Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH KEWARGANEGARAAN

KEBUDAYAAN SUKU TORAJA-SULAWESI SELATAN

DISUSUN OLEH
FEBBY RAHMAN
FINANDRA SUSENO
SISKA NUR INDAH MAULANA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena penulisan makalah ini dapat
diselesaikan dengan baik.
Makalah ini membahas tentang hubungan antara kebudayaan dengan manusia serta pengaruhnya
terhadap manusia dan diharapkan dapat memberi pengetahuan dan menambah wawasan bagi
siapapun yang membaca makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah
memberikan saran, maupun masukan-masukan guna penyempurnaan makalah ini. Untuk itu
kami mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya
.Akhir kata, kami meminta maaf apabila dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh
sebab itu kami akan berupaya selalu terbuka dan seobjektif mungkin terhadap kritik dan saran
yang membangun guna mempertimbangkan di masa-masa yang akan datang.

BAB I
PENDAHULAUAN
1. LATAR BELAKANG
Setiap bangsa dimanapun berada memiliki kebudayaan. Kebudayaan ialah berkat akal budi
manusia yang di pergunakan untuk memenuhi kehidupan jasmani dan rohaninya. Kebudayaan
mencakup kelompok ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan sebagainya, dan komplek
aktivitas, yaitu keadaan berpola dari masyarakat dalam masyarakat, serta benda-benda hasil
karya manusia.
Dasar segi politis, Indonesia adalah suatu yang utuh. Akan tetapi dari dalam keanekaragaman
budayanya secara jujur diakui masih terdapat jarak komunikasi di antara kelompok etnis, hal
yang sering menimbulkan konflik budaya pada seorang yang bergerak dari satu kelompok etnis
yang lain. Konflik budaya tersebut acap kali bertaraf nasional. Oleh karena itu, kita harus mampu
mengenal dan menyadari adalah masalah semacam ini, memiliki wawasan yang luas tentang
soal-soal, kebudayaan, sehinga sanggup dan mampu memegang peranan dalam usaha-usaha
pembangunan moderenisasi.
Selain daripada itu, dengan mempertahankan dan membentuk serta memupuk kepribadina
bangsa, kita ingin mewujudkan cita-cita, yakni: membangun masyarakat yang modern yang
sanggup menggunakana teknologi modern tanpa kehilangan kepribadian bangsa sendiri.
2. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian kebudayaan?
2. bagimana menganalisis konsep kebudayaan Toraja?
3. Menjelaskan megenai Ekonomi masyarakat Tana Toraja?
3. TUJUAN
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberi pengetahuan dan menambah wawasan tentang
hubungan dan pengaruh kebudayaan dengan manusia serta makna nilai nilai luhur budaya
spiritual bangsa yang terdapat dalam kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai
bagian kebudayaan bangsa,terutama mengenai Budaya dari Sulawesi Selatan, yaitu Tana Toraja.

DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR
.. 1
BAB I PENDAHULUAN
.. 2
1.1 LATAR BELAKANG
2
1.2 RUMUSAN MASALAH
. 2
1.3 TUJUAN
2
DAFTAR
ISI
3
BAB II MATERI
. 4
A. IDENTITAS ETNIS
. 4
B. SEJARAH
.. 5
C. MASYARAKAT
. 6

C.1 KELUARGA .
6
C.2 KELAS SOSIAL .
6
C.3 AGAMA
.. 7
D. KEBUDAYAAN
8
D.1 TONGKONAN .
8
D.2 UKIRAN KAYU
8
D.3 UPACARA PEMAKAMAN . 9
D.4 MUSIK DAN TARIAN .. 10
D.5 BAHASA
. 11
D.6 EKONOMI
.. 12
BAB III
KESIMPULAN
. 13
DAFTAR PUSTAKA
. 14

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia.
Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar 500.000 di antaranya masih tinggal
di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.[1] Mayoritas suku
Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme
yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini
sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.[2]
Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas".
Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909.[3] Suku Toraja terkenal
akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja
merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung
selama beberapa hari.
Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut
animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda
datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun
1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja
dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog.[4] Masyarakat Toraja
sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional
dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor
pariwisata yang terus meningkat.

Identitas etnis
Suku Toraja memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai sebuah
kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan masa pengkristenan, suku
Toraja, yang tinggal di daerah dataran tinggi, dikenali berdasarkan desa mereka, dan tidak
beranggapan sebagai kelompok yang sama. Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan di

antara desa-desa, ada banyak keragaman dalam dialek, hierarki sosial, dan berbagai praktik ritual
di kawasan dataran tinggi Sulawesi. "Toraja" (dari bahasa pesisir to, yang berarti orang, dan
Riaja, dataran tinggi) pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk
penduduk dataran tinggi.[3] Akibatnya, pada awalnya "Toraja" lebih banyak memiliki hubungan
perdagangan dengan orang luarseperti suku Bugis, suku Makassar, dan suku Mandar yang
menghuni sebagian besar dataran rendah di Sulawesidaripada dengan sesama suku di dataran
tinggi. Kehadiran misionaris Belanda di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis
Toraja di wilayah Sa'dan Toraja, dan identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata
di Tana Toraja.[4] Sejak itu, Sulawesi Selatan memiliki empat kelompok etnis utamasuku Bugis
(meliputi pembuat kapal dan pelaut), suku Makassar (pedagang dan pelaut), suku Mandar
(pedagang, pembuat kapal dan pelaut), dan suku Toraja (petani di dataran tinggi).[
Sejarah

Dulu ada yang mengira bahwa Teluk Tonkin, terletak antara Vietnam utara dan Cina selatan,
adalah tempat asal suku Toraja.[7] Sebetulnya, orang Toraja hanya salah satu kelompok penutur
bahasa Austronesia. Awalnya, imigran tersebut tinggal di wilayah pantai Sulawesi, namun
akhirnya pindah ke dataran tinggi.
Sejak abad ke-17, Belanda mulai menancapkan kekuasaan perdagangan dan politik di Sulawesi
melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Selama dua abad, mereka mengacuhkan
wilayah dataran tinggi Sulawesi tengah (tempat suku Toraja tinggal) karena sulit dicapai dan
hanya memiliki sedikit lahan yang produktif. Pada akhir abad ke-19, Belanda mulai khawatir
terhadap pesatnya penyebaran Islam di Sulawesi selatan, terutama di antara suku Makassar dan
Bugis. Belanda melihat suku Toraja yang menganut animisme sebagai target yang potensial
untuk dikristenkan. Pada tahun 1920-an, misi penyebaran agama Kristen mulai dijalankan
dengan bantuan pemerintah kolonial Belanda.[2] Selain menyebarkan agama, Belanda juga
menghapuskan perbudakan dan menerapkan pajak daerah. Sebuah garis digambarkan di sekitar
wilayah Sa'dan dan disebut Tana Toraja. Tana Toraja awalnya merupakan subdivisi dari kerajaan
Luwu yang mengklaim wilayah tersebut.[8] Pada tahun 1946, Belanda memberikan Tana Toraja
status regentschap, dan Indonesia mengakuinya sebagai suatu kabupaten pada tahun 1957.[2]
Misionaris Belanda yang baru datang mendapat perlawanan kuat dari suku Toraja karena
penghapusan jalur perdagangan budak yang menguntungkan Toraja.[9] Beberapa orang Toraja
telah dipindahkan ke dataran rendah secara paksa oleh Belanda agar lebih mudah diatur. Pajak
ditetapkan pada tingkat yang tinggi, dengan tujuan untuk menggerogoti kekayaan para elit
masyarakat. Meskipun demikian, usaha-usaha Belanda tersebut tidak merusak budaya Toraja,
dan hanya sedikit orang Toraja yang saat itu menjadi Kristen.[10] Pada tahun 1950, hanya 10%
orang Toraja yang berubah agama menjadi Kristen.[9]
Penduduk Muslim di dataran rendah menyerang Toraja pada tahun 1930-an. Akibatnya, banyak
orang Toraja yang ingin beraliansi dengan Belanda berpindah ke agama Kristen untuk
mendapatkan perlindungan politik, dan agar dapat membentuk gerakan perlawanan terhadap

orang-orang Bugis dan Makassar yang beragama Islam. Antara tahun 1951 dan 1965 setelah
kemerdekaan Indonesia, Sulawesi Selatan mengalami kekacauan akibat pemberontakan yang
dilancarkan Darul Islam, yang bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Islam di Sulawesi.
Perang gerilya yang berlangsung selama 15 tahun tersebut turut menyebabkan semakin banyak
orang Toraja berpindah ke agama Kristen.[11]
Pada tahun 1965, sebuah dekret presiden mengharuskan seluruh penduduk Indonesia untuk
menganut salah satu dari lima agama yang diakui: Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan
Buddha.[12] Kepercayaan asli Toraja (aluk) tidak diakui secara hukum, dan suku Toraja berupaya
menentang dekret tersebut. Untuk membuat aluk sesuai dengan hukum, ia harus diterima sebagai
bagian dari salah satu agama resmi. Pada tahun 1969, Aluk To Dolo dilegalkan sebagai bagian
dari Agama Hindu Dharma.[2]
Masyarakat
Keluarga

Sebuah perkampungan suku Toraja

Keluarga adalah kelompok sosial dan politik utama dalam suku Toraja. Setiap desa adalah suatu
keluarga besar. Setiap tongkonan memiliki nama yang dijadikan sebagai nama desa. Keluarga
ikut memelihara persatuan desa. Pernikahan dengan sepupu jauh (sepupu keempat dan
seterusnya) adalah praktik umum yang memperkuat hubungan kekerabatan. Suku Toraja
melarang pernikahan dengan sepupu dekat (sampai dengan sepupu ketiga) kecuali untuk
bangsawan, untuk mencegah penyebaran harta.[13] Hubungan kekerabatan berlangsung secara
timbal balik, dalam artian bahwa keluarga besar saling menolong dalam pertanian, berbagi dalam
ritual kerbau, dan saling membayarkan utang.
Setiap orang menjadi anggota dari keluarga ibu dan ayahnya.[14] Anak, dengan demikian,
mewarisi berbagai hal dari ibu dan ayahnya, termasuk tanah dan bahkan utang keluarga. Nama
anak diberikan atas dasar kekerabatan, dan biasanya dipilih berdasarkan nama kerabat yang telah
meninggal. Nama bibi, paman dan sepupu yang biasanya disebut atas nama ibu, ayah dan
saudara kandung.

Sebelum adanya pemerintahan resmi oleh pemerintah kabupaten Tana Toraja, masing-masing
desa melakukan pemerintahannya sendiri. Dalam situasi tertentu, ketika satu keluarga Toraja
tidak bisa menangani masalah mereka sendiri, beberapa desa biasanya membentuk kelompok;
kadang-kadang, beberapa desa akan bersatu melawan desa-desa lain. Hubungan antara keluarga
diungkapkan melalui darah, perkawinan, dan berbagi rumah leluhur (tongkonan), secara praktis
ditandai oleh pertukaran kerbau dan babi dalam ritual. Pertukaran tersebut tidak hanya
membangun hubungan politik dan budaya antar keluarga tetapi juga menempatkan masingmasing orang dalam hierarki sosial: siapa yang menuangkan tuak, siapa yang membungkus
mayat dan menyiapkan persembahan, tempat setiap orang boleh atau tidak boleh duduk, piring
apa yang harus digunakan atau dihindari, dan bahkan potongan daging yang diperbolehkan untuk
masing-masing orang.[15]
Kelas sosial

Dalam masyarakat Toraja awal, hubungan keluarga bertalian dekat dengan kelas sosial. Ada tiga
tingkatan kelas sosial: bangsawan, orang biasa, dan budak (perbudakan dihapuskan pada tahun
1909 oleh pemerintah Hindia Belanda). Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Tidak diperbolehkan
untuk menikahi perempuan dari kelas yang lebih rendah tetapi diizinkan untuk menikahi
perempuan dari kelas yang lebih tinggi. Ini bertujuan untuk meningkatkan status pada keturunan
berikutnya. Sikap merendahkan dari Bangsawan terhadap rakyat jelata masih dipertahankan
hingga saat ini karena alasan martabat keluarga.[5]
Kaum bangsawan, yang dipercaya sebagai keturunan dari surga,[16] tinggal di tongkonan,
sementara rakyat jelata tinggal di rumah yang lebih sederhana (pondok bambu yang disebut
banua). Budak tinggal di gubuk kecil yang dibangun di dekat tongkonan milik tuan mereka.
Rakyat jelata boleh menikahi siapa saja tetapi para bangsawan biasanya melakukan pernikahan
dalam keluarga untuk menjaga kemurnian status mereka. Rakyat biasa dan budak dilarang
mengadakan perayaan kematian. Meskipun didasarkan pada kekerabatan dan status keturunan,
ada juga beberapa gerak sosial yang dapat memengaruhi status seseorang, seperti pernikahan
atau perubahan jumlah kekayaan.[13] Kekayaan dihitung berdasarkan jumlah kerbau yang
dimiliki.
Budak dalam masyarakat Toraja merupakan properti milik keluarga. Kadang-kadang orang
Toraja menjadi budak karena terjerat utang dan membayarnya dengan cara menjadi budak.
Budak bisa dibawa saat perang, dan perdagangan budak umum dilakukan. Budak bisa membeli
kebebasan mereka, tetapi anak-anak mereka tetap mewarisi status budak. Budak tidak
diperbolehkan memakai perunggu atau emas, makan dari piring yang sama dengan tuan mereka,
atau berhubungan seksual dengan perempuan merdeka. Hukuman bagi pelanggaran tersebut
yaitu hukuman mati.

Agama

Sistem kepercayaan tradisional suku Toraja adalah kepercayaan animisme politeistik yang
disebut aluk, atau "jalan" (kadang diterjemahkan sebagai "hukum"). Dalam mitos Toraja, leluhur
orang Toraja datang dari surga dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh suku
Toraja sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta.[17] Alam semesta,
menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia manusia (bumi), dan dunia bawah.[9] Pada
awalnya, surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul
cahaya. Hewan tinggal di dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi
panjang yang dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga
terletak di atas, ditutupi dengan atap berbetuk pelana. Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong
Banggai di Rante (dewa bumi), Indo' Ongon-Ongon (dewi gempa bumi), Pong Lalondong (dewa
kematian), Indo' Belo Tumbang (dewi pengobatan), dan lainnya.[18]
Kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik dalam kehidupan
pertanian maupun dalam upacara pemakaman, disebut to minaa (seorang pendeta aluk). Aluk
bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi juga merupakan gabungan dari hukum, agama, dan
kebiasaaan. Aluk mengatur kehidupan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan.
Tata cara Aluk bisa berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Satu hukum yang umum
adalah peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya
bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual
kehidupan.[19] Kedua ritual tersebut sama pentingnya. Ketika ada para misionaris dari Belanda,
orang Kristen Toraja tidak diperbolehkan menghadiri atau menjalankan ritual kehidupan, tetapi
diizinkan melakukan ritual kematian.[10] Akibatnya, ritual kematian masih sering dilakukan
hingga saat ini, tetapi ritual kehidupan sudah mulai jarang dilaksanakan.
Kebudayaan
Tongkonan

Tiga tongkonan di desa Toraja.

Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi
dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal dari bahasa Toraja
tongkon ("duduk").

Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan
tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual suku Toraja oleh karena itu semua
anggota keluarga diharuskan ikut serta karena Tongkonan melambangan hubungan mereka
dengan leluhur mereka.[15] Menurut cerita rakyat Toraja, tongkonan pertama dibangun di surga
dengan empat tiang. Ketika leluhur suku Toraja turun ke bumi, dia meniru rumah tersebut dan
menggelar upacara yang besar.[20]
Pembangunan tongkonan adalah pekerjaan yang melelahkan dan biasanya dilakukan dengan
bantuan keluarga besar. Ada tiga jenis tongkonan. Tongkonan layuk adalah tempat kekuasaan
tertinggi, yang digunakan sebagai pusat "pemerintahan". Tongkonan pekamberan adalah milik
anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal sedangkan
anggota keluarga biasa tinggal di tongkonan batu. Eksklusifitas kaum bangsawan atas tongkonan
semakin berkurang seiring banyaknya rakyat biasa yang mencari pekerjaan yang menguntungkan
di daerah lain di Indonesia. Setelah memperoleh cukup uang, orang biasa pun mampu
membangun tongkonan yang besar.
Ukiran kayu

Ukiran kayu Toraja: setiap panel melambangkan niat baik.

Bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak memiliki sistem tulisan.[21] Untuk menunjukkan konsep
keagamaan dan sosial, suku Toraja membuat ukiran kayu dan menyebutnya Pa'ssura (atau
"tulisan"). Oleh karena itu, ukiran kayu merupakan perwujudan budaya Toraja.
Setiap ukiran memiliki nama khusus. Motifnya biasanya adalah hewan dan tanaman yang
melambangkan kebajikan, contohnya tanaman air seperti gulma air dan hewan seperti kepiting
dan kecebong yang melambangkan kesuburan. Gambar kiri memperlihatkan contoh ukiran kayu
Toraja, terdiri atas 15 panel persegi. Panel tengah bawah melambangkan kerbau atau kekayaan,
sebagai harapan agar suatu keluarga memperoleh banyak kerbau. Panel tengah melambangkan
simpul dan kotak, sebuah harapan agar semua keturunan keluarga akan bahagia dan hidup dalam
kedamaian, seperti barang-barang yang tersimpan dalam sebuah kotak. Kotak bagian kiri atas
dan kanan atas melambangkan hewan air, menunjukkan kebutuhan untuk bergerak cepat dan
bekerja keras, seperti hewan yang bergerak di permukaan air. Hal Ini juga menunjukkan adanya
kebutuhan akan keahlian tertentu untuk menghasilkan hasil yang baik.

Keteraturan dan ketertiban merupakan ciri umum dalam ukiran kayu Toraja (lihat desain tabel di
bawah), selain itu ukiran kayu Toraja juga abstrak dan geometris. Alam sering digunakan sebagai
dasar dari ornamen Toraja, karena alam penuh dengan abstraksi dan geometri yang teratur.[21]
Ornamen Toraja dipelajari dalam ethnomatematika dengan tujuan mengungkap struktur
matematikanya meskipun suku Toraja membuat ukiran ini hanya berdasarkan taksiran mereka
sendiri.[21] Suku Toraja menggunakan bambu untuk membuat oranamen geometris.
Beberapa motif ukiran Toraja

pa'tedong
(kerbau)

pa'barre allo
(matahari)

pa're'po' sanguba
(menari)

ne'limbongan
(perancang legendaris)
Upacara pemakaman

Tempat penguburan Toraja yang diukir.

Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan
berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya
akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar
pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh
ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang
disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat
pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman
lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi,
tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua
itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.[23]
Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan,
bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang
ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman.[24] Suku
Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan
sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan
itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah
orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah
akan melakukan perjalanan ke Puya.[25]

Sebuah makam.

Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka
semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok.
Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang
dalam "masa tertidur". Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk
melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau.
Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang
diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu
panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan
dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.[26]
Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir,
atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam
tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah,
gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang
disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar.[27] Peti mati bayi atau anakanak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum
membusuk dan membuat petinya terjatuh.
Musik dan Tarian

Suku Toraja melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan.
Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus
menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju
akhirat. Pertama-tama, sekelompok pria membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu sepanjang
malam untuk menghormati almarhum (ritual terseebut disebut Ma'badong).[6][26] Ritual tersebut
dianggap sebagai komponen terpenting dalam upacara pemakaman.[23] Pada hari kedua
pemakaman, tarian prajurit Ma'randing ditampilkan untuk memuji keberanian almarhum semasa
hidupnya. Beberapa orang pria melakukan tarian dengan pedang, perisai besar dari kulit kerbau,
helm tanduk kerbau, dan berbagai ornamen lainnya. Tarian Ma'randing mengawali prosesi ketika
jenazah dibawa dari lumbung padi menuju rante, tempat upacara pemakaman. Selama upacara,
para perempuan dewasa melakukan tarian Ma'katia sambil bernyanyi dan mengenakan kostum
baju berbulu. Tarian Ma'akatia bertujuan untuk mengingatkan hadirin pada kemurahan hati dan

kesetiaan almarhum. Setelah penyembelihan kerbau dan babi, sekelompok anak lelaki dan
perempuan bertepuk tangan sambil melakukan tarian ceria yang disebut Ma'dondan.

Tarian Manganda' ditampilkan pada ritual Ma'Bua'.

Seperti di masyarakat agraris lainnya, suku Toraja bernyanyi dan menari selama musim panen.
Tarian Ma'bugi dilakukan untuk merayakan Hari Pengucapan Syukur dan tarian Ma'gandangi
ditampilkan ketika suku Toraja sedang menumbuk beras[28] Ada beberapa tarian perang, misalnya
tarian Manimbong yang dilakukan oleh pria dan kemudian diikuti oleh tarian Ma'dandan oleh
perempuan. Agama Aluk mengatur kapan dan bagaimana suku Toraja menari. Sebuah tarian
yang disebut Ma'bua hanya bisa dilakukan 12 tahun sekali. Ma'bua adalah upacara Toraja yang
penting ketika pemuka agama mengenakan kepala kerbau dan menari di sekeliling pohon suci.
Alat musik tradisional Toraja adalah suling bambu yang disebut Pa'suling. Suling berlubang
enam ini dimainkan pada banyak tarian, seperti pada tarian Ma'bondensan, ketika alat ini
dimainkan bersama sekelompok pria yang menari dengan tidak berbaju dan berkuku jari
panjang. Suku Toraja juga mempunyai alat musik lainnya, misalnya Pa'pelle yang dibuat dari
daun palem dan dimainkan pada waktu panen dan ketika upacara pembukaan rumah.[29]
Bahasa

Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja, dengan Sa'dan Toraja sebagai dialek
bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa resmi dan
digunakan oleh masyarakat,[1] akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di
Tana Toraja.
Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae' , Talondo' , Toala' , dan TorajaSa'dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasa Austronesia.[30] Pada
mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa
Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja
menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak
masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa Toraja

Keragaman dalam bahasa Toraja


Denominasi

ISO
639-3

Populasi
Dialek
(pada tahun)

Kalumpang

kli

12,000 (1991) Karataun, Mablei, Mangki (E'da), Bone Hau (Ta'da).

Mamasa

mqj

100,000
(1991)

Mamasa Utara, Mamasa tengah, Pattae' (Mamasa


Selatan, Patta' Binuang, Binuang, Tae', Binuang-PakiBatetanga-Anteapi)

Ta'e

rob

250,000
(1992)

Rongkong, Luwu Timur Laut, Luwu Selatan, Bua.

Talondo'

tln

500 (1986)

Toala'

tlz

30,000 (1983) Toala', Palili'.

TorajanSa'dan

sda

500,000
(1990)

Makale (Tallulembangna), Rantepao (Kesu'), Toraja


Barat (Toraja Barat, Mappa-Pana).

Sumber: Gordon (2005).[30]

Ciri yang menonjol dalam bahasa Toraja adalah gagasan tentang duka cita kematian. Pentingnya
upacara kematian di Toraja telah membuat bahasa mereka dapat mengekspresikan perasaan duka
cita dan proses berkabung dalam beberapa tingkatan yang rumit.[23] Bahasa Toraja mempunyai
banyak istilah untuk menunjukkan kesedihan, kerinduan, depresi, dan tekanan mental.
Merupakan suatu katarsis bagi orang Toraja apabila dapat secara jelas menunjukkan pengaruh
dari peristiwa kehilangan seseorang; hal tersebut kadang-kadang juga ditujukan untuk
mengurangi penderitaan karena duka cita itu sendiri.

Ekonomi
Sebelum masa Orde Baru, ekonomi Toraja bergantung pada pertanian dengan adanya terasering
di lereng-lereng gunung dan bahan makanan pendukungnya adalah singkong dan jagung. Banyak
waktu dan tenaga dihabiskan suku Toraja untuk berternak kerbau, babi, dan ayam yang
dibutuhkan terutama untuk upacara pengorbanan dan sebagai makanan.[11] Satu-satunya industri
pertanian di Toraja adalah pabrik kopi Jepang, Kopi Toraja.
Dengan dimulainya Orde Baru pada tahun 1965, ekonomi Indonesia mulai berkembang dan
membuka diri pada investasi asing. Banyak perusahaan minyak dan pertambangan Multinasional
membuka usaha baru di Indonesia. Masyarakat Toraja, khususnya generasi muda, banyak yang
berpindah untuk bekerja di perusahaan asing. Mereka pergi ke Kalimantan untuk kayu dan
minyak, ke Papua untuk menambang, dan ke kota-kota di Sulawesi dan Jawa. Perpindahan ini
terjadi sampai tahun 1985.[2]
Ekonomi Toraja secara bertahap beralih menjadi pariwisata berawal pada tahun 1984. Antara
tahun 1984 dan 1997, masyarakat Toraja memperoleh pendapatan dengan bekerja di hotel,
menjadi pemandu wisata, atau menjual cinderamata. Timbulnya ketidakstabilan politik dan

ekonomi Indonesia pada akhir 1990-an (termasuk berbagai konflik agama di Sulawesi) telah
menyebabkan pariwisata Toraja menurun secara drastis. Toraja lalu dikenal sebagai tempat asal
dari kopi Indonesia. Kopi Arabika ini terutama dijalankan oleh pengusaha kecil.

Komersialisasi

Makam suku Toraja di tebing tinggi berbatu adalah salah satu tempat wisata di Tana Toraja.
Sebelum tahun 1970-an, Toraja hampir tidak dikenal oleh wisatawan barat. Pada tahun 1971,
sekitar 50 orang Eropa mengunjungi Tana Toraja. Pada 1972, sedikitnya 400 orang turis
menghadiri upacara pemakaman Puang dari Sangalla, bangsawan tertinggi di Tana Toraja dan
bangsawan Toraja terakhir yang berdarah murni. Peristiwa tersebut didokumentasikan oleh
National Geographic dan disiarkan di beberapa negara Eropa.[2] Pada 1976, sekitar 12,000
wisatawan mengunjungi Toraja dan pada 1981, seni patung Toraja dipamerkan di banyak
museum di Amerika Utara.[31] "Tanah raja-raja surgawi di Toraja", seperti yang tertulis di brosur
pameran, telah menarik minat dunia luar..
Pada tahun 1984, Kementerian Pariwisata Indonesia menyatakan Kabupaten Toraja sebagai
primadona Sulawesi Selatan. Tana Toraja dipromosikan sebagai "perhentian kedua setelah Bali".
[5]
Pariwisata menjadi sangat meningkat: menjelang tahun 1985, terdapat 150.000 wisatawan
asing yang mengunjungi Tana Toraja (selain 80.000 turis domestik),[4] dan jumlah pengunjung
asing tahunan tercatat sebanyak 40.000 orang pada tahun 1989.[2] Suvenir dijual di Rantepao,
pusat kebudayaan Toraja, banyak hotel dan restoran wisata yang dibuka, selain itu dibuat sebuah
lapangan udara baru pada tahun 1981.[15]
Para pengembang pariwisata menjadikan Toraja sebagai daerah petualangan yang eksotis,
memiliki kekayaan budaya dan terpencil. Wisatawan Barat dianjurkan untuk mengunjungi desa
zaman batu dan pemakaman purbakala. Toraja adalah tempat bagi wisatawan yang telah

mengunjungi Bali dan ingin melihat pulau-pulau lain yang liar dan "belum tersentuh".[2] Tetapi
suku Toraja merasa bahwa tongkonan dan berbagai ritual Toraja lainnya telah dijadikan sarana
mengeruk keuntungan, dan mengeluh bahwa hal tersebut terlalu dikomersilkan. Hal ini berakibat
pada beberapa bentrokan antara masyarakat Toraja dan pengembang pariwisata, yang dianggap
sebagai orang luar oleh suku Toraja.[4]
Bentrokan antara para pemimpin lokal Toraja dan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (sebagai
pengembang wisata) terjadi pada tahun 1985. Pemerintah menjadikan 18 desa Toraja dan tempat
pemakaman tradisional sebagai "objek wisata". Akibatnya, beberapa pembatasan diterapkan pada
daerah-daerah tersebut, misalnya orang Toraja dilarang mengubah tongkonan dan tempat
pemakaman mereka. Hal tersebut ditentang oleh beberapa pemuka masyarakat Toraja, karena
mereka merasa bahwa ritual dan tradisi mereka telah ditentukan oleh pihak luar. Akibatnya, pada
tahun 1987 desa Kete Kesu dan beberapa desa lainnya yang ditunjuk sebagai "objek wisata"
menutup pintu mereka dari wisatawan. Namun penutupan ini hanya berlangsung beberapa hari
saja karena penduduk desa merasa sulit bertahan hidup tanpa pendapatan dari penjualan suvenir.
[4]

Pariwisata juga turut mengubah masyarakat Toraja. Dahulu terdapat sebuah ritual yang
memungkinkan rakyat biasa untuk menikahi bangsawan (Puang), dan dengan demikian anak
mereka akan mendapatkan gelar bangsawan. Namun, citra masyarakat Toraja yang diciptakan
untuk para wisatawan telah mengikis hirarki tradisionalnya yang ketat,[5] sehingga status
kehormatan tidak lagi dipandang seperti sebelumnya. Banyak laki-laki biasa dapat saja
menyatakan diri dan anak-anak mereka sebagai bangsawan, dengan cara memperoleh kekayaan
yang cukup lalu menikahi perempuan bangsawan.

Filosofi Tau
Secara sadar atau tidak sadar, masyarakat toraja hidup dan tumbuh dalam sebuah tatanan
masyarakat yang menganut filosofi tau. Filosofi tau dibutuhkan sebagai pegangan dan arah
menjadi manusia (manusia="tau" dalam bahasa toraja) sesungguhnya dalam konteks masyarakat
toraja. Filosofi tau memiliki empat pilar utama yang mengharuskan setiap masyarakat toraja
untuk menggapainya, antara lain: - Sugi' (Kaya) - Barani (Berani) - Manarang (Pintar) - Kinawa
(memiliki nilai-nilai luhur, agamis, bijaksana) Keempat pilar di atas tidak dapat di tafsirkan
secara bebas karena memiliki makna yang lebih dalam daripada pemahaman kata secara bebas.
Seorang toraja menjadi manusia yang sesungguhnya ketika dia telah memiliki dan hidup sebagai
Tau.

Catatan kaki
^ a b c d "Tana Toraja official website" (dalam Indonesia). Diakses tanggal 2006-

1.
10-04.
2.

^ a b c d e f g h Volkman, Toby Alice (February 1990). "Visions and Revisions:


Toraja Culture and the Tourist Gaze". American Ethnologist 17 (1): 91110.
doi:10.1525/ae.1990.17.1.02a00060. Diakses tanggal 2007-05-18. Kesalahan

pengutipan: Invalid <ref> tag; name "Volkman1990" defined multiple times with
different content Kesalahan pengutipan: Invalid <ref> tag; name "Volkman1990"
defined multiple times with different content
3.

^ a b Nooy-Palm, Hetty (1975). "Introduction to the Sa'dan People and their


Country". Archipel 15: 163192.

4.

^ a b c d e Adams, Kathleen M. (January 31, 1990). "Cultural Commoditization in


Tana Toraja, Indonesia". Cultural Survival Quarterly 14 (1). Diakses tanggal 2007-05-18.
Kesalahan pengutipan: Invalid <ref> tag; name "Adams1990" defined multiple
times with different content Kesalahan pengutipan: Invalid <ref> tag; name
"Adams1990" defined multiple times with different content

5.

^ a b c d Adams, Kathleen M. (Spring 1995). "Making-Up the Toraja? The


Appropriate of Tourism, Anthropology, and Museums for Politics in Upland Sulawesi,
Indonesia". Ethnology 34 (2): 143. doi:10.2307/3774103. ISSN 0014-1828. Diakses
tanggal 2007-05-18.

6.

^ a b c Sutton, R. Anderson (1995). "Performing arts and cultural politics in South


Sulawesi" (PDF). Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 151 (4): 672699.

7.

^ Kruyt, A.C. (1938). De West-Toradjas op Midden-Celebes (dalam Bahasa


Belanda). Amsterdam: Noord-Hollandsche Uitgevers-Maatschappij.

8.

^ Schrauwers, Albert (1997). "Houses, hierarchy, headhunting and exchange;


Rethinking political relations in the Southeast Asian realm of Luwu" (PDF). Bijdragen tot
de Taal-, Land- en Volkenkunde 153 (3): 356380. Diakses tanggal 2007-05-18.

9.

^ a b c cf. Kis-Jovak et al. (1988), Ch. 2, Hetty Nooy-Palm, The World of Toraja,
hal. 1218.

10.

^ a b Ngelow, Zakaria J. (Summer 2004). "Traditional Culture, Christianity and


Globalization in Indonesia: The Case of Torajan Christians" (PDF). Inter-Religio 45.
Diakses tanggal 2007-05-18.

11.

^ a b Volkman, Toby Alice (December 31, 1983). "A View from the Mountains"
(
Scholar search). Cultural Survival Quarterly 7 (4). Diakses tanggal 2007-05-18.
Kesalahan pengutipan: Invalid <ref> tag; name "Volkman1983" defined multiple
times with different content
[pranala nonaktif]

12.

^ Yang, Heriyanto (August 2005). "The history and legal position of


Confucianism in postindependence Indonesia" (PDF). Marburg Journal of Religion 10 (1).
Diakses tanggal 2007-05-18.

13.

^ a b Waterson, Roxana (1986). "The ideology and terminology of kinship among


the Sadan Toraja" (PDF). Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 142 (1): 87112.
Diakses tanggal 2007-05-18.

14.

^ Waterson, Roxana (1995). "Houses, graves and the limits of kinship groupings
among the Sadan Toraja" (PDF). Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 151 (2):
194217. Diakses tanggal 2007-05-18.

15.

^ a b c Volkman, Toby Alice (February 1984). "Great Performances: Toraja


Cultural Identity in the 1970s". American Ethnologist 11 (1): 152.
doi:10.1525/ae.1984.11.1.02a00090. Diakses tanggal 2007-05-21.

16.

^ Wellenkamp, Jane C. (1988). "Order and Disorder in Toraja Thought and


Ritual". Ethnology 27 (3): 311326. doi:10.2307/3773523.

17.
18.

^ toraja.go.id, diakses pada 18 Mei 2007.


^ Toraja Religion. Overview of World Religion. St. Martin College, Britania Raya.
Diakses pada 6 September 2009.

19.

^ cf. Wellenkamp (1988).

20.

^ "Toraja Architecture". Ladybamboo Foundation. Diakses tanggal 2009-09-04.

21.

^ a b c Palmer, Miquel Alberti (2006). "The Kira-kira method of the Torajan


woodcarvers of Sulawesi to divide a segment into equal parts" (doc). Third International
Conference on Ethnomathematics: Cultural Connections and Mathematical
Manipulations, Auckland, New Zealand: University of Auckland. Diakses pada 2007-0518.

22.

^ Sande, J.S. (1989). "Toraja Wood-Carving Motifs". Ujung Pandang. Diakses


tanggal 2007-05-18.

23.

^ a b c Jane C. Wellenkamp (August 1988). "Notions of Grief and Catharsis among


the Toraja". American Ethnologist 15 (3): 486500. doi:10.1525/ae.1988.15.3.02a00050.
Kesalahan pengutipan: Invalid <ref> tag; name "Wellenkamp1988" defined
multiple times with different content

24.

^ Pada tahun 1992, seorang pemuka Toraja, mantan bupati Tana Toraja,
meninggal, dan keluarganya meminta sebanyak US$125,000 dari sebuah stasiun televisi
Jepang sebagai lisensi untuk merekam upacara pemakaman tersebut. Cf. Yamashita
(1994).

25.

^ Hollan, Douglas (December 1995). "To the Afterworld and Back: Mourning and
Dreams of the Dead among the Toraja". Ethos 23 (4): 424436.
doi:10.1525/eth.1995.23.4.02a00030. Diakses tanggal 2007-05-18.

26.

^ a b Yamashita, Shinji (October 1994). "Manipulating Ethnic Tradition: The


Funeral Ceremony, Tourism, and Television among the Toraja of Sulawesi" ([pranala nonaktif]
Scholar search
). Indonesia 58: 6982. doi:10.2307/3351103. Diakses tanggal 2007-05-18.

27.

^ Tau tau sring dicuri dan dijual sebagai barang antik, contohnya adalah tau tau'
yang dipamerkan di pameran di museum Brooklyn pada tahun 1981 serta di Galeri
Arnold Herstand di New York pada 1984. Cf. Volkman Volkman (1990).

28.

^ "Toraja Dances". www.batusura.de. Diakses tanggal 2007-05-02.

29.

^ "Toraja Music". www.batusura.de. Diakses tanggal 2007-05-02.

30.

^ a b Gordon, Raymond G. (2005). Ethnologue: Languages of the World (online


version). Dallas, Tex.: SIL International. Diakses tanggal 2006-10-17.

31.

^ Volkman, Toby (31 Juli 1982). "Tana toraja: A Decade of Tourism". Cultural
Survival Quarterly 6 (3). Diakses tanggal 2007-05-18.

Referensi

Adams, Kathleen M. (2006). Art as Politics: Re-crafting Identities, Tourism and Power
in Tana Toraja, Indonesia. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-82483072-4.

Bigalke, Terance (2005). Tana Toraja: A Social History of an Indonesian People.


Singapore: KITLV Press. ISBN 9971-69-318-6.

Kis-Jovak, J.I.; Nooy-Palm, H.; Schefold, R. and Schulz-Dornburg, U. (1988). Banua


Toraja : changing patterns in architecture and symbolism among the Sadan Toraja,
Sulawesi, Indonesia. Amsterdam: Royal Tropical Institute. ISBN 90-6832-207-9.

Nooy-Palm, Hetty (1988). The Sa'dan-Toraja: A Study of Their Social Life and Religion.
The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 90-247-2274-8.

Bacaan lanjutan

Kathleen M. Adams (2006). Art as Politics: Re-crafting Identities, Tourism and Power in
Tana Toraja, Indonesia. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-30724.

Parinding, Samban C. and Achjadi, Judi (1988). Toraja: Indonesia's Mountain Eden.
Singapore: Time Edition. ISBN 981-204-016-1.

Douglas W. Hollan and Jane C. Wellenkamp (1996). The Thread of Life: Toraja
Reflections on the Life Cycle. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 0-82481-8393.

Buijs, Kees, Powers of blessing from the wilderness and from heaven. Structure and
transformations in the religion of the Toraja in the Mamasa area of South Sulawesi,
Leiden 2006, KITLV

Ma'Nene - Toraja
Siapa sangka di Tana Toraja terdapat kegiatan unik yang merupakan bagian berharga dari
budaya tanah air, adalah menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal untuk
melakukan pembersihan mayat.

Gambar: DailyMail.co.uk
Bahkan situs terkemuka DailyMail.co.uk pernah membahas akan hal ini dan
menyebutnya sebagai ritual zombie atau menghidupkan mayat. Seperti diketahui, Orang
yang sudah mati dan dikubur kemudian akan dibongkar dan akan berjalan dengan
sendirinya.