Anda di halaman 1dari 12

Nama

Desak Gede Dian Purnama Dewi

NIM

P07134014027

Semester

V (Lima)

Judul

HIV Rapid Test

Hari, Tanggal :

Rabu, 28 September 2016

Tempat

Laboratorium Imunoserologi JAK Poltekkes Denpasar

I. TUJUAN
Pemeriksaan imunokromatografi (rapid test) untuk deteksi secara kualitatif
adanya antibodi spesifik semua serotipe (IgG, IgM, IgA) virus HIV-1 termasuk sub
tipe O dan HIV-2 dalam serum, plasma, atau whole blood pasien.
II. METODE
Metode yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah immunokromatografi.
III.PRINSIP
Berdasarkan reaksi antibodi dalam specimen dengan antigen HIV-1 rekombinan
(antigen gp41, p24) dan antigen HIV-2 rekombinan (antigen gp36) yang terkonjugasi
pada gold koloidal yang bergerak sepanjang membran secara kromatografi menuju
daerah tes dan membentuk garis warna secara kompleks antigen antibodi antigen
partikel gold dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi.
IV. DASAR TEORI
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah agen penyebab acquired
immunodeficiency syndrome (AIDS) yang ditandai dengan penurunan progresif dan
fatal dari fungsi sistem kekebalan tubuh sehingga dapat menyebabkan terjadinya
infeksi oportunistik dan tumor. Penurunan sistem kekebalan tubuh dan jumlah sel
CD4 + T merupakan ciri khas infeksi HIV (Shi, Xin, et al. 2016). Terdapat dua jenis
tipe virus HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2.
Human immunodeficiency virus tipe 1 (HIV-1) pertama kali diidentifikasi sebagai
agen penyebab dari acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) pada tahun 1984
ketika sebuah retrovirus diisolasi dari darah perifer pasien yang menderita penyakit
progresif dan fatal yang melibatkan penipisan jumlah sel T CD4 +. HIV-1 awalnya
berasal dari simian immunodeficiency virus (SIV) yang menginfeksi simpanse

(SIVcpz). HIV-1 adalah agen penyebab AIDS dalam pandemi global saat ini,
perkembangan penyakit ditandai dengan viral load plasma tinggi dan jumlah CD4
rendah. HIV-1 menyebabkan cacat awal respon imun seluler selama infeksi akut
(Royle, et al. 2014).
HIV-2 berasal dari infeksi SIV dari mangabeys (SIVsm), dan merupakan bentuk
dilemahkan secara alami dari HIV. HIV-2 awalnya ditemukan di Afrika Barat yang
kemudia menyebar ke bagian Eropa, India dan Amerika Serikat. Infeksi HIV-2
lambatnya tingkat perkembangan penyakit dengan kadar viral load yang lebih rendah
dan penurunan sel T CD4+ lebih lambat. Apabila penyakit telah berkembang dan
menjadi AIDS, manifestasi klinis pada HIV-2 pasien tidak dapat dibedakan dari
infeksi HIV-1 (Royle, et al. 2014)
Untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV-1 dan HIV-2 dapat dilakukan dengan
cepat menggunakan imunokromatografi. Selama dua dekade terakhir, immunoassay
HIV telah melalui generasi pertama (menggunakan lisat virus untuk mendeteksi
antibodi IgG), generasi kedua (menggunakan antigen rekombinan untuk deteksi
antibodi IgG), generasi ketiga (antibodi IgM dan IgG deteksi), generasi keempat
(antibodi dan antigen p24 deteksi) immunoassay. Test kit generasi keempat ini telah
membantu untuk mempersingkat "periode jendela" dan memberikan diagnosis dini
untuk sampel yang diduga terinfeksi HIV diduga dibandingkan dengan immunoassay
generasi sebelumnya (Shakya, et al. 2016).
V. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
1. Mikropipet
2. Yellow tip/blue tip
3. Pipet single use
b. Bahan
1. Kaset pemerisaan (HIV rapid test)
2. Diluent
c. Sampel
Serum, plasma (heparin, EDTA dan sitrat) serta whole blood
VI. CARA KERJA
1. Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan, semua komponen
pemeriksaan dikondisikan pada suhu ruang (15 - 300C)

2. Kaset tes dikeluarkan dari kemasannya dan diletakkan pada tempat yang
bersih, datar, dan kering.
3. Untuk sampel plasma atau serum ditambahkan sebanyak 10 L, sedangkan
untuk sampel whole blood ditambahkan sebanyak 20 L ke dalam sumur uji .
4. Ditambahkan diluents sebanyak 4 tetes ke dalam sumur sampel.
5. Pemeriksaan akan mulai bekerja dengan adanya pergerakan warna ungu
sepanjang membrane pada kaset tes
6. Hasil dibaca dalam selang waktu 10 20 menit. Pembacaan hasil tidak boleh
lebih dari 20 menit .
VII.

INTERPRETASI HASIL
1. Negatif
: hanya terlihat warna pada garis kontrol (C).
2. Positif
:
a. Terlihat warna pada garis kontrol (C) dan garis tes 1 (1)
yang mengindikasikan hasil positif HIV-1.
b. Terlihat warna pada garis kontrol (C) dan garis tes 2 (2)
yang mengindikasikan hasil positif HIV-2.
c. Terlihat warna pada garis kontrol (C), garis tes 1 (1), dan
garis tes 2 (2) yang mengindikasikan hasil postif HIV-1
dan/atau HIV-2.
d. Jika garis tes 1 lebih gelap dari garis tes 2, hasil
diinterpretasikan sebagai positif HIV-1.
e. Jika garis tes 2 lebih gelap dari garis tes 1, hasil
diinterpretasikan sebagai positif HIV-2.
f. Invalid : tidak terlihat warna pada garis kontrol (C).

VIII. HASIL PENGAMATAN


Identitas sampel
1. Sampel I
Kode Sampel : C
Asal
: RSUP Sanglah Denpasar
Jenis Kelamin : Umur
:Sampel
: Serum
Hasil
: Positif HIV-1
2. Sampel II
Nama Pasien

: Desak Gede Dian Purnama Dewi

Asal Sampel
Jenis Kelamin
Umur
Sampel
Hasil

: Mahasiswa Poltekkes Denpasar


: Perempuan
: 20 tahun
: Serum
: Negatif

Gambar Alat dan Bahan

( Sampel pasien kode C)

( Sampel Mahasiswa)

(Device test HIV merck SD

(Assay diluents HIV rapid test merck SD

BIOLINE). Ex : 16 Maret 2016

BIOLINE). Ex. 16 Maret 2016

(Yellow tip)

(Mikropipet)

Hasil Pemeriksaan HIV Rapid Test


1. Hasil Sampel Kode C

Keterangan :
A

: Terdapat garis berwarna merah pada C line

: Terdapat garis berwarna merah pudar pada T2 line

: Terdapat garis berwarna merah tegas pada T1 line

: Tempat untuk meneteskan sampel dan diluent

Hasi

: Adanya 3 garis warna pada kaset tes yaitu pada C line, T1 line

dan T2 line. Tetapi intensitas warna garis pada T1 lebih tegas


daripada T2, maka interpretasi hasilnya adalah positif HIV-1

2. Hasil sampel a.n. Desak Gede Dian Purnama Dewi

Keterangan :
A

: Terdapat garis berwarna merah pada C line

: Tidak terdapat garis berwarna merah pada T2 line

: Tidak terdapat garis berwarna merah pada T1 line

: Tempat untuk meneteskan sampel dan diluent

Hasil : Hanya terdapat satu garis berwarna merah yaitu pada control
line, maka hasil tersebut dapat diinterpretasikan negatif

IX. PEMBAHASAN
Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan virus yang menyebabkan
kelainan fungsi sel CD4 + T dan hilangnya sel-sel efektor imun melalui sitotoksisitas
langsung dan tidak langsung dari virus. Penurunan sistem kekebalan tubuh akibat
HIV menyebabkan kerusakan progresif pada tubuh dan perkembangan penyakit
menjadi acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) pada individu yang terinfeksi
(Gibellini, et al. 2013). Terdapat dua jenis tipe virus HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2.
Virus HIV-1 memiliki struktur antigen gp41 dan p24 sedangkan virus HIV-2 memiliki
struktur antigen gp36 (Insertkit, 20130. Untuk membantu menegakkan diagnosis
pasien terhadap infeksi virus HIV dapat dilakukan dengan beberapa uji serologis.
Virus HIV/AIDS dapat ditularkan melalui transfuse darah, hubungan seksual dan
homoseksual, dari ibu kepada bayi pada saat proses kehamilan (Frieden, et al. 2015).
Beberapa uji serologis yang biasanya diggunakan untuk mendeteksi adanya virus
HIV adalah tes imunokromatografi yang menggunakan membrane lateral,
Immunosorbent Assay Screening Enzim-Linked (ELISA), western blot, dan PCR
untuk mendeteksi antigen dari virus itu sendiri (Richard Hayes.2014).
Pada praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan HIV rapid test dengan metode
imunokromatografi. Tes imunokromatografi ini menggunakan aliran lateral reagen
deteksi warna seperti partikel gold koloidak yang terkonjugasi dengan antigen HIV
atau protein yang mengikat immunoglobulin manusia seperti protein A atau G (Ma,
Yi, et al. 2016). Kelebihan dari imunokromatografi rapid tes ini adalah hasil dapat
dilihat secara cepat dalam waktu kurang lebih 15 20 menit, murah, dan stabil pada
rentang temperature yang luas. Tes ini sangat mudah dan sederhana untuk dilakukan
sehingga tidak memerlukan peralatan yang begitu banyak dan rumit (Richard

Hayes.2014). HIV rapid tes menggunakan HIV-1 subtipe B antigen dari daerah
membrane lateral imuno dominan untuk menangkap antibodi HIV spesifik yang ada
pada sampel uji, Selain subtype B tes ini juga mampu mendeteksi hingga subtype O
(Shakya, et al. 2016).
Uji HIV rapid tes ini dilakukan secara kualitatif yaitu dengan mempersiapkan alat
dan bahan terlebih dahulu diletakkan diatas meja yang datar pada suhu ruang.
Kemudian dipipet 10 mikron serum dengan menggunakan mikropipet, apabila
menggunakan whole blood sebagai sampel maka darah dipipet sebanyak 20 mikron
dan dimasukkan ke dalam sumur uji (Insertkit, 2013). Volume sampel lebih banyak
apabila menggunakan whole blood karena di dalam darah selain terdapat antibodi
juga terdapat berbagai macam komponen darah seperti eritrosit, leukosit dan
trombosit sehingga untuk mencukupi dan mengoptimalkan reaksi antara antigen dan
antibodi volume sampel darah yang ditambahkan harus lebih banyak. Setelah itu
tambahkan 4 tetes diluents ke dalam sumur uji yang sudah berisi sampel, penetesan
dilakukan dengan posisi diluents vertikal dan tegak lurus agar volume diluents yang
keluar dari botol sesuai. Penambahan diluents ini tidak boleh berlebihan atau kurang
karena akan terjadi pengenceran yang berlebih pada sampel apabila penambahan
diluents terlalu banyak. Sedangkan apabila volume diluents kurang maka sampel
tidak akan mengalir dengan baik pada membrane dan dapat menunjukkan hasil
pemeriksaan yang salah. Hasil dibaca secara visual dalam waktu 10 -20 menit dengan
melihat garis warna yang terbentuk pada kaset tes. Pembacaan hasil tidak boleh
dilakukan lebih dari 20 menit karena dapat menunjukkan interpretasi hasil yang salah.
Pada praktikum ini pemeriksaan HIV rapid test menggunakan kaset tes dengan
merk SD Bioline. Kaset tes harus disimpan pada suhu 1 30C dan tidak boleh
dibekukan. Apabila tes kit dibekukan maka akan berpengaruh pada stabilitas kit
tersebut. Sebelum digunakan untuk pemeriksaan test kit harus diletakkan pada suhu
ruang yaitu 15 30C. Tes kit juga tidak boleh disimpan dalam tempat terbuka, oleh
karena itu apabila tes kit sudah dibuka maka harus segera digunkan untuk
pemeriksaan. Selain penyimpanan, hal lain yang harus diperhatikan adalah tanggal
kadaluarsa dari kit pemeriksaan tersebut. Penggunaan kit kadaluarsa akan
mempengaruhi hasil pemeriksaan dan dapat memberikan interpretasi hasil yang salah.

Setiap metode pemeriksaan harus memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi,
sensitivitas dari HIV 3.0 SD Bioline ini adalah 100% dan tingkat spesifisitasnya
adalah 99.8% (Insertkit, 2013).
Sampel yang digunakan dalam pemeriksaan HIV rapid test dapat berupa serum,
plasma, atau whole blood. Hindari menggunkan sampel yang hemolisis, lipemik,
ikterik, dan mengandung rheumatoid faktor karena dapat mengganggu proses
pengamatan hasil. Sedangkan untuk sampel plasma diperbolehkan untuk menggunkan
plasma dengan antikoagulan EDTA, sitrat dan heparin karena tidak mempengaruhi
hasil pemeriksaan. Sampel serum dan plasma dapat disimpan pada suhu 2 8C
selama beberapa minggu apabila tidak segera diperiksa, sedangkan untuk sampel
whole bood hanya dapat disimpan maksimal 3 hari pada suhu tersebut (Insertkit,
2013). Apabila sampel yang sudah disimpan akan dilakukan pemeriksaan, maka
sampel tersebut harus dikondisikan pada suhu ruang terlebih dahulu untuk
mengoptimalkan reaksi antara antigen dan antibodi.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, hasil uji HIV rapid test pada sampel
atas nama Desak Gede Dian Purnama Dewi menunjukkan hasil negatif yang ditandai
dengan terbentuknya satu garis warna pada C line, yang mengindikasikan bahwa
tidak terdapat antibodi spesifik dalam serum pasien terhadap virus HIV-1 ataupun
HIV-2. Sedangkan serum pasien dengan kode C menunjukkan hasil positif HIV-1
yang ditandai dengan terbentuknya garis warna pada C line, T1 line dan garis
berwarna merah pudar pada T2 line. Hal ini mengindikasikan bahwa di dalam
sampel pasien terdapat antibodi spesifik terhadap virus HIV-1. Menurut Royle, et al.
(2014), human immunodeficiency virus tipe 1 (HIV-1) protein p24 adalah protein
virus yang paling banyak dari HIV-1. Protein ini disekresikan dalam serum darah
pada tingkat tinggi selama tahap awal infeksi HIV-1 sehingga dijadikan sebagai
biomarker diagnosis dini. Protein P24 berasal dari protein Gag HIV-1 dan memainkan
peran penting dalam perakitan inti virus dan pematangan. HIV-1 RNA, antibodi antiHIV, dan antigen p24 adalah penanda virus yang telah digunakan sebagai antigen
target untuk deteksi dini infeksi HIV-1.
Hasil yang ditunjukkan oleh sampel C belum menunjukkan bahwa pasien
terdiagnosis penyakit HIV/AIDS. Hasil yang didapat harus disesuaikan juga dengan

anamnesis dari para klinisi. Selain itu kaset test yang digunakan pada saat praktikum
sudah kadaluarsa dan tentunya setiap produk rapid test memiliki tingkat sensitivitas
dan spesifisitas yang berbeda. Sehingga untuk mendapatkan hasil yang akurat
pemeriksaan HIV rapid test ini harus menggunakan minimal 3 produk rapid yang
berbeda. Setelah itu untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan dan menentukan tipe
virus yang menginfeksi dapat dilakukan dengan pemeriksaan western blot.
Menurut Richard Hayes, et al (2014) adapun tes serologis selain HIV rapid tes
yang dapat digunakan dalam pemeriksaan, antara lain :
a. ELISA yang memiliki sensitivitas yang tinggi namun kurang spesifik karena
beberapa penyakit lain juga menunjukkan hasil positif dalam pemeriksaan ini.
b. PCR yang menggunakan amplifikasi asam nukleat, pemeriksaan ini
merupakan pemeriksaan yang canggih dengan mendeteksi materi genetik dari
virus itu sendiri dan hasil pemeriksaan dapat diperoleh dengan cepat.
Kelemahan dari pemeriksaan PCR adalah harganya sangat mahal dan perlu
perawatan alat khusus.
c. Western blot merupakan pemeriksaan yang lebih sensitif dan lebih spesifik,
dimana tes ini dapat membedakan tipe virus HIV yang menginfeksi, tetapi
pemeriksaan ini memerlukan waktu yang lama.
X. SIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum pemeriksaan HIV rapid test pada serum pasien kode
C diperoleh hasil positif HIV-1 yang ditunjukkan dengan terbentuknya garis warna
pada control line, T1 line dan garis pudar pada T2 line. Sedangkan pada serum pasien
atas nama Desak Gede Dian Purnama Dewi diperoleh hasil negatif yang ditunjukkan
dengan terbentuknya garis warna pada control line saja.

DAFTAR PUSTAKA
Frieden, el al. 2015. Applying Public Health Principles to the HIV Epidemic How
Are We Doing?. [online]. Tersedia :
http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMms1513641. [diakses : 03
Oktober 2016, 12.19 wita]
Gibellini, et al. 2013. Effects of human immunodeficiency virus on the erythrocyte
and megakaryocyte lineages. [online]. Tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3785048/. [diakses : 03
Oktober 2016, 17.24 wita]
Insert kit.2013.SD Bioline HIV Rapid test
Ma, Yi, et al. 2016. Development of Monoclonal Antibodies against HIV-1 p24
Protein and Its Application in Colloidal Gold Immunochromatographic Assay
for HIV-1 Detection. [online]. Tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4812187/. [diakses : 03
oktober 2016, 17.45 wita]
Richard Hayes.2014. Rationale and design of a cluster-randomised trial of the
population impact of an HIV combination prevention intervention including
universal testing and treatment a study protocol for a cluster randomised
trial.
[online].tersedia:https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3929317/.
[Diakses: 03 Oktober 2016. 13.04 Wita]
Royle, et al. 2014. HIV-1 and HIV-2 differentially mature plasmacytoid dendritic
cells into interferon-producing or antigen-presenting cells. [online]. Tersedia :

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4822683/. [diakses : 03
Oktober 2016, 14.33 wita]
Shakya, et al. 2016. Evaluation of SD Bioline HIV/syphilis Duo rapid test kits in
Nepal. [online]. Tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5002177/. [diakses : 03
Oktober 2016, 16.09 wita]
Shi, Xin, et al. 2016. Neutropenia during HIV Infection: Adverse Consequences and
Remedies. [online]. Tersedia :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4873957/. [diakses : 03
Oktober 2016, 16.01 wita]