Anda di halaman 1dari 40

TERJEMAH KITAB MABADI AL-AWALIYAH

SAMBUTAN MUSTAHIQ II MDU




Al-Hamdulillah, sekilas setelah saya membaca hasil terjemahan kitab Mabadi' alawaliyah hasil dari kreatifitas santri kelas II MDU kiranya -menurut hemat saya,
seperti kitab asalnya- terjemahan ini kiranya tepat untuk dipelajari bagi para santri
pemula yang menkaji Ushul al-Fiqh.
Saya merasa bersukur sekali atas upaya para santri kelas II MDU dalam menyusun
terjemahan kitab Mabadi' al-awaliyah ini. Hal ini dikarenakan sangat dibutuhkannya
Ushul al-Fiqh yang belakangan justru kurang diminati oleh para ilmuan, selain itu
seiring dengan perkembangan zaman banyak dijumpai problematika umat yang
belum terdapat jawabannya dalam nash maupun dalam berbagai kitab-kitab fiqh
klasik dan kontemporer. Maka dari itu perlu sekali untuk memahami fan ushul fiqh
yang digunakan untuk isthinbat al-hukm. Meskipun kandungan isi kitab mabadi' alawaliyah masih bersifat globlal setidaknya dengan mempelajarinya, bisa kita
jadikan modal awal untuk mendalami ilmu Ushul Fiqh.
Oleh karena itu, saya menyambut baik dan mengharapkan dari pihak pondok
pesantren bisa menindak lanjuti proses-proses pentashihan dan lainnya sehingga
bisa diterbitkannya hasil kreatifitas santri-santri kelas II MDU ini.
Kepada anggota TTM 2009 dan santri kelas II MDU teruslah untuk berkreatifitas dan
fastabiq al-khairat. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah serta
menjadi wasilah ridho beliau al-Mukarram KH. Achmad Chalwani beserta keluarga.

Berjan, 9 juni 2009-06-09
Mabrur Habibi
SEKAPUR SIRIH

" "

Puji syukur, kami haturkan kepada Allah 'azza wa jalla. Shalawat serta salam dari
Allah semoga tercurahkan kepada beliau uswah al-hasanah Muhammad SAW. Alnabiy, al-rosul 'ala al-alamiin.
Berawal dari sebuah obrolan ma'a ashabiy alias bareng teman-teman sambil ngopi
dan nyete 76 diwarung selatan pondok putra Ponpes An-nawawi, kemudian
berlanjut pada bahasan yang lebih serius untuk belajar ushul fiqh dengan metode
diskusi -walaupun diskusinya belum berjalan seperti yang diinginkan-, kami dan
teman-teman mencoba untuk belajar membaca dan memahamui kitab usul fiqh
Mabadi' al-Awaliyah. Kemudian kami berniat untuk menterjemahkannya.
Termotivasi oleh semangat beliau mas H. M. Khoirul Fata (al-marhum) "ghofara Allah
lah" dalam belajar ketika beliau masih bersama-sama kami (fi hayati al-dunya) serta
dengan harapan semoga kami dan teman-teman santri PP. An-Nawawi bisa
mempunyai semangat seperti beliau dalam belajar. Dan yang pasti beliau KH.
Achmad Chalwani beserta zdurriyahnya ridho pada kita sehingga Allah pun ridha
pada kita.
Harapan kami, terjemahan kitab Mabadi' al-Awaliyah ini dapat menjadi motivasi
para santri khususnya teman-teman di PP. An-Nawawi Berjan Purworejo dalam
bwelajar baik dengan metode membaca, menulis atau lainnya. Dan semoga bisa
menjadikan washilah bagi kami untuk mendapatkan ilmu yang nafi' fiy al-dunya wa
al-akhirat.
Tidak lupa ucapan terimakasih kami kepada semua pihak yang telah membantu
dalam proses penterjemahan ini. Terlebih guru fan kitab Mabadi' al-Awaliyah kami
yaitu bapak Sahlan, S.Ag., MSI.dan mustahiq kelas II MDU yang senantiasa memberi
suport dan membesarkan hati kami sehingga dengan kemampuan yang kami miliki
akhirnya dapat terselesaikan apa yang telah menjadi harapan kami. Terakhir, untuk
koreksi, tentunya dalam terjemahan ini tidak sesempurna sesuai apa yang
diharapkan. Apabila ditemukan kekurangan sangat kami harapkan masukan dan
saran dari para pembaca yang budiman.

Berjan, 9 juni 2009-06-09
TTM
DAFTAR ISI
Halaman Judul I

Sambutan Mustahiq II
Sekapur sirih III
Daftar isi IV
1. Al-Qism al-awwal Ushul al-Fiqh 1
2. Al-Ahkam 2
3. Al-Mabhats al-awwal fiy al-Amr 4
4. Al-Mabhats al-tsani fiy al-Nahyi 5
5. Al-Mabhats al-talits fiy al-'Am 7
6. Al-Mabhats al-al-rabi' fiy al-Khas wa al-Takhshis 8
7. Al-Mabhats al-khamis fiy al-Naskh 12
8. Al-Mabhats al-sadis fiy al-Mujmal 15
9. Al-Mabhats al-sabi' fiy al-Muthlaq wa al-Muqayyad 16
10. Al-Mabhats al-tsamin fiy al-Mafhum wa al-Mantuq 17
11. Al-Mabhats al-tasi' fiy Fi'l shahib al-syari'ah 19
12. Al-Mabhats al-'asyir fiy Iqrar shahib al-syari'ah 20
13. Al-Mabhats al-hadiy 'asyara fiy al-Ijma' 21
14. Al-Mabhats al-tsani 'asyara fiy al-Qiyas 22
15. Al-Mabhats al-tsalits 'asyara fiy al-Ijtihad, al-Ittiba', al-Taqlid 23
16. Al-Qism al-tsani Qawa'id al-Fiqh 25
17. Kaidah ke-1 25
18. Kaidah ke-2 25
19. Kaidah ke-3 25
20. Kaidah ke-4 26
22. Kaidah ke-6 27
21. Kaidah ke-5 26
23. Kaidah ke-7 27
24. Kaidah ke-8 27
25. Kaidah ke-9 28
26. Kaidah ke-10 28
27. Kaidah ke-11 28
28. Kaidah ke-12 29
29. Kaidah ke-13 30
30. Kaidah ke-14 30
31. Kaidah ke-15 30
32. Kaidah ke-16 31
33. Kaidah ke-17 31
34. Kaidah ke-18 31
35. Kaidah ke-19 32
36. Kaidah ke-20 32
37. Kaidah ke-21 33
38. Kaidah ke-22 33

33
34
34
35
35
35
36
36
37
37
37
38
38
38
39
39
39
40

ke-23
ke-24
ke-25
ke-26
ke-27
ke-28
ke-29
ke-30
ke-31
ke-32
ke-33
ke-34
ke-35
ke-36
ke-37
ke-38
ke-39
ke-40

Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah
Kaidah

39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.






...
...
:


" " .
.
:
:
:

:


BAGIAN AWAL
USHUL FIQH

Asal (al-ashlu) secara bahasa adalah sesuatu yang menjadi sandaran. Seperti akar
yang menjadi dasar tumbuhnya sebuah pohon dan ushul al-fiqh yang menjadi
pondasi fiqh. Sedangkan cabang (al-far') adalah sesuatu yang dididrikan diatas
sesuatu yang lain. Seperti cabang-cabang pohon (batang dan lainnya) yang berdiri
diatas akarnya, dan fiqh yang berdiri diatas ushul-nya.
Menurut istilah asal adalah dalil dan kaidah kulliyat. Seperti perkataan ulama'
bahwa dasar wajibnya shalat adalah al-Kitab (al-Quran). Maksudnya dalil yang
mewajibkan shalat adalah al-Quran. Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah (2): 43.
...

Artinya : .dan dirikanlah shalat


Pendapat ulama' yang menyatakan diperbolehkannya memakan bangkai dalam
kondisi darurat (emergency), adalah bertentangan dengan kaidah kulliyat yang
berbunyi; "kullu mayyitah harm" artinya : setiap bangkai haram hukumnya. Kaidah
ini bersumber dari firman Allah SWT. Yang berbunyi :
" "
Ushul fiqh merupakan dalil fiqh global. Seperti kemutlakan amr (perintah)
menunjukkan makna wajib, mutlaknya nahi (larangan) menunjukkan keharaman,
mutlaknya perbuatan Nabi (af'al al-Nabi), mutlaknya ijma', dan mutlaknya qiyas
yang kesemuanya itu merupakan hujjah.
lafal fiqh dalam bahasa Arab mempunyai arti faham (al-fahm). Sedangkan dalam
terminologi syar'iy, fiqh ialah mengetahui hukum-hukum syari'at yang diperoleh
dengan jalan ijtihad. Seperti mengetahui bahwa niat dalam wudhu merupakan
suatu kewajiban, dan berbagai permasalahan lain yang masuk dalam ranah
ijtihadiyah. Fiqh, berbeda dengan hukum-hukum syari'at yang diketahui tanpa
menggunakan metode ijtihad. Seperti mengetahui bahwa shalat lima waktu adalah
wajib, perbuatan zina adalah haram, dan berbagai permasalahan lain yang
ditetapkan dengan dalil qath'iy. Ilmu seperti ini tidak dinamakan fiqih.
Sedangkan ilmu ( )adalah sifat yang dengannya sesuatu yang di kehendaki bisa
diketahui dengan sempurna. bodoh ( )adalah tidak adanya pengetahuan akan
sesuatu perkara. Dzan ( )adalah menilai sesuatu yang lebih kuat dari dua
perkara. Wahm ( )adalah menemukan sesuatu yang kurang kuat dari dua
perkara. Syak ( )adalah menemukan persamaan pada dua perkara.
Keraguan yang timbul tentanga antara apakah seseorang bernama Zaid sedang
berdiri atau tidak yang sama-sama kuat dinamakan syak, jika lebih unggul salah
satunya dinamakan dzan, dan ketika mengunggulkan salah satu antara keadaan
Zaid sedang berdiri atau tidak sedang berdiri dinamakan wahm. Dalam kaitan ini,
ilmu dalam pengertian fiqih mengandung pengertian dzan (prasangka). Maksudnya,
sebagaimana dalam pembahasan selanjutnya, akan diketemukan adanya kaidah
yang menyatakan bahwa produk ijtihad sebagai salah satu mekanisme metode
penggalian hukum dalam islam masuk dalam kategori zdanniy (prasangka) dan
bukannya qath'iy (pasti).


. :
. : .
. : .
: .
: .
. : .
:
:
: .
. : .
: .

. :
PEMBAGIAN HUKUM SYARI'AT
Al-Ahkam al-Syariy (hukum-hukum syariat) dibagi menjadi sembilan, yaitu: wajib,
mandub, mubah, haram, makruh, sahih, bathil, rukhshah dan 'azimah. Adapun
definisi masing-masing sembilan hukum tersebut adalah sebagai berikut:
1. Wajib, yaitu sesuatu yang apabila dikerjakan akan diberi pahala dan ketika
ditinggalkan akan disiksa. Seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan.
2. Mandub, yaitu sesuatu yang apabila dikerjakan akan diberi pahala dan apabila
ditinggalkan tidak akan disiksa. Seperti shalat tahiyat masjid.
3. Haram, yaitu sesuatu yang apabila ditinggalkan akan diberi pahala dan apabila
dikerjakan akan disiksa. Seperti riba dan melakukan kerusakan.
4. Makruh, yaitu sesuatu yang diberi pahala apabila ditinggalkan, tapi tidak disiksa
apabila dikerjakan. Seperti mendahulukan bagian yang kiri dalam wudhu.
5. Mubah, yaitu sesuatu yang apabila ditinggalkan dan dikerjakan tidak mendapat
pahala dan siksa. Seperti tidur siang hari.

6. Shahih, yaitu sesuatu yang didalamnya mencakup rukun dan syarat. Sedangakan
secara bahasa berarti SELAMAT . Contoh: akad nikah atau jual-beli, dihukumi sah
apabila tlah memenuhi syarat dan rukun yg di tetap kan oleh syara'.
7. Bathil, yaitu sesuatu yang didalamnya tidak mencakup rukun dan syarat.
Rukun adalah sesuatu yang menyebabakan sahnya sesuatu (pekerjaan) dan ia
merupakan bagian (juz) dari sesuatu (pekerjaan) itu. Seperti membasuh wajah
dalam berwudhu dan takbiratul ihram dalam shalat. Adapun syarat adalah sesuatu
yang menyebabkan sahnya sesuatu (pekerjaan), namun ia bukanlah bagian (juz)
dari sesuatu (pekerjaan) tersebut.
8. Rukhshah, yaitu perubahan hukum dari berat menjadi ringan, sedangkan sebab
hukum asalnya masih tetap. Seperti diperbolehkannya membatalkan puasa bagi
musafir meskipun ia tidak merasa keberatan untuk melanjutkan puasanya. Dan
diperbolehkan memakan bangkai bagi orang yang terpaksa.
9. Azimah, yaitu hukum seperti kewajiban shalat lima waktu dan haramnya
memakan bangkai bagi yang tidak terpaksa.




:
. ...
...

.

. . .
. ..
...

. .
. . .
.
Pembahasan Ke - 1
AL-AMR
Al-Amr (perintah) yaitu tuntutan untuk mengerjakan dari atasan kepada
bawahannya. Dalam pembahasan amr ini terdapat beberapa kaidah sebagai berikut
:
1. Perintah (amr) pada dasarnya menunjukkan wujub, kecuali ada dalil yang
menunjukkan selainnya.

Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah (2): 43.


...

Artinya: dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat


2. Perintah (amr) pada dasarnya tidak memiliki konsekuensi pengulangan, kecuali
ada dalil yang menunjukkan selainnya.
Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah (2):196.
..

Artinya : dan sempurnakanlah haji dan umroh karena Allah


3. Perintah (amr) pada dasarnya tidak memiliki konsekuensi untuk segera
dikerjakan. Tujuan amr (perintah) adalah terwujudnya suatu pekerjaan tanpa
adanya pengkhususan dengan waktu awal.
4. Perintah (amr) terhadap sesuatu berarti juga perintah kepada hal-hal yang
menjadi wasilah (medium) timbulnya sesuatu tersebut.
Contoh perintah shalat berarti perintah untuk bersuci.
5. Perintah terhadap sesuatu berarti larangan (nahi) terhadap hal-hal yang
berlawanan dengan sesuatu tersebut.
Firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah (2):83.
..

Artinya : .dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia...


6. Ketika suatu perintah telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuannya maka
orang yang dikenai perintah telah terbebas dari ikatan (perjanjian) amr tersebut.
seperti ketika seseorang yang tidak menemukan air (untuk wudhu) kemudian
tayamum dan mengerjakan shalat, maka ia tidak wajib qadha (mengulang) shalat
ketika menemukan air.


:
. .








. .
. . .
... . ..




.
. .
. .

Pembahasan Ke - 2
AL-NAHY
Al-Nahy (larangan) adalah tuntutan untuk meninggalkan (suatu pekerjaan) dari
atasan kepada bawahannya. Pembahasan larangan (al-nahy) meliputi beberapa
kaidah sebagai berikut:
1. Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan keharaman (sesuatu yang
dilarang), kecuali adanya petunjuk (dalil) sebaliknya.
2. Larangan (al-nahy) akan suatu hal (dapat diartikan sebagai) perintah akan hal-hal
yang berlawanan atau kebalikan dari yang dilarang. Allah berfirman QS. al-Baqarah
(2):188.

Artinya: Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di
antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan)
harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta
benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.
3. Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan rusaknya sesuatu yang dilarang
dalam ibadah. Seperti shalat dan puasanya perempuan yang haidh.
4. Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan rusaknya sesuatu yang dilarang
dalam muamalah. Hal ini terjadi ketika larangan itu dikembalikan kepada kondisi
akad (nafs al-'aqd), seperti bai' al-hashot (jual beli dengan cara melemparkan batu
kecil atau spekulasi). Namun ketika larangan itu dikembalikan kepada sesuatu yang
keluar dari transaksi (faktor eksternal) yang tidak tetap, maka sesuatu yang
dilarang tersebut tidak rusak. Seperti hanya jual beli pada waktu adzan jum'at.
Firman Allah SWT dalam QS. Al-Jumah (62):9.



Artinya : Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at,
Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. al-Jum'ah 9).

. :
..."


"
"





"

...


... . "

" " ..." "

" "


"
Pembahasan Ke - 3
AL-'AM
Al-'Am ( ) adalah sesuatu yang meliputi dua hal atau lebih tanpa adanya batasan.
Lafazd-lafazd yang digunakan untuk menunjukkan makna 'am ada empat, yaitu:
1. Isim wahid (mufrod) yang di-ma'rifat-kan dengan huruf lam. Seperti QS. al-Ashr
(103): 2-3.
..


Artinya : "Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali mereka
yang beriman"
2. Isim jama' yang di-ma'rifat-kan dengan huruf lam. Contoh QS. al-Baqarah (2):195.






Artinya : Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
3. huruf la yang me-nafi-kan pada isim nakiroh. Contoh QS. al-Baqarah(2): 48.


Artinya: Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang
tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima
syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong.
4. Isim-isim mubham
a) Lafal bagi sesuatu yang berakal. Contoh firman Allah QS. al-Zalzalah (99): 7.



Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia
akan melihat (balasan)nya.
b) Lafal bagi yang tidak berakal. Contoh firman Allah QS. al-Hujarat (49): 18.


Artinya: Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan
Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
c) Lafal . Contoh :
..
d) Lafal yang menunjukkan tempat. Contoh QS. al-Nisa' (4): 78.




Artinya: Dimanapun kamu berada kematian akan mendapatkan kamu


yang menunjukkan zaman. Contoh : e) Lafal


:
:
:
:
" ...

.
"
" ...
" .
" ...


" .
" . " ...
:
" "... ... " ...

" . .
" " " ...


.
" .
. , " " "
" ...
" . " " "
" ...

. , "
" ... "
" ...

. "
"
"
Pembahasan Ke - 4
AL-KHAS DAN AL-TAKHSHIS
) adalah sesuatu yang tidak mengandung dua makna atau lebih tanpa( Al-khas
) adalah mengeluarkan sebagian( adanya batasan. Sedangkan al-takhshish
yang ditunjukkan 'am. Takhshis dibagi menjadi dua, yaitu; takhshis muttashil
(bersamaan) dan takhshis munfashil (terpisah).
Macam-macam takhshis muttasil :
1) Pengecualian (al-Istisna'). Contoh: QS. al-Ashr (103): 2-3.
..

Artinya: Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian kecuali mereka


yang beriman
2) Pembatasan (al-taqyid) dengan sifat. Contoh firman Allah SWT dalam QS. al-Nisa'
(4): 96.
...

Artinya: (Hendaklah) Ia memerdekakan seorang hamba yang beriman


3) Pengecualian dengan dengan batas (ghayah). Contoh QS. al-Baqarah (2): 222.
..

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci


4) Pengecualian dengan pengganti (badal). Contoh QS. Ali Imron(3): 97.
...

Artinya: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi)
orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah...
Macam-macam takhshish munfashil:
1) Pengecualian al-kitab (al-Quran) dengan al-kitab (al-Quran). Firman Allah SWT
dalam QS. al-Baqarah (2): 221.
...


Artinya: Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik
ayat ini ditakhsis dengan Firman Allah SWT dalam QS. al-Maidah (5): 5,
... ...










Artinya: Pada hari ini dihalalkan sampai pada firman Allah ta'ala- Dan wanitawanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang di beri al-kitab
sebelum kamu
2) Pengecualian al-kitab (al-Quran) dengan al-sunah (al-Hadits). Firman Allah dalam
QS. al-Nisa' (4):11.
...


Artinya: Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pustaka untuk) anakanakmu, yaitu bagian anak laki-laki sama dengan bagian dua anak perempuan
Ayat diatas mengandung pengertian bahwa yang mendapat waris termasuk anak
kafir tapi ayat tersebut ditakhsis dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan
Muslim:

Artinya: Seorang anak muslim tidak mendapatkan warisan dari orang tua kafir dan
anak kafir tidak mendapatkan warisan dari orang tua muslim.
3) Pengecualian al-Sunnah (al-Hadits) dengan al-Kitab (al-Quran). Seperti hadits
riwayat Bukhari Muslim yang menerangkan bahwa Allah SWT tidak akan menerima
shalat seseorang yang masih dalam keadaan hadats sampai dia berwudhu.

Artinya : Allah tidak menerima shalat kalian, ketika berhadast sehingga kalian
berwudhu.
Hadits ini di takhsis dengan firman Allah QS.al-Nisa' (4): 43.
...

Artinya: Dan jika kamu sakit sampai pada firman Allah- kemudian kamu tidak
mendapat air, maka bertayamumlah
4) Pengecualian al-Sunnah (al-Hadits) dengan al-Sunnah (al-Hadits). Contoh hadits
Riwayat Bukhari dan Muslim:

Artinya: Setiap (zar') yang disirami dengan air hujan zakatnya sebesar seper
sepuluh.
Hadits ini ditakhsis dengan hadits riwayat Bukhori dan Muslim :

Artinya: Setiap (zar') yang kurang dari lima wasaq tidak ada zakat.
5) Pengecualian al-kitab (al-Quran) dengan Qiyas. Contoh QS. al-Nur (24):3.



Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap
seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada
keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman
kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka
disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
Ayat tersebut di takhsis dengan ayat yang menerangkan hukum derap/jilid terhadap
budak perempuan (amat) yang hanya dijilid separuh dari ketentuan ayat. Allah SWT.
berfirman QS. al-Nisa' (4):25.

...

Artinya: Kemudian mereka melakukan perbuatan yang keji (zina), Maka atas
mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami

Adapun untuk seorang budak (abd) di-qiyas-kan kepada amat yaitu setengah dari
ketentuan yang telah disebutkan diatas.
6) Pengecualian al-Sunnah (al-Hadits) dengan al-Qiyas. Contoh sabda Rasulullah
SAW. :

Artinya: Orang kaya yang berpaling dari membayar hutang maka halal kehormatan
)dan keperwiraannya (HR. Ahmad dan Ibn Majjah.
Dikecualikan dari ketentuan hadits diatas, yaitu orang tua yang menunda-nunda
membayar hutang pada anaknya meskipun sudah mampu untuk membayarnya.
Maka bagi orang tua yang berpaling dari membayar hutang tidak dihalalkan
kehormatan dan keperwiraannya karena dengan memakai qiyas awla tidak
diperbolehkannya mengucapkan kata-kata kasar kepada mereka yang telah
ditetapkan dalam QS. Al-Isra' (17):23.
...

Artinya: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya


"perkataan "ah

.

: : .
. . .
. .
" ...

. . "
" ... "
. " " .
.
" ...

. .
"
. " " "
... " " "
.
Pembahasan Ke - 5
NASIKH DAN MANSUKH
) secara bahasa berarti menghilangkan, menghapus, atau memindah.( Al-Nsikh
Dalam tinjauan syara', al-nsikh adalah menghilangkan atau membatalkan hukum
syara' yang telah ditetapkan terdahulu dengan dalil syara' yang baru. Al-Nsikh
menurut sebagian ulama' terbagi menjadi:
1) Menghapus tulisan (al-rasm) dan menetapkan hukum.
Contoh hadits Nabi SAW:


Sahabat umar RA berkata bahwa sesungguhnya kami telah membaca hadits dan
bahwasanya nabi SAW telah memberlakukan hukum ranjam terhadap dua orang
yang berzina muhshon. Maksud lafal dalam hadits diatas adalah
2) Menghapus hukum dan menetapkan tulisan (al-rasm).
Contoh QS. al-Baqarah (2): 240.






Artinya: Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan
meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah
hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika
mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang
meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri mereka. dan
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat ini di nasikh dengan QS. al-Baqarah (2): 234.
...





Artinya: Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan
isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat
bulan sepuluh hari.
3) Menghapus dua perkara (hukum dan tulisan) secara bersamaan.
Seperti hadits riwayat Muslim dari 'aisyah ra.

Hadits yang menerangkan bahwa yang dapat menyebabkan haramnya sebuah
pernikahan sepuluh kali susushan yang diketahui ini kemudian dinasikh dengan
hadits yang menerangkan lima kali susuan yang mengharamkan:

Me-nasikh al-Kitab (ayat Al-Quran) dengan al-Kitab (ayat al-Quran lain) juga
diperbolehkan, seperti dalam ayat tentang 'iddah perempuan sebagaimana yang
diterangkan diatas.
4) Menghapus al-Sunah dengan al-Kitab.
Seperti menghadap Baitul maqdis dalam shalat yang ditetapkan dengan sunah
fi'liyah (perbuatan Nabi). Dalam hadits riwayat Bukhori Muslim disebutkan
"bahwasahnya Nabi SAW menghadap baitul maqdis dalam shalatnya selama 16
bulan ". Hadits kemudian dinasikh dengan firman Allah QS. al-Baqarah (2): 144.








Artinya: Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langi, Maka
sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah
mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah
mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang
diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil
Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa
yang mereka kerjakan.
5) Nasikh al-Sunah dengan al-Sunah. Seperti hadits riwayat imam Muslim:

Artinya: (dulu) Aku (Nabi) melarang kalian ziarah kubur. Maka (sekarang)
Berziarahlah kalian.
Sebagian ulama' juga ada yang berpendapat tentang diperbolehkannya menasikh
al-kitab dengan al-sunah. Seperti firman Allah QS al-Baqarah :(2) 180,

Artinya: Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan


(tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibubapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang
yang bertakwa.
Ayat diatas dinaskh oleh sabda Nabi SAW:

Artiny: Tidak ada wasiat bagi ahli waris. (HR. al-Tirmidzi dan Ibn Majjah.)

" " :
.
: :
" . "
.
, . .
, " " .
.
Pembahasan Ke - 6
MUJMAL DAN BAYAN

Mujmal ( )adalah sesuatu yang membutuhkan penjelasan. Contoh seperti lafal


pada ayat:

karena ada persekutuan makna dalam lafal al-quru' maka memungkinkan lafal
tersebut mempunyai arti haidh dan suci.
Bayan ( )adalah mengeluarkan sesuatu dari kondisi musykil kepada kondisi jelas.
Bayan dibagi menjadi:
1) Bayan (penjelas) dengan ucapan (bi al-qawl) seperti pada firman Allah SWT. yang
menerangkan puasa tamatu' QS. Al-Baqarah (2): 196.
...

Artinya: Maka wajib puasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari apabila kalian
semua telah pulang. Itulah sepuluh hari yang sempurna...
2) Bayan dengan perbuatan atau pekerjaan. seperti pekerjaan Nabi yang
menjelaskan tata cara shalat dan lainnya.
3) Bayan dengan tulisan (kutub). Seperti bayan akan kadar zakat, dan diyat anggota
badan sebagaimana yang telah dijelaskan Nabi SAW. melalui hadits-haditsnya.
4) Bayan dengan isyarat, seperti isyarat nabi SAW sambil menunjukkan semua jari
tangan dalam satu isyarat satu bulan adalah seperti ini, seperti ini dan seperti ini.
Maksudnya 30 hari. Kemudian nabi memebrikan isyarat lagi dengan telapak
tangannya sampai tiga kali, dan pada urutan ketiga beliau tidak menunjukkan ibu
jarinya sebagai isyarat bahwa dalam bulan terkadang ada yang hanya sejumlah 29
hari.

:
:
...


.

Pembahasan Ke - 7
MUTLAQ DAN MUQOYYAD
Mutlaq ( )adalah lafal yang menunjukkan hakikat sesuatu hal tanpa adanya
batasan. Sedangkan muqoyyad ( )adalah lafal yang menunjukkan suatu hal
dengan adanya batasan (taqyid).
Penting diketahui bahwa apabila terdapat perintah (khithab) yang bersifat mutlak
atau umum, maka ia harus diberlakukan seperti keumumannya. Begitupun ketika
terdapat perintah yang dibatasi (muqoyyad) atau bersifat khusus, maka ia harus

diberlakukan berdasarkan kadar pembatasan atau kekhususannya tersebut. Namun


ketika perintah itu bersifat mutlak pada satu sisi dan muqoyyad pada sisi yang lain,
maka sisi kemutlakannya harus ditangguhkan dan diberlakukan sisi kekhususannya.
Contohnya seperti lafal roqobah (budak) yang dibatasi dengan sifat beriman
dalam hal kafarat membunuh. Allah SWT berfirman QS. al-Nisa' (4): 96.
...

Artinya : (Hendaklah) Ia memerdekakan seorang hamba yang beriman


Dalam bagian lain, lafal roqobah berlaku umum seperti pada kafarat zhihar dalam
firman Allah SWT QS. al-Mujadalah )58): 3.



Artinya: Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, Kemudian mereka hendak


menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan
seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang
diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan."

:
:
:
... " , , : "
... "

, , : "
:
...



... "
"
:
"
..."



...
. ." "



" , :
. ." "

Pembahasan Ke - 8
MANTUQ DAN MAFHUM
Mantuq ( )adalah penunjukan lafal terhadap suatu hal (hukum) ketika
diucapkan, sedangkan Mafhum ( ) adalah penunjukan lafal terhadap hukum
yang tidak diucapkan.

Pembagian Mantuq
1. Al-Nash. Yaitu lafal yang tidak mengandung takwil. Seperti firman Allah SWT. QS.
al-Baqarah (2):196.
...

Artinya: Maka wajib puasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari apabila kalian
semua telah pulang. Itulah sepuluh hari yang sempurna.
2. Al-Zahir. Yaitu lafal yang mengandung takwil atau perlu takwil. Contohnya seperti
firman Allah QS. al-Dzariyat (51):47.


Artinya: Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya
kami benar-benar berkuasa.
Lafal adalah bentuk jamak dari lafal yang berarti tangan, dan hal itu (tangan)
mustahil bagi Allah SWT. Maka dari itu lafal dalam ayat tersebut dipalingkan ke
makna yang berarti kekuatan.
Pembagian Mafhum
1. Mafhum muwafaqoh. Yaitu penunjukan hukum yang tidak disebutkan mempunyai
kesamaan dengan hukum yang diucapkan. Seperti pencegahan atau larangan
memukul kedua orang tua yang dapat dipahami dari firman Allah QS. al-Isra'
(17):23.




Artinya: Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaikbaiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan
kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Larangan membakar (atau hal-hal yang sifatnya merusak) harta anak yatim yang
dapat dipahami dari firman Allah QS. al-Nisa' (4): 10.



Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara
zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan
masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).
2. Mafhum mukholafah. Yaitu lafal yang disebutkan tidak sama dengan yang
diucapkan. Contohnya antara lain adalah sebagai berikut:
1) Tidak adanya kewajiban zakat bagi hewan yang digunakan untuk bekerja yang
dipahami dari sabda Nabi SAW:


Artinya: Pada hewan-hewan yang digembalakan terdapat (wajib) zakat.
2) Tidak adanya haji kecuali pada bulan-bulan tertentu yang telah masyhur dari
pemahaman firman Allah QS. al-Baqarah (2):197.





Artinya: Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang
menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh
rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan
apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.
Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah
kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.
3) Diperbolehkannya jual beli pada hari Jum'at sebelum dikumandangkannya azdan
yang dipahami dari firman Allah QS. al-Jum'ah (62): 9.



Artinya: Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at,
Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.


.
" .
." ...
..
..."


."
: .
Pembahasan Ke - 9
PERBUATAN NABI SAW.
Perbuatan Nabi SAW. terkadang bersifat qurbah (ibadah taqorrub) dalam artian taat
dan kadang juga tidak bersifat demikian. Ketika perbuatan Nabi bersifat taqorrub
atau taat serta adanya dalil yang menunjukkan kekhususan pada diri Nabi maka hal
itu berlaku khusus untuk Nabi SAW. Seperti memiliki istri lebih dari empat. Allah
berfirman QS al- Nisa' (4): 3.

...

Artinya: Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu sengangi dua, tiga, atau
empat
Namun ketika perbuatan Nabi SAW. tidak disertai dalil yang menunjukkan
kekhususannya pada diri Nabi SAW. maka perbuatan tersebut tidak berlaku khusus
pada Nabi SAW., tetapi juga meliputi umatnya. Alllah berfirman QS. al-Ahzab (33):
21.




Artinya: Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa hukum asal semua perbuatan Nabi
SAW. itu untuk diikuti kecuali ada dalil yang menunjukkan kekhususan pada Nabi
SAW. saja dalam suatu perbuatan.


.
. ,
,
. .

. .
\ .
Pembahasan Ke - 10
KETETAPAN NABI SAW.
Ketetapan Nabi SAW. atas ucapan seseorang memiliki kedudukan yang sama
dengan ucapan Nabi SAW. sendiri. Begitu juga ketetapan Nabi SAW. atas pekerjaan
seseorang memiliki kedudukan yang sama dengan pekerjaan Nabi SAW. hal itu
karena Nabi SAW. bersifat maksum (terjaga) untuk mengakui perbuatan ingkar
seseorang. Contoh dari keterangan diatas adalah pengakuan Nabi SAW. pada
sahabat Abu Bakr RA. yang memberikan harta rampasan perang orang kafir yang
terbunuh kepada pasukan muslim yang berhasil membunuhnya dan pengakuan
Nabi SAW terhadap sahabat Khalid bin Walid RA. yang memakan biawak.
Sesuatu yang dikerjakan atau diucapkan tidak dihadapan (majlis) Nabi SAW. namun
terjadi atas sepengetahuan Nabi SAW. mengetahui dan tidak pula mengingkarinya
maka memiliki kedudukan hukum yang sama dengan pekerjaan atau perkataan
yang dilakukan dihadapan Nabi SAW. Seperti pengetahuan Nabi SAW. Dengan
sahabat Abu Bakr RA. yang pada saat murka bersumpah untuk tidak makan, namun
kemudian melanggar sumpahnya sendiri setelah meyakini adanya kebaikan dalam
makan, yakni menjaga kesehatan tubuh

berdasarkan contoh dan keterangan diatas dapat ditarik kesimpulan


diperbolehkannya melanggar sumpah, bahkan disunatkan untuk melanggar sumpah
ketika hal itu mengandung sesuatu yang lebih baik.


:
: . .
" "
, ,
. .

.
Pembahasan Ke - 11
'IJMA
Ijma' menurut bahasa adalah kesepakatan atau konsensus. Sedangkan menurut
pengertian istilah, Ijma berarti kesepakatan umat islam setelah wafatnya Nabi SAW.
'pada suatu masa terhadap satu dari beberapa perkara atau permasalahan. Ijma
menurut jumhur ulama' adalah hujjah. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW.:
" "
Artinya: Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Pertolongan Allah atas
jamaah.
Ijma' bisa atau sah terjadi dengan ucapan sebagian ulama' dan perbuatan sebagian
yang lain, tersiarnya kabar mengenai perkataan atau perbuatan tersebut. Adapun
sikap diamnya sebagian ulama' yang lain terhadap terjadinya kesepakatan itu
disebut dengan ijma sukutiy. Para ulama' telah bersepakat bahwa sesuatu yang
biasa keluar dari dubur (anus) dan qubul (kelamin) yaitu kencing dan buang air
besar adalah membatalkan wudhu.
Perlu juga diketahui bahwa imam Syafi'i RA. telah menetapkan qiyas dan hadits
ahadd untuk kegiatan penetapan (istinbat) hukum, sebagaimana telah dilakukan
oleh sebagian sahabat dan tanpa adanya pengingkaran dari sahabat yang lain.
Dengan demikian, hal ini juga dinamakan ijma' sukutiy.


" . "
: .
. : .
. : , , ,
:
. . . "
"

. .
: .

. .

.
Pembahasan Ke - 12
QIYAS
Qiyas adalah hujjah. Allah SWT. berfirman QS. al-Hasyr (59):2.


Artinya: Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang
yang mempunyai wawasan.
Al-Qiyas ( )menurut bahasa adalah mengukur atau memperkirakan sesuatu atas
sesuatu yang lain untuk mengetahui persamaan diantara keduanya, seperti
mengukur pakaian dengan lengan. Sedangkan menurut istilah, qiyas berarti
mengembalikan hukum cabang (far') kepada hukum asal karena adanya illat
(alasan) yang mempertemukan keduanya dalam hukum. Seperti menqiaskan beras
terhadap gandum dalam harta ribawiy dengan titik temu berupa keduanya samasama makanan pokok.
Rukun Qiyas ada empat yaitu:
1) far',
2) asal,
3) hukum asal, dan
4) illat hukum asal.
Macam-macam qiyas, di bagi menjadi tiga:
a. Qiyas al-illat
Yaitu sesuatu yang illat didalamnya menetapkan hukum. Seperti menqiyaskan
memukul dengan ucapan yang tercela kepada kedua orang tua dalam
keharamannya dengan alasan menyakitkan hati orang tua. Allah berfirman QS. AlIsra' (17):23.
...

Artinya: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya


perkataan "Ah".
b. Qiyas al-dilalah
Yaitu sesuatu yang illat didalamnya menunjukkan pada hukum akan tetapi illat
tersebut tidak menetapkan pada hukum. Seperti menqiyaskan harta anak kecil
dengan harta orang dewasa dalam kewajiban zakat dengan adanya titik temu
bahwa harta anak kecil termasuk harta yang sempurna (al-ml al-tmm). Boleh juga
mengatakan tidak wajib zakat -seperti yang dikatakan Abu Hanifah- dengan
menqiyaskan pada haji yang mana, haji wajib bagi orang dewasa adapun anak kecil
tidak wajib untuk haji.

c. Qiyas al-syibh
Yaitu mempersamakan hukum cabang (far') yang masih diragukan antara dua asal
dengan mengambil keserupaan yang lebih banyak dari asal tersebut. Contohnya
dalam pembahasan budak yang dibunuh, apakah sipembunuh wajib dikenai hukum
qishas karena budak juga termasuk manusia, ataukah cukup hanya dengan
membayar ganti rugi dengan alasan adanya keserupaan budak dengan binatang,
bahwa budak adalah harta. Dalam hal ini budak lebih banyak keserupaannya
dengan binatang (harta) sebab, budak bisa diperjual-belikan, diwariskan, dan
diwakafkan.



.
. .
. .
. .
...


:
" : "
...




:
Pembahasan Ke - 13
IJTIHAD, ITTIBA' DAN TAQLID
Ijtihad ialah mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan hukum syara'
dengan jalan menyandarkan hukum (istinbath) kepada al-Quran dan al-Sunah.
Orang yang melakukan ijtihad disebut dengan mujtahid.
Ittiba' adalah menerima ucapan orang lain serta mengetahui sumbernya, dan orang
yang melakukan ittiba disebut dengan muttabi'.
Taqlid adalah menerima ucapan seseorang tanpa mengetahui dasarnya, dan orang
yang melakukan taqlid disebut dengan muqollid.
Ijtihad dalam permasalahan agama sangat dibutuhkan. Begitupun dengan ittiba'.
Sedangkan taklid dalam agama dianggap sebagai suatu pekerjaan yang hina,
karena berdampak lebih jauh terhadap kemunduran umat.

Dalil-dalil untuk ketentuan dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:


QS. al-Ankabut (2): 69.




Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benarbenar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya
Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Hadist Nabi SAW. :
" "
Artinya: Jika seorang hakim membuat keputusan (menghukumi) dengan berijtihad
kemudian benar, maka baginya dua pahala, jika menghukumi dengan berijtihad dan
ternyata salah, maka baginya satu pahala." (HR. Bukhari dan Muslim).
QS. al-A'raf (7): 3.



Artinya : Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu
mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. amat sedikitlah kamu mengambil
pelajaran (daripadanya).
QS. al-Maidah (5): 104.






Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan
Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang
kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". dan apakah mereka itu akan
mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak
mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.
QS. al-Zukhruf (43): 22.







Artinya: Bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak


kami menganut suatu agama, dan Sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat
petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka".
BAGIAN KEDUA
QOWA'ID AL-FIQH
Sabda Rasulullah SAW. :

Artinya: Segala sesuatu tergantung pada niatnya, dan apa yang didapatkan ialah
apa yang telah diniatkan. (HR. Bukhari).
Kaidah ke-1


Segala sesuatu tergantung pada tujuannya.
Contoh kaidah:
1. Diwajibkannya niat dalam berwudhu, mandi, shalat dan puasa.
2. Penggunaan kata kiasan (kinayah) dalam talak. Seperti ucapann seorang suami
kepada istrinya: ( engkau adalah wanita yang terasing). Jika suami bertujuan
menceraikan dengan ucapannya tersebut, maka jatuhlah talak kepada istrinya,
namun jika ia tidak berniat menceraikan maka tidak jatuh talak-nya.
Kaidah ke-2

Sesuatu yang memerlukan penjelasan, maka kesalahan dalam memberikan
penjelasan menyebabkan batal.
Contoh kaidah:
1. Seseorang yang melakukan shalat dhuhur dengan niat 'ashar atau sebaliknya,
maka shalatnya tersebut tidak sah.
2. Kesalahan dalam menjelaskan pembayaran tebusan (kafarat) zhihar kepada
kafarat qatl (pembunuhan).
Kaidah ke-3


Sesuatu yang memerlukan penjelasan secara global dan tidak memerlukan
penjelasan secara rinci, maka ketika kesalahan dalam penjelasan secara rinci
membahayakan.
Contoh kaidah :
Seseorang yang bernama Gandung S.P. Towo niat berjamaah kepada seorang imam
bernama mbah Arief. Kemudian, ternyata bahwa yang menjadi imam bukanlah
mbah Arief tapi orang lain yang mempunyai panggilan Seger (Khoirul Mustamsikin),
maka shalat Gandung tidak sah karena ia telah berniat makmum dengan mbah
Arief yang berarti telah menafikan mengikuti Seger. Perlu diketahui, bahwa dalam
shalat berjamah hanya disyaratkan niat berjamaah tanpa adanya kewajiban
menentukan siapa imamnya.
Kaidah ke-4

Sesuatu yang tidak disyaratkan penjelasannya secara global maupun terperinci
ketika dita'yin dan salah maka statusnya tidaklah membahayakan.
Contoh kaidah :
Kesalahan dalam menentukan tempat shalat. Seperti mbah Muntaha (pengelolah
kantin Asyiq) niat shalat di Kemranggen Bruno Purworejo, padahal saat itu dia
berada di Simpar (suatu daerah yang di Kecamatan Kalibawang Wonosobo). Maka
shalat mbah Muntaha tidak batal karena sudah adanya niat. sedangkan

menentukan tempat shalat tidak ada hubungannya dengan niat baik secara globlal
atau terperinci (tafshil).
Kaidah ke-5

Maksud sebuah ucapan tergantung pada niat yang mengucapkan.
Contoh kaidah :
1. Temon adalah seorang pria perkasa (berasal dari daerah Babadsari Kutowinangun
Kebumen). Teman kita yang satu ini konon katanya mempunyai seorang istri
bernama Tholiq dan seorang budak perempuan bernama Hurrah. Suatu saat, Temon
berkata; Yaa Tholiq, atau Yaa Hurrah. Jika dalam ucapan Yaa Tholiq Temon
bermaksud menceraikan istrinya, maka jatuhlah talak kepada istrinya, namun jika
hanya bertujuan memanggil nama istrinya, maka tidak jatuh talaknya. Begitu juga
dengan ucapan Yaa Hurrah kepada budaknya jika Temon bertujuan
memerdekakan, maka budak perempuan itu menjadi perempuan merdeka.
Sebaliknya jika ia hanya bertujuan memanggil namanya, maka tidak menjadi
merdeka.
2. Menambahkan lafal masyiah (insya Allah) dalam niat shalat dengan tujuan
menggantungkan shalatnya kepada kehendak Allah SWT. maka batal shalatnya.
Namun apabila hanya berniat tabarru maka tidak batal shalatnya, atau dengan
menambahkan masyiah dengan tanpa adanya tujuan apapun, maka menurut
pendapat yang sahih, shalatnya menjadi batal.
Kaidah ke-6

Keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keraguan.
Contoh kaidah :
1. Seorang bernama Doel Fatah ragu, apakah baru tiga atau sudah empat rakaat
shalatnya? maka, Doel Fatah harus menetapkan yang tiga rakaat karena itulah yang
diyakini.
2. Santri bernama Maid baru saja mengambil air wudhu di kolam depan komplek A
PP. Putra An-Nawawi. Kemudian timbul keraguan dalam hatinya; "batal durung yo..?
kayane aku nembe demek..." maka hukum thaharah-nya tidak hilang disebabkan
keraguan yang muncul kemudian.
3. seseorang meyakini telah berhadats dan kemudian ragu apakah sudah bersuci
atau belum, maka orang tersebut masih belum suci (muhdits).
Dibawah ini ialah kaidah yang esensinya senada dengan kaidah di atas:

Sesuatu yang tetap dengan keyakinan, maka tidak bisa dihilangkan kecuali dengan
adanya keyakinan yang lain.
Kaidah ke-7

Pada dasarnya ketetapan suatu perkara tergantung pada keberadaannya semula.

Contoh kaidah :
1. Seseorang yang makan sahur dipenghujung malam dan ragu akan keluarnya fajar
maka puasa orang tersebut hukumnya sah. Karena pada dasarnya masih tetap
malam (al-aslu baqa-u al-lail).
2. Seseorang yang makan (berbuka) pada penghujung siang tanpa berijtihad
terlebih dahulu dan kemudian ragu apakah matahari telah terbenam atau belum,
maka puasanya batal. Karena asalnya adalah tetapnya siang (al-ashl baqa-u alnahr).
Kaidah ke-8

hukum asal adalah tidak adanya tanggungan.
Contoh kaidah:
Seorang yang didakwa (muddaa alaih)melakukan suatu perbuatan bersumpah
bahwa ia tidak melakukan perbuatan tersebut. Maka ia tidak dapat dikenai
hukuman, karena pada dasarnya ia terbebas dari segala beban dan tanggung
jawab. Permasalahan kemudian dikembalikan kepada yang mendakwa (muddai).
Kaidah ke-9

Hukum asal adalah ketiadaan
Contoh kaidah :
1. Kang Khumaidi mengadakan kerjasama bagi hasil (mudharabah) dengan Bos
Fahmi. Dalam kerjasama ini Kang Khumaidi bertindak sebagai pengelola usaha
(al-'amil), sedangkan Bos Fahmi adalah pemodal atau investornya. Pada saat akhir
perjanjian, Kang Khumaidi melaporkan kepada Bos Fahmi bahwa usahanya tidak
mendapat untung. Hal ini diingkari Bos Fahmi. Dalam kasus ini, maka yang
dibenarkan adalah ucapan orang Bruna yang bernama Kang Khumaidi, karena pada
dasarnya memang tidak adanya tambahan (laba).
2. Tidak diperbolehkannya melarang seseorang untuk membeli sesuatu. Karena
pada dasarnya tidak adanya larangan (dalam muamalah).
Kaidah ke-10

Asal segala sesuatu diperkirakan dengan yang lebih dekat zamannya.
Contoh kaidah :
1. Mungkin karena kesal dengan seseorang wanita hamil yang kebetulan juga
cerewet, maka tanpa pikir panjang Ipin -cah Jiwan Wonosobo- memukul perut si
wanita hamil tersebut. Selang beberapa waktu si wanita melahirkan seorang bayi
dalam keadaan sehat. Kemudian tanpa diduga-duga, entah karena apa si jabang
bayi yang imut yang baru beberapa hari dilahirkan mendadak saja mati. Dalam
kasus ini, Ipin tidak dikenai tanggungan (dhaman) karena kematian jabang bayi
tersebut adalah disebabkan faktor lain yang masanya lebih dekat dibanding
pemukulan Ipin terhadap wanita tersebut.

2. Seorang santri kelas II MDU bernama Soekabul alias Kabul Khan ditanya oleh
teman sekamarnya; Kang Kabul, aku melihat sperma di bajuku, tapi aku tidak ingat
kapan aku mimpi basah. Gimana solusinya, Kang?. Dengan PD-nya, karena baru
saja menemukan kaidah al-aslu fi kulli wahidin taqdiruhu bi-aqrobi zamanihi saat
muthalaah Kitab Mabadi' Awwaliyah, santri yang demen banget lagu-lagu Hindia ini
spontan menjawab; Siro -red: kamu- wajib mandi besar dan mengulang shalat
mulai sejak terakhir kamu bangun tidur sampai sekarang.
Kaidah ke-11

Kesulitan akan menarik kepada kemudahan.
Contoh kaidah :
1. Seorang bernama Godril yang sedang sakit parah merasa kesulitan untuk berdiri
ketika shalat fardhu, maka ia diperbolehkan shalat dengan duduk. Begitu juga
ketika ia merasa kesulitan shalat dengan duduk, maka diperbolehkan melakukan
shalat dengan tidur terlentang.
2. Seseorang yang karena sesuatu hal, sakit parah misalnya, merasa kesulitan
untuk menggunakan air dalam berwudhu, maka ia diperbolehkan bertayamum.
3. Pendapat Imam Syafi'i tentang diperbolehkannya seorang wanita yang bepergian
tanpa didampingi wali untuk menyerahkan perkaranya kepada laki-laki lain.
Kaidah yang semakna dengan kaidah di atas, antara lain:
Perkataan Imam al-Syafi'i:

Sesuatu, ketika sulit, maka hukumnya menjadi luas (ringan).
Perkataan sebagian ulama:

Ketika keadaan menjadisempit maka hukumnya menjadi luas.
Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 185.

...

Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu.
KERINGANAN HUKUM SYARA
Keringanan hukum syara (takhfifat al-syar'i), meliputi 7 macam, yaitu:
1. Takhfif Isqat, yaitu keringanan dengan menggugurkan. Seperti menggugurkan
kewajiban menunaikan ibadah haji, umrah dan shalat jumat karena adanya 'uzdur
(halangan).
2. Takhfif Tanqis, yaitu keringanan dengan mengurangi. Seperti diperbolehkannya
menqashar shalat.

3. Takhfif Ibdal, yaitu keringanan dengan mengganti. Seperti mengganti wudhu dan
mandi dengan tayammum, berdiri dengan duduk, tidur terlentang dan memberi
isyarat dalam shalat dan mengganti puasa dengan memberi makanan.
4. Takhfif Taqdim, yaitu keringanan dengan mendahulukan waktu pelaksanaan.
Seperti dalam shalat jama' taqdim, mendahulukan zakat sebelum khaul (satu
tahun), mendahulukan zakat fitrah sebelum akhir Ramadhan.
5. Takhfif Takhir, yaitu keringanan dengan mengakhirkan waktu pelaksanaan.
Seperti dalam shalat jama' takhir, mengakhirkan puasa Ramadhan bagi yang sakit
dan orang dalam perjalanan dan mengakhirkan shalat karena menolong orang yang
tenggelam.
6. Takhfif Tarkhis, yaitu keringanan dengan kemurahan Seperti diperbolehkannya
menggunakan khamr (arak) untuk berobat.
7. Takhfif Taghyir, yaitu keringanan dengan perubahan. Seperti merubah urutan
shalat dalam keadaan takut (khauf).
Kaidah ke-12

Sesuatu yang dalam keadaan lapang maka hukumnya menjadi sempit.
Contoh kaidah :
Sedikit gerakan dalam shalat karena adanya gangguan masih ditoleransi,
sedangkan banyak bergerak tanpa adanya kebutuhan tidak diperbolehkan.
Dari dua kaidah sebelumnya (kaidah ke-11 dan ke-12) Al-Gazali membuat sintesa
(perpaduan) menjadi satu kaidah berikut ini:

Setiap sesuatu yang melampaui batas kewajaran memiliki hukum sebaliknya.
Kaidah ke-13

Bahaya harus dihilangkan.
Contoh kaidah:
1. Diperbolehkan bagi seorang pembeli memilih (khiyar) karena adanya 'aib (cacat)
pada barang yang dijual.
2. Diperbolehkannya merusak pernikahan (faskh al-nikah) bagi laki-laki dan
perempuan karena adanya 'aib.
Kaidah ke-14

Bahaya tidak dapat dihilangkan dengan bahaya lainnya.
Contoh kaidah:
Mbah Yoto dan Lutfi adalah dua orang yang sedang kelaparan, keduanya sangat
membutuhkan makanan untuk meneruskan nafasnya. Mbah Yoto, saking tidak
tahannya menahan lapar nekat mengambil getuk Asminah (asli produk gintungan)
kepunyaan Lutfi yang kebetulan dibeli sebelumnya di warung Syarof CS. Tindakan

mbah Yoto -walaupun dalam keadaan yang sangat menghawatirkan baginya- tidak
bisa dibenarkan karena Lutfi juga mengalami nasib yang sama dengannya, yaitu
kelaparan.
Kaidah ke-15

Kondisi darurat memperbolehkan sesuatu yang semula dilarang.
Contoh kaidah:
1. Ketika dalam perjalan dari Sumatra ke pondok pesantren An-Nawawi, ditengahtengah hutan Kasyfurrahman alias Rahman dihadang oleh segerombolan begal,
semua bekal Rahman ludes dirampas oleh mereka yang tak berperasaan
-sayangnya Rahman tidak bisa seperti syekh Abdul Qadir al-Jailany yang bisa
menyadarkan para begal- karenanya mereka pergi tanpa memperdulikan nasib
Rahman nantinya, lama-kelamaan Rahman merasa kelaparan dan dia tidak bisa
membeli makanan karena bekalnya sudah tidak ada lagi, tiba-tiba tampak
dihadapan Rahman seekor babi dengan bergeleng-geleng dan menggerak-gerakkan
ekornya seakan-akan mengejek si-Rahman yang sedang kelaparan tersebut. Namun
malang juga nasib si babi hutan itu. Rahman bertindak sigap dengan melempar
babi tersebut dengan sebatang kayu runcing yang dipegangnya. Kemudian tanpa
pikir panjang, Rahman langsung menguliti babi tersebut dan kemudian makan
dagingnya untuk sekedar mengobati rasa lapar.
Tindakan Rahman memakan daging babi dalam kondisi kelaparan tersebut
diperbolehkan. Karena kondisi darurat memperbolehkan sesuatu yang semula
dilarang.
2. Diperbolehkan melafazdkan kalimat kufur karena terpaksa.
Kaidah lain yang kandungan maknanya sama adalah kaidah berikut:

Tidak ada kata haram dalam kondisi darurat dan tidak ada kata makruh
ketika ada hajat
Kaidah ke-16

Sesuatu yang diperbolehkan karena keadaan darurat harus disesuaikan dengan
kadar daruratnya.
Contoh kaidah:
1. Dengan melihat contoh pertama pada kaidah sebelumnya, berarti Rahman yang
dalam kondisi darurat hanya diperbolehkan memakan daging babi tangkapannya itu
sekira cukup untuk menolong dirinya agar bisa terus menghirup udara dunia.
selebihnya (melebihi kadar kecukupan dengan ketentuan tersebut) tidak
diperbolehkan.
2. Sulitnya shalat jumat untuk dilakukan pada satu tempat, maka shalat jumat boleh
dilaksanakan pada dua tempat. Ketika dua tempat sudah dianggap cukup maka
tidak diperbolehkan dilakukan pada tiga tempat.

Kaidah ke-17

Kebutuhan (hajat) terkadang menempati posisi darurat.
Contoh kaidah:
1. Diperbolehkannya Ji'alah (sayembara berhadiah) dan Hiwalah (pemindahan
hutang piutang) karena sudah menjadi kebutuhan umum.
2. Diperbolehkan memandang wanita selain mahram karena adanya hajat dalam
muamalah atau karena khithbah (lamaran).
Kaidah ke-18

Ketika dihadapkan pada dua mafsadah (kerusakan) maka tinggalkanlah mafsadah
yang lebih besar dengan mengerjakan yang lebih ringan.
Contoh kaidah:
1. Diperbolehkannya membedah perut wanita (hamil) yang mati jika bayi yang
dikandungnya diharapkan masih hidup.
2. Tidak perbolehkannya minum khamr dan berjudi karena bahaya yang
ditimbulkannya lebih besar daripada manfaat yang bisa kita ambil.
3. Disyariatkan hukum qishas, had dan menbunuh begal, karena manfaatnya
(timbulnya rasa aman bagi masyarakat) lebih besar daripada bahayanya.
4. Diperbolehkannya seorang yang bernama Junaidi yang kelaparan, padahal ia
tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan, untuk mengambil makanan
Eko Setello yang tidak lapar dengan sedikit paksaan.
Kaidah ke-19

Menolak mafsadah (kerusakan) didahulukan daripada mengambil kemaslahatan.
Contoh kaidah:
1. Berkumur dan mengisap air kedalam hidung ketika berwudhu merupakan sesuatu
yang disunatkan, namun dimakruhkan bagi orang yang berpuasa karena untuk
menjaga masuknya air yang dapat membatalkan puasanya.
2. Meresapkan air kesela-sela rambut saat membasuh kepala dalam bersuci
merupakan sesuatu yang disunatkan, namun makruh dilakukan oleh orang yang
sedang ihram karena untuk menjaga agar rambutnya agar tidak rontok.
Kaidah ke-20

Hukum asal farji adalah haram.
Contoh kaidah:
1. Ketika seorang perempuan sedang berkumpul dengan beberapa temannya dalam
sebuah perkumpulan majlis taklim, maka laki-laki yang menjadi saudara perempuan
tersebut dilarang melakukan ijtihad untuk memilih salah satu dari mereka menjadi
istrinya. Termasuk dalam persyaratan ijtihad adalah asalnya yang mubah, sehingga
oleh karenanya perlu diperkuat dengan ijtihad. Sedangkan dalam situasi itu, dengan

jumlah perempuan yang terbatas, dengan mudah dapat diketahui nama saudara
perempuannya yang haram dinikahi dan mana yang bukan. Berbeda ketika jumlah
perempuan itu banyak dan tidak dapat dihitung, maka terdapat kemurahan,
sehingga oleh karenanya, pintu pernikahan tidak tertutup dan pintu terbukanya
kesempatan berbuat zina.
2. Seseorang mewakilkan (al-muwakkil) kepada orang lain untuk membeli jariyah
(budak perempuan) dengan menyebut cirri-cirinya. Ternyata, sebelum sempat
menyerahkan jariyah yang dibelinya tersebut, orang yang telah mewakili (wakil)
tersebut meninggal. Maka sebelum ada penjelasan yang menghalalkan, jariyah itu
belum halal bagi muwakkil karena walaupun memiliki cirri-ciri yang disebutkannya,
dikhawatirkan wakil membeli jariyah untuk dirinya sendiri.
Allah SWT. berfirman QS. Al-Mukminun (23) 5-7.







Artinya: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri
mereka atau budak yang mereka miliki Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini
tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orangorang yang melampaui batas.
Lebih jelasnya sesuai dengan ayat quran tersebut bahwa seorang budak halal bagi
tuannya tetapi berhubung belum ada indikasi yang jelas mengenai kehalalannya
sebagaimana contoh di atas maka budak tersebut belum halal bagi muwakkil
(orang yang mewakilkan).
Kaidah ke-21

Adat bisa dijadikan sandaran hukum.
Contoh kaidah:
1. Seseorang menjual sesuatu dengan tanpa menyebutkan mata uang yang
dikehendaki, maka berlaku harga dan maat uang yang umum dipakai.
2. Batasan sedikit, banyak dan umumnya waktu haidh, nifas dan suci bergantung
pada kebiasaan (adapt perempuan sendiri).
Kaidah ke-22


Sesuatu yang berlaku mutlak karena syara' dan tanpa adanya yang membatasi
didalamnya dan tidak pula dalam bahasa,maka segala sesuatunya dikembalikan
kepada kebiasaan (al-"urf) yang berlaku.
Contoh kaidah :
1. Niat shalat cukup dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram, yakni dengan
menghadirkan hati pada saat niat shalat tersebut.

Terkait dengan kaidah di atas, bahwasanya syara telah menentukankan tempat niat
di dalam hati, tidak harus dilafalkan dan tidak harus menyebutkan panjang lebar,
cukup menghadirkan hati; aku niat shalatrakaaat. itu sudah di anggap
cukup.
2. Jual beli dengan meletakan uang tanpa adanya ijab qobul, menurut syara adalah
tidak sah. Dan menjadi sah, kalau hal itu sudah menjadi kebiyasaan.
Kaidah ke-23

Ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lainnya.
Contoh kaidah:
1. Apabila dalam menentukan arah kiblat, ijtihad pertama tidak sama dengan ijtihat
ke dua, maka digunakan ijtihad ke dua. Sedangkan ijtihad pertama tetap sah
sehingga tidak memerlukan pengulangan pada rakaat yang dilakukan dengan
ijtihad pertama. Dengan demikian, seseorang mungkin saja melakukan shalat
empat rakaat dengan menghadap arah yang berbeda pada setiap rakaatnya.
2. Ketika seorang hakim berijtihad untuk memutuskan hukum suatu perkara,
kemudian ijtihadnya berubah dari ijtihad yang pertama maka ijtihad yang pertama
tetap sah (tidak rusak).
Kaidah ke-24

Mendahulukan orang lain dalam beribibadah adalah dilarang.
Contoh kaidah:
1. Mendahulukan orang lain atau menempati shaf awal (barisan depan) dalam
shalat.
2. Mendahulukan orang lain untuk menutup aurat dan menggunakan air wudhu.
Artinya, ketika kita hanya memiliki sehelai kain untuk menutup aurat, sedangkan
teman kita juga membutuhkannya, maka kita tidak boleh memberikan kain itu
kepadanya karena akan menyebabkan aurat kita terbuka. Begitu pula dengan air
yang akan kita gunakan untuk bersuci, maka kita tidak boleh menggunakan air
tersebut. Karena hal ini berkaitan dengan ibadah.
Firman Allah SWT dalam Qs. Al-Baqarah (2):148.
...

Artinya: Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan


Kaidah ke-25

Mendahulukan orang lain dalam selain ibadah dianjurkan.
Contoh kaidah:
1. Mendahulukan orang dalam menerima tempat tinggal (Almaskan).
2. Mendahulukan orang lain untuk memilih pakaian.
3. Mempersilahkan orang lain untuk makanan lebih dulu.

Firman Allah SWT. Dalam QS. Al-Hasr (59):9.


Artinya: Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman
(Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai'
orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada
menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada
mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri
mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari
kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.
Kaidah ke-26

Kebijakan pemimpin atas rakyatnya dlakukan berdasarkan pertimbangan
kemaslahatan.
Contoh kaidah:
1. Seorang pemimpin (imam) dilarang membagikan zakat kepada yang berhak
(mustahiq) dengan cara membeda-bedakan diantara orang-orang yang tingkat
kebutuhannya sama.
2. Seorang pemimpin pemerintahan, sebaiknya tidak mengankat seorang fasiq
menjadi imam shalat. Karena walaupun shalat dibelakangnya tetap sah, namun hal
ini kurang baik (makruh).
3. Seorang pemimpin tidak boleh mendahulukan pembagian harta baitul mal
kepada seorang yang kurang membutuhkannya dan mengakhirkan mereka yang
lebih membutuhkan.
Rasulullah SAW. bersabda :

Artinya : Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan setiap dsari kalian akan
dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinan.
Kaidah ke-27

Hukum gugur karena sesuatu yang syubhat.
Contoh kaidah:
1. Seorang laki-laki tidak dikenai had, ketika melakukan hubungan seksual dengan
wanita lain yang disangka istrinya (wathi syubhat).
2. Seseorang melakukan hubungan seks dalam nikah mut'ah, nikah tanpa wali atau
saksi atau setiap pernikahan yang dipertentangkan, tidak dapat dikenai had sebab
masih adanya perbedaan pendapat antara ulama, sebagian membolehkan nikah
mut'ah dan nikah tanpa wali dan sebagian lagi berpendapat sebalikannya.

3. Orang mencuri barang yang disangka sebagai miliknya, atau milik bapaknya,
atau milik anaknya, maka orang tersebut tidak dikenai had.
4. Orang meminum khamr (arah) untuk berobat tidak dikenai had karena masih
terdapat khilaf antar ulama'.
:
Artinya: Nabi SAW. bersabda: Tinggalkanlah oleh kamu sekalian had-had
dikarenakan (adanya) berbagai ketidak jelasan.
Kaidah ke-28

Sesuatu yang karena diwajibkan menjadi tidak sempurna kecuali dengan
keberadaannya,maka hukumnya wajib.
Contoh Kaidah:
1. Wajib membasuh bagian leher dan kepala pada saat membasuh wajah saat
berwudhu.
2. Wajibnya membasuh bagian lengan atas dan betis (wentis) pada saat membasuh
lengan dan kaki.
3. Wajibnya menutup bagian lutut pada saat menutup aurat bagi laki-laki dan
wajibnya dan wajibnya menutup bagian wajah bagi wanita.
Kaidah ke-29

Keluar dari perbedaan pendapat hukumnya sunat (mustahab).
Contoh kaidah:
1. Disunatkan menggosok badan (dalk) ketika bersuci dan memeratakan air ke
kepala dengan mengusapkannya, dan tujuan keluar dari khilafdengan imam malik
berpendapat bahwa dalk dan isti'ab al-ro'sy (meneteskan kepala dengan air) adalah
wajib hukumnya.
2. Disunatkan membasuh sperma, yang menurut imam malik wajib hukumnya.
3. Sunah men-qashar shalat dalam perjalanan yang mencapai tiga marhalah,
karena keluar dari khilaf dengan Abu hanifah yang mewajibkannya.
4. Disunatkan untuk tidak menghadap atau membelakangi arah kiblat ketika
membuang hajat, walaupun dalam sebuah ruangan atau adanya penutup, karena
untuk keluar dari khilaf imam Tsaury yang mewajibkannya.
Untuk mengatasi perbedaan diperlukan beberapa syarat sebagai berikut:
a. Upaya mengatasi perbedaan tidak menyebabkan jatuh pada perbedaan lain.
Seperti lebih diutamakan memisahkan shalat witir (tiga rakaat dengan dua salam)
dari pada melanjutkanya. Dalam hal ini pendapat Imam Abu Hanafiah tidak
dipertimbangkan karena adanya ulama yang tidak membolehkan witir dengan
digabungkan
b. Tidak bertentangan dengan sannah yang tepat (al-sannah al-tsabilah). Seperti
disunatkannya mengangkat kedua tangan dalam shalat, walaupun seorang ulama
Hanafiah menganggap hal ini dapat membatalkan shalat. Menurut riwayat lima

puluh orang sahabat, Nabi SAW sendiri melakukan shalat dengan mengangkat
kedua tangannya.
c. Kautnya temuan tentang bukti perbedaan, sehingga kecil kemungkinan
terulangnya keslahan serupa. Dengan alas an itu, maka berpuasa bagi musafir yang
mampu menahan lapar dan dahaga aladah utama, dan tidak dipertimbangkan
adanya pendapat para kaum Zahiruasa musafir itu tidak sah.
Kaidah ke-30

Keringanan hukum tidak bisa dikaitkan dengan maksiat.
Contoh kaidah:
1. Orang yang bepergian karena maksiat, tidak boleh mengambil kemurahan hukum
karena berpergiannya, seperti; mengqashar dan menjama shalat, dan
membatalkan puasa.
2. Orang yang berpergian karena maksiat, walaupun dalam kondisi terpaksa juga
tidak diperbolehkan memakan bangkai dan daging babi.
Kaidah ke-31

Keringanan hukum tidak bisa dikaitkan dengan keraguan.
Contoh kaidah:
1. Dalam perjalanan pulang ke Grabag Magelang, Abdul Aziz merasa ragu mengenai
jauh jarak yang ditempuh dalam perjalan tersebut, apakah sudah memenuhi syarat
untuk meng-qashar shalat atau belum. Dalam kondisi semacam ini, kang Aziz tidak
boleh meng-qashar shalat.
2. Seorang yang bimbang apakah dirinya hadats pada waktu dhuhur atau ashar,
maka yang harus diyakini adalah hadats pada waktu dhuhur.
Kaidah ke-32

Sesuatuyang banyak aktifitasnya, maka banyak pula keutamaanya.
Contoh kaidah:
1. Shalat witir dengan fashl (tiga rakaat dengan dua salam) lebih utama dari pada
wasl (tiga rakaat dengan satu salam) karena bertambahnya niat,takbir dan salam.
2. Orang melakulan shalat sunah dengan duduk, maka pahalanya setengan dari
pahala orang yang shalat sambil berdiri. Orang yang shalat tidur mirung, maka
pahalanya adalah setengah dari orang yangh shalat dengan duduk.
3. Memishkan pelaksanaan antara ibadah haji dengan umrah adalah lebih utama
dari pada melaksanakan bersama-sama.
Rasulullah SAW. bersabda:

Artinya: Besarnya pahalamu tergantung pada usahamu. (HR. Muslim)
Kaidah ke-33

Jika tidak mampu mengerjakan secara keseluruhan


maka tidak boleh meninggalkan semuanya
Contoh kaidah:
1. Seorang yang tidak mampu berbuat kebajikan dengan satu dinar tetapi mampu
dengan dirham maka lakukanlah.
2. Seserang yang tidak mampu untuk mengajar atau belajar berbagai bidang studi
(fan) sekaligus, maka tidak boleh meninggalkan keseluruhannya.
3. Seseorang yang merasa berat untuk melakukan shalat malam sebanyak sepuluh
rakaat, maka lakukanlah shalat malam empat rakaat.
Kaidah yang semakna dengan kaidah di atas, adalah perkataan ulama ahli fiqh:

Sesuatu yang tidak dapat ditemukan keseluruhannya, maka tidak boleh tinggalkan
sebagiannya.
Kaidah ke-34

Sesuatu yang mudah tidak boleh digugurkan dengan sesuatu yang sulit.
Contoh kaidah:
1. Seorang yang terpotong bagian tubuhnya, maka tetap wajib baginya membasuh
anggota badan yang tersisah ketika bersuci.
2. Seseorang yang mampu menutup sebagian auratnya, maka ia wajib menutup
aurat berdasarkan kemampuannya tersebut.
3. Orang yang mampu membaca sebagian ayat dari surat Al-Fatihah, maka ia wajib
membaca sebagian yang ia ketahui tersebut.
4. Orang yang memiliki harta satu nisab, namun setengah darinya berada ditempat
jauh (ghaib) maka harus dikeluarkan untuk zakat adalah harta yang berada
ditangannya.
Nabi SAW. bersabda :
.
Artinya: Sesuatu yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian. (HR.
Bukhari Muslim)
Kaidah ke-35

Sesuatu yang haram untuk dikerjakan maka haram pula mencarinya.
Contoh kaidah:
1. Mengambil riba atau upah perbuatan jahat.
2. Mengambil upah dari tukang ramal risywah (suapan). Begitu pula dengan upah
orang-orang yang meratapi kematian orang lain.
Kaidah ke-36

Sesuatu yang haram diambil,maka haram pula memberikannya.
Contoh kaidah :

1. Memberikan riba atau upah perbuatan jahat kepada orang lain.


2. Memberikan upah hasil meramal dan risywah kepada orang lain. Termasuk juga
upah meratapi kematian orang lain.
Kaidah ke-37

kebaikan yang memiliki dampak banyak lebih utama daripada yang manfaatnya
sedikit (terbatas).
Contoh kaidah:
1. Mengajarkan ilmu lebih utama daripada shalat sunah.
2. Orang yang menjalankan fardhu kifayah lebih istimewa karena telah
menggugurkan dosa umat daripada orang yang melakukan fardhu 'ain.
Kaidah ke-38

Rela akan sesuatu berarti rela dengan konsekuensinya.
Contoh kaidah:
1. Menerima suami istri dengan kekurangan yang dimiliki salah satu dari keduanya.
Maka tidak boleh mengembalikan kepada walinya.
2. Seseorang memita tangannya di potong dan berakibat kepada rusaknya anggota
tubuh yang lain, maka orang tersebut tidak boleh menuntut kepada pemotong
tangan.
3. Memakai wangi-wangian sebelum melaksanankan ihram, teapi wanginya
bertahan sampai waktu ihram maka tidak dikenahi fidyah.
Kaidah yang memiliki makna sama dengan kaidah di atas yaitu :

Hal-hal yang timbul dari sesuatu yang telah mendapat ijin
tidak memiliki dampak apapun.
Kaidah ke-39

Hukum itu berputar beserta 'illatnya, baik dari sisi wujudnya maupun
ketiadaannyaillatnya.
Contoh kaidah :
1. Alasan diharamkannya arak (khamr) adalah karena memabukkan. Jika kemudian
terdeteksi bahwa arak tidak lagi memabukkan seperti khamr yang telah berubah
menjadi cuka maka halal.
2. Memasuki rumah orang lain atau memakai pakaiannya tanpa adanya ijin adalah
haram hukumnya. Namun ketika namun ketika diketahui bahwa pemiliknya
merelakan, maka tidak ada masalah didalamnya (boleh).
3. Alasan diharamkannya minum racun karena adanya unsur merusakkan.
Andaikata unsure yang merusakkan itu hilang, maka hukumnya menjadi boleh.

Nabi SAW. bersabda: Setiap yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr
hukumnya haram.
Kaidah ke-40

Hukum ashal (pada dasarnya) segala sesuatu itu diperbolehkan.
Contoh kaidah :
1. Dua sahabat bernama Lukman dan Rahmat Taufiq jalan-jalan ke Jakarta. Setelah
lama muter-muter sambil menikmati indahnya ibu kota, perut kedua bocah ndeso
tersebut protes sambil berbunyi nyaring alias kelaparan. Akhirnya setelah melihat
isi dompet masing-masing keduanya memutuskan untuk mampir makan di
restourant yang lumayan mewah tapi kemudian keduanya ragu apakah daging
pesenannya itu halal atau haram. Dengan mempertimbangkan makna kaidah
diatas, maka daging itu boleh dimakan.
2. Tiba-tiba ada seekor merpati yang masuk ke dalam sangkar burung milik Koci.
ketika pemilik sangkar (Koci) melihat merpati tersebut dia merasa tertarik dan ingin
memilikinya, namun Koci masih ragu apakah dia boleh memeliharanya atau tidak.
Maka hukumnya burung merpati tersebut boleh atau bebas untuk dimiliki.
3. Ketika ragu akan besar kecilnya kadar emas yang digunakan untuk menambal
suatu benda maka hukum benda tersebut boleh untuk digunakan.
4. Memakan daging Jerapah diperbolehkan, sebagaimana al-Syubki berkata
sesungguhnya memakan daging Jerapah hukumnya mubah.

Nabi SAW. bersabda : Sesuatu yang dihalalkan Allah adalah halal dan sesuatu yang
diharamkan Allah adalah haram. Sedangkan hal-hal yang tidak dijelaskan Allah
merupakan pengampunan dari-Nya.