Anda di halaman 1dari 32

Bab 2 Gambaran Umum Lokasi Studi

Penyiapan Dokumen Transaksi Proyek Kerjasama Pemerintah Swasta


Pelabuhan Baubau, Sulawesi Tenggara

2.1

KOTA BAUBAU
2.1.1 Kondisi Fisik Wilayah

Secara geografis Kota Bau-Bau terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara bagian Selatan Pulau Buton dengan posisi
koordinat sekitar 0521 hingga 0530 Lintang Selatan dan 12230 sampai 12245 Bujur Timur. Kota Baubau berada di
Pulau Buton, dan tepat terletak di Selat Buton dengan Pelabuhan Utama menghadap Utara. Di kawasan selat inilah
aktivitas lalu lintas perairan baik nasional, regional maupun lokal sangat intensif. Batas-batas administrasi wilayah Kota
Baubau adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton,
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton,
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Batauga Kabupaten Buton,
Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Buton.
Secara administrasi, sejak tahun 2013 Kota Baubau terbagi menjadi 8 kecamatan yakni Betoambari, Bungi, Kokalukuna,
Lea-lea, Murhum, Sorawolio, Wolio, dan Batupoaro dengan luas wilayah 251 km dengan luas daratan 221 km dan luas
laut sekitar 30 km.
Tabel 2.1 Luas Wilayah Kota Baubau
Luas wilayah
No
Kecamatan
(km)
1
Wolio
17,33
2
Betoambari
27,89
3
Sorawolio
83,25
4
Bungi
47,71
5
Murhum
4,90
6
Kokalukuna
9,44
7
Lea-lea
28,93
8
Batupoaro
1,55
Jumlah
221

Persentase
(%)
7,84
12,62
37,67
21,59
2,22
4,27
13,09
0,70
100

Sumber: Baubau dalam Angka, 2014

Bab 2 | 1

Gambar 2.1 Peta Administrasi Wilayah Kota Baubau

Bab 2 | 2

Karakteristik Wilayah Kota Baubau untuk wilayah utara cenderung subur dan bisa dimanfaatkan sebagai wilayah
pengembangan pertanian dalam arti luas, yaitu meliputi wilayah Kecamatan Bungi, Sorawolio, sebagian Kecamatan
Wolio dan Betoambari. Wilayah selatan cenderung kurang subur diperuntukan bagi pengembangan perumahan dan
fasilitas pemerintahan. Sementara wilayah pesisir untuk pengembangan sosial ekonomi masyarakat.
Kondisi topografi daerah Kota Baubau pada umumnya memiliki permukaan yang bergunung, bergelombang dan berbukitbukit. Di antara gunung dan bukitbukit terbentang dataran yang merupakan daerah potensial untuk mengembangkan
sektor pertanian.
Kota Baubau memiliki sebuah sungai yang besar yaitu sungai Baubau. Sungai tersebut melewati Kecamatan Wolio,
Kecamatan Murhum dan Kecamatan Batupoaro. Sungai tersebut pada umumnya memiliki potensi yang dapat dijadikan
sebagai sumber tenaga listrik, pertanian, perikanan, kebutuhan industri, kebutuhan rumahtangga dan pariwisata.

2.1.2 Kependudukan
Berdasarkan data Baubau dalam Angka Tahun 2014, penduduk Kota Baubau tahun 2013 berjumlah sebanyak 145.427
orang. Dengan luas 221 km 2, maka diperoleh kepadatan penduduk Kota Baubau tahun 2013 sebesar 658 orang/km.
Penduduk Kota Baubau terdiri dari penduduk laki-laki sejumlah 71.817 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 73.610
jiwa.
Tabel 2.2 Data Jumlah Penduduk dan KK Per Kecamatan Kota Baubau tahun 2013
Jumlah Penduduk
Rasio Jenis Kelamin
No Kecamatan
KK
Jumlah
(%)
L
P
1
Wolio
8.859
20.247
20.065
40.312
100,91
2
Betoambari
3.799
8.533
8.753
17.286
97,49
3
Sorawolio
1.662
3.776
3.785
7.561
99,76
4
Bungi
1.665
3.726
3.807
7.533
97,87
5
Murhum
4.493
9.961
10.486
20.447
94,99
6
Kokalukuna
3.906
8.808
8.959
17.767
98,31
7
Lea-lea
1.548
3.421
3.617
7.038
94,58
8
Batupoaro
6.041
13.345
14.138
27.483
94,39
Jumlah
31.973
71.817
73.610
145.427
97,56
Sumber: BPS Kota Baubau, 2014

Pada Tabel 2.3 di bawah ini dapat diketahui bahwa Kecamatan Batupoaro memiliki kepadatan paling tinggi yaitu 17.731
orang/km, sedangkan Kecamatan Sorawolio memiliki kepadatan penduduk terkecil yaitu 91 orang/km.
Tabel 2.3 Data Jumlah Kepadatan Penduduk Perkapita Dalam Wilayah Kota Baubau Tahun 2013
No
Kecamatan
Jumlah Penduduk
Luas wilayah (km)
Kepadatan / km
1
Wolio
40.312
17,33
2.326
2
Betoambari
17.286
27,89
620
3
Sorawolio
7.561
83,25
91
4
Bungi
7.533
47,71
158
5
Murhum
20.447
4,90
4.172
6
Kokalukuna
17.767
9,44
1.882
7
Lea-lea
7.038
28,93
243
8
Batupoaro
27.483
1,55
17.731
Jumlah
145.427
221,00
658
Sumber: BPS Kota Baubau, 2014

Bab 2 | 3

2.1.3 Potensi Wilayah


2.1.3.1 Pertanian
Sektor pertanian mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Pembangunan
pertanian di Indonesia dianggap penting dari keseluruhan pembangunan nasional. Ada beberapa hal yang mendasari
mengapa pembangunan pertanian di Indonesia mempunyai peranan penting, antara lain: potensi Sumber Daya Alam
yang besar dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, besarnya penduduk Indonesia yang
menggantungkan hidupnya pada sektor ini, perannya dalam penyediaan pangan masyarakat dan menjadi basis
pertumbuhan di pedesaan. Pada bab ini disajikan data hasil pembangunan khususnya sektor pertanian meliputi
penggunaan tanah, tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan.
Penggunaan tanah tahun 2013 yang disajikan pada Tabel 2.4 meliputi jenis penggunaan tanah sawah, bangunan dan
pekarangan, tanah tegalan/kebun, tanah ladang/huma, tanah padang rumput, tanah rawa yang tidak ditanami,
tambak/empang, lahan yang sementara tidak diusahakan, tanaman kayu-kayuan, hutan negara, perkebunan, dan
lainnya. Dari rincian jumlah tersebut pada tahun 2013 penggunaan yang terluas adalah hutan negara seluas 8.012 ha
dari 22.100 ha seluruh luas penggunaan tanah di Kota Baubau. Kemudian terluas kedua adalah tegal/ tanah perkebunan
seluas 3.289 ha. Ketiga adalah lainnnya seluas 2.938 ha.

Tabel 2.4 Luas Penggunaan Tanah menurut Kecamatan (ha) Tahun 2013
Jumla
h

Wolio

Kokalukuna

Sorawolio

Bungi

132
65
172
368
-

428
19
7
3
-

110
-

110
1.301
-

137
454
220
11
-

150
250
1.025
344
41
1

1.200
156
169
225
10
15
34

90
386
256
116
28
-

1.440
1.709
3.289
1.084
409
67
35

273

15

150

71

119

628

32

300

212

171

718

172
1.575
2.78
9

3
12

45

105
17

155

5.860
150
54
8.32
5

1.742
463
474
4.77
1

410
578
739
2.89
3

8.012
1.771
2.938

490

300
22
1.73
3

944

Lea-Lea

Batupoaro

Tanah Sawah
Pekarangan
Tegal/Kebun
Ladang/Huma
Padang rumput
Rawa yang ditanami
Kolam/tambak
Sementara tidak
diusahakan
Lahan
tanaman
kayu-kayuan
Hutan negara
Perkebunan rakyat
Lainnya
Jumlah

Betoambari

Penggunaan Tanah

Murhum

Kecamatan

22.100

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Terdapat 8 komoditas utama pertanian yang meliputi padi sawah, padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang
kedelai, kacang tanah dan kacang hijau. Tanaman padi sawah pada tahun 2013 memiliki luas panen 2.519 ha dengan
hasil produksi sebesar 13.657,20 ton. Lokasi penanaman padi terkonsentrasi pada 3 kecamatan yakni Kecamatan
Sorawolio dengan luas panen sebesar 19 ha serta hasil produksi sebesar 72,20 ton, Kecamatan Bungi dengan luas panen
2.335 ha serta hasil produksi sebesar 12.842,5 ton, dan Kecamatan Lea-lea dengan luas panen 165 ha serta hasil
Bab 2 | 4

produksi sebesar 742,50 ton. Pada tahun 2013, luas panen tanaman jagung mencapai 215 ha dengan hasil produksi
sebesar 528,70 ton, dengan demikian terjadi penurunan hasil produksi sebesar 26,30 persen bila dibandingkan dengan
hasil produksi pada tahun 2012 yang menghasilkan produksi sebesar 717,40 ton. Untuk tanaman kedelai mengalami
penurunan 100 persen baik luas panen maupun hasil produksinya dimana pada tahun 2013 tidak ada hasil produksi.
Sementara untuk tanaman kacang tanah mengalami peningkatan luas panen dan hasil produksi dibanding tahun 2012.
Untuk tanaman ubi kayu dengan luas panen 120 ha mencapai hasil produksi sebesar 1.112 ton dimana terjadi penurunan
hasil produksi tanaman ubi kayu sebesar 31,79 persen bila dibandingkan dengan hasil produksi tahun 2012 yang
mencapai 1.630,25 ton. Sementara itu, tanaman ubi jalar mengalami peningkatan hasil produksi sebesar den 44,17
persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Bab 2 | 5

Tabel 2.5 Luas Panen (Ha), Produksi (Ton), dan Produktivitas (kg/ha) 8 Komoditas Utama Pertanian
Tabel 2.7
Padi Sawah
Tabel 2.8
Padi Ladang
Tabel 2.9
Jagung
Tabel 2.10
Kedelai
Tabel 2.6
Tabel 2.12
Tabel 2.14Tabel 2.15
Tabel 2.16 Tabel 2.17Tabel 2.18
Tabel 2.19 Tabel 2.20Tabel 2.21
Tabel 2.22 Tabel 2.23
Tabel 2.13
Kecamatan
Luas
Produk
Luas
Produks Produk
Luas
Produks Produk
Luas
Produks ProdukProduksi
i
i
i
Tabel 2.24
Tabel 2.25
Tabel 2.26 Tabel 2.27Tabel 2.28
Tabel 2.29 Tabel 2.30Tabel 2.31
Tabel 2.32 Tabel 2.33Tabel 2.34
Tabel 2.35 Tabel 2.36
Betoambari
34
78,20
23,00
Tabel 2.37
Tabel 2.38
Tabel 2.39 Tabel 2.40Tabel 2.41
Tabel 2.42 Tabel 2.43Tabel 2.44
Tabel 2.45 Tabel 2.46Tabel 2.47
Tabel 2.48 Tabel 2.49
Murhum
5
10,00
20,00
Tabel 2.50
Tabel 2.51
Tabel 2.52 Tabel 2.53Tabel 2.54
Tabel 2.55 Tabel 2.56Tabel 2.57
Tabel 2.58 Tabel 2.59Tabel 2.60
Tabel 2.61 Tabel 2.62
Batupoaro
Tabel 2.63
Tabel 2.64
Tabel 2.65 Tabel 2.66Tabel 2.67
Tabel 2.68 Tabel 2.69Tabel 2.70
Tabel 2.71 Tabel 2.72Tabel 2.73
Tabel 2.74 Tabel 2.75
Wolio
49
122,50
25,00
Tabel 2.76
Tabel 2.77
Tabel 2.78 Tabel 2.79Tabel 2.80
Tabel 2.81 Tabel 2.82Tabel 2.83
Tabel 2.84 Tabel 2.85Tabel 2.86
Tabel 2.87 Tabel 2.88
Kokalukuna
10
21,00
21,00
Tabel 2.89
Tabel 2.90
Tabel 2.91 Tabel 2.92Tabel 2.93
Tabel 2.94 Tabel 2.95Tabel 2.96
Tabel 2.97 Tabel 2.98Tabel 2.99
Tabel 2.100Tabel 2.101
Sorawolio
19
72,20
38
202
727.20
36,00
39
101,40
26,00
Tabel 2.102
Tabel 2.104
Tabel 2.103
Tabel 2.105
Tabel 2.106
Tabel 2.107Tabel 2.108
Tabel 2.109
Tabel 2.110Tabel 2.111
Tabel 2.112
Tabel 2.113Tabel 2.114
Bungi
12.842,5
2334
55
12
24,00
20,00
0
Tabel 2.115
Tabel 2.116
Tabel 2.117Tabel 2.118
Tabel 2.119
Tabel 2.120Tabel 2.121
Tabel 2.122
Tabel 2.123Tabel 2.124
Tabel 2.125
Tabel 2.126Tabel 2.127
Lea-Lea
165
742,50
45
66
171,60
26,00
Tabel 2.128
Kota Batubau
Tabel 2.131
Tabel 2.129
Tabel 2.130
13.657,2 Tabel 2.132
Tabel 2.133
Tabel 2.134Tabel 2.135
Tabel 2.136
Tabel 2.137Tabel 2.138
Tabel 2.139
Tabel 2.140Tabel 2.141
2013 2.519
0
54,22
202
727,20
36,00
215
528,70
24,59
Tabel 2.142
Tabel 2.144
Tabel 2.143
Tabel 2.145
Tabel 2.146
Tabel 2.147Tabel 2.148
Tabel 2.149
Tabel 2.150Tabel 2.151
Tabel 2.152
Tabel 2.153Tabel 2.154
2012
10.652,4
2.344
45,45
342 1.162,80
34,00
312
717,40
22,99
4
4
10
0
Tabel 2.155
Tabel 2.157
Tabel 2.156
Tabel 2.158
Tabel 2.159
Tabel 2.160Tabel 2.161
Tabel 2.162
Tabel 2.163Tabel 2.164
Tabel 2.165
Tabel 2.166Tabel 2.167
2011
12.214,6
2.460
49,65
371 1.187,20
32,00
303
763,90
25,21
1
1
10
8
Tabel 2.168
Tabel 2.170
Tabel 2.169
Tabel 2.171
Tabel 2.172
Tabel 2.173Tabel 2.174
Tabel 2.175
Tabel 2.176Tabel 2.177
Tabel 2.178
Tabel 2.179Tabel 2.180
2010
12.364,7
2.516
39,00
346
891,85
28,10
198
446,42
23,10
4
4
10
0
Tabel 2.181
Tabel 2.183
Tabel 2.182
Tabel 2.184
Tabel 2.185
Tabel 2.186Tabel 2.187
Tabel 2.188
Tabel 2.189Tabel 2.190
Tabel 2.191
Tabel 2.192Tabel 2.193
2009
10.274,5
2.040
49,30
562 2.050,59
36,40
277
363,00
22,10
9
9
10
6
Tabel 2.194
Tabel 2.195

Tabel 2.5 Luas Panen (Ha), Produksi (Ton), dan Produktivitas (kg/ha) 8 Komoditas Utama Pertanian (Lanjutan)

Bab 2 | 6

Tabel 2.197 Kacang


Tabel 2.198 Kacang
Tabel 2.199 Ubi Kayu
Tabel 2.200 Ubi Jalar
Tanah
Hijau
Tabel 2.196
Kecamata Tabel 2.202
Tabel 2.203Tabel 2.204
Tabel 2.205
Tabel 2.206Tabel 2.207
Tabel 2.208
Tabel 2.209Tabel 2.210
Tabel 2.211
Tabel 2.212Tabel 2.213
n
Luas
Produks Produk
Luas
Produks Produk
Luas
Produks Produk
Luas
Produks Produki
i
i
i
Tabel 2.214
Tabel 2.215
Tabel 2.216Tabel 2.217
Tabel 2.218
Tabel 2.219Tabel 2.220
Tabel 2.221
Tabel 2.222Tabel 2.223
Tabel 2.224
Tabel 2.225Tabel 2.226
Betoambar
20
184,00
92,00
8
48,00
60,00
i
Tabel 2.227 Tabel 2.228
Tabel 2.229Tabel 2.230
Tabel 2.231
Tabel 2.232Tabel 2.233
Tabel 2.234
Tabel 2.235Tabel 2.236
Tabel 2.237
Tabel 2.238Tabel 2.239
Murhum
2
17,50
87,50
2
10,00
50,00
Tabel 2.240 Tabel 2.241
Tabel 2.242Tabel 2.243
Tabel 2.244
Tabel 2.245Tabel 2.246
Tabel 2.247
Tabel 2.248Tabel 2.249
Tabel 2.250
Tabel 2.251Tabel 2.252
Batupoaro
Tabel 2.253 Tabel 2.254
Tabel 2.255Tabel 2.256
Tabel 2.257
Tabel 2.258Tabel 2.259
Tabel 2.260
Tabel 2.261Tabel 2.262
Tabel 2.263
Tabel 2.264Tabel 2.265
Wolio
1
1,00
10,00
26
239,20
92,00
30
186,00
62,00
Tabel 2.266 Tabel 2.267
Tabel 2.268Tabel 2.269
Tabel 2.270
Tabel 2.271Tabel 2.272
Tabel 2.273
Tabel 2.274Tabel 2.275
Tabel 2.276
Tabel 2.277Tabel 2.278
Kokalukuna
2
2,00
10,00
6
54,00
90,00
6
34,20
57,00
Tabel 2.279 Tabel 2.280
Tabel 2.281Tabel 2.282
Tabel 2.283
Tabel 2.284Tabel 2.285
Tabel 2.286
Tabel 2.287Tabel 2.288
Tabel 2.289
Tabel 2.290Tabel 2.291
Sorawolio
7
7,00
10,00
1
0,95
9,50
9
81,90
91,00
7
42,00
60,00
Tabel 2.292 Tabel 2.293
Tabel 2.294Tabel 2.295
Tabel 2.296
Tabel 2.297Tabel 2.298
Tabel 2.299
Tabel 2.300Tabel 2.301
Tabel 2.302
Tabel 2.303Tabel 2.304
Bungi
3
3,00
10,00
1
9,00
90,00
Tabel 2.305 Tabel 2.306
Tabel 2.307Tabel 2.308
Tabel 2.309
Tabel 2.310Tabel 2.311
Tabel 2.312
Tabel 2.313Tabel 2.314
Tabel 2.315
Tabel 2.316Tabel 2.317
Lea-Lea
56
526,40
94,00
19
117,80
62,00
Tabel 2.318
Kota
Ba
tu
ba
u
Tabel 2.319 Tabel 2.320
Tabel 2.321Tabel 2.322
Tabel 2.323
Tabel 2.324Tabel 2.325
Tabel 2.326
Tabel 2.327Tabel 2.328
Tabel 2.329
Tabel 2.330Tabel 2.331
2013
13
13,00
10,00
1
0,95
9,50
120 1.112,00
92,67
72
554,75
77,05
Tabel 2.332 Tabel 2.333
Tabel 2.334Tabel 2.335
Tabel 2.336
Tabel 2.337Tabel 2.338
Tabel 2.339
Tabel 2.340Tabel 2.341
Tabel 2.342
Tabel 2.343Tabel 2.344
2012
5
5,00
10,00
3
2,85
9,50
178 1.630,25
91,59
64
384,80
60,12
Tabel 2.345 Tabel 2.346
Tabel 2.347Tabel 2.348
Tabel 2.349
Tabel 2.350Tabel 2.351
Tabel 2.352
Tabel 2.353Tabel 2.354
Tabel 2.355
Tabel 2.356Tabel 2.357
2011
9
10,50
11,67
3
2,85
9,50
154 1.411,50
91,66
55
330,00
60,00
Tabel 2.358 Tabel 2.359
Tabel 2.360Tabel 2.361
Tabel 2.362
Tabel 2.363Tabel 2.364
Tabel 2.365
Tabel 2.366Tabel 2.367
Tabel 2.368
Tabel 2.369Tabel 2.370
2010
10
4,50
9,00
1
0,95
9,50
132 1.265,04
94,90
31
186,50
59,00
Tabel 2.371 Tabel 2.372
Tabel 2.373Tabel 2.374
Tabel 2.375
Tabel 2.376Tabel 2.377
Tabel 2.378
Tabel 2.379Tabel 2.380
Tabel 2.381
Tabel 2.382Tabel 2.383
2009
14
16,20
10,50
4
3,80
9,50
203 1.957,28
96,20
43
265,93
61,80

Bab 2 | 7

Tabel 2.384

Data tanaman hortikultura yang disajikan pada Tabel 2.6 adalah tanaman sayur-sayuran serta tanaman

buah-buahan.

Tabel 2.397
Lea-Lea

Tabel 2.388
Jumla
Tabel 2.396
Bungi

Tabel 2.394

Tabel 2.395
Sorawolio

Kecamatan

Tabel 2.393
Wolio

Tabel 2.387
Tabel 2.392

Tabel 2.386 P
enggun
aan
Tanah

Tabel 2.391
Murhum

Produksi Tanaman Hortikultura (kuintal)

Tabel 2.390
Betoambari

Tabel 2.385

Tabel 2.398

Tabel 2.399 Sayuran dipanen Berkali-kali


Tabel 2.400 K Tabel 2.401
Tabel 2.402
Tabel 2.403
Tabel 2.404
Tabel 2.405
Tabel 2.406
Tabel 2.407
Tabel 2.408
Tabel 2.409
acang
14
82
53
75
384
238
846
Panjang
Tabel 2.410 C Tabel 2.411
Tabel 2.412
Tabel 2.413
Tabel 2.414
Tabel 2.415
Tabel 2.416
Tabel 2.417
Tabel 2.418
Tabel 2.419
abe
57
38
120
120
335
Tabel 2.420 To Tabel 2.421
Tabel 2.422
Tabel 2.423
Tabel 2.424
Tabel 2.425
Tabel 2.426
Tabel 2.427
Tabel 2.428
Tabel 2.429
mat
14
32
90
159
95
390
Tabel 2.430 Te Tabel 2.431
Tabel 2.432
Tabel 2.433
Tabel 2.434
Tabel 2.435
Tabel 2.436
Tabel 2.437
Tabel 2.438
Tabel 2.439
rung
49
19
439
241
748
Tabel 2.440 B Tabel 2.441
Tabel 2.442
Tabel 2.443
Tabel 2.444
Tabel 2.445
Tabel 2.446
Tabel 2.447
Tabel 2.448
Tabel 2.449
uncis
20
26
22
68
Tabel 2.450 K Tabel 2.451
Tabel 2.452
Tabel 2.453
Tabel 2.454
Tabel 2.455
Tabel 2.456
Tabel 2.457
Tabel 2.458
Tabel 2.459
etimun
34
140
137
311
Tabel 2.460 La Tabel 2.461
Tabel 2.462
Tabel 2.463
Tabel 2.464
Tabel 2.465
Tabel 2.466
Tabel 2.467
Tabel 2.468
Tabel 2.469
bu
Tabel 2.470 K Tabel 2.471
Tabel 2.472
Tabel 2.473
Tabel 2.474
Tabel 2.475
Tabel 2.476
Tabel 2.477
Tabel 2.478
Tabel 2.479
angkung
15
42
91
555
244
947
Tabel 2.480 B Tabel 2.481
Tabel 2.482
Tabel 2.483
Tabel 2.484
Tabel 2.485
Tabel 2.486
Tabel 2.487
Tabel 2.488
Tabel 2.489
ayam
23
47
93
110
42
315
Tabel 2.490 J
Tabel 2.497
Tabel 2.498
Tabel 2.491
Tabel 2.492
Tabel 2.493
Tabel 2.494
Tabel 2.495
Tabel 2.496
Tabel 2.499
umlah
1.90
1.01
28
258 219
529
3.960
Tabel 2.500 Sayuran dipanen Sekali
Tabel 2.501 B
Tabel 2.502
Tabel 2.503
Tabel
awang
Daun
Tabel 2.511 K Tabel 2.512
Tabel 2.513
Tabel
ubis
Tabel 2.521 P
Tabel 2.522
Tabel 2.523
Tabel
etai/Sa
59
wi
Tabel 2.531 J Tabel 2.532
Tabel 2.533
Tabel
umlah
59
Tabel 2.541 Buah-Buahan
Tabel 2.542 Al Tabel 2.543
Tabel 2.544
Tabel
pokat
47
Tabel 2.552 M Tabel 2.553
Tabel 2.554
Tabel
angga
139
393
8
Tabel 2.562 R
Tabel 2.563
Tabel 2.564
Tabel
ambuta
n
Tabel 2.572 Je Tabel 2.573
Tabel 2.574
Tabel
ruk
1
1
Tabel 2.582 Ja
Tabel 2.583
Tabel 2.584
Tabel
mbu
11
4
Biji
Tabel 2.592 Ja Tabel 2.593
Tabel 2.594
Tabel
mbu Air
1
5

2.504
Tabel 2.505
Tabel 2.506
Tabel 2.507
Tabel 2.508
Tabel 2.509
Tabel 2.510
88
88
2.514
Tabel 2.515
Tabel 2.516
Tabel 2.517
Tabel 2.518
Tabel 2.519
Tabel 2.520
94
130
90
314
2.524
Tabel 2.525
Tabel 2.526
Tabel 2.527
Tabel 2.528
Tabel 2.529
Tabel 2.530
16
151
137
154
517
2.534
Tabel 2.535
Tabel 2.536
Tabel 2.537
Tabel 2.538
Tabel 2.539
Tabel 2.540
16
333
267
244
919
2.545
Tabel 2.546
Tabel 2.547
Tabel 2.548
Tabel 2.549
Tabel 2.550
Tabel 2.551
13
29
19
61
169
2.555
Tabel 2.556
Tabel 2.557
Tabel 2.558
Tabel 2.559
Tabel 2.560
Tabel 2.561
45
64
232
519
651
2.051
2.565
Tabel 2.566
Tabel 2.567
Tabel 2.568
Tabel 2.569
Tabel 2.570
Tabel 2.571
24
17 1.935
1.976
2.575
Tabel 2.576
Tabel 2.577
Tabel 2.578
Tabel 2.579
Tabel 2.580
Tabel 2.581
36
12
631
134
815
2.585
Tabel 2.586
Tabel 2.587
Tabel 2.588
Tabel 2.589
Tabel 2.590
Tabel 2.591
69
14
18
5
41
162
2.595
Tabel 2.596
Tabel 2.597
Tabel 2.598
Tabel 2.599
Tabel 2.600
Tabel 2.601
28
14
33
77
158
Bab 2 | 8

Tabel 2.602 P
epaya
Tabel 2.612 Pi
sang
Tabel 2.622 N
anas
Tabel 2.632 Sa
lak
Tabel 2.642 Sa
wo
Tabel 2.652 N
angka
Tabel 2.662 Su
kun
Tabel 2.672 B
elimbin
g
Tabel 2.682 Si
rsak
Tabel 2.692 J
umlah
Tabel 2.702

Tabel 2.397
Lea-Lea

Tabel 2.388
Jumla
Tabel 2.396
Bungi

Tabel 2.395
Sorawolio

Tabel 2.394

Tabel 2.603
Tabel 2.604
Tabel
116
25
11
Tabel 2.613
Tabel 2.614
Tabel
189
38 111
Tabel 2.623
Tabel 2.624
Tabel
2
3
Tabel 2.633
Tabel 2.634
Tabel
Tabel 2.643
Tabel 2.644
Tabel
2
Tabel 2.653
Tabel 2.654
Tabel
12
980
5
Tabel 2.663
Tabel 2.664
Tabel
7
-

Tabel 2.393
Wolio

Kecamatan

Tabel 2.392

Tabel 2.391
Murhum

Tabel 2.390
Betoambari

Tabel 2.386 P
enggun
aan
Tanah

Tabel 2.387

Tabel 2.398

2.605
Tabel 2.606
Tabel 2.607
Tabel 2.608
Tabel 2.609
Tabel 2.610
Tabel 2.611
235
45
477
217
360
1.486
2.615
Tabel 2.616
Tabel 2.617
Tabel 2.618
Tabel 2.619
Tabel 2.620
Tabel 2.621
152
60 2.842 1.417
818
5.627
2.625
Tabel 2.626
Tabel 2.627
Tabel 2.628
Tabel 2.629
Tabel 2.630
Tabel 2.631
5
4
31
9
9
63
2.635
Tabel 2.636
Tabel 2.637
Tabel 2.638
Tabel 2.639
Tabel 2.640
Tabel 2.641
1
1
2
2.645
Tabel 2.646
Tabel 2.647
Tabel 2.648
Tabel 2.649
Tabel 2.650
Tabel 2.651
3
5
2.655
Tabel 2.656
Tabel 2.657
Tabel 2.658
Tabel 2.659
Tabel 2.660
Tabel 2.661
190 170
681
909
321
3.268
2.665
Tabel 2.666
Tabel 2.667
Tabel 2.668
Tabel 2.669
Tabel 2.670
Tabel 2.671
16
61
27
54
165

Tabel 2.673
Tabel 2.674
Tabel 2.675
Tabel 2.676
Tabel 2.677
Tabel 2.678
Tabel 2.679
Tabel 2.680
Tabel 2.681
3
2
6
28
39
25
19
2
124
Tabel 2.683
Tabel 2.684
Tabel 2.685
Tabel 2.686
Tabel 2.687
Tabel 2.688
Tabel 2.689
Tabel 2.690
Tabel 2.691
3
6
19
23
113
166
180
510
Tabel 2.694
Tabel 2.698
Tabel 2.699
Tabel 2.700
Tabel 2.693
Tabel 2.695
Tabel 2.696
Tabel 2.697
Tabel 2.701
1.44
4.51
5.88
2.64
531
157
837 563
16.581

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.703
Tabel 2.704

Data jenis tanaman sayur-sayuran yang disajikan pada Tabel 2.6 terdiri dari dua kelompok, yaitu:

kelompok tanaman sayur-sayuran yang dipanen berkali-kali dan sayur-sayuran yang dipanen sekaligus.
Kelompok pertama terdiri dari sembilan jenis, yaitu: Kacang Panjang, Cabe, Tomat, Terung, Buncis, Ketimun,
Labu, Kangkung dan Bayam. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari 6 jenis tanaman, yaitu: Bawang Merah,
Bawang Putih, Bawang Daun, Kubis, Petsai/Sawi dan Kacang Merah. Pada tahun 2013 produksi tanaman sayursayuran yang dipanen berkali-kali paling banyak adalah jenis kangkung, kacang panjang dan terung, masingmasing sebanyak 947 kuintal, 846 kuintal dan 748 kuintal.
Tabel 2.705
2.1.3.2 Perkebunan
Tabel 2.706

Tanaman perkebunan rakyat yang diusahakan terdiri dari 13 komoditi. Produktifitas rata-rata tanaman

perkebunan pada tahun 2013 mengalami penurunan. Hasil perkebunan yang paling menonjol pada tahun 2013
adalah tanaman jambu mete dengan produksi sebesar 75,94 ton, kelapa dalam 20,77 ton. Untuk tanaman
perkebunan lainnya hanya mampu berproduksi dibawah 10 ton.
Tabel 2.707 Luas Areal Tanaman Perkebunan menurut Jenis Tanaman dan Tingkat Produktivitas Lahan (ha)
Tabel 2.708 J
Tabel 2.711 Ti
Tabel 2.710 Bel
enis
Tabel 2.709
dak
Tabel 2.712 J
um
Tanama
Produktif
Produkti
umlah
Produktif
n
f
Tabel 2.713 K
Tabel 2.714 Tabel 2.715 20,5 Tabel 2.716 7, Tabel 2.717 1
elapa
106,00
0
00
33,50
Dalam

Bab 2 | 9

Tabel 2.718 K
opi
Tabel 2.723 K
apuk
Tabel 2.728 L
ada
Tabel 2.733 C
engkeh
Tabel 2.738 J
ambu
Mete
Tabel 2.743 K
emiri
Tabel 2.748 C
oklat
Tabel 2.753 E
nau
Tabel 2.758 K
elapa
Hybrida
Tabel 2.763 As
am
Jawa
Tabel 2.768 Pi
nang
Tabel 2.773 P
anili
Tabel 2.778

Tabel 2.719
37,25
Tabel 2.724
22,65
Tabel 2.729
0,80
Tabel 2.734
1,00

Tabel 2.720

18,2
5

Tabel 2.725

2,85

Tabel 2.730

2,40

Tabel 2.739
372,70

Tabel 2.740

93,0
0

Tabel 2.741

Tabel 2.744
57,45
Tabel 2.749
102,00
Tabel 2.754
9,50

Tabel 2.745

12,7
5
23,7
5

Tabel 2.746

Tabel 2.735

Tabel 2.750

Tabel 2.755

3,00

Tabel 2.759
17,00

Tabel 2.760

4,00

Tabel 2.764
8,75

Tabel 2.765

0,75

Tabel 2.770

0,10

Tabel 2.775

2,00

Tabel 2.769
1,30
Tabel 2.774
1,00

Tabel 2.721

4,
00
Tabel 2.726 1,
00
Tabel 2.731

Tabel 2.736

35
4,00

Tabel 2.722 5
9,50
Tabel 2.727 2
6,50
Tabel 2.732 3
,20
Tabel 2.737 1
,00
Tabel 2.742 8
19,70

3,
00
Tabel 2.751 43
,25
Tabel 2.756 1,
25

Tabel 2.747 7
3,20
Tabel 2.752 1
69,00
Tabel 2.757 1
3,75

Tabel 2.761

0,
50

Tabel 2.762 2
1,50

Tabel 2.766

1,
00

Tabel 2.767 1
0,50

Tabel 2.771
Tabel 2.776

1,
00

Tabel 2.772

1
,40
Tabel 2.777 4
,00

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.779
2.1.3.3 Peternakan
Tabel 2.780

Rata-rata jumlah populasi ternak besar dan kecil di Kota Baubau tahun 2013 mengalami peningkatan

dibandingkan tahun 2012. Populasi ternak di tahun 2013 seperti sapi dan babi mengalami kenaikan dibanding
tahun sebelumnya yakni masing-masing sebesar 0,06 persen dan 0,77 persen. Untuk ternak unggas yang
mengalami peningkatan hanya ayam kampung dari 138.626 ekor menjadi 139.594 ekor serta ayam ras dari
36.000 ekor. menjadi 41.050 eko tahun 2013, sedangkan itik/itik manila mengalami penurunan populasi dari
5.828 ekor menjadi 5.590 ekor.
Tabel 2.781 Populasi Ternak Besar dan Kecil menurut Kecamatan (Ekor)
Tabel 2.782 Kecam Tabel 2.783 S Tabel 2.784
Tabel 2.785 Ba
atan
api
Kambing
bi
Tabel 2.787 Betoam
Tabel 2.788 6 Tabel 2.789
Tabel 2.790 bari
7
197
Tabel 2.792 Murhum Tabel 2.793 9 Tabel 2.794
Tabel 2.795 0
257
Tabel 2.797 Batupo
Tabel 2.799
Tabel 2.798 Tabel 2.800 aro
Tabel 2.802 Wolio
Tabel 2.803 1 Tabel 2.804
Tabel 2.805 57
296
Tabel 2.807 Kokaluk
Tabel 2.808 2 Tabel 2.809
Tabel 2.810 una
2
295
Tabel 2.812 Sorawol Tabel 2.813 3 Tabel 2.814
Tabel 2.815 io
25
338
Tabel 2.817 Bungi
Tabel 2.818 9 Tabel 2.819
Tabel 2.820 1.9
39
165
63
Tabel 2.822 Lea-Lea Tabel 2.823 1 Tabel 2.824
92
133
Tabel 2.825 Tabel 2.827 Kota
Batubau
Tabel 2.829 1 Tabel 2.830
Tabel 2.831 1.9
Tabel 2.828 2013
.792
1.681
63

Tabel 2.786 J
umlah
Tabel 2.791 2
64
Tabel 2.796 3
47
Tabel 2.801

Tabel 2.806

4
53
Tabel 2.811 3
17
Tabel 2.816 6
63
Tabel 2.821 3.
067
Tabel 2.826 3
25
Tabel 2.832

5.
436
Bab 2 | 10

Tabel 2.782

Kecam
atan
Tabel 2.833 2012
Tabel 2.838

2011

Tabel 2.843

2010

Tabel 2.848

2009

Tabel 2.853

Tabel 2.783 S
api
Tabel 2.834 1
.791
Tabel 2.839 1
.657
Tabel 2.844 2
.255
Tabel 2.849 2
.168

Tabel 2.784
Kambing
Tabel 2.835
1.983
Tabel 2.840
1.801
Tabel 2.845
1.767
Tabel 2.850
1.694

Tabel 2.785 Ba
bi
Tabel 2.836 1.9
48
Tabel 2.841 1.8
83
Tabel 2.846 1.8
18
Tabel 2.851 1.6
99

Tabel 2.786 J
umlah
Tabel 2.837 5.
722
Tabel 2.842 5.
341
Tabel 2.847 5.
840
Tabel 2.852 5.
561

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.854
Tabel 2.855

Populasi Ternak Unggas menurut Kecamatan


Tabel 2.857 A
Tabel 2.856 Kecam
yam
Tabel 2.858
atan
Kampu
Ayam Ras
ng
Tabel 2.861 Betoam
Tabel 2.862 2 Tabel 2.863
bari
3.295
6.000
Tabel 2.866 Murhum Tabel 2.867 1 Tabel 2.868
2.333
11.600
Tabel 2.871 Batupo
Tabel 2.873
Tabel 2.872 aro
Tabel 2.876 Wolio
Tabel 2.877 1 Tabel 2.878
8.633
5.800
Tabel 2.881 Kokaluk
Tabel 2.882 2 Tabel 2.883
una
1.667
3.800
Tabel 2.886 Sorawol Tabel 2.887 2 Tabel 2.888
io
7.229
1.950
Tabel 2.891 Bungi
Tabel 2.892 1 Tabel 2.893
9.383
9.000
Tabel 2.896 Lea-Lea Tabel 2.897 1 Tabel 2.898
7.054
2.900
Tabel 2.901 Kota
Batubau
Tabel 2.903 1 Tabel 2.904
Tabel 2.902 2013
39.594
41.050
Tabel 2.907 2012 Tabel 2.908 1 Tabel 2.909
38.626
36.000
Tabel 2.912 2011 Tabel 2.913 1 Tabel 2.914
34.590
33.500
Tabel 2.917 2010 Tabel 2.918 1 Tabel 2.919
32.120
373.200
Tabel 2.922 2009 Tabel 2.923 1 Tabel 2.924
46.455
354.000
Tabel 2.927

(Ekor)
Tabel 2.859

Itik

Tabel 2.860 J
umlah

45
2
81
1

Tabel 2.865 2
9.747
Tabel 2.870 2
4.744

Tabel 2.864
Tabel 2.869
Tabel 2.874

Tabel 2.879

Tabel 2.875

37
8
Tabel 2.884 78
8
Tabel 2.889 30
4
Tabel 2.894 2.2
33
Tabel 2.899 62
4

Tabel 2.880 2
4.811
Tabel 2.885 2
6.255
Tabel 2.890 2
9.483
Tabel 2.895 3
0.616
Tabel 2.900 2
0.578

Tabel 2.905

Tabel 2.906 1
86.234
Tabel 2.911 1
80.454
Tabel 2.916 1
73.915
Tabel 2.921 5
10.924
Tabel 2.926 5
06.883

Tabel 2.910
Tabel 2.915
Tabel 2.920
Tabel 2.925

5.5
90
5.8
28
5.8
25
5.6
04
6.4
28

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.928
2.1.3.4 Perikanan
Tabel 2.929

Kegiatan penangkapan ikan dilaksanakan melalui berbagai usaha meliputi perikanan laut dan usaha

perikanan darat (perairan umum, tambak dan kolam). Produksi hasil perikanan laut dan perikanan darat

disajikan pada Tabel 2.10 dan Tabel 2.11. Produksi perikanan laut dikelompokkan menjadi 3, antara lain:
penagkapan Ikan, budidaya rumput laut dan budidaya mabe. Di tahun 2013 usaha penangkapan ikan di laut
mencapai 7.885,79 ton, budidaya rumput laut 2.668,66 ton dan budidaya mabe sebesar 12,78 ton, sedangkan
produksi perikanan darat mencapai 7,30 ton. Usaha perikanan darat terletak di 3 kecamatan. Produksi ikan
darat terbanyak terdapat di Kecamatan Bungi dengan hasil 6,09 ton. Di Kecamatan Sorawolio sebesar 1,21 ton,
sedangkan untuk tahun 2013 di Kecamatan Lea-lea tidak ada produksi perikanan darat.
Tabel 2.930

Bab 2 | 11

Tabel 2.931
Tabel 2.932

Produksi Perikanan menurut Kecamatan (ton)


Tabel 2.934 Perikanan Laut
Tabel 2.939 Tabel 2.940
Budidaya
Budidaya
Tabel 2.938 P
Tabel 2.933
Ru
Ma
enang
Kecamatan
mp
be
kapan
ut
Ikan
Lau
t
Tabel 2.943
Tabel 2.944 7 Tabel 2.945 Tabel 2.946
Betoambari
26,84
448,08
Tabel 2.949
Tabel 2.950 4 Tabel 2.951 Tabel 2.952
Murhum
5,74
Tabel 2.955
Tabel 2.956 3
Tabel 2.958
Tabel 2.957
Batupoaro
.116,9
235,04
4
Tabel 2.961
Tabel 2.962 1 Tabel 2.963 Tabel 2.964
Wolio
65,90
Tabel 2.967
Tabel 2.968 1
Tabel 2.970
Tabel 2.969
Kokalukuna
.434,1
7
Tabel 2.973
Tabel 2.975 Tabel 2.976
Tabel 2.974 Sorawolio
Tabel 2.979
Tabel 2.981 Tabel 2.982
Tabel 2.980 Bungi
Tabel 2.985
Tabel 2.986 2
Tabel 2.988
Tabel 2.987
Lea-Lea
.396,2
12,78
1.985,54
0
Tabel 2.991
Tabel 2.992 7
Tabel 2.994
Kota Batubau
.885,7 Tabel 2.993
12,78
9
2.668,66
Tabel 2.997

Tabel 2.935
Perikanan
D
Tabel 2.936
a
Jumlah
r
a
t
Tabel 2.947 Tabel 2.948
1.174,94
Tabel 2.953 Tabel 2.954
45,74
Tabel 2.959 Tabel 2.960
3.351,98
Tabel 2.965 Tabel 2.966
165,90
Tabel 2.971 Tabel 2.972
1.434,17
Tabel 2.977 Tabel 2.978
1,21
1,21
Tabel 2.983 Tabel 2.984
6,09
6,09
Tabel 2.990
Tabel 2.989
4.394,52
Tabel 2.996
Tabel 2.995 10.574,5
7,30
3

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.998
2.1.4 Perdagangan
Tabel 2.999

Sektor perdagangan merupakan salah satu sendi perekonomian yang dapat menyumbangkan pemasukan

yang berpengaruh bagi suatu daerah apabila daerah tersebut memiliki potensi yang cukup besar. Kegiatan
perdagangan terdiri dari perdagangan ekspor dan impor serta perdagangan antar pulau, jenis komoditi yang
diperdagangkan meliputi hasil pertanian, pertambangan, industri, perkebunan, perikanan, perternakan dan
kehutanan, sedangkan untuk impor adalah barang modal dan bahan baku industry.
Tabel 2.1000
Tabel 2.1001 Meskipun peranannya masih belum begitu dominan dalam perekonomian daerah, namun melihat potensi
posisi Kota Baubau yang strategis, kegiatan industri memiliki peluang yang cukup besar untuk dikembangkan.
Jenis industri yang dominan yaitu industri pengolahan makanan dan minuman, pengolahan hasil perikanan
(pembekuan ikan dan pengalengan), industri pengolahan hasil perkebunan dan kehutanan (penggergajian,
meubel, dan gembol).
Tabel 2.1002

Tabel 2.1003 Jumlah total volume perdagangan sebesar 6.211,68 ton, 10 ekor, 7.277 m 3 dan 238.966 buah. Jumlah
tersebut terdiri dari 0,16 ton hasil tanaman pangan, 2.819,51 ton hasil perkebunan, 10 ekor peternakan,

2.613,88 ton hasil perikanan, 567,13 dan 7.202 m 3 hasil kehutanan, serta 193 ton, 238.966 buah dan 75 m 3 dari
industri. Komoditas tanaman pangan yang diperdagangkan antar pulau adalah bawang merah dengan volume

Bab 2 | 12

0,16 ton dan nilainya Rp. 6.400.000 atau menurun sebesar 97,44 persen sebagaimana dapat dilihat pada tabel
di bawah ini.
Tabel 2.1004
Tabel 2.1005 Volume dan Nilai Perdagangan Antar Pulau Hasil Bumi dan Laut menurut Jenis Komoditas
Tabel 2.1006 Je
Tabel 2.1009 Nil
nis
Tabel 2.1007
Tabel 2.1008
ai (Rp.
Komodit Satuan
Volume
000,-)
as
Tabel 2.1010 Tan
Tabel 2.1011
Tabel 2.1012
Tabel 2.1013 6.4
aman
Ton
0,16
00
Pangan
Tabel 2.1014 Per Tabel 2.1015
Tabel 2.1016
Tabel 2.1017 23.
kebunan
Ton
2.819,51
431.410
Tabel 2.1018 Pet Tabel 2.1019
Tabel 2.1020
Tabel 2.1021 12
ernakan
Ekor
10
0.000
Tabel 2.1022 Per Tabel 2.1023
Tabel 2.1024
Tabel 2.1025 33.
ikanan
Ton
2.631,88
139.992
Tabel 2.1028
Tabel 2.1029 1.8
Tabel 2.1026 Has Tabel 2.1027
Ton
567,13
09.307
il
Kehutana Tabel 2.1031
Tabel 2.1032
Tabel 2.1033 26.
n
m3
7.202
583.444
Tabel 2.1035
Tabel 2.1036
Tabel 2.1037 38
Ton
193
6.000
Tabel 2.1034 Ind Tabel 2.1039
Tabel 2.1040
Tabel 2.1041 1.4
ustri
Buah
238.966
62.594
Tabel 2.1043
Tabel 2.1044
Tabel 2.1045 67
m3
75
5.000
Tabel 2.1047
Tabel 2.1048
Tabel 2.1049 58.
Ton
6.211,68
773.109
Tabel 2.1046 Ju
Tabel 2.1051
Tabel 2.1052
Tabel 2.1053 12
mlah
Buah
10
0.000
Tabel 2.1055
Tabel 2.1056
Tabel 2.1057 27.
m3
7.277
258.444
Tabel 2.1058

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.1059
Tabel 2.1060 Volume dan nilai perdagangan hasil komoditi perkebunan yang di perdagangkan tahun 2013 mencapai
2.819,51 ton dengan nilai Rp. 23.431.410.000, dimana komoditas kopra penyumbang volume terbesar yaitu
1.847,93 ton dengan nilai Rp. 12.935.510.000. Sedangkan nilai perdagangan terkecil dari komoditas buah pala
dengan volumen 0,72 ton senilai Rp. 14.400.000.
Tabel 2.1061 Volume dan Nilai Perdagangan Antar Pulau Hasil Perkebunan menurut Jenis Komoditas
Tabel 2.1063 Tabel 2.1064 Nil
Tabel 2.1062 Jeni
Volume
ai
s
(to
Tabel 2.1065 (R
Komoditas
n)
p. 000,-)
Tabel 2.1066 Buah Tabel 2.1067 Tabel 2.1068 14.
Pala
0,72
400
Tabel 2.1070 Tabel 2.1071 4.0
Tabel 2.1069 Jahe
2
00
Tabel 2.1073 Tabel 2.1074 16.
Tabel 2.1072 Kopi
1,10
500
Tabel 2.1075 Kopr Tabel 2.1076 Tabel 2.1077 12.
a
1.847,93
935.510
Tabel 2.1078 Kaca Tabel 2.1079 Tabel 2.1080 1.8
ng Mete
26,06
23.850
Tabel 2.1081 Kela Tabel 2.1082 Tabel 2.1083 2.0
pa Biji
6
00
Tabel 2.1084 Mete Tabel 2.1085 Tabel 2.1086 7.4
Gelondong
743,15
31.500
Bab 2 | 13

Tabel 2.1062 Jeni


s
Komoditas
an
Tabel 2.1087 Biji
Kemiri
Tabel 2.1090 Gula
Merah
Tabel 2.1093 Biji
Coklat
Tabel 2.1096 Asa
m
Tabel 2.1099 Juml
ah
Tabel 2.1100 2013
Tabel 2.1103 2012
Tabel 2.1106 2011
Tabel 2.1109 2010
Tabel 2.1112 2009
Tabel 2.1115

Tabel 2.1063 Tabel 2.1064 Nil


Volume
ai
(to
Tabel 2.1065 (R
n)
p. 000,-)
Tabel 2.1088 Tabel 2.1089 36
81,45
6.525
Tabel 2.1091 Tabel 2.1092 5.6
0,80
00
Tabel 2.1094 Tabel 2.1095 81
71,27
9.525
Tabel 2.1097 Tabel 2.1098 12.
39,03
000
Tabel 2.1101
2.819,51
Tabel 2.1104
6.414,95
Tabel 2.1107
3.419,62
Tabel 2.1110
3.844,86
Tabel 2.1113
7.474,88

Tabel 2.1102 23.


431.410
Tabel 2.1105 41.
164.800
Tabel 2.1108 27.
467.479
Tabel 2.1111 30.
302.150
Tabel 2.1114 46.
309.664

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.1116
Tabel 2.1117 Pada sektor peternakan terdapat komoditas sapi/kerbau yang diperdagangan dengan jumlah 10 ekor dan
senilai Rp. 120.000.000. Tabel 2.13 memperlihatkan volume dan nilai perdagangan antar pulau dari sektor
perikanan. Jenis ikan bete-bete dan agar-agar memiliki volume perdagangan yang sangat tinggi yaitu 1.144,04
ton dan 964,35 ton. Meskipun volume aga-agar tidak banyak dibandingkan ikan bete-bete tapi nilai penjualanya
lebih tinggi yaitu 11.572.200 ribu rupiah, sedangkan ikan bete-bete hanya 576.152 ribu rupiah.
Tabel 2.1118 Volume dan Nilai Perdagangan Antar Pulau Hasil Perikanan menurut Jenis Komoditas
Tabel 2.1122 Nil
Tabel 2.1119 Jenis Tabel 2.1120 Tabel 2.1121
ai
Komoditas
Satuan
Volume
Tabel 2.1123 (R
p. 000,-)
Tabel 2.1124 AgarTabel 2.1125 Tabel 2.1126 Tabel 2.1127 11.
agar
ton
964,35
572.200
Tabel 2.1128 Biji
Tabel 2.1129 Tabel 2.1130 Tabel 2.1131 58
Mutiara
biji
19,45
3.500
Tabel 2.1132 CumiTabel 2.1133 Tabel 2.1134 Tabel 2.1135 5.6
cumi Kering
ton
140
00
Tabel 2.1136 Ikan
Tabel 2.1137 Tabel 2.1138 Tabel 2.1139 9.4
Baronang
ton
0,35
50
Tabel 2.1140 Ikan
Tabel 2.1141 Tabel 2.1142 Tabel 2.1143 1.7
Beku
ton
50
50
Tabel 2.1144 Ikan
Tabel 2.1145 Tabel 2.1146 Tabel 2.1147 57
Bete-bete
ton
1.144.04
6.152
Tabel 2.1148 Ikan
Tabel 2.1149 Tabel 2.1150 Tabel 2.1151 2.0
Cakalang
ton
206,80
68.000
Tabel 2.1152 Ikan
Tabel 2.1153 Tabel 2.1154 Tabel 2.1155 2.3
Deho
ton
595
80.000
Tabel 2.1156 Ikan
Tabel 2.1157 Tabel 2.1158 Tabel 2.1159 15.
Ekor Kuning
ton
5,20
600
Tabel 2.1160 Ikan
Tabel 2.1161 Tabel 2.1162 Tabel 2.1163 20.
Kaha-kaha
ton
8,25
625
Tabel 2.1164 Ikan
Tabel 2.1165 Tabel 2.1166 Tabel 2.1167 3.0
Kakap Merah
ton
1,00
00
Tabel 2.1168 Ikan
Tabel 2.1169 Tabel 2.1170 Tabel 2.1171 14
Bab 2 | 14

Tabel 2.1119 Jenis


Komoditas
Lansu
Tabel 2.1172 Ikan
Layang
Tabel 2.1176 Ikan
Segar
Campuran
Tabel 2.1180 Ikan
Tembang
Tabel 2.1184 Ikan
Belah
Tabel 2.1188 Ikan
Tongkol
Tabel 2.1192 Kulit
Lokan
Tabel 2.1196 Kulit
Mabe
Tabel 2.1200 Kulit
Mutiara
Tabel 2.1204 Roci
Tabel 2.1208 Teri
Biasa
Tabel 2.1212 Teri
Masdak
Tabel 2.1216 Teripan
g Campuran
Tabel 2.1220 Tongka
t Ikan Hiu
Tabel 2.1224 Udang
Tabel 2.1228 Udang
Cuci/Pin
Tabel 2.1232 Jumlah
Tabel 2.1233 2013
Tabel 2.1237 2012

Tabel 2.1245 2011

Tabel 2.1253 2010

Tabel 2.1261 2009


Tabel 2.1269

Tabel 2.1122 Nil


Tabel 2.1120 Tabel 2.1121
ai
Satuan
Volume
Tabel 2.1123 (R
p. 000,-)
ton
37,00
8.000
Tabel 2.1173 Tabel 2.1174 Tabel 2.1175 18
ton
46,50
6.000
Tabel 2.1177
Tabel 2.1178 Tabel 2.1179 15.
ton
0,60
000
Tabel 2.1181
ton
Tabel 2.1185
ton
Tabel 2.1189
ton
Tabel 2.1193
ton
Tabel 2.1197
ton
Tabel 2.1201
ton
Tabel 2.1205
ton
Tabel 2.1209
ton
Tabel 2.1213
ton
Tabel 2.1217
ton
Tabel 2.1221
ton
Tabel 2.1225
ton
Tabel 2.1229
ton
Tabel 2.1234
ton
Tabel 2.1238
ton
Tabel 2.1242
biji
Tabel 2.1246
ton
Tabel 2.1250
biji
Tabel 2.1254
ton
Tabel 2.1258
biji
Tabel 2.1262
ton
Tabel 2.1266
biji

Tabel 2.1182
58,05
Tabel 2.1186
4
Tabel 2.1190
48,25
Tabel 2.1194
104,32
Tabel 2.1198
2,15
Tabel 2.1202
3,49
Tabel 2.1206
23,84
Tabel 2.1210
105,39
Tabel 2.1214
230,30
Tabel 2.1218
15,30
Tabel 2.1222
0,60
Tabel 2.1226
3,40
Tabel 2.1230
3,38
Tabel 2.1235
3.821,11
Tabel 2.1239
3.704,73
Tabel 2.1243
15.800
Tabel 2.1247
3.504,97
Tabel 2.1251
31.150
Tabel 2.1255
4.088,34
Tabel 2.1259
35.590
Tabel 2.1263
4.664,14
Tabel 2.1267
10.300

Tabel 2.1183 29
0.225
Tabel 2.1187 10
0.000
Tabel 2.1191 19
3.000
Tabel 2.1195 36
5.120
Tabel 2.1199 7.5
25
Tabel 2.1203 20.
940
Tabel 2.1207 47
6.700
Tabel 2.1211 2.1
07.800
Tabel 2.1215 10.
361.205
Tabel 2.1219 1.3
00.500
Tabel 2.1223 27.
000
Tabel 2.1227 15
3.000
Tabel 2.1231 15
2.100
Tabel 2.1236 33.
139.992
Tabel 2.1240 40.
886.590
Tabel 2.1244 31
6.000
Tabel 2.1248 36.
767.048
Tabel 2.1252 62
3.000
Tabel 2.1256 35.
595.384
Tabel 2.1260 71
1.800
Tabel 2.1264 37.
383.969
Tabel 2.1268 20
6.000

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.1270
Tabel 2.1271 Nilai hasil kehutanan yang diperdagangkan mencapai 1.809.207 ribu rupiah dengan volume 567,13 ton
dan 7.202 m3, dimana nilai terbesar berasal dari kayu jati olahan yaitu dengan nilai 14.634.000 ribu rupiah
sedangkan volume terkecil dari rotan polish 20,6 ton dengan nilai 195.700 ribu rupiah (Tabel 2.14).
Tabel 2.1272 Volume dan Nilai Perdagangan Antar Pulau Hasil Kehutanan menurut Jenis Komoditas
Bab 2 | 15

Tabel 2.1273 Jenis


Komoditas
Tabel 2.1278 Kayu
Jati Logs
Tabel 2.1282 Kayu
Jati Olahan
Tabel 2.1286 Kayu
Rimba
Olahan
Tabel 2.1290 Rotan
Asalan
Tabel 2.1294 Rotan
Batang
Tabel 2.1298 Rotan
Polish
Tabel 2.1302 Kayu
Cendana
Tabel 2.1306 Jumlah
Tabel 2.1307 2013

Tabel 2.1315 2012

Tabel 2.1323 2011

Tabel 2.1331 2010


Tabel 2.1339

Tabel 2.1276 Nil


Tabel 2.1274 Tabel 2.1275
ai
Satuan
Volume
Tabel 2.1277 (R
p. 000,-)
Tabel 2.1279 Tabel 2.1280 Tabel 2.1281 3.0
m3
1.139,00
75.300
Tabel 2.1283 Tabel 2.1284 Tabel 2.1285 14.
m3
1.626,00
634.000
Tabel 2.1287
Tabel 2.1288 Tabel 2.1289 8.8
m3
4.437,00
74.144
Tabel 2.1291
ton
Tabel 2.1295
ton
Tabel 2.1299
ton
Tabel 2.1303
ton
Tabel 2.1308
ton
Tabel 2.1312
m3
Tabel 2.1316
ton
Tabel 2.1320
m3
Tabel 2.1324
ton
Tabel 2.1328
m3
Tabel 2.1332
ton
Tabel 2.1336
m3

Tabel 2.1292
51,97
Tabel 2.1296
379,76
Tabel 2.1300
20,60
Tabel 2.1304
114,80
Tabel 2.1309
567,13
Tabel 2.1313
7.202,00
Tabel 2.1317
532,03
Tabel 2.1321
2.779,00
Tabel 2.1325
704,07
Tabel 2.1329
3.145,00
Tabel 2.1333
647,08
Tabel 2.1337
2.963,00

Tabel 2.1293 12
9.915
Tabel 2.1297 1.1
39.292
Tabel 2.1301 19
5.700
Tabel 2.1305 34
4.400
Tabel 2.1310 1.8
09.307
Tabel 2.1314 26.
583.444
Tabel 2.1318 1.9
92.365
Tabel 2.1322 14.
130.150
Tabel 2.1326 2.4
55.126
Tabel 2.1330 20.
589.607
Tabel 2.1334 6.5
49.118
Tabel 2.1338 25.
921.800

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.1340
Tabel 2.1341 Volume perdagangan terbesar di sektor industri adalah dari jenis botol kosong sebesar 196.150 buah
dengan nilai 196.150 ribu rupiah. Namun jika dilihat dari nilainya maka jenis bantal memiliki nilai perdagangan
yang tinggi yaitu 771.750.000 rupiah dengan volume 30.870 ton.
Tabel 2.1342 Volume dan Nilai Perdagangan Antar Pulau Hasil Industri menurut Jenis Komoditas
Tabel 2.1346 Nil
Tabel 2.1343 Jenis Tabel 2.1344 Tabel 2.1345
ai
Komoditas
Satuan
Volume
Tabel 2.1347 (R
p. 000,-)
Tabel 2.1348 Baja/B Tabel 2.1349 Tabel 2.1350 Tabel 2.1351 38
esi Beton
ton
193
6.000
Tabel 2.1353 Tabel 2.1354 Tabel 2.1355 77
Tabel 2.1352 Bantal
buah
30.870
1.750
Tabel 2.1356 Jati
Tabel 2.1357 Tabel 2.1358 Tabel 2.1359 67
Olahan
m3
75
5.000
Tabel 2.1360 Kasur
Tabel 2.1361 Tabel 2.1362 Tabel 2.1363 69.
B1
buah
5.310
030
Tabel 2.1364 Kasur
Tabel 2.1365 Tabel 2.1366 Tabel 2.1367 73.
B2
buah
5.226
164
Tabel 2.1368 Kasur
Tabel 2.1369 Tabel 2.1370 Tabel 2.1371 35
B3
buah
1.410
2.500
Tabel 2.1372 Botol
Tabel 2.1373 Tabel 2.1374 Tabel 2.1375 19
Kosong
buah
196.150
6.150
Tabel 2.1376 Jumlah Tabel 2.1378 Tabel 2.1379 Tabel 2.1380 38
Bab 2 | 16

Tabel 2.1343 Jenis


Komoditas

Tabel 2.1377 2013

Tabel 2.1389 2012

Tabel 2.1397 2011

Tabel 2.1405 2010


Tabel 2.1413

Tabel 2.1346 Nil


Tabel 2.1344 Tabel 2.1345
ai
Satuan
Volume
Tabel 2.1347 (R
p. 000,-)
ton
193
6.000
Tabel 2.1382 Tabel 2.1383 Tabel 2.1384 1.4
buah
238.966
62.594
Tabel 2.1386 Tabel 2.1387 Tabel 2.1388 67
m3
75
5.000
Tabel 2.1390 Tabel 2.1391 Tabel 2.1392 1.0
ton
0,12
44.000
Tabel 2.1394 Tabel 2.1395 Tabel 2.1396 1.6
buah
13.290
63.475
Tabel 2.1398 Tabel 2.1399 Tabel 2.1400 10.
ton
1,83
457.100
Tabel 2.1402 Tabel 2.1403 Tabel 2.1404 1.1
buah
9.537,00
79.238
Tabel 2.1406 Tabel 2.1407
Tabel 2.1408 ton
Tabel 2.1410 Tabel 2.1411 Tabel 2.1412 1.9
buah
16.085
37.250

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.1414
Tabel 2.1415 Tabel 2.16 menyajikan volume perdagangan antar pulau menurut pelabuhan tujuan tahun 2013, dimana
pelabuhan Surabaya merupakan tujuan terbanyak.
Tabel 2.1416 Volume dan Nilai Perdagangan Antar Pulau menurut Pelabuhan Tujuan
Tabel 2.1419 Tabel 2.1420 Nil
Tabel 2.1417 Pelabu Tabel 2.1418
Volume
ai
han Tujuan
Satuan
(to
Tabel 2.1421 (R
n)
p. 000,-)
Tabel 2.1423 Tabel 2.1424 Tabel 2.1425 12.
Tabel 2.1422 Jakarta
ton
202,14
661.775
Tabel 2.1427 Tabel 2.1428 Tabel 2.1429 39.
ton
4.882,04
858.697
Tabel 2.1426 Suraba
ya
Tabel 2.1431 Tabel 2.1432 Tabel 2.1433 26.
m3
7.202
583.444
Tabel 2.1435 Tabel 2.1436 Tabel 2.1437 3.2
ton
202,82
41.360
Tabel 2.1434 Makass
ar
Tabel 2.1439 Tabel 2.1440 Tabel 2.1441 12
ekor
10
0.000
Tabel 2.1442 Lainny Tabel 2.1443 Tabel 2.1444 Tabel 2.1445 19
a
ton
48,41
9.400
Tabel 2.1448 Tabel 2.1449 Tabel 2.1450 55.
ton
5.287
761.832
Tabel 2.1446 Jumlah Tabel 2.1452 Tabel 2.1453 Tabel 2.1454 26.
Tabel 2.1447 2013
m3
7.202
583.444
Tabel 2.1456 Tabel 2.1457 Tabel 2.1458 12
ekor
10
0.000
Tabel 2.1459

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.1460
Tabel 2.1461 Tabel 2.17 menyajikan volume beras, gula pasir, tepung terigu dan jagung yang disalurkan oleh Perum
Bulog. Tahun 2013 hanya beras lokal yang disalurkan yaitu sebanyak 7.260 ton. Kebijakan pemerintah dalam
pembinaan koperasi ditujukan agar koperasi menjadi lembaga yang kuat dan wadah utama untuk membina
kemampuan usaha golongan ekonomi lemah.
Tabel 2.1462 Volume Beras, Gula Pasir, Tepung Terigu dan Jagung yang Disalurkan oleh Perum Bulog Sub Divre Wil I di
Kota Baubau (ton)

Bab 2 | 17

Tabel 2.1463
Tabel 2.1464
Tahun
Beras Lokal
Tabel 2.1467
Tabel 2.1468
2006
5.780,60
Tabel 2.1471
Tabel 2.1472
2007
5.850,60
Tabel 2.1475
Tabel 2.1476
2008
10.697,00
Tabel 2.1479
Tabel 2.1480
2009
9.853,30
Tabel 2.1483
Tabel 2.1484
2010
9.738,08
Tabel 2.1487
Tabel 2.1488
2011
10.365,25
Tabel 2.1492
Tabel 2.1491
8.107.984,0
2012
0
Tabel 2.1495
Tabel 2.1496
2013
7.260,00
Tabel 2.1499

Tabel 2.1465 Tabel 2.1466 Ja


Gula Pasir
gung
Tabel 2.1469
Tabel 2.1470 10,00
Tabel 2.1473 Tabel 2.1474 14,
39
Tabel 2.1477
Tabel 2.1478 Tabel 2.1481
Tabel 2.1482 Tabel 2.1485
Tabel 2.1486 Tabel 2.1489
Tabel 2.1490 Tabel 2.1493
Tabel 2.1494 Tabel 2.1497
-

Tabel 2.1498 -

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.1500
2.1.5 Transportasi
2.1.5.1 Transportasi Darat
Tabel 2.1501 Panjang jalan tahun 2013 di Kota Baubau secara keseluruhan adalah 257,44 km, yang terdiri dari jalan
beraspal sepanjang 218,55 km atau 84,89 persen), dan Kerikil 38,89 km atau 15,11 persen. Bila dilihat dari
kondisinya, jalan yang dalam kondisi baik sepanjang 228,80 km, 22,49 km dalam kondisi sedang dan 6,15 km
dalam kondisi rusak, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.18.
Tabel 2.1502
Tabel 2.1503
Tabel 2.1504 Panjang Jalan menurut Pemerintah yang Berwenang dan Jenis Permukaan Jalan (Km)
Tabel 2.1506 J Tabel 2.1507 Ta
Tabel 2.1509 Ta
enis
hun
hun
Tabel 2.1505 S
Perm
Tinjaua Tabel 2.1508
Tinjaua
tatus
ukaan
n
n
Kondisi
Jalan
Tabel 2.1512
Tabel 2.1513
Tabel 2.1515
Tabel 2.1516
2012
2013
2012
2013
Tabel 2.1518 D Tabel 2.1519
Tabel 2.1520
Tabel 2.1521 Tabel 2.1522
Tabel 2.1523
iaspal
62,08
62,08 Baik
56,50
50,48
Tabel 2.1525 K Tabel 2.1526
Tabel 2.1527
Tabel 2.1528 Tabel 2.1529
Tabel 2.1530
erikil
- Sedang
3,83
11,30
Tabel 2.1517 J
Tabel 2.1532 T Tabel 2.1533
Tabel 2.1534
Tabel 2.1535 Tabel 2.1536
Tabel 2.1537
alan
anah
- Rusak
1,75
0,30
Negar
Tabel 2.1539 L Tabel 2.1540
Tabel 2.1541
Tabel 2.1542 Tabel 2.1543
Tabel 2.1544
a
ainny
- Rusak Berat
a
Tabel 2.1546 J Tabel 2.1547
Tabel 2.1548
Tabel 2.1549 Tabel 2.1550
Tabel 2.1551
umlah
62,08
62,08 Jumlah
62,08
62,08
Tabel 2.1552 J Tabel 2.1553 J Tabel 2.1554
Tabel 2.1555
Tabel 2.1556 Tabel 2.1557
Tabel 2.1558
alan
umlah
- Jumlah
Provin
si
Tabel 2.1559 J Tabel 2.1560 D Tabel 2.1561
Tabel 2.1562
Tabel 2.1563 Tabel 2.1564
Tabel 2.1565
alan
iaspal
137,7
156,47 Baik
170,7
178,32
Kota
Tabel 2.1567 K Tabel 2.1568
Tabel 2.1569
Tabel 2.1570 Tabel 2.1571
Tabel 2.1572
erikil
49,99
38,89 Sedang
10,50
11,19
Tabel 2.1574 T Tabel 2.1575
Tabel 2.1576
Tabel 2.1577 Tabel 2.1578
Tabel 2.1579
Bab 2 | 18

Tabel 2.1506 J Tabel 2.1507 Ta


enis
hun
Tabel 2.1505 S
Perm
Tinjaua Tabel 2.1508
tatus
ukaan
n
Kondisi
Jalan
Tabel 2.1512
Tabel 2.1513
2012
2013
anah
- Rusak
Tabel 2.1581 L Tabel 2.1582
Tabel 2.1583
Tabel 2.1584
ainny
- Rusak Berat
a
Tabel 2.1588 J Tabel 2.1589
Tabel 2.1590
Tabel 2.1591
umlah
187,7
195,36 Jumlah
Tabel 2.1594

Tabel 2.1509 Ta
hun
Tinjaua
n
Tabel 2.1515
Tabel 2.1516
2012
2013
6,53
5,85
Tabel 2.1585
Tabel 2.1586
Tabel 2.1592
Tabel 2.1593
187,7
195,36

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.1595
Tabel 2.1596 Sarana angkutan darat seperti kendaraan bermotor disamping dapat digunakan oleh masyarakat sebagai
angkutan penumpang, juga dapat digunakan sebagai angkutan barang, baik barang produksi pabrik maupun
barang hasil produksi pertanian dan hasil-hasil lainnya. Pada Tabel 2.19 disajikan banyaknya kendaraan yang
tercatat dan terproses pada Samsat Kota Baubau. Jenis sarana angkutan tersebut meliputi mobil penumpang
sebanyak 202 buah, mobil barang sebanyak 947 buah, mobil bus sebanyak 1.584 buah dan sepeda motor
sebanyak 21.347 buah.

Tabel 2.1597 Banyaknya Kendaraan Bermotor menurut Jenis Kendaraan Terdaftar Pada Samsat di Kota Baubau (unit)
Tabel 2.1598 Jenis
Tabel 2.1599
Tabel 2.1600
Tabel 2.1601
Tabel 2.1602
Tabel 2.1603
Kendaraan
2009
2010
2011
2012
2013
Tabel 2.1604 Mobil
Tabel 2.1605
Tabel 2.1606
Tabel 2.1607
Tabel 2.1608
Tabel 2.1609
Penumpang
187
285
335
314
202
Tabel 2.1610
Tabel 2.1611
Tabel 2.1612
Tabel 2.1613
Tabel 2.1614
- Sedan Non Taksi
28
46
45
48
45
Tabel 2.1615
Tabel 2.1616
Tabel 2.1617
Tabel 2.1618
Tabel 2.1619
- Jeep
59
102
90
100
111
Tabel 2.1620
Tabel 2.1621
Tabel 2.1622
Tabel 2.1623
Tabel 2.1624
- St. Wagon
100
137
200
166
46
Tabel 2.1625 Mobil
Tabel 2.1626
Tabel 2.1627
Tabel 2.1628
Tabel 2.1629
Tabel 2.1630
Barang
597
605
480
613
947
Tabel 2.1631
Tabel 2.1632
Tabel 2.1633
Tabel 2.1634
Tabel 2.1635
- Truck barang
203
288
246
295
380
Tabel 2.1636
Tabel 2.1637
Tabel 2.1638
Tabel 2.1639
Tabel 2.1640
- Truck Trail
15
Tabel 2.1641
Tabel 2.1642
Tabel 2.1643
Tabel 2.1644
Tabel 2.1645
- Truck Tangki
14
18
19
17
30
Tabel 2.1646
Tabel 2.1647
Tabel 2.1648
Tabel 2.1649
Tabel 2.1650
- Pemadam Api
3
4
2
5
Tabel 2.1651
Tabel 2.1652
Tabel 2.1653
Tabel 2.1654
Tabel 2.1655
- Pick Up
377
284
211
299
532
Tabel 2.1657
Tabel 2.1658
Tabel 2.1659
Tabel 2.1660
Tabel 2.1661
Tabel 2.1656 Mobil Bus
783
1.013
1.016
1.111
1.584
Tabel 2.1662
Tabel 2.1663
Tabel 2.1664
Tabel 2.1665
Tabel 2.1666
- Mikro Bus (12 Seats)
349
489
709
766
1.571
Tabel 2.1667
Tabel 2.1668
Tabel 2.1669
Tabel 2.1670
Tabel 2.1671
- Mini Bus (12-32 Seats)
407
501
301
343
9
Tabel 2.1672
Tabel 2.1673
Tabel 2.1674
Tabel 2.1675
Tabel 2.1676
- Bus (32 Seats)
27
23
6
2
4
Tabel 2.1677 Sepeda
Tabel 2.1678
Tabel 2.1679
Tabel 2.1680
Tabel 2.1681
Tabel 2.1682
Motor
13.235
18.954
19.538
17.537
21.347
Tabel 2.1683
Tabel 2.1684
Tabel 2.1685
Tabel 2.1686
Tabel 2.1687
- Scooter
91
28
7.768
262
521
Tabel 2.1688
Tabel 2.1689
Tabel 2.1690
Tabel 2.1691
Tabel 2.1692
- Motor
13.144
18.926
11.770
17.275
10.826
Tabel 2.1693

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Bab 2 | 19

Tabel 2.1694
2.1.5.2 Transportasi Laut
Tabel 2.1695 Angkutan laut merupakan sarana perhubungan yang sangat penting dan strategis di Kota Baubau yang
merupakan pintu gerbang pelayaran antar pulau di wilayah Indonesia bagian timur. Hal ini terlihat dari
banyaknya kunjungan kapal pada pelabuhan di Kota Baubau sebagaiman disajikan pada tabel 2.20 yang
menggambarkan lalulintas kapal laut dan Fery selama tahun 2013.
Tabel 2.1696 Jumlah Kunjungan Kapal dan Penumpang menurut Jenis Pelayaran di Kota Baubau
Tabel 2.1700 Penumpang
Tabel 2.1697 Jenis Tabel 2.1698 Tabel 2.1699
Tabel 2.1704 T Tabel 2.1705 Na
Pelayaran
Call Kapal
GRT
urun
ik
Tabel 2.1706 Dalam Tabel 2.1707 Tabel 2.1708 Tabel 2.1709 4 Tabel 2.1710 45
Negeri
7.568 11.038.283
37.192
3.938
Tabel 2.1711 Tabel 2.1712 Tabel 2.1713 2 Tabel 2.1714 29
Umum
2.691
6.631.813
85.031
7.521
Tabel 2.1715 Tabel 2.1716 Tabel 2.1717 1 Tabel 2.1718 12
Rakyat
1.672
833.113
0.249
.796
Tabel 2.1719 Tabel 2.1720 Tabel 2.1721 9 Tabel 2.1722 42
Perintis
69
540.992
44
3
Tabel 2.1723 Tabel 2.1724 Tabel 2.1725 Khusus Pertamina
Tabel 2.1726 255
1.299.699
Tabel 2.1727 Tabel 2.1728 Tabel 2.1729 1 Tabel 2.1730 14
Lainnya
2.881
1.732.736
40.968
3.198
Tabel 2.1731 Luar
Tabel 2.1732 Tabel 2.1733 Tabel 2.1734 Tabel 2.1735 Negeri
84
2.261.325
Tabel 2.1736 Jumla
h
Tabel 2.1738 Tabel 2.1739 Tabel 2.1740 4 Tabel 2.1741 45
Tabel 2.1737 2013
7.652
13.299.608
37.192
3.938
Tabel 2.1743 Tabel 2.1744 Tabel 2.1745 4 Tabel 2.1746 49
Tabel 2.1742 2012
8.243
10.577.612
48.585
3.621
Tabel 2.1748 Tabel 2.1749 Tabel 2.1750 4 Tabel 2.1751 50
Tabel 2.1747 2011
8.067
8.426.850
45.723
0.100
Tabel 2.1753 Tabel 2.1754 Tabel 2.1755 4 Tabel 2.1756 47
Tabel 2.1752 2010
8.010
6.046.573
29.655
3.934
Tabel 2.1758 Tabel 2.1759 Tabel 2.1760 4 Tabel 2.1761 51
Tabel 2.1757 2009
7.928
6.151.180
14.833
0.414
Tabel 2.1762

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.1763
Tabel 2.1764 Jumlah kunjungan kapal laut tahun 2013 tercatat sebanyak 7.652 kunjungan menurun dibanding tahun
sebelumnya yang mencapai 8.243 kunjungan atau turun 7,17 persen. Jumlah penumpang naik mencapai
453.938 orang, dan jumlah penumpang turun sebanyak 437.192 orang. Jumlah penumpang naik mengalami
penurunan sebanyak 8,04 persen, sedangkan jumlah penumpang turun juga mengalami penurunan sebesar 2,54
persen.
Tabel 2.1765
2.1.5.3 Transportasi Udara
Tabel 2.1766 Keberadaan bandar udara sebagai prasarana transportasi udara memberikan andil yang cukup besar bagi
perekonomian Kota Baubau. Dari Tabel 8.1.8 dapat diketahui bahwa pada tahun 2013 kunjungan pesawat udara
yang datang melalui Bandara Betoambari mengalami penurunan menjadi 730 kali dengan jumlah penumpang
datang sebanyak 41.529, sedangkan jumlah penumpang yang berangkat sebanyak 40.186 orang, dan untuk
bagasi melalui bandara Betoambari tahun 2013 mencapai 357.090 kg barang yang dibongkar serta 259.286 kg
untuk barang yang dimuat.
Tabel 2.1767

Bab 2 | 20

Tabel 2.1768 Lalu Lintas Pesawat Terbang dan Penumpang melalui Pelabuhan Udara Betoambari Tahun 2006 - 2013
Tabel 2.1770 Lalu Lintas
Tabel 2.1771 Penumpang
Pesawat
(orang)
Tabel 2.1769
Tabel 2.1773
Tabel 2.1774Tabel 2.1775
Tabel 2.1776
Tabel 2.1777Tabel 2.1778
Tahun
Datan Berangkat Transit Datan Berangkat Transit
Tabel 2.1779
Tabel 2.1780
Tabel 2.1781Tabel 2.1782
Tabel 2.1783
Tabel 2.1784Tabel 2.1785
2006
6
6
50
53
Tabel 2.1786
Tabel 2.1787
Tabel 2.1788Tabel 2.1789
Tabel 2.1790
Tabel 2.1791Tabel 2.1792
2007
47
47
1.322
1.095
Tabel 2.1793
Tabel 2.1794
Tabel 2.1795Tabel 2.1796
Tabel 2.1797
Tabel 2.1798Tabel 2.1799
2008
243
243
6.805
4.710
Tabel 2.1800
Tabel 2.1801
Tabel 2.1802Tabel 2.1803
Tabel 2.1804
Tabel 2.1805Tabel 2.1806
2009
282
282
5.778
5.250
7
Tabel 2.1807
Tabel 2.1808
Tabel 2.1809Tabel 2.1810
Tabel 2.1811
Tabel 2.1812Tabel 2.1813
2010
1.224
1.224
2 37.058
34.872
2.810
Tabel 2.1814
Tabel 2.1815
Tabel 2.1816Tabel 2.1817
Tabel 2.1818
Tabel 2.1819Tabel 2.1820
2011
1.431
1.431
- 48.750
43.658
Tabel 2.1821
Tabel 2.1822
Tabel 2.1823Tabel 2.1824
Tabel 2.1825
Tabel 2.1826Tabel 2.1827
2012
1.471
1.471
- 57.988
56.773
Tabel 2.1828
Tabel 2.1829
Tabel 2.1830Tabel 2.1831
Tabel 2.1832
Tabel 2.1833Tabel 2.1834
2013
730
730
- 41.529
40.186
Tabel 2.1835

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.1836
2.1.6 Pariwisata
Tabel 2.1837 Kota Baubau memiliki potensi wisata dan daya tarik wisata budaya dan wisata alam yang cukup
representatif untuk dikembangkan. Selain sebagai pusat pemerintahan, Kota Baubau juga sekaligus sebagai
pusat Budaya Kesultanan Buton sehingga menjadikan Kota Baubau memiliki obyek wisata dari peninggalan
sejarah dan kebudayaan yang sangat menarik bagi wisatawan lokal maupun macananegara.
Tabel 2.1838
Tabel 2.1839 Berdasarkan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Kota Baubau, kawasan pariwisata
dikelompokan menjadi 6 bagian yaitu:
1. Kota Lama, sebagai pusat pelayanan wisata untuk Kota Bau Bau dan sekitarnya serta wisata budaya berbasis pada
bangunan tradisional dan pantai sebagai penunjang, dengan obyek wisata meliputi Pantai Kamali, Malige, Batu
Puaro, dan Kota Lama.
2. Benteng, sebagai kawasan wisata budaya, dengan obyek wisata meliputi Benteng Wolio dan Benteng Sorawolio.
3. Pantai sebagai kawasan wisata budaya alam berbasis pantai, dengan obyek wisata meliputi Pantai Nirwana, Pantai
Lakeba, Gua Lakasa, dan Gua Moko.
4. Bungi sebagai kawasan wisata alam berbasis air terjun dan ekologi hutan dan pantai dengan obyek wisata meliputi
Air Terjun Bungi, Pantai Kokalukuna, Air Terjun Tirta Rimba, dan Hutan Wakonti.
5. Samparona sebagai kawasan wisata alam berbasis air terjun dan ekologi hutan dengan obyek wisata meliputi Air
Terjun Samparona dan Air Terjun Kantongara.
6. Pulau Makassar sebagai kawasan wisata budaya berbasis pemukiman dan tata cara hidup nelayan serta pantai
sebagai penunjang, dengan obyek wisata meliputi pulau makassar.
Tabel 2.1840
Tabel 2.1841 Selain enam bagian potensi wisata di Kota Baubau yang telah ada saat ini, Kota Baubau merupakan salah
satu pintu gerbang utama menuju kawasan wisata Kepulauan Wakatobi melalui lintas angkutan penyeberangan
antar pulau yang menghubungkan Kota Baubau dengan Pulau Kadatua Kabupaten Buton, Pulau Muna Kabupaten
Muna dan Pulau Wakatobi Kabupaten Wakatobi.
Tabel 2.1842

Bab 2 | 21

Tabel 2.1843 Pembangunan pariwisataan diarahkan pada peningkatan peran pariwisata dalam kegiatan ekonomi yang
dapat menciptakan lapangan kerja serta kesempatan berusaha dengan tujuan meningkatkan pendapatan
masyarakat serta penerimaan devisa. Upaya yang dilakukan pemerintah adalah melalui pengembangan dan
pendayagunaan berbagai potensi kepariwisataan daerah, dan dampak yang ditimbulkan dari pembangunan
pariwisata di bidang ekonomi adalah meningkatnya pendapatan karena tercipta peluang usaha. Jumlah hotel
dan penginapan di Kota Baubau sebanyak 56 dengan jumlah kamar sebanyak 757 dan jumlah tempat tidur
sebanyak 1.032. Banyaknya tamu hotel bintang dan non bintang tahun 2013 sebanyak 81.601 orang, yang
terdiri dari 511 tamu asing dan 81.090 orang tamu dalam negeri. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa
terjadi peningkatan jumlah tamu dalam negeri sebesar 15,59 persen.
Tabel 2.1844
2.1.7 Perekonomian
Tabel 2.1845 Produk Domestik Regional Bruto merupakan salah satu indikator untuk mengetahui keadaan ekonomi
suatu daerah dalam suatu periode tertentu. PDRB dihitung berdasarkan harga berlaku dan harga konstan,
dimana PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke
tahun.
Tabel 2.1846
Tabel 2.1847 Nilai PDRB Daerah Kota Baubau berdasarkan harga berlaku pada tahun 2012 sebesar 2.634.647,13 juta
rupiah, sedangkan berdasarkan harga konstan sebesar 912.758,25 juta rupiah dengan tahun dasar 2000.
Penyajian PDRB menurut lapangan usaha dibagi menjadi sembilan sektor, dan dirinci masing masing menjadi
sub sektor dengan perkembangan setiap sektor sebagai berikut:
1. Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan Sektor pertanian mencakup sub sektor tanaman
bahan makanan, tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Sektor pertanian pada tahun 2012
memberikan kontribusi sebesar 12,75 persen terhadap total PDRB Kota Baubau.
2. Pertambangan dan Penggalian Sektor ini terdiri dari 2 sub sektor yakni pertambangan dan penggalian, dimana sub
sektor pertambangan di Kota Baubau memberikan kontribusi 0,68 persen terhadap total PDRB Daerah Kota Baubau.
3. Industri Pengolahan Sektor industri pengolahan yang meliputi industri migas dan non migas dalam hal ini industri
makanan, tekstil, barang dari kayu, semen dan barang galian bukan logam dan lain-lain pada tahun 2012
memberikan kontribusi sebesar 2,43 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto Daerah Kota Baubau.
4. Listrik, Gas dan Air Bersih Sektor ini merupakan sektor penunjang seluruh kegiatan perekonomian di Daerah Kota
Baubau. Produksi listrik sebagian besar dihasilkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan sebagian oleh listrik non
PLN. Sedangkan air bersih dihasilkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sektor ini pada tahun 2012
memberikan kontribusi sektoral sebesar 1,17 persen.
5. Konstruksi / Bangunan Sektor konstruksi/bangunan pada tahun 2012 memberikan kontribusi sebesar 21,52 persen
terhadap total PDRB Kota Baubau.
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran Sektor ini berperan sebagai penunjang kegiatan ekonomi yang menghasilkan
produk barang dan jasa. Secara keseluruhan pada tahun 2012 sektor ini memberikan kontribusi sektoral sebesar
26,73 persen.
7. Pengangkutan dan Komunikasi Sektor pengangkutan dan komunikasi memiliki peranan sebagai pendorong aktivitas
disetiap sektor ekonomi. Sektor ini pada tahun 2012 memberikan kontribusi sebesar 10,00 persen.
8. Keuangan Persewaan dan Jasa Perusahaan Sektor ini mencakup bank, lembaga keuangan bukan bank, sewa
bangunan dan jasa perusahaan disebut sektor finansial karena secara umum kegiatan utamanya berhubungan
dengan kegiatan pengelolaan keuangan yang bersumber dari penarikan dana masyarakat maupun penyaluran
kembali. Sektor ini pada tahun 2012 memberikan kontribusi sebesar 6,39 persen.

Bab 2 | 22

9. Jasa - jasa Sektor jasa-jasa meliputi pemerintahan umum dalam hal ini administrasi pemerintahan dan jasa
pemerintahan serta swasta yang mencakup sosial kemasyarakatan, hiburan dan rekreasi juga perorangan dan rumah
tangga. Sektor jasajasa memberikan kontribusi sebesar 18,32 persen terhadap total PDRB Daerah Kota Baubau.
Tabel 2.1848
Tabel 2.1849 Berdasarkan harga konstan tahun 2000, PDRB Kota Baubau pada tahun 2007 sebesar 586.325 juta Rupiah.
Sektor listrik, gas dan air bersih mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 44 persen, diikuti oleh sektor
bangunan sebesar 12 persen dan industri pengolahan sebesar 11 persen. Secara keseluruhan pendapatan
regional dikota Baubau pada tahun 2007 naik sebesar 7,81 persen bila dibandingkan pada tahun 2006. Nilai
PDRB atas dasar harga konstan tersebut tersajikan pada Tabel 2.22.
Tabel 2.1850
Tabel 2.1851

Tabel 2.1852 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan Kota Baubau (Juta Rupiah)
Tabel 2.1854 Sektor
Tabel 2.1855 Tabel 2.1856 Tabel 2.1857 Tabel 2.1858 Prop
abel 2.1853
2010
2011
2012
orsi 2012
o
(%)
abelTabel
2.1859
2.1860 Pertanian
Tabel 2.1861 Tabel 2.1862 Tabel 2.1863
Tabel 2.1864 7,30
1
64.202,98
65.486,03
66.596,84
abelTabel
2.1865
2.1866 Pertambangan
Tabel 2.1867 Tabel 2.1868 Tabel 2.1869
Tabel 2.1870 0,77
2
dan Penggalian
5.145,29
6.027,71
7.055,97
abelTabel
2.1871
2.1872 Industri
Tabel 2.1873 Tabel 2.1874 Tabel 2.1875
Tabel 2.1876 3,99
3
32.096,18
34.192,70
36.463,40
abelTabel
2.1877
2.1878 Listrik, Gas dan Tabel 2.1879 Tabel 2.1880 Tabel 2.1881
Tabel 2.1882 1,08
4
Air Bersih
7.702,06
8.310,74
9.834,74
abelTabel
2.1883
2.1884 Konstruksi
Tabel 2.1885 Tabel 2.1886 Tabel 2.1887 Tabel 2.1888 24,8
5
169.353,90 190.202,01 226.916,27
6
abelTabel
2.1889
2.1890 Perdagangan,
Tabel 2.1891 Tabel 2.1892 Tabel 2.1893 Tabel 2.1894 22,6
6
Hotel, dan Restoran
169.891,09 188.502,34 207.084,37
9
abelTabel
2.1895
2.1896 Pengangkutan
Tabel 2.1897 Tabel 2.1898 Tabel 2.1899 Tabel 2.1900 10,6
7
dan Komunikasi
85.570,42
92.506,52
97.517,77
8
Tabel 2.1902 Keuangan,
abel 2.1901
Tabel 2.1903 Tabel 2.1904 Tabel 2.1905
Persewaan dan Jasa
Tabel 2.1906 7,96
8
54.482,16
67.493,06
72.646,19
Perusahaan
abelTabel
2.1907
2.1908 Jasa-jasa
Tabel 2.1909 Tabel 2.1910 Tabel 2.1911 Tabel 2.1912 20,6
9
175.541,71 182.726,76 188.642,70
7
Tabel 2.1914 Tabel 2.1915 Tabel 2.1916
Tabel 2.1917 100,
Tabel 2.1913 Total
763.985,7
835.447,8
912.758,2
00
9
7
5
Tabel 2.1918

Sumber: Kota Baubau dalam Angka, 2014

Tabel 2.1919
2.2

PELABUHAN BAUBAU

Tabel 2.1920 Secara Geografis Pelabuhan Baubau terletak diantara 5 02716,5 Lintang Selatan sampai 122 03631,4
Bujur Timur, tepatnya Pelabuhan Baubau terletak di Kota Baubau bagian selatan Sulawesi Tenggara, untuk lebih
tepatnya Pelabuhan Baubau ini berada di Pulau Buton yang terletak di Selat Buton dengan Pelabuhan Utama
menghadap ke utara.
Tabel 2.1921
2.2.1 Fasilitas Pokok Pelabuhan
Tabel 2.1922 Status Pelabuhan Baubau adalah Pelabuhan yang tidak diusahakan yang diselenggarakan oleh pengelolaan
Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Baubau sebagai UPT Pusat. Kondisi fasilitas pelabuhan yang ada saat ini
pada dasarnya sangat memadai dengan adanya penambahan dermaga tahun anggaran 2009-2012 dengan
panjang total 120 meter. Fasilitas Pelabuhan Baubau secara lengkap dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.1923 Fasilitas Pelabuhan di Pelabuhan Murhum Baubau
Bab 2 | 23

Tabel 2.1924Tabel 2.1925 Fasilitas


No
Tabel 2.1928
Tabel 2.1929 Daerah Kerja
1
Daratan
Tabel 2.1932
Tabel 2.1933 Dermaga I
2
Tabel 2.1936
Tabel 2.1937 Dermaga II (Baru)
3
Tabel 2.1941 Dermaga Finger I
Tabel 2.1940
4
Tabel 2.1945 Dermaga Finger II
Tabel 2.1948
Tabel 2.1949 Trantel I
5
Tabel 2.1952
Tabel 2.1953 Transtel II
6
Tabel
7
Tabel
8

2.1956
Tabel 2.1957 Causeway I
2.1960
Tabel 2.1961 Causeway II

Tabel 2.1964
Tabel 2.1965 Causeway III
9
Tabel 2.1969 Talud I
Tabel 2.1968
10
Tabel 2.1973 Talud II
Tabel
11
Tabel
12
Tabel
13
Tabel
14
Tabel
15
Tabel
16
Tabel
17

2.1976
Tabel 2.1977 Mooring Dolphin
2.1980
Tabel 2.1981 Kantor Pelabuhan
2.1984
Tabel 2.1985 Terminal
Penumpang
2.1988
Tabel 2.1989 Gudang
2.1992
Tabel 2.1993 Rumah Jaga (jalan
masuk)
2.1996
Tabel 2.1997 Rumah Jaga (jalan
keluar)
2.2000
Tabel 2.2001 Lapangan
Penumpukan
Tabel 2.2005 Jalan Utama I

Tabel 2.2004
Tabel 2.2009 Jalan Utama II
18
Tabel 2.2013 Jalan Extra
Tabel 2.2016
Tabel 2.2017 Areal Parkir
19
Tabel 2.2020
Tabel 2.2021 Klinik Kesehatan
20
Pelabuhan
Tabel 2.2024
Tabel 2.2025 Karantina
21
Tumbuhan
Tabel 2.2028
Tabel 2.2029 Karantina Hewan

Tabel 2.1926 D
imensi
Tabel 2.1930 8
Ha
Tabel 2.1934 1
80 x 12
m
Tabel 2.1938 1
20 x 15
m
Tabel 2.1942 5
0 x 10
m
Tabel 2.1946 5
0 x 10
m
Tabel 2.1950 9
7x8m
Tabel 2.1954 1
23 x 8
m
Tabel 2.1958 5
5x8m
Tabel 2.1962 3
0x8m
Tabel 2.1966 6
0 x 10
m
Tabel 2.1970 P
. 64 m
Tabel 2.1974 P
. 130 m
Tabel 2.1978 2
unit
Tabel 2.1982
2
50 m2
Tabel 2.1986
7
80 m2
Tabel 2.1990 N
ihil
Tabel 2.1994 6
x4m
Tabel 2.1998 1
.800 m2
Tabel 2.2006 9
4x
11,5 m
Tabel 2.2010 3
2x6m
Tabel 2.2014 5
3x
6,75 m
Tabel 2.2018 4
2 x 68
m
Tabel 2.2022 1
2 m2
Tabel 2.2026 1
unit
Tabel 2.2030 Tabel 2.2002

Tabel 2.1927 Keterangan


Tabel 2.1931 Tanah urugan
Tabel 2.1935 Tipe lantai beton, dengan tiang pancang
beton
Tabel 2.1939 Tipe lantai beton, dengan tiang pancang
beton
Tabel 2.1943 Tipe lantai beton, dengan tiang pancang
beton D=400mm, dibangun tahun 2002
Tabel 2.1947 Tipe lantai beton, dengan tiang pancang
beton D=400mm, dibangun tahun 2012 (sedang
berjalan)
Tabel 2.1951 Tipe beton dengan tiang beton D=450mm
Tabel 2.1955 Tipe beton dengan tiang beton D=450mm
Tabel 2.1959 Tipe Gravity Wall
Tabel 2.1963 Tipe Gravity Wall
Tabel 2.1967 Tipe Gravity Wall
Tabel 2.1971 Dinding Penahan Tanah
Tabel 2.1975 Dinding Penahan Tanah
Tabel 2.1979 Tipe beton dengan tiang Pancang Beton
D=450mm
Tabel 2.1983 Tipe struktur beton, kondisi cukup baik
Tabel 2.1987 Tipe struktur beton, kondisi cukup baik
Tabel 2.1991 Tidak ada
Tabel 2.1995 Tipe struktur beton, kondisi cukup baik
Tabel 2.1999 Tabel 2.2003 Perkerasan dengan aspal kondisi cukup
baik
Tabel 2.2007 Perkerasan dengan aspal kondisi cukup
baik
Tabel 2.2015
Tabel 2.2019 Perkerasan dengan aspal kondisi cukup
baik
Tabel 2.2023 Menumpang di terminal
Tabel 2.2027
Tabel 2.2031
Bab 2 | 24

Tabel
No
22
Tabel
23
Tabel
24
Tabel
25

2.1924Tabel 2.1925 Fasilitas

Tabel 2.1926 D
imensi

2.2032
Tabel 2.2033 Kantor Perusahaan
Pelayaran
2.2036
Tabel 2.2037 Kantor Buruh /
TKBM
2.2040
Tabel 2.2041 Bak air

Tabel 2.2034 3
unit
Tabel 2.2038 2
4 m3
Tabel 2.2042 3
00 m3
Tabel 2.2046 T
idak
ada
Tabel 2.2050 3
35 m3
Tabel 2.2054 1
unit
Tabel 2.2058 1
.500
KVA
Tabel 2.2062 1
00 m3
Tabel 2.2066 2
line
Tabel 2.2070 S
SB
Tabel 2.2074 5
3x
6,30 m
Tabel 2.2078 3
3x6m
Tabel 2.2082 6
8 x 64
m

Tabel 2.2044
Tabel 2.2045 Tangki BBM
26
Tabel
27
Tabel
28

2.2048
Tabel 2.2049 Pagar
2.2052
Tabel 2.2053 Alat Bantu Navigasi

Tabel 2.2056
Tabel 2.2057 Suplay Listrik
29
Tabel
30
Tabel
31
Tabel
32

2.2060
Tabel 2.2061 Suplay Air
2.2064
Tabel 2.2065 Telephone
2.2068
Tabel 2.2069 SRP / Stasiun Radio

Tabel 2.2073 Taman I


Tabel 2.2072
33
Tabel 2.2077 Taman II
Tabel 2.2080
Tabel 2.2081 Lapangan
34
Penumpukan
Tabel 2.2084

Tabel 2.1927 Keterangan

Tabel 2.2035 Menumpang pada terminal penumpang


Tabel 2.2039 Menumpang pada terminal penumpang
Tabel 2.2043 Kapasitas 90 ton/jam
Tabel 2.2047 Memakai mobil tangki
Tabel 2.2051 Pagar BRC, kondisi cukup baik
Tabel 2.2055 1 lampu suar
Tabel 2.2059 PLN
Tabel 2.2063 PDAM
Tabel 2.2067 PT Telkom
Tabel 2.2071
Tabel 2.2075
Tabel 2.2079
Tabel 2.2083

Sumber: KUPP Pelabuhan Baubau, 2015

Tabel 2.2085
Tabel 2.2086 Pintu utama pelabuhan bagi orang dan kendaraan yang keluar masuk di pelabuhan mengalami hambatan
karena belum terpisahnya pintu pejalan kaki dan kendaraan yang menyebabkan sering terjadi kemacetan pada
pintu utama disaat kegiatan puncak yaitu embarkasi dan debarkasi penumpang Kapal Pelni.
Tabel 2.2087
2.2.2 Armada Angkutan Laut
Tabel 2.2088 Berdasarkan data yang didapat dari KUPP Pelabuhan Baubau, potensi armada angkutan laut yang
dioperasikan di Pelabuhan Baubau memiliki jumlah yang sangat besar. Terdapat 52 kapal yang beroperasi
dengan trayek asal Baubau yang dikelola oleh sebanyak sebelas perusahaan termasuk PT Pelni. Perusahaanperusahaan tersebut adalah:
1. PT Pelni
2. PT Dharma Lautan Utama
3. PT Dharma Indah
4. PT ASDP
5. PT Mira Cipta Sombu
6. PT Global Expres Lines
7. PT Aksar Saputra Lines
8. PT Boy Bahtera Mandiri
9. PT Fungka Permata Group
10. PT Uki Raya Lines
11. PT Wahyu Samudera Timur
Tabel 2.2089
Bab 2 | 25

Tabel 2.2090 Data lengkap mengenai nama kapal, lintasan trayek, serta kapasitas kapal disampaikan pada Lampiran 1.
Tabel 2.2091
2.2.3 Angkutan Laut Pelabuhan Murhum Baubau
Tabel 2.2092 Di Pelabuhan Murhum, aktifitas angkutan yang terselenggara meliputi 3 akfititas pelabuhan yang dicatat
sebagai bagian dari aktifitas angkutan laut di Pelabuhan Murhum Baubau yaitu Pelabuhan Umum Dalam Negeri,
Pelabuhan Rakyat dan Pelabuhan Perintis. Rekapitulasi aktifitas angkutan laut untuk kurun waktu 2010-2013 di
Pelabuhan Murhum ini dijabarkan pada Tabel 2.24 dan digambarkan pada Gambar 2.2-2.4.
Tabel 2.2093 Aktifitas Angkutan Laut di Pelabuhan Murhum Baubau

Tabel 2.2094
Tabel 2.2095

Sumber: KUPP Pelabuhan Baubau, 2015

Tabel 2.2096

Tabel 2.2097
Gambar 2.2 Produktifitas Angkutan Laut Pelabuhan Murhum
Tabel 2.2098

Bab 2 | 26

Tabel 2.2099
Gambar 2.3 Produktifitas Angkutan Barang Pelabuhan Murhum Baubau
Tabel 2.2100

Tabel 2.2101
Gambar 2.4 Produktifitas Angkutan Penumpang Pelabuhan Murhum
Tabel 2.2102
2.2.4 Angkutan Peti Kemas Pelabuhan Murhum
Tabel 2.2103 Angkutan peti kemas di Pelabuhan Baubau menunjukkan pertumbuhan yang cukup besar, ditunjukan
dengan data dalam kurun waktu 2010-2013, bongkar peti kemas menunjukkan pertumbuhan rata-rata sebesar
37,73% (TEUS) / 42,14% (Ton) dan untuk muat peti kemas, pertumbuhan dalam periode tersebut rata-rata
sebesar 41,12% (TEUS) / 33,10% (Ton). Penjabaran mengenai data angkutan peti kemas di Pelabuhan Murhum
ini dijabarkan pada Tabel 2.25.

Bab 2 | 27

Tabel 2.2104 Produktifitas Angkutan Peti Kemas di Pelabuhan Murhum


Tabel 2.2106 Bongkar
Tabel 2.2107 Muat
Tabel 2.2105
Tabel 2.2109
Tabel 2.2110
Tabel 2.2111
Tabel 2.2112
Tabel 2.2113
Tabel 2.2114
Tahun
Teus
Ton
Kosong
Teus
Ton
Kosong
Tabel 2.2115
Tabel 2.2116
Tabel 2.2117
Tabel 2.2118
Tabel 2.2119
Tabel 2.2120
Tabel 2.2121
2010
4.049
64.059
36
2.093
41.977
2.079
Tabel 2.2122
Tabel 2.2123
Tabel 2.2124
Tabel 2.2125
Tabel 2.2126
Tabel 2.2127
Tabel 2.2128
2011
5.634
90.867
21
2.958
59.115
2.383
Tabel 2.2129
Tabel 2.2130
Tabel 2.2131
Tabel 2.2132
Tabel 2.2133
Tabel 2.2134
Tabel 2.2135
2012
7.680 129.430
36
4.168
74.111
3.348
Tabel 2.2136
Tabel 2.2137
Tabel 2.2138
Tabel 2.2139
Tabel 2.2140
Tabel 2.2141
Tabel 2.2142
2013
8.580 137.199
0
5.252
86.568
3.401
Tabel 2.2143
Tabel 2.2144
Tabel 2.2145
Tabel 2.2146
Tabel 2.2147
Tabel 2.2148
Tabel 2.2149
2014
10.149 182.903
7
6.668 115.068
3.302
Tabel 2.2150

Sumber: KUPP Pelabuhan Baubau, 2015

Tabel 2.2151

Operasional Peti Kemas Pelabuhan Murhum Baubau


200,000
180,000
160,000

Bongkar (Teus)

140,000

Bongkar (Ton)

120,000

Bongkar (Kosong)
Muat (Teus)

100,000

Muat (Ton)

80,000

Muat (Kosong)

60,000
40,000
20,000
0

Tabel 2.2152

2010

2011

2012

2013

2014

Gambar 2.5 Operasional Peti Kemas Pelabuhan Murhum Baubau


Tabel 2.2153
2.3

KEBUTUHAN PROYEK KPBU DI PELABUHAN BAUBAU

Tabel 2.2154 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran mengindikasikan bahwa perlunya penyediaan
infrastruktur pelabuhan sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. Pembangunan
pelabuhan tersebut harus direncanakan secara tepat, memenuhi persyaratan teknis kepelabuhanan,
kelestarian lingkungan dan memperhatikan keterpaduan intra dan antar moda transportasi.
Tabel 2.2155
Tabel 2.2156 Pendekatan multi-dimensi yang diamanatkan oleh Undang-Undang diharapkan dapat mendukung dan
sekaligus menggerakkan dinamika pembangunan, meningkatkan mobilitas manusia, barang dan jasa, membantu
terciptanya konektivitas dan pola distribusi nasional yang mantap dan dinamis serta meningkatkan
kesejahteraan rakyat Indonesia. Visi pembangunan dibidang kepelabuhanan ditetapkan sebagai berikut:
Sistem kepelabuhanan yang efisien, kompetitif dan responsif yang mendukung perdagangan internasional dan
domestic serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan wilayah.
Tabel 2.2157
Tabel 2.2158 Untuk memenuhi kebutuhan demand di Pelabuhan Murhum Baubau yang semakin meningkat setiap
tahunnya, serta untuk mendukung program jangka panjang dalam konsep pembangunan pemerintah Kota

Bab 2 | 28

Baubau yang bertujuan menjadikan Kota Baubau Pintu Gerbang Ekonomi dan Pariwisata di Sulawesi Tenggara.
Pelabuhan Baubau yang merupakan salah satu pelabuhan dengan perkembangan kegiatan ekonomi yang lebih
pesat dibandingkan dua pelabuhan lainnya di Kota Baubau, selain itu Pelabuhan Murhum Baubau memiliki
status sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan
Laut Kementerian Perhubungan. Melihat status serta keberadaannya yang cukup vital bagi transportasi dan
perekonomian

maka pemenuhan kebutuhan pergerakan di Pelabuhan Baubau perlu menjadi prioritas

pengembangan. Karena anggaran Pemerintah terbatas, maka perlu dibantu dari anggaran/investasi swasta
untuk mencukupi kebutuhan pendanaan penyediaan infrastruktur secara berkelanjutan.
Tabel 2.2159
2.4

POTENSI KPBU DI PELABUHAN BAUBAU

Tabel 2.2160 Berdasarkan dokumen hasil Studi Kerjasama Pemerintah dan Swasta untuk Pelabuhan BaubauSulawesi
Tenggara, disampaikan mengenai potensi awal proyek KPBU di Pelabuhan Murhum Baubau seperti dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.2161 Potensi (Awal) Proyek KPBU di Pelabuhan Baubau
Tabel 2.2162
Tabel 2.2163 Ti
Tabel 2.2164 Karakteristik
No
pe
Proyek
- Permintaan mapan dan terus
meningkat
- Pengembangan usaha dagang
Tabel 2.2168 T - Kebutuhan lahan
Tabel 2.2167 erminal
reklamasi/flatform antara 2
1
Penump
causeway
ang
- Kebutuhan pembangunan gedung
baru
- Telah banyak diterapkan di
beberapa negara
- Permintaan terus meningkat
- Pasar yang mapan
- Dapat terisolasi dari kegiatan
pelabuhan umum
Tabel 2.2171 T
- Membutuhkan teknologi modern
Tabel 2.2170 eminal
untuk mencapai efisiensi
2
Peti
- Terbatasnya jumlah klien
Kemas
- Dapat dikembangkan dari operator
eksisting
- Telah banyak diterapkan di
beberapa negara
- Aset jangka panjang yang tidak
menghasilkan tingkat
pengembalian menarik bagi sektor
Tabel 2.2174 K
swasta karena permintaan
Tabel 2.2173
argo
terbatas dan tarif rendah
3
Umum - Pendapatan biasanya menyebar dan
sulit untuk dikumpulkan.
- Dapat dikembangkan sebagai pola
awal pengenalan KPBU
Tabel 2.2177
Tabel 2.2178 P - Terlalu kecil untuk dipertimbangkan
4
enyedia
sebagai JV / BOT.
an dan - Secara kolektif, masih kurang besar
pelayan
nilainya sebagai BOT.
an
- Sulit untuk diisolasi dari kegiatan
peralat
pelabuhan lainnya.
an
pelabuh

Tabel 2.2165 Opsi


Skema
KPBU

Tabel 2.2166
Prioritas

BOT
Konsesi
Manajemen
kontrak
privatisasi

Tabel 2.2169
Tinggi

BOT
Konsesi
Manajemen
kontrak
privatisasi

Tabel 2.2172
Tinggi

Tabel 2.2175 hybr


id

Tabel 2.2176
Rendah

Tabel 2.2179 hybr


id

Tabel 2.2180
Sedang

Bab 2 | 29

Tabel 2.2162
Tabel 2.2163 Ti
No
pe
Proyek
an
(cranes
dan
gantry)
Tabel 2.2182 P
Tabel 2.2181
ergudan
5
gan

Tabel 2.2186 P
elayana
Tabel 2.2185
n tunda
6
dan
pandu
Tabel 2.2190 S
upply
air
Tabel 2.2189
bersih
7
dan air
minum
kapal
Tabel 2.2193 P
Tabel 2.2192 engelol
8
aan
SBNP

Tabel 2.2164 Karakteristik

- Keterbatasan lahan di kawasan


pelabuhan
- Sering dilakukan oleh perusahaan
swasta yang memberikan layanan
kepada perusahaan pengguna jasa
pengiriman.
- Nilai terlalu kecil untuk BOT.
- Frekuensi kapal yang masih rendah
- Pada umumnya, nilai terlalu kecil
sebagai BOT/JV.
- Investasi kapal yang cukup tinggi
- Kebutuhan tenaga spesialis
menetap.

Tabel 2.2166
Prioritas

Tabel 2.2183 BOT

Tabel 2.2184
Sedang

Tabel 2.2187 Man


ajemen
kontrak

Tabel 2.2188
Sedang

- Frekuensi kapal yang masih rendah


- Pada umumnya, nilai terlalu kecil
- Perusda (PDAM)
sebagai BOT/JV.
- Kontrak pelayanan
- Pemanfaatan fasilitas yang telah ada
- Kebutuhan supply air yang menerus

Tabel 2.2191
Sedang

- Fokus pada keselamatan pelayaran


- Investasi awal cukup tinggi
- Tidak ada pendapatan secara
langsung
Tabel 2.2198 Aset yang sangat
jangka panjang atau
Tabel 2.2197 R
Tabel 2.2196
pengembangan yang belum
eklamas
9
dapat menghasilkan
i lahan
keuntungan yang memadai
bagi investor sektor swasta
Tabel 2.2201
2.5

Tabel 2.2165 Opsi


Skema
KPBU

Tabel 2.2194 Kont


rak
pelayanan

Tabel 2.2195
Rendah

Tabel 2.2199 Pem


erintah

Tabel 2.2200
Rendah

INFRASTRUKTUR YANG AKAN DIBANGUN DENGAN SKEMA KPBU

Tabel 2.2202 Dari hasil identifikasi pada Tabel 2.27 di atas, serta perhitungan awal kelayakan studi, maka ditentukan
proyek yang memiliki prioritas tinggi untuk dilaksanakan proyek KPBU di Pelabuhan Bau Bau adalah
Pembangunan Terminal Peti Kemas dan Multipurpose dengan beberapa informasi kegiatan sebagai berikut:
a. Proyek Kerjasama Permerintah Swasta untuk Penyelenggaraan Terminal Peti Kemas Pelabuhan Baubau meliputi
perencanaan, pengelolaan, pembangunan dan operasional terminal peti kemas termasuk prasarana dan sarana yang
ada didalamnya.
b. Pelayanan jasa peti kemas di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Baubau termasuk hak untuk menetapkan tarif
pelayanan dermaga Peti Kemas yang meliputi:
1)
Kegiatan operasi kapal, terdiri atas:
a) Kegiatan dermaga
b) Stevedoring
c) Haulage/trucking
d) shifting
e) buka tutup palka
f) lift on/lift off
2)
Kegiatan operasi lapangan, terdiri atas:
a) penumpukan
b) lift on/lift off
c) gerakan ekstra
Bab 2 | 30

2.6

d) relokasi
e) angsur
Kegiatan operasi container freight station, terdiri atas:
a) stripping/ stuffing
b) penumpukan
c) penerimaan penyerahan
kegiatan pelayanan tambahan, terdiri atas:
a) biaya administrasi nota
b) biaya inter terminal transfer
c) biaya SPP (Surat Penyerahan Petikemas)
d) biaya kartu ekspor
e) biaya hi-co scan
f) biaya hi-co scan with behandle
g) biaya stack awal (biaya penumpukan plus gerakan ekstra)
h) biaya batal transaksi
i) biaya after closing time
j) biaya administrasi IT System
k) biaya PLP (Pindah Lokasi Penumpukan)
l) biaya site office
m) biaya monitoring/supervisi
Tabel 2.2203
PELABUHAN BAUBAU DALAM RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA BAUBAU

Tabel 2.2204 Pelabuhan Baubau dalam Peraturan Daerah Kota Baubau Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Baubau Tahun 2011-2030 adalah Pelabuhan Pengumpan skala regional dengan alur pelayaran
regional yang menghubungkan Pelabuhan Baubau dengan pelabuhan regional dan pelabuhan nasional lainnya.
Tabel 2.2205
Tabel 2.2206 Berdasarkan peraturan zonasi sistem jaringan transportasi laut untuk tatanan kepelabuhanan, mengikuti
ketentuan:
1. Kegiatan yang diperbolehkan untuk pelabuhan umum meliputi kegiatan: operasional pelabuhan, pembangunan
prasarana dan sarana penunjang pelabuhan, dan pengembangan kawasan pelabuhan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
2. Kegiatan yang diperbolehkan dengan syarat meliputi kegiatan selain yang disebutkan pada nomor 1 yang berada di
dalam Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan, dengan syarat harus
mendapat izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan Raperda RTRW Kota Baubau
3. Kegiatan yang tidak diperbolehkan berupa kegiatan yang dapat mengganggu kegiatan di Daerah Lingkungan Kerja
Pelabuhan dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan, dan jalur transportasi laut.
Tabel 2.2207
2.7

RESUME RENCANA INDUK PELABUHAN BAUBAU

Tabel 2.2208 Rencana pengembangan fasilitas Pelabuhan Baubau didasarkan pada dokumen Rencana Induk Pelabuhan
yang memuat rencana pengembangan jangka pendek, menengah dan panjang. Tahapan pengembangan dalam
Dokumen Rencana Induk tersebut merupakan pegangan dalam pengembangan prasarana, sarana maupun
fasilitas pendukung pada pelabuhan.

Bab 2 | 31

Tabel 2.2209 Rekapitulasi Pengembangan Sarana dan Prasarana Pelabuhan Baubau

Tabel 2.2210

Sumber: Dokumen Draft Rencana Induk Pelabuhan Baubau

Tabel 2.2211
Tabel 2.2212

Bab 2 | 32