karbohidrat dan disakarida memproduksi dan trisakarida.
Amilase saya diaktifkan dengan mengunyah dan mengkonversi pati menjadi maltosa. Amilase II
disekresi hanya oleh pankreas dan membawa pada dengan proses yang telah dirintis dengan
Amilase I.
Pepsin diproduksi sebagai proenzim pepsinogen oleh sel-sel utama perut. Ini akan diaktifkan
oleh hidrogen dalam perut dan menghasilkan asam klorida pada waktu yang sama. Rusak ikatan
antara asam amino dalam protein dan menghasilkan polipeptida rantai pendek. Ia juga
membunuh setiap patogen yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan.
Pankreas menghasilkan tripsin sebagai tripsinogen proenzim. Ia bekerja pada polipeptida dan
protein menghasilkan peptida rantai pendek. Hal ini juga bertindak sebagai enzim untuk
mengaktifkan proteinase pankreas lainnya. Chymotrypsin diproduksi oleh pankreas tindakan
pada protein dan peptida polypetides memproduksi rantai pendek.
Pankreas menghasilkan carboxypeptidase sebagai proenzim procarboxypeptidase. Ini bekerja
pada protein dan polipeptida memproduksi peptida rantai pendek dan asam amino. Enzim lain
yang diproduksi oleh pankreas adalah elastase, yang bekerja pada elastin memproduksi rantai
pendek peptida. Jika ada garam empedu ini, pankreas memproduksi lipase yang menargetkan
triglycetides memproduksi asam lemak dan monogliserida. Vitamin C, glutathione dan sistein
memainkan peran penting dalam aktivasi lipase.
Nuklease diproduksi oleh pankreas bekerja pada asam nukleat seperti RNA dan DNA untuk
menghasilkan basa nitrogen dan gula sederhana. Sel-sel mukosa usus halus mensekresikan
enterokinase yang mencapai lumen dengan mencurahkan sel-sel epitel. Ini bekerja pada
tripsinogen untuk menghasilkan tripsin. Sel mukosa usus kecil juga memproduksi maltase,
sukrase dan laktase untuk menargetkan gula seperti maltosa, sukrosa dan laktosa untuk
menghasilkan monosakarida. Peptidase adalah enzim lain dalam tubuh diproduksi oleh sel-sel
mukosa usus kecil yang dipeptides sasaran dan tripeptides memproduksi asam amino.
Enzim metabolik
Enzim metabolisme ditemukan bergerak di seluruh sistem tubuh dan organ. Mereka melakukan
banyak reaksi kimia dalam sel-sel tubuh. Superooxide dismutase, antioksidan dan katalase,
enzim yang memecah hidrogen peroksida adalah dua enzim metabolik yang paling penting.
Ini adalah hanya beberapa dari banyak enzim dalam tubuh dan fungsi mereka. Enzim diperlukan
untuk fungsi sel, penyelesaian pencernaan, penyerapan nutrisi, memerangi radikal bebas dan

mendukung detoksifikasi hati. Ada banyak enzim yang tidak diproduksi oleh tubuh kita dan perlu
ditambah melalui sumber eksternal. Dengan demikian, adalah penting untuk memelihara gizi
yang sehat. Ada banyak suplemen enzim yang tersedia di pasar yang dapat membantu Anda
mengatasi kekurangan, di bawah pengawasan medis. Konsumsi berlebihan enzim dapat
menyebabkan sakit kepala, kembung, jerawat, gas, dll.
Ada fungsi yang tak terhitung banyaknya enzim, selain yang disebutkan dalam artikel ini. Darah
kita dicegah dari mendapatkan menggumpal di bagian-bagian tertentu dari tubuh oleh enzim
fibrinolitik. Ada banyak reaksi kimia seperti yang membantu dalam fungsi normal tubuh. Dengan
demikian, enzim dalam tubuh dapat disebut pahlawan tersembunyi tubuh yang berfungsi dengan
baik, tanpa mereka tubuh akan berhenti beroperasi.