Anda di halaman 1dari 45

1

Tugas 6
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN BAHAN AJAR CETAK (NON ICT)

Oleh
RISKA WAHYUNI
15175036

DOSEN :
Prof. Dr. Festiyed, M.S

PROGRAM PASCA SARJANA PENDIDIKAN FISIKA


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat dan hidayahNya, saya dapat menyusun tugas ini dengan judul Pengembangan dan pemafaatan bahan ajar
cetak (non ict)
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mendapat masalah, namun hal
tersebut dapat diatasi dengan bimbingan dan dan dukungan dari berbagai pihak. Maka penulis
mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Pengembangan Bahan Ajar
Fisika, pengarang buku serta pembuat blog (internet) yang sangat membantu sebagai
pencarian bahan dalam pembuatan tugas ini, dan teman-teman yang secara langsung atau
tidak langsung terlibat dalam pembuatan makalah ini.
Tugas ini telah diusahakan untuk dapat diselesaikan dengan sebaik mungkin, namun
saya sebagai penyusun menyadari bahwa tidak ada karya yang sempurna. Untuk itu semua
kritik dan saran dari pembaca sangat saya harapkan, sebagai bahan penyempurnaan dimasa
yang akan dating. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua serta mendapat Ridho
disisi Allah dan dapat menjadi salah satu referensi dalam ilmu pengetahuan.

Padang, Oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................................. i
BAB I...................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN....................................................................................................... 1
A.

LATAR BELAKANG......................................................................................... 1

B.

TUJUAN PENULISAN...................................................................................... 1

C.

MANFAAT PENULISAN.................................................................................... 2

BAB II..................................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................ 3
A.

Pengertian bahan ajar.......................................................................................... 3

B.

Teknik pengembangan bahan ajar cetak...................................................................4

C.

Prinsip pengembangan bahan ajar..........................................................................5

D.

Prosedur pengembangan bahan ajar........................................................................5

E.

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN..................................................................7

F.

1.

Model 4D..................................................................................................... 7

2.

Model ADDIE............................................................................................. 13

3.

Model IDI.................................................................................................. 20

4.

Model Desain Research.................................................................................. 21

5.

Model Jerol E. Kamp ,dkk.............................................................................. 24


BAHAN AJAR CETAK LEMBAR KERJA SISWA (LKS).........................................25

BAB II................................................................................................................... 29
PEMBAHASAN....................................................................................................... 29
A.

Matriks Perbedaan Model Pengembangan..............................................................29

B.

Matriks Perbedaan Prosedur Penyusunan Bahan Ajar Cetak Lembar Kerja Siswa..............30

C.

Matriks prosedur pengambangan bahana ajar dengan menggunakan model ADDIE...........33

BAB III.................................................................................................................. 37
PENUTUP.............................................................................................................. 37
A.

KESIMPULAN............................................................................................... 37

B.

SARAN........................................................................................................ 37
1

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 38
Lampiran 1 . Lembar Kerja Siswa.................................................................................. 39

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Permendikbud No 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan
Dasar Dan Pendidikan Menengah menyatakan bahwa proses pembelajaran
diselenggarakan secara interaktif, menyenangkan, menantang, inspiratif, memotivasi
peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan perkembangan
fisik serta psikologis peserta didik. Demi tercapainya amanat peraturan kementrian
pendidikan nasional itu, kurikulum 2013 telah memberikan ruang melalui kegiatan
saintifik dalam kegiatan pembelajaran. untuk itu, setiap satuan pendidikan harus berupaya
untuk melakasanakan pendidikan yang mampu memebrikan stimulus kepada peserta didik
untuk berperan aktif, dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menstimulus peserta didik belajar aktif,
kreatif dan mandiri adalah melalui penyediaan bahan ajar. Bahan ajar merupakan alat yang
dapat membantu guru dalam menyampaikan pembelajaran agar lebih bermakna. Melalui
bahan ajar, guru dapat memfasilitasi peserta didik untuk melihat secara nyata apa yang
sedang dipelajari. Baik itu berupa gambar, maupun berupa video. Dengan menggunakan
bahan ajar interaksi anatara guru, dan peserta didik akan lebih terarah, begitu juga
interaksi antar peserta didik, karena mereka telah mempunyai informasi yang cukup dalam
berdiskusi tentang pembelajaran yang sedang dipelajari.
Secara umum, bentuk bahana ajar ada dua yaitu bahan ajar cetak dan bahan ajar non
cetak. Bahan ajar juga banyak bentuknya, seperti lembar kerja, handout, modul, buku teks,
gambar, dan sebagainya. Bahan ajar cetak yang bisa digunakan membantu proses belajar
mengajar dan bisa mengaktifkan peserta didik adalah LKS.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui model-model pengembangan bahan ajar
2. Mengetahui pengembangan bahan ajar non cetak
3. Mengetahui cara pengembangan LKS

C. MANFAAT PENULISAN
1 Dapat dijadikan pengalaman dan bekal ilmu pengetahuan bagi pembaca khususnya
2
3

untuk tenaga pendidik kedepannya.


Membantu mahasiswa memahami pengembangan bahan ajar cetak (NON ICT).
Memenuhi persyaratan untuk mengikuti mata kuliah pengembangan model
pembelajaran program studi pendidikan Fisika Fakultas pascasarjana Universitas
Negeri Padang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian bahan ajar


Bahan ajar atau materi pembelajaran adalah segala hal yang digunakan oleh para guru
atau para siswa untuk memudahkan proses pembelajaran. Bahan ajar bisa berupa kaset,
video, CD-Room, kamus, buku bacaan, buku kerja, atau fotokopi latihan soal. Bahan juga
bisa berupa koran, paket makanan, foto, perbincangan langsung dengan mendatangkan
penutur asli, instruksi-instruksi yang diberikan oleh guru, tugas tertulis atau kartu atau juga
diskusi antar siswa. (Akhmad Sudrajat, 2008) Dan E. Mulyasa (2006) menjelaskan bahan ajar
atau materi pembelajaran secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah
ditentukan.
Sedangkan menurut Zulkarnaini (2009) bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang
digunakan untuk membantu guru atau instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar di kelas. Bahan ajar memiliki posisi amat penting dalam pembelajaran, yakni
sebagai representasi (wakil) dari penjelasan guru di depan kelas. Keterangan-keterangan
guru, uraian-uraian yang harus disampaikan guru, dan informasi yang harus disajikan guru
dihimpun di dalam bahan ajar. Dengan demikian, guru juga akan dapat mengurangi
kegiatannya menjelaskan pelajaran, memiliki banyak waktu untuk membimbing siswa dalam
belajar atau membelajarkan siswa.
Dilihat dari aspek fungsi, bahan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua kelompok,
yaitu sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara langsung dan sebagai sumber belajar
yang dimanfaatkan secara tidak langsung. Sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan
langsung, bahan pembelajaran merupakan bahan ajar utama yang menjadi rujukan wajib
dalam pembelajaran. Contohnya adalah buku teks, modul, handout, dan bahan-bahan
panduan utama lainnya. Bahan pembelajaran dikembangkan mengacu pada kurikulum yang
berlaku, khususnya yang terkait dengan tujuan dan materi kurikulum seperti kompetensi,
standar materi dan indikator pencapaian (Rahmat Hasan, 2014).
Sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara tidak langsung, bahan pembelajaran
merupakan bahan penunjang yang berfungsi sebagai pelengkap. Contohnya adalah buku
bacaan, majalah, program video, leaflet, poster, dan komik pengajaran. Bahan pembelajaran
ini pada umumnya disusun di luar lingkup materi kurikulum, tetapi memiliki keterkaitan yang
erat dengan tujuan utamanya yaitu memberikan pendalaman dan pengayaan bagi siswa
(Rahmat Hasan, 2014)

B. Teknik pengembangan bahan ajar cetak


Mengembangkan bahan ajar cetak berarti mengajarkan suatu mata pelajaran melalui
tulisan. Oleh karena itu, prinsip-prinsip yang digunakan dalam mengembangkan bahan ajar
cetak sama dengan yang digunakan dalam pembelajaran biasa. Bedanya adalah, bahasa yang
digunakan bersifat setengah formal dan setengah lisan, bukan bahasa buku teks yang bersifat
sangat formal.
Ada tiga teknik yang dapat dipilih dalam menyusun bahan ajar cetak. Ketiga teknik
tersebut menurut Sungkono, dkk (2003), yaitu menuulis sendiri, pengemasan kembali
informasi, dan penataan informasi:
1. Menulis Sendiri (Starting from Scratch)
Penulis/guru dapat menulis sendiri bahan ajar cetak yang akan digunakan dalam
proses pembelajaran. Asumsi yang mendasari cara ini adalah bahwa guru adalah pakar
yang berkompeten dalam bidang ilmunya, mempunyai kemampuan menulis, dan
mengetahui kebutuhan siswa dalam bidang ilmu tersebut. Untuk menulis bahan ajar cetak
sendiri, di samping penguasaan bidang ilmu, juga diperlukan kemampuan menulis bahan
ajar cetak sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran, yaitu selalu berlandaskan
kebutuhan peserta belajar, yang meliputi pengetahuan, keterampilan, bimbingan, latihan,
dan umpan balik. Pengetahuan itu dapat diperoleh melalui analisis pembelajaran, dan
silabus. Jadi, materi yang disajikan dalam bahan ajar cetak adalah pokok bahasan dan sub
pokok bahasan yang tercantum dalam silabus.
2. Pengemasan Kembali Informasi (Information Repackaging)
Penulis/guru tidak menulis bahan ajar cetak sendiri, tetapi memanfaatkan buku-buku
teks dan informasi yang telah ada di pasaran untuk dikemas kembali menjadi bahan ajar
cetak yang memenuhi karakteristik bahan ajar cetak yang baik. Bahan ajar cetak atau
informasi yang sudah ada dikumpulkan berdasarkan kebutuhan (sesuai dengan
kompetensi, silabus dan RPP/SAP), kemudian disusun kembali dengan gaya bahasa yang
sesuai. Selain itu juga diberi tambahan keterampilan atau kompetensi yang akan dicapai,
latihan, tes formatif, dan umpan balik.
3. Penataan Informasi (Compilation)
Cara ini mirip dengan cara kedua, tetapi dalam penataan informasi tidak ada
perubahan yang dilakukan terhadap bahan ajar cetak yang diambil dari buku teks, jurnal
ilmiah, artikel, dan lain-lain. Dengan kata lain, materi-materi tersebut dikumpulkan,
digandakan dan digunakan secara langsung. Materi-materi tersebut dipilih, dipilah dan
disusun berdasarkan kompetensi yang akan dicapai dan silabus yang hendak digunakan
C. Prinsip pengembangan bahan ajar

Ada tiga prinsip yang diperlukan dalam pengembangan bahan ajar. Ketiga prinsip itu
adalah relevansi, konsitensi, dan kecukupan. Relevansi artinya keterkaitan atau berhubungan
erat. Konsistensi maksudnya keajegan tetap. Kecukupan maksudnya secara kuantitatif
materi tersebut memadai untuk dipelajari.
1. Prinsip relevansi atau keterkaitan atau berhubungan erat, maksudnya adalah materi
pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan oleh menghafalkan fakta, materi
yang disajikan adalah fakta. Kalau kompetensi dasar meminta 18 kemampuan
melakukan sesuatu, materi pelajarannya adalah prosedur atau cara melakukan sesuatu.
2. Prinsip konsistensi adalah ketatabahasan dalam pengembangan bahan ajar. Misalnya
kompetensi dasar meminta kemampuan siswa untuk menguasai tiga macam konsep,
materi yang disajikan juga tiga macam. Umpamanya kemampuan yang diharapkan
dikuasai oleh siswa adalah menyusun paragraf deduktif, materinya sekurang-kurangnya
pengertian paragraf deduktif, cara menyusun paragraf deduktif, dan cara merevisi
paragraf deduktif. Artinya, apa yang diminta itulah yang diberikan.
3. Prinsip kecukupan, artinya materi yang disajikan hendaknya cukup memadai untuk
mencapai kompetensi dasar. Materi tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak. Jika
materi terlalu sedikit, kemungkinan siswa tidak akan dapat mencapai kompetensi dasar
dengan memanfaatkan materi itu. Kalau materi terlalu banyak akan banyak pula
menyita waktu untuk mempelajarinya.
D. Prosedur pengembangan bahan ajar
Ada beberapa prosedur yang harus diikuti dalam pengembangan bahan ajar. Prosedur
itu meliputi:
1. memahami standar isi dan standar kompetensi lulusan, silabus, program semeter, dan
rencana pelaksanaan pembelajaran;
2. mengidentifikasi jenis materi pembelajaran berdasarkan pemahaman terhadap poin
pertama;
3. melakuan pemetaan materi;
4. menetapkan bentuk penyajian;
5. menyusun struktur (kerangka) penyajian;
6. membaca buku sumber;
7. mendraf (memburam) bahan ajar;
8. merevisi (menyunting) bahan ajar;
9. mengujicobakan bahan ajar;m
10. merevisi dan menulis akhir (finalisasi).

Dalam menyusun bahan ajar perlu memperhatikan kecocokan bahan, kesesuaian


metode serta media yang relevan, dan dapat menunjang prosespembelajaran. Menurut
Tarigan dan Tarigan (1986) kriteria telaah bahan ajar meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

kurikulum yang berlaku;


karakteristik mata pelajaran (ilmu yang relevan);
hubungan antara kurikulum, mata pelajaran, dan bahan ajar;
dasar-dasar pengembangan bahan ajar;
kualitas bahan ajar;
prinsip-prinsip pengembangan buku kerja;
penyeleksian buku kerja.

Penilaian bahan ajar menurut Supriadi (2001) meliputi:


1.
2.
3.
4.
5.

mutu isi buku


kesesuaian dengan kurikulum
bahasa yang digunakan termasuk penyajian dan keterbacaannya
grafika
keamanan buku

Allah SWT berfirman dalam Quran Surat An-Nahl ayat yang berbunyi 125,

Artinya: 125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah [845] dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu
Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dalam pengembangan bahan ajar, terdapat beberapa model pengembangan yang
mendasarinya. Salah satu model pengembangan adalah model ADDIE. ADDIE merupakan
singkatan dari Analysis, Design, Development or Production, Implementation or Delivery
and Evaluations.
.
E. MODEL-MODEL PENGEMBANGAN
1.
Model 4D
Model pengembangan perangkat 4D Model disarankan oleh Sivasailam Thiagarajan,
Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel (1974). Model ini terdiri dari 4 tahap
pengembangan yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate atau diadaptasikan
menjadi model 4-D, yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran.
a.
Define (Pendefinisian)
Kegiatan pada tahap ini dilakukan untuk menetapkan dan mendefinisikan syaratsyarat pengembangan. Dalam model lain, tahap ini sering dinamakan analisis kebutuhan.

Tiap-tiap produk tentu membutuhkan analisis yang berbeda-beda. Secara umum, dalam
pendefinisian ini dilakukan kegiatan analisis kebutuhan pengembangan, syarat-syarat
pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna serta model penelitian
dan pengembangan (model R & D) yang cocok digunakan untuk mengembangkan produk.
Analisis bias dilakukan melalui studi literature atau penelitian pendahuluan. Thiagrajan
(1974) menganalisis 5 kegiatan yang dilakukan pada tahap define yaitu:
a. Front and analysis
Pada tahap ini, guru melakukan diagnosis awal untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas pembelajaran.
b. Learner analysis
Pada tahap ini dipelajari karakteristik peserta didik, misalnya: kemampuan, motivasi
belajar, latar belakang pengalaman, dsb.
c. Task analysis
Guru menganalisis tugas-tugas pokok yang harus dikuasai peserta didik agar peserta
didik dapat mencapai kompetensi minimal.
d. Concept analysis
Menganalisis konsep yang akan diajarkan, menyusun langkah-langkah yang akan
dilakukan secara rasional
e. Specifying instructional objectives
Menulis tujuan pembelajaran, perubahan perilaku yang diharapkan setelah belajar
dengan kata kerja operasional.
Dalam konteks pengembangan bahan ajar (modul, buku, LKS), menurut Endang
Mulyatingingsih (2012), tahap pendefinisian dilakukan dengan cara:
1) Analisis kurikulum
Pada tahap awal, peneliti perlu mengkaji kurikulum yang berlaku pada saat itu. Dalam
kurikulum terdapat kompetensi yang ingin dicapai. Analisis kurikulum berguna untuk
menetapkan pada kompetensi yang mana bahan ajar tersebut akan dikembangkan. Hal ini
dilakukan karena ada kemungkinan tidak semua kompetensi yang ada dalam kurikulum
dapat disediakan bahan ajarnya
2) Analisis karakteristik peserta didik
Seperti layaknya seorang guru akan mengajar, guru harus mengenali karakteristik
peserta didik yang akan menggunakan bahan ajar. Hal ini penting karena semua proses
pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Hal-hal yang perlu
dipertimbangkan untuk mengetahui karakteristik peserta didik antara lain: kemampuan

akademik individu, karakteristik fisik, kemampuan kerja kelompok, motivasi belajar, latar
belakang ekonomi dan sosial, pengalaman belajar sebelumnya, dsb. Dalam kaitannya
dengan pengembangan bahan ajar, karakteristik peserta didik perlu diketahui untuk
menyusun bahan ajar yang sesuai dengan kemampuan akademiknya, misalnya: apabila
tingkat pendidikan peserta didik masih rendah, maka penulisan bahan ajar harus
menggunakan bahasa dan kata-kata sederhana yang mudah dipahami. Apabila minat baca
peserta didik masih rendah maka bahan ajar perlu ditambah dengan ilustasi gambar yang
menarik supaya peserta didik termotivasi untuk membacanya.
3) Analisis materi
Analisis materi dilakukan dengan cara mengidentifikasi materi utama yang perlu
diajarkan, mengumpulkan dan memilih materi yang relevan, dan menyusunnya kembali
secara sistematis
4) Merumuskan tujuan
Sebelum menulis bahan ajar, tujuan pembelajaran dan kompetensi yang hendak
diajarkkan perlu dirumuskan terlebih dahulu. Hal ini berguna untuk membatasi peneliti
supaya tidak menyimpang dari tujuan semula pada saat mereka sedang menulis bahan ajar.
b.

Design (perancangan)
Tahap perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran .

Thiagarajan membagi tahap design dalam empat kegiatan, yaitu: constructing criterion
referenced test, media selection, format selection, initial design. Kegiatan yang dilakukan
pada tahap tersebut antara lain:
1.

Menyusun tes kriteria, sebagai tindakan

pertama untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik, dan sebagai alat evaluasi
setelah implementasi kegiatan. Menurut Thiagarajan, dkk (1974), penyusunan tes
kriteria

merupakan

langkah

pendefinisian (define) dengan

yang

tahap

menghubungkan

perancangan (design).

antara
Tes

tahap
kriteria

disusun berdasarkan spesifikasi tujuan pembelajaran dan analisis siswa, kemudian


selanjutnya disusun kisi-kisi tes hasil belajar. Tes yang dikembangkan disesuaikan
dengan jenjang kemampuan kognitif. Penskoran hasil tes menggunakan panduan
evaluasi yang memuat kunci dan pedoman penskoran setiap butir soal.
2.
Memilih media pembelajaran
3.

sesuai dengan materi dan karakteristik peserta didik.


Pemilihan

media

dilakukan

yang
untuk

mengidentifikasi media pembelajaran yang relevan dengan karakteristik materi.


Lebih dari itu, media dipilih untuk menyesuaikan dengan analisis konsep dan

analisis tugas, karakteristik target pengguna, serta rencana penyebaran dengan


atribut yang bervariasi dari media yang berbeda-beda.hal ini berguna untuk
membantu siswa dalam pencapaian kompetensi dasar. Artinya, pemilihan media
dilakukan
4.

untuk

mengoptimalkan

penggunaan

pengembangan bahan ajar pada pembelajaran di kelas.


Pemilihan

bahan

ajar

dalam

bentuk

proses

penyajian

pembelajaran disesuaikan dengan media pembelajaran yang digunakan. Bila guru


akan menggunakan media audio visual, pada saat pembelajaran tentu saja peserta
didik disuruh melihat dan mengapresiasi tayangan media audio visual tersebut.
Pemilihan bentuk penyajian pembelajaran dimaksudkan untuk mendesain atau
merancang isi pembelajaran, pemilihan strategi, pendekatan, metode pembelajaran,
dan sumber belajar. Format yang dipilih adalah yang memenuhi kriteria menarik,
5.

memudahkan dan membantu dalam pembelajaran matematika realistik.


Mensimulasikan
penyajian

materi

dengan media dan langkah-langkah pembelajaran yang telah dirancang. Pada saat
simulasi pembelajaran berlangsung, dilaksanakan juga penilaian dari teman sejawat.
Rancangan seluruh perangkat pembelajaran harus dikerjakan sebelum ujicoba
dilaksanakan. Hal ini juga meliputi berbagai aktivitas pembelajaran yang terstruktur
seperti membaca teks, wawancara, dan praktek kemampuan pembelajaran yang
berbeda melalui praktek mengajar.
Dalam tahap perancangan, peneliti sudah membuat produk awal (prototype) atau
rancangan produk. Pada konteks pengembangan bahan ajar, tahap ini dilakukan untuk
membuat modul atau buku ajar sesuai dengan kerangka isi hasil analisis kurikulum dan
materi. Dalam konteks pengembangan model pembelajaran, tahap ini diisi dengan
kegiatan menyiapkan kerangka konseptual model dan perangkat pembelajaran (materi,
media, alat evaluasi) dan mensimulasikan penggunaan model dan perangkat pembelajaran
tersebut dalam lingkup kecil.
Sebelum rancangan (design) produk dilanjutkan ke tahap berikutnya, maka
rancangan produk (model, buku ajar, dsb) tersebut perlu divalidasi. Validasi rancangan
produk dilakukan oleh teman sejawat seperti dosen atau guru dari bidang studi/bidang
keahlian yang sama. Berdasarkan hasil validasi teman sejawat tersebut, ada kemungkinan
rancangan produk masih perlu diperbaiki sesuai dengan saran validator.

10

c.

Develop (Pengembangan)
Thiagarajan membagi tahap pengembangan dalam dua kegiatan yaitu: expert

appraisal dan developmental testing. Expert appraisal merupakan teknik untuk


memvalidasi atau menilai kelayakan rancangan produk. Dalam kegiatan ini dilakukan
evaluasi oleh ahli dalam bidangnya. Saran-saran yang diberikan digunakan untuk
memperbaiki materi dan rancangan pembelajaran yang telah disusun.
Developmental testing merupakan kegiatan uji coba rancangan produk pada
sasaran subjek yang sesungguhnya. Pada saat uji coba ini dicari data respon, reaksi atau
komentar dari sasaran pengguna model. Hasil uji coba digunakan memperbaiki produk.
Setelah produk diperbaiki kemudian diujikan kembali sampai memperoleh hasil yang
efektif.
Dalam konteks pengembangan bahan ajar (buku atau modul), tahap
pengembangan dilakukan dengan cara menguji isi dan keterbacaan modul atau buku
ajar tersebut kepada pakar yang terlibat pada saat validasi rancangan dan peserta didik
yang akan menggunakan modul atau buku ajar tersebut. Hasil pengujian kemudian
digunakan untuk revisi sehingga modul atau buku ajar tersebut benar-benar telah
memenuhi kebutuhan pengguna. Untuk mengetahui efektivitas modul atau buku ajar
tersebut dalam meningkatkan hasil belajar, kegiatan dilanjutkan dengan memberi soalsoal latihan yang materinya diambil dari modul atau buku ajar yang dikembangkan.
Dalam konteks pengembangan model pembelajaran, kegiatan pengembangan
(develop) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a. Validasi model oleh ahli/pakar. Hal-hal yang divalidasi meliputi panduan
penggunaan model dan perangkat model pembelajaran. Tim ahli yang dilibatkan
dalam proses validasi terdiri dari: pakar teknologi pembelajaran, pakar bidang
studi pada mata pelajaran yang sama, pakar evaluasi hasil belajar.
b. Revisi model berdasarkan masukan dari para pakar pada saat validasi.
c. Uji coba terbatas dalam pembelajaran di kelas, sesuai situasi nyata yang akan
dihadapi.
d. Revisi model berdasarkan hasil uji coba.
e. Implementasi model pada wilayah yang lebih luas. Selama proses implementasi
tersebut, diuji efektivitas model dan perangkat model yang dikembangkan.
Pengujian efektivitas dapat dilakukan dengan eksperimen atau Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Cara pengujian melalui eksperimen dilakukan dengan
membandingkan hasil belajar pada kelompok pengguna model dan kelompok
yang tidak menggunakan model. Apabila hasil belajar kelompok pengguna model
lebih bagus dari kelompok yang tidak menggunakan model maka dapat
dinyatakan model tersebut efektif. Cara pengujian efektivitas pembelajaran

11

melalui PTK dapat dilakukan dengan cara mengukur kompetensi sebelum dan
sesudah pembelajaran. Apabila kompetensi sesudah pembelajaran lebih baik dari
sebelumnya, maka model pembelajaran yang dikembangkan juga dinyatakan
efektif.
d.

Disseminate (Penyebarluasan)
Thiagarajan membagi tahap dissemination dalam tiga kegiatan yaitu: validation

testing, packaging, diffusion and adoption. Pada tahap validation testing, produk yang
sudah direvisi pada tahap pengembangan kemudian diimplementasikan pada sasaran
yang sesungguhnya. Pada saat implementasi dilakukan pengukuran ketercapaian tujuan.
Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas produk yang dikembangkan.
Setelah produk diimplementasikan, pengembang perlu melihat hasil pencapaian tujuan.
Tujuan yang belum dapat tercapai perlu dijelaskan solusinya sehingga tidak terulang
kesalahan yang sama setelah produk disebarluaskan. Kegiatan terakhir dari tahap
pengembangan adalah melakukan packaging (pengemasan), diffusion and adoption.
Tahap ini dilakukan supaya produk dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Pengemasan
model pembelajaran dapat dilakukan dengan mencetak buku panduan penerapan model
pembelajaran. Setelah buku dicetak, buku tersebut disebarluaskan supaya dapat diserap
(diffusi) atau dipahami orang lain dan digunakan (diadopsi) pada kelas mereka.
Pada konteks pengembangan bahan ajar, tahap dissemination dilakukan dengan
cara sosialisasi bahan ajar melalui pendistribusian dalam jumlah terbatas kepada guru
dan peserta didik. Pendistribusian ini dimaksudkan untuk memperoleh respons, umpan
balik terhadap bahan ajar yang telah dikembangkan. Apabila respon sasaran pengguna
bahan ajar sudah baik maka baru dilakukan pencetakan dalam jumlah banyak dan
pemasaran supaya bahan ajar itu digunakan oleh sasaran yang lebih luas
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam melakukan diseminasi adalah
analisis pengguna, menentukan strategi dan tema, pemilihan waktu, dan pemilihan
media
a) Analisis Pengguna
Analisis pengguna adalah langkah awal dalam tahapan diseminasi untuk
mengetahui atau menentukan pengguna produk yang telah dikembangkan. Menurut
Thiagarajan, dkk (1974), pengguna produk bisa dalam bentuk individu/perorangan
atau kelompok seperti: universitas yang memiliki fakultas/program studi
kependidikan, organisasi/lembaga persatuan guru, sekolah, guru-guru, orangtua

12

siswa, komunitas tertentu, departemen pendidikan nasional, komite kurikulum, atau


lembaga pendidikan yang khusus menangani anak cacat.
b) Penentuan strategi dan tema penyebaran
Strategi penyebaran adalah rancangan untuk pencapaian penerimaan produk
oleh calon pengguna produk pengembangan. Guba (Thiagarajan, 1974) memberikan
beberapa strategi penyebaran yang dapat digunakan berdasarkan asumsi pengguna
diantaranya adalah: (1) strategi nilai, (2) strategi rasional, (3) strategi didaktik, (4)
strategi psikologis, (5) strategi ekonomi dan (6) strategi kekuasaan.
c) Waktu
Menurut Thiagarajan, dkk (1974) selain menentukan strategi dan tema, peneliti
juga harus merencanakan waktu penyebaran. Penentuan waktu ini sangat penting
khususnya bagi pengguna produk dalam menentukan apakah produk akan digunakan
atau tidak (menolaknya).
d) Pemilihan media penyebaran
Menurut Thiagarajan, dkk (1974) dalam penyebaran produk, beberapa jenis
media dapat digunakan. Media tersebut dapat berbentuk jurnal pendidikan, majalah
pendidikan, konferensi, pertemuan, dan perjanjian dalam berbagai jenis serta melalui
pengiriman lewat e-mail.
2. Model ADDIE
ADDIE merupakan singkatan dari Analysis, Design, Development or Production,
Implementation or Delivery and Evaluations. Menurut langkah-langkah pengembangan
produk, model penelitian dan pengembangan ini lebih rasional dan lebih lengkap
daripada model 4D. Model ini memiliki kesamaan dengan model pengembangan sistem
basisdata yang telah diuraikan sebelumnya. Inti kegiatan pada setiap tahap
pengembangan juga hampir sama. Oleh sebab itu, model ini dapat digunakan untuk
berbagai macam bentuk pengembangan produk seperti model, strategi pembelajaran,
metode pembelajaran, media dan bahan ajar. Model ADDIE dikembangkan oleh Dick
and Carry (1996) untuk merancang sistem pembelajaran.
ADDIE telah banyak diterapkan dalam lingkungan belajar yang telah dirancang
sesuai dengan tujuan pembelajaran. Berdasarkan landasan filosofi pendidikan
penerapan ADDIE harus bersifat student center, inovatif, otentik dan inspriratif. Konsep
pengembangannya sudah diterapkan sejak terbentuknya komunitas sosial. Pembuatan
sebuah produk pembelajaran dengan menggunakan ADDIE merupakan sebuah kegiatan

13

yang menggunakan perangkat yang efektif. ADDIE yang membantu menyelesaikan


permasalah pembelajaran yang komplek dan juga mengembagkan produk-produk
pendidikan dan pembelajaran.
Allah SWT berfirman dalam Quran Surat An-Nahl ayat yang berbunyi 125,

Artinya: 125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah [845] dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan
Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Langkah-langkah desain model ADDIE

a.

Analysis (analisa)
Analisis merupakan tahap pertama yang harus dilakukan oleh seorang
pengembang pembelajaran. Shelton dan Saltsman menyatakan ada tiga segmen yang
harus dianalisis yaitu siswa, pembelajaran, serta media untuk menyampaikan bahan
ajarnya.

Langkah-langkah

dalam

tahapan

analisis

ini

setidaknya

adalah:

menganalisis siswa; menentukan materi ajar; menentukan standar kompetensi (goal)


yang akan dicapai; dan menentukan media yang akan digunakan (Fadli, 2012).
Langkah analisis melalui dua tahap, yaitu :
1) Analisis Kinerja
Analisis Kinerja dilakukan untuk mengetahui dan mengklarifikasi
apakah

masalah

kinerja

yang

dihadapi

memerlukan

solusi

berupa

penyelenggaraan program pembelajaran atau perbaikan manajemen (Alik,


2010).
Contoh :

14

Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan menyebabkan rendahnya kinerja


individu dalam organisasi atau perusahaan, hal ini diperlukan solusi berupa

penyelenggaraan program pembelajaran.


Rendahnya motivasi berprestasi, kejenuhan, atau kebosanan dalam bekerja
memerlukan solusi perbaikan kualitas manajemen.Misalnya pemberian
insentif terhadap prestasi kerja, rotasi dan promosi, serta penyediaan

fasilitas kerja yang memadai (Alik, 2010).


2) Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan merupakan langkah yang diperlukan untuk menentukan
kemampuan-kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari oleh siswa untuk
meningkatkan kinerja atau prestasi belajar. Oleh karena itu, output yang akan kita
hasilkan adalah berupa karakteristik atau profile calon peserta belajar, identifikasi
kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas
kebutuhan.
b.

Design (desain/perancangan)
Tujuan dalam tahap desain ini adalah Memverifikasi kinerja yang akan dicapai

dan pemilihan metode tes yang sesuai.


Dalam tahap desain ini ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama,
merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan
realistic). Selanjutnya menyusun tes, dimana tes tersebut harus didasarkan pada tujuan
pembelajaran yag telah dirumuskan tadi. Kemudian tentukanlah strategi pembelajaran
media danyang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Selain itu,
dipertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal sumber belajar yang
relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan lain-lain. Semua itu
tertuang dalam sautu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci. Desain
merupakan langkah kedua dari model desain sistem pembelajaran ADDIE. Langkah ini
merupakan:
1) Inti dari langkah analisis karena mempelajari masalah kemudian menemukan
alternatif solusinya yang berhasil diidentifikasi melalui langkah analisis
kebutuhan.
2) Langkah penting yang perlu dilakukan untuk, menentukan pengalaman belajar
yang perlu dimilki oleh siswa selama mengikuti aktivitas pembelajaran.

15

3) Langkah

yang

harus

mampu

menjawab

pertanyaan,

apakah

program

pembelajaran dapat mengatasi masalah kesenjangan kemampuan siswa?


4) Kesenjangan kemampuan disini adalah perbedaan kemampuan yang dimilki
siswa dengan kemampuan yang seharusnya dimiliki siswa. Contoh pernyataan
kesenjangan kemampuan:
Siswa tidak mampu mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan

setelah mengikuti proses pembelajaran.


Siswa hanya mampu mencapai tingkat kompetensi 60% dari standar
kompetensi yang telah digariskan.
Pada saat melakukan langkah ini perlu dibuat pertanyaan - pertanyaan kunci

diantaranya adalah sebagai berikut :


Kemampuan dan kompetensi khusus apa yang harus dimilki oleh siswa setelah
menyelesaikan program pembelajaran?
Indikator apa yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam
mengikuti program pembelajaran?
Peralatan atau kondisi bagaimana yang diperlukan oleh siswa agar dapat melakukan
unjuk kompetensi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - setelah mengikuti program
pembelajaran?
Bahan ajar dan kegiatan seperti apa yang dapat digunakan dalam mendukung program
pembelajaran?
c.

Development (pengembangan)
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi

kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia
pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Satu langkah penting
dalam tahap pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji
coba ini memang merupakan bagian dari salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi.
Pengembangan merupakan langkah ketiga dalam mengimplementasikan model
desain sistem pembelajaran ADDIE. Langkah pengembangan meliputi kegiatan
membuat, membeli, dan memodifikasi bahan ajar. Dengan kata lain mencakup kegiatan
memilih, menentukan metode, media serta strategi pembelajaran yang sesuai untuk
digunakan dalam menyampaikan materi atau substansi program. Dalam melakukan
langkah pengembangan, ada dua tujuan penting yang perlu dicapai. Antara lain adalah :
1) Memproduksi, membeli, atau merevisi bahan ajar yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya.

16

2) Memilih media atau kombinasi media terbaik yang akan digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
Pada saat melakukan langkah pengembangan, seorang perancang akan membuat
pertanyaan-pertanyaan kunci yang harus dicari jawabannya, Pertanyaan-pertanyaannya
antara lain :
1) Bahan ajar seperti apa yang harus dibeli untuk dapat digunakan dalam mencapai
tujuan pembelajaran?
2) Bahan ajar seperti apa yang harus disiapkan untuk memenuhi kebutuhan siswa
yang unik dan spesifik?
3) Bahan ajar seperti apa yang harus dibeli dan dimodifikasi sehingga dapat
digunakan untuk memenuhi kebutuhan siswa yang unik dan spesifik?
4) Bagaimana kombinasi media yang diperlukan dalam menyelenggarakan program
pembelajaran?
d.

Implementation (implementasi/eksekusi)
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang

sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau
diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan.
Implementasi atau penyampaian materi pembelajaran merupakan langkah keempat dari
model desain sistem pembelajaran ADDIE. Tujuan utama dari langkah ini antara lain :
1) Membimbing siswa untuk mencapai tujuan atau kompetensi.
2) Menjamin terjadinya pemecahan masalah / solusi untuk mengatasi kesenjangan
hasil belajar yang dihadapi oleh siswa.
3) Memastikan bahwa pada akhir program pembelajaran, siswa perlu memilki
kompetensi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap - yang diperlukan. Pertanyaanpertanyaan kunci yang harus dicari jawabannya oleh seorang perancang program
pembelajaran pada saat melakukan langkah implementasi yaitu sebagai berikut :
Metode pembelajaran seperti apa yang paling efektif utnuk digunakan dalam
penyampaian bahan atau materi pembelajaran?

Upaya atau strategi seperti apa yang dapat dilakukan untuk menarik dan
memelihara minat siswa agar tetap mampu memusatkan perhatian terhadap
penyampaian materi atau substansi pembelajaran yang disampaikan?

e. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)

17

Evaluasi yaitu proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang
dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi
bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat
tahap di atas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan revisi.
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari model desain sistem pembelajaran
ADDIE. Evaluasi adalah sebuah proses yang dilakukan untuk memberikan nilai
terhadap program pembelajaran. Evaluasi terhadap program pembelajaran bertujuan
untuk mengetahui beberapa hal, yaitu :
1) Sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran secara keseluruhan.
2) Peningkatan kompetensi dalam diri siswa, yang merupakan dampak dari
keikutsertaan dalam program pembelajaran.
3) Keuntungan yang dirasakan oleh sekolah akibat adanya peningkatan kompetensi
siswa setelah mengikuti program pembelajaran. Beberapa pertanyaan penting yang
harus dikemukakan perancang program pembelajaran dalam melakukan langkahlangkah evaluasi, antara lain :
a) Apakah siswa menyukai program pembelajaran yang mereka ikuti selama ini?
b) Seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh siswa dalam mengikuti program
pembelajaran?
c) Seberapa jauh siswa dapat belajar tentang materi atau substansi pembelajaran?
d) Seberapa besar siswa mampu mengaplikasikan pengetahuan, ketrampilan, dan
sikap yang telah dipelajari?
e) Seberapa besar kontribusi program pembelajaran yang dilaksanakan terhadap
prestasi belajar siswa?
Implementasi model desain sistem pembelajaran ADDIE yang dilakukan secara
sistematik dan sistemik diharapkan dapat membantu seorang perancang program, guru,
dan instruktur dalam menciptakan program pembelajaran yang efektif, efisien, dan
menarik.
Konsep Penting Dalam Desain Instruksional Model ADDIE
a. Tahap Analisis
Kosep menarik dari tahap ini adalah bagaimana seorang perancang
instruksional melakukan analisis kinerja untuk mengetahui dan mengklarifikasi
apakah masalah kinerja yang dihadapi memerlukan solusi berupa penyelenggaraan
program pembelajaran atau perbaikan manajemen, apakah masalah tersebut adalah
benar-benar masalah dan membutuhkan upaya untuk penyelesaian. Disamping itu
kemampuan menganalisis kebutuhan, juga merupakan langkah yang sangat penting

18

untuk menentukan kemampuan-kemampuan atau kompetensi yang perlu dipelajari


oleh pemelajar untuk meningkatkan kinerja atau prestasi belajar.
b. Tahap Desain
Langkah penting yang dilakukan dalam tahap desain adalah bagaimana
seorang perancang instruksional mampu menetapkan pengalaman belajar atau
learning experience seperti apa yang perlu dimiliki oleh pemelajar selama mengikuti
aktivitas pembelajaran. Hal tersebut berkaitan juga dengan akltifitas mendesain,
daftar tugas, Perangkat pembelajaran, dan penyusunan strategi tes, dan rancangan
investasi program.
c. Tahap Pengembangan
Konsep penting dalam tahap ini adalah bahwa seorang perancang instruksional
harus memiliki kemampuan mencakup kegiatan memilih dan menentukan metode,
media, serta strategi pembelajaran yang sesuai untuk digunakan dalam
menyampaikan materi atau substansi program pembelajaran.
d. Tahap Implementasi
Konsep penting pada tahap implementasi, adalah bagaimana perancang
instruksional mampu memilih metode pembelajaran seperti apa yang yang paling
efektif dalam menyampaikan bahan atau materi pembelajaran. Bagaimana upaya
menarik dan memelihara minat pemelajar agar mampu memusatkan perhatian pada
penyampaian materi.
e. Tahap Evaluasi
Konsep penting dari tahapan evaluasi model ADDIE adalah bagaimana
seorang perancang instruksional mampu melakukan evaluasi keseluruhan model,
dari tahap awal sampai akhir. Langkah-langkah yang penting dalam evaluasi model
ADDIE adalah bagaimana menentukan kriteria evaluasi, memilih alat untuk
evaluasi, dan mengadakan Evaluasi itu sendiri. Kegiatan evaluasi setidaknya mampu
menjawab pertanyaan sebagai berikut: bagaimana sikap pemelajar terhadap kegiatan
pembelajaran secara keseluruhan, bagaimana peningkatan kompetensi dalam diri
pemelajar yang merupakan dampak dari keikutsertaan dalam program pembelajaran,

19

dan keuntungan apa yang dirasakan oleh sekolah akibat adanya peningkatan
kompetensi pemelajar setelah mengikuti program pembelajaran.
Kelebihan dan Kekurang Model Desain ADDIE
Kelebihan desain ADDIE
b) Sifatnya lebih sederhana
c) Terstruktur dengan sistematis
d) Mudah dipelajari pendidik

Kekurangan desain ADDIE


1. Waktunya lama
2. Pendidik harus melakukan analisis
kinerja dan kebutuhan

3. Model IDI
Model IDI, dikembangkan oleh University Consortium for Instructional Development
and Technology (UCIDT), pengembangan model IDI menerapkan prinsip-prinsip pendekatan
sistem, yaitu penentuan (define), pengembangan (develop), dan evaluasi (evaluate). Ketiga
tahapan ini dihubungkan dengan umpan balik (feedback) untuk mengadakan revisi.
a. Tahap Penentuan (Define)
Identifikasi masalah dimulai dengan analisis kebutuhan atau disebut need
assesment. Need assesment ini berusaha mencari perbedaan antara apa yang ada dan
apa yang idealnya. Karena banyaknya kebutuhan pengajaran, maka perlu ditentukan
prioritas mana yang lebih dahulu dan mana yang selanjutnya. ada tiga hal yang perlu
dipertimbangkan yaitu: karakteristik siswa, kondisi dan sumber yang relevan.
b. Tahap Pengembangan (Develop)
Identifikasi tujuan yaitu dengan menganalisis terlebih dahulu tujuan instruksional
yang hendak dicapai, baik tujuan intruksional umum (TIU) dalam hal ini IDI
menyebutkan dengan Terminal Objectives. TIK Merupakan penjabaran lebih rinci dari
TIU.
Dalam menentukan metode pembelajaran, ada beberapa hal yang harus
dipertimbangkan antara lain:
1) Metode apa yang cocok digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan;
2) Bagaimana urutan bahan yang akan disajikan;

20

3) Bentuk instruksional apa yang dipilih sesuai dengan karakteristik siswa dan
kondisinya (ceramah, diskusi, praktikum, karyawisata, tugas individu/kelompok, dan
lain-lain).
c. Tahap Penilaian (Evaluate)
Setelah program instruksional disusun diadakan tes uji coba untuk menentukan
kelemahan dan keunggulan, serta efisiensi dan keefektifan dari program yang
dikembangkan.
Hasil uji coba yang dilakukan perlu dianalisis terutama yang berkenaan dengan:
1) Apakah tujuan dapat dicapai, bila tidak atau belum semuanya, dimanakah letak
kesalahannya?;
2) Apakah metode atau teknik yang dipakai sudah cocok denganpencapaian tujuantujuan tersebut, mengingat karakteristik siswa yang telah diidentivikasi?;
3) Apakah tidak ada kesalahan dalam pembuatan instrumen evaluasi?;
4) Apakah sudah dievaluasi hal-hal yang seharusnya perlu dievaluasi?
4. Model Desain Research
Setiap model penelitian memiliki karakteristik masing-masing, termasuk design
research. Walaupun memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan

model

penelitian lain, design research memiliki karakteristik sebagai berikut (Cobb et al.
2003; Kelly 2003; Design-Based Research Collective 2003; Reeves et al. 2005; van
den Akker 1999, dalam van den Akker et al., 2006: 5).
a. Interventionist : penelitian bertujuan untuk merancang suatu intervensi dalam dunia
nyata;
b. Iterative: penelitian menggabungkan pendekatan siklikal (daur) yang meliputi
perancangan, evaluasi dan revisi;
c. Process oriented: model kotak hitam pada pengukuran input-output diabaikan, tetapi
difokuskan pada pemehaman dan pengembangan model intervensi;
d. Utility oriented: keunggulan dari rancangan diukur untuk bisa digunakan secara
praktis oleh pengguna; serta
e. Theory oriented: rancangan dibangun didasarkan pada preposisi teoritis kemudian
dilakukan pengujian lapangan untuk memberikan konstribusi pada teori.
Berdasarkan karakteristik tersebut, berikut ini adalah salah satu definisi
educational design research yang berikan oleh Barab dan Squire (2004, van den Akker
et al., 2006: 5), yaitu: serangkaian pendekatan, dengan maksud untuk menghasilkan

21

teori-teori baru, artefak, dan model praktis yang menjelaskan dan berpotensi berdampak
pada pembelajaran dengan pengaturan yang alami (naturalistic).
Sementara menurut Plomp (2007: 13), design research adalah: Suatu kajian
sistematis

tentang merancang, mengembangkan dan mengevaluasi intervensi

pendidikan (seperti program, strategi dan bahan pembelajaran, produk dan sistem)
sebagai solusi untuk memecahkan masalah yang kompleks dalam praktik pendidikan,
yang juga bertujuan untuk memajukan pengetahuan kita tentang karakteristik dari
intervensi-intervensi tersebut serta proses perancangan dan pengembangannya. Proses
penelitian pada design research meliputi langkah-langkah seperti halnya proses
perancangan pendidikan (educational design), yaitu analisis, perancangan, evaluasi dan
revisi yang merupakan proses siklikal yang berakhir pada keseimbangan antara yang
ideal dengan prakteknya.
Ada beberapa model langkah-langkah pelaksanaan design research, diantaranya
yaitu :
a.

Model Greivemeijer dan Cobb (2006)

Adapun langkah-langkah pada model ini adalah sebagai berikut:


1) Preparing for the Experiment/Preparation and Design Phase
Bekker (2004) tujuan utama tahap ini adalah memformulasikan teori
pembelajaran lokal (local instructional theory) yang dielaborasi dan diperbaiki
selama pelaksanaan eksperimen. Hal-hal yang dilakukan dalam tahap ini adalah:
menganalisis tujuan yang ingin dicapai misalnya tujuan pembelajaran;
menentukan dan menetapkan kondisi awal penelitian;
mendiskusikan konjektur dari local instructional theory yang akan

dikembangkan;
menentukan karakteristik kelas dan peran guru; serta
menetapkan tujuan teoritis yang akan dicapai melalui penelitian.

2) Design Experiment
Tahap merupakan tahap pelaksanaan desain eksperimen yang dilakukan
setelah semua persiapan dilakukan. Tahap ini bukan untuk menguji apakah
rancangan dan local instructional theory bekerja atau tidak, tetapi sekaligus menguji
dan mengembangkan local instructional theory yang telah dikembangkan serta
memahami bagaimana teori itu bekerja selama eksperimen berlangsung. Design

22

eksperimen dilakukan dalam bentuk kegiatan siklikal, misalnya dalam beberapa kali
pembelajaran. Pada tahap ini dikumpulkan data yang diperlukan meliputi proses
pembelajaran yang terjadi di kelas serta proses berpikir siswa baik dari perspektif
sosial yang mencakup norma sosial kelas, sosio-matematik dan praktik matematik di
kelas maupun persfektif psikologi mencakup pandangan (beliefs) tentang peran
sendiri di kelas serta tentang aktivitas matematika; pendangan dan nilai matematik
secara khusus; serta konsepsi dan aktivitas matematika.
3) Restrospective Analysis
Tujuan tahap ini adalah menganalisis data-data yang telah diperoleh untuk
mengatahui apakah mendukung atau sesuai tidak dengan konjektur yang telah
dirancang. Data yang dianalisis meliputi rekaman video proses pembelajaran dan
hasil interview terhadap siswa dan guru, lembar hasil pekerjaan siswa, catatan
lapangan serta rekaman video dan audio yang memuat proses penelitian dari awal.
Tahapan ini bergantung kepada tujuan teoritis yang hendak dicapai, sehingga analisis
yang dilakukan untuk mengetahui dukungan data terhadap local instructional theory.
Pada tahap ini dilakukan rekonstruksi dan revisi pada local instructional theory serta
menyajikan suatu isu kemungkinan yang dapat berimplikasi pada teori dan
penerapannya pada konteks dan situasi yang lebih luas. Selain berkonstribusi dalam
mengembangkan pembelajaran di level local instructional theory (instructional
sequence), design research juga berkontribusi dalam mengembangkan di level
aktivitas pembelajaran (microtheories) dan pengembangan di level domain-specific
instruction theory.
b.

Model Plomp (2007:15)


Adapun langkah-langkah EDR menurut Plomp adalah sebagai berikut:

1) Preliminary research
Pada tahap ini dilakukan analisis kebutuhan dan konteks, kajian literatur,
mengembangkan kerangka konseptual dan teoritis untuk penelitian.
2) Prototyping stage

23

Proses perancangan secara siklikal dan berurutan dalam bentuk proses


penelitian yang lebih mikro serta menggunakan evaluasi formatif untuk
meningkatkan dan memperbaiki model intervensi.
3) Assessment phase
Semi evaluasi sumatif untuk menyimpulkan apakah solusi atau intervensi
sudah sesuai dengan diinginkan serta mengajukan rekomendasi pengembangan
model intervensi.
5. Model Jerol E. Kamp ,dkk
Model desain sistem pembelajaran yang dikemukakan oleh Jerold E. kemp dkk.
(2001) berbentuk lingkaran atau Cycle. Menurut mereka, model berbentuk lingkaran
menunjukkan adanya proses kontinyu dalam menerapkan desain sistem pembelajaran.
Model desain sistem pembelajaran yang di kemukakan oleh Kemp dkk terdiri atas
komponen-komponen sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi masalah dan menetapkan tujuan pembelajaran yaitu menentukan
tujuan pembelajaran umum dimana tujuan yang ingin dicapai dalam mengajarkan
masing-masing pokok bahasan.
b. Menentukan dan menganalisis karakteristik siswa. Analisis ini diperlukan antara lain
untuk mengetahui apakah latar belakang pedidikan dan sosial budaya siswa
memungkinkan untuk mengikuti program, dan langkah apa yang perlu diambil.
c. Mengidentifikasi materi dan menganalisis komponen-komponen tugas belajar yang
terkait dengan pencapaian tujuan pembelajaran.
d. Menetapkan tujuan pembelajaran khusus bagi siswa. Yaitu tujuan yang spesifik,
operasional dan terukur, dengan demikian siswa akan tahu apa yang akan dipelajari,
bagaimana mengerjakannya, dan apa ukurannya bahwa siswa telah berasil. Dari segi
guru rumusan itu dalam menyusun tes kemampuan dan pemilihan bahan/materi yang
sesuai.
e. Membuat sistematika penyampaian materi pelajaran secara sistematis dan logis.
f. Merancang strategi pembelajaran. Kriteria umum untuk pemilihan strategi
pembelajaran khusus tersebut: 1) efisiensi, 2) keefektifan, 3) ekonomis, 4)
kepraktisan, peralatan, waktu, dan tenaga.
g. Menetapkan metode untuk menyampaikan materi pelajaran.
h. Mengembangkan instrument evaluasi. Yaitu untuk mengontrol dan mengkaji
keberhasilan program secara keseluruhan, yaitu: 1) siswa, 2) program pembelajaran,
c) instrumen evaluasi.
i. Memilih sumber-sumber yang dapat mendukung aktifitas pembelajaran.

24

Model desain sistem pembelajaran memungkinkan penggunanya untuk memulai


kegiatan desain dari komponen yang mana saja. Model ini tergolong dalam taksonomi
model yang berorientasi pada kegiatan pembelajaran individual atau klasikal. Model ini
dapat digunakan oleh guru untuk menciptakan proses pembelajaran yang berlangsung di
dalam kelas secara efektif, efisien dan menarik.
Model ini berbentuk siklus yang memberi kemungkinan bagi penggunanya untuk
memulai kegiatan desain sistem pembelajaran dari fase atau komponen yang mana pun
sesuai dengan kebutuhan.
Faktor penting yang mendasari penggunaan model desain sistem pembelajaran
kamp, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kesiapan siswa dalam mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran;


Strategi pembelajaran dan karakteristik siswa;
Media dan sumber belajar yang tepat;
Dukungan terhadap keberhasilan belajar siswa;
Menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuaan pembelajaran;
Revisi untuk membuat program pembelajaran yang efektif dan efisien

F. BAHAN AJAR CETAK LEMBAR KERJA SISWA (LKS)


Menurut Dhari dan Haryono (1988) yang dimaksud dengan lembar kerja siswa
adalah lembaran yang berisi pedoman bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang
terprogram. Setiap LKS berisikan antara lain: uraian singkat materi, tujuan kegiatan, alat/
bahan yang diperlukan dalam kegiatan, langkah kerja pertanyaan-pertanyaan untuk
didiskusikan, kesimpulan hasil diskusi, dan latihan ulangan.
Lembar kerja siswa merupakan bahan pembelajaran cetak yang yang paling
sederhana karena komponen isinya bukan pada materi ajar tetapi pada pengembangan
soal-soalnya serta latihan. LKS sangat baik dipergunakan dalam rangka strategi heuristik
maupun ekspositorik. Dalam strategi heuristik LKS dipakai dalam metode penemuan
terbimbing, sedangkan dalam strategi ekspositorik LKS dipakai untuk memberikan latihan
pengembangan.. Selain itu LKS sebagai penunjang untuk meningkatkan aktifitas siswa
dalam proses belajar dapat mengoptimalkan hasil belajar.
1. Komponen-Komponen LKS
Lembar Kerja Siswa atau yang biasa disebut dengan LKS tersusun dengan
komponen-komponen sebagai berikut:
a. Kata pengantar
b. Daftar isi

25

c. Pendahuluan (berisi analisis / daftar dari tujuan pembelajaran dan indikator


ketercapaian berdasarkan hasil analisis dari GBPP)
d. Bab 1 berisi tentang ringkasan materi/penekanan materi dari pokok bahasan tersebut.
e. Lembar kerja: berisi berbagai soal ataupun penugasan yang akan dikerjakan oleh
siswa
f. Bab 2 berisi tentang ringkasan materi/penekanan materi dari pokok bahasan tersebut.
g. Lembar kerja dst.
h. Daftar pustaka
2. Karakteristik LKS
LKS memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dengan bahan ajar lainnya,
yakni sebagai berikut:
a. LKS memiliki soal-soal yang harus dikerjakan siswa, dan kegiatan-kegitan seperti
percobaan atau terjun ke lapangan yang harus siswa lakukan.
b. Merupakan bahan ajar cetak.
c. Materi yang disajikan merupakan rangkuman yang tidak terlalu luas pembahasannya
tetapi sudah mencakup apa yang akan dikerjakan atau dilakukan oleh peserta didik.
d. Memiliki komponen-komponen seperti kata pengantar, pendahuluan, daftar isi, dll
3. Prosedur Penyusunan LKS
Dalam pembuatan lembar kerja siswa perlu diperhatikan beberapa syarat dan hal-hal
yang penting, diantaranya sebagai berikut.
a. Mempunyai tujuan yang ingin dicapai berdasarkan GBPP, AMP, dan buku
pegangan/paket, mengandung proses dan kemampuan yang dilatih, serta
mengutamakan bahan-bahan yang penting.
b. Tata letak harus dapat menunjukkan urutan kegiatan secara logis dan sistematis,
menunjukan bagian-bagian yang sudah diikuti dari awal sampai akhir, serta
desainnya menarik dan indah.
c. Susunan kalimat dan kata-kata memenuhi kriteria berikut: sederhana dan mudah
dimengerti, singkat dan jelas, istilah baru hendaknya diperkenalkan, serta
informasi/penjelasan yang panjang hendaknya dibuat dalam lembar catatan peserta
didik.
d. Gambar ilustrasi dan skema sebaiknya membantu peserta didik, menunjukkan cara,
menyusun, dan merangkai sehingga membantu anak didik berpikir kritis.
Agar lebih spesifik lagi pembahasan tentang cara pembuatan Lembar Kerja Siswa
(LKS) maka diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Syarat didaktik

26

Lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai salah satu bentuk sarana berlangsungnya
proses belajar-mengajar haruslah memenuhi persyaratan didaktik, artinya suatu LKS
harus mengikuti asas belajar-mengajar yang efektif, yaitu : memperhatikan adanya
perbedaan individual, sehingga LKS yang baik itu adalah yang dapat digunakan baik
oleh siswa yang lamban, yang sedang maupun yang pandai, menekankan pada proses
untuk menemukan konsep-konsep sehingga LKS dapat berfungsi sebagai petunjuk
jalan bagi siswa untuk mencari tahu, memiliki variasi stimulus melalui berbagai
media dan kegiatan siswa, dapat mengembangkan kemampuan komunikasi sosial,
emosional, moral, dan estetika pada diri siswa, pengalaman belajarnya ditentukan oleh
tujuan pengembangan pribadi siswa (intelektual, emosional dan sebagainya), bukan
ditentukan oleh materi bahan pelajaran.
b. Syarat konstruksi
Syarat konstruksi adalah syarat-syarat yang berkenaan dengan penggunaan
bahasa, susunan kalimat, kosa kata, tingkat kesukaran, dan kejelasan yang pada
hakikatnya haruslah tepat guna dalam arti dapat dimengerti oleh peserta didik.
Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kedewasaan peserta didik,
menggunakan struktur kalimat yang jelas, memiliki taat urutan pelajaran yang sesuai
dengan tingkat kemampuan peserta didik menghindari pertanyaan yang terlalu terbuka,
tidak mengacu pada buku sumber yang diluar kemampuan keterbacaan, peserta didik
menyediakan ruangan yang cukup untuk memberi keleluasaaan pada peserta didik
untuk menulis maupun menggambarkan pada LKS, menggunakan kalimat yang
sederhana dan pendek, lebih banyak menggunakan ilustrasi daripada kata-kata,
sehingga akan mempermudah peserta didik dalam menangkap apa yang diisyaratkan
LKS, memiliki tujuan belajar yang jelas serta manfaat dari pelajaran itu sebagai sumber
motivasi, mempunyai identitas untuk memudahkan administrasinya.
c. Syarat teknis
Dari segi teknis LKS memiliki beberapa pembahasan yaitu:
1) Tulisan
Menggunakan huruf cetak dan tidak menggunakan huruf latin atau romawi,
menggunakan huruf tebal yang agak besar, bukan huruf biasa yang diberi garis
bawah, menggunakan tidak lebih dari 10 kata dalam satu baris, menggunakan

27

bingkai untuk membedakan kalimat perintah dengan jawaban peserta didik,


mengusahakan agar perbandingan besarnya huruf dengan besarnya gambar serasi.
2) Gambar
Gambar yang baik untuk LKS adalah yang dapat menyampaikan pesan/isi dari
gambar tersebut secara efektif kepada penguna LKS. Yang lebih penting adalah
kejelasan isi atau pesan dari gambar itu secara keseluruhan.
3) Penampilan
Penampilan adalah hal yang sangat penting dalam sebuah LKS. Apabila suatu
LKS ditampilkan dengan penuh kata-kata, kemudian ada sederetan pertanyaan yang
harus dijawab oleh peserta didik, hal ini akan menimbulkan kesan jenuh sehingga
membosankan atau tidak menarik. Apabila ditampilkan dengan gambarnya saja, itu
tidak mungkin karena pesannya atau isinya tidak akan sampai. Jadi yang baik adalah
LKS yang memiliki kombinasi antara gambar dan tulisan.
Langkah-langkah prosedur penulisan LKS yaitu sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)

Melakukan analisis kurikulum; KI, KD, Indikator dan materi pokok.


Menyusun peta kebutuhan LKS
Menentukan judul LKS
Menulis LKS
Menentukan alat Penilaian
BAB II
PEMBAHASAN

A Matriks Perbedaan Model Pengembangan


Terdapat berbagai macam model pengembangan yang dapat digunakan untuk
mengembangkan perangkat pembelajaran yang dibuat. Adapun model-model
pengembangan bahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel 1. Matriks Perbedaan Model Pengembangan
No
4D
ADDIE
IDI

Design Research

Greivemijer dan Cobb

Plo

28

Define

Analysis

Define

Preparing for the


experiment/ preparation
and design phase

Preliminary

Design

Design

Develop

Design experiment

Prototyping s

Develop

Develop

Evaluate

Restrospec-tive analysis

Assessment p

Disseminate

Implementation

Evaluation

6
7
8
9

B Matriks Perbedaan Prosedur Penyusunan Bahan Ajar Cetak Lembar Kerja Siswa

No

Prosedur Penyusunan Bahan


Ajar

Cetak Lembar Kerja Siswa (LKS)

Didaktik

Indikator

a. Perbedaan Individual

Sub Indikator

a. Mengembangkan
kemampuan komunikasi
sosial pada diri siswa

L
k
m
d

29

No

Prosedur Penyusunan Bahan


Ajar

Konstruksi

Teknis

Indikator

Sub Indikator

b. Mengembangkan
kemampuan komunikasi
emosional pada diri siswa

L
k

c. Mengembangkan
kemampuan komunikasi
moral pada diri siswa

L
k
s

d. Mengembangkan
kemampuan komunikasi
estetika pada diri siswa

L
n

a. Penggunaan bahasa

a. Sesuai dengan EYD

L
E

b. Susunan kalimat

b. Susunan kalimat
mengikuti aturan SPOK

S
m

c. Kosa kata

c. Kata-kata yang
digunakan mudah
dipahami dan
menggunakan kata-kata
baku

K
L

d. Tingkat kesukaran

d. Soal-soal yang ada di


LKS bervariasi mulai
dari tingkat paling rendah
sampai tingkat sulit

S
b
m

e. Kejelasan

e. Isi LKS jelas dan


sistematis

Is

a. Tulisan

a. Menggunakan huruf
cetak

L
c

H
b. Menggunakan huruf tebal m
yang agak besar
c

30

No

Prosedur Penyusunan Bahan


Ajar

Indikator

b. Gambar

b. Tampilan

Sub Indikator

c. Menggunakan tidak lebih


dari 10 kata dalam satu
baris

M
b

d. Menggunakan bingkai
untuk membedakan
kalimat perintah dengan
jawaban peserta didik

T
a
ja

e. Perbandingan besarnya
huruf dengan besarnya
gambar serasi

B
b

a. Jelas isi atau pesan dari


gambar secara
keseluruhan

G
y

a. Kombinasi antara gambar D


dan tulisan
g

C Matriks prosedur pengambangan bahana ajar dengan menggunakan model ADDIE


Tahapan Model
ADDIE

Uraian

Lembar Ke

Analysis

Pada tahap ini, kegiatan utama adalah menganalisis


perlunya pengembangan model/metode pembelajaran
baru dan menganalisis kelayakan dan syarat-syarat
pengembangan model/metode pembelajaran baru

Analisis kurikulum

1. Ditinjau dari dokumen kurikulum (buku guru dan


buku siswa)

Berdasarkan buku guru


pembelajaran yang tersa
mencapai seluruh komp
religius dan sosial tidak

2. Ditinjau dari Perencanaan, Pelaksanaan, dan


Penilaian

Dalam pelaksanaannya,
melaksanakan kegiatan

31

Tahapan Model
ADDIE

Uraian

Lembar Ke
dengan petunjuk dalam

a. Analisis
Karakteristik
Siswa
Design

a. Membuat garis
besar isi LKS
yang berisi berisi
tentang penyajian
materi
6. Menyiapkan buku
referensi, gambar,
dan materi yang
berkaitan dengan
materi yang akan
digunakan untuk
mengembangkan
LKS,

LKS dapat membantu si


karena didalam LKS dil
pendukung dan latihan-l
Desain merupakan langkah kedua dari model dan sistem
pembelajaran ADDIE. Pada langkah ini diperlukan
adanya klarifikasi program pembelajaran yang didesain
sehingga program tersebut dapat mencapai tujuan
pembelajaran seperti yang diharapkan
1.

Me

Materi yang akan dimua


perpindahan kalor

mbuat garis besar isi LKS yang berisi berisi


tentang penyajian materi

1. Menyiapkan buku referensi, gambar, dan materi


yang berkaitan dengan materi yang akan digunakan
untuk mengembangkan Handout,

Adapun sumber belajar


Buku:
Marthen kanginan. 2014
Jakarta: Erlangga
Buku siswa Kurikulum
Buku guru kurikulum 20
Gambar:

2. Menentukan spesifikasi Handout


7. Menentukan
spesifikasi LKS

8. Menyusun
instrumen
penilaian LKS

Dibutuhkan suatu LKS


kreativitas siswa.

1. Siswa masih belum kreatif dalam pembelajaran


2. Siswa tidak mandiri dalam belajar

3. Menyusun instrumen penilaian Handout yang


meliputi angket penilaian untuk ahli materi dan
ahli media, tes hasil belajar (post-test), dan
angket respon siswa.

Bagian awal terdiri dari:


Indikator, Tujuan Pembe

Bagian isi terdiri dari: In


materi, kegiatan eksperi
Bagian penutup: present
pustaka
Instrumen berupa angke
Angket penilaian LKS
menggunakan skala be
kategori, yaitu skor 5 (s

32

Tahapan Model
ADDIE

Uraian

Lembar Ke

(cukup valid), 2 (kurang


yang meliputi
angket penilaian
untuk ahli materi
dan ahli media,
tes hasil belajar
(post-test), dan
angket respon
siswa.
Develop

Develop dalam model ADDIE berisi kegiatan realisasi


rancangan produk.

Mengembangkan LKS
kalor, dengan tahapan s

a. Mengembangkan L
sesuai dengan has

b. Menilai kualitas L

c. Melakukan revisi a
LKS.
Implementation

Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan


sistem pembelajaran yang sedang kita buat. Artinya,
pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal
atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau
fungsinya agar bisa diimplementasikan

Evaluation

Evaluasi yaitu proses untuk melihat apakah sistem


pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai
dengan harapan awal atau tidak.

Pada tahap ini, penelit


yang terkait dengan pe
mengujicobakan LKS p
kalor, dalam kegiatan pe

a. Melakukan revisi a
dikembangkan diimp
pembelajaran fisika.

b. Menghasilkan produ
digunakan dalam pe

33

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari makalah ini sebagai berikut :
1 Terdapat berbagai model pengembangan bahan ajar yang dapat digunakan dalam
2
3

pembuatan bahan, seperti : 4D , ADDIE, IDI, Desain Research, Jerol e. Kamp


Salah satu contoh bahan ajar cetak yaitu Lembar Kerja Siswa
Untuk melihat pengembangan LKS menggunakan model ADDIE dapat dibuat dalam
bentuk matrik.

B. SARAN
Dari bermacam-macam model pengembangan bahan ajar dan jenis bahan ajar cetak
yang ada, diharapkan pendidik hendaknya mampu menggunakan salah satu model dan
bahan ajar cetak yang dibuat, sehingga mampu memaksimalkan hasil belajar peserta didik

34

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Sudrajat. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik dan Model
Pembelajaran. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategimetode-teknik-dan-model-pembelajaran (diakses September 2015)
Andi Prastowo. 2012. Panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. Yogyakarta : diva press
E.Mulyasa. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, 1996
Nieveen, Nienke. 1999. Prototyping to Reach Product Quality. In Jan Van den Akker, R.M.
Branch, K. Gustafson, N. Nieveen & Tj. Plomp (Eds). Design Approaches and Tools
in Education and Training. Nederlands: Kluwer Academic Publishers.
Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses
Plomp, Tjeerd. 2007. An Introduction to Educational Design Research. Proceedings of the
seminar conducted at the East China Normal University. Shanghai (PR China).
November 23-26, 2007.
Rahmat Hasan. 2014.Definisi, Tujuan, Pentingnya Bahan Ajar. http://berbagi-mediapengetahuan.blogspot.co.id/2014/05/defenisitujuanpentingnya-bahan-ajar.html (diakses
September 2015)
Ratna Wilis Dahan. 2011. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Erlangga
Rochmad. 2012. Desain Model Perangkat Pembelajaran. Jurnal Kreano, ISSN : 2086-2334.
Volume 3 Nomor 1, Juni 2012. FMIPA UNNES
Sungkono, dkk. (2003). Pengembangan Bahan Ajar. Yogyakarta: FIP UN
Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. 1974. Instructional Development for
Training Teachers of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota: Leadership
Training Institute/Special

35

Lampiran 1 . Lembar Kerja Siswa

36

LEMBAR KERJA SISWA

PERPINDAHAN KALOR
NAMA KELOMPOK :

PERPINDAHAN KALOR

A. Petunjuk Belajar
1. Amati dan lakukanlah berbagai jenis kegiatan berikut!
2. Gunakanlah alat dengan hati-hati dan bila terjadi kecelakaan kerja segera laporkan
kepada gurumu!
3. Diskusikan dengan temanmu untuk penyelesaiaan (jawaban) dari kegiatan-kegiatan
berikut!
B. Tujuan Kegiatan
1. Menyelidiki perpindahan kalor secara konduksi
2. Menyelidiki perpindahan kalor secara konveksi

37

3. Menyelidiki perpindahan kalor secara radiasi


C. Materi
Perpindahan Kalor
1. Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas melalui bahan tanpa disertai perpindahan

partikel-partikel bahan itu.


Benda yang jenisnya berbeda memiliki kemampuan menghantarkan panas

secara konduksi (konduktivitas) yang berbeda pula.


Benda yang tak mampu menghantarkan panas disebut isolator (konduktor

yang buruk).
2. Konveksi
Konveksi adalah perpindahan kalor dari suatu tempat ke tempat lain bersama
dengan gerak partikel-partikel bendanya.
3. Radiasi
Radiasi adalah perpindahan kalor tanpa zat perantara.
Setiap benda dapat memancarkan dan menyerap radiasi kalor yang besarnya
antara lain bergantung pada suhu dan warna benda.
D. Mengamati
Kegiatan 1
Perhatikan gambar berikut!

Tangan Satria kepanasan saat memegang panci. Menurut pendapatmu, apa yang harus
dilakukan Satria agar tanganya tidak panas saat mengangkat panci? Mengapa demikian?
Berikan alasanmu!
Jawaban :

E. Menanya
Kegiatan 1
Ajukan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan gambar pada point D kegiatan 1!
Jawaban :

38

F. Mencoba
1. Alat dan Bahan
Bunsen
Kacang hijau
Kaki tiga
Mentega
Alumunium

Besi
Lidi
Stopwatch
Tembaga

G. Prosedur Percobaan dan Pengumpulan Data


Kegiatan 1
1. Letakkan mentega dan kacang hijau pada setiap ujung bahan
(alumunium, besi, tembaga, dan lidi)
2. Susunlah peralatan seperti pada gambar!
3. Hidupkanlah bunsen (lampu) dan stopwatch!
4. Amatilah waktu jauhnya kacang hijau pada jenis bahan dan
catatlah hasilnya pada tabel yang telah disediakan!
Hasil Pengamatan
No
1
2
3
4

Bahan
Alumunium
Besi
Kayu
Tembaga

Waktu (menit)

H. Pertanyaan
Kegiatan 1
1. Berdasarkan hasil pengamatan yang kamu lakukan. Urutkanlah jenis bahan yang
kacang hijaunya lebih cepat jatuh! ___________________________
____________________________________________________________
2. Pada saat proses pemanasan, beberapa saat kemudian mentega akan mengalami
peristiwa________________________
Bagaimana

peristiwa

sehingga

ini

dapat

menjatuhkan

kacang

hijau.

terjadi?_________________

____________________________________________________________
3. Peristiwa ini disebut dengan peristiwa konduksi. Jadi peristiwa konduksi adalah
______________________________________________________
4. Pada saat besi, dan tembaga dapat mulai mencairkan mentega dan menjatuhkan
kacang hijau, apa yang terjadi pada kacang hijau yang terletak padajenis bahan kayu
(lidi)?______________________________
_____________________Bagaimana

Apa
hal

yang
ini

terjadi
dapat

pada

lidi?
terjadi?

39

________________________________________________
____________________________________________________________
5. Peristiwa ini disebut isolator. Jadi peristiwa isolator adalah_____________
____________________________________________________________
6. Klasifikasikanlah benda-benda yang digunakan berdasarkan jenis bahan dan sifatnya!
________________________________________________
____________________________________________________________
I. Mengamati
Kegiatan 2
Perhatikan gambar berikut!

Fitri menggambarkan sirkulasi udara di pantai pada malam dan siang hari. Menurut
pendapatmu, mengapa nelayan tradisional pergi melaut pada malam hari dan pulang pada
pagi harinya?
Jawaban :

J. Menanya
Kegiatan 2
Ajukan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan gambar A dan B pada point I
kegiatan 2!
Jawaban :

K. Mencoba
Alat dan Bahan
100 ml air
Serbuk gergaji
Stop watch

Bunsen/lampu
Gelas beaker
Kaki tiga
Termometer

L. Prosedur Percobaan dan Pengumpulan Data

40

Waktu
(menit)

Suhu
(oC)

Gerakan serbuk gergaji (diam/bergerak perlahan/


bergerak cepat)

0
1
2
Kegiatan 2
1. Masukkanlah 100 ml air dan serbuk gergaji kedalam gelas
beaker!
2. Susunlah peralatan seperti pada gambar!
3. Panaskan gelas beaker di atas kaki tiga, dan hidupkan stopwatchmu!
4. Amatilah perilaku serbuk gergaji dan suhu pada waktu 0, 1, 2 menit pada tabel yang
disediakan!
Hasil Pengamatan

M. Pertanyaan
Kegiatan 2
1. Berdasarkan hasil pengamatanmu, apakah suhu air naik setiap waktu? __
2. Apakah yang terjadi pada serbuk gergaji didalam air saat suhu rendah dan suhu
tinggi?_____________________________________________
___________________________________________________________
3. Jika kita misalkan serbuk gergaji adalah partikel-partikel air, maka perpindahan
panas juga disertai dengan perpindahan_________________
4. Peristiwa tersebut disebut dengan peristiwa konveksi. Jadi peristiwa konveksi
adalah______________________________________________
5.
N. Mengamati
Kegiatan 3
Perhatikan gambar berikut!

1. Mengapapakaian
pada gambar A?
A sekolah kebanyakan berwarna cerah seperti
B
2. Mengapa lebih mudah mendinginkan kopi didalam piring dibandingkan didalam
gelas seperti pada gambar B?
Jawaban :

41

O. Menanya
Kegiatan 3
Ajukan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan gambar A dan B pada point N
kegiatan 3!
Jawaban :

P. Mencoba
Alat dan Bahan
Bunsen/lampu
Mistar/penggaris

Q. Prosedur Percobaan
Kegiatan 3
1. Hidupkan lampu yang telah disediakan!
2. Lakukan percobaan seperti pada gambar, dengan kondisi api
kecil dan api besar!
3. Dekatkan tanganmu dengan jarak api cm, 8 cm! (hati-hati
jangan sampai tanganmu terbakar!). Apa yang kamu
rasakan? Tulislah dalam tabel yang telah disediakan!
Hasil Pengamatan
Apa yang kamu rasakan?
(panas/setengah panas/tidak panas)

Jarak telapak
tangan dengan api
(cm)

Api kecil

Api besar

R. Pertanyaan
Kegiatan 3
1. Berdasarkan hasil pengamatanmu, bila dibandingkan jarak cm akan terasa lebih
_____________dibandingkan dengan jarak 8 cm. Bagaimana hal ini dapat terjadi?
Berikan

alasanmu!___________________________

____________________________________________________________
2. Bila dibandingkan api besar terasa lebih____________dibandingkan dengan api kecil.
Bagaimana

hal

ini

dapat

terjadi?

Berikan

alasanmu!____

_____________________________________________________________________
___________________________________________________

42

3. Didalam percobaan ini kita tidak menggunakan alat untuk mengalirkan panas api,
tetapi

mengapa

telapak

tangan

kita

dapat

merasakan

panas?

______________________________________________________
4. Peristiwa tersebut disebut dengan peristiwa radiasi. Jadi peristiwa radiasi
adalah_______________________________________________________
____________________________________________________________
S. Kesimpulan
Tuliskan hasil kesimpulan kelompokmu berdasarkan kegiatan yang telah kamu lakukan!

Anda mungkin juga menyukai