Anda di halaman 1dari 25

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq

wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqw
ertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwer
tyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty
uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui
opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiop
asdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas
NABI DI TANAH BABEL
dfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf
ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfgh
jklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjkl
zxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx
cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcv
bnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbn
mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnm
qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq
wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqw

DANIEL
GERHARD PFANDL

Bab 1-3 diterjemahkan oleh Marcell Pantow

DAFTAR ISI
Bab

Makan atau Tidak Makan-Itulah Pertanyaannya

Bab

Patung Nebukadnezar

Bab

Perapian yang Menyala-nyala

Bab

Penghakiman (kepada Nebukadnezar)

Bab

Pesta Kejutan

Bab

Satu Dekrit Kematian

Bab

Pelajaran Sejarah (bagi) Daniel

Bab

Penghakiman Pra-Advent

Bab

Kaabah Diserang

Bab

10

Kaabah Dibersihkan

Bab

11

Pengaturan Waktu Allah

Bab

12

Ketika Raja-raja Pergi Berperang

Bab

13

Akhir Zaman

Pendahuluan
Kitab Daniel adalah yang terpendek dari empat kitab nabi-nabi besar. Namun bagi
GMAHK ini adalah kitab yang paling penting dan paling sering dipelajari dari 16 kitab nabinabi besar dan nabi-nabi kecil dalam Alkitab Perjanjian Lama. Kitab Daniel mencatat
peristiwa-peristiwa sejarah tertentu dalam kehidupan Daniel dan banyak mimpi dan
penglihatan yang diberikan kepada nabi tersebut dan kepada Nebukadnezar, raja Babel.
Kitab Daniel berisi kebenaran yang tak akan lekang oleh waktu dan tetap relevan hari
ini sama seperti ketika ditulis pertama kali 2.500 tahun lalu, dan kita sekarang ini
memperhatikan dengan seksama pada kebenaran-kebenaran tersebut. Ellen White berulang
kali mengajak kita untuk mempelajari kitab Daniel: Sementara kita mendekati penutupan
sejarah dunia ini, dia menulis, maka nubuatan-nubuatan yang dicatat oleh Daniel menuntut
perhatian kita yang khusus, karena sangat berkaitan dengan zaman di mana kita sedang
hidup.1
Bukan hanya kita perlu untuk mengerti nubuatan-nubuatan yang dicatat dalam Daniel,
tapi mempelajarinya, Ny. White berkata, menghasilkan sesuatu dalam kehidupan rohani kita.
Ketika kita Daniel dan Wahyu dimengerti dengan lebih baik, orang-orang percaya akan
memiliki satu keseluruhan pengalaman rohani yang berbeda. Mereka akan diberikan
pandangan sekilas dari pintu-pintu Sorga yang terbuka sehingga hati dan pikiran akan
dikesankan dengan karakter yang semua orang harus kembangkan dalam rangka untuk
menyadari bakat yang akan menjadi upah bagi orang-orang yang murni hatinya.2
Kitab Daniel termasuk dalam apa yang para sarjana sebutkan tulisan apokaliptik.
Istilah apokaliptik berasal dari kata Yunani apokalypsis, yang berarti satu penyingkapan
atau satu pewahyuan. Kitab-kitab apokaliptik Daniel dan Wahyu dalam Alkitab
menggambarkan penglihatan-penglihatan simbolis mengenai perjalanan sejarah manusia dan
kedatangan Kerajaan Allah.
Kitab Daniel terbagi dalam dua bagian: enam pasal pertama sebagian besar berisi
sejarah; enam pasal terakhir, sebagian besar berisi penglihatan-penglihatan. Klimaks dari
masing-masing bagian adalah pengangkatan dari penyembah-penyembah Allah yang benar,
dan setiap penglihatan berakhir pada didirikannya kerajaan Allah.
Pasal pertama
memberitahukan cerita tentang kehancuran kerajaan Allah di bumi, kerajaan Yehuda. Pasal
terakhir menjanjikan kelepasan umat-Nya di akhir zaman dan mewarisi kerajaan Sorga yang
akan bertahan selamanya.
Daniel, pada masa mudanya sebagaimana pada masa tuanya, adalah seorang manusia
dengan keberanian dan iman yang luar biasa. Dia tidak pernah berkompromi dengan
keyakinannya, dan dalam setiap tahap kehidupannya dia mempertahankan kepercayaannya
kepada Allah tidak peduli dengan keadaan sekitar. Apakah masalah tentang pencapaian
pribadi ataupun mati di gua singa, dia tetap kokoh pada keputusannya dan sepenuhnya
berkomitmen kepada Tuhan. Dia sungguh-sungguh adalah seorang manusia untuk segala
zaman.
Banyak sarjana Perjanjian Lama percaya bahwa seorang Yahudi yang tidak dikenal
sekitar tahun 165 S.M. menulis sebagian besar kitab Daniel untuk menghibur dan membawa
harapan kepada orang-orang Yahudi yang pada saat itu sedang dianiaya oleh raja Seleucid

Antiochus IV Epiphanes. Para sarjana konservatif, termasuk orang-orang Advent tetap


percaya bahwa Daniel sendiri yang menulis kitab ini pada abad keenam S.M. dan bahwa
kitab ini mengandung nubuatan-nubuatan yang benar. Pernyataan dari kitab Daniel sendiri
(Dan. 7:1, 2, 15; 8:1; 9:2; 10:2; 12:4, 5), kesaksian Yesus (Mat. 24:15), sebagaimana
kesaksian Yosephus, seorang sejarawan Yahudi yang mati sekitar tahun 100 M., semuanya
mendukung posisi ini. Lebih jauh lagi, hanya seseorang yang hidup di abad keenam S.M.
yang dapat mengetahui beberapa fakta sejarah yang ditemukan dalam buku Daniel.
Pengetahuan mengenai fakta-fakta tersebut akan hilang sesudah abad keenam S.M., dan para
sarjana menemukan mereka nanti pada waktu sekaran ini melalui penemuan-penemuan
arkeologi.
Penemuan naskah di Qumran menunjukkan popularitas Daniel diantara orang-orang
disana dan memberi kesaksian pada cara bagaimana orang-orang Yahudi menghormati dan
mengutip kitab Daniel sebagai Alkitab pada abad kedua S.M., satu pengakuan yang akan
menjadi sulit untuk dimengerti jika kitab ini ditulis pada abad kedua S.M. Tidak akan ada
waktu yang cukup bagi kitab ini untuk diedarkan, dihormati, dan diterima sebagai kanon
Alkitab.
Nama Daniel berarti Tuhan adalah hakimku, dan halaman-halaman buku Daniel
menguraikan kebenaran ini. Kitab Daniel dimulai dan diakhiri dengan referensi kepada
penghakiman di awal, penghakiman pada Israel yang murtad (Dan. 1:1, 2) dan di akhir
penghakiman pada raja utara (Dan. 11:40-12:2). Pertengahan kitab (Dan. 7:9-13)
menggambarkan Allah sebagai Yang Lanjut Usianya dengan kitab penghakiman terbuka dan
banyak malaikat hadir. Pada setiap sisi dari adegan penghakiman besar ini kita menemukan
referensi lebih jauh kepada penghakiman. Di pasal 4 Surga menghakimi Nebukadnezar,
pembual yang sombong, dan merendahkan dia sampai pada status binatang, dan di pasal 5
Belsyazar, cucunya, menerima pesan: kamu ditimbang dan didapati terlalu ringan. Pasal 8
dan 9 menunjukkan tanggal permulaan penghakiman yang akan datang, dan pasal kedua
belas menerangkan secara detil arti penghakiman mengenai hadiah dan penghukuman.
Pasal-pasal sejarah dari kitab Daniel (1-6) menjelaskan bagaimana Allah membela
dan melepaskan mereka yang tetap setia di tengah-tengah bangsa kafir. Pasal-pasal ini
memuat tema mengenai percobaan dan persoalan yang berakhir pada pengangkatan dan
kemuliaan. Dengan demikian kitab Daniel secara terus-menerus memproklamasikan kabar
baik bahwa pencobaan-pencobaan dan godaan-godaan diikuti oleh berkat-berkat untuk
mereka yang setia kepada Allah. Inilah pekabaran yang orang-orang tetap perlu dengar dan
percaya
sekarang
ini.
1
2

Ellen G. White, Para Nabi dan Raja (Bandung: IPH, 1999), hlm. 150.
White, Testimonies to Ministers (Mountain View, Calif.: Pacific Press Pub. Assn., 1962), p.114.

Bab 1

"Makan atau Tidak Makan" - Itulah Pertanyaannya


Pasal pembukaan Daniel memperkenalkan kita kepada empat pahlawan buku tersebut:
Daniel, karakter utama dari buku ini, dan tiga temannya Hananya, Misael, dan Azarya. Buku
ini tidak mengatakan apa-apa tentang orang tua mereka, tapi beberapa individu telah menjadi
besar dan baik tanpa petunjuk yang diterima dari lutut orang tua. Ditawan ke Babel, empat
orang ini berada di bawah tekanan untuk menyesuaikan diri dengan adat istiadat Babel, tetapi
mereka tetap setia kepada Tuhan mereka, dan Dia menghargai mereka dengan kebijaksanaan
dan wawasan yang luar biasa. Dengan komitmen mereka kepada Allah dan iman kepada-Nya
mereka menjadi contoh bagi semua orang Kristen yang saat ini mungkin menghadapi godaan
untuk mengkompromikan iman mereka untuk menjaga pekerjaan atau untuk diterima oleh
orang lain.
Informasi
Seorang pendeta penjara berkeliling melalui kompleks penjara yang besar melihat
salah satu tahanan menjahit secarik kain pada baju yang tua. Menyalami pria itu dengan
riang, ia berkata, "Selamat pagi, temanku! Menjahit hari ini? "
"Tidak, pendeta," pria itu menjawab dengan wajah sedih, "menuai!"
Sebagaimana kitab Daniel dibuka, kerajaan selatan Yehuda menuai panen pahit
karena tahun-tahun ketidaktaatan yang panjang kepada Allah (2 Raja-raja 21: 10- 16; 24: 1820). Keadilan, dikatakan, berjalan dengan lambat, memberikan waktu bagi orang berdosa
untuk bertobat. Dalam kasus Israel, Tuhan bermaksud supaya umat-Nya harus menjadi terang
bagi bangsa-bangsa (Yes 42: 6), tapi kemurtadan mereka yang terus-menerus akhirnya
menyebabkan kehancuran mereka sebagaimana Yeremia telah ramalkan (Yer. 25:8, 9).
Pada akhir abad ketujuh M. kerajaan Babel menggantikan Asyur sebagai kekuatan
dominan di Timur Dekat kuno. Bergabung dengan orang Media dari Iran utara, Babel
mengalahkan Asyur, menawan kota Asyur pada 614 S.M. dan mengalahkan Niniwe pada 612
S.M.
Memperluas kerajaan mereka ke barat, Babel ditemui Mesir di Karkemis di Sungai
Efrat pada 605 S.M. Menurut Yeremia 46:1-12 Nebukadnezar dan pasukan Babelnya
mengalahkan Firaun Nekho di Karkemis. Pertempuran mengubah keadaan politik di Timur
Dekat kuno sehingga apa yang sebelumnya berada di bawah kendali Mesir sekarang jatuh ke
tangan Babel, termasuk kerajaan Yehuda.
Yosia, raja baik terakhir Yehuda, meninggal pada 609 S.M. Anaknya Yoyakim adalah
bawahan Mesir sampai Nebukadnezar di 605 S.M. memaksanya untuk menyerah ke Babel.
Ketika Yoyakim memberontak terhadap Babel pada 598 S.M. Nebukadnezar sendiri
memimpin pasukannya melawan Yerusalem dan menaklukkannya pada 597 S.M. Dia
membawa raja baru Yoyakhin, putra Yoyakim, yang berada di takhta baru hampir tiga bulan,
ke Babel dan menempatkan saudara Yoyakim Zedekia sebagai penguasa. Pada saat yang
sama Nebukadnezar menyita sejumlah besar peralatan Kaabah dan membawa 10.000
tawanan, di antaranya Nabi Yehezkiel (2 Raja-raja 24: 10-16; Yeh.1:1).
Beberapa tahun kemudian Zedekia membuat aliansi dengan Mesir melawan Babel
(Yer. 37:7,8). Tidak mau untuk kehilangan kepemilikan di bagian barat ke Mesir,

Nebukadnezar berbaris melawan Yehuda, menghancurkan seluruh negeri, dan pada tahun 586
S.M. merebut Yerusalem dan membakarnya (2 Raja-raja 25: 9, 10).
Penjelasan
Kitab Daniel dibuka dengan dua pernyataan singkat tentang pengepungan raja Babel
terhadap Yerusalem pada tahun 605 S.M.: "datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke
Yerusalem dan mengepung kota itu. Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, ke dalam
tangannya"(ayat 1, 2). Pernyataan pertama menggambarkan peristiwa dalam istilah sejarah
sekuler; sedangkan pernyataaan kedua memuat dimensi spiritual peristiwa tersebut.
Sepanjang buku ini kita menemukan dua perspektif sejarah terjalin dan diungkapkan.
Khususnya di enam bab pertama dari buku, dimensi spiritual memberikan penjelasan untuk
peristiwa sejarah.
Yerusalem dan Babel (Dan.1:1) - Kitab Daniel, seperti bagian Alkitab lainnya,
adalah kisah dua kota: Yerusalem dan Babel. Yang satu merupakan kerajaan kebenaran, yang
lainnya tentang kerajaan kejahatan. Yerusalem mengungkapkan misteri ketuhanan, Babel
mengenai misteri dosa. Pertama kali kita membaca tentang Babel dan Yerusalem dalam
Alkitab adalah dalam Kitab Kejadian (Kej 11 dan 14), sedangkan terakhir kali kita
mendengarnya adalah dalam kitab Wahyu (Wahyu 18 dan 21). Cerita dan nubuatan kitab
Daniel menggambarkan prinsip-prinsip konflik kuno antara yang baik dan yang jahat.
Babel Menaklukkan Yerusalem (Dan.1:1, 2) - Daniel 1: 1 mengatakan bahwa
Nebukadnezar datang ke Yerusalem "Pada tahun yang ketiga...Yoyakim." Menurut Yeremia
25:1, Nebukadnezar mengepung Yerusalem pada tahun keempat pemerintahan Yoyakim.
Kita bisa menyelesaikan perbedaan yang nampak ketika kita menyadari bahwa Timur Dekat
kuno menggunakan dua sistem penanggalan pada saat itu, keduanya ditemukan dalam
Perjanjian Lama. Metode tahun-kenaikan digunakan oleh Daniel dengan menghitung tahun
ketika raja naik tahta sebagai tahun kenaikannya, dan satu tahun penuh selanjutnya sebagai
tahun pertamanya.Metode tahun-nonkenaikan digunakan dalam kitab Yeremia dengan
menghitung tahun ketika raja mulai memerintah sebagai tahun pertamanya, meskipun
mungkin baru berlangsung beberapa minggu atau bulan. Diagram berikut menggambarkan
dua pendekatan ini:
Metode tahun-kenaikan:
Daniel 1: 1: Tahun kenaikan, tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga
Metode tahun-nonkenaikan:
Yeremia 25: 1: Tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga, tahun keempat
Pelatihan untuk Pelayanan (Dan. 1:3-7) - Raja Nebukadnezar memerintahkan
Aspenas, salah satu petugas, untuk memilih yang paling menjanjikan di antara pemuda yang
dibuang dan untuk melatih mereka dalam budaya Babilon. Bertahun-tahun sebelumnya, nabi
Yesaya berkata pada Raja Hizkia bahwa beberapa dari keturunannya akan menjadi "sida-sida
di istana raja Babel" (Yes.39:7). Oleh karena itu, tradisi para rabi menegaskan bahwa Daniel
dan ketiga temannya adalah keturunan dari Raja Hizkia1 yang dibuat menjadi sida-sida di
istana Babel.2 Kata saris (sida-sida), bagaimanapun, secara sederhana dapat merujuk kepada

petugas tinggi di istana. Misalnya, Kejadian 39:1 menyebut Potifar seorang saris meskipun ia
sudah menikah.
Nebukadnezar, tampaknya, bermaksud untuk melatih yang terbaik dari para pemuda
Yahudi untuk pelayanan di masa depan dalam kerajaannya. Untuk menjaga daerah jauh tetap
tunduk bisa beresiko bagi pasukannya. Apa cara yang lebih baik daripada memberi anak-anak
bangsawan yang ditawan dan jenius pendidikan Babel dan pelatihan yang menyeluruh, dan
kemudian mengirim mereka kembali ke tanah air mereka sendiri untuk mengelolanya bagi
Nebukadnezar, atau membiarkan mereka melayani Dia di pengadilan di Babel. Bangsa
Romawi juga membawa tahanan kerajaan dan mendidik mereka di Roma dengan gagasan
bahwa mereka akan menjadi teman dari Roma ketika mereka kembali ke tanah air mereka.
Para pemuda Ibrani belajar "tulisan dan bahasa orang Kasdim" (Dan. 1:4) "Bahasa"
yang paling mungkin termasuk (1) Akkadia, bahasa asli orang Babel; (2) Sumeria, bahasa
kuno Sumeria yang digunakan dalam praktik keagamaan mereka dan untuk sastra teknis
mereka; dan (3) bahasa Aram, bahasa perdagangan internasional dan diplomasi. Bahasa
Akkadia dan Sumeria ditulis dalam naskah cuneiform yang sulit yang paling cocok untuk
menulis tablet tanah liat. Literatur Kasdim, yang namanya menjadi istilah untuk "penyihir"
atau "peramal," memasukkan studi matematika sexagesimal (berdasarkan unit enam), yang
membuat Babel terkenal dalam sejarah, dan astronomi. Namun, kurikulum mereka
kemungkinan besar termasuk juga studi tentang astrologi dan seni ramalan atau membaca
pertanda, praktek yang sangat dikutuk dalam Perjanjian Lama (Ul. 18:10) Apakah mereka
entah bagaimana berhasil untuk menghindari mata pelajaran ini, kita tidak tahu. Apa yang
kita tahu adalah bahwa melalui ketergantungan doa yang konsisten pada Tuhan mereka
mampu melepaskan diri dari pengaruh merusak dari studi mereka. "Daniel menjadi sasaran
godaan terberat yang dapat menyerang pemuda hari ini, namun ia setia pada pelajaran agama
yang diterima dari kehidupan awalnya.... Doa bagi dia adalah satu keharusan. Dia membuat
Tuhan sumber kekuatannya, dan takut akan Allah terus-menerus dilakukannya dalam seluruh
kehidupannya."3
Bagian dari program pendidikan Babel termasuk perubahan nama. Daniel ("Allah
adalah hakim saya") sekarang menjadi Beltsazar (mungkin "Bel melindungi hidupnya"),
Hananya ("Yahweh telah ramah") menjadi Sadrakh (artinya tidak pasti, mungkin "perintah
Aku," dewa bulan ); Misael ("siapakah seperti Allah?") diubah menjadi Mesakh (mungkin
artinya "siapa adalah apa yang Aku adalah?"); dan Azarya ("Yahweh menolong") disebut
Abednego (distorsi dari "hamba Nebo," salah satu dari dua dewa utama Babel).
Dalam budaya Barat, di mana makna nama tidak terlalu penting, perubahan nama
mungkin tampak tidak signifikan. Namun dalam budaya Timur Dekat kuno, nama dan
konotasinya membentuk bagian dari identitas seseorang. Jadi Babel memulai proses
pendidikan kembali dengan melenyapkan setiap referensi kepada Allah Ibrani dan mengganti
dengan nama yang mengandung kiasan atau referensi untuk dewa Babel. Nebukadnezar
"tidak memaksa pemuda Ibrani untuk meninggalkan iman mereka mendukung penyembahan
berhala, namun ia berharap untuk membuat hal ini secara bertahap."4
Satu Ujian Kesetiaan (Dan. 1:8-16) - Daniel dan ketiga temannya tidak bisa
mengubah bagaimana orang lain memanggil mereka, tapi ketika datang kepada memakan
makanan terbaik yang ditawarkan penawan mereka, mereka menolak. Alasan mereka bukan
hanya karena beberapa makanan yang ditawarkan itu haram, tetapi juga karena itu telah

dipersembahkan kepada berhala sebelum disajikan. Makanan kerajaan Babel mulai dengan
suatu tindakan penyembahan berhala, dan mereka yang berpartisipasi dalam makan
menganggap diri mereka telah mengambil bagian dalam ritual keagamaan. Daniel dan temantemannya, karena itu, diminta untuk dibebaskan dari makanan raja. Mereka tidak mau
bertindak bertentangan dengan kehendak Allah, dan mereka menolak untuk melanggar hati
nurani mereka.
Keputusan dari empat pemuda Ibrani untuk menolak makanan raja adalah tindakan
berani. Pengadilan istana bisa menganggap itu sebagai penghinaan terhadap raja dan sebagai
bukti pembangkangan. Tekanan untuk menyesuaikan diri pasti begitu berat. Tidak diragukan
lagi pemuda Yahudi lainnya menertawakan sensitivitas mereka. Jauh dari rumah, jauh dari
tatapan orang tua dan keluarga, mengapa khawatir tentang makanan raja? Namun, Daniel,
sebagai juru bicara teman-temannya, menolak untuk menyerah. Pertama, ia pergi ke
pemimpin pegawai istana meminta izin untuk menjauhkan diri dari makanan raja. Ketika
pemimpin pegawai istana menolak untuk berpartisipasi dalam rencana mereka, Daniel pergi
kepada bawahannya, penjenang, dan meminta satu tes singkat selama 10 hari (ayat 12, 13).
Ketetapan hati para pemuda ini mungkin menunjukkan bahwa mereka berada dalam
kebiasaan berpaling dari kejahatan. Kebiasaan dibentuk ketika orang membuat keputusan
berulang-ulang dan kemudian bertindak dalam menanggapinya. Kebiasaan seperti itu
merupakan karakter seseorang, dan karakter menentukan tujuan kekal.
Bertentangan dengan apa yang beberapa orang mungkin pikirkan, Daniel dan temantemannya tidak hidup dari kacang dan kacang polong atau salad untuk tiga tahun ke depan.
kata zer'onim, diterjemahkan "sayur", mengacu pada "hal-hal yang ditabur." Ini akan
mencakup semua biji-bijian yang bisa dibuat menjadi berbagai hidangan gurih seperti roti.
Apakah makanan yang Daniel minta benar-benar memadai? "Sejumlah penelitian
tentang makanan telah menunjukkan kecukupan gizi pada makanan lacto-ovo dan vegetarian
murni pada orang dewasa serta pada remaja dan wanita hamil. . . . Obesitas berkurang di
kalangan vegetarian dan beberapa statistik menunjukkan penyakit jantung juga berkurang.
Insiden penyakit jantung di antara pria Advent yang lacto-ovovegetarian hanya 60 persen
setinggi diantara pria California rata-rata, dan usia insiden adalah satu dekade penuh
kemudian."5
Iman Daniel dalam hal ini sangat luar biasa. Dia yakin bahwa hanya dalam 10 hari
Tuhan akan membawa perubahan seperti itu dalam penampilan mereka bahwa hal itu akan
meyakinkan penjenang untuk mengubah diet mereka secara permanen. Hasil dari tes, tentu
saja, membenarkan tawanan Ibrani. Tuhan menghormati iman orang-orang muda itu dan
melakukan mukjizat. Pada akhir 10 hari empat pemuda Ibrani itu tampak lebih baik dan lebih
sehat daripada mereka yang makan dari meja raja.
Allah Menghormati Kesetiaan (Dan. 1:17-21) - Daniel dan teman-temannya unggul
dalam berbagai bidang studi, karena "Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang
berbagai-bagai tulisan dan hikmat" (ayat 17). Ini menggambarkan kebenaran yang abdi Allah
telah katakan kepada Eli bertahun-tahun sebelumnya: "Siapa yang menghormati Aku, akan
Kuhormati" (1 Sam. 2:30). Bahkan ketika orang Babilon memaksa mereka untuk melakukan
proses asimilasi, sumber sejati dari kebijaksanaan mereka bukan dari kurikulum Kasdim,
tetapi dari Allah Israel.

Karunia khusus Daniel adalah kemampuan untuk memahami penglihatan dan mimpi,
seperti yang Yusuf miliki dalam kitab Kejadian. Pada bagian pertama dari kitab Daniel ia
menafsirkan mimpi bagi orang lain, sementara bagian kedua ia sendiri yang menerima
penglihatan dan mimpi. Nabi itu mungkin telah berdoa dengan pemazmur, "Perintah-Mu
membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada
padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatanMu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titahtitah-Mu." (Mzm. 119:98-100).
Pada akhir dari kuliah tiga tahun, para tawanan Ibrani itu tiba pada ujian akhir
mereka. Seperti di universitas Inggris di masa lalu, tes akhir, tampaknya, adalah lisan, bukan
tertulis. Nebukadnezar sendiri yang mengevaluasi mereka, dan ia menemukan Daniel dan
teman-temannya 10 kali lebih baik dari semua siswa lain, maka mereka terpilih untuk
melayani dia (Dan. 1:19). Selanjutnya, ketika ia memiliki kesempatan untuk berkonsultasi
dengan mereka, ia menemukan mereka bahkan lebih baik daripada semua orang berilmu dan
ahli jampi di negerinya (ayat 20).
Sukses dalam tes pertama ini mempersiapkan mereka untuk godaan dan cobaan yang
ada di depan. Bagaimana jika mereka telah gagal? Mereka kemungkinan besar telah
menyerah pada tes yang lebih besar dalam pasal 3 dan 6. Oleh tetap teguh dalam tantangan
pertama mereka, mereka memperoleh pengalaman yang membantu mereka di masa depan.
Aplikasi
Apa yang bisa kita pelajari dari pengalaman empat muda Ibrani ini?
1. Tuhan yang Mengendalikan. Mungkin pelajaran pertama yang kita ambil dari
bab ini adalah bahwa meskipun kelihatannya bertentangan, Tuhan mengendalikan sejarah.
Dari perspektif manusia, Nebukadnezarlah yang menang. Dia menaklukkan Yerusalem,
menjarah Kaabah yang dibangun Salomo, dan memaksa ribuan orang ke dalam pembuangan.
Alkitab, bagaimanapun, membawa kita dibalik layar dan menunjukkan kepada kita bahwa
Tuhan yang memegang kendali sepanjang waktu. Allah itu Mahakuasa dan mengarahkan
dunia dengan pemeliharaan-Nya. Sementara Dia memberi Yerusalem ke tangan
Nebukadnezar (Dan 1:2), dia juga memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk empat
muda Ibrani itu (ayat 17).
2. Ujian Karakter Adalah Kesempatan untuk Bertumbuh. Pada awal
keberadaan mereka di Babel datanglah ujian yang menentukan karakter untuk semua tawanan
Ibrani di istana raja. Sayangnya, sejauh yang kita tahu, hanya empat dari mereka menolak
makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala. Mereka tahu itu bisa mengakibatkan
konsekuensi serius bagi mereka, bahkan hilangnya nyawa, tetapi persetujuan Allah adalah
lebih penting daripada mengikuti raja yang paling kuat di bumi. "Dalam mencapai keputusan
ini, para pemuda Ibrani tidak bertindak terlalu berani, tapi dalam ketergantungan kokoh pada
Allah. Mereka tidak memilih untuk menjadi 'lain', tetapi mereka rela menjadi seperi itu
daripada menghina Allah. Apabila mereka berkompromi dengan kesalahan dalam hal ini oleh
menyerah pada tekanan keadaan, mereka beralih dari prinsip yang akan melemahkan
kepekaan pada kebenara dan kebencian mereka pada kesalahan. Langkah pertama yang salah
akan menuntun kepada kesalahan selanjutnya, sampai, hubungan mereka dengan Surga
terputus, mereka akan tersapu oleh godaan. "6 Sering kita melihat cobaan dan godaan sebagai

mimpi buruk pribadi, namun Tuhan menggunakan itu untuk memberikan pembentukan, arah,
dan karakter untuk hidup kita. Tidak ada mobil, kapal, atau pesawat yang layak digunakan
kecuali telah mengalami pengujian. Hal yang sama berlaku kepada warga kerajaan Allah.
3. Orang Kristen Harus Membela Kepercayaan Mereka. Daniel dan temantemannya menemukan diri mereka jauh dari bayang-bayang Kaabah Yerusalem dan terpaksa
tinggal di negeri asing di mana penyembahan berhala adalah bagian dari kehidupan. Namun
mereka bersedia untuk menolak budaya dominan pada waktu itu. Mereka bersedia untuk
membela apa yang mereka percaya. Sebagai orang Kristen saat ini, kita juga hidup di negeri
asing, dikelilingi oleh budaya yang bermusuhan dengan nilai-nilai Kristen yang paling dasar.
Dewa budaya modern bukanlah Tuhan dalam Alkitab, tetapi dewa diri sendiri. "Kepuasan
pribadi dan realisasi diri sendiri dinilai lebih berharga dari orang lain, lebih berharga dari
masyarakat, apakah masyarakat itu adalah keluarga, gereja, kota, bangsa, atau komunitas
global."7 Semua orang percaya, oleh karena itu, harus bertanya pada diri sendiri, "Siapakah
aku?" atau lebih penting, "Milik siapakah aku ini? Apakah saya milik Tuhan? Dan jika
demikian, bagaimana saya berhubungan dengan budaya di mana saya tinggal? " Yesus
mengutus kita ke dalam dunia (Yohanes 17:18), namun Dia memanggil kita bukan untuk
menjadi dunia (ayat 14), dan Paulus menantang kita untuk tidak "serupa dengan dunia" (Rm.
12:2). Seperti Daniel, setiap orang Kristen harus berinteraksi dengan budaya sekitarnya,
namun mereka juga harus tahu kapan saatnya untuk berdiri menentangnya.
1

J. Braverman, Jeromes Commentary on Daniel: A Study of Comparative Jewish and Christian


Interpretation of the Hebrew Bible, Catholic Biblical Quarterly Monograph Series (Washington, D.C.: Catholic
Bible Association of America, 1978), vol. 7, pp. 67, 68.
2
Louis Ginzberg, The Legends of the Jews (New York: Jewish Publication Society, 1910-1938), vol. 4, p.
326, and vol. 6, p. 415.
3
Ellen G. White, Fundamentals of Christian Education (Nashville: Southern Pub. Assn., 1923), p. 78.
4
White, Prophets and Kings, p. 481.
5
nd
Marian Arlin, The Science of Nutrition, 2 ed. (New York: Macmillan Pub. Co., 1977), p. 96.
6
White, Prophets and Kings, p. 483.
7
Tremper Longman III, Daniel, The NIV Application Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 1999), p
.62.

Bab 2

Patung Nebukadnezar
Mimpi Nebukadnezar mengenai satu patung besar dan penjelasan Daniel menawarkan bukti
mendasar bagi inspirasi dari Kitab Suci. Dalam 184 kata Ibrani Daniel menjelaskan
perjalanan sejarah dari masanya sampai akhir zaman, dan dengan demikian memberikan
penghiburan kepada umat Allah dengan meyakinkan mereka bahwa ketika kerajaan besar
dunia telah menjalankan program mereka kerajaan Mesias akan menggulingkan mereka
semua dan mendirikan kerajaan yang kekal dari Allah.
Informasi
Daniel 2 dibuka dengan teka-teki kronologis. Ayat 1 menyatakan bahwa
Nebukadnezar bermimpi di tahun kedua, sedangkan pasal 1 mengatakan bahwa pelatihan
Daniel dan teman-temannya berlangsung selama tiga tahun (Dan. 1:5). Karena empat
tawanan Ibrani, pada akhir bab ini, dipromosikan ke posisi kepemimpinan, periode
pendidikan mereka tampaknya telah berakhir. Teka-teki dapat diselesaikan jika kita
mengikuti saran E. J. Young bahwa itu dimulai pada tahun kenaikan Nebukadnezar dan
bahwa kita menghitung tiga tahun sesuai dengan prinsip perhitungan inklusif, yang
menganggap bagian dari tahun sebagai satu tahun penuh.1
Tahun-tahun Pelatihan Daniel
Tahun pertama
Tahun kedua
Tahun ketiga

Tahun-tahun Nebukadnezar
Tahun naik takhta
Tahun Pertama
Tahun kedua

Bahasa Aram - Pasal dua memperkenalkan kita dengan bahasa Aram yang digunakan
kitab Daniel dari Daniel 2: 4 sampai akhir bab 7. Di pasal 8 Daniel beralih kembali ke bahasa
Ibrani. Orang Aram dari Suriah utara dan barat laut Mesopotamia berbicara dalam bahasa
Aram, satu bahasa Semitic yang berkaitan erat dengan bahasa Ibrani. Meskipun negara Aram
kehilangan kemerdekaan mereka ketika Asyur menaklukkan wilayah mereka pada abad
kedelapan SM, bahasa Aram itu sendiri perlahan-lahan menyebar ke seluruh Timur Dekat
kuno dan mengganti bahasa Akkadia sebagai bahasa perdagangan dan diplomasi di Babilonia
dan kerajaan Persia.
Mengapa Daniel menulis setengah dari bukunya dalam bahasa Aram dan setengah lainnya
dalam bahasa Ibrani? Kita tahu dia mulai menulis dalam bahasa Aram ketika orang Kasdim
berbicara kepada raja dalam bahasa Aram (Dan. 2:4) Mungkin ia melanjutkan dengan bahasa
Aram sampai ia selesai hari itu. Ketika ia kembali menulis (Dan 8:1), di kemudian hari, ia
kembali ke bahasa Ibrani.
Mimpi-Karena orang-orang di dunia kuno menganggap mimpi sebagai wahyu dari para
dewa, kerajaan di Mesopotamia dan Mesir memiliki penafsir mimpi profesional di istana.
Orang sering tidur di dekat kuil atau tempat suci dengan harapan menerima mimpi dari dewadewa mereka. Mungkin, karena orang-orang Babel keasyikan dengan mimpi, Allah memilih
cara ini untuk berkomunikasi dengan Nebukadnezar.

Kasdim-Aslinya kata tersebut merujuk kepada kelompok suku di Lower Mesopotamia


yang mendirikan Kerajaan Neo-Babilonia. Akhirnya seluruh Babel menerima nama Kasdim
(Yer. 50:10; 51:24). Dalam kitab Daniel nama etnis telah menjadi sebutan bagi konselor
kerajaan yang berfungsi sebagai imam. "Iistilah Kasdim dalam pengertian ini ditemukan
tidak hanya di Daniel tetapi juga dalam karya Herodotus, Strabo, dan Diodorus Siculus, dan
prasasti Palmyrene."2
Empat Logam-Simbol empat logam ada di dunia kuno jauh sebelum zaman Daniel.
Penyair Yunani Hesiod (c. 800 SM) dalam bukunya Pekerjaan dan Hari menggunakan emas,
perak, perunggu, dan besi untuk mewakili era dalam sejarah manusia. Namun, perbedaan
yang signifikan memang ada antara kitab Daniel dan Hesiod: 1. Hesiod menyisipkan Zaman
Pahlawan diantara zaman Perunggu dan Besi. Dengan demikian ia tiba "di lima zaman antara
waktu ketika manusia tidak bersalah dan zamannya sendiri. Emas, perak, perunggu, zaman
pahlawan, besi."3 2. Dalam karya Hesiod kita memiliki urutan lima kerajaan sementara; di
Daniel 2 kerajaan kelima yang kekal mengikuti empat kerajaan dunia. 3. Prediksi Hesiod
tidak mengarah ke klimaks eskatologis, sementara di Daniel 2 segalanya mengarah kepada
hal tersebut.
Beberapa penafsir telah menyimpulkan bahwa Daniel 2 bergantung pada skema Hesiod
mengenai empat kerajaan dunia. G. F. Hasel, bagaimanapun, menunjukkan bahwa
korespondensi antara Hesiod dan Daniel 2 kemungkinan besar mencerminkan tradisi umum
bahwa baik Hesiod dan Allah dalam Daniel 2 "saling menyesuaikan dalam cara mereka
sendiri."4
Penjelasan
Krisis di Istana Nebukadnezar (Dan. 2:1-13) - Merenungkan masa depan kerajaannya
(ayat 1), Nebukadnezar jatuh ke dalam tidur yang bermasalah. Ketika terbangun, ia
memanggil orang-orang berilmu (terjemahan yang lebih baik adalah ahli-ahli atau ilmuwan),
para ahli jampi (penyihir atau pesulap), ahli-ahli sihir (orang-orang yang mempraktekkan
sihir), dan para Kasdim (imam atau orang bijak) dan meminta mereka untuk memberitahu apa
yang dia impikan. Dalam menanggapi permintaan mereka untuk menceritakan mimpi itu
sehingga mereka bisa menafsirkannya, ia mengatakan kepada mereka, "Aku telah mengambil
keputusan, yakni jika kamu tidak memberitahukan kepadaku mimpi itu dengan maknanya,
maka kamu akan dipenggal-penggal" (ayat 5 ). Sementara reaksinya mungkin terdengar
menjijikkan bagi kita saat ini, kekejaman seperti itu biasa di dunia kuno ketika raja
memegang kekuasaan dengan mutlak.
Alkitab King James Version, mengikuti Septuaginta (terjemahan Yunani dari Perjanjian
Lama), menerjemahkan "hal itu hilang dari saya," umumnya dipahami bahwa raja telah
melupakan mimpinya. Terjemahan modern, mengikuti teks Ibrani, menerjemahkan
"keputusan saya tegas." Sementara raja mungkin mengatakan hanya satu atau yang lain,
kedua pernyataan itu mungkin benar. Raja, setelah lupa rincian mimpi, menggunakan fakta
ini untuk menguji para penasihatnya. Jika ia sudah melupakan mimpi itu sepenuhnya, itu
hampir tidak akan mengganggunya. Ellen White memberikan beberapa wawasan ke dalam
situasi ini. "Tuhan dalam pemeliharaan-Nya memiliki tujuan yang bijak dalam pandangan
memberikan Nebukadnezar mimpi ini, dan kemudian menyebabkan dia melupakan hal-hal

yang khusus, tetapi untuk mempertahankan kesan menakutkan yang telah dibuat atas
pikirannya. Tuhan mau untuk menyingkapkan tuntutan orang bijaksana di Babel. "5
Semua orang-orang berilmu, ahli jampi, ahli-ahli sihir, dan para Kasdim harus mengakui
bahwa hanya kekuatan supranatural yang bisa memberitahu raja apa yang dia inginkan.
Dengan demikian, mereka menyiapkan jalan bagi Daniel, yang, sebagaimana cerita
terungkap, meyakinkan raja bahwa Allah Israel adalah satu-satunya yang bisa memenuhi
tantangan raja.
Krisis di Rumah Daniel (Dan. 2:14-23) - Fakta bahwa raja tidak memanggil Daniel dan
teman-temannya menunjukkan status junior mereka di pengadilan pada waktu itu. Namun
demikian, keputusan kematian termasuk mereka juga. Berulang kali sepanjang kitab Daniel
kematian mengancam umat Allah. Ini memiliki relevansi khusus untuk orang-orang percaya
yang hidup di akhir zaman, karena mereka akan menghadapi ancaman kematian dari Wahyu
13:13-18.
Ketika Ariokh, algojo kerajaan, berdiri di pintu Daniel, empat pemuda Ibrani menghadapi
krisis penting-kematian sudah di depan mata mereka. Tanggapan Daniel kepada Ariokh
adalah contoh bagaimana anak-anak Tuhan harus bereaksi terhadap krisis apapun. Dia tetap
tenang dan menunjukkan kearifan dan kebijaksanaan. Selain itu, ia menunjukkan keberanian
yang besar dan iman. Allah, yang telah mewujudkan kuasa-Nya pada awal pelatihan mereka,
tidak akan meninggalkan mereka sekarang. Dengan bantuan Tuhan dan keterampilan
diplomatiknya sendiri, Daniel berhasil mendapatkan penangguhan hukuman sementara dan
mengatur pertemuan dengan raja. Nebukadnezar jelas senang untuk memberikan penundaan
eksekusi, karena dia sangat ingin belajar arti dari mimpi yang Daniel berjanji untuk berikan
(Dan. 2:16).
Sesudah wawancaranya dengan raja, Daniel pulang ke rumah untuk mengadakan doa
berjaga dengan teman-temannya. Perhatikan bagaimana Daniel memulai doanya dengan
"Diberkatilah nama Allah" (ayat 20). Dalam Perjanjian Lama orang-orang sering diberkati
Tuhan (Hakim 5: 9; Neh. 9:5; Mzm. 103:1; 134:1). Kata Aram dan Ibrani untuk
"memberkati" juga dapat diterjemahkan sebagai "pujian," dan inilah makna dari Daniel 2:19,
20. Doa yang tulus dari orang-orang muda ini untuk pertolongan Allah menerima jawaban
hampir segera. Dalam satu penglihatan malam Daniel melihat tidak hanya apa yang
Nebukadnezar telah lihat, tetapi juga apa arti mimpi itu. Sebelum bergegas ke istana, Daniel
memanggil teman-temannya untuk satu pertemuan pujian dan ucapan syukur. Berbeda
dengan astrologi fatalistik orang Kasdim, pujian Daniel menekankan bahwa pikiran ilahi
mengontrol sejarah. "Dia memecat raja dan mengangkat raja" (ayat 21).
Mimpi Nebukadnezar (Dan. 2:24-35) - Sesudah memuji Tuhan di rumahnya, sang nabi
pertama menunjukkan kepedulian terhadap konselor kerajaan di Babel. Dia meminta Ariokh
untuk menyayangkan nyawa mereka (ayat 24), satu kesaksian kepada karakter altruistik
Daniel yang mengutamakan orang lain. Meskipun baru saja menerima informasi mengenai
mimpi Nebukadnezar, dan bersemangat untuk memberitahu raja, ia tidak begitu sibuk dengan
masa depannya sendiri sehingga tidak memikirkan orang lain.
Kemudian, saat ia berdiri di hadapan raja, ia berani memberitahu Nebukadnezar bahwa
tidak ada manusia yang bisa mengetahui apa mimpi raja (ayat 27), tetapi Allah yang di sorga
bisa mengungkapkan rahasia tersebut. Babel menyembah bintang di langit sebagai wakil dari
dewa-dewa mereka. Daniel menjelaskan kepada raja bahwa Allah orang Ibrani adalah

Pencipta dan penguasa alam semesta, dan bahwa Dia telah mengungkapkan kepadanya
mimpi dan interpretasinya.
Tujuan dari mimpi itu, Daniel mengatakan, adalah untuk menginformasikan raja apa yang
akan terjadi "pada hari-hari yang akan datang" (ayat 28). Ungkapan "hari-hari terakhir"
muncul lagi di Daniel 10:14, di mana malaikat memberitahu sang nabi bahwa ia telah datang
untuk membuatnya mengerti apa yang akan terjadi kepada umat-Nya di akhir zaman. Sebuah
studi dari ekspresi ini di luar kitab Daniel menunjukkan bahwa "hari terakhir" dapat merujuk
ke berbagai periode waktu dalam sejarah. Dalam Kejadian 49: 1, tempat pertama frase ini
muncul, Yakub di akhir hidupnya melihat ke masa depan dan di bawah inspirasi kenabian
memprediksi perkembangan besar dalam sejarah anak-anaknya dan keturunan mereka. "Hari
terakhir" dalam teks ini, oleh karena itu, menunjuk pada keseluruhan rentang waktu dari
penaklukan Kanaan sampai kepada tampilnya Mesias.
Musa menyatakan dalam Ulangan 31:29 bahwa setelah kematiannya orang Israel akan
menjadi benar-benar korup dan bahwa kejahatan akan menimpa mereka di "hari-hari
terakhir," nubuat terpenuhi dalam zaman para hakim (Hakim-hakim 2:11-16) dan zaman rajaraja (Yer 7:28-34), ketika Israel berulang kali murtad dalam skala besar. Oleh karena itu
"hari-hari terakhir" dalam teks ini mengacu pada periode hakim-hakim dan raja-raja. Yeremia
23:20 dan 30:24 menerapkan "hari terakhir" kepada jatuhnya Yerusalem pada tahun 586 SM.
Yeremia 48:47 dan 49:39 menunjuk kepada pemulihan Persia. Ayat-ayat lainnya, khusunya
Yesaya 2:2, Mikha 4:1, dan Hosea 3:5, mempertimbangkan waktu kerajaan mesianis sebagai
"hari-hari terakhir." Dengan demikian, konteksnya harus memutuskan dalam setiap kasus apa
era tertentu yang istilah tersebut maksudkan. Sebuah terjemahan yang lebih baik daripada
"hari terakhir" adalah "di masa depan" atau "di hari-hari mendatang," seperti RSV, NEB, dan
NIV telah lakukan. Dalam Daniel 2:28 "hari-hari terakhir," Oleh karena itu, mengacu pada
"masa depan yang dimulai pada zaman Daniel dan mencapai kepada waktu kedatangan
Kristus yang kedua kali, dilambangkan dengan kerajaan batu."6
Gambaran patung besar yang Nebukadnezar lihat dalam mimpinya menyebutkan logam
yang membentuk tiap-tiap bagian dari patung-kepala emas, dada dan lengan dari perak, perut
dan pinggang dari tembaga, paha dari besi dengan kakinya besi bercampur dengan tanah liattetapi penekanannya adalah pada batu, terungkit lepas dari gunung, dan efeknya pada patung.
Dengan kekuatan yang luar biasa itu meremukkan dan menghancurkan patung itu sampai
menjadi debu, kemudian batu itu memenuhi seluruh bumi.
Dengan keahlian dan pemilihan kata-kata yang hebat Daniel menggambarkan mimpi
tersebut. "Tidak ada kata berlebihan dalam seluruh gambaran dan penjelasan Daniel. Ini
adalah mahakarya lukisan kata-kata yang ringkas dan tajam."7 Daniel tidak pernah berhenti
dan bertanya, "Apakah saya benar, Raja Nebukadnezar? Apakah ini yang Anda lihat?"
Suaranya berdering dengan keyakinan seorang pria yang telah berhubungan dengan Allah. Ia
telah mendengar suara Tuhan, dan sekarang ia berbicara dengan otoritas.
Mimpi Ditafsirkan (Dan. 2:36-45) - Raja Nebukadnezar pasti gembira ketika ia
mendengar Daniel menceritakan mimpinya. Sekarang dia ingin mendengar maknanya.
Sementara Daniel menunjuk raja dengan istilah "raja segala raja," ia tidak berusaha untuk
menjilat raja. Dalam bahasa sederhana ia mengatakan kepada raja bahwa posisinya di atas
takhta bukan disebabkan oleh kekuasaan dan keterampilan sendiri, tetapi dari Allah di surga

yang menempatkan dia di sana (ayat 37, 38). Kemudian ia melanjutkan untuk menafsirkan
mimpi itu:

Kepala Emas
Babel
626-539 SM
Dada Perak
Media-Persia
539-331 SM
Perut dan Pinggang dari Tembaga
Yunani
331-168 SM
Paha dari Besi
Roma
168 SM- 476 M
Kaki dari Besi dan Tanah Liat
Eropa yang Terbagi
476 M - Kedatangan Kristus Kedua Kali
Gambar dari Daniel 2
1. "Tuankulah kepala yang dari emas itu" (ayat 38). Nebukadnezar mewakili
Kekaisaran Babilonia. Kitab Daniel menggunakan raja dan kerajaan secara bergantian. Pada
zaman Nebukadnezar Babel adalah kota terbesar dan terkaya di dunia. Kitab Suci, oleh
karena itu, menyebutnya "kota emas" (Yes. 14:4; lihat juga Yer. 51:7; Why. 18:16).
Sejarah Babel adalah kisah tentang konflik besar antara Kristus dan Setan. Perlawanan
nasional pertama kepada Allah dicatat dalam Alkitab berasal dari Babel (Kej 11), dan dalam
buku terakhir dari Alkitab Babel berdiri sebagai simbol perlawanan terhadap Kristus (Wahyu
14: 8; 16:19; 17: 5) . Sejarah Babel adalah seperti kebalikan dari Taman Eden. Juga memiliki
sungai besar mengalir melaluinya, dan dunia kuno memperhitungkan Taman Gantung Babel
sebagai salah satu keajaiban dunia. Pada kepalanya berdiri sebuah monarki absolut dengan
kekuasaan atas hidup dan mati, meskipun berbeda dengan Tuhan, raja Babel menggunakan
kekuasaannya secara tak terduga.
Babel, dibangun oleh Nimrod (Kej 10:10), memiliki tiga periode kejayaan: (1) di bawah
Sargon dari Akkad (2300 SM), ketika menjadi kekaisaran dunia pertama dalam sejarah; (2) di
bawah Hammurabi (1729-1686 SM, terkenal dengan Codex Hammurabi, dan (3) di bawah
Nabopolassar (626-605 SM) dan putranya Nebukadnezar (605-562 SM), yang membuat
Babel menjadi salah satu kota yang paling megah di dunia kuno. Menurut Herodotus,
pembangun Babel menggunakan kelimpahan emas untuk memperindah kota.

"Dalam kuil Babel ada kuil kedua lebih rendah ke bawah, di mana merupakan sosok Bel
besar yang sedang duduk, semua terbuat dari emas di singgasana emas, didukung pada dasar
emas, dengan meja emas berdiri di sampingnya. Saya diberitahu oleh Kasdim itu bahwa,
untuk membuat semua ini, lebih dari dua puluh dua ton emas yang digunakan. ... Pada masa
Koresh ada juga di bangunan suci ini patung manusia terbuat dari emas padat sekitar lima
belas kaki tingginya - saya memiliki ini pada otoritas orang Kasdim, meskipun aku tidak
pernah melihat sendiri."8
2. "Kerajaan lain yang kurang besar... (Dan. 2:39). Media-Persia dan Yunani hanya
menerima penjelasan singkat. Daniel terutama berkaitan dengan yang pertama dan terakhir
kerajaan. Media-Persia (539-331 SM) tidak kalah dalam ukuran ataupun panjang
pemerintahannya, tapi itu jelas kalah dengan Babel dalam kemewahan, kemegahan, dan
kompleksitas peradaban. Referensi perak menyinggung fakta bahwa orang Persia
menggunakan perak dalam sistem perpajakan mereka. Setiap gubernur membayar upeti
dengan talenta perak, kecuali gubernur India, yang terkaya dari semua, membayar dengan
emas.9
3. "Kerajaan yang ketiga dari tembaga" (ayat 39). Kerajaan ketiga adalah Yunani (331-168
SM). Alexander Agung menaklukkan Media-Persia (336-323 SM). Orang Yunani biasanya
menggunakan perunggu dalam perdagangan (Yeh. 27:13) dan peperangan. Tentara Yunani
terkenal karena baju besi perunggu mereka. Helm mereka, perisai, dan kapak-perang terdiri
dari kuningan. Herodotus mengatakan bahwa Psammetichus I dari Mesir melihat perompak
Yunani yang menyerang sebagai penggenapan dari nubuatan yang meramalkan "orang-orang
tembaga yang datang dari laut."10
4. "Kerajaan keempat yang keras seperti besi" (Dan. 2:40). Kerajaan keempat adalah
Kekaisaran Romawi (168 SM - 476 M). Sebagaimana pengrajin dapat menggunakan palu
besi untuk mengerjakan emas, perak, dan tembaga, begitu juga, prediksi nubuatan, kerajaan
keempat akan lebih kuat daripada semua pendahulunya. Dari sejarah kita tahu bahwa legiun
besi dari Roma menghancurkan dan meremukkan semua perlawanan. Roma menaklukkan
semua kerajaan Helenistik. Yang pertama jatuh adalah Makedonia di 168 SM. Pada tahun itu
jenderal Romawi Paulus mengalahkan Perseus, raja Makedonia, di Pydna, dan ketika di 30
SM Cleopatra, ratu Mesir, bunuh diri, yang terakhir dari kerajaan Helenistik menjadi provinsi
Romawi. Roma memerintah lebih luas dari semua wilayah kerajaan sebelumnya. Dan tiga
sebelumnya kerajaan telah masing-masing diperintah sekitar 200 tahun atau kurang,
Kekaisaran Romawi berlangsung selama lebih dari 600 tahun. Dia mengalahkan bagian dari
dunia kuno satu per satu dan mendirikan sebuah sistem pemerintahan di seluruh provinsinya
yang yang menjadi model bagi negara-negara Eropa berabad-abad kemudian.
5. "Kaki dan jari-jarinya, sebagian dari tanah liat tukang periuk dan sebagian lagi dari besi"
(ayat 41). Bagian terakhir dari patung menerima perhatian yang besar (ayat 41-43).
Simbolisme dalam ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kerajaan besi Roma akan mengalami
pembagian dan kerusakan, tetapi bahwa bentuk lemah dan berubah dari kerajaan keempat
akan terus berlanjut dan menjembatani kesenjangan antara kerajaan keempat dan kerajaan
batu universal. Dalam sejarah kita melihat bagaimana berbagai kekuatan membagi, dan
mengubah Kekaisaran Romawi selama beberapa abad. Dari unit politik terkuat dan paling
terpadu di dunia, Roma menjadi yang paling lemah dan paling terbagi. Pada 476 M Odoacer,
pemimpin tentara bayaran Jerman di wilayah Roma, telah menggulingkan kaisar Romawi

terakhir, Romulus Augustus. Dalam tahun-tahun berikutnya, suku Jerman yang turun ke atas
Kekaisaran Romawi dari utara mengambil daerah barat Kekaisaran Romawi. Meskipun
Kekaisaran Romawi timur terus berlanjut selama beberapa abad, itu juga ditaklukkan dan
terbagi. Dan keluar dari reruntuhan kerajaan yang pernah begitu perkasa muncul banyak
negara-negara Eropa, beberapa kuat, beberapa lemah, membentang dari Laut Hitam sampai
ke lautan Atlantik.
Teks mengatakan bahwa upaya untuk menyatukan berbagai bangsa "dengan benih
manusia" akan muncul, namun mereka tidak akan terus bersama-sama (ayat 43). Berbaur
dengan benih manusia menyinggung perkawinan antara penguasa yang berbeda dari Eropa.
Di antara berbagai rumah kerajaan, Hapsburgs dikenal untuk moto mereka: "Bella gerant alii,
tu felix Austria nube [lain mungkin pergi berperang, anda, Austria bahagia, menikah]."
Mereka memperoleh banyak wilayah melalui pernikahan politik.
Pada awal abad yang lalu rumah-rumah kerajaan Eropa, melalui perkawinan, semua
berhubungan erat satu sama lain. George H. Merritt pada 1914 menulis bahwa "Eropa
berperang hampir dapat disamakan dengan pertengkaran keluarga besar. Rumah-rumah
kerajaan, terutama negara-negara yang paling vital prihatin dengan perang, praktis semua dari
keturunan Jerman yang sama, dan hampir satu darah. Ada begitu banyak perkawinan antara
rumah-rumah ini bahwa darah Jerman mendominasi setiap tahta Eropa dengan pengecualian
dari dua kerajaan kecil Serbia dan Montenegro."11
Meskipun adanya perkawinan dan perjanjian politik, namun, tidak ada yang berhasil dan
secara permanen menyatukan Eropa lagi sejak zaman Kekaisaran Romawi, meskipun banyak
telah mencoba hal itu, misalnya, Charlemagne, Charles V dari Spanyol, Napoleon, dan Hitler.
Semua mereka telah gagal. Akankah Pasar Bersama Eropa dan konsep mata uang tunggal
meniadakan gambar ini? Tidak! Meskipun negara-negara ini dapat mengadakan perjanjian
untuk memfasilitasi pertukaran dan perdagangan, namun masing-masing dari mereka akan
tetap menjadi entitas budaya, bahasa, dan wilayah yang terpisah. Inspirasi memberitahu kita
bahwa "kita tidak perlu, dan tidak bisa, berharap persatuan antara bangsa-bangsa di bumi.
Posisi kita di patung Nebukadnezar diwakili oleh jari-jari kaki, dalam keadaan terbagi, dan
dari bahan runtuh, yang tidak akan terus bersama-sama."12
Elemen terakhir dalam penglihatan Nebukadnezar adalah batu "terungkit lepas... tanpa
perbuatan tangan manusia" (ayat 45). Menurut Alkitab, batu itu melambangkan Yesus Kristus
(1 Kor. 10:4; Yes. 28:16; Luk. 20:17, 18), dan fakta bahwa itu menghantam kaki dan jari kaki
dari patung, dan bukan kepala, tubuh, atau lengan, menunjukkan bahwa hantaman itu
merupakan kedatangan Yesus kedua kali di akhir zaman. "Pada zaman raja-raja" (Dan. 2:44)
mengacu pada banyak negara Eropa yang muncul dari Kekaisaran Romawi dan yang masih
ada saat ini. Kerajaan kelima dari penglihatan adalah kerajaan terakhir bumi: itu "tidak akan
binasa sampai selama-lamanya, itu akan tetap untuk selama-lamanya..." (Ayat 44).
Respons Raja (Dan. 2:46-49) - Pada akhir penjelasannya Daniel telah meyakinkan raja
bahwa mimpinya memang berasal dari sumber supranatural. Ia mengakui Allah Daniel
sebagai penguasa alam semesta. Selanjutnya, raja melihat tempatnya sendiri dalam sejarah
dunia, dan ia mengerti bahwa otoritasnya berada di bawah kendali Allah yang telah diberikan
kepadanya (ayat 37, 47).
Teks mengatakan bahwa raja membuat Daniel menjadi penguasa (ayat 48). Namun pada
saat kemenangannya Daniel tidak melupakan mereka yang telah bergabung dalam doa

dengan dia. Begitu posisinya diputuskan, ia meminta raja untuk menunjuk ketiga temannya
untuk mengelola urusan provinsi yang Nebukadnezar telah buat Daniel menjadi penguasa. Di
permukaan permintaan ini tampaknya cukup sederhana, tapi kita harus ingat bahwa
kemungkinan besar orang Babel asli harus menyerahkan posisi mereka untuk memberikan
ruang bagi orang-orang Yahudi yang tidak dikenal ini. Di dalam pemeliharaan Allah,
keempat sahabat doa Daniel merasakan juga promosi yang sama. Berbeda dengan juru
minuman dalam cerita Yusuf (Kej 40:23), Daniel tidak melupakan teman-temannya.
Aplikasi
Sementara Daniel 2 mengajarkan kita banyak tentang peran Allah dalam sejarah dunia,
juga mengandung banyak pelajaran rohani untuk hari ini:
1. Kekuatan dari Doa Bersama-Ketika Daniel pulang dari kunjungannya ke istana raja,
di mana ia telah menerima penangguhan hukuman sementara, ia mengundang temantemannya untuk bergabung dengannya dalam doa. Banyak tangan lebih baik, tidak hanya
ketika pekerjaan harus dilakukan, tetapi juga dalam doa. "Jika dua orang dari padamu di
dunia ini sepakat meminta apa pun juga," Yesus berkata, "permintaan mereka itu akan
dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga" (Mat. 18:19). "Kristus di sini menunjukkan bahwa
harus ada persatuan dengan orang lain, bahkan dalam keinginan kita untuk objek tertentu.
Besar pentingnya melekat pada doa bersama, persatuan tujuan."13 Sepanjang Alkitab kita
menemukan kebenaran dari kata-kata ini. Esther meminta pelayan dan semua orang Yahudi
di Susan untuk berpuasa dan berdoa dengan dia sebelum dia pergi untuk melihat raja (Ester
4:16). Yesus meminta para murid-Nya untuk berjaga dan berdoa dengan-Nya di Taman
Getsemani (Mat. 26:41). Sebelum pencurahan Roh Kudus para murid bersatu dalam doa (Kis
1:14), dan pembebasan Petrus dari penjara terjadi sebagai jawaban doa bersatu gereja mulamula (Kis 12: 5).
2. Kekuatan dari Doa Sungguh-sungguh - Doa para pemuda Ibrani menyangkut
masalah hidup dan mati sebagaimana mereka meminta itu dalam iman (Yakobus 1: 6),
tunduk pada kehendak Allah, dan dari motif yang benar. Mereka berdoa agar Tuhan mungkin
menyelamatkan nyawa manusia dan bahwa nama-Nya dimuliakan. Dan Allah mendengar dan
menjawab doa mereka, karena "doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar
kuasanya" (Yakobus 5:16).
3. Berkat-berkat dari Doa - Doa empat Ibrani muda menyelamatkan tidak hanya
kehidupan mereka sendiri, tetapi juga orang-orang berilmu, ahli jampi, ahli-ahli sihir, dan
para Kasdim di Babel. Dan itu membawa ketenangan pikiran kepada raja yang bermasalah.
Doa dan kehadiran orang-orang saleh sering membawa berkah besar bagi orang lain, bahkan
orang-orang kafir. Misalnya, Tuhan memberkati rumah tangga Potifar karena kehadiran
Yusuf di tengah-tengahnya (Kejadian 39: 5), dan ketika badai ganas mengaramkan kapal
Romawi di pantai Malta, tak seorangpun tewas, karena rasul Paulus berada di atas kapal (Kis
27:24).
4. Nilai dari Nubuatan - Daniel 2 adalah salah satu nubuatan terbesar dalam Alkitab.
Terlepas dari meramalkan masa depan, nubuatan berusaha untuk mendidik dan menenangkan
orang percaya (1 Kor. 14:3). Nubuatan ilahi menunjukkan bahwa dunia kita adalah kapal di
bawah kontrol, bukannya seperti gunung es terapung. Ini meyakinkan kita bahwa kita tidak
sendirian di alam semesta, dan bahwa Allah di surga memelihara setiap orang. Daniel 2 juga

mengajarkan bahwa segala sesuatu dan semua orang di bumi ini akhirnya akan binasa kecuali
yang berhubungan dengan Allah. Kita semua dalam perjalanan menuju ketiadaan kekal
kecuali kita memegang tangan Tuhan.
1

E. J. Young, The Prophecy of Daniel (Grand Rapids: Eerdmans Pub., 1977), p. 56.
The Seventh-day Adventist Bible Dictionary (Washington, D.C.: Review and Herald Pub. Assn., 1979),

p. 198.

Joyce G. Baldwin, Daniel, Tyndale Old Testament Commentary (Downers Grove, Ill.: InterVarsity
Press, 1978), p. 97.
4
Gerhard F. Hasel, The Four World Empires of Daniel 2 Against Its Near Eastern Environment,
Journal for the Study of the Old Testament 12 (1979): 20. We have a similar situation in the case of the Mosaic
laws. God adapted many of them from already-existing laws in Mesopotamia, e.g., from Hammurabis law
code. See I. M. Price, O. R. Sellers, and E. L. Carlson, The Monuments and the Old Testament (Chicago: Judson
Press, 1958), pp. 187-195.
5
Ellen G. White, in Youths Instructor, Sept. 1, 1903.
6
Gerhard Pfandl, Daniels Time of the End, Journal of the Adventist Theological Society 7, no. 1
(1996): 151.
7
H. C. Leupold, Exposition of Daniel (Grand Rapids: Baker Book House, 1949), pp. 110, 111.
8
Herodotus 1. 183, in Loeb Classical Library, vol. 1, p. 227.
9
Herodotus 3. 94, in Loeb Classical Library, vol. 2, p. 123.
10
Herodotus 2. 152, in Loeb Classical Library, vol. 1, pp. 463-465.
11
George H. Merritt, The Royal Relatives of Europe, in The Worlds Work, May-October 1914, p. 594.
12
Ellen G. White, Testimonies for the Church (Mountain View, Calif.: Pacific Press Pub. Assn., 1948),
vol. 1, p. 361.
13
Ibid., vol. 3, p. 429.

Bab 3

Perapian yang Menyala-nyala


Kisah konfrontasi antara tiga tawanan Ibrani dan Raja Nebukadnezar mengingatkan kita pada
pertempuran antara Daud dan Goliat. Dalam kedua kasus kemungkinan yang sangat besar
untuk menang adalah orang kafir. Perjuangan yang mengadu kekuatan manusia melawan
iman, dan iman tampaknya akan kalah, tetapi dalam kedua kasus itu iman menang. Rahasia
keselamatan ketiga pemuda Ibrani dalam dapur api adalah kehadiran Immanuel (Allah
beserta kita) di tengah-tengah mereka. Dia pergi dengan mereka ke dalam perapian yang
menyala-nyala, tidak hanya untuk menghormati iman mereka, tetapi untuk menunjukkan
kepada para pemimpin Kekaisaran Babilonia kemahakuasaan Allah Yerusalem.
Informasi
Patung kuno - Adalah praktek umum di Timur Dekat kuno bagi raja-raja untuk mengatur
patung mereka sendiri dengan prasasti menyanjung di provinsi dan wilayah yang telah
mereka taklukkan sebagai simbol kekuasaan mereka. Museum-museum menampilkan
patung-patung Mesir dan Asyur yang besar. Laporan kuno menunjukkan bahwa ada banyak
patung-patung lain. Sejarawan Yunani Diodorus (abad pertama SM) menyebutkan sosok
Zeus 40 kaki tingginya, dan raksasa di Rhodes pada 105 kaki (70 hasta) lebih tinggi dari
patung Nebukadnezar.1
Dataran Dura-Istilah dur berarti "dinding" atau "benteng," huruf a pada akhir kata
menjadi artikel bahasa Aram. Para penafsir menyukai salah satu dari dua tempat untuk
dataran Dura. Yang pertama terletak sekitar enam mil sebelah selatan dari Babel kuno, di
mana serangkaian gundukan masih menggunakan nama Arab Tulul Dura (gundukan Dura).
Para arkeolog menemukan ada panggung sekitar 20 kaki tingginya dan 45 kaki persegi yang
mungkin saja adalah dasar untuk patung itu.
Tempat kedua diperkirakan berada diantara dua dinding besar yang mengitari kota Babel.
Penggalian telah mengungkapkan bahwa kota bagian dalam, yang Nebukadnezar warisi,
hampir berbentuk persegi, dengan dinding sekitar satu mil panjangnya di setiap sisi. Isinya
istana, gedung administrasi, kompleks kuil yang disebut Esaglia, serta banyak tempat tinggal
lainnya. Nebukadnezar membangun sebuah istana baru di sebelah utara kota di tepi sungai
Efrat dan menambahkan satu dinding luar yang besar beberapa mil panjangnya untuk
menutupi kota yang diperluas dan istana musim panasnya yang baru. "Di zaman
Nebukadnezar, insinyur dan pembangun Babilonia belum mengisi daerah ini antara dinding
dalam dan luar dengan bangunan, meskipun konstruksi sedang berlangsung. Daerah terbuka
berfungsi sebagai tanah parade untuk tentara dan tempat dalam tembok kota di mana pasukan
bisa berkemah. Ruang terbuka yang besar diantara dua dinding ini bisa disebut 'dataran
dinding,' atau 'dataran Dura.' Dalam semua kemungkinan ini adalah tempat di mana peristiwa
pasal 3 berlangsung."2
Tanggal Patung Emas-Alkitab Ibrani tidak memberikan tanggal untuk peristiwa di Daniel
3. Versi Yunani (Septuaginta) dan Suryani (Peshitta) dari Perjanjian Lama menambahkan
pada awal ayat 1 "Pada tahun kedelapan belas dari Nebukadnezar," yang akan menjadi 587
SM, satu tahun sebelum jatuhnya Yerusalem. Tanggal ini, bagaimanapun, adalah terlambat,

karena pengepungan kota yang mendahului penangkapannya berlangsung selama lebih dari
satu tahun (2 Raja-raja 25:1-8).
Sebuah tanggal yang lebih mungkin bisa saja pemberontakan di 595/594 di mana, menurut
Sejarah Babel, raja "membunuh banyak tentaranya sendiri."3 Dedikasi patung akan
memungkinkan semua pejabat raja untuk menunjukkan kesetiaan mereka kepadanya di depan
umum. Itu cara Nebukadnezar untuk memperkuat kendali atas berbagai unsur kerajaannya
yang luas.
Menurut Yeremia 51:59 Zedekia di tahun keempatnya melakukan perjalanan ke Babel,
mungkin untuk menanggapi panggilan Nebukadnezar seperti yang disebutkan dalam Daniel
3: 2.
Penjelasan
Patung Emas Nebukadnezar (Dan. 3:1-7) - Periode pemerintahan Nebukadnezar adalah
zaman keemasan untuk Babel. Pemerintahannya merupakan puncak kekuasaan dan
kemuliaan Babel. Dalam mimpi luar biasa dalam pasal 2 ia melihat kerajaannya sebagai
kepala emas dari patung. Di sini, di bab ini kita menemukan dia membuat seluruh patung dari
emas. Sejarawan Yunani Herodotus (abad kelima SM) melaporkan bahwa pada zaman
Koresh informan lokal mengatakan kepadanya bahwa "masih ada di tanah suci ini patung
emas dari emas padat dua belas hasta [18 kaki] tingginya."4 Patung Nebukadnezar,
bagaimanapun, adalah 60 hasta (90 kaki) tingginya dan enam hasta (9 kaki) lebarnya (Dan.
3:1). Kemungkinan besar itu terdiri dari kayu ditutupi dengan daun emas. Ukuran yang
diberikan dalam teks menghasilkan gambaran yang agak aneh, terlalu tipis untuk tingginya.
Oleh karena itu banyak penafsir menganggap bahwa 60 hasta termasuk dasar atau alas yang
tinggi.
Mengapa Nebukadnezar mendirikan patung ini? Untuk satu waktu setelah penglihatan
Daniel 2, tampaknya, takut akan Allah terus mempengaruhi dia. Namun, "kemakmuran dalam
pemerintahannya mengisi dia dengan kesombongan," dan ia "kembali menyembah berhala
dengan semangat dan fanatisme yang meningkat."5 Patung emas itu kemungkinan besar
mencerminkan mimpi-patung yang Nebukadnezar telah lihat, tapi ia bertekad bahwa
patungnya harus sepenuhnya emas-simbol kerajaan Babel yang akan berdiri selamanya.
Tuntutan Kepada para Pemuda Ibrani(Dan. 3:8-12) - Ketika musik terdengar dan
semua orang sujud menyembah patung emas, tiga pemuda Ibrani, yang menolak untuk
tunduk, tetap berdiri teguh. "Sujud dan sembah patung emas itu," perintah Nebukadnezar.
Tapi Allah mereka telah memerintahkan "Jangan sujud menyembah kepadanya atau
beribadah kepadanya" (lihat Kel. 20:4, 5). Mungkin beberapa orang di samping mereka
mendesak mereka untuk mematuhi. "Apa kau tidak mendengar musik? Sujud atau kau mati."
Tapi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tetap berdiri, tiga sosok di tengah-tengah lautan
penyembah berhala. Daniel pasti ada di tempat lain, atau dia akan berdiri dengan temantemannya. Upacara dedikasi mewakili suatu tindakan ibadah kepada kekuatan dan kebesaran
Nebukadnezar, dan ini tiga pemuda Ibrani ini menolak untuk melakukannya. Kita catat di sini
adanya hubungan yang erat antara negara dan agama. Persatuan semacam ini sebenarnya
telah menandai sebagian besar negara sepanjang sejarah. Pemisahan gereja dan negara seperti
yang kita kenal sekarang adalah fenomena yang lumayan baru.

Konfrontasi (Dan. 3:13-18) -Dalam begitu luasnya kerumunan orang raja mungkin tidak
bisa melihat bahwa tiga orang masih berdiri, jadi beberapa orang Kasdim memberitahukan
kepadanya. Orang-orang ini iri dengan penghargaan yang diberikan pada teman-teman Daniel
(lihat Dan. 2), dan mereka dengan senang hati mengambil kesempatan untuk melaporkan
mereka kepada raja. Melupakan bahwa mereka berutang hidup mereka untuk orang-orang
muda itu, mereka menyalahkan raja karena menempatkan tawanan di posisi tinggi seperti itu
dan dengan demikian mengundang pembangkangan.
Ketika tentara raja membawa Sadrakh, Mesakh, dan Abednego ke hadapan raja, ia kagum.
"Apakah itu benar?" dia bertanya (Dan. 3:14). Rupanya ia merasa sulit untuk percaya bahwa
tiga dari administrator top di kerajaannya akan menolak untuk mematuhi perintahnya. Masih
ingin menyelamatkan mereka, meskipun ia harus melakukannya dengan cara yang membela
kehormatannya. Jadi ia menawarkan mereka kesempatan lain: "Sekarang jika kalian siap..
Namun, jika mereka terus tidak taat, dapur api akan menjadi nasib mereka. Untuk
memastikan mereka mengerti yang dimaksudkannya itu, ia menambahkan tantangan untuk
Allah mereka. "Dan siapa Allah yang akan melepaskan kamu dari tanganku?" Nebukadnezar
tahu dari pengalaman bahwa ada Tuhan yang bisa mengungkapkan rahasia (Dan. 2), tapi
tampaknya ia tidak percaya bahwa Allah ini juga bisa menyelamatkan orang Ibrani ini dari
dapur api.
Jawaban dari tiga tawanan ini terus diingat sepanjang sejarah. "Tidak ada gunanya kami
memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup
melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan
dari dalam tangunmu, ya raja; tetapi sendainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja,
bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang
tuanku dirikan itu." Mereka tidak ragu bahwa Tuhan bisa menyelamatkan mereka jika
melayani tujuan-Nya, tapi pertanyaannya adalah Akankah Dia menyelamatkan mereka?
Namun, mereka telah menetapkan pikiran mereka. Bahkan jika Tuhan tidak campur tangan,
mereka tidak akan berkompromi dengan iman mereka, tapi akan tetap taat kepada Firman
Tuhan. Betapa mudahnya bagi mereka untuk merasionalisasi. "Jika kita sujud, kami akan
hidup dan akan terus menduduki posisi di pemerintahan, yang berarti kita akan dapat
membantu bangsa kita ketika mereka membutuhkannya." Atau: "Kita bisa sujud dan berdoa
kepada Tuhan untuk mengampuni kita." Namun, tidak ada dalam teks menunjukkan bahwa
pemuda Ibrani ini memikirkan hal-hal seperti ini. Sebaliknya mereka tetap teguh berdiri pada
pendirian mereka. Sikap mereka telah mengilhami umat Allah sejak itu.
Pada saat Perang Korea, pasukan Komunis menyerbu sebuah desa di Korea. Di sana
mereka menemukan seorang pemuda yang, terlepas dari perintah mereka yang bertentangan,
terus bersaksi bagi Kristus. Bertekad untuk membuat dia menjadi contoh umum, Komunis
memerintahkan seluruh desa untuk tampil di alun-alun kota. Salah satu petugas memimpin
pemuda Kristen itu di depan orang banyak, menodongkan pistol ke kepalanya, dan berteriak,
"Cela Yesus Kristus atau mati!" Ketika pemuda itu melihat beberapa orang yang telah dia
pimpin kepada Kristus dalam kerumunan, ia mengangkat kepalanya dan berseru, "Saya
percaya kepada Yesus Kristus; Saya percaya..." Crack! Tembakan pistol mengakhiri
hidupnya. Dia dan banyak orang lain seperti dia mencerminkan keberanian dan iman
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.6

Diselamatkan dalam Api (Dan. 3:19-25) Kata-kata para pemuda tersebut membuat raja
geram. Ia memerintahkan beberapa "orang kuat" untuk memanaskan tungku "tujuh kali lipat,"
yaitu, memanaskan itu sepenuhnya, dan kemudian melemparkan ketiga pemuda Ibrani ke
dalam api.
Dapur api itu mungkin adalah tempat pembakaran batu bata menggunakan jerami
dicampur dengan minyak mentah. "Kota Babel terbuat dari ribuan, jika tidak jutaan, batu bata
tanah liat. Tempat pembakaran yang digunakan untuk membakar bata tersebut berbentuk
seperti sarang lebah dengan lubang di bagian atas kerucut di mana bahan yang mudah
terbakar dijatuhkan; ada juga terowongan lain-seperti pembukaan di satu sisi. Palet batu bata
diletakkan di pembukaan samping, dan bahan yang akan dibakar dijatuhkan dari atas. Para
pemuda Ibrani itu mungkin dijatuhkan ke dalam tempat pembakaran melalui lubang di bagian
atas."7
Tungku itu begitu panas sehingga ledakan panas membunuh prajurit yang melemparkan
mereka ke dalam, tetapi ketika raja melihat melalui pembukaan di samping, bukannya
melihat tiga orang Ibrani dibakar oleh api ia melihat mereka berjalan di tengah-tengah api .
Tuhan benar-benar memenuhi bagi mereka janji dalam Yesaya 43: 2: "Apabila engkau
berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar
engkau." Tapi lebih dari itu, tidak hanya Nebukadnezar mengamati tiga Ibrani berjalan
dengan bebas di dapur api; ia melihat sosok keempat dengan mereka yang mirip dengan
"Anak Dewa" (Dan. 3:25). "Kristus yang sama yang muncul kepada Adam di Eden, yang
berjalan dengan Henokh dan berbicara dengan Nuh, yang bergumul dengan Yakub dan
berpesta dengan Abraham, yang menampakkan diri kepada Musa di semak-semak terbakar
dan kepada Yosua di tembok Yerikho, lagi melangkah dari portal surgawi dan memasuki
dapur api untuk menolong dan mendukung para pengikut-Nya yang setia. Bentuk yang
keempat adalah selalu di tengah-tengah umat-Nya yang kudus."8
Raja memuji Tuhan (Dan. 26-30) -Memandang ke dalam api, raja tidak bisa percaya
matanya. Mengakui kekalahan, ia memanggil Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sebagai
"hamba-hamba Allah Yang Mahatinggi" dan meminta mereka untuk keluar. Layanan
dedikasi dihentikan, dan semua orang mengabaikan patung itu sementara raja mengakui
kesalahannya di depan umum. Ia mengakui bahwa Allah orang Ibrani telah menyelamatkan
para pemuda itu, dan ia memuji mereka atas kepercayaan mereka pada Tuhan (ayat 28).
Pasal yang dimulai dengan perintah yang mengancam kehidupan tiga pemuda Ibrani
karena kesetiaan mereka kepada Allah di surga sekarang ditutup dengan perintah kedua
ditujukan untuk siapa saja yang berbicara melawan Allah orang Ibrani. Sementara tepat bagi
raja untuk membuat pengakuan publik dan berusaha untuk meninggikan Allah di surga atas
semua allah lain, "dalam usaha untuk memaksa rakyatnya untuk membuat pengakuan iman
yang sama dan untuk menunjukkan rasa hormat yang sama, Nebukadnezar melebihi haknya
sebagai penguasa sementara. Dia tidak punya hak, baik sipil atau moral, untuk mengancam
orang dengan kematian karena tidak menyembah Tuhan, daripada ia harus membuat
keputusan untuk membakar dengan api semua yang menolak untuk menyembah patung emas.
Tuhan tidak pernah memaksa penurutan manusia. Dia memberikan kepada semua orang
kebebsan untuk memilih siapa yang mereka akan layani."9
Aplikasi

Peristiwa di dataran Dura adalah contoh pertama yang tercatat dari satu pemerintah
mencoba untuk mencapai keseragaman melalui ibadah. Raja Nebukadnezar berusaha untuk
memaksakan keseragaman ibadah dengan melampirkan keputusan kematian pada upacara
patung emas. Menurut nubuatan, umat Allah di akhir zaman akan menghadapi keputusan
serupa melalui Babel modern.
Perbandingan antara Daniel 3 dan Wahyu 13: 11-18 menunjukkan bahwa (1) masalahnya
adalah ibadah di kedua pasal; (2) kedua pasal memiliki sebuah patung untuk disembah, satu
literal, yang lain spiritual; (3) di Daniel 3 Babel literal menuntut ibadah ini, sementara dalam
Wahyu 13 Babel rohani akan memerlukan penyembahan kepada patung binatang itu; (4) tiga
pemuda Ibrani menghadapi kematian. Di masa depan, gereja dan negara akan bersatu untuk
memaksakan keseragaman ibadah. Mereka yang menolak untuk menurut akan menghadapi
boikot ekonomi dan, pada akhirnya, juga hukuman mati (Wahyu 13:15).
Pasal ini menawarkan beberapa pelajaran bagi kita:
1. Dalam pertentangan besar antara Kristus dan Setan orang percaya selalu berada di sisi
kemenangan (Rom. 8:28)
2. Sepanjang sejarah anak-anak Allah selalu menerima bantuan pada saat dibutuhkan (Ibr.
4:16). Tiga pemuda Ibrani "sudah berkomitmen untuk api sebelum mereka tahu persis bentuk
kasih karunia seperti apa yang akan mereka dapatkan. Apakah itu anugerah kelepasan atau
anugerah untuk mati dengan baik untuk kemuliaan Allah? Hanya pada saat persidangan
barulah menjadi jelas bagaimana Tuhan akan menunjukkan kesetiaan-Nya."10 Dan demikian
juga dengan kita hari ini (Mzm. 66:10-12).
3. Masalah penyembahan berhala tidak terbatas pada masa lalu. Apa pun yang
menggantikan Allah dalam kehidupan umat-Nya hari ini dapat menjadi berhala. Pikiran
manusia, John Calvin katakan, adalah "pabrik berhala." Mencari kesenangan, pengetahuan,
atau kekayaan materi bisa menjadi berhala sekarang ini. Inti dari penyembahan berhala
modern adalah berhala diri sendiri. Untuk menghindari membungkuk kepada berhala ini di
salah satu manifestasinya kita harus mengarahkan ibadah kita kepada Yesus, yang adalah
"gambar Allah yang tidak kelihatan" (Kol 1:15).
4. Pelajaran akhir yang dapat kita ambil dari kejadian tersebut adalah komitmen sepenuh
hati dari ketiga pemuda Ibrani. "Tidak ada batas kegunaan untuk seseorang yang,
mengesampingkan dirinya sendiri, memberi ruang untuk pekerjaan Roh Kudus dalam hatinya
dan menjalani satu kehidupan yang sepenuhnya dikuduskan bagi Allah."11
1

James Montgomery, The Book of Daniel, International Critical Commentary (Edinburgh: T. and T.
Clark, 1979), pp. 193, 194.
2
William H. Shea, Daniel 1-7, Abundant Life Bible Amplifier (Boise, Idaho: Pacific Press Pub. Assn.,
1996), p. 104.
3
D. J. Wiseman, Chronicles of Chaldean Kings (London: Trustees of the British Museum, 1956), p. 73.
4
Herodotus 1. 183, in Loeb Classical Library, vol. 1, p. 229.
5
E. G. White, Prophets and Kings, p. 504.
6
Adapted from Donald K. Campbell, Daniel: Decoder of Dreams (Wheaton, Ill.: Victor Books, 1977), pp.
31, 32.
7
Shea, p. 110.
8
W. G. Heslop, Diamonds From Daniel (Nazarene Publishing House, 1937), pp. 64, 65.
9
White, Prophets and Kings, pp. 510, 511.
10
Sinclair Ferguson, Daniel, Mastering the Old Testament (Dallas: Word Publishing, 1988), p. 86.

11

Ellen G. White, The Ministry of Healing (Mountain View, Calif.: Pacific Press Pub. Assn., 1942), p.

159.